blubiopile

(n) ; blu-bio-philè | an author who loves rain and her character so much.

Amnésie.


Bagaimana rasanya menjadi saksi dari cerita tragis antara dua insan yang saling jatuh hati namun keduanya ditentang oleh takdir?


Wonjin termangu, menatap cangkir tehnya dengan pandangan kosong sembari bertopang dagu. Kalau boleh jujur, dia lelah menjadi jembatan penghubung sekaligus human diary bagi kedua sahabatnya; Jungmo dan Minhee.

Awalnya, kisah mereka berdua begitu manis. Menghantarkan perasaan hangat dan gemas untuk siapapun yang melihatnya, termasuk Wonjin. Hubungan Jungmo dan Minhee berjalan dengan baik, mereka saling mencintai, juga saling memiliki hati masing-masing. Hari-hari keduanya selalu dihiasi dengan canda tawa, membuat tak sedikit orang yang iri dengan hubungan mereka.

Kalau boleh jujur, Wonjin memiliki perasaan lebih pada Jungmo. Namun, dia tidak setega itu untuk bersikap egois karena kedua sahabatnya memiliki rasa yang sama. Maka dari itu, Wonjin memutuskan untuk menyimpan hal ini rapat-rapat.

Wonjin menghela nafas pelan lalu meninggalkan cangkir tehnya di meja kantin rumah sakit. Kedua kaki jenjangnya membawanya menuju ruang perawatan milik sahabatnya, Jungmo. Wonjin mengetuk pintu dengan pelan, lalu beranjak memasuki ruangan dengan nuansa putih gading dan bau obat-obatan yang mendominasi. Ia melihat sosok Jungmo yang sedang memfokuskan netranya pada pemandangan di luar kamar inapnya.

“Jungmo.”

Wonjin menginterupsi. Yang dipanggil menolehkan wajahnya dengan ekspresi yang sulit ditebak. Wonjin sudah terbiasa dengan hal itu, ia hanya melempar sebuah senyuman kecil di wajah lelahnya.

“Apa aku mengganggumu?”

“Tidak, aku hanya berdiam diri. Apa Minhee belum mau menemuiku?”

'ah ternyata masih sama..'

Wonjin membatin dan menggeleng pelan sebagai jawaban. Ia bingung harus menjelaskan apa pada Jungmo. Fakta bahwa Kang Minhee, sosok yang selalu terpatri di lubuk hati terdalamnya, kini sudah terbaring kaku dan kembali menyatu bersama sang bumi. Jungmo terlihat lesu ketika lagi-lagi ia mendapat gelengan dari Wonjin, ia merindukan Minhee.

Wonjin berjalan mendekati Jungmo, dan duduk di samping ranjang sahabatnya itu. Ia meraih tangan Jungmo dan mengusapnya dengan lembut, berusaha menyemangati sahabatnya yang kini terlihat murung.


8 bulan lalu

Jungmo dan Minhee sedang berkencan, bersama dengan Wonjin dan Serim. Berbicara tentang Serim, ia adalah sosok yang kini resmi menyandang status sebagai kekasih Wonjin. Keempatnya saling berbagi cerita dan tawa sembari menyantap beberapa hidangan ringan di cafe yang mereka singgahi saat ini.

Jam demi jam mereka lalui dengan suka cita, hingga Jungmo dan Minhee berpamitan untuk pulang karena sudah larut malam dan Minhee harus mendatangi acara penting esok paginya.

Wonjin dan Serim mengiyakan dan melambaikan tangan sebagai simbol perpisahan, tanpa mengetahui bahwa malam itu adalah petaka bagi Jungmo dan Minhee.

Selama di perjalanan pulang, Jungmo dan Minhee masih berbincang ringan dan sesekali tertawa karena guyonan Minhee.

“Besok habis acara aku jemput ya?”

Tawar Jungmo pada Minhee.

“Jangan deh, besok aku pergi sama keluarga. Jadi, kamu ga perlu repot-repot jemput ya. Pake istirahat aja oke?”

Jungmo terkekeh kecil lalu mengangguk sebagai jawaban untuk pernyataan Minhee.

Semuanya berjalan lancar, sebelum sebuah truk yang hilang kendali melewati pagar pembatas dan menabrak mobil yang ditumpangi oleh Jungmo dan Minhee. Tabrakan itu tidak bisa dihindari, dan berakhir mobil milik Jungmo yang ringsek dengan Jungmo dan Minhee yang sama-sama tidak sadarkan diri setelah benturan keras itu terjadi.

Suara sirine ambulans dan polisi bersahut-sahutan, menimbulkan polusi suara yang memecah heningnya malam. Supir truk dinyatakan tewas di tempat, sedangkan Jungmo dan Minhee berada dalam kondisi kritis.

Wonjin tersedak ketika melihat breaking news yang ditayangkan di televisi yang berada di cafe tempat mereka berkumpul tadi.

