librarian

Part Of KAK J & OCEAN BOY UNIVERSE

tags: 2k+ words, oneshot au, fluff, slice of life, domestic couple!jimmysea, happy ending, bahasa indonesia & (slightly) english


“Balik lagi… Ketinggalan?”

Pesan terakhir dari Jimmy membuat sebelah alis Sea naik tanpa sadar. Dia baru selesai mandi, dengan sebelah tangan masih memegang handuk di atas kepalanya.

Heran, jelas dibuat heran. Kumpulan kata itu singkat dan langsung pada tujuan kenapa harus disampaikan.

Ya… bukan berarti Jimmy tak pernah begitu sebelumnya, bercakap singkat-singkat seperti sandi pramuka. Hanya saja, sang dokter itu tergolong manusia penuh teliti atas barang yang dibawa. Dia selalu memastikan sambil melihat ke seluruh ruangan bahwa tidak ada barang yang tertinggal.

Namun nyatanya, pagi ini adalah pengecualian.

Apalagi ketika Sea bertanya balik tentang barang yang dimaksud, dia sampai mengerjapkan mata karena saking bingungnya melihat jawaban.

IPad.

Ya, benar. Kalian tidak salah baca. Benda dengan luas bidang tak kecil itu bisa dengan mudahnya tertinggal dan terlupakan oleh seorang Jimmy, si penuh teliti.

Masalahnya adalah, iPad milik lelaki itu sudah seperti nyawa keduanya. Ada cadangan-cadangan energi begitu penting seperti umpama kalau Jimmy kehilangan perangkat itu, dia bisa gila—meski terasa berlebihan.

Seluruh pekerjaan dan bahan bacaannya ada di sana. Sejak tinggal bersama Jimmy, Sea jadi tahu kalau sebelum tidur, dia suka membaca buku digital di sana. Kemudian setiap paginya, selalu terlihat kalau perangkat itulah yang pertama kali masuk ke dalam tas milik sang dokter.

Jadi, bisa dibayangkan bukan betapa tak masuk akalnya kejadian kali ini di pikiran Sea?

Boleh diakui kalau hari ini aktivitas mereka memang dimulai dengan hectic—terutama bagi si empunya iPad.

Pagi-pagi, yang bahkan matahari belum sempat mengintip dari balik jendela, sang dokter sudah ditelepon pihak rumah sakit. Panggilan darurat. Yang kadang, bisa memacu adrenalin luar biasa besar jika sangat mendadak.

Alhasil, gerak yang dilakukan lebih cenderung seperti orang kesetanan. Menghasilkan suara-suara setiap anggota badannya bergerak ke sana kemari.

Sea saja tak tahu-menahu apakah lelaki buru-buru itu sempat mandi atau tidak. Yang dia mengerti dan ingat—karena pada saat itu nyawanya masih setengah bangun—hanyalah vokal bisikan “Aku pamit.” beserta usapan halus di pucuk rambutnya.

Terasa sangat kontradiktif dengan keadaan sekitarnya.

Kemudian, ponsel Sea kembali bergetar, menyadarkannya dari asap pikiran sempat lewat. Ada satu kalimat susulan dari Jimmy yang mengabari kalau akan sampai kira-kira tak lebih dari tiga setengah menit lagi.

Bibir lelaki lautan sudah pasti dibuat mengerucut soal betapa sang dokter sangat presisi tentang waktu—hingga ke menit-menitnya. Batin juga bertentangan dan penuh tanya, mengapa harus pakai 'setengah' jika sang dokter bisa saja menggenapkan ke angka empat sekaligus.

Sayangnya, Sea juga tak pernah bertanya tentang itu. Atau lebih tepatnya, dia cari aman. Karena kebiasaan Jimmy saat demikian adalah ketika situasi sedang genting dan diburu-buru.

Dan lelaki serupa samudra tentu tak mau membangkitkan volkano dalam diri Jimmy yang bisa-bisa siap meledak kapan pun waktunya.

Ternyata, benda yang dicari-cari ada tepat di samping nakas sisi ranjang Jimmy. IPad itu seakan mengejek sebab menjadi duduk perkara si empu yang harus pulang lagi demi menjemputnya.

Menurut Sea, situasi ini tak berbeda ketika sang dokter mencari-cari kacamatanya yang hilang padahal alat bantu baca itu ada di atas kepalanya sendiri—sering terjadi.

“Maklum lah, udah tua,” ujar pemuda laut selagi menepuk-nepuk kecil iPad di tangan.

Padahal umur mereka masih sama kepala duanya.

Sekarang, setelah menjemur handuk, Sea menunggu kedatangan Jimmy di ruang tamu. Dia pasang telinga baik-baik sebab ketika pengendara lewat depan rumah di klaster baru, suaranya akan begitu kentara.

Maka saat indra pendengar menangkap samar bunyi kendaraan mendengung, yang menunggu langsung berdiri. Dia mengintip lewat celah-celah jendela bermotif dari bagian tak berwarna—memastikan bahwa Jimmy orangnya.

Benar atas dugaan. Suara tapak sepatu pantofel melangkah begitu cepat. Kunci gerbang dibuka, menimbulkan nyaring tak asing. Mesin roda empat berhenti bergemuruh.

Dan tak lupa gerutuan was-was sang dokter, yang kemungkinan membuatnya tidak sadar kalau pintu depan rumah telah dibuka. Bahwa kehadirannya juga disambut oleh dia yang senantiasa dibuat buru-buru.

“Eh, Sea—”

“Nih.” Laki-laki baru selesai mandi menyerahkan gadget milik si empu dan charger-nya. “Di nakas sisi Kakak.”

Sepersekian detik, terlihat binar dalam dua mata Jimmy ketika bolak-balik menatap antara wajah Sea dan benda yang dicari. Bersyukur karena tak harus repot melewati ruang-ruang mencari iPadnya dalam kecepatan tinggi.

Karena bisa saja berakhir dengan rumah kapal pecah, lantas akan membuatnya pusing di akhir hari.

Berhenti dari adegan slow motion, helaan napas dilakukan. Pikiran kian jernih sebab tujuan sang dokter telah berubah, yaitu kembali ke rumah sakit dan menerjang kemacetan.

Thanks for fast responding,” jawab Jimmy menerima dua barang keramatnya. Mode fokus telah merajai tubuh. Dengan gamblang, dua alisnya berkerut pula. “Berangkat lagi.”

“Kak Ji—”

Sang dokter sudah siap putar balik badan, namun bersamaan dengan kalimat Sea terpotong, ponsel di saku celananya berbunyi dan bergetar.

Kali ini bukan hembusan napas, tetapi dengusan sebal disertai decakan.

Rasanya, batin Jimmy gemas ingin merutuki siapapun yang menganggu tindak bergegasnya. “Apa lagi?!” ketus yang dibuat kesal, selagi satu tangan berusaha membuka fingerprint lock.

Tapi gagal, karena jari-jarinya berkeringat dan juga gemetar. Terlalu berpacu dalam adrenalin.

“Kak Jimmy,” Sea memanggil selagi memegang lengan atas sang dokter. “Yang tenang.”

Sempat merasa ragu karena kemungkinan Jimmy menghindari kontak fisik yang bisa membuatnya tambah panik.

Namun, untung saja dewi fortuna kini berpihak pada Sea dan yang dipanggil pun merespon tanpa makin tersulut amarah.

Air muka sang dokter melembut dari keresahan.

“Sori,” Jimmy berkata rendah. Tak dirasakan lagi sentuhan laki-laki samudra di lengannya.

Sea mengangguk paham kemudian izin meraih kembali iPad yang sempat diserahkan. Dia juga mempersilahkan Jimmy masuk ke dalam rumah supaya berteduh dari panas matahari. Pemicu besar seseorang hilang waras pikir tanpa kenal kondisi.

Menjadi lebih tenang, Jimmy akhirnya bisa menerima telepon yang takkan mungkin berhenti jika belum tersambung. “Halo? Maaf baru bisa angkat.”

”. . .”

Cklek!

Pintu ditutup oleh lelaki samudra yang kemudian menyalakan kipas angin dekat sofa ruang tamu supaya ruang tak begitu gerah.

Sebenarnya, ada pendingin ruangan. Tapi sudah kesepakatan antar mereka jika waktu pagi, tak boleh ada yang menyalakan AC.

Tujuan utama… jelas agar hemat biaya listrik.

“Ya benar, ini saya baru mau balik.”

”. . .”

Sea memperhatikan Jimmy yang tak juga duduk meskipun tersedia waktu sejenak untuk melakukannya. Bertelepon sambil berkacak pinggang, dengan pandang menatap pintu depan.

Pun karena sebelum itu, diberi respon baik atas upaya 'menenangkan', laki-laki samudra berani meraih tangan Jimmy dengan ringan—membuatnya menoleh serta dagu terangkat kilat.

“Duduk dulu,” pinta Sea tanpa suara. Dia melirik sela kosong di sebelahnya.

“Loh.” Jimmy menunjukkan telapak, isyarat agar menunggu sebentar. Sekilas, ekspresinya berubah bingung. “Kenapa ya?”

”. . .”

Bibir pemuda lautan mengerucut seperti di awal cerita dimulai. Berusaha merayu yang sedang bercakap supaya mau mengikuti sarannya.

“Sudah dilakukan?” Kedua pundak Jimmy tak terlihat sekaku tadi. Dia pun akhirnya duduk tepat di sebelah yang meminta, badan masih ditegakkan. “Oleh?”

”. . .”

Sea tersenyum kecil melihatnya, walau fokus sang dokter masih mengarah ke depan. Dua kaki bersila di atas sofa, sebelah tangan menopang kepala, dan siku di atas bantal tempat dia bersandar.

“Oh, baik kalau begitu.”

”. . .”

“Terima kasih informasinya.”

Sambungan telepon ditutup kedua belah pihak.

Jimmy menghela napas yang tak ditahan-tahan. Punggungnya merebah pada sandaran sofa, dan dua kaki juga ikut diluruskan.

Baru sekarang saat kepala sudah benar-benar dingin, dia bisa merasakan letih di beberapa ototnya yang menegang sejak perjalanan dari rumah sakit hingga ke rumah.

Juga lagi-lagi dibuat sadar atas kehadiran sosok lain dalam ruang. Sebab lengan bawah pemegang ponsel, terkulai persis di atas tangan milik Sea—menunggu percakapan usai.

“Hai, Dokter Jimmy,” sapanya jahil. Tak lupa didukung senyum manis miliknya. “Sehat?”

Sang dokter ikut menyunggingkan bibir. Atensi pun bisa sepenuhnya diberi kepada Sea seorang—akhirnya—meski terlihat sayu. “Maaf bikin kamu repot pagi-pagi.”

“Pelakunya bukan Kakak.” Laki-laki samudra meraih si biang kerok suasana hectic, lalu menggoyangkannya sedikit. “Tapi dia.”

”. . .”

Couldn't agree more.

“Kok bisa sih, Kak?” Diletakkannya iPad di meja depan mereka.

“Tadi ketemu di mana?”

Sea membenarkan posisi duduk supaya bersila menghadap yang diajak bicara. “Nakasnya Kakak,” jawabnya ulang.

Ketika sungguh-sungguh mendengar, dan kalimat pendek itu merasuki pikiran, Jimmy sadar kalau keterlupaannya kali ini memang pantas untuk diheran-herankan.

Sang dokter mengusap wajah. “I have no idea.

“Kakak aja bingung, apa lagi aku.”

“Gelap, Sea. Lampu mati. Casing-nya hitam juga.”

“Kenapa gak dinyalain?”

Jimmy menatap yang lebih muda seolah pertanyaan itu sudah jelas jawabannya. “Kamu masih tidur.”

“Bisa-bisanya di tengah hectic Kakak masih mikir buat…” Kalimat pemuda lautan menggantung, lalu berhenti di ambang-ambang.

Seakan baru sadar, kalau yang mau diceritakan itu tak seharusnya dimunculkan. Karena jika iya, Jimmy akan tahu kalau Sea mendengar jelas suara pamitannya di awal hari tadi.

“Buat?” ulang Jimmy, melihat wajah Sea terus terang—ingin tahu kelanjutannya.

”. . .”

“Gak jadi, hehehe.” Yang ditanya malah menyimpul cengiran dan gestur lambaian tangan. “Kakak gak balik RS lagi?”

Smooth move, Ocean Boy.

“Diusir ya?”

Buru-buru, Sea menggelengkan kepala. “Tadi kayak… mau cepet-cepet balik?”

Case-nya udah di-handle sama yang lain. Dua jam kedepan luang,” Ada jeda sejenak, sebelum melanjutkan, “. . . kemungkinan.”

“Terus, udah sarapan?”

Jimmy menunjuk wadah berbentuk daun di atas pantry. “Anggur lima buah.”

“Mau sarapan dulu? Masih ada waktu kok. Sekalian bareng aku, soalnya belum makan apa-apa juga.”

Sebuah tatapan peringatan melayang. Posisi duduk juga ikut menegak. “Sea…”

“Kak Jimmy, apa mungkin aku bisa makan kalo situasinya,” Lelaki samudra mengutip di udara dengan jari-jarinya, “kayak tadi?”

Yang ditanya cuma bisa menggaruk tengkuk tak gatal. Teringat lagi segala kejadian sejak matahari belum muncul hingga panas teriknya memicu sang dokter menjadi sosok bom waktu siap ledak.

“Nanti bawa salad buah ya, Kak. Makan di sana.”

“Hm?” Hendak mengambil iPad, tapi gerak Jimmy berhenti. Dia menoleh. “Yang dikasih Mama kemarin?”

Sea mengangguk. “Tinggal dua, nanti Kakak ambil satu. Atau mungkin, mau dibawain semua buat temen—”

“Sea,” potong sang dokter, kemudian menyentuh samar lutut pemuda lautan. “Satunya buat kamu.”

Dengan begitu, percakapan atas keseharian mereka hari ini diakhiri oleh senyum bagai bulan sabit dari belah ranum keduanya di ruang tamu.

Pun realita menyusul kemudian berupa dering dan getar ponsel milik Jimmy—sebuah tanda kalau kemungkinan waktu luangnya tak akan menjadi nyata.

Sang dokter bangkit dari sofa dan kali ini, tidak lupa dengan benda kesayangannya, si iPad tercinta. Sudah dipastikan kalau perangkat itu tak lagi bisa kabur dari sorot mata memandang. Terbukti oleh pegangan erat Jimmy pada tubuh casing perangkat, beserta charger-nya.

Sedangkan Sea pergi ke dapur untuk mengambil semua salad buah dari kulkas. Yang satu diletakkan di atas meja makan, dan satu lagi dimasukkan shopping bag mini beserta sebuah sendok makan ukuran sedang.

Cklek!

Pintu dibuka oleh Jimmy, baru selesai memakai sepatu. Berdiri sambil bersandar di ambang pintu, sebelah tangan meraih ponsel lalu menjawab pesan dari seorang koleganya yang tadi memberi sinyal 'kembali bekerja'.

Terdengar suara tapak kaki lain berjalan semakin dekat, dan Sea memberikan tas mini tadi. Namun melihat Jimmy yang kedua tangannya penuh benda, dia jadi berkata, “Hapenya kantongin dulu. Biar bisa bawa ini.”

Kemudian sang dokter meraih bingkisan yang diberi. “Maaf, Maaf.”

Si laki-laki laut menghela napas. “Kalo gak tau Kakak itu dokter, kayaknya aku bakal ngira petugas call center deh.”

“Ada-ada aja kamu,” tanggap Jimmy, tersenyum minim. Langkahnya melewati pintu depan rumah mereka, dan sosok di belakangnya tak tahu akan reaksi kecil itu.

“Nanti tempat saladnya bawa pulang ya, Kak. Lumayan bisa dipakai lagi.” Tubuh Sea disandarkan pada kusen pintu masuk. “Coba pastiin ulang biar gak ada yang ketinggalan.”

Sang dokter menggeleng mantap. “Aman.”

“Soalnya, siang aku ke kampus. Misal kejadian lagi, rumah gak ada siapa-siapa. Kakak nanti repot.”

You start to act like me, Sea.”

“Hush, aku serius.” Lalu, pemuda samudra menangkap kejanggalan di hadapan. Jari telunjuknya memberi isyarat supaya sang dokter mendekat. “Sini deh.”

Yang dipanggil menurut saja meski dengan wajah heran. Tapi segera berubah, ketika kedua tangan Sea terjulur membenarkan kerah kemeja miliknya—tak disadari pula kalau terlipat ke dalam.

Faktanya, Jimmy masih dibuat termenung setiap laki-laki samudra memperhatikan hal kecil tentangnya. Sejak memutuskan pisah rumah dari orang tua, belum pernah lagi merasakan bagaimana rasanya diberi perhatian sederhana seperti yang saat ini terjadi.

Segala tingkah laku penuh afeksi, akan selalu dianggap hal baru oleh sang dokter. Dan perlu diingat-ingat bahwa pernyataan itu hanya berlaku untuk Sea seorang.

Sosok yang tak disangka mampu meredam gejolak darinya yang berwatak bak gunung api. Membasuhnya tepat di hati, dan bertahan tenang di dalam sana.

“Kakak liatin aku terus.”

Kelopak mata Jimmy pun berkedip, disadarkan oleh suara halus familiar dari si pemilik sumber ketenangan diri. “Sea,” panggilnya, setelah menjeda sejenak.

Jemari yang disebut namanya berhenti, lantas dia menatap balik. “Ya, Kak?”

Thank you for taking care of me.

”. . .”

Barisan putih rapi terlihat dari balik ranum Sea. “Udah berapa kali bilang 'terima kasih' dan 'maaf' pagi ini?”

“Eh, ma—”

“Tuh kan,” tuding pemuda lautan, telunjuknya diarahkan ke depan.

Jimmy hendak menjawab kata lain, tapi tak ada satupun yang bisa menggantikan. Sehingga mau tak mau—walau terkesan dibuat sengaja dan akhirnya mengikuti perasaan—dia mengucap, “Maaf.”

You won't stop ya, Kak?”

“Gak ada yang bisa buat aku—”

Cup!

“Berhenti…”

Sosok yang melayangkan kecup singkat di pipi sang dokter tersenyum sangat manis. Pun saking manisnya, tak lagi mampu terlihat binar lautan cokelat sebab kelopaknya nampak segaris saja.

Sedangkan di sisi lain, tubuh Jimmy bergeming seperti baru saja mengalami peristiwa paling memukau di hidupnya. Tanpa sadar juga kedua pipi mendadak seperti tomat, ingin sekali disangkal kehadirannya sebagai ulah matahari di atas sana.

. . . You really are something, Sea.”

Karena sesuatu yang tertinggal, biasanya meninggalkan kesan terdalam.

Seperti si Ocean Boy yang membantu Kak Jimmy dengan barang ketinggalan.


terpintal dengan cinta, oleh daeyumbruh

“Gue sehat dan waras anjir.”

“Ya lo baru nongol langsung minta cipokan.”

tags: 800+ words, bestfriend to 'something'!ohmnanon, oneshot au, slight 🔞: kissing & kinda dirty talk, fluff, happy ending, bahasa indonesia.


“Ajarin gue ciuman.”

“Lo sehat, Non?”

Padahal baru saja pintu berderit membuka, belum genap sosok di baliknya terlihat, Ohm sudah diserbu pernyataan (atau permintaan) tak terduga.

Masalahnya, Nanon tak ada niatan memberi konteks sedikit pun. Wajar saja lelaki di hadapan memandangnya seakan dia sedang demam tinggi.

Sekarang saja, punggung tangan Ohm sudah menempel di atas kening yang tertutup rambut kian panjang. “Normal kok?” komentarnya seperti bertanya, selagi membalikkan telapak dan menepuk dahi Nanon kilat.

Respon Nanon? Pasti berdecak kesal, dan tangannya yang menganggur otomatis menepis tangan Ohm supaya pergi dari wajahnya—saat ini terlihat serius. “Gue sehat dan waras ya anjir.”

“Ya lo baru nongol langsung minta cipokan.” Genap sudah alis-alis Ohm berkerut hingga keningnya.

Tanpa perlu dipersilahkan masuk karena si empu rumah meninggalkan begitu saja, Nanonlah yang menutupnya kemudian sepatu dilepas sebelum berjalan ikut menyusul. “Gue males basa-basi, dan lo tau itu.”

Kali ini bergantian, Ohm yang berdecak sekarang. “Konteks, Non. Konteks.”

“Menyenangkan hasrat kepo gue.” Nanon sudah mendaratkan diri dan duduk di keempukan sofa warna biru.

“Cium tinggal cium, gak perlu gue ajarin.” Jeda sejenak karena bergerak meletakkan koran-koran di atas meja pada tempatnya. “Kayak gak pernah ngendus pipi gue aja lo.”

“Sialan, dikira anjing.”

Kedua bahu Ohm terangkat, sudah duduk sejajar dengan Nanon. “Lo yang ngomong, bukan gue.”

“Hash, gue serius dari tadi.” Si tamu baru datang mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Kenapa harus gue?”

“Lo udah jago.”

“Tau dari mana? Lo sama gue gak pernah ciuman.”

“Mangkanya, gue cari tau sekarang.”

Benar-benar dunia ini maha membolak-balikkan karakter manusia. Ohm Pawat masih tak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran Nanon Korapat. “Sinting, gak malu lo first kiss direbut sohib sendiri?”

“Ngapain? Justru karena lo sohib gue berarti gue percayain sama lo,” Nanon menjawab dengan telapak tangan menepuk telak dada Ohm mantap. “Gimana?”

“Sekali lagi gue akan tanya.” Ohm mulai berani mendekati sobatnya itu setelah ada persetujuan dengan mata sebelumnya. Dia duduk semakin dekat, dan berjarak sebatas setengah lengan panjang keduanya.

Si tamu dadakan masih menganggap semuanya adalah normal. “Apa?”

“Yakin kesucian bibir lo direlain ke gue?”

Dusta jika Nanon tak merasa apapun ketika jari telunjuk Ohm menyentuh kedua belah bibirnya. Hanya tekanan tipis, tapi lelaki itu tahu tak akan ada jalan keluar jika nanti memutuskan mundur di tengah-tengah.

Bukannya rasa malu yang didapat, melainkan sesuatu lain merasuki perut hingga tulang rusuk Nanon di dalam sana.

“Hm?”

Dua mata yang menatap Ohm sepersekian detik lantas berkedip, sempat terbawa oleh apa yang sedang dia rasakan sebenarnya pada saat-saat itu.

Tapi tak perlu waktu lama untuk akhirnya Nanon menjawab tanpa keraguan. “Gue persembahkan spesial buat lo, setan duniawi.”

Percayalah, si empu rumah dibuat tertawa hanya karena semua ini terasa seperti transaksi penjualan jiwa dengan setan-setan di neraka. “Gak ada jalan keluar ya, karena gue gak akan mundur.”

“Gue hafal tabiat lo bahkan sebelum roh ditiup ke dalam perut Ibu lo sendiri.”

“Ngaco, gue aja lahir duluan daripada lo.” Satu per satu kedua tangan Nanon dikalungkan pada leher Ohm.

Dan tangan si empunya rumah sudah menempatkan diri di bawah dagu milik 'sohib'nya. “Hanya fakta yang berkata.”

Ohm mendengus kemudian, sempat terdiam menatap manik cokelat milik lelaki di depannya. “Asal lo tau, Non.”

Nanon menaikkan sebelah alis, seakan malah bertanya balik.

“Yang kita lakuin setelah ini, gak begitu beda sama apa yang lo biasa lakuin di pipi,”

“Cuma pindah tempat, mendaratnya di bibir gue. Gampang kan?”

Lagi-lagi, giliran yang diajak bicara kembali membalas. Wajah Nanon ikut pula mendekatkan diri pada sosok lelaki di hadapannya. “Asal lo tau ya, Wat.”

“Hm?”

“Lo kebanyakan bacot.”

Dan terjadilah titik temu pembuktian soal apakah Ohm memang jago dalam berciuman atau tidak. Karena nyatanya, bibir Nanon di awal tak ada pergerakan, hanya sekedar mengecup lawannya saja dengan lembut dan ringan.

Namun saat hendak ditarik lagi, kesempatan itu musnah karena Ohm tak membiarkan bibir manis milik sobatnya mudah terlepas begitu saja. Dia perdalam ciuman itu menjadi lumatan tanpa tuntutan. Simbolik mengajari Nanon untuk mengimbangi ritme kecepatan kecupnya.

Ada beberapa saat telah berjalan, sebuah rematan di leher belakang Ohm menjadi tanda mereka berhenti melakukan. Yaitu refleks Nanon karena jika tidak, dia bisa kehilangan napasnya yang sangat-sangat berharga. “Gila, lo mau gue pingsan?”

Melihat lawan kecupnya dengan napas tersenggal, Ohm melayangkan senyum tipis seraya mengusap sudut bibir kebasahan milik Nanon. “Padahal keliatan menikmati banget.”

Kedua manik cokelat sang sohib membuka lebar. “Anjir, lo melek?!”

“Gak ada larangan saling ciuman mata harus ditutup.” Sialnya, Ohm masih sempat-sempatnya mengirim kedipan sebelah kelopak mata pada Nanon. “Lo perlu belajar banyak.”

“Cih, gue gak sepolos itu.”

“Keliatan sih, sampe lo datengin gue minta ajarin cipokan.” Kemudian menurunkan sedikit nada bicaranya. “Eh, pas praktek ... ternyata binal juga.”

“Mulut lo anjing. Bermoral dikit kena—WAT!”

Tiba-tiba Ohm mengecup kembali bibir milik si tamu dadakan, dan tanpa merasa bersalah dia berkata dengan enggan mengurangi jarak di antara mereka. “Dilanjut gak pelajaran berbuat dosanya?”

“. . .”

“Emang gue terlihat punya pilihan?”

Lantas mereka telah setuju untuk dihasut iblis-iblis di ruangan itu sendiri.


terpintal dengan cinta, oleh daeyumbruh

“Ketika rumah tak lagi didefinisi sebagai sesuatu atau seseorang. Ketika hujan tak tahu harus merekam senyum atau tangis. Ketika Pond tak mampu menahan rindu atas pisah sementaranya dengan Phuwin.”

tags: 3k words, songfic, oneshot au, romance, angst, hurt/comfort, happy ending, bahasa indonesia.


Pond rasa, apartemen ini tidak lagi pantas disebut 'rumah'.

Ya ... walaupun di mana-mana, ketika orang berkata hendak pulang, tujuannya selalu pada rumah. Tempat di mana rasa aman akan memeluk, hangat akan hadir, serta kelegaan muncul kemudian bersama helaan napas.

Atau bisa juga, rumah adalah peranan saja. Karena banyak orang yang meyakini, bahwa rumah adalah seseorang. Ketika pikiran sedang dibalut oleh kekacauan, maka sosok bagai rumah itu datang bak pahlawan. Menyediakan mereka rasa hangat ketika dibawa dalam pelukan, ciuman singkat pada kening, usapan halus di lengan atas, juga bisik-bisik penuh tenang yang mengalun masuk telinga.

Pond merindukan Phuwin, rumahnya tercinta. Apartemen tak lagi hidup sejak sosok itu pergi, menghilang dalam hujan.

