re: medetashi

the unsent

The night is long, nakyum.

Say, darling, tonight as you sit on his lap and gaze at the moon, won't your heart swell a little? Perhaps from the longing, if not from the fact that someone has fallen in love with you. Someone you have also fallen in love with. A love that would break anyone's heart in two and then heal it at the same time. Does your heart feel full? Are your breaths heavy? Is it as if your lungs couldn't hold back the excitement that you start gasping for air? Will the corners of your lips rise? did you finally stop crying? I do hope you will stop crying, because seeing someone as gentle as you go through so many things breaks my heart. You, who is as pure as a blank canvas in a smudged world. My pretty crier, after another day, another dusk, are in the end you and he, who did not seek but found each other, finding what you are looking for? Nakyum, i think the moon is indeed fond of you, Nakyum. And after all the sleepless nights that follow, you'll know the night is nothing to be afraid of, because now you belong to each other. And when you find yourself sleeping in your arms, you know you saved each other and will always save each other again and again, from the sleepless nights. From each other's hell. And there is nothing to fear. There is nothing more to fear.

Kalea

Image

Satu dari banyaknya minggu pagiku, kadang-kadang aku akan menemukan diriku terbangun di pelukanmu.

Wajahku tenggelam di dadamu yang bidang dan kedua tanganmu masih mengunciku erat.

Aku akan ingat malam sebelumnya. Kita makan malam bersama di apartemenmu ditemani salah satu koleksi filmmu. Seperti semalam ketika kita menghabiskan setengah porsi pasta gandum kesukaanmu dan menonton komedi romantis berdua. Meski aku tidak pernah tahu bagaimana akhir filmnya karena kamu membuatku sibuk dengan hal lain.

Kamu bukan tipe orang yang mudah bangun pagi dan karena itu aku tidak pernah menemukanmu di sampingku dalam keadaan terjaga setiap kali aku bangun lebih dulu. Matamu selalu terpejam rapat-rapat ketika aku mendongakkan kepala untuk mencari tahu apakah kamu sudah bangun sepenuhnya dan tarikan nafasmu amat teratur seolah ini pertama kalinya kamu tidur nyenyak dalam seminggu.

Kamu memang selalu tidur nyenyak sekali pada hari minggu. Bukan berarti aku tahu bagaimana kamu tidur di hari yang lain, mengingat aku hanya bisa mengunjungimu setiap akhir pekan dikarenakan kesibukan kita. Tapi kamu memang terlihat begitu.

Seperti orang yang baru pertama kali tidur nyenyak dalam seminggu.

“Capek ya, Dis?” Aku seringkali bertanya demikian tapi kamu cuma akan membalasnya dengan senyuman dan kalimat gombal, “Udah ilang abis lihat kamu”

Dan aku tetap akan ketawa, meski kadang-kadang aku berharap kamu akan bilang saja kalau kamu sedang merasa begitu letih.

“Kamu bukan malaikat Dis, kamu boleh capek” aku ingat, sekali waktu aku pernah bilang begitu. Dulu waktu kantor kita masih sama dan aku bisa menginap di tempatmu kapanpun aku mau. Atau kapanpun kamu mau.

“Iya, aku tahu kok. Makasih udah mikirin aku ya” kamu berusaha menenangkan.

Then stop acting like you're one, nanti orang-orang akan berharap banyak sama kamu. Kayak yang udah-udah”

Aku ingat kamu cuma tersenyum simpul, sebelum memelukku dari belakang seperti yang selalu kamu suka, “Kalau itu, enggak janji”

“Dis” aku berbalik, menemukanmu dengan senyuman di wajah tapi dua matamu terlihat lelah.

Kamu selalu terlihat lelah.

“Aku enggak pernah berusaha jadi malaikat sayang” kamu meraih tanganku dan mengecupnya. Dan entah kenapa saat itu juga aku langsung tahu maksud dari perkataanmu. Kamu enggak pernah berusaha terlihat peduli sama orang-orang di sekitarmu. Kamu enggak pernah berusaha untuk terlihat bertanggung jawab. Kamu enggak pernah berusaha karena memang begitulah kamu. Yudis yang enggak akan bisa acuh. Yudis yang enggak akan bisa begitu saja melepaskan diri dari tanggung jawabnya. Yudis yang enggak akan pernah mengorbankan orang lain untuk dirinya.

“Captain America pasti bintangnya capricorn ya Dis, kayak kamu”

“Kalau gitu berarti Agent Carter leo”

Aku menyerah. Kalau urusan gombal, udah pasti kamu yang menang.

Biasanya juga, aku akan menghabiskan beberapa menit pertama di minggu pagiku dengan memandangi wajahmu yang masih di alam mimpi. Sebab kontur wajahmu yang lembut membuatmu selalu terlihat seperti bayi. Meski ketika kamu terjaga biasanya aku berpikir kamu acapkali terlihat lelah. Seolah di pundakmu ada beban berkilo-kilo.

Kuusap wajahmu dengan sebelah tangan, berharap dengan begitu aku bisa mengambil sedikit beban yang kamu pikul. Hanya ketika aku beringsut, lenganmu segera menarikku dan membawaku mendekat.

“Pagi” sapaku.

“Pagi, sayang” suaramu serak, tetapi dengan begitu hariku baru saja dimulai.

Enggak apa-apa Dis, enggak usah buru-buru. Kuusap lagi lembut wajahmu.

