<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>goyuuforbulolgojo &amp;mdash; ♡</title>
    <link>https://write.as/daisyuuji/tag:goyuuforbulolgojo</link>
    <description>on twitter @5U0703</description>
    <pubDate>Wed, 19 Aug 2026 16:50:16 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Finifugal—(1)</title>
      <link>https://write.as/daisyuuji/finifugal-1?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Finifugal &#xA;(n.)  Avoiding the ending, as of a story, trip, relationship, etc.&#xA;&#xA;GoyuuforBulolGojo &#xA;&#xA;  Sebuah AU di mana Gojo, Yuuji, Megumi, dan Nobara hidup tanpa kutukan. Mereka semua satu daerah (Hinohara). Guru!Gojo x Murid!Yuuji (kelas dua belas) dengan timeskip sudah kuliah. Agak kompleks, tapi semoga kalian suka.&#xA;&#xA;Hinohara adalah sebuah desa yang terletak di bagian barat Tokyo Metropolis, Jepang. Di sinilah Itadori Yuuji lahir dan besar, hingga kelulusannya dari sekolah menengah—yang kemudian dilanjut berkuliah di Tokyo.&#xA;&#xA;Desa ini menyimpan banyak kenangan untuknya. Sejak kecil, Yuuji tidak pernah merasa bosan atau pun ingin melepaskan kepergiannya dari sini. Orang tua, sahabatnya, dan orang itu telah menghiasi kisahnya. &#xA;&#xA;Yuuji baru sampai di depan jalan menuju desanya. Hamparan sawah, rumah-rumah tradisional, hutan, dan elang yang mengitari lanskap semesta dengan bentang birunya langsung menyambut. &#xA;&#xA;Debaran jantungnya mulai cepat. Perasaan elektrik menjalar ke sekujur tubuh. Yuuji sudah lama tidak begini. &#xA;&#xA;&#34;Ayo kita bertemu lagi.&#34;&#xA;&#xA;Kakinya pun melangkah. !--more--&#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;Sesosok laki-laki bertemu seorang lagi di tengah malamnya di sebuah hutan. &#34;Biarkan aku sekali lagi bertemu dengannya,&#34; katanya tajam.&#xA;&#xA;&#34;Kau tahu kan, jika dirinya akan lupa.&#34;&#xA;&#xA;Samar-samar tangannya mengepal. &#34;Tidak apa. Bahkan seribu kali pun tidak masalah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baiklah, aku kabulkan.&#34; Sebuah cahaya muncul di antara mereka. &#34;Pastikan kau berhasil mengubah jalan ceritanya.&#34;&#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;“Hey, Itadori! Katanya nanti ada sensei baru, loh,” Nobara membuka percakapan setelah menarik kursi ke sebelah meja Yuuji. Hari ini dia menggunakan hoodie merah muda dengan jepitan rambut berwarna senada.&#xA;&#xA;Yuuji yang masih mencatat dari buku teksnya mendongak sembari mengeluarkan wajah antusias. “Benarkah?”&#xA;&#xA;“Iya. Rumornya dari kelas sebelah, sih, dia guru laki-laki ... dan tampan.” Di penghujung kalimat Nobara memelankan suara. “Ta-tapi aku enggak peduli, ya! Ada Kak Maki, kok,” tambahnya lagi dengan cepat.&#xA;&#xA;Mendengarnya, Yuuji menyeringai. Dia tahu bahwa sahabatnya ini menyukai kakak kelas yang biasa dipanggilnya pangeran, kendati seorang perempuan.&#xA;&#xA;Nobara awalnya hanya kagum ketika Zenin Maki—nama yang dia sukai—dengan sabar melatihnya untuk kejuaraan lari. Namun, setelah lama bersama, dia semakin mengenal Maki. Nobara suka dengan sikap tangguh, tetapi mengayomi dari Maki—di samping banyaknya keterampilan yang dikuasai. Baginya, Zenin Maki adalah panutan sekaligus (diam-diam) tempatnya menaruh rasa. Yuuji tidak pernah lupa saat Nobara dengan mata berbinar menceritakan apa saja yang mereka lakukan selama berlatih bersama. Kak Maki begini, Kak Maki begitu, Kak Maki seperti ini, Kak Maki seperti itu, dan seterusnya.&#xA;&#xA;“Ya, aku tahu kok, kamu tidak akan melirik yang lain.” Yuuji tertawa kecil. “Oh iya, dia nanti mengajar di mana?”&#xA;&#xA;“Di mana, ya ....” Nobara berhenti sejenak. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Sadar kalau para murid perempuan yang di kelasnya sudah bergerombol di lorong. “Di sini,” jawabnya singkat.&#xA;&#xA;“Hm?”