Bagi si perindu, hujan adalah perekam segala kenangan. Hujan tak pernah luput menyimpan banyak hal yang jika diingat lagi, akan sangat berharga artinya.

Dalam hujan, kedua insan itu pernah saling ciprat di bawah rintik-rintik kian deras. Menari tanpa peduli kemungkinan demam esok harinya. Pond dan Phuwin membuat awan kelabu di atas sana bingung atas kelakuan mereka. Air-air berjatuhan tak bisa menghalau senyuman lebar di wajah.

Gumpalan kapas itu menimang-nimang, apakah guyuran ini terus dilanjutkan atau harus berhenti dan ikut menikmati kebahagiaan yang menguak dari kedua insan?

Tidak, hujan tidak berhenti.

Hujan terus melanjutkan perannya, merekam segala bentuk kejadian seperti paparazi dan kameranya. Membuat siapapun akan tertegun ketika flash itu dinyalakan tiba-tiba, tanpa sengaja ataupun tidak.

Sama halnya dengan petir yang menyambar dan kilat-kilat abstrak hadir menyilaukan mata. Tidak disangka, di dalam hujan, Pond akan bernasib sama—tertegun di bawah awan kelabu yang tak tanggung-tanggung menurunkan airnya.

Namun kali ini, hujan tidak merekam kebahagiaan. Hujan berhasil menghalau senyuman untuk hadir, menggantikannya dengan tetes air mata yang segera melebur bersama rintik lainnya.

Hanya ada rasa bersalah, ciuman perpisahan, pelukan yang tak ingin lepas, dan ucapan selamat tinggal. Membuat awan menyesali keputusannya dan hujan semakin deras sebab turut bersedih atas dua insan saling menghilang menuju arah yang berbeda.

Tidak lagi pulang ke tempat yang mereka sebut dengan rumah.

Satu hingga dua bulan ini sangatlah menyakitkan bagi Pond. Tiap akan pulang dari luar, enggan sekali rasanya menginjakkan kaki di apartemennya bersama Phuwin.

Hanya saja ... mau bagaimana? Tidak ada tempat lain untuk berlindung dari musim penghujan baru-baru ini.

Apalagi ditambah suara-suara denting piano di ujung ruang tamu yang entah mengapa selalu terdengar di telinganya. Padahal tidak ada satu pun yang menyentuh dan memainkan.

Ya, Pond sadar.

Itu hanya ilusi dari kerinduan yang membelenggu hati.

Karena sejak Phuwin pergi, tak ada lagi suara denting favoritnya. Suara tawa yang biasa menggema beriringan. Tepuk tangan bangga yang muncul di akhir permainan. Kursi yang menghangat karena terlalu lama diduduki oleh keduanya.

Jari-jari Pond selalu menelusur setiap jengkal dari piano hitam itu ketika baru pulang dari pekerjaannya.

Kemudian, dia akan berjalan menuju dapur. Melirik sekilas pada piring-piring kotor di tempat cuci. Mengambil kaleng alkohol dari kulkas, lalu duduk di sofa ruang tamu seraya menatap tanpa fokus ditemani sunyi.

Dan itu dilakukan berulang-ulang. Dengan hari yang diakhiri oleh tetes kesedihan, hingga jatuh terlelap bersama hati yang lengang.

Malam ini, tidak ada bedanya. Pond sesekali menyesap minuman. Masih belum salin pakaian, tak ada niat untuk melakukan. Jarum jam dinding terus bergerak, menimbulkan bunyi kecil hampir tidak kentara.

Layar ponsel di sebelah beberapa kali menyala. Notifikasi cakap dari ibunda Pond terus memintanya kembali ke kampung halaman. Dia menoleh malas, kemudian tersenyum kecut selagi menghela napas gusar.

Persetan dengan pulang.

Karena sejatinya, yang lebih Pond harapkan adalah balasan dari pesan-pesan kabar sang pujaan hati. Cukup dijawab singkat, tidak masalah. Apapun itu, asalkan Pond bisa tahu kalau Phuwin baik-baik saja.

Tapi sial, baru minggu lalu, dia tak lagi bisa mengirim rajukan untuk membawa Phuwin pulang ke rumah.

Nomor yang dituju sudah tidak dalam jangkauan.

Hilang kontak begitu saja.

“Phuwin...” panggil Pond dengan suara beranjak parau dan lirih. Badan sudah sepenuhnya bersandar pada punggung sofa.

“Kembalilah pulang. Aku rindu padamu.” Kedua mata terpejam, pening mulai terasa. “Apa kau juga sama?”

“Aku benci kesunyian. Apa kau juga sama?”

Napas dihembus berat, semakin susah dan mencekat.

“Masihkah aku menjadi tempat untukmu pulang?”

Ilusi dentingan piano kembali hadir menyapa pendengaran.

Panas di balik pelupuk mata, tak lagi bisa ditahan. Kaleng alkohol terlepas dari tangan yang sekarang menangkup wajah. Teriakan tertahan oleh telapak, rambut semakin diacak, hancur sudah penjara yang mengurung kerinduan di hatinya. Untuk ke sekian malam terlewat.

Gerimis di luar ruangan semakin berubah deras. Hujan lagi-lagi datang merekam memori yang tidak tahu akan berakhir seperti apa lagi. Ada banyak sekali kemungkinan, baik dan buruk. Awan kelabu menunggu dengan sabar tanpa punya ekspektasi atas apapun.

Sedangkan si perindu ... masih sama.

Masih berharap Phuwin kembali ke tempat yang disebut rumah.

Kilat bermunculan, membuat bayangan masuk lewat jendela apartemen yang minim pencahayaan. Suara petir muncul kemudian, sejenak meredam sesenggukan dari sosok yang meringkuk.

Tidak menyadari, di tengah ramai-ramai lingkupnya, ada ketukan halus di balik ambang pintu masuk.

Semakin keras suara itu, dan Pond susah payah bangkit dengan emosi belum stabil. Dia harus mencari tahu, kalau bisa jangan sampai keusilan belaka. Karena jika iya, Pond bersumpah akan mengejar orang itu dan menghantuinya seumur hidup dengan makian.

TOK TOK TOK!

“Dasar keparat!” Dibukanya kunci pintu apartemen. “Mengganggu waktuku sa—”

Tubuh Pond mendadak kaku dan dingin. Hirupan napas tersenggal malah berhenti di tengah tenggorokan. Jantung berpacu cepat karena tangis, mendadak ingin berhenti dalam detak. Kedua matanya membulat sempurna, visual di hadapan adalah sesuatu yang rasanya mustahil untuk muncul.

Namun, ini realita. Bukan lagi fatamorgana belaka.

Dia, Phuwin. Rumah Pond untuk pulang, hadir dengan ciprat-ciprat menempel di tubuhnya—kehujanan. Wajah yang basah, tak lagi bisa menyembunyikan tetes air mata yang meluncur mulus di atas pipinya. Jatuh bebas, dan membasahi karpet lorong gedung apartemen.

Keduanya saling menatap dengan tangis yang tanpa terasa semakin deras alirannya.

Ada keinginan agar apa yang dirasakan mereka bisa disalurkan tanpa perlu bicara. Andaikan saja, hanya dengan melihat ke dalam masing-masing kornea, segala pikiran bisa berpindah tempat.

Tetapi tidak, itu mustahil. Bibir dan vokal hanyalah cara agar semua suara dalam akal bisa dibawa ke permukaan.

Maka Pond, yang sudah berkedip kemudian, mencoba melawan rasa tercekat dalam dada dan jalur pernapasan. Menelan salivanya sendiri, lalu hening dipecahkan dengan suara yang serak.

“Phu... win...”

Hanya dua suku kata, penuh lirih, penuh rindu yang berkecamuk.

Runtuh sudah tubuh yang dirindukan.

Phuwin jatuh bersimpuh di hadapan Pond, tangisnya pecah semakin sumbang. Kedua lutut bertemu di atas kaki, dan dua telapak kecilnya berpegangan pada celana kain di hadapan. Bahunya ikut bergetar bukan main. Tidak berdaya menahan rasa bersalah yang sudah menumpuk sekian lamanya.

“Maaf... Maaf... Maaf...”

“Pond, m—maafkan aku...”

Mungkin, jika orang tidak tahu konteksnya, Phuwin terlihat seperti anak durhaka lantas meminta maaf pada orang tua karena kesalahan di luar norma. Bersujud selagi menangis tersedu-sedan, menyesali perbuatannya.

Tetapi aksi itu, adalah respon natural Phuwin untuk merendah di bawah keegoisan yang sudah dijunjung tinggi dan pergi dari kehidupan si perindu.

Rasa malu itu nyata, sampai-sampai yang dirindu merasa enggan untuk mendongak. Phuwin malu pada dunia. Malu pada Pond. Malu pada diri sendiri. Dalam hati berucap bodoh karena telah dengan bangsatnya pergi terlalu lama. Betapa pengecutnya dia yang tak berani pulang dan menghadapi masalah mereka. Selalu berlindung di balik hal bernama pelarian.

Pond masih berdiri dalam kebisuan di tengah isak yang tertahan oleh telapaknya.

Butuh banyak waktu untuk meresapi kejadian tak terduga ini. Hatinya bergejolak tiada takar. Pond tak tahu harus merasa seperti apa. Apakah dia harus sedih, gembira, atau bagaimana? Lantas jika misal memilih marah, apakah itu pilihan yang bijak? Atau mungkin kecewa dengan dunia yang berperilaku aneh kepada mereka berdua?

Namun sayang, sepertinya waktu tak bisa memberi kesempatan lagi dalam penggunaan. Karena sejatinya, sepasang kekasih itu tak mungkin terus ada di ambang pintu apartemen pada pukul satu dini hari lewat lima menit.

Beruntung sekali, Pond bisa mengatur napas agar lebih patuh sehingga akal tidak dikaburkan oleh emosi yang meluruh.

“Phuwin, jangan...” ucap si perindu lembut. Tubuhnya membungkuk seraya mengangkat lengan Phuwin sebagai isyarat untuk berdiri.

Tapi tak ada hasil, lelaki di hadapan masih saja menunduk dan memamerkan pucuk rambutnya yang basah. “Sungguh, a—aku tak masalah jika kau t—tak mau menerimaku l—lagi,” ucap Phuwin tersendat-sendat, dan memanggil nama kekasihnya sekali lagi untuk kemudian kembali terisak.

Mendengar kalimat itu, Pond menghembuskan napas yang bergetar. Dia harus bisa bertahan agar kepanikan di dalam dirinya tidak kabur dari penjara.

Maka yang dilakukan adalah, jari-jari Pond bermain di antara rambut Phuwin yang basah. Merapikannya dari ketidakjelasan arah mencuat. Kemudian turun menuju dagu yang dirindukan, memintanya untuk mendongak.

Dan sekali lagi, dua netra beradu dalam satu titik temu.

“Kau kedinginan, Sayang,” bisik Pond di hadapan belah ranum yang gemetar karena digigit terlalu dalam oleh sang empu. “Kita masuk ya? Aku tak mau kau jatuh sakit.”

“T-Tapi kau—”

Ucapan Phuwin terpotong oleh gelengan kepala dari sosok di depan. Kemudian senyum tipis muncul perlahan di bibirnya. “Aku baik-baik saja.”

Bahkan di tengah gejolak hati serta pikiran yang pergi entah ke mana, si perindu masih saja peduli dengan kekasihnya yang basah kuyup dan kedinginan.

Walaupun visual dikaburkan oleh air mata, Phuwin bisa melihat dari dekat betapa perawakan Pond sangat berjarak dengan 'baik-baik saja'. Lebih parah dari sekedar diguyur hujan di luar sana.

Kantung mata kian gelap seperti tak pernah tidur. Wajahnya kusam dengan kumis tipis bermunculan. Rambut berminyak seakan baru lari maraton keliling kota. Baju kelewat kusut sebab tak pernah disetrika. Bau sengak alkohol ketika dia berbicara. Juga senyum tipis ganjil yang saat ini muncul pada wajah.

Phuwin tak habis pikir. Apakah Pond tak mengerti betapa naasnya penampilan dia sekarang? Apakah Pond selama ini tak pernah tersenyum, sampai-sampai lengkung sederhana saja terlihat kaku?

Dan terakhir, apakah Pond tidak kecewa berat dengan kelakuan pengecut kekasihnya?

Lihatlah, sosok di hadapan jelas-jelas menekan dalam kecamuk emosinya. Phuwin sudah hafal di luar kepala salah satu tabiatnya. Memendam perasaan sendiri sampai limit hingga muncul rasa panik berlebih dan sesak pada dadanya.

Enggan sekali rasanya bagi Phuwin untuk terus menatap lautan cokelat yang kini berkaca-kaca. Semakin terjatuhnya dia, rasa bersalah itu semakin besar bagai ombak pasang di tengah bulan purnama. Ingin mengalihkan pandangan, tapi percuma. Pond tidak membiarkan dengan mudah.

Tersiksa. Phuwin dihukum oleh seluruh kesalahannya sendiri. Kedua netra Pond melaksanakan tugas bagai karma untuk membalas dosa-dosa selama pelarian. Menghantui daya pikirnya supaya tak lagi bisa menyangkal kenyataan.

Tapi bukan masalah, yang dirindukan menerima dengan suka rela.

Phuwin pantas mendapatkannya, dan dia membiarkan diri tenggelam dalam pusaran kepasrahan sampai energi tak bersisa. Efek sangat kentara, sampai-sampai Pond menyadari hanya dengan melihat tubuh kekasihnya melemah disertai tangis berhela napas berat.

“Phuwin?” panggil Pond, mensejajarkan tubuh dengan pemuda kedinginan. “Phu?”

Yang dipanggil tak merespon apapun. Tatapannya kosong, terbuai oleh pikiran-pikiran kacau.

“Sayang, kita masuk ya?”

Dan kali ini, entah disadari atau tidak, Phuwin mengangguk ringan. Kelopak matanya berkedip lamat-lamat.

Respon tersebut sudah cukup membuat Pond meraih ransel milik kekasihnya dan merangkul tubuh berlapis fabrik kebasahan itu. Pada hitungan ketiga, mereka berdiri perlahan—beban tubuh Phuwin terasa berat. Antara bersyukur karena dia masih menjaga pola makan, atau Pond sendiri saja yang jarang memenuhi pangan keseharian.

Langkah demi langkah mereka ambil, berjalan di atas karpet kondominium yang meredam tapak-tapak kaki keduanya. Masuk ke dalam lingkup bernama rumah, tempat di mana mereka selalu berpulang.

Pintu ditutup susah payah dengan bantuan sebelah kaki. Si perindu membawa Phuwin duduk di kursi tinggi dapur, karena hanya di sanalah ruangan yang tak begitu menusuk soal temperaturnya.

Phuwin masih mampu duduk tegak di sana, memberi tatapan pada kekasihnya bahwa dia baik-baik saja. Sebuah isyarat kalau bisa ditinggal sebentar karena Pond hendak mengambil handuk di dalam kamar serta menyalakan penghangat ruangan.

Anggukan diterima sebagai jawaban, dan tanpa disuruh dua kali, Pond sudah tak ada lagi di hadapan kekasihnya. Wajah penuh khawatir itu menghilang dalam sekejap.

Hening kembali menyapa interior kondominium. Puluhan tetes hujan berani menabrakkan diri ke kaca jendela dapur, menemani pemuda basah kuyup dalam kesendirian. Buliran air yang jatuh nampak seperti hal paling menarik bagi dua mata yang dirindukan. Batin pun tanpa sadar mengajak aliran itu berbicara.

Hujan...

Lagi-lagi kau hadir sebagai saksi di antara kami.

Apa yang kau lakukan kali ini dengan takdir kami?

Mencetak senyum-senyum kembali? Atau justru memperparah derai tangis kami?

Pelan tapi pasti—disertai hembusan napas—Phuwin melepas jaket yang basah lantas diletakkan dekat kaki. Udara dingin segera hadir untuk menggoda bulu kuduknya. Maklumi saja di balik luaran tebal, Phuwin hanya memakai kaus putih polos. Tercetaklah kerangka tubuhnya yang nampak lebih kurus dari sebelum terjadinya 'perpisahan'.

Kedua telinga pemuda kedinginan mendengar mesin bergemuruh lembut, pertanda penghangat ruangan dinyalakan. Semilir rasa hangat bergerak mulus menyelimuti tubuhnya. Walaupun begitu, lengan-lengan Phuwin masih saling memeluk depan dada.

Tak lama setelahnya, Pond hadir membawa handuk warna cokelat—tergantung di atas lebarnya pundak. Wajah lelaki itu masih murung, sudut bibirnya turun saat melihat tubuh sang kekasih tak lagi dilapisi luaran tebal. “Phu,” panggilnya, memecah sunyi di antara mereka dengan vokal minim—berbisik.

Phuwin memandang telak, sedikit mendongak karena posisi duduk. Tatapannya seolah membaca ke dalam mata Pond yang sendu. Pemuda kedinginan tahu, kekasihnya ingin mengatakan sesuatu. Ucapan masih menggantung, bibir Pond beberapa kali membuka lalu mengatup.

Tetap saja, tak ada satu pun suara yang keluar. Membuat opsi lain muncul ke atas permukaan.

Berbicara melalui pandangan.

Dan itulah yang Phuwin lakukan. Netranya berkedip sekali dan setetes air mata meluncur dengan bebas. Sedangkan sudut bibirnya, membentuk senyuman yang tipisnya hampir tak disadari jika Pond tak sedekat ini dengan yang dirindukan.

Senyum penuh ketenangan. Seakan memberi tahu kekasihnya untuk mengucap apa yang tersembunyi di balik benteng pertahanan.

“A—Aku,”

“. . .”

“Ingin membantu melepas bajumu...” Jeda sejenak ucapannya sambil meletakkan handuk di atas meja, lantas melirih, “Bolehkah?”

Perizinan. Apa yang akan dilakukan Pond biasanya tak perlu tanggung-tanggung bertanya dulu pada Phuwin karena mereka adalah sepasang kekasih, sudah biasa melepas baju dari masing-masing badan dengan berbagai maksud dan tujuannya sendiri.

Tetapi, kali ini berbeda.

Yang dirindukan menyadari bahwa tuturan kekasihnya merupakan suatu kehati-hatian.

Gerak-gerik Pond memancarkan keraguan sebab tubuhnya bergerak canggung, tak biasa. Sejak tadi, lelaki itu berdiri dengan kedua tangan menggantung kaku di samping tubuhnya—jari-jari ikut mengepal. Dan Phuwin tahu, kuku-kuku Pond di balik sana sudah saling menekan ke arah telapaknya.

Maka, Phuwin mengangguk ringan sebagai jawaban. Belah ranum masih dengan simpul yang sama. Pelukan diri sendiri ikut dilepas. Kedua tangan meraih pergelangan sang kekasih, dituntun menuju pucuk kausnya yang berakhir tepat di lingkar pinggang.

Otomatis Pond berjarak semakin dekat, dan degup jantungnya semakin tak karuan. Tatapannya bergerak dari kedua tangan menggapai pinggang kemudian naik menemui manik cokelat yang dirindukan.

Selayaknya bertanya sekali lagi, memastikan.

Kau yakin?

“. . .”

“Lakukan.”

Sejak pertama tiba di dalam rumah, akhirnya Phuwin mengucap kata meski suara terdengar sengau—akibat tangis di awal perjumpaan. Lelaki itu tak sekali pun mengalihkan pandang selagi kedua lengan diangkat. Sebuah undangan bagi si perindu mengurus kekasihnya yang dengan suka rela mengajukan.

Lantas, jari-jari Pond bergerak lamban menuju arah mereka diperintah. Menyingkapnya sehalus sutra selayak tubuh Phuwin yang begitu rapuh dan kedinginan. Kedua mata Pond tak pernah lepas mengekori bagaimana wujud sosok di depan terlihat jelas. Memandang penuh tak percaya, masih diberi kesempatan melihat kembali kekasih hatinya.

Setiap bagian tubuh yang dirindukan bebas, Pond merasa rapuh menyelimuti angan—melemah. Ada satu hal tentang tubuh Phuwin yang membuatnya ingin terus berdekatan, menariknya dalam radar penuh sentuhan. Soal dia yang selalu memberikan tempat teraman dan tenang bagai lautan tak pernah pasang.

Kemudian, tibalah gelombang perasaan yang entah datang dari mana. Membiarkan diri bertabrakan dengan dinding kokoh pertahanan, dan Pond tak lagi punya apa-apa sebagai wadah penahan sementara. Tubuhnya pun meremang bak diterpa hembusan angin malam, padahal dia juga lengkap dalam berpakaian.

Tangisan pelupuk mata dan sesak di dada menjadi tanda bahwa Pond telah sampai limit kegelisahan. Bersamaan dengan seluruh kaus Phuwin yang dipertemukan oleh jaket kebasahan.

“Pond.”

Yang dipanggil menengadah sejenak, helaan napas tak beraturan. Menghirup oksigen banyak-banyak sebelum mereka kembali bertatapan. Semampunya Pond menjawab, “Ya?”

“. . .”

“Kemarilah.” Kedua lengan yang dirindukan membuka, secara gamblang mengajaknya jatuh dalam pusaran kepasrahan bersama.

Pun lelaki penuh sesak tak perlu menimang-nimang. Ia lepaskan tubuh serta jiwanya direngkuh kembali oleh rumahnya.

Tak ada tangis-tangis tertahan. Dua pundak lebar saling gemetar. Eksistensi diraup habis-habisan sampai bagian kosong dalam badan tak lagi lapang. Rasa lega memenuhi kerangka rusuk keduanya. Begitu nyaman sampai hujan di luar sana merasa terabaikan.

Kehangatan diraih oleh Pond dengan jari-jari meraba tubuh polos milik sang kekasih. Dirasanya tekstur kulit tak sempurna dari belikat hingga menelusur tulang punggung bolak-balik. Tak sejengkal sentuhan pun berlandaskan nafsu atas birahi. Hanya soal dia yang mencari tolong agar segala gejolak kegelisahan bisa kembali tenang dan stabil.

“Luapkan, Sayang,” lirih yang dirindukan. Buku-buku jari mengusap halus pucuk rambut di pangkal leher kekasihnya. “Aku di sini bersamamu, kembali padamu.”

“. . .”

“Kita pulang, Pond. Kita sudah pulang ke rumah.

Tak ada jawaban, yang ditenangkan membalas dengan aksi—menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher sang kekasih. Bagi Pond, aroma tubuh Phuwin selalu menjadi favorit selain oksigen milik semesta ini. Merelaksasi bak aromaterapi, meski sudah tercampur oleh keringat dan hujan rintik-rintik.

Lantas, sebuah kecupan mendarat mulus di atas pundak yang dirindukan. Mengucap makna telah mau dijadikan tempat bersandar serta menampung tangis yang tak kunjung sudah. Phuwin cukup mengangguk kecil dengan tangan-tangan tak henti mengusap kepala Pond penuh cinta. Pemuda itu tak lagi merasa sesak pada dadanya.

Aku sayang padamu, Phu.

Si perindu mengangkat kepalanya. Rengkuhan tubuh saling lepas, tapi masih dalam gapaian. Aliran tangis sudah tiada, menyisakan bulir tertahan di balik pelupuk mata. Diberikannya sebuah kecupan yang sama pada kening yang dirindukan olehnya. “Terima kasih sudah kembali, dan tak berlari lagi.”

Jemari Phuwin berpindah landas menuju lengan atas milik Pond, menggapainya lamat seraya berucap, “Terima kasih karena kau tetap menjadi rumahku.”

Kedua netra sama-sama menatap penuh kasih dan binar.

Dengan hening enggan menyelimuti serta awan kelabu menunggu fenomena ini, maka Phuwin tak punya ragu untuk mendekatkan wajahnya pada kekasih hati. Mengajaknya keluar dari pusat kepasrahan duniawi menuju kesenangan dua pribadi.

“Sayang...”

Si perindu tersenyum tanpa terlihat ganjil sedikit pun. Untuk pertama kalinya. “Katakan, Phu.”

“Ciumlah aku,” pinta Phuwin tak berkedip, sorot mata dengan arti tersendiri. “Bibir ini ... juga merindukanmu.”

Dan mereka kembali pulang menuju arah yang sama.

Kepada rumah di dalam hujan.


terpintal dengan cinta, oleh daeyumbruh

tags; 2,7k words, short/oneshot au, mahasiswa!ohmnanon, fluff with happy ending, bahasa indonesia.

disclaimer; scars, blood, and lizard are mentioned in this au. please stop reading if you find it not comfortable.


Jarum jam beker bergerak pelan pada porosnya. Pukul 02.17 AM.

Sebuah kamar tidur nuansa abu-abu dan kuning nampak redup cahayanya. Dua insan di atas ranjang membalutkan diri oleh selimut tebal yang hangat. Lampu pada nakas sebelah kiri dinyalakan, dan terlihat salah satu dari mereka masih terjaga di tengah senyapnya malam.

Bernama Ohm Pawat, dan ia sedang merutuk atas aksi bodoh yang dilakukan sebelum matahari beranjak turun. Entah bagaimana otak kecilnya bisa mensugesti tubuh agar turut bekerja sama membuatnya sengsara. Sangat gelisah, dengan jantung berdebar tidak nyaman.

Americano.

Kalau boleh jujur, Ohm bukanlah orang yang fanatik tentang perkopian. Ia akan minum jika memang butuh. Toleransi tubuhnya terhadap likuid cokelat gelap itu tidak cukup tinggi. Biasanya, kapucino saja sudah berdampak cukup, dan Ohm akan terjaga beberapa jam kemudian.

Namun, kesalahan telah dibuat dalam perkiraan. Ia pikir segala tugas yang akan dikerjakan tadi butuh waktu lama agar selesai. Netra Ohm sekilas melihat, butuh banyak materi untuk dibaca dan dipahami sebelum mengerjakannya. Tetapi, waktu berkata lain ketika raga dapat bergerak cepat. Dalam satu setengah jam saja, pekerjaan itu rampung.

Maka di sinilah sekarang, Ohm merebah dengan pandang pada langit-langit kamar. Kedua tangan menumpu kepala, bagai bersantai di pantai dewata. Sesekali menghela napas gusar karena kantuk tidak kunjung datang menjemput kesadarannya.

Kenapa ya, kok gue bodoh banget? batin Ohm kemudian berdecak sangat pelan. Mana sok-sokan minum kopi item, udah tau gak demen, masih aja dilakuin. Hadeh.

Atensi dialihkan ketika sebuah vokal rendah merambati indra pendengaran.

Sosok dengan mulut sedikit terbuka dan lengan terlipat tidak nyaman. Nanon, sang kekasih, mendengkur lucu—menurut Ohm. Bibir tersenyum simpul melihat pemandangan betapa nyenyaknya ia tertidur.

Lelaki terjaga itu memaklumi, karena Nanon melewati hari yang sibuk di kampus. Seluruh mata kuliah harus presentasi, dan kekasihnya tidak henti mengeluh di pesan singkat yang dikirimkan. Ohm tidak bisa apa-apa selain memberi jawaban penyemangat serta ucapan sayang pada Nanon.