Ini hari minggu.


(a spinoff from: https://www.wattpad.com/906210721-fivenally-5-love-languages-quality-time-yudis)

Alien

Image

Taman itu terletak tepat di antara gedung Fakultas Teknik dan Fakultas Kedokteran. Jaraknya dari lobi kedua gedung cuma sepelemparan batu aja meski agar bisa membuat batu itu mendarat ke lobi FK atau FT jelas butuh tenaga ekstra.

Bima cuma suka memperhatikan mahasiswa-mahasiswa yang sering berlalu-lalang di sana. Baik yang singgah untuk sekadar nongkrong sama teman-temannya atau yang cuma numpang lewat.

Entah sejak kapan pula, merokok di sana seperti telah menjadi lebih dari sekadar kebiasaan baginya. Kalau dulu di tahun-tahun pertamanya ia sering membunuh waktu di taman ini bersama teman-teman sekelasnya sembari menunggu kelas berikutnya dimulai, sekarang ia lebih sering duduk sendirian di salah satu bangku semen di bawah pohon palem itu bahkan ketika jadwal tidak mengharuskannya untuk berada di sekitar kampus.

Dihisapnya sebatang rokoknya dalam-dalam sebelum menghembuskan asapnya pula panjang-panjang, nyaris seperti ingin menyombongkan kapasitas paru-parunya pada entah siapapun yang kiranya cukup peduli untuk menaruh sedikit perhatian meski sudah jelas-jelas merokok dilarang di kampusnya.

Beberapa junior yang mengenalnya sebagai salah satu senior menyapanya sesekali. Dulu ialah yang pertama memprakarsai gerakan gerbong kereta api ini dengan mendeklarasikan area tersebut secara tidak sah sebagai area merokok bagi anak-anak Teknik setelah tahu kalau taman itu luput dari pengawasan pihak-pihak kampus. Maka itu, bukan hal yang mengherankan jika kalian mungkin enggak akan menemukan banyak anak kedokteran berkeliaran di sekitar sana meski sebetulnya taman itu terletak di antara gedung dua fakultas.

Tetapi hari inipun rupanya tidak ada yang lain. Bima menyapukan matanya ke area sekitar gedung Fakultas Kedokteran yang jika disandingkan dengan gedung-gedung fakultas lain akan nampak lebih berumur. Rasanya ia bisa membayangkan penglihatannya menembus dinding-dinding tua itu demi menemukan seseorang yang sejak tadi ia cari.

Ia baru hendak beranjak ketika seseorang yang sejak tadi tidak ada dimanapun kecuali di kepalanya kini nampak tengah berjalan ke arahnya. Membuatnya kembali terpaku.

“Nisa!”

Bahkan dari jarak yang membentang dari taman ini hingga selasar gedung fakultas paling bergengsi di kampusnya itu, ia bisa melihat gerakan perempuan tersebut yang segera terhenti ketika seseorang memanggil namanya.

Dilihatnya kemudian perempuan itu bercakap-cakap dengan lelaki berkemeja putih yang memanggil namanya barusan sebelum tertawa ringan, mengatakan sesuatu yang luput dari indera pendengaran Bima. Hari inipun perempuan itu mengenakan terusan dengan warna cerah dan totebag berwarna pastel yang tersandang manis di bahu.

Bima merasakan jantungnya berpacu. Aneh, rasanya ia hampir-hampir bisa melihat betapa berbedanya perempuan itu dari perempuan-perempuan lain di seluruh penjuru Fakultas Kedokteran (atau barangkali seluruh Bumi). Betapa hitam-putihnya dunia di sekitarnya yang adiwarna, dan betapa bahkan hanya caranya berjalan dan mengerling pun begitu lain. Seolah ia datang dari dunia yang sama sekali berbeda dari mereka semua.

Seperti alien, batin Bima dalam hati.

Ingatan Bima melayang pada hari dimana ia harus turun sebagai salah satu kontingen basket di turnamen kejuaraan olahraga antar fakultas tiga semester lalu dan dengan tololnya jatuh terguling di lapangan sewaktu petakilan menirukan gaya dunk tokoh animasi favoritnya. Membuatnya dengan segera dipinggirkan dari permainan oleh anak-anak KSR yang berjaga.

“Ada betadine gak?” tanyanya pada dua petugas palang merah yang kala itu memapahnya. Tapi sebelum salah satunya menjawab, seorang perempuan telah lebih dahulu menghampirinya.

“Sini, aku bersihin lukanya” potong perempuan itu sembari menenteng kotak P3K dan berjongkok di sampingnya.

Bima melongo, niatnya semula untuk bilang kalau cedera luar begini cukup ditetesin minyak luka saja hilang entah kemana dan seolah bisa membaca pikirannya, perempuan itu berkata lebih dulu. “Kalau enggak dibersihin bisa infeksi nanti” gadis itu berujar lembut, senyuman terutas ketika dua matanya menatap Bima sekilas, “Ini bukan alkohol kok, tenang, enggak perih”

Bima cuma melongo setelah perempuan itu selesai mengobati lukanya dan melilitkan perbannya.

“Jangan langsung nge-dunk lagi ya” ucapnya kemudian.

Bima membaca bordiran nama di rompi berwarna oranye itu sekilas sebelum perempuan itu berlalu.

Khairunnisa.

“Woy! Bima Adi Perkosa! Kelas lu!” Seruan dari arah yang sama sekali berlainan dari titik yang menjadi obyek observasinya menyita perhatiannya dengan segera.