&#xA;&#xA;Satu alis terangkat. Yuuji menelengkan kepala untuk melihat ke belakang Nobara, kemudian dia menyadari jika kelasnya kosong. Tampak orang-orang telah di luar dan sayup-sayup terdengar bisikan dari mulut mereka. Tiba-tiba gerombolan tersebut menepi, lalu sosok laki-laki berjalan pelan di tengahnya dengan membawa sebuah buku di pundak. Dia menebar senyum—yang bagi Nobara centil—kepada siapa pun yang menyapanya. &#xA;&#xA;Harus Yuuji akui, guru baru itu memanglah tampan. Rambutnya putih keabu-abuan yang terlihat lembut—terbukti setiap dia melangkah, helainya melambai. Bentuk wajahnya pun oval berfitur tegas. Tingginya mungkin melebihi 190 cm dengan bentuk tubuh ramping. &#xA;&#xA;Ah, satu lagi orang penebar pesona, pikir Nobara sambil mengembalikan kursinya ke tempat semula. “Tuh, orangnya sudah datang. Aku balik, ya!” Nobara menunjuk ke arah depan kelas dan segera duduk kembali. Tempatnya bersebelahan dengan Yuuji.&#xA;&#xA;&#34;Waah, itu sensei-nya!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tampan sekali.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa dia mau mengajar di desa ini, ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Beruntunglah aku di kelas ini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kemungkinan sensei cocok dengan anak laki-laki di kelas kita, enggak?&#34;&#xA;&#xA;Beberapa murid laki-laki yang ditanya berdecih.&#xA;&#xA;Begitulah ucapan yang dilontarkan para murid di kelas Yuuji. Setiap orang sibuk berbisik-bisik, sehingga suaranya menyatu membuat keributan. Guru yang menjadi perbincangan berdeham dan membuat kelas seketika terdiam. &#xA;&#xA;&#34;Halo semua ...,&#34; sapanya ramah. Lantas, disambut kembali dengan sapaan Hai, Sensei! Penuh semangat. Selanjutnya dia berbalik ke arah papan tulis, mengambil spidol, dan menulis namanya besar-besar. &#34;Perkenalkan, nama saya Gojo Satoru. Saya di kelas ini berperan sebagai guru wali kalian yang menggantikan guru sebelumnya.&#34;&#xA;&#xA;Berikutnya, Satoru, namanya, maju beberapa langkah. Matanya terlihat jelas melihat ke seluruh kelas. Beberapa anak, termasuk Yuuji dan Nobara, sekilas merasakan intimidasi oleh warna matanya yang nilakandi. Biru, tetapi birunya sedikit berbeda dari biru yang mereka kenal. Waktu dia melihat ke sisi kiri kelas, matanya sempat memincing ke arah Yuuji. &#xA;&#xA;Eh? Apa itu? Sensei tadi lihat ke aku? Yuuji terkejut.&#xA;&#xA;&#34;Yak, saya sudah mengingat wajah-wajah kalian.&#34; Senyum jenaka Satoru terkembang. &#34;Baiklah, salam kenal semuanya ...!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Salam kenal, Sensei ...!&#34;&#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;Bel istirahat berbunyi, anak-anak mengucapkan terima kasih kepada Satoru dan segera keluar kelas. Seperti biasa, beberapa murid perempuan mengerumbuninya. Mereka menghunjamkan banyak pertanyaan, dari yang waras seperti di mana tempat tinggalnya, alasan mengajar di sini (yang dijawab dengan kekehan semata), sampai yang tidak waras seperti mengajak nikah jika lulus nanti—ini sempat membuat Satoru tersedak oleh air liurnya sendiri. &#xA;&#xA;Nobara melempar tatapan sinis ke pemandangan tersebut. &#34;Ayo kita pergi cepat-cepat!&#34; Serunya seraya menarik tangan Yuuji keluar kelas. &#xA;&#xA;Biasanya, destinasi favorit selama istirahat setiap murid adalah kantin, ruang klub, taman belakang sekolah, dan sebagainya. Untuk tiga serangkai ini—Yuuji, Megumi, juga Nobara—tujuan mereka selalu ke atap sekolah. Sebenarnya area tersebut dilarang dipakai sembarangan, apalagi sekadar nongkrong serta makan siang. Namun, tidak ada warga sekolah yang tidak percaya pada Megumi; sampai masalah meminjam kunci pintu atap sekolah berjalan mulus dan diberi cuma-cuma oleh penjaga sekolah.