Kals

As Beautiful as may it seems

Summary : Hari ini pernikahan Kak Jeno bersama Kak Donghyuck. Dan ada sesuatu yang harus Chenle katakan ke kak Jeno


Menurut Chenle, hari ini terlalu cerah.

Terlalu terik untuk matahari yang mengintip, terlalu harum untuk bunga yang baru dipetik hanya untuk pajangan, terlalu berisik oleh kicauan burung pipit ditambah setlist musik yang nanti akan dimainkan untuk para tamu.

Terlalu bahagia untuk hari pernikahan.

Hari ini adalah hari resmi kak Jeno dan kak Donghyuck lanjut ke jenjang kehidupan mereka selanjutnya. Dan ada sesuatu yang harus Chenle katakan ke kak Jeno.

Maka disinilah dia berdiri, di dalam tenda rias salah satu pengantin melihat pria yang lebih tua setahun darinya itu merapihkan jas-nya yang di dominasi oleh warna hitam dengan kerah berwarna putih, berkebalikan dengan milik Donghyuck.

'Seperti catur' suara hatinya menyumbang.

“Kaya catur” Itulah yang dikeluarkan mulutnya. Jeno hanya berdengus.

“Kamu baru lihat jas-ku? Kamu perlu lihat punya Donghyuck dan nanti kau akan melihat papan catur sebenarnya.” Chenle tahu, makanya tadi dia berkomentar seperti itu. Tapi pria kelahiran November itu memilih diam dan lebih tertarik memainkan jari lentiknya.

“Jadi, hanya itu yang mau kau bicarakan?”

Ah, Chenle lupa tujuannya membawa Jeno kesini.

Si penggemar Stephen Curry itu menggelengkan kepalanya lalu berjalan mendekat, menaruh bokongnya di salah satu kursi depan kaca yang otomatis diikuti oleh Jeno duduk di sampingnya.

“Chenle, katakanlah aku aneh, tapi dari pagi kau terlalu diam untuk seorang .. “

Jeno menjeda, memilih aksara.

”.. Zhong Chenle, dan tiba-tiba kau ingin membicarakan hal serius aku jadi takut. Apa ada masalah?”

Tidak, tidak ada masalah. Lebih daripada masalah, Chenle hanya perlu mengeluarkan isi hatinya. Semuanya terlalu mewalahkan. Chenle baru sadar ketika ditatap gusar. Seharusnya ini bukan urusan Jeno. Chenle menghirup udara dalam.

“Gak. Bukan hal serius kok. Cuma, gimana ya harus aku jelaskan?”

Jeno menaikan alis kanannya, kode meminta penjelasan lebih lanjut.

“Aku hanya merasa... “

“Kau bukan mau menyatakan perasaan padaku kan?”

“Tidaklah. Pikiranmu kemana kak!!”

Lalu Jeno tertawa kecil, sulutan untuk menaikan suasana berhasil. Chenle menghela napasnya.

“Aku hanya merasa ada yang aneh. Seperti waktu ternyata cepat sekali berjalan. Kak Mark mendapat promosi di Kanada kampung halamannya, Kak Kun harus kembali ke Fujian mengurus adopsi anaknya bersama Kak Ten, dan Kau tiba-tiba akan mengucap janji di altar nanti. Sedangkan aku, entah kenapa seperti penonton yang melihat film berputar begitu saja.”

“Kiasan yang bagus.”

“Iya kan? Aku belajar dari buku sastra yang disarankan Jisung minggu lalu.”

Lawan bicaranya kembali tertawa dan sesaat langsung termenung, memalingkan wajahnya ke refleksi di hadapannya. Chenle tahu otak kakak yang di cap paling membosankan di grup pertemanan mereka sedang mencerna apa yang disampaikan oleh Chenle. Dilihat dari profil samping dengan tatanan rambut hitam berponi ke atas seperti ini , Jeno lebih terlihat seperti model yang tersesat daripada calon pengantin. Chenle ingat dia di seret kak Donghyuck untuk menemani kedua sejoli itu memilih warna rambut yang mereka harus ganti untuk upacara sakral ini, yang sebenarnya tidak perlu repot-repot karena keluarga Donghyuck agak kolot. Warna dasar yang serupa dengan warna arang itu sudah mutlak pemenangnya. Tapi mereka membercandakan diri membayangkan bila warna yang digunakan adalah 'shades' lain.

“Memang ada shades warna hitam yang lain?” Kata Chenle waktu itu memandangi dari kursi tunggu salah dua orang yang paling dia sayang saat ini.

“Ada lah. Cari aja nama-nama warna hitam di Naver atau Google. Kalau gak salah ada sampai 25” Kata Jeno tidak melepaskan mata dari katalog majalah fashion yang disediakan oleh salon.

“Ada lah. Orang abu-abu saja punya 50 shades” Kata Donghyuck dengan senyum jahilnya dibalas Chenle cengiran paham. Untung dia sudah berada di umur legal.

Di masa sekarang Jeno memindahkan kembali manik coklatnya ke Chenle, mengecap bibirnya seperti mencoba hasil masakan baru.

“Kalau merasa seperti penonton, keluarlah dari bioskop itu. Jadilah sutradara, buat film yang sama atau kisah yang baru. Jadilah pemerannya. Aku tahu kau merasa seperti diam walau sebenarnya tidak. Kau hanya berjalan, namun di tempat yang sama. Tidak apa-apa. Sekarang tinggal langkahkan kakimu ke depan, atau kalau kau masih nyaman, nikmati waktu mu dulu, lihat benar-benar sekelilingmu. Kadang orang lupa atau tidak menghargai apa yang mereka punya saat ini.

“Apapun itu jangan lupa nanti bergerak. Pelan juga tidak apa-apa. Semua punya kecepatan masing-masing.

“Kau mungkin melihat semua orang berlari, tapi Chenle, kau juga harus percaya bahwa kami tidak meninggalkan. Cukup ketahui itu saja”

Kini, Chenle yakin dia datang ke orang yang tepat.

“Kau memang tidak lucu kak, tapi kau pintar. Aku sangat bersyukur kau dan kak Donghyuck memiliki satu sama lain”

Jeno menyuguhi pendapat asal itu dengan raut wajah khasnya yang walau keadaan apapun reaksinya tetap sama. Mata bulan sabit dan deretan gigi putih yang rapi.

“Aku anggap itu sebagai pujian”

“Memang pujian. Kak, kau tahu kan kalau kau kakak terfavorit ku?”

“Bukan Mark?” Chenle berpura-pura berpikir keras lalu mengedikan sebelah pundaknya.

“Sepertinya dia lebih ke anak favorit ku saja.”

“Memang kau punya anak berapa sampai ada yang harus kau spesialkan?”

Chenle tertegun, suatu ide melesat cepat masuk ke sel-sel otaknya. Lucu, karena Chenle juga tidak percaya dengan pikirannya sendiri. Tapi dia rasa mungkin ini salah satu langkah yang tepat seperti Jeno sarankan tadi.

“Belum punya banyak, tapi nanti akan ada satu”

Jeno melihatnya bingung.

“Kau menghamili gadis orang?”

Senyum yang tertempel di wajah Chenle terasa congak, dan Jeno tidak tahu harus merasa kembali berhati-hati atau tidak dengan bocah berandal ini.

“Aku akan adopsi anak anjing”

Jeno mengeluarkan suara lega dan bangkit untuk mengusak rambut coklat sawo Chenle, setelah itu melangkah menuju pintu keluar.

Sebelum benar-benar pergi, dia menengok sebentar ke Sagitarius yang malah asik membuka benda pipih untuk menghubungi manajernya dan menyusun rencana dimana dia bisa mendapatkan peliharaan kaki empat tersebut.

“Kalau kau mau bicara seperti ini lagi, kau bisa hubungi aku atau Donghyuck kapan saja. Kami sebisa mungkin selalu ada untuk anak pertama kami.” Canda Jeno yang hanya dibalas lambaian tidak acuh usiran secara halus oleh Chenle agar salah satu pengantin muda itu bisa kembali mengurusi acara yang sebentar lagi akan dimulai. Jeno menggeleng dan beranjak menjauh dari tenda, meninggalkan Chenle dengan bibir terukir tipis garis lengkung.


From Kak Hyun : “Ada apa? Kau bukannya sedang ada acara pernikahan? Kenapa menghubungi?”

To Kak Hyun : “Aku akan mengadopsi anak anjing” “Cepat carikan shelter” “Kalau bisa yang terpercaya dan bersih”

From Kak Hyun : “Ini serius?” “Ah aku harus mengurusi bukan hanya satu, tapi dua ekor anak anjing sekarang”

To Kak Hyun : “Kau meremehkan” “Kali ini aku yang akan mengurus, bahkan diriku sendiri” “Mohon bantuannya hyungnim”

From Kak Hyun : “Syukurlah” “Asal aku tetap di gaji”

To Kak Hyun : “Akan ku pikirkan”

From Kak Hyun : “ :((( “


Chenle mengunci layar ponselnya, kembali memusatkan perhatian pada pertunjukan yang berlangsung di depan retinanya.

Semua terlihat ceria, dan Chenle beruntung merasakannya juga.

Hari ini memang terlalu terik, terlalu harum, terlalu berisik. Tapi hari ini adalah pernikahan Kak Jeno bersama Kak Donghyuck. Dan Chenle sudah mengatakan curahan hati ke kak Jeno-nya.

Jadi semua akan baik-baik saja.

#As #Beautiful #as #may #it #seems

Summary : Hari ini pernikahan Kak Jeno bersama Kak Donghyuck. Dan ada sesuatu yang harus Chenle katakan ke kak Jeno


Menurut Chenle, hari ini terlalu cerah.

Terlalu terik untuk matahari yang mengintip, terlalu harum untuk bunga yang baru dipetik hanya untuk pajangan, terlalu berisik oleh kicauan burung pipit ditambah setlist musik yang nanti akan dimainkan untuk para tamu.

Terlalu bahagia untuk hari pernikahan.

Hari ini adalah hari resmi kak Jeno dan kak Donghyuck lanjut ke jenjang kehidupan mereka selanjutnya. Dan ada sesuatu yang harus Chenle katakan ke kak Jeno.

Maka disinilah dia berdiri, di dalam tenda rias salah satu pengantin melihat pria yang lebih tua setahun darinya itu merapihkan jas-nya yang di dominasi oleh warna hitam dengan kerah berwarna putih, berkebalikan dengan milik Donghyuck.

'Seperti catur' suara hatinya menyumbang.

“Kaya catur” Itulah yang dikeluarkan mulutnya. Jeno hanya berdengus.

“Kamu baru lihat jas-ku? Kamu perlu lihat punya Donghyuck dan nanti kau akan melihat papan catur sebenarnya.” Chenle tahu, makanya tadi dia berkomentar seperti itu. Tapi pria kelahiran November itu memilih diam dan lebih tertarik memainkan jari lentiknya.

“Jadi, hanya itu yang mau kau bicarakan?”

Ah, Chenle lupa tujuannya membawa Jeno kesini.

Si penggemar Stephen Curry itu menggelengkan kepalanya lalu berjalan mendekat, menaruh bokongnya di salah satu kursi depan kaca yang otomatis diikuti oleh Jeno duduk di sampingnya.

“Chenle, katakanlah aku aneh, tapi dari pagi kau terlalu diam untuk seorang .. “

Jeno menjeda, memilih aksara.

”.. Zhong Chenle, dan tiba-tiba kau ingin membicarakan hal serius aku jadi takut. Apa ada masalah?”

Tidak, tidak ada masalah. Lebih daripada masalah, Chenle hanya perlu mengeluarkan isi hatinya. Semuanya terlalu mewalahkan. Chenle baru sadar ketika ditatap gusar. Seharusnya ini bukan urusan Jeno. Chenle menghirup udara dalam.

“Gak. Bukan hal serius kok. Cuma, gimana ya harus aku jelaskan?”

Jeno menaikan alis kanannya, kode meminta penjelasan lebih lanjut.

“Aku hanya merasa... “

“Kau bukan mau menyatakan perasaan padaku kan?”

“Tidaklah. Pikiranmu kemana kak!!”

Lalu Jeno tertawa kecil, sulutan untuk menaikan suasana berhasil. Chenle menghela napasnya.

“Aku hanya merasa ada yang aneh. Seperti waktu ternyata cepat sekali berjalan. Kak Mark mendapat promosi di Kanada kampung halamannya, Kak Kun harus kembali ke Fujian mengurus adopsi anaknya bersama Kak Ten, dan Kau tiba-tiba akan mengucap janji di altar nanti. Sedangkan aku, entah kenapa seperti penonton yang melihat film berputar begitu saja.”

“Kiasan yang bagus.”

“Iya kan? Aku belajar dari buku sastra yang disarankan Jisung minggu lalu.”

Lawan bicaranya kembali tertawa dan sesaat langsung termenung, memalingkan wajahnya ke refleksi di hadapannya. Chenle tahu otak kakak yang di cap paling membosankan di grup pertemanan mereka sedang mencerna apa yang disampaikan oleh Chenle. Dilihat dari profil samping dengan tatanan rambut hitam berponi ke atas seperti ini , Jeno lebih terlihat seperti model yang tersesat daripada calon pengantin. Chenle ingat dia di seret kak Donghyuck untuk menemani kedua sejoli itu memilih warna rambut yang mereka harus ganti untuk upacara sakral ini, yang sebenarnya tidak perlu repot-repot karena keluarga Donghyuck agak kolot. Warna dasar yang serupa dengan warna arang itu sudah mutlak pemenangnya. Tapi mereka membercandakan diri membayangkan bila warna yang digunakan adalah 'shades' lain.

