jagiyamwohae

Lee Jihoon/Kwon Soonyoung | 2,8k words | Mature, Smut | Top; Jihoon – Bottom; Soonyoung | ⚠️ Cheating!!! Please read at your own risk!

Cinta itu buta. Satu kalimat familiar yang berisi tiga suku kata dan mempunyai tingkat persentase tinggi akan kebenaran dibalik beribu maksud terukir dari berbagai sudut.

Kalimat itu bisa dibilang cocok disematkan untuk Jihoon, laki-laki yang menaruh seluruh hatinya untuk sang terkasih yang beberapa bulan ini diketahui tengah mendua. Sayangnya, pria ini terlalu bodoh untuk menuding perselingkuhan yang dilakukan Soonyoung. Bukti-bukti sudah sangat jelas terpapar di pesan masuk e-mail, mulai dari foto yang berpelukan, belah dua bibir yang saling bercumbu, hingga yang lebih parahnya lagi aktivitas penyatuan tubuh juga terpotret jelas di dalam arsip.

Bukan maksud menguntit, namun Jihoon hanya sedikit menemukan gelagat tidak biasa yang ia temui dari diri Soonyoung sehingga meminta oranglain untuk mencari tau tentangnya adalah jalan yang Jihoon pilih.

Benar saja, lelakinya mempunyai sosok lain selain dirinya.

Melalui banyaknya bukti tersebut, Jihoon tidak cukup kuat meledakkan sejumlah kecewa yang menggerogoti perasaannya. Satu ruang dalam hati dan pikirnya menyangkal kalau Soonyoung benar-benar melangkah sejauh itu sebab yang Jihoon ingat-ingat selama ini hanya ada kebahagiaan antara keduanya selama hidup bersama tiga tahun lamanya. Soonyoung masih selalu membanjirinya kata-kata cinta yang tak pernah gagal membuat jantungnya berdegup senang, mencium lembut bibirnya ketika bermanja, dan melayaninya jika mereka sama-sama butuh menuntaskan keinginan seksual.

Kepercayaannya kepada Soonyoung sudah di atas segalanya, namun perlahan ini terkikis. Semakin menyadari fakta kalau Soonyoung mempunyai hati yang baru, pemikiran ini dengan mudahnya mengganggu sistem kerja otaknya. Insekuritas yang hampir tidak pernah aktif dalam hidupnya, lambat laun menjangkau isi kotak kepalanya. Jihoon tahu siapa lelaki itu. Dia lelaki tampan berproporsi tubuh tinggi dan menarik.

Aku gak cukup buat kamu, ya, Soonyoung? Atau aku ada kesalahan fatal yang akhirnya ngebuat kamu memilih main belakang sama Mingyu? Atau kamu udah gak sayang lagi?

Pemikiran-pemikiran yang terjun bebas di pola pikirnya semakin menjadi-jadi setiap harinya selama seminggu ini. Mungkin kalian akan bertanya-tanya kenapa Jihoon terlalu berani menyiksa dan menyimpan semuanya sendiri. Dia hanya tidak mau terlalu gegabah dalam mengambil keputusan, dia akan menunggu sampai waktunya Soonyoung berbicara sendiri, jika dia cukup kuat bertahan. Atau kalau perlu sampai Soonyoung lelah dengan Mingyu—yang Jihoon anggap sebagai teman sepermainan Soonyoung saja. Bagaimanapun juga Soonyoung itu sudah menjadi miliknya secara utuh.

“Sayang, maaf, ya lama?” ujar Soonyoung tepat ketika dia masuk ke dalam mobil Jihoon yang sore itu menjemputnya di Dance Center. Jihoon membalasnya dengan senyum maklum.

“Cium?” Soonyoung menarik wajah Jihoon mendekat untuk menggapai bibirnya. Kecupan singkat itu sukses membuat Jihoon melebarkan garis senyumnya. “Kamu sudah makan?”

“Sudah, tadi Mingyu bawa makanan untuk anak-anak, hehe,” Oh. Tangan Soonyoung mengusap dagu Jihoon yang sejak tadi bertengger di sana. “Kamu belum makan, ya?”

“Belum, temenin makan, ya?”

“Mau makan di tempat?” Jihoon mengangguk menanggapi. “Bawa pulang aja, ya, Sayang?”

“Kenapa, hm? Kamu capek, ya?”

“Nggak, sih, cuma lagi pengen...” Jihoon menaikkan alisnya bingung, “...pengen kamu, Ji.” Suara rendah dan manja menjadi kebiasaan Soonyoung ketika ia lagi ingin bermain ranjang. Jihoon lupa, sudah di atas dua minggu mereka tidak melakukan itu kalau diingat-ingat.

“Tumben?” Yang akan menyetir mobil memiringkan tubuhnya menghadap tersayang.

“Kamu gak kangen aku? Udah dua minggu lebih kita gak main...”

But you had sex with Mingyu, babe...

“Maaf, ya aku sibuk jadi gak bisa manjain kamu,” Jihoon menghela napas di akhir kalimat. Tanpa Soonyoung ketahui, hembusan karbondioksida itu menyimpan beban yang memberatkan kedua bahunya.

No, don’t be sorry...” ujarnya lirih. Soonyoung meninggikan badannya dan memeluk Jihoon erat. Kecupan kupu-kupu juga pria itu layangkan di atas permukaan kulit leher sebagai upaya informasi kalau ia baik-baik saja. “Selama ada kamu, aku baik-baik aja, Ji.”

“Soonyoung,” satu deham Soonyoung suarakan. “I love you.

“Aku juga, Sayang.”


Soonyoung menunggu Jihoon yang masih berberes bekas makan malam di kamar tidur mereka. Jari-jari gemuknya berselancar di atas layar ponsel, sesekali terkikik geli akibat balon percakapan yang muncul di room chat benda persegi itu.

“Ngetawain apa, sih?” Jihoon merebahkan diri di samping Soonyoung dengan ponsel yang juga tergenggam di tangannya.

“Gak ada, ini anak-anak dance berisik banget, mana lempar-lemparan meme, haha,” Jihoon hanya mendengarkan penuturan itu dan ikut fokus ke benda pipih milik sendiri. Kedua jempolnya sibuk mengetik balasan teman seperkantorannya yang masih bahas-membahas mengenai kerjaan hari Senin besok.

Terlalu mendalami pekerjaan, Jihoon tidak sadar kalau Soonyoung sejak menit-menit lalu meletakkan ponselnya dibalik bantal dan mendaratkan tatapannya ke pihak dominan. Yang lebih tua akhirnya sedikit mendusel ke pundak, mengirim sinyal-sinyal mesra agar kekasihnya beralih fokus padanya.

Menyerah, Soonyoung akhirnya lebih dulu memanggil, “Sayang...” Tak ada reaksi yang diharapkan, Soonyoung semakin melengkungkan bibirnya kebawah, kesal. “Jihoon, ayo...” Intonasi rendah dengan taraf keinginan di atas rata-rata Soonyoung membuat Jihoon tersenyum geli. Jika boleh jujur, ia suka ketika lelaki itu merengek bak anak kecil padanya. Menggemaskan.

“Hm...” Jihoon berdehem, masih enggan menanggapi Soonyoung.

“Sayang, Jihoon, ayo...I want you...

Terlanjur kesal, Soonyoung merampas ponsel Jihoon dan menyembunyikannya bersamaan dengan alat komunikasinya sendiri. Jihoon mendecak.

“Kamu mau apa, hm?”

Suck you off,” kekeh Soonyoung.

No, babe...” untuk pertama kalinya, Jihoon menolak dan membuat Soonyoung muram. Baru akan memprotes, Jihoon melanjutkan kalimatnya, “Let me do it for you, yeah?”

You blow me?” Jihoon mengecup kening Soonyoung dan mengangguk.

Pria kelahiran Juni itu mengembangkan senyumnya bagai burung yang mengepakkan sayapnya lebar. Tanpa membuang waktu lebih lama, Soonyoung menarik Jihoon masuk ke dalam pagutan mulut secara penuh, memberi kode kepada lelakinya untuk menanjak naik ke atas tubuhnya.

Jihoon memperdalam ciuman di tengah kukungan kedua lengan kokohnya yang beristirahat di sisi kepala Soonyoung, sementara taruna di bawahnya melingkarkan lengan di leher. Jika Jihoon diminta untuk mendeskripsikan satu hal yang disukai tentang Soonyoung, hal pertama yang ia tulis dalam bentuk esai panjang adalah ranumnya. Jihoon sangat menyukai bagaimana benda lunak Soonyoung terbentuk. Bibir itu lembut, hangat, manis, dan selalu membuat candu, menagih untuk dilalap.

Soonyoung mendesis ketika pagutan itu berpindah haluan menjadi tempo terburu-buru. Jihoon menggigit bibir bawahnya meminta akses masuk daging tak bertulangnya untuk berjelajah sekaligus menghilangkan jejak-jejak Mingyu yang pernah mampir di sana. Dasar Jihoon bodoh, karena pikirannya sendiri, rematan di hatinya kembali terasa.

Jihoon menjauh, deru napas yang berpacu saling bertiup menyapu wajah antar satu sama lain. Soonyoung masih memamerkan senyum dan tatapan sayang terbaiknya untuk Jihoon di tengah raupan banyaknya oksigen untuk rongga parunya. “Sayang kamu, Ji...”

Runtuh.

Katakan Jihoon lemah, hanya dengan kalimat sayang, Jihoon kembali menurunkan tubuhnya. Bibir keduanya kembali beradu. Pusat tubuhnya ia ayunkan ke lawan menyebabkan Soonyoung mendesah frustasi. Menit selanjutnya fabrik-fabrik yang membungkus pun ikut tertarik melalui perpotongan, tumpukan kain itu mereka buang ke sembarang arah hingga satu helai benang pun rasanya malu kalau masih singgah di atas kulit.

“Ah—” Soonyoung kembali menyuarakan lenguhan yang membangkitkan nafsu Jihoon ke level selanjutnya. Mulut Jihoon menghisap kuat leher Soonyoung ketika netranya berhasil menemukan bekas kemerahan yang sedikit pudar di permukaan kulit yang bukan darinya.

“Bekas Mingyu, ya...” bisik Jihoon sambil mengusap bekas cetakannya. Laju jantung Soonyoung seketika berpacu dan tubuhnya membeku usai mendengar bisikan lirih Jihoon yang sampai ke rungu.

“J-Jihoon, a—!” Belum sempat Soonyoung menyelesaikan kalimat, lembut ranum Jihoon turun ke dada, mendistraksi penjelasan yang akan lelaki itu tuturkan. Lidahnya ia mainkan di sekitar areola kiri Soonyoung, gigi-giginya pun ikut mencecap puting susunya yang mengeras.

Soonyoung menggerung, menikmati setiap sentuhan-sentuhan tangan Jihoon yang bergerilya di permukaan sampul tereksposnya.

