<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>whal13n</title>
    <link>https://write.as/whal13n/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Fri, 21 Aug 2026 15:35:37 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>&#34;Kok lu cemberut gitu sih, kak?&#34;</title>
      <link>https://write.as/whal13n/kok-lu-cemberut-gitu-sih-kak?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Kok lu cemberut gitu sih, kak?&#34;&#xA;&#xA;Hiruk-pikuk manusia yang berlalu-lalang melakukan kegiatan di dalam mall menjadi latar belakang adegan dan percakapan di antara kedua lelaki yang sedang berjalan berdampingan tersebut. Berdampingan, tetapi dengan jarak yang memisahkan sejauh Sabang dan Merauke. &#xA;&#xA;Seiring bertambahnya langkah yang mereka ambil, jarak itu pun juga semakin melebar. Mingyu akhirnya menarik lengan baju Jihoon untuk merapatkan jarak di antara keduanya. &#34;Deketan napa sih, kak. Udah kayak musuhan bener deh.&#34;&#xA;&#xA;Lirikan tajam bagai tak ada habisnya diberikan oleh Jihoon. Bahkan Mingyu kini yakin kalau tatapan itu hanya terlahir dan ada untuk dirinya seorang, melihat seberapa seringnya ia mendapatkannya. &#xA;&#xA;&#34;Yailah, sekarang malah manyun. Kenapa coba, kak?&#34;&#xA;&#xA;Jihoon menarik lengannya agar lepas dari genggaman Mingyu dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celananya, berjalan sedikit cepat mendahului Mingyu. Usahanya itu gagal karena dua tubuh yang berjalan santai di depannya. Kini Mingyu telah berhasil menyusul Jihoon dan melemparkan tatapan aneh ke arahnya. &#xA;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Kok lu cemberut gitu sih, kak?”</p>

<p>Hiruk-pikuk manusia yang berlalu-lalang melakukan kegiatan di dalam <em>mall</em> menjadi latar belakang adegan dan percakapan di antara kedua lelaki yang sedang berjalan berdampingan tersebut. Berdampingan, tetapi dengan jarak yang memisahkan sejauh Sabang dan Merauke.</p>

<p>Seiring bertambahnya langkah yang mereka ambil, jarak itu pun juga semakin melebar. Mingyu akhirnya menarik lengan baju Jihoon untuk merapatkan jarak di antara keduanya. “Deketan napa sih, kak. Udah kayak musuhan bener deh.”</p>

<p>Lirikan tajam bagai tak ada habisnya diberikan oleh Jihoon. Bahkan Mingyu kini yakin kalau tatapan itu hanya terlahir dan ada untuk dirinya seorang, melihat seberapa seringnya ia mendapatkannya.</p>

