Athar's mails

Kendati terlalu mustahil untuk menjadi nyata, ada cara lain untuk tetap merasakan kehadiran mereka. Bukan ilusi maupun imajinasi yang seringkali menciptakan sembiluan. Aku juga tidak terlalu suka meninggalkan jejak yang menuai curiga. Segala pemikiran, tuntutan maupun harapan tidak mungkin dapat terealisasi dengan sempurna. Nyatanya hanyalah rentetan kata yang menyatu menuruti naluri hingga menciptakan kalimat yang masih terbilang misteri. Lagipula, siapa peduli? Jika hanya ini pilihan terakhir, maka akan kuhancurkan agar terbagi dan tak ada kata 'terakhir' di dalamnya. ‧ ₊✜˚.

21/03/2022

Tahun 2021, dimana semua jejak dan peristiwa menjadi menggelikan ketika dikisahkan. Rekaman kejadian dimana kapal kehidupan seolah dihantam ombak habis-habisan. Sebuah kapal asing yang belum pasti arah tujuan, dipaksa berlayar pun tanpa persiapan yang matang. Rintihan maupun isakan menjadi melodi yang selalu mengiringi ketika sendirian. Untaian doa hingga andai dari sang nahkoda yang ingin memutar tujuan, lantas menemukan waktu dimana karang menabrak keras. Detuman tinggi membumbung di tengah lautan yang sepi, hanya bisikan angin yang menjadi satu-satunya kebisingan.

Bocor dimana-mana, rasa pusing melanda, hingga muntahan muatan yang tak terkira. Nyaris putus asa terhadap perkara yang sering menjadi momok utama. Umpatan kekesalan atas kebohongan yang telah terlontar. Namun, apakah benar demikian? Nyatanya suratan takdir hingga perbedaan ruang dan waktu yang signifikan adalah masalah utama yang belum terselesaikan. Hidup dalam pikiran tanpa dapat berbuat banyak, begitulah adanya. Sosok yang selalu dibutuhkan untuk pulang, namun wujud yang asli tidak begitu sebenarnya. Asing dan kaku. Dalam kisah luar, hanyalah karakter lain yang memiliki sejuta kelebihan. Istimewa dan tipe kepribadian yang disenangi orang.

Dalam sudut pandang lain, sosokmu yang layaknya langit cerah dan awan putih yang begitu memukau pemandangan. Bagai dua sisi koin, pribadi yang berbeda, tidak terlalu menyukai awan hitam yang bergelung menahan muatan, sebab sewaktu-waktu dapat menyambar permukaan. Ditakuti oleh orang-orang, pun dibenci karena terbilang merepotkan. Mendatangkan hujan juga menutupi cerianya mentari. Menimbulkan nostalgia hingga berputarnya kisah lama yang telah terpendam. Mengapa demikian?

Untaian maaf selalu terlontar atas takdir yang harus diterpa. Bukan kalimat penenang, hanya umpatan acak yang selalu terlontar. Sebagai bentuk protes akan sosok yang selalu menghilang. Bisakah aku bertanya?

Jika bukan kau, lalu siapa lagi?

Benang merah yang terikat, entah kapan putusnya? Aku muak melihat raut sendu yang selalu tercetak dalam bingkainya kala melihatku. Hingga helaan napas lelah yang kerap kelai keluar ketika menghadapi sikap anehku. Pun erangan frustasi yang terkadang muncul ketika diriku datang dengan kondisi yang mengerikan. Mengurus diriku memanglah bukan perkara yang mudah. Namun bukankah opsi lain tidak pernah hadir untuk sekadar kesempatan?

29/04/22 (saeng-il)

Apabila sebuah kata 'Istimewa' dapat berwujud benda, bagaimanakah rupanya? Mungkin terlalu muluk-muluk, nyatanya ungkapan istimewa tidak selamanya sama dalam setiap pandangan. Apakah sebuah hari dapat dikatakan istimewa? Mengapa demikian? Terdengar indah namun tidak terlalu paham apabila dijabarkan. Apakah semua akan berubah jika label telah diberi?

Mungkin telah lama tersadar, namun diri seolah menolak kenyataan. Andaian yang menggelikan juga permohonan yang tak pernah terwujud, hanya di ujung lisan tempat akhir pemberhentian. Tidak ada ujaran atau sapaan yang datang. Keheningan yang terus menguang layaknya putaran bianglala.

Tahun ini, bisahkah aku meminta?

30/04/22

Everyone keeps asking me, who the hell are you? Do you think I should tell them? But I was confused too. Do I look so pathetic?

