faaosh

“A B C….lima….da..sar..A B C.”

“Cicak.” teriak Beben

“Ah anjing apa ya….” Cakra sedang berfikir sambil menopang kan dagunya.

“Cacing woi cacing.” teriak Saga kesenengan mendapatkan jawaban

“Cupang.” Jeffan teriak sampai urat-uratnya keluar

“Gabisa, cupang kan ikan.” elak Cakra yang tidak terima

“Bisain udah ayok nanti berantem.” kata Saga melerai sebelum terjadi pertengkaran adu mulut seperti biasa

“Udah jadi ni nggak pada mau?” Cakra yang mendengar itu pun langsung lari disusul oleh Beben dibelakangnya

Sagara menggelengkan kepalanya tak percaya dari dulu sampe sekarang teman-temannya tidak berubah. Selalu berebut kalo mau makan.

“Cakra serakah banget sih lo. Itu udah banyak.” Jeffan protes pasalnya Cakra mengambil bagian miliknya.

“Ih apasih bagi dikit doang, orang pelit kuburannya sempit.”

“Orang serakah nggak punya kuburan.” Cakra tertawa sambil memukul lengan Beben disampingnya

Cakra emang kayak gitu, kalo ketawa pasti mukul orang. Jeffan akan selalu protes kalo duduk deket Cakra. Dan Beben membalasnya sedangkang Dion tidak ada yang berani menyentuhnya, dia sedikit mengintimidasi.

Tapi Dion lah yang paling waras diantara lainnya. Sagara dan Cakra yang paling kuat minum. Beben minum 2 gelas aja udah tepar. Dion dan Jeffan jarang minum katanya lebih suka es teh.

“Lo nggak keliatan kayak orang sakit Gar, oh atau lo emang cuman pura-pura biar bisa manja sama Zora ye?” tanya Jeffan heboh

Sagara menoleh, “Nggak sinting. Tadi malem suhu badan gue 39°.”

“Lo keliatan banyak pikiran, kenapa?” kali ini Dion ikut berbicara

“Nggak ada anjir ngarang lo Yon.”

“Lo punya kita Gar, anjing jijik banget gue ngomong gini. Tapi serius lo punya kita.” ujar Cakra sambil tertawa

“EH BTW GUE TADI LIAT ZORA PULANG DI JEMPUT SAMA MOBIL.” Beben heboh menceritakan yang dilihatnya sewaktu di kampus

“Hah?”

“Hubungan lo sama Zora tuh apansih?” Jeffan menanyakan yang pengen semua orang tanya

“Gatau.”

“Anjing! Bocah ini emang nggak pernah jelas.”

“Lo aja yang denial kali. Bukan cuman gue mungkin semua orang tau dia satu-satunya cewek yang buat lo nunggu 3 jam dikampus demi jemput dia selamat sampe pulang.”

“Stop stupid! Gue yakin diluar sana banyak cowok yang nunggu Zora.” jelas Dion panjang lebar

Sedangkan yang diajak bicara diam memainkan jemarinya.

“Bener gue aja naksir. Eh santai bos liatinnya bercanda doang.” ucapan Cakra barusan langsung di plototi Saga

“Gue cuman takut kehilangan dia aja….she is the most important ij my life.

“Rumit percintaan lo.” ucap Beben tiba-tiba yang membuat mereka menoleh ke arahnya

Setelah percakapan tadi, tidak ada lagi yang berbicara. Beben dan Cakra yang sibuk memainkan game di ponselnya. Jeffan yang sibuk chattan sama pacarnya.

Juga Dion duduk bersama laptop kesayangannya. Dan Saga sedang tiduran menatap langit apartnya.

Zora Ayana POV

Gue membuka pintu ruangan Miss Cindy, waktu gue dateng Miss Cindy langsung ajak gue ke tempat yang nggak tau namanya. Intinya ada kamera sama lampu gitu.

“Zora kamu duduk disini dulu ya.” gue mengangguk paham.

“Saga…aduh kamu tuh Miss tunggu daritadi.” gue menoleh ke arah sumber suara.

“Ayo cepet ganti baju Zo.”

Setelah ganti baju, gue dan yang laki-laki yang tadi itu mulai pemotretannya.

“Kaku banget kayak nggak pernah foto.” ujar Sagara pelan

Gue cuman senyum karna emang gue nggak pernah foto-foro kayak gini. Palingan tuh foto ya biasa di fotoin wendy juga kadang.

“Gue lagi ngomong sama lo.”

“Oh iya…maap.”

Ngapain gue minta maap? Ah gatau cuman itu kata yang ada di pikiran.

“Gajelas.”

“Gue emang nggak pernah foto kayak gini. Sorry deh.”

“Kenapa minta maap?”

“Iya takut lo nggak nyaman.”

“Ayo siap-siap ya.” ucap sang fotografer

Cekrek

Kurang lebih gaya 10 kali sampe gue cape. Ternyata jadi model cape juga ya. Bener kata ibu nggak ada pekerjaan yang gampang.

“Serasi juga.” ujar sang fotografer

Gue melirik dia pengen tau reaksinya ternyata ekpresinya datar menghadap kedepan.

