carolineakim

Dor!

MAAF YA DIBIKIN RIBET, BIAR SERUUU. HEHE.

Kak El, selamat ulangtahun! Selamat bertambah tua, selamat menjalani hidup sebagai manusia di tahun yang kesekian. Kak El, terimakasih ya karena sudah lahir dan ada di dunia. Terimakasih karena mau berteman dengan Akira dan tahan sama Akira yang bawel luar biasa kayak gini.

Kalau diingat-ingat, dulu di Crossie kita nggak terlalu dekat, ya? Cuman sekadar ngobrol di gdm. Tapi, aku inget kok dulu kita ketemu di base intl! Dan first impression aku ke kakak itu langsung, ramaaaaaaah banget. Sama sekali nggak ada kesan galak. Terus juga kakak peduli banget sama orang di sekitar, peduli sama hal-hal kecil. I don't know that you know about it or nah, but every good things that you did truly blessings for me, for us.

Semoga di tahun yang kesekian ini, kakak selalu bahagia dan sehat, ya. Selalu diberi kemudahan dan berkah yang banyak sama Tuhan. Sukses terus ya, Kak El! I hope that someday we can meet soon and that time, I can tell you about the best achievement that I've ever got.

Kak El best brother!

Akira loves Kak El so much!

Enjoy your day and have an excellent day ahead!

Sincerely, Akira.

—2Seung.

Untuk beberapa alasan, Seungsik merasa tubuhnya bergetar hebat hanya karena ditatap oleh lelaki di depannya. Sebenarnya, tidak ada tatapan penuh amarah atau gertakan yang membuatnya setakut ini.

Justru tatapan teduh dengan seulas senyum tipis itulah yang membuat kakinya seakan tidak menapak di atas tanah. Tatapan teduh itu seolah-olah menyudutkannya, menuntut banyak hal, menelanjangi, dan bahkan merendahkannya.

“Hari ini menyenangkan, ya?”

Butuh beberapa waktu untuk berpikir tentang jawaban apa yang tepat. Hingga pada akhirnya, Seungsik hanya menjawab, “T—tidak terlalu.”

“Oh?” Lelaki itu tertawa kecil, membawa langkah kakinya mendekat ke arah Seungsik yang tampak semakin gusar. “Berarti kamu tadi terpaksa untuk tertawa lepas di depan Sejun dan Chan?”

Seharusnya Seungsik tahu, jawaban apapun yang dia lontarkan itu pasti salah dan akan membuatnya kembali tersudut dalam keadaan yang sedikit sulit.

“K—kak Seungwoo, bukan. Bukan begitu maksudku. Aku—”

Lagi, Seungwoo tertawa kecil dan hal itu kembali membuat bulu kuduk Seungsik meremang. Jarak keduanya kini benar-benar dekat dan tangan Seungwoo kini digunakan untuk menyentuh dagu Seungsik, lalu mengangkatnya dengan lembut. “Aku ada di hadapanmu, sayang. Bukan di bawah.”

Sentuhan di dagu itupun beralih menjadi cengkeraman erat di rahangnya, membuat Seungsik mengerang pelan dan memaksa kedua matanya bertatapan langsung dengan sepasang mata Seungwoo.

Senyuman kecil di wajah tampan itu berubah menjadi seringaian pun tatapan teduhnya kian menggelap. Tubuhnya dibawa maju, membuat tubuh Seungsik nyaris terhempas ke atas kasur, tetapi Seungwoo segera menahan pinggangnya dan merengkuh tubuh lelaki dengan senyuman di mata yang indah itu dengan sebelah tangan yang masih mencengkeram erat rahangnya.

“Kakak...”

“Sakit, hm?” Tanya Seungwoo seraya mengendurkan cengkraman di rahang Seungsik, membuat lelaki di dalam rengkuhannya itu menghela nafas lega sesaat. Kepalanya menggeleng pelan, “Tidak. Tidak sakit.”

Seungwoo kembali menyeringai, mendekatkan bibirnya pada telinga Seungsik untuk berbisik di sana. “Jalang.”

Kedua tangan Seungsik yang awalnya terkulai lemas di sisi tubuhnya langsung terangkat untuk mencengkram pelan kemeja Seungwoo di bagian dada. Seungwoo terkekeh ketika menyadari pergerakan lelakinya. Tangannya yang berada di rahang Seungsik itu kini turun untuk menyentuh penisnya.

“Aku baru berkata jalang dan kamu sudah menegang seperti ini?” Seungwoo pura-pura terkejut, menghiraukan nafas Seungsik yang mulai terputus-putus karena tangan Seungwoo tidak berhenti mengelus penisnya dengan nakal. “Siapa alphamu, Kang Seungsik?”