“Memang ada shades warna hitam yang lain?” Kata Chenle waktu itu memandangi dari kursi tunggu salah dua orang yang paling dia sayang saat ini.

“Ada lah. Cari aja nama-nama warna hitam di Naver atau Google. Kalau gak salah ada sampai 25” Kata Jeno tidak melepaskan mata dari katalog majalah fashion yang disediakan oleh salon.

“Ada lah. Orang abu-abu saja punya 50 shades” Kata Donghyuck dengan senyum jahilnya dibalas Chenle cengiran paham. Untung dia sudah berada di umur legal.

Di masa sekarang Jeno memindahkan kembali manik coklatnya ke Chenle, mengecap bibirnya seperti mencoba hasil masakan baru.

“Kalau merasa seperti penonton, keluarlah dari bioskop itu. Jadilah sutradara, buat film yang sama atau kisah yang baru. Jadilah pemerannya. Aku tahu kau merasa seperti diam walau sebenarnya tidak. Kau hanya berjalan, namun di tempat yang sama. Tidak apa-apa. Sekarang tinggal langkahkan kakimu ke depan, atau kalau kau masih nyaman, nikmati waktu mu dulu, lihat benar-benar sekelilingmu. Kadang orang lupa atau tidak menghargai apa yang mereka punya saat ini.

“Apapun itu jangan lupa nanti bergerak. Pelan juga tidak apa-apa. Semua punya kecepatan masing-masing.

“Kau mungkin melihat semua orang berlari, tapi Chenle, kau juga harus percaya bahwa kami tidak meninggalkan. Cukup ketahui itu saja”

Kini, Chenle yakin dia datang ke orang yang tepat.

“Kau memang tidak lucu kak, tapi kau pintar. Aku sangat bersyukur kau dan kak Donghyuck memiliki satu sama lain”

Jeno menyuguhi pendapat asal itu dengan raut wajah khasnya yang walau keadaan apapun reaksinya tetap sama. Mata bulan sabit dan deretan gigi putih yang rapi.

“Aku anggap itu sebagai pujian”

“Memang pujian. Kak, kau tahu kan kalau kau kakak terfavorit ku?”

“Bukan Mark?” Chenle berpura-pura berpikir keras lalu mengedikan sebelah pundaknya.

“Sepertinya dia lebih ke anak favorit ku saja.”

“Memang kau punya anak berapa sampai ada yang harus kau spesialkan?”

Chenle tertegun, suatu ide melesat cepat masuk ke sel-sel otaknya. Lucu, karena Chenle juga tidak percaya dengan pikirannya sendiri. Tapi dia rasa mungkin ini salah satu langkah yang tepat seperti Jeno sarankan tadi.

“Belum punya banyak, tapi nanti akan ada satu”

Jeno melihatnya bingung.

“Kau menghamili gadis orang?”

Senyum yang tertempel di wajah Chenle terasa congak, dan Jeno tidak tahu harus merasa kembali berhati-hati atau tidak dengan bocah berandal ini.

“Aku akan adopsi anak anjing”

Jeno mengeluarkan suara lega dan bangkit untuk mengusak rambut coklat sawo Chenle, setelah itu melangkah menuju pintu keluar.

Sebelum benar-benar pergi, dia menengok sebentar ke Sagitarius yang malah asik membuka benda pipih untuk menghubungi manajernya dan menyusun rencana dimana dia bisa mendapatkan peliharaan kaki empat tersebut.

“Kalau kau mau bicara seperti ini lagi, kau bisa hubungi aku atau Donghyuck kapan saja. Kami sebisa mungkin selalu ada untuk anak pertama kami.” Canda Jeno yang hanya dibalas lambaian tidak acuh usiran secara halus oleh Chenle agar salah satu pengantin muda itu bisa kembali mengurusi acara yang sebentar lagi akan dimulai. Jeno menggeleng dan beranjak menjauh dari tenda, meninggalkan Chenle dengan bibir terukir tipis garis lengkung.


From Kak Hyun : “Ada apa? Kau bukannya sedang ada acara pernikahan? Kenapa menghubungi?”

To Kak Hyun : “Aku akan mengadopsi anak anjing” “Cepat carikan shelter” “Kalau bisa yang terpercaya dan bersih”

From Kak Hyun : “Ini serius?” “Ah aku harus mengurusi bukan hanya satu, tapi dua ekor anak anjing sekarang”

To Kak Hyun : “Kau meremehkan” “Kali ini aku yang akan mengurus, bahkan diriku sendiri” “Mohon bantuannya hyungnim”

From Kak Hyun : “Syukurlah” “Asal aku tetap di gaji”

To Kak Hyun : “Akan ku pikirkan”

From Kak Hyun : “ :((( “


Chenle mengunci layar ponselnya, kembali memusatkan perhatian pada pertunjukan yang berlangsung di depan retinanya.

Semua terlihat ceria, dan Chenle beruntung merasakannya juga.

Hari ini memang terlalu terik, terlalu harum, terlalu berisik. Tapi hari ini adalah pernikahan Kak Jeno bersama Kak Donghyuck. Dan Chenle sudah mengatakan curahan hati ke kak Jeno-nya.

Jadi semua akan baik-baik saja.

#As Beautiful as may it seems

Summary : Hari ini pernikahan Kak Jeno bersama Kak Donghyuck. Dan ada sesuatu yang harus Chenle katakan ke kak Jeno


Menurut Chenle, hari ini terlalu cerah.

Terlalu terik untuk matahari yang mengintip, terlalu harum untuk bunga yang baru dipetik hanya untuk pajangan, terlalu berisik oleh kicauan burung pipit ditambah setlist musik yang nanti akan dimainkan untuk para tamu.

Terlalu bahagia untuk hari pernikahan.

Hari ini adalah hari resmi kak Jeno dan kak Donghyuck lanjut ke jenjang kehidupan mereka selanjutnya. Dan ada sesuatu yang harus Chenle katakan ke kak Jeno.

Maka disinilah dia berdiri, di dalam tenda rias salah satu pengantin melihat pria yang lebih tua setahun darinya itu merapihkan jas-nya yang di dominasi oleh warna hitam dengan kerah berwarna putih, berkebalikan dengan milik Donghyuck.

'Seperti catur' suara hatinya menyumbang.

“Kaya catur” Itulah yang dikeluarkan mulutnya. Jeno hanya berdengus.

“Kamu baru lihat jas-ku? Kamu perlu lihat punya Donghyuck dan nanti kau akan melihat papan catur sebenarnya.” Chenle tahu, makanya tadi dia berkomentar seperti itu. Tapi pria kelahiran November itu memilih diam dan lebih tertarik memainkan jari lentiknya.

“Jadi, hanya itu yang mau kau bicarakan?”

Ah, Chenle lupa tujuannya membawa Jeno kesini.

Si penggemar Stephen Curry itu menggelengkan kepalanya lalu berjalan mendekat, menaruh bokongnya di salah satu kursi depan kaca yang otomatis diikuti oleh Jeno duduk di sampingnya.

“Chenle, katakanlah aku aneh, tapi dari pagi kau terlalu diam untuk seorang .. “

Jeno menjeda, memilih aksara.

”.. Zhong Chenle, dan tiba-tiba kau ingin membicarakan hal serius aku jadi takut. Apa ada masalah?”

Tidak, tidak ada masalah. Lebih daripada masalah, Chenle hanya perlu mengeluarkan isi hatinya. Semuanya terlalu mewalahkan. Chenle baru sadar ketika ditatap gusar. Seharusnya ini bukan urusan Jeno. Chenle menghirup udara dalam.

“Gak. Bukan hal serius kok. Cuma, gimana ya harus aku jelaskan?”

Jeno menaikan alis kanannya, kode meminta penjelasan lebih lanjut.

“Aku hanya merasa... “

“Kau bukan mau menyatakan perasaan padaku kan?”

“Tidaklah. Pikiranmu kemana kak!!”

Lalu Jeno tertawa kecil, sulutan untuk menaikan suasana berhasil. Chenle menghela napasnya.

“Aku hanya merasa ada yang aneh. Seperti waktu ternyata cepat sekali berjalan. Kak Mark mendapat promosi di Kanada kampung halamannya, Kak Kun harus kembali ke Fujian mengurus adopsi anaknya bersama Kak Ten, dan Kau tiba-tiba akan mengucap janji di altar nanti. Sedangkan aku, entah kenapa seperti penonton yang melihat film berputar begitu saja.”

“Kiasan yang bagus.”

“Iya kan? Aku belajar dari buku sastra yang disarankan Jisung minggu lalu.”

Lawan bicaranya kembali tertawa dan sesaat langsung termenung, memalingkan wajahnya ke refleksi di hadapannya. Chenle tahu otak kakak yang di cap paling membosankan di grup pertemanan mereka sedang mencerna apa yang disampaikan oleh Chenle. Dilihat dari profil samping dengan tatanan rambut hitam berponi ke atas seperti ini , Jeno lebih terlihat seperti model yang tersesat daripada calon pengantin. Chenle ingat dia di seret kak Donghyuck untuk menemani kedua sejoli itu memilih warna rambut yang mereka harus ganti untuk upacara sakral ini, yang sebenarnya tidak perlu repot-repot karena keluarga Donghyuck agak kolot. Warna dasar yang serupa dengan warna arang itu sudah mutlak pemenangnya. Tapi mereka membercandakan diri membayangkan bila warna yang digunakan adalah 'shades' lain.

“Memang ada shades warna hitam yang lain?” Kata Chenle waktu itu memandangi dari kursi tunggu salah dua orang yang paling dia sayang saat ini.

“Ada lah. Cari aja nama-nama warna hitam di Naver atau Google. Kalau gak salah ada sampai 25” Kata Jeno tidak melepaskan mata dari katalog majalah fashion yang disediakan oleh salon.

“Ada lah. Orang abu-abu saja punya 50 shades” Kata Donghyuck dengan senyum jahilnya dibalas Chenle cengiran paham. Untung dia sudah berada di umur legal.

Di masa sekarang Jeno memindahkan kembali manik coklatnya ke Chenle, mengecap bibirnya seperti mencoba hasil masakan baru.

“Kalau merasa seperti penonton, keluarlah dari bioskop itu. Jadilah sutradara, buat film yang sama atau kisah yang baru. Jadilah pemerannya. Aku tahu kau merasa seperti diam walau sebenarnya tidak. Kau hanya berjalan, namun di tempat yang sama. Tidak apa-apa. Sekarang tinggal langkahkan kakimu ke depan, atau kalau kau masih nyaman, nikmati waktu mu dulu, lihat benar-benar sekelilingmu. Kadang orang lupa atau tidak menghargai apa yang mereka punya saat ini.

“Apapun itu jangan lupa nanti bergerak. Pelan juga tidak apa-apa. Semua punya kecepatan masing-masing.

“Kau mungkin melihat semua orang berlari, tapi Chenle, kau juga harus percaya bahwa kami tidak meninggalkan. Cukup ketahui itu saja”

Kini, Chenle yakin dia datang ke orang yang tepat.

“Kau memang tidak lucu kak, tapi kau pintar. Aku sangat bersyukur kau dan kak Donghyuck memiliki satu sama lain”

Jeno menyuguhi pendapat asal itu dengan raut wajah khasnya yang walau keadaan apapun reaksinya tetap sama. Mata bulan sabit dan deretan gigi putih yang rapi.

“Aku anggap itu sebagai pujian”

“Memang pujian. Kak, kau tahu kan kalau kau kakak terfavorit ku?”

“Bukan Mark?” Chenle berpura-pura berpikir keras lalu mengedikan sebelah pundaknya.

“Sepertinya dia lebih ke anak favorit ku saja.”

“Memang kau punya anak berapa sampai ada yang harus kau spesialkan?”

Chenle tertegun, suatu ide melesat cepat masuk ke sel-sel otaknya. Lucu, karena Chenle juga tidak percaya dengan pikirannya sendiri. Tapi dia rasa mungkin ini salah satu langkah yang tepat seperti Jeno sarankan tadi.

“Belum punya banyak, tapi nanti akan ada satu”

Jeno melihatnya bingung.

“Kau menghamili gadis orang?”

Senyum yang tertempel di wajah Chenle terasa congak, dan Jeno tidak tahu harus merasa kembali berhati-hati atau tidak dengan bocah berandal ini.

“Aku akan adopsi anak anjing”

Jeno mengeluarkan suara lega dan bangkit untuk mengusak rambut coklat sawo Chenle, setelah itu melangkah menuju pintu keluar.

Sebelum benar-benar pergi, dia menengok sebentar ke Sagitarius yang malah asik membuka benda pipih untuk menghubungi manajernya dan menyusun rencana dimana dia bisa mendapatkan peliharaan kaki empat tersebut.

