salmarw

cw // character death


pak manna (dosen) : sampai mana mark?

pak manna (dosen) : jadi datang kan?

pesan itu diterima mark sepuluh menit lalu, tepatnya ketika ia masih sibuk mencari spot parkir di tengah lautan kendaraan milik tamu undangan yang datang ke pernikahan hendery dan krisan siang hari ini. mark mengetikkan “siap pak, ini sudah mau masuk gedung” sebelum menekan tombol kirim dan memasukkan ponselnya kembali ke saku celana.

laki-laki itu menghela napas pendek—mengantri tertib di belakang barisan tamu yang bergantian mengisi buku undangan—sembari menatap pada ujung sepatu pantoefl yang ia kenakan. mark terdiam, membiarkan pikirannya melayang, menyusuri satu per satu kenangan yang berjajar di dalam kepalanya, kenangan tentang pernikahan teman-temannya sebulan terakhir, kemudian beralih mengingat pernikahannya sendiri—yang harus dengan rela diakhiri sebelum sempat dimulai, yang harus diratapi bahkan sebelum mark sempat merayakan.

“mas mark?” suara itu menyapa mark lembut, datang dari seorang perempuan dengan blazer warna hitam dan selendang tipis bermotif batik yang melilit leher jenjangnya. perempuan itu berdiri di depan pintu masuk gedung yang dihiasi dengan bunga sintetis berwarna putih gading. mark mengangkat kedua alis, berusaha menggali ingatan tentang sosok perempuan cantik di hadapannya.

“ah, sudah tidak ingat ya,” perempuan itu tertawa ramah, “saya karina,” ia melanjutkan, membangunkan satu fraksi kecil di dalam sudut kepala mark, perlahan tapi pasti mengingat nama tersebut, “wedding organizer mas mark dan mas jaemin tiga tahun lalu.”


“bentar lagi,” ujar mark, menatap hangat pada jaemin yang duduk di kursi putar sembari bermain game pada ponsel miliknya—berusaha membunuh waktu sembari menunggu mark yang masih berkutat menyelesaikan setumpuk berkas permohonan pinjaman milik nasabah yang baru sampai di meja mark dua jam yang lalu, “sabar.

jaemin tertawa, membuat mark latah tertawa juga.

tawa jaemin selalu hangat, lembut membelai telinga mark, erat memeluk setiap rasa letih yang bertumpuk karena seharian bergelut dengan berkas yang tak kunjung menyusut, “iya ini sabar,” jaemin membalas pendek, sebelum kembali mengalihkan perhatian pada layar ponselnya.

jaemin dan mark bertemu dua setengah tahun lalu.

ketika itu, mark belum genap dua tahun menduduki posisi sebagai staff back office di salah satu bank swasta di jakarta selatan. na jaemin datang pada suatu senin, menjabat tangan mark dengan seutas senyum ramah di bibir, memperkenalkan dirinya sebagai salah satu pegawai baru di bagian costumer service. mark masih ingat bahunya yang kontan melunglai, tanda bahwa pupus sudah harapan mark untuk menjadi partner kerja laki-laki di hadapannya.

tapi toh, seharusnya hal tersebut sudah diduga oleh mark. dengan paras setampan jaemin, tentu laki-laki yang lebih muda dua tahun darinya itu akan ditempatkan di bagian frontliner—orang-orang yang diharuskan menghadapi nasabah dengan senyum hangat dan wajah ramah.

the former bad boy that turned soft just for you—adalah kalimat yang menggambarkan mark kala itu. mark tidak pernah terikat hubungan serius sebelumnya: semua mantan kekasihnya hanya ia kencani selama beberapa minggu sebelum kemudian ia tinggalkan. suatu kebiasaan yang sudah ia bawa sejak laki-laki itu masih duduk di bangku sekolah menengah atas, suatu kebiasaan yang mark kira tidak akan bisa ia tinggalkan.

but boy, was he wrong all along.

“kak,” jaemin memanggil pada suatu malam—ketika itu, keduanya tengah menyantap sepiring mie goreng di dalam mobil mark, berlomba-lomba meredakan rasa lapar yang melanda perut mereka berdua. akhir bulan memang salah satu waktu paling sibuk bagi kantor mereka, wajar jika keduanya tidak sempat menyantap makan siang pada waktu istirahat beberapa jam sebelumnya.

“hmm?” balas mark, masih sibuk mengunyah.

“kamu nggak mau coba nabung?” tanya jaemin hati-hati, seolah takut pertanyannya menyinggung perasaan kekasihnya.

