walk on memories

San duduk di salah satu kursi yang ada di taman ini. Ia merapatkan jaketnya lalu mulai membakar rokok yang sudah terselip di bibirnya. Ia mulai rileks begitu nikotin memenuhi paru-parunya. Inilah yang ia butuhkan sedari tadi.

Ia juga tidak memperdulikan malam yang mulai mengelap dan taman yang sepi. Meskipun asap rokok membuatnya sesak, San tetap meneruskan kegiatannya itu. Karena sesak akibat asap rokok tidak sebanding dengan sesak di dadanya karena merindukan gadisnya.

San mengadahkan kepalanya, menatap bintang yang bertaburan di langit. Setelah itu, ia mengedarkan pandangannya ke penjuru taman dan pandangannya berhenti pada ayunan di sebrangnya. Ayunan tersebut membuat ingatannya memutar kembali sebuah kenangan.

“Sannie, dorong yang kencang!. Pinta gadisnya pada San.

“Kamu bisa terjatuh.” Jawab San.

Gadisnya itu merengut. San tertawa melihat gadisnya. Ia meraup wajah gadisnya dan membuatnya menjerit kesal. “Choi San!!!”

Gadisnya itu turun dari ayunan dan mengejar San. San lari dari kejaran gadisnya sembari tertawa. Sore hari itu San dan gadisnya tertawa lepas.

San menggelengkan kepalanya. Mencoba menghentikan otaknya yang kini kembali mengenang sebuah kenangan bersama gadisnya. Tidak lama, ponselnya berbunyi. Ia melihat sebuah pesan yang membuatnya harus kembali. San segera bangun, menarik tudung jaketnya dan berjalan meninggalkan taman.

Malam ini bulan bersinar dengan berani. Bintang-bintang juga tidak malu menunjukkan eksistensinya. Hal ini membuat San kembali bernostalgia saat dirinya berjalan pulang ke apartemennya.

“Bintang itu aneh. Tiap kali aku hitung selalu muncul lagi muncul lagi.” Ujar gadisnya pada San.

“Bintang itu jumlahnya banyak. Wajar kalo kamu hitung dia bermunculan terus.” Terang San.

“Kamu bantu aku menghitung bintang. Malam ini aku mau nginep di tempat kamu dan kamu bantu aku menghitung bintang. Boleh ya?”

San meraih tangan gadisnya lalu tersenyum. “Iya boleh.”

Gadisnya ikut tersenyum saat San menggengam tangannya. Mereka saling bergandengan menuju apartemen San.

San melenguhkan nafas. Sesak di dadanya kian bertambah karena otaknya terus saja memutar kenangan-kenangan bersama gadisnya. San melangkahkan kakinya dengan cepat agar dirinya segera sampai apartemennya sebelum dirinya kembali memikirkan semua kenangan bersama gadisnya dan membuatnya semakin merindukan gadisnya.

“Kau dari mana?” Begitulah sambutan yang San terima saatnya masuk ke dalam apartemennya.

“Merokok di taman.” San membaringkan dirinya di sofa. “Tumben kesini. Ada apa?”

“Ibuku memintaku mengantarkan makan padamu.” Ujar Wooyoung. “Ia memasak banyak untuk acara besok dan memberikannya padamu.”

San mengubah posisinya menjadi duduk dan Wooyoung mendudukan dirinya di samping San. “Tadi kau pergi mendatangi tempatnya?”

San mengangguk. “Aku merindukannya, jadi aku mengunjunginya.”

“Besok aku dan keluargaku akan kesana. Kau ingin ikut?”

San menggeleng. “Tidak perlu. Aku sudah datang hari ini. Lagipula, itu acara keluargamu.”

“Ayolah tidak perlu sungkan seperti itu, San. Kau sudah lama mengenal keluargaku. Keluargaku sudah menganggapmu seperti keluarga.”

San memandang wajah sahabatnya yang serupa dengan gadisnya itu. Wooyoung semakin membuat San merindukan gadisnya. Inilah alasan kenapa San terkadang tidak ingin menemui Wooyoung untuk waktu yang lama. San kerap merasakan sesak saat melihat Wooyoung.

“Jika tidak mau, tak apa. Kau bisa mampir ke rumah. Ibuku sangat senang kalau kau datang dan menginap. Ibu juga tidak akan sungkan mengizinkanmu bermalam di kamarnya.” Ujar Wooyoung. “Kalau begitu, aku pulang. Jangan lupa untuk datang besok. Dan pastikan kau memakan makanan yang diberikan ibuku. Kau begitu mengerikan dengan pipi tirusmu itu.”

San tergelak mendengar perkataan Wooyoung. Ia mengantar Wooyoung sampai ke depan pintu. Setelah Wooyoung pergi, ia mengambil makanan yang dibawa oleh Wooyoung. San tertegun saat melihat apa yang dibawakan oleh Wooyoung. Makan favorit gadisnya. Mata San memanas dan tangisnya pecah setelah ia tahan-tahan. San begitu merindukan gadisnya sampai ia tidak tau harus berbuat apa karena gadisnya tidak bisa ia temui lagi.


