Him.


Ditangkap dari sisi yang tersakiti.

Rentetan doa yang selalu terucap.

Menyatukan telapak tangan, meminta sebuah kepastian.

Karena mu, juga karna dosaku.

Berapa banyak dosa yang harus ditampung, hanya karna mencintai terlalu dalam?

Seperti jarum jam yang terus berotasi. Waktu tetap berjalan, sekalipun seseorang terbaring koma.

Takdir, jangan sekali-sekali untuk menentangnya.


Sisi mana yang, entahlah, ini sedikit menyulitkan.

Apa ia berada di sisi antagonis?

Tidak juga.

Dia hanya melakukan apa yang ia ingin lakukan.

Satu pertanyaan di setiap doanya. “Mengapa harus dirinya?”

Ada sebuah kelebihan. Namun, menyakitkan. Sejatinya, ia tak sanggup.

Adalah sebuah kemampuan yang mana membuatnya juga terperangkap.

Namun, Tuhan tau siapa yang berhak untuk mendapatkannya, bukan begitu? artinya, ia sanggup.

it's about him.