aphro제

I write things. Sometimes sad, sometimes happy. But most of the time it breaks a heart.

Seungwoo Seungwoo Seungwoo

Nama itu selalu terukir dengan indah dan rapi di dalam buku tulis usang milikku. Tak perlu bertanya alasanku melakukannya, ia spesial.

Jemariku kini berganti menari diatas lembaran kertas putih pemberian Ayah. Memoleskan warna warna indah, melukis pelangi dan kupu-kupu. Tak lupa, ku torehkan nama Seungwoo diantaranya.

“Bagus” ujar seorang wanita. Ia mengenakan pakaian putih, sama sepertiku. Cantik.

“Terimakasih” ucapku, membalas.

“Seungwoo, siapa?”

“Orang spesial” jawabku, sembari tersenyum. Wanita itu mengangguk kecil, lalu memberikanku sesuatu

“Vitamin, minumlah” aku mengangguk. Kata Ayah pagi ini, aku harus selalu minum vitamin. Dan wanita di hadapanku memberikan apa yang aku butuhkan. Padahal, aku sama sekali tak mengenalnya

Bosan, aku beranjak pergi dari kamar. Langkah kaki membawaku ke sebuah taman bunga indah. Aku duduk di bangku kuning, dengan buku tulis usang di pangkuan, aku mulai menulis beberapa kata.

:2019-10-17 Aku pergi ke taman bunga. Indah sekali. Banyak kupu-kupu menari diatas bunga-bunga cantik. Membuatku ingin menari bersama, namun aku tak bisa. Oh, sungguh aku tak ingin melupakan ini. Angin senja mulai menyapaku, langit berubah menjadi merah muda. Oh, indah sekali. Aku ingin mengingat ini selamanya.

Ku tutup buku usang itu. Tak terasa, hari ini akan segera berakhir. Bunyi gesekan dedaunan menggelitik indera pendengaranku. Hingga sebuah suara membuyarkan semuanya.

“Kau disini, rupanya” seorang pria berjalan mendekatiku. Ia tersenyum, manis sekali.

“Siapa?” tanyaku. Pertanyaan biasa yang selalu aku lontarkan, kepada siapapun.

“Seungwoo” ucapnya sembari tersenyum. Ah! Seungwoo. Si pemilik hatiku, si orang spesial.

“Ah, maaf. Lagi-lagi aku lupa”

Ugh. Benci sekali rasanya. Karena aku, yang selalu menuliskan namanya di setiap lembar, yang selalu menuliskan bagaimana kami bertemu. Tapi aku pula, yang selalu melupakannya.

Seungwoo duduk di sampingku. Kami memandang langit senja, menunggu sang fajar untuk bersembunyi dengan anggun. Seungwoo menoleh ke arahku, memberikan secarik gambar diri.

“Tempelkan pada bukumu. Agar kau ingat aku” ucapnya dengan senyuman manis. Aku hanya mengangguk

Gambar diri yang ia berikan, adalah potret dua insan yang sedang tersenyum lebar dengan dua buah kembang kapas di tangan masing-masing. Terdapat nama dan tanggal dibaliknya.

Seungwoo-Yoonsa. 2016/09/17.

Aku tersenyum. Menolehkan wajah menghadap Seungwoo, ternyata ia menatapku.

“Besok kita pergi, ya? Aku ingin ini” ucapku sembari menunjuk ke dua buah kembang kapas. Seungwoo mengangguk antusias

“Yuk, kembali ke kamar. Sudah mulai malam” ajaknya. Tangan kekarnya terulur, bermaksud menggandeng. Jemariku menyambut jemarinya, bertautan.

Langkah kaki menuntunku kepada sebuah bangunan besar dihadapan kami. Rumah Sakit khusus Alzheimer, begitu tulisan yang tertera di tengah bangunan.

Ah, benar. Aku menderita alzheimer.

Itulah alasan sebenarnya, aku menulis nama Seungwoo di setiap lembar buku usangku. Agar aku dapat terus menyelami kenangan baik dengannya, agar aku dapat terus membaca dan mengerti bahwa aku pernah dan masih dicintai, oleh perasaan yang sama.

