write.as

Bunga Terakhir : Cho Seungyoun x Lee Hangyul 1611 words. Enjoy

Matahari masih tinggi padahal jam sudah menunjukan pukul 16.40. Hangyul tersenyum kecil setelah melihat jam di tangan kirinya dan bergegas untuk segera pulang karena shift jaganya akan segera habis. Hangyul tidak sabar ingin segera pulang ke apartemennya dan “pura-pura kaget” karena menerima hadiah yang sama setiap harinya ditempat yang sama pula.

Terhitung 3 bulan sudah Hangyul menerima hadiah tersebut dan sampai saat ini ia tidak tahu siapa pengirimnya. Oh ayolah, Hangyul sangat tidak mengerti dan tidak percaya ada orang yang benar-benar melakukan hal seperti itu untuknya. Hangyul tersentuh dibuatnya. Terharu begitu.

Hangyul pamitan kepada Yohan dan keluar dari toko bunga tempatnya bekerja. Jujur saja semenjak mendapat hadiah selama 3 bulan, Hangyul selalu dalam mood yang bagus. Sebetulnya ini hadiah yang mainstream. Bunga. Awalnya Hangyul risih dan takut, takut-takut orang yang memberinya bunga tersebut merupakan orang yang jahat dan menyimpan sesuatu di atas bunganya seperti obat bius yang ketika Hangyul hirup akan membuat dia pingsan dan diculik lalu dia dilecehkan, lalu nyawanya dihabisi, dan organ-organnya dijual.

Hangyul dengan overthinking nya. Tapi Hangyul mengelak, itu bukan overthinking, itu hanya sikap waspada terhadap pemberian orang apalagi dia belum tau yang memberinya bunga ini orang atau bukan. Bukan? Lantas...?

1 minggu pertama bunga berakhir di tong sampah. Minggu berikutnya Hangyul mulai penasaran apa benar sesuai dugaannya bahwa bunga tersebut mengandung obat bius atau tidak, lantas setelah shiftnya berakhir dan pulang ke apartemennya, Hangyul mengambil bunga yang tepat berada di depan pintu apartemen setelah itu dia kembali ke toko bunga tempatnya bekerja dan meminta tolong pada Yohan untuk dibuktikan kewaspadaannya akan obat bius dalam bunga tersebut. Yohan menolak? Tentu saja. Yang benar saja Lee Hangyul ini. Yohan tau semua cerita dan bagaimana takutnya Hangyul akan bunga yang difitnah memiliki kandungan obat bius ini. Yohan percaya? Lagi-lagi tentu saja. Benar-benar Lee Hangyul ini.

Yohan menolak keinginan Hangyul. Sinting. Hangyul membawa bunga pemberian itu ke toko dan memohon-mohon pada Yohan agar mau mengendusnya.

“Yohan tolong aku kali ini saja, aku mohon coba kau cium bunga ini. Aku penasaran hingga tidak bisa tidur nyenyak setiap malam membayangkan apa maksud bunga-bunga ini. Tolong aku ya ya ya Yohan yaa please” bujuk Hangyul dengan nada manja andalannya. Hangyul tahu bahwa Yohan sangat tidak bisa menolak nada manja maut andalannya ini.

“Kau ini yang benar saja? Bagaimana kalau aku yang pingsan dan ternyata ini hanya akal-akalan kau saja dengan pemberi bunga ini untuk menculik dan mengambil organ-organku?” Lagi-lagi overthinking karena Lee Hangyul penyebabnya. Hangyul berdecak sebal. Bagaimana mungkin Yohan punya pikiran seperti itu terhadapnya? Tega sekali. Hangyul tersinggung.

“Baiklah baiklah kalau kau tidak mau, aku akan pulang dan menghirupnya sendiri di depan pintu apartemen. Siapa tau pemberi bunga itu selalu ada di dekatku dan memperhatikan gerak-gerikku dan ketika aku pingsan dia akan langsung membawaku. Berbahagialah Yohan, aku pikir ini hari terakhir kita bertemu. Jaga dirimu baik-baik dan makan dengan baik. Aku pamit.” Yohan memutar bola matanya malas. Hangyul ini benar-benar membuatnya luluh dengan begitu mudah. Ssstttt tapi jangan bilang-bilang ya.

Setelah Yohan hirup dan terbukti tidak ada apa-apanya, bunga itu bebas dari fitnah kejam yang sempat Hangyul lontarkan. Setelah hari itu pula Hangyul mendapat bunga lagi dengan kertas bertuliskan “jahat sekali kau menuduh bunga-bunga indah ini mengandung obat bius, aku marah”. Gemas pikir Hangyul. Setelah hari itu semua terasa normal kembali. Hangyul kembali menerima bunga-bunga yang terkadang disisipi kertas bertuliskan gombalan-gombalan khas orang kasmaran terkadang beberapa permen rasa asam jawa dengan tulisan “aku tidak bisa memberikan permen manis kepadamu, bisa-bisa aku diabetes”. Yang benar saja orang ini.