Sebenarnya, lelaki berlesung pipit sempat mengingatkan perihal kopi tadi sebelum terlelap. Namun Ohm yang sudah tenggelam pada tugas, hanya merespon berupa bahu diangkat sekilas dan lambaian tangan. Memang sudah dasarnya, Ohm Pawat bisa menjadi keras kepala. Nanon pun sudah hafal dengan tabiat itu. Jadi, ketika kekasihnya tidak menanggapi, ia biarkan.

Lagipula, Nanon yakin bahwa Ohm akan mengerti akibat dari kelalaiannya sendiri. Tinggal menunggu waktu, lalu boom! Terjadilah hal yang nanti membuat sang kekasih kapok begitu saja.

Manik legam Ohm masih tertuju pada sosok di sebelahnya yang larut dalam mimpi. Ia baru saja mendekatkan diri pada tubuh sang kekasih. Tangan kanan menumpu kepala, sedangkan yang kiri bergerak menuju wajah Nanon. Ada beberapa helai terjatuh di atas dahi, dan Ohm pun menyibaknya halus. Tidak ingin lelaki manis itu terbangun. “Harusnya, aku nurut sama kamu ya, Non?” bisik Ohm. “Liat deh, aku beneran gak bisa tidur sekarang. Padahal udah capek juga.”

“. . .”

“Aku juga heran kenapa kamu orangnya bisa gampang banget tidur. Kepala ketemu bantal, tau-tau udah gak sadar diri aja. Cuma dalam hitungan menit loh, Non. Menurutku, itu luar biasa keren,”

“Mungkin kalau di Twitter, kamu harus bikin thread tips dan trik tidur cepat ala Nanon.” Ohm terkekeh. “Pasti sangat membantu,”

“. . .”

“Sebenernya, aku merasa aneh ngajak ngomong kamu yang lagi tidur gini. Tapi ya ... mau gimana lagi? Biasanya kalau kamu bangun, those little mouth of yours would tell me a very long story that I never get tired of hearing it,

“Sifat cerewet kamu, ternyata bagus juga ya.”

“. . . Siapa cerewet?”

Berasal dari Nanon yang tiba-tiba saja bertanya dalam keheningan lingkup kamar. Dua manik di belakang kelopak mulai bergerak, dan tak lama setelahnya, Ohm bisa menatap langsung ain yang memberi refleksi terhadap paras diri sendiri.

“E-Eh, bukan kok. Gak ada yang cerewet,” balas Ohm salah tingkah. Dia tertangkap basah, tapi masih saja menolak akan hal yang memang diucapkan tadi.

“Padahal aku denger semuanya.” Suara Nanon terdengar serak di telinga, khas baru bangun. Ia sedikit menjauh dari Ohm untuk memutar badan dan meregangkan otot yang pegal. “Gak bisa bohong kamu.”

“Ampun deh...” Bibir Ohm tergigit kemudian sebuah simpul cengir menampilkan diri.

Si lelaki manis memperbaiki posisi tubuh dengan duduk bersandarkan pada headboard ranjang. Selimut bergerak turun menutupi paha berlapis celana pendek hingga ujung kaki. Tubuh tidak dibalut apapun selain hawa dingin berjumpa ringan pada kulitnya. Helaan napas juga ikut terdengar seraya lima jari kiri mengusap mata yang sedikit berair. “Masih gak bisa tidur kamu, Paw?”

Mengikuti sang kekasih, Ohm juga bangkit dengan posisi sama. Sempat melihat Nanon mengusap lengan polosnya, membuat selimut tebal itu ditarik sedikit ke atas. Reflek saja kedua tangan beranjak membenarkannya agar Nanon tidak kedinginan. “Seperti yang kamu liat,” Ohm berucap setelah selesai. “Maaf ya, kamu jadi kebangun. Bobok lagi sana.”

Nanon menggeleng lalu tersenyum penuh arti. “Temenin kamu aja. Kasian ngobrol sendiri dari tadi.”

“Kamu ini ya.” Ohm menyenggol kaki si manis di balik selimut. “Pura-pura tidur apa gimana?”

“Tadi beneran tidur akunya. Nebak doang.”

“Kok bisa tau?”

Telunjuk kekasih Ohm mengetuk pelipisnya sendiri. “Udah hafal kebiasaan kamu.”

“Pas baru bangun, bilang kalo denger semua. Yang bener yang mana?”

“Eh?” Mata Nanon yang sempat terpejam lagi, kembali membuka. “Iya kah?”

Sebuah kekehan terdengar mengambang di atmosfer. “Kamu kalo masih ngantuk, jangan dipaksain. Senderan sini, bahuku.” Lengan Ohm merangkul tubuh sang kekasih agar mendekat. Kepala Nanon dibawa menuju ceruk lehernya. Geli sedikit terasa ketika rambut meraba halus daerah itu.

Tidak perlu sebuah perapian dengan kayu sebagai bahan bakar. Cukup melalui singgungan antar indra peraba keduanya, rasa hangat itu bisa muncul begitu saja. Nanon tidak lagi merasa dingin oleh eksistensi hembusan bayu dari pendingin ruang. Kedua lengan yang merengkuh tubuhnya erat—di bahu dan pinggang—sudah lebih dari cukup.

Lelaki manis itu menghela napas, kemudian bergerak memperbaiki posisi agar lebih nyaman bersandar pada bahu pujaan hati. “Kita ngobrol aja, biar aku bisa nemenin kamu,” pinta Nanon kemudian meraih tangan kekasihnya yang luang, jari-jari dimainkan.

“Ini kan udah?” tanggap Ohm singkat.

Nanon memutar bola mata lalu mengangkat kepala. Alis bergerak turun dan bibirnya mengerucut. “Paw...”

“Bercanda, Sayang.” Sebuah kecupan mendarat acap di kening lelaki berlesung pipit. “Yaudah, mau ngomongin apa?”

“Jam segini, otakku susah dibuat mikir.”

“Hmm... Aku juga bingung.”

“. . .”

“Tentang ini a—”

“Kenapa lagi tanganmu, Paw?”

Ucapan Ohm terpotong ketika tiba-tiba saja Nanon mengangkat tangannya yang sejak tadi dimainkan. Fokus netra berada di sebuah garis tipis hampir tidak terlihat di telapak. Seperti tergores oleh suatu benda tajam.

Ohm yang mengalihkan pandang dari langit-langit kamar, kemudian ikut pada arah ke mana manik gelap Nanon terarah. “Oh, itu tadi di kelas. Lagi ngerapihin buku terus kena paper cut di ujungnya,” balas Ohm dengan kepala terangguk-angguk.

“Perih banget pasti.” Nanon meringis ketika bayangan peristiwa itu berputar pada akalnya.

Ohm mendengus. “Kertas selalu musuhin aku.”

“Mangkanya, jangan buang-buang kertas,” tegur Nanon selagi meraba goresan tipis itu. “Kamu sering 'kan, salah gak banyak aja, udah dijadiin bola terus lempar ke tong sampah. Padahal masih ada space di baliknya,”

“. . .”

“Mending kamu dongengin aku aja gimana?” Si lelaki manis memberi saran.

Kening Ohm berkerut heran, kemudian menoleh pada kekasihnya. “Nina bobo?”

“Coba ceritain, gimana kamu bisa dapetin luka-luka di badanmu.”

“Ini topik obrolan kita?”

Nanon mengangguk. “Aku kepo.”

“Bukannya kamu udah tau?”

“Tau sih, tapi belum pernah ngerti cerita di balik bekas itu,” balas lelaki manis bersamaan oleh kedua bahu diangkat sekilas. “Kamu bisa mulai sekarang.”

“Kalau gitu, aku ceritain dari luka di lututku yang pasti kamu sering liat.”

Kisah ini mengambil latar pada kala Ohm Pawat masih berumur delapan tahun, tepatnya kelas dua di jenjang sekolah dasar.

Saat itu bola jingga bernama matahari telah terbit, ketika Ohm melewati jalan sempit menuju sekolahnya. Dari jauh, terlihat keramaian di depan gerbang yang mana banyak sekali pedagang kaki lima berjualan di sana. Mulai dari beragam mainan, makanan ringan, serta minuman berwarna, juga tersedia. Ohm tidak tergiur oleh satu pun yang ada. Pikiran hanya dipenuhi oleh kursi manakah ingin ia duduki saat pelajaran berlangsung nanti.

Langkah demi langkah semakin dekat, Ohm berjalan cepat ketika sepuluh meter lagi perjalanannya telah usai. Pun setelah melewati gerbang sekolah, tidak sabaran pula menuju kelasnya yang ada di sebelah perpustakaan. Anak lelaki berseragam itu berlari melintas ramainya lapangan—banyak murid lalu-lalang, bermain saling kejar sebelum bunyi bel tergema nyaring.

Tepat pukul 07.00 AM, kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai. Tidak ada upacara karena hari itu adalah selasa.

BRUK!

Seseorang tanpa sengaja menabrak Ohm dari belakang, ketika dua langkah lagi menginjak lantai koridor sekolah. Anak lelaki berseragam itu tersungkur, dan lutut kiri yang menjadi tumpuan berat badan, berdarah. Ohm meringis kesakitan tetapi ia tidak menangis, sudah terbiasa dengan aksi jatuh bangun karena kecerobohan yang dimiliki.

Ada sosok teman sekelas—kebetulan melihat kejadian itu—lantas membawanya pergi ke UKS. Kata petugas di dalam, luka tersebut akan baik-baik saja jika hari ini sementara waktu Ohm tidak banyak bergerak. Karena jika iya, ada kemungkinan semakin lama sembuhnya.

“Kamu tau ya, omongan suster itu palsu, dan aku rasa dia bilang gitu karena gak mau bikin aku panik aja,” ucap Ohm setelah mengakhiri kisah panjangnya. Posisi kedua sejoli telah berubah. Lutut kiri lelaki berkaus abu ditekuk sedangkan Nanon menelusuri jari rampingnya pada bekas luka yang nampak lumayan pudar. “Buktinya, selama seminggu ke depan, aku malah susah jalan. Mandi aja setengah jam sendiri. Bayangin luka di lutut, sedangkan kamar mandinya bentuk shower box dan gak ada yang bisa jadi tumpuan kakiku. Mendadak cosplay jadi belalang sembah.”

Sebuah tawa melalang buana bersama keseriusan Nanon dalam menyimak cerita pujaan hati. Selimut hening mudah saja dipecahkan jika ada seorang Ohm Pawat di dalamnya. Lesung pipit si manis terpampang jelas, tubuh sedikit terguncang dengan rambut hampir menutup kedua mata, tidak paham harus bereaksi apa dengan akhir dari dongeng masa lalu Ohm. Kepala ia topangkan pada dengkul lelaki di depan.

Sesaat kemudian, Nanon mendongak, masih dengan simpul di belah ranumnya. “Kayak Mantis di film Kung Fu Panda?”

“Yang jelas sengsara deh.”

“Eh, bentar.” Nanon seperti teringat sesuatu. “Bukannya kamarmu di lantai dua ya?”

Kekasih lelaki manis mengangguk. “Bener.”

“Kamu naik tangga gimana dong?”

“Ya ... naik biasa. Pelan-pelan tapi,” balas Ohm seraya menggaruk hidungnya, gatal. “Jadi aku biarin siapapun yang mau naik dulu, baru aku terakhir.”

Fokus netra Nanon kembali memperhatikan bekas luka itu. “Dalem gak goresannya?”

“Gak juga sih. Cuma ya ... kamu tau sendiri 'kan kalau aku gak bisa diem anaknya. Jadi ada suatu saat, lukanya kebuka lagi gegara aku garuk karena gatel.”

“Pantesan.” Decakan muncul dari balik bibir si manis yang melirik Ohm kilat. “Tapi kalau boleh jujur, gak keliatan seburuk ituloh, Paw.”

“Apa?”

“Bekas lukanya emang gelap, tapi masih ketutupan sama bulu kakimu. Jadi, gak begitu keliatan sama orang.”

“Iya emang. Tapi itu bisa gak tanganmu menjauh? Aku tau kamu udah siap mau cabut bulunya.” Kedua mata Ohm membulat, sebuah peringatan melayang. “Jangan bermanis-manis gitu ya, Non.”

Belah ranum lelaki berlesung pipit tersungging membentuk sabit. Semua jari dijauhkan, berganti oleh kecupan di atas lapisan kulit yang lebih gelap. “Bercanda,” balas Nanon singkat, lalu posisi kembali pada ruang kosong di samping Ohm.

Kekasih si manis hanya bisa menggelengkan kepala. “Mentang-mentang bulu kakimu sedikit.”

It is called genetic.” Sebelah alis Nanon terangkat sekilas, bergerak untuk menggoda sang pujaan hati. “Sekarang, gantian aku yang cerita. Kamu dengerin ya.”

My ears on you, Sweetheart.

Kembali pada waktu di mana Nanon masih berada di jenjang Taman Kanak-Kanak. Kurang lebih si anak manis baru menginjak umur 5 tahun.

Bel istirahat baru saja berbunyi, membuat lapangan sekolah diramaikan murid-murid bermain riang. Nanon yang saat itu dikenal sebagai anak paling aktif di kelasnya, tanpa pikir lanjut, langsung saja meletakkan pensil dan keluar dari arena pembelajaran.

Kepala sang wali kelas hanya dapat bergeleng seraya melihat tindak kelakukan beda Nanon yang bisa dibilang unik. Suatu kebanggaan tersendiri ketika di awal masuknya si manis, ia dapat bersikap diam bagai murid penurut di hadapan ibu guru. Karena realita berkata, di rumah, Nanon susah sekali diatur.

Peristiwa terjadi begitu cepat, dan Nanon sendiri tidak begitu ingat bagaimana. Apa pun yang diketahuinya, adalah sebuah kilas balik dari sudut pandang dua orang teman, melihat langsung kejadian. Mereka bercerita bahwa si lelaki manis terjatuh dari atas perosotan di playground sekolah. Tidak benar-benar jelas apa yang terjadi setelahnya.

Namun dari kejauhan, dua orang teman itu bisa melihat aliran likuid merah dari kepala Nanon—menetes di atas ubin aula. Sebuah dugaan pun muncul. Mungkin, benturan telah dialami oleh si anak manis dengan paving lapangan sekolah. “Yang aku inget banget cuma pas dibawa ke rumah sakit terus udah, itu aja,” ucap Nanon mengakhiri kisah singkatnya.

“Bukan kena jidat ya?” Ohm bertanya selagi konsen indra penglihatan tertuju pada kening sang kekasih. “Gak ada bekas sama sekali, mulus kayak bayi.”

Nanon mengubah posisi duduk, saat ini berhadapan dengan Ohm. Helai rambut disibak pada bagian tengah, dan terpampanglah sebuah bekas luka memanjang berukuran setengah jari kelingkingnya. “Keliatan gak?” tanya si manis, kepala ditundukkan agar pujaan hati bisa melihat.

Lelaki berkaus abu ikut menelusur belah rambut Nanon. Sebelah alis terangkat ketika visual bertemu dengan bekas yang dimaksud. “Keliatan kok,” balas Ohm. “Kalau dipegang sakit?”

“Udah sembuh, Paw. Gak sakit lagi dong.” Nanon mendongak kembali. “Kecuali pas dijahit, waktu itu aku nangis.”

“Lah, emang gak dibius?”

“Kayaknya gak deh? Aku lupa juga.”

Telunjuk Ohm mencolek jahil hidung Nanon. “Masih muda kok pikun.”

“Tapi aku gak lupa rasa sakitnya ya!” balas si lelaki manis dengan netra membulat.

“Aku jadi keinget sama sepupuku, kalau bicarain masalah sakit...” Arah pandang Ohm tertuju pada langit-langit kamar, seakan menggali memori lampau pada pikirannya.

Nanon dibuat heran oleh sang kekasih. Jemari kembali bertemu tangan Ohm dan lagi-lagi memainkan, saling bertaut dan dikecup gemas buku-buku jarinya. “Inget apa? Ini topik baru?”

“Bisa dibilang begitu.”

“Sakit kenapa sepupu kamu?”

“Digigit tokek.”

“Hah?” Kilat mata Nanon seolah terpantul ujaran bahwa apa yang baru saja diucap merupakan sebuah lelucon belaka. Ia hendak menertawai hal itu, namun tidak jadi ketika Ohm justru berekspresi datar dan hanya diam saja. “Bercanda 'kan?”

Lelaki berkaus abu menggeleng. “Serius. Kamu pasti kaget dengernya, aku berani jamin.”

“Mana ada tokek gigit? Bukannya dia makan serangga?”

It's not literally biting like tigers do, Non. Berdasarkan cerita sepupuku, waktu itu 'kan lampu atas tangganya mati, kebetulan railing juga warna item jadi gak keliatan ada apa-apa di sana. Dia abis makan mie goreng di kamar mau ke bawah buat cuci piring. Tau-tau betis dia sakit banget, ternyata digigit tokek,”

“Hewan itu gigitnya lebih ke dicengkram. Kalau diumpamain itu kayak jari kamu digigit sama bayi yang belum punya gigi alias kena gusi aja, tapi lebih keras tekanannya.”

“Kok gak membahayakan gitu ya?” tanya Nanon sedikit meremehkan. “Tinggal dilepas aja bisa 'kan.”

“Justru itu jadi masalah, Sayang. Gigitannya gak bisa lepas.”

“. . .”

“Gak usah bahas lagi ah! Serem banget tau!” Nanon bergidik ngeri saat tahu tentang cerita Ohm mengenai sepupunya. Bayang-bayang hewan itu mengigit tanpa bisa dilepas bagai sosok vampir penghisap darah manusia, dalam angan si manis. Lantas, ia bergerak menjauhi lelaki berkaus abu dan bersembunyi di balik selimut.

Sebuah gelagat dengan arti tidak mau mendengar lebih jauh lagi perkara barusan. “Aku lebih milih balik tidur.”

Ohm Pawat tertawa melihat kekasihnya yang malah menjaga jarak. Diam-diam ia mendekat dan berbisik pada telinga berlapis kain tebal milik Nanon. “Kalau aku yang gigit, masih serem gak?” Wajah pujaan hati si manis menampilkan senyum jahil. Salah satu lengan menumpu berat badan.

Kepala Nanon muncul lagi, kali ini satu tangannya juga ikut teracung di depan Ohm, menunjuk. “Jangan berani-berani kamu. Udah malem.”

“Ini pagi,” ucap Ohm, menggeleng singkat pada jam beker di atas nakas. Tak lama setelah itu, ia menguap untuk yang pertama kalinya setelah beberapa jam terjaga sedari tadi. Kantuk datang berkunjung pada kesadaran lelaki berkaus abu. “Udah ngantuk aku.”

“Yaudah, obrolan kita selesai malem ini. Kita harus tidur walaupun nanti ada kelas siang, Paw,” ujar Nanon seraya menyisir ke belakang helai rambut berjatuhan di atas kening pujaan hati.

Ohm tersenyum tipis lalu menghilangkan jarak di antara mereka. Sebuah kecupan lembut mendarat pada belah ranum Nanon, juga tersungging pola sabit yang sama lebarnya dengan sang kekasih. Rembulan di luar sana menyinari kedua sejoli dimabuk asmara pada pukul setengah empat pagi. Dialog mereka pun ikut diakhiri.

Dalam angan berharap, biarlah bekas itu ada sebagai bukti tentang bagaimana mereka berjuang menghadapi kehidupan. Seberapa besar, sebagaimana bentuk, dan lain sebagainya, itu tidak berarti karena apapun itu, bekas luka akan selalu menjadi sebuah corak abstrak pada kanvas. Sebagai pemberi keindahan di dalamnya.


terpintal dengan cinta, oleh daeyumbruh

“Sebuah teka-teki tercipta ketika dua insan dengan persoalan hidup yang kompleks bertemu di atas dermaga mengarah lautan.”

tags; 12,8k words, human!tay, unknown!new, light angst with happy ending, fantasy, slowburn, strangers to lovers, bahasa indonesia.


Tay Tawan dibuat merindu oleh kehidupan lamanya.

Rindu akan bisingnya kendaraan berlalu-lalang di jalan raya, memadati kota metropolitan. Netra biasa memandang segala biang kerok kejahatan pada televisi. Begitu pula penghiduan, dipenuhi oleh asap toksik ketika ia menyesap sigaret bersama teman sejawat.

Tay Tawan hanya memiliki satu permohonan yang setiap hari ia rapalkan pada Tuhan. Ia ingin alam semesta berbuat curang pada waktu sehingga dapat mengembalikan masa-masa bahagianya. Waktu di mana kebebasan terikat erat pada jiwa dan raga, seakan terasa begitu hidup. Setiap detik, setiap jengkal, setiap kedua kaki melangkah, selalu diselimuti dengan rasa puas yang bergemuruh dalam dada.

Tay Tawan membenci kehidupan barunya.

Benci ketika orang tua memaksa Tay hidup tenang di pesisir pantai, jauh dari pengaruh buruk sosial perkotaan. Tanpa ada perangkat elektronik kecuali ponsel, ia sengsara. Terpaksa bersahabat dengan kipas angin, membuatnya tidak bisa tidur setiap malam karena gerah.

Kesunyian melanda rungu yang sudah terbiasa dengan keramaian. Bahana deburan ombak, angin berhembus kencang, serta nyanyian serangga kecil ketika matahari menutup diri, merupakan asupan Tay sehari-hari. Dan ia dongkol karenanya.

Kadang Tay berpikir, mungkin saja kedua orang tua telah muak memiliki anak tidak tahu diri seperti dirinya. Seseorang yang hanya mempedulikan kesenangan abadi dalam adrenalin, tak peduli jika mengancam jiwa. Emosi selalu berubah seenaknya karena hati begitu labil. Meresahkan golongan tertentu akibat kesalahpahaman sepele. Tak terhingga karena saking banyaknya.

Padahal, jika Tay boleh jujur, ia melakukan semua itu untuk kebebasan dalam hidup. Sebagai pelepas penat, mendamaikan konflik batin yang selalu ada pada diri.

Tay dengan segala rasa tidak ikhlasnya, hanya bisa menerima dengan pasrah keputusan kedua orang tua. “Hidup dalam kesederhanaan,” kutip ayahnya saat itu. Namun, bagi seorang pecinta kebebasan seperti dirinya, definisi 'sederhana' akan lebih cocok jika diganti dengan 'kekangan orang tua'. Seakan terisolasi dalam sebuah pulau tak berpenghuni di ujung lingkaran bumi.

Kata-kata itu selalu berputar pada pikiran Tay saat malam telah tiba. Waktu ketika sunyi kembali menyelimuti—tidak sepenuhnya karena masih terdengar suara keras pertemuan antar kulit.

PLAK! PLAK!

“Sialan, bukannya golongan darah B tidak disukai nyamuk?!” Tay Tawan merutuk pada serangga kecil peminum darah yang sedari tadi melintas di sekitar telinganya. “Musnah saja kalian!”

Berbicara sendiri telah menjadi rutinitas Tay 'bersahabat' dengan hewan menyebalkan itu. Obat nyamuk asap sudah dinyalakan, namun tetap saja tidak mempan. Berkali-kali percobaan menangkap dan menepuk dilakukan, hasilnya pun nihil. Sarung yang digunakan juga tak ada apa-apanya, hanya telantar begitu saja di sebelah kipas angin.

Rasa gerah menghampiri bagai angin panas gurun sahara—sebuah pernyataan hiperbola dari Tay. Mana mungkin ia memakainya di kondisi seperti ini? Sangat mustahil.

Tay bangkit dari posisi rebah, menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah merengut, frustasi. Kesabaran kian menipis. Ia tidak tahu saja, para nyamuk mungkin tertawa diam-diam di balik dengungan sayap menyebalkannya. Sebulir keringat meluncur mulus dari kening hingga jatuh pada fabrik celana pendek Tay. Jarum jam menimbulkan suara tipis ketika yang panjang bergerak melintasi angka dua belas. Tepat pukul satu dini hari.

Dengan memantapkan hati, lelaki kegerahan itu beranjak dari rumah singgahnya. Tidak membawa apa-apa. Hanya jiwa, raga, serta rasa penat akan kesalnya ia pada kehidupan. Ponsel ditinggal begitu saja di atas matras, sarung biru miliknya juga. Tay tidak peduli jika nanti akan kedinginan. Menurutnya, rasa panas itu tidak memiliki solusi.

Suatu hari ia pernah mengutarakan pendapat ke salah satu teman di kota, sebuah pertanyaan sederhana telah dilontarkan sebelumnya. “Antara dingin dan panas, mana yang lebih baik?” tanya si teman saat itu.

Kemudian tanpa segan-segan, Tay menjawab, “Dingin. Karena, bayangkan saja kau sedang kepanasan. Hal yang setidaknya dilakukan adalah melepas seluruh kain di tubuhmu, berharap bisa mengurangi rasa panas itu. Nah, pertanyaannya, bagaimana jika seluruh pakaian sudah ditanggalkan tapi kau masih saja merasa panas? Hanya kulit tersisa, memang kau bisa melepasnya? Itu sebuah ide gila,

Kalau kedinginan, kau bisa saja mendapat rasa hangat dengan memakai pakaian berlapis entah berapa pun itu. Bahkan jika kau mau, balutkan saja dirimu dengan seluruh pakaian di seluruh negeri ini. Tidak perlu repot-repot bingung bagaimana cara mengatasinya. Mudah 'kan?

Sayangnya, ucapan hanyalah ucapan. Tanpa bukti dan bertindak, bisa berupa bualan semata.

Baru saja kedua kaki melangkah tak sampai sepuluh meter, Tay ingin menarik pernyataannya beberapa waktu lalu.

Dingin.

Ia kedinginan, karena angin dari darat sedang berhembus cukup kencang pada malam ini. Namun apa daya, Tay sudah telanjur kesal dan malas untuk kembali. Bisa-bisa, para nyamuk sudah menunggu dan segera menyerang tubuhnya, mungkin juga tertawa.

Gengsi pada diri lelaki itu cukup tinggi sehingga ia cuek saja pada akhirnya. Langkah kaki terdengar lagi, ditemani suara daun pohon kelapa saling singgung. Kedua lengan bersedekap di depan dada, menyembunyikan telapak untuk mencari kehangatan—walau tidak begitu mempan.

Tidak terasa setelah beberapa menit Tay habiskan untuk berkeliling, sampailah ia di pesisir pantai yang ... secara magis menimbulkan rasa nyaman di hatinya.

Tay memandang sekitar selagi menghela napas.

Perlahan, ia melepas sandal lalu pasir di bawah terinjak oleh telapak. Jari-jari kaki meremas lembut, dirasakan pula teksturnya yang halus dan lembab. Kedua manik cokelat miliknya terpejam. Fokus indera pendengaran semakin tajam. Bahana ombak di malam hari terdengar merdu bagai musik beralunan abstrak namun enak didengar. Sahut-sahutan para nelayan yang akan pergi mencari ikan. Beberapa kapal kayu saling menatap satu sama lain, timbul suara duk duk duk cukup kentara.

Netra kembali terbuka dan kepala pun mendongak. Terlukis padanan formasi benda langit yang indah. Konstelasi bintang saling menyambungkan antara paling cerah hingga teredup. Bayang binar rembulan menyapa gelapnya permukaan laut, berbuai-buai. Lampu minyak bercahaya bagai kunang-kunang di atas kapal pencari ikan para nelayan.