Agar aku tahu, bahwa ada hati yang selalu menjadikanku pemiliknya. Meskipun ia tahu, bahwa ia sudah sepenuhnya hilang dari memoriku. Dan tahu bahwa aku tak akan pernah lagi menjadi sama.

Bahwa kami tak akan pernah lagi menjadi sama.

Tentang Kita dan Cinta.

Hujan perlahan membasahi apapun yang ia temui. Gemericik air bersahutan, seakan sedang berbincang hangat. Aku tak terlalu suka hujan pun tak juga membencinya. Hanya saja, hujan selalu merepotkan.

“Alice bareng gue aja, yuk” sebuah mobil silver berhenti tepat di hadapanku. Seseorang di dalamnya tersenyum manis padaku.

Oh, bolehkah aku ralat? Hujan tak selalu merepotkan.

“Yaudah, tapi anterin sampe rumah ya, Yon”

Mobil melaju perlahan. Menembus kabut dan sisa hujan yang masih menutupi pandangan. Beberapa kali aku melirik pemuda yang tengah beradu stir di sampingku, beberapa kali pula aku memergokinya menguap.

“Ngantuk? Minggir dulu aja, Yon. Bahaya” Seungyoun mengangguk kecil. Mobilnya berhenti di sebuah minimarket tak jauh dari situ

“Sorry, ya? Gue ngantuk banget. Semalem ga tidur ngerjain tugas” Ia menatapku, lama. Apa ada yang salah dengan wajahku?

“Kenapa?”

“Gapapa, lucu” oh, Tuhanku. Bolehkah aku terbang ke surga sekarang? Raga ku sudah siap melambung tinggi bersama dengan kupu-kupu di hatiku.

“Apaansih”

Menghindar, aku dengan sibuk memilih lagu untuk kami dengarkan. Tak sengaja, dan tanpa konteks apapun, jemariku memilih lagu Pool. Tak sadar, kami bersenandung bersama. Menyanyikan bait demi bait, lirik demi lirik.

Ingin rasanya aku menyanyikan lagu ini untuknya. Namun, aku tak bisa dan tak mungkin. Ada hati, dan nama yang harus Seungyoun jaga.

“Alice” aku menoleh kearahnya. Seungyoun menatapku dengan senyuman, manis sekali.

“Minggu depan, lo ke rumah gue, ya?”

“Ada apaan emang?” Seungyoun memandang keluar jendela, masih dengan senyum yang sama. Bahkan, lebih lebar dari sebelumnya.

“Gue tunangan, sama Mina”

“Oh.. akhirnya ya, Yon?” dia menoleh padaku kembali. Lalu dengan tawa kecil, ia mengusak puncak kepalaku

“Iya, akhirnya ya”

Aku tersenyum pahit. Kini, sudah tak ada celah bagiku untuk menjadi juara di hatinya. Tak ada celah bagiku untuk memiliki cintanya.

Aku, hanya lah sahabat baginya. Kita, hanya lah sahabat untuk satu sama lain. Kita, tidak dapat menjadi lebih. Kita, hanya lah dua orang yang terluka, dan saling menyembuhkan luka.

“Selamat ya, Yon” aku merentangkan tangan, meminta sebuah pelukan. Tak ada konteks, hanya sebuah pelukan. Seungyoun membalas, oh Tuhan, rengkuhannya begitu hangat.

Ini adalah tentangku, si pengecut yang termakan cinta. Hingga semesta kembali menyadarkan, bahwa tak ada rongga di hati Seungyoun untuk cintanya.

Ini adalah tentangnya, si bodoh yang takut kehilangan. Biarlah hanya semesta yang tahu, seberapa besar rasa cintanya untuk Alice. Yang akhirnya harus ia kubur dalam-dalam.

Ini tentang kita, si pengecut dan si bodoh. Tentang kita, yang sama-sama takut kehilangan. Tentang kita, yang memilih kata sahabat sebagai ungkapan. Tentang kita, yang hanya dapat mengungkapkan cinta lewat semesta.