3 bulan terlewati, semua seperti biasa. Namun pada tanggal 7 untuk pertama kalinya Hangyul merasa kosong. Ada apa? Mengapa tidak ada bunga? Dia baik-baik sajakan? Atau uangnya sudah habis? Atau dia sudah punya pasangan lain? Hangyul kecewa karena tidak ada bunga di pintu apartemennya. Hangyul sudah berharap di tanggal 7 ini dia akan mendapat lebih banyak bunga karena ini hari ulang tahunnya. Ternyata benar kata Yohan “jangan pernah berharap pada manusia, apalagi kau belum tau dia manusia atau bukan.”. Benar sekali mungkin dia bukan manusia.

Hangyul berjalan ke kamarnya gontai karena moodnya yang jelek. Sungguh jelek sampai Hangyul ingin minum semua susu pisang yang di taruh dalam bak mandi besar setelah itu Hangyul minum pakai sedotan. Mengapa? Agar Hangyul lupa penyebab dia kesal dan hanya fokus pada menghabiskan susu pisang dengan sedotan. Ide bagus. Tapi tidak akan Hangyul lakukan, maaf saja Hangyul hanya kepikiran, bukan berarti mau melakukannya.

Hangyul membanting tubuhnya di atas kasur saat tiba-tiba handphonenya berdering. Hangyul sigap mengambil handphonenya dari dalam tas dan melihat ID pemanggil “Yohanku”. “Ck ada apa si, baru juga pulang apa dia sudah rindu padaku? Atau dia mau mengajakku makan malam dan merayakan hari ulang tahunku?” Hangyul cengengesan membayangkan Yohan yang bersikap perhatian padanya. Uwu gemas

“Ada apa Kim Yohan” Sapa Hangyul cuek. Hah

“Hangyul! Cepat kembali ke toko, bunga-bunga di toko banyak yang layu. Apa kau tidak memeriksanya tadi sebelum pulang. Yang benar saja kau ini, sekarang juga kau kembali ke toko!” Perintah Yohan dengan nada kesalnya.

“Yohan yang benar saja, aku tadi memeriksa semua dan......”

“Lalu kalau begitu kenapa bisa bunga-bunganya layu? Aku tidak mau tahu cepat kemari!” Sergah Yohan dengan cepat. Nada suara Yohan meninggi.

“Yohan......baiklah. Aku kesana”

Hangyul mematikan telpon dengan segera pergi meninggalkan apartemennya tanpa sempat menggunakan jaket. Hangyul berlari sekuat tenaga. Untungnya jarak antara toko dan apartemennya tidak jauh. Dengan berjalan kaki selama 5 menit sudah bisa ditempuh.

Sesampainya di pintu toko, Hangyul bingung??? Dia merogoh handphone yang dia simpan di saku celananya.

“Yohan kau dimana? Mengapa lampu toko gelap?”

“Lee Hangyul aku bersumpah jangan membenciku selama sisa hidupmu. Aku melakukan ini karena aku menyayangimu. Aku benar-benar minta maaf. Sekarang kau masuklah kedalam toko, kau akan menemukan kebahagiaanmu di dalam. Aku mohon jangan menendangku setelahnya”

“Apa maksud-“ Benar-benar tidak dapat Hangyul percaya. Apa-apaan Yohan belum sempat Hangyul menjawab, telponnya sudah dimatikan. Karena penasaran, Hangyul takut-takut berjalan kecil ke dalam toko. Setelah mengecek bagian belakang toko alangkah terkejutnya Hangyul pada saat membalik badan dia menemukan seseorang sedang memegang kue ulang tahun. Hangyul masih mencerna berbagai kejadian yang menimpanya secara berturut-turut tanpa sadar tangan Hangyul ditarik ke arah tengah toko. Lampu dinyalakan. Hangyul dibuat terkejut untuk ke 2 kalinya.

“K-kak Seungyoun?” tanya Hangyul ragu.

“Hangyul, ini aku Seungyoun” jawab Seungyoun dengan senyuman hangat Hangyul benar-benar tidak percaya dengan semua ini. Ada apa? Kenapa semua tiba-tiba?

“Aku tidak mengerti kak, ada apa ini? Bukannya kau pergi ke Barcelona untuk mengurus perusahaan keluargamu disana? Kenapa sekarang kau disini? Apa-apaan kue ini?” tanya Hangyul tiada henti. Hangyul benar-benar bingung

“Kau”

“Apa?” Hangyul menjawab.