Dia kenapa sih? Apa belom sarapan? Mukanya tu kayak murung.

“Saga.” dia menoleh

“Lo tau gue?” tanya dia

“Gue denger Miss Cindy manggil nama lo tadi.”

“Lo belom sarapan ya?”

“Kenapa?”

“Kan gue nanya, kok balik nanya?”

“Gue nggak suka orang kepo.”

Buset jutek amat tuh jawaban. Agak nyebelin sih tapi yaudahlah mungkin suasana hatinya lagi nggak baik.

Waktunya break, gue duduk sambil makan roti yang tadi ibu bawain. Gue melirik kearah Saga, dia duduk sambil memainkan ponselnya.

“Lo mau?”

Dia menggeleng, “Nggak, kenyang.”

“Yakin? Nggak ada racunnya tenang aja.”

“Berisik.” ketus Saga

“Biarin nyesel.”

“Makan nggak usah ngecap.

Nyam Nyam Nyam

Biarin gue tambah kencengin, abisnya nyebelin banget sih. Gue kan baik nawarin.


Cr; ada di foto

Wendy dan Zora sampai pada tempat tujuan mereka. Zora mengikuti temannya dari belakang. Sebenernya ia malas untuk ikut namun Wendy benar-benar manusia yang tidak bisa di bantah.

“Wen awas lo ya kalo gue diem-diem aja.” bisik Zora pelan masih melihat sekitar dengan kedua matanya.

Zora memutar bola matanya malas sesaat melihat Wendy yang sudah bersama Cakra. Tenang nggak ngapa-ngapain kok cuman ngobrol.

“Zora buset apa kabar?” teriak salah satu dari kumpulan cowok itu.

Ia memicingkan matanya soalnya agak jauh jadi nggak terlalu keliatan. Tetapi entah mengapa wajah laki-laki kulit putih bersih itu seperti bersinar dan hanya dia yang bisa ia lihat dari jauh.

“Duduk sini anjir, ngapain lo diri.” ajak Beben

Zora tersenyum, ia merasakan tubuhnya menjadi kaku saat Beben menyuruhnya duduk berhadapan dengan Saga.

“Kak astaga sumpah gue lupa-lupa inget muka lo.”

Beben memang 2 tahun lebih tua dari Zora. Makanya ia memanggil dengan embel-embel kak. Juga Beben teman sepupunya, Daelan.

“Buset muka gue perasaan nggak jelek-jelek amat masih aja ada yang nggak ngenalin.” canda Beben sambil tertawa dan Zora ikut tertawa juga.

Jangan tanya Wendy sedang apa, ia benar-benar melupakan Zora jika sudah bersama Cakra. Definisi temen nggak tau diri.

“Btw si Dae masih les?” tanya Beben

“Nggak lah, gila kerja dia mah.”

Beben ber-oh ria dengan cengiran khasnya. Dari tadi ada yang mendengarkan namun tidak tertarik sama sekali dengan obrolan mereka.

“Widih bawa cewek cantik nggak ngomong-ngomong lo Ben.” ucap Peing salah satu teman mereka.

Saga melirik Peing sekilas, baru saja ia berniat menyalakan rokoknya. Kegiatan tersebut terhenti saat Saga mengeluarkan suara mahalnya.

“Ing pindah lo.”

Semua pasang mata langsung menoleh kearah sumber suara. Beben tersenyum jahil melihat tingkah Saga.

Ekhem tenang aja kali Gar, nggak akan di embat cewek lo.” kata Beben yang dijawab tatapan sinis oleh temannya.

“Oh cewek lo, bilang dong kalo gitu kan gue nggak berani godain. Maap ye bos.”

“Cewek mata lo.” kata Zora dalam hati

Suasananya semakin rame, Oiya Jefan tuh lagi main lego ama Arip di samping pohon jati dekat warjay. Sedangkan Zora, Beben dan yang nggak ia kenal namanya memainkan uno kartu bersama.

Zora juga bingung mengapa ia cepat akrab dengan mereka. Entah dorongan dari mana Saga memperhatikan Zora yang sedang sibuk dengan kartu yang ia pegang sambil tertawa sekali-kali.

“Cantik.” mungkin tidak akan ada yang mendengarnya pasalnya suara Saga memang sangat kecil

Zora merasa diperhatikan seseorang daritadi. Pas dia noleh Saga masih menatapnya dengan intens.

Saat itu rasanya detak jantung Zora berhenti, tapi ada keanehan dari tatapan Saga yang Zora pun tidak tahu.

Zora menyembunyikan wajahnya setelah melihat seseorang yang ia kenal. Ia sangat amat hafal punggung lebar milik Sagara.

“Kenapa? Ko ngumpet gitu?” tanya Mba Dina menganggetkan

Zora tersentak, “Mba kirain siapa.”

“Oiya Zo itu meja di pojokan, kasih menunya gih.”

Zora melotot, tidak mau. Itu meja yang diduduki Saga.

“Mba aja deh.” elah Zora

“Mba ada kerjaan lain.”

Dengan berberat hati Zora melangkahkan kakinya yang tiba-tiba terasa berat sekali.