Dan tentang cinta, yang begitu tabu untuk hanya terucap lewat tutur kata.

Love, Taehyung.

Jungkook mengamati bunga-bunga indah yang sedang dirangkai oleh pemilik florist. Dua sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman manis kala rangkaian buket bunga telah selesai.

“Terimakasih, ini sangat indah” ujarnya

Jungkook melangkahkan kaki dengan ringan. Berjalan menyusuri trotoar sembari sesekali melirik buket bunga di tangan kanannya. Butuh waktu sekitar 20 menit baginya untuk sampai ke tempat tujuan.

Namun belum sampai setengah jalan, ada sebuah panggilan masuk. Panggilan yang membuatnya harus berlari kencang. Panggilan yang membuatnya mengerang, dan mematahkan pertahanan Jungkook, hingga bulir bulir air mata jatuh membasahi pipi. Membuatnya terengah, bahkan sulit baginya untuk bernafas.

Bangunan putih di hadapannya adalah tujuan Jungkook. Persetan dengan orang lain, ia berlari dan terus berlari. Langkahnya terhenti di depan sebuah pintu.

:107, Kim Taehyung.

Tangannya gemetar. Bahkan menggeser pintu saja ia tak mampu. Bunga di tangan telah rusak tertiup angin, risak tampannya telah tertutup oleh air mata.

“Taehyungie..”

“Bangun” Jungkook duduk di sebelah pasien, Taehyung.

Tak ada respon, Jungkook menggenggam tangan sang terkasih. Dingin, dingin sekali.

“Aku datang, Taehyungie. Aku datang”

“Aku bahkan membawakanmu buket, dan buku komik”

“Kau berjanji padaku untuk menunggu, menunggu hingga aku datang”

Jungkook terus meracau, namun tetap saja sang terkasih tak memberi respon. Hingga dokter akhirnya masuk ke dalam ruangan.

Tangis Jungkook pecah. Erangannya sangat memilukan hati, membuat siapapun yang mendengar turut merasakan sakit yang teramat sangat. Jungkook bersimpuh, tak mampu lagi untuk berdiri. Tak mampu lagi untuk menggenggam. Hatinya sakit, teramat sangat.

Pada akhirnya, ia bangkit kembali. Menatap wajah damai Taehyung, ia tersenyum pahit. Tangannya membelai lembut puncak kepala Taehyung, memberikan rasa cinta di antara belaiannya. Kecupan manis ditinggalkan oleh Jungkook. Di dahi, hidung, pipi, dan bibir.

Kecupan manis yang sangat menyayat hati. Kecupan manis sebagai salam perpisahan untuk sang terkasih. Terakhir, ia kembali mengecup bibir Taehyung. Sedikit lebih lama. Menandakan bahwa Jungkook tetap dan akan terus mencintainya.

Air mata kembali mengisi pelupuk mata Jungkook yang kosong. Pandangannya memudar, terlebih ketika kain putih mulai menutupi tubuh Taehyung secara perlahan. Tubuhnya ambruk, meraung menyalahkan keadaan. Menyalahkan semesta, atas apa yang telah direnggut. Dan menyalahkan dirinya, atas janji yang tak dipenuhi.

“Aku mencintaimu”

“Akan selalu mencintaimu, Taehyung”

Maaf.

Aku terpaku. Rasanya, tak mampu lagi untuk bersua denganmu, sekalipun hanya satu langkah kecil. Tubuhku seperti dihujani oleh batu es.

“Wooseok, dengarkan aku.” Oh Tuhan, jangan lagi. Jinhyuk berusaha, dia sangat berusaha untuk membuatku mendengarkan.

“Jinhyuk, hentikan.” Aku melangkah mundur. Sudah cukup muak dengan segala hal yang terjadi

Pertemuan yang Jinhyuk rancang hari ini, seharusnya menorehkan cerita bahagia untuk ku tulis. Seharusnya menorehkan senyuman dan gelak tawa, serta beberapa kecupan manis. Namun, nyatanya, Jinhyuk mendorongku ke sebuah lubang gelap tak berujung. Menohokku dengan pernyataan kejam akan cinta.