<p>“Yailah, sekarang malah manyun. Kenapa coba, kak?”</p>

<p>Jihoon menarik lengannya agar lepas dari genggaman Mingyu dan memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celananya, berjalan sedikit cepat mendahului Mingyu. Usahanya itu gagal karena dua tubuh yang berjalan santai di depannya. Kini Mingyu telah berhasil menyusul Jihoon dan melemparkan tatapan aneh ke arahnya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://write.as/whal13n/kok-lu-cemberut-gitu-sih-kak</guid>
      <pubDate>Thu, 14 May 2020 07:53:35 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>D-Day of Truth</title>
      <link>https://write.as/whal13n/d-day?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[D-Day of Truth&#xA;&#xA;-----------------------------------------&#xA;&#xA;Bisa dibayangkan betapa terkejutnya Mingyu ketika ia disambut dengan pemandangan mengerikan dari kamarnya. &#xA;&#xA;Kain-kain dengan beragam warna berserakan dan memenuhi sisi kanan ruangan. Di tengah-tengah kekacauan itu, duduk seorang lelaki dengan wajah yang tertangkup di kedua tangannya.&#xA;&#xA;&#34;Um, Kak Ji?&#34;&#xA;&#xA;Figur itu lalu menoleh cepat dan dengan sigap berdiri dari posisinya. Gelagatnya seperti baru saja tertangkap basah melakukan hal ilegal. Dan melihat keadaan kamarnya yang hampir menyerupai ilustrasi dari TKP pembunuhan, Mingyu merasa ada cukup alasan untuk curiga terhadap teman mungilnya. &#xA;&#xA;&#34;Gue harus respon kayak gimana nih, kak?&#34; tanya Mingyu, kehabisan akal bagaimana cara bersikap dengan semestinya.&#xA;&#xA;Menyadari bahwa yang memergokinya hanya Mingyu, Jihoon pun sedikit melemaskan tubuhnya, kemudian mengusap tengkuk tanpa mau melihat ke arah lawan bicaranya. &#34;Sorry.&#34; ucapnya. &#34;Gue... mau jalan keluar sama orang, tapi bingung pake baju apa.&#34;&#xA;&#xA;Decakan remeh yang dilontarkan Mingyu terdengar sampai ke telinga Jihoon, yang kemudian dibalas dengan lirikan tajam khas milik lelaki itu. &#xA;&#xA;&#34;Temen atau temen sih, kak? Lu sampe ngamuk gini--semua baju dikeluarin.&#34; ucap Mingyu. &#34;Mana modelnya sama semua...&#34; tambahnya dengan suara kecil.&#xA;&#xA;&#34;Heh, gue denger ya.&#34; &#xA;&#xA;Mendengar celetukan itu, Mingyu hanya terkekeh sambil merapatkan kedua telapak tangannya sebagai gestur permintaan maaf. &#xA;&#xA;&#34;Ga tau gue kesambet apaan.&#34; Jihoon menghela napas kesal, tangannya menyilang di dada. &#34;Mungkin karena gue udah lama ga hang out bareng temen kali ya?&#34; Ia pun mulai memilah kembali pakaian-pakaiannya yang berserakan di lantai dan di kasurnya, mencocokkan satu sama lain untuk membuat padu padan gaya yang serasi.&#xA;&#xA;&#34;Pake yang simple aja kak. Misalnya, kaos putih yang ini,&#34;--ia melempar kaus yang tergeletak di samping kakinya ke arah Jihoon--&#34;sama kemeja biru itu.&#34; &#xA;&#xA;Dengan lihai, Jihoon menangkap lemparan santai dari Mingyu dan mengamati benda yang kini ada di tangannya, menimbang-nimbang dengan serius saran yang diberikan.&#xA;&#xA;Anggukan mantap lalu ia tujukan ke Mingyu dan ia meluncur ke kamar mandi untuk bersiap dan merapihkan penampilannya. &#xA;&#xA;Sementara itu, Mingyu yang juga memiliki janji di sore itu, mulai bergerak untuk memilih kombinasi outfit yang sekiranya cukup kasual. Yah, setidaknya harus lebih pantas dibandingkan dengab setelan kaus dan jeans yang biasa ia kenakan ke kampus. &#xA;&#xA;Sembari menggeledah lemarinya, ia sesekali melirik ke setengah bagian dari kamarnya dengan tatapan miris dan gemas. Tangannya terasa gatal ingin meraih kain-kain tersebut untuk melipatnya dan melemparnya masuk kembali ke lemari Jihoon.&#xA;&#xA;&#34;Ck. Iya, nanti gue beresin.&#34; ucap Jihoon, segera setelah keluar dari kamar mandi.&#xA;&#xA;&#34;Eh, apa kak? Kok..?&#34; tanya Mingyu, terlalu kaget untuk melanjutkan sisa pertanyaannya. Ia sedikit terkejut dengan kedatangan Jihoon yang tiba-tiba. Tangannya mengelus dada, mencoba menenangkan jantungnya yang bereaksi cukup berlebihan. &#xA;&#xA;&#34;Lagian, lu ngeliatin baju-baju gue kayak pengen ngebakar semuanya gitu. Serem banget.&#34; &#xA;&#xA;Mingyu memasukkan ide itu ke dalam kotak saran imajinernya, mengangguk dan bergumam pada diri sendiri sambil mempertimbangkan ucapan guyon tersebut. Jihoon pun menatap Mingyu dengan tatapan awas. &#xA;&#xA;&#34;Oh, iya. Lu mau pergi juga ya? Sama temen kampus?&#34;&#xA;&#xA;Ah, gue belum bilang kak Jihoon, ya?&#xA;&#xA;Menggelengkan kepalanya, Mingyu tersenyum dan mulai menjawab, &#34;engga, kok. Gue sama kak Soo--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ey, guys!&#34; &#xA;&#xA;Pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar dan menampilkan sesosok lelaki dengan rambut merah terangnya. Seseorang bernama Soonyoung yang sedang tersenyum lebar dan menunjukkan deretan gigi manisnya. &#xA;&#xA;&#34;Udah siap belum, nih?&#34; tanyanya pada penduduk ruangan itu, yang masing-masing menganggap bahwa pertanyaan tersebut hanya ditujukan pada diri mereka seorang. &#xA;&#xA;&#34;Udah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Udah.&#34;&#xA;&#xA;Dan dua jawaban serasi terlontar secara serentak. Hal itu otomatis mengundang ekspresi bingung dan terkejut dari dua kawan sekamar yang kini sedang saling memandang heran. &#xA;&#xA;Soonyoung, yang menjadi saksi sekaligus dalang dari kompetisi pandang-memandang di antara dua lelaki tersebut, akhirnya menyadari cikal bakal dari permasalahannya. &#xA;&#xA;&#34;Ah, gue belum kasih tau ya kita perginya berempat?&#34;&#xA;&#xA;Keduanya pun memutus tautan pandangan mereka dan menjawab lagi secara bersamaan.&#xA;&#xA;&#34;Belum.&#34;&#xA;&#xA;Mendengar jawaban itu, Soonyoung hanya meringis dan tertawa kecil, merasa sedikit bersalah. &#34;Hehe, maaf. Gapapa kan tapi kalau berempat pun?&#34;&#xA;&#xA;Jihoon menghela napas. &#34;Iya.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menggaruk pelipisnya. &#34;Santai sih, kak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke!&#34; ucap Soonyoung, lega mengetahui kesalahan kecilnya tidak sefatal yang ia takutkan. &#34;Kalian udah siap, kan? Yuk!&#34; &#xA;&#xA;Dengan kecanggungan yang mulai merundung keduanya, Mingyu dan Jihoon kembali bersiap dan mengambil beberapa perlengkapan yang diperlukan untuk dimasukkan ke dalam kantung celana atau tas masing-masing. Sampai akhirnya, terbit sebuah pertanyaan yang sama di dalam benak mereka. &#xA;&#xA;&#34;Berempat?!&#34;&#xA;&#xA;Soonyoung sedikit tersentak mendengar pertanyaan yang terseru secara serempak lagi dari dua temannya. &#34;Sumpah, kalian ngomong barengan terus dari tadi, kayak, apa tuh namanya, soulmate?&#34; ia pun tertawa geli.&#xA;&#xA;Menurut Soonyoung, jika dilihat dari mata orang asing, mungkin duo ini dapat dikira sudah menjalin persahabatan sejak lama. Padahal, pada kenyataannya, mereka baru saling kenal selama satu minggu dan, perlu digarisbawahi, dengan awal yang sedikit tidak mulus. &#xA;&#xA;&#34;Ngaco ah, kak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sembarangan lu, Nyong.&#34;&#xA;&#xA;Mungkin mereka berdua bisa menjadi lebih akrab dari yang ia perkirakan. ]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>D-Day of Truth</em></p>

<hr/>

<p>Bisa dibayangkan betapa terkejutnya Mingyu ketika ia disambut dengan pemandangan mengerikan dari kamarnya.</p>

<p>Kain-kain dengan beragam warna berserakan dan memenuhi sisi kanan ruangan. Di tengah-tengah kekacauan itu, duduk seorang lelaki dengan wajah yang tertangkup di kedua tangannya.</p>

<p>“Um, Kak Ji?”</p>

<p>Figur itu lalu menoleh cepat dan dengan sigap berdiri dari posisinya. Gelagatnya seperti baru saja tertangkap basah melakukan hal ilegal. Dan melihat keadaan kamarnya yang hampir menyerupai ilustrasi dari TKP pembunuhan, Mingyu merasa ada cukup alasan untuk curiga terhadap teman mungilnya.</p>

<p>“Gue harus respon kayak gimana nih, kak?” tanya Mingyu, kehabisan akal bagaimana cara bersikap dengan semestinya.</p>

<p>Menyadari bahwa yang memergokinya hanya Mingyu, Jihoon pun sedikit melemaskan tubuhnya, kemudian mengusap tengkuk tanpa mau melihat ke arah lawan bicaranya. “<em>Sorry</em>.” ucapnya. “Gue... mau jalan keluar sama orang, tapi bingung pake baju apa.”</p>

