A Thousand Winds

Donghyuck, bagaimana jika kamu mendapat kesempatan untuk terlahir kembali, kamu ingin menjadi apa?”


Tidak biasanya mereka memilih berjalan kaki untuk pulang ke rumah. Ini semua adalah ide dari Minhyung, yang biasanya ia akan selalu menjemput Donghyuck dan berboncengan untuk pulang ke rumah, dan kini mereka berjalan kaki karena Minhyung sengaja meninggalkan sepedanya di sekolah, dan berjalan kaki ke gedung sekolah Donghyuck.

Minhyung bilang, ada sesuatu yang ingin ia tunjukkan pada Donghyuck. Berkata bahwa tak apa jika sesekali mereka pulang terlambat ke rumah.

Bermain sepulang sekolah tidak ada salahnya, Minhyung juga bilang bahwa dia sudah meminta izin pada Ayah dan Ibu, juga Judith. Donghyuck sempat bingung pada awalnya, sebab Minhyung tidak memberitahukan perihal itu sebelumnya. Minhyung mengajaknya ke pantai sepulanh sekolah tanpa ada rencana yang mereka sepakati bersama sebelumnya. Namun pada akhirnya Donghyuck tetap menurut dan menerima ajakan Minhyung dengan senang hati.

Mereka berjalan di sepanjang jalan yang dipenuhi batu kerikil, tepat di samping rel kereta api. Angin sore yang berembus, menemani setiap langkah mereka. Hamparan rumput yang luas menjadi saksi atas perbincangan mereka kala itu.

“Apa kamu tahu, jalan ini menuju ke tepi laut?” Minhyung bertanya. Ia memperhatikan Donghyuck yang berjalan di sebelahnya. Senyuman manis dari si kecil yang terpatri sedari tadi tak pernah pudar.

“Benarkah?” Tanya Donghyuck. Ia terlihat bingung karena sebelumnya tidak pernah melewati jalanan ini. Ia pikir ini adalah jalan yang berbeda menuju pantai.

Minhyung tertawa kecil ketika melihat reaksi adiknya, kemudian mengangguk dengan semangat. “Jika kita terus berjalan mengikuti jalan ini, maka kita akan sampai di tepi laut setelahnya. Ingin bermain di sana?”

Donghyuck menengok, kemudian mengangguk dengan begitu semangat juga. Minhyung merasa sangat gemas melihat itu, dan ia mengacak-ngacak rambut Donghyuck sebelum tersenyum begitu lebar.

Lalu, suara klakson dari kereta api sempat mengejutkan Donghyuck. Bunyi lonceng dari kereta api tersebut yang begitu keras membuatnya beringsut mendekat pada Minhyung. Kereta api melintas, Donghyuck melihatnya dengan mulut terbuka. Rasa takut, terkejut sekaligus kagum begitu jelas terlihat di raut mukanya. Minhyung terkekeh, ia dengan segera memeluk bahu Donghyuck dari samping.

“Pertama kalinya melihat kereta api sedekat ini?”

Donghyuck sedikit mendongak untuk menatap Minhyung dari dekat. Matanya terlihat berbinar dan cerah. “Sangat besar dan panjang. Bunyinya begitu keras, telingaku jadi sedikit sakit.”

Minhyung kembali tertawa. Ia mengusap-ngusap telinga yang lebih muda sebelum menuntun Donghyuck untuk kembali melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti.

Setelah berjalan mengikuti sepanjang jalan di samping rel kereta api, yang mengantarkan mereka pada tepi lautan──pantai, baik Minhyung dan Donghyuck dengan segera berlari dengan begitu semangat. Suara teriakan Donghyuck yang terlampau bahagia menyapa indra pendengaran—yang kemudian membuatnya melukis senyum karena bahagia. Bahagia bagi Minhyung sangat sederhana. Bagaimana cara ia berhasil melukis kebahagiaan pada Donghyuck adalah salah satunya. Dan ia akan merekam moment itu dengan baik, menyimpannya dalam memori khusus bersama Donghyuck. Menangakap semua cuplikan indah yang tercipta.

Bagaimana indahnya si kecil, Donghyuck, dengan pantai sebagai latar.

Angin sore berembus, menyejukkan juga menenangkan. Ini bukan yang pertama bagi Donghyuck mengunjungi pantai. Sebab, Minhyung sering mengajaknya bermain di pantai pada akhir pekan.