Saat bercinta, Jihoon mendamba tarian Soonyoung. Dadanya akan membusung indah di udara, suaranya bagai petikan harpa yang mengalun di indera dengarnya, dan terakhir air mukanya yang selalu menunjukkan titik kepuasan.

Kecupan-kecupan Jihoon semakin turun ke badan telanjang Soonyoung. Ketika tiba di depan pusat selatannya, Jihoon kembali menerbangkan ciuman-ciuman di atas permukaan berurat itu, menimbulkan geru si lelaki sipit bagai harimau kelaparan.

“Jihoon...y-your mouth p-please,” Jihoon terkekeh di tempatnya, dan masih belum mau mengisap benda kemerahan Soonyoung. “Sayang,....please.”

Seolah tuli, Jihoon menjilat paha dan berjalan ke alat kelamin Soonyoung bagai menikmati es krim manis kesukaannya. Soonyoung melempar kepalanya ke belakang akan sensasi yang ditimbulkan Jihoon, mengekspos leher berkeringat serta urat keunguan yang membuatnya terlihat semakin seksi.

Beg for me as you begged for Mingyu to have sex with,” pinta Jihoon sarkastik. Pada dasarnya permintaan barusan membentangkan emosinya. Bagaimana bisa Soonyoung meminta dimanjakan dengan pria lain sementara dia bisa memberikan lebih? Apa yang kurang?

Soonyoung menatap Jihoon yang menghentikan kegiatannya dan juga melayangkan mata ke arahnya. Bagai dihimpit bebatuan keras, dada Soonyoung terasa nyeri. Kalimat Jihoon bagai boomerang yang menghajar kuat sistem kerja organ jantungnya.

“Jihoon...kita bicara, ya?”

“Nanti. Kamu tadi bilang mau aku, ayo ngemis sekarang, Soonyoung,” tutur Jihoon lembut. Susah payah Soonyoung menegak air liurnya yang menggantung di kerongkongan keringnya. Perasaan bersalah kian meliputi seluruh tubuhnya. Nafsu yang menggebu sejak awal lambat laun memudar. “Ayo, Sayang, aku mau dengar.”

P-please, wrap up my cock inside of your warm and sweet c-cavern, spoil my boner, and make me groan, b-baby...”

You begged him like that?” Jihoon menggenggam buah zakar Soonyoung satu tangan penuh. Benda itu ia pompa ke atas dan ke bawah dengan telaten dan pelan, membuat Soonyoung meringis frustasi.

“N-nggak, cuma untuk kamu, Say—ah!” Kepala Soonyoung terlempar lagi ke kanan menikmati euforia hisapan seduktif Jihoon atas puncak kemaluannya. Sedotannya kuat seperti sedang menyedot boba yang tersangkut di dalam sedotan. Pipi gembul Jihoon pun ikut mencekung karena hisapannya sendiri. Soonyoung benar-benar berteriak kencang dari dasar tenggorokan. Sudah berulang kali kegiatan penyatuan tubuh yang keduanya lakukan, namun bagi Soonyoung seks kali ini jauh berbeda, seperti ada faktor lain yang melatarbelakangi.

Namun sekian sekon berikutnya, Soonyoung tersadar, Jihoon telah mengetahui semuanya. Lalu, apakah seks malam ini termasuk hukuman dari Jihoon?

Mulut Jihoon membungkus hingga ke pangkal bawah penis, menabrak dinding ujung rongga mulutnya dan menimbulkan getaran-getaran halus menyenangkan. Soonyoung bisa merasakan hasil pompaan mulut Jihoon tengah menuju jalan keluar. Dan tau spermanya akan membanjiri mulutnya secara total, Jihoon pun melepas kulumannya.

What the fuck, Ji?” Jihoon tertawa renyah di depan Soonyoung. Soonyoung yang pada saat itu siap menembakkan mani mau tak mau menahannya kembali sebab jari cantik Jihoon menutup lubang kencingnya. Wajah Soonyoung berantakan. Gurat kesalnya tercetak jelas di permukaan kulit.

Sebelah tangan Jihoon menarik Soonyoung untuk duduk bersandar pada kepala ranjang. Lelaki itu duduk di atas paha Soonyoung lalu melepas jarinya membiarkan cairan putih Soonyoung membasahi kedua tubuh mereka yang berhimpit. Tangan Soonyoung ia layangkan ke udara dan menguncinya dengan satu genggaman. Agar sperma Soonyoung cepat menemukan jalan keluar, Jihoon menekan kejantanan tak tersentuhnya ke milik lawan sambil kembali memagut bibir Soonyoung. Ciuman berantakan yang hanya dikobarkan berjuta nafsu. Cahaya mata Soonyoung ikut berkilat meminta lebih.

Hng—did Mingyu grind hard on yours too?”

No...Mingyu just fuck m—ah,” Jihoon mengayunkan kuat selangkangannya sekaligus menggigit kuat leher Soonyoung. Jihoon marah. Jihoon benci. Tidak suka karena harus mendengar kalimat tak selesai Soonyoung. Jihoon kesal menyadari sebuah fakta kalau benar, Soonyoung pernah bersetubuh dengan selain dirinya di tengah hubungan mereka yang sudah resmi menjadi sepasang suami.

Cincin yang tersemat di jari manisnya bagai tiada arti seperti janji yang pernah mereka lafalkan di depan Maha Cinta dengan intonasi tegas dan suasana penuh haru. Kemana semua sumpah itu berkelana. Tidak seharusnya hal ini terjadi, sebab bagaimanapun aksi nyata atas semua janji harus tersemat kekal abadi sekalipun nyawa telah berpindah dunia.

Soonyoung semakin bersalah pada Jihoon, tidak seharusnya dia menyebut nama pria lain, lebih-lebih hampir menjelaskan kegiatan tak senonoh yang pernah ia lakukan di belakang lelaki sehidup sematinya.

Jihoon kembali membawa bibir Soonyoung dalam ciuman lembut. Permukaan empuk itu dia kulum berulang kali. Kedua pipi Soonyoung ia tangkup dalam mekaran telapak tangan dengan sesekali mengusap kulitnya yang semurni sutera. Secercah rasa takut menghampiri jikalau pahatan indah Soonyoung hancur karena cumbuan kasar akibat amarah yang telah mendidih di puncak kepalanya lebih banyak mendominasi. Jihoon selalu mengibaratkan sosok Soonyoung sebagai satu gelembung sabun yang mudah pecah dalam satu sentuhan tajam. Maka, kecupan ringanlah yang bisa dia bagi. Kecupan yang mampu membuai Soonyoung hingga ia hampir jatuh terlelap.

Afeksi terlampau damai yang diberikan Jihoon mencubit kalbu. Bayangan akan dirinya berada di posisi Jihoon membuat Soonyoung hampir menitikkan tangis. Bagaimana bisa suaminya ini menahan amarah, menahan kecewa atas semua permainannya yang baru dia sadari menjijikan itu. Jika Soonyoung adalah Jihoon, dia tidak akan sudi memperlakukannya sebaik suaminya ini.

Lumatan itu terputus disusul Jihoon yang menyandarkan keningnya pada sang suami. “Mau lanjut?” tanya Jihoon pelan.

“Hm, mau, kamu belum keluar...” kekehan kecil kembali Jihoon tujukan untuk Soonyoung. “Aku harus prepare dulu, gak?”

“Iya, tapi kamu prepare sendiri, ya? Aku liatin aja.”

“Sayang...” Jihoon menggeleng. Ia tau Soonyoung akan menolak sebab lelaki itu tidak pernah suka jika harus melonggarkan diri seorang diri. Malu lebih tepatnya.

Soonyoung mengusap wajah sebelum membuka lebar paha dan menyandarkan punggung diatas tumpukan bantal. Jihoon sudah lebih dulu mundur dan duduk diam di depan Soonyoung yang mulai menenggelamkan kedua jarinya sekaligus ke dalam wadah berkerut. Lelaki itu mulai menggerakkan jemarinya keluar-masuk bersamaan dengan geraman lirih dari belah ranum Soonyoung yang terbuka.

Look at me, babe.” titah Jihoon. Setelah itu, Soonyoung secara lurus menembakkan tatapan sensualnya ke arah terkasih. Bisa dia lihat, Jihoon tak henti menyaksikan kegiatannya. Hawa panas kemerahan di kedua pipinya semakin menjadi, tatapan Jihoon seolah berkata bahwa lelaki itu siap menghancurkan dirinya kapanpun di bawah sana.

D-done...”

No, keep fingering yourself, Sweetheart...”

Panggilan itu, untuk pertama kalinya didengar dari Jihoon. Panggilan itu pernah Mingyu lontarkan ketika bercinta dengannya. Sembari melebarkan analnya, Soonyoung meneguk salivanya gugup. Hatinya berantakan atas semua yang terjadi malam ini.

Jihoon merangkak mendekati Soonyoung tanpa enggan memutus tali yang terikat antara keempat mata yang saling menatap. “Apa Mingyu juga ngeliat kamu kayak gini?” Soonyoung memejamkan matanya erat. Telinganya berdengung perih jika harus mendengar suara Jihoon yang menyebut nama Mingyu, terlebih sang pihak dominan berujar sehalus mungkin, tidak ada ledakan amarah tersimpan. Tetapi, bukan berarti Soonyoung akan aman nantinya. Justru dengan melihat Jihoon yang masih mengobarkan kasih sayang membuatnya takut.

Tepat ketika Jihoon di depan pahanya, Soonyoung terlonjak kaget. Dua jari Jihoon ikut masuk ke dalam anusnya, sehingga total jari yang tersedot ada empat.

Soonyoung mengeluarkan erangan-erangan berisik dalam kamar tersebut. Tak sekalipun bibir itu terlewat untuk menyebutkan nama Jihoon berkali-kali.

Menit kembali berputar. Pria kelahiran November itu mengeluarkan jemarinya serta punya Soonyoung, menyisakan lenguhan lega. Cukup.

Jihoon kembali mendekati Soonyoung, memusatkan kepala organ seksualnya ke pintu masuk. “Soonyoung,”

“Hm?”

You know I love you, right?”

You always love me, don’t y—oh fuck!” Jihoon lagi-lagi membuat Soonyoung memutus sambungan perkataannya. Ia mendorong penisnya dalam sekali sentakan, langsung menyenggol titik sensitif Soonyoung.

Jihoon bergerak hati-hati usai menerima konsen dari pihak lawan.

Aktivitas sanggama yang dilakukan kedua pria itu telah berlangsung selama puluhan menit. Banyak penetrasi yang dikerahkan Jihoon menggunakan seluruh tenaganya. Kalau biasanya Jihoon bermain cepat dan kasar, untuk kali ini sang dominan memilih untuk menggerakkan pinggulnya dalam ritme dan tempo sedang. Ia ingin membuat Soonyoung mabuk kepayang atas dorongan lembut berulang yang ia tumbuk. Ia ingin membuat Soonyoung mengingat malam ini, di mana Jihoon menumpahkan seluruh perasaannya pada pemilik total hatinya.