“Kak Serim... lihat beritanya..”

Wonjin meremat tangan Serim dengan erat dengan raut wajah khawatir, keringat dingin juga terlihat menuruni dahi Wonjin. Serim mengarahkan netranya pada televisi di pojok ruangan dan terdiam, tidak tahu harus merespon apa ketika dirinya melihat mobil Jungmo yang ringsek, juga dua orang yang menjadi korban dalam kecelakaan malam ini. Serim menggenggam tangan Wonjin erat, berusaha menguatkan kekasihnya yang kini menangis dalam diam.

Gawai Wonjin berbunyi, dan Serim mengangkatnya. Wonjin memperhatikan, pun mendengarkan obrolannya. Serim segera mengajak Wonjin untuk keluar dari cafe dan bergegas menuju rumah sakit.

Sesampainya mereka di rumah sakit, Wonjin kembali menumpahkan air matanya ketika melihat Minhee yang sudah terbujur kaku di IGD. Hati Wonjin mencelos, Minhee sudah tidak ada, dan Jungmo mengalami koma. Dunianya seolah runtuh, Wonjin hanya bisa terdiam di pelukan Serim. Ya Tuhan, apa yang harus ia katakan pada Jungmo begitu Jungmo sadar?

-

3 bulan berlalu, Wonjin dan Serim sedang berada di kamar tempat Jungmo dirawat. Wonjin mengelus pelan punggung tangan Jungmo sembari melafalkan doa agar sahabatnya itu terbangun dari tidur panjangnya.

Tak lama, Wonjin merasakan adanya gerakan dari tangan Jungmo dan diikuti dengan Jungmo yang mulai membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang menyeruak masuk ke retinanya. Wonjin terkejut, dan memekik girang. Serim segera memanggil dokter begitu melihat Jungmo sudah tersadar sepenuhnya.

“Jungmo.. Ya Tuhan.. akhirnya kamu bangun..”

Jungmo menatap Wonjin, lalu mengernyit heran.

“Minhee.. mana Minhee? Kamu.. siapa?”

Dunia Wonjin runtuh begitu mengetahui bahwa Jungmo, sahabatnya kini mengalami amnesia dan skenario terburuknya adalah.. Jungmo melupakan dirinya, dan hanya mengingat Minhee.


“Wonjin?”

Wonjin mengangkat kepalanya begitu mendengar namanya dipanggil. Jungmo menatapnya dengan lekat, membuat Wonjin sedikit gugup dibuatnya.

“Katakan yang sejujurnya.. Minhee kemana?”

Wonjin menelan ludah, haruskah dia menceritakan hal yang sebenarnya terjadi pada Jungmo?

“Minhee..”

Nafas Wonjin tercekat, ia takut untuk melanjutkan kalimat selanjutnya.

“Minhee sudah tenang, Jungmo.. Nyawanya tidak terselamatkan.”

Wonjin mampu melihat Jungmo yang terkejut dan menangis sejadi-jadinya saat itu juga. Hati Wonjin mencelos begitu melihat betapa hancurnya Jungmo saat ini, dan ia hanya memilih untuk diam sembari mengelus pelan punggung Jungmo.


Bulan demi bulan berlalu, kini Jungmo memberanikan dirinya untuk mengunjungi makam Minhee. Memberikan beberapa tangkai lili putih pada sosok yang dia sayangi sepenuh hati. Ia mengusap lembut nisan Minhee sembari berbisik,

“Maaf aku baru mengunjungimu hari ini. Maaf karena aku tidak bisa melindungimu dan menghadiri pemakamanmu. Berbahagialah disana, Minhee. Aku juga akan berbahagia disini. Kau tahu kan, aku akan selalu menyayangimu sepanjang hidupku. Beristirahatlah dengan damai, separuh rusukku.”

.

fin

Memendam rasa

Kata orang, cinta pertama itu memiliki peranan yang besar di kehidupanmu. Mereka mengajarimu banyak hal dalam kehidupan, entah itu suka ataupun duka. Pun jika -maaf- tak ditakdirkan bersama, dia bisa mengajarimu tentang ikhlas dan merelakan. Wonjin mengetuk-ngetuk ujung penanya di meja belajar. Alunan lagu Strawberries and Cigarettes yang dibawakan oleh Troye Sivan mengalun pelan di kamarnya yang temaram. Menopang dagunya, Wonjin melanjutkan tugasnya dengan tenang, walau angannya tengah berkecamuk karena terlalu lama memikirkan sosok cinta pertamanya.

Sebut saja dia pecundang, karena berhasil memendam rasa sukanya selama hampir 5 tahun. Wonjin kira, seiring berjalannya waktu rasa itu akan hilang. Namun sayang, kini rasa suka itu berubah menjadi rasa cinta yang teramat dalam. Wonjin menghela nafas pelan, tersenyum kecut karena kebodohannya dulu. Membereskan kertas serta buku-buku tebalnya, Wonjin berniat untuk mengakhiri malam ini dengan tidur di kasur kesayangannya. Wonjin menjatuhkan badannya pelan, menelungkupkan wajahnya di bantal sembari menutup matanya perlahan.

