write.as

025


“Ikut, kan, Stella?”

Gue menoleh dari layar komputer gue, ngeliat Evelyn berdiri dekat pintu ruangan gue, matanya berbinar penuh harapan agar gue ikut makan malam yang mereka ingin ngelakuin malam ini. She hadn't stopped talking about the reviews tentang restoran yang kita mau kunjungin, terus bertanya ke gue apakah gue jadi ikut, atau ngga. Ngerasa ngga bisa menolaknya, gue hanya terkekeh dan ngangguk iya, membuatnya bersorak dan semua mata yang ada di ruang istirahat kita melirik dia.

“Ikut, ikut,” gue ujar, sembari tertawa karena ketidaksabarannya. “Tungguin aku di luar aja, ini dikit lagi udah kelar, kok.” Ia hanya mengangguk, mengacung jempolnya dan pergi dari pintu gue. Gue cuma bergeleng-geleng, dan kembali selesaiin feedback dari Andrew mengenai laporan yang gue berikan tadi pagi.

Setelah lima hari, gue akhirnya selesai dengan minggu pertama gue di sini, di GenTech International, dan juga gue udah menghabiskan satu minggu di kota impian gue, yaitu Amsterdam.

Pertama kali gue ke Amsterdam adalah pas 2009, bareng kedua orang tua. Ibu gue adalah seorang fashion designer, dan beliau diberi kesempatan untuk ikut Amsterdam Fashion Week pada tahun itu di bulan Juli. Dikarenakan gue waktu itu masih libur, Mami bolehin gue buat ikut dengannya ke situ, sekalian ngabisin waktu liburan gue di sini juga.

I immediately fell in love; a new environment to what I was used to in Jakarta. Mostly because of the excessive greenery, and lack of traffic jams. Everything just seemed better when we were young.

Setelah itu, gue selalu mencari tau tentang negara ini. Sebenarnya gue sempat ada keinginan buat ngelanjut S1 di Netherlands, tapi karena kedua orang tua gue khawatir, makanya gue lanjutin di Indonesia aja, biar S2 di ambil di luar. But along the way, gue malah ngelanjutin S2 di Amerika Serikat, di New York University. I knew I wanted to live in the Netherlands, dan kalo misalnya gue malah ngelanjut studi, berarti gue terpaksa harus balik ke Indonesia ketika gue udah lulus, kan?

Amsterdam wasn't a place I wanted to stay in temporarily, or even for just a couple of years. I wanted to stay here for a long time, and if possible, spend the rest of my days in the city of tulips. That's what I wanted.

And that's what I got, because I'm here now.

But—there's always a 'but'. Good things don't necessarily stay good, there's always something bad just waiting to happen, and unfortunately, that 'bad thing' for me comes in the form of a someone.

Tapi, jujur, gue juga ngga pengen mikirin dia sekarang, not with the weekend waiting for me now.

Setelah gue matiin komputer, beres-beres, matiin lampu ruang gue dan tutup pintu, gue bertemu dengan rekan-rekan gue di luar. Enaknya dengan kerja di sini, karena ini hanya cabang Amsterdam sebuah perusahaan Indonesia, kebanyakan karyawan dari GenTech adalah orang Indonesia yang emang ditempatkan sini. Despite being far from home, lingkungannya tetep berasa kayak kerja di perusahaan Indonesia pada umumnya.

“Isaiah keluar duluan, biar ketemu di depan lobi aja,” kata Evelyn, dan gue hanya mengangguk, memakai blazer gue dan mengikuti rombongan kita ke lantai dasar. Hanya gue, Isaiah, Evelyn dan Jules yang bakal makan bareng, all four of us in the managerial position within the HR department, dan karyawan yang lain udah pada pulang.

Sebenarnya gue punya staff yang kerja dibawah gue sebagai Employees Relations Manager, tapi gue udah sempat ditraktir oleh mereka pada hari Rabu, mumpung mereka full-team waktu itu dan ngga ada yang work from home. Sekarang, gilirannya buat gue ngerayain bareng keempat orang yang bisa dibilang menjadi teman deket gue, selain karena Isaiah yang bantu ngenalin gue ke mereka, tapi juga karena kita berempat seumuran.

Ketika kita udah sampe ke lantai dasar, gue hanya terdiam di samping mereka berdua, mata gue ngelirik ke pintu lobi, menunggu Isaiah muncul. Ada rasa khawatir di belakang benak gue, yang gue berusaha buat abaikan, but it keeps forcing its way through. Lantai dasar adalah main entrance gedung GenTech, di mana semua orang masuk dan keluar juga, dan mata gue ngga bisa diem, ngelirik ke sana kemari, takut akan seseorang yang tiba-tiba muncul.