<p>Decakan remeh yang dilontarkan Mingyu terdengar sampai ke telinga Jihoon, yang kemudian dibalas dengan lirikan tajam khas milik lelaki itu.</p>

<p>“Temen atau temen sih, kak? Lu sampe ngamuk gini—semua baju dikeluarin.” ucap Mingyu. “Mana modelnya sama semua...” tambahnya dengan suara kecil.</p>

<p>“Heh, gue denger ya.”</p>

<p>Mendengar celetukan itu, Mingyu hanya terkekeh sambil merapatkan kedua telapak tangannya sebagai gestur permintaan maaf.</p>

<p>“Ga tau gue kesambet apaan.” Jihoon menghela napas kesal, tangannya menyilang di dada. “Mungkin karena gue udah lama ga <em>hang out</em> bareng temen kali ya?” Ia pun mulai memilah kembali pakaian-pakaiannya yang berserakan di lantai dan di kasurnya, mencocokkan satu sama lain untuk membuat padu padan gaya yang serasi.</p>

<p>“Pake yang <em>simple</em> aja kak. Misalnya, kaos putih yang ini,“—ia melempar kaus yang tergeletak di samping kakinya ke arah Jihoon—“sama kemeja biru itu.”</p>

<p>Dengan lihai, Jihoon menangkap lemparan santai dari Mingyu dan mengamati benda yang kini ada di tangannya, menimbang-nimbang dengan serius saran yang diberikan.</p>

<p>Anggukan mantap lalu ia tujukan ke Mingyu dan ia meluncur ke kamar mandi untuk bersiap dan merapihkan penampilannya.</p>

<p>Sementara itu, Mingyu yang juga memiliki janji di sore itu, mulai bergerak untuk memilih kombinasi <em>outfit</em> yang sekiranya cukup kasual. <em>Yah</em>, setidaknya harus lebih pantas dibandingkan dengab setelan kaus dan <em>jeans</em> yang biasa ia kenakan ke kampus.</p>

<p>Sembari menggeledah lemarinya, ia sesekali melirik ke setengah bagian dari kamarnya dengan tatapan miris dan gemas. Tangannya terasa gatal ingin meraih kain-kain tersebut untuk melipatnya dan melemparnya masuk kembali ke lemari Jihoon.</p>

<p>“<em>Ck</em>. Iya, nanti gue beresin.” ucap Jihoon, segera setelah keluar dari kamar mandi.</p>

<p>“Eh, apa kak? Kok..?” tanya Mingyu, terlalu kaget untuk melanjutkan sisa pertanyaannya. Ia sedikit terkejut dengan kedatangan Jihoon yang tiba-tiba. Tangannya mengelus dada, mencoba menenangkan jantungnya yang bereaksi cukup berlebihan.</p>

<p>“Lagian, lu ngeliatin baju-baju gue kayak pengen ngebakar semuanya gitu. Serem banget.”</p>

<p>Mingyu memasukkan ide itu ke dalam kotak saran imajinernya, mengangguk dan bergumam pada diri sendiri sambil mempertimbangkan ucapan guyon tersebut. Jihoon pun menatap Mingyu dengan tatapan awas.</p>

<p>“Oh, iya. Lu mau pergi juga ya? Sama temen kampus?”</p>

<p><em>Ah, gue belum bilang kak Jihoon, ya?</em></p>

<p>Menggelengkan kepalanya, Mingyu tersenyum dan mulai menjawab, “engga, kok. Gue sama kak Soo—”</p>

<p>“Ey, <em>guys</em>!”</p>

<p>Pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar dan menampilkan sesosok lelaki dengan rambut merah terangnya. Seseorang bernama Soonyoung yang sedang tersenyum lebar dan menunjukkan deretan gigi manisnya.</p>

<p>“Udah siap belum, nih?” tanyanya pada penduduk ruangan itu, yang masing-masing menganggap bahwa pertanyaan tersebut hanya ditujukan pada diri mereka seorang.</p>

<p>“Udah.”</p>

<p>“Udah.”</p>

<p>Dan dua jawaban serasi terlontar secara serentak. Hal itu otomatis mengundang ekspresi bingung dan terkejut dari dua kawan sekamar yang kini sedang saling memandang heran.</p>

<p>Soonyoung, yang menjadi saksi sekaligus dalang dari kompetisi pandang-memandang di antara dua lelaki tersebut, akhirnya menyadari cikal bakal dari permasalahannya.</p>

<p>“Ah, gue belum kasih tau ya kita perginya berempat?”</p>

<p>Keduanya pun memutus tautan pandangan mereka dan menjawab lagi secara bersamaan.</p>

<p>“Belum.”</p>

<p>Mendengar jawaban itu, Soonyoung hanya meringis dan tertawa kecil, merasa sedikit bersalah. “Hehe, maaf. Gapapa kan tapi kalau berempat pun?”</p>

<p>Jihoon menghela napas. “Iya.”</p>

<p>Mingyu menggaruk pelipisnya. “Santai sih, kak.”</p>

<p>“Oke!” ucap Soonyoung, lega mengetahui kesalahan kecilnya tidak sefatal yang ia takutkan. “Kalian udah siap, kan? Yuk!”</p>

<p>Dengan kecanggungan yang mulai merundung keduanya, Mingyu dan Jihoon kembali bersiap dan mengambil beberapa perlengkapan yang diperlukan untuk dimasukkan ke dalam kantung celana atau tas masing-masing. Sampai akhirnya, terbit sebuah pertanyaan yang sama di dalam benak mereka.</p>

<p>“Berempat?!”</p>

<p>Soonyoung sedikit tersentak mendengar pertanyaan yang terseru secara serempak lagi dari dua temannya. “Sumpah, kalian ngomong barengan terus dari tadi, kayak, apa tuh namanya, <em>soulmate</em>?” ia pun tertawa geli.</p>

<p>Menurut Soonyoung, jika dilihat dari mata orang asing, mungkin duo ini dapat dikira sudah menjalin persahabatan sejak lama. Padahal, pada kenyataannya, mereka baru saling kenal selama satu minggu dan, perlu digarisbawahi, dengan awal yang sedikit tidak mulus.</p>