Ya, setidaknya tidur bisa menjadi obat untuk patah hatinya. Iya, kan?

“Wonjin.”

Wonjin membuka matanya pelan, menyesuaikan paparan cahaya yang berebut masuk ke dalam retinanya ketika mendengar namanya dipanggil dari luar, tentu dengan diikuti suara ketukan pintu yang tergesa.

“Wonjin, bangun. Jungmo ada di bawah.”

Wonjin terdiam, ia tidak salah dengar, kan?

“Hah?”

“Jangan kebanyakan ngelamun makanya, cepat ke bawah. Jungmo bilang dia ingin menyampaikan sesuatu.”

Wonjin kembali terdiam setelah mendengar langkah ibunya yang menjauh. Otaknya sibuk mengolah informasi yang baru dia dapat.

“Hah.. Jungmo siapa- HAH KOO JUNGMO?”

Wonjin bergegas keluar dari kamarnya dan berlarian di tangga hingga akhirnya dia terjatuh tepat di anak tangga terakhir.

“WONJIN, JANGAN LARI-LARI DI RUMAH.”

Jungmo yang melihat sahabatnya nyungsep itu tertawa kecil dan membantu Wonjin untuk bangun.

“Ngapain sih lari-lari?”

Jungmo menjitak dahi Wonjin pelan, membuat sang empu mengaduh kesakitan. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula, pikir Wonjin.

“Ya habis, kakak ngapain minggu gini ke rumah? Segabut itu kah?”

Wonjin nyolot, memberi tatapan tajam pada Jungmo sebagai tanda tidak terima karena tidurnya terganggu. Ya, walau sebenarnya dalam hati dia senang karena Jungmo mampir ke rumahnya. Dasar tsundere.

“Temenin aku beli kado buat Minhee, mau kan? Sekalian jalan-jalan deh aku yang traktir.”

Wonjin menaikkan satu alisnya, Minhee? Adik tingkatnya?

“Kamu kok kenal Minhee?”

“Ya.. aku kenal dari acara dies natalis kemarin sih. Waktu itu ketemu di backstage, dan aku rasa aku mulai naruh rasa ke Minhee. Bantu aku ya Jin?”

Wonjin, entahlah. Hatinya sedikit hancur saat mendengar penuturan Jungmo. Namun, dengan bodohnya ia hanya mengangguk dan tersenyum kaku setelahnya.

Tanpa mengetahui hari itu adalah awal dari patah hati sekaligus penyesalan terbesarnya dimulai.

-

Wonjin membuka matanya yang terasa berat. Memandangi langit langit kamarnya dengan tatapan sendu. Ah, sepertinya dia menangis saat tertidur tadi. Wonjin melirik jam digital yang bertengger manis di meja belajarnya.

“Oh, udah jam 8 pagi.”

Wonjin menutup wajahnya dengan telapak tangan untuk sesaat, lalu memaksa tubuhnya untuk bangkit dari zona nyamannya.

Ini hari pernikahan Jungmo dan Minhee, Wonjin tahu hal itu. Kisah Jungmo dan Minhee berakhir indah dengan ajakan Jungmo untuk mengikat janji suci pada Minhee. Wonjin turut bahagia mendengar hal itu, ya, dia bahagia karena Jungmo bahagia.

Setelah selesai dengan urusan tampilannya, Wonjin mengambil kunci mobil dan dompet beserta gawainya dan bergegas untuk menghadiri acara sakral milik sahabatnya.

-

Pernikahan Jungmo dan Minhee berjalan lancar dan euforia yang diciptakan oleh keduanya membuat para tamu undangan turut larut dalam suka cita.

Wonjin tengah meminum segelas air ketika Jungmo merangkul pundaknya. Wonjin tersentak dan menolehkan kepalanya, lalu tersenyum kecil begitu mengetahui pelakunya.

“Hei pasangan baru, kau terlihat bahagia.”

Basa basi, Wonjin benci sekali mengakui hal ini.

“Tentu, aku dan Minhee sudah resmi menjadi suami-istri setelah seribu purnama kami lewati untuk mendapat restu, haha.”

Jungmo tertawa kecil dan menatap Wonjin dalam-dalam. Wonjin gugup kala Jungmo menatapnya seperti itu.

“Dan terima kasih juga untukmu karena mau menemaniku di segala waktu. Bahkan kau rela bolos meeting perusahaan hanya demi memenuhi undanganku dan Minhee. Terima kasih ya?”

Wonjin hanya mengangguk pelan. Sungguh ia sendiri lupa bahwa hari ini dia harus menemani ayahnya untuk meeting penting dengan beberapa kolega bisnisnya.