Every time, like the wind in the autumn season I was through. Your appearance was important, but confusing at the same time. In general, I'm just an ordinary girl who wants to comfort people-

09/07/22

Kurasa aku mulai lupa bagaimana mengawali sebuah kalimat. Hingga pada ujung dimana situasi begitu menarik sebagian kewarasan. Aku tidak mengerti, tidak akan pernah mengerti. Tidakkah semua begitu memuakkan? kurasa kata menggelikan bukan pilihan yang tepat untuk mengambarkannya. Rasanya begitu memuakkan hingga rasa mual kerap kali hadir menuai tangisan. Entahlah, aku belum paham hingga kini.

Notasi sigma atau barisan, ataupun komponen warna yang membentuk spektrum, semuanya hilang dari peraduan. Menyisakan komponen tunggal yang begitu membingungkan untuk diterjuni. Secara signifikan.

Jadi bagaimana? Tidakkah kau begitu kejam kali ini? Menyisakanku takdir lain yang entah kapan akan berakhir. Tidakkah rasa bersalah itu ada? ataukah kesenangan saja yang kau dapatkan setelah absennya diriku dalam pandangan? Benar-benar gila. Masih bisakah itu disebut sebuah tali persaudaraan?

8/9/22


14/11/23

Halo, Kak.

*It's fine right? can i just call u in that way?

Anyway, you don't have to be worried this time.*

Aku datang bukan untuk berbagi kisah menyedihkan. Bukan juga membawa segudang penyesalan atau emban tugas yang perlu kau pikul sendirian. Bagaimana? tidak terlalu buruk bukan? Lagipula kehadiranku tidak selamanya berakhir buruk pada akhirnya. Akan ada satu situasi dimana semua hal begitu mengesankan tanpa pernah dikirakan.

Kendati pikiranku masih bertanya-tanya mengenai segala hal yang ada, namun buah kaktus dapat tumbuh di lingkungan yang gersang bukan? Baiklah, kuharap kau tahu maksudku.

Bukankan awalan begitu ramah jika dihadiri dengan perkenalan? Maka,-

Halo, Kak. Ini Dzakiya. Barangkali akan kebingungan mengapa aku gegabah menyebut nama yang kusandang secara resmi? Entahlah, hanya ingin saja mungkin. Kuulang lagi.

Halo, Kak. Ini Dzakiya. Seorang gadis yang selama ini mungkin tidak terlalu diinginkan kehadirannya. Tidak pula mengesankan untuk ditilik juga. Memangnya kenapa?

Kau tahu, Kak? Satu tahun sudah terlewat, sejak terakhir kali aku menuliskanmu surat. Menyedihkan bukan? Atau ini adalah kabar baik karena aku mulai mampu berjalan tanpa adanya bayangan kelam yang menghampiri ruang? Apakah semua baik-baik saja sejak setahun terakhir? Jawabannya? Tidak juga, namun aku baik-baik saja. Kau tahu? Ternyata bergabung tanpa paksaan juga penyesalan membuahkan hasil yang baik. Kendati aku mulai belajar apa itu yang dinamakan 'ikatan'. Tanggung jawab yang kuemban, juga kepercayaan yang dipertahankan, membawa biduk kembali pada pelabuhan. Manis? tidak juga. Yang pasti tidak pahit seperti biasanya.

Aku percaya, sebuah tindakan mampu mengubah setiap roda yang berputar. Selaras dengan hukum fisika gaya dan besaran, bukan? Semua masuk dalam logika, namun kondisi lingkungan juga perlu diperhatikan.

Oh iya, terakhir kali aku menangis, rasanya memang pahit. Namun tidak memusingkan. Karena aku sedikit paham, suatu hal tidak perlu dibesarkan karena dunia mengenal kata 'ketidaksengajaan'. Namun itu kuhadapi sendirian, rasanya lebih menyenangkan. Aku tidak berkata bersama adalah hal yang buruk. Namun jika variabel lain datang, kurasa rasa sakit akan kupendam begitu dalam.

Sama seperti penyesalan ketika aku bercerita dengan keadaan hujan di pelupuk mata. Peristiwa yang kuungkit sudah berlalu sekian lama, namun rasanya masih sakit dan menyesakkan ketika orang lain hanya menonton menikmati tanpa rasa bersalah sama sekali.