“Kalau kau mau bicara seperti ini lagi, kau bisa hubungi aku atau Donghyuck kapan saja. Kami sebisa mungkin selalu ada untuk anak pertama kami.” Canda Jeno yang hanya dibalas lambaian tidak acuh usiran secara halus oleh Chenle agar salah satu pengantin muda itu bisa kembali mengurusi acara yang sebentar lagi akan dimulai. Jeno menggeleng dan beranjak menjauh dari tenda, meninggalkan Chenle dengan bibir terukir tipis garis lengkung.


From Kak Hyun : “Ada apa? Kau bukannya sedang ada acara pernikahan? Kenapa menghubungi?”

To Kak Hyun : “Aku akan mengadopsi anak anjing” “Cepat carikan shelter” “Kalau bisa yang terpercaya dan bersih”

From Kak Hyun : “Ini serius?” “Ah aku harus mengurusi bukan hanya satu, tapi dua ekor anak anjing sekarang”

To Kak Hyun : “Kau meremehkan” “Kali ini aku yang akan mengurus, bahkan diriku sendiri” “Mohon bantuannya hyungnim”

From Kak Hyun : “Syukurlah” “Asal aku tetap di gaji”

To Kak Hyun : “Akan ku pikirkan”

From Kak Hyun : “ :((( “


Chenle mengunci layar ponselnya, kembali memusatkan perhatian pada pertunjukan yang berlangsung di depan retinanya.

Semua terlihat ceria, dan Chenle beruntung merasakannya juga.

Hari ini memang terlalu terik, terlalu harum, terlalu berisik. Tapi hari ini adalah pernikahan Kak Jeno bersama Kak Donghyuck. Dan Chenle sudah mengatakan curahan hati ke kak Jeno-nya.

Jadi semua akan baik-baik saja.

Hae: “Aku di depan rumah kamu” 16.30

Jen: “Jangan bercanda, diluar hujan” 16.30

....

“Aku keluar” 16.31

Air dari langit tersebut kian deras jatuh ke permukaan bumi. Mendukung suasana dramatis yang melingkup keadaan seorang Lee Donghyuck berdiri di depan pagar rumah Lee Jeno dapat lihat dari jendela kamarnya. Dengan tergesa, Jeno mencari payung di sekeliling rumah. Agak kesulitan karena harusnya jarang ada hujan pada bulan april, belum waktunya dia peduli pada benda tersebut. Berhasil mendapatkannya, pria berkulit pucat itu segera berlari ke depan rumahnya menyusul Donghyuck agar tidak tambah basah karena bodohnya pria yang lebih muda darinya itu tidak memakai pelindung apa-apa selain cardigan coklat panjangnya.

Jeno membuka payungnya menyampari pria yang menatapnya sendu dari poni lepeknya itu. Namun ketika sudah dekat, alih-alih langsung masuk ke dalam teduhan polyester, Donghyuck menjauhkan dirinya.

Jeno terbelalak, membuat raut wajah tanda tanya akan sikap Donghyuck, “Apa yang kamu lakukan? Cepat kesini!”

Donghyuck menggeleng lalu berteriak, “Ada yang mau aku tanyakan!”

“Ok, ayo kita ke dalam”

Tapi Donghyuck tidak bergeming, membuat Jeno terpaksa harus dia yang mendekatkan. Namun yang didapat Jeno malah tepikan keras di tangan kanannya, membuat payung di genggamannya terjatuh.

Kini Jeno merasakan sama dinginnya dengan Donghyuck, tapi masih dalam keadaan bingung yang melanda. Donghyuck memajukan diri ke arahnya, memotong sedikit jarak.

“Bagaimana.. Bagaimana caranya kamu melakukan itu?”

Jeno tidak bersuara namun ekspresi wajahnya tidak berubah, masih tidak mengerti apa yang dimaksud lawan bicara berkulit coklat di hadapannya itu.

“Gimana caranya, kamu, mencintai tanpa pamrih? Gimana caranya aku kaya kamu Jeno, gimana?”

Setelah mendengar pertanyaan yang sudah dilengkapi itu, Jeno menyadari air yang mengalir di muka Donghyuck bukanlah salah satu dari sekian anugerah alam semesta. Kristal tersebut berasal dari kelenjar lakrima pria mirip beruang itu. Pria yang dicintai Jeno.

Namun bukan lagi menangis, Donghyuck kini terisak penuh di dada Jeno, mengepalkan tangan bulatnya di samping kepala yang dia sandarkan. Jeno memegang pergelangan tangan itu, menurunkannya dan berkata pelan, “Aku jawab di dalam ya, kita masuk dulu. Kamu kedinginan”

Kulit yang dia pegang itu memang terasa beku, berbanding terbalik dengan aura Donghyuck yang biasa memancarkan kehangatan. Tapi Donghyuck sekarang bukanlah Donghyucknya yang seperti biasa. Bukanlah Lee Donghyuck yang melindungi orang yang dia sayang dengan perisai keceriaan, namun Lee Donghyuck yang butuh dilindungi sejenak dari perisainya itu. Maka dari itu, Jeno merangkulkan lengan kanannya ke pundak Donghyuck, mengambil payungnya yang tergeletak tanpa daya, dan mengarahkan badan mereka ke dalam rumahnya yang menawarkan kenyamanan mereka perlukan saat ini.

-

“Aku gak pernah bilang aku mencintai kamu tanpa pamrih” Kalimat pertama yang Jeno keluarkan sejak mereka sudah nyaman dengan pakaian kering dan segelas cangkir coklat panas di masing-masing tangan.

Donghyuck menolehkan kepalanya, meminta elaborasi lebih lanjut.

“Aku cuma menunggu Hyuck. menunggu takdir bawa kamu pulang”

Pemuda taurus itu menghela napas dan melanjutkan perkataannya,

“Aku gak berhenti mencintai kamu karena aku yakin semua wajah yang kamu lewati seperti mengganti handphone baru kamu itu cuma fase. Fase pembelajaran hidup kamu.

“Mereka ada karena suatu alasan. Alasan yang buat kamu sampai ada di titik ini, nanya sama aku gimana caranya agar mencintai tanpa pamrih. Lucu, karena bukan itu sebenarnya yang ingin kamu lakukan, kan?”

Donghyuck patah hati, dia jatuh pada orang yang salah untuk sekian kalinya. Membuat dia berpikir, apa yang salah dan apa yang kurang padanya. Berusaha menjadi seseorang yang dia bukan, mulai melelahkan.

Tapi hanya ada satu orang yang selalu setia berada di ujung jalan yang tidak pernah Donghyuck tapaki. Yang walaupun dia pergi memakai sepatu orang lain, orang itu akan tetap percaya pada langkahnya. Sampai sini, Donghyuck kembali menangis, tapi tidak seberlebihan dibawah hujan seperti sinema elektronik India tadi.

“Hey, jangan menangis lagi. Sini.” Jeno menarik pelan lengan Donghyuck, menaruh cangkir hangat yang digenggam itu ke telapak meja, dan memangku badan pria berkulit eksotis itu di atas pahanya.

Malu dipandangi kagum oleh Jeno padahal dalam keadaan yang paling buruknya, Donghyuck menutup wajahnya. Jeno hanya tersenyum tipis akibat tingkah pria dambaannya itu.

“Udah ya sedihnya?”

“Aku jelek ya kalau lagi nangis?”

Jeno tertawa pelan lalu menggelengkan kepalanya.

“Kamu mau bagaimana juga tetap cakep menurut aku”

Donghyuck memajukan bibirnya, sedang tidak bisa membalas gombalan yang seenaknya dilontarkan oleh pemuda dibawahnya. Merasa sudah enakkan, Donghyuck berani mengindahkan pandangan retinanya dari bawah pahanya ke wajah Jeno yang masih sibuk menyatukan ceceran konstelasi di sekitar pipi pria gemini itu.

“Jen, kalau pamrih kamu terbalas sekarang mau gak?”

Jeno mengerjapkan matanya lalu langsung mengeluarkan ciri khas senyumannya. Membuat Donghyuck bertindak implusif dengan memegang dua belah peach wajah Jeno dan menyatukan dua bibir ranum itu.

Dengan ciuman yang lembut, suara cipakan kecil, dan hisapan halus tanpa terburu seperti waktu hanya dimiliki dua pemuda itu, Donghyuck berusaha memberi tahu Jeno bahwa dia juga merasakan hal yang sama. Bahwa Donghyuck akhirnya berjalan di tempat yang sama, alur yang sama, dan tujuan yang sama.

Donghyuck akhirnya kembali ke rumah berbentuk seorang manusia yang terlalu baik untuknya, seorang Lee Jeno.

Jeno suka Donghyuck.

Jeno suka pria yang lebih muda 2 bulan darinya itu. Jeno suka caranya melucu dengan sengaja seperti tanpa disengaja. Jeno suka suara tawa yang dikeluarkannya saat sedang bercanda atau menggoda teman sebangkunya. Jeno suka dia yang seperti bersinar di antara temannya yang lain walaupun kulitnya sewarna sawo matang. Jeno suka Donghyuck yang membuat orang bahagia bahkan hanya karena dia bernapas.

Jeno suka Donghyuck, dan dia sangat menerima pernyataan itu tanpa elakan seperti peluru yang langsung menembus jantungnya tanpa memakai rompi anti-tembak.

Jeno sangat suka Donghyuck, sampai dia berada di posisi ini. Duduk menghadap tiga pasang mata tertuju heran melihat keberadaannya di bawah radar Donghyuck.

“Halo.” Sapa Jeno ke arah tiga teman yang diinfo Donghyuck sebelumnya adalah teman sepermainannya. Lampu peringatan di kepalanya bersinar terang berputar seperti cahaya mercusuar. Jeno mengabaikannya.

-

Pertemanan mereka tidaklah seburuk itu sebenarnya. Itu pun kalau hubungan mereka bisa disebut teman. Jeno merasa dia masih orang luar. Masih merasa satu dari sekian kemungkinan orang yang di ajak makan siang bersama oleh Donghyuck waktu itu. Kedua nya baru selesai menyelesaikan kelas bahasa asing mereka, berjalan berdampingan sampai akhirnya harus berpisah jalan karena Jeno akan menghabiskan waktu istirahat makan siangnya bersantai di sanggar panah ketika Donghyuck memulai ajakan dengan, “Kamu sendirian Jen? Mau makan bareng sama aku dan anak-anak gak?”

Jeno awalnya ragu, tapi apalah dia jika tidak mengambil kesempatan. Jeno menganggukan kepalanya, dan begitulah bagaimana dia menyapa tiga kepala dengan raut wajah serius menatap koran yang sepertinya usang dan lama (terdapat tahun bertulis angka 19 di depannya).

“Mereka pasti sibuk cari Benny & Mice.” Kata Donghyuck ke Jeno saat baru masuk ke kantin dan melihat ketiga sahabatnya itu. Jeno mengernyitkan dahinya tapi tetap mengikuti Donghyuck menelusuri bangku-bangku sampai di tempat teman-temannya bersemayam.

Setelah di sapa, ketiganya memiliki reaksi berbeda. Yang paling tinggi kurus berambut pirang hanya tersenyum tipis, Yang bibirnya paling lebar berambut coklat tua tersenyum besar dan melirik jahil ke arah Donghyuck, dan yang paling kecil berambut putih dicampur ungu (yang nantinya dikoreksi Renjun itu adalah warna lilac) duduk di antara si Tinggi Kurus dan Bibir Lebar, tersenyum miring ke arahnya.

“Duduk Jen, kamu mau apa? Sekalian aku pesenin.”

Satu, dua, tes. Otak Jeno kosong. Dia tidak yakin harus ditinggal sendiri bersama tiga orang asing yang bahkan belum diketahui namanya padahal sudah lima menit menyapa dan hanya disuguhi senyuman.

“Aku ikut aja deh.”

“Ekhem.” Tiba-tiba yang paling kecil berdeham keras disengaja.

“Duduk aja sini gak apa-apa, kita gak gigit kok. Eh kecuali Yangyang, kita gatau deh” Dan si Bibir Lebar yang sepertinya bernama Yangyang itu berdengus.

“Iya duduk aja, Jen.” Kata si Tinggi Kurus dengan nada menggoda. Seperti ada muslihat di balik nada kalimat ditarik yang dikeluarkannya.

Mungkin maksudnya mereka baik, Jeno tidak ambil pusing saat itu. Jeno akhirnya menurut untuk duduk dan memberikan titipan pesanannya ke Donghyuck.

Setelah ditinggal Donghyuck, interogasi dimulai. Inikah salah satu jalannya mendekati dambaan?

“Namanya siapa tadi, Jeno ya?” kata si Bib- eh Yangyang.

“Belum nyebut nama sih, tapi iya saya-eh aku Jeno.”

“Akrabin aja kali yak, kan nanti sering ketemu juga. Gue Renjun, ini Jaemin-” menunjuk si tinggi kurus. “Dan ini Yangyang” menunjuk si Bib- Yangyang. Jeno harus berhenti memberi julukan jika sudah tahu nama aslinya.

“Kita udah sering denger tentang lu, Jen. Dari Donghyuck” Jeno merasa aneh jika namanya ditekan seperti itu. Tapi dia membelakangi perasaannya dengan mementingkan fakta bahwa dia dibicarakan oleh sang pujaan hati ke para sahabatnya.

“Dan gw sih gak mau mempermanis suasana, tapi sebagai permulaan aja. Donghyuck tahu lu suka sama dia”

“Kita tahu lu suka sama dia” tambah Yangyang.