“Seok, aku tak tahu akan seperti ini. Ini bukan salahku, Seok.” Jinhyuk terus berusaha untuk meraihku, sementara aku terus berusaha untuk lepas.

Memang, ini bukan salahnya. Keadaan yang membuat semuanya menjadi salah. Kenyataan yang membuat semuanya menjadi kacau. Seharusnya, aku tak mencintainya. Seharusnya, bukan aku yang menjadi pemilik hatinya.

“Kasta kalian sudah berbeda. Jinhyuk tak pantas mendapatkanmu.”

Benar, cinta kami adalah sebuah kesalahan. Maaf, aku dahulu terlalu egois.

“Malam ini Jinhyuk akan bertunangan dengan seorang pewaris perusahaan. Jika kau datang untuk memberi selamat, silahkan masuk.”

Maaf, aku tak sanggup. Maaf, aku tak sepantasnya berada di sisimu.

“Wooseok, aku mencintaimu. Sungguh. Akan kuhentikan semua ini, ayo menikah denganku.”

Maaf, namun aku tak bisa. Aku mencintaimu, sungguh.. Namun, maaf. Maaf, jika kali ini aku harus mengalah. Keluargamu, aku tak pantas berada diantaranya.

Tangan kekarnya merengkuhku. Oh Tuhan, ini sangat sakit. Pelukan ini terasa sangat menyedihkan. Aku merenggangkan jarak, menatap Jinhyuk tepat di manik cokelat indahnya.

Ku kecup perlahan bibirnya. Cukup lama, hingga aku meneteskan air mata. Tuhan, mengapa harus seperti ini? Aku mencintainya. Sangat.

“Maaf.”

“Berbahagialah, Jinhyuk.”

The Outcast

Suara derap kaki memecah keheningan di koridor rumah sakit, malam itu. Umpatan kecil terdengar, lebih seperti merutuki diri sendiri.

;101- choi byungchan. Seungwoo menghentikan langkah. Terdiam beberapa detik, sebelum jemarinya memutar knop pintu kamar. Tubuhnya ambruk seketika, seiring dengan raungan pedih meloloskan rasa sakit.

“Woo..” cho seungyoun- sahabat seungwoo, berlutut di hadapannya. Membawa tubuh seungwoo ke dalam rengkuhan hangat

“Siapa...”

”...siapa yang ngelakuin ini, Yon?” ujar seungwoo di tengah tangis yang tak kunjung reda. Seungyoun menggeleng pelan di bahu seungwoo.

Byungchan, adalah sosok penting di hidup seungwoo. Berkat cinta dan segala perlakuan klise penuh kasih darinya, seungwoo berhasil berubah. Ia adalah seorang bajingan kotor, kata ampun tak tertulis dalam kamus hidup seungwoo. Sudah tak terhitung banyaknya mimpi dan hidup yang dihancurkan olehnya. Menyakiti, menyakiti, dan terus menyakiti adalah dunia seungwoo, kala itu.

Hingga sebuah rengkuhan hangat dan manis dari byungchan, mampu meluluhkan hati bajingan seperti seungwoo.

Namun, hari itu semua bagaikan sebuah mimpi buruk.

Hari, dimana byungchan ditemukan berbasuh darah akibat tabrakan maut di persimpangan jalan. Hari, dimana byungchan enggan membuka mata meski seungwoo telah berlutut dan menangis. Dunia seperti menghantam seungwoo dengan tanpa ampun.

Dan kini, dunia seungwoo benar-benar telah runtuh, luluh lantak tak tersisa. Tanpa sapaan dan tanpa pamit, seungwoo ditinggalkan bersamaan dengan perasaan sakit tak pernah bisa sembuh.

“Byungchanie, maaf..” tak mampu menggenggam, seungwoo hanya duduk bersimpuh di samping kasur

“Jika saja aku tak pergi untuk ujian, jika saja aku menemanimu disini hari ini saja, aku masih akan dapat satu kesempatan untuk mengecupmu tiap malam, dan menyanyikan lagu favoritmu..”

