write.as

105

trigger warning: depictions of a panic attack


I don't have a good relationship with rain. Beda dari orang lain yang dapet nemukane sebuah ketenangan dalam cuaca yang mendung. Di mana orang pada dapet ketenangan, gue dapet keresahan.

It wasn't always like this though. Waktu gue kecil, gue selalu seneng kalo ada yang teriak di kelas kalo di luar sana udah mulai hujan, apalagi kalo udah deket-deket jam pulang. Hujan berarti dingin, adem, beda dari matahari yang terik, dan udara yang kering, penuh debu. Setiap kali hujan, gue punya rutinitas yang sama. Nyalain scented candle di kamar, nyalain lagu mellow volumenya pelan aja, terus nonton film dari masa kecil gue—The Princess Diaries, High School Musical, dan seterusnya.

But that changed. I never found comfort in the rain anymore, just anxiousness. In fear, something bad will happen, that at any moment, I could lose something.

“Sialan,” umpat gue pelan ketika gue membuka gorden, ngeliat ke luar di mana hujan masih terus menerus turun dari langit, seperti ngga ada keinginan buat berhenti. Sekarang udah mau jam 7, dan gue tinggal sendirian di departemen gue, semua karyawan dan karyawati udah pada pulang. Gue emang pake alasan karena mau kelarin kerjaan, biar pas weekend ngga ada apa-apa, padahal sebenarnya lagi nungguin hujannya agak mendingan.

At least enough to not get caught in the middle of the road.

It's not the first time gue nunggu hujannya reda dulu. Seminggu yang lalu, hujan juga, dan gue cuma habisin waktu setengah jam di kantor sebelum hujannya berhenti dan dapet pulang dengan aman. Gue udah cek laporan cuaca buat minggu ini, dan yang diberitahu cuma kalo hari ini bakal hujan deres sampe jam 6-an.

The weather forecast is said to be 80% accurate. I guess today was the 20%.

Counting down the minutes, gue cuma muter-muter di tengah ruang gue, menunggu sampe suara hujan yang turun pada jendela udah ngga terlalu deres. Even though, gue ngga masalah buat nginep di kantor gue, besok Sabtu, dan gue mau bangun pada tempat tidur gue sendiri.

“Akhirnya,” ujar gue, menghela nafas lega dan cepet beranjak keluar ruang gue sebelum hujannya berubah pikiran dan kembali mengguyur. Sehabis gue matiin lampu, gue tunggu di depan elevator, ujung sepatu gue mengetuk lantai dengan pelan. Sebuah tersenyum simpul muncul ketika nomor di atas pintu elevator menunjuk udah sampe lantai gue, dan gue ambil selangkah ke depan ketika pintunya kebuka, lalu, berhenti.

Are you serious?

Mata gue bertatapan dengan Adam yang nyender ke dinding lift, tapi ketika ia sadar kalo yang mau masuk adalah gue, ia langsung berdiri tegak.

Gue ragu. Kedengaran di luar kalo hujan belum sepenuhnya berhenti, tapi ngga deres-deres banget. Gue ragu antara harus keluar lagi, biar Adam duluan atau gue ngabisin waktu beberapa menit bersamanya di dalam ruang yang sangat amat sempit ini.

Do I choose to wait and risk having the rain grow heavier, or stand besides Adam for a few minutes in the small space of the elevator?

Pilihan yang sulit.

“I won't say anything,” Adam tiba-tiba mengujar, sadar akan raut wajah gue yang ragu. “I promise I won't say anything.”

Gue hanya menatapnya sejenak, sebelum menghembus nafas kasar dan masuk ke elevator, standing at the other end of the elevator—staying as far as I can from him.

In my peripheral, keliatan kalo Adam gelisah. The constant tapping of his fingers against the handles surrounding the interior, pursing his lips as his eyes wandered around the box, anywhere but me. I could tell he wants to say something, tapi karena dia udah janji ngga bakal, dia terpaksa harus nahan pertanyaan atau pernyataan yang ada di ujung lidahnya.

Ketegangan antara kita berdua ngga enak, kalo gue jujur. Entah kenapa, liftnya kerasa lambat banget turunnya, membuat suasana di antara gue dan Adam kerasa berat banget.

“Working late?” Akhirnya gue bersuara, membuat semua gerakan Adam berhenti dan dia menoleh ke gue. Gue hanya meliriknya sekilas, “You can answer that.”

“Uh, y-yeah,” ucapnya, terus berdeham, “Baru selesai review laporan... You?”

“Me, too,” jawab gue dengan singkat, tanpa lanjut pembicaraan kita. Mata gue melirik ke nomor di atas pintu, tinggal satu lantai lagi sebelum gue bisa keluar dari sini—out of this awkward and intense bubble.

Dengan pelan, gue menghela nafas lega ketika pintu liftnya terbuka, dan mulai beranjak keluar tanpa pamit dengan Adam.

Then I stopped, a cracking noise echoing throughout the building, practically shaking the ground I stood on. Petir.

“Stella?”

“Stella.”

“Iya, kenapa, Tante?”

“Orang tua kamu, Stella...”

Another lightning sounded, and suddenly I'm transported in my dorm room in New York City. Kebangun karena ada telpon yang masuk pada jam 2 pagi—a no good news ever came at that hour. Hujan mengguyur di luar, accompanied by the crackles and roars of thunder and lightning.

Badan gue membeku, jantung gue berdebar ngga karuan dalam dada gue dan ngga ada oksigen yang mengalir ke otak gue, membuat pandangan gue kabur.

“Kenapa, Tante?”

I could feel my knees weaken, knowing where it was going but hoping, praying, I was wrong—that I'm just overthinking.

“Maaf, nak...”

Ori!

Wajah Adam tiba-tiba muncul di hadapan gue, kedua alisnya menyatu dan menatap gue dengan besar, penuh dengan kekhawatiran. Kedua tangannya berada di atas bahu gue, shaking me.

Mata gue melirik ke sekitaran, sadar akan keberadaan gue.

I'm not in my dorm.

“I-I—” gue berusaha buat menyuarakan gue kenapa tapi Adam bergeleng-geleng.

“Nafas, Ori, atur nafas dulu.” Ia menatap gue, membantu gue agar gue mengatur nafas gue. “Inhale, exhale, slowly.”

Gue merem, agar lebih fokus dan kerasa jarinya yang kasar menyentuh pipi gue, mengapus air mata yang gue ngga sadar turun.

“I'll go find you water—”

“Wait!” Mata gue terbuka, menggenggam lengannya, menghentikannya untuk berdiri. Adam menoleh ke gue, dan kita bertatapan, the words getting caught in my throat.

“Kenapa?”

You weren't there when it happened, and I despise you for that.

But I need you now, this is your chance to make it better.

“Don't go.” Don't leave me alone again. “Please stay.”