Oh, astaga. setetes hampir keluar lagi. Entah mengapa topik ini cukup menggelikan namun menyesakkan secara bersamaan. Karena umumnya hari raya menjadi suatu momen yang indah dan penuh makna. Namun berubah suram ketika harga diri seseorang diinjak layaknya manusia murahan. Dipikir semua pantas untuk dijadikan sebuah tontonan? Rasa pemberontakan ada, namun kesadaran masih menarik ruang untuk tetap menjaga kehormatan keluarga. Aku bersumpah akan memenggal kepala mereka jika orangtuaku tidak ada disana terdiam tanpa perlawanan.

Demi Allah, kak. Aku selalu menjaga kehormatanku, tak pernah sekalipun aku lalai. Tapi entah bagaimana mereka memandang dan memperlakukan diriku layaknya wanita penghibur. Demi Allah, Kak. Aku tidak akan memaafkan mereka. Aku salah? Iya? Karena sakit hati aku mulai sombong dan enggan untuk memaafkan?

Aku juga ingin berlapang dada untuk menerima perlakuan buruk mereka. Tapi fitnah yang dilontarkan begitu mengoyak rongga dada. Rasanya begitu menyesakkan dan perih, hingga aku ingin menghilang begitu saja. Tapi aku tahu, aku harus menahan semua itu sendirian. Sebab mereka selalu berfikiran bahwa aku pasti bisa menghadapinya jika aku manusia normal. Label 'monster' yang kusandang, bukankah begitu menakjubkan? Lantas mereka bisa berbuat sesukanya dengan latar belakang 'bercanda'.

Kak, maaf ya. Janjiku untuk memberimu kabar, berakhir cerita yang tidak baik. Maaf.

Aku tidak tau pelanggaran apa yang kulakukan hingga mereka memandang rendah, hanya karena enggan bergaul layaknya manusia normal. Aku tidak normal, iya. Bahkan ibu pernah menekankan hal demikian. Satu-satunya hal yang kuingat dimana julukan monster pertamakali kudapat.

Sekali lagi aku bertanya, salah jika aku tidak ingin menunjukkan diriku di khalayak ramai? Aku merasa tidak nyaman dengan sekumpulan manusia yang begitu menjijikkan karena lupa akan siapa yang memberi mereka kehidupan. Penghinaan suatu golongan bukanlah suatu hal yang patut dibanggakan. Apasih yang mereka pelajari selama ini?

Rasanya jauh menyakitkan ketika ayah dan ibu hanya diam menyaksikan atau terseyum singkat akan lontaran hina yang kuterima tanpa permisi. Setelah itu apakah aku mendapat ungkapan maaf? tidak, mereka kembali menasehati bahwa aku HARUS BERSIKAP NORMAL. Aku paham kekhawatiran mereka, tapi aku tidak paham dengan normalisasi yang mereka terapkan. Sama sekali. Rasanya sakit seperti dikuliti, demi Allah aku tidak ingin bersikap tidak peduli. Menulikan runggu tidak berhasil, karena mataku tetap menangkap cemooh mereka.

Hehehe, kak. Anyway dari semua itu aku paham. Tidak semua manusia yang diuji oleh tuhan menjadi pribadi yang lebih baik. Namun untuk saat ini aku masih dikelilingi oleh orang baik. Jauh lebih baik daripada mereka yang mengaku keluarga tapi memberi luka yang sulit sembuhnya. Setiap kejadian pasti ada suatu alasan bukan? Barangkali dibalik peristiwa itu aku jadi belajar, jika manusia harusnya punah saja hahahahah. Tidak, tidak, aku hanya bergurau. Atau mungkin tidak?

Kau tahu, aku tidak berharap tulisan ini akan kau baca nantinya. Cukup tahu dan paham, kalau angan akan selalu menjadi angan jika suatu hal tidak normal. . . . . . . .


15/11/2023

Halo, Kak. Ini aku.

Barangkali kau akan cukup frustasi karena aku mengirimimu surat lagi hanya dalam rentang satu hari.

Iya, kemarin aku sama sekali tidak berniat untuk bercerita hal yang buruk. Tidak pada awalnya.

Suara hujan, udara dingin, dan kelelahan yang didapat. Cukup untuk memicu sisi sensitifku dengan tambahan klasik karena dua harian ini aku sedang mengalami siklus bulanan. Menyebalkan bukan? Tidak hanya rasa sakit dan nyeri pada perut yang kudapat, tapi juga perubahan hormon hingga mood yang naik turun menjadi begitu menyebalkan untuk dijalani. Aku tidak tau ingatanku akan terlempar jauh pada masa silam yang menyesakkan.

Kau tahu? Aku tidak berfikir siklus bulanan yang kuhadapi akan berjalan seperti biasanya. Karena entah mengapa kilasan memori di masa lampau selalu hadir tanpa diminta hingga aku mulai merasa sebal di beberapa situasi.