Perkataan seungwoo terhenti karena getaran dari ponselnya. Sebuah pesan muncul di homescreen, sebuah pesan singkat yang menyulut rasa sakit di hati seungwoo, menjadikannya tak tertahan.

Seungwoo sudah terlanjur hancur, tak perlu susah payah untuk mendorongnya lebih dalam.

Pesan itu, adalah dari seseorang yang pernah memiliki sebuah peran di kehidupan seungwoo. Adalah dari seseorang, yang dahulu memohon padanya untuk dimaafkan.

Dari seseorang, yang dahulu terinjak-injak dan terbuang.

Dari seseorang, yang pernah mencintai bajingan seperti seungwoo, namun tak pernah dicintai olehnya.

'Selamat menyaksikan akibat dari perbuatan masa lalumu padaku, han seungwoo. Ketahuliah, ini baru permulaan – ws'

Pulang, semestaku.

Aku, yang mengharap kabar darinya, tak pernah terfikir bahwa merindukannya sesakit ini. Aku, yang mengharap dia untuk kembali, dihancurkan oleh sebuah surat resmi bernada formal bertuliskan namanya. Untuk yang kedua kalinya, aku telah hancur.

Memoriku berputar bak film romansa kuno, mengulas kisah bahagia yang dulu pernah ada. Mengingat tanggal, 19 Juli 2019.. dia, menjadi semestaku. Aku bahagia, sangat. Hari, minggu, bulan, aku sangat mengaguminya. Aku jatuh hati. Hingga ada janji terucap, untuk membawanya ke jalan berbunga.

Tak selang lama, dunia melawan kita. Takdir melawan janji. Kenyataan menghantam harapan. Semua hancur, rata dengan mimpi yang terinjak dengan keji. Semestaku, Ia rapuh. Ia hancur. Runtuh sudah. Semestaku, kalah dengan dunia.

Perjalanan terhenti, bahkan ketika hendak berlari. Tak ada lagi pintu yang dapat dibuka, tak ada lagi jalan yang dapat diambil. Usai sudah, semuanya. Semestaku, ia redup. Menghambur diantara kata maaf yang terlontar, melebur dalam ribuan liter air mata. Hati yang hancur, dihantam oleh permintaan maafnya. Semestaku, Ia menanggung segala salah. Ia dihancurkan oleh para penguasa.

29 januari 2020, Semestaku, ia kembali pulang. Bukan kepadaku, namun ke pemilik yang sebenarnya.

Tak ingin memiliki ego, namun aku menangis. Jika ia bahagia, aku pun akan. Namun, kata hanyalah kata. Hati tak sampai untuk berucap, meski dapat, hanya ada sesak yang keluar. Dia, semestaku. Selamanya, akan terus begitu. Sebab hati ini, memilihnya sejak pertama bersua.

Pulanglah, kepadaku. Setidaknya, beri kesempatan.. Untukku berikan jalan berbunga untukmu. Untuk dapat kembali kupanggil dirimu, leader Han Seungwoo.

Arrivederci.

Bagai sebuah prolog, aku seolah dapat melihat inti dari cerita kita. Pelangi dan kupu-kupu adalah harapanku ketika membangun isi kisah kita. Dan menyelesaikan epilog dengan melebarkan sayap putih bersamaan dengan terbangnya mimpi dan harapan.

Menghitung hari, memulai bab pertama dalam kisah kita. Bahagia, adalah kata pertama yang muncul dalam benak. Membalik halaman, masih dengan kata bahagia kita rengkuh hati satu sama lain. Kita genggam tangan satu sama lain.

Kisah kita tak melulu berisi pelangi dan kupu-kupu. Hujan guntur dan ombak badai perlahan muncul, menggoyahkan hati dan genggaman erat. Masih di bab yang sama, air mata mulai menjadi sebuah hujan. Aku ingat, saat kita harus berpisah. Seutas harapan tak lagi mampu untuk diselami. Masih di bab yang sama, pelangi dan kupu-kupu kini hanyalah pemanis di ujung kata.

