Kals

Sebenarnya, akhir dunia gak terlalu buruk kok.

Memang sih, ada makhluk tidak hidup pemakan otak yang berkeliaran dimana-mana. Memang sih, persediaan makanan untuk yang masih selamat kian menipis. Memang sih, namanya kawan bisa berubah menjadi lawan kapan saja.

Namun, menggenggam erat tangan Jeno seperti dijanjikan bahwa semuanya akan kembali menjadi baik-baik saja -walaupun dibalik nalar tentu saja tidak karena bumi sudah terlalu hancur untuk peradaban manusia- Donghyuck merasa aman.

Di depannya sekumpulan zombie dengan lambat namun pasti, bergerak ke arah mereka berdiri.

Donghyuk yang sudah siap dengan pemukul baseball yang berbecak merah sampai gagangnya dan Jeno berancang dengan senapan api kecil untuk menyerang, menunggu musuh mendekat untuk mempraktekan insting survival yang selama ini mereka latih di bawah radar para pengincar daging tersebut.

“This is it, isn't it?” Retorik Donghyuck menahan nafasnya, detak jantung berdegup kencang. Adrenalin terpacu.

Jeno mengangguk, “Let's get some fun, shall we?”

Dan Donghyuck percaya, sehabis ini mereka akan hidup. Akan selalu hidup. Asal ada Jeno, Donghyuck percaya, dia akan tetap terus hidup.

Sebenarnya akhir dunia gak terlalu buruk, kok.

Lagian, apa sih yang ada dikepala Seo Changbin? Buat kue, tapi dirinya sendiri nihil pengetahuan tentang masak-memasak?

Yongbok melihat keadaan disekeliling dapur rumah kekasihnya tersebut.

Satu kesimpulan, berantakan.

Pusing karena kekacauan dipermukaan meja maupun lantai bahkan langit-langit ruangan, perhatiannya kini tertuju ke bolu -apakah itu masih bisa disebut bolu?– hasil eksperimen tiba-tiba Changbin, yang digadang sebagai ucapan perayaan hari jadi mereka selama satu bulan.

Well, that could've gone better” ucap Felix dengan gugup karena ketakutan yang tiba-tiba melanda.

'segitu bencinya kah Changbin berpacaran dengannya sampai dia mau diracuni seperti ini'

“Iya kan, harusnya aku tadi tambahin baking soda, terus telor setengah lagi, oh atau krimnya kali ya yang tadi kelembekan. Mungkin lain kali aku bikinin kamu yang kaya kukis biar gak banyak tepung” Kata Changbin semangat dengan tekadnya yang terbakar. Tidak peka atas perasaan horror kekasihnya.

“Maksud aku better itu, better be no next time, babe

Lagian, apa sih yang ada dikepala Seo Changbin? Buat kue, tapi dirinya sendiri nihil pengetahuan tentang masak-memasak?

Yongbok melihat keadaan disekeliling dapur rumah kekasihnya tersebut.

Satu kesimpulan, berantakan.

Pusing karena kekacauan dipermukaan meja maupun lantai bahkan langit-langit ruangan, perhatiannya kini tertuju ke bolu -apakah itu masih bisa disebut bolu?– hasil eksperimen tiba-tiba Changbin, yang digadang sebagai ucapan perayaan hari jadi mereka selama satu bulan.

Well, that could've gone better” ucap Felix dengan gugup karena ketakutan yang tiba-tiba melanda.

'segitu bencinya kah Changbin berpacaran dengannya sampai dia mau diracuni seperti ini'

“Iya kan, harusnya aku tadi tambahin baking soda, terus telor setengah lagi, oh atau krimnya kali ya yang tadi kelembekan. Mungkin lain kali aku bikinin kamu yang kaya kukis biar gak banyak tepung” Kata Changbin semangat dengan tekadnya yang terbakar. Tidak peka atas perasaan horror kekasihnya.

“Maksud aku better itu, better be no next time, babe

“Jen, aku mohon cuma satu kata. Satu kata aja. Dan aku akan pergi dari industri bodoh itu. Aku akan tinggalin semuanya. Demi kamu”

Muka Jeno mengeras, hidungnya mengerucut, dan matanya merah. Nafasnya bergetar.