Sang taruna kecil menjatuhkan keningnya di pundak Soonyoung, mendekatkan rungunya ke bibir Soonyoung agar suara rengekan Soonyoung terkunci erat dalam otaknya. Ia suka, sangat menyukai ringisan indah Soonyoung. Berirama dan adiktif.

“A-ah, Jihoon... feels so good, Sayang...”

“Kamu harus inget malam ini, Soonyoung, hm...” Tepukan antar kulit semakin menderu disela-sela keluhan nikmat kedua lelaki itu.

“Ugh—pasti... Jihoon...”

“Keluarkan, sayang,”

“J-Jihoon, I am all yours—ah!” Teriakan Soonyoung menjadi puncak pelepasan terbaik yang pernah Soonyoung alami. Orgasmenya lepas banyak dan membasahi daerah pusat satu sama lain.

Terakhir tinggal menunggu pencapaian Jihoon yang masih berkedut mengeras dan siap meledak di dalam Soonyoung. Tak ada siapapun yang tahu, Soonyoung mengantisipasi benih kekasihnya tumpah di dalam, membasahi seluruh organ internalnya penuh, lalu bercucuran keluar.

C-come, babe...”


Soonyoung terbangun dari lelap karena bias cahaya yang menyeruak masuk dan hanya menemukan keheningan dari sisi ranjang. Ia bangun untuk mencari Jihoon, namun isi apartemennya terdengar sangat sepi dan kosong. Langkahnya dia derapkan ke kamar mandi, tidak ada. Ini hari Minggu dan tidak seharusnya Jihoon pergi bekerja.

“Sayang?”

Lelaki itu mencoba menelepon sang suami yang entah berada dimana, sayangnya tidak ada sambungan. Ia mengernyit bingung. Sambil berusaha menghubungi Jihoon, Soonyoung beranjak pergi ke dapur guna menyiram tekaknya yang kering.

Belum sempat mengambil air dari dalam kulkas, mata beningnya menangkap meja makan yang sudah siap sepiring sandwich dan susu cokelat hangat. Soonyoung mendekat, di dekat piring ada surat yang terlipat.

Soonyoung, jangan cari aku, ya, Sayang. Aku mau nenangin diri dulu, aku janji bakalan pulang. Sayang kamu, Soonyoung.

ㅡ Yours only, Jihoon.

Dan pagi itu Soonyoung bisa merangkum dan menyimpulkan titik-titik dibenaknya : Jihoon pergi meninggalkannya atas luka tak sengaja yang dia gores pada suaminya. Tanpa kata maaf, tanpa penjelasan.

Usai pelepasan semalam, Soonyoung langsung menjemput mimpi, lupa terhadap penjelasan yang wajib dia utarakan. Sebelum benar-benar terlelap, Soonyoung juga sempat mendengar bisikan, “Jaga diri baik-baik, Sayang.”

Jika Soonyoung tau malam itu menjadi malam terakhir untuk pertemuan mereka, dia bersumpah tidak akan terlelap agar bisa mencegahnya pergi. Dia juga akan berlutut meminta maaf sampai Jihoon mau merengkuhnya lagi.

Tapi, terlambat.

Dan sejak pagi itu juga, Soonyoung mengunci dirinya di dalam kamar, menangis sesenggukan penuh sesal sambil berulangkali memanggil nama Jihoon dan satu kata maaf. Gelembung-gelembung untaian cinta pun menjadi pesan tak terbaca, apalagi terbalas.

“Aku harap kamu pulang tanpa surat gugatan cerai untukku, Sayang.”

—Fin.

Mereka akhirnya memilih.

Malam itu, hari dimana Ibu Jihoon mengirim pesan terkait hubungannya dengan Soonyoung, sang wanita yang telah melahirkannya masuk ke dalam kamar.

Wajah yang menandakan gurat lelah itu tersenyum hangat dan mendekati si kesayangan semata wayang.

Ibu, sosok yang selalu menjadi role model Jihoon memeluknya erat dan bertanya mengenai kelanjutan kisahnya dengan Soonyoung, lelaki yang sukses membungkus hatinya dengan sejuta dambaan kasih sayang.

Dia membalas dekapan hangat itu diikuti senyuman miris. Tanpa ragu, tanpa cacat Jihoon mengatakan, “Jihoon sudah putus, Bu, maaf ya.”

Hanya sebuah kebohongan yang bisa Jihoon gelarkan untuk wanita renta yang kemudian menepuk bangga pundak sang anak. Dalam hati memohon ampun pada Yang Maha Tahu karena rasa cinta yang dia punya untuk Soonyoung berhasil mengelabui Ibu.


Hari terus berlanjut. Hubungan Jihoon dan Soonyoung semakin kuat pula. Keduanya masih sering bertemu untuk sekadar melepas rindu, memadu kasih jauh di hamparan tanah yang terbentang dari jangkauan keluarga. Tersembunyi. Berhati-hati.

Tujuh bulan waktu yang mereka habiskan. Berdua melakukan banyak hal bersama dengan rasa senang yang meletup dalam dada seolah benteng yang diam-diam menghalangi hubungan mereka tidak pernah ada. Mereka lupa jika sebuah sebutan bernama Iman menghalangi masa depan mereka. Masa depan yang penuh balon-balon hati transparan dalam angan.

Siapa yang tahu kalau sebenarnya Jihoon dan Soonyoung cukup stres memikirkan perbedaan yang mengikat mereka. Hanya saja, tidak disuarakan.

Satu yang pasti, tiada yang bisa mengalah sebab hati telah terikat dengan Sang Maha Cinta, yang pula menghidupkan rasa suka di dalam hati. Mereka tidak bisa semudah itu mengalah pada keyakinan mereka.

Belum pula bagi Jihoon. Ibunya pernah membisikkan sesuatu padanya,

Ibu gak ngelarang kamu, Nak. Kamu berhak bahagia atas pilihanmu sendiri, ibu juga senang liat kamu bahagia. Tapi jika pasanganmu beda iman itu sulit, Jihoon. Iya, kalo kamu yang terpaksa memilih, kalo Nak Soonyoung? Apa kamu tega memisahkan dia sama Tuhan-nya yang udah menjaga dia jika seandainya dia yang harus memilih?

Kalimat penuh kebenaran. Apa yang Ibunya terangkan tidak ada satu pun kesalahan. Tepat.

Kalimat itu terus melekat dalam kepalanya bagai pengingat kalau dia dan Soonyoung hanya punya satu jalan buntu.

Tiap malam, Jihoon selalu menyempatkan sembahyang meminta petunjuk. Namun, semua yang ia terima hanya warna abu yang semakin menggelap rumit. Cahaya yang diharapkan seolah enggan menggedor pikirannya yang temaram.

Haruskah dia menyerah? Menyerah dalam artian mundur dari Soonyoung dan kembali pada Semesta?

Adapula dari sisi Soonyoung, dia pernah bertanya pada keluarga saat perayaan Natal.

“Ayah, Ibu, kalo misal Soonyoung punya pacar tapi non-Nasrani, gimana? Hehe,”

Tipe seorang Kwon Soonyoung, menyelipkan candaan agar suasana tidak terlalu tegang di hari penuh keberkatan.

Respon yang sesuai dengan imajinya, “Ya kalo pacaran aja gak papa, asal gak sampai menikah. Ayah gak mau salah satu di antara kalian ada yang pindah keyakinan, jadi lebih baik pasanganmu yang seiman, Soonyoung.”

Cengiran kaku pada bibir Soonyoung pertanda bahwa hatinya terluka seperti ada yang menghimpit kuat relung jantungnya.

Tidak puas dengan satu jawaban, Soonyoung akhirnya berkonsultasi pada Penasehat Gereja tempatnya beribadah. Berbagai masukan dari Pak Choi ikut merekat dalam kepalanya.

“Dipertimbangkan baik-baik, ya Soonyoung.”


“Jihoon, hampir tiga tahun kita punya status lain sebagai temen, kita sudah diskusi banyak tentang kedepannya, sudah sama-sama pertimbangin ini dan itu. Dan sampai sekarang belum ada titik terang,” helaan napas Jihoon keluarkan sebagai respon.

“Lu gak mungkin ikut gue dan juga sebaliknya. Kawin lari kayak hal konyol yang pernah gue tawarkan, itu juga gak mungkin, kan? Bagaimanapun restu orangtua perlu supaya hubungan kita baik-baik aja kedepannya, Ji. Kita gak punya jalan lagi.”

Soonyoung mengeratkan dekapannya pada Jihoon yang tenggelam dalam dadanya.

“Kita sampai di sini aja, ya?”

Jihoon menarik diri dan tersenyum. Tanpa perlu drama, lelaki mungil itu mengangguk tanda persetujuan.

Dan untuk terakhir kali, Jihoon menarik wajah Soonyoung, mencumbu bibir kekasihnya sebagai bentuk salam putus hubungan.

Ya, dia sudah siap untuk hari ini. Hari dimana hubungan yang terjalin dengan penuh bayang-bayang semu harus berakhir. Beban yang sejak beberapa bulan lalu menginjak bahunya kejam tiba-tiba terangkat bebas. Menarik rengkuhannya. Ringan bagai bulu-bulu suci yang terbawa angin.

Hari ini menjadi hari baru untuk mereka menemukan cinta yang lain, yang baru, yang satu frekuensi. Mencari yang baru tanpa adanya tembok penghalang dalam kisah sekarang dan yang akan datang.

“Tetep jadi temen gue, ya, Soonyoung?”

“Pasti.”

ㅡFin.

Jihoon dan Soonyoung adalah dua anak Adam yang telah berteman semasa Sekolah Menengah Atas di kelas pertama. Sapaan singkat dan sodoran tangan atas inisiatif Soonyoung guna melakukan perkenalan pada teman baru membuat keduanya menjadi semakin dekat dan mengenali sifat satu sama lain. Menempel bagai si kembar.

Enam tahun merupakan waktu yang cukup lama mereka habiskan bersama. Saling bertukar pikiran, menguatkan jika ada yang sedang dalam mood yang tidak baik-baik saja, atau bahkan pukul-mengejek karena kebodohan kecil yang dilakukan.

Mereka dua orang yang saling mendukung satu sama lain, seperti misalnya Soonyoung yang waktu itu mengikuti lomba tarik suara nyanyian rohani yang diselenggarakan secara terbuka oleh panitia Gereja di gedung pertemuan. Di sana, ada Jihoon yang menonton dan bersorak dari tenggorokan untuknya. Atau suatu ketika Jihoon diminta untuk mengisi acara keagamaan di sekolah sebagai pembaca dalil dengan tilawah, ada Soonyoung yang memberinya usapan kepala setelah suara merdunya menutup kehangatan ayat-ayat suci.

Berbagai bentuk toleransi mereka ikat dalam satu untaian benang. Saling menghargai perbedaan.

Hingga pada akhirnya timbul suatu perasaan yang menyenangkan. Perasaan yang membuat salah satu organ tubuh melakukan pompaan teratur namun juga kencang di dada. Perasaan yang hidup damai setelah melewati hari berdua. Tak hanya salah satu, namun keduanya.