“Satu lagi, aku belum pernah mengatakan ini kepadamu. Terima kasih ya karena sudah menjadi cinta pertamaku. Aku tahu aku bodoh baru menyatakannya sekarang, dan kau boleh marah padaku setelah ini.”

Wonjin termangu, lidahnya terasa kelu.

“Aku pernah menaruh rasa padamu, Wonjin. Sejak awal pertemuan kita dulu, aku sudah memendam rasa padamu. Namun, aku takut kau akan menjauh atau lebih buruknya kau akan pergi meninggalkanku jika aku mengatakan ini. Maaf karena baru memberitahumu sekarang, tapi aku harap kau bisa menemukan sosok yang lebih baik dari aku ya, janji?”

Jungmo mengulurkan jari kelingkingnya pada Wonjin yang terdiam.

“Wonjin?”

“Ah.. iya? Anu, Jungmo.. maaf aku baru mengatakan ini, tapi terima kasih juga karena telah menjadi orang pertama yang aku sayangi dalam konteks romantis. Berbahagialah dengan Minhee, jangan membuat adik manisku menangis ya? Dan untuk yang terakhir, aku tidak janji tapi doakan aku ya?”

Manik Jungmo membola ketika mengetahui sahabatnya ini juga menyimpan rasa padanya. Astaga, dia merasa jahat pada Wonjin.

“Wonjin.. maaf.”

Wonjin menggeleng pelan.

“Tidak apa, jangan menangis di hari pernikahanmu jelek. Aku pamit dulu ya? Ada telefon dari papa.”

Jungmo mengangguk dan membiarkan sahabatnya melangkah menjauh sembari menempelkan gawainya di telinga. Ah, Jungmo tahu Wonjin berbohong, dia tahu Wonjin tengah menahan isakan tangisnya karena bahu pemuda itu tampak bergetar walau samar.

“Berbahagialah, Wonjin.”

-

“Halo, ada apa Wonjin?”

“Kak Serim, mau menemaniku sebentar? Di cafe depan kantor kakak ya.”

“Jangan kemana-mana, aku segera menyusulmu. Tunggu aku ya, jangan kelamaan nangisnya.”

-

Tentang Si Bungsu.

Banyak yang mengenal sosok bungsu dari keluarga Tanuwijaya. Pribadinya yang ramah dan ceria membuatnya kerap kali membuat ibu-ibu di kompleknya merasa gemas ingin meminangnya sebagai menantu. Yang tentu saja ditolak secara halus oleh bundanya. Ia berkata bahwa si bungsunya ini masih butuh banyak pengalaman romansa sebelum dipinang menjadi mantu idaman kelak. Sedangkan, yang dibicarakan hanya merengut sebal dengan ucapan ibunya itu.

Terbiasa hidup berdua selama puluhan tahun membuat kedua insan itu terbilang cukup dekat secara batin. Walau terkadang ia merengek ingin bertemu kakaknya yang memutuskan untuk hidup mandiri sejak mereka berada di strata menengah atas. Tak jarang si bungsu; ah, mari kita panggil dia dengan sebutan Ale, menitipkan salam untuk kakaknya itu lewat bundanya. Alasannya? Ia terlalu takut untuk menghubungi kakaknya sendiri karena beberapa hal, yang bisa disebut sebagai trauma.

Mungkin sebagian dari orang yang mengenalnya tidak pernah tahu tentang apa yang terjadi 7 tahun lalu, tepat di hari ulang tahun kakaknya, Lintang. Kejadian tak terduga yang berhasil membuat hidupnya dihantui oleh rasa bersalah, meski sang bunda kerap menentang tiap kali Ale selalu memposisikan dirinya sebagai orang yang sudah menghancurkan keluarganya. Hidup dalam bayang-bayang pikiran buruknya dalam kurun waktu yang cukup lama membuat Ale tumbuh menjadi sosok yang takut akan kesalahan dan membuatnya menjadi sosok yang pendiam, serta perfeksionis selama masa menengah atas.

Hal ini terbukti dari perkembangan nilainya yang nyaris sempurna, walau tak di semua bidang studi. Ale sendiri sudah berkali-kali menjuarai beberapa olimpiade yang menjadi kebanggaan tersendiri untuknya. Selain itu, karena adanya perubahan sifatnya ini, dia cenderung lebih sering untuk diam daripada harus bercerita pada teman atau sahabatnya tentang apa yang memenuhi kepalanya. Ia takut jika teman-temannya akan menganggapnya sebagai pelaku utama dari peristiwa kematian ayahnya beberapa tahun lalu. Jujur, Ale sendiri masih merekam jelas perkataan orang disekitarnya kala itu.

“Dia yang bikin ayah ngga ada.”

“Kenapa bukan dia saja yang meninggal, kasihan kakaknya.”