“Si anjing” decak Bima mendengar Reno, senior sekaligus belahan jiwanya di kampus itu lagi-lagi memelesetkan namanya seenak jidatnya. Tapi toh dilambaikannya pula tangannya, mempersilahkan kedua temannya itu sekiranya mereka hendak bersidahulu.

“Ngapain lo? Mau madol lagi lo ya?” tuduh Reno setengah berteriak.

“Ngapain sih elo pada ke sini elah” gumamnya akhirnya, ketika kedua sahabatnya ini malah justru menghampirinya dan ikut duduk di hadapannya.

“Buset, dingin banget lo sama teman sendiri” kali ini Hanif yang membalas setengah kesal.

“Kangen ini pacar lo. Biasa, mau ngapel” Reno iseng menimpali seraya menyalakan sebatang rokok yang terjepit di antara bibirnya, membuat ia harus menerima makian dari kedua belah pihak. (“Anjing lo” “Bangsat”)

“Buru woy, nungguin siape sih lo?”

Bima cuma mengedikkan bahunya. Diliriknya sekilas perempuan itu yang masih nampak berbicara dengan lelaki tadi.

“Bribikanmu tah, Su?” Hanif ikut celingukan.

“Cot, kagak lah” ia buru-buru melepaskan pandangnya, menemukan kedua temannya cuma tergelak melihat rautnya yang berubah keruh seketika.

“Alah, kebaca lo tuh. Yang mana sih? Yang rambutnya panjang itu?” Hanif menunjuk salah seorang gadis yang tengah berkutat dengan telepon genggamnya tak jauh dari tempat mereka berada.

“Ah bukan bukan, gue tahu nih yang tipenya si Bimskuy yang mana, yang itu kan? Yang selebgram itu” giliran Reno menunjuk seorang gadis berkuncir ekor kuda dengan sepatu hak tinggi yang tengah bercengkerama dengan teman-temannya. Sapuan lipstik dan peronanya membuatnya lebih terlihat seperti supermodel daripada mahasiswi kedokteran.

Tetapi Bima tidak lagi mendengarkan kedua temannya pun memperhatikan perempuan-perempuan lain selain yang kini tengah berjalan ke arahnya setelah berpisah dengan lelaki berkemeja putih dan berambut rapi tadi. Bima menahan napas. Ia tahu satu-satunya alasan perempuan itu melewati taman ini hanyalah fakta bahwa ia selalu memilih tempat parkir di belakang gedungnya. Dan entah bagaimana juga Bima hafal betul di sisi mana perempuan itu biasa memarkirkan kendaraannya yang beroda dua. Seolah itu informasi yang sama pentingnya dengan jadwal mata kuliahnya yang ia ambil di semester ini.

“Eh Nisa!” jantung Bima mencelos ketika Hanif malah memanggil namanya, membuat gadis itu berhenti dan Bima kaku di tempatnya duduk. Terkadang Bima lupa kalau Hanif yang gemar mengikuti berbagai macam kegiatan organisasi di kampus kemungkinan mempunyai banyak relasi bahkan hingga fakultas-fakultas lain.

Sejenak perempuan itu-Nisa-hanya melambaikan tangan ke arah mereka lalu, “Hanif... dan kawan-kawan” gumamnya lembut diikuti senyuman. Kain lebar yang ia pakai untuk menutupi kepala hingga leher dan dada hanya menyisakan seraut wajah mungil dan senyuman yang membuat Bima kesulitan mengalihkan kedua matanya. Cantik, batinnya bergumam. Nisa punya lesung pipi yang membuatnya ingin menjatuhkan diri di sana. Bahkan ketika ia menutup hampir seluruh bagian tubuhnya, Bima tetap bisa melihat pancaran kecantikannya. Sesuatu yang amat distingtif tentangnya menurut Bima, yang membuatnya mudah diidentifikasi dari manusia-manusia lain sebab demikian berbedanya ia.

“Pulang Nis?” tanya Hanif lagi.

Perempuan itu hanya mengangguk, “Iya nih Hanif. Duluan ya” ia melemparkan senyum buru-buru seraya membawa beberapa buku di tangannya ke dalam dekapan, “Yuk Nif, yuk teman-temannya Hanif!”

“Yo, Nis” balas Bima pelan, yang disambut perempuan itu dengan senyuman. Ini yang pertama. Bima mengabaikan detak jantungnya yang mulai tidak karuan, menyandang tasnya dan mengantungi sisa rokoknya sepeninggalan perempuan itu.

“Jadi yang mana ni-Eh, kemana lo Bim?”

“Kelas lah”

“Buru-buru amat woy! Pak! Yang maneee ini cemceman lo, malah cabut”

Bima cuma menggeleng pelan sembari menahan senyum yang merekah di bibirnya mengingat apa yang baru saja terjadi.

“Woy, yang maneee?” rangkul Hanif ketika ia telah berhasil menyusul sahabat kepompongnya di koridor.

