write.as

Semesta Tara

Pria dengan ciri ciri tubuh yang lumayan kurus itu berjalan pelan sambil menggendong tas neki (✓) miliknya yang sudah berisi beberapa baju, dan segala perlengkapan Tara yang sudah ia ambil semalam setelah menaruh motor Tara dirumahnya.

Matahari datang dengan mata yang sembab karena tangisan nya semalam dan kurang tidur karena harus berjaga jika terjadi sesuatu kepada Tara. Ditambah, ada sesuatu yang harus Tara tau saat ini. Sebelum ia memberitahu Tara, ia tersenyum dengan lebar layaknya Joker “Hi baby doll, do u miss meh?”

“Hahaha sial lo. Kemana aja?” Jawab Tara dengan senyuman manisnya. Walau masih berbaring di tempat tidur, wajah Tara sangatlah tampan.

“Buta mata sia? Ini saya sudah membawakan beberapa perangkat alat sholat dibayar tunai, sah!”

Matahari Menaruh tas punggungnya pada sisi kanan bangsal milik Tara, kemudian ia duduk pada sebuah kursi yang sengaja ditempatkan sejak awal pada sisi bangsal.

Ruangan Tara hening seketika, tidak ada suara dari pemilik ikan cupang berwarna merah ini. Ia sedang memandangi wajah tampan milik pria yang sudah menjadi teman sehidup semati ya selama 3 tahun di perantauan ini. Ia sangat ingat, ketika Ia dan Revin diusir karena terlalu berisik malam pertama di kostan pertamanya, Tara lah yang membantu menampung mereka selama 7 hari. Iya, Revin & Matahari tinggal dirumah Tara dan berlagak seperti anak dari mamahnya Tara. Tapi itulah yang membuat Tara yakin, bahwa teman temannya ini akan menjadi penopang semangat hidup & kuliahnya.

Tanpa disadari, Matahari kembali meneteskan air matanya. Kali ini begitu deras, seperti Baru saja ditinggal pacar. “Heh, malu udah gede nangis terus. Gamalu diliatin cupang sendiri?”

Tara mencoba meraih tubuh pria kurus tersebut dan memeluknya. Pelukan Tara layaknya kakak bagi hari. Sangat nyaman dan hangat. Ketika suara Isak tangis tersebut sudah mereda. Tara melepas perlahan tubuh Hari.

“Tar, Lo kapan terakhir check up?”

“check up ya? Ehmm yang gue bilang, udah lama banget. Kayaknya pas SMA deh hahahaha”

“dan sejak saat itu Lo gapernah check up lagi?”

“Pernah tapi ga yang serius gitu.”

Pertanyaan milik Hari seperti sudah memberi tanda bahwa ini akan berkaitan dengan sakitnya Tara. Tara diam sejenak dan berfikir, mungkin saja ini penyebab Hari menangis terus terusan karena ada sesuatu yang ingin di bicarakan.

“Tentang penyakit gue ya har?”

“Ehem.”

“Separah itu kah?”

“Diagnosa pertama dokter itu Anemia Lo yang lumayan parah jadi bisa nyerang paru paru ditambah disepsia sindrom.”

“Oh iya, pasti berhubungan sih. Kaya gerd gitu jatuhnya”

“Tapi hasilnya baru keluar tadi dan diagnosa itu terbantahkan Tar.”

“Terbantahkan?”

“Ehm udah deh, kita fokus ke Lo dulu aja ya. Habisin obatnya, terus cepet cepet keluar. Dan Lo harus sehat lagi ya?”

Tara menenggak obat yang disediakan Hari selagi ngobrol tadi. Tara melihat adanya sebuah lirikan sendu dari mata Hari yang tertangkap olehnya

“Jadi gue sakit apa har?

“Gpp jawab aja. Biar gue bisa tau kedepannya gimana.”

Hari menarik nafas panjang dalam satu tarikkan, kemudian kembali duduk ditemani bola mata miliknya menatap dengan redupnya mata indah milik Tara.

“Lo mengidap kanker darah stadium 2, Tar.” kalimat itu terucap dengan jelas dari bibir milik Hari, kalimat yang berhasil membuat pasokan nafas milik Tara rasanya habis seketika.

“Hahahaha. Kanker ya Har?”

“Kok Lo ketawa Tar? Lo udh tau?”

“Iya tau. Mungkin aja itu dosa orang tua gue dimasa lalu yang dilimpahkan ke gue. Udah stadium 2 juga ya?” Tara tertawa sarkas kepada Hari yang sedikit tersenyum.

“Ini mungkin terjadi karena Lo jarang minum obat dan nyepele in penyakit ini. Ditambah Lo kerja di cafe, jadi harus minum kopi terus kan waktu pertama masuk kerja disana?”

“Har...”

“Lengkap banget ya hidup gue sekarang?”

“Gua muna banget kalo bilang gua gak takut, Har. Gua takut. Pas Lo bilang diagnosa itu terbantahkan, rasanya lebih ke didorong ke kolam fakultas yang dalem banget itu. Se sedih ini perjalanan hidup gue. Lengkap. Lengkap banget. Semesta gue berhenti sejenak dan mungkin aja akan hancur nanti.”

“Tapi gue ngerasa, gue baik baik aja. Gue sehat sehat aja. Mungkin karena keberadaan Lo,Revin, dan Daren di kehidupan gue, jadi ya gue merasa fine fine aja”

Suara Tara terdengar sedikit bergetar, dengan bola mata yang sedari tadi memejam rapat mulai terbuka ditemani senyum yang mulai tercetak dengan jelas beberapa saat kemudian.

“Tar...”

“Gue akan terus berjuang, walau mungkin ini cara Tuhan memberi ujian ke gue, tapi gue akan melawannya. Ditemani dengan kekonyolan kalian, tawa kalian, senyum mamah gue, dan senyum wanita yang mungkin gue suka. Tiara.”

“Gue yakin dengan keberadaan kalian yang akan menyertai hari hari gue kedepannya dan membuat semuanya terlihat normal walau bukan itu faktanya.”

Ruangan dingin milik Tara kembali sunyi karena kedua pemuda ini tidak tau apa yang sedang di hadapi. Sebuah penyakit kanker darah stadium 2.

Terlebih lagi tentang kisah hidup Tara yang tidak mempunyai masa indah saat ia kecil. Tara menangis tersedu-sedu bersama teman yang akan menjadi saksi nyata tentang bagaimana Semesta Tara akan memutuskan jalan hidup untuknya selanjutnya