“Jadi tolong jangan main kucing-kucingan di depan gw ya”

“Semoga langgeng ya” Si Tinggi Kurus Jaemin mengangkat separuh tubuhnya dan menepuk pundak Jeno dari sebrang meja.

“Langgeng apanih?” Tanpa semuanya sadari, Donghyuck sudah membawa tampan berisi pesanan dia dan Jeno ke meja mereka.

“Hubungan lu ama Jeno” celetuk tanpa saringan dari mulut Yangyang. Kalau saja kedua tangan Donghyuck bebas, Jeno yakin dia akan menyiram kuah panas sop di mangkuknya itu ke muka Yangyang dari warna merah padam yang terpapar di wajahnya.

Tapi insecuritas itu kejam, dia menghalangi pikiran positif Jeno. Jeno menduga bahwa Donghyuck hanya malu jika diejek hal romantisisme. Kesimpulan yang di dapat Jeno siang itu : Teman-temannya Lee Donghyuck aneh. Dan dia tidak ada bedanya karena bergabung dan menikmati bercakap dengan empat sekawan tersebut.

-

Huang Renjun.

Mengingatkan Jeno pada si ‘cabai rawit’, kiasan yang terlalu sering digunakan bagi orang mungil yang selalu meledak-ledak atau lincah. Walaupun kalimat yang dikeluarkan dari mulutnya tidak jauh beda dengan Yangyang, tapi lebih berbobot dan juga lebih pedas. Tidak butuh waktu lama Jeno bersama dengan kegiatan 'Lingkaran Neraka' -sebutan Donghyuck yang iseng membuat kesal ketiga temannya itu- untuk tahu bahwa mereka berempat hanya punya satu otak dan itu semua dipegang oleh Renjun. Selalu tahu apa yang dia mau dan selalu penasaran dengan hal-hal yang dia tidak tahu.

Dengan kalimat fakta yang terkadang membuat orang gerah, Renjun sebenarnya ramah. Dia adalah orang yang mudah bergaul dan baik hati dengan orang yang baru dikenalnya, tapi kecuali Jeno. Karena di berikan kenyataan bahwa sang pujaan mengetahui perasaanmu tapi tidak melakukan apa-apa tentang hal itu di awal pertemuan mereka sama saja jahat kan?

Renjun dan Donghyuck mempunyai ikatan interaksi sosial yang kompleks. Mereka terlihat bermusuhan tapi tidak bisa lepas dari satu sama lain. Kalau Jeno tidak pernah melihat Renjun dengan lantang meneriakan Donghyuck bukanlah tipenya sambil menatap Jaemin, Jeno pastilah sudah cemburu.

Renjun adalah kesadaran mereka berempat. Dengan dia, mereka tidak perlu bertele-tele karena anaknya tidak sabar dan perlu kejujuran secepatnya agar semua masalah cepat selesai. Seperti saat secara tidak resmi dia merekrut Jeno ke lingkaran neraka di basecamp (baca: garasi Yangyang) genap dia satu bulan mengenal mereka.

“Hubungan rekanan kita itu terdiri dari 5% kepercayaan, 20% pengkhianatan, dan sisanya perjuangan agar pertemanan ini tidak kandas di tengah jalan” Kata Renjun khusus kepadanya dengan pensil tajam di tangan kanan, hasil dia meraut. Kenapa dia pegang pensil itu, Jeno tidak tahu.

“Jadi?” Kata Jeno tidak yakin mau di bawa kemana arah pembicaraan ini.

“Jadi begini-” “Jadi, selamat datang di klub, Jeno.” Teriak Donghyuck nyaring agar menaikan suasana yang tiba-tiba jatuh entah kenapa. Usaha tersebut tidak ada hasil. Aura Jeno masih dipenuhi kebingungan.

“Maksudnya, Jen. Kalau ada apa-apa jangan sungkan ya.” Jaemin menyelesaikan percakapan tidak ada artinya itu. Jeno masih tidak suka penekanan kalimat 'Jen' di suara Jaemin.

Besok malam nya , Jeno ikut ke pesta remaja yang diundang acara kakak tingkat kenalan Jaemin. Renjun langsung menobatkan dirinya sebagai 'pengemudi yang ditunjuk' walau sudah dipastikan Jaemin tidak akan minum karena alergi alkohol tapi Renjun tetap bersikeras, padahal dia tidak tahu apa-apa soal mengemudi. Uber andalannya.

Argumen tidak dilakukan karena semua tidak peduli dan Jaemin juga tanpa alkohol sudah bergaya seperti orang mabuk di setiap harinya.

Memasuki sepuluh menit ke dalam rumah yang digunakan untuk pesta tersebut, mereka berlima terpisah. Setengah jam kemudian, Jeno berhasil menemukan Donghyuck yang sedang menari di ruang tengah pesta hampir terhimpit badan kakak-kakak kelasnya. Bahkan di tengah kerumunan dengan cahaya terburuk, Jeno melihat Donghyuck masih yang paling benderang. Jeno yakin dia belum mabuk, dia hanya meminum segelas kecil booze ketika haus mencari Donghyuck ke segala penjuru ruangan. Tapi dua manik coklat yang bertemu dan provokasi melalui kerlingan jemari membuat dia sangat tidak sadar sudah berada di depan badan pria berkulit eksotis itu. Dan bukan salahnya bila akhirnya dia menyatu bersama Donghyuck di lantai kotor dan pilihan musik dengan suara bass hancur yang termainkan di speaker besar televisi keluarga.

Lelah berdansa atau menggerakan badan secara aneh ke segala arah, mereka memutuskan beristirahat ke salah satu sofa yang tidak diisi pasangan kelebihan hormon. Mendapati di salah satu sofa tersebut, adalah Renjun yang raut mukanya menjelaskan betapa membosankannya pesta remaja ini. Jeno yang merasa dirinya sendiri masih dalam keadaan lebih baik dibanding Donghyuck yang entah berapa banyak alkohol dikonsumsi dari caranya menggelayut mesra lengan Jeno, memutuskan mengajak Renjun keluar dari acara itu saja.

“Renjun.” Teriak Jeno di antara kebisingan musik. “Ayo keluar.” Teriaknya lagi. Jeno bersyukur kepada tuhan karena Renjun cepat membaca gerak bibir tanpa dia harus mengulangi kalimatnya.

Sampai di luar Renjun berusaha menghubungi Jaemin dan Yangyang untuk segera pulang bersama atau mengancam dengan kejam akan ditinggal saja jika mereka masih lama bersenang-senang.

Karena dirasa cukup lama menunggu dan lengan yang mulai kaku digelayuti seperti koala oleh Donghyuck, Jeno berkata “Udah tinggalin aja ya, gw sekalian mau nganter Donghyuck.”

“Dia kan satu kamar asrama sama gw.” Kata Renjun dengan muka datar.

“Oh.”

Jeno rasa dia juga sudah agak mabuk ditambah frustasi. Lelah menyambangi pucuk matanya. Dan sebelum Insting Introvert nya mulai menendang keras, Jeno bertanya kembali “Tapi ini tetap mau tungguin mereka?”

“Ya enggaklah.” Renjun lalu memperlihatkan layar benda pipih bentuk persegi itu ke muka Jeno. Jeno sedikit pening sehingga membutuhkan waktu menyempurnakan penglihatannya yang kabur untuk mengetahui di layar tersebut memunculkan navigasi arah uber yang dipesan oleh Renjun. Jeno mengangguk lega lalu memperbaiki postur tubuh Donghyuck agar tidak berpegang kepada lengan kirinya saja. Dia memeluk setengah badan Donghyuck sehingga yang lebih muda bersandar pada pundaknya dan agar badan Donghyuck juga terasa hangat karena angin tengah malam sudah mulai merayapi mereka. Jeno juga kasihan pada Renjun, menarik pundak mungil itu mendekat agar mereka bertiga bisa merasakan kehangatan bersama.

Keheningan menunggu uber terpecah ketika Renjun berbicara “Makasih ya, kalau gak ada lu gw biasanya bakal sendiri lebih lama kaya tadi sampai di ajakin orang gak jelas ngobrol.”

Jeno tidak tahu harus merespon apa karena jujur alkohol murahan itu efeknya sangatlah konyol sehingga dia malas berfikir dan menjawab dengan sentimen yang kurang .“Sama-sama”.

Renjun tertawa. “Wah, lu beneran mabuk ya Jeno.”

Donghyuck sepertinya sudah tertidur karena getaran tawa badan Renjun yang terbagi membuat dirinya menggerang kecil dan tambah menenggelamkan wajahnya di pundak Jeno. Dengan kesadaran yang mulai terkikis, Jeno tersenyum menikmati momen tersebut. Puas mencium aroma pria yang berada di mimpinya selama 4 bulan terakhir.

“Iya, gw mabuk.”

-

Na Jaemin.

Kontrasi dari julukan pertama yang diberikan Jeno, Jaemin tidaklah setinggi itu. Ukurannya sepantar dengan Jeno. Jaemin tidak memiliki suasana hati, tapi hanya tensi rendah dan tinggi yang semuanya di atur oleh Renjun.

“Jadi ice americano 2 yang satu two-shots, Renjun vanilla latte, Yangyang sama Hyuck choco mocca. Gw pesen ya.” Info Jeno memastikan pesanan teman-temannya itu dan mengangkat dirinya dari kursi di cafe langganan mahasiswa kampus mereka.

“Bentar, itu ice americano two-shots buat siapa? Jaemin ya?” Tahan Renjun sambil melirik Jaemin meminta konfirmasi pemuda yang sibuk mengetik sesuatu di ponsel nya. Tidak ada jawaban, Jeno yang mengangguk. Renjun menggaruk dagunya, berpikir. “Pesenan Jaemin ganti, apa aja asal jangan ada susunya”

“Kenapa?” Tanya Jeno penasaran.

“Gw lagi gak mood hyperaktif Jaemin.”

Kalaupun Jaemin tahu bahwa pesanannya di ganti, pria tersebut tidak ada perlawanan sehingga Jeno melenggang ke arah kasir tanpa berpikir dua kali.

Jaemin tidak pernah menunggu, karena dia adalah orang yang ditunggu alias jam nya seperti karet yang meleleh karena terlalu santainya dia menanggapi waktu. Bahkan ke acara pesta remaja minggu kemarin padahal yang mengundang adalah kenalannya tapi dia yang datang paling terakhir.

Jeno tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan Jaemin. Selain tidak punya suasana hati, dia juga tidak begitu dekat dengan pria kelahiran agustus tersebut.

Tadinya.

Sampai kebetulan yang dibetulkan di resto seafood emperan jalan setiap hari minggu menjadi ritual pertemuan dua orang paling tinggi di 'Lingkaran Neraka'.

Dari yang awalnya,

“Eh makan disini juga?”

“Hai Jen. iya makan disini juga soalnya dekat sama rumah.”

Sampai akhirnya,

“Kapan bisa makan malam bareng lagi berdua sama Hyuck.”

“Ya ajaklah Jen, ngomong mulu tapi aksinya gak ada.”

“emang ngomong gampang orang lidah gak bertulang. Masalahnya dia sibuk terus sama organisasinya 2 bulan ini, liat puncak kepalanya saja gw gak bisa”

'Tring'

Bunyi pesan chat masuk disertai tampilan notifikasi “Pesan baru dari Jaemin” di halaman kunci ponsel Jeno membuat dia mengernyit heran ke Jaemin.

“Gw kirim gambar Hyuck pas masih kecil, buka deh” Kata Jaemin meletakan ponselnya dan mengambil sumpit melanjutkan makanannya.

Jeno langsung memasukan password ponselnya dan mengunduh dokumen gambar yang dikirim Jaemin. Pria pecandu kopi itu biasa mengirim gambar dengan format lampiran, agar kualitasnya tidak hancur. Setelah lima menit penuh menatap kegemasan berukuran 3.9 megabyte pixel tersebut, Jeno memajukan bibirnya.

“Gw jadi makin kangen.”

“Ya emang itu tujuannya gw kasih, biar lu makin tersiksa” Cengir pemuda Leo tersebut dengan mulut isi tongseng udang.

Jeno tidak tahu harus berterima kasih atas gambar baru untuk dimasukan ke folder “Hyuck(insert emoji hati)” di galerinya atau berencana pura-pura tidak sengaja mendorong meja mereka yang berisi penuh piring kotor ke arah Jaemin.

-

Liu Yangyang.

Jeno kadang hampir lupa keberadaan hidup Yangyang. Selain Hyuck, Yangyang adalah yang tersibuk diantara keempat rekan -mereka tidak mau dibilang teman apalagi sahabat- tersebut. Ada saja kegiatan mahasiswa, acara ulang tahun, pesta perayaan yang bahkan dia seharusnya tidak termasuk ke dalamnya tapi tetap dihadiri oleh sosoknya. Namun berbeda dengan Dongyuck yang masih rajin bertukar pesan pagi, siang, sore, dan malam dengan Jeno, dia tidak sedekat itu untuk mengabari hari-harinya ke Yangyang.