“Hyuck, kita udah pernah ngomongin ini sebelumnya. Kamu gak bisa ninggalin karir kamu gitu aja demi kita. Itu mimpi kamu, hidup kamu”

“Gak. Hidup aku itu kamu Jeno. Aku gak akan selamanya jadi idol, Jen. Aku gak tahu pakai cara apalagi aku harus tunjukin ke kamu, aku tuh cinta sama kamu”

Seharusnya deklarasi itu tidak mengejutkan untuk Jeno. Walaupun tidak ada nama di atas hubungan mereka selama ini, namun dua anak adam itu dapat merasakan tensi yang terpendam tanpa diverbalkan.

“Jangan ngomong begitu”

“Kenapa? Itu jujur dari hati-”

“Karena aku bakal lebih susah untuk biarin kamu pergi”

“Ya kalau gitu mohon aku buat tinggal Jeno”

Andai semudah itu. Andai segampang itu meminta Donghyuck untuk selalu di dekapan apartemen kecilnya. Andai kesusahan mereka hanya sebatas jarak mengelilingi meja makan ini.

Tapi, semua diantara Jeno dan Donghyuck itu yang ada hanyalah kata sulit.

Jeno paling benci saat Haechan sudah berkata, “Kan gue bilang juga apa”

Di kalimat tersebut selalu terdapat kecongakan, ke-sok-tahuan, ke-sok-pintaran, ke-perasaan seseorang yang maha tahu di dunia ini.

Tapi, yang paling Jeno benci adalah ketika kalimat tersebut digunakan pada momen seperti ini. Momen ketika hatinya ambruk. Hancur redam ditindas oleh orang yang tega meninggalkannya disaat sedang sayang-sayangnya.

Momen dimana hanya ada Jeno dan Haechan, kasur single, dan muka Jeno yang terpendam di perut Haechan, mencari kenyamanan di sela air matanya yang mengalir terus tanpa izin.

“Gue gak mau ngomong gini sih, tapi kan gue bilang juga apa...”

Jeno terdiam, tahu Haechan menggantung ucapannya sendiri.

“Kalau lo daridulu ama gue, lo gak akan sakit kaya gini”

Jeno menggeleng, hidungnya menggesek kain yang masih menutupi kulit Haechan.

“Gue gak mau. Gue gak mau suatu saat lo juga akan ninggalin gue kaya mereka”

“Yaudah, nyerah ajalah aku”

Hyunjin bercakap tatkala menjatuhkan pelindung otaknya di atas meja dengan keras. Tangannya meremat kertas ujian yang tertinta nilai merah. Yongbok, teman sebangkunya, menatap dengan netra kasihan.

“Gak usah nethink gitu ah, Jin. Coba gitu minta ajarin siapa, kali aja ada yang mau bantuin” Ucap Yongbok berusaha memberi solusi.

“Gak, gak bisa. Gak ada yang bisa bantuin” Rengek Hyunjin penuh drama seperti biasa.

Yongbok menghela nafas.

“Seungmin bisa kimia tuh. Udah si jangan gengsi. Minta tolong sama dia” Mata Yongbok melirik Seungmin yang sedang fokus memindai catatan yang tadi diajarkan guru mereka di sebrang bangku keduanya.

Lengan Yongbok langsung dibalas pukulan pelan dari sejawatnya.

“Jangan, jangan dia” Bisik Hyunjin agar tidak terdengar dari nama yang tersebut.

“Kenapa? Please, Hyunjin, ini bukan waktunya buat gengsi”

“Ih bukan gengsi Yongbookkk”

Mengerucutkan bibir bawahnya, Hyunjin bergerutu.

“Tapi grogi. Nanti kalau gue deg-degan terus sama dia, terus pingsan, terus dibawa ke UGD gimana? maluuuuu”

Yongbok tambah menghela nafasnya. Kali ini tambah kencang.

After the kiss, Haechan's grip on Jeno getting tighter.

Jeno's hand is cold. Like a cold, cold. Haechan can't define what cold it is, because he never touch something like this in his entire nineteen age life.

But whatever that is, Haechan doesn't wish him to be warmer. Because, that's not who Jeno is. That's not who he's falling in love with.

“I've waited for this”

If Jeno was a human, his voice like a smoke of breath.

“For how long?”

“Eternity”

“Emang gue keliatan bucin banget ya kak ke Chenle?” Tanya Jisung di suatu petang ke Jeno yang sedang sibuk mengalahkan lawan pada gamesnya.