“Dia memang lucu, tapi sayang sikapnya terlalu egois.”

Dan masih banyak lagi. Yang Ale lakukan saat itu, hanyalah mengurung dirinya di kamar, hampir seharian penuh dia terdiam dan enggan untuk sekedar makan. Ia tahu, ia memang egois, tapi apa yang mereka harapkan dari bocah berumur 6 tahun yang meminta mainan pada ayahnya? Tidak ada bukan? Sejak saat itu pula, Ale tidak berani untuk sekedar menatap ataupun berbicara dengan Lintang. Mungkin, mereka hanya akan berbincang jika bundanya bertanya.

Ya, setidaknya menurut Ale ini adalah karmanya. Begitu kan?

Ale memijat pelipisnya pelan, ia baru saja menyelesaikan jurnalnya pukul 3 pagi. Sedangkan, kelasnya akan dimulai jam 7 pagi. Ia pun menghela nafas kasar dan segera menelungkupkan dirinya dalam balutan selimut untuk tidur walau hanya beberapa jam. Baru saja ia memejamkan mata, gawainya berdering keras, menandakan ada satu panggilan masuk disana. Ale mengernyitkan dahinya, pasalnya bunda bilang jika ia akan menginap di rumah Surabaya selama satu minggu bersama tantenya karena urusan bisnis dan meninggalkannya seorang diri di Yogyakarta.

Ale meraih gawai di nakasnya, dan mengangkat telefon itu tanpa melihat nama pemanggilnya.

“Kenapa bun? Ale baru mau tidur.”

Hening berlangsung cukup lama, membuat Ale terheran.

“Ale, aku bukan bunda.”

Ale terdiam, ia melihat nama pemanggil yang terpampang di layar gawainya. Ya, itu adalah kakaknya, Lintang.

“Um.. maaf aku kira tadi bunda. Kakak kenapa nelfon aku jam segini? Kok belum tidur juga.. eh atau kakak mau nyari bunda?”

Ale mendengar kekehan di sebrang sambungan telefonnya.

“Aku sengaja nelfon kamu jam segini soalnya tadi bunda bilang kamu ga ngangkat telefonnya dari sore. Coba kamu lihat log panggilan kamu, kasihan tuh bunda khawatir.”

Ale mendelik ketika mendengar ucapan kakaknya, dan benar saja ada hampir 30 missed call dari sang bunda. Ale menepuk dahinya pelan, pantas saja tadi ia merasa tak tenang ketika mengerjakan jurnal, ternyata benar hpnya sedang dalam mode silent dan ia sibuk bertarung dengan keyboard dan layar laptopnya.

“Oh.. tadi, um.. aku lagi ngerjain jurnal.. hpnya aku silent, jadi ngga tau... maaf?”

“Haha, nggak papa. Tadi aku juga udah bilang bunda kalau mungkin kamunya lagi sibuk sama tugas. Tipikal kamu kan?”

Ale terdiam. Memang, ia cenderung terfokus pada satu hal yang menurutnya lebih penting saat itu, sehingga tak jarang ia mendapat ocehan dari bundanya dan beberapa teman kampusnya karena tak pernah mengangkat telefon.

“Iya.. hehe.. Kakak belum ngantuk? Ini hampir subuh.”

“Aku juga baru selesai ngerjain tugas, dan kebetulan besok aku kosong gaada kelas. Harusnya kamu tuh yang tidur, ada kelas kan pagi ini?”

“Iya.. aku duluan gaapa kak?”

“Gapapa kok, tidur yang nyenyak ya.”

Dan sambungan telefon itu terputus, meninggalkan Ale yang kini terdiam, namun ia mengukir seulas senyum tipis di wajahnya. Ya, setidaknya malam ini ia bisa tidur dengan perasaan gembira.

-

Banyak orang yang beranggapan bahwa sosok Lintang cenderung lebih kalem dan bijaksana daripada Ale yang selalu membicarakan banyak hal setiap kali mereka bertemu. Tak jarang juga, hal itu membuat Ale menjadi agak canggung jika berpergian dengan kakaknya. Alasannya sederhana, ia takut kalau-kalau Lintang akan merasa risih dengan kehadirannya. Walau Lintang sudah menjelaskan alasannya menjauh dari Ale dulu, Ale masih merasa sedikit bersalah karenanya.

Namun, entah apa yang membuatnya kini terdiam dengan mulut terbuka di tengah malam. Ia mengerjapkan matanya ketika melihat sebuah kue dan lilin, serta sosok bunda dan Lintang ada di depan pintu kamarnya.

“Loh, siapa yang ulang tahun?”

Ale bertanya dengan raut wajah yang terbilang konyol; mulutnya terbuka lebar, alisnya menukik tajam sembari menunjuk kue yang dibawa oleh dua orang paling berharga dalam hidupnya itu.