It's bound to happen, gue tau, tapi gue tetep optimis kalo gedung ini terlalu besar untuk bertemu dengannya.

“Hey, guys, I parked outside.” Gue ngehela nafas dengan lega ketika Isaiah masuk dari pintu kaca, menunjuk ke belakang di mana mobilnya parkir di deket pintu masuk. “Mau berangkat seka— Evelyn mana?”

“Ke toilet bentar,” kata Jules, dan gue baru sadar kalo Evelyn ngga ada.

“Oh, yaudah, kita tunggu bentar.” Sialan, makin lama kita berdiri di sini, lebih besar kemungkinan orang itu muncul tiba-tiba. Anxiously, my foot tapped gently against the floor, my lips pressed in a tight line as I watched around, berharap liat Evelyn, bukan yang lain.

“Ayo, guys, udah gue,” Evelyn memberi tau, dan sekali lagi, gue menghela nafas secara pelan.

Kita berempat beranjak menuju mobilnya Isaiah, and I counted the steps until we were out the door, out of the building, and most importantly, out of the possibility of meeting him.

Namun, ngga semua bisa berjalan seperti yang kita harapkan, right?

Ori!

Gue berhenti di tempat, semua darah gue mengalir dari wajah ke ujung kaki gue seketika nama tersebut bergema di seluruh lobi, di mana semua orang yang berada di sini, bisa mendengar nama itu.

I haven't heard that name since prom night—the same night di mana gue terakhir bertemu dengan cowok yang selalu manggil gue dengan nama itu.

“Adam? Ngapain?” Gue bisa denger Isaiah tanya, lelaki itu berbalik badan untuk ngehadap orang yang barusan manggil gue. Isaiah terus bertanya, kayaknya sadar kalo gue berhenti juga. “Do you both know each other?”

Do we know each other? Of course I know him. Dia adalah temen pertama gue waktu TK, main sendirian di sandbox dan kesusahan untuk membangun sebuah sand castle. Dia adalah sahabat gue, sampe menghabiskan 15 tahun berdua, dari TK sampe kita lulus SMA. Di mana ada gue, Adam pasti ada di samping gue—we were a package deal, you get one, you get the other. Dia adalah orang pertama yang gue selalu datengin kalo ada sesuatu yang gembira terjadi, dan orang pertama gue selalu cari kalo pengen nangis karena gue abis diputusin oleh cowok ngga jelas. Kita berdua melewatin semua milestones masing-masing bersamaan, dan berjanji akan selalu ada untuk satu sama lain—that we'd stay by each other's side for as long as we can.

Or so I thought.

Dia adalah Adam Saveri, cowok pertama yang gue percaya, dan cowok pertama yang menghancurkan kepercayaan itu.

Akhirnya, gue balik badan, tersenyum simpul ketika gue menatap dengan kedua netranya Adam. He's grown, but he's still the Adam I know. He mirrors my smile, recognition registering on his face.

“No, we don't.”

Seketika, senyuman Adam memudar setelah mendengar kata-kata gue. Gue terus menoleh ke Isaiah, “I think he has mistakened me for someone else—” mata gue kembali menatapnya, tersenyum simpul gue masih terbentuk pada bibir gue, “—I've never met him before.”

I watched Adam's jaw tense, his smile gone and his lips pressed in a tight line.

“Oh, well, he's Adam Saveri, the Chief of Technology here,” Isaiah memperkenalkannya, “and Adam, this is Auristella, the new ER manager I told you about earlier.”

Adam's hand extended towards me, tapi senyuman gue hanya melebar, menunduk kepala gue kepadanya tanpa berkata apa-apa. He awkwardly cleared his throat, retracting his hand sebelum bertanya, “Kalian mau ke mana?”

“Cari makan gue udah bilang,” ujar Isaiah, “kalo lo mau ikut, sok aja.” Gue langsung tegang. From my peripheral vision, gue bisa liat kalo Adam ngelirik ke gue, keliatan ragu untuk nerima ajakan Isaiah.

“I still have some reports to review,” ia akhirnya menolak, “you guys go ahead.” With a final wave, Adam balik badan, menuju elevator dan memencet tombol untuk naik ke lantai ruangannya. I tuned things out, tapi ketika rekan kerja gue yang lain lanjut menuju ke mobilnya Isaiah, gue ikut.

Walaupun gue tau gue harusnya ngga ngelakuinnya, untuk memastikan kalo itu beneran Adam, gue menoleh ke belakang, ke arah di mana elevator berada dan Adam juga melihat ke arah gue.

There was a look of sadness written over his sharp features, however, contrasted to mine, I couldn't help but glare at him in resentment, strong of emotion enough to have him look away the moment my eyes locked with his.