<p>“Ngaco ah, kak.”</p>

<p>“Sembarangan lu, Nyong.”</p>

<p>Mungkin mereka berdua bisa menjadi lebih akrab dari yang ia perkirakan.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://write.as/whal13n/d-day</guid>
      <pubDate>Mon, 11 May 2020 19:44:43 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>&#34;Kak, kenapa diem aja?&#34;</title>
      <link>https://write.as/whal13n/kak-kenapa-diem-aja?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[&#34;Kak, kenapa diem aja?&#34; &#xA;&#xA;&#34;...&#34;&#xA;&#xA;Detik jarum jam menghunus tiap saraf pendengaran Mingyu. Perlahan-lahan hingga emosinya memuncak. Tangannya merasa hampa dan ingin menyambut kedua telapak lowong di hadapannya. Namun, seakan ada jeruji listrik yang menghadangnya, ia takut untuk mengambil langkah ceroboh. &#xA;&#xA;&#34;Ka--&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mingyu. Udahan, ya?&#34; &#xA;&#xA;Detik jarum jam tidak lagi mengusik telinganya. Suara denging tanpa sumber mengambil alih secara tiba-tiba. Kepalanya terasa ringan, tetapi hatinya sangat berat--kalah tempur dengan gaya gravitasi yang selama ini menjaganya. &#xA;&#xA;Mingyu menggenggam sisi meja, erat. Takut raganya terombang-ambing tornado yang berkecamuk dalam kepalanya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>“Kak, kenapa diem aja?”</p>

<p>”...”</p>

<p>Detik jarum jam menghunus tiap saraf pendengaran Mingyu. Perlahan-lahan hingga emosinya memuncak. Tangannya merasa hampa dan ingin menyambut kedua telapak lowong di hadapannya. Namun, seakan ada jeruji listrik yang menghadangnya, ia takut untuk mengambil langkah ceroboh.</p>

<p>“Ka—”</p>

<p>“Mingyu. Udahan, ya?”</p>

<p>Detik jarum jam tidak lagi mengusik telinganya. Suara denging tanpa sumber mengambil alih secara tiba-tiba. Kepalanya terasa ringan, tetapi hatinya sangat berat—kalah tempur dengan gaya gravitasi yang selama ini menjaganya.</p>