Ya, perasaan itu biasa disebut kasih sayang. Rasa mengasihi.

Di tahun ke-6 ini, Soonyoung tidak kuat terlalu lama menyembunyikan rasa yang hinggap untuk temannya itu. Makanya, Minggu malam di bulan Agustus, Soonyoung menyatakan rasa sukanya pada Jihoon yang ternyata juga menyukainya.

Soonyoung sangat senang. Perasaan itu kembali meledak-ledak setelah mereka resmi menaikkan level status mereka, dari sepasang sahabat baik menjadi sepasang kekasih.

Namun, hidup memang selalu penuh bebatuan. Bermimpi saja jika hidup hanya dilingkupi jalanan lurus beraspal sehingga kau bisa lepas tangan tanpa terjatuh ketika melewatinya.

Kebahagiaan Soonyoung meredup sesaat tepat ketika Jihoon mengingatkannya tentang kita.

Mereka, dua lelaki yang mempunyai iman dan kepercayaan yang berbeda.

Jihoon, dia seorang yang hari-harinya selalu menggerakkan badan untuk menuntaskan jumlah rakaat selama lima kali dalam sehari. Sementara Soonyoung merupakan seseorang yang beribadah dalam tangkupan tangan yang dikait di depan dada. Cara berkomunikasi pada Kuasa yang tidak serupa sudah sangat menjelaskan perbedaan yang menjadi ombak besar dihubungan mereka.

Belum pula kedua orangtua mereka yang sudah terikat kuat pada iman masing-masing. Terlebih orangtua Soonyoung, ayahnya seorang Penggiat Aktif di salah satu Gereja di Kota.

Namun bagi Soonyoung, dia percaya Tuhan menciptakan mereka selalu bersama bukan tanpa tujuan. Dia percaya akan ada akhir yang bersinar antara dirinya dan Jihoon. Urusan iman dan orangtua bisa nanti, asal dia bisa bahagia dengan sang terkasih. Setidaknya untuk sekarang.

Mereka pun juga memutuskan untuk menyembunyikan status di depan orangtua, berperilaku layaknya teman yang selalu akrab agar tidak timbul kecurigaan yang bisa saja menjadi petaka.


“Besok habis gereja mau temenin gue cari kado gak, Yang?” tanya Soonyoung hari itu saat sedang makan malam bersama.

“Boleh, buat kado ultahnya Seungcheol?”

“Iya, hehe,”

“Mau ngasih kado apa memangnya?” Jihoon masih asik mengunyah suwiran ayam pedas di dalam mulutnya.

Sebelum menjawab, Soonyoung menyeka sambal yang mengotori sudut bibir Jihoon lalu melanjutkan, “Jam tangan, sih, rencananya. Gue bingung.”

“Oh, ya bagus aja kok kalo jam tangan,” Soonyoung mengangguk setuju dan melanjutkan suapan diikuti obrolan ringan.

Hai

Aku, Kwon Soonyoung.

Seorang pria yang hidupnya selalu gagal sejak dikirimkan ke bumi. Aku tidak punya ayah maupun ibu. Mereka tidak bertanggung jawab atas lahirnya aku. Aku hidup dalam asuhan ibu panti yang bertahun selanjutnya pergi meninggalkan anak-anak malang sepertiku.

Aku, Kwon Soonyoung, hanyalah gelandangan yang hidup di jalan bersama teman-teman. Gelandangan yang hanya bekerja meminta-minta dengan rupa yang hina dan tak tahu malu untuk bertahan hidup demi sesuap nasi.

Kwon Soonyoung, lelaki menyedihkan.

Namun, suatu ketika, seorang lelaki berperawakan bak bidadara mendekatiku. Mengulas senyum mentari yang tertanam jelas dalam benakku. Ia bagai pangeran penolong yang selalu aku rapalkan dalam tangkupan kedua tangan.

Lee Jihoon namanya, pangeran berkedok malaikat tanpa sayap. Milikku.

Ia rajin sekali menemuiku di jalanan yang sering aku lewati. Ia dengan suka rela mengajakku makan bersama dan memberikan uang untukku, untuk jajan katanya. Lucu sekali.

Suatu hari, ia menyatakan kalau ia tertarik padaku. Jihoon, menyukaiku. Ya, si gelandangan buruk rupa ini mampu menarik perhatian pangeran berkuda putih seperti Jihoon.

Malaikat itu memintaku untuk ikut dengannya, hidup di bawah atap yang sama bersama. Tepat pada hari itu juga, kami memiliki ikatan sebagai sepasang kekasih atas permintaannya.

Jihoon mengubah hidupku. Hidupku yang berisi kegelapan tanpa setitik cahaya seketika dikelilingi macam sinar mentari yang terang benderang. Lelaki mungil itu selalu membawaku terbang bersamanya di atas awan. Tak pernah sekalipun ia membiarkanku jatuh diterpa angin ribut.

Dia selalu mengagumiku di depan teman-teman dan orangtuanya. Hatinya yang bersih dan suci membuatku satu juta persen nyaman atas afeksi yang ia suntikkan pada jiwaku.

Sejak aku keluar dari Rumah Sakit Jihoon tak pernah meninggalkanku. Dia selalu ada di sampingku. Membantuku mandi, menyuapiku makan, juga menenangkan emosiku. Telaten sekali.

Aku sangat dimanja dengan penuh kehati-hatian seolah-olah aku adalah guci kaca yang mudah rapuh.

Dia selalu memperlakukanku lembut dan manis, membuatku jatuh berulangkali dalam pesonanya.

Lee Jihoon, pangeran dan malaikatku.

Kau priaku, Sayang.

Beruntungnya aku mendapat cinta dan setiamu diantara miliaran anak Adam yang hidup di atas permukaan tanah. Beruntungnya aku menjadi saksi dari satu perempat hidupmu yang kini meninggalkanku seorang diri.

Jihoon, tugas muliamu untukku telah selesai. Waktumu untukku telah kau gunakan dengan sangat sempurna. Dan sekarang dunia kita telah berbeda. Kau telah kembali ke pelukan Sang Pemilik Nyawa, menerima beribu hadiah atas kesukesanmu di bumi.

Nikmatilah indahnya peraduan yang Dia janjikan untukmu. Istana yang dikelilingi sungai dan pepohonan penuh buah.

Hiduplah dengan tenang dan damai karena aku juga akan melakukan hal yang sama, untukmu. Aku tahu kau akan mengawasiku dan akan marah jika aku tidak sembuh seperti harapmu.

Sayang, aku tak akan pernah bisa melihatmu secara nyata lagi, tapi aku yakin keabadian cintamu akan terus melekat dalam jantungku. Rasa itu masih jelas aku rasakan, sentuhanmu, suaramu, dan cumbumu.

Jihoon, malaikatku, ingatlah cintaku juga, ya? Aku akan menjaga cinta kita, menjadikannya sebagai sejarah yang hanya kita berdua yang tahu. Merekatkannya dalam akal pikiran yang tak akan aku biarkan memudar.

Ah, aku lupa. Kau sekarang telah menjadi suamiku. Kau bangga padaku kan, Sayang?

Aku juga. Aku bangga pada diriku.

Tapi maaf, aku menangis. Aku tidak kuat tanpamu, Sayang.

Hm, aku rasa ini sudah terlalu panjang haha

Lee Jihoon, terima kasih untuk semuanya. Kau merawatku dengan sempurnamu, tanpa cela. Aku akan merindu sentuhan-sentuhanmu.

Aku berjanji akan hidup dengan layak. Aku berjanji akan sembuh dari trauma ini. Aku berjanji untuk memenuhi semua janji yang pernah kukatakan padamu dan hidup bahagia.

Doakan aku.

Satu lagi, aku janji akan selalu hadir menjengukmu setiap hari. Aku merindukanmu.

Jihoon, tunggu aku, Sayang. Jemput dan genggamlah kembali tanganku dalam hangatnya kepalmu.

Aku menantimu disini, Suamiku.

ㅡFin.

Jum'at, 19 Oktober 2019

Harusnya menjadi hari paling bahagia untuk sepasang kekasih yang telah menjalin asmara selama lima tahun penuh. Tanpa kendala, tanpa kekangan.

Harusnya menjadi hari yang hanya terselimuti tangis bahagia karena mereka resmi berganti status.

Harusnya.

Namun, kenyataan berbanding terbalik dari semua impian yang terangkai apik. Soonyoung di haruskan bangun dari indahnya alam tidur.

Pahit, sepertinya memang Tuhan enggan memberikan kebahagiaan kepada Soonyoung.

Mungkin kalimat itu benar, Tuhan membencinya.

Tepat kemarin usai mengecek keperluan untuk pernikahan, taksi yang ditumpangi Jihoon mengalami kecelakaan beruntun yang disebabkan karena keteledoran pengemudi mobil lain.

Tragis, lelaki itu dikabarkan tak bernyawa ketika mobil ambulan sedang dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit akibat kehabisan darah dan tipisnya pasokan oksigen dalam paru sejak kecelakaan terjadi.

Soonyoung yang menanti di apartemen ditemukan Jeonghan tak sadarkan diri ketika menerima telepon dari pihak berwajib.

Dan di tanggal ini, di dalam ruangan suci yang sudah di dekorasi sedemikian cantik memiliki peran tidak seindah impian Soonyoung sebelumnya. Tiada ukiran senyum yang sudah ia latih sedari hari sebelumnya. Tiada ciuman manis yang Jihoon sapu diatas bibirnya. Tiada tepukan dan ucapan selamat dari rekan-rekan terdekatnya.

Satu yang tergambarkan hanyalah kedukaan.

Soonyoung dan Jihoon tetap melakukan pernikahan skral. Lebih tepatnya, Soonyoung dalam keadaan pucat pasi dan kacau menikahi tubuh kaku Jihoon. Tubuh tenang yang telah dibalut tuksedo di dalam sebuah peti. Merealisasikan keinginan Jihoon untuk terikat dengannya.

Lelaki bermata sipit itu dengan lantang mengucap janji suci di hadapan Penggenggam Takdir yang pula disaksikan oleh beberapa tamu. Suara Soonyoung menggema tegas dan pasti hingga mencapai akhir sumpah. Lalu ketika Soonyoung tiba di ujung pengucapan, ia menangis.

Kepalanya tertunduk. Tubuhnya bergetar. Tangannya ia remas demi bisa menetralkan perasaan yang hancur berantakan. Suaranya terdengar pilu.

Soonyoung sadar, ia tak sekuat itu.

Soonyoung kehilangan kekasihnya. Soonyoung kehilangan penyemangat hidupnya. Soonyoung kehilangan sumber kebahagiaannya. Soonyoung kehilangan malaikatnya.

Rekan yang hadir menatap sendu dan ikut meneteskan air mata menyaksikan takdir mereka yang penuh liku. Keheningan gereja membuat siapa saja mampu mendengar senggukan Soonyoung yang menyakitkan.