Tak sempat untuk membuka bab kedua, buku ini telah tertutup. Tanpa ada kata lain yang terucap, kisah kita telah berakhir. Sebuah janji tak ditepati, menggores hati dengan dalam. Air mata terus menjadi hujan, pelangi dan kupu-kupu kini hanya menjadi angan.

Tak mampu menyelesaikan epilog, sayap putih terpaksa patah. Tanpa tahu kapan lagi harus mengepak.

Hanya dengan prolog, dan bab pertama, kisah kita sampai disini. Arrivederci, X1.

Happy 7

7 years, it feels long but sometimes it feels so short. 7 years of you growing up. There was a time when you think you weren't good enough for the world. When people doubted your existence, and when all things seems really unfair. I just... wanna thanked you. Because, you worked so hard just to make it fair, to make people turn their eyes for you.

All of the ups and downs, the falls, the trials and errors, the pains, tears, fights, its all paid off. On 2013, you may didn't think would be one of the most influential people in the world. You may just wished your debut stage would go smoothly.

As time goes by, the cheers are growing too. People didn't doubted you anymore, they are waiting for you instead. You, started from nobody to became one of the most influential people in the world.

I wanna thanked you, for everything you've done. For believe in each others and not giving up even when the world against you. And for believe in us, to be your strongest wings and shields. Thankyou for saving million lives. For saving my life, with your songs. You pulled me up, when nobody was. You hugged me, when i need it the most. Maybe it sounds so cheesy, but you guys are the reason why i can still stand strong until now.

So, happy birthday. You passed the 7 years. It filled with a lot of emotion, but happiness is the word i'll go by. Im beyond happy, its more like grateful.. for being your army, for being your audience. Lets cheers for another years to come, and lets walk only on purple flowery path~♡

I am and will always be proud of Bangtan Sonyeondan, and of all of you as a person. I love you, and i trust you for a very long time. until infinity runs out.

Thankyou, and i love you.♡ 보라해💜

11.11

Suasana hangat memenuhi atmosfer kamar nomor 156. Dua insan tengah bergurau dengan asyik, meski sang gadis harus repot dengan selang oksigen yang terpasang padanya.

“Yeo, kamu bentar lagi ulang tahun, mau hadiah apa?” ujar sang gadis sembari menelusuri paras tampan Yeosang- sang terkasih.

“Aku mau kamu sembuh, Ya.” jawaban Yeosang sontak membuat Aya terdiam. Tak lagi menyibak rambut Yeosang, kini tangannya beralih menarik selimut.

Sembuh baginya membutuhkan waktu seumur hidup. Jangankan sembuh, untuknya bangkit dari kasur saja tak mampu. Dan Yeosang pun tahu itu. Hati Aya sedikit terkikis, ketika lelakinya meminta ia untuk sembuh pada hari bahagianya yang tinggal menghitung minggu.

“Yeo, aku nggak bisa,”

“Aku nggak bisa sembuh secepat itu, Yeo.”

“Ya-”

Belum sempat Yeosang menjawab, dokter masuk ke kamar Aya. Membawa tumpukan berkas dengan raut wajah tak terbaca. Seperti ingin memberikan berita baik namun juga terselip berita buruk didalamnya.

“Aya, kami sudah menemukan pendonor jantung untuk kamu. Apabila cocok, kamu akan menjalani transplantasi minggu depan.”

Ucapan dokter membuat mata Aya berbinar. Bergantian, netranya menatap Yeosang dan dokter dengan senyum merekah. Dokter mengangguk kecil, seperti menenangkan Aya.

“Saat ini fungsi jantung Aya kurang dari 40%. Tapi, orang tua kamu masih belum setuju tentang transplantasi ini, mengingat sangat beresiko tinggi meski operasi berhasil sekalipun. Apa Aya-”

Aya mengangguk tanpa jeda, memotong perkataan dokter seperti ia sudah tahu kemana arah pembicaraan beliau. Persetan dengan segala resiko, ia hanya ingin dapat hidup dengan bebas.