“Mau pesen apa mas.” ucap Zora ragu-ragu suaranya sengaja ia kecilkan agar Sagara tidak mengenalinya

Sagara mengabaikan Zora yang menunggunya, ia fokus memainkan game di ponselnya.

“Mau pesen apa Mas?” kali ini volumenya ia naikkan sedikit.

Sagara tersenyum sekilas, sorot matanya melihat kearah Zora.

“Ngapain ngumpet kayak tadi?” tanya Sagara santai.

Zora mengerutkan dahinya, bingung dari mana Sagara tahu.

“Malu.”

“Kenapa?”

“Ya malu aja.” jawab Zora melemah

“Kerjaan lo kan halal, kenapa harus malu?”

Zora tidak menjawab. Diam menundukkan kepalanya sedikit agar tidak melihat wajah Sagara sekarang.

“Latte.” ucap Sagara sehabis melihat daftar menu

“Oke tunggu sebentar ya.” belom sempat Zora berjalan menjauh. Saga sudah lebih dulu memegang tangan kanannya.

“Gue mau lo yang nganter kesini.” kata Sagara cepat

Zora memutar bola matanya malas, “Pembeli adalah raja.” lanjutnya.

“Iya tuan Sagara.” kata Zora dengan senyum paksa dibibirnya.

Sagara yang melihat pun tidak sadar ikut tersenyum. Setelah itu tidak ada yang terjadi antara mereka berdua. Zora kembali bekerja dan Sagara yang masih setia dengan ponsel ditangannya.


“Zo itu kok pelanggan di pojok nggak pulang-pulang ya?”

Zora menghentikan kegiatannya yang sedang mencuci tangan dan bersiap untuk pulang.

“Nggak mungkin Saga, bisa aja orang lain.” ucap Zora di dalam hati.

Dari tadi ia memang tidak memperhatikan sekitar. Ia sibuk mondar-mandir bekerja, karna kalo malam minggu cafe memang selalu ramai.

“Yang mana mba?”

“Gatau mba, ganteng pokoknya. Kulitnya putih banget. Terus badannya tinggi, dan oh punggungnya pelukable.” jelas Mba Dina panjang lebar.

Zora tertawa sebentar, “Punggung pelukable tuh gimana mba?”

“Ya nyaman dipeluk gitu.”

Ia menggelengkan kepalanya. Mendengar perkataan mba Dina barusan memang benar sih, punggung Sagara kayaknya nyaman deh di peluk.

“Loh? Kan belom tentu itu Sagara.” ucapnya dalam hati

“Mba yaudah ya aku duluan. Makin malem nanti.” pamit Zora

“Oh iya hati-hati ya Zo. Bilangin ke pelanggan yang itu ya, pake bahasa yang sopan tapi.”

Zora mengganggukkan kepalanya paham dan berjalan keluar dari dapur.

“Kok belom pulang?” Sagara yang tadinya sedang memainkan ponselnya pun kini beralih menatap Zora

“Yuk pulang.” ajak Sagara

“Ngapain?”

“Pulang bareng gue.”

“Gue di jemput gar.” jawab Zora sambil mengecek ponselnya yang dari tadi tidak ia sentuh.

Zora merucutkan bibirnya kesal membaca pesan dari abang sepupunya itu.

“Yaudah gue duluan ya.”

Zora berlari menyusul Sagara, “Gue ikut lo deh.”

“Tadi katanya di jemput.”

“Gatau tiba-tiba tuh orang lembur. Nyebelin banget emang, pake nyogok beliin martabak lagi. Dia kira gue seharga martabak keju alim.” ucap Zora dengan muka kesal.

“Hahaha yaudah masuk.” pinta Sagara sambil tertawa.

“Lo beneran ketawa ternyata.”

Zora memasangkan sabuk pengaman dibadannya. Sagara menoleh. “Ganteng nggak?”

“Hah?”

“Ketawa gue ganteng nggak?”

Zora ngebug lalu diam menatap kedepan, bingung menjawab apa. Kalo ia jawab ganteng nanti Sagara kepedean, kalo ia jawab jelek pembohongan publik namanya.

Sagara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah pembicaraan tadi mereka berdua jadi sama-sama diam.

Sagara yang fokus menyetir dan Zora yang asik dengan pikirannya.

“Dingin ya?” ucapan Sagara menyadarkan lamunannya.

Zora menggeleng.

“Lo capek?”

Ia menoleh. “Sedikit.”

“Tapi lo hebat.”

“Gar lo nggak lagi kesurupan kan?” muka Zora berubah menjadi takut karna perubahan Sagara yang tiba-tiba.

Sagara menepikan mobilnya di pinggir jalan. Kemudian mengambil jaket yang berada jok belakang.

Sagara memasangkan jaket miliknya. Mulai dari memasukkan tangan Zora kedalam jaket lalu tangan kirinya kemudian me-resleting jaket tersebut.

“Jangan nyerah ya..lo udah hebat ra.” kata Sagara sebelum akhirnya melajukan mobilnya lagi.