Soonyoung memutar kursi rodanya menghadap jasad Jihoon. Ia tersenyum dalam tangis sebelum merendahkan tubuhnya dibantu Mingyu.

“Jihoon, kita telah resmi menikah seperti keinginanmu, Sayang. Aku suamimu dan kau suamiku sekarang. Kau senang kan?” Soonyoung mengelus wajah damai Jihoon. Seulas senyum tercetak diwajah itu sejak awal. Baginya, Jihoon masih terlihat tampan walaupun wajah itu didominasi kepucatan.

Soonyoung mengelus cincin yang melingkar di jari manis Jihoon lalu mengecupnya sayang.

Jika hidup adalah cerita seperti di negeri dongeng, maka Soonyoung ingin bermain peran seperti dalam kisah Snow White yang bisa membangunkan pangerannya dengan sebuah ciuman tulus.

Sayang, hidup tetaplah hidup. Bukanlah sebuah dongeng yang selalu berakhir bahagia dan membuat para penikmat lega atas akhir kisah cinta mereka.

Usai menggelar pernikahan sepihak itu, jasad tak bernyawa Jihoon dikebumikan tak jauh dari tempat diselenggarakannya pernikahan.

Soonyoung mengantar sang terkasih ke tempat peristirahatan terakhir sambil membawa bingkai foto Jihoon dalam dekapan. Mata bengkaknya tak lepas dari setiap proses pemakaman itu. Ia benar-benar menyaksikan semuanya hingga tumpukan tanah tuntas mengubur peti putih tersebut.

Di sebelah liang lahat Jihoon, Soonyoung telah memesan satu lahan untuknya kelak. Ia ingin mati bersanding dengan Jihoon, pangeran hatinya. Setidaknya, ini cita-cita terakhirnya.

“Jihoon, suamiku, aku akan hidup baik untukmu. Aku akan menanti giliranku dan kita bertemu lagi. Aku berjanji.

Jihoon, aku mencintaimu.”

ㅡFin.

Percaya pada waktu adalah salah satu prinsip yang selalu dipaku Jihoon dalam sistem kerja otaknya. Menurutnya, jika kau tak memiliki kepercayaan barang setetes embun pun keajaiban tidak akan pernah mengulurkan tangannya kepadamu.

Hal ini terbukti atas perubahan sikap Soonyoung yang kian hari kian membentangkan kedua lengannya untuk Jihoon. Menerima afeksi Jihoon yang penuh kehangatan dengan senyum merekah dan mata yang berkilau senang.

Soonyoung merasakan ikatan rasa aman ketika Jihoon memeluknya ketika traumanya kambuh. Lelaki yang lebih pendek akan suka rela dipukuli hingga terdorong menjauh, lalu Jihoon akan kembali mendekapnya untuk menetralkan emosi. Bisikan dan nyanyian teduh bagai deburan ombak pantai mampu memberikan ketenangan yang mendistraksi pikiran negatifnya.

Jika minggu pertama, minggu kedua Soonyoung enggan mengeluarkan respon berupa suara, kini ia akan dengan sangat senang bercerita banyak hal kepada Jihoon dengan suara pelan dan penuh kehati-hatian. Biasanya lelaki itu bercerita tentang bunga tidurnya.

Meskipun psikiater mengatakan kalau kondisi mental Soonyoung masih belum stabil, namun perubahan untuk Jihoon ini merupakan suatu hal yang memiliki nilai plus untuk kedepannya. Lagi-lagi Jihoon diminta untuk kembali percaya pada masa depan.

Setelah dirawat dalam beberapa minggu, Soonyoung diperbolehkan bertemu rumah yang lama tak disinggah bersama Jihoon dengan catatan Soonyoung harus tetap rutin terapi mengikuti prosedur Rumah Sakit. Tak hanya Soonyoung, Jihoon juga diberi tulisan-tulisan penting.

Jihoon bangga dengan prianya, meskipun sulit dan penuh tangis untuknya ketika melakukan terapi tetapi ia memiliki tekad untuk mengubur masa terburuknya jauh di dalam tanah pikirnya. Soonyoung ingin menjadi dirinya yang ceria seperti dulu sekalipun harus melewati banyak fase sulit.

Kini kedua pria yang masih berstatus tunangan itu sedang sibuk menikmati rembulan dan seduhan susu cokelat hangat di balkon apartemen. Duduk bersanding di atas bangku sambil menikmati temaramnya malam.

“Dua minggu lagi kita menikah Soonyoung,” tutur Jihoon setelah bercerita banyak hal. Kecupan hangat tak lupa Jihoon daratkan di pucuk kepala yang lebih tua.

Soonyoung yang awalnya memainkan jemari Jihoon secara luwes, entah mengapa tiba-tiba menutup kedua telinga secara panik.

“A-aku tidak mau menikah denganmu!” seru Soonyoung menjauhkan diri. Seruan itu tentu membuat Jihoon terkejut.

“Soonyoung, kau kenapa? Hei, tenanglah,” Jihoon berupaya melepas tangkupan tangan Soonyoung yang menutup indera pendengarannya.

Bola kelam Soonyoung berlari ke kanan dan ke kiri. Setetes bulir bening jatuh menimpa pipi tirusnya. Panik, Soonyoung tertanda panik. Tanpa Jihoon ketahui, sebuah suara menyeramkan menggelitik angan lelaki Gemini itu.

“J-Jihoon tak sadarkah k-kau? A-aku kotor, aku telah diperkosa oleh segelintir orang. Aku gila. Aku cacat, akuㅡaku tidak bisa jalan, lumpuh. Aku lumpuh, Jihoon. Akuㅡaku akan me-menyusahkanmu. Hen-hentiㅡ”

“Sst...” Jihoon menarik Soonyoung dalam pelukan. Usapan sayang ia daratkan pada tubuh terguncang itu.

Jihoon menarik napas dalam sebelum menarik diri dan membingkai wajah kekasih. Air mata yang menghujani wajah tampan itu, disela.

Jihoon ingin marah kepada Pemilik Langit. Semua ini tidak akan terjadi kalau peristiwa itu tak pernah tertulis dalam buku takdir yang telah ada jutaan tahun lalu. Mengapa mereka harus melewati kesulitan ini? Mengapa harus Kwon Soonyoung?

“Soonyoung, dengar. Kau tidak kotor, tidak gila, dan tidak cacat. Aku tidak peduli dengan masa lalu itu, Sayang. Ketahuilah, aku akan menjadi kakimu, kaki yang dengan keteguhanku menuntunmu menelusuri jalan sejauh jarak dari Timur ke Barat. Aku akan menopang dirimu semampuku.” Jihoon mengusap pipi Soonyoung lalu melanjutkan, “Dan lagi, kau tidak gila, Soonyoung. Ada aku. Aku akan membantumu sembuh. Kau aman bersamaku. Aku janji. Kita lewati berdua bersama-sama, Soonyoung. Mau, ya? Pernikahan ini impian kita berdua, Sayang.”

Tubuh Soonyoung masih tidak stabil. Bulir bening masih nyaman berayun di pelupuk matanya. Mendengar penuturan tulus Jihoon membuat dadanya nyeri.

Benci. Sungguh Soonyoung benci menjadi lemah di hadapan Jihoon. Ia benci karena harus menjadi benalu pada Jihoon dari dulu hingga sekarang. Ia benci karena telah merespon untaian kalimat jahat yang mengalir dalam benaknya. Ia benci membuat Jihoon sedih.

Dan terakhir, Soonyoung benci karena Jihoon terlalu mencintainya.

“Aku ada untukmu, Soonyoung.”

Bersambung

Kakinya lumpuh permanen akibat tertindih ban mobil yang di alaminya sehingga jaringan pada saraf kakinya berhenti berfungsi. Dan, maaf saya juga harus mengatakan kalau Tuan Kwon Soonyoung mengalami trauma akibat pelecehan seksual yang di alaminya.

Kalau Jihoon bisa mendeskripsikan dirinya saat ini mungkin kalimat yang tepat adalah bagai disambar kilatan petir yang memiliki beribu sengatan listrik, kalimat Dokter tersebut terus terngiang dalam benaknya.

Tubuh Jihoon kaku. Pancaran sinar matanya seolah hangus dibakar Si Jago Merah. Jantung pun bagai mengalami disfungsi organ. Untaian vonis Soonyoung bagai dirangkum menjadi satu kesimpulan akhir terlalu mempengaruhi sistem kerja tubuhnya.

Belum lagi penampakan tubuh Soonyoumg yang penuh goresan-goresan mengerikan. Terhitung lebih dari sembilan luka terpampang di sana.

“Argh, sialan!” Jihoon berteriak sebelum buku-buku jarinya kembali melayang menghantam dinding. Melakukan pukulan-pukulan pada permukaan keras itu sehingga cairan merah pekat membasahi tangannya. Hati dan otak yang terlanjur membeku membuat rasa sakit pada tangannya terasa nihil.

“Kak Jihoon, tenanglah,” Sebuah tangan menghalang pukulan Jihoon.

“Bagaimana aku bisa tenang, sementara Soonyoung di dalam sana tersiksa sendirian?!”

Jeonghan, selaku teman karib Jihoon menarik lelaki kecil itu dalam pelukannya.


Hari demi hari terlewati. Jihoon yang seharusnya disibukkan dengan pekerjaan kantor, memilih cuti dalam waktu yang tak ditentukan dengan alasan ingin merawat Soonyoung sesuai porsi kemampuannya. Tak peduli jika nantinya dia di PHK sebab fokusnya saat ini adalah menjaga pujaan hati.

Tiga minggu setelah kejadian penyekapan Soonyoung dan penangkapan lima manusia biadab tersebut ke pihak yang berwenang, Jihoon seolah tak kenal lelah menunggu Soonyoung di Rumah Sakit.

Laki-laki penuh cinta itu berusaha mengadaptasikan Soonyoung dengan dirinya lagi.

Keadaan Soonyoung sudah membaik, namun tetap saja trauma tidak akan semudah itu lenyap. Soonyoung masih akan panik atau berteriak ketika tiba-tiba sekelebat bayang semu para komplotan hadir dalam ruang pikirnya.

Trauma yang diderita Soonyoung membuat Jihoon cukup sulit mendekatinya meskipun terapi rutin Soonyoung ikuti. Dalam dua minggu terakhir, Soonyoung akan menjauh ketika Jihoon mencoba menyentuhnya. Soonyoung bagai lupa akan Jihoon, namun kadang pula luluh karena buaian suara merdu Jihoon. Hanya satu perawat yang dengan bebas mendekatinya.

Hari ini Jihoon akan mencoba kembali. Pagi itu Soonyoung berbaring di atas ranjang, manik matanya memandang tenang langit cerah di luar jendela sana. Menikmati kepakan burung-burung kecil yang terbang melingkar menghiasi bentangan kanvas biru. Tiada yang tahu angan apa yang hinggap di pikirannya, sebuah kesenangan kah atau bahkan keburukan?

“Selamat pagi, Soonyoung,” sapa Jihoon yang kini berdiri di depan Soonyoung tanpa perlu menutupi pemandangan pagi itu.