Bunda hanya tertawa, sedangkan Lintang sudah merotasikan matanya malas. Adiknya ini memang pelupa, bahkan hari ulang tahunnya saja lupa.

“Ambil hp kamu gih, coba lihat sekarang tanggal berapa?”

Ale mengangguk dengan terbata-bata. Ia mengambil gawainya di nakas dan menyalakannya.

“8 Juli 2020, lalu?”

Ale memiringkan kepalanya, bingung dengan keheningan yang menyelimuti kamarnya. Lintang menghela nafas pelan sembari menyunggingkan seulas senyum. Ia pun mendekati sang adik dan mencubit pipinya.

“Ini hari ulang tahunmu, bodoh.”

“A-Adwuh swakit Kak Kwala!”

Lintang melepas cubitannya dan tertawa lepas, begitupula sang bunda, dan menyisakan Ale yang merengut sebal. Lintang menyuruh Ale untuk segera mengucapkan harapannya sebelum melakukan prosesi tiup lilin. Setelah lilin itu padam, Lintang dan bundanya mengucapkan ucapan selamat padanya.

“Happy birthday Ale jelek, wishnya rahasia, tapi semoga apa yang kamu semogakan terkabul ya adik manis!”

“Selamat ulang tahun anak bunda yang paling manja, eh atau malah yang paling cengeng? Doa bunda buat kamu udah bunda ucapin disetiap solatnya bunda. Cari pacar ya biar ga jomblo lagi.”

Ale merengut kembali tak kala mendengar ucapan sang bunda. Lalu mengangguk sebagai jawabannya.

“Bunda tinggal ya? Nanti pagi kita ngobrol lagi, Lintang temenin adek kamu ya.”

“Siap bun!”

“IH BUNDA AKU BUKAN BAYI LAGIII.”

“Kamu tetep jadi bayinya bunda sama Kak Lintang, Ale. Hehe, selamat tidur jagoannya bunda.”

“Selamat tidur bunda!”

Ale dan Lintang menyahut secara bersamaan dan melambaikan tangannya pada sang bunda yang sudah menghilang dibalik pintu kamar Ale.

“Jadi, ada yang mau kamu sampein ke kakak?”

Ale mengangguk singkat, dan mengambil iPadnya. Membuka sesuatu yang tampak seperti notepad rahasia yang berada dalam suatu website.

“Buka ini, kakak baca aja. Sandinya 08072001. Selamat malam!”

Lintang mengangkat alisnya heran, dan memilih untuk membiarkan adiknya tertidur. Ia membuka web yang Ale katakan dan memasukkan sandinya.

[ https://www.protectedtext.com/nsflcontent ]

Lintang melirik sekilas kearah Ale yang kini sudah terlelap dengan senyuman di wajahnya. Ia mengusak pelan surai kecoklatan milik Ale sembari tersenyum tipis.

“Dasar jelek.”

Tentang Bulan dan Matahari.

Temaram, dan sunyi. Malam ini aku kembali termenung, menatap jendelaku dengan penuh tanya dalam akalku. Entah apa yang membuatku hampir terjaga setiap malam, rasanya menyebalkan. Tapi, di sisi lain rasanya sangat menyenangkan.

Aku menutup mataku sejenak, ratusan memori dalam otakku mulai berebutan untuk menampakkan diri. Seolah ingin agar aku memimpikan sosok yang mereka bawa dari masa laluku.

“𝗞𝗮𝗺𝘂 𝘁𝗮𝘂 𝗻𝗴𝗴𝗮 𝘁𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗶𝘀𝗮𝗵 𝗿𝗼𝗺𝗮𝗻𝘀𝗮 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗺𝗮𝘁𝗮𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗯𝘂𝗹𝗮𝗻?”

Aku membuka netraku perlahan; merasa tidak asing dengan salah satu cuplikan memoriku dulu.

“Kisah mereka terlalu pilu untuk diceritakan, cinta sepihak yang tak akan pernah menemukan titik untuk dapat bersama.” bisikku.

Terdengar kekehan kecil keluar dari bibirnya, “𝗞𝗮𝗺𝘂 𝗺𝗮𝘂 𝘁𝗮𝗵𝘂 𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗿𝗶𝗸 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗶𝘀𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮?”

Aku mengangguk, mengiyakan perkataannya. Walau aku tahu dia tidak akan pernah bisa melihat anggukanku.