&#xA;&#xA;Momen menginjakkan kaki di sana sangat menenangkan. Mereka menyukai sensasi angin sepoi-sepoi yang bertiup. Langit biru serta suasana tentram terasa karena jauh dari kebisingan di bawah. &#xA;&#xA;Sekarang Megumi dan Yuuji mulai membentangkan kain untuk alas duduk. Mereka masing-masing membawa bekal. Ketika dibuka, bekal mereka terlihat berbeda dengan milik Yuuji ramai akan lauk serta bentuknya yang lucu-lucu. Sedangkan Megumi kelihatan biasa saja dengan sedikit lauk. Lekas mereka menangkup kedua tangan lalu melahap makanan. Nobara sendiri tidak ikut makan akibat program dietnya. Dia malah sibuk memanyunkan bibir serta alisnya bertaut. Pikirannya berkecamuk.&#xA;&#xA;“Oi, Fushiguro!” &#xA;&#xA;Nobara memanggil laki-laki di sebelahnya. Megumi—satu dari dua sahabat Yuuji—sibuk mengunyah makanan, jadi hanya memberikan respons suara kecil. Nobara melanjutkan, “Tahu enggak, sih—”&#xA;&#xA;“Enggak.”&#xA;&#xA;“Giliran begini saja baru dibalas!” Nobara menggerutu dan disambut gelakan tawa Yuuji.&#xA;&#xA;“Pasti bahas guru baru itu, kan?” Megumi menebak disela-sela kunyahannya.&#xA;&#xA;Yuuji menegak minumannya dan ikut menimpali. &#34;Kayaknya Nobara kesal banget, ya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bukan kesal ....&#34; Nobara melihat ke bawah, kebetulan figur yang dibicarakan terlihat dari atap sekolah. Entah sedang apa dia di sana. Sejak beberapa menit yang lalu berdiri di tengah lapangan sambil memasukkan kedua tangan di saku. Nobara bergidik ngeri. Aneh, pikirnya. &#34;Sumpah, aku punya perasaan enggak enak padanya. Apalagi ketika melihat seisi kelas tadi.&#34; Nobara mengerling pada Yuuji. &#34;Jangan bohong! Aku tahu dia sekilas lihatin kamu waktu itu!&#34;&#xA;&#xA;Megumi menoleh kepada Yuuji, seolah-olah bertanya.&#xA;&#xA;Yuuji tiba-tiba gugup. &#34;Ahaha ... iya, tadi sensei lihat ke aku.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tuh, kan! Yuuji, saranku kamu hati-hati, deh. Lagian ngapain sensei mengajar di sini?&#34; Nada bicara Nobara semakin tidak enak. &#34;Walaupun Hinohara ini desa, tetapi kan, dekat dengan Tokyo. Mending sekalian dia mengajar di sana—&#34;&#xA;&#xA;Megumi menghela napas, hendak memotong cerocosan gadis berambut cokelat yang wajahnya masam. &#xA;&#xA;&#34;Kugisaki.&#34;&#xA;&#xA;Nobara menjengit. &#34;Huh?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Sudahlah, mungkin itu cuma prasangka burukmu saja.&#34; Tangan Megumi merapikan barang-barang. &#34;Ayo, lebih baik kita kembali ke kelas, sudah hampir bel masuk.&#34;&#xA;&#xA;Pembicaraan mereka pun berakhir setelah Megumi menegurnya. Nobara tidak terima, masih ingin menambahkan sesuatu. Namun, akhirnya menerima ajakan tersebut karena waktu istirahat memang hampir selesai. &#xA;&#xA;Omong-omong, sewaktu Yuuji berdiri dan membantu Megumi—sesaat dia mengintip ke lapangan. Memastikan apakah Satoru masih di situ. Sialnya, masih. Malahan sekejap mata mereka saling bertemu. Senyum ganjil dan kilatan mata aneh dari gurunya sukses membikin Yuuji keheranan. &#xA;&#xA;Sebaiknya aku mengindahkan apa kata Nobara, pikir Yuuji sembari mengikuti kedua temannya dari belakang.&#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;Seminggu berselang sejak percakapan mereka yang lalu; ternyata tidak ada peristiwa berarti sejauh mereka mengawasi gerak-gerik Satoru. Kekhawatiran Nobara kepada guru itu tak terbukti. Padahal dirinya sudah mengotot untuk memantaunya, walau Megumi tidak setuju karena merasa perbuatan tersebut lancang. Namun, dia menyerah akibat sahabatnya itu merecokinya terus-terusan. Apalagi sehabis menyimak cerita Yuuji mengenai momen tempo lalu. Kala mata mereka tidak sengaja saling bertatapan sekilas disertai senyuman ganjil.&#xA;&#xA;&#34;Yuuji-kun, saya minta tolong untuk mengantarkan berkas ini kepada Gojo-sensei. Bisa, kan?&#34; &#xA;&#xA;Suara Shoko—dokter sekaligus guru Biologi di sekolahnya—menyadarkan Yuuji dari lamunan. Tangan Shoko menyodorkan sebuah amplop cokelat terhadapnya. Ah, barusan dia memikirkan tentang sensei, dan malah tiba-tiba diberi amanah untuk bertemu. Tanpa pikir panjang, Yuuji menyetujuinya. Kemudian bergegas pergi dari UKS dan menuju ruang guru.