<p>Mingyu menggenggam sisi meja, erat. Takut raganya terombang-ambing tornado yang berkecamuk dalam kepalanya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://write.as/whal13n/kak-kenapa-diem-aja</guid>
      <pubDate>Tue, 21 Apr 2020 17:40:37 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Kafe yang dimaksud Mingyu terletak lumayan jauh dari agensi, sekitar setengah...</title>
      <link>https://write.as/whal13n/a-101-ways?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Kafe yang dimaksud Mingyu terletak lumayan jauh dari agensi, sekitar setengah jam perjalanan dengan kondisi jalan yang sepi. &#xA;&#xA;Terlepas dari jarak yang jauh, suasana yang disajikan dari tempat itu memang nyaman. Apalagi, mereka memilih tempat di lantai dua, tepat di balkon sehingga mereka dapat menikmati hiruk-pikuk kota yang tersisa pada pukul sebelas malam. Juga dengan live music yang dibawakan secara akustik oleh seorang musisi voluntir. &#xA;&#xA;&#34;Pesen kopi aja, lu sambil nyeduh sambil ngobrol sama laptop lu kak.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Terus lu ngapain? Rebahan di lantai?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu tertawa ringan karena celetukan Jihoon. &#34;Ya engga, gue baca-baca buku. Biar sok-sok jadi anak senja tapi kemaleman senjanya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aduh, kan. Bodoh.&#34; &#xA;&#xA;Walaupun mengatakan demikian, Jihoon juga melempar senyum senda kepada Mingyu, yang dibalas dengan juluran lidah. &#xA;&#xA;&#34;Gue juga mau baca buku aja, siapa tau ada inspirasi nyangkut.&#34; ucap Jihoon yang telah beralih dari kursinya menuju lemari buku yang diletakkan di depan dinding kaca, pembatas antara ruang dalam dan balkon yang mereka tempati.&#xA;&#xA;&#34;Lu suka baca buku kak?&#34; tanya Mingyu yang kini telah berada di samping Jihoon, menyandang ekspresi serius sambil membaca judul yang tertera di samping sampul buku-buku itu. &#xA;&#xA;&#34;Mhmm, kalau ada waktu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh, gue engga.&#34; &#xA;&#xA;Jihoon memutar kepalanya menghadap Mingyu. &#34;Terus kenapa lu serius banget milih bukunya? Kayak paham bener sama literatur.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Biar ga keliatan bego aja gitu kak, hehe.&#34;&#xA;&#xA;Memutar bola matanya, Jihoon pun mengacuhkan Mingyu dan kelakuannya yang selalu membuat Jihoon bertanya-tanya. &#xA;&#xA;Setelah enam tingkat rak telah dijarah oleh mata Mingyu, akhirnya ia menyerah dan memilih untuk membaca novel dengan sampul nyentrik yang terselip di sudut paling bawah. Ia pun tersadar bahwa Jihoon juga masih berdiri di sampingnya, belum menemukan pilihan buku yang tepat. Namun, bedanya, lelaki itu sedang terdiam dengan tangan yang terambang ragu di hadapan satu buku. &#xA;&#xA;The Various Languages of City in Shapes and Spaces.&#xA;Towns · Buildings · Constructions&#xA;&#xA;Melihat itu, Mingyu menjangkau buku tersebut dan menariknya keluar dari dempetan kawan-kawannya. &#34;Baca aja sih kak.&#34; ucap Mingyu, meletakkan buku tersebut di genggaman Jihoon.&#xA;&#xA;&#34;H-hah? Apaan. Ga tertarik.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menaikkan kedua alisnya. &#34;Muka lu kayak lagi mikirin life crisis sambil natap tu buku kak. Baca aja, siapa tau lu kepikiran bikin lagu tentang apa gitu, City of Love, Construction of Love.. Aciah gila ide gue mantul banget.&#34;&#xA;&#xA;Balasan yang Mingyu dapatkan dari kalimatnya tersebut hanya pukulan keras di lengan kirinya dan tatapan sengit dari Jihoon. &#xA;&#xA;Meskipun begitu, Jihoon tetap membawa buku berhalaman tebal itu untuk dibaca di meja dengan sesekali meneguk gelas kopinya. &#xA;&#xA;Setengah jam berlalu dan kini Mingyu tengah terlarut dalam lamunannya, dengan pandangan yang terkabur di antara barisan huruf yang sama sekali tidak berhasil dicerna oleh otaknya. &#34;Kak..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tau nggak, gue pas SMA sempet nabung buat beli roket.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Baru tau.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya, kan barusan gue kasih tau.&#34; ucap Mingyu, tidak berusaha terlalu keras untuk membentuk percakapan berarti. &#34;Terus pas kelas tiga, gue ga sengaja mecahin kaca ruang dance sekolah gue. Akhirnya tu duit gue pake buat ganti properti sekolah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kenapa ga minta ortu lu?&#34; saut Jihoon, sedikit acuh.&#xA;&#xA;&#34;Kalau mereka tau, gue mungkin bisa ditendang kak dari rumah.&#34; jawab Mingyu, sedikit acuh juga. &#34;Gue mau jadi model aja dilarang abis-abisan, mereka maunya gue ada pegangan karir. Makanya gue masuk sastra. Tapi gue ogah-ogahan juga.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Asik ya bacanya? Lagi klimaks atau udah tahap antiklimaks?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Lu sadar ini buku teori kan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Betul.&#34;&#xA;&#xA;Jihoon menutup bukunya. Ia meletakkan buku itu di atas meja dan menyilangkan tangannya sambil memberi Mingyu tatapan malas. &#34;Lu anak sastra? Tapi tadi lu bilang ga suka baca buku. Terus tu satu buku aja ga berhasil lu gubris lebih dari lima halaman.&#34;&#xA;&#xA;Lawan bicaranya itu menggembungkan pipi kirinya dan menurunkan pandangannya ke bawah. &#34;Gue ga suka baca novel Indo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lah, terus kenapa masuk sastra Indo?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu melempar wajahnya ke samping dan memainkan jemarinya di atas meja. &#34;Itu sih... Gue salah pilih jurusan waktu daftar SBMPTN.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gue maunya klik sastra Inggris. Udah yakin bener-bener gue klik itu. Sampe ujian gue juga bayangannya sastra Inggris lesgoo. Eh.. Pas pengumuman keterima... Kok tulisannya sastra Indo....&#34;&#xA;&#xA;Jihoon terkesiap. Tercengang. Terdiam beribu-ribu bahasa.&#xA;&#xA;&#34;Itu kartu ujian emang ga ada tulisannya?&#34; &#xA;&#xA;Mingyu mengedikkan bahunya. &#34;Au deh, habis cetak langsung gue masukin tas. Pas ujian gue jadiin alas.&#34; jawabnya, sambil mengunyah kentang goreng yang sudah terlampau dingin untuk dinikmati. &#xA;&#xA;&#34;Astaga...&#34; Jihoon merasa frustasi. Namun, entah ia merasa frustasi untuk alasan apa. &#xA;&#xA;&#34;Astaga, indeed.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Lu tu aneh.&#34;&#xA;&#xA;Telinga Mingyu seakan tergerak dan mencoba untuk melebarkan jalur pendengarannya, tertarik dengan ucapan Jihoon. &#34;Dalam hal?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Everything.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oke, terutama? Yang paling menonjol?&#34;&#xA;&#xA;Tangan Jihoon menyusuri wajahnya dan berhenti untuk mengusap dagunya, menunjukkan pose tipikal orang yang sedang berpikir. &#34;Cara lu deketin gue.&#34; jawab Jihoon, pikirannya masih tersangkut dalam gerigi yang berputar. &#34;Eh, oh, maksudnya--lu, gue--lu deketin gue dalam artian friendly gitu!&#34; &#xA;&#xA;Mingyu terbahak melihat Jihoon kelimpungan mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan pikirannya. &#xA;&#xA;&#34;Ya--ya gitu deh, pokoknya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Emang gue deketin lu kayak gimana deh kak, perasaan biasa aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya dari pintu! Coba, salam perkenalan apa pake ditabrak pintu?&#34;&#xA;&#xA;Gelak tawa Mingyu makin meledak-ledak, ia tidak menyangka Jihoon masih akan membawa-bawa ketidaksengajaan itu. &#34;Ya kak? Kan gue ga sengaja. Mana ada orang nyambut temen baru pake ditabok sih hahahaha--eh, oh iya, bukannya lu kak yang nabok gue sengaja pake gitar? Hahaha.&#34;&#xA;&#xA;&#34;KEDUA! Tiba-tiba ngasih selimut buat gue, ngapain coba?&#34; Jihoon memalingkan wajahnya, mencoba untuk menutupi raut wajahnya yang terlampau kesal. &#xA;&#xA;Menurut Mingyu, gerak-gerik yang ditunjukkan itu terlalu lucu untuk seorang Jihoon yang ia kenal selama dua hari terakhir ini.&#xA;&#xA;&#34;Terus.. sekarang, lu secara suka rela nemenin gue malem-malem padahal lu butuh tidur.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Normal kali kak, gue emang suka ngalong juga kok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Dan tweets lu...&#34;&#xA;&#xA;Di sini, Mingyu mulai keringat dingin lagi, teringat insiden kemarin yang benar-benar membuatnya panik bukan main.&#xA;&#xA;&#34;Oh, yang 4 tweets itu... Ya maaf kak..&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tweets sebelumnya juga. Jangan dikira gue ga baca. Apasih, orkestra sama keran? Lucu kali.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Aaaaaaaaah lupain aja kalo itu sumpaah. Kak, gila ya lu ngestalk gue?&#34; &#xA;&#xA;Jihoon hanya memberi tatapan aneh untuk menjawabnya. Dan itu cukup untuk membuat Mingyu terdiam sekejap. &#34;Oke, I get it. I&#39;m sorry.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Terakhir... Snow white...&#34; ucap Jihoon dengan suara selembut angin malam yang melewati mereka. &#xA;&#xA;Suara Jihoon terlalu ringan hingga sangat mudah untuk terbawa pergi oleh alunan angin kala itu, tetapi Mingyu dengan keberuntungannya yang hanya datang tiap bulan purnama, mendengar jelas apa yang dikatakan Jihoon. &#xA;&#xA;&#34;Ah... Jadi lu udah sempet baca kak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Buat apa lu hapus juga.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Gatau, malu aja.&#34;&#xA;&#xA;Sekali lagi, dan entah berapa kali lagi di masa depan, keheningan menerpa mereka dengan atmosfer yang sedikit canggung.&#xA;&#xA;Dan kali ini, Jihoon lagi yang memecah keheningan. &#34;Kenapa lu nulis itu.&#34;&#xA;&#xA;Roda gigi di pikiran Mingyu tercekat. Habis oli. Tidak bergerak dan kaku. &#xA;&#xA;Kenapa?&#xA;&#xA;Ia juga tidak tau. &#xA;&#xA;Namanya juga konten sosmed kak. &#xA;&#xA;Jika ia jawab seperti itu, apa bisa membuat kecanggungan yang dirasakan sekarang hilang? &#xA;&#xA;Ah, masa bodo, batin Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Sorry kak kalau bikin lu risih, sumpah gue juga ga paham kenapa gue nulis itu. Tau sendiri lah kak, gue kan emang random banget oragnya.&#34;&#xA;&#xA;Jihoon mengangguk. Sesungguhnya ia sedikit mengerti, tetapi entah kenapa ia merasa ingin tau alasan lain di balik keanehan temannya tersebut. Mungkin karena baru pertama kali ini ia menemui orang seperti Mingyu. &#xA;&#xA;&#34;Ga risih kok. Heran aja.&#34; jawab Jihoon, ia mengambil lagi buku yang sempat ia telantarkan dan mulai membacanya kembali. &#34;Lu kebanyakan minta maaf tau ga. Kurang-kurangin lah, kuota maaf lu keburu abis sebelum lebaran.&#34;&#xA;&#xA;Sejujurnya, Mingyu masih tidak percaya bahwa Jihoon bisa mencoba untuk bergurau. Ia bertanya-tanya, apakah memang Jihoon memiliki sense of humor yang lumayan bagus, atau memang ia tidak menyadari memiliki hal itu. Pasalnya, tiap ia mengatakan hal-hal yang lucu, ekspresinya kurang memadai. &#xA;&#xA;&#34;Gue minta maaf terus karena takut first impression gue jelek kak. Gue beneran pengen temenan sama lu, soalnya pribadi lu kayak menarik gitu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hmm...&#34; Jihoon memberi gumaman sebagai respon, setengah karena ia memahami apa yang dimaksud oleh Mingyu dan setengah karena fokusnya sedang terpecah lagi ke buku yang ada di hadapannya. &#xA;&#xA;Ia saat ini sedang membaca bab dua dari buku tersebut, tentang bagaimana memulai suatu pembangunan kota dengan tata bangunan yang kokoh dan harmonis.&#xA;&#xA;Step one: know your interest and find the muse.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Kafe yang dimaksud Mingyu terletak lumayan jauh dari agensi, sekitar setengah jam perjalanan dengan kondisi jalan yang sepi.</p>