Sore itu dari semua sore di basecamp setelah 6 bulan Jeno bergabung dengan Lingkaran Neraka -Jeno sudah mempastikan untuk memanggil nama ini saja ke empat sekawan tersebut- Yangyang mengajak mereka menghadiri acara tanding lari di sanggar olahraga nya. Katanya olimpiade kecil-kecilan dari segala jenis cabang untuk merayakan ulang tahun sanggar ke sepuluh tahun itu.

Proposal verbal tersebut ditolak mentah oleh Renjun, “Gw lewat, gak suka olahraga.”

“Sorry bro, gw gak bisa ikut kali ini, waktunya bentrok sama premier film jepang kesukaan gw. Udah janjian sama yang lain.” Kata Jaemin dengan senyum minta maaf.

“Santai, lu gimana Hyuck?” Donghyuck yang ditanya, langsung mengalihkan perhatiannya dari ponsel Jeno yang menampilkan video lucu ketiga kucing peliharaan menggeleng pelan. “Maaf Nyang, gw ada acara sama keluarga nyokap kalo hari itu. Suruh undur aja lombanya biar gw bisa dateng.”

“Palelo undur-undur, siapa lu? Berasa presiden lu?” Kata Yangyang kesal-bercanda, sebelum melirik Jeno sebentar dan menghela nafasnya. “Yaudah gak apa-apa kalo gak ada yang mau dateng.”

“Gw bisa kok.” Entah apa yang merasuki Jeno saat itu. Tapi nada suara Yangyang tadi terasa sedih sekali walaupu raut mukanya tidak menunjukan hal tersebut, jadi Jeno membalas tatapan heran Yangyang untuk meyakinkan dirinya akan datang ke acara yang bahkan disana dia pasti tidak kenal siapapun. Sedangkan ketiga pasang mata lainnya saling bertukar pandang bingung. Lagi-lagi insting introvertnya berteriak, yang lagi dan lagipun Jeno abaikan.

Hari H pun tiba, pertanyaan-pertanyaan mulai hinggap berat di punggung Jeno ketika dia sampai di depan gerbang stadium. Kenapa dia disini? Apa yang membawa dia kesini? Siapa yang memaksa dia kesini padahal tidak ada yang mengajak? Mengapa dia harus kesini?

Tapi Jeno hanya menepuk dirinya sendiri dan menguatkan mentalnya karena dia kesini untuk Yangyang, salah satu 'rekan' terdekat Donghyuck, dambaan hatinya. Dan hasil tidak akan berbuah bila tidak ada usaha.

Iya, dia rasa dia masih berusaha harus mendekati teman-teman Donghyuck agar mendapatkan tempat yang aman di hati Donghyuck.

Jeno sempat kebingungan mencari bangku dengan jarak pandang enak untuk melihat para pelari yang akan bertanding. Yangyang sudah info dia masuk kegiatan berlari dan pacu kuda. Namun karena sempat cedera pinggang, Yangyang tidak meneruskan pacu kuda terlebih dahulu. Sehingga hari ini dia hanya berlomba Lari 5.000 meter putra tiga babak.

Setelah duduk dan menyamankan kakinya di bawah bangku depan, dia berhasil mendapatkan perhatian Yangyang. Walau agak jauh seperti semut, berkat bantuan kacamata minus yang dipakainya karena sedang tidak ingin memakai lensa kontak, Jeno tahu Yangyang menunjukan keterkejutan pada kehadiran Jeno.

Selesai mendapatkan medali emas dan acara sudah usai, Jeno mendapati dirinya di samper oleh Yangyang dengan napas yang terengah-engah karena berlari dari ujung tempat berlomba ke bagian Jeno berpijak itu lumayan jauh.

“Hey santai aja kali, gak usah lari” Kata Jeno sambil tertawa ketika dia yakin Yangyang sudah cukup dekat untuk mendengar ucapannya.

“Gw gak nyangka lu beneran datang Jen. Apa lu sama Hyuck? Tuh anak gak jadi ikut acara keluarga?” Kata Yangyang melihat sekitar Jeno berdiri mencari keberadaan temannya yang mirip pudu itu. Jeno menggeleng, “Gak, cuma gw.”

“Hah, serius? Gak sama Hyuck?” Teriak Yangyang karena beberapa gerombolan pesepakbola melewati mereka.

“Iya.” Ucap Jeno singkat dan padat.

“Oh gw kira lu gak akan datang kalau gak ada Donghyuck”

Jeno hanya mengedikan sebelah bahunya dan memberi buket bunga berisikan mawar, lilli, dan tulip ke Yangyang. “Tadi di luar ada yang jualan dan gw liat orang-orang pada ngasih sesuatu ke 'atlet' disini, jadi gw beli aja buat lu. Rame ya disini ternyata. Acaranya resmi gitu?”

“Lumayan, ada televisi nasional juga.” Info Yangyang sambil berterima kasih atas pemberian bunga dari Jeno.

“Lu suka olahraga?” Tanya Yangyang.

“Gw ikut panah. Tadi ada ya lombanya gw liat?”

“Oh ya, lu manah? Satu klub dong sama Jaemin?”

“Iya, tapi dia jarang dateng.”

“Ck, tipikal Jaemin. Eh tapi bukan karena dia males ya, cuma kalau telat dia suka bablas gitu anaknya” Jeno hanya tersenyum mengangguk.

“Karena lu anak panah gw kenalin sama kakak tingkat gw namanya Kun, dia ketua panah disini. Ayo ikut gw.”

Dan selanjutnya apapun kalimat yang dikeluarkan Yangyang tidak begitu di dengar Jeno ataupun teringat samar di kenangannya karena dia lebih fokus melihat kembang api yang tiba-tiba muncul di atas stadium terbuka itu.

-

Lee Donghyuck.

Jeno suka Donghyuck.

Pengingat jika kalian lupa dengan paragraf pembuka cerita ini.

Hampir setahun sudah dia bermain bersama Lingkaran Neraka, namun di saat yang sama juga Jeno rasa belum ada nama di atas hubungannya dengan Donghyuck.

Jeno bukanlah orang yang mementingkan validasi status, tapi dia sudah ada tujuan ingin bersama Donghyuck sampai akhir hayat.

Renjun sebenarnya sudah menenangkan dia bahwa gelagat mereka, dia dan Donghyuck tidak ada bedanya dengan pasangan suami yang sudah menikah 20 tahun. Tapi tetap lubang itu masih ada karena belum ada satu kalimat “aku menyukaimu” yang bertukar di antara mereka berdua.

Jaemin seperti menodong pisau di belakang kepalanya, memberi pilihan jika tidak mau diteruskan ya tinggalkan. Jika bukan dia yang mulai maka berhentilah. Daripada hanya merana tidak jelas kebingungan di setiap acara makan minggu malam mereka.

Yangyang cuma ada disini sebagai pemanis karena terlalu malas mendengar rundung kisah cinta Jeno. Atau terlalu sibuk, entahlah.

Seperti peramal, minggu ini firasat Jeno mulai tidak enak. Dari senin sampai kamis yang konsisten akan kesiangan, tanpa kabar dari Donghyuck, dan tugas yang dikerjakan malah beranak pinak, Jeno percaya bahwa dia membenci minggu ini. Dan tentu saja petaka sebagai klimaks cerita ini hadir.

Hari jumat di siang yang menyengat itu, Lingkaran Neraka tanpa Donghyuck melakukan ritual biasa mereka mencari komik Benny & Mice di koran Kompas lama. Yangyang yang sudah mulai bosan, lalu mengambil ponsel dan mulai menggulir sesuatu di layarnya.

Jaemin tanpa mengalihkan pandangan dari kertas tipis tersebut mengambil botol minum teh pucuknya di atas meja dan memberikannya pada Jeno, “Tolong bukain dong, Jen”. Jeno yang memang tidak ikut ritual tersebut dan masih menunggu kehadiran Donghyuck kebetulan duduk disamping kiri Jaemin, mengambil botol yang disuguhkan dan bersiap mengerahkan tenaga yang biasa orang lakukan jika membuka tutup botol yang baru dibeli. Tapi ancang-ancangnya sia-sia ketika dia dapat membuka tutup botol tersebut dengan mudah, seperti botol tersebut memang sudah dilepas segelnya dari awal oleh empunya.

“Ini udah kebuka Jaem.” Kata Jeno polos ke arah Jaemin yang tidak menatap balik. Tanpa dosa, Jaemin hanya mengambil botol yang sudah terbuka tutupnya itu dari tangan Jeno lalu mengucapkan, “Makasih ya Jen”

Jeno menghela napas, “Sama – sama” lalu meletakan tutup botol itu di permukaan meja dengan keras.

Tak lama, pucuk dicinta ulam pum tiba. Bunga cinta Jeno, Donghyuck akhirnya datang. Empat hari bagaikan jutaan purnama seperti kata Rangga pada Cintanya, membuat Jeno tidak bisa bila tidak menampakan senyum khasnya melihat calon kasihnya tersebut.

Tapi ada yang aneh dan perasaan tidak enak itu muncul kembali. Donghyuck tersenyum, namun bukan senyum yang Jeno damba. Bukan juga senyum itu di arahkan langsung ke arahnya. Tapi ke semua Lingkaran Neraka dan dia.

“Ada yang mau gw kasih tahu ke kalian.” pembuka kalimat yang Jeno mulai merasakan keresahannya.

“Gw punya pacar dong.” Cengir Donghyuck. Renjun, Jaemin, dan Yangyang menghentikan kegiatan mereka seketika itu juga.

“Jeno kan?” Bisik panggung Jaemin ke Renjun yang disebelahnya namun dapat di dengar oleh semua orang bahkan termasuk yang punya nama.

Kalaupun Donghyuck mendengar, dia tidak menghiraukan hal tersebut dan langsung menunjukan suatu gambar dari ponselnya. Tapi seperti apa gambar tersebut, Jeno tidak mau tahu. Sampai disini dia langsung tersadar dari keterkejutannya dan bangkit dari kursi. Berkata dengan kilat “Gw lupa ada urusan, nanti join lagi.” lalu beranjak ke arah mana saja asal tidak berada di dekat Lingkaran Neraka saat itu juga.

Renjun, Jaemin, dan Yangyang tahu dia tidak akan kembali.

Setelah kejadian tersebut, tiga minggu sudah Jeno berhasil menghindari empat teman barunya. Menenggelamkan dirinya dengan tugas-tugas dan malah belajar materi ujian akhir semester lebih awal. Jeno tidak bisa bohong, hatinya sakit. Tapi dia yakin nanti akan sembuh pada waktunya. Untuk sekarang menjauhi Lingkaran Neraka adalah keputusan yang tepat menurut dia. Sampai akhirnya rencana tersebut harus ditunda terlebih dahulu karena Renjun saat ini sudah berdiri di depan meja panjang perpustakaan tempat dia membaca. Renjun menatapnya tajam dan mengambil kursi untuk duduk di hadapannya. Jeno menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada ensiklopedia perhewanan di tangannya.

“Lu ngejauhin kita.” Kata Renjun dengan suara pelan karena sebenarnya ini bukanlah wilayah yang tepat untuk sebuah konfrotasi.

“Ya terus?” Kata Jeno yang masih tidak melihat lawan bicaranya itu. Membalik lembar halaman selanjutnya.

“Lu gak kangen sama kita? Gak kangen sama Donghyuck?” Renjun meringis masam mengucapkan pertanyaan terakhir.

Jeno menjawab ketus, “Ngapain gw ngangenin pacar orang.” Renjun menghela nafasnya, mengeluarkan ponsel dari sakunya untuk menghubungi seseorang.

“Jaem, lu kesini deh” ... “Gw gak bisa ngadepin sendirian begini” ... “Iya tapi gw orangnya gak sabaran” ... “Udah, lu kesini aja” ... “Yaudah gw gak jadi traktir xbux nih”

Tak lama setelah kalimat terakhir tersebut di lontarkan, keluar dua anggota Lingkaran Neraka lainnya muncul dari balik rak buku dekat meja mereka berada.

“Kalian daritadi di situ?” Jeno tidak terlihat impresif dengan tingkah mereka bertiga.

“Hai Jen, udah lama gak makan seafood bareng nih. Bapaknya nanyain lu ke gw masa.” Jaemin duduk mengambil sisi kanan Renjun yang otomotis membuat Yangyang duduk di sisi kiri.

“Jeno, kak Kun nyariin lu juga katanya uhmmm tertarik ama teknik manah yang lu bilang namanya uhmmm apasih gw gatau tapi gitulah mokoknya nyariin” Kata Yangyang mengeluarkan senyum canggung, Jeno menaikan setengah alisnya lalu memutar bola matanya.

“Kalian tuh pada ngapain sih?”

“Ngajak maen lah.”

“Kurang jelaskah kalau gw gak tertarik, Jaem?”

“Jen, lu tuh gak bisa begini terus.”

“Kenapa gw gak bisa Yang?”

“Ya lu gak bisa jauhin kita dengan alasan yang sama dengan lu jauhin Donghyuck. Emang kita salah apa?”

“Lu butuh alasan yang kuat, Renjun?”

Semua terdiam, jeda untuk badai yang akan datang. Jeno memulai suara dengan pelan karena dia ingat ini masih di perpustakaan.

“Kalian semua ngerti gak sih? Kalian sahabatnya Donghyuck-

“Rekan.” Sela Yangyang.