Zora diam tidak merespon apapun. Jantungnya berdetak lebih cepat, tangannya tiba-tiba saja berkeringat padahal tadi sangat dingin.

“Zora nggak boleh baper plis jangan.” ia terus meyakinkan hatinya bahwa perbuatan Sagara itu hal biasa.

Zora lega setelah pintu berhasil terbuka. Ia melihat Sagara yang tertidur di Sofa sambil meringkukkan badannya.

Ia menempelkan telapak tangan pada dahi laki-laki itu. “Buset panas banget nih orang.”

Pelan-pelan ia menyelimutkan seluruh badan Sagara dengan selimut.

“Dingin.” ucap Sagara tiba-tiba

Zora menoleh. “Eh gue matiin aja ya Ac-nya.”

“Hmm—gue nggak bisa tanpa Ac nanti merah-merah kulitnya.”

Sagara memijit kepalanya pelan. Kepalanya terasa berat, ia bahkan tak sanggup membuka matanya.

“Peluk.” ucap Sagara dengan suara beratnya

Zora masih diam sebelum akhirnya ia juga ikut duduk disebelah Sagara dan laki-laki itu dengan cepat memeluk tubuhnya.

Zora yang awalnya kaget pun akhirnya membalas pelukan dengan erat. Menepuk punggung Sagara pelan.

Ia berusaha mengontrol agar tidak terlihat gugup dan bersikap biasa saja.

Zora melepaskan pelukan itu, Sagara menolak tapi pada akhirnya Zora berhasil lepas. Ia baru ingat ibunya sering menanganinya saat demam. Ibu memastikan suhu ruangan tidak terlalu dingin, memakai baju yang menyerap keringat dan juga pakai selimut yang tidak tebal.

Dia beranjak ke lemari. Mencari kaos untuk Sagara ganti karna Baju yang ia pakai sudah basah keringat dan juga selimut dengan bahan tidak tebal.

“Mampus! maap ya Gar gue buka lemari lo. Sumpah gue nggak niat sebenernya. Semoga nggak ada barang haram.” kata Zora dalam hati

Barang haram yang ia maksud itu pakaian dalam.

“Gar lo ganti baju dulu deh, baju lo basah.” saran Zora

Sagara berdehem.

“Bisa bangun kan?”

Sagara bergeming, yang ia butuhkan hanya tidur dengan nyaman karna kepalanya sakit sekali. Tubuhnya dingin dan pegal-pegal.

“Dingin ra.”

“Iya makanya ganti baju dulu ya.” ujar Zora

“Ngantuk.”

Zora membuang nafasnya sambil menguatkan dirinya menghadapi Sagara yang sangat keras kepala ini.

“Baju lo tuh basah karna keringet kalo nggak diganti nanti tambah sakit.”

Sagara mencoba untuk duduk dengan mata yang masih terpejam. Berusaha membuka kaos yang ia kenakan sebelumnya.

Zora berbalik mencoba mengatur debaran di jantungnya.

“Udah?” tanya Zora masih dengan posisinya.

“Hmm.”

“Ganti selimutnya yang ini.” Zora memberikannya pada Sagara.

Ia beranjak, mengambil handuk kecil untuk kompresan. Sayangnya disini tidak ada baskom jadi ia menggunakan panci untuk memasak mie.

Zora menaikkan suhu Ac kamar, dan mengompres dengan air hangat. Ia mengukur suhu tubuh Sagara, 39 derajat. Panas banget ini mah.

Beberapa kali Sagara merintih kesakitan. Mungkin karna sakit dikepalanya. Biasanya kalo demam tuh emang sakit kepala sama badannya pegal-pegal.

Jadi Zora sangat maklum jika Sagara tidak nyaman dalam tidurnya.

Uhuk

“Mau minum?” tawar Zora dan tidak mendapat jawaban dari lawan bicaranya.

Ia berdiri mengambil segalas air putih.

“Duduk bentar Gar.” sambil membantu Sagara duduk.

Sagara duduk dan meminum air yang disodorkan Zora tadi. Baru Zora akan berdiri Sagara tiba-tiba memegang tangannya.

“Mau di usap-usap.” pinta Sagara dengan mata terpejam.

“Hah?”

“Kepala gue usap-usap.”

Sagara tuh kalo lagi sakit jadi manja ya, batin Zora.

“Ra…”

“Iya sebentar Gar.”

Ia mengusap-usap dengan sambil sesekali memerhatikan wajah bak pangeran ciptaan tuhan ini.

Lo beneran manusia bukan sih?

“Gue emang ganteng Ra.”

Zora reflek memukul lengan Sagara yang masih tertidur dengan senyuman dibibirnya. Seolah-olah meledek.

Zora menggerutu sepanjang jalan. Ia kesal pada Daelan yang tiba-tiba tidak bisa menjemputnya. Malam hari begini mana ada taksi lewat.

Langkahnya terhenti setelah melihat seseorang yang di pukuli oleh sekelompok 3 orang. Zora berhenti, memincingkan matanya melihat siapa yang dipukuli itu.

“Kayak mobilnya Sagara.” ucapnya dalam hati.

Sagara tidak bisa melawan dikarenakan lawannya yang cukup banyak dan tidak ada persiapan sama sekali.