Soonyoung bergeming. Sinar matanya tak jua menatap Jihoon.

“Mau bermain di luar?” Secercah cahaya hidup dari balik kornea mata Soonyoung. Jihoon kembali mendekati dirinya, mencoba menyugar anak rambut yang menjadi salah satu benda kesukaan Jihoon saat mereka bersama.

Sebuah kemajuan, ia tidak menerima penolakan padahal bagi Jihoon trauma yang dialami Soonyoung membutuhkan banyak hari untuk sampai ke tahap penerimaan ini.

Jihoon memanggil dokter dan menyampaikan keinginannya untuk membawa Soonyoung keluar ruangan. Ia juga dengan waspada mengangkat Soonyoung duduk di atas kursi roda, takut kalau sekiranya Soonyoung sensitif akan sentuhan yang diberikannya. Pula kali ini ia tidak menolak. Mungkinkah Soonyoung telah siap menerima, setidaknya untuk Jihoon?

Jihoon membawa Soonyoung ke salah satu bangku taman, memutar kursi roda tepat menghadapnya agar ia leluasa memandang.

“Soonyoung...” panggilan lembut Jihoon serukan. Sang pemilik nama menoleh ke arahnya.

Jihoon mengukir senyum hangat, sementara Soonyoung hanya memperhatikannya dalam diam. Tidak ada ekspresi yang selalu dilempar balik untuknya, cengiran dengan deretan gigi Soonyoung misalnya.

“Kwon Soonyoung, kau lihat ini?” suara lembut Jihoon berdengung dalam rungunya. Soonyoung mengalihkan tatapannya ke salah satu jemari Jihoon yang terangkat, jari manis yang dilingkari sebuah benda berwarna perak. “Empat bulan lagi kita menikah, apa kau senang?”

Soonyoung mengembalikan pandangannya ke arah Jihoon tepat ke bola mata yang menyimpan sejuta kenyamanan. Ia tersenyum kecil lalu mengangguk pelan.

Jihoon menekuk kurva lebar nan menawan pada bibirnya. Ia meraih tangan Soonyoung dalam genggaman kemudian mengelus permukaan kulit terkasih menggunakan ibu jarinya.

“Soonyoung, terima kasih. Tenanglah, kau aman bersamaku.”

Bersambung

Lelaki yang malang.

Sebuah kalimat yang cocok untuk mendeskripsikan situasi dan kondisi yang tengah di alami seorang pemuda bernama Kwon Soonyoung.

Dia, lelaki bermata sipit dan berperawakan tinggi juga manis. Sosoknya menjadi idaman oleh banyak khalayak karena tak hanya rupawan, sifat ramah yang melekat pada dirinya mampu menarik perhatian siapa saja, mendaratkan tatapan hanya padanya. Bisa berupa tatapan kagum atau bahkan tatapan lapar.

Termasuk sekelompok orang yang telah menyandera dirinya secara paksa.

Mereka orang-orang yang mempunyai beribu obsesi untuk memiliki Soonyoung. Tak hanya satu, namun empat orang diantaranya.

Mereka kumpulan sekawan yang sama-sama tertarik oleh laki-laki itu, namun karena Soonyoung telah resmi bertunangan dengan seorang pemuda lain bernama Lee Jihoon, terputuslah harapan. Hingga ide liciklah sisa satu-satunya cara yang mampu dilakukan. Membawa Soonyoung jauh dari kota tinggal agar tiada yang mampu menemukan keberadaan sekelompok lelaki itu.

“To-tolong! Ah...” rintih Soonyoung ketika sebuah benda menerobos analnya secara kasar, kuat, dan penuh tenaga tanpa iba.

Darah pun ikut menetes di sela lingkaran masuknya. Entah bagaimana hal itu bisa terjadi karena yang Soonyoung tahu, ia teraniaya. Tidak sekalipun ia menikmati persetubuhan ini meskipun spermanya tumpah karena ulah tangan-tangan nakal mereka.

“Tidak semudah itu, Sayang,”

Lelaki itu masih menikmati kegiatannya. Menabrak titik manisnya berulangkali tanpa kenal waktu, tanpa mendengar keributan yang dikeluarkan oleh bibir Soonyoung seolah tuli.

Soonyoung meringis dan menangis pilu. Air mata layaknya hujan deras yang awet membasahi bumi, merintik dari mata indah yang mulai merah juga membengkak.

Bukan hanya karena daerah kemaluannya yang merasakan nyeri akibat tiga orang lain yang telah menyetubuhinya secara paksa, namun seluruh permukaan kulitnya pula terasa perih.

Jiwa hiperseks yang timbul pada diri salah satu penjahat penyebabnya. Ia menarikan mata pisau pada tubuh Soonyoung, menimbulkan goresan-goresan luka yang membuat sosok itu semakin bersemangat untuk mengaitkan dirinya dengan Soonyoung lebih dalam lagi. Tetesan darah yang keluar dari tubuhnya dicecap seduktif.

“Aku sayang padamu, Soonyoung. Ah, iya...seperti itu, persempit, oh...” racau sosok itu menikmati setiap laju penetrasi yang dilakukannya. Sementara Soonyoung hanya bisa meraung sakit.

Ia tidak mampu melakukan apapun kecuali merengek ingin dibebaskan. Soonyoung kepalang lemas. Membiarkan selangkangannya dimainkan banyak orang bukanlah hal yang pernah ia bayangkan. Mereka bermain layaknya Soonyoung adalah sebuah boneka, tidak memanusiakannya. Ia bisa saja pingsan, tapi kejamnya penjahat membuat Soonyoung harus tetap terjaga. Sesekali pipinya menjadi media untuk menyadarkannya dari mata tertutup. Belum pula kedua tangannya di borgol disisi ranjang dalam keadaan telanjang penuh.

Benar, Soonyoung diperkosa secara bergilir tanpa jeda setiap harinya. Hari ini ia sudah disetubuhi oleh orang keempat dari lima manusia tak berhati. Sisa yang lainnya mengawasi markas tersembunyi mereka di satu ruangan. Sedikit bercengkrama betapa bahagianya mereka telah berhasil menikmati sekujur tubuh Soonyoung tanpa kendala dan membuat Jihoonㅡtunangannya bersusah payah mencari lokasi mereka yang sudah berlangsung selama 3 hari penyekapan.

“Hyunsik, berhenti!” seru salah satu teman yang mengusik penyatuan tubuh sang pemilik nama dengan Soonyoung. “Jihoon menuju kemari!”

“Sialan!” Kobaran nafsu yang tadinya meninggi kini tergantikan dengan amarah sebab aktivitas yang belum mencapai puncak mau tak mau diberhentikan.

“Bawa Soonyoung pergi, cepat!”

“T-tidak! Ji-Jihoon, Jihoon!” Soonyoung meracau memanggil kekasih. Secercah harapan untuk dijemput membuat tubuhnya tersuntik tenaga sekian persen.

Sebuah tamparan keras Soonyoung terima menimbulkan semburat merah terlukis di pipi. Rahangnya dicengkram kuat dan mata Hyunsik menatapnya marah, “Jangan pernah menyebut nama menjijikan itu jika bersamaku! Apa kalimatku sesulit itu untuk kau pahami, huh?”

“Cepatlah, Hyunsik!”

Manusia tak beradab itu melempar kepala Soonyoung hingga terpentuk kepala ranjang lalu melepas borgolan pada lengan tangannya. Ia juga memasangkan pakaian secara asal sebelum membopong lelaki malang itu keluar dari markas melalui pintu belakang.

Hyunsik cukup kesulitan membawa Soonyoung karena keadaannya yang memang masih lemah, tak mampu berjalan. Ia juga tak mengetahui di mana posisi Jihoon dan sekawannya, yang ia percaya bahwa teman-temannya mampu melawan mereka.

“J-Ji-Jihoon...”

“Diamlah, Soonyoung!” Hyunsik merangkul Soonyoung melewati hutan pendek dan bertemu sepintas jalanan sepi.

Sayang, jalan yang dilalui justru membawa petaka padanya. Tepat beberapa meter di depan, Jihoon berdiri seorang diri. Menatap Hyunsik nyalang seolah siap memusnahkan manusia hina tersebut dalam sekali tinju. Sialnya lagi, Hyunsik lupa membawa benda tajam atau barang sejenis bersamanya. Hyunsik si tangan kosong.

“Kembalikan kekasihku,” pinta Jihoon lembut. Jujur, Jihoon bisa saja menghancurkan kepala Hyunsik saat itu juga tanpa perlu memulai drama terlebih setelah melihat rupa Soonyoung.

Di mata Jihoon, Soonyoung adalah dunianya. Seseorang yang selalu ada untuknya, mengirim sinyal-sinyal kebahagiannya dalam lima tahun bersama. Sesosok manusia yang sengaja semesta kirimkan untuk ia jaga. Namun, segalanya sirna usai melihat sosok yang dikasihi jauh dari kata baik-baik saja.

Apa yang mereka lakukan pada Soonyoung? Wajahnya pucat, lemah, dan sinar matanya redup penuh kegelapan. Tidak ada lagi cahaya yang selalu menyinari mendung di dadanya.

“Kau masih mau bersamanya setelah apa yang kami lakukan?” Senyum miring Hyunsik pamerkan, lalu melanjutkan, “Kau tahu Lee Jihoon, Soonyoung-mu ini sudah rusak. Dia telah melayani kami berlima tanpa jeda, tubuhnya juga tak layak hidup, tak layak untuk kau gunakan lagi. Kau yakin masih mau dengan pelacur ini? Dia ini penggoda hebat. Jika kau sudah tak berminat padanya, kami dengan senang hati akan menjaga lelaki indah ini.”

“Brengsek!”

Jihoon berlari menuju Hyunsik, mendorongnya jatuh lalu melayangkan kepalan tangan bertubi-tubi pada wajah itu. Melukis warna keunguan pada setiap sisi wajah yang ia benci secara rinci. Berkali-kali pula ia membenturkan kepala Hyunsik langsung ke permukaan tanah bagai kesetanan. Dalam hati merapal agar nyawa Hyunsik direnggut kejamnya malaikat maut.

Murka yang timbul dalam jiwa Jihoon meledak saat Hyunsik menyelesaikan kalimatnya. Emosi yang tadinya tenang, seketika mendidih pada derajat tertinggi. Ia tak mampu lagi menahan semuanya hingga iblis yang hinggap dalam diri Jihoon beraksi ingin menghancurkan Hyunsik, ingin membalas dendam atas apa yang telah dilakukannya pada Soonyoung, tunangannya.

“Bajingan!”

“Dimana hatimu, hah?! Mati kau!”

“Kembalilah ke neraka!”

Jihoon masih melayangkan banyak pukulan. Air matanya menetes jatuh membayangkan pesakitan yang Soonyoung terima. Tiga harinya pasti dilalui dengan penuh hina.