”-ya apalah itu namanya. Lu gak kasihan sama gw? Gak kasihan sama hati gw? Main sama kalian, sedangkan orang yang gw suka, bagian dari kalian juga, 'rekan' kalian itu, asik pacaran sama orang yang bukan gw. Mau ditaruh dimana muka gw?”

Renjun menyambar jawabannya, “Jen, lu tuh temen kita, rekan kita juga. Mau seberapa lama kita bertiga temenan ama Donghyuck bukan berarti kita nganggep apa yg dia lakuin tuh bener.” Renjun mengambil napasnya sejenak. “Donghyuck tuh bodoh. Orang bodoh yang lagi jatuh cinta.”

“Iya, jatuh cinta sama pacarnya.”

Renjun yang kesal hampir menggebrak meja dengan tangan mungilnya itu, “Tapi itu bukan pacar-” Jeno tidak dapat mendengar kalimat akhir dari Renjun karena yang paling kecil diantara mereka itu sibuk di bekap mulutnya oleh Yangyang.

“Jen, sorry ada hal yang gak bisa kita kasih tahu ke elu karena bukan posisi kita juga. Lu perlu ngobrol langsung sama Donghyuck” Kata Jaemin tenang, kontras dengan kedua teman yang sedang susah mengontrol emosi di sampingnya.

“Dia gak kelihatan mau ngobrol sama gw.” Jeno dengan akting cueknya itu mencoba kembali ingin fokus memahami info tentang perkawinan para badak, tapi tidak bisa.

“Lu ngecek hp lu gak sih? Ada kali mah harusnya ratusan misscall ama WA dari Donghyuck.”

“Gw blok nomernya.”

Emosi Renjun memuncak namun alih-alih berteriak dia menggengam kencang tangan Yangyang dan Jaemin di sisinya.

Dibawah kesakitan tersebut, Yangyang berusaha membujuk, “Jen bener deh lu perlu bicara, empat mata, yang serius ama Donghyuck. Kalo pun dia gak suka sama lu- AWW” Yangyang merasakan denyut kaki kanannya sehabis diinjak oleh Renjun lalu meneruskan omongannya kembali, “– maksud gw, semua masih bisa di selesaikan secara kekeluargaanlah intinya”

“Gak tertarik.” Ucap Jeno mengedikan bahunya.

“Ya tuhan Jen. Hal ini tuh gak bakal terjadi kalau lu mau nyatain duluan.” Kata Renjun frustasi.

“Oh jadi ini semua salah gw?” Jeno akhirnya mengangkat wajahnya melihat dengan jelas ketiga orang di depannya. “Ok, iya gw salah. Harusnya dari awal gw gak berharap apapun sama hubungan gak jelas antara gw sama Hyuck. Gw gak sepantas itu untuk dia. Tapi ketika semuanya berakhir, ini juga salah gw gitu? Iya, emang gw doang kali yang salah.”

Yang ditanya menunjukan keterkejutan atas penampakan muka Jeno yang merah dan air mata yang mengembang di bawah garis mata. Mereka tidak ada maksud untuk pembicaraan ini berujung pada krisis kepercayaan diri Jeno. Jeno menundukan kepalanya kembali dan mencengkram keras buku yang masih dia genggam.

“Mending kalian semua pergi daripada ganggu orang lain belajar. Disini perpustakaan.”

Renjun yang masih ingin mengucapkan sesuatu dicegah Jaemin, “Udah kita keluar aja, bener kata Jeno kita ganggu orang disini.” Lalu menarik lengan kurus Renjun ke arah pintu keluar.

“Maaf ya Jen.” Ucap Yangyang kecil sebelum menyusul teman-temannya.

Meninggalkan Jeno dan rencana menjauhi mereka untuk tetap berjalan.

-

Lee Jeno.

Pemuda itu berkulit pucat, mempunyai mata yang ikut tersenyum ketika dia bahagia, ditambah tawa yang menunjukan gigi taring kecil imutnya. Jeno, yang terkenal tapi tidak sadar bahwa dia dikagumi oleh segala kalangan. Jeno, kesayangan semua ibu-ibu dari mahasiswa dan mahasiswi di kampusnya. Lee Jeno, orang yang Lee Donghyuck sukai setahun belakangan ini.

Kini dia tidak ada di samping Donghyuck seperti biasa dan lelaki gemini tersebut menyesali perkataannya waktu itu.

Pikiran Donghyuck kembali berputar pada jumat siang sebulan lalu dan seminggu sebelumnya dari hari tersebut. Waktu itu keadaan sedang buruk untuk dirinya. Nilai kuis dadakan yang paling kecil di kelas dan gosip yang di dengar antara hubungan Jeno dengan kakak tingkatnya membuat dia melakukan tindakan implusif dengan mengakui foto pacar kakaknya di hadapan teman-temannya dan Jeno.

Niat Donghyuck tadinya hanya akan berkata bercanda di akhir kalau saja reaksi teman-temannya hanya mengumpati dia seperti biasa karena mereka juga tahu betapa kasmarannya Donghyuck dengan orang yang duduk di samping kiri Jaemin siang itu, bukan malah diam seratus abad berujung peninggalan Jeno dari meja mereka.

Setelah kepergian Jeno yang didapatinya hanyalah air muka tanda tanya dari ketiga temannya.

“Wow, ekspektasi gw ke lu tuh rendah Hyuck tapi ... wow.” Kata Renjun.

Jaemin hanya berucap “Wow.” juga karena tidak ada kata-kata yang bisa mengukapkan ketidakjelasan adegan yang barusan terjadi.

“Gw kira yang kaya begini cuma kejadian di FTV doang.” Tanggap Yangyang.

Donghyuck yang tahu apa yang mereka maksud membalas tanpa acuh, “Loh, emang gw salah? kan gw sama dia gak pacaran. Gw bebas ama siapa aja dong.”

“Gini nih nasi uduk dikasih nyawa, otak lu kaya semur tahu. Ya kan lu suka dia, dia suka lu, kalian tahu kalian sama-sama suka. bedanya apa coba kalo bukan pacaran?” Renjun menatap Donghyuck seakan-akan dia orang gila.

“Gak tahu. Dia gak pernah ngomong kalo kita pacaran.”

“Terus itu bener pacar lu? Bukannya itu Kak Taeil ya pacarnya Kak Johnny? Lu nyatut pacar abang lu sendiri?”

“Ya enggaklah. Niat gw tuh bercanda sama lihat reaksinya Jeno.”

“Ya udah tuh liat reaksinya Jeno. Terus gimana?” Donghyuck memutar bola matanya merespon pertanyaan Yangyang dan mencoba menghubungi Jeno dari ponselnya. Tapi yang di dapati hanya suara Veronica -operator telepon otomatis- bahwa nomer yang dihubunginya telah di alihkan. Dia mencoba whatsapp namun semua pesan yang terkirim hanya berceklis satu dan foto profil Jeno terpasang default. Akun Twitter Jeno juga tidak bisa dicari apalagi Instagram yang dia tidak punya sedari awal. Semuanya menyadarkan Donghyuck, bahwa dia telah mengacaukannya.

Kembali ke masa sekarang, Donghyuck menarik napasnya panjang dan berniat tidak mau mengeluarkannya,

“Keluarin gak napas lu, mau mati lu?” Kata Renjun dengan menodong sendok yang digunakannya untuk makan di depan hidung Donghyuck.

“Buat apa hidup bila napasku saja sudah dibawa dia yang telah pergi?” Balas Donghyuck berpura-pura menangis yang sebenarnya dia mau lakukan dengan nyata.

“Tai, gak usah dangdut lo.” Renjun kembali memakan nasi goreng yang barusan dia beli diluar lalu mengalihkan perhatiannya ke acara lawak televisi kecil di kamar asrama mereka yang sempit. Di kamar persegi 3 x 4 yang telah menjadi saksi bisu perjuangan Donghyuck dan Renjun dalam menghadapi rintangan perkuliahan, kini kamar tersebut juga melihat sendunya orang patah hati karena kesalahannya sendiri.

“Jun”

“Hm?”

“Terus gw harus gimana?” Tanya Donghyuck di atas kasurnya menatap langit-langit putih yang telah dinodai bercak bekas bocor saat hujan.

“Lu butuh pendapat gw sekarang? Waktu lu ngerjain Jeno sama kita-kita, lu gak butuh pendapat gw tuh.”

“Gw gak butuh pendapat, gw butuh bantuan.”

“Susah dicari sendiri.”

“Kok lu sinis si Jun. Ya gw tau gw salah, tapi gimana mau benerin kalo temen-temen gw pada begini.”

“Lagian, udah tahu temen-temen lu begini, malah ngide.”

Donghyuck menegak ludahnya, tidak mengeluarkan debatan lagi karena sedang tidak ingin. Yang dia ingin sekarang Jeno. Kerinduan ini sudah mencapai batasnya. Bukan satu hari atau dua hari, namun satu bulan setengah dia tidak dapat mencapai komunikasi dengan pria bermata bulan sabit itu.

Dia masih sering bertemu dengan Jeno di kelas yang mereka punya bersama, tapi antara Jeno yang sibuk mencatat penjelasan, datang paling akhir atau cepat mengangkat lengannya untuk bertanya pada dosen sehingga tidak menyisakan celah Donghyuck memberi penjelasan.

Pernah Donghyuck mencoba untuk duduk secara paksa disamping Jeno ketika dia datang lebih awal, tapi yang disampar malah membesarkan suara musik pada headphonenya dan baru melepaskan benda itu ketika pelajaran di mulai.

Di luar kelas lebih parah. Jeno menganggapnya seperti angin lalu ketika bertemu, itupun jika memang mereka bertemu. Kadang jika sudah melihat satu sama lain di koridor, Jeno putar balik ambil jalur lain. Di situ Donghyuck paham bahwa Jeno memang sengaja. Dan Donghyuck bertekad bahwa mereka tidak bisa selamanya begini. Dia tidak akan seperti kebanyakan fiksi penggemar untuk menyelesaikan kesalahpahaman dengan sangat lama. Dia akan menyelesaikan ini dengan cara Huang Renjun, Na Jaemin, dan Liu Yangyang jika otak mereka dijadikan satu dan ada kesalahan teknis di dalamnya. Jadi, Donghyuck melakukan ini.

Sore hari kamis setelah Jeno selesai pertemuan dengan organisasi panahnya seperti apa yang telah diketahui oleh Donghyuck tentang jadwal kegiatan Jeno, Donghyuck menjalankan rencananya. Donghyuck juga tahu arah mana yang akan diambil oleh Jeno untuk menuju ke parkiran kampus dimana motornya bersemedi.

Sesuai dugaan yang tepat, Donghyuck berhasil melihat batang hidung Jeno yang muncul di pinggir lapangan kampus. Donghyuck tidak menyia-nyiakan kesempatan itu lalu berdiri dari tempat persembunyiannya dan berlari lurus ke arah Jeno.

“Lee Jeno!” Teriak Donghyuck seperti penggemar yang bertemu idolanya.

“Lee Jeno, kita butuh bicara!”

Jeno sudah dipastikan terkejut dengan kehadiran orang yang ingin dilupakan oleh hatinya secara tiba-tiba itu dari lawan arahnya berjalan, lalu secara cepat menavigasikan langkahnya melintasi lapangan yang diisi oleh beberapa orang yang sedang bermain basket. Tapi Donghyuck telah sampai di titik terendah dirinya, tidak berpikir panjang untuk mengikuti Jeno dan merebut paksa bola basket dari orang yang mau melemparkannya ke ring.

Tidak berapa lama kemudian, suara keras dari benda memantul yang bertabrakan dengan kepala itu terdengar.

Semua orang yang berada di sekitar peristiwa tercengang dan Donghyuck sang tersangka, juga tidak kalah kaget. Namun sebelum Donghyuck sadar dengan apa yang barusan dia lakukan, Jeno merasakan dirinya ringan seperti terbang dan pingsan tersungkur di tengah lapangan.

-

”.. ya gw gatau kalau jadinya bakal begini.”

“Ya siapa yang bakal tau sih lu bakal bikin anak orang gagar otak.”

“Terus gimana, Jun?”

Keributan itu menjadi hal pertama yang menyapa Jeno setelah dia sadar. Kepalanya masih terasa berat disusul denyutan benjol dari belakang kepalanya. Tapi karena hafal dengan suara cicit sedih hasil di omeli temannya itu Jeno mengeluarkan suaranya.

“Hyuck?”

“Jenooo” Teriak Donghyuck bahagia melihat objek afeksi nya itu telah siuman dan berusaha membangunkan setengah badannya dari kasur.

“Eh, jangan cepet-cepet bangunnya, pasti lu masih pusing” Donghyuck memegang lengan Jeno dan membuat topangan di belakang punggung Jeno menggunakan tangan kirinya.

Ya siapa yang tidak akan pusing, jika diberikan lemparan bola basket seberat 600 gram dengan kecepatan 40 m/s tepat pada lapisan pelindung otaknya tersebut. Jeno beruntung dia hanya merasakan sakit kepala.

Jeno masih meringis ketika duduknya sudah dalam posisi benar membuat Donghyuck menatapnya dengan kasihan dan rasa bersalah yang tambah banyak. Setelah itu mereka berdua terdiam, tidak tahu siapa yang harus memulai pembicaraan duluan.