“𝗕𝘂𝗹𝗮𝗻 𝗯𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗺𝗮𝘁𝗮𝗵𝗮𝗿𝗶, 𝗮𝗽𝗮𝗸𝗮𝗵 𝗶𝘁𝘂 𝗰𝗶𝗻𝘁𝗮. 𝗠𝗮𝘁𝗮𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗮𝘁𝗮𝗽 𝘀𝗮𝗻𝗴 𝗯𝘂𝗹𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗻𝘆𝘂𝗺 𝗴𝗲𝘁𝗶𝗿 𝗱𝗶 𝘄𝗮𝗷𝗮𝗵𝗻𝘆𝗮, “𝗖𝗶𝗻𝘁𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗮𝘁 𝗵𝗮𝘁𝗶𝗺𝘂 𝘁𝗲𝗿𝗯𝗮𝗸𝗮𝗿.” 𝗕𝘂𝗹𝗮𝗻 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗿𝘁𝗶 𝗮𝗽𝗮 𝗺𝗮𝗸𝘀𝘂𝗱 𝘀𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗮𝘁𝗮𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝘀𝗮𝗮𝘁 𝗶𝘁𝘂.”

Kuresapi setiap kata yang keluar dari bibir kecilnya sembari berpikir, entah kenapa rasanya aku tidak asing dengan obrolan ini.

“𝗡𝗮𝗺𝘂𝗻, 𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗯𝘂𝗹𝗮𝗻 𝘀𝗮𝗱𝗮𝗿 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗰𝗶𝗻𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗺𝗮𝘁𝗮𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗲𝘀𝘂𝗮𝘁𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗿𝗹𝗮𝘄𝗮𝗻𝗮𝗻 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘁𝗮𝗸𝗱𝗶𝗿. 𝗦𝗲𝗺𝗲𝘀𝘁𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗿𝗲𝘀𝘁𝘂𝗶𝗻𝘆𝗮, 𝗯𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻 𝗯𝘂𝗺𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗹𝗮𝗻𝗴𝗶𝘁 𝗽𝘂𝗻 𝘁𝘂𝗿𝘂𝘁 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗲𝗿𝗮𝘀𝗮𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮.”

Tunggu, kenapa mataku memanas?

“𝗦𝗮𝘁𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗮𝗸𝘂 𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝘀𝗮𝗻𝗴 𝗯𝘂𝗹𝗮𝗻, 𝗱𝗶𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝘁𝗮 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗱𝗶𝗮 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝘀𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗮𝘁𝗮𝗵𝗮𝗿𝗶 𝘄𝗮𝗹𝗮𝘂 𝗱𝗶𝗮 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗲𝗿𝗽𝗲𝗻𝗱𝗮𝗿. 𝗕𝘂𝗹𝗮𝗻 𝗷𝘂𝗴𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝘁𝗮 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗺𝘂𝗻𝗴𝗸𝗶𝗻, 𝗱𝗶𝗮 𝘀𝘂𝗱𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗶𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗺𝗮𝘁𝗮𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗱𝗲𝗻𝗴𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗽𝗲𝗻𝘂𝗵 𝗵𝗮𝘁𝗶𝗻𝘆𝗮.”

Tanpa sadar, pipiku kini sudah basah. Dihujani oleh air mata yang berdesakan keluar dari pelupuk netra.

“𝗕𝘂𝗸𝗮𝗻𝗸𝗮𝗵, 𝗸𝗶𝘀𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗿𝗲𝗸𝗮 𝘀𝗮𝗺𝗮 𝘀𝗲𝗽𝗲𝗿𝘁𝗶 𝗸𝗶𝘁𝗮? 𝗞𝗮𝗺𝘂 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗮𝘁𝗮𝗵𝗮𝗿𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗮𝗸𝘂 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗯𝘂𝗹𝗮𝗻. 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮𝗺𝘂 𝗮𝗸𝘂 𝘁𝗮𝗸 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵 𝘁𝗲𝗿𝗹𝗶𝗵𝗮𝘁. 𝗧𝗮𝗻𝗽𝗮𝗸𝘂, 𝗸𝗮𝗺𝘂 𝗺𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗶𝗻𝗮𝗿 𝘁𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴. 𝗕𝗲𝗻𝗮𝗿 𝗯𝗲𝗴𝗶𝘁𝘂 𝗸𝗮𝗻?”

Satu hal yang membekas dalam memoriku adalahnya senyumnya. Teduh layaknya langit, dan menenangkan layaknya lautan. Entah apa yang kini aku pikirkan, tetapi ingatan itu berhasil membuatku luruh dalam sendu malam ini.

'Sore ini mendung kembali memeluk langit Surabaya. Menghiraukan derasnya arus kendaraan di bawah kungkungannya. Semilir angin sejuk turut membelai kulit dengan lembutnya. Membuai setiap insan yang dilaluinya untuk bergegas pulang ke rumah. Decitan rem serta raungan klakson saling bersahutan, menciptakan kebisingan yang tiada tandingnya.

Rintik hujan perlahan turun membasahi kulit bumi. Menciptakan suatu aroma khas yang mungkin bisa menghipnotismu untuk lari dari kesibukan dunia. Membawamu berlarian di tengah padatnya jalanan kota, juga di padang fana bernama rindu.'

Nida, sosok gadis yang kini terdiam manis sembari menikmati hujan di balkon rumahnya, terkekeh kecil ketika mendengar rekaman podcast yang sedang ia putar beberapa saat yang lalu. Nida melepas earphone yang bertengger manis di telinganya sembari mengingat salah satu kalimat yang mungkin akan menjadi favoritnya mulai saat ini.

