jagiyamwohae

Kata pertama yang muncul begitu Jihoon bertemu figur Soonyoung—kekasihnya adalah; sembab.

Wajahnya diliputi warna kemerahan alami yang masih membekas di beberapa sisi, yang entah sudah berapa lama laki-laki itu menangis dan dia adalah penyebabnya.

Dia yang membuat pria lebih tinggi darinya itu tampak terlihat frustasi. Mata apik yang membentuk sudut sekian derajat tersebut juga dihiasi bekas tetes air mata yang menggantung di sela bulu-bulu nyaris lentiknya.

“Soonyoung—”

Can we start it from kisses?”

Dua pasang indera penglihatan itu saling bertukar pandang, menyiratkan banyak arti yang bersarang di dalam tempurung kepala seolah terdapat banyak kosa kata-kosa kata yang ingin mereka sampaikan.

“Kamu bilang kalau kamu suka cium saya, kamu suka bibir saya. Dan saya pikir dengan memulai dari apa yang kamu suka tentang saya, hal itu bisa mengembalikan perasaan kamu,” tutur Soonyoung tanpa ragu. Tatapannya tidak sekalipun menghindar dari seseorang di depannya sekarang meskipun rematan di hatinya masih jelas terasa, menghimpit. “Kamu mau kan, Ji belajar sayang dan mencintai saya lagi?”

Kemauan.

Sebuah kata dalam tumpukan lembaran-lembaran kamus raksasa yang mempunyai makna serta pengaruh besar terhadap suatu faktor yang akan memberi suatu penyelesaian. Tanpa adanya kemauan pun, apapun yang diusahakan tidak akan pernah mencapai tujuan suatu perbaikan, begitu pikir Soonyoung.

“Iya, bantu saya, Soonyoung.”

Empat kata; merangkum satu kalimat jawaban yang cukup membuat perasaan tersembunyi dibalik dada Soonyoung sedikit lebih tenang, setidaknya untuk sekarang. Dan ia melempar senyum tipis pada Jihoon dengan berjuta harapan-harapan baru.

Then kiss me, Jihoon.”

Soonyoung menipiskan jarak. Lalu menghentikan pergerakan tubuh sebelum dua benda lunak itu bersentuhan agar membiarkan Jihoon yang lebih dulu menjangkau dirinya. Melihat besar kemauan laki-laki itu untuk kelak dapat diimbangi dengan usahanya.

Detik berikutnya, kedua belah ranum itu saling bersinggungan. Terdiam tanpa ada yang berinisiatif memulai pergerakan. Hanya menempel dalam satu sentuhan kulit.

Detak jantung Soonyoung seketika terpompa dua kali lebih cepat dari seharusnya. Gugup dan takut mengepung asa yang kacau.

Terlalu banyak spekulasi negatif dan harap cemas di kepalanya, Soonyoung meremat kemeja hitam bagian pundak sang kekasih. Dan selanjutnya Jihoon mencium laki-laki itu sebagaimana yang biasa mereka lakukan setiap kali melepas rindu. Bertukar kecupan-kecupan lembut memabukkan, yang membuat Soonyoung semakin jatuh hati hingga ke dasar.

Mereka terus mencium, mencium, dan mencium dengan tempo pelan dan penuh kehati-hatian.

Hanya saja untuk cumbuan kali ini terasa..., hambar.

Soonyoung tertawa kecil usai menarik diri. Dari cumbuan ringan itu Soonyoung bisa dengan jelas merasakan kosong dan hampa. Tidak ada buai kasih sayang tak kasat mata yang biasa Jihoon coba sampaikan padanya. Ketukan desir dadanya pun berbeda, tidak ada dentuman irama layaknya musik yang menghangatkan kalbu. “Hilang total, ya, Ji?”

Jihoon menggenggam tangan Soonyoung, menenangkan. “Haha, gak apa-apa, saya ngerti.”

Hening.

Kedua pria itu terperangkap dalam dinding-dinding kecanggungan bertembok tebal nan tinggi. Netra mereka sama-sama jatuh ke alas sofa yang tengah mereka duduki, sibuk dengan pikiran masing-masing tentang entah bagaimana semua ini harus berjalan tanpa perlu memikirkan latar belakang dimulainya hubungan mereka di tahap ini.

Tidak mau berlarut-larut terlalu lama dalam kondisi ini, deham halus Soonyoung gemakan. “Jihoon, maaf karena kesannya saya sedang memaksa perasaan kamu bisa balik ke saya. Saya harap kamu gak keberatan dan bisa saya ajak kerjasama...,”

Kerja sama. Haha. Bisa tolong sebutkan jenis peraduan kasih seperti apa yang tengah mereka lakukan sekarang?

“..., saya yakin saya bisa bikin kamu jatuh cinta lagi sama saya. Untuk itu, beri saya waktu satu bulan, ya? Satu bulan saya merjuangin kamu lagi.” Suaranya bergetar dan ingin meledakkan tangis. Namun sebisa mungkin ia tahan.

“Dan kalau perasaan kamu pada akhirnya masih kosong and you can’t fall in love with me again, saya yang akan nyerah.”


Seperti yang telah Soonyoung deklarasikan pada Jihoon satu minggu lalu, mereka kembali sebagai pasangan yang punya banyak cinta satu sama lain, lovebirds—yang tentunya ada inti kelemahan ciri-ciri pada diri Jihoon.

Laki-laki itu bermain peran menjadi sosok yang menyayangi kekasihnya lebih dari apapun walaupun cintanya telah pudar. Ibarat memaksa galian sebuah benda berharga yang telah terkubur jauh di dasar bumi. Bukan, ini bukan permintaan Soonyoung. Bisa dibilang ini bentuk usaha Jihoon.

Dan mereka bertindak selayaknya mereka di hari-hari biasa menjalin hubungan selama 5 tahun; menonton film di bioskop, night strolling dan hunting makanan ringan di pasar malam, cuddle di sofa maupun di atas tempat tidur, kencan ke tempat-tempat menarik, masak makan malam bersama dan rutinitas indah lainnya. Dalam rentang waktu itu, canggung tidak lagi menjadi penghalang dalam mereka berkomunikasi dan berperilaku. Semuanya baik—seolah baik-baik saja.

Selama itu pula, Soonyoung benar-benar mengirimkan sinyal afeksi yang berlimpah untuk Jihoon dengan harapan rasa itu masuk ke dalam tabungan hatinya yang lambat laun akan terisi penuh hingga ke puncak tertinggi, dan semuanya bisa kembali seperti dulu meskipun Soonyoung sendiri tidak mendapatkan timbal balik serupa dari laki-laki itu. Jihoon hanya mampu mengapresiasi Soonyoung dalam bentuk kata dan sikap.

“Soonyoung, aku nanti pulang agak malam soalnya ada makan malam bareng teman kantor. Kalo kamu mau tidur duluan, tidur aja ya?”

“Iya, aku gak nunggu kamu. Tapi nanti bangunin aku aja kalo udah pulang, ya? Hati-hati, sayang.”

Jihoon mengangguk dan mengecup kilas puncak kepala laki-lakinya sebelum berlalu dan membuka pintu. “Ji?” Langkahnya terhenti, ia menoleh. “I Love you.”

Satu lengkungan bulan sabit yang terpoles di bibir Jihoon menjadi satu-satunya balasan yang ia tuai. Ya, Soonyoung tidak pernah lagi mendengar kalimat cinta itu langsung dari Jihoon, bahkan untuk sebuah jawaban juga.

Soonyoung merasa sakit, tapi dia masih bisa memaklumi. Ia cukup paham kalau Jihoon tak mau memberi harapan berlebih yang berubah menjadi harapan kosong karena ekspetasi Soonyoung yang terlalu tinggi. Tidak untuk yang kedua kalinya.

Dan seiring berotasinya bumi, waktu ikut terus berputar, waktu enggan untuk berhenti, dan waktu terus mengubah keadaan.

Bisa dikatakan Soonyoung gugup. Ia yakin dan percaya diri bahwa dirinya bisa merebut kembali hati Jihoon setelah banyak waktu yang terlewati dan dari semua itu sikap Jihoon telah mengalami peningkatan, sedikit.

Namun di sisi lain, dia tidak bisa menebak atau mengira-ngira isi hati Jihoon yang sekarang. Laki-laki itu seolah menutup bentuk perasaannya sehingga Soonyoung tidak diberikan akses ruang untuk sekadar mengintip perubahan yang terjadi. Sehingga yang bisa dilakukan hanya berharap dan berusaha.

Dan kini, semesta telah masuk minggu ketiga, yang artinya hanya tersisa 7 hari waktu yang dibutuhkan untuk masuk ke tahap paling krusial dalam hubungan yang mereka jalankan, yaitu keputusan melanjutkan atau melepaskan.


“Ji...?”

“Maaf.”

“Sama sekali, Ji?”

Sebuah gelengan.

Sebuah tatap sayu.

Dan sebuah pupusnya harapan.

Satu tangan terkepal kuat di sisi tubuh Soonyoung. Siap melempar tinju sosok di depannya sebagai bentuk emosinya yang jatuh dan pecah. Namun, dia tahan dan terdiam sesaat.

“Usaha saya gak membuahkan hasil, ya? Haha.” Parau dan tercekat. “Saya gagal.”

Soonyoung mengedarkan tatapannya ke seluruh penjuru ruang asal tidak jatuh ke dalam manik kelam laki-laki lawan bicaranya atau luka yang secara tersirat tergores di dadanya semakin meluas tanpa ada yang bisa menyembuhkan.

“Satu bulan yang sia-sia, ya, Ji? Saya pikir saya bisa menata ulang dan membawa pulang yang telah pergi.”

No..., semua ini gak ada yang sia-sia, Soonyoung. Saya menghargai dan menikmati usaha kamu, usaha kita, tapi saya—”

“Berarti kita..., udahan ya, Ji?”

Suaranya memelan, ibu jarinya dengan kilat menyeka bulir bening yang jatuh di atas permukaan pipi. Soonyoung benci jika harus berakhir menangis, sementara Jihoon hanya memandanginya dengan rasa iba.

“Soonyoung, maafin saya. Saya gak pernah sekalipun berpikir untuk berakhir sama kamu, ini salah saya yang tanpa sadar membiarkan perasaan itu terkikis ketika sibuk dengan kegiatan-kegiatan saya. Saya terlambat sadar kalau rasa saya sudah hilang.”

Soonyoung memainkan jemarinya pelan, mengumpulkan pundi-pundi energi agar bisa menatap lurus wajah Jihoon tanpa terlihat menyedihkan.

“Kamu selama ini gak lagi bosan sama saya kan, Ji?”

“Saya gak pernah punya perasaan bosan sama kamu. Ini murni perasaan saya yang kosong and not interested with anyone else termasuk kamu. Saya awalnya gak percaya, but then I realized I'm not in love with you, Soonyoung.”

Okay..., so it's done here?” Soonyoung menghela napasnya berat.

I'm sorry...”

“Lima tahun itu..., cepat ya, Ji? Saya pikir saya bisa menghabiskan seluruh hidup saya sama kamu.”

“Soonyoung, maaf.”

Stop saying sorry, will you?” Soonyoung menatap kembar kelam Jihoon dengan tatapan teduh, tak ada amarah yang menyalak dari balik kornea tersebut. “Setelah saya pikir-pikir, gak ada yang salah dengan fall out of love, it's normal, iya kan? You know, we are human, and we grow, and we change with time, with circumstances, with age, and even with the same person we are madly in love. Dan kamu sedang berada di tahap ini, Ji.”

“Mm...,”

“Dan mau bagaimanapun perasaan yang udah gak ada cahayanya, gak bisa dipaksa untuk dinyalakan lagi. And, yeah, you know, your feeling is valid.

Soonyoung meraih tangan Jihoon untuk digenggam lalu membiarkan pria itu memeluk tubuhnya erat, meninggalkan jejak-jejak berkesan yang akan berakhir menjadi kenangan dan masa lalu. Jika boleh jujur, jauh di lubuk hatinya Soonyoung tidak pernah mau melepas apa yang telah menjadi prioritas di hidupnya.

Namun, biarkan kali ini prinsip itu ia patahkan.

Jihoon, would you like to kiss me..., for the last time?”

Kwon Soonyoung/Lee Jihoon | 3,3k words | Tags : Friendship, Social-economic matters, Slice of life, and more.
Soonyoung’s centric

“Kak jangan diambil semua duit saya.”

“Ah, gak bisa! Lo udah ngelewatin wilayah gue, jadi lo harus bayar.”

Gue yang melihat keributan dari kejauhan lantas berlari begitu menyadari bahwa seseorang yang berhadapan dengan sosok laki-laki berbadan tegap penuh tato di beberapa bagian tubuhnya itu adalah teman baik gue. Itu Jihoon.

“Sialan!” umpatannya terdengar ketika jarak gue dan Jihoon menipis.

“Woy, Ji, lo kenapa? Dipalak?” Gue bertanya dan menepuk pundaknya akrab. Laki-laki yang tingginya gak sejajar dengan gue itu berbalik badan, alisnya menukik jengkel bersamaan dengusan napas yang menandakan bahwa dia sangat frustasi pada kejadian yang baru menimpanya.

“Lo liat kantong gue ini? Kosong!”

Jihoon mendudukan diri pada sebuah batu-bata merah yang bentuknya terbelah dua dan menyimpan banyak bongkahan debu. Gue yakin batu-bata itu dibuang gak sengaja dari pembangunan gedung baru di belakang gue ini, sementara gitar usang yang dibawanya sedari tadi dia letakkan di atas permukaan lahan kosong berpasir di sebelahnya, membiarkan sinar mentari yang luar biasa terik menghujani tubuh kami berdua.

Gue bergeming memperhatikan setiap gerak-gerik Jihoon yang terlihat lesu. Wajahnya dia telungkupkan dibalik lipatan lengan.

“Gue heran, orang kayak gitu kenapa gak musnah aja, sih? Hak orang diambil sembarangan dikira keliling nyanyi-nyanyi bawa gitar gak capek apa?”

Berjongkok di depannya, gue merespon, “Ya mau gimana, Ji, preman-preman kayak gitu bakal lebih milih malakin orang-orang kayak kita. Nyari enaknya doang mereka, mah...”

Iya gue tau kalimat gue gak serta-merta menurunkan emosi teman gue yang sudah mendidih berlimpah ruah ini, tapi mau bagaimanapun juga populasi semacam gue dan Jihoon memang harus berbesar hati menerima konsekuensi kalau tiba-tiba bertemu dengan om-om atau bapak-bapak berbadan kekar bin tatoan seperti sosok beberapa menit lalu. Karena nantinya kami akan dikasih dua pilihan secara tersirat oleh mereka : ngasih semua duit yang kami punya atau rampokan kasar dan pukulan keras bertubi-tubi yang akan kami tuai tanpa ampun. Betul, langsung dua. Meminta pertolongan orang sekitar? Haha, siapa yang peduli, Bung?

“Yaudah, yok, Ji mending kita makan siang, gue yang bayar.” Jihoon seketika menengadah, matanya menyipit lucu tersibak sinar.

“Dapat berapa emang lo hari ini?”

Gue menyengir. “Hehehe, gak tau..., sekalian deh bantuin gue ngitungin duit.” Alis semi tebal gue mainkan keatas-kebawah, dibalas rotasi kembar bola hitam Jihoon.

“Gue mau nasi padang.”

“Idih? Berapaan seporsi anjir, ngada-ngada aja lo.”

“Sekitar 20 ribuan kayaknya, Nyong,” katanya santai.

Demi Tuhan, nasi bungkus dua puluh ribu (tuh gue sampe menyebutkan dengan huruf-huruf)—itu termasuk mahal banget, buset. Jangankan 20 ribu deh, yang 10 ribuan aja gue bisa mikir dari pagi sampe petang, anjrit.

“Skiplah, gila aja 20 ribu sekali makan.” Gue memprotes.

“Ya trus lo ngapain sok-sokan mau nraktir gue?!” Dibalas protes lagi sama si kecil ini.

“Gue mau traktir lo nasi kucing doang kok, wlek—anjir!”

Lee Jihoon ini bener-bener..., bener-bener bar-bar. Nih, ya, gue lagi asik jongkok di depan dia, malah didorong sampe pantat gue mendarat bebas di landasan pasir-pasir aspal. Kurang ajar emang.

“Lo gak bosen apa makannya nasi kuciiing mulu. Tiap hari cuma bisa makan satu menu sama gorengan sebiji. Kasian amat.”

Gue paham inti konteks dari kalimatnya adalah menertawakan miris keadaan kami berdua yang jauh dari kata cukup, yang cuma bisa makan satu kali dalam sehari atau nasi seharga tiga ribuan sebanyak dua kali. Dan keinginan Jihoon untuk bisa makan nasi padang seperti yang dia bilang itu, sejujurnya dapat gue maklumi. Siapa yang gak mau makan enak, seenggaknya sekali seumur hidup kalau memang mampu.

“Rese lo, kampret.” Jihoon melempari gue potongan rumput liar dari belakang tubuhnya usai gue kembali berjongkok lagi di depannya sambil ketawa kecil. “Yaudah, kita beli nasi padang.”

“Anjir, serius?” Matanya Jihoon membola besar.

“Iye, tapi sebungkus berdua, kita makan bareng di taman.” Gue rasanya mau ketawa besar melihat perubahan ekspresi muka teman gue ini : semenit lalu dia berbinar membayangkan nasi padang yang bisa dilalap habis seorang diri, namun nyatanya segepok perpaduan nasi dan lauk santan lengkap dengan kenikmatannya itu harus dibagi dua sama gue yang makannya banyak.

Jihoon bersuara lirih. “Yaelah...”

“Mau gak?” Goda gue.

“Iyaaa, bebas, deh penting hari ini makan enak.”

“Oke, sekarang bantuin gue itung duit-duit hasil dapat hari ini.” Seketika gue duduk bersila dan menumpahkan sejumlah receh dan lembaran uang kusut dari kantong kain yang menggantung di lingkar pinggang. Membiarkan desau angin dan khalayak yang berlalu lalang dengan kendaraan mereka, hanya perlu melewati eksistensi dua anak laki-laki malang ini tanpa repot-repot membuang atensi.

Kalau boleh jujur, menghitung nominal uang adalah hal yang paling gue suka. Iya, sesederhana itu. Jangankan gue deh, orang yang cukup berada pun gue yakini pasti akan bahagia dan puas ketika mengetahui jumlah angka nol yang mereka peroleh di hari itu sebagai bayaran cucuran keringat yang telah mereka tumpahkan. Dan menurut gue pribadi, bagaimanapun juga kosa kata bernama uang mempunyai peran utama dalam kehidupan dunia ini dan dia bersifat krusial pada waktu. Tanpa uang, gue gak akan bisa hidup sampai di umur gue yang sekarang menginjak 18 tahun. Mau sehat pun gue juga harus punya benda keramat ini. Pokoknya semua berkaitan dengan uang, gue benar, kan?

Bercerita tentang kehidupan, apakah menurut kalian kami berdua ini tampak cukup menyedihkan?

Di usia muda, bahkan jauh sebelum hari ini, bahkan sejak bertahun-tahun lalu, gue dan Jihoon harus berhadapan dengan kerasnya dunia. Mencari uang dengan meminta-minta, menadahkan tangan kepada siapa saja yang bersuka rela menjatuhkan sejumlah nominal di atas permukaan telapak tangan berdalih belum makan selama dua hari atau alasan-alasan yang masuk akal agar mereka yang berhati lemah merasa kasihan dan menyisihkan sedikit hasil pendapatan mereka.

Hal ini sudah rutin gue jalani sejak usia belia, saat-saat garis perekonomian sedang dalam posisi mencekik pergerakan langkah hidup gue. Atau kalau mau memilih alternatif lain, yaitu terdiam kelaparan dan kemudian mati tanpa ada yang menaruh rasa empati dan membantu penguburan orang-orang kalangan rendah seperti kami.

Kalau ditanya bagaimana rasanya hidup dengan keadaan seperti ini, gue gak bisa mendeskripsikannya secara harfiah, tapi tentunya gue punya banyak pengalaman dari yang kecil sampai yang ekstrem. Jihoon pun juga sama.

Dan perlu digaris bawahi, kami ini dua orang yang ditakdirkan menjadi orang yang kastanya rendah, gak punya apa-apa sejak keluar dari kandungan ibu dan untuk punya apa-apa, meminta adalah satu-satunya jalan yang bisa kami lakoni.

Berbagai macam bentuk meminta yang telah gue lakukan, mulai dari ngemis, sudah. Kerja serabutan, juga sudah. Jadi tukang yang ngangkatin adonan semen dua ember, juga pernah. Sayangnya saat itu gue harus didepak karena bagi mereka kapabilitas gue memperlambat kerja mereka. Terus untuk berjualan jajanan ringan—pedagang asongan keliling atau apapun yang bisa diangkut, juga pernah gue kerjain dan berakhir rugi, menimbulkan hutang. Sampai akhirnya empat tahun lalu gue bertemu Jihoon, gue diajak untuk ngamen bareng dia padahal suara gue jauh dari kata merdu. Tapi selalu ada Jihoon yang gak masalah akan hal itu dan nyemangatin gue.

“Enam puluh dua..., enam puluh tiga..., enam puluh empat. Enam puluh empat ribu, Nyong yang gue pegang.” Lembar terakhir Jihoon satukan bersama helaian kertas yang lain. “Itu yang recehan berapa?”