Di dalam kesunyian itu, Renjun membersihkan tenggorokannya memberi tanda bahwa dia akan keluar ruangan meninggalkan mereka berdua untuk mempunyai waktu penyadaran yang mereka butuhkan.

Setelah terdengar pintu UKK ditutup, Donghyuck akhirnya mengeluarkan suara,

“Aku minta maaf” Donghyuck menunduk malu di samping kasur yang Jeno tempati. Lebih tertarik melihat semut hitam yang berlari melewati pinggir besi kasur. Yang dimintai pengampunannya hanya menatap lurus ke depan. Tapi Jeno tahu dia juga tidak bisa menghindar terus, sekarang atau nanti dia pasti harus mengalami adegan ini, jadi dia mau tidak mau harus memberi respon untuk pembicaraan dua arah ini.

“Untuk memberi aku harapan atau ngelempar bola ke ke kepala aku?”

“SEMUA, tapi aku gak niat ngasih kamu harapan palsu kok. Aku juga suka sama kamu.” Kata Donghyuck mengeluarkan jurus mata rusa betinanya. Walaupun Jeno masih belum menatap balik wajah dia.

Seharusnya mendengar hal tersebut membuat Jeno merasa bahagia, senang dan mabuk kepayang seperti apa yang dia bayangkan selama masa pendekatan dengan Donghyuck. Tapi yang dia rasa sekarang adalah cenutan nyeri di atas kepala dan apakah ada cairan yang dikeluarkan dari hidungnya karena dia merasakan basah di atas piltrum bibir?

“Jeno kamu mimisan”, seru Donghyuck bergerak mengambil tisu di atas lemari besi disamping kasur lalu mengelap hidung Jeno sambil mengangkat wajahnya agar mendongak ke atas. Tanpa sadar sebagian badan Donghyuck sudah menjulang di atas Jeno. Wajah mereka berdekatan karena Donghyuck yang harus melihat jeli apa darah mimisan tersebut tersebar kemana-mana. Menurut Donghyuck pribadi sangat disayangkan bila wajah tampan Jeno terusak oleh pemandangan yang tidak enak.

Jeno yang sudah sadar akan jarak yang pendek di antara mereka memundurkan kepalanya sedikit agar terbebas dari genggam tangan Donghyuck di kedua sisi wajahnya. Tapi alih-alih melepas, Donghyuck malah makin mencengkram pipi Jeno agar tetap menatap mukanya.

“Hyuck, sakit.”

“Maaf, soalnya kamu menjauh terus” Bisik Haechan seakan-akan takut bila berbicara keras Jeno akan menghilang. Jeno ingin sekali menghela napasnya, tapi dia tahan karena bila dia lepas dan menghirup udara kembali lalu mencium aroma orang yang ada dihadapannya ini membuat Jeno tidak bisa bila tidak harus memeluknya sekarang.

“Kalau kamu suka aku, gimana sama pacar kamu?”

Pertanyaan tersebut berhasil membuat Donghyuck yang menjauhkan dirinya dari Jeno tapi tetap menaruh bokongnya di atas kasur. Donghyuck melihat Jeno dengan tatapan anak kecil yang balonnya habis di rebut. Membuat Jeno menatap balik bingung ke Donghyuck.

“Yang itu bukan pacar aku. Aku bohong karena ada hal yang bikin aku kesel. Sebenarnya aku juga mau jelasin sesuatu tapi kamu jangan ketawa, tolong?”

Jeno memiringkan kepalanya sedikit memberi tanda dia mendengarkan dan Donghyuck bisa melanjutkan bicaranya.

“Kaya yang tadi aku bilang, aku suka kamu dan kamu 'kayaknya' juga suka sama aku-

“Gak kayak, emang bener suka.”

”-iya kan aku ceritanya gak tahu bener apa enggak. Soalnya kamu setiap ditanya ibu kantin atau terakhir sama bapak-bapak di babershop kita potong rambut bareng bilangnya aku belum jadi pacar kamu-

“Ya emang belum?”

”-nah makanya kalau belum kok kita gak jadi-jadi?” Cemberut Donghyuck.

“Terus pas acara kamu disewa jadi MC di pensi kemarin sama kakak cewe rambut pendek cantik itu, hampir semua orang pasangin kamu sama dia. Jadi aku bohong soal aku punya pacar. Niat aku bercanda terus mau lihat reaksi kamu juga biar gak cuma aku aja yang panas denger celotehan orang-orang.”

Jeno mulai mengerti kemana asal muara Donghyuck melakukan itu. Cemburu. Satu kata namun dapat memberi efek benjolan besar di kepalanya. Jeno tersenyum kecil lalu memegang pipi tembam Donghyuck di telapak tangan kanannya.

“Kenapa kamu gak bilang duluan sama aku kalau kita harus jadian?” Dalam hati, Jeno merasa munafik.

“Iya ya kenapa aku gak bilang duluan?” Gengsi. Jawab Donghyuck di dalam pikirannya.

“Kalau gitu aku juga minta maaf. Kata Renjun ini semua gak akan terjadi kalau aku juga harusnya maju duluan biar kamu gak diambil orang.” Lalu mencoba mendekatkan badannya namun ditahan oleh Donghyuck.

“Eh gak usah gerak-gerak. Kepala kamu emang udah gak sakit?”

“Masih. Cuma aku mau cium kamu.”

Donghyuck membelalakan matanya sebelum menenangkan diri dan berkata “Kamu belum nembak aku, Lee Jeno!” Senyumnya usil dengan pipi yang hangat dibawah usapan Jeno.

“Lee Donghyuck, Matahari ku, Bunga Cintaku, yang aku usahakan menjadi jodoh akhirku, mau gak nikah sama aku?”

Bukannya jawaban positif yang di dapat malah tamparan pelan pada pipi Jeno. Tapi tidak ada kesan kasar didalamnya.

“Serius ih”

“Ini lagi serius, gembul. Mau gak nikah sama aku?”

“Dikasih makan apa aku nanti?”

“Rumput.” Cengir polos Jeno yang kembali mendapat tepukan halus dari Donghyuck.

“Kelamaan nih, Lee Jeno kamu mau gak jadi pacar aku!”

“Itu belakangnya tanda seru ya bukan tanda tanya?” Untuk seseorang yang meminta tangannya untuk dinikahkan barusan, Jeno punya nyali yang tinggi bermain api seperti ini. Donghyuck pantas mendapatkannya.

“Yaudah, gak usah jadian aja kita. Aku nikah ama yang lain aja.” Lengos Donghyuck. Dua orang bisa bermain dalam pertandingan ini.

“Yakin bisa?” Tiba-tiba Donghyuck merasakan hembusan napas di pipinya dan mendapati wajah Jeno sedekat garis tali akhirat saat kiamat nanti. Jika saja Donghyuck hanya bergerak maju sedikit.

Tapi Jeno melihat dia dengan tatapan mengintimidasi, “Aku bilang, yakin bisa?” Pertanyaan itu dikeluarkan dengan suara berat yang selama ini Donghyuck tidak tahu bila Jeno punya.

Pertahanan Donghyuck runtuh, menjawab pertanyaan Jeno dengan memotong jarak antara wajahnya dengan pria kelahiran april tersebut. Tidak ada kembang api atau kupu-kupu terbang seperti apa yang diceritakan oleh para gadis remaja dan pasangan di film-film barat yang sering dibaca atau ditontonnya, namun Donghyuck yakin bahwa ciuman Jeno adalah yang termanis dari segala kue cemilan yang pernah dirasakan oleh Donghyuck.

Tempelan yang berubah menjadi lumatan pelan dan hisapan-hisapan kecil tersebut dihentikan sejenak sebelum Donghyuck mengambil napasnya dan berkata, “Iya aku mau. Aku mau nikah sama kamu”

Jeno tertawa lepas mendengar ucapan Donghyuck.

“Sebanyak suka aku ke kamu tapi bener kata kamu tadi, aku mau ngasih makan apa ke kamu nanti? Kita pacaran dulu aja ya, kamu makannya banyak.”

“Putus aja yuk.” Jeno menyungingkan bibirnya dan kembali mencoba menyatukan wajah mereka namun tercegah karena suara ketukan keras Renjun di ambang pintu disusul dua kepala yang menyembul di belakang.

“Kalau mau mesum diterusin di tempat Jeno aja, fasilitas umum nih.”

“Sirik tanda tak mampu.” Donghyuck menjulurkan lidah ke arah Renjun yang hanya membalas dengan kepalan tangan ingin dilempar. Renjun, Jaemin, dan Yangyang akhirnya masuk ke UKK yang agak lebar itu lalu memeriksa kepala Jeno dengan seksama.

“Masih inget gw kan ya Jen?” Kata Jaemin.

“Ini berapa Jen? Kalau salah berarti lu jadian ama Hyuck dalam keadaan terpaksa” Kata Yangyang menunjukan angka dua dengan jari telunjuk dan tengahnya.

“Sialan, emang gw apain bisa jadi aljajeimer”

“Alzheimer, tolol.” Kata Renjun mendorong kecil kepala Donghyuck.

Dalam diam, Jeno memperhatikan keempat temannya tersebut.

Dengan status barunya bersama Donghyuck, Jeno tahu dia harus terbiasa untuk waktu yang lebih lama dengan mereka.

Dan dia rasa saat ini sudah sangat terbiasa karena bagaimanapun dia termasuk anggota Lingkaran Neraka juga.

Seperti menyukai Donghyuck, pernyataan diatas dia juga terima tanpa elakan seperti peluru yang langsung menembus jantungnya tanpa memakai rompi anti-tembak.

Kecuali memang dari awal dia tidak berniat memakai rompi tersebut.

End.

.Goodnight n go.

“Yah aku kelewatan jam kereta.” Info Jeno sambil mengangkat wajahnya dari layar kotak persegi kecil , menatap polos ke arah Donghyuck yang duduk santai di sampingnya. Tanpa mengalihkan pandangan dari kotak persegi yang lebih besar, Donghyuck hanya membalas tidak acuh karena masih fokus dengan film di hadapannya, “Hu-uh”.

“Udah mana malam banget lagi, pasti uber juga gak ada yang terima” “Hu-uh”, Masih tidak acuh. “Apa tetep aku coba pesen aja ya?” “Hu-uh”, Suara agak ragu. “Cuma takutnya bahaya gak sih? Udah malem, kalo dia ngapa-ngapain aku gimana?” “Hu-uh”, Senyum geli mulai terambang di bibir bentuk hati Donghyuck. “Tapi masa aku ga-” “Jeno, bentar” , sedetik lebih kemudian Jeno terkejut dengan pergerakan cepat Donghyuck dari mulai dia menge-pause netflix nya dan berdiri lalu duduk kembali di pangkuan Jeno namun dengan badan yang saling berhadapan. Paha Donghyuck mengukung pahanya dan kedua lengan Donghyuck diletakan di kedua pundaknya tanpa melingkar.

“Kok kamu imutttt banget sih” Kata Donghyuck gemes. “Minum kamu habisin dulu, terus kita beresin kacang-kacangan di meja biar besok pagi bisa nyarap disini. Abis beresin kamu cuci muka terus gosok gigi dulu. Punya kamu yang biru ya sikatnya, aku yang coklat loh” Mendengar celoteh Donghyuck dengan suara yang dibuat seperti anak kecil tersebut, Jeno tertawa. “Keliatan banget ya aku bikin alasan gamau pulang” Donghyuck menggeleng kecil. “Enggak kok” Dan meneruskan kalimatnya dengan berbisik, “Lagian aku juga masih mau lama-lama sama kamu”

Bila ada kata di atas imut, kegemasan, kelucuan yang membuat hati Jeno rasanya seperti di remat erat-erat seperti ini, pasti Jeno akan memakainya.

“Yaudah, aku juga mau lama-lama sama kamu” Balas Jeno tak kalah berbisik dan menggerakan lengannya (yang dia baru sadar dia abaikan) menarik badan Donghyuck lebih erat dengan dirinya. Otomatis membuat kepala Donghyuck menelusup ke jenjang leher milik Jeno.

“Kok kita bisik-bisik sih?” Bisik Donghyuck. “Gatau juga” Bisik kembali Jeno. Lalu mereka berdua terkikik geli.

Pegal yang di rasa setengah jam dalam posisi tersebut, Donghyuck yang pertama melepaskan diri dan langsung mematikan televisi. “Loh, gak diterusin nontonnya? Tadi pas di kantor kamu semangat banget mau lihat” “Udah gak tertarik, ayo bobo” Ulur tangan Donghyuck setelah akting menguap dan menggeliatkan pinggangnya. Sekarang Jeno yang tersenyum geli atas tingkah pacarnya yang baru 1 bulan itu.

Setelah repot dan gaduh dengan rapih-rapih meja yang dari awal tidak seberantakan itu tapi entah apa yang merasuki dua sejoli sehingga bersemangat sekali ingin tidur karena sudah lelah dengan kerja dan deadline yang mereka lalui hari ini (atau alasan lain yaitu prospek tidur secara harfiah berdua di kasur sempit milik Donghyuck), sekarang mereka mendapati diri mereka melihat satu sama lain di depan kaca wastafel sambil menggosok gigi. Jeno yang hanya mencuci muka seadanya dengan langsung membilas atau hanya menempelkan air ke muka, disela Donghyuck yang masih menggosok giginya saat Jeno mau ambil handuk.