Dengan bahasa non-verbal yaitu goyangan kepala ke atas dan ke bawah, Jisung tidak puas menerima jawaban tersebut.

“Lo gak punya bukti kalau gue bucin sama dia”

Jeno mendengus, “Coba lo bayangin, kalo gue sama Chenle tengge-”

“Chenle. Gue pasti selametin Chenle.”

“Iya lo gak bucin” Jika Jisung mau mengorek kupingnya sampai jauh, sarkas dapat terdengar jelas dari ujung bibir Jeno.

Untuk mencapai sebuah cita-cita, atau apapun itu, pada hakikatnya membutuhkan suatu pengorbanan. Membutuhkan keberanian. Membutuhkan darah, keringat, dan air mata. Membutuhkan perjuangan.

“Terus, kalau lo?” Jeno menohok pertanyaan tersebut tiba-tiba.

“Apa?” Semilir angin di atas gedung distrik 12 mengacak surai coklat Donghyuck.

“Lo butuh gue gak?”

“Gue butuh lo.”

Dan dengan pelan menambahkan, “Gue butuh lo untuk tetap hidup.”

“Coba jelasin perbedaan antara Gymnospermae dan Angiospermae”

Donghyuck berbaring telentang dengan kepala menggantung di tepi tempat tidurnya. Matanya terpejam dan alisnya berkerut kecil menarik hafalan di luar kepala. Menyusun bentukan kata semirip mungkin dengan yang sudah dia pelajari. Jeno yang berada di samping kepalanya, duduk dibawah beralaskan bantal kotak Donghyuck di lantai karpet, menanti jawaban dengan buku pelajaran biologi temannya itu terbuka lebar dipangkuannya.

“gymnospermae mempunyai biji yang tidak terlindungi dalam ovarium sehingga bisa terlihat dari luar. Sedangkan tumbuhan angiospermae tertutupi oleh daun buah sehingga tidak bisa dilihat dari luar. Tumbuhan gymnospermae tidak mempunyai ovarium.. gitu bukan sih?”

Selama setahun di ajarkan oleh Donghyuck, baru kali Jeno mendengar teman sejawatnya itu tidak begitu yakin dengan dirinya sendiri. Padahal jawabannya benar dan tidak ada bataan di lantunan kalimatnya. Sisi muka dibawah pelipis Donghyuck mulai memerah lantaran semua darah mengalir ke kepalanya.

Jeno mengangguk dan mengulurkan sebelah tangannya untuk menggelitik dagu Donghyuck. “Bener kok.”

Lalu membalik halaman selanjutnya, Jeno mulai menanyai kemungkinan pertanyaan yang akan dibuat soal untuk ujian biologi Donghyuck minggu depan.

“Apa yang dimaksud dengan masa domisili biji? Apa yang mempengaruhi?”

Donghyuck mengangkat kepalanya, lalu beberapa saat menjawab pertanyaan tersebut. Seperti yang lainnya, jawaban yang diberikan selalu benar atau mendekati sempurna. Tapi dia masih tampak terlalu ragu-ragu.

“Bener kan?”

“Ada sedikit, kecil banget yang beda dari buku. Tapi sebenarnya sinonim sih.” Donghyuck memajukan bibirnya rada tidak terima jawabannya hanya sembilan puluh sembilan persen benar. Jeno menandai halaman yang dibukanya dengan tekukan kecil diujung kertas lalu bergegas menyisir rambut Donghyuck agar cemberutnya berubah menjadi agak santai.

“Gue gak tahu apa yang bikin lo khawatir karena sampai saat ini jawaban lo tuh udah bener semua. Gak ada yang salah.”

“Tapi ini tuh ujiannya penting”

“Penting banget?”

“Lima belas persen buat nilai akhir semester” Gumam Donghyuck sambil melihat sayu ke langit-langit kamarnya, lalu menepuk kecil pundak Jeno. “Coba tanyain ke gue satu lagi”

Jeno berdecak, mengalihkan perhatiannya kembali ke buku teks. Membolak – balik ke beberapa halaman secara asal dan akhirnya Jeno menutup buku tersebut.

“Sebutkan komponen enzim dan penjelasannya”

“Kayanya tadi lagi di tumbuh-tumbuhan deh Jen”

“Gak tahu nih jawabannya?” Jeno menaikan sebelah alisnya dan Donghyuck berdengus.