“nabung untuk?” tanya mark, heran.

selama ini, mark bukan tipe orang yang peduli dengan penghasilannya. tidak heran sebenarnya, mengingat mark cukup beruntung dengan dilahirkan dari keluarga yang cukup berada: kedua orang tuanya selalu memberikan fasilitas terbaik untuk mark, pun tak pernah sekalipun menuntut atau mengatur penghasilan yang mark dapat.

“untuk beli rumah? atau untuk nikah mungkin?” tanya jaemin, dan mark tertawa.

menikah.

kata itu bagaikan racun yang tidak pernah sekalipun menyentuh lidah mark—terlalu tabu, terlalu mustahil.

“nikah?” mark mengigit bibir, berusaha mati-matian menahan tawa. laki-laki itu tersenyum, mengusap lembut puncak kepala kekasihnya, “nanti yaa...”


“ma kenalin, ini mark, salah satu mahasiswa ayah di kampus dulu,” pak manna tersenyum, merangkul pundak mark yang kini sudah berdiri di pelaminan, siap memberi salam untuk kedua mempelai yang sedang berbahagia.

mark mengangguk ramah, menyapa pada seorang perempuan yang mark kenali sebagai istri pak manna. di belakang sang istri, tampak seorang laki-laki tengah berdiri dengan canggung, anak laki-laki itu—mark duga—usianya tak lebih dari dua puluh tahun, mengenakan beskap yang sempurna memeluk tubuhnya yang hanya beberapa sentimeter lebih pendek dari tubuh mark.

“kalau ini anak saya yang kedua mark, sekarang masih kelas tiga sma,” pak manna mengusap kepala si anak laki-laki, “haechan namanya.”


tapi, pernikahan yang sebelumnya menjadi momok menakutkan bagi mark ternyata tidak terasa semenakutkan itu lagi sejak jaemin muncul di kehidupannya.

sosok jaemin nyatanya terlalu sempurna untuk sekedar mark lewatkan begitu saja. ia terlalu indah, terlalu sempurna, berbaur dengan keluarga mark dengan begitu baiknya, bagaikan sosok yang memang sudah seharusnya ada disana, bagaikan seseorang yang sudah lama ditunggu-tunggu oleh orang tuanya.

jaemin akan menghabiskan waktu di rumah mark setiap akhir pekan, berlatih muay thai dengan johnny, atau sekedar menghabiskan waktu berjam-jam dengan winter menonton video youtube dari beauty vlogger favorit si bungsu keluarga mark. terkadang, jaemin akan membantu ibu mark membuat kue kering, mencoba satu per satu resep yang ditemukan oleh sang mama di internet—sebagian berhasil, sebagian besar lainnya tentu saja gagal—atau sesekali, jaemin akan menghabiskan waktu sesorean untuk berbincang dengan ayah mark sembari bermain catur bersama.

“na,” panggil mark, beberapa bulan kemudian—setelah melewati puluhan sabtu dan minggu dengan menyaksikan interaksi jaemin dengan keluarganya—ia menyerahkan dua brosur penawaran apartemen kepada jaemin yang langsung menaikkan kedua alisnya, “mau pilih yang mana?”

dahi jaemin berkerut, heran, “maksudnya?”

“kamu lebih suka apartment yang mana na?” tanya mark lagi, kali ini sembari menyentuh pipi jaemin dengan kedua telapak tanganya, “kakak mau beli apartment, tapi nggak mau tinggal sendirian di apartment nanti,” mark menunduk, merasakan jantungnya berdetak lima kali lipat, seolah berlomba-lomba keluar dari rongga dada mark, “maunya tinggal sama kamu, sama anak-anak kita kalo emang kamu mau ngadopsi anak, sama orang tua kamu kalo nanti mereka udah tua,” mark diam sejenak, “nana mau kan?”

jaemin terdiam, tak sanggup memberi respon—tubuhnya kaku, bibirnya kelu—setetes air mata mengalir di pipi jaemin, air mata bahagia yang tak pernah ia duga kemunculannya.

setetes air mata jatuh lagi, dan jaemin mengangguk; lagi, lagi, lagi dan lagi hingga badannya berguncang karena terlalu bahagia.