&#xA;&#xA;Lorong sekolah ramai oleh murid-murid yang asyik mengobrol. Yuuji selintas menguping salah satu obrolan. Lagi-lagi tentang guru itu. Kali ini membahas kebiasaannya yang menggunakan kacamata bulat hitam. Eksentrik serta menarik, ujar mereka. Yuuji jadi ikut membayangkan visual Satoru. Yah ... enggak salah, sih, benaknya begitu sampai di depan ruang guru.&#xA;&#xA;Kalau dipikir ulang, Satoru sebenarnya tidak seaneh praduga Nobara. Dia menjalankan tugasnya sebagai guru yang baik. Selain tampan, cara mengajarnya luwes nan asyik, teman-temannya semakin semangat memperhatikan kelas. Hanya saja gaya bersosialisasinya yang sedikit bikin risih. Yuuji mereka sifat Satoru. Selama di sini dia sering melanggar jarak privasi seseorang, memperlakukan hubungan guru dan murid layaknya teman (ini bisa jadi poin tambah), serta narsis (dia tidak segan membalas sapaan para murid).&#xA;&#xA;Yuuji pun memberi kesimpulan bahwa Gojo Satoru terlalu berjiwa anak muda.&#xA;&#xA;&#34;Permisi ....&#34; Tangan Yuuji memutar ganggang pintu. Tatkala matanya melihat ruangan, perasaan janggal seketika menyergap. Ruang guru anehnya cuma berisi Satoru seorang. &#xA;&#xA;Ke mana guru yang lain?&#xA;&#xA;Yuuji mendekati meja dekat jendela di sudut kiri ruangan. Satoru terlihat menyenderkan tubuh di kursi dengan wajah ditutupi buku. Tulisan data presensi kelas Yuuji—12-4, terbaca.&#xA;&#xA;Sebelum Yuuji memanggil, Satoru deluan memanggil namanya.&#xA;&#xA;&#34;Iya, Yuuji-kun, ada apa?&#34;&#xA;&#xA;Yuuji mengerjap. &#34;Kok ... sensei tahu?&#34;&#xA;&#xA;Satoru menegakkan tubuh, lalu melipat buku tadi dan menaruhnya ke meja. Bunyi debuk kecil dari buku yang bertumbuk meja membuat Yuuji terperanjat. Mendadak suasananya menjadi tidak nyaman. Jantungnya memompa dengan cepat.&#xA;&#xA;&#34;Jangan takut begitu ....&#34; Satoru tersenyum. &#34;Tadi saya melihat kamu dari celah buku,&#34; jelasnya.&#xA;&#xA;Yuuji menghela napas. Setidaknya dia agak tenang sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Jadi, ada apa kemari, hm?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sho-Shoko-sensei meminta saya untuk menyerahkan ini ke bapak.&#34; Yuuji perlahan meletakkan berkasnya. Jarinya agak bergemetar dan Satoru menyadarinya.&#xA;&#xA;&#34;Oalah, ini berkas yang saya pinta. Terima kasih, ya,&#34; balas Satoru lembut. Senyum tak dapat digambarkan timbul. &#xA;&#xA;&#34;Ka-kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak.&#34;&#xA;&#xA;Yuuji buru-buru berbalik dan melangkahkan kaki secepat mungkin. Sebelum dia melangkah semakin jauh, Satoru menghentikannya dengan panggilan. Laki-laki berambut jabrik merah muda itu menoleh pasrah. Ada apalagi, sih? Jeritnya dalam hati.&#xA;&#xA;&#34;Kamu tidak mengingat saya?&#34;&#xA;&#xA;Pertanyaan tak terduga.&#xA;&#xA;&#34;Maaf?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Maksudnya, apa Yuuji tidak ingat saya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mohon maaf, tapi saya baru kenal bapak seminggu lalu ....&#34;&#xA;&#xA;Ekspresi Satoru sepersekian detik berubah masam setelah mendengar jawaban tadi—yang selanjutnya kembali semula.  &#34;Hoo ..., saya paham. Silakan Yuuji boleh kembali ke kelas.&#34;&#xA;&#xA;Tanpa pamit Yuuji berlari keluar.&#xA;&#xA;  Jadi begini, cerita masih panjang. Enggak sepanjang itu, sih, kira-kira 3K+ kata (sekarang 1,7K+). Karena sebentar lagi mendekati tenggat waktu, aku potong dulu sampai sini. Tenang, draft-nya hampir selesai, kok. Kalau sudah selesai, aku unggah ke AO3. Oke! Terima kasih sudah membaca. Tunggu kelanjutannya, ya&lt;3]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Finifugal</em></strong>
(n.)  <em>Avoiding the ending, as of a story, trip, relationship, etc.</em></p>