“Yang tadi selebgram itu kan bener? Deketin lah, jangan lo pandangin aja”

“Iya deketin lah, lo ajak kenalan kek atau lo minta kontak linenya”

Bima cuma terkekeh menanggapi racauan kedua temannya, karena Hanif maupun Reno mungkin tidak akan mengatakan hal yang sama jika tahu siapa perempuan itu. Sebab bukan satu-dua kali gagasan untuk mendekati perempuan itu mampir di kepalanya. Sebab Bima juga sering membayangkan bagaimana jika ia bisa mengenal perempuan itu lebih dekat, menggenggam tangannya, melihat senyum dan tawanya selain dalam jarak. Hanya saja ialah yang memang tidak cukup bernyali untuk melangkahi batas-batas yang ada. Batas-batas yang dengan lantang meneriakinya untuk tidak melangkah lebih jauh dari jarak sepelemparan batu dari taman di samping gedung fakultasnya hingga lobi Fakultas Kedokteran. Batas-batas seperti kain yang menutupi kepala gadis itu atau kalung dengan dua kayu bersilang yang melingkar di lehernya.

Dan baik Reno maupun Hanif memang tidak perlu tahu, mengenai Bima yang hanya bisa merasa cukup dengan memandangi perempuan itu dari kejauhan seakan ia berasal dari planet lain. Seakan ia berbicara bahasa yang sama sekali tidak akan ia mengerti.

Di salah satu bangku taman di antara gedung Fakultas Teknik dan Fakultas Kedokteran yang sebetulnya praktis menyatu.

Kusut

Image

“Siap ya Sayang?”

Tepat setelah Mas Doni memberikan aba-aba tersebut, semua pasang mata yang ada di studio segera bergulir ke arah set dimana Tsamara Mutia Rustiadi tengah bersiap-siap untuk melakukan pemotretan.

Mendadak ruangan begitu senyap. Hanya diisi oleh bisik-bisik kru berikut decakan kagum seiring suara lensa yang terus membidik.

Legam surainya, putih kulitnya, dan lentik jemarinya.

Cantik.

Hanya ada dua kelas model di agensi mereka: yang pertama adalah Tsamara Mutia Rustiadi, dan yang kedua adalah yang bukan Tsamara Mutia Rustiadi.

Barangkali memang tidak sedikit model-model yang memiliki berbagai pencapaian bertebaran di agensi itu, hanya saja peliknya tak pernah ada yang semacam Tsamara Mutia Rustiadi.

Semua kru mengenal betul nama Tsamara sebagai penyanyi cilik dan bintang iklan sejak usianya masih kanak-kanak. Karirnya yang berkembang sangat pesat ditandai dengan banyaknya tawaran untuk membintangi beberapa judul film layar lebar dan serial televisi yang membuat namanya pernah dikenal tak hanya di ibu kota tetapi juga di seantero negeri sebelum kemudian ia hilang begitu saja tanpa jejak dan kembali lagi sebagai model alih-alih seniman peran.

Namun ada hal lain yang membuat pesona perempuan muda itu b-egitu kentara dan tak bisa disembunyikan. Pesona ayu yang seolah bisa membuat siapapun bertekuk lutut. Tajam matanya yang mampu membekukan hati lelaki manapun yang melihatnya.

Entah sudah berapa banyak lelaki yang telah mencoba dan gagal. Sutradara, produser, fotografer, model. Tak ada yang pernah berhasil bahkan sekadar mengantarnya pulang ke rumah.

Tak pernah ada yang bisa menilik kedalaman hati perempuan muda itu kacuali satu orang.

Seorang pemuda yang tidak seorangpun tahu. Yang dikenalnya beberapa tahun silam lewat lirikan-lirikan canggung di kantin ketika ia masih hanya remaja berseragam sekolah menengah atas.

Pemuda yang tidak pernah menatapnya seolah ia berusaha membawanya ke bilik kamar tidur seperti yang lain. Pemuda yang hanya pernah berusaha menggenggam tangannya malu-malu. Pemuda yang juga ia tidak tahu dimana berada.


Image

Manggala Pradipta hanya salah satu dari mereka yang jika diharuskan menentukan sebuah padanan kata untuk nama Tsamara Mutia Rustiadi, akan memilih kata yang sama dengan semua orang. Sebab Tsamara memang amat, sangat cantik.

Pemuda yang sejak tadi juga kesulitan memalingkan kedua matanya dari model wanita yang seharusnya baru berusia dua puluhan itu hanya menghela napas ke arah set dimana Tsamara masih sibuk berpose di depan Mas Doni.

“Andalan gue tuh” seloroh salah satu temannya, menyadarkan Manggala dari lamunannya.

“Mon maap emang Bapak siapa? Baim Wong?” temannya yang lain tahu-tahu muncul entah darimana menimpali.

“Baim Wong udah kawin, nih gue The Next Baim Wongnya”

Kemudian koor tawa.

Manggala cuma menggelengkan kepala menanggapi kegaduhan yang biasa terjadi setiap kedatangan model muda itu. Diangkatnya gelas kartonnya yang berisi kopi untuk ia dekatkan ke bibirnya namun tak ayal lagi melemparkan pandangannya dimana Tsamara Mutia Rustiadi.

Manggala mengawang lagi, ada sesuatu yang membuat Tsamara tak hanya menarik di mata Manggala namun juga begitu utopis. Bohong kalau dia bilang dia tidak mengagumi tubuh yang proporsional itu, bibir yang mungil itu, hidung yang mancung atau bahkan tulang pipinya yang terlampau sempurna seolah yang mengukirnya adalah Michaelangelonya Tuhan. Tetapi mimpi-mimpi Manggala tentang perempuan itu agaknya memang berbeda dengan mimpi orang kebanyakan.