“yes, yes, yes, yes, of course i’d say yes kak.”


pertemuan kedua mark dengan haechan terjadi beberapa bulan setelahnya, ketika mark sedang berkunjung ke rumah sakit untuk membesuk mantan dosennya yang sudah semakin merenta. ia mengetuk pintu kamar perlahan, sebelum kemudian melangkah canggung ke dalam ruangan. di dalam, tampak istri sang dosen yang sedang duduk di samping ranjang, ditemani oleh si anak laki-laki berseragam putih abu-abu yang tengah terlelap di atas sofa.

“oh mark?” sapanya, “mari... silakan masuk…” perempuan itu tersenyum, mengambil alih kantung plastik berisi buah yang dibawa oleh mark sebelum mempersilakan laki-laki itu untuk duduk. ia kemudian berjalan mendekati sosok anak laki-laki yang masih terlelap di atas sofa, “nang bangun, biar gantian abang mark duduk di sofa,” ia memanggil lembut, mengguncang pelan tubuh anak bungsunya agar keluar dari alam bawah sadar.

hnggg…” anak laki-laki itu menggeliat, mengucek kedua matanya sebelum kemudian duduk dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya.

“nang, kamu pulang dulu aja sana. ganti baju, nanti malam ganti kesini lagi,” si wanita menyentuh pundak haechan lembut, membuat laki-laki itu mengangguk—masih dengan mata setengah tertutup. ia lantas meraih ransel cokelat yang ia geletakkan begitu saja di samping sofa, kemudian meraih tangan sang bunda, menciumnya.

“adek pulang ya bunda, “ pamitnya, sebelum kemudian ganti berbalik ke arah mark. haechan tersenyum singkat, meraih tangan laki-laki yang lebih tua dan menyentuhkan punggung tangan mark dengan bibirnya, “pulang dulu ya pak.”

mark terpana.


kadang, mark heran bagaimana bisa perbedaan usia yang tidak terlalu jauh antara ia dan kekasihnya bisa membawa perbedaan yang begitu luar biasa. mark selalu tahu bahwa ia termasuk orang yang sabar; kesabarannya terlatih dengan begitu baik setelah puluhan tahun menghadapi adik perempuannya yang super cerewet dan kakak laki-lakinya yang hobi berbuat semena-mena padanya.

tapi sungguh, sesabar dan sedewasa apapun mark di usianya yang kini menginjak dua puluh lima, kekasihnya selalu berhasil membuat mark menganga karena berbagai kejutan yang ia simpan di balik paras tampan dan senyum menawan yang selalu berhasil membuat mark mengumpat, masih tidak percaya bahwa ia diberi keberuntungan sebesar ini untuk bisa merencanakan pernikahan dengan sosok laki-laki di hadapannya.

“yaudah kalo gitu coba saya mau lihat lagi opsi dessert lainnya,” putus jaemin tegas, dengan tetap menyisakan nada lembut di akhir kalimatnya, berusaha semaksimal mungkin tidak menunjukkan kekesalannya pada dua orang petugas catering yang sore ini menemaninya dan mark food testing untuk acara pernikahan mereka dua bulan lagi.

“kemaren kan sudah saya bilang mas, jam 4 saya dateng buat food test, kok bisa waktu saya kesini belom ada dessertnya?” tanya mark, yang langsung disambut oleh jaemin dengan usapan lembut pada lengan atasnya, berusaha meredakan emosi mark yang sudah berada di puncak kepala.

persiapan pernikahan tentu bukan hal yang mudah bagi mereka berdua, ditambah posisi keduanya yang sama-sama bekerja. sekedar menyempatkan diri untuk hadir berdua saja sudah terlampau sulit untuk keduanya. oleh karena itu, mark merasa tidak salah jika emosinya yang memang sudah tertumpuk selama tiga bulan ke depan, meledak sore ini.

“nggak usah marah-marah kak,” jaemin berbisik, “marah pun nggak nyelesaiin masalah kan?”


kabar kematian pak manna datang pada suatu malam, ketika mark baru saja bersiap untuk merebahkan diri ke atas ranjang, mengistirahatkan punggungnya yang sudah nyaris patah karena seharian duduk di atas kursi kerja. laki-laki itu mengerjap, membaca berulang-ulang kalimat berisi berita duka yang disebar di grup angkatan kampusnya.

ia memilih untuk mengabaikan ucapan bela sungkawa yang dikirimkan teman-temannya di grup, dan memilih mengirimkan pesan pada nomor lainnya:

me : adek

me : you okay?

me : abang kesana ya?