<p><a href="https://write.as/daisyuuji/tag:GoyuuforBulolGojo" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">GoyuuforBulolGojo</span></a></p>

<blockquote><p>Sebuah AU di mana Gojo, Yuuji, Megumi, dan Nobara hidup tanpa kutukan. Mereka semua satu daerah (Hinohara). Guru!Gojo x Murid!Yuuji (kelas dua belas) dengan <em>timeskip</em> sudah kuliah. Agak kompleks, tapi semoga kalian suka.</p></blockquote>
<ul><li></li></ul>

<p>Hinohara adalah sebuah desa yang terletak di bagian barat Tokyo Metropolis, Jepang. Di sinilah Itadori Yuuji lahir dan besar, hingga kelulusannya dari sekolah menengah—yang kemudian dilanjut berkuliah di Tokyo.</p>

<p>Desa ini menyimpan banyak kenangan untuknya. Sejak kecil, Yuuji tidak pernah merasa bosan atau pun ingin melepaskan kepergiannya dari sini. Orang tua, sahabatnya, dan <em>orang itu</em> telah menghiasi kisahnya.</p>

<p>Yuuji baru sampai di depan jalan menuju desanya. Hamparan sawah, rumah-rumah tradisional, hutan, dan elang yang mengitari lanskap semesta dengan bentang birunya langsung menyambut.</p>

<p>Debaran jantungnya mulai cepat. Perasaan elektrik menjalar ke sekujur tubuh. Yuuji sudah lama tidak begini.</p>

<p>“Ayo kita bertemu lagi.”</p>

<p>Kakinya pun melangkah. </p>

<hr/>

<p>Sesosok laki-laki bertemu seorang lagi di tengah malamnya di sebuah hutan. “Biarkan aku sekali lagi bertemu dengannya,” katanya tajam.</p>

<p>“Kau tahu kan, jika dirinya akan lupa.”</p>

<p>Samar-samar tangannya mengepal. “Tidak apa. Bahkan seribu kali pun tidak masalah.”</p>

<p>“Baiklah, aku kabulkan.” Sebuah cahaya muncul di antara mereka. “Pastikan kau berhasil mengubah jalan ceritanya.”</p>

<hr/>

<p>“Hey, Itadori! Katanya nanti ada <em>sensei</em> baru, loh,” Nobara membuka percakapan setelah menarik kursi ke sebelah meja Yuuji. Hari ini dia menggunakan <em>hoodie</em> merah muda dengan jepitan rambut berwarna senada.</p>

<p>Yuuji yang masih mencatat dari buku teksnya mendongak sembari mengeluarkan wajah antusias. “Benarkah?”</p>

<p>“Iya. Rumornya dari kelas sebelah, sih, dia guru laki-laki ... dan tampan.” Di penghujung kalimat Nobara memelankan suara. “Ta-tapi aku enggak peduli, ya! Ada Kak Maki, kok,” tambahnya lagi dengan cepat.</p>

<p>Mendengarnya, Yuuji menyeringai. Dia tahu bahwa sahabatnya ini menyukai kakak kelas yang biasa dipanggilnya pangeran, kendati seorang perempuan.</p>

<p>Nobara awalnya hanya kagum ketika Zenin Maki—nama yang dia sukai—dengan sabar melatihnya untuk kejuaraan lari. Namun, setelah lama bersama, dia semakin mengenal Maki. Nobara suka dengan sikap tangguh, tetapi mengayomi dari Maki—di samping banyaknya keterampilan yang dikuasai. Baginya, Zenin Maki adalah panutan sekaligus (diam-diam) tempatnya menaruh rasa. Yuuji tidak pernah lupa saat Nobara dengan mata berbinar menceritakan apa saja yang mereka lakukan selama berlatih bersama. Kak Maki begini, Kak Maki begitu, Kak Maki seperti ini, Kak Maki seperti itu, dan seterusnya.</p>

<p>“Ya, aku tahu kok, kamu tidak akan melirik yang lain.” Yuuji tertawa kecil. “Oh iya, dia nanti mengajar di mana?”</p>

<p>“Di mana, ya ....” Nobara berhenti sejenak. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Sadar kalau para murid perempuan yang di kelasnya sudah bergerombol di lorong. “Di sini,” jawabnya singkat.</p>

<p>“Hm?”</p>

<p>Satu alis terangkat. Yuuji menelengkan kepala untuk melihat ke belakang Nobara, kemudian dia menyadari jika kelasnya kosong. Tampak orang-orang telah di luar dan sayup-sayup terdengar bisikan dari mulut mereka. Tiba-tiba gerombolan tersebut menepi, lalu sosok laki-laki berjalan pelan di tengahnya dengan membawa sebuah buku di pundak. Dia menebar senyum—yang bagi Nobara centil—kepada siapa pun yang menyapanya.</p>