Tay dibuat takjub oleh panorama, tersajikan begitu nyata. Apa yang dipandang sangatlah jauh dari 'gelap gulita'. Apa yang didengar juga tidak mendekati 'sunyi senyap'. Tepat di saat itu pula, terucap rasa syukur untuk pertama kali dari bibir seorang Tay Tawan. Berkat kantuk yang tak kunjung datang, ia bisa menyadari betapa teduhnya sebuah tepi dari samudra.

Memang, sesuatu yang nampak sepi tidak selalu berujung mati. Bisa saja di antara sunyi, ada yang bernapas menikmati urip.

Pasir mencetak jejak ketika Tay menyusuri setapak, masih tanpa alas kaki. Kedua sandal ia jinjing dengan jari tangan kiri. Raga dibawa menuju sebuah dermaga kecil yang nampak kosong. Lampu pada pos jaga masih menyala. Tidak ada satu pun kapal yang meletakkan jangkar, sudah berlabuh di laut lepas.

Terlihat dari jauh oleh Tay titik-titik putih dan kuning berayun—lampu minyak milik para nelayan. Ombak menabrak kuat pinggir kayu dari dermaga, membuat Tay ragu untuk berjalan ke ujungnya.

Namun, rasa ingin tahu terhadap ketenangan sebuah tepi samudra mengalahkan bimbang. Dengan tidak peduli, ia terus saja melangkah. Udara dingin yang menusuk tiba-tiba terlupakan.

Mata cokelat gelap Tay bertemu dengan hitamnya lautan saat tiba di ujung dermaga.

Hembusan angin kembali menerpa wajah untuk yang sekian kalinya. Lelaki itu menghela napas. Mungkin ... ini tidak begitu buruk, batin Tay kemudian duduk. Kedua kaki dibiarkan lurus dan sedikit menggantung, sesekali cipratan air akan membasuh telapaknya geli. Sebuah senyuman tipis terukir pada bibir.

Keputusan telah dibuat. Mulai detik ini, dermaga tepi samudra akan menjadi tempat Tay Tawan menikmati hening di tengah keramaian tersembunyi.

Sendiri, tanpa ingin ditemani siapa pun.


Tay Tawan tidak sendiri dalam sunyi.

Hari baru menyambut, di waktu yang sama, Tay kembali lagi ke dermaga kecil. Batin sudah berencana menikmati sunyi seorang diri. Pikiran dipenuhi bayang-bayang pemandangan segara. Ranum pada wajah mengulas lengkung tipis bagai sabit di awal bulan. “Semoga, masih sama sepinya dengan kemarin malam...” gumam Tay berharap, cukup khawatir jika ternyata para nelayan belum meninggalkan dermaga.

Tetapi, visual menampakkan sebaliknya.

Alis Tay berkerut ketika ia melihat bayang gelap duduk di ujung dermaga. Sosok dengan rupa tidak begitu jelas jika dilihat dari tempat di mana Tay berdiri sekarang. Lelaki itu bukan penakut, juga tidak percaya dengan hal-hal berbau 'mistis' apalagi makhluk mitologi. Dalam hidup, Tay tidak percaya dengan sesuatu yang tidak dapat dibuktikan oleh akal sehat.

Logika mengalahkan telak segala rasa khawatir. Sosok itu dihampiri oleh Tay.

Oh, seorang pria rupanya. . .

Bayang gelap itu berubah menjadi objek nyata dan jauh dari kata fana. Seorang insan berkulit putih, anak turunan Adam. Dari postur tubuh bisa Tay perkirakan, mereka seusia, walaupun hanya asumsi belaka. Perawakannya cukup kokoh jika dilihat dari punggung berlapis kaus putih yang dikenakan.

Pria itu duduk di ujung kanan dermaga dengan kaki bersila. Pandangan lurus menghadap lautan yang kali ini cukup sepi dari nelayan—hanya ada beberapa sampan kecil tidak jauh dari tepi pantai. Para pencari ikan tidak berani melaut ke tengah, ombak malam ini sedang bergejolak kelewat jangkung dari biasanya.

Tay berdiri lima langkah di belakang pria putih tersebut dengan kepala bergerak miring. Angan dibuat ganjil oleh kemunculan sosok yang mau tak mau menjadi kawan dalam heningnya dermaga.

Namun, ia kembali teringat dengan tujuan awal. Tay hanya mencari ketenangan yang berfokus pada diri sendiri, bukan orang lain.

Sikap acuh dilakukan ketika Tay akhirnya duduk di sisi lain dari ujung dermaga, terpaut jarak dua langkah dari sosok itu. Lelaki bersarung biru—telah belajar dari kedinginan—tidak mau ambil pusing mencari tahu tentang insan berkulit putih di sebelah kanannya.

Lagipula, kita tidak saling kenal. Untuk apa mencari tahu lebih lanjut? batin Tay bertanya dalam diam yang tercipta. Bisa saja lelaki itu juga sama denganku, membutuhkan waktu sendiri, tanpa ingin diganggu.

Namun, ada saja jalan bagi rasa ingin tahu seorang Tay Tawan menguak keluar walau sedikit. Sesekali secara diam-diam, Tay akan melirik pada sosok di sebelahnya.

Pikiran merutuk marah atas perilaku yang mengkhianati tujuan awal. Hati terlonjak senang saat rasa penasaran lelaki bersarung itu telah menguasai akal sehat. Kedua manik mencuri pandang, bahkan bibir Tay tergigit—takut tertangkap basah. Ia tidak tahu harus berbuat apa jika hal itu terjadi nantinya. Bisa-bisa ... Tay hanya akan diam dengan mulut terbuka. Memalukan.

Si pria misterius terlihat amat santai. Mimik pada wajah tidak menampilkan ekspresi apapun. Adakalanya ia menghirup oksigen begitu dalam lalu dihembuskan berat. Seolah-olah seluruh pikiran di dalam nalar turut pergi dan bersatu oleh angin. Kedua kaki yang awalnya bersila saja di atas dermaga, saat ini menjuntai ke bawah dan dicelupkan pada samudra.

Tay mengamati dengan alis berkerut. Bagaimana bisa dia tidak kedinginan? Berkaus tipis, celana pendek, bahkan kedua kaki di air. Aku saja harus memakai sarung, batin lelaki bersarung, menggerutu. Tapi, malam ini memang kelewat dingin jika dibanding dengan kemarin. . .

Kembali, Tay bersikap acuh tak acuh.

Beberapa jam kemudian, muncul sebuah pergerakan dari lelaki berkulit putih saat Tay memutuskan untuk pulang ke rumah singgah.

Tay berdiri dari duduk dan secara bersamaan, si pria misterius mengangkat kaki dari air lalu kembali bersila. Hanya itu saja yang ia lakukan. Tay pikir, mungkin dia sudah kedinginan, berhubung angin darat semakin menerpa tubuh begitu kuat.

Sebenarnya jika diminta jujur, Tay akan mengaku kalau ia sedikit berharap lelaki putih tersebut melakukan hal lain. Sayang, ekspektasi tidak bisa menjadi realita—Tay pun segera melupakan. Kepala menggeleng cepat, cuek saja berjalan lagi menuju pesisir.

Lelaki itu kelewat diam. Siapa dia sebenarnya?

Kenapa dia ... seperti menemaniku? Bahkan salah satu pergerakannya dilakukan bersamaan dengan aku yang akan pulang. . .

Seluruh perdebatan tanya muncul begitu saja pada pikiran, bagai air bah memenuhi bendungan. Tay tak lagi bisa menahan rasa penasaran pada sosok misterius itu. Ia pun menoleh untuk memastikan apakah si lelaki putih masih ada di sana. “Eh?” gumamnya dengan mata bergerak bulat, bahkan ia menghentikan langkah.

Dia menghilang?

Waktu terhitung tidak sampai lima belas menit, lelaki berkulit putih tersebut bagai ditelan oleh mayapada dan segara. Lenyap tanpa jejak. Hal ini membuat Tay diam sejenak, berkutat dengan akal sehatnya. Kenapa bisa? Apakah dia ... Ah, tidak-tidak. Mereka tidaklah nyata.

Mungkin saja aku sudah lelah. Angin berhembus ini sungguh ampuh membuatku mengantuk, pada akhirnya.

Tay Tawan menghela napas seraya mengusap salah satu mata. Kedua telapak yang sudah beralas kaki kembali membawanya pulang, berjalan di bawah rindang pepohonan kelapa.

Halusinasi yang aneh.


“Aku New Thitipoom. Kau?”

Entah semalam bermimpi apa, Tay Tawan dikejutkan oleh sebuah kalimat terucap dari sosok yang tak diduga.

Baru hitungan detik ia duduk di tempat biasa, lelaki misterius itu tiba-tiba saja mengenalkan diri. Tanpa ada titah dan salam pembuka, nama langsung terucap dengan suara sedemikian tenang. Perhatiannya tidak terusik dari gumpalan awan kelabu yang menutupi seperempat bagian purnama.

Kali ini, sosok tersebut memakai kaus hijau muda dipadukan celana putih. Tanpa alas kaki, ia duduk bersila. Masing-masing telapak tangan berada di pangkuan.

Tay sama sekali tidak menduga bahwa si sosok misterius akan bersuara. Keberadaannya yang kembali muncul di ujung dermaga saja sudah membuatnya terkejut, apalagi fakta bahwa ia berbicara dengannya. Bahkan Tay tidak meminta. Justru percakapan pertama kali dibuka oleh lelaki itu—sekarang bernama New Thitipoom.

Rekam ingatan dalam memori Tay seakan kembali muncul bagai film sedang diputar dalam bioskop. Dia ingat betul bagaimana situasi kemarin begitu lengang dengan bungkamnya mereka berdua, enggan saling bicara. Belum lagi, sosok itu menghilang tiba-tiba di akhir perjumpaan. Aneh.

Suara kecipak membuat Tay tersadar dari lamunan, berasal dari satu kaki New Thitipoom yang dicelupkan ke dalam air. Kedua mata lelaki bersarung mengerjap singkat, kepala digelengkan lalu menoleh.

Kali ini, fokus insan berkulit putih teralihkan dari panaroma sebelumnya, ia menatap Tay dengan tilik kuriositas. Bersumpah pada Tuhan, Tay melihat ada kilas senyum begitu tipis pada ranum merah mudanya. Lelaki misterius itu nampak ramah, tapi karena itulah Tay jadi tidak tahu harus berbuat apa.

Alhasil, ia menjawab pertanyaannya dengan sedikit terbata seraya menggaruk tengkuk. “O-Oh, maaf! Aku hanya ... tidak menyangka kau akan berbicara.”

”. . .”

Tidak ada jawaban.

Sial, sepertinya aku salah bicara, batin Tay merutuk, semakin membuat canggung diri sendiri. “Um... Aku Tay. Tay Tawan.”

“Nama yang bagus.”

Eh?

“Matahari ya?”

Bagaimana dia tahu ... artinya? batin Tay seraya terdiam sesaat. Tak lama, ia mengangguk pelan.

“Aku pikir dengan nama seperti itu, kau tidak akan kedinginan.”

Spontan, Tay mengeratkan sarung biru di tubuh selagi terkekeh canggung. Ia merasa aneh dengan lelaki di sampingnya yang sekarang aktif bersuara. “Ya ... Itu hanya sebuah nama.”

“Di setiap nama, selalu ada harapan yang menyertai, Tay.” New Thitipoom mengalihkan pandang ke salah satu kaki tersembunyi oleh samudra. “Tidak mungkin kau diberi nama tanpa sebuah alasan.”

Ketika sosok itu menyebutkan namanya, ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyelimuti. Secara magis, keteduhan sebuah tepi samudra semakin terasa ketika vokal itu bergema pada gendang telinganya.

Angin semilir datang menyeka surai legam milik insan berkulit putih, sedang bermain air dengan kakinya. Timbul suara percikan kecil hampir tidak kentara. Sedangkan Tay sendiri, melihat si lelaki misterius dengan tatapan tak bisa diartikan. Ia mau tak mau mengeluarkan satu tangan untuk menyibak rambut yang sudah mulai panjang, terhembus bayu.

“Aku tidak tahu apa yang diharapkan dari namaku,” tanggap Tay, kedua netra memandang lurus pada banyak perahu nelayan yang melaut. “Mereka tidak pernah memberitahu.”

“Mereka?”

“Orang tuaku.”

“Tidakkah kau ingin tahu lalu bertanya sendiri?”

Tay menggeleng singkat, dirasakan bahwa sosok misterius itu telah menempatkan fokus pada dirinya. “Masih banyak hal penting lain yang ingin kuketahui.” Sebagai contoh, tentang dirimu, mungkin?

“Ah... Baiklah,” tanggap lelaki berkulit putih. “Aku yakin hal itu akan segera kau temukan, entah kapan.”

Semoga saja. “Bagaimana denganmu?” Tay mengganti pusat pembicaraan pada insan di sampingnya.

“Hm?”

“Apakah ada harapan di balik namamu, New Thitipoom?”

Sebuah tawa kecil hadir menguasai atmosfer. Terdengar indah dan berdengung lembut bagi indera pendengaran milik Tay. Entah mengapa, vokal itu seakan membuatnya tersihir kemudian tertegun. Apalagi saat ini, ia dan sosok misterius tersebut saling bertukar pandang.

Manik kehitaman bertemu dengan lautan cokelat milik Tay. Tubuh New Thitipoom nampak bercahaya karena sebagian lampu pos dermaga mengarah ke sisinya. Panorama ini, mengingatkan Tay pada rembulan di balik cakrawala.

Begitu pula senyum tipis yang saat ini tersungging di wajah insan berkulit putih. “Kau menyebut nama lengkapku karena bingung harus memanggil apa, 'kan?”

“Eh?” Hei, bagaimana dia bisa tahu?! “Um... Tidak kok.”

Lelaki di samping Tay masih mempertahankan senyumnya. “Panggil saja aku New.”

“Kalau begitu, biar aku ulang pertanyaanku. Kali ini dengan panggilan yang benar,” ucap lelaki bersarung, juga tak bisa menahan lengkung sabit muncul pada wajah. “Apakah di balik namamu ada harapan di dalamnya, New?”

“Kau sungguh ingin tahu?” New bertanya, kedua manik berkedip. Bulu mata menyapu halus pipi meronanya.

“Tentu saja!” seru Tay terlalu bersemangat. “Ah, m-maksudku, silahkan jika kau memang ingin.”

Bodoh, Tay Tawan. Aku tahu kau sangat ingin mengenal New, tapi tidak begitu caranya. Dasar memalukan!

“Kau lucu sekali, Tay.” New kembali terkekeh.

New Thitipoom, bisa tidak kau hentikan gelak tawamu itu? Konsentrasiku bisa hilang karenanya.

“Baiklah, jika kau ingin. Aku akan memberitahumu.”

”. . . Okay?”

“Harapan di balik namaku adalah...” ucap New dengan menjeda jawaban.

”. . .”

Ayolah, sedikit lagi. Sedikit lagi aku akan tahu setidaknya sepersekian persen dari sosok bernama New ini.

”. . .”

Kenapa tidak segera menjawab? Kenapa dia ... menatapku dengan kilat gurau di matanya?

Apakah mungkin—

“Rahasia!” jawab New akhirnya. Kali ini, sebuah tawa kembali menggema. Suara itu bagai musik yang merasuk halus ke dalam jiwa Tay Tawan.

Entah untuk ke berapa kalinya, si lelaki bersarung dibuat kagum oleh seorang New Thitipoom malam ini. Mulai dari pesona, raga, dan vokal, semuanya begitu indah. Candu, jika Tay bisa jujur, ia akan berujar demikian. Tidak tahu sihir macam apa yang bisa membuatnya sangat terpukau.

Sekarang, New kembali menatap kilauan hitam samudra dengan lengkung rembulan pada wajah. Dua telapak menjadi tumpuan dari berat tubuh di belakang dan lagi-lagi salah satu kaki dicelupkan ke dalam segara. Tay menghela napas. Tilikan ainnya tak lepas untuk memandang.

“New.”

“Ya, Tay?”

“Kau menyebalkan.”

New Thitipoom mempertemukan manik legam samudranya dengan Tay kemudian menyeringai. “Begitu juga dengan kau.”

Oh, New. Sebuah awal yang baik dari pertemuan kita malam ini.


Esok lusa, Tay Tawan bertemu lagi dengan New Thitipoom. Latar tempat yang sama. Tepi dari samudra.

“Sepertinya … Kau sangat menyukai laut, ya.” Berasal dari Tay yang telah berani membuka topik obrolan paling pertama di antara mereka. Lelaki bersarung biru itu tersenyum tipis, melihat insan di sebelahnya memandang osean dengan kerling binar pada netra—terpikat.

Pikiran New sempat melalang buana kemudian tersadar dari lamunan. Ia menoleh dan memiringkan kepala, kelopak berkedip beberapa kali. “Maaf?”

“Laut.” Tay berpaling singkat pada gelapnya samudra di malam pukul satu dini hari. “Kau menyukainya, 'kan?”

Ujung dari belah ranum New terangkat sedikit. “Kenapa kau bisa menyimpulkan itu?”

“Tatapan matamu.”

“Ada apa?”

“Cara kau menatapnya, sudah seperti orang yang jatuh cinta.”

Tawa indah New kembali berlabuh seiring angin semilir datang berhembus. Tay bisa merasakan gejolak afeksi familiar perihal vokal itu, luapan yang sama seperti kemarin.

Lelaki bersarung biru yakin, bahwa ia tidak akan pernah bosan mendengarnya—sudah seperti alunan lagu yang kerap didengarkan saat kantuk tak kunjung datang. Kau tahu, New? Dunia seakan ikut bahagia bersamamu ketika tawa itu kembali muncul. Andai saja aku bisa mendengarnya sepanjang hari…

New mengulas lengkung sabit. Atensi dialihkan pada segara. “Kau sudah seperti pakarnya saja.”

“Jadi, aku benar?” Tay merubah posisi duduk, berhadapan dengan sisi kiri sosok berkulit putih. Kedua kaki dilipat. Raut wajah penasaran.

New Thitipoom mengangguk, maniknya bertemu dengan lautan cokelat milik lelaki bersarung.

Aku bisa melihatnya. Mata berkilauan itu tidak bohong.

Tapi … Kenapa aku juga merasa, ada hal tersirat di dalamnya?

Ah, mungkin perasaanku saja.

“Kau sendiri, bagaimana?” New bertanya pada lelaki di samping yang menanggapi dengan alis terangkat. “Apakah laut menjadi alasan kenapa kau sering kemari?”

“. . .”

“Jujur, aku tidak tahu harus merasa seperti apa pada lautan.” Tay mengeratkan sarung birunya pada tubuh. “Entah senang atau tidak.”

New memiringkan kepala. Tilik kuriositas berlinang dalam mata. “Kenapa begitu?”

“Ada dua sisi pikiran dalam diriku, di mana satu mengatakan aku menyukainya dan yang lain tidak,”

“Aku menyukai lautan karena hal itu membuatku tenang. Suara ombak menabrakkan diri pada banyak benda, gelombang bergerak tenang ketika nelayan mencari ikan, ditambah angin berhembus pelan di dermaga ini. Aku seperti terhipnotis oleh kedamaian yang ada,”

“Sedangkan di sisi lain, kadang bergidik ngeri memikirkannya.”

“Kau tidak bisa berenang?”

Lelaki bersarung biru mendengus lucu. “Bukan begitu maksudku, New.”

“Eh? Lalu?” New bertanya kikuk. Dalam keremangan lingkup, kedua pipi sedikit merona.

“Menurutku, lautan ibarat manusia bermuka dua. Dalam artian, memiliki dua sisi sangat berbeda,”

“Laut dapat menimbulkan tenang dengan suara percikan ombaknya. Siapa pun akan terlena oleh fenomena itu,”

“Namun, fakta bahwa manusia hingga kini belum mengetahui pasti apa saja yang ada di dalamnya, membuatku ngeri. Hanya sekian persen, entah berapa. Sangat berbeda dengan angkasa luar di mana roket dapat dengan mudah membawa astronot pergi dari bumi lantas memijakkan kaki di bulan,”

“Banyak teka-teki yang harus dipecahkan. Sayang, keterbatasan bernapas di dalam air membuat manusia tidak bisa maksimal dalam membongkar tanda tanya di balik keindahannya.”

“. . .”

“Kau … memahami maksudku, 'kan?”

Senyuman kecil muncul di raut sosok bermanik legam. “Tentu saja.”

Syukurlah. Kupikir, aku hendak memalukan diri sendiri karena terlalu banyak bicara. “Tapi…”

“Iya?”

“Sesekali, aku masih mencari tahu tentang apapun yang terjadi di kedalaman laut dan ternyata, banyak fakta-fakta menarik juga.”

“Kalau begitu, coba ceritakan padaku satu dari sekian hal itu.”

Dengan begitulah, Tay Tawan memulai kisah yang didengarkan syahdu oleh New. Misteri seekor mamalia amat kesepian di dunia bawah laut, Paus 52 Hertz.

Lelaki bersarung biru terlihat antusias ketika ia menjelaskan bahwa hewan tersebut ‘bersuara’ tidak selayak paus berkomunikasi dengan sesama. Frekuensi yang dikeluarkan adalah 52 Hertz, sedangkan pada umumnya hanya sekitar 10-39 Hz.

Dua tangan Tay bergerak ke sana kemari, memberi penjelasan dengan manik cokelatnya yang berbinar. Sarung biru membalut longgar tubuh tak bisa diam itu, sedangkan New menatap lelaki di sampingnya seksama. Salah satu telapak kaki menyentuh segara di bawah sana.

Namun, semangat Tay mendadak berhilir turun ketika kisahnya dibawa menuju topik bahwa mamalia tersebut tidak mempunyai teman di tengah luasnya samudra. Frekuensi terlalu tinggi membuatnya tidak dapat didengar oleh paus-paus lain. Wajah lelaki bersarung menekuk sendu, hati terpenuhi rasa empati pada hewan malang itu.

“Para peneliti memiliki dugaan bahwa paus lima puluh dua punya keterbatasan dalam pendengaran, itulah alasan dia mengeluarkan frekuensi sangat tinggi,” ucap Tay kemudian menghela napas. “Aku tidak bisa membayangkan, hidup sendirian di dalam samudra yang gelap. Kasihan sekali.”

Suara kecipak air merambat masuk ke dalam indera pendengaran, membuat si lelaki bersarung—di awal tertunduk—mendongak. Kedua manik Tay kembali tertuju pada New. Kaki-kaki indah terarah ke segara, sedang membentuk pola lingkar. Ada sedikit gejolak ombak karena aksi itu.

Helaan napas terdengar dan pandangan Tay kembali berjumpa dengan si oniks legam. “Paus itu akan baik-baik saja.”

“Semoga.” Si lelaki bersarung menggigit bibirnya.

“Dia pasti memiliki teman di dalam sana.” New bertumpu pada tangan di belakang. “Aku yakin.”

“Kenapa bisa?”

Lengkung sabit khasnya kembali muncul. “Percaya padaku. Lagi pula, masih banyak makhluk hidup lain yang tinggal di Samudra Pasifik.”

“Hm… Kau benar.”

“. . .”

“New.”

“Ya, Tay?”

“Boleh aku bertanya sesuatu padamu?”

“Tanyakan saja.”

Pikiranku sudah tidak bisa lagi menahan rasa ingin tahu ini. “Kenapa kau selalu mencelupkan kaki ke dalam air?”

Gerak pola melingkar pada samudra berhenti. Hening tercipta dan tidak ada lagi suara yang memenuhi ruang dalam tepi dermaga.

Tay menanyakan salah satu enigma pada diri seorang New Thitipoom.

Lelaki bersarung itu baru menyadari setelah hari-hari ini saling bertutur kata. Entah dengan maksud dan tujuan apa New melakukannya. Namun, gerak pada si lelaki putih cukup membuat pikiran Tay bertanya-tanya, walaupun bisa dibilang perkara tersebut bukanlah sesuatu yang krusial. Aku tidak berharap penuh kau akan menjawab. Tapi setidaknya … berikan aku alasan di balik kebiasaan itu.

“Kau pemerhati yang unggul ya, Tay?” Sunyi dipecahkan oleh New. Ia menoleh pada lelaki di sampingnya.

“Aku hanya ingin tahu.” Alibi yang bagus, Tay Tawan. Sekarang New akan mencurigaimu. “Itu saja.”

“Oh… begitu.”

“. . .”

Jadi, apa kau akan menjawabnya, New?

Mungkinkah sekarang saatnya pintu rahasiamu terbuka, sehingga aku bisa mengetahui sesuatu tentang dirimu?

Tuhan, apakah—

“Aku hanya senang saja, ketika rasa hangat air laut di malam hari bertemu dengan kakiku,” ucap New akhirnya bersuara. “Tidak ada yang spesial kok.”

“Begitu, ya?”

Insan berkulit putih itu mengangguk lalu tersenyum. Hembusan angin sepoi-sepoi hadir menyibak kedua rambut mereka.

Ruang lingkup bicara kembali dipenuhi lengang.

Tay Tawan masih harus bersabar lagi untuk mencari tahu tentang diri seorang New Thitipoom. Hanya waktu yang akan menjawab segala pertanyaan tersebut, dan si lelaki bersarung biru membiarkan hal itu terjadi. Baiklah, mungkin lain kali. Masih ada hari esok untuk kesempatan berikutnya.

Mudah-mudahan.


“Selamat pagi, Tay Tawan.”

Tuturan kalimat itu didapati oleh Tay ketika salah satu kaki menjejak awal dari deretan kayu dermaga. Sosok di ujung sana—New—tidak menoleh sama sekali, seperti biasa berfokus pada samudra.

Malam ini cuaca tidak secerah awam. Gumpalan kelabu di angkasa terlihat bayang-bayang, menjadikan konstelasi bintang tersembunyi di baliknya. Tay bisa melihat dari jauh hanya ada dua-tiga nelayan yang melaut malam ini.

Hawa dingin sedikit menusuk kulit di belakang tengkuk Tay—reflek, merapatkan sarung birunya. Lantas, ia kembali berjalan mendekati New yang beberapa hari ini menjadi kawan dalam teduhnya pesisir pantai.

Tay mendengus, jarak sekarang sudah berbeda lima langkah. Ia menoleh singkat pada pertemuan horizon. “Matahari masih tertidur lelap.”

“Lalu, apa yang kau lakukan di sini? Kau 'kan matahari.”

“Jelas-jelas aku manusia, New,” Tay berucap seraya melepas sandal. “Bukan makna sesungguhnya.”

Insan berkulit putih terkekeh. “Hanya bercanda.”

Lelaki bersarung biru memposisikan duduk di atas alas kaki. Batin berniat meletakkan di pinggir dermaga, namun angin berhembus cukup kencang malam ini sehingga perasaan khawatir datang walau segelintir. Tay tidak ingin sandal karet biru tersebut jatuh ke laut, diterbangkan bayu. Sepatu sol tebal di rumah singgah bukan pilihan yang tepat untuk menapak butiran pasir.

Tay meluruskan kedua kaki lalu menghela napas. Fokus pandang menuju si manik legam. “Kita bertemu lagi, di sini.”

“Tentu.”

“Jangan bosan-bosan, ya.”

“Mustahil jika aku bosan denganmu, Tay,” ucap New kemudian tersenyum tipis. “Tapi, ada yang sedang tidak biasa.”