“Ada tujuh ribu sembilan ratus. Yaelah kurang seratus perak jadi delapan ribu ini...” Dan hal paling menyebalkan dari berhitung adalah ketika angkanya menjadi ganjil.

“Ya udah gak papa. Berarti totalnya...,” Jihoon berhenti sejenak dan menerawang penjumlahan yang gue dapatkan pagi itu. “...tujuh puluh satu sembilan ratus ribu. Bener gak?”

Gue manut-manut aja, soalnya gue lemot soal jumlah-jumlahan. Bisa, lho, ya tapi lambat dan gue sudah keburu laper.

Jika kalian pikir gue gak pernah sekolah, kalian salah. Gue sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar sampai kelas 4, tapi lagi-lagi gue harus putus pendidikan dan lagi-lagi dikarenakan gak punya biaya.

“Ini lo mau ngamen lagi apa gimana?”

Gue tersenyum. “Lanjut dong, target gue kan harus dapat di atas seratus ribu sehari.”

“Iya, sih, trus ini mau langsung lo sedekahin?”

Sedekah.

Percaya gak, meskipun pendapatan gue dan Jihoon naik-turun, gak menentu, dan gak pasti (ada kalanya pula gak mendapat sepersen pun), kami mempunyai prinsip yang bisa dibilang mulia.

Ya, menyisihkan sedikit hasil ngamen kami pada kotak amal yang tersebar di beberapa tempat. Prinsip ini kami bentuk sebagai bentuk rasa terima kasih karena masih diberi kesempatan menjalani hari-hari walau terasa berat di pundak, di kaki, dan di batin. Terlebih Jihoon, dia yang selalu berkata bahwa tidak ada ruginya memberi walau tadinya juga meminta. Katanya Jihoon lagi, Tuhan itu baik dan dengan kondisi yang serba kekurangan ini gak ada alasan untuk kami menjadi serakah. Itung-itung menabung kebaikan, katanya.

“Yoi, ntar abis kita beli makan, kita ke masjid Darussalam dulu deket warung,” jawab gue sambil berdiri. “Yaudah, yuk.”

Setelah itu, Jihoon mengekor di belakang gue dengan membawa teman ngamennya, gitar tua.

Ah, nasi padang enaaak, kami dataaang.

Dan wahai perut, selamat karena kamu akan makan makanan yang lebih bernutrisi. Bukan lagi nasi tiga kali suap dan lauk ikan asin, atau yah, mungkin besok lagi.

“Berapa, bang?” tanya gue begitu abang-abang warung nasi padang memberikan sekantong nasi bungkus.

“Tujuh belas ribu.” Nah, mantap, gak nyampe dua puluh ribu walaupun tujuh belas juga termasuk mahal menurut gue. Tapi gak apa, demi membangkitkan kegondokan Jihoon juga memanjakan lidah kamu yang kampung.

Selanjutnya kami beriringan menuju masjid yang gue sebut sebelumnya untuk menyisihkan uang demi sebongkah pahala. Jiah, cakep banget gak tuh. Untuk nominal yang gue cemplungkan di kotak amal, gue simpan sendiri, ok? Biar gue, Jihoon, dan Tuhan yang tahu. Intinya kami ikhlas dengan harapan balasan setimpal titipan-Nya.

Beruntungnya selama bersedekah di beberapa tempat, gak ada orang-orang yang menganggap gaya kami ini sebagai pencuri kotak amal. Mau bagaimanapun perawakan kami tentunya menimbulkan banyak persepsi.

Mulai dari baju yang kami kenakan, tipe kaos tipis lusuh yang warnanya sudah memudar luntur karena kebanyakan dicuci dan dipake, dicuci lagi dan dipake lagi dan juga faktor sinar matahari ketika dijemur. Ditambah pula bagaimana bentuk wajah kami yang berpeluh keringat, berpeluh debu dan berwarna kecokelatan. Gak lupa, bau matahari bercampur tetesan air keringat yang mungkin menyebabkan aroma kurang sedap. Belum pula poin utama berupa stigma sebagian orang yang mendeskripsikan anak-anak jalanan miskin seperti kami yang hobi berbuat kejahatan, bersikap tidak sopan, bar-bar, dan brutal—yang tentunya gue dan Jihoon adalah pengecualian.

Kehadiran anak jalanan, pengamen, pengemis, dan aktivitas meminta-minta sejenisnya dikonotasikan ke dalam bentuk negatif karena mengganggu ketertiban dan kenyamanan lalu lintas, kata mereka. Tapi suara-suara cemooh itu telah menjadi makanan harian kami, sudah biasa dan maklum. Memang begini keadaannya.

“Ya Tuhan, baunya enak banget, Ji,” seru gue hampir pingsan ketika karet bungkusan nasi itu lepas dan menguarkan wangi perpaduan santan dan bumbu masakan yang menggugah selera. Fiks gue gak nyesel harus membuang duit tujuh belas ribu demi ini.

Sekarang kami sedang duduk bersila di salah satu pendopo yang ada di taman sepi untuk berbagi makanan terenak yang pernah kami cicip.

“Gila! Enak banget, Ji, gusti,” ucap gue disela-sela mengunyah.

“Heboh banget lo.” Temen gue itu menggeleng heran. Emang Lee Jihoon ini anak yang santai dan bersifat positif dalam hal apapun. Gak seperti gue yang menghebohkan banyak hal.

“Gimana, Ji?”

“Enaaak,” jawabnya usai menyuapkan potongan daging ayam berbumbu tajam yang dicuil lalu masuk ke mulutnya.

Gue tertawa kecil. “Ah, andai bisa makan beginian tiap hari...”

“Tunggu jadi sultan ajalah kita, hahaha.”

Jadi sultan, jadi yang punya duit banyak, jadi bagian dari golongan atas selalu menjadi impian gue dan temen-temen gue. Dengan menjadi mereka tentunya hidup gue gak akan sekeras ini, dengan menjadi mereka hidup gue gak berluntang-lantung demi mengganjal rasa lapar yang bahkan terkadang harus mengikat perut pakai seutas tali, dan dengan menjadi mereka hidup gue akan menjadi sejahtera dan jauh dari kata susah. Seenggaknya itu bayangan gue.

Suatu ketika Jihoon bilang sama gue, dia pernah berharap hidupnya bisa seperti Joshua diobok-obok yang main film layar lebar, yang dia tonton di warung makan sederhana : dipertemukan dengan orangtua yang ternyata adalah golongan orang-orang kaya dan sedang mencari-cari keberadaan anaknya yang hilang. Tapi kemudian dia sadar, orangtuanya sudah lama meninggal, pun begitu gue, oh—mungkin beda, kalau gue memang gak punya orangtua. Istilahnya, anak terbuang, haha, lagi-lagi gue mendeklarasikan nasib mengenaskan dari hidup gue.

Lalu gue juga sering berimajinasi, semisal mungkin jadi korban pranknya Baim Wong atau gak Raffi Ahmad, kan lumayan tuh dapat 500 ribu. Atau lagi masuk acara uang kaget, yang kudu beli barang-barang keperluan dalam waktu satu jam dengan duit yang acara TV itu kasih. Atau lainnya lagi gue yang mendadak viral karena kekonyolan yang gue lakukan dari video orang lain. Ah, indahnya berkhayal.

“Nyong! Minum?”

“Oh, iya? Dodol banget, deh, kenapa tadi gak sekalian beli minum.” Paha gue yang terekspos karena memakai celana pendek dia tepok jenaka. “Terlalu semangat makan enak, sih, wahahaha...”

“Udah gila emang. Ya udah mana duit lo, gue yang beliin,” tawarnya. Gue mengubek-ubek kantong rupiah dan memberinya uang dua ribu. “Yang minuman gelas, ya.”

Setelah itu Jihoon memakai sendal jepit lusuhnya bergegas membeli minuman gelas di warung seberang taman, meninggalkan gue dan si nasi bungkus kesayangan beserta usikan pikiran.

Dari jarak pandang sini dengan jalanan kota yang penuh, padat, dan berpolusi wilayah lalu lintas itu, gue bisa menyaksikan bagaimana banyak pengamen, gelandangan, dan penjual koran berlalu lalang demi mendapat iba dan uluran tangan. Tak jarang ada waktu-waktu tertentu dimana satpol PP yang bertugas menjalankan aksi razia, mengumpulkan orang-orang perusuh seperti kami untuk ditindak lanjuti.

Menjadi golongan tak punya benar-benar menguras emosi. Harus sabar, kuat, berani, dan teguh.

Pernah suatu ketika gue dan Jihoon akan mengamen di rumah makan yang dipadati sejumlah pembeli, baru terdengar sepercik suara gitar, usiran kasar mereka serukan tepat di depan wajah kami. Menimbulkan berpasang-pasang mata melayangkan tatapan miris pada kami yang hanya mampu menelan kekecewaan dan berakhir tidak akan pernah melimpir ke rumah makan itu lagi. Untungnya, masih banyak rumah makan yang membolehkan kami menghibur pengunjungnya, biasanya mereka masih memberi seribu, dua ribu, lima ratus perak, bahkan tidak sama sekali untuk berdua padahal kami menyanyikan satu lagu penuh.

Sudah biasa.

“Woy, ngelamunin apaan lo?” Gue mengerjap-ngerjapkan mata saat Jihoon mengejutkan gue yang tenggelam jauh ke dalam kilas balik.

“Gak ada, cuma merhatiin anak-anak itu kasian, dari tadi gue liatin gak ada yang beli korannya.” Gue lihat, Jihoon menoleh pada objek yang gue omongin. Ada anak kecil bertopi merah sambil menggendong tumpukan lembar koran di tengah-tengah pemberhentian lalu lintas merah.

Dia mendengus, “yah, mau gimana, koran juga sekarang perannya cuma untuk bapak-bapak renta yang gak punya HP.”

Benar. Walaupun gue gak punya alat komunikasi yang disebut Jihoon, tetapi eksistensi benda pipih penuh guna itu menyalip penuh macam-macam alat penyeru media lainnya.

“Ji,” panggil gue setelah menyesap air putih melalui sedotan kecil.

“Hm?” Dia masih mengunyah.

“Kalo semisal lo jadi orang kaya, lo bakal ngapain dan beli apa aja?” Gue menatap lurus wajah Jihoon yang mulai memelankan kunyahannya sambil berpikir.

“Mmm..., gue gak tau dan gak yakin karena uang itu jahat, Nyong kalo kita gak ngatur dengan baik,” katanya menggantung. “Tapi rencananya gue bakal bantu orang-orang semampu gue, seenggaknya beliin mereka sembako atau ngasih lembaran uang. Terus, buka sekolah kecil-kecilan untuk mereka yang mau belajar. Atau lagi ngasih modal ke mereka yang mau berdagang. Yah, seenggaknya bantuan-bantuan kecil gitu, sih. Kalo lo?”

Seharusnya gue memang gak perlu nanya prihal itu, gue yakin anak ini akan mempedulikan orang lain karena Jihoon tetaplah Lee Jihoon temen gue yang mempunyai hati luas. Isi pikirannya selalu bernilai plus, menyebabkan gue bersyukur dipertemukan dengan dia dan jauh dari kata negativitas.

“Gue juga gak tau, sih, tapi yang pasti gue mau makan enak dan kalo ketemu orang-orang kayak kita gue kasih duit banyak, hahaha...”

“Haha, semoga kesampaian, ya, Nyong.”

Gue mengaminkan secara lantang sebelum kembali memasukkan sisa-sisa bulir nasi berbumbu yang tinggal hitungan kurang dari lima suapan, sementara Jihoon sendiri sudah mencuci tangannya menggunakan air yang dibelinya tadi, menandakan dia cukup.

“Udah? Gue abisin, ya?” Respon anggukan Jihoon melancarkan aksi gue saat itu juga. “Kenyang lo?”

“Lumayan.” Jihoon berdeham. “Abis ini kemana?”

“Ngmwen lwgwi gwe tewu—”

Satu geplakan ringan gue tuai di lengan kiri. Lee Jihoon ini memang suka banget mukulin gue kalau dia kesal dan gue, Kwon Soonyoung ini bertingkah aneh-aneh. “Kunyah dulu yang bener baru ngomong.”

Dia merotasikan matanya dan menyedot air putih sisa minumnya, gue terkikik geli. Mulut dan rahang gue gerakkan secara sinkron, menghancurkan bahan makanan menggunakan deretan gigi lalu menelannya ke rongga dan berbicara, “Ngamen lagi lah, gue tadi dikasih tau Mingyu tempat rame.”

“Di mana emang, jauh gak?”

“Lumayan, di pasar Raya sama terminal di sebelahnya,” ujar gue antusias. Pasalnya Mingyu tadi bilang di sana dia dapat 40 ribu sekali ngamen. Mantep banget gak tuh, dan gak tau juga deh, itu orang-orang pada baik atau gimana, yang pasti gue harus ngedatengin tempat itu.

Gue mulai membereskan sampah bungkusan nasi padang yang rasanya super duper enak itu dan membuangnya di sudut pendopo—dan tentunya di tempat sampah. Rasanya gue agak gak rela karena esok hari menu makanan akan kembali seperti semula.

Begitu gue berbalik dari membuang sampah, ada Jihoon yang mulai memainkan gitarnya, memetik senar-senar bertagar demi menciptakan melodi yang dia pelajari otodidak melalui media dengar dari lagu musisi-musisi lokal.

“Tuh gitar awet juga, ya kalo diinget-inget.”

“Iya, meskipun udah agak jelek gini tapi masih bagus suaranya.”

Hening sejenak sembari menikmati semilir angin siang menuju sore dan alunan petikan gitar hasil kerja tangan Jihoon.

Jihoon benar, benda itu masih bagus banget suaranya padahal sudah nemenin dia 3 tahun lamanya. Singkat cerita, gitar itu ia dapatkan ketika seseorang hendak membuang benda itu ke tempat sampah umum, dia mengambilnya, kemudian mempelajarinya sendiri dengan niat menggebu.

“Mau pergi sekarang, gak?”

“Ayo.”

Dan sore itu, gue merangkul bahu Jihoon dan bercengkrama panjang lebar, membumbui momen sederhana ini dengan tawa yang mengocok perut sambil terus berjalan, berjalan, dan berjalan hingga entah sejauh mana kaki kami membawa pergi yang diikuti rembulan tipis di balik langit biru.


“Gelap, di dalam tanya Menyembunyikan rahasianya Letih kehabisan kata Dan kita pada akhirnya diam...”

Temen gue ini mulai berpamer suara dan kemampuannya bermain gitar. Tadi ketika kita menargetkan sebuah tempat keramaian, Jihoon bilang dia bakal nyanyiin lagunya Pram?—maksud gue, Pamungkas yang judulnya Monolog. Gue gak tau deh dia tau lagu itu dari mana. Jihoon itu ajaib.

Dan gue dengan tepukan tangan biasa menemaninya di belakang sampai lagu yang dinyanyikan selesai—atau sampai diusir, lalu gue berjalan ke meja-meja untuk menerima nominal yang akan mereka suka relakan.

Gue kadang bertanya-tanya, mereka-mereka ini pernah takjub gak, sih sama suaranya Jihoon? Soalnya gue iya, bahkan dari sejak pertama kali kita ketemu. Karena bagi gue, suara Jihoon itu indah dan unik dan juga cocok banget jadi penyanyi terkenal. Sumpah, suwer, demi Tuhan.

“...Duduk berdua, tanpa suara...”

Petikan itu berakhir panjang dan gue mulai menadahkan kantong kosong punya Jihoon ke orang-orang yang sudah menyiapkan satu lembar uang dibalik genggaman tangan.

“Terima kasih, Pak, Bu,” kata gue pelan dengan senyum sopan, sedikit menunduk. “Terima kasih, Mbak, Mas.”

Kemudian kami keluar dari tempat itu, kembali melangkah.

Suara perpaduan alas kaki dan aspal tertutup suara Jihoon setelahnya. “Dapat berapa, Nyong?”

“Gak merhatiin gue, tapi tadi ada mas-mas yang ngasih 10 ribu, anjir.”

“Waw... gak punya uang kecil kali, ye, hahaha.”

Memang terdengar lebay dan norak, tapi sepuluh ribu dari satu orang pemberi itu memang sudah seperti keajaiban. Biasanya nominal paling tinggi hanya sekitar lima ribu. Dan di situ gue yakin, mas-mas itu berhati baik dan paham posisi tak beruang kami.

“Oh iya, lo tau gak sih Ji pas gue nerima duit tadi, kayak denger ada yang muji-muji suara lo, tau.” Sumpah gue jujur, gak bohong.

“Hahaha.”

“Dih, malah ketawa doang...” Dan si dia masih ketawa kecil.

“Trus gue harus apaaa?”

“Sumpah, Ji mending lo ikutan ajang musik-musik yang di TV-TV itu, deh. Banyak kan tuh yang dari kalangan bawah, sekalinya ikut acara gituan langsung jadi artis. Jiah, cakep.”

“Dangdut academy maksud lo?” Lalu Jihoon terbahak diikuti gue yang tiba-tiba ngebayangin Jihoon nyanyi dangdut.

“Bukan itu, bego. Yaaa kayak Indonesian Idol kek, apa kek, yang cocok sama lo.”

Alis Jihoon berkerut. “Kalo itu tuh duitnya juga harus gede gak, sih? Gak bisa cuma modal suara doang.”

“Masa? Coba dulu lah daftar.”

“Gak, ah, ribet.”

“Yeeeh.”

“Udah ah, ngapain ngomongin itu, gak mungkin banget gue bisa ikut gituan,” ujarnya malas. “Eh, itu tuh rame! Di situ lagi, Nyong, ayo!” Tangan gue ditarik antusias, tampaknya temen gue ini sudah bersemangat kembali mengumpulkan pundi-pundi uang.

“Ji, dengerin dul—”

“Diem, Soonyoung!”

Dan begitulah agenda kami sampai malam menjelang, membiarkan bulan menggantikan posisi si matahari yang menutup biru langit cerah dengan hitamnya bentangan angkasa sambil menyaksikan penampilan nyanyian indah dari gue dan Jihoon, serta si gitar usang.

Huh.

Omong-omong untuk kalian yang membaca cerita singkat gue ini, boleh minta tolong doain gue dan Jihoon untuk bisa mengubah nasib menjadi lebih baik dan lebih tertata? Seenggaknya menjadi orang yang berkecukupan, bukan orang yang berumah mewah, bukan yang bermobil berkilau, dan bukan pula yang berdompet tebal. Cukup menjadi sederhana dan serba kecukupan. . . . . .

“Soonyoung! Gue abis ngamen di deket SD 017 sana dan ada mas-mas yang tiba-tiba deketin dan nawarin gue untuk datang ke kantornya besok. Nah, ini kartu namanya. Lo harus ikut gue, ok?”

Pledis Entertainment.

-Fin.

Kwon Soonyoung/Lee Jihoon | 3k words | Tags : LDR, Fluff

Melly Goeslaw ft. Jimmy – Pujaanku https://open.spotify.com/track/7lrPMbVnl8WJNSGdn5shXC?si=mJa4o6tdTeqkLX_JoCPOHg


Bandara.

Bangunan yang menyimpan segudang cerita.

Tempat menyambut dan melepaskan.

Ruang penjelasan tentang alasan-alasan mengapa sekumpulan orang berdiri dan berpijak, entah pergi untuk kembali atau datang untuk pulang.

Ada kalanya akan terasa kosong dan hampa ketika seseorang yang telah menggenggam erat tanganmu melepas dan mengayunkan langkahnya berlari menjauh untuk mengejar kapal bersayap demi meraih sebuah mimpi tinggi dan kesibukan yang menunggu di ujung sana.

Lalu, ciuman terakhir sebagai bentuk salam perpisahan.

Ada pula rasa gembira yang meletup-letup ketika seseorang yang telah lama membentuk jarak berkilo-kilometer dalam durasi yang lama membentangkan tangan dengan bendungan air di pelupuk mata di suatu lokasi penjemputan.

Dan ciuman pertama sebagai gestur selamat datang.

Bandara.

Narasi di dalamnya beragam. Kalau mereka bilang, bandara dapat mengemas berbagai bittersweet stories.

Seperti contoh,

Bisa saja seorang pemuda secara terpaksa harus merelakan hubungan dengan kekasihnya terpisah jarak jauh hanya karena ia diterima di suatu wilayah kerja yang telah lama dimimpikan dan mempunyai potensi besar.

Atau bisa saja seseorang yang diharuskan meninggalkan kampung halaman demi keberhasilan duniawi yang menantinya di masa yang akan datang.

Atau lagi bisa saja seseorang yang diharuskan terbang demi meninggalkan luka yang pernah ia tuai di kota yang saat ini dipijak.

Atau yang lebih buruk, adanya tragedi-tragedi penerbangan yang tak mengenakkan menjadi mimpi tersuram yang orang lain terima.

Semua itu adalah kesedihan dan kepahitan dari beribu peristiwa yang bercerita.

Lalu, untuk kebahagiaan?

Tentu juga ada, tidak hanya satu, dua, dan tiga, tetapi tak terhitung jumlahnya.

Bisa saja seorang ayah yang turun dari pesawat terbang sambil menggandeng macam-macam wajah boneka untuk putri kecilnya yang menanti di rumah.