<p>Terlepas dari jarak yang jauh, suasana yang disajikan dari tempat itu memang nyaman. Apalagi, mereka memilih tempat di lantai dua, tepat di balkon sehingga mereka dapat menikmati hiruk-pikuk kota yang tersisa pada pukul sebelas malam. Juga dengan <em>live music</em> yang dibawakan secara akustik oleh seorang musisi voluntir.</p>

<p>“Pesen kopi aja, lu sambil nyeduh sambil ngobrol sama laptop lu kak.”</p>

<p>“Terus lu ngapain? Rebahan di lantai?”</p>

<p>Mingyu tertawa ringan karena celetukan Jihoon. “Ya engga, gue baca-baca buku. Biar sok-sok jadi anak senja tapi kemaleman senjanya.”</p>

<p>“Aduh, kan. Bodoh.”</p>

<p>Walaupun mengatakan demikian, Jihoon juga melempar senyum senda kepada Mingyu, yang dibalas dengan juluran lidah.</p>

<p>“Gue juga mau baca buku aja, siapa tau ada inspirasi nyangkut.” ucap Jihoon yang telah beralih dari kursinya menuju lemari buku yang diletakkan di depan dinding kaca, pembatas antara ruang dalam dan balkon yang mereka tempati.</p>

<p>“Lu suka baca buku kak?” tanya Mingyu yang kini telah berada di samping Jihoon, menyandang ekspresi serius sambil membaca judul yang tertera di samping sampul buku-buku itu.</p>

<p>“Mhmm, kalau ada waktu.”</p>

<p>“Oh, gue engga.”</p>

<p>Jihoon memutar kepalanya menghadap Mingyu. “Terus kenapa lu serius banget milih bukunya? Kayak paham bener sama literatur.”</p>

<p>“Biar ga keliatan bego aja gitu kak, hehe.”</p>

<p>Memutar bola matanya, Jihoon pun mengacuhkan Mingyu dan kelakuannya yang selalu membuat Jihoon bertanya-tanya.</p>

<p>Setelah enam tingkat rak telah dijarah oleh mata Mingyu, akhirnya ia menyerah dan memilih untuk membaca novel dengan sampul nyentrik yang terselip di sudut paling bawah. Ia pun tersadar bahwa Jihoon juga masih berdiri di sampingnya, belum menemukan pilihan buku yang tepat. Namun, bedanya, lelaki itu sedang terdiam dengan tangan yang terambang ragu di hadapan satu buku.</p>

<p><em>The Various Languages of City in Shapes and Spaces.</em>
<em>Towns · Buildings · Constructions</em></p>

<p>Melihat itu, Mingyu menjangkau buku tersebut dan menariknya keluar dari dempetan kawan-kawannya. “Baca aja sih kak.” ucap Mingyu, meletakkan buku tersebut di genggaman Jihoon.</p>

<p>“H-hah? Apaan. Ga tertarik.”</p>

<p>Mingyu menaikkan kedua alisnya. “Muka lu kayak lagi mikirin <em>life crisis</em> sambil natap tu buku kak. Baca aja, siapa tau lu kepikiran bikin lagu tentang apa gitu, <em>City of Love</em>, <em>Construction of Love</em>.. Aciah gila ide gue mantul banget.”</p>

<p>Balasan yang Mingyu dapatkan dari kalimatnya tersebut hanya pukulan keras di lengan kirinya dan tatapan sengit dari Jihoon.</p>

<p>Meskipun begitu, Jihoon tetap membawa buku berhalaman tebal itu untuk dibaca di meja dengan sesekali meneguk gelas kopinya.</p>