“Jawabannya kau, Lee Hangyul. Semuanya untukmu. Aku pergi ke Barcelona agar memiliki penghasilan sendiri dan bisa menemuimu dengan layak. Aku kembali kesini karena aku sudah merasa layak untuk pulang ke rumahku, dan kue ini sebagai hadiah untukku karena sudah mencapai tujuanku dan kembalik pulang ke rumahku” jelas Seungyoun panjang lebar.

“Happy birthday, love” ucap Seungyoun seraya mencium kening Hangyul lama. Hangyul masih mencerna semua kejadian ini tetapi pada saat dia menutup mata untuk merasakan kasih sayang dari ciuman di keningnya air mata turun dengan sendirinya.

Seungyoun melepaskan ciuman di kening dan buru-buru menyimpan kue karena mendengar isakan kecil dari Hangyul. Dengan segera Seungyoun memeluk Hangyul dan menggumamkan kata maaf berkali-kali. Tidak bisa. Seungyoun tidak bisa melihat Hangyul menangis.

“Maaf aku benar-benar minta maaf. Maafkan aku, love”

“K-kak aku benar-benar tidak tahu kenapa aku menangis tapi aku senang kau kembali pulang. Kau menepati janjimu kak terima kasih, a-aku benar-benar berterima kasih” jawab Hangyul dengan nada pelan dan mengeratkan pelukannya di leher Seungyoun. Hangyul lega, setelah diambang ketidakpastian bertahun-tahun Kak Seungyounnya kembali.

“Hangyul kau tahu aku sudah kembali semenjak 3 bulan yang lalu dan kau tahu kalau aku.......”

“Jangan bilang kau pelakunya?” potong Hangyul cepat.

“Yah...ketahuan. Tidak berubah, tetap Hangyul yang peka”

“Kak yang benar saja 3 bulan penuh kau selalu memberiku bunga di tempat yang sama? Kenapa tidak langsung menemuiku? Kau tahu betapa tersiksanya aku menunggumu kembali tanpa kepastian. Lalu apa maksudnya hari ini tidak ada bunga di pintu apartemenku? Beri aku bunga. Cepat mana bungaku”

“Maaf Hangyul, kemarin itu 1 bunga terakhir yang kuberikan untukmu”

“Hah begitu ya kak?” entah kenapa mendengar penuturan Seungyoun membuat hatinya sesak. Jadi ini akhirnya ya?

“Aku benar-benar minta maaf Hangyul, aku tidak akan.....”

“Tidak apa-apa kak, aku baik-baik saja kok. Kak Seungyoun pasti bertemu orang lain kan di Spanyol. Aku pulang ya kak, semoga bahagia”

“Hangyul, sayang, love, baby, sunshine bukan itu maksudku dengarkan dulu penjelasanku” pinta Seungyoun seraya menangkup pipi lembut Hangyul dan mengecup hidung Hangyul.

“Kau tahu aku selalu memberimu 1 tangkai bunga setiap harinya, aku akan menyudahi 1 tangkai bunga itu dan sebagai gantinya aku akan memberikan 99 tangkai bunga tiap tanggal 7 Desember setiap tahunnya hanya untukmu dan semuanya akan terjadi jika kau mau mengabulkan permintaanku.” ucap Seungyoun seraya mengecup punggung tangan Hangyul.

“Lee soon to be Cho Hangyul, marry me?” mantap kalimat itu Seungyoun katakan tanpa ragu sedikitpun. Inilah tujuannya. Tujuan yang tidak pernah berubah sedikitpun dari 10 tahun yang lalu.

“Seungyoun kau benar-benar, apa aku punya hak untuk menolak? Inikah hadiahku karena bersabar menantimu kembali selama ini? Ayo kita menikah dan mengadopsi banyak anak” jawab Hangyul dengan girang. Benar-benar menggemaskan. Senyum itu senyum yang sama sejak 10 tahun yang lalu. Senyum yang indah dengan pancaran indah di matanya. Senyum yang membuat Seungyoun bertekuk lutut tidak dapat berpaling pada yang lain. Senyum itu, semestanya. Hangyulnya. Teman hidupnya. Selamanya

-Bonus

Yohan menangis menyaksikan sahabatnya kembali. Seungyoun dan Hangyul. Yohan benar-benar paham bagaimana perjalanan hidup mereka berdua. Yohan yang selalu membantu Seungyoun selama ini dimulai dari menyimpan bunga hingga insiden “obat bius” semuanya Yohan lakukan untuk membantu Seungyoun mendapatkan Hangyul. Yohan senang mereka memiliki akhir yang bahagia, dan ia bangga karena semuanya terjadi akibat campur tangannya sendiri.

–@4mynnnn_ 10-10-2019