<p>Harus Yuuji akui, guru baru itu memanglah tampan. Rambutnya putih keabu-abuan yang terlihat lembut—terbukti setiap dia melangkah, helainya melambai. Bentuk wajahnya pun oval berfitur tegas. Tingginya mungkin melebihi 190 cm dengan bentuk tubuh ramping.</p>

<p><em>Ah, satu lagi orang penebar pesona,</em> pikir Nobara sambil mengembalikan kursinya ke tempat semula. “Tuh, orangnya sudah datang. Aku balik, ya!” Nobara menunjuk ke arah depan kelas dan segera duduk kembali. Tempatnya bersebelahan dengan Yuuji.</p>

<p>“Waah, itu <em>sensei</em>-nya!”</p>

<p>“Tampan sekali.”</p>

<p>“Kenapa dia mau mengajar di desa ini, ya?”</p>

<p>“Beruntunglah aku di kelas ini.”</p>

<p>“Kemungkinan <em>sensei</em> cocok dengan anak laki-laki di kelas kita, enggak?”</p>

<p>Beberapa murid laki-laki yang ditanya berdecih.</p>

<p>Begitulah ucapan yang dilontarkan para murid di kelas Yuuji. Setiap orang sibuk berbisik-bisik, sehingga suaranya menyatu membuat keributan. Guru yang menjadi perbincangan berdeham dan membuat kelas seketika terdiam.</p>

<p>“Halo semua ...,” sapanya ramah. Lantas, disambut kembali dengan sapaan <em>Hai, Sensei!</em> Penuh semangat. Selanjutnya dia berbalik ke arah papan tulis, mengambil spidol, dan menulis namanya besar-besar. “Perkenalkan, nama saya Gojo Satoru. Saya di kelas ini berperan sebagai guru wali kalian yang menggantikan guru sebelumnya.”</p>

<p>Berikutnya, Satoru, namanya, maju beberapa langkah. Matanya terlihat jelas melihat ke seluruh kelas. Beberapa anak, termasuk Yuuji dan Nobara, sekilas merasakan intimidasi oleh warna matanya yang nilakandi. Biru, tetapi birunya sedikit berbeda dari biru yang mereka kenal. Waktu dia melihat ke sisi kiri kelas, matanya sempat memincing ke arah Yuuji.</p>

<p><em>Eh? Apa itu? Sensei tadi lihat ke aku?</em> Yuuji terkejut.</p>

<p>“Yak, saya sudah mengingat wajah-wajah kalian.” Senyum jenaka Satoru terkembang. “Baiklah, salam kenal semuanya ...!”</p>

<p>“Salam kenal, <em>Sensei ...!</em>“</p>

<hr/>

<p>Bel istirahat berbunyi, anak-anak mengucapkan terima kasih kepada Satoru dan segera keluar kelas. Seperti biasa, beberapa murid perempuan mengerumbuninya. Mereka menghunjamkan banyak pertanyaan, dari yang waras seperti di mana tempat tinggalnya, alasan mengajar di sini (yang dijawab dengan kekehan semata), sampai yang tidak waras seperti mengajak nikah jika lulus nanti—ini sempat membuat Satoru tersedak oleh air liurnya sendiri.</p>

<p>Nobara melempar tatapan sinis ke pemandangan tersebut. “Ayo kita pergi cepat-cepat!” Serunya seraya menarik tangan Yuuji keluar kelas.</p>

<p>Biasanya, destinasi favorit selama istirahat setiap murid adalah kantin, ruang klub, taman belakang sekolah, dan sebagainya. Untuk tiga serangkai ini—Yuuji, Megumi, juga Nobara—tujuan mereka selalu ke atap sekolah. Sebenarnya area tersebut dilarang dipakai sembarangan, apalagi sekadar nongkrong serta makan siang. Namun, tidak ada warga sekolah yang tidak percaya pada Megumi; sampai masalah meminjam kunci pintu atap sekolah berjalan mulus dan diberi cuma-cuma oleh penjaga sekolah.</p>

<p>Momen menginjakkan kaki di sana sangat menenangkan. Mereka menyukai sensasi angin sepoi-sepoi yang bertiup. Langit biru serta suasana tentram terasa karena jauh dari kebisingan di bawah.</p>

