the moon.

just me and my thoughts.

#1

Salah satu resolusi dari sekian banyak resolusi yang tercetus di kepalaku adalah kembali menulis. Menulis apa saja, tetapi yang paling ingin kulakukan adalah menulis buku harian.

Aku tidak pandai berbicara, tetapi aku suka bercerita. Banyak cerita, perasaan dan pengalaman yang ingin sekali aku sampaikan pada orang lain. Selama ini, orang yang bisa menerima ceritaku tanpa menghakimi atau komentar yang aneh-aneh atau bahkan respon negatif lainnya hanya ayahku.

Banyak sekali kenangan di antara kami berdua. Ada suatu perasaan yang terkait di antara kami, yang rasanya hanya bisa kami berdua rasakan.

Betapa patah hatinya aku ketika beliau pergi untuk selamanya. Bahkan beberapa bulan berlalu pun, aku tidak pernah sembuh. Aku mencoba menggantikan beliau dengan kakak perempuanku, tetapi tidak pernah sama.

Malam terakhirku bertemu beliau sebelum berangkat ke Jakarta, terbesit sesuatu di dalam hatiku. Apakah ini terakhir kalinya aku bertemu beliau? Aku juga masih bisa merasakan tangannya ketika cium tangan untuk yang terakhir kali.

Benar saja, itu terakhir kalinya.

Aku bahkan tidak sempat berkata apapun. Rasanya seperti ditinggalkan begitu saja. Tanpa pamit, tanpa apapun.

Aku pikir, lama-lama perasaan ini akan membaik. Katanya waktu menyembuhkan segalanya. Nyatanya, aku malah merasa makin hampa. Apalagi aku tinggal jauh dari makam beliau. Aku tidak bisa sesekali menengok ke sana.

Kesedihanku memarah saat aku berkaca. Aku bisa melihat garis wajah beliau di wajahku. Aku bisa merasakan ujung-ujung jari beliau saat menyentuh wajah dengan jari-jariku. Aku begitu mirip dengan beliau, dan hal itu semakin membakar kesedihanku.

Aku tidak tahu bagaimana cara berdoa untuk beliau. Apa harapan yang harus aku sisipkan di dalam doa tersebut? Aku hanya ingin bertemu beliau, bertanya mengapa aku ditinggalkan begitu saja. Mengapa tidak pamit dulu padaku? Setidaknya ada sesuatu dari beliau yang dapat aku kenang sendiri.

Aku bahkan sudah tidak bisa mengingat suaranya lagi.

Aku tahu betapa ayahku rindu pada ibunya, tetapi apa di dunia ini bersamaku begitu melelahkan? Mengapa pergi padahal aku masih ingin bersama?

Kesedihanku ini merupakan salah satu cerita yang terpendam dan belum bisa aku ceritakan pada siapa pun. Semua orang kehilangan orangtuanya, aku takut jika semua ini hanya aku yang merasakan dan aku tidak mau dihakimi.

Aku tidak punya solusi dan tidak ada orang yang bisa aku pintai solusi, jadi kurasa menulis buku harian merupakan jalan yang baik untuk menggantikan posisi ayahku selama ini.

Kuharap suatu hari nanti, aku bisa menemukan orang yang dapat mendengarkan ceritaku, baik bahagia ataupun sedih. Aku harap aku dapat menemukan ayahku dalam diri orang lain suatu hari nanti.