San sudah berdiri di depan kediaman keluarga Jung. Setelah berdiri hampir 10 menit, akhirnya ia memberanikan diri untuk menekan bel. Selang 10 detik kemudian, pintu terbuka.

“Wah lihat siapa yang akhirnya datang!” Sambut Ibu Jung. “Ayo masuk, San. Yang lain ada di dalam.”

San memberikan buah persik yang dibawanya. “Ibu, aku membawakan ini untuk kalian sekeluarga.”

“Kau tidak perlu repot-repot membawa ini, San. Kau datang kemari saja sudah cukup.”

San tersenyum. Ibu gadisnya ini selalu menyambutnya dengan baik. Ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Di ruang keluarga, sudah ramai oleh kedua saudara dan teman-teman gadisnya yang San kenal baik. San bergabung dengan mereka.

Hari ini mereka merayakan ulangtahun gadisnya seperti tahun-tahun sebelumnya. Setelah 3 tahun kepergiannya, baru kali ini San datang ke rumah gadisnya untuk merayakan bersama keluarga dan teman-temannya. Mereka merayakannya dengan potong kue dan makan bersama. Setelah acara selesai dan semua teman-teman gadisnya pulang, San masih tinggal disana.

Ibu Jung menghampiri San. “San, menginaplah disini. Sudah larut dan bus terakhir pasti sudah lewat. Lagipula, sudah lama kau tidak kesini. Kau bisa tidur dikamarnya kalau mau.”

San tersenyum sungkan. “Tidak apa, Ibu. Aku bisa pulang dengan taksi.”

Ibu Jung memaksa San untuk menginap hingga akhirnya San mengalah dan memutuskan untuk menginap. Ibu Jung mengantarkan San ke kamar gadisnya. Ibu Jung juga memberikan sepasang baju dan celana tidur untuk San. San mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar. Kamar ini tidak berubah sama sekali, pikir San. Masih banyak jejak gadisnya yang tertinggal dan rapi di kamar ini.

“Ibu selalu merapikan kamar ini agar temannya atau kau datang kesini bisa menginap.” Ujar Ibu Jung membuyarkan lamunan San. “Terkadang Ibu juga tidur disini saat merindukannya.”

Ibu Jung mendudukan dirinya di kasur. Beliau menepuk kasur disebelahnya, meminta San untuk duduk dengannya. “Wooyoung bilang kau mengunjunginya kemarin karena merindukannya. Kalau kau merindukannya, kau bisa datang kesini.”

“Tidak apa, Bu. Aku masih merasa bersalah sehingga tidak berani untuk menemui kalian setelah dia pergi.” Sahut San lirih.

“Kau tidak perlu merasa bersalah, San. Kita semua tau kalau itu kecelakaan dan Tuhan lebih menyayanginya daripada kita semua maka dari itu Tuhan mengambilnya dari kita semua.”

Nafas San memberat. Ia mencoba menahan tangisnya. Ibu Jung merangkul pundak San. “Ibu tau kaulah yang paling terpukul atas kepergiannya. Tidak perlu sungkan untuk kemari jika kau merindukannya.”

Ibu Jung menarik San ke pelukannya. Saat itu juga tangisan San pecah. “Bu, aku merindukannya.”

Ibu Jung mengusap punggung San. Wooyoung yang melewati kamar saudara kembarnya itu langsung terhenti saat mendengan suara tangisan San. Ia melihat ibunya yang sedang menenangkan San. Selama 3 tahun, baru kali ini ia melihat San menangis karena begitu merindukan saudara kembarnya. Ternyata rindu yang dirasakan San lebih dari yang Wooyoung perkirakan.


tiga tahun lalu

“Ibu, aku akan pergi ke apartemen San!”

“Hei bodoh, tidak kau lihat di luar sedang hujan angin?!” Sahut Wooyoung saat melihat saudara kembarnya yang sedang memakai sepatu di depan pintu.

“Aku akan naik taksi, bodoh!” Balasnya. “Ibu, aku pergi!”

Gadis itu meraih payung yang ada di depan pintu dan pergi menuju halte bus untuk mencari taksi. Hari ini ia akan menghampiri San tanpa memberitahu terlebih dahulu. Seharusnya hari ini mereka ada janji untuk pergi bersama tetapi harus batal karena San harus mengerjakan tugas akhirnya.

San tiba di apartemennya cukup larut, yaitu pukul 10. Ponselnya juga mati karena kehabisan daya. Ia mengisi daya ponselnya begitu ia sampai. Saat ponselnya menyala, terdapat banyaknya pesan masuk dan panggilan tidak terjawab. Sedetik kemudian, panggilan dari Wooyoung masuk dan segera San menjawabnya.

“Halo.”

“Hei, bodoh! Dari mana saja kau?! Puluhan kali aku meneleponmu!”

“Aku baru pulang dari perpustakaan, mengerjakan tugas akhirku. Ada apa?”