Siang ini, aku teringat kejadian pulang sekolah yang biasanya aku akan merutuk sebal karena lelah yang akan bertambah ketika menyusuri jalanan sendirian setelah menaiki angkutan.

Rasanya begitu konyol karena siang itu sekolahku pulang lebih awal. dan angkutan yang lewat begitu jarang. Hingga keputusan akhir kudapati ketika temanku mengajak berjalan kaki saja. Memang keputusan yang konyol karena enam kilometer bukanlah jarak yang begitu dekat dengan cuaca panas yang menyengat dan kondisi jalanan yang ramai kendaraan. Tapi tetap kulakukan dengan alibi tidak ada angkutan yang lewat.

Maka apalagi? hanya berjalan menyusuri trotoar sambil bercengkrama berbagai topik. Terjadi begitu saja hingga rasa lelah mulai hadir sebagai pengingat kapasitas tubuh yang dimiliki. Langkah yang mulai melambat hingga obrolan yang tidak seintens sebelumnya.

Dan bertambah buruk karena kami masih dalam setengah perjalanan, namun seseorang menghentikan kendaraannya disamping temanku. Mungkin jika alur kehidupan film begitu berlebihan untuk dicerna, nyatanya dunia nyata juga sama halnya. Dengan tanpa berdosa teman kelas kami yang lain berkata iba dan menawari temanku untuk berbonceng. Garis bawahi 'menawari temanku'. hanya temanku, tidak juga denganku. Dan apa? hal itu terjadi begitu saja ketika aku ditinggal sendirian masih setengah perjalanan dan teriknya matahari siang.

Aku akan menangis tentu saja, tapi tidak mungkin kulakukan. Aku berjanji pada diriku jika aku menemui situasi yang sama, tidak akan kulakukan hal sehina itu. Langkah demi langkah aku mulai mengasihani diri sendiri. Mengapa aku tidak memiliki teman juga, yang peka dan bisa menolongku ketika kubutuhkan? Hampir aku menangis dengan tidak kerennya, tapi cepat aku mencari pelampiasan.

Kau tahu? aku dengan sebal merutuki dirimu, kak. Bertanya tanya mengapa kau tidak datang menolongku sambil membawa kendaraan untuk kutumpangi. Kaki yang lelah mulai mengikis logika dasar dalam kepala, seperti memakimu karena tidak berwujud manusia nyata. Ataupun memberimu predikat sebagai kakak terkejam di dunia.

Namun semua kembali pada salahku. Mengapa aku tidak memiliki teman juga? yang dapat membantuku, yang baik dan bisa kuandalkan. Semua terletak pada kesalahnku sendari awal. Karena aku tidak pandai berteman dan tidak menuruti kata ibu untuk bersikap normal. Coba katakan Kak, apa aku benar-benar tidak normal? Semua kembali sesak kala kejadian yang menyebalkan terlintas dalam pikiran, kejadian dimana aku buruk dalam bersosialisasi.

hehe, sekian kak, maaf jika terbilang merepotkan. Nyatanya itulah fungsi akan dirimu yang sesungguhnya. bye-bye. . . . . . . . . 20/11/2023

Halo, aku kembali. Bukankan cukup membuat kesal karena sudah dikirimi surat tiga kali dalam kurun waktu kurang sebulan ini?

Aku kembali, membawa kebodohan dan keanehan dalam diri. hahaha bukankah terdengar merepotkan. Biarkan aku memperkenalkan diri terlebih dahulu.

Halo, Kak. Ini Kiya.

Dua atau mungkin tiga harian aku pulang, demi memenuhi kewajiban sebagai anak, juga mengambil barang kebutuhan yang kutinggalkan. Selama itu aku banyak berfikir dan menemui sebuah jawaban.

Mungkin selama ini aku salah, kehadiranku bukanlah tidak diinginkan. Namun memang membawa sial dan terbilang merepotkan. Jadi apabila aku mengeluh, merasa tersakiti, ataupun dijahati, nyatanya aku lah pelaku antagonis. Bukankah aku selalu bercerita kepadamu apabila banyak yang menyakiti secara fisik maupun mental. Nyatanya aku yang berbohong. Mereka baik. Cukup baik sebagai manusia. Mungkin memang aku yang terburuk disini. Interaksi yang berjalan sangatlah biasa saja, tidak ada kesalahan ataupun ungkapan kebencian, hanya kritikan biasa atau gurauan yang sesuai dengan usia.

