Kebiasaan Jelek Haechan.


“Siniin tangan kamu.”

Haechan menengok. “Buat apa?”

Mendecak kesal, Mark dengan cepat menarik pergelangan tangan kanan Haechan. “Lihat, kebiasaan kamu suka gigitin kuku. Jelek.”

Haechan mencibir, “kirain mau digenggam gitu tangan akunya, atau mau dipakein cincin. Taunya mau ngomel.”

Mark terkekeh pelan. Ia mengeluarkan pemotong kuku berukuran kecil dengan motif semangka. Haechan mendengus geli ketika melihatnya.

“Baru beli ya? Semangka banget.”

Mengangguk, Mark kembali mengambil tangan kanan Haechan. “Iya, semalam pas nemenin Mama belanja. Ngelihat ada semangkanya ya langsung aku beli.” Kemudian ia memulai kegiatannya; merapihkan potongan kuku Haechan yang terlihat jelek karena kebiasaannya yang suka menggigit-gigit kuku.

“Terdengar bucin,” Haechan memposisikan dirinya senyaman mungkin, duduk di hadapan Mark yang sedang menunduk sebab ia fokus pada aktivitas memotong kuku Haechan yang berantakan.

“Lain kali kebiasaan kamu ini harus dikurangin. Jorok, apa kamu mau cacingan? Gigitin kuku terus juga gak baik. Lihat, kuku kamu jadi jelek.”

“Iyaaaaaaaaaaa,” ujar Haechan. Ia tertawa ketika Mark semakin menggenggam tangannya.

“Jangan iya iya saja Haechan. Ingat, dikurangin.”

“Aku tuh kalau nggak gigitin kuku, pasti rasanya ada yang kurang. Makanya keterusan gigitin kuku kalau gigit yang lain tidak enak.”

Mark menghentikan kegiatannya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Haechan. “Ada,” ucapnya. Yang mana, membuat Haechan mengernyit bingung.

“Apanya yang ada?”

“Ada yang enak, gigit yang lain.”

“Haechan nggak ngerti, kakak ngomong apa-”

“Kamu bilang kalau gigit yang lain, selain kuku itu tidak enak.”

Haechan mengangguk.

“Padahal ada,”

“Apa?”

Mark menunjuk mulutnya. “Bibir aku.”

“Kakak ih!”