Terkadang Manggala berharap ia mempunyai penglihatan super yang mengizinkannya melihat lewat jemala atau paras cantik model itu dan menelisik isi kepalanya.

Apa yang dia pikirkan saat ini? Apa yang ada di balik senyum yang indah namun dingin dan terlatih itu? Atau apakah di sela-sela ingatannya itu ada tempat untuk pemuda yang sering mencuri pandang ke arahnya beberapa tahun silam. Di kantin sebuah sekolah ketika ia masih duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah atas. Pemuda yang pernah memergokinya tengah merokok diam-diam di luar kelas. Pemuda yang pernah berupaya menggenggam tangannya namun gagal sebab rupanya ia terlalu malu untuk melakukannya.

Rocketship

He first met her when he was 11. She was 9—all loud screeches and would never shut up about her favourite Nickelodeon shows, which was Hey Arnold. She laughed at even the smallest joke Kramer said with her whole face and body (Well, he laughed too just because he liked Seinfield but she didn't stop laughing for half an hour and that is sick). She thought that Mathilda Lando, of all girls on earth, was the cutest, and she once cried her eyes out when he quite literally broke his leg from one of his earliest basketball tournaments. He would never understand her. Even until now when he was 19 and she's 17. He would never understand why she laughed too loud and cried too hard and loved too much. But it was okay. It was okay because she smiled more than she cried and nothing else mattered and everything's fucking perfect with just them sitting next to one another—talking and whispering and telling lies and telling truths and laughing and crying and yelling and complaining (So much, on his part) and also falling (in love, on his part, and into place, on everything's).


He remembered that one night when she stormed into his room crying for being called ugly by a bunch of dickheads in her class more than everything. That was like a lifetime ago, and he usually forgot things but he did remember how it was cold outside and how he was at a loss for words, because how come she was ugly? He remembered how bad it felt in his chest as he got out of his bed and how was this ugly? Her sobbing in her Sulley Sullivan onesie with her nose red from the cold. How the fuck was that ugly? Though the cry wasn't exactly pleasing to hear but she's still easily the prettiest sight he'd ever seen. He scooped her up in a hug soon and promised to get back at those jerks for her. She laughed at that, pulling away from him and looked up with her usual scolding eyes, “don't” “They're lying, and… nobody…. nobody shall tell lies y'know.” “It wasn't a lie, it just… hurts” he remembered the anger swelling up his chest, but also her, resting her forehead against his chest for the fear of breaking into another puddle of tears, and instead of deadass slaughter a man, he only let out a whisper, “It's a lie” It's bullshit, he wanted to say, the biggest he'd ever heard in his whole life, “—you're not ugly,” And he was not lying, though it clearly was an understatement to say it that way, he knew when she let out a faint laugh with her nose and cheeks red and eyes teary that she's a fucking angel, he wanted to say that out loud because she did look like an angel with her brown locks disheveled and eyes big and smile so brilliant like that but she cut him off with a whisper, something along the lines of, “thanks.” (It took him by surprise just how right it sounded falling out from his lips) (Has her voice always been this beautiful?) (He wanted to hear her say his name like that over and over again but he had only thought about that). and so he didn't tell her anything about angels or their reincarnates. They just stared at each other for what felt like 12 years (of course on his part) before she decided to wrap herself around him and laughed, a bit sad, a bit faint, but still as beautiful as ever that eventhough he was never religious, he started to believe in heaven. (with it opening up like this in front of him, how could he dare not?)


On her twelfth birthday, he gave her a flower. She had looked at it for few seconds before taking it with a mutter of “thank you,” He smiled at him but he's too taken aback to return it. His heart raced and pounded so hard against his ribs he swore it's going to jump out of his chest soon and he's going to die. He's so ready to puke when she stood on his toes and kissed the tip of his nose. And it's perfect, really, but also very fucking crazy, very fucking wrong, because she's only twelve and he's fourteen and they should be platonic but he didn't feel platonic at all about all of this and fuck, fuck, she's only twelve, and worse, he felt like he's just taken advantage of his bestfriend who has yet to graduate from elementary school. “hey,” she whispered, cutting whatever was playing in his head off, taking the boy's hand in her much smaller one and held onto it like it's a lifeline and maybe it simply was. “yeah?” he whispered back. “Let's get married when we get older.” And of course that's all she had to say. He didn't say anything as he looked down at her all wordless, his eyes raked down her expression—as if to look for something, if it was another sick joke, but her smile didn't falter one bit, and he had nodded before he knew. Her smile grew even wider he thought her face was going to break, but when he told her, sge only laughed and he felt all sick again and also scared at this point. But he didn't feel wrong, somehow, like he knew all along.