Atau bisa saja seseorang yang diam-diam ingin mengejutkan kekasihnya bahwa ia telah sampai di kota tempat mereka membuat janji untuk kembali bersatu memadu kasih.

Atau hal lain bisa saja sebuah keluarga bahagia yang akan pergi atau kembali dari libur panjang yang menyenangkan demi melepas penat yang kian hari merecoki isi kepala mereka akibat hari kerja yang padat dan hingar-bingar.

Terakhir, bisa saja sebuah pertemuan baru dua orang asing di ruang tunggu bandara dan berakhir menjadi teman akrab yang saling bertukar kabar dan informasi.

Banyak, banyak sekali cerita-cerita menarik yang terjadi di gedung berlapis potongan kaca itu jika arah pandangmu meluas ke setiap sudut. Menjatuhkan tatap walau singkat.

Selalu ada cerita.

Termasuk Lee Jihoon.

Dia, laki-laki penikmat kisah bandar udara yang menggenggam ceritanya sendiri.


“Duluan, ya Won!”

“Iya, Ji hati-hati,” seru Wonwoo melambaikan tangan pada Jihoon yang mulai mengambil langkah lebar dari teman akrabnya itu.

Pukul lima sore. Waktu rutin Jihoon untuk mampir sejenak ke bandara kota di tiap akhir pekan Sabtu dan Minggu dalam kurun waktu lima bulan terakhir.

Bukan tanpa tujuan atau sekadar iseng karena kesukaannya terhadap gedung tersebut, namun sebagai pengingat hati bahwa ada seseorang di belahan negara lain yang akan kembali untuk segera menjadikannya rumah untuk berpulang. Entah kapan, yang pasti adalah dia sedang menanti kedatangan seseorang yang tak pernah gagal meledakkan kepingan kelopak-kelopak bunga tak kasat mata dari kebun di balik dada bergemuruhnya.

Mungkin terdengar konyol karena bagaimanapun pria yang dinantikan kehadirannya belum menentukan ketepatan waktu kepulangannya, semuanya masih mendung dan berwarna abu-abu tua. Rapalan doa menjadi hal yang bertalu-talu ia bisikkan secara diam-diam. Sehingga satu-satunya cara untuk terus mencintanya hanyalah napak tilas pertemuan terakhir mereka yang menuai haru dan dekapan hangat yang jejaknya masih segar membekas di tubuhnya setelah banyak hari berlalu.

Jihoon tiba di bandara ketika jarum panjang menyentuh angka 16:17 dan hal pertama yang dilakukan adalah berjalan ke suatu terminal keberangkatan internasional yang mengantarkannya menuju kedai kopi ternama. Tempat pertama dia dan Soonyoung manjajakan kaki sebelum check-in counter tutup berganti jadwal dan memblokir akses data infromasi penerbangan kekasihnya selaku calon penumpang.

Usai memesan caramel macchiato, Jihoon menempatkan diri di pojok ruangan sambil membuka laptop yang dislip sementara. Jari-jari lentiknya mulai memainkan huruf-huruf di atas keyboard putih untuk membalas sejumlah email yang satu persatu mulai muncul dan menumpuk di dalam kotak masuk. Setidaknya beberapa kiriman pesan tersebut mendapat balasan, sementara untuk sisa yang lainnya bisa dilanjut ketika ia tiba di rumah.

Masih ada waktu, pikirnya.

Sesekali pria itu menggenggam tangan kosong dan mengulum bibir. Dari balik kaca ia memperhatikan sekumpulan keramaian yang sedang merangkai suatu cerita dengan alurnya masing-masing. Ekspresi dari wajah-wajah itu juga menjadi hal yang terus menarik atensinya. Dalam diam ia mencoba membaca perubahan-perubahan air muka ketika gestur verbal bergerak membentuk urutan kalimat semu. Dia, Jihoon pernah berada di posisi yang sama.

“Tungguin aku, ya, Jihoon?”

“Kamu udah ngomong itu dua belas kali, Soonyoung. Dan jawabanku juga dua belas kali sama, aku bakal nunggu kamu. Cuma beberapa bulan kan?”

“Yeeeh, tetep aja akunya khawatir. Ntar tau-tau kamu udah gandeng yang baru pas aku balik,” Dan satu pukulan keras Soonyoung terima di puncak kepala ketika bibirnya berhenti berceloteh.

“Coba inget-inget, hubungan kita udah jalan berapa tahun?”

“Empat tahun,”

“Pernah putus?”

“Sering dan hampir....”

“Gara-gara siapa?”

“Aku yang aneh-aneh....”

Menyengir.

“Nah, dari semua itu kamu masih ragu? Harusnya aku gak sih yang khawatir sama kamu?”

“Tapi ini gak tau berapa bulan, Sayang... kita pernah LDR-an cuma seminggu, tiga minggu, mentok-mentok sebulan paling lama,” tutur Soonyoung dengan bibir yang dikerucutkan lucu.

“Ya sudah, kamu batalin aja ke Hongkong nya biar sama-sama aku terus, gimana?”

“Yah jangan juga. Proyek gede ini, rugi besar kalo aku gak ambil kesempatan yang udah ditawarin,”

“Ck, aneh,” Jihoon menyedot minuman dinginnya setelah mematuk bibir orang di depannya dengan kucupan tangannya. “Ya sudah, kamu harusnya percaya aku sama seperti halnya aku yang percaya sama kamu kalo di sana kamu cuma kerja. Aku janji bakal nunggu kamu terus Soonyoung. Kalo kamu sibuk, bukan berarti kita miskomunikasi terus-terusan, kan?”

Begitulah kira-kira potongan percakapan di detik-detik terakhir sebelum jarak menjadi satu-satunya alasan mereka berpisah secara fisik dan visual tanpa pernah lagi menyentuh permukaan kulit yang melahirkan sejuta kenyamanan. Dan setiap mengingatnya Jihoon selalu terkikik kecil. Kwon Soonyoung, pacarnya itu punya tingkat kekhawatiran yang tinggi, yang ia sendiri bingung bagaimana harus menetralkan tekanan perasaan itu.

See, I'm coming back here on weekends to remind myself that there will be someone who is going to be home soon to hug and to kiss me all along day, Soonyoung. And you never knew,” bisiknya pelan lalu kembali menuliskan sesuatu di halaman lembar baru sambil menyumpal kedua telinganya dengan earphone putih sepadan warna komputer pangkunya.

Suatu tulisan tentang Soonyoung dan kehidupan pribadinya yang hanya dirinya dan partikel-partikel udara di sekitarnya yang mengerti.

Jihoon tidak pernah tahu kapan pastinya Soonyoung akan pulang. Laki-lakinya itu juga tidak pernah bisa memberitahunya, belum dapat kabar tetap katanya.

Sudah 5 bulan ini Soonyoung dan tim mengerjakan proyek besar dari perusahaannya di Hongkong. Sampai akhirnya menunggu, menunggu, dan menunggu bukan lagi menjadi hal menyebalkan untuknya, bahkan telah berubah menjadi salah satu kegiatan favorit yang dia tekuni selama beberapa bulan terakhir di tengah pekerjaan yang tidak pula sedikit.

Dan Jihoon selalu terserang rindu. Setiap hari, setiap dia menapakkan kedua kakinya di rumah pesawat ini. Setiap dia menerima panggilan video atau telepon dari dia, si seberang.

Tak jarang laki-laki itu menaruh harap ketika tubuhnya sampai di bandara, Soonyoung akan menelepon untuk mengabarkan kalau dia akan pulang hari itu juga.

Atau lebih bahagianya lagi, berupa bentuk kejutan kalau ternyata Soonyoung sudah mendarat di landasan pacu Soekarno-Hatta dan segera bertemu dengannya. Namun Jihoon sadar, ini impian kecilnya saja dan dia hanya bisa menelan pil harapan-harapannya di ujung tenggorokan. Lagi-lagi hanya bisa menunggu.

Jihoon menghela napas berat. Memikirkan Soonyoung selalu menyenangkan dan tak bohong melelahkan pula. Semua faktor itu didasarkan rasa rindu yang mencercanya semakin luas dan membola besar. Tapi tak apa, semuanya akan terbayar kelak.

Empat puluh menit waktu maksimal yang selalu Jihoon habiskan di kedai tersebut. Setelah menuang rentetan isi-isi di kepalanya menjadi bentuk tulisan bermakna dan penuh warna, Jihoon bergegas keluar kedai dan berkeliling melintasi gedung bandar udara mulai dari check-in counter yang dia putari, lalu ke toko-toko yang pernah mereka datangi walau sebentar, dan yang terakhir kakinya dia ajak berdiri di depan pintu masuk pengecekan tiket penerbangan rangkap ruang tunggu di mana Soonyoung terakhir kali memeluknya erat sambil berbisik, “Sayang kamu, Ji and I’ll miss you so much.

Dan saat itu, Jihoon memilih respon anggukan daripada jawaban berupa kata. Tidak ingin melepas air mata yang justru menandakan kelemahan, yang kenyataannya sudah mengapung rapi di permukaan danau mata indahnya. “Last kiss for our goodbye?”

Kemudian untuk terakhir kalinya, Jihoon sedikit tidak rela memagut mesra cumbuan yang Soonyoung singgungkan di atas ranum semi tebalnya dengan kedua mata yang tertutup.


“Yang, kalo aku pulang besok kamu kaget gak?”

Jihoon merotasikan kembar kelamnya dan mendengus, “Mustahil.”

“Dih, kok mustahil, sih padahal bisa aja tau....”

“Belum ada 10 menit kamu bilang kalo proyek tim kamu masih tiga per lima penyelesaian, gimana tuh? Boleh pulang emangnya, hm?”

Gelak tawa mengarungi ruang berukuran 5×5 meter tersebut dari balik layar ponsel pipih punya pria yang lebih kecil. Kamar berdinding putih tulang tempat biasa Jihoon dan Soonyoung berbagi kehangatan di tengah rintikan hujan yang bergantian turun menginjak bumi.

“Iya, juga ya kok aku lupa, sih, tadi bilang gitu,”

“Gak tau, kamu kan pikunan.”

“Tapi beneran, Yang, kalo misal saatnya aku bilang besok aku pulang, kamu gimana?” tanya Soonyoung lagi sambil mengucek mata lelahnya.

“Biasa aja,”

“Bohong banget,” sela Soonyoung diikuti juluran lidah yang digoyang-goyangkan sengaja guna mengejek. “Pasti kamu bakalan nangis jelek, terus nungguin aku di bandara 24 jam sampe ringkih, terus pas udah ketemu kamu langsung melukin aku sampe seseeek banget, gak mau lepas, terus minta cium aku banyak-banyak, ya kan?”

“Hah, gak kebalik? Ini kamu lagi ngedeskripsiin diri kamu sendiri? Yang kayak gitu-gitu kerjaan kamu doang kali,” Jihoon memprotes dengan kedua alis yang berkerut menjalar di tengah-tengah kening.

“Kamu, tuh deniaaal terus kerjaannya kalo di depan ku padahal aslinya kebalikannya. Sekali-kali bilang iya susah banget kayaknya....”

Sekarang giliran Jihoon yang menggelar tawa. Nada jengkel bicara Soonyoung sangat lucu menurutnya. “Soalnya kamu ngaco, sih.”

Well, kalo urusan peluk sih mungkin iya, gak sesek-sesek juga kali, tapi kalo udah nangis jelek sampe nungguin di bandara 24 jam nggak banget, please?! Lebay banget and you are not that awaited person, babe.

Soonyoung memasang wajah kerucutnya dan menirukan kalimat terakhir Jihoon dengan maksud mengolok-olok, “you are not that awaited person, babe. Bohong terus, ah, males.”

“Nggak usah ngambek, jelek!” Jihoon terkekeh. “Eh, Soonyoung, sebentar, mau ke bawah ambil go food.”

“Hm,”

Jihoon lantas turun dari kasur dan keluar untuk mengambil pesanan boks makanan di saat jam telah menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh dua menit. Waktu tengah malam memanglah jam abadi Jihoon mengalami kelaparan meski cacing-cacing di lambungnya sudah diberi asupan makanan saat matahari lengser dari puncak langit.

Omong-omong tentang suasana malam, mulai saat itu, gelapnya langit berperan menjadi keadaan yang dinanti-nantikan Jihoon dalam hidupnya karena hanya pada saat itulah dia dan sang terkasih dapat berbagi cerita juga keluh kesah dari masing-masing tempat melalui media elektronik. Bertatap muka walau dibatasi oleh layar kaca dan jaringan yang terkadang tersendat-sendat membuat keduanya dongkol bukan main.

Malam, selalu menjadi medianya untuk melepas rindu walau tak pernah tuntas sempurna. Dan ketika wajah ceria Soonyoung muncul di hadapannya saat satu panggilan diterima, lengkung bulan sabit di bibirnya tidak sekalipun jatuh membentuk lengkungan pelangi yang membusur cembung. Sebab mau bagaimanapun situasinya, bertemu Soonyoung selalu mengembalikan harinya bagai dikelilingi oleh gelembung-gelembung hati ilusi yang terbang memuji dirinya walaupun Jihoon sendiri tidak pernah mengatakannya secara gamblang. Cukup, biar hatinya saja yang menyimpan semuanya.

Biasanya mereka bisa melakukan panggilan tatap muka hingga berjam-jam lamanya. Bahkan bermulai ketika baterai ponsel menyentuh angka 87% sampai ke angka 0%, hangus disantap durasi. Tipikal pasangan jarak jauh penuh kasmaran yang enggan memutus momentum kecuali ketika mentari merangkak naik dan burung-burung berkicau tanda mereka setia pada si pagi.

Jika kalian bertanya-tanya mengenai apa yang mereka obrolkan, tentu jawabannya adalah : tidak ada yang spesial.

Hanya ocehan ringan satu sama lain yang saling melempar candaan. Atau kadang mereka membiarkan keheningan tersemat di antara keduanya dengan saling memuja dalam diam melalui tinjauan mata. Membiarkan pertukaran tatapan dalam hening yang berbicara, yang berakhir tertawa berdua.

Atau lagi, Soonyoung yang merengek meminta Jihoon untuk menyanyikan satu lagu mengingat suara merdu prianya membuai dua kupingnya lembut.

Kadang pula, Jihoon diminta untuk menonton Soonyoung melakukan latihan presentasi oral yang berakhir gagal untuk kesekian kalinya acapkali Jihoon suka menyuruhnya mengulang dari awal ketika ada salah sedikit saja. Dan kalau Soonyoung tidak mau, Jihoon akan tega memutus panggilan sepihak tanpa mau mengangkatnya kembali kecuali dengan syarat tertentu. Dinamika konyol seperti ini hanya mereka yang paham menjalaninya.

“Kamu pesen apa?” tanya Soonyoung ketika bunyi gesekan kresek terjangkau inderanya.

“Taichan, lagi pengen,”

“Ih, mau... Di sini aku gak nemu taichan masa, ya,” ujar Soonyoung sendu disertai lenguhan pelan dari hidungnya.

“Kamunya aja males nyari kali,”

“Hehehe... akunya males kalo gak bareng kamu,”

“Halah, lebay. Kalo dapat gratis juga tetep dimakan kan?” ejek yang lebih kecil sambil menumpahkan saus sambal di atas tumpukan daging-daging tusuk.

“Yah, kalo gratis mah bedaaa. Ih, Ji, mau....” Soonyoung melipat bantalan bibirnya ketika melihat Jihoon mulai menyuapkan bakaran sate ke dalam mulutnya.

“Pulang,” balasnya sambil menggerak-gerakan rahangnya naik turun mengunyah.

“Kalo aku punya jet udah on the way ini,”

“Yaudah sana beli jet,”

“Lagi miskin,”

Dan setelah itu hanya terdengar bunyi kunyahan. Sedangkan Soonyoung sibuk memperhatikan kekasihnya makan dengan lahap.

Ah, suka sekali Soonyoung menonton mukbang ala Jihoon daripada yang sering ditonton rekan kerjanya melalui Youtube. Salah satu alasannya adalah bagaimana kedua pipi pemuda itu akan membentuk bongkahan kantung yang menggemaskan dan siap untuk dicubiti hingga melar melebar. Sayangnya, Soonyoung hanya bisa menahan keinginan itu saja dari posisinya sekarang ini.

“Kamu gak lapar apa? Nyam,”

“Gak, ngeliatin kamu makan sampe belepotan gitu aja udah bikin kenyang, Yang,” jawabnya. Ya, Soonyoung. Hidupnya selalu penuh kata-kata gombalan keju yang membuat bulu kuduk Jihoon merinding.

Jihoon berdeham malas.

“Btw, kalo aku sekarang lagi di Jakarta, pasti kita lagi late night strolling sambil nyari jajan-jajanan yang masih buka,” Soonyoung membuka percakapan baru. “Soalnya kamu gak pernah suka makan di apart, maunya keluaaar mulu nyari makanan.”

“Iyalah,” Jihoon menjawab seadanya.

“Terus, setiap pulang kamu maksa aku untuk gendong kamu di punggung. Gak tau diri kalo punya badan berat,” katanya lagi.

“Tapi kamu mau-mau aja, tuh,” Jihoon mengejek, lekuk meruncing terlukis di kedua alis matanya.

“Terpaksa, biar kamu gak nangis,”

“Kurang ajar!” umpatnya setengah tertawa.

Dan malam itu, tidak jauh berbeda seperti malam sebelum-sebelumnya. Obrolan yang bisa diceritakan, keluar bergantian dari kedua belah bibir kedua laki-laki itu, baik Soonyoung dan Jihoon yang berakhir senandung dengkuran napas dari salah satunya menjadi penutup kelamnya luas lapisan berkerlip cakrawala.

“Selamat malam, Sayang.”


Terhitung sudah 8 bulan Soonyoung menetap di negara tetangga. Dan selama itu pula Jihoon tak pernah absen mengunjungi bangunan yang padat massa di tiap pekannya.

Dan sepertinya penantian Jihoon dalam menanti kedatangan Soonyoung di lantai bandar udara cukup sampai di bulan itu saja, Desember. Karena akhirnya Soonyoung mengkonfirmasi kalau dia akan pulang esok hari.

Dan sekarang Jihoon menunggu.

Menunggu hadir sosok yang yang dirindukan hampir satu tahun. Menunggu dua langkah kaki yang berhenti tepat di depannya.

Jihoon nervous.

“Jihoon!”

Seseorang memanggil dari jarak beberapa meter di depannya bagai tidak tahu malu bagaimana orang-orang mulai menembak atensi ke arah Soonyoung.

Iya, Soonyoung telah berdiri di depannya. Wajah itu berseri, menampakkan cengiran paling lebar sambil menunjukkan deretan gigi-giginya. Kedua lengannya membentang meminta pelukan.

Namun bukan Jihoon namanya kalau dia langsung menghabur ke rengkuhan itu. “Bawain aku oleh-oleh apa?”

“Peluk dulu kali?!” Cengiran ceria seketika berubah menjadi kerut tuntutan.

“Nanti aja, itu bisa kapan-kapan.”

Jihoon memundurkan langkahnya begitu Soonyoung begitu keras kepalanya ingin mendusel ke arahnya. “Gak mau Soonyoung!”

Karena kesal, Jihoon berlari kecil menuju lapangan parkir yang menyimpan mobil hitamnya, meninggalkan Soonyoung yang tergopoh-gopoh di belakang sambil membawa koper dan beberapa tas berbahan kertas di kedua tangannya.

“Yang, tunggu!”

“Yang, bantuin bawain dong!”

“Jihoon, ya Tuhan!”

Diam-diam Jihoon tertawa kecil. Tetap berpegang teguh pada pendiriannya sebagai orang yang tidak mendengar apapun selain bisikan angin dan ketukan sepatu.

Dalam hati, dia senang atas kepulangan Soonyoung. Hari yang ditunggu-tunggunya pada akhirnya mencapai titik terakhirnya.

Jihoon tidak perlu lagi menginjakkan dua alas kaki di landasan kaca di tiap akhir pekan. Jihoon tidak perlu lagi berkeliling bandara demi mengingat pertemuan terakhirnya dengan Soonyoung. Jihoon tidak perlu lagi memesan minuman yang sama tiap berhenti di kedai kopi langganannya. Jihoon tak perlu lagi menanti malam untuk dapat mengobrol banyak dengan seseorang di balik benda pipihnya.

Dan Jihoon tidak perlu lagi menarasikan setiap cerita di depannya melalui setiap pergerakan yang keramaian buat.

Jihoon lega. Dadanya tidak lagi ditempa benda berat yang merisaukan. Pundaknya tak lagi jenuh menunggu. Sekarang, dia bisa menjadikan seseorang di belakangnya tempat untuk bersandar secara fisik, menjatuhkan keningnya di badan atletisnya.

Dia senang. Soonyoung tetap menjadikannya rumah untuk berpulang.


Suasana hening membungkus kamar Jihoon.

Di atas kasur itu, terdapat dua laki-laki yang berbaring nyaman.

Jihoon bertelungkup di atas tubuh Soonyoung. Mereka berpelukan tanpa mengeluarkan banyak kata. Hanya deru napas yang menyapu kulit masing-masing lawan.

“Mau sampai kapan begini?”

“Gak tau.”