<p>Sekarang Megumi dan Yuuji mulai membentangkan kain untuk alas duduk. Mereka masing-masing membawa bekal. Ketika dibuka, bekal mereka terlihat berbeda dengan milik Yuuji ramai akan lauk serta bentuknya yang lucu-lucu. Sedangkan Megumi kelihatan biasa saja dengan sedikit lauk. Lekas mereka menangkup kedua tangan lalu melahap makanan. Nobara sendiri tidak ikut makan akibat program dietnya. Dia malah sibuk memanyunkan bibir serta alisnya bertaut. Pikirannya berkecamuk.</p>

<p>“Oi, Fushiguro!”</p>

<p>Nobara memanggil laki-laki di sebelahnya. Megumi—satu dari dua sahabat Yuuji—sibuk mengunyah makanan, jadi hanya memberikan respons suara kecil. Nobara melanjutkan, “Tahu enggak, sih—”</p>

<p>“Enggak.”</p>

<p>“Giliran begini saja baru dibalas!” Nobara menggerutu dan disambut gelakan tawa Yuuji.</p>

<p>“Pasti bahas guru baru itu, kan?” Megumi menebak disela-sela kunyahannya.</p>

<p>Yuuji menegak minumannya dan ikut menimpali. “Kayaknya Nobara kesal banget, ya?”</p>

<p>“Bukan kesal ....” Nobara melihat ke bawah, kebetulan figur yang dibicarakan terlihat dari atap sekolah. Entah sedang apa dia di sana. Sejak beberapa menit yang lalu berdiri di tengah lapangan sambil memasukkan kedua tangan di saku. Nobara bergidik ngeri. <em>Aneh,</em> pikirnya. “Sumpah, aku punya perasaan enggak enak padanya. Apalagi ketika melihat seisi kelas tadi.” Nobara mengerling pada Yuuji. “Jangan bohong! Aku tahu dia sekilas lihatin kamu waktu itu!”</p>

<p>Megumi menoleh kepada Yuuji, seolah-olah bertanya.</p>

<p>Yuuji tiba-tiba gugup. “Ahaha ... iya, tadi <em>sensei</em> lihat ke aku.”</p>

<p>“Tuh, kan! Yuuji, saranku kamu hati-hati, deh. Lagian ngapain <em>sensei</em> mengajar di sini?” Nada bicara Nobara semakin tidak enak. “Walaupun Hinohara ini desa, tetapi kan, dekat dengan Tokyo. Mending sekalian dia mengajar di sana—”</p>

<p>Megumi menghela napas, hendak memotong cerocosan gadis berambut cokelat yang wajahnya masam.</p>

<p>“Kugisaki.”</p>

<p>Nobara menjengit. “Huh?”</p>

<p>“Sudahlah, mungkin itu cuma prasangka burukmu saja.” Tangan Megumi merapikan barang-barang. “Ayo, lebih baik kita kembali ke kelas, sudah hampir bel masuk.”</p>

<p>Pembicaraan mereka pun berakhir setelah Megumi menegurnya. Nobara tidak terima, masih ingin menambahkan sesuatu. Namun, akhirnya menerima ajakan tersebut karena waktu istirahat memang hampir selesai.</p>

<p>Omong-omong, sewaktu Yuuji berdiri dan membantu Megumi—sesaat dia mengintip ke lapangan. Memastikan apakah Satoru masih di situ. Sialnya, masih. Malahan sekejap mata mereka saling bertemu. Senyum ganjil dan kilatan mata aneh dari gurunya sukses membikin Yuuji keheranan.</p>

<p><em>Sebaiknya aku mengindahkan apa kata Nobara,</em> pikir Yuuji sembari mengikuti kedua temannya dari belakang.</p>

<hr/>

<p>Seminggu berselang sejak percakapan mereka yang lalu; ternyata tidak ada peristiwa berarti sejauh mereka mengawasi gerak-gerik Satoru. Kekhawatiran Nobara kepada guru itu tak terbukti. Padahal dirinya sudah mengotot untuk memantaunya, walau Megumi tidak setuju karena merasa perbuatan tersebut lancang. Namun, dia menyerah akibat sahabatnya itu merecokinya terus-terusan. Apalagi sehabis menyimak cerita Yuuji mengenai momen tempo lalu. Kala mata mereka tidak sengaja saling bertatapan sekilas disertai senyuman ganjil.</p>

<p>“Yuuji-<em>kun</em>, saya minta tolong untuk mengantarkan berkas ini kepada Gojo-<em>sensei</em>. Bisa, kan?”</p>

<p>Suara Shoko—dokter sekaligus guru Biologi di sekolahnya—menyadarkan Yuuji dari lamunan. Tangan Shoko menyodorkan sebuah amplop cokelat terhadapnya. Ah, barusan dia memikirkan tentang <em>sensei</em>, dan malah tiba-tiba diberi amanah untuk bertemu. Tanpa pikir panjang, Yuuji menyetujuinya. Kemudian bergegas pergi dari UKS dan menuju ruang guru.</p>