Zora berusaha mendekat, walau sekujur kakinya berubah menjadi lemas.

“Kalo gue lawan, gue juga kalah lah.”

“Ayo ide muncul gue harus bantuin Sagara.”

Suara sirine polisi terdengar sangat jelas. Tidak! Polisi tidak datang. Bunyi tersebut berasal dari ponsel Zora.

Ya..akhirnya ia menemukan ide keren.

Orang-orang tersebut kabur setelah mendengar bunyi itu. Dirasa sudah cukup aman Zora bersiap lari untuk melihat keadaan Sagara.

Benar saja apa yang dia pikirkan. Sagara sudah babak belur dan tersungkur jatuh ke aspal.

“Gar bangun!” seru Zora seraya menepuk bahu Sagara pelan.

“Hmm.”

Zora lega setelah mendengar suara Sagara. Artinya ia tidak mati.

Zora membopong tubuh Sagara yang jauh lebih besar darinya. Untungnya ia kuat, dari kecil ibunya sudah mengajarkannya untuk mengangkat galon air sendiri.

Zora pelan-pelan memegang kepala Sagara untuk disenderkan pada kursi mobil.

“Gar aduh ini gimana cara ngendarainnya? Kayak mobil biasa kan?” tanyanya sambil memasang sabuk pengaman di badannya.

Dengan modal nekat ia mampu melajukannya.

“Gar.” panggil Zora

Tidak ada jawaban.

“Gar…masih idup kan lo?” tanya Zora lagi

“Hmm.”

“Eh gue bawa lo kemana?”

Zora masih fokus menyetir. Ia dengan sangat hati-hati membawa mobil yang tidak pernah ia kendarai.

Sebenernya Zora bisa menyetir hanya saja ini sedikit berbeda. Tipe mobilnya berbeda jadi ia takut tidak bisa.

“Rumah lo dimana?”

“Apartemen sudirman.”

Zora melajukan mobilnya menuju apartemen Sagara. Ia memarkirkan mobil di basement.

Membuka pintu kemudian membantu Sagara untuk berjalan.

“Gue bisa sendiri.” ujar Sagara melepas rangkulan itu.

Namun satu menit kemudian Sagara jatuh ke bawah. Zora berdecak kesal.

“Makanya gue bantuin aja sini.” ucapnya sambil membopong

“Pinnya berapa?”

“121212.”

Seluruh badannya terasa sangat sakit. Efek dipukuli ternyata sangat dahsyat.

“Sini gue obatin dulu.”

Sagara menepis tangan Zora yang sudah siap untuk mengobatinya.

Zora terpaksa memegang dagu Sagara agar menoleh kearahnya. Ia tidak peduli Sagara akan marah setelah ini atau tidak.

“Ah.”

“Makanya kalo diobatin tuh diem. Banyak gerak sih lo.”

Sagara mau nggak mau harus menuruti perkataan wanita ini. Ia diam-diam memandangi wajah cantik yang tidak pernah ia lihat sedekat ini.

“Udah.” ucap Sagara memalingkan wajahnya.

“Belom selesai.”

Lagi-lagi Zora menariknya. Sagara menelan ludah dan memejamkan matanya agar tidak terasa sakit.

“Udah selesai. Sekarang lo boleh gerak.” jelas Zora dengan senyum manis dibibirnya.

“Lo tinggal sendiri?” tanya Zora

“Lo liat orang selain gue?”

Zora menaladahkan padangannya. Hanya ada anjing berwarna putih berbulu lebat yang lucu.

“Nggak.”

“Kayak gitu aja masih nanya.”

“Malu bertanya sesat dijalan tau.”

Sagara memejamkan matanya tidak peduli ocehan apalagi yang keluar dari mulut gadis itu. Ia berusaha meng istirahatkan badan dan juga fikirannya yang entah kemana.

Zora memainkan ponselnya, sambil duduk menunggu jemputan datang. Ia menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan laki-laki itu.

Setelah membaca pesan terakhir yang dikirimnya. Ia berjalan menuju peron 3 mencari keberadaan cowok itu. Dengan modal foto yang Cakra kirim tadi akhirnya ia menemukan cowok itu sedang berdiri tegak menatap lurus kedepan. Cowok dengan kaos hitam polos dan topi dikepalanya berdiri tegak dengan wajah datar tanpa senyuman.

Zora tersenyum sembari melambaikan tangan. Barang bawaannya tidak terlalu banyak karna nanti juga ia akan membelinya disini.

“Gue Zora.” ucap Zora menyodorkan tangan kanannya.

Lelaki itu tak menjawab. Ia malah mengambil koper yang dibawa Zora dan memasukkannya kedalam mobil.

Zora berdecak kesal. Ia sangat sebal dengan respon pria itu. Menurutnya itu sangat sombong.

“Gue boleh nyalain lagu nggak?” tanya Zora hati-hati

Sagara menoleh dan menganggukkan kepalanya. Tidak ada pembicaraan antara mereka berdua.

Gadis itu melihat kearah jendela memerhatikan bayangan yang terpantul dari kaca mobil.