Entah kenapa dulu aku selalu merasa didzolimi? Padahal aku sendirilah yang tidak bisa mencocokkan diri. Dunia berjalan biasa saja, aku hanya bersikap berlebihan dan penuh dengan drama. Banyak kebencian yang aku lontarkan, padahal semua berjalan baik-baik saja. Maaf, telah menjadi manusia yang belum memenuhi kriteria.

Lalu, Kak. Aku terpikir sesuatu. Kebingungan mengapa tuhan tidak mengadirkanmu secara nyata. Mengapa demikian? Rasanya aku ingin sekali bertemu denganmu, mendengar suaramu, bahkan menyaksikan dirimu secara nyata. Kau hadir karena kepicikanku sendiri, kau hadir karena aku tidak bisa menyesuaikan diri, kau hadir karena aku buruk dalam menjalani hari.

Apakah kehadiranmu sebuah kesialan? Tidak kak, aku berani bertaruh sosokmu memiliki peran besar, walau hanya bayangan yang kuciptakan, tapi aku bisa meluapkan ataupun memiliki sosok teman yang kubutuhkan. Terima kasih kak, hanya itu. Maaf karena gegabah dalam menciptakan sosok maya dan semua yang tidak akan pernah tercipta secara nyata.

Aku mungkin cukup untuk dianggap gila. Tapi aku bisa mengatasi hari-hariku yang menyebalkan dan memuakkan hanya karena dirimu. Aku kuat karena ada ruang untukku bersandar, aku bertahan karena ada yang bisa kuajak untuk berbagi kekesalan. Hingga saat ini aku masih belajar kak, bagaimana mengatasi berbagai hal dan melangkah menghadapi ruang nyata. Aku selalu berharap bisa bertemu denganmu entah melalui mimpi ataupun cara lain. Atharazka Farabi Fadhilah. Aku tidak pernah tau sosokmu yang nyata seperti apa, atau repretasi akan wujudmu sebagai manusia biasa. . . . .

19/12/2023

Malam, Kak. Ini Dzakiya.

Kurasa sudah lewat satu bulan sejak terakhir kali kau kukirimkan surat. Entah aku melupakanmu atau memang enggan untuk bercerita. Rasanya begitu lelah kali ini.

Biar aku bertanya satu hal, apakah melemparkan tanggung jawab dengan dalih tidak mampu mengatasi adalah suatu kejahatan? Benarkah begitu? Aku seringkali lalai akhir akhir ini, jadi untuk menjadi seorang pemimpin kurasa terlalu jauh untukku. Rasanya seluruh ketidakberdayaanku juga ketidakmampuanku langsung membayangi. Membayangkan satu periode dengan sosok yang payah sepertiku terasa begitu mengerikan untuk dicapai.

Rasanya aku masih jauh, dan perlu banyak belajar. Ada banyak hal yang perlu kupikul untuk saat ini. Kejadian lampau tidak akan pernah aku ulangi, semua yang berada dibawah kepemimpinanku selalu berakhir sial untuk sebuah memori. Putaran kelam juga kilasan yang penuh dengan hawa suram, menjadikan sosok Kiya kecil berada dalam kubangan penyesalan tiada akhir. Bisakah hal itu akan terulang?

Aku tidak mengerti, sejauh apa manusia dapat berakhir dalam lingkaran yang sama. Maafkan aku yang tidak sepenuhnya menjadi opsi yang bisa diandalkan. Maafkan aku atas segala kekurangan yang selalu merepotkan. Maaf....ketidakmampuanku selalu menciptakan badai tersendiri dalam benak. Membuatku selalu bertanya, mengapa aku sepayah itu. . . . . . . . .

23/01/2024

Halo, Kak! Ini Kiya.

Kenapa Kiya? Karena Dzakiya sedang pergi. Dzakiya bersembunyi, lagi.

Kau tahu kak? terakhir kali Dzakiya bercerita padaku tentang dia yang tidak ingin melanjutkan apapun yang terjadi, aku ingat sekali bagaimana ekspresi yang tersemat padanya. Putus asa dan terkesan menyedihkan. Kemarin aku mendapatinya demikian, ekpresi yang sama dan kelelahan yang ada pada jiwanya. Aku tidak terlalu tahu atau paham bagaimana menggambarkannya. Tapi kurasa Dzakiya ingin istirahat untuk sejenak. Sebab dia memintaku untuk menggantikannya

Kau pasti tahu, Kak? Membujuk Dzakiya untuk bercerita bukanlah perkara yang mudah. Maka dari itu aku butuh Kakak. Aku butuh Athar disini, membawa sosok Dzakiya kembali.