Sudah 30 menit semenjak tiba di apartemen, posisi mereka masih saling menindih enggan menyudahi. Omong-omong mereka begini karena ulah Jihoon. Begitu mereka masuk ke kamar, laki-laki yang lebih pendek itu langsung mendorong kekasihnya dan merangkak ke tubuhnya.

Soonyoung dilarang melakukan hal lain selain memeluk tubuhnya, mandi atau mengganti pakaian saja tidak diperbolehkan. Dan dari Soonyoung sendiri sangat baik-baik saja diperlakukan seperti itu, dia paham.

Tak lama Jihoon mengangkat kepala dan mendaratkan tatapannya ke Soonyoung.

“Muka kamu makin kusam. Ini kenapa ada jerawat mau tumbuh di sini. Kamu jarang cuci muka, ya? Makin jelek,” Komentar Jihoon sambil menunjuk-nunjuk kulit wajah Soonyoung, menekan warna kemerahan kecil yang tumbuh di samping hidung dan atas bibirnya.

“Sakit, woy?!”

“Trus ini apaan, deh, nusuk-nusuk di dagu. Jenggot?”

“Iya kali,”

“Kamu pulang mau ketemu aku tapi gak bersih, gak rapi tuh, maksudnya gimana, ya?” Nadanya melemah, berpura-pura sedih.

“Nggak, gitu....”

Jihoon mengejek, lalu kembali menjatuhkan kepalanya ke dada Soonyoung. Lamat-lamat mendengarkan pompaan jantung Soonyoung yang bergerak halus. Nyata sekali.

Ah, lama sekali rasanya tidak mendengar bagaimana dada itu berisik di inderanya.

“Ji, aku cium boleh, ya?”

“Nggak, nanti.”

Terdengar helaan napas pasrah. “Aku bobo aja deh....”

Jihoon lantas kembali mengangkat wajahnya, memainkan satu telunjuknya di atas ranum Soonyoung agar laki-laki itu tidak jatuh ke ruang mimpi.

Tak lama yang lebih muda memperbaiki posisi tengkurapnya, sedikit memajukan badan lalu menjangkau bibir Soonyoung dengan kecupan singkat.

Bantalan semi basah itu masih punya Soonyoung, sangat pas ketika bertemu dengan miliknya. Bentuk gelombangnya masih mirip seperti beberapa bulan lalu. Rasanya juga tidak ada yang berubah. Dan segalanya masih punya Jihoon.

Menerima kecupan tiba-tiba, sukses mengulas rekahan senyum dari pria Kwon tersebut. Yang di bawah semakin menarik Jihoon mendekat dan menciumnya lembut. Menerbangkan kepakan sayap kupu-kupu berkeliaran di dalam perut. Membagi rasa rindu yang telah lama terpendam di dalam relung.

Welcome home, Soonyoung.”

Jihoon menciumnya lagi, tanpa gerak rahang dan lumatan. Mengecup bibir Soonyoung sekali, sebelum menatapnya lagi. Mengecup lagi. Mengecup lagi. Mengecup lagi. Lalu kecupannya turun ke rahang, turun lagi ke leher, turun terus ke bahu yang setengah terbuka, lalu berakhir mengecup tulang selangka. Dan Soonyoung terkekeh geli merasakan tekanan bibir Jihoon yang tak ada habisnya. Setelah itu, dia menenggelamkan diri semakin jatuh ke dalam dekapan sang kekasih.

Miss you, bontot.”

—Fin.

Jeon Wonwoo/Lee Jihoon | 2k words | Tags : Drama, Fluff, Light Angst, Friends to Lovers, Semi Formal, Mention Soonyoung/Wonwoo

“Gue juga bingung, Ji dia maunya gimana. Setiap gue tanya Soonyoung cuma jawab, ‘terserah kamu, Won.’”

Wonwoo menghela napasnya berat. Beban-beban menuju hari pernikahan yang dapat dihitung mundur menggunakan jumlah seluruh jari yang melekat di tubuh semakin memberatkan pundaknya.

Jika seharusnya momen-momen menuju hari H dipenuhi dengan berjuta hal-hal elok berupa balon-balon hati maya yang melayang di udara dan dapat memoles senyuman lebar seluas lapangan futsal, keadaan ini justru berbanding terbalik dengan situasi Wonwoo. Dia tidak sebahagia yang seharusnya. Titik-titik harapan tetap berdiri sebagai ilusinya saja.

Soonyoung dan Wonwoo telah menjalin hubungan kurang lebih dua tahun hingga akhirnya memutuskan untuk ke tahap yang lebih sakral dan terikat sumpah-sumpah suci. Awal yang manis bagi mereka ketika masing-masing kedua orangtua berunding mengenai segala keperluan di hari bahagia, begitupula pasangan tersebut.

Keputusan yang telah diketuk palu dengan banyak rencana kedepannya membuat keduanya mulai mencari Wedding Organizer lengkap dengan vendor-vendor yang mampu memenuhi permintaan konsep mereka selaku klien. Lagi, awal yang manis bagi pasangan yang akan mengganti status di hari yang akan datang, Soonyoung dan Wonwoo akan menyisihkan waktu di akhir pekan untuk bolak-balik membicarakan pernikahan pada panitia-panita yang akan terjun di acaranya.

Namun seiring terbunuhnya waktu, perlahan semuanya berubah.

Di tengah kesibukan mengurus keperluan acara sakral itu, Soonyoung tidak lagi dapat menemani Wonwoo seolah lepas tangan dan membiarkan lelaki itu berjalan seorang diri, menyerahkan segalanya tanpa rundingan lanjut. Waktu untuk bertemu pun tidak pula sesenggang biasanya. Gelembung-gelembung dalam ruang percakapan juga tidak seramai sebelumnya di mana Soonyoung akan mengirimkan tulisan-tulisan yang membuat Wonwoo semakin menaruh hati.

Sayangnya, hal itu hanya menjadi kenangan lalu yang bisa dilirik dan dinikmati seorang diri sebelum Soonyoung mengabarkan satu hal : “Wonwoo sayang, maaf kantor lagi sibuk-sibuknya untuk projek baru dan posisiku penting banget di sini, kamu urus pernikahan kita sendirian gak masalah, kan?” Dan Wonwoo memaklumi. Bahkan kini isi dalam ponsel Wonwoo hanya ada nama Jihoon yang tersemat di puncak urutan kedua setelah kontak Soonyoung.

“Kalo gue gagal nikah gimana, Ji?” Satu pukulan ringan Jihoon daratkan di ladang rambut hitam Wonwoo.

“Kalo ngomong, tuh, yang bener kali, Won.” Jihoon menyeruput kafeinnya sebelum melanjutkan, “Sepaham gue hawa-hawa mendekati hari H memang bakalan diuji, Wonwoo. Ya, kalimat gue gak sepenuhnya bener sih, gue juga belum nikah, tapi sebacanya gue di banyak paltform selalu ada badai yang harus diterjang sebelum lo mengais bibit-bibit yang nantinya bisa membawa lo ke langit ke tertinggi, puncak bahagia yang lo cari. Jadi lo tenang aja.”

Wonwoo bertopang dagu sambil mendengarkan petuah-petuah ringan Jihoon selaku sahabatnya yang selama ini menggantikan figur Soonyoung ketika berurusan dengan vendor WO. Dan jika nantinya ada orang lain yang menganggap kalau mereka yang akan melangsungkan acara, maka hal itu bukan lagi menjadi hal baru yang perlu dipertanyakan karena nyatanya selalu ada Jihoon yang selalu jalan beriringan dengannya. Bahkan seorang panitia pun pernah berbisik pada Wonwoo kalau laki-laki yang lebih pendek darinya itu terlihat serasi bersamanya.

Senyum tipis Wonwoo daratkan pada Jihoon sebagai respon. Kalau Wonwoo boleh jujur, ia selalu nyaman saat semesta membiarkan mereka menghabiskan waktu berdua. Dalam kalimat lain, Jihoon akan selalu suka rela mengirim sejumlah afeksi dan merengkuhnya ketika Wonwoo sedang berada di fase titik terendahnya. Taruna itu juga tidak pernah meminta balas budi. Bukan, bukan Soonyoung tapi benar Jihoon-lah yang selalu ada. Pelabuhan untuk Wonwoo bersandar merapatkan badan. Maka dari itu, Jihoon pun ia pilih sebagai best man di Bulan Januari nanti.

“Tapi tetep aja, Jihoon. Harusnya gue bisa ngurus bareng Soonyoung, bukannya lo.”

“Udah, ya, Won? Kan ada gue. Gue bantuin lo juga bukan untuk apa-apa, murni pengen nemenin lo. Dan gue bukannya capek denger lo ngeluh tentang semua ini, tapi gue gak mau lo stres dan sakit karena negativitas lo lebih mendominasi. Percaya sama gue, lo bakal tetep nikah. Kalo gagal, nikah sama orang-orangan sawah aja deh, lebih cocok.”

“Sialan.” Wonwoo terbahak dan menghela napas sejenak. “Maaf, ya, Ji gue ngerepotin lo mulu.”

“Lebay lo!” Gulungan kertas kecil Jihoon buang secara horizontal ke arah lawan. Dan Wonwoo tertawa renyah diikuti lapis kerutan yang muncul di garis hidungnya.

Dan hari itu baik Wonwoo dan Jihoon menghabiskan malam dengan bertukar banyak cerita tentang histori masa lalu sewaktu mereka kali pertama berjabat tangan.


Pada dasarnya Jihoon bukanlah seseorang yang gemar menerima tamu di waktu malam kecuali memang ada sesuatu urgensi, apalagi di jam tidur seperti sekarang. Kembar beda jarum jam telah berotasi ke angka 22.35 dan suara bel apartemen mengganggu acara malam Jihoon yang hendak memetik mimpi dengan tenang.

Kakinya ia biarkan melangkah dengan sedikit terlunta karena demi Tuhan, Jihoon sangat mengantuk. Kalau saja orang yang bertamu malam ini adalah si perusuh Seokmin—sepupunya, Jihoon akan senang hati menendang pantatnya menggunakan seluruh tenaga sel-sel aktifnya.

Namun ketika daun pintu ia tarik membuka, kembar mata Jihoon memekar sempurna.

Di depannya, Wonwoo berdiri. Wajah tirusnya berkerut kusut, jejak-jejak air mata membekas di permukaan kulit, matanya menandakan keputusasaan, dan kedua bahunya meluruh turun.

“Won, lo kena—”

“Jihoon, please nikah sama gue.”

Jihoon menjatuhkan rahang tepat rungunya menangkap sederet kalimat dari bibir sang tamu. Genggaman pada knop pintu pun ikut melonggar. Kantuk yang semula menusuk-nusuk indera lihatnya seketika pamit melangkah mundur.

“Masuk dulu,”

Segelas air putih Jihoon letakkan di dalam kepalan tangan Wonwoo yang duduk di sofa, lalu mengambil tempat di sebelah lelaki itu.

“Sebelum membahas kalimat lo yang tadi, gue mau lo cerita dulu.”

Alih-alih menjawab, Wonwoo meletakkan gelasnya dan merengkuh Jihoon dalam pelukan hangat. Kening kepalanya ia biarkan bersandar di pundak lebar Jihoon, pundak yang tak pernah gagal mengirim sinyal-sinyal kasih sayang tak kasat mata untuk Wonwoo dalam hitungan kalender sepuluh tahun terakhir.

“Peluk gue balik, Ji.” Kalimat perintah, Jihoon menegak air liur dan melingkarkan kedua lengannya. Hembusan napas panjang membuat teka-teki dalam ruang pikirnya sedikit demi sedikit saling menemukan ujung menjadi sebuah kesimpulan.

Tidak, Jihoon tidak bermaksud mencurigai intuisi yang merangkak di kepalanya, hanya saja ini terlalu mudah ditebak untuk laki-laki yang porsinya sudah mengenal sang karib dalam kurun waktu lama.

“Soonyoung—”

“Iya, Jihoon, semua yang gue khawatirin waktu itu kejadian. Di H ke-12 ini, Soonyoung mau ngebatalin pernikahan kita, dia milih atasannya, Seungcheol yang gue gak tau sejak kapan mereka berhubungan,” tutur Wonwoo pelan. Sadar atau tidak, Jihoon merekatkan rengkuhannya pada tubuh ideal Wonwoo. Usapan-usapan kecilnya semakin bergerak halus di atas fabrik yang dikenakan lelaki berkacamata itu.

“Maksud lo, Soonyoung main belakang?”

“Gue gak paham, Jihoon...” suara Wonwoo merendah. “Soonyoung bilang dia bakal ganti rugi semuanya dan bilang ke orangtua kita. Gue kecewa, Ji tapi gue gak bisa ngebatalin.”

“Dan alasan lo?” Satu pertanyaan lain.

“Anak mana yang tega bikin orangtuanya malu karena gagal nikah dan karena alasan kekanakan kayak itu?” Wonwoo lagi-lagi menarik partikel-partikel oksigen demi membenahi hatinya yang kacau. “Bagaimanapun juga selama ini gue yang ngurus semuanya meskipun ada campur tangan lo dan Soonyoung di awal. Gue gak bisa ngebiarin usaha ini sia-sia, gak membuahkan hasil akhir yang berhak gue dapatin.”

Wonwoo menarik diri dan membiarkan kembar hitamnya berlabuh ke mata sang lawan. Ia membawa tangan yang lebih kecil bersembunyi di kedua kucupan telapak tangannya. “Dan gue mau lo gantiin posisi Soonyoung, Ji.”

Yang lebih kecil terkekeh, “Bercanda aja lo, Won, haha,”

“Gue serius, Jihoon.”

Entah bentuk kiasan macam apa yang saat ini sangat diperlukan Jihoon untuk mendeskripsikan detak jantungnya yang berada di ujung tanduk. Satu yang ia sadari, Wonwoo tidak menaruh jenis permainan konyol dalam ucapannya. Sorot matanya menyimpan sebuah keyakinan dan tekad tinggi, mengakibatkan Jihoon diharuskan membisu dan berdiam diri, membiarkan tubuhnya membeku kaku dihadapan Wonwoo.

Malam semakin larut dan hanya ada kesunyian di antara keduanya, kecuali deru jam dinding yang terus bergerak, takkan pernah berhenti. Dalam situasi ini, Wonwoo masih menaruh sedikit harapan di hatinya sementara Jihoon berusaha mencerna ajakan sahabatnya.

Sahabat.

Satu kata yang berlarian dari titik ujung ke ujung yang lain di kepala Jihoon. Selama ini Jihoon tidak pernah meromantisasi segala bentuk sikap dan perilaku yang berkaitan tentang Wonwoo sekalipun mereka melakukan banyak peristiwa yang bisa dijadikan faktor untuk membentuk perasaan baru. Ia selalu menganggap lelaki itu sebagai teman, menjadikan Wonwoo sebagai wadah untuk berdiskusi dan melempar candaan, seorang kerabat yang membawa sebuah rasa menyenangkan sekalipun posisi dirinya berada di urutan kedua setelah kekasih Wonwoo sendiri, Soonyoung.

Dan ajakan sang kawan malam ini terlalu mendadak untuknya. Ia tak pernah punya cinta untuk Wonwoo dan tentunya Jihoon enggan membayangkan hal-hal tragis di masa yang akan datang jika Sang Maha Cinta nyatanya tidak pernah menyatukan keduanya. Meskipun ia juga tidak pernah mengerti bagaimana Semesta mempermainkan hidupnya.

Alias, ya, Jihoon pikir Wonwoo terlalu memaksakan keadaan, menuntut rasa ingin yang menggempur di dada. Lagipula, pernikahan itu bukan hal yang mudah untuk direalisasikan di tenggat waktu singkat. Banyak puing-puing yang harus dikumpulkan tuntas. Ada restu yang wajib digenggam.

“Jihoon, gue paham kalo ini kesannya memaksa lo untuk nerima dan ngejadiin lo target gue. Tapi gue serius, Ji. Lo temen gue dan yang paling paham situasi. Kita bisa mulai semuanya dari nol. Kita, lo dan gue sama-sama belajar untuk bisa menghidupkan rasa.” Genggaman tangan Wonwoo semakin merekat. Bola-bola harapan terbentang nyata di pekat lingkar matanya.

“Wonwoo, ini bakalan susah. Hati lo masih punya Soonyoung...”

“Iya, gua paham, Ji. Tapi lo gak pernah tau kan di satu ruangan yang diisi Soonyoung ini ada terselip nama lo di sana? Your name does exist dan dia menetap di sana, jauh sebelum Soonyoung hadir di hidup gue.” Jihoon menarik diri dan menerbangkan tatapannya ke arah apapun asal bukan Wonwoo. “Dan lagi, tolong jangan anggap peran lo di sini sebagai bentuk pelarian gue.”

“Won—”

“Lo mau kan, Ji? Gue bakalan bantu supaya lo bisa punya cinta untuk gue.”

Wonwoo memepetkan tubuhnya ke arah Jihoon dan membiarkan sang malam di ruang 1122 yang sunyi untuk merekam penutup lembaran hari itu. Membiarkan semua furnitur apartemen sang empu menjadi saksi bisu atas pertemuan pertama dua belah bibir usai Jihoon bergumam, “Kita coba, ya, Wonwoo.”


“Gimana, Ji?”

“Belum, Won. Maaf, ya,”

Terhitung sepuluh bulan sejak mereka melantangkan ikrar di Gereja suci, disaksikan puluhan pasang mata, Wonwoo tidak bosan-bosan bertanya tentang perubahan perasaan Jihoon. Sebuah rasa yang belum tumbuh dari dalam organ jantung laki-laki yang sudah mempunyai peran sebagai pasangan hidupnya sekalipun keduanya telah melewatkan waktu berdua di satu atap yang sama.

“Ya sudah, gak masalah. Belajar terus, ya Ji, buat gue. Selamat malam, Sayang.” Kecupan singkat Wonwoo daratkan di atas kening Jihoon sebelum lelaki itu menjemput bunga tidurnya.

Jihoon menarik dan mengembuskan napasnya pelan. Tidak seharusnya agenda Wonwoo dan Jihoon merenggang seperti ini. Tolong ingatkan Jihoon kalau mereka sebelumnya teman nomor satu satu sama lain, sialnya keadaan mendistraksi kebebasan mereka. Terlebih dari sisi Jihoon.

Ini masih terlalu baru untuknya, hatinya belum bisa menerima Wonwoo sebagai suaminya secara utuh. Belum lagi bumbu pelengkap fakta lainnya bahwa Jihoon tipikal pria yang sukar jatuh cinta. Lalu bagaimana mereka melewati 10 bulan ini? Sulit.

Mereka berinteraksi layaknya teman biasa seolah status hanyalah tulisan dalam lembaran surat-surat resmi dan kartu identitas. Atau lebih parahnya lagi saat mereka layaknya orang yang baru kenal dua-tiga hari lalu. Kaku. Minus lainnya adalah setiap obrolan dan candaan terselip atmosfir canggung berkepanjangan di tengah-tengah ruang percakapan yang hadir dan mereka sungguh membenci itu.

Jihoon tersenyum miris jika memori otaknya diajak berjalan mundur ke belakang saat Wonwoo tak pernah henti menyuntikkan kasih sayang dan penuh peduli untuknya, menuntunnya untuk selalu menyiram rasa yang masih berbentuk bibit kecil, dan tak pernah lupa memberi cumbuan ringan ketika mentari bersembunyi dibalik langit kulon. Lalu, yang bisa Jihoon lakukan hanya terdiam disusul bibir yang terlipat masuk ke mulut.

Semua perlakuan baik Wonwoo serta usahanya dalam membunuh perasaan Soonyoung yang sempat bersarang, membulatkan keinginan Jihoon untuk terus belajar mencinta, melatih diri untuk tidak pernah lagi membatasi hati dari sang suami. Salah satu faktor lainnya adalah panggilan sayang Wonwoo padanya, ia ingin bisa membalas panggilan itu murni dari hati. Ia juga ingin bisa menyerahkan dirinya secara utuh tanpa perlu berperang dengan isi batin dan pikirannya yang selalu bertolak belakang.

“Wonwoo, gue bakal terus belajar supaya bisa ngebalas cinta lo dan gue harap lo gak akan pernah nyerah.” Ibu jari Jihoon sengaja ia jatuhkan di salah satu pipi Wonwoo dan menarikannya lembut. “Gue,” Dadanya bergemuruh.

“—Gue sayang lo, Wonwoo.”

. . .

—Fin.

Jeon Wonwoo/Lee Jihoon | 3,5k words | Tags : Fluff, fluff, and fluff

Ah, Desember.

Kalau aku bertanya tentang bagaimana definisi Desember menurut pandangan kamu, deskripsi seperti apa yang akan kamu bisikkan di telingaku?

Apakah atmosfirnya yang selalu merasuk ke tulang karena buai angin musim dingin dan tetesan salju? Ataukah nuansa libur akhir tahun yang sejuk menyenangkan? Atau lagi lantunan meriah jingle bell untuk menyambut perayaan natal yang akan segera membagi keceriaannya pada alam? Atau bahkan suara denting suatu instrumen yang mengalun mesra sehingga membuat kamu ibarat dipeluk hangat oleh gombal rayuan seorang romeo berpakaian sweater tebal?

Tunggu sebentar, untuk jawaban kamu kita simpan sejenak tidak masalah, kan?

Kalau begitu, mari kita dengarkan arti Desember menurut tafsiran seorang pria bernama Jeon Wonwoo.