“Jakarta panas ya?”

“Kayak yang lo liat.” jawab Sagara ketus

Sagara memang sangat gemar mematikan topik obrolan. Padahal Zora sudah sangat berfikir keras memikirkan topik apa yang dibicarakan.

Suasananya semakin canggung. Hanya terdengar dentuman lagu yang di putar.

“Nama lo Sagara?”

“Hmm.”

“Gue liat kartu nama lo.”

Kartu nama yang tergeletak di dasboard mobilnya. Zora menyenderkan kepalanya pada kaca sambil sesekali melirik Sagara yang tambah ganteng kalo lagi nyetir.

“Lo suka mie ayam nggak?”

“Biasa aja.”

“Lo tau tempat mie ayam yang enak nggak?” tanya Zora lagi

Sagara menghela nafas pelan. Mukanya masih tenang tidak berubah menjadi marah.

“Lo bawel.”

“Gue tu nggak bisa diem-diem aja kayak gini.” protes Zora

“Harus bisa. Karna nggak semua orang kayak lo.”

Zora terdiam tercengang mendengar omongan Sagara barusan. Menurutnya bertanya adalah hal yang wajar.

“Gue nggak suka cewek bawel.”

“Dan gue nggak peduli ketidak sukaan lo.” Zora menaikkan nada suaranya karna kesal.

Setelah itu mereka benar-benar diam. Zora yang sibuk memainkan game di ponselnya dan Sagara yang fokus menyetir.

“Ya.”

“Ko bisa?”

“Oke abis ini gue langsung kesana.”

Zora hanya mendengar tidak berani bertanya siapa yang berbicara dengannya di telfon.

Gadis itu memasuki lift dengan senyuman di wajahnya. Ia sangat suka menghirup udara pagi karna menurutnya itu sangat menenangkan.

Ia memencet bel menunggu seseorang membukakan pintunya. Sangat lama Zora menunggu.

Tok tok tok

“Do wanna build a snowman—” teriaknya menirukan suara ana pada karakter film frozen.

“No..i can't build for you.” ujar Cakra membuka dengan cengiran diwajahnya.

Zora mendorong cowok itu agar menyingkir dari hadapannya. Ia meletakkan paper bag yang berisi makanan dari mamah ( nyokap Cakra ).

*Zora manggil mamah karna nyokapnya Cakra dulu sempat mengasuhnya sewaktu sd

“Bawa apa tuh.” Cakra membuka paper bang yang tadi gadis itu bawa.

“Punya mata dipake.”

Cakra menoyor kepala Zora kemudian berlari menuju kamar agar gadis itu tidak bisa mengejarnya.

Cakra memang seperti itu selain jail ia juga orang yang sangat kompetitif. Pernah sewaktu jaman SMP Zora dan Cakra bermain adu panco. Yang kalah akan mentraktir selama satu minggu.

Karna Zora memang ahli dalam perpanco-an alhasil dia menang. Cakra yang tidak terima pun berkali-kali meminta agar permainan tersebut diulang.


Zora bosan menonton acara televisi yang itu-itu aja. Kalau bukan sinetron ya gossip murahan para artis tv.

Ia berniat mencari Cakra yang dari tadi tidak keliatan batang hidungnya. Gadis itu berjalan ke arah kamar tempat terakhir yang Cakra masuki.

Krek!

Kya—

Zora berlari keluar kamar setelah melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat.

Bukan Cakra yang berada di kamar melainkan cowok menyebalkan yang sewaktu itu menjemputnya.

“Ada apasih berisik-berisik.” kata Cakra keluar dari arah studio.

Zora masih menutupi matanya dengan kedua tangannya.

“Gue liat pornografi.”

Cakra menganga tidak mengerti maksud Zora.

“Maksud lo? Lo nonton porno?” tanya Cakra bingung

Gadis itu memukul lengan Cakra dengan keras sebab tidak terima dengan ucapan Cakra barusan. Cakra refleks mengelus lengannya yang sakit akibat pukulan tadi.

“Cowok—itu—dikamar lo telanjang.” jelas Zora dengan nafas yang tidak teratur.

“Chill bro itung-itung cuci mata.” ucap Cakra dengan nada meledeknya.

Kali ini bukan lengan melainkan kepalanya yang sudah siap untuk dipukul. Cakra teriak kesakitan sambil memegang kepalanya.

“Duh bisa lupa ingatan nih lama-lama gue.”

“Drama najis.”

Cakra masih menertawai sepupunya yang sudah sangat berapi-api ini. Tatapannya seperti ingin menyantap manusia.

Krek!

Zora dan Cakra sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Sagara keluar masih tidak memakai bajunya. Zora refleks membalikan badannya tidak mau melihat lagi.

“Baju gue dimana?” tanya Sagara dengan suara serak khas orang bangun tidur.

“Gantung goblok, makanya nyari pake mata.”

Cowok itu mengambil dan memakai bajunya. Zora masih pada posisinya, Cakra yang melihat pun tertawa lagi sampai berbunyi ngik ngok ngik ngok.

“Ketawa lo jelek banget ngik ngok ngik ngok.”

“Tapi muka gue tetep ganteng.”