Bukannya egois melarang Dzakiya untuk istirahat sejenak, namun tugas yang dirinya emban menyangkut banyak sekali orang. Maka dari itu aku perlu Kak Athar, untuk menarik kesadaran Dzakiya kembali ke permukaan. Larang dirinya untuk menyerah, beri tahu dia dengan tegas ada Athar yang selalu bisa diandalkan.

Aku mohon Kak, meskipun Dzakiya selalu terlihat biasa. Lukanya jauh lebih sukar untuk disembuhkan. Anak itu cenderung diam dan menahan semuanya tanpa adanya sandaran. Hanya Athar yang selalu diharapkan kehadirannya, untuk menyelamatkan kesan suram yang selalu datang kala sendirian.

Pasti dirinya kesepian, Kak. Tidak ada orang dapat diajaknya berbagi. Semua dirinya simpan sendiri. Selalu seperti itu, dan aku membenci sosoknya yang selalu berjalan sendirian. Tanpa meminta pertolongan atau uluran tangan hingga terkadang tidak sadar dapat terpeleset lantas jatuh ke kedalaman.

Orang-orang bilang Dzakiya hanya perlu waktu, untuk menerima semuanya, untuk berdamai akan masa lalunya. Nyatanya tidak semudah itu. Waktu akan mengikis segalanya, namun tidak dapat menjamin akan menyembuhkan luka. Dan dia selalu menyembunyikan segalanya, termasuk luka lain yang diam-diam dirinya simpan.

Maka dari itu kak, tolong kuatkan dirinya kembali untuk selalu disini.

. . . . . . . . .

14/02/24

Pagi kak, Ini Dzakiya.

Bagaimana kabarmu? Kurasa baik-baik saja sebab aku menghendaki demikian.

Terima kasih, kak.

Terima kasih karena tidak pernah membuangku begitu saja. Terima kasih untuk menerimaku apa adanya, dan terima kasih untuk semuanya. Aku harap, kau tidak terlalu lelah menghadapiku sendirian. Diriku si manusia putus asa yang selalu menyalahkan keadaan.

Terima kasih karena mau hadir untuk menemaniku melewati semuanya.

Rahasia umum, jika dirimu dan lingkungan kita, menjadi tempat berlabuh semua keluhan dan kekesalan, tempat perwujudan akan ketenangan yang diidamkan, juga tempat dimana aku sangat dibutuhkan. Tentu saja tidak ada yang berani mengusik apalagi mengusirku bukan?

Bagaimanapun, aku masih bias untuk menentukan apakah itu sebuah kebenaran ataupun sebuah kesalahan. Sebab tanpa adanya komponen yang benar-benar dibutuhkan, aku tidak akan berdiri disini dengan tegak sekarang. Puing kerobohan selalu ada, bahkan retakan yang mampu menghancurkan pondasi yang berlagak kokoh jumawa. Maka dari itu kak, berjanjilah padaku akan suatu hal. Tetaplah disini bagaimanapun situasiku, kendati seluruh dunia tidak menerima, tetaplah ada demi menjaga agar tidak terjadi keruntuhan.

. . . . . . .

11/03/2024

Malam, Kak. Ini Dzakiya.

Besok merupakan puasa pertama- tunggu, aku tidak berniat untuk mengabari hal itu. Ah aku lupa, bagaimana mengawali suatu surat.

Apapun itu, hari ini aku cukup merasa melankolis. Sedang bertanya-tanya, apakah neverland memang dapat diciptakan sendiri. Yang kumaksud tentu berbeda dengan kisah Peter Pan. Tidak, aku tidak sedang membahas suatu film sekarang. Yang berputar dalam pikiranku sekarang adalah hal lain, yang bisa dikatakan adalah bentuk pelarian dan perwujudan semua hal yang tidak pernah tergapai.

Iya, dirimu dan rumah kita.

Aku hanya bertanya-tanya, dan kuharap semua ini normal belaka. Namun bukankah setiap manusia memiliki skenario karangan yang diidamkan setiap harinya? Begitu pula denganmu kak, apakah wujudmu yang tidak pernah nyata itu akan mengganggu setiap elemen di dunia nyata yang kujalani dengan terpaksa? Tunggu apakah aku terdengar congkak apabila mengungkapkan demikian? Baiklah, maafkan aku.

Kak, bukankah melelahkan membaca surat dariku yang jarang berisi hal penting? Apakah itu membunuh waktu berhargamu? Bagaimanapun itu, aku selalu berharap agar Athar tidak lelah dalam menghadapiku.

