pagi-pagi

narasi bagian sembilan belas dari Dua Sisi, a Suna Rintarou harem story


cw // hars words , slight nsfw , kissing , Teru nyium Suna

Pagi-pagi sekali Rintarou sudah kembali ke asrama. Suasana pagi hari di asrama begitu sepi. Jelas saja, penghuni asrama pasti masih tertidur bergelung dengan selimut hangat mereka.

Alasan kenapa Rintarou kembali ke asrama pagi buta seperti sekarang karena ia melupakan salah satu buku modul perkuliahannya. Ia meninggalkan buku itu di asramanya, sehingga mau tidak mau ia harus kembali ke asrama pagi ini sebelum berangkat ke kampusnya.

Satpam penjaga pintu gerbang asrama tampak masih mengantuk ketika menyapa kedatangan Rintarou. Rintarou balas tersenyum, lantas dengan cepat berjalan menuju letak kamar asramanya.

Rintarou mengetuk pelan pintu kamar di sebelah kamarnya. Ia baru ingat jika kunci apartemennya tidak ada pada dirinya. Rintarou mengetuk pintu kamar Yuuji kembali, beberapa kali ia mengetuk namun tidak kunjung mendapat jawaban. Ia tidak berani mengetuk terlalu keras, takut jika membangunkan penghuni asrama yang lain.

“Teruuuu!” suara Rintarou memanggil sambil tangannya tidak berhenti mengetuk pintu kamar Yuuji.

Hingga beberapa menit kemudian pintu terbuka. Menampakkan Yuuji yang terlihat sangat mengantuk.

“Kunci kamar gue mana?” tagih Rintarou langsung.

Yuuji tidak menjawab, ia hanya memberikan gestur kepada Rintarou untuk masuk ke dalam kamarnya. Rintarou patuh, ia berjalan masuk ke dalam kamar Yuuji.

“Mana sini! Gue masih ngantuk banget. Pengen cepet-cepet tidur lagi!” tukas Rintarou.

“Ada di tas gue.” Yuuji membalas. Suaranya terdengar lebih berat dari biasanya. Mungkin efek bangun tidur. “Tapi gue males nyarinya,” sambung Yuuji.

Rintarou berdecak, “mana tas lo? Gue aja yang nyari!” tukas Rintarou.

Alih-alih menjawab, Yuuji justru berjalan mendekati Rintarou kemudian menarik tangan Rintarou. Rintarou terkejut ketika Yuuji tiba-tiba memeluknya dan membawa tubuhnya berbaring di atas ranjang Yuuji.

“Lo ngapain, sih!” tukas Rintarou tidak suka. Ia berusaha bangun namun Yuuji lebih dulu menahannya.

Yuuji memeluk Rintarou erat, menarik tubuh Rintarou benar-benar menempel pada tubuhnya. Posisi mereka yang berhadapan membuat Rintarou bisa dengan jelas mendengar suara detak jantung Yuuji.

“Lo bilang ngantuk, kan? Tidur sini aja,” ucap Yuuji.

“Sempit anjir!” tukas Rintarou. “Gue mau balik ke kamar gue!”

Pelukan Yuuji lagi-lagi semakin mengerat. Kini bahkan hidung Rintarou bisa langsung bersentuhan dengan dada Yuuji. Rintarou juga bisa merasakan dagu Yuuji yang menempel pada puncak kepalanya. Sesekali ia juga merasakan Yuuji yang mengecup kecil puncak kepalanya dan membuat Rintarou merasakan perasaan yang menurutnya aneh.

“Tidur sini aja, Sun.” Yuuji berbisik. “Gue kangen sama lo.”

Rintarou kembali merasakan sensasi aneh ketika mendengar suara dan apa yang Yuuji ucapkan. Rintarou masih berusaha melepaskan diri dari pelukan Yuuji. Namun Yuuji tidak membiarkannya, terus memeluk tubuh Rintarou; bahkan semakin mengeratkan pelukannya.

“Gue nggak bakal ngapa-ngapain lo. Tidur aja. Keburu siang ntar lo nggak jadi tidur!” tukas Yuuji.

Rintarou terdiam sejenak. “Awas kalo lo aneh-aneh!” peringat Rintarou.

“Nggak bakal.”

Pada akhirnya Rintarou menyerah. Rasa kantuknya lebih mendominasi, hingga akhirnya Rintarou memejamkan kedua matanya. Tidak lama setelah itu Rintarou benar-benar sudah tertidur pulas dalam pelukan Yuuji.

Kelopak mata Yuuji perlahan terbuka. Pemandangan pertama kali yang ia lihat ketika membuka mata kali ini berhasil menarik senyumnya. Ia tersenyum kecil ketika melihat wajah Rintarou yang terlihat damai ketika tertidur.

Yuuji tidak tahu apa yang terjadi padanya, namun semenjak Rintarou yang bermain cosplay dengannya beberapa hari lalu, membuat Yuuji tidak bisa berhenti memikirkan Rintarou. Yuuji akui mungkin saja ia mulai menyukai Rintarou. Bukan sebatas teman saja, namun lebih dari itu. Kemudian ia mendengar bahwa Rintarou dan Eita pernah bersama membuatnya sedikit tidak nyaman. Ada bagian dari dalam dirinya yang merasa tidak rela jika Rintarou dan Eita pernah menjalin kisah yang cukup spesial.

Katakan Yuuji cemburu, karena mungkin memang ia cemburu. Ia cemburu kepada Eita. Kepada siapa saja yang pernah melihat Rintarou sebagai Nana.

Jempolnya menyapu pelan bibir bawah Rintarou. Bibir yang sejak beberapa hari ini selalu ia pikirkan. Yuuji sedikit menunduk, memajukan wajahnya hingga bibirnya kini menempel sempurna di atas bibir Rintarou. Yuuji melumat pelan bibir ranum itu. Perlahan-lahan membimbing agar Rintarou membuka mulutnya. Lidahnya menerobos masuk, membelit lidah Rintarou yang hanya bisa pasrah ketika ia permainkan.

Yuuji baru menarik diri ketika ia melihat kerutan di kening Rintarou. Seperti tidak nyaman. Bibir itu kini semakin merah. Katakan Yuuji itu kurang ajar, ia mengatakan tidak akan melakukan apa-apa walaupun kenyataannya berbeda. Namun ia merasa puas, bisa merasakan bibir Rintarou dan membuat bibir itu semakin merah.

“Met tidur, Sun.”

tbc