“Desember itu lo, Jihoon.” Wonwoo mengulum senyum tipis sebelum melanjutkan, “Ya, walaupun bulan lahir lo November, tapi karena saljunya kemaren turun pas hari ulang tahun lo, ya anggep aja gak ada bedanya. Desember itu deskripsi singkat gue tentang lo. My warmest winter.”

Laki-laki yang kedua telinganya mulai bersemu semerah buah jambu itu bergidik lalu mengusap kasar wajah Wonwoo dengan sebelah tangan dan berseru, “Jelek lo, Nu sumpah jeleeeeek banget. Dasar gila.”

Jihoon menutup lembaran buku bacaan yang Wonwoo tekuni sejak setengah jam lalu secara kesal tanpa meninggalkan jejak. Kemudian langkah ringan ia biarkan membawanya ke ruang tempat biasa ia merajut mimpi.

Ia heran, entah sejak kapan kekasih berkacamatanya itu rajin sekali menggombalinya dengan kata-kata yang sukar diterima oleh indera dengarnya. Bukan, ini bukan hal biasa.

“Kurang ajar lo, Ji bacaan gue halaman berapa tadi. Asli, rese banget, sih,” seru Wonwoo ikut kesal. Buru-buru pria itu mencari tulisan terakhir di antara lembaran-lembaran kertas setebal satu sentimeter yang sempat hilang dan menandainya dengan pembatas buku saat bagian yang dimaksud sudah berhasil ia temukan.

Usai merapikan buku bacaannya, Wonwoo duduk sebentar dan terkekeh kecil meninggalkan kerutan temporer berlapis di batang hidungnya, menertawakan sikap salah tingkah Jihoon yang menggelitik dada. Jujur, suka sekali Wonwoo menjailinya.

Salahkan Jihoon yang memulai semuanya. Tadi ketika mereka sedang menghabiskan malam di ruang tamu apartemen milik Jihoon, laki-laki yang lebih pendek itu bertanya mengenai deskripsi suasana bulan-bulan kalender usai membaca sesuatu di salah satu situs internet di balik layar ponselnya sambil berbaring santai di paha Wonwoo. Dan ketika itu Jihoon bertanya mengenai bulan Desember mengingat sekarang sang buana telah menginjak ke ranah ruang dua belas.

Lama tidak bersua menjaili kekasihnya sebab pekerjaan padat tak kunjung undur diri, jadilah pria jangkung itu menjawab seadanya yang malah membuat Jihoon merinding sebadan-badan mengingat Wonwoo sendiri bukanlah tipe laki-laki yang jago menggombal seperti barusan.

“Jihoon, Jihoon....” kekehnya lagi.

Wonwoo menyusul Jihoon di kamar sambil menyimpan ponsel pipih di balik genggaman tangannya yang hangat.

Di dalam ruang berlapis dinding kokoh yang dipadu warna hitam-abu, Wonwoo dapat menemukan selimut seputih awan itu membentuk gunungan rendah. Kebiasaan seorang Lee Jihoon : menyembunyikan diri ketika sedang berada di titik terendah moodnya.

“Lo mau tetep ngambek atau kita liburan?”

“Mulut lo liburan, inget kerjaan numpuk,” jawab Jihoon dengan suara yang terendam bantalan sebab masih menyembunyikan diri di balik kain tebal sehalus sutera itu, enggan menampakkan wajah kusutnya.

“Seriusan kali. Ini gue kemaren abis booking vila nuansa vintage untuk natal dan tahun baruan bareng sama lo. Cakep, Ji tempatnya. Cocok untuk staycation, kelon sampe jelek.” Tidak ada jawaban. “Soal kerjaan udah aman. Kan pasti dikasih cuti, gimana, sih lo.”

Sunyi dan masih tidak ada jawaban. Hanya terdengar tik dan tok berulang dari ketukan detik maju jam digital di atas nakas.

“Lo tau gak sih, Ji, kita tuh udah dari beberapa bulan ini jarang ketemuan gara-gara lo sibuk dan gue juga sama.” Wonwoo memulai bercerita, membiarkan Jihoon tertelungkup tenggelam bersama tumpukan bantal yang ikut bersembunyi. “Sebulan ada lima kali doang kayaknya. Ya, kalo dipikir-pikir gak ada salahnya kan kalo gue mau libur akhir taun sama lo meskipun ujung-ujungnya cuma di kamar doang. Gue kangen quality time sama lo.”

Wonwoo meletakkan ponselnya bersebelahan dengan jam dadu yang bergeming di permukaan nakas dan berniat menyingkap buntelan pupa kekasihnya.

“Gimana, mau ga—” putus. Belum sempat pria bermarga Jeon tersebut menuntaskan kalimatnya, mulut yang terus mengoceh itu tiba-tiba ditutup oleh tangan Jihoon selepas Wonwoo menghancurkan kepompong hangatnya.

“Iya, mau. Udah, kan? Pulang sana besok lo ada meeting pagi bukannya,”

“Gak, gue mau nginep. Kemeja kerja gue ada ketinggalan satu di sini kan?”

“Iya kayaknya,”

“Yaudah gue nginep,”

“Menuh-menuhin kasur gue aja lo, Nu,” Jihoon memprotes.

Dari nadanya masih ada terselip kedongkolan dan kesan yang mengusir, namun perilakunya justru mengatakan hal sebaliknya, Jihoon menggeser tubuh kecilnya untuk memberikan spasi kosong agar pria yang telah menjalin hubungan bersamanya 2 tahun belakangan ini bisa memenuhi hampa tempat tidurnya.

Wonwoo menyengir lucu mendapat respon Jihoon. Sudah biasa dan sudah menjadi penyakit harian bagi mereka berdua ketika sedang berada dalam satu situasi yang bersamaan. Selalu ada kerusuhan ringan yang disebabkan hal-hal sederhana. Kata romantis hanya sebuah glosarium sama-samar yang melekat di antara mereka. Sekali lagi, sudah menjadi watak asli mereka sehingga tidak perlu berlebihan dalam memusingkan keadaan yang tak biasa ini.

“Dimaafin guenya?”

“Emang lo kenapa?”

“Itu, my warmest winter, hehe...” Semakin kesal, Jihoon mencubit sebelah pipi Wonwoo dengan kekuatan luar biasa sampai bongkahannya melebar melar. “Aduh, duh, sakit anjir.”

Bukan. Bukan karena kalimatnya yang menggelitik, tetapi bagaimana senyum Wonwoo yang ia rekahkan bukan bentuk gurat melengkung yang biasa ia pamerkan, mungkin lebih ke senyum mengejek? Entahlah, yang pasti Jihoon jengkel.

“Gak usah ngejek lo, jelek,” ucap Jihoon gemas dan Wonwoo yang tertawa. “Oh iya, itu kapan jadwalnya?”

“Tanggal 26 Desember, lumayan ada semingguan bareng lo,” jawabnya.

“Oke,” Jihoon mengangguk paham. “Lo gak mandi?”

“Ngapain gue mandi kalo lo suka sama bau keringat gue,”

Dan setelah Wonwoo mengatakan hal itu, lekuk lengan panjangnya mengunci kepala Jihoon dengan pelukan paksa di mana bagian ketiak ia hadapkan ke wajah masam si yang lebih kecil.

“Sialan lo, Nu! Lepasin, bego. Bau!” racau Jihoon. Kedua tangannya berusaha sekuat-kuatnya melepas kukungan menyebalkan dari prianya itu. Sayangnya Wonwoo jauh lebih kuat meskipun tenaganya tidak kalah banyak.

Durasi waktu kian berganti dan pasangan itu masih bergelut akrab perkara Wonwoo yang menenggelamkan tubuh Jihoon di dalam pelukannya secara paksa dan pria yang memberontak minta dilepaskan. Sampai akhirnya, Jihoon memilih menyerah dan balik memeluk Wonwoo sambil memberi kecupan ringan di leher yang sejajar dengan lektumnya.

“Selamat malem, Ji,”

“Hm,”

Wonwoo tersenyum senang dan mengecup sayang ladang rambut gelap prianya sebelum menghangatkan tubuh mereka berdua dengan selimut awan.

Pemandangan menggemaskan, seperti dua anak kucing yang sengaja dibungkus kain berbulu tebal hangat dan dininabobokan oleh pemiliknya di dinginnya gemerlap cakrawala. Suatu malam yang dihujani dengan kepingan-kepingan salju putih jatuh meluruh mengotori lantai bumi.


Masih ingat hari di mana Wonwoo mengajak Jihoon untuk menandaskan akhir tahun dengan menginap di suatu vila?

Iya, semenjak hari itu, keduanya tidak pernah lagi bertemu. Alasannya masih sama, kerja dan lembur. Tidak ada waktu bagi mereka untuk sekadar berkunjung ke apartemen satu sama lain demi melepas penat atau berbagi kasih sehingga yang bisa dilakukan hanyalah bertukar kabar melalui media elektronik dengan durasi minimum.

Namun semua itu telah terjadi beberapa hari yang lalu ketika pertengahan bulan Desember masih sibuk-sibuknya bolak-balik berganti arah, menyelesaikan segala kewajiban dan perintah pekerjaan agar mampu menjangkau hari libur menyenangkan yang diidam-idamkan.

“Gimana? Suka gak lo?”

“Hm, biasa aja....” Wonwoo menyentil jidat Jihoon menggunakan ketukan telunjuk dan ibu jarinya. “Sakit, anjir.”

“Dih, yang bener,” Cerewet sekali Jeon Wonwoo ini, pikir Jihoon.

“Iya, iyaaa bagus buanget, pilihan lo emang juara. Puas?”

Dua laki-laki berbeda marga itu kini tiba di vila yang telah didekorasi apik dengan tangkai-tangkai kayu berwarna cinnamon sebagai pendiri kokoh bangunan tersebut. Jarak dengan apartemen mereka tidak terlalu memakan waktu dan hanya menghabiskan 68 km untuk tiba di lokasi menggunakan mobil kepunyaan Wonwoo walau si putih salju masih jatuh menyentuh luasnya hamparan tanah kota.

Ruangan yang disajikan indah meski sederhana. Begitu mereka membuka pintu, wangi pengharum ruangan yang menari di udara menggelitik indera penciuman, menerbangkan perpaduan aroma fresh dan spicy berkomposisi bahan-bahan alami yang biasa disebut oriental fougere. Aroma pemikat jiwa seolah sedang berada di dunia hutan terbuka yang sejuk. Tak hanya wewangian yang membuai atensi, berbagai furnitur juga desain interior pelengkap isi bangunan berwarna senada memberi kesan berlapis-lapis kehangatan dan kenyamanan tiada dua.

Tak ketinggalan pula hijau pohon natal setinggi dua meter dan macam sematan pernak-pernik hiasan cantiknya berdiri di samping perapian padam menambah suka cita natal yang masih kental menghibur rasa.

Lalu ketika memasuki ruang tidur, mereka langsung disapa oleh sepasang jendela kembar yang memamerkan ketenangan alam musim dingin serta dedaunan hijau yang tampak memutih beku.

Sepertinya Jihoon akan betah berlama-lama di ruangan ini walaupun tetes kepingan salju melambai ramah ibarat sedang memanggil dan mengajak bermain dari luar sana.

“Mau mandi?” tanya Wonwoo sambil melepas syal Jihoon di tungkai lehernya.

Yang lebih pendek mengangguk, “Bareng.”

“Manja,”

Wonwoo meninggalkan kekasihnya sebentar untuk menyiapkan air hangat setelah menarik gemas pucuk hidungnya yang meninggalkan bekas kemerah-merahan.


“Ini kita beneran cuma numpang nginep tanpa main-main ke luar?” Yang lebih kecil bertanya.

“Emang lo mau main?”

“Ya nggak sih, kali aja lo diam-diam punya rencana,”

“Ngarep, ya lo,” Wonwoo terkikik. “Gak ada, gue bener-bener cuma mau ngurung diri berdua sama lo.”

“Sekangen itu lo sama gue, Nu?” Ejek Jihoon sambil menyugar rambut hitamnya.

“Emang,”

“Padahal baru beb—”

Kalau beberapa hari lalu Jihoon yang suka membunuh untaian-untaian kalimat dari bibir Wonwoo, tapi untuk kali ini sebaliknya, Wonwoo lah yang melakukannya lebih dulu pada Jihoon yang tengah merebahkan diri di pangkuannya.

“Diem, gue lagi baca ini gak fokus denger lo ngoceh mulu,” sela Wonwoo.

“Bisa-bisanya gue diduain sama buku,”

“Dari awal juga gitu, tapi lo betah-betah aja sama gue,”

“Ya terpaksa soalnya—”

“Sst, gak kelar-kelar ini dari tadi satu halaman doang,”

Jihoon merotasikan kembar bola matanya dan berakhir mengunci bibir. Memang biasanya Wonwoo itu tipikal yang sukar diganggu kalau sedang sibuk membaca buku dan Jihoon mau tak mau memakluminya mengingat tumpukan-tumpukan benda persegi tebal itu belum disentuh sepenuhnya karena kesibukan yang merajalela.

Teramat sukanya pada buku, di liburan kali ini Wonwoo pun membawa beberapa koleksi benda bacaan tersebut. Dan beruntungnya, saat ini merupakan waktu yang paling tepat untuk pria berkacamata itu berkesempatan penuh dan Jihoon berusaha mengerti. Pada akhirnya pun ia membiarkan kekasihnya menghabiskan rentetan tulisan-tulisannya tanpa peduli rasa bosan yang lambat laun menggerogotinya.

Beberapa menit berlangsung, posisi tubuh Jihoon yang semula berhadapan dengan pagu ruangan, ia ubah menjadi posisi miring. Membiarkan kedua matanya terhibur dengan kobaran api pada tungku perapian yang menghangatkan keduanya dari jarak beberapa meter di depannya.

Sunyi dan hening.

Dua kata yang mendeskripsikan situasi di malam hari pertama mereka memulai liburan sederhana ala Wonwoo dan Jihoon.

Entah harus berapa lama Wonwoo akan menghabiskan satu buku yang baru dibaca setengahnya. Satu yang pasti laki-laki itu akan menyudahinya sampai lembar dan halaman terakhir.

Karena bosan, Jihoon meraih sebelah tangan Wonwoo yang seharusnya sibuk memegang pinggiran buku. Jemari-jemarinya ia mainkan sesukanya. Kadang dipencet, dielus, hingga dimasukkan ke lubang hidungnya iseng.

“Lo ngapain, anjir jorok banget,” protes Wonwoo sebelum kembali memanjakan matanya.

Jihoon tertawa renyah dan mendongak menatap figur tegas nan tampan Wonwoo yang diam-diam selalu menyihir dan menjadi kebanggaannya. Apalagi Jihoon menatapnya dari bawah, rahang dan hidungnya yang tajam membuatnya memoles senyum geli. Apik sekali garis-garis itu terbentuk. Sempurna.

Di balik lengkung bulan sabit itu, Jihoon mempunyai satu rahasia :

Jihoon selalu suka Wonwoo. Kapanpun.

Dan lagi, Jihoon memainkan jari-jari ramping si kutu buku sesuka hati, tetapi kali ini kelakuannya lebih jahil dari sebelumnya. Ia tanpa berdosa memasukkan telunjuk Wonwoo ke dalam mulutnya untuk digigit kuat-kuat. Mengubah suasana yang semula tenang ke suasana penuh lengkingan teriakan.

“Argh!” Buru-buru yang lebih tinggi menarik jari telunjuknya sebelum Jihoon mengunyahnya lapar—yang tentunya tidak mungkin terjadi. “Astaga Jihoon, ini beneran sakittt, dodol... Iseng banget.”

“Bodo,” Jihoon tertawa lagi sambil memegang perutnya yang bergerak geli.

“Nuuu, lo gak kasian apa liat gue kayak orang bego, bengong nungguin lo kelar baca buku. Daripada gitu mending lo bacain gue itu ceritanya tentang apa.”

“Udah setengah jalan, ya kali gue ngulang,”

“Ya gak diulang juga, Nunu sayang. Lo bacain aja itu bagian yang sekarang lagi lo baca, biarin gue gak nyambung sama isinya penting ini ruangan gak sunyi-sunyi amat. Serem tau.”

“Nanti yang ada lo tidur,”

“Bodo, sih, cepet. Kalo lo gak mau gue ke kamar aja, deh,”

“Jangan. Iya, iya ini gue ceritain.” Wonwoo mendengus sebentar dan mulai bercerita.

Sebelum Wonwoo mulai membuka suara, Jihoon kembali mencuri tangan sang pendongeng dan meletakkannya di pucuk kepalanya. Sebuah perintah tersirat agar Wonwoo membacakan isi novel sambil mengelus-elus kepalanya.


“Ari, kamu suka anjing?

Iya, aku suka.

Aku juga suka. Soalnya mereka kan gak perlu pakai sepatu.

Ari tertawa. Dia tiba-tiba berpikir kalau ternyata salah satu pekerjaannya di dunia ini adalah menertawakan candaan konyol Dante. Hanya saja saat ini Dante tidak benar-benar mengatakannya dengan melucu. Dia hanya sedang menjadi dirinya sendiri yang memang penuh kejutan.

...

I see myself driving down a desert road in a pickup, no one else around. I’m listening to Los Lobos. I see myself lying on the bed of the pickup truck, staring up at all the stars. No light pollution.

Buku : Benjamin Alire Sáenz – Aristotle and Dante Discover the Secret of the Universe


Sampai di empat kalimat terakhir, Wonwoo berhenti sejenak untuk melihat apakah prianya sudah benar-benar terlelap atau masih mendengarkan suaranya.

Hasilnya, benar tertidur.

Salahkan Wonwoo yang mempunyai jenis suara berat dan rasanya sudah sangat pantas memainkan peran sebagai pendongeng anak-anak penghantar tidur. Dan tambahan lain bagaimana seorang Jihoon menyukai apapun yang berkaitan tentang Jeon Wonwoo.

Wajah lelap penuh ketenangan Jihoon yang terbakar cahaya api serta mulut yang sedikit terbuka, mengembangkan lengkungan senyum tulus dari Wonwoo. Ia berhati-hati mengangkat kepala yang lebih kecil untuk diletakkan di permukaan bulu-bulu halus sofa berwarna kecokelatan lalu berjongkok di sampingnya guna memanjakan mata perihnya ke figur Jihoon yang jauh lebih menenangkan.

Wonwoo berbisik dalam hati, “Lucky me to have you around me, Jihoon.” Dan satu ciuman berdurasi singkat ia daratkan di kening sang terkasih, mengirim sinyal-sinyal kasih sayang yang ia punya untuk Jihoon.

“Hmh,” Jihoon terusik dan mengerjapkan pelindung matanya berulang kali. “Udah kelar lo?”

Belum.

Satu lengan Wonwoo tawarkan ke depan wajah Jihoon, “Udah. Ayo, ke kamar kita tidur.”

Sejujurnya pria yang lebih tua itu tidak tega membiarkan Jihoon-nya berlama-lama tertidur tidak nyaman di pangkuannya, terlebih di minimnya panjang ukuran sofa yang ditempati sehingga kaki Jihoon diharuskan menekuk kejur. Setelahnya Wonwoo memilih untuk memutus bacaan yang tinggal menghitung lembar demi satu prianya itu.

“Cium dulu,” pinta Jihoon. “Bibir, Nu.”

Satu cumbuan ringan Jihoon tuai.

“Gendong,”

“Duh, badan lo tuh berat,” Satu rengekan dengan mata yang masih sayu-sayu mengatup mendistraksi penolakan Wonwoo. “Sumpah, ya. Iya, iyaaa. Dasar kebo manja.”

Alhasil Wonwoo menggendong kesayangannya seperti sedang membawa koala raksasa yang menempel di tubuh atletisnya, sementara Jihoon sendiri mengalungkan kedua lengan di leher dan kedua kakinya di pinggang Wonwoo agar mampu menopang berat badannya. Kepalanya ia sembunyikan di ceruk leher kosong Wonwoo karena rasa kantuk masih memberatkan kedua kelam indahnya.

“Selamat bobo, Nu, gue sayang lo.”

“Hm, tidur yang nyenyak, Ji. Gue juga sayang lo.”

Dan lampu meredup di detik berikutnya.


“Lo ntar sore mau keluar gak?” tawar Wonwoo di sela-sela menyuapkan sereal susu ke dalam kunyahan mulutnya.

Jihoon membolakan kedua matanya dan bertanya, “Kemana?”

“Katanya sore-sore gini ada music street performance di jalanan depan. Lo kan suka musik kali aja mau liat,” tutur Wonwoo.

“Jalan kaki?”

“Ya iya, deket kok. Mau gak?” Jihoon terlihat menimbang-nimbang. Kedua alisnya menukik membentuk sambungan jembatan.

“Ayo.”

“Oke, jangan ngebo, ya lo. Sore-sore, tuh jam-jamnya lo demen ileran.” Wonwoo tertawa.

“Berisik, Nu,” Sebuah gumpalan kertas kecil yang entah darimana berasal Jihoon lemparkan secara horizontal ke arah Wonwoo. Kemudian Jihoon ikut menyunggingkan senyuman kecil dan bertopang dagu memperhatikan prianya masih melakukan suapan-suapan repetitif untuk mengisi perut kosong. Kalau Jihoon sendiri sudah menuntaskan sarapan jam 10 mereka lebih dulu.