“Nn—aah!”

Seungsik menumpukan beban tubuh sepenuhnya kepada Seungwoo setelah lelaki itu meremas penisnya dengan kuat. Matanya mulai basah, merasa frustasi, malu, dan takut dalam satu waktu.

“Jawab, Kang Seungsik. Aku tidak menyuruhmu untuk mendesah.” Titah Seungwoo, penuh penekanan. “Aku ulangi, siapa alphamu?”

Nafas Seungsik tercekat, “S—seungwoo. Han Seungwoo. Hanya Han Seungwoo.”

Seungwoo menyeringai puas. “Lalu, kamu ingat tidak perintah mutlak yang pernah diucapkan oleh alphamu ini?”

Tangannya mulai bergerak masuk ke dalam baju Seungsik, mengelus punggung omega itu dengan sensual. Lalu, turun di balik celana, menggoda kerutan lubang yang sudah mulai basah.

“K—kaakhh...”

Satu jarinya menerobos masuk ketika mendengar desahan pelan, membuat Seungsik mengerang lebih keras dan merapatkan tubuhnya ke arah Seungwoo.

“Jawab, sayang.”

“Aku—nghh, aku tidak boleh bertemu dengan alpha lain ketika... Mngh—ketika jadwal heat semakin dekat.” Seungsik menjawab dengan susah payah karena satu jari Seungwoo telah bergerak di dalam lubangnya.

“Lalu, mengapa kamu terlihat senang sekali ketika pergi dengan dua alpha tadi? Apakah kamu tidak takut jika tiba-tiba heat-mu datang dan mereka menyerangmu karena aroma harum itu menguar?” Seungwoo mempercepat gerakan jarinya, membuat lubang Seungsik semakin basah dan tubuhnya melemas di dalam dekapan alphanya.

Seungsik menyandarkan kepalanya pada bahu Seungwoo dan mendesah keras ketika jari panjang milik lelaki Han itu menyentuh titik sensitifnya di dalam sana. Hal itu membuat Seungwoo kembali menyeringai, lalu mengeluarkan jarinya dari dalam lubang Seungsik hanya untuk melepas fabrik yang masih melekat di kaki omeganya.

Sebelah tangan Seungwoo yang sejak tadi digunakan untuk menahan pinggang Seungsik supaya tidak jatuh, kini beralih untuk mengusap kepalanya dengan lembut dan bibirnya menghujani pucuk kepala omega kesayangannya itu dengan kecupan.

“Seungsik anak baik, Seungsik pintar. Mengerti 'kan sekarang harus apa?”

Oh, bahkan Seungsik sudah jauh dari sekadar mengerti apa yang harus dia lakukan jika alphanya marah seperti ini.

ㅤ ㅤㅤ ㅤ ㅤㅤ ✰

Seungsik menenggelamkan wajahnya di bantal, meredam teriakannya ketika Seungwoo mendaratkan tamparan di sisi pantatnya berkali-kali. Terasa panas, tetapi hal itu mampu membuat penisnya basah. Seungwoo hanya bertelanjang dada itu menatap figur yang sedang menungging di depannya, bergetar lemah.

“Mama Kang pernah bilang jika saat kamu masih kecil, kamu sangat penurut. Jadi, kamu tidak pernah dicubit atau dipukul karena tidak menurut.” Ucap Seungwoo seraya memajukan tubuhnya dan menjilat daun telinga omeganya. “Tapi, sekarang kamu tidak seperti dulu, ya? Apa harus aku pukul dulu pantatmu supaya menurut?”

Seungsik menggeleng dengan susah payah, lalu menggigit bibirnya ketika jemari Seungwoo mencengkram surai hitamnya, membuat kepalanya mendongak dengan paksa. “K—kakak, mnhh...”

Tawa pelan mengalun dari bibir Seungwoo, cengkramannya di surai Seungsik berubah menjadi elusan lembut dan bibirnya mendarat untuk memberi kecupan di bahu telanjang omeganya. “Berbalik, sayang.”

Akhirnya, Seungsik berbalik dan menghela nafas lega untuk sesaat karena kakinya merasa pegal ketika menungging tadi. Dengan cepat, Seungwoo mengukung tubuh itu di bawahnya setelah melebarkan paha Seungsik. Sorot mata yang penuh amarah tadi berganti dengan teduh dan tangannya terangkat untuk mengusap sisi wajah kesayangannya.