Donghyuck kembali memejamkan mata dan membuka mulutnya untuk melontarkan jawaban. Selagi Donghyuck sibuk merapal pengertian Molekul anorganik, Jeno mengesampingkan buku yang masih digenggam. Beringsut dan berlutut mendekati Donghyuck, Jeno membasahi bibirnya dengan sapuan lidah. Menurut dia jawaban Donghyuck sudah cukup mendekati definisi yang tercetak tinta hitam di kertas pelajaran itu setelah tadi sudah dia lihat sekilas. Jeno meletakan kedua sikunya di samping kepala Donghyuck tepat ketika dia selesai meracau istilah biologi.

Hening merayapi tanpa ada balasan dari Jeno sehingga Donghyuck langsung mengerjapkan kelopak matanya hanya untuk mendapati kepalanya Jeno secara terbalik sudah ada di atasnya.

“Hai” Ucap Jeno agak gugup padahal ini tingkah impulsifnya sendiri.

“Hai” Balas Donghyuck balik dengan menggigit bibir bawahnya yang gerakan tersebut langsung diikuti ekor mata Jeno.

“Selamat ya jawabannya sudah benar. Mau di taruh dimana hadiahnya?” Bisik Jeno serapuh sayap kupu-kupu. Senyum Donghyuck merekah ketika tangan Jeno mengait ditepi rahangnya. Memiringkan kepalanya sedikit ke belakang saat Jeno membungkuk untuk menciumnya.

Posisi mereka sudah dipastikan canggung. Bibir atas Jeno menyentuh dagu Donghyuck, lalu menyeret lidahnya ke bibir bawah yang paling muda sebelum menghisapnya. Donghyuck mengeluarkan erangan kecil, tangannya auto pilot melingkari tengkuk Jeno agar membuatnya tetap mendekat. Tanpa sadar jemari Donghyuck mengusak acak surai hitam Jeno saat lidah mereka beradu.

Menarik nafas disela kegiatan mereka, Donghyuck bergumam “Makasih, Hadiahnya menarik”. Membuat Jeno menyeringai senang hingga matanya menghilang menjadi bulan sabit sebelum berubah panik karena tiba-tiba terdengar ketukan di pintu Donghyuck yang terkunci.

Jeno otomatis tersentak kebelakang dan dengan kilat membuka kembali buku pelajaran Donghyuck yang tadi digeletakan tak berdaya. Sedangkan Donghyuck mengeluarkan suara aneh karena terpaksa bangkit dari posisi nyamannya.

“Hyuck, ini mama. Ambil cemilan kalian nih”

Donghyuck merapikan baju dan rambutnya sehingga dia tidak terlihat baru saja diberikan anugrah yang mengambil hidupnya satu detik yang lalu.

Donghyuck membuka sedikit pintunya dan memberi senyuman palsu terbaiknya lalu mengulurkan tangan untuk mengambil nampan berisi kue biskuit dan sirup jeruk. Namun sepertinya ibunya sedang tersambat hantu apa sehingga memaksa Donghyuck membuka pintu selebar mungkin.

“Ngapain sih kunci-kuncian, udah kaya lagi pada ngapain aja” Kata Ibunya saat Donghyuck enggan menuruti arahan.

“Ya kan biar fokus ma belajarnya. Kasihan Mamanya Jeno udah bayar masa aku gak kasih layanan terbaik.”

“Dih aneh banget si kamu” Lalu Ibunya Donghyuck meninggalkan mereka sebelum mencubit pipi gembul Donghyuck kembali ke kamarnya.

“Aneh banget deh lo” Ejek Jeno mengikuti ucapan tante tetangganya ketika Donghyuck sudah mengunci kembali pintunya dan melintasi jarak diantara mereka.

Menyingkirkan buku yang terbuka secara terbalik dari tangan Jeno, lalu merapikan rambut Jeno yang berantakan, Donghyuck melingkarkan lengannya di leher putih yang paling tua dan mencium ujung hidung Jeno.

“Aneh begini juga lo demen nyiuminnya”

Jeno berdengung menyetujui.

“Sekarang waktunya ngajarin gue fisika kan?”

Berpura-pura memikirkan sesuatu, Donghyuck menjutai bibir bawahnya.

“Satu ciuman dulu?”

Jeno tergelak lalu menarik pinggang ramping Donghyuck mendekat.

“Satu ciuman dulu”