“Baik, kalau begitu besok saya akan rundingkan kembali dengan orang tua Aya, ya?” begitu kata dokter sebelum pamit meninggalkan Aya dan Yeosang.

Yeosang memeluk Aya dengan erat. Kabar bahagia ini, menjadi kabar bahagia untuknya pula. Karena kesembuhan Aya, adalah prioritas Yeosang.

Tepat satu minggu, Aya berbaring menatap langit-langit. Rasa cemas memenuhi dirinya, membuatnya sesak tak berujung. Netra Aya terus bergerak, mencari sosok yang ingin ditemuinya. Setidaknya sesaat sebelum Aya masuk ke ruang operasi.

“Aya, Yeo-yeosang bilang dia lagi ada urusan sebentar. Dia nitip surat buat kamu, katanya dibaca setelah operasi. Sama bunga, tuh.” mama Aya menunjuk ke sebuah bucket cantik dan sepucuk surat yang tergeletak di sofa. Sesaat, perasaan Aya menjadi tenang. Setidaknya, Yeosang tidak lupa.


June, 15. Sudah terhitung dua minggu, setelah operasi yang Aya lakukan. Operasi berhasil dilakukan, jantung di dalam diri Aya berdetak dengan stabil. Sudah tak ada lagi selang yang menempel di dirinya, selain selang infus dan vitamin. Namun, keberhasilan operasi itu tak juga membuatnya merasa senang. Ada rasa hampa, karena Yeosang tak kunjung datang.

“Ma, Yeo kemana sih? Aku telpon dia nggak angkat.” mama Aya terdiam. Tak memberikan jawaban, jemarinya merengkuh tubuh Aya dengan lembut.

“Aya, udah baca surat Yeosang?”

Aya ingat, surat yang diberikan dua minggu lalu dengan bucket bunga indah yang kini sudah layu. Ia membuka surat yang selama ini disimpan di bawah bantalnya.

Halo, Aya. Di hari kamu baca surat ini, itu adalah hari dimana aku jadi manusia yang paling bahagia, Ya. Kenapa? Karena akhirnya kamu bisa sembuh. Karena akhirnya, kamu bisa bebas. Aya sayang, Yeo minta maaf ya? Karena pergi dulu tanpa pamit. Bahkan cuma nitip bunga sama surat haha, cupu banget ya? Aku udah nitip peluk sama cium ke mama Aya. Aku bilang ke mama, buat selalu cium kening Aya sebelum Aya tidur. Aku bilang ke mama, buat selalu peluk Aya kalau Aya nyari aku.. Aya, Yeo sayang banget sama Aya. Aku cuma pengen Aya sembuh, makanya aku memilih pergi. Jantung yang berdetak di tubuh Aya saat ini, itu punya Yeo. Sekarang, Aya bisa ngerasain gimana kencengnya degub jantung aku kalo lagi sama Aya.

Aya, jangan sedih ya, aku pergi. Karena sebenernya, aku nggak kemana-mana. Aku selalu ada di deket Aya. Nemenin Aya setiap hari. Kalo lagi kangen sama aku, peluk mama ya, Aya. Yeo sayang banget sama Aya. Aya itu dunianya Yeo. Udah dulu ya, Aya. Sampai bertemu di kehidupan selanjutnya.

The one who loves you, Yeosang.

Tangis Aya pecah. Hatinya hancur, rata dengan dunianya yang runtuh. Jantung ini, ternyata dari sang terkasih. Raungan rasa sakit dari hati Aya, terdengar hingga segala penjuru rumah sakit. Menandakan sang pemilik hati tengah berduka dengan sangat dalam.

Tepat pada tanggal 15 juni pukul 11.11 malam, Yeosang mendapat hadiahnya, dengan memberikan seumur hidupnya.


Pulang

“Kamu kapan pulang?” Pertanyaan itu adalah wajib untuk Nana lontarkan ketika menelepon sang kekasih.

“Maaf ya Na, aku belum tahu pasti.” Dan jawaban ini adalah jawaban pasti dari sang kekasih padanya.