“Argh!” suara teriakan memekakan rungu Jihoon. Ia menoleh ke sumber suara. Di sana, Soonyoung terlentang memegang kakinya tepat setelah sebuah mobil berkecepatan tinggi lewat begitu saja.

“Enyahlah!” geram Jihoon dan lagi-lagi menjatuhkan kepalan tangannya di pada hidung Hyunsik untuk terakhir kali.

Jihoon terengah. Ia menendang alat vital Hyunsik sebelum menghampiri Soonyoung, membiarkan lelaki itu sekarat di tempat sampai polisi atau bahkan maut menjemputnya.

Jihoon mendekati Soonyoung. Kekasihnya mengemis derita, tubuhnya bergetar.

“Soonyoung...S-Soonyoung, Sayang, ini aku, ini Jihoon,” Jihoon menangkup wajah Soonyoung, menatap mata redup itu lekat-lekat. “Jangan tutup matamu, Soonyoung.”

Soonyoung mengerucutkan wajahnya menahan perih tak terbendung.

“Kak Jihoon!”

“M-Mingyu, cepat telepon ambulan!” Mingyu menyanggupi.

“Soonyoung, Sayang, bertahanlah...” Jihoon memeluk tubuh bergetar Soonyoung. Ia juga membisikkan kata-kata penenang untuknya. Sesekali juga menerbangkan kecupan dikepalanya. Deru napas dan racauan Soonyoung yang tidak stabil membuat hati Jihoon berdenyut nyeri. Soonyoung itu lelaki kuat, hanya karena ia hidup bagai di neraka selama tiga hari penuh, Soonyoung tak lagi sama. Jika Jihoon tega, ia akan ikut menangis.

“Soonyoung! Soonyoung, buka matamu, Sayang!”

Bersambung

Indah.

Satu kata yang terus terngiang dalam benakku. Berulang bagai komidi putar yang ingin terus bergerak melingkar kala netra beningku terhipnotis oleh eksistensinya.

Lelaki itu benar indah, seperti kata keramaian yang berdengung dalam rungu: kulitnya putih bersih, pancaran korneanya penuh kenyamanan, rambutnya melambung, dan porsi tubuhnya yang terendam di air dalam akuarium kaca dengan kemeja putih hingga sebatas lutut. Memesona.

Dia manusia air. Manusia yang keberadaannya sangat jarang ditemu dan berperan sebagai makhluk yang harus dilindungi. Dan aku berkesimpulan sosok ini satu-satunya di museum ini.

Oh, lelaki itu menatap ke arah ku dan lengkung bibirnya tertarik keatas, tersenyum padaku, kah?

Aku tidak mengerti tentang manusia air yang sering menjadi topik hangat para khalayak. Apakah dia sejenis ikanㅡmaksudku sejenis duyung? Ataukah memang manusia yang diciptakan dalam air? Atau mungkin makhlukㅡah aku tidak mengerti karena ini kali pertama aku melihatnya secara langsung.

Sayang sekali tidak ada buku panduan yang bertengger di sekitar akuariumnya.

Entahlah, hanya saja, aku pernah mendengar bahwa spesies sejenis mereka bisa mendengar suara manusia biasa dari balik kaca itu meskipun ia tidak bisa berkomunikasi secara langsung.

Aku mendekati wujudnya. Di bawah akuarium setinggi 2,5 meter itu terdapat sebuah tulisan yang aku tebak adalah namanya.

Lee Jihoon.

Apakah aku terlihat sangat mengagumi sosok itu jika aku mengatakan nama lelaki itu indah? Jika begitu, tidak masalah. Aku senang, karena semua yang ada pada dirinya seratus persen sempurna.

Aku mengangkat tanganku guna menyentuh permukaan benda bening yang menjadi wadahnya untuk bertahan hidup.

Aku tidak sedang bercanda, dia menatapku dan tentu aku balas menatapnya. Senyum mentari masih terpatri di bibirnya.

“Hei, Soonyoung, kau di sini untuk penelitian, bukan untuk mengagumi manusia air itu,”

Ah, benar. Kedatanganku ke museum seni ini untuk melakukan penelitian sebagai syarat tugas akhirku.

“Aku akan kembali lagi,” ujarku sebelum melambaikan tangan dan kembali ke tujuan utama: menggarap tugas.

Namun, sebelum total membalik tubuh, Jihoon lagi-lagi melebarkan sabit ranumnya untukku.

Tuhan, bisa aku rasakan deru jantungku berdetak berkali lipat sekarang. Pertanda apa ini?


Kemarin aku memang tidak menepati kalimat tentang aku akan kembali menemui Jihoon, si manusia air, karena terlalu mepet pada jam tutup. Tapi hari ini aku akan mengunjunginya lagi. Sifat atraktif yang melekat pada dirinya terus mengusikku, mendistraksi berbagai hal acak yang biasa hadir dalam ruang pikirku.

Inginku memberitahu kalian semua bahwa sejak melakukan penelitian hingga malam tiba, isi kepalaku tak lain dan tak bukan hanyalah Jihoon, Jihoon, dan Jihoon. Bahkan sampai sekarang pun. Sepertinya dirinya akan mempengaruhi hari-hariku.

Tepat waktu makan siang, aku ke museum. Titik akuariumnya sejak kemarin sepi, orang-orang hanya terkesan padanya sebentar dan berlalu. Tidak sepertiku yang memang jatuh hati pada Jihoon. Dan kurasa aku akan selamanya betah jika harus bolak-balik ke sini. Tak pula peduli jumlah nominal yang harus dibayarkan untuk masuk museum.

Aku duduk di bangku yang memang disiapkan di dalam sana kemudian memperhatikan sosoknya yang lagi-lagi melempar ekspresi bahagia.

“Hai, Jihoon, aku kembali,”

Karena tak ingin menyia-nyiakan momen ini, aku mengeluarkan buku sketsaku dan mulai menarikan pensilku di permukaan kertas seputih tulang itu.

Ya, di museum ini pengunjung dilarang mengambil potret atas semua yang dipamerkan. Maka dari itu, satu-satunya cara yang bisa aku lakukan adalah menggambar ilustrasi Jihoon yang berenang di dalam air.

Kugerakkan tanganku hingga semua keindahan yang ada pada dirinya, tersketsa sempurna.

Entah menit keberapa hingga akhirnya sketsaku selesai. Aku berdiri dan menunjukkan hasil karyaku pada Jihoon.

“Lihat, aku menggambarmu. Kau menyukainya?” Aku menatapnya dan ia tersenyum menanggapi. Jika boleh, aku ingin selamanya senyum itu menjadi milikku. Hanya milikku yang bisa aku lihat setiap waktu.

“Kau indah, Jihoon, kau tahu itu?” Jihoon mengangguk pelan sebagai respon atas kalimat gamblang yang seenaknya aku lontarkan. “Aku senang karena bisa bertemu denganmu. Jihoon, aku janji akan selalu datang ke sini untukmu. Setiap hari.”

Aku harap tiada seorangpun yang mendengar, biar kalimat itu hanya didengar oleh kedua rungu sosok manusia air ini.


Seperti yang sudah aku janjikan pada Jihoon, setiap hari aku mampir ke museum ini saat waktu luang. Bisa lama, bisa pula sebentar. Mengabaikan macam bentuk tatapan staf museum yang mungkin heran dan bosan mendapatiku hadir di sini berulang kali.

Jika kalian bertanya apa saja yang aku lakukan, maka aku akan menjawab tidak ada.

Kegiatanku hanya bertukar tatapan dan cekungan mangkok dari bibir kami berdua. Tapi, aku pernah bercerita sedikit untuknya. Bercerita mengenai kehidupanku yang tidak bisa dirasakan olehnya. Jihoon pun mendengarkan saksama.

Waktu kian berotasi. Kuletakkan telapak tanganku di akuarium berbahan kaca seolah aku bisa menggapai tangannya yang juga menempel dibaliknya. Naas, itu hanya sebatas mimpiku yang tidak akan pernah mampu terealisasikan.

Dunia kami berbeda. Dia membutuhkan air sementara aku membutuhkan udara. Sekalipun hatiku mutlak untuknya, kita tidak bisa bersatu. Mengekang kehendak Tuhan pun akan berakibat fatal.

Benar, aku mulai menanam rasa suka padanya. Bibit itu terpupuk sempurna dan tumbuh menjadi sebuah rasa menyenangkan yang bernama cinta. Balon udara berbentuk hati tak kasat mata seolah mengelilingiku tiap aku bersamanya.

Aku mampu merasakan detakan halus tiap kali aku dan Jihoon bersitatap. Detakan ini selalu berhasil membawaku terbang ke puncak langit dan menetap di sana. Aku menyukainya.

Aku tahu ini konyol, namun aku akan menyatakan perasaanku padanya hari ini. Biarkan ia tahu dan tak masalah perasaan ini tak berbalas. Setidaknya ia mendengar dan mengetahuinya. Itu cukup.

Tangan kami masih bertaut yang dibatasi kaca, aku tersenyum dan mulai bersuara, “Aku menyukaimu, Jihoon.”

Respon yang tidak pernah aku duga. Senyumnya kian cerah bak matahari yang bersinar, bola matanya membulat lucu, dan tangannya sedikit bergetar.

“Kita mungkin berbeda, Jihoon, tapi hatiku benar adanya. Kita tak bisa bersama, tapi izinkan aku untuk selalu hadir untukmu di sini.”

Raut wajah Jihoon terlihat sedih. Apakah ada satu kata dari kalimatku yang menyinggungnya? Aku harap tidak.

Seruan dari pengeras suara pengawas memekakan telingaku, jam tutup sudah akan mencapai tenggatnya. Baiklah, aku akan berpisah lagi dengannya hari ini.

“Aku pulang dulu, ya, Jihoon. Sampai jumpa!” pamitku.

Namun sebelum menggerakkan tungkai kakiku, raut Jihoon semakin sedih dengan kerutan alis tercetak di sana, “Aku akan kembali lagi besok.”

Akupun berbalik dan melangkah menjauh. Belum sampai tujuh langkah gerak kakiku terayun, telingaku mendengar sebuah dentuman pecahan kaca.

Sontak aku menoleh ke sumber suara, pecahan kaca dari akuarium Jihoon.

“TIDAK!”

Terkejut, aku berlari kembali ke tempat Jihoon berada. Kaca yang menguncinya hancur menjadi keping-keping berantakan, air yang berperan sebagai sumber pernapasannya tumpah ruah, dan terakhir sosok indah Jihoon terjatuh ke atas lantai.

Aku mengangkat tubuh lemahnya dalam pangkuanku. Seluruh tubuhku bergetar bagai disetrum jutaan volt listrik.

Kusentuh wajah dinginnya. Mata sayunya jatuh dalam netraku yang mulai menitikkan air mata.

“Permisi, permisi, ayo kita bawa!”

“Bertahanlah, Jihoon...”

Tubuh Jihoon hendak diangkat dari dekapanku oleh pengawas museum, namun tubuh Jihoon menolak. Ia terus menatapku, ikut menyentuh pipiku.