“Nope, cuci muka pake sabun biar minyaknya gak nempel” Lalu mengeluarkan sabun dari kotak P3K dibalik cermin yang Jeno yakin persis seperti miliknya di rumah. “Iya iya mirip produk kamu. Aku takut kalau gak pakai yang mirip, nanti muka mu kenapa-kenapa atau kamu gak mau pakai sama sekali. Dan terbukti kaan” Alih-alih langsung mencuci muka ketika sehabis disuguhi sabun merk favoritnya, Jeno menatap terpaku ke arah Donghyuck yang masih sibuk membersihkan mulutnya, membuang busa. “Kok belum cuci muka?” Pertanyaan Donghyuck di jawab dengan kecupan singkat dari Jeno. “I'm the luckiest to have you” Dan dibawah sinar lampu oranye kamar mandi yang tidak begitu terang, Donghyuck melihat jelas keindahan senyum ikhlas yang diberikan pasangannya, ditambah perkataan yang dilontarkan barusan terdengar sangat-sangat jujur dikupingnya. “No, I am.”

Lima menit terasa dua abad di dalam kamar mandi memperdebatkan siapa yang paling beruntung mendapatkan siapa, akhirnya pasangan tersebut bersiap-siap ke jenjang selanjutnya acara malam tersebut, yaitu tidur.

“Tapi-” “Eugh apalagi” Kata Donghyuck kesal tapi tidak benar-benar kesal. “Aku tetep yang paling besar rasa sukanya loh” “Iya serah kamu Jen, udah ketahuan kok, ayo bobo” Donghyuck tidak tahu darimana rasa lelah yang dirasa tiba-tiba karena rencananya dia tidak mau tidur secepat ini walau sudah di kasur. Dan dia juga tidak tahu kenapa kasur nya terasa lebih nyaman dan bantalnya juga lebih empuk dari 10 tahun dia biasa tidur disini. Apa karena ada Jeno? Karena hangat tubuhnya yang sudah melingkupi dirinya, karena senyum khas yang dihadapkan padanya, atau karena mata sipit bulan sabit yang sedang menatap balik dirinya saat ini. Ya, itu pasti karena Jeno. Tidak ada alasan tepat selain Jeno. Bahkan bukan tentang pertanyaan itu saja.

Sebelum dia terbang tinggi ke alam mimpinya, Donghyuck memastikan untuk mematikan lampu kamar lalu mencium pelan dan agak lama di kening Jeno,

“Selamat malam, Jeno” “Malam, Donghyuck-ku”

Sehabis dari mini market membeli titipan Jeno, Jaemin langsung pulang ke rumah dan mendapati Jeno yang sedang fokus merakit fujimi 22 miliknya.

Melihat Jeno, Jaemin kembali teringat pikiran yang berkalut di sepanjang jalanya tadi sehabis bertemu Jisung dan Chenle. Penasaran, dia akan bertanya sesuatu kepada sahabatnya tapi sebelum itu dia cuci tangan, taruh titipan Jeno di kamarnya terlebih dahulu lalu mengganti bajunya ke lebih santai.

“Jen” Sekeluarnya Jaemin dari kamar mandi, Jeno masih bertengger di Meja makan mereka dengan mainannya yang berserakan.

“Jen , gue mau nanya” Kata Jaemin agak serius yang dibalas dehaman tidak peduli oleh Jeno. “Jadi gue ada hipotesis nih, lu dengerin yang bener yak.” Dibalas dengan dehaman lagi, Jaemin melanjutkan, “Gini jadi ada A dan B..” “Hm” “Nah mereka berdua tuh pendekatan gitu..” “Hm” “Tapi ada si C sodaranya si B malah deketin si A juga...” “Hm” “Nih gue gatau yak apa si A nya bloon apa pura-pura bego, tapi dia mah iya-iya aja dideketin si C” “Hm” “Terus ada si D..” “Banyak banget orangnya” “..Dia temennya si A dan tah semuanya. Menurut lu si D perlu ngasih tahu ke si B gak kalau C deketin si A juga. Tapi D sama B gak terlalu kenal.” “Motifnya D ngasih tahu B buat apa?” Kata Jeno yang masih sibuk baca manual book. “... Kasihan?” Gumam Jaemin. Jeno mengalihkan pandangannya dari manual book sambil mengernyit ke Jaemin. “Lu kasihan sama Chenle?” “Hah? Ya gak lah. Malah dia tuh... Loh kan gue gak nyebut nama.” Jeno hanya mengedikan bahu dan Jaemin langsung berdiri dari kursinya. “Jadi gimana nih, si D perlu ngomong gak ke si B?” “Ya kalau lu ngomong, ngomong aja.. yang rusak hubungan orang bukan punya lu, walaupun ada yang janggal di cerita lu...” “Apasih no kok lu jahat” “Lah masih jahatan kalau itu orang gatau apa-apa, tapi bener deh ada yang janggal...” “Ya juga sih, yaudah nanti gue bilang. Nanti gue pikirin lagi caranya. Bye” Kata Jaemin meninggalkan Jeno dengan kebingungannya.

“Itu janggal banget dah ceritanya. Emang Renjun deketin Jisung juga? Ya tuhan..” Jeno menggelengkan kepalanya sambil kembali mengotak atik mainannya.

'Brakk'

Terdengar keras bunyi pintu dibuka kasar dan langkah kaki dihentak-hentakan oleh seorang pemuda kulit pucat berkacamata yang baru saja masuk rumah itu. Tidak peduli pada tiga pasang mata yang memperhatikannya dari ruang tamu, pemuda itu berjalan lurus menuju kamarnya.

“Hei Jen” sapa Renjun sambil mengangkat sedikit tangan kanannya. “Hai” Jeno hanya menoleh sedikit tapi tetap melangkah memasuki kamarnya. Renjun yang hanya diberikan balasan serupa, menggigit jarinya bingung. Jaemin tidak enak hati melihat ekspresi Renjun, bertanya ke Jisung. “Dia kenapa deh?” “Gatau” “Serius gatau?” “Gak ngeh dia ngomong apaan tadi dimotor tapi kayaknya lihat Bang Echan jadi gitu- oi CHENLEEE” Jisung yang sadar ada orang yang sangat dinantinya selama seribu bulan purnama itu menghambur memeluk badan Chenle yang lebih pendek sedikit dari dirinya. “Jisung ih kamu kurusaaan” “Kamu juga , tambah cakep”

“Idiih” itu kalimat yang diucapkan Renjun dan Jaemin bebarengan. Setelah sadar mereka lalu langsung diam secara bersamaan dan melirik muka satu sama lain. Otak masing – masing punya pemikiran yang berbeda.

'Kok Icung flirt nya ama Chenle dah. Bukannya demen ama njun njun ini???' 'Kalimat jijiknya samaan, mungkin jodoh. Aamiin.”

“Cung, tapi tetep gak jelas kenapa dia bete liat Echan?” Tanya Jaemin masih kepo. “Kayanya dia lihat Bang Echan sama Bang Mark, maybe, gatau ah gak ngerti” “Loh? Haechan ama Mark bukannya udah putus?” Sambung Renjun tiba-tiba yang membuat Jaemin heran dan mengerutkan dahinya. “Kamu kenal juga sama Haechan? Sama Mark?” “Iyalah, Echan temen kecil saya disini sebelum saya ke Cina lagi. Tapi dulu saya manggilnya Donghyuck. Gatau kenapa jadi nge-trendnya Haechan. Kalo yang namanya Mark itu gak terlalu sih, cuma suka ada di vidcall ama foto yang dikirim Echan” Ada sesuatu di cengir Renjun setelah membeberkan hal tersebut yang membuat hati Jaemin meleleh. Tapi Jaemin hanya menganggap dirinya terlalu lembut pada semua orang, termasuk orang semi-asing di depannya ini.

“Kamu nginep sini gak le?” “Hari ini gak deh Sung, aku kangen kakek sama nenek, jadi mau balik ke rumah dulu” “Oh gituuu, yaudah deh tapi janji besok besok nginep ya” “Iyaaa, sama Kak Njun ya” “Oh iya sama Kak Njun juga , ya gak kak?” “Owalah masih inget aku Sung, kirain udah ketemu Chenle terus aku nya udah kaya bayangan doang ini, gak dianggap.” Jisung meringis dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Lalu melewati Chenle dan memeluk Renjun walaupun tidak seerat pelukannya dengan Chenle beberapa menit lalu. “Kangen kakak juga kok, tenang ajah hehe”

Jaemin yang melihat interaksi mereka dari kursi empuknya tersenyum kecil. Seperti menonton acara reuni keluarga di channel televisi kesayangannya. 'Oh mungkin tadi Jisung malu aja kali ya kalau langung kangen-kangenan ama Kak Njunnya, lucu juga Jisung kalau lagi jatuh cinta'

'Brakk'

Terdengar keras bunyi pintu dibuka kasar dan langkah kaki dihentak-hentakan oleh seorang pemuda kulit pucat berkacamat yang baru saja masuk rumah itu. Tidak peduli pada tiga pasang mata yang memperhatikannya dari ruang tamu, pemuda itu berjalan lurus menuju kamarnya.

“Hei Jen” sapa Renjun sambil mengangkat sedikit tangan kanannya. “Hei” Jeno hanya menoleh sedikit tapi tetap melangkah memasuki kamarnya. Renjun yang hanya diberikan balasan serupa, menggigit jarinya bingung. Jaemin tidak enak hati melihat ekspresi Renjun, bertanya ke Jisung. “Dia kenapa deh?” “Gatau” “Serius gatau?” “Gak ngeh dia ngomong apaan tadi dimotor tapi kayaknya lihat Bang Echan jadi gitu- oi CHENLEEE” Jisung yang sadar ada orang yang sangat dinantinya selama seribu bulan purnama itu menghambur memeluk badan Chenle yang lebih pendek sedikit dari dirinya. “Jisung ih kamu kurusaaan” “Kamu juga , tambah cakep”

“Idiih” itu kalimat yang diucapkan Renjun dan Jaemin bebarengan. Setelah sadar mereka lalu langsung diam secara bersamaan dan melirik muka satu sama lain. Otak masing – masing punya pemikiran yang berbeda.

'Kok Icung flirt nya ama Chenle dah. Bukannya demen ama njun njun ini???' 'Kalimat jijiknya samaan, mungkin jodoh. Aamiin.”

“Kamu nginep sini gak le?” “Hari ini gak deh Sung, aku kangen kakek sama moms, jadi mau balik ke rumah dulu” “Oh gituuu, yaudah deh tapi janji besok besok nginep ya” “Iyaaa, sama Kak Njun ya” “Oh iya sama Kak Njun juga , ya gak kak?” “Owalah masih inget aku Sung, kirain udah ketemu Chenle terus aku nya udah kaya bayangan doang ini, gak dianggap.” Jisung meringis dan menggaruk belakang kepalanya. Lalu melewati Chenle dan memeluk Renjun walaupun tidak seerat dengan Chenle. “Kangen kakak juga kok, tenang ajah hehe”

Jaemin yang melihat interaksi mereka dari kursi empuknya tersenyum kecil. Seperti menonton acara reuni keluarga di channel televisi kesayangannya. 'Oh mungkin tadi Jisung malu aja kali ya kalau langung kangen-kangenan ama Kak Njunnya, lucu juga Jisung kalau lagi jatuh cinta'

Jaemin terkejut. Terheran-heran mendapati sepasang pemuda yang terlihat seperti anggota remaja pramuka penjual kue yang sering dilihatnya pada film barat jaman dulu rated semua umur. Kedua wajah terlihat familiar tapi hanya salah satu dari mereka yang dikenalnya.

“Chenle?” Senyum Jaemin sambil melangkah membuka gerbang rumah mereka setinggi dada itu. “Mas Bram?” Teriak Chenle sambil mengeluarkan ketawa nyaring khasnya. Jaemin mendengar lontaran yang keluar dari mulut pemuda itu berhenti jalan sejenak sambil mengeluarkan muka cemberutnya namun sedetik kemudian nyengir dan membalas “Aku udah gak nonton CHSI lagi tahu. Cuma nonton 10 eps pertama.” “Lagian seru banget ceritanya sama Jisung waktu itu” “Ini beneran Chenle kan, temen pertukaran pelajar di sekolahnya Jisung dulu?” “Iya kak bener. Oh iya kenalin kak, Ini Renjun. Sepupu aku, Dia kenal juga sama Jisung kok.”

'Renjun?' Seperti pernah dengar batin Jaemin. “Oh, hai, saya Jaemin” Kata Jaemin sambil mengulur tangannya pada orang asing yang berdiri disamping Chenle, mengeluarkan senyum deretan rapi giginya. Namun alih alih membalas uluran tangannya, orang asing tersebut seperti tersadar dari lamunannya, “oh ini yang namanya Jaemin” Kalimat yang dikeluarkan seperti hembusan nafas yang ditahan sejak lama.

Jaemin yang mendengar dan melihat respon orang tersebut, memiringkan kepalanya sedikit dengan ekspresi bingung dan membalas “Iya, saya yang namanya Jaemin” Tangan Jaemin masih terulur kebas ke arah utara Renjun berdiri.

“Kata Jisung saya boleh tidur di kamar kamu”

“Hah?” Seru Jaemin dan Chenle bersamaan.