“Di sini gak ada mainan atau apa gitu? Bosen banget,” tanya Jihoon sambil menelisik tiap sudut ruangan di ruang makan tersebut.

“Semalem gue liat adanya puzzle, tuh di lemari kaca yang ada di kamar,”

Yang lebih muda beberapa bulan dari Wonwoo mulai berdiri sambil menyelipkan kedua tangannya pada kantong celana sebelum mengambil langkah. “Yaudah gue ke kamar. Beresin semuanya ini, mangkok, gelas, cuci sekalian.”

“Iya, baweeel.”


“Nu, bantuin sini,”

Adalah kalimat yang masuk ke indera dengarnya ketika Wonwoo membuka pintu kamar dan mendapati si kesayangan tengah bersila di permukaan karpet bulu-bulu halus dengan potongan-potongan puzzle berserakan di depannya.

“Gak, gue mau lanjut baca, yang semalam belum kelar.”

“Ih, lo bilang udah?”

“Bohong aja gue mah, pegel paha gue nampung lo,”

“Sialan. Tapi Nu ini puzzlenya banyak banget tu. Di boxnya bilang ada 1000 pieces, anjir,” ujarnya setengah frustasi padahal ia baru memulai 3 keping di bagian ujung. “Liat aja ini kecil-kecil begini.”

Nyatanya baru 5 menit menghamburkan susunan teka-teki bergambar itu, Jihoon sudah dibuat pusing oleh si rupa gambar. Benar saja, seperti yang ada di contoh pada selembar kertas ukuran A4 itu terlukis sebuah situasi musim gugur di suatu kota New York padat penduduk dan bangunan-bangunan tinggi serta bagaimana perpaduan spektrum warna satu sama lain yang saling mendekati menjadikan semuanya terlihat sulit.

“Gue mau baca dulu, Ji nanggung sedikit lagi,” tolaknya halus dan mulai menempatkan diri di atas kasur.

“Ck, yasudah,” nadanya seperti merajuk.

Setelah itu keadaan sunyi. Hanya terdengar suara detik jarum jam yang bertalu-talu berputar membunuh waktu. Suasana di luar bangunan juga masih tertutup banyak lapisan salju, kepingannya tak bosan-bosan merintik tipis-tipis menyentuh daratan. Dan hangatnya ruang kamar tidur sukses membuat keduanya tenggelam dalam kegiatan masing-masing.

Beginilah keadaan quality time kepunyaan dua laki-laki dewasa itu. Tidak membutuhkan intimasi yang berlebihan layaknya jalinan hubungan orang kebanyakan yang meromansakan segalanya berupa sentuhan-sentuhan kental.

Sangat berbeda, hanya dengan berada di satu atap ruangan yang sama dan saling menghargai presensi masing-masing beserta kegiatan yang mereka kerjakan, pada akhirnya baik Wonwoo dan Jihoon akan kembali ke dekapan satu sama lain ketika dering alarm sudah saatnya tiba. Ada, selalu ada waktu bagi mereka untuk saling membutuhkan dan membalas rasa di akhir paragraf cerita.

Dalam diam, Wonwoo dapat jelas mendengar jerit depresif kecil dari bibir Jihoon-nya dan suara hentak kepingan potongan puzzle yang diletakkan jengkel. Lantas si kutu buku itu untuk sesaat menjelma menjadi si jerapah berleher panjang, mengintip susunan-susunan yang baru selesai 10% sambil diam-diam tertawa kecil tak bersuara.

“Berisik banget sih, masang-masangin gitu doang,” ujar Wonwoo sepenuhnya mengejek dan selanjutnya ia turun dari posisi awal demi mendudukan diri di depan pria berambut hitam kelam itu. Ia juga menutup lembar bacaan yang belum mencapai garis final. “Sini gue bantu.”

“Dari tadi kek,”

“Sewot aja lo. Suka-suka gue,” jawab Wonwoo dan meraih potongan-potongan yang berperan sebagai pelengkap lukisan.

Lagi, hanya ada kesunyian yang memayungi ruangan. Suara tipis-tipis mereka terkadang beradu seperti pertengkaran sederhana ala si Jeon Wonwoo dan si Lee Jihoon, misalnya,

“Ih, itu tuh di sini Nu, coba liat,”

“Nggak, udah bener di sini,”

“Sembarangan lo. Nah, ini lho pasanganya, itu mana nyambung, anjir,”

“Oh iya ya, Ji, haha,”

“Batu banget,”

“Ah, diem lo, berisik,”

Dan perseteruan lainnya hingga berakhir gemaan tawa Jihoon dan Wonwoo yang berharmonisasi di hangatnya suhu ruang yang membakar perut.

Dari seribu potongan teka-teki bergambar itu, baru satu per tiga yang berhasil mereka kerjakan dalam durasi satu jam setengah. Masih banyak area bolong-bolong yang harus diisi demi suatu keindahan. Sayangnya, di usia yang sudah mencapai di atas dua puluh lima tahun ini, punggung mereka rasanya tak mampu menopang tubuh lebih lama untuk membengkok bungkuk sehingga Wonwoo dan Jihoon memilih menyudahi kesibukannya. Tak sanggup mengampu diri lebih lama akibat yang rasa pegal telah menonjok-nonjok tubuh.

“Gini doang pegel banget,” keluh Wonwoo dan mulai mengambil posisi di sebelah Jihoon. Lalu, ia menarik kedua kaki si yang lebih mudah untuk berselonjoran di atas karpet dan dilanjut dengan merebahkan kepalanya di permukaan paha kokoh Jihoon.

“Lemah,” ejek Jihoon sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku. “Ngantuk lo?”

Wonwoo mengangguk usai menguap lebar tanpa menutup buana mulutnya. Huh, salah satu kebiasaan buruk seorang Jeon Wonwoo.

“Tidur, gih gue nyanyiin. Masih ada banyak waktu sampe street performance mulai ntar sore,” kata Jihoon disusul dengan usapan-usapan halus di puncak kepala Wonwoo.

“Cium.”

Satu kecupan ringan di kening dan kedua mata Wonwoo yang terpejam. “You missed an important part, Ji....”

Paham maksud prianya, lantas Jihoon membolakan matanya dan mencumbu bibir Wonwoo sampai di detik ke lima. “Udah?” Cengiran puas laki-laki berkacamata itu ia pamerkan untuk Jihoon. “Kacamata lo lepas, Nu.”

“Oh iya,”

Setelah Jihoon meletakkan kacamata Wonwoo di dekat puzzle yang berserakan, ia mulai membuka suara. Melantunkan senandung lirik dari salah satu lagu legendaris berjudul Simple dengan nada yang lebih rileks, ritme sedikit diperlambat dan menggunakan suara yang direndahkan demi memanjakan rungu sang kekasih.

Wonwoo selalu suka suara Jihoon. Selalu menghibur dan meluaskan dada, membuat syahdu bagai diterbangkan oleh bulu-bulu terhalus yang ada di dunia ke puncak langit tertinggi demi memeluk sang rembulan bersamaan dengan desau angin menyejukkan. Damai.

Jantungnya pula berdesir halus, darahnya ikut mengalir tenang setiap Jihoon ada didekatnya.

Suara Jihoon selalu menjadi salah satu faktor dari seribu satu alasan Wonwoo untuk terus menumbuhkan rasa menyenangkan yang tiap waktunya dipupuk agar semakin berkembang mekar.

Jeon Wonwoo secara impulsif selalu menaruh rasa sayangnya untuk pria bernama Lee Jihoon. Menjadikan pria itu sebagai rumah ketika dunia sedang menguji dan membenci dirinya. Sebuah rumah yang pintunya tak pernah sekalipun tertutup rapat ketika Wonwoo sedang berada di dunia luar. Rumahnya untuk pulang. Atapnya untuk berteduh. Tempatnya untuk berlindung. Jihoon dan lengannya akan selalu refleks terbuka lebar untuk menyambut dirinya dengan makna dekapan rindu.

Dan sebagai penekanan, Wonwoo mencintai Jihoon, laki-lakinya.

Hanya kepada laki-laki itu Wonwoo behasil menemukan kenyamanan yang belum pernah ia dapatkan dari pria manapun sebelum-sebelumnya.


Mengintip kegiatan dua kucing di waktu sore adalah hal yang paling menyenangkan.

Wonwoo dan Jihoon pada akhirnya membatalkan agenda menonton music street performance di depan jalan dan memilih untuk melanjutkan sesi mendengkurnya ketika udara semakin dingin menggelitik tulang dengan saling memeluk di bawah hangatnya sutera putih. Napas tenang saling beradu menyentuh kulit satu sama lain.

. . .

Ya, kurang-lebih seperti itu maksud Desember bagi pemuda bernama lengkap Jeon Wonwoo di tahun ini. Dan untuk sekarang mari kita cukupkan intip-mengintip kegiatan liburan dua pasangan yang tengah bergumul mesra dalam satu rengkuhan hangat. Biarkan mereka menghabiskan liburan terbaik mereka di bulan Desember sampai akhir tahun nanti, ya?

Dan sekarang giliran kamu yang menjawab, menurutmu si Desember itu bagaimana, sih?

—Fin.

Kwon Soonyoung/Lee Jihoon | 4k words | Tags : Light Angst, Modified scenes based on Dancing in the Rain and My Idiot Brother

Afgan – Untukmu Aku Bertahan

https://open.spotify.com/track/2BIqdq5nGdZRB6qCS4YHDD?autoplay=true


Dulu Jihoon membenci anak itu.

Aneh.

Tetangga seumuran beberapa petak dari rumahnya yang sangat aneh. Jalannya luntang-lantung, pandangannya berkelana bagai tidak punya satu titik fokus, dan cara berbicaranya tidak jelas. Membeo tanpa punya makna. Lebih parahnya lagi anak itu suka berteriak. Meskipun tidak pernah berinteraksi, tetapi setiap melihatnya Jihoon akan berusaha menghindar atau memalingkan muka. Tidak mau berurusan dengan anak seperti itu. Takut tertular katanya.

Tapi sekali lagi itu dulu, saat ia buta akan kondisi psikis anak laki-laki itu, Kwon Soonyoung.

Bukan, sekali lagi, lebih tepatnya saat Soonyoung berhasil menyelamatkan dirinya dari bullying yang dilakukan oleh sekumpulan bocah-bocah nakal berperilaku kurang terdidik baik.

Waktu itu, Jihoon kecil sedang mencoba memantaskan diri bermain sepak bola di lapangan komplek, namun justru ia mendapat perlakuan tidak nyaman dari mereka karena Jihoon sendiri tidak mampu menendang bola sebagaimana anak-anak itu lakukan. Selalu melesat dan kaku sampai akhirnya cemooh dan dorong-dorongan kasar yang ia tuai.

Jihoon tadinya anak sederhana yang senang bermain di rumah sendirian. Hanya saja seiring berotasinya waktu, keinginan-keinginan baru seorang anak kecil kian bertambah setiap harinya. Dan di lapangan itulah Jihoon berdiri dengan kepercayadiriannya yang menginjak di bawah angka enam. Rendah.

Dari situ entah darimana datangnya, Soonyoung berteriak panik sambil menarik-narik kaos anak-anak nakal tersebut tidak sabaran. Suaranya melengking nyaring dan mampu memekakan telinga siapa saja yang berada di sana, bergantian sambil memukul-mukul kepalanya.

“Ngan ukul, ngan ukul... teman, ukul ngan....” Jangan pukul, jangan pukul... teman, jangan pukul...

Satu tarikan kuat akibat emosi yang tak mampu terkontrol apik menyebabkan satu anak tersungkur jatuh ke kubangan kecil berisi tanah-tanah cokelat kotor nan becek. Soonyoung masih melakukan pukulan repetitif ringan pada kepalanya dengan dua kepalan tangan.

Usai anak-anak usil tersebut mengambil langkah menjauh—sebab menganggap Soonyoung adalah anak gila, Jihoon berdiam diri di posisinya. Kepalanya tertunduk dengan air mata yang hampir merembes jatuh melewati pipi dan berhasil ia tahan. Lalu ia menengadah, di depannya ada sosok laki-laki yang tidak ia sukai sedang berdiri risau. Anak laki-laki yang masih membeo hal semu dan kaki kecilnya ikut berputar-putar di satu titik area.

Jihoon tidak tahu harus bagaimana bersikap, meninggalkan lelaki itu pun tentu tidak mungkin. Dia bukan orang yang tidak tahu terima kasih. Sekalipun figur yang menolongnya adalah sang musuh besar, begitu amanah ibunya.

Dengan sedikit keinginan, Jihoon berhati-hati mendekati si anak. Langkahnya satu persatu diayunkan. Kemudian tanpa aba-aba, yang lebih muda menjangkau tubuh Soonyoung. Sebuah upaya yang sistem otaknya perintahkan agar bisa menenangkan tetangganya itu. Ajaibnya, usai lengannya melingkari tubuh, Soonyoung melemah, hanya tersisa getaran-getaran ringan yang bisa Jihoon rasakan.

“T-terima kasih.” Jihoon bercicit.

Dan hari itu, untuk petama kalinya Jihoon memutuskan untuk beradaptasi dan berteman dengan Soonyoung. Membuang semua keburukan yang tidak sopan pernah bertengger di kepalanya. Terlebih setelah mengetahui fakta akan kondisi anak laki-laki itu yang baru ia ketahui beberapa tahun setelahnya, saat pendewasaan membawa mereka tumbuh dan berkembang bersama;

Kwon Soonyoung, penderita Autism Spectrum Disorder sejak usianya masih sangat belia.


“Soonyoung, ih, cokelatnya jadi belepotan begitu tau, haha.”

Jihoon tertawa renyah menatap tingkah tak terarah Soonyoung, si penyuka hal-hal berbau cokelat yang sibuk mencicip cupcake gelap di genggamannya dengan berantakan. Serpihan dan lelehannya merintik jatuh di atas meja. Tidak ketinggalan pula betapa kotor wajah di sekitar bibirnya. Situasinya benar-benar bagaikan anak kecil yang baru belajar makan padahal umurnya telah menyentuh angka 21.

Sudah terbiasa, Jihoon masih saja menertawakan temannya dengan sesekali mengusap polesan kotor itu menggunakan sapu tangan yang khusus ia beli untuk Soonyoung.

Akhir pekan adalah hari wajib untuk Jihoon membawa Soonyoung jalan-jalan. Mengusir rasa suntuk yang membakar kepala akibat kegiatan-kegiatan padat di ruang pembelajaran. Dan Minggu ini, Jihoon mengajak sang kawan ke kafe cokelat kesukaan Soonyoung. Tidak jauh, hanya berseberangan dengan komplek tempat rumah mereka bersembunyi.

“Pelan-pelan makannya, haha, astaga,”

“Yun, cokat, cokat... cokat... ” Jihoon, cokelat, cokelat... cokelat...

“Hm? Soonyoung mau lagi?” Sebuah anggukan acak diikuti pola mata yang berotasi tak berpeta. Jari-jari manisnya ia sedot, menikmati sisa-sisa rasa yang tertinggal tanpa peduli benang saliva yang menempel di permukaan kulitnya. “Tunggu sini, ya, jangan kemana-mana.”

Memastikan Soonyoung patuh akan kalimatnya, Jihoon beranjak menuju etalase di kafe tersebut dan memilih menu baru untuk Soonyoung. Ketika ia menerima kue yang dimaksud dan berbalik, Jihoon lantas terkejut lalu segera berlari menuju meja tempat keduanya berbagi bidang datar untuk meletakkan kue baru.

Bahaya. Kini Soonyoung tengah berjalan tertatih dan secara asal menyolek-nyolek lelehan cokelat milik pelanggan lain. Memain-mainkannya bebas seolah kue tersebut kepunyaannya.

“M-maaf, maaf, maafin temen saya...” Jihoon menarik lengan Soonyoung dan mengaitkannya agar tidak kabur-kaburan lagi. “Aduh, Soonyoung....”

“Mas, itu temennya kenapa? Gila, ya?” Pelanggan yang hidangannya diganggu Soonyoung bertanya. Sementara Jihoon terdiam dan mengulum senyum tipis.

Alih-alih menanggapi perkataan tak sopan orang tersebut, Jihoon memilih membunyikan sebuah tawaran, “Makanannya saya ganti ya, Mas, Mbak?”

“Oh, gak perlu, Mas saya jadi enek dan gak nafsu makan abis ngeliat dia kayak gitu,” jawab yang perempuan sambil menunjuk dan melanjutkan, “Agak jijik ya, udah gede tapi makannya aja masih jorok.”

Bagai tak pernah punya beban, sepasang insan yang meledek Soonyoung berdiri dan berlalu dari jarak pandang. Puing-puing dosa akan kalimat yang berjejer keluar dari mulut mereka ibarat angin lalu yang wajib diabaikan dan tak perlu dipusingkan. Enggan peduli bagaimana perasaan Jihoon selama ini tiap rungunya tanpa henti mendengar semua kalimat-kalimat tidak wajar yang ditujukan ke temannya.

Sering. Terlalu sering.

Entah Jihoon harus senang atau sedih karena Soonyoung tidak mampu mencerna kata-kata tersebut hingga memasukkannya hati. Selama ini laki-laki itu tak acuh. Cukup. Biar Jihoon yang mendengar, Soonyoung jangan. Sudah cukup beban yang laki-laki itu punya, tidak perlu ada tambahan lagi.

Lebih dari sepuluh tahun Jihoon menemani Soonyoung dan selama itu pula Jihoon harus berbesar hati menerima perlakuan tidak adil—dan tidak akan pernah adil dari mereka-mereka yang tak perlu repot-repot membagi simpati pada Soonyoung barang seujung kuku pun.

Tidak, bukan hanya tentang Soonyoung. Jihoon sendiri pun menuai ejekan menyakitkan dari orang-orang terdekatnya. Dan ia memilih tidak peduli.

“Lo ngapain, sih, Ji temanan sama orang idiot, dungu, lemot kayak Soonyoung, haha, lama-lama lo ikutan gila kali. Udahlah, main sama dia gak ada gunanya.”

Atau seperti ini,

“Dia tuh gak normal, Jihoon. Setau gue, anak autis cuma bisa nyusahin orang-orang. Lo gak pernah ngerasain apa? Gue yang ngeliat lo aja capek.”

Atau lagi seperti ini,

“Lo tuh udah kayak baby sitternya Soonyoung, yang apa-apa ngikutin bocahnya, hahaha. Dibayar berapa, Ji?”

Dan masih banyak lagi.

Berakhir Jihoon memilih diam dan berlalu. Menutup telinga adalah satu-satunya cara yang bisa Jihoon rekatkan. Membela diri pun percuma, ia akan tetap dianggap bodoh karena mau berteman dengan seseorang penyandang autis seperti yang sudah-sudah.

Tidak.

Jika ditanya apakah ia pernah lelah terhadap sikap Soonyoung yang berbeda, Jihoon akan mantap menjawab tidak dan tidak pernah.

Justru Soonyoung adalah sosok yang berhasil membuatnya memoles senyum lebar di garis bibirnya. Ia bisa tertawa lepas karena tingkah konyol Soonyoung sekalipun keadaannya sedang tidak stabil.

Jihoon selalu percaya, di balik ketidakmampuannya dalam berpikir cepat, Soonyoung merupakan anak jenius. Dia pintar menggambar dan menciptakan karya seni yang membuat siapa saja akan takjub menganga dibuatnya.

Semisal coretan di media kertas dengan krayon-krayon warna membentuk sebuah figur alam yang membawa kesejukan bagi siapa saja yang memandangnya. Angin yang menerbangkan daun-daun kering memberi kesan musim gugur yang pesannya sampai ke dalam kalbu. Jihoon sendiri pernah jatuh terharu ketika Soonyoung menggambar mereka berdua : tentang Jihoon yang selalu memeluk tulus dirinya. Dari situ ia berkesimpulan bahwa Soonyoung mampu menghidupkan hasil kerja tangannya meskipun hanya dirinya dan sang ibu yang memahami makna didalamnya.

Hal lain misalnya, ketika Jihoon mengajarkan Soonyoung dalam bermusik: piano. Dengan sangat antusias Soonyoung akan menyimpan ketukan-ketukan not balok di boks memori kepalanya yang telah Jihoon ajarkan kendatipun berakhir laki-laki itu menekan tuts-tuts piano sesukanya. Menciptakan melodi semau dan sebebasnya. Karena Jihoon paham, Soonyoung punya dunianya sendiri.

Dunia yang jauh lebih mampu memakluminya daripada dunia yang ia pijak saat ini. Dunia yang tidak pernah ramah atas keberadaannya yang tak bisa sama.

Dari semua itu, Soonyoung akan memamerkan tawa secerah matahari yang berpendar di luar sana. Tawa itu pula yang akhirnya membawa Jihoon ikut menarik kedua ujung bibirnya dan selalu merasa bersyukur tentang apa yang ia punya saat ini.

“Soonyoung, ayo balik ke kursi, Jihoon udah beliin cupcake cokelat baru,” ujar Jihoon pelan. Di tuntunnya Soonyoung kembali duduk dan menyodorkan makanan kesukaan sang lawan mainnya.

Dalam diam, Jihoon memperhatikan.

Kwon Soonyoung.