“Najis ih.”

Zora berjalan ke arah dapur mengambil minum karna berada diapartemen Cakra ternyata butuh tenaga yang ekstra.

“Gue laper.” ucap Sagara pada Cakra

“Udah kayak pengemis minta makanan mulu.” sarkas Cakra tanpa dosa.

“Pengemis minta duit bukan makanan.”

“Iya anjing sama aja.”

Kemudian Sagara duduk di meja makan bersama Zora dan Cakra juga. Wajah cowok itu selalu tenang, tatapannya masih sama mengintimidasi.

Suasananya menjadi canggung. Zora sangat sebal melihat Cakra yang makan sambil memainkan ponselnya.

“Bisa taroh dulu nggak sih tuh HP. Nggak akan ilang juga.” ucap Zora tiba-tiba

Cakra menoleh kaget. Sedangkan Sagara tidak tertarik untuk mendengarkan perdebatan dua orang tidak jelas ini. Ia sibuk memangku vivi anjingnya sambil sesekali mencium gemas.

“Napa sih? Ini hal biasa yang gue lakuin.”

“Kebiasaan lo jelek.”

“Ih serem banget marah-marah.”

“Taroh HP nya gue risih liatnya.”

Cakra berdiri berniat ke kamar mandi. Cowok itu memang sangat hobi ke kamar mandi entah apa motivasinya.

“Mau kemana?” tanya Zora

“Kamar mandi. Mau ikut lo?”

“Ngapain?”

“Main HP biar nggak lo omelin.” ucap Cakra berlari menuju kamar mandi.

Kini tinggal Sagara dan Zora. Gadis itu berjalan menuju dapur. Hari ini entah kenapa ia merasa sangat haus. Padahal cuaca diluar tidak terlalu panas.

Sagara beranjak dari duduknya. Melewati punggung Zora yang menghalangi lemari pendingin. Zora berusaha mengatur detak jantungnya. Cowok itu berhasil membuatnya tidak tenang kali ini.

“Lo ngehalangin kulkasnya.”

Zora menoleh netra mata mereka bertemu untuk beberapa saat sampai akhirnya Sagara membuang mukanya kasar.

“Eh iya sorry.”

Lamunan Zora di kagetkan dengan kehadiran Cakra yang tiba-tiba.

Gadis itu melirik Sagara yang sedang bermain dengan anjingnya. Sebelum akhirnya cowok itu berdiri.

“Gue balik. Thanks Cak.” pamitnya dengan menggendong vivi lengan kanannya.

“Bayarannya mane?”

Ia melemparkan sebungkus rokok kepada Cakra. “ Noh rokok masih utuh.”

“Sialan! Gue bisa beli sendiri ya anjing.” teriak Cakra marah.

“Gemes.” kata Zora pelan

“Siapa yang gemes? Gue ya?”

Zora langsung memperagakan orang muntah. “Najis enyah lo.”

“Ati-ati naksir sama temen gue.” ucap Cakra tepat dikuping Zora.

Zora diam sejenak memikirkan ucapan Cakra barusan.

“Masa sih gue naksir?”

“Secepet itu?”

Terdengar suara teriakan yang berasal dari suatu ruangan. Awalnya ia malas ikut campur urusan orang lain tapi setelah mendengar suara teriakan yang menakutkan gadis itu memberanikan diri untuk keluar dan mengecek.

“Untung gue bisa bela diri! Awas aja tuh Cakra sinting.” serunya dalam hati.


“Anjing!” teriak Sagara ke arah Algi yang sudah ada ditangannya.

“Kenapa? Lo masih nggak terima kalo cewek yang lo jaga itu ternyata udah nggak perawan.”

Sagara menendang perut Algi lagi, Algi sudah tidak berdaya untuk melawan. Cowok itu menarik rambut Algi dengan kasar.

“Shut up!”

“Hahaha pukul gue lagi sini masih belom nih.” tantang Algi sambil mengarahkan tangannya pada bagian pipinya.

Sagara yang sudah hilang kesabaran pun mengambil pisau yang berada dilantai dan mengarahkan pada bagian kepala Algi.

“Sagara jangan gila!” teriak Cakra dari arah berlawanan.

Cowok berbadan jangkung itu tidak mendengarkan perkataan Cakra. Yang di ingingkannya saat ini adalah kematian Algi.

Sagara melempar pisau itu namun ia sengaja melesetkan. Pisaunya tidak mengenai kepala Algi melainkan pada dinding hampir saja mengenai telinga Algi.

Ia tersenyum mengeluarkan smirk dibibirnya. “Kalo gue mau, gue bisa aja bunuh lo hari ini.”

Bugh!

“Sekali lagi lo ngomong yang nggak-nggak soal Elya gue beneran buat lo mati hari itu juga.” ancam Sagara.

“Dia cuman manfaatin lo tolol!”

“Anjing!”

Belum Sagara memukul Algi lagi Cakra sudah lebih dulu mendorong temannya agar tidak berbuat lebih lagi.

Karna dilihat kondisi Algi yang sudah sangat lemah. Bisa mati jika dilanjutkan lagi.