Jihoon sekarat. Sepengetahuanku manusia air sepertinya tidak bisa ditolong dengan perangkat medis. Ia hanya membutuhkan air sesegera mungkin untuk seluruh tubuhnya.

Jihoon menarik kepalaku mendekat. Bibir bergetarnya menggapai ranumku. Cumbuannya bergerak pelan. Bening air mataku saat itu pula jatuh merintik, membasahi pipinya.

Aku paham sekarang, Jihoon membalas rasaku.

Cumbuan ini tidak bertahan lama hingga tubuhnya semakin terkulai lemas. Belah bibirnya melonggar, matanya menutup sempurna, dan nyawanya saat itu juga terklaim pergi.

“JIHOON, TIDAK!”

Aku berteriak, menyakiti tenggorokanku. Pula aku menangis, menjatuhkan ribuan bulir air mata. Kudekap tubuh basahnya erat. Membiarkan dirinya jatuh dalam pelukanku untuk pertama dan terakhir kalinya. Merasakan kulitnya menyentuh tubuhku yang tidak akan pernah kurasakan lagi.

Tidak kupedulikan banyak orang yang menonton kami dalam duka. Tak kupedulikan suara berisik mereka yang mengasihaniku.

Namun, aku mendengar satu suara yang menyatakan bahwa Jihoon berupaya membebaskan dirinya dari akuarium dengan menggedor permukaan kaca setelah aku menjauh. Mereka berasumsi, Jihoon ingin ikut bersamaku.

Kalimat itu tentu menyakiti dadaku, bagai diremas.

Mengapa kau lakukan ini, Sayang? Kita berbeda. Kita tidak bisa bersama.

Dari semua kejadian ini, satu yang aku sadari, aku tidak akan pernah bisa lagi melihat Jihoon untuk selamanya.

Hariku, hatiku akan hampa tanpanya.

Selamat tinggal.

Dan terima kasih untuk juga mencintaiku, Lee Jihoon.

ㅡFin.

Hidup bersama, menghabiskan sisa-sisa hidup dengan seseorang yang kau cinta, kau kasihi hingga ajal lelah mananti lebih lama merupakan suatu impian utama dari beribu pasangan yang telah Tuhan ciptakan di atas luasnya permukaan tanah.

Sebuah kalimat lantang, Ya, saya bersedia menjadi kalimat pembentuk ukiran garis senyum. Kalimat yang menandakan terikatnya suatu hubungan dua orang anak Adam yang telah mengucap janji suci sehidup semati di hadapan Penggenggam Takdir. Kalimat yang menciptakan banyak kelopak bunga tak kasat mata bermekaran di dalam dada. Benar, semua orang menginginkan ini.

Termasuk pasangan kebanggan kita, Kwon Soonyoung dan Lee Jihoon.

Empat puluh delapan tahun mereka hidup berdua dalam satu atap. Saling mendukung, saling mencinta, dan saling mengasihi meskipun pertengkaran akan selalu hadir mendampingi. Pelengkap bumbu kehidupan, kata mereka.

Usia mereka tak lagi muda. Kulit tua penuh keriput adalah sebuah pertanda bahwa kedua lelaki itu telah masuk ke dalam fase lanjut usia. Fase di mana degenerasi pada kondisi tubuh terus berjalan. Fungsi tubuh tidak sebugar usia remaja, fungsi metabolisme tubuh pun ikut mengempes.

Angka mungkin boleh bertambah, fungsi fisiologis mungkin boleh menurun, namun sebuah kata cinta akan terus ada, tertanam abadi.

Kupu-kupu hati akan selalu terbang berkeliling. Menikmati setiap momen berharga yang telah dilalui bersama, berdua saja.

Soonyoung dan Jihoon, dua lelaki yang pada saat itu menjemput rencana Tuhan di dalam sebuah kereta yang mengantar mereka ke suatu negeri.

Hanya berdua. Berhadapan.

Bolehkah mereka berterima kasih kepada rasa bosan yang hinggap dalam relung jiwa?

Tentu. Tiada yang melarang.

Karena basa-basi inilah yang membawa insan berbeda marga tersebut memulai semuanya. Memupuk benih-benih asmara lalu menumbuhkannya menjadi sebuah rasa yang menyenangkan.

Bukan hanya kebosanan yang mengantar mereka ke dalam gerbang penuh cinta. Katakanlah keteledoran Soonyoung ketika hendak mengecup tanggal keberangkatan untuk suatu keperluan kantor sehingga mau tak mau ia berangkat lebih awal menjadi salah satu alasan lain. Mungkin sistem pembatalan dan pembelian ulang bisa ia lakukan, namun entah mengapa hatinya memilih untuk berangkat saja.

Lihatlah, betapa indahnya takdir Tuhan dalam menemukan cintanya pada seorang pria Lee Jihoon.

Suasana dalam kereta yang biasanya hening disibukkan karena fokus kepada layar ponsel, kali ini sangat berbeda. Mereka bertukar cerita, bertukar canda tawa, dan merasakan kenyamanan satu sama lain. Ingat, mereka baru berjumpa saat itu.

Kota yang sama menyebabkan mereka lebih mudah membuat janji dan bertemu lalu merasakan perasaan baru. Langkah selanjutnya dapat ditebak, ya, menjalin kasih putih.

Keinginan untuk hidup bersama pun mereka realisasikan beberapa tahun setelahnya. Melengkapi isi catatan Sang Kuasa yang sudah Dia tulis.

Hingga sekarang.

Di usia Soonyoung yang ke-69 dan Jihoon yang ke-67, mereka masih bersama. Hanya berdua, tiada orangtua, tiada cucu.

Soonyoung dan Jihoon sibuk menikmati masa tua yang bisa saja tak lagi sama dalam beberapa hari ke depan. Kematian tiada yang tahu, pun akhirnya mereka memilih terus mendambakan kasih sayang yang kian meninggi ke awan tanpa membiarkannya jatuh memudar.

“Sayang, tolong sisirkan rambutku,” ujar lelaki tua bernama Jihoon dengan suara yang cukup serak. Tidak ada alasan tertentu, ia hanya sedang manja pada suaminya.

Soonyoung yang baru selesai berkemas koper untuk keberangkatan ke Jepang, mengiyakan perintah itu.

Rambut memutih Jihoon sebenarnya tidak begitu berantakan. Sekali lagi, ia hanya manja dan suaminya menyanggupi. Disisirnya rambut Jihoon pelan dan sesekali pula Soonyoung meliriknya dari pantulan cermin. Sungguh, ia mengagumi sosok itu. Selalu. Sejak kali pertama netra mereka bertemu tatap.

Saat Soonyoung merapikan anak rambutnya, Jihoon mengambil ponsel dan mengabadikan hal itu ke dalam potret melalui cermin.

“Sudah tampan,” Soonyoung tersenyum lalu mengecup pipi kanan Jihoon.

Mereka beranjak dari meja rias menuju ke kasur. Keduanya mengintip galeri ponsel Jihoon dan tertawa kecil melihat banyaknya hasil jepretan yang Jihoon ambil dengan berbagai ekspresi.

Ya, itulah Jihoon, suka sekali mendokumentasikan kegiatan kecil mereka. Ia juga suka diam-diam memfoto Soonyoung yang fokus menonton misalnya.

Sebuah informasi sederhana, Jihoon menjadikan foto diri Soonyoung sebagai layar ponselnya begitupun sebaliknya.

Tak lama rasa kantuk mengusik mata, “Aku mengantuk, Soonyoung,”

“Tidurlah, Sayang,”

“Baik, selamat malam, Kakekku,” Soonyoung terbahak.

“Hm, selamat malam, Cucuku.”

Kecupan bibir berperan sebagai penutup malam sebelum dekapan hangat menyelimuti dua porsi tubuh itu.


Mereka sudah berumur. Namun, aktivitas masa muda masih sering dilakukan layaknya anak remaja, seperti makan berdua di cafe, mendengarkan musik dengan berbagi earphone, berjalan kaki menelusuri daratan dengan tangan yang bertaut, sampai bermesraan di publik.

Seperti sekarang, Soonyoung memeluk Jihoon dari belakang. Diletakkannya kepala di ceruk leher Jihoon, memandang deburan ombak laut dari atas tebing wisata. Menikmati semilir angin yang membuai wajah tampan mereka.

“Jam berapa sekarang?”

“Lima lewat empat puluh satu. Sepertinya sebentar lagi,”

Kedua orang tua itu hendak menyaksikan pemandangan matahari tenggelam. Mereka senang menantikan momen-momen sederhana seperti ini meskipun sudah sangat sering diulang.

Menit selanjutnya, surya jingga si sumber cahaya pamit undur diri secara perlahan. Membiarkan kulon menyembunyikan sinarnya. Menggantikannya dengan rembulan.

Proses pergantian malam itu menjadi kesempatan Soonyoung untuk membawa bibir Jihoon ke dalam cumbuannya. Pagutan pelan, tertata, dan manis. Siapa saja yang melihatnya akan menghidupkan kepakan sayap burung pada gaster sekalipun pasangan tersebut sudah termasuk ke dalam sebutan kakek-kakek.

Jihoon menarik diri. Ia melempar tatapan matanya ke sang suami, menelisik bola mata yang menyimpan berjuta kenyamanan sekalipun netra itu mengalami keredupan akibat disfungsi organ.

Satu kata yang selalu berlarian di dalam kepalanya: Sayang.

Jihoon menyayangi lelaki itu. Sekalipun sering membuatnya kesal, marah, dan merajuk.

Saking sayangnya, Jihoon pernah bergumam, jika ia bisa memberi hatinya secara langsung kepada Soonyoung, akan ia lakukan. Pasti.

Jihoon memamerkan senyum termanis. Rasa syukur tak henti ia rapalkan dalam dada.

Lagi, jika Jihoon boleh meminta, ia ingin mati bersama dengan sang terkasih kemudian dikebumikan dalam dua liang lahat yang bersebelahan. Tidak ada yang tertinggal di antara mereka berdua, tidak ada yang tersiksa pula.

Hari mulai gelap. Angin semakin kencang berhembus. Tidak dari keduanya ingin menyudahi hari ini. Satu lembar lain di mana mereka semakin gencar menuliskan kembali arti kesetiaan.

“Soonyoung, aku tak akan berhenti mengucapkan ini setiap harinya;

Sekalipun nanti di atas sana aku telah tidur dalam pangkuan Tuhan, rasa ini selalu sama. Aku, hatiku, dan seluruh jiwaku milikmu seutuhnya. Bahkan kalau Tuhan mengizinkan bibirku untuk terus berucap bagai sebuah program, kalimat itu selalu sama, Soonyoung, Jihoon mencintaimu.”

Soonyoung memeluk prianya untuk mengirim afeksi yang meletup-letup dalam dirinya. Membawa salah satu rungu Jihoon menempel pada dadanya yang berdetak.

“Kau bisa dengar itu? Jantungku berujar sama. Aku jauh lebih mencintaimu, Jihoon.”

ㅡFin.