At the age of 16, when she was 14 and she had cried in the restroom instead of eating her lunch, he found out and asked whether they failed her in Math or if she fell on something. She stuttered a few words of “i'm okay” and tried to explain to the older that it was nothing, that it was just their classmates who used to call her ugly back in sixth grade, but this time it just went out of hand and it hurted her a bit but it's okay anyway because “i'd get used to that,” she then smiled up at him, eyes turned into crescents and somehow he just figured it out, that it was the same jerks who made her cry years ago and he didn't think twice, sped downstairs and into her class to search the faces he already knew in the back of his head, been wanting to do this since forever. He broke their nose as soon as he saw them, punched them everywhere like a wounded animal and she had come trying to stop him but he only did when they were all over the floor coughing blood (and by them it means him included). The teachers came shortly thereafter, she shouted a thing or two about how the senior didn't mean any of these, but they still called his parents up and he's suspended for two weeks is all. She didn't know he was fucking glad. “I didn't remember asking you to do anything for me” She had learned honorifics then, he only winced, not even giving half a shit about anything that is not her trying to band-aid his scraped forehead (because it fucking hurted) (no, not because she looked cute) (not at all) (he's not a pervert). “didn't do that for you,” he groaned eventually before he's losing it all and she clicked his tongue, folding her arms in front of her chest, as if it was some bullshit excuse, he sighed, it was some bullshit excuse. “I can't see you hurt like that okay? you were fucking crying” “Now that you're suspended, they're gonna kill me for what you did” “I'll take you to school and wait for you then” She took a short intake of breath as she suppressed the smile that threatened to break across her face and instead, let out a majestic laugh, wrapping her arms around his neck. He smiled against her shoulder, liked the sound of her laugh more than anything in this goddamn world and couldn't help but think that she deserves the whole world.


On the day when his mother died and everyone told him not to cry, she had held him so tight, dampening his hair and shoulder with tears. “It's okay, i got you.” She sobbed. He didn't want to cry but she kept whispering to him that it was okay to cry and he's so happy that the younger was sad for him. He had cried since last night, it's his mother goddamn it he cried his eyes out but his mother's dead and she's going to stay that way for… forever and fuck now this is sad he's going to cry except he is already crying, along with her in some sobfest shit. They're hugging. And they're both crying and he remembered how his mother liked her tea. He remembered how she would laugh at his lame jokes. How she would tell him that he can do whatever he wants. And it's only now he feels his chest is going to explode because he realized she's gone. for all eternity. “it's okay. it's okay. we're alright. you're alright. i got you. i got you” and that's all he needed to hear.


He will never understand her and why she means so much to him. Even until now when he's 19 and she's 17. But he understands one thing: He will never be able to live without her.

Kala

Pertama kali aku bertemu dengan Jagat Raya, dia nggak banyak bicara. Laki-laki itu punya sesuatu yang nggak mudah untuk dilupakan. Sorot matanya. “Abila?” “Iya Mas?” “Gak apa, cuma mau mastiin lo masih di situ” Aku diam sebentar sebelum akhirnya mengangguk kecil meski kebingungan. Mata kami sekilas bersirobok lewat kaca spion sebelum ia mengenakan helm full-facenya. Kalau bukan karena Abang yang ada janji futsal dan menyuruhku pulang sama salah satu alumni yang ikut sparing hari itu, aku nggak akan ada di jok belakang motor retro lawas milik senior kami yang bernama Jagat Raya, point guard, nomor punggung 11, lulus 4 tahun silam. Dari jok belakang motornya dia diam, bisu, dan bau rokok. Kami tidak mengobrol banyak. Dia juga nggak senyum waktu aku bilang makasih, melainkan cuma mengangguk pelan. Aku mengulurkan helmnya. “Bawa aja” katanya pelan, yang kontan membuatku lagi-lagi kebingungan dibuatnya. “Eh?” “Besok biar gampang kalau gue jemput lagi” Aku baru mau nanya maksud ucapannya barusan tapi dia lebih dulu memacu motornya.


Waktu kemudian kami nggak sengaja bertemu lagi di satu senja, dahinya yang berkeringat sehabis latihan bersama tim basket berkerut melihatku. Aku melemparkan senyum canggung yang dibalasnya singkat dengan senyum satu sudut, sebelum menghampiri Abangku di sudut lain lapangan. “Bentar ya Bil, satu kwarter” pamit Abangku seperti biasa, aku segera menyetujuinya sebelum kemudian melipir untuk menonton dari pinggir lapangan. Kemudian peluit tanda babak terakhir permainan hari ini dimulai dibunyikan dan untuk pertama kalinya, aku menyaksikan Abangku payah dengan permainannya sendiri. Jagat Raya mengalahkan Jo dalam permainan satu lawan satu. Waktu kemudian aku dan Abangku berjalan melewatinya, Abang memukul pundaknya jahil yang cuma dibalasnya dengan gelak tawa. Lalu mata kami bertemu lagi, senyum satu sudut masih menghiasi wajahnya yang penuh peluh disandingkan dengan sorot mata sipitnya yang misterius. Untuk beberapa saat aku sedikit kesulitan mengalihkan pandang pun meredakan rona merah di pipiku. “Yo, Ga” pamit Abangku akhirnya. “Yo” sahut point guard itu sambil mengibaskan tangannya ke Abang lantas sekali lagi melirik ke arahku dengan senyum satu sudut yang sama, “Hati-hati” gumamnya entah ke siapa. Hati-hati. Terhadap sorot mata dan senyum itu, aku memang sepantasnya hati-hati.