“Apa?”

“Siapa, lebih tepatnya.” Kedua manik lelaki berkulit putih kembali bersua dengan milik Tay. “Kau.”

“Aku?” Memang, aku melakukan apa?

“Kau datang larut sekali, tidak seperti biasa.”

New Thitipoom mengatakan sebuah fakta.

Lelaki bersarung biru memang datang kelewat larut. Biasanya, Tay akan muncul tengah malam, lalu mengakhiri dialog mereka tepat pukul 3 dini hari. Namun, kini tidak berlaku di mana ia justru baru datang pada tempo itu.

Ketika suatu rutinitas mengalami perubahan secara tiba-tiba, siapapun akan dibuat ganjil olehnya. Begitu juga dengan New yang menilik penuh tanya pada Tay Tawan—sedang bermain benang pada kaus warna arang. Si lelaki bersarung tertunduk seperti enggan membuka mulut.

Lingkup percakapan mendadak lengang.

Terlihat begitu jelas, ya? Atau kau saja yang sangat peka? “Kau seakan mengingat waktu kedatanganku.”

“Bagaimana tidak ingat, jika kau terus-menerus datang setiap malam.” Suara percikan air terdengar, kedua kaki New bersembunyi di balik samudra. “Dan sampai sekarang, aku masih tidak tahu alasan kau melakukannya.”

Aku pun juga masih bertanya-tanya tentang dirimu, New. Alasan mengapa kita selalu bertemu, dan kau yang pasti hadir di ujung dermaga sepi ini.

“Kau mau cerita? Aku akan mendengarmu.”

Aku ingin sekali, sungguh. Tapi, aku tidak tahu apa aku harus karena kita baru saling kenal. Bahkan tidak sampai lima hari.

Apakah kau patut kupercaya? Apakah aku harus bercerita padamu mengenai hal yang mengusik pikiran dalam hidupku?

“Tidak wajib kau lakukan, sebenarnya.” Kepala insan berkulit putih ikut ditundukkan, atensi tertuju pada jari-jari saling bertaut. “Hanya saja,”

“Bukan suatu hal yang buruk untuk berbagi gundah dengan orang lain. Setidaknya, ada seseorang yang menemanimu melewati masa-masa itu. Aku rasa, lebih dari cukup.”

“. . .”

“Bagaimana?”

New … Bagaimana aku bisa menolak, jika kau sudah berkata seperti itu?

Lagipula, hatiku tidak bisa dibohongi lagi. Sudah terlalu nyaman dengan kehadiranmu di sini, dan hal itu secara magis membuatku yakin untuk berbagi denganmu.

Baiklah.

Seiring datangnya waktu menemani dua insan di tepi sebuah osean, aliran kisah menjumpai jalan keluar dari bibir seorang Tay Tawan. Sesuai ucapnya, insan berkulit putih dengan setia mendengarkan.

Tengah malam, beberapa jam yang lalu. Untuk kali pertama, Tay bisa tidur tanpa terganggu oleh suara dengung sayap serangga bernama nyamuk. Suatu hal yang ganjil namun juga disyukuri oleh si lelaki bersarung biru. Tay pikir, mungkin populasinya sudah berkurang karena selalu ia buru habis jika akan tertidur lelap.

Rasa gerah juga tidak mendominasi pada malam ini, itulah mengapa Tay bisa begitu nyaman melalang buana di alam mimpi. Bunga tidur yang indah, tentang sebuah arti kebebasan dalam hidupnya. Visual terjalin erat oleh dunia metropolis yang sangat dirindukan. Adrenalin begitu nyata mengalir dalam darah. Sudah cukup lama tidak ia rasakan.

Namun, kebahagiaan hanya berlaku temporer hingga ‘badai’ itu datang.

Panorama sekitar berganti, menjadi gelap gulita. Tay seakan buta dan rasa panik merasuk dalam jiwa. Tidak ada cahaya satu pun di dalamnya.

Hening, suara napas diri sendiri bisa terdengar dengan jelas. Sampai kemudian, vokal yang sangat dibenci oleh Tay, muncul bagai jeritan keras bergema pada gendang telinga. Seluruh cakap kedua orang tua penuh intonasi hina terlontarkan. Remeh-temeh perbandingan membuatnya muak lalu menutup kuping dengan telapak.

Linu dan pilu, Tay bersimpuh lemas dengan wajah lara. Ia benci ini semua, berharap segala kengerian cepat berakhir. Tay hanya bisa memohon kepada Tuhan—beberapa kali merapal, agar ia dibangunkan dari cekam ilusi tidak tertahankan.

“Lalu, aku bangun dengan tubuh berkeringat dan napas tersenggal-senggal.” Lelaki bersarung biru menghela napas gusar. “Itulah mengapa aku datang larut malam.”

New terdiam sesaat, kedua manik legamnya menatap penuh empati. “Aku harap, itu hanya bunga tidur un—“

“Aku pun berharap demikian, New. Jika memang bisa,”

“Kenyataannya, hal yang kau anggap hanya sebuah mimpi, memang benar-benar terjadi padaku.”

“. . .”

“Aku … tidak tahu harus bagaimana.”

“Tidak apa-apa.”

“Maafkan aku, Tay. Seharusnya, aku tidak memintamu bercerita di awal. Kau jadi membuka luka lama.” Belah ranum si berkulit putih melengkung penuh penyesalan.

Luka itu, tidak pernah menutup sejak aku dilahirkan, New. “Kau tidak salah. Tidak perlu meminta maaf.”

“Tapi kan—“

“Boleh, aku lanjut bercerita?”

“. . .”

“Kalau begitu, aku akan jadi pendengar yang baik untukmu malam ini.”

Dialog dini hari kembali mengudara bersama hati lelaki bersarung biru—sempat terselimuti rasa gundah, dan New Thitipoom sendiri juga tengah diam bak penyimak yang unggul.

Kehidupan Tay Tawan jika dilihat dari sudut pandang luar, sama seperti kebanyakan keluarga metropolis lainnya. Sandang memukau, pangan amat cukup, dan papan yang berada di jantung ibukota—distrik hunian elit.

Tay tumbuh dalam lingkungan serba berkecukupan, dan hal ini tentu ia syukuri. Tanpa kerja keras orang tua, Tay tidak mungkin mempunyai hidup yang seperti ini.

Edukasi dijunjung tinggi dalam keluarga mereka. Tay selalu mendapat sekolah terbaik untuk pendidikan, begitu juga dengan dua saudara kandungnya yang bahkan bisa mengambil studi lanjut di luar negeri. Sekarang mereka berdua, telah menempuh jalannya masing-masing. Sedangkan Tay sendiri masih berkuliah. Namun, sedang ambil cuti.

Ibarat kata di mana dunia memiliki dua sisi berbeda, hitam dan putih. Begitu juga kehidupan Tay yang sesungguhnya ia rasakan.

Tay Tawan beranggapan bahwa tempat tinggalnya sekarang, tidak pantas disebut sebagai ‘rumah’. Bukan sebuah tujuan untuk kembali pulang, dan istirahat sejenak dari hiruk-pikuk aktivitas. Perumpamaan perang dunia ketiga mungkin lebih pantas disematkan.

Terdengar hiperbola? Namun bagi Tay, memang begitulah realita hidup yang ia jalani sekarang. Jauh dari kata bebas, jiwa dan raga telah dipenuhi aturan sejak kecil.

Tay tidak suka, bagaimana kedua orang tua selalu memilihkannya arah hidup yang tidak diinginkan. Paksa demi paksa membuat lelaki itu lelah untuk menuruti permintaan mereka. Kedua orang tua Tay sering disibukkan dengan berbagai hal menyangkut dunia bisnis—jarang berada di rumah. Ia pun mulai mencari arti dari sebuah ‘kebebasan’ yang sebenarnya, terjun ke dalam dunia penuh adrenalin.

“Aku bermain papan seluncur.”

New memiringkan kepala, terdengar asing dengan hal itu. “Apakah sama dengan yang dimainkan saat gelombang air naik?”

“Bisa dibilang begitu. Tapi bedanya, ini beroda, dan tidak bisa dimainkan di atas samudra. Medan yang dipakai adalah dataran.”

“Oh, baiklah.”

”. . . Kau terdengar, seakan-akan belum melihatnya.”

Insan berkulit putih mengangkat sekilas kedua bahu. “Memang.”

“Sungguh?” Tay bertanya dengan mata membulat. “Ya ampun, bagaimana bisa?”

“Di sini, tidak ada yang memainkannya.”

Papan seluncur, atau yang biasa rakyat awam katakan sebagai skateboard, adalah arti dari kebebasan untuk Tay.

Pertama kali jatuh hati pada benda itu, ketika ia sedang berkeliling di malam hari yang sunyi seorang diri. Kemudian saat Tay melewati sebuah taman, gendang telinganya mendengar sesuatu seperti roda bergesekkan dengan aspal yang ia tengah tapak. Kepala menoleh, dan di sanalah Tay melihat beberapa orang tidak dikenal, sedang melakukan banyak hal dengan papan beroda.

Vokal ketika kayu itu terinjak oleh sol sepatu tebal si pengguna, menimbulkan sesuatu yang tidak pernah dirasa oleh Tay sebelumnya. Sebuah gejolak kepuasan dalam jiwa.

Klise, jika ditelaah lebih lanjut. Karena nyatanya, Tay seakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Sejak kala itu, ia mulai terjun semakin dalam. Tidak ada yang tahu-menahu tentang hobi barunya ini, bahkan kedua orang tua sekali pun.

Tay mempelajari segala hal seorang diri, mulai dari mencari info, koneksi dengan klub terkait, bahkan papan seluncur itu ia beli dengan uang tabungan sendiri. Semua dilakukan olehnya secara diam-diam. Tay sudah bisa menebak bagaimana Ayah dan Ibu akan berucap ketika anak bungsu mereka, justru bermain-main dengan sebilah papan yang terinjak.

Hal tersebut hanya berlaku jika Tay dipergoki. Bayang pada pikiran tergambar jelas, dan ia sangat berharap skenario film itu tidak terjadi.

“Takdir berkata lain, dan mereka mengetahuinya,” ucap Tay selagi berbaring di atas dermaga, salah satu lengan sebagai bantal kepala. Manik cokelatnya menatap angkasa yang mulai terlihat cerah.

“Apakah mereka … melakukan sesuatu? Seperti, mengambil papan seluncur itu?”

“Tidak. Mereka tidak mengambilnya.”

“Syukurlah.”

“Aku tidak mensyukuri, bagaimana setelah itu ucapan perbandingan antara aku dan kedua kakakku dikeluarkan dari mulut mereka,”

“. . .”

“Orang tuaku begitu, New. Hiperbolanya, mereka selalu mengagung-agungkan kedua kakakku. Entah itu masalah pendidikan, prinsip hidup, perilaku, dan lain-lain. Hal itu membuatku terkadang muak sendiri,”

“Aku tidak membenci kedua kakakku. Aku tidak menolak segala fakta bahwa mereka mendekati ‘sempurna’. Lagipula, hal itu patut diapresiasi karena mereka melakukannya dengan usaha yang bukan main-main. Kedua orang tuaku, bangga pada mereka.”

“Tapi, kau tidak diperlakukan setimpal oleh orang tuamu?”

Tay mendengus lalu tersenyum kecut. “Mirisnya, tidak.”

Alhasil, analogi kisah bagai perang dunia benar-benar terwujud, dan menjadi penyebab bagaimana si lelaki bersarung biru singgah di pulau kecil ini.

Ada suatu perdebatan antara Tay dan orang tuanya yang dalam hitungan waktu saja, berubah semakin panas. Sekujur tubuh dan akal sehat Tay sudah tidak kuasa menahan gelegak sentimen dalam diri.

Kemudian, munculah kata-kata yang seharusnya tidak terucap dari ketiga orang penuh amarah. Bilah kaca pecah begitu nyaring di telinga, menyusul kemudian. Suara pintu dibanting keras, membuat beberapa pelayan dalam griya mereka terkejut.

Begitu juga dengan Tay, langsung angkat kaki dari penjara kehidupannya. Papan seluncur biru dibawa dan tangis pun tumpah seiring lelaki itu menelusuri jalan, angin berhembus pada wajah seakan ingin mengusap bulir penyesalan yang datang tiba-tiba.

“Aku asumsikan, setelah kau pergi kemudian kembali ke rumah—“

“Penjara.”

“Kembali ke rumah yang kau sebut penjara, maksudku.” New menghela napas, sudut bibirnya terangkat sedikit. “Suasana sudah mendingin, lalu datanglah keputusan paksa memaksa yang membuatmu terdampar di sini. Begitu?”

“Terdampar? Oh, ya ampun. Kau pikir aku ini ikan atau apa?”

Siapa sangka hanya karena satu kata tertentu, Tay yang sedari tadi berwajah keruh mendadak terkekeh. Laut kecokelatan pada mata hilang sejenak, kelopak menyipit. Senyuman berbentuk hati muncul di bibirnya.

New dibuat heran, ia bahkan harus memutar tubuh untuk melihat tingkah laku lelaki bersarung biru. Namun, di saat yang sama, pemandangan itu juga membuat insan berkulit putih tersenyum simpul.

Hati New Thitipoom dibuat hangat oleh gelak itu. Tawa yang diam-diam ingin ia dengarkan sepanjang hari pula.

“Benar, tidak? Kau jangan tertawa saja, Tay,” tanya New kemudian berdecak menatap lelaki bersarung biru, masih terbaring santai. “Padahal jika dipikir-pikir, kata ‘terdampar’ tidak selucu itu.”

Tay bangkit dari posisi baringnya, lalu duduk berhadapan dengan New. Kedua manik mereka, sekali lagi bertemu dalam satu garis lurus. “Kalau kau yang mengatakannya, segala hal akan menjadi lucu.”

“Oh? Apakah itu pujian atau sebuah cemooh? Aku merasa tersinggung,” ucap New sengaja mendramatisir. Lengkung sabit nampak bertingkah jahil.

“Tentu saja pujian. Kau memang lucu.” Lafal terucap lembut dari bibir seorang Tay Tawan. Pandang tidak terlepas dari indahnya kelegaman samudra pada ain milik New.

Insan berkulit putih memutus kontak mata mereka. “Kau … ada-ada saja.”

Tanpa terasa, dialog mereka telah berlangsung hingga sang surya mulai menampakkan diri di batas horizon bumi. Kedua degup jantung saling bersahutan di balik dinding tulang rusuk. Tidak dapat didengar oleh mereka, namun Tay dan New bisa merasakannya—hangat.

Lelaki bersarung biru merasa lega ketika seluruh hantu pikiran telah pergi dan tergantikan oleh manisnya momen bersama matahari terbit. Tidak lupa dengan sosok bernama New Thitipoom sebagai pelengkap poros keindahan yang selalu Tay kagumi, sejak awal pertemuan di atas tepi dermaga mengarah samudra.

Dari kuriositas, menjadi filantropi perasaan yang tidak dapat dielak lagi.

“New.”

“Iya?”

“Bagaimana dengan kisahmu sendiri?”

”. . .”

“Mari kita simpan perihal itu untuk esok lusa.” Insan berkulit putih tersenyum penuh arti. Manik terpejam ketika cahaya kuning mulai merasuk pada indera penglihatan.

Lelaki bersarung biru masih menatap New dengan binar yang sama, ketika ia pertama kali melihat papan seluncur di taman dahulu. “Kenapa?”

“Karena saat ini, sang surya hanya ingin mendengar kisah dari perjalananmu. Tay Tawan.”


Kisah kehidupan New Thitipoom dimulai malam ini, dan lelaki bersarung biru tidak sabar untuk menyimak.

Sudah sekian menit Tay berjalan hilir-mudik di dalam griya singgah, tidak bisa diam. Gerak hati berucap senang karena pucuk dari rasa ingin tahu segera terbayar. Bayangkan saja, lelaki itu telah menunggu berhari-hari dengan angan selalu bertanya entah kepada siapa. Sosok yang di awal adalah suatu kemisteriusan, akhirnya bersedia membongkar segala bentuk enigma terkunci.

Namun, ada saat pula ketika akal sehat Tay bertemu celah kekhawatiran ganjil. Ia tidak akan tahu apa yang kelak menantinya. Bisa saja ucapan New kemarin hanyalah omong kosong untuk menyenangkan hati berlipur gundah. Tidak ada satu pun yang tahu, karena semua berpeluang terjadi.

Untung saja, Dewi Fortuna sedang berpihak pada Tay Tawan. Peluang pertamalah yang muncul ke permukaan dan siap melayang jauh bersama akal penasaran. Si insan berkulit putih, telah menepati janji tak terucapnya.

“Siap mendengarkan dongeng dariku, Tay?” New bertanya kepada lelaki bersarung biru ketika mereka sudah bertempat di atas tepian segara.

Oh, lebih dari siap. Kau tidak tahu tentang itu. “Kau pikir, aku anak kecil yang dininabobokan sebelum tidur?”

Tawa kecil muncul dari vokal New. “Itu hanya sebuah perumpamaan.”

“Tidak masuk akal.” Sudut bibir Tay terangkat samar. “Dongeng adalah fiksi, sedangkan cerita perjalanan hidup adalah realita.”

“Tapi kau tahu 'kan, seluruh dongeng di semesta ini, terinspirasi dari realita yang ada?”

“. . .”

“Terserah kau saja.” Lelaki bersarung biru memalingkan wajah. Kedua manik cokelatnya bertemu dengan visual pesisir pantai. Lautan pasir putih tertabrak oleh gelombang air.

“Biar aku bertanya sesuatu padamu,” ujar New tanpa mengalihkan pandang dari para nelayan di atas kapal pencari ikan. “Apa pendapatmu tentang makhluk mitologi, Tay?”

Kenapa dia … membawa topik itu? “Tiba-tiba sekali,” Tay berucap seraya memfokuskan tatap pada sisi kiri tubuh New. Sepasang alisnya berkerut heran.

Kedua bahu insan berkulit putih terangkat cepat. “Hanya ingin tahu.”

Aneh. “Pendapat seperti apa?”

“Anggap saja, ada satu kondisi di mana kau memiliki teman yang mengaku pernah melihatnya.”

“Iya, lalu?”

“Apa kau akan percaya?”

“Hmm…” Tay terdiam sesaat. “Tidak.”

“Alasannya?”

Terdengar suara helaan napas dari lelaki bersarung biru. “Satu hal yang harus kau ketahui tentang aku, adalah akal sehat selalu menang pada diriku,”

“Aku tidak akan percaya tentang eksistensi makhluk yang bahkan untuk dijelaskan saja sudah sukar. Tidak pernah ada bukti valid mengenai hal yang ‘kata mereka’ adalah penemuan itu. Bagiku, semuanya masih asumsi belaka. Mereka terlalu melebih-lebihkan fakta tersebut hingga masyarakat menjadi percaya,”

“Jadi kau tidak percaya?” tanya New yang dijawab anggukan singkat oleh Tay. “Walaupun, kau melihat dengan mata kepala sendiri?”

Aku yakin ada yang tidak beres. “Sebentar, New.” Dialog mereka terhentikan oleh lelaki bersarung biru, tiba-tiba saja duduk menghadap pemuda di sampingnya.

Atensi insan berkulit putih sekarang tertuju pada Tay. Lengkung sabit pada bibir menghiasi rautnya. “Ada apa?”

“Pembicaraan ini, apa korelasinya dengan kisah kehidupanmu?”

Tay Tawan benar-benar dibuat bingung oleh lelaki di sampingnya.

Di awal rencana, imaji menciptakan ekspektasi bahwa malam ini, seluruh teka-teki seorang New Thitipoom akan terjawab. Sudah telanjur senang ketika Tay mendengar ucap dari insan putih tersebut menanyakan kesiapan dari dirinya.

Namun sekarang, apa yang didapat? Justru misteri baru yang mungkin saja ingin menghantui pikiran Tay lebih dalam. Bisa dibilang terkesan tiba-tiba, dan tentu saja asing.

Ada sesuatu yang tidak lelaki bersarung biru pahami tentang makna dialog kali ini. Tay dihadapi oleh banyak pintu kemungkinan tepat di depan mata, dan entah dari sekian itu manakah yang benar. Satu di antaranya adalah hakikat dari hal yang tidak dipercaya oleh Tay. Tetapi, bagian ini hanya sepersekian persen memenuhi akal sehat. Tentu kalah jauh, dari entitas nyata lainnya.

Ternyata, Tuhan tidak memberi Tay waktu beristirahat dari pikiran was-was.

Lantunan irama tidak dikenal masuk dengan sopannya menuju gendang telinga milik Tay. Suara mendayu-dayu bagai samudra yang berombak tenang, terdengar merdu sekali. Vokal itu bersumber dari belah ranum New, sedang bersenandung dengan mata terpejam. Kedua pasang kakinya menemukan tempat di dalam kelegaman segara.

Tay berani bersumpah bahwa irama itu adalah terindah dari yang pernah ia dengar. Sukma dan jasmani seakan disihir secara magis untuk kembali tenang seperti air mengalir. Lelaki bersarung biru kembali jatuh pada keteduhan sebuah tepi dari dermaga, dengan mantra tidak dikenal milik insan berkulit putih.

Musik itu terhenti, dan hening kembali menyelimuti. Tanpa sadar, kedua manik Tay juga ikut bersembunyi di balik kelopak. Saat visual kembali sedia kala, New masih ada di sampingnya. Seakan baru sadar dengan apa yang terjadi, Tay sedikit terperanjat oleh realita. “A-Apa yang baru saja kau lakukan?” Lelaki bersarung biru bertanya gugup. Mata membulat sempurna.

“Bernyanyi,” jawab New singkat.

Tay menyisir rambut dengan jari-jari, sedikit mencuat ke berbagai arah. Tubuh tidak lagi sepenuhnya berbalut sarung biru. “Kau yakin? Bagiku, itu terdengar seperti mantra sihir!”

Insan berkulit putih meletakkan jari telunjuk di atas bibirnya. “Pelankan suaramu,” bisik New.

“Bagaimana bisa aku bicara pelan, jika yang kau lakukan tadi sungguh membuatku terkejut!” ujar Tay seraya menatap lelaki di hadapannya dengan tilikan memicing. “Katakan padaku, apa yang ingin kau capai dari pembicaraan kita.”

“Aku akan membuatmu percaya.”

“Percaya? Percaya apa?”

Lengkung sabit di awal bulan muncul begitu manis pada wajah New. “Mari kita lihat.”

Lelaki bersarung biru segenap hati tidak tahu apa yang sudah menantinya.

Beberapa saat setelah kalimat itu terucap dari bibir New, dari kejauhan terdengar suara samar para nelayan beramai-ramai menunjuk lautan. Hal ini tentu menarik perhatian Tay. Fokus pandangnya juga ikut ke arah mana para pencari ikan itu menunjuk.

Dan di sanalah, tepat tiga puluh meter dari kapal nelayan, berkumpul sekelompok hewan air berwarna hitam dan putih sedang mengarungi samudra. Kawanan paus orca, berisi setidaknya 10 hingga 15 ekor. Fenomena ini tentu membuat siapa pun yang melihat akan terpana, atau setidaknya merasa kagum akan kehadiran mereka—serempak datang bersama.

Namun, tidak berlaku untuk New Thitipoom, menjadi satu-satunya di lingkup pantai, memandang peristiwa tersebut bagai suatu hal yang lazim terjadi.

“New…” Tay memanggil insan di sampingnya. Kepala ditolehkan perlahan. “Jangan bilang kau ya—“

“Benar, Tay. Akulah yang memanggil mereka lewat nyanyian tadi, untuk datang kemari,”

“Dan aku adalah bagian dari makhluk mitologi yang tidak kau percaya. Seorang siren, atau biasa dikenal sebagai duyung.”

“. . .”

“Oh, Ya Tuhan. Tenggelamkan aku sekarang juga.”

Enigma kisah dari New Thitipoom secara perlahan mulai terkupas, dan Tay Tawan masih tidak menyangka dengan apa yang baru saja terjadi.

Ekspresi lelaki bersarung saat ini sudah tidak berbentuk lagi. Syok, heran, kagum, asing. Segala buncah perasaan tersebut membuat batin serta angan Tay dipenuhi oleh berbagai perihal abstrak.

Indera pendengaran masih terngiang bagaimana vokal New dengan halusnya bersenandung, memanggil sekelompok paus orca tadi. Detak jantung berdegup pesat, dan Tay pikir, bisa-bisa ia terkena serangan jantung setelah sekian kalinya dibuat tercengang.

Terjadi sebaliknya pada New, sebuah senyum lebar terwujud pada wajah. Legamnya samudra pada mata insan berkulit putih nampak berbinar di bawah cahaya purnama. Dua pipi berisi miliknya memerah, akibat gemas melihat mimik wajah Tay masih tidak berubah. Terbelalak dengan bibir sedikit dibuka.

“New, katakan padaku, bahwa kau hanya bercanda,” ucap lelaki bersarung biru kemudian. Suaranya tidak terlalu jelas karena wajah ditutupi oleh kedua tangan.

Insan berkulit putih memunculkan gelak tawa.

Wajah diusap cepat oleh Tay Tawan, lalu kepala mendongak. Tatapan manik cokelat tentu membuat New terdiam. “Aku serius, New. Itu sungguh tidak lucu. Katakan padaku, bahwa ini hanya mimpi atau lelucon saja.”

“Apa perlu aku melakukan sesuatu padamu?” New bertanya lembut.

“Jangan!” Tidak disangka seruan Tay justru membuat New kehilangan setitik binar bahagia pada matanya. “Eh, m-maksudku—“

“. . . Kau takut padaku, ya?” Insan berkulit putih bertanya dengan lirih. Jari-jari tangan meremat ujung dari kayu dermaga, tersembunyi.

Oh, sial. “Tidak, tidak. Bukan begitu.”

“. . .”

“New, dengar ya. Jika memang takut padamu, detik ini aku sudah menghilang dari dermaga lantas pulang kembali ke rumah singgah. Kau akan berakhir sendirian, dan percakapan ini tidak mungkin terjadi,”

“Aku hanya … membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan segala kenyataan yang ada. Kau baru saja bernyanyi untuk memanggil kawanan paus pembunuh, lalu setelahnya, kau mengakui diri sendiri sebagai seorang siren. Bagaimana mungkin aku tidak terkejut?”

“Apalagi di awal dialog kita membahas makhluk mitologi, sesuatu yang tidak aku percaya. Kemudian boom! Kau bagian dari mereka.”

New menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Cengiran lucu nampak jelas di wajah.

“Aku pastikan sekali lagi. Kau benar-benar seorang duyung, New?”

Lelaki yang ditanya mengangguk beberapa kali.

“Lalu, mengapa kau tidak memiliki ekor?”

Helaan napas terdengar dari arah New Thitipoom. Kedua telapak yang semula bergerak bebas di atas permukaan air, terhenti. Tay bisa melihat dengan jelas bagaimana kilat pada manik indah New perlahan meredup, tilikannya menerawang jauh ke dasar osean yang dalam.

“Aku menukarnya dengan kaki,” ucap insan berkulit putih dengan suara sehalus kapas.