Bibirnya dibawa untuk mendaratkan kecupan di kelopak mata Seungsik. “Sayang, kenapa menangis? Aku terlalu kasar, ya? Apa aku membuatmu takut?”

Bukannya berhenti, tangis Seungsik semakin menjadi. Tangannya dikalungkan pada leher Seungwoo, lalu membawa tubuh itu mendekat. Wajahnya dibenamkan pada bahu alphanya, Seungwoo hanya tersenyum kecil dan terus mengusap surai hitam itu dengan penuh kasih sayang.

“M—maaf.” Seungsik terisak, pelukannya kian mengerat. “Maaf aku membuatmu marah. Maaf karena aku tidak menuruti perkataanmu.”

“Shh, sayang...” Seungwoo mengendurkan pelukannya untuk menghapus air mata di wajah manis kesayangannya. “Aku benar-benar membuatmu takut, ya? Maaf, aku tidak bermaksud. Tidak apa-apa. Sudah, ya jangan menangis. Seungsik sayang, anak manis. Anak pintar. Kesayangannya Han Seungwoo.”

Butuh waktu dua menit untuk menenangkan Seungsik yang masih terisak, pada akhirnya omega itu berhenti menangis dan Seungwoo mendaratkan banyak kecupan di bibir manis kesukaannya. “Kita istirahat saja, ya?”

Seungsik mengedipkan matanya berkali-kali dan menggeleng pelan dengan wajah yang memerah hebat. “Kenapa tidak dilanjutkan?”

“Kamu lelah, kan?” Tanya Seungwoo.

Lagi, gelengan pelan didapatkannya.

Kaki Seungsik bergerak pelan dan pahanya digunakan untuk menggesek penis alpha bermarga Han itu. Namun, wajahnya memerah hebat, merasa malu, berbanding terbalik dengan tingkah nakalnya itu. “Memangnya yang ini tidak butuh dipuaskan?”

Salah satu alis Seungwoo terangkat ketika melihat tingkah nakal omeganya. Hidung bangirnya dibawa mendekat untuk mengendus leher Seungsik yang kini mendongak dengan refleks supaya Seungwoo leluasa mengerjai lehernya. “Oh, jadi kamu menangis tadi bukan karena takut padaku, tapi karena kamu menikmatinya?”

Tanpa Seungsik membuka mulutnya, Seungwoo telah mengetahui jawaban apa yang akan dilontarkan olehnya. Maka dari itu, Seungwoo membawa mulutnya untuk menghisap dan memberi tanda di leher Seungsik, membiarkan omega itu menyelipkan jemarinya di antara rambut biru gelap alphanya dan mendesah keras ketika Seungwoo menggigit lehernya, kembali memberi tanda yang seakan-akan menegaskan jika Seungsik adalah miliknya. Hanya miliknya dan selalu menjadi miliknya.

“Kakak, ahh— kakakhh...”

Sialan.

Seungwoo benar-benar turn on ketika Seungsik mendesah ribut dan memanggilnya dengan sebutan 'kakak' seperti ini. Rasanya, semua darah memusat di bagian selatan tubuhnya. Panas. Seungwoo ingin menghancurkan omega kesayangannya.

Alpha itupun melepas celananya dengan terburu-buru, memperlihatkan penisnya yang sudah menegang dengan sedikit precum yang mengalir. Seungwoo tersenyum miring, merendahkan tubuhnya, dan kembali berbisik di telinga Seungsik. “Jalang pintar, kamu membuatku menegang hanya karena desahan ributmu itu.”

Tubuh bagian selatan Seungsik terasa berkedut hebat karena perkataan Seungwoo. Entah dirinya menegang karena kalimat pujian atau hinaan yang keluar dari mulut nakal dan lihai milik Seungwoo.

“Beg, my slut.”

Tangis Seungsik hampir pecah karena lubangnya terasa semakin berkedut dengan cairan lubrikasi yang terus mengalir. “Kakak, please. Mngh—dick, I want your dick inside me. Please...”

Seungsik meraih tangan Seungwoo, lalu memasukkan tiga jemari panjang alphanya itu ke dalam mulut.

“Fuck.” Umpat Seungwoo ketika melihat Seungsik yang kini tengah sibuk menghisap jemarinya dengan mata sayu yang mengunci pandangannya. “You look so lewd, baby. Cantik. Paling cantik satu dunia.”

Pandangannya tidak sedikitpun teralih dari wajah Seungsik, terutama mulutnya yang dipenuhi oleh ketiga jari Seungwoo. Air liurnya menetes hingga dagu, sorot matanya kian menyayu dan berair. Seungwoo berani bersumpah, ini adalah hal terindah yang pernah Ia lihat.