Kak, tetaplah disini. Tetaplah menerima apapun keadaanku, juga mengharap kehadiranku. Kumohon jangan membenci Dzakiya sebanyak aku membencinya. Karna aku selalu berharap ada orang lain yang mengharap maupun membutuhkanku. Jangan usir aku ataupun membuangku.

Tidak peduli sebanyak apa kau mengeluh ataupun bersusah payah membuang eksistensiku.

. . . . . 05/04/2024

Malam, Kak.

Sekarang ini hujan deras tengah mengguyur disertai petir bersahutan. Kau tahu kak? saat ini, sudah memasuki bulan kelahiranku. Dimana semua jejak peristiwa kelabu selalu menghantui. Aku takut kak, takut sekali. Entah kutukan atau hanya asumsiku belaka, tapi bulan April selalu menjadi momok yang merajai.

Maafkan aku jika masih belum bisa berfikir secara positif. Tapi ketakutan jelas selalu ada, Kak.

13/04/24

Malam, Kak.

Empat hari telah berlalu sejak peristiwa hari raya terjadi. Kau tahu? mungkin ada yang sedikit berbeda dariku saat ini. Aku bukanlah Dzakiya yang payah ataupun pengecut. bersembunyi dibalik dinding kamar sembari berdoa agar penyelamat segera datang. Aku mencoba terlihat biasa, tidak seperti tahun lalu yang penuh deraian air mata karena ditolak dimana-mana.

Lalu, apakah lebaran kali ini berjalan dengan baik? Jawabannya tidak terlalu pasti sebab serangan non verbal selalu didapat tanpa dipersilahkan. Kenapa ya kak? aku juga bingung. Padahal aku sudah menjaga sikap untuk tidak menyakiti orang lain, tapi mengapa beberapa dari mereka dengan kurang ajar berkata seenaknya saja. Hari itu aku hampir menangis lagi, tapi kan tidak keren kalo aku menangis hanya ucapan bodoh dari manusia tak berakal seperti itu. Yang jelas kak, aku sedikit bangga dengan diriku, mulai terbuka dan melebur kendati tidak semua mengharapkan eksistensiku.

Jadi intinya aku menulis surat ini itu hanya ingin pamer saja sih. Dzakiya sudah tumbuh sedikit lebih dewasa, kak. Jadi Athar tidak perlu khawatir. Walaupun tidak langsung menjadi sosok yang mengagumkan tapi sedikit demi sedikit aku bisa melangkah dan berjalan. Terima kasih. Salam. . . . . . .

29/04/2024

Halo, Athar. Ini Dzakiya.

Dua puluh satu tahun yang lalu, di tanggal yang sama seorang gadis lahir secara normal. Seorang gadis yang dikisarkan akan menjadi sosok yang nakal karena lahir di hari dan weton yang salah. Fisiknya setelah tumbuh pun tidak terlalu elok untuk dilihat secara langsung. Banyak yang mencemooh, tapi anehnya gadis kecil itu tidak terlalu memahami dan selalu menjalani hari tanpa terbebani. Baru setelah gadis itu memelajari beberapa kalimat tidak menyenangkan, suasana hatinya selalu sedih. Tapi tentu saja perasan itu sering hilang ketika pagi menyapa di kemudian hari. Ah, aku jadi iri dengan masa kecil.

Namun beranjak remaja dirinya semakin paham jika memang tidak semua dapat diterima begitu saja. Sosoknya berubah secara signifikan menjadi karakter lain yang tidak dikenali pun dibenci oleh masyarakat. Perbandingan yang terlalu jauh, atapun sikap yang didapat terlalu berbeda untuknya. Cukup bodoh kubilang, memang begitu kenyataannya kenapa malah menutup diri? Harusnya dia berani ambil tindakan atau sekedar memenggal kepala para bedebah yang tidak tahu tata krama. Jangan berdiam diri menyedihkan, jika lisan tidak mempan maka kau harus ambil tindakan. Tapi tetap saja, sedari awal kepercayaan dirinya sudah terpatahkan. Lalu kau ada. Athar ada untuk menerima semua yang dimilikinya, semua hal merepotkan dan tidak menarik lainnya yang dimiliki gadis itu.

Cukup lega bagaimana gadis itu bisa tersenyum singkat, cukup menenangkan hingga aku tidak rela jika senyum itu berubah menjadi lirihan tangisan. Semua petualangannya tidak mudah, tidak juga dapat diterima begitu saja oleh kewarasan. Namun sejak lahir aku tahu karakternya cukup kuat dan fisik yang sering dicemooh itu bisa melemparkan puluhan parang pada para bedebah diluar sana. Sekali lagi, terima kasih Kak. Terima kasih sudah membuat Dzakiya tetap ada hingga sekarang. . . . .