Menukar? “Kenapa? Bukankah berenang jauh lebih baik dari pada melangkah?” tanya Tay dengan rasio penuh tebakan. Lelaki itu mendekatkan jarak agar dapat dengan jelas mendengar vokal ringan milik New. Mereka berhadap-hadapan. Kedua kaki Tay bersila.

“Salah satu mimpiku, adalah menjelajahi dunia, Tay,”

“Dan aku tidak bisa meraihnya, jika tidak punya kaki. Ekor hanya membawaku berenang bersama air, dan hanya lautan. Sedangkan dunia yang dibuat oleh Sang Pencipta sangatlah luas. Mana mungkin aku bergerak di darat dengan wujud seperti setengah ikan. Mustahil.”

“Bagaimana dengan mencelupkan kaki ke dalam air? Aku yakin ada alasan di balik itu.” Dan dia bilang waktu itu bahwa kebiasaan tersebut bukanlah apa-apa. Oh, New, aku tidak mengerti jalan pikirmu.

“Air sudah seperti jiwaku, dan kami tidak bisa dipisahkan. Aku melakukannya sebagai obat pelepas rindu terhadap samudra.” Manik legam New Thitipoom bersua kembali dengan segara cokelat milik Tay, menatapnya nanar berkaca-kaca seraya tersenyum tipis. “Aku sangat merindukan rumah. Aku ingin pulang.”

Kali ini, lelaki bersarung biru menikmati bagaimana dialog mereka terasa begitu syahdu. Visual dibuat takjub oleh poros keindahan pesisir pantai—insan berkulit putih di depannya.

Tay menyukai bagaimana ia seakan ditarik oleh pesona kedua manik segelap langit malam. Bulu mata New yang menyapu lembut pipinya saat berkedip, terlihat seperti boneka hidup. Hidung mungil serta bibir semerah ceri. Entah sudah berapa kali Tay Tawan mengucap syukur kepada Tuhan, tentang beruntungnya ia bertemu makhluk seindah ini.

Belum ada yang seperti New dalam kehidupan lelaki bersarung biru, bisa membuatnya terpana hanya dengan berbagi momen bersama dalam masa tergolong singkat. “Kenapa tidak?” Tay bertanya setelah diselimuti hening sementara waktu.

“Kehidupanku tidak sama lagi sejak—“

“New, sebentar.”

Angin berhembus cukup kencang, dan hal ini membuat rambut mereka sedikit berantakan. Insan berkulit putih tidak sadar akan helai yang jatuh di atas dahi. Entah rasa apa yang merasuki tubuh Tay, tiba-tiba saja tangan kirinya menemukan jalan lalu menyibak poni tersebut gamblang.

Tepat di waktu itu, empat mata dan dua hati saling singgung di sebuah momentum interaksi mereka. New yang menyadari sikap Tay, hanya bisa mematung akan afeksi sederhana itu. Sedangkan lelaki di hadapannya, menyimpulkan senyum hangat bagai matahari terbit di awal musim semi.

Belah bibir Tay tergigit ketika sadar dengan apa yang baru saja dilakukan. “Maaf, aku tidak bermaksud lancang. Helai itu membuatku salah fokus.”

“Kutukan…”

Kutukan? Apa maksudnya?

Tay mengibaskan salah satu tangan di depan wajah New. “New?”

Kelopak mata insan berkulit putih mengerjap, kemudian tersadar oleh keadaan manis yang baru saja terjadi. “Ah! Maafkan aku, Tay. Iya, tidak apa-apa.”

“Kutukan.”

New Thitipoom membulatkan mata. “A-Apa?”

“Kehidupanmu tidak sama lagi sejak kutukan. Itukah yang kau maksud?”

Bahana deburan ombak begitu keras pada sisi kiri dermaga, membuat Tay terlonjak dari duduk. Saking terkejutnya, ia tidak sadar bahwa satu bagian sandal yang sedang dipakai, terjatuh ke lautan.

Reaksi Tay? Tentu panik.

Bagaimana tidak, lelaki bersarung biru sudah tidak punya lagi cadangan di rumah singgah—mengingat hanya ada sepatu bersol tebal miliknya. Tay menengok ke bawah dengan penuh harap bahwa sandal tersebut bisa ditemukan. Namun, samudra sedang bergejolak kuat tidak biasa, membuat segala bentuk benda dapat tertelan begitu mudah.

Kedua manik si bersarung biru hanya mendapati buih segara meletup-letup kecil. “Sial! Semua ini karena ombak tadi. Keras sekali hingga membuatku sangat kaget. New, bagaimana—Kau menatap apa?”

Netra Tay Tawan kembali bertemu dengan insan berkulit putih, tengah melamun.

Lelaki bersarung biru mengikuti arah pandang New dengan paras heran dan alis berkerut. Tilikan itu tertuju pada satu titik cahaya, terombang-ambing oleh beriak lautan yang ganas. Seorang nelayan tengah berjuang sendiri dalam menjaga kestabilan sampan miliknya. Bahkan, jika dilihat dari ombak yang terus bergejolak, tinggal menunggu waktu saja agar cekung kayu itu terbalik.

Peristiwa ini membuat Tay segera bangkit dari duduk, berdiri tanpa sebelah pasang sandal. Hasrat ingin memberi bantuan secara tiba-tiba muncul. Sejenak lelaki bersarung biru tersebut lupa akan fakta bahwa sandal miliknya sudah hanyut ke dalam laut.

Kata New, laut adalah jiwanya. Apakah dia tidak bercanda? Samudra sedang marah saat ini!

Sandalku hilang, nelayan itu butuh pertolongan. Apa yang harus kulakukan?

Eh, New duyung bukan? Seharusnya bisa membantu dengan sihir-sihir yang dia punya, siapa tahu mengerti bagaimana cara membuat air kembali tenang.

Akan tetapi, ketika lelaki bersarung biru menoleh, New Thitipoom sudah tidak lagi berada di sampingnya. Insan berkulit putih itu berjalan mundur—sudah di tengah dermaga entah sejak kapan—seraya menutup mulut dengan salah satu tangan. Kedua mata membelalak, dan dari gestur tubuhnya, ada gelagat panik yang tersirat.

New terlihat begitu takut, sepintas nampak gemetar. Kedua telapak tanpa alas kaki berjalan dengan gesekan pada kayu dermaga tepi samudra.

Tay semakin kalang-kabut dan pikirannya dibuat rusuh oleh berbagai realita yang ada. Kepalanya beberapa kali menoleh antara air di bawah sana, nelayan, dan New. Jari-jari tangan kiri membuat rambut berantakan, sedangkan yang lain mengangkat sarung agar tidak terkena titik air laut.

“Tay, aku harus pergi.”

Samar tapi nyata, Tay Tawan bisa mendengar jelas bagaimana kalimat itu terucap oleh New. Jarak antara mereka berdua cukup jauh, bahkan ombak masih berdebur keras mengalahkan suara bayu berhembus.

Magis, tapi Tay tidak peduli. Seakan telah memilih takdir dan tujuan, lelaki bersarung biru mengambil keputusan untuk mengejar sosok berkulit putih yang sekarang berdiri di kayu awal dermaga.

Namun, baru saja Tay menoleh kembali setelah tatap bertemu samudra, sosok New Thitipoom mendadak lenyap bak ditelan oleh bumi lautan semesta.


Semenjak fenomena gelombang samudra, New Thitipoom tidak pernah kembali, dan Tay Tawan menjadi sosok penyendiri di tengah teduhnya pesisir pantai.

Waktu mengubah segalanya, entah secara tiba-tiba, atau direncanakan. Tidak ada yang pernah benar dalam menebak keinginan sebuah waktu. Hanya saja, Tay Tawan tahu bahwa waktu telah menjadi penyebab dari seluruh kegundahan hati dan pikirannya.

Sosok insan berkulit putih telah hilang.

Lelaki bersarung biru tidak pernah ditemani lagi oleh poros keindahannya dalam lingkup pesisir pantai, membuat hati terasa begitu abstrak. Pola kejadian bergerak terlalu cepat, dan hal ini membuat Tay susah percaya bahwa New memang tidak akan pernah kembali menemaninya.

Hakikat begitu menyakitkan, ketika lelaki bersarung biru pergi menuju tepi dermaga untuk yang kesekian kalinya dalam beberapa waktu—selalu malam hari, tepat pukul dua belas.

Semua masih terlihat sama. Refleksi bulan pada samudra terlihat berkelap-kelip. Angin malam masih berhembus sejuk dari darat menuju laut. Konstelasi bintang saling menyambung di angkasa, tanpa awan mendung bergumpal.

Sarung biru favoritnya yang selalu ia pakai, membaluti tubuh bagian atas Tay seperti biasa. Perbedaan tersurat bisa dilihat hanya pada telapak kakinya yang tidak beralaskan apapun. Sandal karet biru sudah Tay potong kecil lalu berakhir di pembuangan sampah, ia pikir akan sia-sia juga memakai sebelah saja.

Kekosongan eksistensi baru terasa ketika Tay sadar, bahwa ia sudah terbiasa dengan pemuda berkulit putih.

New muncul bagai malaikat pelindung persis di kala rasa benci masih memuncak pada kehidupan baru. Momen mengikat erat dialog mereka dan menjadikannya sangat bermakna oleh detail-detail berharga. Sosok itu adalah pendengar terbaik yang pernah Tay temukan, dan New membuat kehidupannya menjadi penuh harap akan sesuatu yang lebih baik.

Namun, lelaki bersarung biru itu ragu jika disamakan oleh kondisi waktu kini. Tay tidak tahu apakah harapan tersebut masih berlaku. Semua sudah terlambat, karena semesta seperti sedang melucu dengan Tay.

Bulir bening menggenang pada pelupuk manik kecokelatan, ikut serta menjadi saksi bisu kesedihan yang dialami Tay Tawan. Rasa sesak di dada menyusul dan seluruh memori indah bersama New mendadak datang bagai bom waktu yang diledakkan. Bentuk-bentuk penyesalan pun memenuhi angan.

Tay tidak dapat membendung perasaan ingin menyalahkan diri sendiri atas kepergian New.

Andai saja lelaki bersarung biru bisa memutar-balikkan waktu, ia ingin sekali menghilangkan sisi kuriositas dalam dirinya. Namun apadaya, percuma saja Tay menyesali hal itu. Insan berkulit putih juga tidak akan pernah kembali, walau sebesar apapun usaha dalam mencarinya.

Hingga waktu lelap tiba, ketika Tay sudah memejamkan mata, sosok berkulit putih itu masih menghantui bayangnya. Tanpa berganti baju lebih dahulu, lelaki bersarung biru pun tertidur dengan tangis dan sesak yang belum mereda.

Ini menyakitkan untukku, New. Aku merindukanmu.

. . . Kumohon, kembalilah.


Cahaya mentari pagi menyambut hampanya kalbu Tay Tawan, melalui jendela kamar yang sunyi.

Lelaki bersarung biru menghirup banyak udara, baru saja bangun dari tidur panjangnya. Pukul 10.20 pagi. Mobilitas warga bisa dirasakan ketika ia mendengar sayup-sayup dialog di luar sana. Kedua manik cokelat enggan muncul di balik kelopak, berat sekali untuk membuka. Tay mengerang kesal akibat sinar matahari kelewat terik, dan mau tidak mau ia duduk dari posisi terbaring.

Sebelum membuka mata, lelaki itu sudah menebak betapa aib penampilannya sekarang. Satu hal yang sudah jelas, manik merah dan bengkak serta rambut mencuat ke segala arah. Asumsi itu dibenarkan oleh layar ponsel milik Tay sendiri ketika bercermin. Lelaki bersarung biru memang terlihat buruk, seperti baru saja andil dalam pembangunan jembatan antar pulau seorang diri.

Tay tidak punya agenda untuk dilakukan di pagi menjelang siang, sehingga ia tidak kunjung pergi mandi setelah bangun tidur. Hanya berbekal menyisir rambut dengan jari-jari lalu muka dibasuh kilat, Tay sudah siap menyambut hari—tidak peduli penampilan lusuh.

Segala hal bak tiada arti peduli, sejak sumber enigma perkara samudra luput dari pandangan. Figur tubuhnya bukan apa-apa jika dibanding dengan hati yang penuh atas lara dan nestapa, masih saja dihantui.

Lelaki bersarung biru menghela napas gusar, berdiri perlahan, lalu berjalan keluar dari rumah. Batin sudah berniat agar setidaknya mengisi perut terlebih dahulu, sebelum kembali merenungi pahit realita yang terjadi.

CKLEK! DUK!

Sebuah objek jatuh menimpa kaki Tay ringan kemudian tergeletak di atas kayu teras griya singgah. Kepala tertunduk lalu mendapati sepucuk surat berwarna kuning lusuh dan sebuah kalung dari cangkang kerang. Ada guratan inisial ‘T’ di bagian depan.

Karena kesadaran belum sepenuhnya utuh, Tay menoleh ke kanan kiri. Prasangka membuat celah dalam segala kemungkinan yang ada. Lelaki bersarung biru pikir, seseorang tidak sengaja meninggalkan dua benda tersebut.

Kedua tangan meraih kemudian diamati oleh keredupan manik cokelat milik Tay. Baru ketika ia melihatnya dari dekat, sesuatu tertulis dengan gestur kasar pada ujung surat.

Untukmu, Tay Tawan, dengan segala harapan mengenai enigma di balik samudra.

Ain cokelat milik lelaki bersarung biru otomatis membulat. Tentu saja ia tahu siapa pengirim surat ini.

Nafsu makan hilang dengan cepat, tanpa perlu berpikir dua kali, langsung saja Tay kembali lagi ke kamar dan duduk di atas ranjang. Kalung kerang diletakkan, surat kuning tersebut dibuka perlahan. Di dalamnya, berisi beberapa kertas dengan tulisan tidak rapi namun masih bisa dibaca. Bulat-bulat kecil nampak memenuhi pinggirannya, seperti sempat terkena air.

Bibir Tay tergigit saking gemetarnya jiwa dan raga atas hal yang menjadi pasti. Lelaki itu, akan bertemu dengan kunci menuju segenap pertanyaan pada diri seorang New Thitipoom.


Jika kau membaca ini, berarti kau sudah menemukannya.

Hai, Tay. Ini aku, makhluk mitologi yang sempat tidak dipercaya olehmu. New Thitipoom. Sesungguhnya, waktuku tidak banyak untuk menulis surat ini, tapi kurasa kau pantas mendapatkan jawaban dari segala tanya tentang kehidupanku.

Maafkan aku, karena sudah tiba-tiba pergi. Tidak seharusnya aku berlari begitu saja meninggalkanmu di tepi dermaga tanpa mengucap apa pun. Tapi, Tay, kondisilah yang mendesakku seperti itu. Aku tidak bisa tinggal diam di sana. Karena jika iya, nyawamu tidak akan selamat dari ombak yang akan datang seperti tsunami.

Ya, kau benar. Fenomena yang terjadi di malam itu bukanlah suatu kebetulan belaka. Ayahku, sang penguasa lautan, sedang melampiaskan amarahnya bersama samudra.

Ayah marah, karena aku telah mengucapkan sebuah kata yang tidak seharusnya diberitahu pada siapa pun. Mungkin, kau telah sadar akan kejanggalan ini ketika aku menggumamkannya.

Kutukan.

Aku tahu saat ini kau langsung teringat oleh kejadian di mana aku hanya terdiam mematung saja. Dan pasti, rasanya tidak mungkin untuk mempercayai kata itu bukan, Tay? Aku sangat mengerti bagaimana jalan pikirmu yang selalu berstandarkan “tidak ada bukti, tidak akan percaya”, maka yang aku lakukan adalah bernyanyi dan kelompok paus orca itu datang menjadi bukti.

Jadi, biarkanlah aku kembali membuktikan sesuatu padamu. Bukti yang juga adalah jawaban dari segala teka-teki.

Semua berawal dari sebuah tempat di dasar lautan, bernama Atlantis. Kota yang mana aku dilahirkan. Perkiraanku tidak jauh beda dengan metropolis duniamu. Teknologi modern, hanya saja sedikit berbeda karena seluruhnya terbenam dalam air.

Tidak ada manusia yang bisa melihat Atlantis. Dinding luar perkotaan sudah dilapisi oleh benteng tak kasat mata, sehingga seluruh makhluk dari daratan tidak dapat menemukan bangsa kami. Sebuah tindakan preventif, bisa dibilang. Andai saja, aku bisa membawamu kemari.

Seperti yang sudah kusebut, ayahku adalah seorang penguasa lautan berwujud duyung. Bukan raja, bukan petinggi. Mungkin, jika dibawa ke duniamu, mirip dengan Poseidon? Kira-kira seperti itu. Semoga saja aku tidak salah tulis. Kemudian ibuku, dia berbeda. Ibu berasal dari bangsamu, Tay. Dia adalah manusia. Mereka berdua jatuh cinta walaupun dunia seakan menolak akan hal itu.

Lantas, apa yang terjadi nantinya jika bangsa siren tahu, bahwa penguasa lautan memiliki hubungan dengan manusia itu sendiri?

Orang tuaku tetap bersikeras dalam mewujudkan hubungan tersebut, rasa cinta mereka sudah tidak lagi dapat dibendung. Akhirnya, ayahku membuat sebuah keputusan yang sangat besar dalam hidupnya. Ia mendatangi seorang penyihir secara tersembunyi, tanpa diketahui oleh satu ekor makhluk pun. Hanya ini satu-satunya cara untuk mewujudkan kasih sayang seorang penguasa lautan terhadap sosok insan yang dicintai.

Si penyihir sempat menertawakan sikap egois ayahku, bagaimana ia rela menurunkan harga diri ketika entitas bernama cinta itu datang. Namun, penyihir tersebut berkata bahwa ia akan mengabulkan permintaan ayahku dengan sebuah syarat dan perjanjian.

Perjanjian berupa, ketika nantinya Ibu mengandung sepasang anak kembar, salah satu dari mereka akan berwujud manusia. Kemudian, Ibu juga harus tinggal bersama anak manusia itu, jauh dari Atlantis. Mereka tidak bisa diketahui oleh siapa pun dari bangsa kami. Dan yang berarti, mereka akan menetap di darat.

Sedangkan syarat yang ditawarkan adalah, ayahku tidak boleh membuat Ibu menangis karena kondisi mereka yang berbeda alam. Jika hal itu terjadi, maka nyawa Ibu sendiri yang menjadi taruhannya. Hal ini sempat disangkal oleh Ayah. Tetapi, apa yang bisa dia lakukan, ketika sisi hati lainnya juga ingin mewujudkan afeksi itu sendiri. Setelah beberapa waktu, mereka berdua akhirnya setuju dan menikah.

Cinta membuat mereka berdua buta akan masa depan yang menanti.

Sesuai dengan tutur kata si penyihir, Ibu melahirkan sepasang anak kembar identik berbeda wujud. Aku, seorang siren, sedangkan kakak kembarku adalah manusia, bernama Thi Techaapaikhun.

Selain itu, sejak kecil kami juga diberikan kalung kerang berinisial “T” dan “N”. Namun, aku dan Thi memakainya berkebalikan. Aku dengan inisialnya, dan Thi dengan inisialku. Si penyihir tidak menjelaskan begitu lanjut mengenai fungsi kalung ini, hanya dianggap sebuah kado kelahiran untuk Ayah dan juga Ibu.

Awal perjalanan hidup terasa sangat membahagiakan bagi mereka, apalagi semenjak keduanya dikaruniai dua anak kembar. Walaupun terpisahkan oleh jarak, Ayah dan Ibu masih menyempatkan waktu untuk bertemu di sebuah dermaga tepi samudra, 3 hari sekali. Ibu juga tidak keberatan dalam mengasuh Thi sendirian di darat, dan Ayah juga sama dalam merawatku di Atlantis.

Kemudian, ada beberapa konflik yang semakin sering terjadi di kota kebangsaan kami. Aku lupa apa yang terjadi karena waktu itu aku sendiri masih tergolong anak kecil, tetapi masalah ini cukup parah, hingga membuat ayahku semakin jarang mengunjungi Ibu dan Thi.

Dari 3 hari menjadi 5, lalu seminggu, dan bulan. Hingga puncaknya, hanya setahun sekali. Ibu tidak tahu apa yang harus dilakukan selain kembali membesarkan Thi dan merenung di malam hari. Luap kesedihan itu ada, dan semakin hari terasa berat untuk ditahan.

Hingga akhirnya, satu bulir air mata jatuh dengan bebas, di saat Ibu menunggu Ayah hadir di tepi dermaga tersebut. Ayah datang terlambat, dan ketika sosok Ibu masuk ke dalam pandangan, kondisinya sudah tergeletak tidak bernyawa. Ibu sudah tiada.

Hati Ayah sangat hancur saat itu, ia sungguh marah dengan realita. Kesedihan juga seperti menggerogoti jiwa dan raga, membuatnya tidak berdaya lagi. Pernah saat itu, Ayah hampir saja membuat tsunami mengarah ke pulau tempat singgahmu, tetapi ia teringat akan eksistensi Thi di dalamnya.

Sejak Ibu meninggal, Thi diasuh oleh salah satu orang yang dipercaya oleh Ibu sendiri. Sebelum kematiannya, beliau memang sudah diberi wasiat untuk merawat kakakku jika suatu saat nanti tangis Ibu tidak tertahankan.

Menuju remaja, aku dan Thi tumbuh bersama walaupun kami berbeda alam. Sejujurnya, Tay, kami tidak pernah benar-benar bertemu. Sejak lahir aku sudah terpisah dengan Thi, dan Ayah saat itu belum mengizinkanku ke daratan seorang diri.

Baru di umur 17 tahun, aku dan kakakku bertemu untuk yang pertama kalinya. Momen itu sangat mengharukan bagiku dan Thi. Bagaimana tidak? Bayangkan saja, sepasang kembar identik tidak pernah bertemu sejak dilahirkan. Hanya mengetahui tentang diri masing-masing berdasarkan cerita orang terdekat.

Thi mungkin senang bertemu aku, tapi tidak dengan ayah. Kakakku seperti menyimpan dendam tersembunyi padanya. Thi menganggap bahwa kematian Ibu disebabkan oleh Ayah. Ia pikir, jika saja saat itu Ayah tidak terlambat, mungkin Ibu masih bersama kita dan membentuk sebuah keluarga utuh.

Aku tidak tahu harus apa, karena selama ini, akulah orang yang menjadi saksi kesedihan Ayah. Aku marah, tapi aku tidak bisa. Aku pun juga tidak pernah bertemu Ibu, hanya mengerti wajah saja dari sebuah foto tersimpan milik Ayah.

Aku dan Thi selalu bertemu saat bulan purnama datang, tepat di tepian dermaga di mana Ibu meregang nyawa. Dermaga kita, Tay. Kami berdua memilih tempat itu untuk melepas rindu atas kehadiran Ibu. Aku selalu bercerita mengenai Atlantis dan bangsa siren, begitu juga dengan Thi yang mengucap banyak hal tentang kehidupan manusia.

Jadi, sekarang kau tidak heran bukan, Tay, dari mana aku mengetahui banyak fakta tentang duniamu?

Kemudian awal dari sebuah perkara dimulai, ketika aku dan Thi yang sudah beranjak dewasa, mendiskusikan tentang mimpi. Thi memiliki mimpi untuk berkeliling dunia, menjelajah segala pelosoknya mulai dari darat hingga laut. Aku yang mendengar itu dibuat takjub oleh bagaimana kakakku bercerita dengan riangnya.

Namun, Thi seakan bisa menebak isi hatiku. Terbesit sebuah rasa iri terhadap Thi. Fakta bahwa kakakku adalah manusia yang mempunyai kaki, ia bisa bebas pergi ke mana pun yang dimau. Sedangkan aku, hanya bisa mengarungi samudra dengan ekor, dan tidak bisa merasakan betapa luasnya dunia ini.

Thi, selalu punya ide yang unik, tiba-tiba menyarankan untuk menukar ekorku dengan kaki. Hal ini, langsung aku setujui tanpa berpikir ulang tentang waktu ke depannya.

Sepulang dari pertemuanku dengan Thi, aku langsung memberitahu semua rencanaku pada Ayah. Tentang bagaimana aku ingin berkeliling dunia bersama kakak kembarku, dan lain sebagainya. Tetapi, respon Ayah begitu di luar dugaan. Ayah sangat marah ketika mendengar permintaanku. Ia bahkan ikut memarahi Thi karena Ayah pikir, kakak sudah menghasutku dengan hal yang tidak benar.

Ayah memutuskan kami tidak boleh bertemu satu sama lain dalam waktu tiga bulan purnama, dan ini membuatku marah padanya. Sebuah catatan, aku jarang sekali terlihat marah. Pandangan Ayah padaku adalah sosok yang sabar seperti Ibu.

Dunia sedang melucu, ketika aku mengetahui alasan Ayah sebenarnya. Ayah tidak mau aku bernasib sama dengan Ibu. Ayah juga tidak mau, jika peristiwa itu nantinya merengut nyawaku. Semua terlalu beresiko untuk dilakukan, dan tentunya sangat berbahaya. Namun aku, telah berdiri kuat pada pendirian, tetap bersikeras merayu Ayah agar memperbolehkannya.

Setelah terlewat hari demi hari, Ayah pun menyerah, dan menyuruhku untuk bertukar jiwa saja dengan Thi. Hal ini membuat kami senang bukan main.

Aku menemui penyihir yang di masa lalu telah membantu Ayah bersatu dengan Ibu. Penyihir itu sudah tahu, bahwa aku anak dari penguasa lautan yang pernah datang padanya. Tanpa basa-basi, aku mengucap permintaanku mengenai jiwa yang ditukar. Setelah bernegosiasi cukup lama, datanglah konklusi di mana aku diberikan sebuah syarat.

Aku tidak boleh merasa sedih dengan adanya pertukaran jiwa ini, dan tidak menganggapnya sebagai sebuah kutukan. Jika dilanggar, nyawa menjadi taruhannya dan ragaku akan bersatu dengan buih-buih samudra. Penyihir itu tidak menyebutkan ke mana jiwaku akan pergi, tetapi, tentu bukanlah hal yang krusial bagiku untuk dipermasalahkan.

Mengangguk setuju, aku dan Thi menjalankan hidup yang sudah lama ingin dirasakan satu sama lain. Jiwaku berada di tubuh kakak yang memiliki kaki, dan begitu juga sebaliknya. Di awal, aku merasa aneh ketika jari-jari bergerak sendiri tanpa aku harus berusaha. Namun, lama kelamaan, aku menjadi terbiasa. Sama halnya dengan Thi yang berjuang dengan ekor tubuhku, berenang cepat melewati bebatuan karang di dalam samudra.

Lalu, terjadi pertemuan kita, di atas dermaga tepi pantai yang menyimpan banyak kenangan. Fokusku terpecah belah oleh afeksi yang kau berikan padaku. Aku menikmatinya, dan tepat di mana kau menyibak helai rambut, aku merasakan sesuatu. Sebuah perasaan yang kuat, disertai dengan jantung berdegup cepat.

Aku dengan jiwa sebagai New, dan berwujud Thi, jatuh cinta padamu, Tay.

Ya, aku tahu kau sedang bingung saat ini ketika membaca kalimat di atas. Aku tahu, dalam pikiranmu berkata, “Jadi, siapa yang jatuh cinta padaku? New atau Thi?”

