write.as

Ku Dengannya Kau Dengan Dia

Setelah mendapatkan izin dari semua orang, Tara memakai Tuxedo Green Emerald yang ia pernah pakai waktu fitting baju waktu itu. Ia terlihat sangat tampan malam ini.

Perjalanan kurang lebih satu jam, semua harus dipersiapkan dengan baik. Mulai dari kursi roda, oxygen yang bisa dibawa kemana mana, dan surat izin dokter. Jalanan begitu sepi malam ini. Seolah olah semesta berpihak kepadanya malam ini.

Sesampainya dia di SMA Nirvana, dia dibantu oleh teman temannya menuju Aula tempat diadakan Prom Night.

“Tar, Inget. Kita semua bakal di sekeliling Lo. Kalau gakuat, lambaikan tangan.” Ujar Hari

“Lo pikir uji nyali!?” Revin mendorong kursi roda Tara dengan perlahan

“Ya uji nyali lah ini. Nyali temen Lo noh gede banget.”

Ruangan Aula sangat lah ramai. Tara juga melihat sosok Tiara yang sedang berdansa dengan Reno. Sosok di Kisah Tiara yang hampir. Pria ini dibantu dibangunkan oleh teman temannya dan mengarah tempat Reno berdiri.

Tara memberi sinyal kepada Reno Agar segera melepas pegangannya kepada Tiara. Tanpa rasa penolakan, Reno melepas pegangan eratnya dan digantikan oleh Tara.

Mengapa Tuhan Pertemukan

Mata gadis itu masih memejam rapat rapat, membiarkan beberapa detik berlalu hingga menjadi satu menit lamanya. Hingga akhirnya sebuah kecupan ringan pada kening kecilnya mulai terasa. Tiara membiarkan seluruh pipinya dibasahi olah cairan bening yang sedari tadi tertahan. Hingga akhirnya suara lelaki dihadapannya mengucap satu kalimat.

“Are u ok, Peri Cantik?”

Perlahan Tiara membuka matanya dan mengarah keatas. Iya, Meghantara Prakasa berdiri tepat dihadapannya dengan bantuan Oxygen di hidungnya.

“Ka!!!” Tiara memeluk Tara dengan erat. Sosok yang ia bayangkan malam ini datang. Kecupan tadi berasal dari lelaki yang ia harapkan.

“Peri Cantik. Boleh kita nikmatin malam ini tanpa rasa takut? Boleh Lo lihat gue sebagai Tara yang Lo kenal dulu? Gue mau nikmatin malam ini tanpa ada rasa ke khawatiran dari mata Lo. Boleh Peri?” Tara meminta serius kepada Tiara

Anggukan kecil diberikan oleh Tiara sebagai jawaban Iya.

“Ra, apa happy ending itu nyata? Atau cuma mitos agar kita semangat hidup?”

“Nyata bagi orang orang yang percaya kak. Dan gue percaya akan hal itu.” Ujar Tiara

“Ra, disaat tuhan ingin menjelaskan apa arti keindahan semesta, dia menciptakan Lo di hidup gue. Gue bersyukur. Makasih udah hadir di semesta gue ya?” Tatap netra Tara yang mulai berkaca kaca

“Ka, can we fix this? Ambil semesta gue kak kalau itu yang terbaik kak. Gue gabisa kehilangan Lo kak.” Tiara menggeleng dalam dekapan Tara, air mata lagi lagi membasahi pipinya.

“Gue gamau Lo nangis terus, Ra.” Lanjut Tara

“Ka cepet ngomong. Pegang gue kaya gini dan ngomong Lo gaakan pergi. Gue gabisa hidup tanpa Lo. Jadi lupain semua yang ada di otak Lo. Jangan pergi kak...” Tiara memegang bahu Tara yang lemah dan menyuruhnya untuk mengucap janji yang tidak mungkin ia bisa ucapkan.

“Peri Cantik, ayo kita berhenti? Kita tau kalau ending semesta gue gaakan berakhir sempurna. Relain gue ya nanti? Gue akan merelakan Lo juga di semesta ini. Biarkan semesta Lo tetap berjalan, semesta yang seharusnya.” Tara membelai rambut cokelat Tiara

“Ga kak! Gue gamau!!” Tiara menggeleng kepalanya kembali

Keduanya kembali memeluk satu sama lain di bawah lantunan lagu Afgan. Lagu yang pas untuk semesta Tara saat ini. Isak tangis pecah di tengah Aula SMA Nirvana.

“Ra, denger, Mengapa Tuhan Pertemukan, kita yang tak mungkin menyatu. Pas ya lagunya buat kita? Hehe.” Tara menatap mata Tiara dengan sangat sayu

Tiara tidak bisa berkata kata lagi. Semesta nya terbelah malam ini. Apakah ini semua Tanda perpisahan antara keduanya. Itu Yang ada di kepala Tiara.

Dengan suara pelan, Tara membisikkan kalimat “Peri, gue sayang sama Lo. Maaf kalau Lo harus bertemu gue yang gabisa menemani Lo selamanya. Cinta kita memang ditakdirkan oleh semesta ini, namun harus berakhir cepat atau lambat. “ Tangisan Tiara pecah setelah itu. Tiara memeluk lelakinya lebih erat. Ia ingin merasakan kehangatan yang diberikan oleh Tara lebih lama lagi. Dia ingin merasakannya bersama sama.

Tubuh Meghantara yang mulai lemah itu, tiba tiba hampir terjatuh karena hilangnya keseimbangan. Efek samping yang sudah lama ia tidak rasakan, malam ini telah kembali. Teman temannya yang melihat Tara hampir terjatuh, langsung dengan sigap membawakan kursi roda ke tengah Aula itu.

“Tar, udah, ayo balik ke RS...” Ucap Daren

“B-boleh anter gue ke rooftop atas? Gue mau ngomong sebentar sama cewek gue lagi?” Ucap Tara sambil memegang tangan Tiara yang mulai dingin.