<p>Lorong sekolah ramai oleh murid-murid yang asyik mengobrol. Yuuji selintas menguping salah satu obrolan. Lagi-lagi tentang guru itu. Kali ini membahas kebiasaannya yang menggunakan kacamata bulat hitam. Eksentrik serta menarik, ujar mereka. Yuuji jadi ikut membayangkan visual Satoru. <em>Yah ... enggak salah, sih,</em> benaknya begitu sampai di depan ruang guru.</p>

<p>Kalau dipikir ulang, Satoru sebenarnya tidak seaneh praduga Nobara. Dia menjalankan tugasnya sebagai guru yang baik. Selain tampan, cara mengajarnya luwes nan asyik, teman-temannya semakin semangat memperhatikan kelas. Hanya saja gaya bersosialisasinya yang sedikit bikin risih. Yuuji mereka sifat Satoru. Selama di sini dia sering melanggar jarak privasi seseorang, memperlakukan hubungan guru dan murid layaknya teman (ini bisa jadi poin tambah), serta narsis (dia tidak segan membalas sapaan para murid).</p>

<p>Yuuji pun memberi kesimpulan bahwa Gojo Satoru <em>terlalu</em> berjiwa anak muda.</p>

<p>“Permisi ....” Tangan Yuuji memutar ganggang pintu. Tatkala matanya melihat ruangan, perasaan janggal seketika menyergap. Ruang guru anehnya cuma berisi Satoru seorang.</p>

<p><em>Ke mana guru yang lain?</em></p>

<p>Yuuji mendekati meja dekat jendela di sudut kiri ruangan. Satoru terlihat menyenderkan tubuh di kursi dengan wajah ditutupi buku. Tulisan data presensi kelas Yuuji—12-4, terbaca.</p>

<p>Sebelum Yuuji memanggil, Satoru deluan memanggil namanya.</p>

<p>“Iya, Yuuji-<em>kun</em>, ada apa?”</p>

<p>Yuuji mengerjap. “Kok ... <em>sensei</em> tahu?”</p>

<p>Satoru menegakkan tubuh, lalu melipat buku tadi dan menaruhnya ke meja. Bunyi debuk kecil dari buku yang bertumbuk meja membuat Yuuji terperanjat. Mendadak suasananya menjadi tidak nyaman. Jantungnya memompa dengan cepat.</p>

<p>“Jangan takut begitu ....” Satoru tersenyum. “Tadi saya melihat kamu dari celah buku,” jelasnya.</p>

<p>Yuuji menghela napas. Setidaknya dia agak tenang sekarang.</p>

<p>“Jadi, ada apa kemari, hm?”</p>

<p>“Sho-Shoko-<em>sensei</em> meminta saya untuk menyerahkan ini ke bapak.” Yuuji perlahan meletakkan berkasnya. Jarinya agak bergemetar dan Satoru menyadarinya.</p>

<p>“Oalah, ini berkas yang saya pinta. Terima kasih, ya,” balas Satoru lembut. Senyum tak dapat digambarkan timbul.</p>

<p>“Ka-kalau begitu saya permisi dulu ya, Pak.”</p>

<p>Yuuji buru-buru berbalik dan melangkahkan kaki secepat mungkin. Sebelum dia melangkah semakin jauh, Satoru menghentikannya dengan panggilan. Laki-laki berambut jabrik merah muda itu menoleh pasrah. <em>Ada apalagi, sih?</em> Jeritnya dalam hati.</p>

<p>“Kamu tidak mengingat saya?”</p>

<p>Pertanyaan tak terduga.</p>

<p>“Maaf?”</p>

<p>“Maksudnya, apa Yuuji tidak ingat saya?”</p>

<p>“Mohon maaf, tapi saya baru kenal bapak seminggu lalu ....”</p>

<p>Ekspresi Satoru sepersekian detik berubah masam setelah mendengar jawaban tadi—yang selanjutnya kembali semula.  “Hoo ..., saya paham. Silakan Yuuji boleh kembali ke kelas.”</p>

<p>Tanpa pamit Yuuji berlari keluar.</p>
<ul><li></li></ul>

<blockquote><p>Jadi begini, cerita masih panjang. Enggak sepanjang itu, sih, kira-kira 3K+ kata (sekarang 1,7K+). Karena sebentar lagi mendekati tenggat waktu, aku potong dulu sampai sini. Tenang, <em>draft</em>-nya hampir selesai, kok. Kalau sudah selesai, aku unggah ke AO3. Oke! Terima kasih sudah membaca. Tunggu kelanjutannya, ya&lt;3</p></blockquote>
]]></content:encoded>
      <guid>https://write.as/daisyuuji/finifugal-1</guid>
      <pubDate>Tue, 08 Dec 2020 03:32:30 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>