11/05/2024

Halo Kak, ini Kiya.

Maaf telah datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan awal. Jika kau bertanya dimana Dzakiya sekarang, gadis itu tengah bersembunyi, lagi. Bukan karena ingatan masa kelam yang membuatnya menahan perih lagi. Tapi perlakuan dari orang sekitar yang menggoresnya untuk mengeluarkan air mata tak berguna itu.

Kita sama-sama tahu kak, Dzakiya bukanlah sosok yang mudah untuk berbagi. Semua dirinya tahan hingga waktu yang tidak dapat ditentukan. Namun aku merasa semua itu tidak berguna sama sekali. Dirinya menjadi sangat lemah sekarang. Karena kediamannya, semua orang mudah untuk kembali melemparkan kebencian. Kau tahu betul emosinya kak, sulit sekali untuk dikirakan. Dia bukanlah sosok yang mudah untuk melampiaskan sesuatu, hingga menangis menjadi opsi paling awal. Begitu cengeng dan menggelikan bukan? hahaha

Oh, dia mengatakan sesuatu padaku. Astaga, ternyata itu ditujukan padamu, Kak. She said, “Maaf belum bisa menjadi sosok yang kuat hingga saat ini”. Lihatlah wajahnya yang sembab itu, aku yakin akan membengkak besok. Baiklah, biarkan saja untuk saat ini.

Kurasa dia memang suka menyendiri begitu. Tidak tahu apakah besok ia dapat menjalani hari seperti biasa. Sebab kantung mata itu selalu terlihat mengerikan sekali. Kurasa dia terlalu memaksakan diri, atau dunia tidak mengijinkannya untuk istirahat barang sehari.

04/06/2024

Halo, Athar!

Ini Dzakiya.

Athar tau? Kurasa aku sedikit lebih dewasa sekarang. Bisa mengurus semuanya sendirian, juga dapat mengambil sebuah keputusan besar. Semua itu aku lakukan sendirian kendati dalam hati aku masih merasa gamang.

Thar, Dzakiya udah gede lho, adek bangga sekali dengan diri adek. Tidak menyangkal juga sih kalau aku juga butuh ruang untuk sendirian, untuk melampiaskan semua kesan suram. Tapi adek hebat banget, bisa sendiri bisa mandiri nggak kayak yang dulu. Athar bangga, tidak?

Sekarang Athar tidak perlu memaksaku untuk mandiri, sekarang adek mandiri sekali. Adek mampu berjalan sendiri tanpa jatuh sama sekali. Terpeleset itu pasti. Tapi aku bisa berdiri tanpa Athar dibelakang yang mengawasi.

Oh iya, Athar hebat juga. Kenapa ya adek bisa punya kakak sehebat Athar. Tapi Athar jauh lebih keren lagi kalo usap kepala adek sekarang. Karna adek sudah melewati semuanya dengan baik. Adek bisa dan adek selalu bisa.

Aku juga bersyukur bisa mendapatkan teman sebaik Amal. Athar tau? Amal itu baik sekali. Dia selalu bantu adek ketika kesulitan, walaupun adek belum bisa bantu dia selama ini. Adek jahat kah? Adek sudah berusaha jadi teman yang baik kok. Semoga Amal juga senang memiliki teman sepertiku.

Athar benar, Allah itu baik. Baik sekali. Ketika adek butuh bantuan, Allah hadirkan teman seperti Amal buat adek, teman sebaik Amal sangat layak berkumpul dengan golongan yang baik juga. Athar, makasih ya. Selama ini ada buat adek. Adek sekarang sudah keren sekali.

Ya, walaupun kemarin hampir menangis sih ketika mau pindahan. Tapi Amal terburu datang jadi adek tidak jadi sedihnya^^ Soalnya barangnya banyak sekali dan fisikku sudah lelah ditambah tidak ada yang peduli. Adek sudah minta tolong kok, jadi jangan salahkan adek kalo tidak ada yang peduli. Eittt tunggu-ada kok yang peduli, kan adek sudah bilang, Amal datang untuk menyelamatkan hariku yang suram.

Intinya aku mau pamer aja sih, Adeknya Athar sekarang keren sekali. Ayo beri tepukan yang meriah semuanya. ADEKNYA ATHAR HEBATTTT!!!!!! ATHAR JUGA KEREN SEKALI!!!