Seungsik.

Indah.

Seungsik-nya indah.

“Sayang, sudah.” Seungwoo mengeluarkan jemarinya dari mulut Seungsik, lalu menekan lembut bibir bagian bawah lelakinya itu dengan ibu jari. Lalu, satu kecupan mendarat di sana. Sebagai pujian diiringi ucapan, “Can't believe that my angel can turns to be a slut in one second. No, not a slut. But, my slut.”

Yang dihujani oleh pujian kotor itu hanya mengangguk frustasi, memejamkan matanya dan mendongak ketika sang alpha kian mempercepat gerakan di dalam sana. Menghentak titik nikmatnya tanpa ampun.

Satu jilatan sensual mendarat di telinga Seungsik, lalu lelakinya itu berbisik. “Sayang, aku mau knot. Boleh, ya?”

Diam-diam, Seungsik tersenyum samar dibalik kefrustasiannya dihantam oleh kenikmatan. Dia sangat menyayangi Seungwoo. Alphanya itu memang tegas dan suka bermain kasar. Tetapi, dia tetap menganggap bahwa consent itu penting.

Bagi Seungwoo, Seungsik adalah malaikatnya. Mana mungkin Ia tega menyakiti sosok yang sangat berharga baginya itu. Pasangan sehidup semati.

Dan juga, Seungsik mana bisa menolak. Sama-sama nikmat.

Maka ketika Seungsik mengangguk, Seungwoo merengkuh tubuh di bawahnya itu sekaligus mempercepat hentakannya di dalam tubuh Seungsik. Desahannya kian mengeras seiring dia merasakan penis Seungwoo mulai membesar dan mengunci di satu titik.

Pandangan Seungsik kabur, matanya berair. Bahu Seungwoo menjadi sasaran gigitannya dan Seungwoo menghujani pucuk kepala lelaki itu dengan kecupan. Rasanya sakit, masih sedikit belum bisa menyesuaikan ukuran knot sang alpha.

“S-sakit...”

Damn. Sayang, sempit.”

Tangis Seungsik kembali pecah ketika Seungwoo menekannya semakin dalam. Seungsik tidak bisa menahan pelepasannya lagi ketika Seungwoo menghisap lehernya lagi. Tubuhnya bergetar hebat di dalam dekapan sang alpha dan tidak lama kemudian terdengar geraman khas serigala tepat di sebelah telinga Seungsik bersamaan dengan lubangnya yang terasa hangat dan penuh.

Nafas keduanya terengah, tenaga Seungsik terasa dikuras habis. Seungwoo hanya tersenyum kecil, lalu menghujani wajah omeganya dengan kecupan seraya melepaskan tautan tubuh mereka berdua di bawah sana. “Sayangku pasti lelah. Maaf kalau aku terlalu kasar ya, sayang? Sekarang tidur, yuk?”

Seungwoo baru akan beranjak sebelum Seungsik menarik tubuh alphanya untuk kembali di dekap. “Hngg, begini saja. Aku lelah. Mau peluk.”

Kekehan terdengar dari mulut Seungwoo. Tubuhnya dijatuhkan ke arah samping dan tubuh Seungsik langsung didekap dengan erat. “Lengket, sayang. Dibersihin dulu, ya?”

Seungsik kembali merengek dan menggeleng. “Sebentar lagi aku heat. Bisa saja besok pagi aku terbangun karena heat.

Alpha yang mendekap tubuhnya itu langsung mengerti dan kembali terkekeh. Menggemaskan. Omeganya sangat menggemaskan. Makanya Seungwoo tidak ingin dan tidak akan pernah rela untuk membagi Seungsik dengan siapapun.

Unless we have a child, batin Seungwoo.

“Kakak,” Seungsik bergumam di dada Seungwoo dengan matanya yang terpejam. “Maaf, ya yang tadi siang. Sungguh, aku tidak melakukan apapun dengan mereka. Aku hampir lupa jika sebentar lagi jadwal heat datang.”

Seungwoo menyibak poni Seungsik dan mendaratkan kecupan di dahi omeganya. “Tidak perlu minta maaf, sayang. Aku yang terlalu emosi tadi. Maaf, ya? Sssh, sekarang tidur. Kamu kelelahan.”

“Mhmn, tidur...”

Seungwoo terkekeh, “Iya, sayang tidur.” Satu tangannya turun untuk menepuk-nepuk pelan pantat Seungsik seperti anak bayi. “Sleep well, my angel.”

Finished.