“Anjing!” umpat Sagara

“Lo yang anjing tolol! Anak orang bisa mati.”

“Gue nggak peduli.”

“Biar gue yang urus.” ujar Cakra menyuruh Sagara pergi.

Cowok itu berbalik melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu.

Zora berdiri tidak jauh dari sana. Ia melihat semua kejadian yang terjadi. Setelah melihat Sagara berbalik, gadis itu melemparkan senyuman. Seolah-olah semuanya yang terjadi tadi hal biasa.

Cowok itu melirik Zora sebentar sebelum akhinya pergi menuju mobilnya.

Krek

“Hai.” sapa Zora tersenyum kearah Sagara.

Cowok itu tak bergeming. Ia berusaha mengatur nafasnya.

“Ayo..pulang.”

Sagara menoleh, wajahnya bingung.

“Ngapain?”

“Duduk. Lo nggak liat?” jawab Zora santai

“Turun.”

“Gamau, mau ikut lo.”

Sagara menghela nafas panjang. Tangan kanannya memegang stir. Karna malas berdebat, cowok itu terpaksa melajukan mobilnya.

Zora tersenyum penuh kemenangan.

Mereka berhenti di lapangan luas banyak pepohonan. Cowok itu membuka pintu mobil dan keluar.

“Anjing!” ia memukul pohon itu kuat-kuat hingga tak sadar tangannya terluka.

“Ih lo ngapain sih?” teriak Zora menghampiri Sagara.

“Tuh kan luka. Bisa nggak sih kalo marah nggak usah ngelukain diri sendiri.” cecar Zora kesal

Sagara masih diam tak menatap gadis itu. Pikirannya masih terhenti pada ucapan Algi tadi.

“Ayo pulang. Gue capek!” eluh Zora.

Sagara beralih menatap gadis itu dengan tatapan tenangnya.

“Kenapa? Belom puas nonjok tuh pohon? Yaudah sana gue tunggu di mobil.” ujar Zora

Baru saja Zora melangkahkan kakinya ke arah mobil. Langkah itu tertahan dengan cegatan tangan Sagara yang tiba-tiba.

“Raa.”

Sagara menatap lekat gadis itu. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centi. Cowok itu beralih menatap bibir ranum milik Zora.

Ia memiringkan wajahnya sedikit kearah iri. Sebelum akhirnya bibir mereka bertemu Sagara lebih dulu menjauhkan wajahnya dari Zora.

Gadis itu memegang dadanya. Jantungnya berpacu lebih cepat. Wajahnya memerah, kedua telapak tangannya basah karna keringat.

“Kenapa lo nggak ngelawan zo anjir.” makinya dalam hati

“Sorry! Gue anter lo pulang sekarang.”

Setelah mengatakan kalimat itu. Sagara pergi meninggalkan Zora dengan pikirannya. Zora berjalan hati-hati membuka pintu mobil.

Suasananya menjadi sangat canggung sekarang. Gadis itu sesekali melirik ke arah Sagara namun cowok itu justru sibuk mengendarai mobilnya.

Seolah tidak terjadi apapun diantara mereka tadi.

Setelah melalui perdebatan yang panjang akhirnya Zora menyetujui agar Sagara ikut bersamanya pulang ke Jogja.

Cowok itu mengendarai dengan kecepatan sedang, sambil sesekali melirik Zora yang sedang bermain bersama vivi di kursi kemudi.

Jangan ditanya mengapa anjing bernama Vivi itu ikut bersama mereka. Sagara adalah orang paling bucin dengan anjingnya. Ia tidak akan tega meninggalkan Vivi sendirian di apartemen.

“Ngapain?” tanya Zora setelah melihat Sagara menghentikan mobilnya pada indojuli.

“Isi e-toll, mau ikut?”

Gadis itu menggelengkan kepalanya. Ia tidak niat untuk kemanapun. Tujuannya hanya bertemu ibunya malam ini.

Memikirkan kondisi ibunya sekarang membuatnya ingin menangis. Ibunya tidak pernah masuk rumah sakit sebelumnya. Ia sangat takut terjadi hal seperti dulu.

Zora berusaha menyembunyikan air mata yang keluar dari manik mata indah miliknya. Gadis itu melihat Sagara yang baru saja keluar membawa sebuah paper bag yang entah apa isinya.

Krek

Zora mengalihkan pandangan ke luar jendela agar cowok itu tidak melihatnya menangis sekarang.

“Makan!” suruh Sagara.

Ia menyodorkan sebungkus roti coklat pada zora. Zora tidak menggubris, ia takut Sagara melihatnya yang sedang menangis.

“Ra?” panggil Sagara.

“Lo gapapa?”

“Jangan tanya gitu pliss malah makin keluar ni air mata.” seru Zora dalam hati.

Tanpa aba-aba cowok itu menarik Zora kedalam pelukannya.

“Nangisnya disini aja.” ucap Sagara pelan.

Pertahanannya runtuh. Ia tidak bisa menyembunyikan air matanya lebih lama lagi kali ini. Malam itu tangisnya pecah, ia sangat takut. Takut kehilangan lagi untuk kesekian kalinya.