Jarak dari rumah menuju pantai tidak terlalu jauh, Minhyung akan dengan senang hati membonceng Donghyuck dengan sepedanya, kemudian bernyanyi bersama di sepanjang jalan menuju pantai.

Dan ketika sampai, mereka akan berdiri di tepi pantai kemudian berlari jika ombak datang. Kemudian bermain batu gunting kertas dan yang kalah akan mengejar yang menang.

Ketika di pantai, Donghyuck juga memiliki kebiasaan mengumpulkan batu-batu yang menurutnya terlihat cantik──ia akan membawanya pulang dan mengoleksinya.

Donghyuck juga senang menggambar, maka ketika di pantai, Minhyung akan selalu mencari ranting pohon untuk Donghyuck gunakan menggambar di pasir pantai. Donghyuck sering menggambar matahari dan beruang, terkadang ia juga membuat nama mereka berdua dengan begitu besar.

Dan bagaimanapun, satu hal yang perlu Minhyung ingat. Bahwa mereka tidak boleh pulang dalam keadaan basah, terlebih Donghyuck. Jika itu terjadi maka Judith akan marah, begitu juga ayah dan ibu. Donghyuck adalah anak yang berbeda, ia rentan terhadap penyakit dan mudah terkena flu serta demam tinggi. Kekebalan tubuhnya lemah, tidak sama seperti Minhyung. Maka dari itu, mereka harus menghindari air pantai agar tidak basah. Juga, Donghyuck tidak bisa berdamai dengan cuaca dingin. Itu juga yang menjadi penyebab kenapa mereka tidak bisa berlama-lama bermain di pantai.

Jika biasanya mereka akan pulang ketika senja, maka kali ini mereka bertahan lebih lama. Lembayung telah menghiasi langit, pertanda hari akan berubah menjadi gelap sebentar lagi. Setelah puas bermain, mereka duduk di atas pasir pantai, menatap ke arah lautan yang terbentang luas. Pemandangan matahari terbenam mereka saksikan dengan begitu damai.

Kepala Donghyuck bersandar nyaman pada bahu Minhyung. Suara deburan ombak menjadi musik penenang. Lelah sehabis bermain tidak lagi terasa karenanya.

Hyung bagaimana jika kamu melupakan segalanya tentang aku? Bagaimana jika Tuhan menghapus semua memorimu tentang kita? Termasuk cerita kita hari ini.”

Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba. Minhyung tidak mengerti mengapa pertanyaan itu bisa terlintas di pikiran yang lebih muda. Atmosfer kala itu seharusnya menenangkan, bukan sendu seperti pertanyaan Donghyuck.

Minhyung sedikit menundukkan kepalanya. Melihat Donghyu k yang kini pandangannya jauh ke depan. “Donghyuck, bagaimana jika kamu mendapat kesempatan untuk terlahir kembali, kamu ... ingin menjadi apa?” Dan dia memilih untuk tidak menanggapi pertanyaan Donghyuck, Minhyung kembali melempar pertanyaan.

“Lihat ke depan sana,” ujar Donghyuck. Minhyung menurut. Pandangannya ia alihkan, menatap ke depan dengan tenang. “Aku ingin menjadi lautan.” jawab Donghyuck setelahnya.

Ia mengangkat kepalanya, mengubah posisi duduknya menjadi sedikit menyamping untuk menatap Minhyung. “Kenapa bertanya itu? Jawab pertanyaan aku terlebih dahulu.” Pintanya.

Minhyung membalas tatapan Donghyuck dan tersenyum lembut. “Aku akan mengingat yang itu.”

Kini, Dahi Donghyuck terlihat berkerut ketika menatap Minhyung. “Apa──”

“Meskipun aku lupa akan segalanya, segala tentangmu dan kita, aku akan mengingat yang itu. Lautan.”

Donghyuck tersenyum seakan ia paham apa maksud dari Minhyung. Kerutan di dahinya hilang begitu saja—tergantikan dengan senyuman cerah yang tampak sangat menggemaskan. “Aku ingin terlahir kembali menjadi samudera. Kamu tahu, lautan ini tidak akan berpindah. Akan tetap sama, di sini. Nanti, bila waktunya tiba dan kamu melupakan semuanya, datanglah ke sini. Walau memori kamu tentang aku sudah hilang, aku akan tetap ada; sebagai lautan.”

-