Menjadi seorang dokter adalah tugas yang tak mudah bagi Seonghwa. Pasalnya, ia kerap dimintai untuk merawat pasien di luar Korea. Membuat Seonghwa harus sedikit lebih jauh dari gadisnya.

“Aku kangen.”

“Aku juga, Na. Kangen banget.”

Pembicaraan di telepon berangsur hangat. Gurauan serta kekehan kecil mulai terdengar dari keduanya. Meski tak berlangsung lama, panggilan itu mampu untuk sedikit menghapus rindu yang merengkuh hati satu sama lain.

“Park Seonghwa, pengajuan liburmu saya setujui. Asalkan pada tanggal 28 sudah harus kembali kemari, mengerti?” Dokter kepala tersenyum tipis seraya membubuhkan tanda tangan di dokumen Seonghwa. Tak dipungkiri, kini banyak sekali kupu-kupu terbang di hati Seonghwa.

“Terimakasih, pak.” Usai membungkuk hormat, Seonghwa bergegas kembali ke ruangannya. Tak sabar ingin mengabari gadisnya, bahwa ia akan kembali pulang.

Sesaat sebelum kembali ke apartemen, Seonghwa menyempatkan mampir ke sebuah toko perhiasan. Kepulangannya ke Korea, menepati hari jadi mereka yang ke 3 tahun. Seonghwa ingin memberikan hadiah spesial untuk gadisnya.

“Ada yang bisa saya bantu?” Seorang pramuniaga menyambut Seonghwa masuk.

“Saya mau membeli cincin, untuk melamar pacar saya.” Ujar Seonghwa dengan pasti. Ia tak sabar, ingin memakaikan cincin itu ke jari manis Nana dan mengajaknya untuk hidup bersama.

;26-04-2020. Pagi itu, Nana sudah bersolek dengan cantik. Parasnya yang jelita bersinar cerah sebab ia selalu tersenyum. Tak sabar rasanya, untuk merengkuh sang kekasih dengan hangat dan erat.

“Nana, aku udah mau flight, pesawat S167. See you soon, cantik.”

Sebuah pesan masuk di layar ponsel Nana. Membuatnya bergegas bersiap dan keluar rumah. Langkah kakinya membawa Nana ke sebuah outlet bunga. Seonghwa menyukai bunga lavender dan lily. Untuk itu, Nana ingin memberikan bucket cantik sebagai hadiah.

“Terimakasih.” Ketika hendak pergi, langkahnya mendadak terhenti karena berita di televisi dari dalam outlet bunga.

“Pesawat korea airlines S167 tujuan Tokyo-Seoul mengalami kecelakaan 10 menit setelah lepas landas. Seluruh penumpang dan awak pesawat dikabarkan tewas karena ledakan yang terjadi sesaat setelah menabrak tebing-”

Bucket bunga yang sedari tadi ia pegang terjatuh rata dengan tanah. Nana menjerit, menangis, meraung. Dunianya hancur seketika.

“Hwa....”

Tak peduli berapa pasang mata yang menyaksikan kepedihan hati Nana, ia bersujud pada tanah. Memohon sebuah keajaiban untuk terjadi. Memohon agar waktu dapat terulang kembali.

Nana berjalan perlahan menaiki bukit yang penuh dengan bunga. Sebuah bucket bunga lavender berada di genggamannya.

“Seonghwa..”

Nana berlutut di hadapan nisan sang kekasih. Terpampang potret diri Seonghwa mengenakan jas hitam, dan tersenyum. Bunga lavender diletakkan Nana tepat di bawah potret diri Seonghwa.

“Akhirnya kamu pulang, ya?” Nana tersenyum getir karena pertanyaan yang ia lontarkan. Angin berhembus perlahan, seakan memberikan jawaban atas apa yang ia tanyakan.

“Kamu inget nggak, hari ini hari apa?”

“Happy 3rd anniversary, sayang. Nana sayang sama Seonghwa, selamanya.”

Kecupan singkat di nisan Seonghwa menandakan keikhlasan hati Nana. Melalui hembusan angin, Nana merengkuh Seonghwa untuk terakhir kalinya.