bahkan, mark sudah lupa kapan tepatnya ia mulai intens mendekati anak bungsu mantan dosennya itu. awalnya, mark hanya menggantikan peran hendery yang sudah meninggalkan rumah untuk mengikuti istrinya. entah sejak kapan kedekatan mereka menjadi lebih dari sekedar kakak dan adik laki-laki. mungkin setelah kematian ayah haechan, mungkin pada satu tahun ketika haechan harus gap year, dimana kala itu, hanya ada mark yang terus berada di sisinya, berusaha menguatkan haechan yang pada dasarnya memang suka meragukan diri sendiri.

yang jelas, hubungan mereka berdua dimulai pada satu sore di bulan juli: hanya sebulan setelah ulang tahun haechan ke delapan belas. keduanya tengah berada di ruang tamu rumah haechan, dengan laptop di pangkuan yang lebih muda. hanya ada mereka berdua kala itu, karena bunda memang sedang bertandang ke semarang, menengok istri hendery yang tengah hamil muda.

haechan mengigit bibir, berusaha meyakinkan diri bahwa apapun hasil tes seleksi mandiri yang akan ia buka, ia telah siap menerima. yang lebih muda menghela napas panjang, menatap pada mark yang duduk di sebelahnya: laki-laki yang lebih tua kemudian mengangguk: meyakinkan, memberi kekuatan.

hanya perlu satu klik pada tombol login, dan haechan melihat namanya, nomor pendaftarannya, dan tanggal lahirnya terpampang di atas layar, dengan tulisan selamat tercetak besar-besar di bawahnya. ia menjerit tertahan, dan otaknya belum sempat untuk berpikir ketika refleksnya mengambil alih, tangannya menarik wajah mark mendekat, mendaratkan satu ciuman singkat di bibir laki-laki yang sebelas tahun lebih tua darinya.

“chan…” mark tertegun.

haechan mengangguk, memejamkan mata,

kali ini, ganti mark yang menciumnya.


they said that death is not the greatest loss in life. the greatest loss is what dies inside us while we live.

tapi nyatanya, tidak ada satupun dalam diri dan tubuh mark yang hidup detik ketika ia menerima telepon singkat dari mama jaemin, mengabarkan kematian kekasihnya.

“kecelakaan mark, meninggal saat dibawa ke rumah sakit.”


they said, the worst kind of good byes are the ones that are unsaid and unexplained…

mark masih mengingat dengan jelas setiap detik yang berlalu setelah telepon itu ditutup: ia yang berlari seperti kesetanan menuju ke parkiran, teman-temannya yang mati-matian menahan mark pergi, mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit, taeyong yang menyetir di sebelahnya sementara mark hanya sanggup menangis, menangis, menangis.

lantai rumah sakit yang menyilaukan, membutakan mata mark yang sudah lebih dulu buta karena air mata. keluarga jaemin yang menunggu di igd, berpelukan, menangis, saling menguatkan, sekalipun tidak ada satupun di antara mereka yang cukup kuat bahkan untuk sekedar menghadapi hari esok.

tubuh jaemin yang lemas di pelukannya, rambut jaemin yang beraroma darah dan desinfektan—aroma yang kemudian begitu mark benci bahkan bertahun-tahun setelahnya—kulit jaemin yang dingin menyentuh permukaan kulitnya, tangan jaemin yang kini tak lagi balas mengenggam tangan mark, tak lagi mampu mengisi kekosongan sela-sela jari mark dengan begitu sempurna, seolah memang itulah tujuan Tuhan menciptakan jemari keduanya.

tanah basah, aroma bunga dan parfum yang asing di hidung mark, suara tangisan yang tak kunjung usai, pemakaman yang mendadak padat dengan orang-orang yang manyalami mark, mengucapkan bela sungkawa di telinganya.

ingatan mark mengabur: tentang altar dengan lampu gantung yang seharusnya menjadi tempat mereka mengikat janji suci tiga minggu lagi, tentang pesta pernikahan outdoor bertema rustic seperti yang selalu diidamkan oleh jaemin, tentang rencana bulan madu di flores selama dua minggu lamanya, tentang sepasang jas abu-abu muda yang sudah siap untuk dikenakan keduanya.


and yet, we live in hope.

me : naa

me : kaka bawain kamu bubur buat sarapan, udah kakak taruh di meja

me : nanti jangan lupa dimakan dulu

pesan itu terbaca, tanpa pernah terbalas. seperti semagkuk bubur yang ada di meja jaemin pagi itu: tersentuh, tapi tak pernah termakan.


mark and nana happened when they both 25 and 23 mark and haechan happened when they both 28/29 and 17 (when haechan's dad is sick, when hendery got married)/18