“Saudaraku ada di tempatmu kan? Suruh ia segera kembali. Ibuku menanyakannya terus. Kenapa juga ponselnya harus mati.”

San mengerutkan dahinya. “Ia tidak datang kesini. Apartemenku kosong saat aku datang.”

Di sebrang sana, terdengar suara Wooyoung berubah menjadi panik. “Sungguh?! Sore tadi ia izin ingin ke tempatmu, bodoh!”

“Aku tidak bercanda, Jung Wooyoung. Ia bahkan belum membalas pesanku sejak siang tadi.”

“Astaga... kemana dia pergi?”

“Kau sudah bertanya pada teman-temannya?”

“Ia pamit ke rumahmu, bodoh! Tentu saja teman-temannya tidak tau keberadaanya.”

“Jangan panik, oke? Aku akan ke rumah teman-temannya dan mengantarkannya pulang jika bertemu.”

“Baiklah. Aku juga akan mencoba menelepon mereka dari sini.”

Setelah panggilan terputus, San segera pergi. Ia pergi ke rumah teman-teman gadisnya satu per satu tapi sayangnya dia tidak berada disana. San memutuskan untuk kembali ke apartemennya, ada sebuah pesan dari Wooyoung.

Jung Wooyoung : datanglah ke rumah sakit secepatnya. dia disini.

Secepat mungkin San menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, San menghampiri Wooyoung yang matanya sembab.

“Kau kenapa?”

Bukannya menjawab San, Wooyoung malah memeluk San. “Aku tau kau sangat mencintainya. Kuharap kau kuat.”

Setelah memeluk San, Wooyoung ngajak San menuju ruang mayat. Hal ini membuat perasaan San tidak enak. Jantung San seolah berhenti. Tubuhnya mendadak lemas saat melihat gadisnya terbaring kaku.

“Satu jam setelah aku meneleponmu, kepolisian menelepon rumah kami. Mereka mengatakan kalau mereka menemukannya dalam kondisi tidak bernyawa. Mereka mengatakan kalau dia menjadi korban pelecehan seksual. Supir taksi yang ia tumpangi adalah pelakunya karena ia sempat mengirimkan pesan padamu untuk menjelaskan situasi sebelum kejadian tapi sayang tidak terkirim karena sinyal terputus.” Jelas Wooyoung.

Wooyoung memberikan ponsel saudara kembarnya pada San. San dapat membaca pesan untuk tidak terkirim untuknya.

Sannie, hari ini aku ingin menghampirimu tapi sepertinya aku tidak akan sampai sana karena supir taksi yang aku tumpangi membawaku entah kemana. Aku takut dan aku tidak bisa menghubungi siapa-siapa karena hujan menghalangi sinyalku. Semoga pesanku ini terkirim padamu. Apapun yang terjadi padaku nantinya, tolong jangan menyalahkan dirimu. Choi San, aku mencintaimu.

“Pelaku sudah tertangkap tak lama polisi menghubungi kami—” Omongan Wooyoung terpotong karena suara tangis San.

“Harusnya aku tidak pergi ke perpustakaan hari ini. Harusnya aku bersamanya. Harusnya ia masih disini kalau aku menjemputnya...” San mulai menyalahkan dirinya.

Wooyoung mencoba menenangkan San dengan menarik San keluar. Ia mendudukkan San di salah satu kursi. San menangis sesegukan membuat Wooyoung makin bersedih. Ia tau sahabatnya akan sangat terpukul karena kehilangan saudaranya melebihi rasa kehilangannya. San juga berulang kali mengucapkan kata maaf pada Wooyoung karena tidak bisa menjaga saudaranya dengan baik. Wooyoung menepuk pundak San berulang kali, upayanya untuk menenangkan San.

“Berhenti menangis, Choi San. Ini bukan salahmu. Dia tidak akan suka melihatmu menyalahkan diri sendiri seperti ini.”

San mengusap airmatanya. Ia menatap Wooyoung lalu memeluk sahabatnya. Setelah itu ia berpamitan dengan Wooyoung untuk pulang dan kembali paginya untuk mengantarkan gadisnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Setelah semua prosesi pemakaman selesai, San memberikan penghormatan terakhir untuk gadisnya. San kembali menitikkan airmatanya saat memberikan penghormatan pada orangtua gadisnya. Sam membungkukkan tubuhnya sembari berkata, “Ibu, Ayah, aku minta maaf karena tidak dapat menjaga anak kalian. Aku minta maaf bila aku tidak bisa membahagiakannya seperti kalian membahagiakannya.”

Ibu Jung menarik San dan memeluknya. “Tidak apa, San. Terimakasih sudah membahagiakannya dengan caramu. Aku harap kau bisa bahagia walau tanpanya.”

San membungkukkan tubuhnya sekali lagi sebelum pamit untuk pulang. Gadisnya kini telah pergi. San tau sejak hari ini, ia tidak akan sama lagi setelah kehilangan gadisnya.