ㅡ 'Bukankah hujan begitu konyol? Dia menciptakan sebuah fantasi tentang kerinduan dan rasa kehilangan yang tak berdasar pada apapun.'

Nida melangkahkan kakinya menjauhi balkon. Langkah ringannya berhenti di depan counter dapur, membuat netranya terpaku pada dua gelas teh hangat lengkap dengan sepiring gorengan yang nampak menggoda untuk dicicipi. Mamanya? Tidak mungkin, mamanya sudah mengirim pesan bahwa hari ini beliau akan pulang malam. Ayahnya? Juga tidak mungkin, beliau sedang di luar kota untuk mengurus kerjaannya. Lalu, siapa?

“Oh, aku kira kamu masih belajar. Baru aja aku mau ngajak nyemil.”

Nida terperanjat ketika sebuah suara menyapa kedua telinganya. Nida menolehkan pandangannya dan menemukan sosok tetangganya yang terkekeh pelan. Nida ingin mengumpat, tapi bukankah tidak sopan jika kita mengumpat di depan makanan? Apalagi ini gorengan, big no.

“Kak Yoga kenapa ngagetin sih? Hampir aja aku ngira ada penghuni ghaib di rumah!”

Nida menyilangkan kedua tangannya di depan dada sembari mencebikkan bibirnya. Lucu, batin Yoga.

Yoga mengelus pelan surai Nida, “Memangnya aku gaboleh datang kesini? Aku denger dari mama kalau kamu lagi sendirian, makanya aku bawain gorengan. Tadi, niatnya mau aku bawain ke kamar, tapi ternyata kamu udah ke dapur duluan. Yaudah deh.”

Rona merah tampak menghiasi pipi Nida. Yoga yang melihatnya hanya terkekeh kecil sembari mengajak Nida untuk duduk dan menikmati gorengan yang sudah dibawanya.

Nida mengambil satu mendoan dari piring dan mulai menyantapnya dengan santai. Begitupula Yoga. Keduanya terlibat dalam obrolan santai tentang permasalahan uliah Yoga dan kesibukan Nida untuk persiapan UTBK.

“Nid, ada saus di tepi bibir kiri kamu.”

Yoga menyodorkan selembar tisu pada Nida, yang direspon dengan baik oleh Nida. Nida membersihkan sisa saus di tepi bibirnya dan melanjutkan makannya setelah menggumamkan kata terima kasih pada Yoga.

“Kak, kakak pernah ngga jatuh hati sama orang terdekat kakak?”

Sebuah pertanyaan terlontar dari bibir Nida, yang mana berhasil membuat Yoga tersedak gorengannya. Nida yang melihatnya buru-buru menyodorkan gelas tehnya pada Yoga. Yoga menegak sisa teh hangat di gelasnya dengan rakus.

“Eh, maaf kak. Aku gamaksud bikin kakak kaget.”

Yoga menggeleng pelan sebagai jawaban, “Gapapa dek, aku ga expect aja kamu nanya gini ke aku.”

Nida hanya menggaruk pelipisnya sembari terkekeh. Canggung. Yoga kembali mengambil mendoan dan menatap Nida yang sepertinya mati canggung.

“Kalau kamu nanya soal pernah jatuh hati atau engga, maka jawabannya pernah. Orang ini cinta pertama kakak, tapi kakak gaberani buat confess karena kakak tahu dia sedang berjuang untuk masa depannya.”

Yoga bangkit dari tempatnya dan mengambil segelas air. Nida masih terdiam sembari menatap setiap kegiatan tetangganya itu.

“Kamu mau tahu ngga siapa orangnya?”

Nida menatap Yoga dengan ragu, “Memangnya boleh?”

Yoga terkekeh lalu menyodorkan segelas air pada Nida, “Boleh kok.”

Setelahnya Nida hanya mengangguk kecil.

“Orangnya ada di depan kakak, lagi megang mendoan, pakai hoodie abu-abu.”

Butuh waktu sepersekian detik sebelum mendoan yang Nida pegang terjatuh, dan sadar bahwa yang dibicarakan oleh Yoga adalah dirinya.

“Kak Yoga bercanda ya? Gamungkin ah.”

Nida mengibaskan tangan di depan wajahnya, tak percaya.

“Ngapain kakak bercanda. Emang beneran kamu kok.”

Kali Nida dibuat terpaku karena sebuah ciuman hangat yang mendarat di dahinya.

“Untuk saat ini aku kasih di dahi, suatu saat nanti aku kasih disini kalau udah mukhrim.”

Yoga menyentuh bibirnya sembari tertawa renyah. Sebelum telinga Yoga menjadi korban ocehan Nida, maka Yoga bergegas keluar dari dapur.

“KAK YOGAAAAAAAAAAA!”

  • fin.