<p>Setengah jam berlalu dan kini Mingyu tengah terlarut dalam lamunannya, dengan pandangan yang terkabur di antara barisan huruf yang sama sekali tidak berhasil dicerna oleh otaknya. “Kak..”</p>

<p>“Hmm.”</p>

<p>“Tau nggak, gue pas SMA sempet nabung buat beli roket.”</p>

<p>“Baru tau.”</p>

<p>“Iya, kan barusan gue kasih tau.” ucap Mingyu, tidak berusaha terlalu keras untuk membentuk percakapan berarti. “Terus pas kelas tiga, gue ga sengaja mecahin kaca ruang <em>dance</em> sekolah gue. Akhirnya tu duit gue pake buat ganti properti sekolah.”</p>

<p>“Kenapa ga minta ortu lu?” saut Jihoon, sedikit acuh.</p>

<p>“Kalau mereka tau, gue mungkin bisa ditendang kak dari rumah.” jawab Mingyu, sedikit acuh juga. “Gue mau jadi model aja dilarang abis-abisan, mereka maunya gue ada pegangan karir. Makanya gue masuk sastra. Tapi gue ogah-ogahan juga.”</p>

<p>“Hmm.”</p>

<p>“Kak.”</p>

<p>“Hmm.”</p>

<p>“Asik ya bacanya? Lagi klimaks atau udah tahap antiklimaks?”</p>

<p>“Lu sadar ini buku teori kan?”</p>

<p>“Betul.”</p>

<p>Jihoon menutup bukunya. Ia meletakkan buku itu di atas meja dan menyilangkan tangannya sambil memberi Mingyu tatapan malas. “Lu anak sastra? Tapi tadi lu bilang ga suka baca buku. Terus tu satu buku aja ga berhasil lu gubris lebih dari lima halaman.”</p>

<p>Lawan bicaranya itu menggembungkan pipi kirinya dan menurunkan pandangannya ke bawah. “Gue ga suka baca novel Indo.”</p>

<p>“Lah, terus kenapa masuk sastra Indo?”</p>

<p>Mingyu melempar wajahnya ke samping dan memainkan jemarinya di atas meja. “Itu sih... Gue salah pilih jurusan waktu daftar SBMPTN.”</p>

<p>“Hah?”</p>

<p>“Gue maunya klik sastra Inggris. Udah yakin bener-bener gue klik itu. Sampe ujian gue juga bayangannya sastra Inggris lesgoo. Eh.. Pas pengumuman keterima... Kok tulisannya sastra Indo....”</p>

<p>Jihoon terkesiap. Tercengang. Terdiam beribu-ribu bahasa.</p>

<p>“Itu kartu ujian emang ga ada tulisannya?”</p>

<p>Mingyu mengedikkan bahunya. “Au deh, habis cetak langsung gue masukin tas. Pas ujian gue jadiin alas.” jawabnya, sambil mengunyah kentang goreng yang sudah terlampau dingin untuk dinikmati.</p>

<p>“Astaga...” Jihoon merasa frustasi. Namun, entah ia merasa frustasi untuk alasan apa.</p>

<p>“Astaga, <em>indeed</em>.”</p>

<p>“Lu tu aneh.”</p>

<p>Telinga Mingyu seakan tergerak dan mencoba untuk melebarkan jalur pendengarannya, tertarik dengan ucapan Jihoon. “Dalam hal?”</p>

<p>“<em>Everything</em>.”</p>

<p>“Oke, terutama? Yang paling menonjol?”</p>

<p>Tangan Jihoon menyusuri wajahnya dan berhenti untuk mengusap dagunya, menunjukkan pose tipikal orang yang sedang berpikir. “Cara lu deketin gue.” jawab Jihoon, pikirannya masih tersangkut dalam gerigi yang berputar. “Eh, oh, maksudnya—lu, gue—lu deketin gue dalam artian <em>friendly</em> gitu!”</p>

<p>Mingyu terbahak melihat Jihoon kelimpungan mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan pikirannya.</p>

<p>“Ya—ya gitu deh, pokoknya.”</p>

<p>“Emang gue deketin lu kayak gimana deh kak, perasaan biasa aja.”</p>

<p>“Ya dari pintu! Coba, salam perkenalan apa pake ditabrak pintu?”</p>

<p>Gelak tawa Mingyu makin meledak-ledak, ia tidak menyangka Jihoon masih akan membawa-bawa ketidaksengajaan itu. “Ya kak? Kan gue ga sengaja. Mana ada orang nyambut temen baru pake ditabok sih hahahaha—eh, oh iya, bukannya lu kak yang nabok gue sengaja pake gitar? Hahaha.”</p>

<p>“KEDUA! Tiba-tiba ngasih selimut buat gue, ngapain coba?” Jihoon memalingkan wajahnya, mencoba untuk menutupi raut wajahnya yang terlampau kesal.</p>

<p>Menurut Mingyu, gerak-gerik yang ditunjukkan itu terlalu lucu untuk seorang Jihoon yang ia kenal selama dua hari terakhir ini.</p>

<p>“Terus.. sekarang, lu secara suka rela nemenin gue malem-malem padahal lu butuh tidur.”</p>

<p>“Normal kali kak, gue emang suka ngalong juga kok.”</p>

<p>“Dan tweets lu...”</p>

<p>Di sini, Mingyu mulai keringat dingin lagi, teringat insiden kemarin yang benar-benar membuatnya panik bukan main.</p>

<p>“Oh, yang 4 tweets itu... Ya maaf kak..”</p>

<p>“Tweets sebelumnya juga. Jangan dikira gue ga baca. Apasih, orkestra sama keran? Lucu kali.”</p>

<p>“Aaaaaaaaah lupain aja kalo itu sumpaah. Kak, gila ya lu ngestalk gue?”</p>

<p>Jihoon hanya memberi tatapan aneh untuk menjawabnya. Dan itu cukup untuk membuat Mingyu terdiam sekejap. “Oke, <em>I get it</em>. <em>I&#39;m sorry</em>.”</p>

<p>“Terakhir... Snow white...” ucap Jihoon dengan suara selembut angin malam yang melewati mereka.</p>

<p>Suara Jihoon terlalu ringan hingga sangat mudah untuk terbawa pergi oleh alunan angin kala itu, tetapi Mingyu dengan keberuntungannya yang hanya datang tiap bulan purnama, mendengar jelas apa yang dikatakan Jihoon.</p>

