Kalau Jeno bisa melukis, dia akan menumpahkan seluruh air kuas berwarna biru ke kanvas hanya untuk menggambarkan bagaimana rasanya mencium Donghyuck. Tapi sayangnya, Jeno lebih suka membaca.

Saking sukanya, dia sampai tidak sengaja membaca dan malah tertarik pada laman jendela internet yang Donghyuck lupa tutup setelah mengerjakan tugasnya di rumah Jeno karena komputernya sedang rusak.

Tentang kiasan Metafora bagian ciuman yang diberikan oleh Fitzgerald si pembuat “The Great Gasby” itu adalah keajaiban.

Oleh Fitzgerald, ciuman artinya bukanlah hanya sekedar ciuman.

Ciuman itu artinya bisa menjadi obat, pencerahan, bencana, transformasi. Suatu gerakan revolusi.

Tapi yang bisa dihubungkan oleh Jeno dengan ciuman Donghyuck hanyalah warna.

Awalnya semua berwarna kuning. Lalu menggelap menjadi coklat. Dan akhirnya biru.

Biru seperti laut. Karena sekarang Jeno rasanya seperti tenggelam.

Dia tidak dapat merasa, tidak dapat mendengar, tidak dapat melihat, tidak dapat mengecap, dan tidak dapat meraba apa yang bukan Donghyuck.

Semuanya inderanya dipenuhi oleh Donghyuck. Dan Jeno tidak mau ditarik dari laut itu. Jeno hanya akan berenang, menyelami, atau bergaya katak seumur hidup jika itulah yang bisa membuat dia mendapatkan ciuman dari Donghyuck.

Ciuman. Rasanya lembab, basah, manis. Kalau dengan orang yang tidak kau sukai.

Ciuman dengan orang yang kau sukai. Itu beda lagi.

Tapi Jeno belum yakin dia suka Donghyuck atau tidak. Walau begitu, ciuman Donghyuck tetap bersengat. Ada listrik didalam lidahnya. Ada candu pada kubahnya.

“Lu mikirin apa?” Kata Donghyuck dengan ter-engah. Menghirup udara setelah pasukan oksigen habis tersirap oleh kegiatan mereka. Disingkapnya anak rambut Jeno, menyisirnya agar terlihat lebih rapi akibat tarikan tangannya yang mengusak.

Jeno hanya menggumam. Tidak niat membalas karena jawabannya sudah tertera jelas. Di posisi seperti ini, sedang menindih, berada di atas, mengambil napas satu sama lain. Hidung mereka beradu.

Apakah ada hal lain yang harus dipikirkan selain Donghyuck?

“Lu ke ganggu tadi? Ada apa?” Mata Jeno terbuka hanya untuk bersatu dengan iris coklat Donghyuck.

“Lu. Gw mikirin lu”

Kuning. Memang Senyumnya Donghyuck gak seindah mawar, gak seteduh awan. Menurut Jeno juga begitu.

Tapi tetap kuning. Wajah Donghyuck yang sedang direngkuhnya saat ini panas. Menghangatkan. Seperti matahari.

Sedangkan untuk ciuman Donghyuck? Bisa dibaca dari awal paragraf tadi.