Dan jawabannya adalah, kami. Aku dan Thi, mencintaimu dengan sungguh-sungguh.

Realita berkata, kami adalah hal yang tidak bisa dipisahkan, Tay. Kami bagai satu tubuh yang terbelah jiwanya menjadi dua. Kami adalah kembar yang saling berhubungan erat, dan kedua kalung kerang itu merupakan perumpamaan dari jiwa itu sendiri.

Ketika kau membaca surat ini, mungkin wujud asliku sebagai seorang siren sudah bersatu dengan laut. Maka yang terjadi adalah, jiwaku sebagai New, masuk melewati celah kalung inisial “T” dan berdiam di dalamnya.

Aku tidak tahu apa kau memiliki perasaan yang sama dengan kami, tapi tolong, jika memang iya, kami ingin dicintai secara adil denganmu. Cintailah kedua wujud kami, begitu juga dengan jiwa kami.

Jadi aku mohon padamu, Tay, pertemukan pula kalung itu dengan pasangannya, sehingga kami bisa menjadi satu raga yang sama lagi. Temui kakakku, Thi. Aku merindukannya, dan aku merindukanmu juga. Bawalah aku pulang, dan mari kita lanjutkan kisah yang sempat tertunda ini.

Sekali lagi, aku minta maaf. Kita pasti akan bertemu lagi, dan kami mencintaimu selalu. Tay Tawan.

Dari kami, New Thitipoom Techaapaikhun.


Tay Tawan dibuat merindu oleh keheningan tersembunyi, dermaga tepi samudra.

Rindu akan bahana deburan ombak di tengah malam, menabrak pesisir pantai begitu kuat. Ain biasa memandang para pencari ikan melaut dengan kapalnya, terombang-ambing oleh ombak. Begitu pula penghiduan, dipenuhi oleh aroma lembab kayu dermaga bercampur dengan air laut asin.

Tay Tawan hanya memiliki satu permohonan yang setiap hari ia rapalkan pada Tuhan. Ia ingin alam semesta berbuat curang pada waktu sehingga dapat mengembalikan masa-masa bahagianya. Waktu di mana keteduhan banyak terasa, ketika angin darat semilir berhembus menyibak surai. Setiap ingatan, setiap momen, dan setiap fenomena yang terjadi, selalu timbul rasa bagai sedang menaiki roller coaster.

Tay Tawan masih menyimpan benci pada kehidupannya.

Benci ketika pulau singgah yang ia tempati sementara waktu, harus ditinggalkan. Masa ‘isolasi’ telah usai, dan itu artinya Tay harus kembali pulang. Sebuah lelucon, ketika mengingat impresi pertama lelaki bersarung biru pada pulau ini sangatlah buruk. Nyatanya, entitas bernama benci dan suka, maupun cinta, hanya sebatas benang merah tipis saling bertaut.

Jika dipikir lebih lanjut, kata ‘karma’ akan cocok untuk disematkan pada nasib Tay. Namun, bagi lelaki itu, konotasi tidak berbunyi negatif. Rasa syukur justru terucap dari bibir, dan mungkin setelah ini, kisah yang sudah Tay mulai di sana bisa merubah pandangannya terhadap semesta bumi lautan.

Pandanganku memang sudah berubah. Tetapi, apakah kisah itu akan berlanjut? Aku tidak yakin.

Mungkin keputusanku untuk pulang bukanlah hal buruk, kecuali bertemu orang tuaku tentunya. Aku butuh waktu dalam mencerna semua yang sudah terjadi. New, Thi, mereka berdua, aku, perasaan, kisah. Sangat kompleks.

Lagipula, untuk apa aku menetap di pulau ini, jika sosok itu … sudah tiada? Sosok yang seiring berjalannya waktu membuatku jatuh dalam keindahan dan pesonanya.

Dengan begitu, ketika tapak lelaki bersarung biru menjejak tanah metropolitan, ia menghela napas. Hati sudah mantap untuk setidaknya beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk enigma sebuah pesisir pantai.

Kedua orang tua menyambut kedatangan Tay dengan wajah sumringah, berharap metode isolasi mereka berhasil. Raut itu semakin cerah ketika melihat anak bungsu mereka menghampiri dengan wajah lesu, seakan jera dengan segala yang sudah dilakukan.

Orang tua Tay tidak tahu saja, bahwa ekpresi itu adalah cerminan dari hati penuh laranya.

“Ah, rupanya, kau belajar kerajinan di sana? Kalung yang bagus. Ada inisialmu juga.”

Seandainya, Ibu tahu. . .

Kehidupan Tay Tawan kembali seperti semula. Pendidikan kuliah terus berlanjut, orang tua yang sibuk oleh pekerjaan, kedua kakaknya bekerja keras di bidang mereka masing-masing. Tetaplah sama, bahkan ketika Tay memutuskan bermain papan seluncur setelah sekian lama, cuap banding itu tidak kunjung hilang. Memutar bola mata menjadi rutinitas ketika ia menghadapi kondisi tersebut.

Tay cuek saja, menganggapnya angin lalu. Emosi dikontrol benar oleh lelaki bersarung biru, yang tidak menginginkan drama dalam keluarga terjadi lagi. Sudah cukup, karena Tay lelah berkelahi. Jiwa dan raga sangat terkuras sejak terciptanya momen New Thitipoom menghilang dari tilikan manik cokelatnya.

Tidak terasa sudah satu bulan lelaki bersarung biru meninggalkan pulau. Rasa rindu yang sudah ia pendam dan tolak dengan baik, akhirnya menguak keluar di suatu keheningan petang. Persis seperti kala nestapa hadir, pada malam sebelum surat dan kalung datang esok paginya.

Tangis Tay pecah hingga mereda sendiri ketika ia jatuh tertidur. Kedua tangan menangkup kerang berinisial itu, yang tanpa disadari olehnya, selalu berpendar dengan cahaya biru saat purnama datang. Jiwa New Thitipoom menunggu Tay untuk membawanya pulang, dan entitas itu akan selalu sabar dalam penantian panjang. Hingga lelaki yang dicintainya, siap.

Kedua orang tua Tay terkejut ketika mendengar anaknya ingin kembali pergi ke pulau terpencil itu. Lelaki bersarung biru membuat alasan, telah dibuat rindu oleh keheningan suasana tepi pantai. Sesuai ekspektasi, permintaan Tay diterima dengan suka cita, keduanya sungguh mengira bahwa anak bungsu mereka telah berubah.

Walaupun … realita tidak berkata demikian. Ada maksud lain dalam kunjungan mendadak seorang Tay Tawan. Lelaki itu, akan menemui Thi, dan mencarinya di sana. Akal sehat sempat berpikir tentang kecil kemungkinan untuk bertemu. Namun, ia tidak peduli. Tay yakin, takdir akan menyertai dalam perjalanan kembali merajut kisah, yang sempat terhenti begitu saja.

Sebentar lagi, kau akan pulang, New. Tunggu aku, ya?

Aku mencintai kalian.


Senja terlukis indah di batas horizon bumi, ketika Tay Tawan melangkah keluar dari rumah singgah.

Baru tadi siang, lelaki bersarung biru sampai di tempat yang memoriam untuknya. Penuh kenangan baik, dan juga sedih. Berbagai air mancur perasaan muncul begitu saja, ketika Tay kembali menjejak teras kayunya. Tidak ada waktu istirahat, kedua kaki Tay seakan tersihir, untuk segera membawa diri ke tempat di mana semua bermula dan berakhir.

Kala itu angin berhembus tenang dan udara terasa sejuk. Rumbai pohon kelapa saling singgung membuat suara gemerisik lembut—batin Tay dibuat tenang karenanya. Mobilitas warga sekitar nampak sepi, cukup ganjil jika dipikir. Entah apa yang menjadi alasan akan hal itu. Dari kejauhan ketika Tay menyusuri setapak, vokal samudra berombak menelusup pelan melalui gendang telinga.

Lelaki bersarung biru menyadari betapa rindunya ia dengan fenomena ini.

Jika Tay boleh jujur, sebenarnya ada rasa gugup dalam diri jiwa raganya. Tay tidak tahu apa yang sudah menanti di tujuan. Bibir tergigit selama perjalanan, sudah menjadi pertanda bahwa dirinya tidak terlalu siap oleh apa yang akan dihadapi. Namun, hal itu seperti menghilang ketika Tay merasakan hangat pada saku celana kanan, tempat kalung dan surat New bersembunyi.

Lelaki bersarung biru menghela napas, mungkin saja jiwa New di dalam sana sedang membantunya yakin untuk terus berjalan. Tidak ada arah kembali dalam perjalanan ini. Apa yang sudah Tay lalui, apa yang sudah Tay mulai, dan apa yang sudah Tay lakukan, harus mendapat hasil ketika ia sukses membawa New pulang kembali pada samudra.

Teka-teki ini, harus segera diselesaikan. Dan hanya akulah yang bisa melakukannya.

Tuhan, kumohon, izinkan aku menemui takdir baik. Pertemukanlah aku dengan jawaban dari enigma tersebut.

Visual dermaga mulai terlihat ketika jarak semakin dekat. Lengkung sabit pada bibir Tay terulas lebar. Kedua manik cokelat berbinar bahagia dengan apa yang dilihat. Jari-jari tangan kiri menggenggam erat sarung biru pada tubuhnya. Telapak tanpa alas kaki menginjak lembut butiran pasir putih di bawah.

Perasaan familiar ini datang bagai tsunami, dan Tay tidak keberatan karenanya. Dengan lapang dada, buncahan rasa dibiarkan terjadi oleh lelaki bersarung biru. Semua terasa begitu hidup ketika sepoi-sepoi angin menyibak rambutnya ke belakang. Langkah semakin bergerak cepat.

Sebuah siluet asing menghiasi pandang Tay, ketika ia berdiri tepat di jejak kayu pertama dermaga.

Bayangan itu, tidak asing. Aku seperti mengenal bentuk tubuhnya.

Apakah mungkin. . .

Lelaki bersarung biru berlari menghampiri. Sosok misterius itu, ia mengenalinya. Tubuh tegap, kaus hijau, celana putih, rambut kecokelatan, dan berdiri di ujung dermaga tanpa alas kaki. Tidak ada peluang yang berbeda, selain insan berkulit putih menjadi jawabannya. Subjek itu nyata, dan jauh dari kata fana.

Panaroma ini mengingatkan Tay tentang kali pertama mereka bertemu, yang mana adalah awal dari kisah teka-teki itu sendiri. Perjalanan keduanya sudah berlayar jauh bagai seluruh kapal pencari ikan, di waktu malam tiba. Sempat terombang-ambing oleh arus, namun si nelayan bisa mempertahankan perahu untuk kembali stabil.

“NEW! APA ITU—”

DUK!

Tay Tawan tergelincir oleh kubangan air yang tidak diketahui keberadaannya. Tubuh lelaki itu bertemu telak dengan kayu dermaga, keras. Pinggul terasa sakit ketika digerakkan sedikit, jelas sekali ekspresi menahan nyeri muncul pada wajah.

Tay merutuk pada diri sendiri karena sudah ceroboh. Kata umpatan tersalur melalui gumam-gumam kecil. Susah payah dengan satu tangan lain mengangkat kaus yang dikenakan. Kepala menunduk, dan bibir pun berdecak kesal ketika bercak merah muncul pada visual di atas kulitnya. Sial! Bodoh sekali kau, Tay. Salahkan dirimu sendiri jika setelah ini, kau susah untuk berjalan.

“Hei, kau baik-baik saja?” Seseorang mengulur tangan tepat di depan wajah Tay. Lelaki bersarung biru mendongak, dan hanya butuh satu hal untuk membuat kedua manik cokelat bulat sempurna.

Sebuah kalung kerang berinisial “N” terlingkar longgar pada leher sosok itu.

“N-New?” Tay bertanya lirih. Masih tidak percaya dengan apa yang dilihat. “Apa itu … kau?”

“Aku Thi. Kau siapa?” Lelaki berkaus hijau juga sama terkejutnya ketika Tay menyebutkan nama insan berkulit putih. “Bagaimana kau—“

Tay mengeluarkan kalung yang ia punya dan membuat sosok di depannya tercekat. Kedua kerang tersebut saling padu dan pendar biru keluar dari guratan inisial, sebuah pertanda bahwa kalung itu telah menemukan pasangannya.

Realita datang pada akal sehat Tay, menyadari bahwa sosok yang memenuhi visual saat ini adalah Thi, kakak kembar dari New.

Ingatan-ingatan muncul kembali tentang bagaimana semua meluncur jatuh. Isi surat dari insan berkulit putih, segala kilas balik kehidupannya, berputar bagai kaset rusak yang tidak ingin tergantikan. “Thi…” panggil Tay dengan bisik halus, perlahan berdiri dari duduknya di atas kayu dermaga.

Sama dengan si lelaki bersarung biru, sosok yang bernama Thi dengan cepat mengambil sesuatu dari saku belakang celananya. Sebuah surat berwarna kuning lusuh.

Mereka bertukar kedua benda itu.

. . . Buatlah sebuah kisah, di saat sang surya hendak melanjutkan perjalanan, menuju hari esok,” ucap Tay seraya membaca bagian akhir dari isi surat itu. Surat yang ditujukan oleh Thi, dari si adik, New. Kedua manik cokelat lelaki bersarung biru, dengan perlahan bergerak menuju fokus pada sosok di depannya.

Tatapan kosong milik Thi berubah menjadi linang air mata yang turun membasahi pipi. “Adikku, akhirnya kau pulang.”

Tepat di kala itu, ketika angkasa berubah sepenuhnya menjadi jingga, dua tubuh saling berpeluk melepas kerinduan. Segala hal tentang mereka, saling berhubungan seperti puzzle yang bertemu dengan pasangan lainnya.

Untuk kali pertama, Tay merasakan tubuh hangat itu. Wujud nyata dari poros keindahan sebuah dermaga tepi samudra. Lelaki bersarung biru tidak peduli apakah sosok tersebut New atau Thi. Sepasang kembar itu adalah satu, dan mereka tidak terpisahkan. Tay mencintai keduanya. Tay mencintai satu hal yang sama. Jiwa New dan Thi akan menjadi satu tubuh setelah semua momen ini usai.

Thi masih menangis tersedu di rengkuhan seorang Tay Tawan. Mungkin, ia tidak kenal siapa lelaki ini. Namun, satu hal yang diketahui pasti bahwa tubuhnya tidak bisa menolak. Mau bagaimanapun angan Thi berteriak ingin lepas, itu semua sia-sia. Fisik milik Thi dibuat lemah oleh afeksi yang terasa familiar. Thi bisa merasakan, bagaimana si adik membuat raga seakan jatuh sedalam samudra pada lelaki bersarung biru.

New benar-benar mencintai Tay, begitu juga dengan Thi sendiri, pada akhirnya. Maka, biarlah hal itu terjadi. Biarlah Thi ikut merasakan.

Tidak lama, Tay dan Thi melepas peluk. Dua mata terjalin erat satu sama lain. Tanpa kata-kata keluar dari bibir, mereka tahu apa yang harus dilakukan.

Thi melepas kalung miliknya dan memegang yang lain di satu tangan. Lelaki berkaus hijau menghela napasnya dengan mata terpejam. Tay sendiri menggigit bibir, bersiap-siap dengan apa yang terjadi selanjutnya dari kisah ini.

Apakah berakhir baik, apakah berakhir buruk, Tay tidak tahu. Ia hanya bisa berharap yang terbaik, tidak ingin imaji terlalu menguasai daya pikirnya.

“Mari kita, membawa New pulang.”

Pendar biru bercahaya terang dari kedua kerang tersambungkan. Tay dibuat mundur oleh silau yang memenuhi tubuh sosok di depan. Apa yang terjadi?

Ketika sinar itu meredup, lelaki bersarung biru menurunkan kedua telapak dari pandangan.

“Selamat sore, Tay Tawan. Aku, New Thitipoom Techaapaikhun. Apa kau sudah siap, memulai dan merajut kisah kita kembali, menuju hari esok?”

Entah untuk yang ke sekian kalinya, Tay Tawan dibuat terkejut oleh realita. Alhasil, rasa haru pada diri lelaki bersarung biru, mencapai poin teratas dari segala perasaan yang ada.

Kedua raga menyatu dalam dekapan hangat di sore hari menjelang malam. Kepala Tay mengangguk beberapa kali, menjawab pertanyaan itu. New Thitipoom Techaapaikhun tersenyum seraya memberi sebuah usapan lembut, di balik punggung lelaki yang dicintainya.

Sebuah enigma perkara samudra, telah selesai untuk dipecahkan. Terlukis dengan indah, bersama Tay, New, dan Thi sebagai pemeran utama.

Tidak ada yang menyangka, suatu entitas sederhana bisa berubah kompleks dalam sekejap waktu menyelimuti. Harta karun ditemukan di dalamnya, dan hal ini menandakan bahwa tiada kehidupan yang sesederhana itu.

Mungkin, segala konflik terasa mustahil untuk diubah menjadi kebahagiaan. Tetapi, jika seorang insan selalu percaya akan harapan dan bersungguh-sungguh tentangnya, maka niscaya hal itu pasti terjadi.

Takdir membuat Tay Tawan dan New Thitipoom Techaapaikhun memulai lagi sebuah cerita, dan secara tidak sadar, kisah itu dilanjutkan juga oleh keduanya.

Dengan akhir yang bahagia.


terpintal dengan cinta, oleh daeyumbruh

Part of POROS AFEKSI UNIVERSE

tags; 700+ words, short au, (mild) angst with open ending, local place, 3rd person point of view.


Esok hari.

“Kebetulan, hari ini tentang Tata Surya,” ucap Tay di tengah keremangan cahaya Teater Bintang. Film telah diputar, sejak 3 menit yang lalu. Ruangan tersebut hanya berisi mereka saja. “Paling kamu suka, kan?”

“. . .”

Tentu tidak ada jawaban dari kekasih berkaos hitamnya. Fokus New Thitipoom hanya pada layar di depan. Kedua netra penuh kilat binar dan kagum memenuhi.

“Lagi fokus ternyata.” Wajah Tay dipalingkan seraya tersenyum tipis, ikut menonton.

Sadar jika sedang diajak bicara, New akhirnya menoleh dengan mata mengerjap pelan. “Eh? Apa Tay?”

“Gak papa,” balas lelaki berkemeja putih, “lanjut aja.”

“Kebiasaan.”

“Kamu... keliatan takjub banget.” Ya, pada akhirnya juga Tay berujar.

Kebingungan berekspresi pada raut New. “Gimana?”

“Seneng banget ya? Bisa ke sini.”

“Masih agak kaget sebenernya.” New mengangkat bahu sekilas, terlihat samar. “Tiba-tiba banget.”

“Oh...”

“Iya, Tay.”

“. . .”

Tubuh lelaki berkemeja putih kembali tegak dalam duduk, mencari posisi ternyaman untuk bicara. Pandang bersua lagi dengan layar. “Aku gak nyangka, semesta seluas itu.”

“Samudra di bumi aja kalah,” balas New. Pengalihan topik, sepertinya.

Tay menghela napas seraya meluruskan kaki berbalut celana kain abu. “Padahal, bumi menurutku udah cukup besar.”

“Ya... memang gak sesuai apa yang kita ekspektasikan, Tay.” Sama seperti kita, empat bulan ini.

“Hmm.”

Ya sudah, kalau begitu.

“Bumi masih berputar pada porosnya.” Sosok yang lebih muda memberi ucap berupa bisikan. Sayup-sayup terdengar suara wanita pada speaker ruangan, sedang menjelaskan tentang Galaksi Bimasakti.

Tay mendengus dan memberi lirikan jenaka pada kekasihnya. “Iyalah. Kalo nggak, nanti kiamat.”

“Gitu?”

“Emang gimana la—Kamu kenapa?” Visual lelaki berkemeja putih telah menangkap sang kekasih melihatnya dengan tatap penuh arti yang sendu.

Diberikan lengkung sabit tipis oleh New. “Mirip sama kita,” ucapnya, tidak menjawab pertanyaan Tay.

“Sayang?”

“Walaupun gak sepenuhnya mirip sih, sekarang.”

Saat ini, Tay tidak bisa lagi fokus pada proyeksi di depan. Pikiran sudah terisi oleh tutur kata kekasihnya yang entah berarti apa. “Maksud—”

“Aku seperti bukan poros afeksimu mengorbit lagi,”

“Akibatnya? Hatiku yang kiamat.”

“. . .New.”

“Hehehe.”

Belah ranum Tay tergigit. “You don't know anything, New.”

“Percayalah,” ujar New lantas meremat lengan bawah kekasihnya dengan salah satu tangan, “aku tau, Tay,”

“. . .”

“Dia kan,” New berucap, ada penekanan pada 'Dia'. “Yang papasan sama kamu di toko buku?”

Pendingin ruangan begitu terasa di saat-saat seperti ini, membuat bulu kuduk berdiri. Lingkup bagai sunyi yang tidak bisa dibedakan apakah canggung atau nyaman.

Sepertinya... kata pertama, jauh lebih tepat.

“B-Bukan. Dia temen aku.”

“Kamu kira, kita gak berawal dari temen juga?”

“New, aku ngajak kamu ke sini, buat nyenengin kamu. Bukan buat percakapan ini.”

“Kalo kamu pikir aku ngira kamu selingkuh, itu salah besar,”

“. . .”

“Aku sayang sama kamu, Tay. Aku gak segamblang itu bilang kamu selingkuh tanpa ada buktinya,”

“Tiga tahun hubungan kita berjalan normal kok. Gak ada kesalahan berarti yang bikin aku nyesel ketemu kamu, menjalin hubungan sama kamu, sampai sekarang. Kamu juga masih Tay yang aku kenal dari dulu,”

“Cuma... gak tau kenapa, empat bulan terakhir ini, rasanya ada yang beda dari kamu,”

“Kemudian, aku dapet kesimpulan kalau mungkin... you're slowly falling out love, from me.

Tay menggenggam lembut kedua telapak New. Oniks mempertemukan diri pada visual ibu jari yang mengusap lembut punggung tangan kekasihnya. “Itu cuma asumsi kamu aja, Sayang...”

“Awalnya, aku juga mikir begitu, Tay,”

“Tapi, aku sadar tentang perbedaan cara kamu menatap aku dan kamu menatap dia.”

“New...”

“. . .”

“Ini salah, gak seharusnya aku punya perasaan itu ke dia. Maafin aku, New.” Tay Tawan menunduk dan kening pun bersinggung dengan genggaman tangan mereka. Hati dipenuhi rasa penyesalan yang tiba-tiba saja menembus tulang rusuk.

Tanpa diketahui oleh lelaki berkemeja putih, New justru tersenyum lantas menyisir rambut kekasihnya yang mungkin setelah ini, akan sangat ia rindukan. “Perasaan kamu gak salah, Tay. Kamu pun juga gak salah. Toh, semua tiba-tiba aja dateng kan?”

“Aku gak tau harus apa.”

“Hmm, aku kasih kamu petunjuk,”

“Anggap aja, planetarium ini adalah saksi bisu dari aku yang merelakanmu pergi, dan kamu yang menjemput takdir baru.”

Tay mendongak ketika kata demi kata terucap dari bibir sang kekasih. Alis berkerut. “Jangan gitu, New.”

“Aku dan kamu berhak bahagia, Tay. Dengan caranya masing-masing,”

“Kalau memang, semesta ini maunya kamu sama dia, aku bisa apa?”

“Gak ada cara lain, ya? Aku bisa usahain—”

“Jangan bohong sama diri kamu sendiri. Itu gak baik, Tay,”

“. . .”

New meraih sisi kanan wajah yang lebih tua, sebuah usapan halus diberikan—kelopak mata Tay terpejam. “Masih banyak bintang di luar sana yang bisa aku raih, sama seperti kamu yang aku yakin bakal berporos dengan baik bersama dia.”

“. . .Sekali lagi, maafin aku, New.”

“Aku maafin kamu kok.”

We're going to be okay. You and me. Both of us.

“Iya, Tay.”

Fingers crossed.


terpintal dengan cinta, oleh daeyumbruh

Part Of INVITE MEET UNIVERSE

tags; 700+ words, short au, fluff, friends to lovers, 3rd person point of view.


New Thitipoom berdecak kesal.

Baru beberapa menit, setelah seharian bergelut dengan soal-soal Sosiologi—yang melelahkan otaknya—New harus kembali terjun pada kepusingan lain. Matematika Wajib, dan ia membencinya.

Tidak, tidak. New tidak membenci Matematika. Ia justru sangat suka. Termasuk mata pelajaran favorit bahkan.

Tetapi pengecualian, untuk hari ini. New sedang tidak ingin menambah beban pikirannya. Di atas kepala, seakan dihantui oleh pertanyaan-pertanyaan menjebak yang entah jawabannya apa.

Ketika teman sekelas New—Tay Tawan—mengirim pesan berupa info adanya teams anyar untuk mapel berhitung, lelaki berkulit pucat itu benar-benar baru selesai berganti pakaian santai dan mematikan laptop.

Jadi, tidak heran kenapa bisa dibuat kesal.

Dengan setengah hati, New Thitipoom menyalakan lagi laptopnya. Secara bersamaan, ia mengambil seragam yang sudah sedikit kusut karena tergeletak begitu saja di atas kasur tanpa dilipat.

“Untung gue demen Matematika, ya. Gue cuma gak suka sama gurunya. Meresahkan aja,” gumam New pada udara di sekitar, “males banget overtime gini.”

Definisi malas New, tentu berbeda dengan orang kebanyakan. Lelaki itu masih saja melakukannya walau dengan berat hati.

Sedikit unik, memang.

New memasukkan kata sandi perangkat, lalu tidak lama layarnya berubah menjadi tampilan desktop. Sedikit membutuhkan waktu untuk akhirnya proses loading berhenti.

Aplikasi Microsoft Teams terbuka otomatis.

“SY9L0NW,” New mengeja huruf dan angka ketika memasukkan kode kelas baru Matematika. “Aneh deh. Kayak ketikan alay.” Ia terkekeh.

Join a team with a code

Enter code SY9L0NW

JOIN

Dahi New berkerut heran ketika Teams sudah ditampilkan.

Biasanya, jika memasuki kelas, channel yang dibuat akan beragam, sesuai dengan berapa banyak materi dalam pelajaran itu. Namun, New hanya mendapati satu saja yaitu General, yang mana merupakan sebuah channel umum biasa.

Ada simbol kamera biru keunguan tepat di sebelah tulisan General, menandakan sedang diadakan meet saat ini.

Tanpa membuang waktu lama, New yang sudah berseragam rapi akhirnya masuk ke dalam meet. Microphone dimute namun kamera tetap menyala, alias oncam.

“Loh, kok?”

Ekspektasi di dalam pikiran New, tergambar sebuah visual di mana meet sudah ramai dengan murid-murid lain, dan juga sang guru pengajar.

Namun, netranya hanya mendapati full screen dari satu orang dan sebuah kamar bernuansa biru dengan banyak poster-poster band di dindingnya.

Tay Tawan, seorang diri.

Hanya ada mereka berdua di dalam teams itu.

“Te? Kok cuma kit—”

New, gue suka sama lo.

“. . .”

“Hah?”

Gue, Tay Tawan, suka sama lo,” Lelaki tanpa seragam berucap seraya berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.