Dia anak laki-laki yang aktif dan baik, hanya saja dunia tidak bisa sebaik dan seadil itu untuknya. Dunia menutup sebagian keindahan yang berwarna dalam diri Soonyoung. Dan menyebabkan mereka lebih suka memperioritaskan kekurangannya tanpa pernah peduli kelebihan yang tersemat dari segala sisi. Kumpulan orang-orang tersebut menganggap kemampuannya hanya sebatas bonus latihan yang diperoleh di suatu sekolah khusus.

Muak, Jihoon pernah bercita-cita untuk diberi keajaiban membungkam mulut-mulut tak berpendidikan mereka dengan kedua tangannya. Mereka tidak tau Kwon Soonyoung. Mereka buta. Mereka gelap mata. Tanpa tau bagaimana Ibu Kwon berjuang membesarkan anaknya seorang diri setelah ditinggal sang kepala keluarga.

Orang-orang itu hanya tau kalau yang mereka lakukan adalah kesenangan untuk diri sendiri. Egois.

Beberapa tahun lalu, ibu Soonyoung pernah bercerita bahwa anaknya divonis menderita autis sejak usia tiga tahun. Usia yang masih sangat kecil untuk seseorang yang harus menderita sebuah keadaan yang tidak wajar, sebuah gangguan yang mendistraksi perkembangannya dari dunia luar, menghambat komunikasi dan rasa ingin ketahuannya di kemudian hari tanpa pernah tahu penyebab pastinya.

Ciri-ciri Soonyoung kala itu masih aktif bermain, namun di beberapa bulan kemudian Soonyoung tidak pernah lagi melempar kontak mata pada ibunya, menjauh, melepas. Tatapannya berkelana ke segala arah. Ocehannya berhenti dan reaksinya mati. Jika anak seusianya mengalami kemajuan perkembangan, justru Kwon Soonyoung menjadi anak manusia yang dipilih mengalami kemunduran dan keterlambatan. Tertinggal terbelakang.

Yang bisa terdeteksi oleh alat hanyalah bagaimana Soonyoung mengalami kerusakan di salah satu sistem jaringan otak pada pusat emosi sehingga kemampuan mengekspresikannya turun sekian persen. Dan jika ada sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akalnya, maka Soonyoung akan tantrum dan bersikap agresif baik pada orang lain maupun dirinya sendiri. Melukai pun akan ada peluang.

Pernah ketika itu, Jihoon menerima gores serpihan kaca di lengannya dan itu cukup panjang. Cairan merah pekat nan amis menyeruak masuk ke dalam indera penciuman. Alasan yang sederhana, Soonyoung hanya ingin menuang saus tomat ke permukaan rotinya tanpa bantuan. Sayangnya isi saus itu enggan turun keluar melalui lubang terbuka sehingga Soonyoung kesal bukan main.

Soonyoung marah. Sisi egosentrisnya melunjak. Botol kaca itu ia pecahkan di atas lantai lalu kaca yang menampung saus kental itu ia bawa. Jihoon mencoba merebutnya hati-hati dengan dalih takut ujung benda tajam itu melukai Soonyoung. Dan semesta ternyata berkata sebaliknya, lelaki Kwon itu tidak mau memberikannya dan semakin bersikap berangasan. Tanpa sengaja benda itu menyenggol kulit Jihoon yang terekspos karena memakai kaos lengan pendek dan juga Soonyoung yang tidak bisa mengontrol intensitas amarahnya yang berlebih.

Luka itu bahkan masih membekas setelah tiga tahun lamanya.

Marah? Tentu tidak. Ia simpan luka itu dalam diam. Dijadikannya sebagai dorongan untuk terus berada di samping Soonyoung, membantunya mengendalikan diri.

Pernah juga Soonyoung dilempari kerikil-kerikil oleh beberapa pemuda yang tak dikenal sebab ia gelisah dan tak mampu mendeskripsikan perasaannya secara gamblang. Ia depresi, stres, bingung. Kemudian ia memberontak di dunia yang terbuka. Menyiksa diri dengan memukul organ tubuh yang bisa dijangkau. Pada saat itu pula, menurut mereka sosok seperti Soonyoung adalah manusia hina yang sebaiknya dimusnahkan agar penyandang sejenis itu tidak pernah ada di luasnya hamparan tanah. Tidak menyusahkan.

Jihoon menyeka sebulir bening yang jatuh tanpa permisi dari matanya sebelum kembali memfokuskan perhatiannya ke Soonyoung. Laki-laki itu masih asik membuat kekotoran di bibirnya.

“Soonyoung, ih haha,”

“Yun, yun, yun... su, su,” Jihoon, Jihoon, Jihoon... susu, susu.

Pukul 4 sore.

Waktu wajib untuk Soonyoung minum susu cokelat. Jihoon yang baru menyadari titah itu terdiam panik. Ia lupa. Lupa membawa susu yang telah ia siapkan di rumah sebelum pergi.

“Susu, susu, susu...” Soonyoung mengetuk-ngetuk meja.

Jihoon beranjak dari kursinya dan kembali melangkah menuju pantri. “Kak, sedia susu cokelat gak?”

“Waduh, maaf kak susu cokelatnya baru aja habis,”

Jihoon menoleh khawatir ke arah Soonyoung yang masih mengetuk meja semakin kuat. Kakinya ikut berhentak. Setelah mengucapkan terima kasih, Jihoon kembali. “Kita pulang aja ya, Soonyoung?”

“Susu, susu, susu mau, susu, susu, susu, susu,”

Kalau bisa, Jihoon ingin mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia lupa membawa botol minumnya. Dengan Soonyoung yang dalam mode seperti ini, tentunya tidak bisa dibujuk dengan cara apapun. Diajak pulang pun kakinya tidak akan bergerak.

“Susu, susu... SUSU!”

Gebrakan meja menarik atensi seluruh pelanggan yang hadir. Jihoon berupaya menenangkan Soonyoung yang kalap. Tatapannya meluas ke penjuru sudut, secara tersirat mengatakan sebuah permintaan maaf karena telah membuat keributan.

“Sst... Soonyoung maaf, maafin Jihoon yang gak bawa susu, ya, ssh....” bisiknya. Jihoon memeluk kepala temannya penuh rasa bersalah. Jihoon tidak pernah seperti ini, ia selalu ingat. Ia sendiri pun tak paham mengapa bisa melupakan minuman wajib Soonyoung di waktu sore hari.

Kini temannya itu masih merengek, tetes air mata ikut melengkapi situasi. Meski dirinya tidak memberontak lebih, namun Jihoon tetap mengelus sayang surai hitam Soonyoung. Mengendalikan tantrum yang semakin hari semakin mudah dikendalikan. Membisikkan nyanyian lembut hingga emosi Soonyoung setidaknya padam sejenak lalu membawanya kembali ke rumah dan memberinya segelas susu cokelat kesukaannya.

“Maaf, ya Soonyoung, maaf.”

“Susu, susu, susu, susu....”


Soonyoung suka hujan.

Setiap langit mengirim bibit-bibit air jatuh ke bumi, laki-laki itu dengan senang hati menadah kembang telapak tangannya ke udara agar bisa menampung tetesan hujan lalu dilemparkannya riang ke angkasa layaknya konfeti perayaan ulang tahun. Tatapannya akan selalu menatap ke jendela luar. Menikmati ketenteraman.

Menurutnya menatap hujan adalah hal paling menyenangkan, paling menenangkan, dan paling menyejukkan. Psikolog Soonyoung pernah mengatakan kalau hujan telah menjadi dunianya. Sebuah buana yang memberi rasa nyaman. Sesekali laki-laki itu akan bermain di bawah hujan, terkadang sendiri ataupun bersama Jihoon.

Omong-omong tentang ulang tahun di beberapa kalimat sebelumnya, hari esok adalah hari ulang tahun Jihoon. Tiap tahunnya Soonyoung dan Jihoon akan merayakan hari lahir berdua. Entah perayaan kecil-kecilan di rumah atau hanya sekadar ucapan dan makan bersama.

Rencananya Soonyoung akan memberi kejutan dengan membelikan kue kesukaannya dari kedai seberang komplek. Ia ingin membuat temannya itu senang dengan caranya sendiri.

“Burung, burung, burung,” cicit Soonyoung riang. Pria itu membuka jendela untuk menjangkau burungnya.

Sebuah peliharaan bersayap Soonyoung simpan di dalam sangkar yang menggantung di sisi jendela kamarnya. Namun tentunya hewan tersebut bukan yang nyata bisa terbang, melainkan burung kertas buatannya yang sengaja Soonyoung kandangin di dalam wadah beruas tersebut.

Terburu sedikit, Soonyoung mengambil burung kertas itu untuk membebaskannya dari hujan yang menderas. Sebagian kertas itu telah rusak, lantas secara kilat diamankan di atas meja. Kemudian sebelah tangannya pun ia tadahkan, menikmati air-air yang menyentuh kulit hangatnya.

“Hujan, hujan arum bagus, hujan bau,” racaunya pelan.

“Soonyoung ngapain, Nak?” tegur seseorang dari arah belakang. Itu ibunya. Wanita berumur yang garis-garis wajahnya mulai tampak mengerut.

Tau bahwa anaknya tidak akan menghiraukan akibat fokusnya penuh untuk si hujan, ibunya mendekat. Menjangkau bahu Soonyoung pelan.

“Hujan, hujan, hujan, main,”

“Besok aja ya, Nak main hujannya,”

Tak ada jawaban, Soonyoung masih memainkan tangannya di bawah guyuran air. Kepal tangannya ia buka-tutup hingga menciprat wajahnya. Tawa sendiri mengisi ruang dengar.

Hari itu Jihoon tidak main ke rumah, sedang menggarap tugas kampus katanya. Alhasil ibunya lah yang mengambil alih dalam mengajak main sematawayangnya. Apa saja dilakukan, mulai melukis, membuat kerajinan tangan, dan lain-lain, sesuatu yang membuat keadaan pikiran Soonyoung bagus.

“Besok Jihoon ulang tahun, Soonyoung mau ngasih apa, hm?” Anak-anak rambut Soonyoung dielus sayang.

“Tahun, tahun ulang, Jiyun... depan kue, ujutan,” Ulang tahun Jihoon, mau memberi kejutan kue.

“Beli kue di toko depan?”

“E-eh,” responnya. “Beli Yong, unda sst.... Jiyun tau nggak boleh,” Soonyoung yang beli, bunda diam-diam aja, ya... Jihoon nggak boleh tau.

“Haha, iya sayang iya. Nih, bunda tutup mulut, ya,” jawab yang lebih tua sambil menutup mulut mengikuti permainan anak laki-lakinya.

Dalam lubuk hati terdalam sang ibu bahagia sebab kepribadian Soonyoung berjuta kali lebih baik dari hari-hari kemarin. Terapi dan pendidikan yang gencar diikutinya memberikan hasil positif cukup memuaskan.

Kini anaknya itu sudah pandai berbicara walaupun susunan kalimatnya belum sesuai kaidah berbahasa seharusnya. Perkembangan kognitifnya juga telah naik di atas target optimalisasi meski masih ada sisi kekanakan yang hinggap dalam dirinya.

Belum pula keberadaan Jihoon yang memberikan dampak positif untuk Soonyoung sendiri. Ibu Kwon bermonolog sampai kapan pun ia akan memuliakan Jihoon yang sudah berbesar hati menemani Soonyoung tanpa pernah mengeluh dan pamrih.


“Ulang tahun, kek kue, cokat, ng.... manis cokat Jiyun mau,” ujar Soonyoung sambil menepuk permukaan alas pantri toko roti. Membuat pegawai yang sudah kenal dengan Soonyoung itu tertawa kecil dan menenangkannya sejenak untuk tidak memukul kaca tersebut.

“Sebentar, kakak mau kue yang mana? Mau pilih sendiri?”

“Cokat Jiyun, cokaaaaaat,” Kue rasa cokelat untuk Jihoon, rasa cokelaaaaaat.

“Oke, oke, tunggu, ya....” Daripada menimbulkan keributan seperti yang sudah-sudah, pegawai laki-laki tersebut mengantisipasi dan mengambilkan kue kecil yang biasa dipesan Jihoon ke pelanggan yang kali ini datang seorang diri.

Setelah membungkus dan memberikan satu buah cupcake dalam kotak, Soonyoung meletakkan uangnya asal, tidak menghiraukan pegawai yang terus memanggilnya karena nominal uang kertas yang diberikan laki-laki itu lebih sekian rupiah.

Dengan riang Soonyoung menuju kembali ke wilayah komplek berniat memberi kejutan untuk karibnya, tak acuh terhadap bunyi-bunyi klakson yang membisingkan telinga jika melihat bagaimana pemuda ini menyeberang jalan.

Ia mengayunkan langkah tanpa memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang. Teriakan pun bagaikan suara hampa. Debu dan asap yang mengepul di bawah teriknya matahari tidak repot-repot diberi atensi. Fokusnya hanya ke kue kecil yang kotaknya sengaja ia peluk sambil tersenyum senang. Untungnya Soonyoung selamat dari berbagai bentuk kecelakaan yang berpeluang besar.

Setibanya di depan pintu rumah Jihoon, Soonyoung menggedor benda kayu tersebut tak sabaran.

“Eh, Soonyoung nyari Jihoon, ya? Jihoon masih di kampus, Sayang, pulangnya nanti sore. Kita tunggu di dalam, yuk,” tutur Ibu Jihoon ramah. Soonyoung terdiam panik, bohlam kembarnya berputar ke segala arah.

“Ampus, ampus, ampus....” Kampus, kampus, kampus....

“Soonyoung! Nak Soonyoung, sini Nak,” Ibu Jihoon memanggil Soonyoung yang memilih kabur entah kemana. Mungkin kembali ke rumah sehingga wanita tua tersebut hanya membiarkannya melangkah.

Sayangnya, perkiraan ibu Jihoon melesat. Justru Soonyoung berlari keluar komplek.

Rasa gembira yang meletup-letup dalam dada Soonyoung menyebabkannya tak mampu menahan untuk menunggu Jihoon pulang. Ia memutuskan untuk menyusul Jihoon ke kampus yang berjarak hampir 2 km jauhnya hanya dengan berjalan kaki sambil memeluk boks kue kepunyaan Jihoon.

Abai terhadap rasa lelah karena melangkah kaki seorang diri tanpa mempunyai kawan, Soonyoung tak sekalipun berhenti. Tujuan satu-satunya hanyalah Jihoon dan keinginannya memberi kue.

Melangkah dan terus melangkah. Mengabaikan terik matahari yang membakar kulit, mengabaikan debu dan asap yang menusuk hidung, mengabaikan suara bising yang mengganggu organ pendengar yang diam-diam terlelap tidur. Yang ia pedulikan hanyalah ulang tahun Jihoon.

Masih beberapa jarak yang harus ia tempuh dan di ujung jalan Soonyoung diharuskan menyeberang ruang yang dipadatkan keramaian. Tanpa peduli apa itu celaka, taruna itu membiarkan kedua kaki membawanya berjalan. Klakson-klakson dan serapah kembali menari bersama polusi.

Jika beberapa menit sebelumnya Sang Langit membebaskan Soonyoung dari berbagai bentuk apes, untuk kali ini Dewi Fortuna memilih lepas tangan ketika sebuah mobil berkecepatan tinggi menyerempet tubuh tinggi Soonyoung.

Laki-laki itu terguling di lurusnya jalanan beraspal, kotak kue yang sedari awal ia simpan dalam dekapan jatuh di depannya, terlindas dua ban yang tanpa sengaja berlalu.

Dalam sekejap polesan luka gores terlukis di beberapa sisi wajah dan bagian tubuhnya. Tetesan darah dari pelipis akibat tesengat pucuk batu kecil juga ikut merintik jatuh. Soonyoung sadar, napasnya masih terpompa namun sedikit lebih tinggi.

“Jiyun, Jiyun,” gumamnya tanpa peduli rasa sakit yang menggempur badan.

Beberapa gerombolan orang berjalan mendekat, menolong Soonyoung yang belum berniat memosisikan diri. Dua orang laki-laki asing membantunya bangun, tapi Soonyoung memberontak, meloloskan diri sambil berteriak keras.

“Jiyun, Jiyun, kue, kue, Jiyun tahun kue,”

Taruna itu mendorong siapa saja yang memblokir jalannya. Sedikit tertatih Soonyoung mengambil lagi kuenya. Kue yang wujudnya tidak mempunyai bentuk layak, lempeng karena terlindas. Namun sekali lagi, Soonyoung tidak peduli. Ia harus segera tiba dan bertemu di kampus Jihoon.

Beberapa orang yang mendekatinya berniat menolong, ia tepis kuat-kuat.

Dan berakhir kumpulan orang itu membubarkan diri. Membiarkan orang aneh itu melanjutkan perjalanannya yang tertunda dengan langkah yang terseok-seok.


“Ji, malam ini aja please ikut karaokean sekalian ngerayain ulang tahun lo,”

“Gak bisa Kwan, gue—” Dering ponsel yang bersembunyi di balik kantong celananya memutus kalimat Jihoon. “Iya, Bunda kenapa?”

“Kamu ada ketemu Soonyoung? Ini Soonyoung gak ada di rumah, bunda baru bangun,” suara panik menjawab di seberang sana.

“Hah, maksudnya Soonyoung pergi sendirian? Ini Jihoon baru kelar kelas,”

”...”

Segera Jihoon mengambil langkah lebar usai dikabarkan kalau Soonyoung tidak ada di rumah. Ia pamit pada Seungkwan dan mulai mencari keberadaan temannya yang entah sekarang ada dimana.

Tadi ibu kamu bilang, Soonyoung bilang kampus, kampus gitu, Nak.

Tadinya Jihoon membawa kendaraan, namun ia memilih untuk mencari Soonyoung dengan berjalan kaki yang ia sendiri tidak tahu harus memulai dari ujung mana. Akhirnya, Jihoon hanya mengikuti insting ragunya.

Sepatu bermereknya Jihoon bawa menapak tanah. Kepalanya ia bawa berotasi ke kanan ke kiri mencari, mencari, dan mencari. Air mukanya kusut panik. Dadanya berdetak kencang. Peta dalam akal yang menjadi satu-satunya media Jihoon untuk menemukan arah.

“Soonyoung, Soonyoung,”

Peluh keringat mulai bercecer turun. Jihoon panik, bingung.

Beberapa menit lelah mencari, pandangnya mendapati sosok lemah Soonyoung yang berjalan terpincang-pincang di ujung jalan. Lantas lelaki itu berlari mendekat.

“Soonyoung!”

Yang dipanggil berseru ringan, “Jiyun, Jiyun, Jiyun!”

“Kamu—kamu kenapa jalan sendirian, hm?” Suara Jihoon bergetar. Emosi yang bersarang mengatup di dada serasa mengembang.

Air hangat yang berenang di kolam matanya semakin banyak tersimpan di kantung terlebih ketika fokusnya jatuh ke wajah Soonyoung. Wajah ceria yang terlukis warna merah keunguan di beberapa sisi, belum lagi darah pekat yang merembes turun di keningnya.

Jihoon ingin marah, ingin memukul seseorang di depannya saat ini. Kepal tangan yang bersandar di sisi tubuhnya semakin kuat tergenggam, menimbulkan buku-buku keputihan seolah siap melayangkan tinjuan keras ke wajah polos itu.

Tidak tahu kah Soonyoung bagaimana khawatirnya Jihoon sekarang? Ya, bahkan rasa cemas itu enggan meluruh turun sampai saat ini.

“Jiyun, kue, kue selamat Jiyun, hehe, Jiyun ulang tahun,” Lagi, lelaki penyandang itu menyengir, memperlihatkan deretan gigi-gigi bersinarnya seolah tidak pernah terjadi kecelakaan apapun.

Tak lama setelah itu, Soonyoung membuka kotak kue yang bentuknya sudah berantakan sekali. Ia mencuil benda padat berpori lembut itu lalu dibawanya ke depan mulut Jihoon guna menyuapinya.

Jihoon masih menatap Soonyoung dalam, tak sekalipun pandangannya lepas dari sosok itu. Rahangnya bahkan ikut bergetar.

Jihoon paham sekarang. Kwon Soonyoung hanya ingin merayakan hari lahirnya bersama.

“A, aaaa,”

Perlahan Jihoon membuka mulut, menerima suapan kue cokelat itu di susul deretan air mata yang merembes turun. Tanpa peduli bagaimana bentuk benda itu. Yang ia tau, Soonyoung melakukan hal konyol ini untuknya.

Jihoon memajukan langkah semakin mendekat ke arah Soonyoung sembari mengunyah. Dilingkarkannya lengan ke tubuh yang lebih tinggi. Menumpahkan rasa haru yang tidak mampu ia lontarkan menjadi barisan kalimat. Membiarkan sang terik siang memotret posisi syahdu kedua laki-laki itu.

Yang dipeluk terdiam membisu, tidak paham berekspresi.

Sampai akhirnya, tubuh Soonyoung melemah jatuh menimpa tubuh kecilnya. Menjatuhkan lagi kotak kuenya dari pegangannya.

Laki-laki itu tidak sadarkan diri.

Dulu Jihoon pernah berjanji : sekeji apapun dunia terhadap Soonyoung, sehina apapun temannya itu di mata orang lain, ia akan tetap pada pendiriannya, selalu bertahan, berdiri di sampingnya tanpa pernah mau melebarkan jarak di antara mereka satu jengkal pun.

