write.as

⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀

tiktiktiktiktiktiktiktiktiktiktiktiktiktik

⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀

gemuruh keempat datang bersama butiran-butiran hujan yang gemuk dan padat, tetapi itu tidak menghentikan jinhyuk mencium sang dokter dalam dan membawanya berdansa di bawah hujan.

ciuman itu begitu pelan dalam satu aspek namun terkesan frantik di beberapa aspek lainnya—ada kehausan yang kentara membuncah dari kedua belah pihak. jinhyuk yang tidak bisa menghentikan dirinya sendiri mencoba seribu satu cara melumat mulut sang dokter, dibahanbakari dengan bagaimana pemuda di pelukannya itu mengejar bibirnya kembali tiap kali mereka berhenti sejenak untuk meraup oksigen. tidak peduli bagaimana wajah dan tangan dan baju-baju mereka basah kuyup karena hujan.

jinhyuk tersenyum ke dalam ciuman mereka, membenamkan hidung dan mulutnya di sepanjang leher sang dokter. merasakan badan yang bersangkutan melunglai di bawah sentuhannya, bergetar hebat tiap hembus napas jinhyuk yang hangat menyentuh kulitnya. jinhyuk tersenyum lagi, kali ini ke dalam ceruk leher sang dokter, tidak percaya bahwa pemuda ini menginginkan jinhyuk seperti jinhyuk menginginkannya. rentetan ciuman itu seolah berlomba-lomba dengan deru napas mereka dan rintik hujan yang tidak kalah berisiknya. diciuminya garis rahang sang dokter, dimulai dari dagu dan naik hingga bibirnya berhenti di daun telinganya.

“dokter,” bisik jinhyuk di telinga si pemuda, “wooseok—”

⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀

(...ayah?)

⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀

entah darimana dokter wooseok menemukan kekuatan yang sebegitu besar untuk mendorongnya sampai jinhyuk terhuyung beberapa langkah ke belakang, nyaris jatuh terjerembab kalau bukan karena kontrolnya.

no,” bisik sang dokter, memandangi kedua tangannya yang menengadah menerima hujan. dari sini, jinhyuk bisa melihat bagaimana keduanya bergetar begitu hebat. kepalanya menggeleng perlahan. satu kali, dua kali. ada langkah mundur yang berikutnya diambil sang dokter, seolah ia berusaha untuk menjauh dari jinhyuk. “no, no, no, no, no, no—”

“i love you,” ucap jinhyuk lantang dari tempatnya berdiri, melawan gemuruh keenam dari langit yang menantangnya di ujung sana. mendengar ini, dokter wooseok menatapnya horor. lucu bagaimana seseorang yang tadinya begitu haus akan dekapannya kini berusaha untuk menjaga jarak sejauh mungkin dari jinhyuk. “dokter, saya tahu ini terlalu cepat untuk dokter, untuk saya, tapi saya sudah nggak bisa bohong lagi dengan diri sendiri—”

untuk setiap langkah maju yang diambil jinhyuk, ada lima langkah mundur yang diambil dokter wooseok.

“no, no, no—”

“i love you,” ucap jinhyuk lagi, kali ini mengulurkan tangannya, meminta sang dokter untuk menggamitnya. “please come with me this sunday.”

“i can’t,” isak dokter wooseok, membenamkan wajahnya ke telapak tangan dan menangis di sana. tangan itu masih juga belum berhenti bergetar, untuk suatu alasan yang tidak jinhyuk ketahui. “i can’t, i can’t—”

jinhyuk tersenyum sedih.

“dokter,” ia mencoba lagi, mengambil satu langkah maju. dua, ketika yang bersangkutan tidak berkutik. tiga, sampai ia benar-benar berdiri tepat di hadapan sang dokter, sambil mengulurkan tangannya lagi. “saya janji, kita tidak perlu terburu-buru—saya bersedia kalau harus—”

tangan itu ditepisnya keras-keras.

“SAYA NGGAK CINTA DENGAN COACH!”

⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀

(...ayah...?)

⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀

jinhyuk bisa merasakan tangannya terkulai kembali ke sisi badan.

“saya nggak cinta dengan coach,” tangisan sang dokter semakin menjadi-jadi. terisak seolah-olah ada cambuk imajiner yang menyiksanya dari belakang, membuatnya sesenggukan seperti ia akan tenggelam dalam air matanya sendiri. jinhyuk mendengarkan semua ini dengan telinga terbuka, meskipun saraf-sarafnya terasa tumpul diguyur hujan sampai ia kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang hujan dengan mana yang air mata. mata sang dokter merah sekali. semuanya begitu berbayang dan begitu cepat. “saya nggak pernah cinta dengan coach...”

(you’re unlovable.)

“saya nggak bisa, coach...”

(nobody wants you.)

“nggak bisa...”

(you’ll die alone.)

sebersamaan dengan itu, dokter wooseok berlari menuju tangga dan membanting pintu tersebut di belakangnya, meninggalkan jinhyuk bersama gemuruh langit nomor tujuh yang tidak ada apa-apanya dibandingkan gemuruh yang ada di dalam dirinya saat ini, otaknya mengulang ucapan sang dokter barusan seperti kaset rusak.

you’re unlovable.

nobody wants you.

you’ll die alone.

you’re unlovable.

nobody wants you.

you’ll die alone.

you’re unlovable.

nobody wants you.

you’ll die

⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀

⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀

“coach—hey, coach?!”

⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀

⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀

terdengar seperti coach jaehwan menyusulnya ke balkon, tetapi dia tidak peduli.

jinhyuk membiarkan rintik hujan itu menggerogoti kesadaran terakhirnya.

⠀ ⠀ ⠀ ⠀ ⠀