“I-Iya gue denger, maksudnya...” Ucapan New menggantung beberapa saat. Kepala bergerak miring serta alisnya mengerut. “Gue bingung, Te?”

Bisa dilihat dari layar laptop lelaki berkulit pucat, Tay menghela napas panjang. Sempat tertunduk beberapa saat, lalu menengadah dengan kedua mata tepat pada kamera—seakan sedang berbicara langsung dengan New. “Sebenernya, gue udah lama naksir lo, New. Dari awal kelas sepuluh,” ucap Tay memulai penjelasan, “itu artinya, udah hampir tiga tahun. Sekarang kelas dua belas, semester ganjil,

Gue tau, gue cupu karena gak langsung bilang kalo gue suka sama lo. Tapi, entah kenapa, gue kayak... gak yakin buat mengakuinya.

“. . .Kenapa begitu?”

Tay menggeleng pelan. “Gue gak tau cara yang baik untuk confess ke lo,

Terus, suatu hari teams gue kebetulan error. Gak bisa join meet, padahal udah lumayan telat. Dan yang ada di pikiran gue saat itu cuma lo doang, jadinya ya... gue minta tolong invite,

Akhirnya gue ada ide buat pendekatan ke lo. Lewat invite meet itu tadi.

“. . .”

“Jadi, semua itu cuma alesan lo aja? Teams error? Dikick sama orang?” Mata New berubah menyelidik.

Kelopak manik Tay terbuka lebar, kepalanya menggeleng cepat. “I-Itu beneran kok!

“Bener?”

Lelaki tanpa seragam mengangguk.

“Gak bohong?”

. . .Ada yang bener, ada yang nggak.” Sebuah cengiran nampak di raut wajah Tay. Tangan kiri menggaruk kepala, tidak gatal.

New menaikkan kedua bahunya singkat. “Berarti ada yang bohong.”

Gue minta maaf, udah bohong sama lo.” Suara Tay begitu pelan. “Serius, gue gak bermaksud.

“Gak papa kok, Tay.”

“. . .”

Hmm... jadi, jawaban lo gimana, New?

“Jawaban apa?”

Tay menggigit bibirnya lagi. “Yang tadi...

“Perasaan, lo belum tanya apa-apa ke gue.” New menyandarkan punggung pada kursi di belakang. Kedua tangan bersedekap.

Helaan napas terdengar dari speaker laptop lelaki berkulit pucat. “Oke, gue ucapin sekali lagi,

“. . .”

New, gue suka sama lo,

Lo mau gak... membalas perasaan gue?

“Hmm... coba gue pikir-pikir.”

Lelaki tanpa seragam itu mengusap wajahnya, tidak percaya bahwa New akan seperti ini. “Ayolah, serius lo?

“Gue maunya sih, ngeinvite lo.”

Invite... ke mana?” Kali ini, wajah Tay terlihat kebingungan.

Invite ke hati gue.” New tersenyum simpul. “Ada meet di sana soalnya, bakal ada dua hati jadi satu abis ini.”

“. . .”

New,

Ini kita... saling tembak menembak?

Kekehan kecil menggema di antara perangkat keduanya. New tersenyum tulus menatap layar laptop sendiri. Salah satu tangan teracung, dengan ibu jari dan telunjuk mengarah pada layar.

“Dor!”


terpintal dengan cinta, oleh daeyumbruh

Part Of ENIGMA PERKARA SAMUDRA UNIVERSE


“Aku New Thitipoom. Kau?”

Entah semalam bermimpi apa, Tay Tawan dikejutkan oleh sebuah kalimat terucap dari sosok yang tak diduga. Baru hitungan detik ia duduk di tempat biasa, lelaki misterius itu tiba-tiba saja mengenalkan diri. Tanpa ada titah dan salam pembuka, nama langsung terucap dengan suara sedemikian tenang. Perhatiannya tidak terusik dari gumpalan awan kelabu yang menutupi seperempat bagian purnama.

Kali ini, sosok tersebut memakai kaus hijau muda dipadukan celana putih. Tanpa alas kaki, ia duduk bersila. Masing-masing telapak tangan berada di pangkuan.

Tay sama sekali tidak menduga bahwa si sosok misterius akan bersuara. Keberadaannya yang kembali muncul di ujung dermaga saja sudah membuatnya terkejut, apalagi fakta bahwa ia berbicara dengannya. Bahkan Tay tidak meminta. Justru percakapan pertama kali dibuka oleh lelaki itu—sekarang bernama New Thitipoom.

Rekam ingatan dalam memori Tay seakan kembali muncul bagai film sedang diputar dalam bioskop. Dia ingat betul bagaimana situasi kemarin begitu lengang dengan bungkamnya mereka berdua, enggan saling bicara. Belum lagi, sosok itu menghilang tiba-tiba di akhir perjumpaan. Aneh.

Suara kecipak membuat Tay tersadar dari lamunan, berasal dari satu kaki New Thitipoom yang dicelupkan ke dalam air. Kedua mata lelaki bersarung mengerjap singkat, kepala digelengkan lalu menoleh.

Kali ini, fokus insan berkulit putih teralihkan dari panaroma sebelumnya, ia menatap Tay dengan tilik kuriositas. Bersumpah pada Tuhan, Tay melihat ada kilas senyum begitu tipis pada ranum merah mudanya. Lelaki misterius itu nampak ramah, tapi karena itulah Tay jadi tidak tahu harus berbuat apa. Alhasil, ia menjawab pertanyaannya dengan sedikit terbata seraya menggaruk tengkuk. “O-Oh, maaf! Aku hanya... tidak menyangka kau akan berbicara.”

“. . .”

Tidak ada jawaban.

Sial, sepertinya aku salah bicara, batin Tay merutuk, semakin membuat canggung diri sendiri. “Um... Aku Tay. Tay Tawan.”

“Nama yang bagus.”

Eh?

“Matahari ya?”

Bagaimana dia tahu... artinya? batin Tay seraya terdiam sesaat. Tak lama, ia mengangguk pelan.

“Aku pikir dengan nama seperti itu, kau tidak akan kedinginan.”

Spontan, Tay mengeratkan sarung biru di tubuh selagi terkekeh canggung. Ia merasa aneh dengan lelaki di sampingnya yang sekarang aktif bersuara. “Ya... Itu hanya sebuah nama.”

“Di setiap nama, selalu ada harapan yang menyertai, Tay.” New Thitipoom mengalihkan pandang ke salah satu kaki tersembunyi oleh samudra. “Tidak mungkin kau diberi nama tanpa sebuah alasan.”

Ketika sosok itu menyebutkan namanya, ada perasaan aneh yang tiba-tiba menyelimuti. Secara magis, keteduhan sebuah tepi samudra semakin terasa ketika vokal itu bergema pada gendang telinganya. Angin semilir datang menyeka surai legam milik insan berkulit putih, sedang bermain air dengan kakinya. Timbul suara percikan kecil hampir tidak kentara.

Sedangkan Tay sendiri, melihat si lelaki misterius dengan tatapan tak bisa diartikan. Ia mau tak mau mengeluarkan satu tangan untuk menyibak rambut yang sudah mulai panjang, terhembus bayu. “Aku tidak tahu apa yang diharapkan dari namaku,” tanggap Tay, kedua netra memandang lurus pada banyak perahu nelayan yang melaut. “Mereka tidak pernah memberitahu.”

“Mereka?”

“Orang tuaku.”

“Tidakkah kau ingin tahu lalu bertanya sendiri?”

Tay menggeleng singkat, dirasakan bahwa sosok misterius itu telah menempatkan fokus pada dirinya. “Masih banyak hal penting lain yang ingin kuketahui.” Sebagai contoh, tentang dirimu, mungkin?

“Ah... Baiklah,” tanggap lelaki berkulit putih. “Aku yakin hal itu akan segera kau temukan, entah kapan.”

Semoga saja. “Bagaimana denganmu?” Tay mengganti pusat pembicaraan pada insan di sampingnya.

“Hm?”

“Apakah ada harapan di balik namamu, New Thitipoom?”

Sebuah tawa kecil hadir menguasai atmosfer. Terdengar indah dan berdengung lembut bagi indera pendengaran milik Tay. Entah mengapa, vokal itu seakan membuatnya tersihir kemudian tertegun. Apalagi saat ini, ia dan sosok misterius tersebut saling bertukar pandang. Manik kehitaman bertemu dengan lautan cokelat milik Tay.

Tubuh New Thitipoom nampak bercahaya karena sebagian lampu pos dermaga mengarah ke sisinya. Panorama ini, mengingatkan Tay pada rembulan di balik cakrawala. Begitu pula senyum tipis yang saat ini tersungging di wajah insan berkulit putih. “Kau menyebut nama lengkapku karena bingung harus memanggil apa, kan?”

“Eh?” Hei, bagaimana dia bisa tahu?! “Um... Tidak kok.”

Lelaki di samping Tay masih mempertahankan senyumnya. “Panggil saja aku New.”

“Kalau begitu, biar aku ulang pertanyaanku. Kali ini dengan panggilan yang benar,” ucap lelaki bersarung, juga tak bisa menahan lengkung sabit muncul pada wajah. “Apakah di balik namamu ada harapan di dalamnya, New?”

“Kau sungguh ingin tahu?” New bertanya, kedua manik berkedip. Bulu mata menyapu halus pipi meronanya.

“Tentu saja!” seru Tay terlalu bersemangat. “Ah, m-maksudku, silahkan jika kau memang ingin.”

Bodoh, Tay Tawan. Aku tahu kau sangat ingin mengenal New, tapi tidak begitu caranya. Dasar memalukan!

“Kau lucu sekali, Tay.” New kembali terkekeh.

New Thitipoom, bisa tidak kau hentikan gelak tawamu itu? Konsentrasiku bisa hilang karenanya.

“Baiklah, jika kau ingin. Aku akan memberitahumu.”

“...Okay?”

“Harapan di balik namaku adalah...” ucap New dengan menjeda jawaban.

“. . .”

Ayolah, sedikit lagi. Sedikit lagi aku akan tahu setidaknya sepersekian persen dari sosok bernama New ini.

“. . .”

Kenapa tidak segera menjawab? Kenapa dia... menatapku dengan kilat gurau di matanya?

Apakah mungkin—

“Rahasia!” jawab New akhirnya. Kali ini, sebuah tawa kembali menggema. Suara itu bagai musik yang merasuk halus ke dalam jiwa Tay Tawan.

Entah untuk ke berapa kalinya, si lelaki bersarung dibuat kagum oleh seorang New Thitipoom malam ini. Mulai dari pesona, raga, dan vokal, semuanya begitu indah. Candu, jika Tay bisa jujur, ia akan berujar demikian. Tidak tahu sihir macam apa yang bisa membuatnya sangat terpukau.

Sekarang, New kembali menatap kilauan hitam samudra dengan lengkung rembulan pada wajah. Dua telapak menjadi tumpuan dari berat tubuh di belakang dan lagi-lagi salah satu kaki dicelupkan ke dalam segara. Tay menghela napas. Tilikan ainnya tak lepas untuk memandang.

“New.”

“Ya, Tay?”

“Kau menyebalkan.”

New Thitipoom mempertemukan manik legam samudranya dengan Tay kemudian menyeringai. “Begitu juga dengan kau.”

Oh, New. Sebuah awal yang baik dari pertemuan kita malam ini.


terpintal dengan cinta, oleh daeyumbruh

Part Of ENIGMA PERKARA SAMUDRA UNIVERSE


Tay Tawan tidak sendiri dalam sunyi.

Hari baru menyambut, di waktu yang sama, Tay kembali lagi ke dermaga kecil. Batin sudah berencana menikmati sunyi seorang diri. Pikiran dipenuhi bayang-bayang pemandangan segara. Ranum pada wajah mengulas lengkung tipis bagai sabit di awal bulan. “Semoga, masih sama sepinya dengan kemarin malam...” gumam Tay berharap, cukup khawatir jika ternyata para nelayan belum meninggalkan dermaga.

Tetapi, visual menampakkan sebaliknya.

Alis Tay berkerut ketika ia melihat bayang gelap duduk di ujung dermaga. Sosok dengan rupa tidak begitu jelas jika dilihat dari tempat di mana Tay berdiri sekarang. Lelaki itu bukan penakut, juga tidak percaya dengan hal-hal berbau 'mistis' apalagi makhluk mitologi. Dalam hidup, Tay tidak percaya dengan sesuatu yang tidak dapat dibuktikan oleh akal sehat. Logika mengalahkan telak segala rasa khawatir. Sosok itu dihampiri oleh Tay.

Oh, seorang pria rupanya...

Bayang gelap itu berubah menjadi objek nyata dan jauh dari kata fana. Seorang insan berkulit putih, anak turunan Adam. Dari postur tubuh bisa Tay perkirakan, mereka seusia, walaupun hanya asumsi belaka. Perawakannya cukup kokoh jika dilihat dari punggung berlapis kaus putih yang dikenakan.

Pria itu duduk di ujung kanan dermaga dengan kaki bersila. Pandangan lurus menghadap lautan yang kali ini cukup sepi dari nelayan—hanya ada beberapa sampan kecil tidak jauh dari tepi pantai. Para pencari ikan tidak berani melaut ke tengah, ombak malam ini sedang bergejolak kelewat jangkung dari biasanya.

Tay berdiri lima langkah di belakang pria putih tersebut dengan kepala bergerak miring. Angan dibuat ganjil oleh kemunculan sosok yang mau tak mau menjadi kawan dalam heningnya dermaga. Namun, ia kembali teringat dengan tujuan awal. Tay hanya mencari ketenangan yang berfokus pada diri sendiri, bukan orang lain.

Sikap acuh dilakukan ketika Tay akhirnya duduk di sisi lain dari ujung dermaga, terpaut jarak dua langkah dari sosok itu. Lelaki bersarung biru—telah belajar dari kedinginan—tidak mau ambil pusing mencari tahu tentang insan berkulit putih di sebelah kanannya.

Lagi pula, kita tidak saling kenal. Untuk apa mencari tahu lebih lanjut? batin Tay bertanya dalam diam yang tercipta. Bisa saja lelaki itu juga sama denganku, membutuhkan waktu sendiri, tanpa ingin diganggu.

Namun, ada saja jalan bagi rasa ingin tahu seorang Tay Tawan menguak keluar walau sedikit.

Sesekali secara diam-diam, Tay akan melirik pada sosok di sebelahnya. Pikiran merutuk marah atas perilaku yang mengkhianati tujuan awal. Hati terlonjak senang saat rasa penasaran lelaki bersarung itu telah menguasai akal sehat. Kedua manik mencuri pandang, bahkan bibir Tay tergigit—takut tertangkap basah. Ia tidak tahu harus berbuat apa jika hal itu terjadi nantinya. Bisa-bisa... Tay hanya akan diam dengan mulut terbuka. Memalukan.

Si pria misterius terlihat amat santai. Mimik pada wajah tidak menampilkan ekspresi apapun. Adakalanya ia menghirup oksigen begitu dalam lalu dihembuskan berat. Seolah-olah seluruh pikiran di dalam nalar turut pergi dan bersatu oleh angin. Kedua kaki yang awalnya bersila saja di atas dermaga, saat ini menjuntai ke bawah dan dicelupkan pada samudra. Tay mengamati dengan alis berkerut.

Bagaimana bisa dia tidak kedinginan? Berkaus tipis, celana pendek, bahkan kedua kaki di air. Aku saja harus memakai sarung, batin lelaki bersarung, menggerutu. Tapi, malam ini memang kelewat dingin jika dibanding dengan kemarin...

Kembali, Tay bersikap acuh tak acuh.

Beberapa jam kemudian, muncul sebuah pergerakan dari lelaki berkulit putih saat Tay memutuskan untuk pulang ke rumah singgah. Tay berdiri dari duduk dan secara bersamaan, si pria misterius mengangkat kaki dari air lalu kembali bersila. Hanya itu saja yang ia lakukan. Tay pikir, mungkin dia sudah kedinginan, berhubung angin darat semakin menerpa tubuh begitu kuat.

Sebenarnya jika diminta jujur, Tay akan mengaku kalau ia sedikit berharap lelaki putih tersebut melakukan hal lain. Sayang, ekspektasi tidak bisa menjadi realita—Tay pun segera melupakan. Kepala menggeleng cepat, cuek saja berjalan lagi menuju pesisir.

Lelaki itu kelewat diam. Siapa dia sebenarnya?

Kenapa dia... seperti menemaniku? Bahkan salah satu pergerakannya dilakukan bersamaan dengan aku yang akan pulang...

Seluruh perdebatan tanya muncul begitu saja pada pikiran, bagai air bah memenuhi bendungan. Tay tak lagi bisa menahan rasa penasaran pada sosok misterius itu. Ia pun menoleh untuk memastikan apakah si lelaki putih masih ada di sana. “Eh?” gumamnya dengan mata bergerak bulat, bahkan ia menghentikan langkah.

Dia menghilang?

Waktu terhitung tidak sampai 15 menit, lelaki berkulit putih tersebut bagai ditelan oleh mayapada dan segara. Lenyap tanpa jejak. Hal ini membuat Tay diam sejenak, berkutat dengan akal sehatnya. Kenapa bisa? Apakah dia... Ah, tidak-tidak. Mereka tidaklah nyata.

Mungkin saja aku sudah lelah. Angin berhembus ini sungguh ampuh membuatku mengantuk, pada akhirnya.

Tay tawan menghela napas seraya mengusap salah satu mata. Kedua telapak yang sudah beralas kaki kembali membawanya pulang, berjalan di bawah rindang pepohonan kelapa.

Halusinasi yang aneh.


terpintal dengan cinta, oleh daeyumbruh

Part Of ENIGMA PERKARA SAMUDRA UNIVERSE


Tay Tawan dibuat merindu oleh kehidupan lamanya.

Rindu akan bisingnya kendaraan berlalu-lalang di jalan raya, memadati kota metropolitan. Netra biasa memandang segala biang kerok kejahatan pada televisi. Begitu pula penghiduan, dipenuhi oleh asap toksik ketika ia menyesap sigaret bersama teman sejawat.

Tay Tawan hanya memiliki satu permohonan yang setiap hari ia rapalkan pada Tuhan. Ia ingin alam semesta berbuat curang pada waktu sehingga dapat mengembalikan masa-masa bahagianya. Waktu di mana kebebasan terikat erat pada jiwa dan raga, seakan terasa begitu hidup. Setiap detik, setiap jengkal, setiap kedua kaki melangkah, selalu diselimuti dengan rasa puas yang bergemuruh dalam dada.

Tay Tawan membenci kehidupan barunya.

Benci ketika orang tua memaksa Tay hidup tenang di pesisir pantai, jauh dari pengaruh buruk sosial perkotaan. Tanpa ada perangkat elektronik kecuali ponsel, ia sengsara. Terpaksa bersahabat dengan kipas angin, membuatnya tidak bisa tidur setiap malam karena gerah.

Kesunyian melanda rungu yang sudah terbiasa dengan keramaian. Bahana deburan ombak, angin berhembus kencang, serta nyanyian serangga kecil ketika matahari menutup diri, merupakan asupan Tay sehari-hari. Dan ia dongkol karenanya.

Kadang Tay berpikir, mungkin saja kedua orang tua telah muak memiliki anak tidak tahu diri seperti dirinya. Seseorang yang hanya mempedulikan kesenangan abadi dalam adrenalin, tak peduli jika mengancam jiwa. Emosi selalu berubah seenaknya karena hati begitu labil. Meresahkan golongan tertentu akibat kesalahpahaman sepele. Tak terhingga karena saking banyaknya.

Padahal, jika Tay boleh jujur, ia melakukan semua itu untuk kebebasan dalam hidup. Sebagai pelepas penat, mendamaikan konflik batin yang selalu ada pada diri.

Tay dengan segala rasa tidak ikhlasnya, hanya bisa menerima dengan pasrah keputusan kedua orang tua. “Hidup dalam kesederhanaan,” kutip ayahnya saat itu. Namun, bagi seorang pecinta kebebasan seperti dirinya, definisi 'sederhana' akan lebih cocok jika diganti dengan 'kekangan orang tua'. Seakan terisolasi dalam sebuah pulau tak berpenghuni di ujung lingkaran bumi.

Kata-kata itu selalu berputar pada pikiran Tay saat malam telah tiba. Waktu ketika sunyi kembali menyelimuti—tidak sepenuhnya karena masih terdengar suara keras pertemuan antar kulit.

PLAK! PLAK!

“Sialan, bukannya golongan darah B tidak disukai nyamuk?!” Tay Tawan merutuk pada serangga kecil peminum darah yang sedari tadi melintas di sekitar telinganya. “Musnah saja kalian!”

Berbicara sendiri telah menjadi rutinitas Tay 'bersahabat' dengan hewan menyebalkan itu. Obat nyamuk asap sudah dinyalakan, namun tetap saja tidak mempan. Berkali-kali percobaan menangkap dan menepuk dilakukan, hasilnya pun nihil. Sarung yang digunakan juga tak ada apa-apanya, hanya telantar begitu saja di sebelah kipas angin.

Rasa gerah menghampiri bagai angin panas gurun sahara—sebuah pernyataan hiperbola dari Tay. Mana mungkin ia memakainya di kondisi seperti ini? Sangat mustahil.

Tay bangkit dari posisi rebah, menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah merengut, frustasi. Kesabaran kian menipis. Ia tidak tahu saja, para nyamuk mungkin tertawa diam-diam di balik dengungan sayap menyebalkannya.

Sebulir keringat meluncur mulus dari kening hingga jatuh pada fabrik celana pendek Tay. Jarum jam menimbulkan suara tipis ketika yang panjang bergerak melintasi angka dua belas. Tepat pukul satu dini hari.

Dengan memantapkan hati, lelaki kegerahan itu beranjak dari rumah singgahnya. Tidak membawa apa-apa. Hanya jiwa, raga, serta rasa penat akan kesalnya ia pada kehidupan. Ponsel ditinggal begitu saja di atas matras, sarung biru miliknya juga. Tay tidak peduli jika nanti akan kedinginan. Menurutnya, rasa panas itu tidak memiliki solusi.

Suatu hari ia pernah mengutarakan pendapat ke salah satu teman di kota, sebuah pertanyaan sederhana telah dilontarkan sebelumnya. “Antara dingin dan panas, mana yang lebih baik?” tanya si teman saat itu.

Kemudian tanpa segan-segan, Tay menjawab, “Dingin. Karena, bayangkan saja kau sedang kepanasan. Hal yang setidaknya dilakukan adalah melepas seluruh kain di tubuhmu, berharap bisa mengurangi rasa panas itu. Nah, pertanyaannya, bagaimana jika seluruh pakaian sudah ditanggalkan tapi kau masih saja merasa panas? Hanya kulit tersisa, memang kau bisa melepasnya? Itu sebuah ide gila,

Kalau kedinginan, kau bisa saja mendapat rasa hangat dengan memakai pakaian berlapis entah berapa pun itu. Bahkan jika kau mau, balutkan saja dirimu dengan seluruh pakaian di seluruh negeri ini. Tidak perlu repot-repot bingung bagaimana cara mengatasinya. Mudah kan?

Sayangnya, ucapan hanyalah ucapan. Tanpa bukti dan bertindak, bisa berupa bualan semata.

Baru saja kedua kaki melangkah tak sampai 10 meter, Tay ingin menarik pernyataannya beberapa waktu lalu.

Dingin. Ia kedinginan, karena angin dari darat sedang berhembus cukup kencang pada malam ini. Namun apadaya, Tay sudah telanjur kesal dan malas untuk kembali. Bisa-bisa, para nyamuk sudah menunggu dan segera menyerang tubuhnya, mungkin juga tertawa.

Gengsi pada diri lelaki itu cukup tinggi sehingga ia cuek saja pada akhirnya. Langkah kaki terdengar lagi, ditemani suara daun pohon kelapa saling singgung. Kedua lengan bersedekap di depan dada, menyembunyikan telapak untuk mencari kehangatan—walau tidak begitu mempan.

Tidak terasa setelah beberapa menit Tay habiskan untuk berkeliling, sampailah ia di pesisir pantai yang... secara magis menimbulkan rasa nyaman di hatinya.

Tay memandang sekitar selagi menghela napas. Perlahan, ia melepas sandal lalu pasir di bawah terinjak oleh telapak. Jari-jari kaki meremas lembut, dirasakan pula teksturnya yang halus dan lembab.

Kedua manik cokelat miliknya terpejam. Fokus indera pendengaran semakin tajam. Bahana ombak di malam hari terdengar merdu bagai musik beralunan abstrak namun enak didengar. Sahut-sahutan para nelayan yang akan pergi mencari ikan. Beberapa kapal kayu saling menatap satu sama lain, timbul suara duk duk duk cukup kentara.

Netra kembali terbuka dan kepala pun mendongak. Terlukis padanan formasi benda langit yang indah. Konstelasi bintang saling menyambungkan antara paling cerah hingga teredup. Bayang binar rembulan menyapa gelapnya permukaan laut, berbuai-buai. Lampu minyak bercahaya bagai kunang-kunang di atas kapal pencari ikan para nelayan.

Tay dibuat takjub oleh panorama, tersajikan begitu nyata. Apa yang dipandang sangatlah jauh dari 'gelap gulita'. Apa yang didengar juga tidak mendekati 'sunyi senyap'. Tepat di saat itu pula, terucap rasa syukur untuk pertama kali dari bibir seorang Tay Tawan. Berkat kantuk yang tak kunjung datang, ia bisa menyadari betapa teduhnya sebuah tepi dari samudra.

Memang, sesuatu yang nampak sepi tidak selalu berujung mati. Bisa saja di antara sunyi, ada yang bernapas menikmati urip.

Pasir mencetak jejak ketika Tay menyusuri setapak, masih tanpa alas kaki. Kedua sandal ia jinjing dengan jari tangan kiri. Raga dibawa menuju sebuah dermaga kecil yang nampak kosong. Lampu pada pos jaga masih menyala. Tidak ada satupun kapal yang meletakkan jangkar, sudah berlabuh di laut lepas. Terlihat dari jauh oleh Tay titik-titik putih dan kuning berayun—lampu minyak milik para nelayan.

Ombak menabrak kuat pinggir kayu dari dermaga, membuat Tay ragu untuk berjalan ke ujungnya. Namun, rasa ingin tahu terhadap ketenangan sebuah tepi samudra mengalahkan bimbang. Dengan tidak peduli, ia terus saja melangkah. Udara dingin yang menusuk tiba-tiba terlupakan.

Mata cokelat gelap Tay bertemu dengan hitamnya lautan saat tiba di ujung dermaga. Hembusan angin kembali menerpa wajah untuk yang sekian kalinya. Lelaki itu menghela napas. Mungkin... ini tidak begitu buruk, batin Tay kemudian duduk. Kedua kaki dibiarkan lurus dan sedikit menggantung, sesekali cipratan air akan membasuh telapaknya geli. Sebuah senyuman tipis terukir pada bibir.

Keputusan telah dibuat. Mulai detik ini, dermaga tepi samudra akan menjadi tempat Tay Tawan menikmati hening di tengah keramaian tersembunyi.

Sendiri, tanpa ingin ditemani siapapun.


terpintal dengan cinta, oleh daeyumbruh