Hanya saja mungkin aku tidak cukup berhati-hati. Sebab kali inipun aku menemukannya lagi. Di lapangan parkir paling sepi di sekolahku.. atau sekolahnya.. atau sekolah kami. Masih dengan Converse hitam lusuh yang sama seperti pertama kali kami ketemu, jins belel yang sama, cuma kausnya aja yang beda; kaus raglan yang sablonnya udah hilang di sana-sini sebab usia. Lidahku terlalu kelu untuk memanggil namanya atau kembali ke kelas seperti seharusnya, jadi aku cuma melihatnya yang sedang setengah bersandar pada motornya sembari memandang ke lapangan olahraga kami. Dari kepulan asap di sekitarnya saja aku bisa tahu ia sedang merokok. Setahuku hari ini nggak ada sparing, jadi aku nggak terlalu yakin untuk apa dia ada di sini sendirian. Tepat saat aku memperhatikan air mukanya seperti itu, saat itu juga ia justru mendongak. “Abila?” ia mengenaliku. Aku bisa mendengarnya jelas di tempat parkir sebab nggak ada seorangpun selain kami. Senyum itu lagi. Senyum yang membuatku ingin berlari sejauh mungkin darinya tetapi bersamaan dengan itu aku justru melangkahkan kedua kakiku ke arahnya. Ke dalam dua matanya yang menyerupai kolam. Ia menyeringai, menegakkan duduknya di atas jok motor dan menghisap rokoknya selagi memandangiku balik beberapa saat. Aku yang telah berdiri di depannya kemudian terbatuk, membuatnya menyeringai kecil sebelum dipindahkannya racun itu di antara jemarinya yang kurus dan panjang-panjang. “Sori. Bolos?” Aku meliriknya sekilas lagi, masih terbatuk, mengangguk. “Kenapa?” ia bertanya, lagi. Hening. Aku nggak menjawab. “Lo biasanya dipanggil apa sih?” “Abila aja…” entah kenapa cuma itu yang bisa kukatakan. Dan entah bagaimana lelaki di hadapanku merasa itu lucu, karena kini dia tengah terkekeh kecil. Satu batang nikotin terapit di antara bibirnya. “Boleh gak kalau gue manggil lo Kecil?” katanya. “habis badan lo mungil, bisa gue kantongin” Aku mengerutkan kening sedikit bingung, tapi lebih banyak herannya. Kenapa juga dia mau ngantongin aku? “Gue bercanda” gumam Jagat Raya kemudian. Hening. Aku mencengkeram tali tasku, erat, bersiap untuk pamit, waktu tiba-tiba ia mematikan ujung rokoknya dan bangkit dari jok motornya itu untuk menghampiriku. “Mau ikut gue nggak?” ujarnya, menghapus jarak di antara kami sedikit demi sedikit. “Kemana?” “Ke tempat jauh” “Ngapain?” “Bolos” Aku menelan ludah. Bersiap menggelengkan kepalaku kuat-kuat sebab, nggak mungkin, nggak mungkin aku akan pergi dengannya. Ke tempat jauh pula. Bolos, katanya. Ayahku bahkan nggak suka saat ia datang pertama kali. Hanya saja kemudian aku melihat ke dalam dua mata itu untuk kedua kali, mata yang menyerupai kolam tak berdasar. Dan rasanya, semua kehati-hatianku selama ini terhadapnya luruh begitu saja.


Aku menemukan diriku di jok belakang motornya lagi. Ia diam, bisu dan bau rokok.

Lintang.

Bukan maksudku membagi nasib... Nasib adalah kesunyian masing-masing...

Aku masih membaca bait yang sama berulang-ulang. Di luar hujan, dan lelaki itu pun tak juga ada kabarnya. Kugerakkan jariku untuk melipat halaman buku bila kelak akan membacanya lagi. Mungkin hanya di halaman itu dan halaman itu saja. Bukan yang lain. Buku inipun, kuusap kertasnya yang sedikit lecek, adalah pemberian lelaki itu. Aku ingat waktu itu di dapur Emak yang sempitnya minta ampun biar kata cuma ada kami berdua, dia duduk bersila di atas amben dengan kemeja garis-garis yang terlihat mahal dan celana jins yang terlihat mahal juga, menungguiku. Entah apa maunya. Aku menyeka peluh sebesar biji jagung yang meluncur dari dahi dengan punggung tangan, lalu, sambil menghampirinya aku mengusap tangan yang berlumur air garam dan bawang sehabis menggoreng tempe pada daster batik lungsuran Emak. Tempe-tempe Emak. Dapur Emak. Daster Emak. Hanya Emak satu-satunya. “Mas belikan kamu buku” Buku? Lagi? Aku heran, dapat duit darimana dia itu? Tetapi siapalah aku untuk bertanya. Di bawah lampu teplok wajah lelaki itu berpendar sedikit lebih terang ketika aku menerima uluran tangannya ragu-ragu dan duduk di sampingnya. “bekas, tapi isinya tak satupun yang rusak” ucapnya lembut sembari menatapku. Amboi, jantungku berdegup seperti mau meledak. Entah mengapa aku merasa tak akan pernah terbiasa dengan sorot matanya setiap menatapku meski setelah sekian lama. Namun betapapun murahnya buku bekas, bukannya lebih baik ditukar beras? Di tengah krisis pangan pikirnya aku doyan makan kertas? Kertas dan tiwul. Tetapi lagi-lagi, siapalah aku ini berani bertanya. Akupun tidak tahu mengapa ia terus-menerus menemuiku di dapur Emak yang sempitnya minta ampun ini biar kata hanya ada kami berdua. Yang kutahu adalah aku tidak punya hak untuk membantahnya. Maka dengan mata berbinar-binar senang aku membaca buku itu sampai halaman terakhir meski akupun sebenarnya tak terlalu menyukai Chairil. Aku melakukannya hanya untuk menyenangkannya. Hanya untuk mendapatkan pujiannya.