Sekalipun Soonyoung tenggelam dalam gelapnya semesta, ia tak akan meninggalkannya seorang diri. Berusaha semampunya untuk senantiasa di sana, di sisinya bersamanya, merengkuhnya dalam satu dekapan erat dan hangat, menggenggam tangannya, menyalurkan rasa sayang yang ia punya untuk Soonyoung, juga melawan kesukaran yang dihadapi entah sampai kapan.

Jihoon dengan sejuta keluasan di dada, telah menaruh seluruh hatinya untuk Soonyoung.

Pendiri hidupnya.

Kue kecil pemberian Soonyoung ada di sana. Di atas nakas tepat terletak di samping tempat tidurnya.

Jihoon mengelus sayang rambut Soonyoung yang tengah terlelap sebelum kecupan ringan ia daratkan di landasan sana. Luka yang mengotori wajahnya telah terobati dan terbungkus perekat-perekat halus. Semuanya Jihoon yang lakukan.

“Soonyoung, terima kasih.”

. . . . . . . .

“Jiyun, ulang tahun... Selamat ulang tahun,” gumam lelaki itu pelan.

“Soonyoung sayang Jihoon....”

—Fin.

Mereka akhirnya memilih.

Malam itu, hari dimana Ibu Jihoon mengirim pesan terkait hubungannya dengan Soonyoung, sang wanita yang telah melahirkannya masuk ke dalam kamar.

Wajah yang menandakan gurat lelah itu tersenyum hangat dan mendekati si kesayangan semata wayang.

Ibu, sosok yang selalu menjadi role model Jihoon memeluknya erat dan bertanya mengenai kelanjutan kisahnya dengan Soonyoung, lelaki yang sukses membungkus hatinya dengan sejuta dambaan kasih sayang.

Dia membalas dekapan hangat itu diikuti senyuman miris. Tanpa ragu, tanpa cacat Jihoon mengatakan, “Jihoon sudah putus, Bu, maaf ya.”

Hanya sebuah kebohongan yang bisa Jihoon gelarkan untuk wanita renta yang kemudian menepuk bangga pundak sang anak. Dalam hati memohon ampun pada Yang Maha Tahu karena rasa cinta yang dia punya untuk Soonyoung berhasil mengelabui Ibu.


Hari terus berlanjut. Hubungan Jihoon dan Soonyoung semakin kuat pula. Keduanya masih sering bertemu untuk sekadar melepas rindu, memadu kasih jauh di hamparan tanah yang terbentang dari jangkauan keluarga. Tersembunyi. Berhati-hati.

Tujuh bulan waktu yang mereka habiskan. Berdua melakukan banyak hal bersama dengan rasa senang yang meletup dalam dada seolah benteng yang diam-diam menghalangi hubungan mereka tidak pernah ada. Mereka lupa jika sebuah sebutan bernama Iman menghalangi masa depan mereka. Masa depan yang penuh balon-balon hati transparan dalam angan.

Siapa yang tahu kalau sebenarnya Jihoon dan Soonyoung cukup stres memikirkan perbedaan yang mengikat mereka. Hanya saja, tidak disuarakan.

Satu yang pasti, tiada yang bisa mengalah sebab hati telah terikat dengan Sang Maha Cinta, yang pula menghidupkan rasa suka di dalam hati. Mereka tidak bisa semudah itu mengalah pada keyakinan mereka.

Belum pula bagi Jihoon. Ibunya pernah membisikkan sesuatu padanya,

Ibu gak ngelarang kamu, Nak. Kamu berhak bahagia atas pilihanmu sendiri, ibu juga senang liat kamu bahagia. Tapi jika pasanganmu beda iman itu sulit, Jihoon. Iya, kalo kamu yang terpaksa memilih, kalo Nak Soonyoung? Apa kamu tega memisahkan dia sama Tuhan-nya yang udah menjaga dia jika seandainya dia yang harus memilih?

Kalimat penuh kebenaran. Apa yang Ibunya terangkan tidak ada satu pun kesalahan. Tepat.

Kalimat itu terus melekat dalam kepalanya bagai pengingat kalau dia dan Soonyoung hanya punya satu jalan buntu.

Tiap malam, Jihoon selalu menyempatkan sembahyang meminta petunjuk. Namun, semua yang ia terima hanya warna abu yang semakin menggelap rumit. Cahaya yang diharapkan seolah enggan menggedor pikirannya yang temaram.

Haruskah dia menyerah? Menyerah dalam artian mundur dari Soonyoung dan kembali pada Semesta?

Adapula dari sisi Soonyoung, dia pernah bertanya pada keluarga saat perayaan Natal.

“Ayah, Ibu, kalo misal Soonyoung punya pacar tapi non-Nasrani, gimana? Hehe,”

Tipe seorang Kwon Soonyoung, menyelipkan candaan agar suasana tidak terlalu tegang di hari penuh keberkatan.

Respon yang sesuai dengan imajinya, “Ya kalo pacaran aja gak papa, asal gak sampai menikah. Ayah gak mau salah satu di antara kalian ada yang pindah keyakinan, jadi lebih baik pasanganmu yang seiman, Soonyoung.”

Cengiran kaku pada bibir Soonyoung pertanda bahwa hatinya terluka seperti ada yang menghimpit kuat relung jantungnya.

Tidak puas dengan satu jawaban, Soonyoung akhirnya berkonsultasi pada Penasehat Gereja tempatnya beribadah. Berbagai masukan dari Pak Choi ikut merekat dalam kepalanya.

“Dipertimbangkan baik-baik, ya Soonyoung.”


“Jihoon, hampir tiga tahun kita punya status lain sebagai temen, kita sudah diskusi banyak tentang kedepannya, sudah sama-sama pertimbangin ini dan itu. Dan sampai sekarang belum ada titik terang,” helaan napas Jihoon keluarkan sebagai respon.

“Lu gak mungkin ikut gue dan juga sebaliknya. Kawin lari kayak hal konyol yang pernah gue tawarkan, itu juga gak mungkin, kan? Bagaimanapun restu orangtua perlu supaya hubungan kita baik-baik aja kedepannya, Ji. Kita gak punya jalan lagi.”

Soonyoung mengeratkan dekapannya pada Jihoon yang tenggelam dalam dadanya.

“Kita sampai di sini aja, ya?”

Jihoon menarik diri dan tersenyum. Tanpa perlu drama, lelaki mungil itu mengangguk tanda persetujuan.

Dan untuk terakhir kali, Jihoon menarik wajah Soonyoung, mencumbu bibir kekasihnya sebagai bentuk salam putus hubungan.

Ya, dia sudah siap untuk hari ini. Hari dimana hubungan yang terjalin dengan penuh bayang-bayang semu harus berakhir. Beban yang sejak beberapa bulan lalu menginjak bahunya kejam tiba-tiba terangkat bebas. Menarik rengkuhannya. Ringan bagai bulu-bulu suci yang terbawa angin.

Hari ini menjadi hari baru untuk mereka menemukan cinta yang lain, yang baru, yang satu frekuensi. Mencari yang baru tanpa adanya tembok penghalang dalam kisah sekarang dan yang akan datang.

“Tetep jadi temen gue, ya, Soonyoung?”

“Pasti.”

ㅡFin.

Jihoon dan Soonyoung adalah dua anak Adam yang telah berteman semasa Sekolah Menengah Atas di kelas pertama. Sapaan singkat dan sodoran tangan atas inisiatif Soonyoung guna melakukan perkenalan pada teman baru membuat keduanya menjadi semakin dekat dan mengenali sifat satu sama lain. Menempel bagai si kembar.

Enam tahun merupakan waktu yang cukup lama mereka habiskan bersama. Saling bertukar pikiran, menguatkan jika ada yang sedang dalam mood yang tidak baik-baik saja, atau bahkan pukul-mengejek karena kebodohan kecil yang dilakukan.

Mereka dua orang yang saling mendukung satu sama lain, seperti misalnya Soonyoung yang waktu itu mengikuti lomba tarik suara nyanyian rohani yang diselenggarakan secara terbuka oleh panitia Gereja di gedung pertemuan. Di sana, ada Jihoon yang menonton dan bersorak dari tenggorokan untuknya. Atau suatu ketika Jihoon diminta untuk mengisi acara keagamaan di sekolah sebagai pembaca dalil dengan tilawah, ada Soonyoung yang memberinya usapan kepala setelah suara merdunya menutup kehangatan ayat-ayat suci.

Berbagai bentuk toleransi mereka ikat dalam satu untaian benang. Saling menghargai perbedaan.

Hingga pada akhirnya timbul suatu perasaan yang menyenangkan. Perasaan yang membuat salah satu organ tubuh melakukan pompaan teratur namun juga kencang di dada. Perasaan yang hidup damai setelah melewati hari berdua. Tak hanya salah satu, namun keduanya.

Ya, perasaan itu biasa disebut kasih sayang. Rasa mengasihi.

Di tahun ke-6 ini, Soonyoung tidak kuat terlalu lama menyembunyikan rasa yang hinggap untuk temannya itu. Makanya, Minggu malam di bulan Agustus, Soonyoung menyatakan rasa sukanya pada Jihoon yang ternyata juga menyukainya.

Soonyoung sangat senang. Perasaan itu kembali meledak-ledak setelah mereka resmi menaikkan level status mereka, dari sepasang sahabat baik menjadi sepasang kekasih.

Namun, hidup memang selalu penuh bebatuan. Bermimpi saja jika hidup hanya dilingkupi jalanan lurus beraspal sehingga kau bisa lepas tangan tanpa terjatuh ketika melewatinya.

Kebahagiaan Soonyoung meredup sesaat tepat ketika Jihoon mengingatkannya tentang kita.

Mereka, dua lelaki yang mempunyai iman dan kepercayaan yang berbeda.

Jihoon, dia seorang yang hari-harinya selalu menggerakkan badan untuk menuntaskan jumlah rakaat selama lima kali dalam sehari. Sementara Soonyoung merupakan seseorang yang beribadah dalam tangkupan tangan yang dikait di depan dada. Cara berkomunikasi pada Kuasa yang tidak serupa sudah sangat menjelaskan perbedaan yang menjadi ombak besar dihubungan mereka.

Belum pula kedua orangtua mereka yang sudah terikat kuat pada iman masing-masing. Terlebih orangtua Soonyoung, ayahnya seorang Penggiat Aktif di salah satu Gereja di Kota.

Namun bagi Soonyoung, dia percaya Tuhan menciptakan mereka selalu bersama bukan tanpa tujuan. Dia percaya akan ada akhir yang bersinar antara dirinya dan Jihoon. Urusan iman dan orangtua bisa nanti, asal dia bisa bahagia dengan sang terkasih. Setidaknya untuk sekarang.

Mereka pun juga memutuskan untuk menyembunyikan status di depan orangtua, berperilaku layaknya teman yang selalu akrab agar tidak timbul kecurigaan yang bisa saja menjadi petaka.


“Besok habis gereja mau temenin gue cari kado gak, Yang?” tanya Soonyoung hari itu saat sedang makan malam bersama.

“Boleh, buat kado ultahnya Seungcheol?”

“Iya, hehe,”

“Mau ngasih kado apa memangnya?” Jihoon masih asik mengunyah suwiran ayam pedas di dalam mulutnya.

Sebelum menjawab, Soonyoung menyeka sambal yang mengotori sudut bibir Jihoon lalu melanjutkan, “Jam tangan, sih, rencananya. Gue bingung.”

“Oh, ya bagus aja kok kalo jam tangan,” Soonyoung mengangguk setuju dan melanjutkan suapan diikuti obrolan ringan.

Hai

Aku, Kwon Soonyoung.

Seorang pria yang hidupnya selalu gagal sejak dikirimkan ke bumi. Aku tidak punya ayah maupun ibu. Mereka tidak bertanggung jawab atas lahirnya aku. Aku hidup dalam asuhan ibu panti yang bertahun selanjutnya pergi meninggalkan anak-anak malang sepertiku.

Aku, Kwon Soonyoung, hanyalah gelandangan yang hidup di jalan bersama teman-teman. Gelandangan yang hanya bekerja meminta-minta dengan rupa yang hina dan tak tahu malu untuk bertahan hidup demi sesuap nasi.

Kwon Soonyoung, lelaki menyedihkan.

Namun, suatu ketika, seorang lelaki berperawakan bak bidadara mendekatiku. Mengulas senyum mentari yang tertanam jelas dalam benakku. Ia bagai pangeran penolong yang selalu aku rapalkan dalam tangkupan kedua tangan.

Lee Jihoon namanya, pangeran berkedok malaikat tanpa sayap. Milikku.

Ia rajin sekali menemuiku di jalanan yang sering aku lewati. Ia dengan suka rela mengajakku makan bersama dan memberikan uang untukku, untuk jajan katanya. Lucu sekali.

Suatu hari, ia menyatakan kalau ia tertarik padaku. Jihoon, menyukaiku. Ya, si gelandangan buruk rupa ini mampu menarik perhatian pangeran berkuda putih seperti Jihoon.

Malaikat itu memintaku untuk ikut dengannya, hidup di bawah atap yang sama bersama. Tepat pada hari itu juga, kami memiliki ikatan sebagai sepasang kekasih atas permintaannya.

Jihoon mengubah hidupku. Hidupku yang berisi kegelapan tanpa setitik cahaya seketika dikelilingi macam sinar mentari yang terang benderang. Lelaki mungil itu selalu membawaku terbang bersamanya di atas awan. Tak pernah sekalipun ia membiarkanku jatuh diterpa angin ribut.

Dia selalu mengagumiku di depan teman-teman dan orangtuanya. Hatinya yang bersih dan suci membuatku satu juta persen nyaman atas afeksi yang ia suntikkan pada jiwaku.

Sejak aku keluar dari Rumah Sakit Jihoon tak pernah meninggalkanku. Dia selalu ada di sampingku. Membantuku mandi, menyuapiku makan, juga menenangkan emosiku. Telaten sekali.

Aku sangat dimanja dengan penuh kehati-hatian seolah-olah aku adalah guci kaca yang mudah rapuh.

Dia selalu memperlakukanku lembut dan manis, membuatku jatuh berulangkali dalam pesonanya.

Lee Jihoon, pangeran dan malaikatku.

Kau priaku, Sayang.

Beruntungnya aku mendapat cinta dan setiamu diantara miliaran anak Adam yang hidup di atas permukaan tanah. Beruntungnya aku menjadi saksi dari satu perempat hidupmu yang kini meninggalkanku seorang diri.

Jihoon, tugas muliamu untukku telah selesai. Waktumu untukku telah kau gunakan dengan sangat sempurna. Dan sekarang dunia kita telah berbeda. Kau telah kembali ke pelukan Sang Pemilik Nyawa, menerima beribu hadiah atas kesukesanmu di bumi.

Nikmatilah indahnya peraduan yang Dia janjikan untukmu. Istana yang dikelilingi sungai dan pepohonan penuh buah.

Hiduplah dengan tenang dan damai karena aku juga akan melakukan hal yang sama, untukmu. Aku tahu kau akan mengawasiku dan akan marah jika aku tidak sembuh seperti harapmu.

Sayang, aku tak akan pernah bisa melihatmu secara nyata lagi, tapi aku yakin keabadian cintamu akan terus melekat dalam jantungku. Rasa itu masih jelas aku rasakan, sentuhanmu, suaramu, dan cumbumu.

Jihoon, malaikatku, ingatlah cintaku juga, ya? Aku akan menjaga cinta kita, menjadikannya sebagai sejarah yang hanya kita berdua yang tahu. Merekatkannya dalam akal pikiran yang tak akan aku biarkan memudar.

Ah, aku lupa. Kau sekarang telah menjadi suamiku. Kau bangga padaku kan, Sayang?

Aku juga. Aku bangga pada diriku.

Tapi maaf, aku menangis. Aku tidak kuat tanpamu, Sayang.

Hm, aku rasa ini sudah terlalu panjang haha

Lee Jihoon, terima kasih untuk semuanya. Kau merawatku dengan sempurnamu, tanpa cela. Aku akan merindu sentuhan-sentuhanmu.

Aku berjanji akan hidup dengan layak. Aku berjanji akan sembuh dari trauma ini. Aku berjanji untuk memenuhi semua janji yang pernah kukatakan padamu dan hidup bahagia.

Doakan aku.

Satu lagi, aku janji akan selalu hadir menjengukmu setiap hari. Aku merindukanmu.

Jihoon, tunggu aku, Sayang. Jemput dan genggamlah kembali tanganku dalam hangatnya kepalmu.

Aku menantimu disini, Suamiku.

ㅡFin.

Jum'at, 19 Oktober 2019

Harusnya menjadi hari paling bahagia untuk sepasang kekasih yang telah menjalin asmara selama lima tahun penuh. Tanpa kendala, tanpa kekangan.

Harusnya menjadi hari yang hanya terselimuti tangis bahagia karena mereka resmi berganti status.

Harusnya.

Namun, kenyataan berbanding terbalik dari semua impian yang terangkai apik. Soonyoung di haruskan bangun dari indahnya alam tidur.

Pahit, sepertinya memang Tuhan enggan memberikan kebahagiaan kepada Soonyoung.

Mungkin kalimat itu benar, Tuhan membencinya.

Tepat kemarin usai mengecek keperluan untuk pernikahan, taksi yang ditumpangi Jihoon mengalami kecelakaan beruntun yang disebabkan karena keteledoran pengemudi mobil lain.

Tragis, lelaki itu dikabarkan tak bernyawa ketika mobil ambulan sedang dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit akibat kehabisan darah dan tipisnya pasokan oksigen dalam paru sejak kecelakaan terjadi.

Soonyoung yang menanti di apartemen ditemukan Jeonghan tak sadarkan diri ketika menerima telepon dari pihak berwajib.

Dan di tanggal ini, di dalam ruangan suci yang sudah di dekorasi sedemikian cantik memiliki peran tidak seindah impian Soonyoung sebelumnya. Tiada ukiran senyum yang sudah ia latih sedari hari sebelumnya. Tiada ciuman manis yang Jihoon sapu diatas bibirnya. Tiada tepukan dan ucapan selamat dari rekan-rekan terdekatnya.

Satu yang tergambarkan hanyalah kedukaan.

Soonyoung dan Jihoon tetap melakukan pernikahan skral. Lebih tepatnya, Soonyoung dalam keadaan pucat pasi dan kacau menikahi tubuh kaku Jihoon. Tubuh tenang yang telah dibalut tuksedo di dalam sebuah peti. Merealisasikan keinginan Jihoon untuk terikat dengannya.

Lelaki bermata sipit itu dengan lantang mengucap janji suci di hadapan Penggenggam Takdir yang pula disaksikan oleh beberapa tamu. Suara Soonyoung menggema tegas dan pasti hingga mencapai akhir sumpah. Lalu ketika Soonyoung tiba di ujung pengucapan, ia menangis.

Kepalanya tertunduk. Tubuhnya bergetar. Tangannya ia remas demi bisa menetralkan perasaan yang hancur berantakan. Suaranya terdengar pilu.

Soonyoung sadar, ia tak sekuat itu.

Soonyoung kehilangan kekasihnya. Soonyoung kehilangan penyemangat hidupnya. Soonyoung kehilangan sumber kebahagiaannya. Soonyoung kehilangan malaikatnya.

Rekan yang hadir menatap sendu dan ikut meneteskan air mata menyaksikan takdir mereka yang penuh liku. Keheningan gereja membuat siapa saja mampu mendengar senggukan Soonyoung yang menyakitkan.

Soonyoung memutar kursi rodanya menghadap jasad Jihoon. Ia tersenyum dalam tangis sebelum merendahkan tubuhnya dibantu Mingyu.

“Jihoon, kita telah resmi menikah seperti keinginanmu, Sayang. Aku suamimu dan kau suamiku sekarang. Kau senang kan?” Soonyoung mengelus wajah damai Jihoon. Seulas senyum tercetak diwajah itu sejak awal. Baginya, Jihoon masih terlihat tampan walaupun wajah itu didominasi kepucatan.

Soonyoung mengelus cincin yang melingkar di jari manis Jihoon lalu mengecupnya sayang.

Jika hidup adalah cerita seperti di negeri dongeng, maka Soonyoung ingin bermain peran seperti dalam kisah Snow White yang bisa membangunkan pangerannya dengan sebuah ciuman tulus.

Sayang, hidup tetaplah hidup. Bukanlah sebuah dongeng yang selalu berakhir bahagia dan membuat para penikmat lega atas akhir kisah cinta mereka.

Usai menggelar pernikahan sepihak itu, jasad tak bernyawa Jihoon dikebumikan tak jauh dari tempat diselenggarakannya pernikahan.

Soonyoung mengantar sang terkasih ke tempat peristirahatan terakhir sambil membawa bingkai foto Jihoon dalam dekapan. Mata bengkaknya tak lepas dari setiap proses pemakaman itu. Ia benar-benar menyaksikan semuanya hingga tumpukan tanah tuntas mengubur peti putih tersebut.

Di sebelah liang lahat Jihoon, Soonyoung telah memesan satu lahan untuknya kelak. Ia ingin mati bersanding dengan Jihoon, pangeran hatinya. Setidaknya, ini cita-cita terakhirnya.

“Jihoon, suamiku, aku akan hidup baik untukmu. Aku akan menanti giliranku dan kita bertemu lagi. Aku berjanji.

Jihoon, aku mencintaimu.”

ㅡFin.