Serenade.


Donghyuck pernah kehilangan. Merasakan pahitnya sebuah perpisahan.

Kehilangan sosok yang menjadi panutannya. Pahlawannya. Sosok Ayah yang selalu ia banggakan kepada teman-temannya.

Sewaktu kecil, ia pernah bercita-cita menjadi seorang pianis. Menurutnya, bermain piano di hadapan banyak orang, adalah suatu kebanggaan. Juga mengingat, sang Ayah yang merupakan musisi ternama.

Donghyuck mencintai piano. Dia pernah berkata, bermain piano adalah kesenangannya. Piano adalah cintanya, separuh jiwanya ia dedikasikan pada alat musik itu.

Donghyuck dan piano, tidak akan bisa dipisahkan.


Saat itu, Minhyung berniat ingin mengungkap rahasia.

Perihal perasaan yang ia pikir sangat tabu.

Namun, semakin ia berada dekat dengan Haechan, semakin pula ia yakin bahwa perasaannya tidak main-main.

Ia pernah bertanya pada si manis, pertanyaan yang menurutnya terdengar sangat berlebihan.

“Aku tidak bisa memilih. sudah ku bilang, keduanya sangat penting. Jadi, aku tidak bisa memilih salah satu.”

Piano atau Minhyung. dan kalimat Donghyuck tadi merupakan jawabannya.

Minhyung hanya tersenyum mendengarnya kala itu. Ia bisa menangkap, bahwa dirinya juga penting di hidup Donghyuck.

Dan malam itu juga, Minhyung berjanji. Ia akan selalu berada di sisi Donghyuck. Ia akan selalu menjaga Donghyuck. Dan ia tidak akan pernah lagi membiarkan Donghyuck merasa kehilangan lagi.

Minhyung tidak akan meninggalkan Donghyuck. Ia berjanji.


Namun apa.

Kenyataannya, bagaimana?

Minhyung berhasil menepati janjinya. Minhyung berhasil mempertahankan sumpahnya.

Sayang, Minhyung menjadi pihak yang ditinggalkan.

Bukan. Bukan dirinya yang pergi.

Melainkan Donghyuck.

Sialannya, Minhyung merasa bodoh. Harusnya ia tahu. Harusnya ia menyadarinya.

Donghyuck sakit.

Dan itu ia dapatkan dari Ayahnya. Orang-orang menyebutnya, leukemia.

Bodoh. Minhyung yang bodoh. Bisa-bisanya ia tidak peka terhadap kondisi Donghyuck, yang nyatanya tidak lagi sekuat dulu. Kekebalan tubuhnya yang perlahan-lahan mulai menurun. Wajahnya yang terlihat pucat.

Minhyung terlambat. Walaupun ia tidak mengingkari janjinya.


Donghyuck tidak pernah mengatakan cinta pada Minhyung. Ia hanya akan tersenyum ketika Minhyung berbisik kata cinta.

Namun, senja itu, semuanya tergambar jelas. Nyanyian Donghyuck memang terdengar lembut dan halus, diiringi permainan pianonya dengan adagio, mempersembahkan isi hati pada senja. Alunan melodi yang ia ciptakan, memiliki sejuta makna.

Salah satunya; ungkapan cintanya pada Minhyung.

Dan juga, permintaan maaf.

Melodi itu, ia rekam. Dan akan menjadi melodi yang terakhir yang Minhyung dengar dari sosok yang ia cintai.