Aku seringkali mendengar orang-orang di kampung kami memujinya. Ia yang dulu membantu menyelesaikan permasalahan ketika di kampung kami ada sengketa lahan, ia pula yang memberi tahu petani-petani kampung kami alternatif pupuk ketika panen kami kesulitan. Ia memang pintar. Mungkin karena ia anak kuliahan. Mungkin semua anak kuliahan seperti dirinya. Mungkin juga tidak. Mungkin aku akan sama sepertinya, jika aku juga melanjutkan sekolah. Tak banyak tetangga kami yang bisa mengenyam pendidikan setinggi dirinya dan tetap sudi pulang ke kampung ini. Kebanyakan memutuskan cepat pindah ke kota begitu lulus. Aku? Aku sendiri hanya kebetulan mengenalnya sewaktu ia melayat ke rumah kami dan membantu proses pemakaman Bapak. Rahangnya yang tegas, dan matanya lembut meneduhkan. Sembari mengobrol dengan Emak dan memberinya kekuatan ia sesekali melirikku. Di rumah kami yang dindingnya masih rotan, orang-orang memenuhi ruangan kecil silih berganti, duduk di atas karpet terpal usang sambil menyalami Emak satu-satu. Tetapi lelaki itu tetap ada di sampingku. “Namanya siapa?” temaram, dari cahaya yang minim aku dapat melihat garis wajahnya. Rahang yang tegas dengan mata lembut meneduhkan. “Lintang…” bisikku tercekat. “Cantik” Aku menunduk, tersipu. “Namanya cantik” lanjutnya kemudian. Aku tetap tersipu.


“Lintang” “Ya Mas?” “Kamu sedang apa di sini?” “Mikir” Ia terkekeh. Lagi, jantungku berdegup seperti mau meledak. Di tepi danau dimana kadang orang-orang kencing atau buang air ini aku telah berusaha menjernihkan kepalaku tetapi toh semuanya tiba-tiba keruh hanya karena ia kini duduk di sampingku. Perasaan apa ini? “Mas ngapain ke sini?” “Nyariin kamu” Kenapa? “Nih” Ia mengeluarkan buku dari saku celana jinsnya. Tentu saja. Kami diam. “Tumben kamu gak ada di dapur?” Aku mendengus. Sebab Emakku menyuruhku kawin. Tapi aku tak mengatakan apapun.


“Lintang, kamu tahu yang saya kerjakan?” Tahu. Ingin rasanya kujawab begitu. Aku sudah 18 tahun, otakku sudah sempurna jadi. Hanya saja aku tak sekolah. Dan aku sudah mau kawin, perkawinan yang di luar kehendakku. Tapi pokoknya aku tahu. Aku pernah rangking satu waktu SD. Aku pintar. Dan kamu tahu itu. Makanya kamu terus datang ke sini membawa buku-buku itu. Tetapi toh aku hanya mengangguk tanpa bilang apa-apa. Lelaki itu, lagi-lagi duduk di amben, membawa buku. Chairil, Pramoedya. Ia tersenyum dan jantungku, jantung ini kurasa sudah berpindah melorot hingga ke ujung jempol kakiku. “Kamu betul-betul tahu” Mungkin aku cuma mengkhayal saja, tapi rautnya sendu saat berkata begitu. Sekali lagi mata kami bertatapan dan sekali lagi juga ia menatapku dengan sorot mata itu, sorot yang mungkin dapat membuatku salah paham akan perasaannya kepadaku selama ini. “hari ini kamu cuci rambutmu?” Aku mengangguk kecil, menunduk, “Kemarin” Ia ketawa. Aku ikut. Lantas tiba-tiba ia melepaskan karet gelang yang selama ini dipakainya, yang warnanya hijau tua seperti danau kampung kami dimana orang-orang kadang kencing dan buang air. Untuk beberapa saat, ketika ia menatapku kembali, aku seperti bisa melihatnya tersenyum lewat kedua mata itu, kemudian dengan kedua tangannya diraihnya pula rambutku perlahan sebelum disisir dan diikatnya dengan penuh kehati-hatian yang amat sangat. Tubuhku panas-dingin. Nah, kali ini resmi sudah aku betul-betul salah paham. “Cantik” Raut sendu itu lagi, namun entah bagaimana masih dengan kehangatan yang memancar. Aku hanya memperhatikannya dengan mata membeliak tak percaya. “Cantik” Samar, tepat saat aku kehabisan kata-kata karena tersipu dengan semua perhatiannya kepadaku, kedua tangannya merangkum wajahku dengan hati-hati. “Lintang” aku menatap matanya penuh tanda tanya tetapi seluruh pertanyaan itu lenyap begitu saja ketika bibirnya menyentuh milikku dalam tautan yang dalam. Pelan, aku memejamkan kedua mataku. “Lintang” Ibu jarinya mengusap tulang pipiku. Kedua tanganku saling meremas sementara ia menarik tubuhku yang mungil lebih dekat, lebih lekat. “Lintang” bisiknya lagi. Air mataku, air mataku tak henti-hentinya mengalir.


Ia tidak pernah lagi datang membawa buku.


Aku masih membaca bait yang sama berulang-ulang. Di luar hujan dan lelaki itupun juga tak ada kabarnya. Kugerakkan jariku untuk melipat halaman buku bila kelak akan membacanya lagi. Mungkin hanya di halaman itu dan halaman itu saja. Bukan yang lain.