<p>“Ah... Jadi lu udah sempet baca kak.”</p>

<p>“Buat apa lu hapus juga.”</p>

<p>“Gatau, malu aja.”</p>

<p>Sekali lagi, dan entah berapa kali lagi di masa depan, keheningan menerpa mereka dengan atmosfer yang sedikit canggung.</p>

<p>Dan kali ini, Jihoon lagi yang memecah keheningan. “Kenapa lu nulis itu.”</p>

<p>Roda gigi di pikiran Mingyu tercekat. Habis oli. Tidak bergerak dan kaku.</p>

<p>Kenapa?</p>

<p>Ia juga tidak tau.</p>

<p><em>Namanya juga konten sosmed kak</em>.</p>

<p>Jika ia jawab seperti itu, apa bisa membuat kecanggungan yang dirasakan sekarang hilang?</p>

<p><em>Ah, masa bodo</em>, batin Mingyu.</p>

<p>“<em>Sorry</em> kak kalau bikin lu risih, sumpah gue juga ga paham kenapa gue nulis itu. Tau sendiri lah kak, gue kan emang <em>random</em> banget oragnya.”</p>

<p>Jihoon mengangguk. Sesungguhnya ia sedikit mengerti, tetapi entah kenapa ia merasa ingin tau alasan lain di balik keanehan temannya tersebut. Mungkin karena baru pertama kali ini ia menemui orang seperti Mingyu.</p>

<p>“Ga risih kok. Heran aja.” jawab Jihoon, ia mengambil lagi buku yang sempat ia telantarkan dan mulai membacanya kembali. “Lu kebanyakan minta maaf tau ga. Kurang-kurangin lah, kuota maaf lu keburu abis sebelum lebaran.”</p>

<p>Sejujurnya, Mingyu masih tidak percaya bahwa Jihoon bisa mencoba untuk bergurau. Ia bertanya-tanya, apakah memang Jihoon memiliki <em>sense of humor</em> yang lumayan bagus, atau memang ia tidak menyadari memiliki hal itu. Pasalnya, tiap ia mengatakan hal-hal yang lucu, ekspresinya kurang memadai.</p>

<p>“Gue minta maaf terus karena takut <em>first impression</em> gue jelek kak. Gue beneran pengen temenan sama lu, soalnya pribadi lu kayak menarik gitu.”</p>

<p>“Hmm...” Jihoon memberi gumaman sebagai respon, setengah karena ia memahami apa yang dimaksud oleh Mingyu dan setengah karena fokusnya sedang terpecah lagi ke buku yang ada di hadapannya.</p>

<p>Ia saat ini sedang membaca bab dua dari buku tersebut, tentang bagaimana memulai suatu pembangunan kota dengan tata bangunan yang kokoh dan harmonis.</p>

<p><em>Step one: know your interest and find the muse.</em></p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://write.as/whal13n/a-101-ways</guid>
      <pubDate>Fri, 03 Apr 2020 23:22:27 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Di balik hah milik Jihoon, ternyata perkaranya berbeda dari apa yang...</title>
      <link>https://write.as/whal13n/di-balik-hah-jihoon?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Di balik hah milik Jihoon, ternyata perkaranya berbeda dari apa yang dipermasalahkan oleh Mingyu. &#xA;&#xA;Sewaktu masih sibuk menggigit timun yang tersisa di pinggir kotak makannya, ponselnya bergetar pelan di sampingnya, menampangkan tulisan &#34;Macan Tutul&#34; yang selalu ia nanti di hari-harinya. &#xA;&#xA;Sebuah notifikasi dari platform media sosial Twitter. Pemilik akun Macan Tutul, yaitu Soonyoung, me-mention akun Jihoon pada suatu unggahan sekaligus mengajaknya untuk menghabiskan waktu bersama dengan menonton film. &#xA;&#xA;Namun, yang jadi pusat perhatiannya kini bukan unsur ajakan yang selalu membuat moodnya naik atau bebannya terlepas, tetapi unggahan dari username Mingyudon yang pemiliknya kini sedang terlihat serius berkutik dengan HP-nya sendiri. &#xA;&#xA;Suatu paragraf gurauan yang bertajuk Snow White, membawa deskripsi mengenai seseorang berkulit putih dan berbibir merah. Suatu kalimat komparatif yang menyandingkan keindahan Snow White ini dengan potret warna yang dimiliki oleh nasi dan sambal.&#xA;&#xA;Awalnya, Jihoon mendengus ringan karena keanehan teman barunya tersebut. Namun, semakin ia pikirkan tentang subjek tujuan dari unggahan tersebut, semakin ia merasa familiar. &#xA;&#xA;Nasi? Sambal? Menu makan mereka saat ini. &#xA;&#xA;Putih? Orang-orang sering memanggil Jihoon seorang vampir karena kulitnya yang miris pigmen. Merah? Beberapa saat sebelum ini, Mingyu sempat menyindir bagaimana bibir Jihoon membengkak hanya karena ayam geprek level dua yang tidak ada apa-apanya bagi Mingyu.&#xA;&#xA;Menyadari kesamaan yang dimiliki dirinya dengan apa yang dibicarakan Mingyu di Twitter, Jihoon mencoba untuk menghapus kesimpulan itu dari otaknya. &#xA;&#xA;Nggak mungkin Mingyu bikin post lucu kayak gitu buat gue, batinnya.&#xA;&#xA;Ia kemudian mengalihkan kembali pikirannya pada ajakan Soonyoung. Sebuah penawaran yang menggoda dan tidak pernah ia tolak selama ia mengenal Soonyoung. &#xA;&#xA;Ia mengetik beberapa pesan melalui direct message kepada sahabatnya tersebut, menanyakan beberapa hal tentang undangannya itu.&#xA;&#xA;Malam ini?&#xA;&#xA;Iyaa&#xA;&#xA;Ia pun telah membayangkan apa saja yang akan ia lakukan atau tanyakan di acara mereka berdua itu. Terlalu semangat untuk membenahi kesenangannya yang sempat rusak di hari kemarin. &#xA;&#xA;&#34;Hahahah.&#34;&#xA;&#xA;Sebuah tawa dengan suara berat terlontar dari hadapannya, dari seorang Mingyu yang sedang mengenakan ekspresi wajah yang cerah, menatap fokus pada layar HP. &#xA;&#xA;Hal itu menyadarkan Jihoon akan dua hal di ruangan ini; meja yang penuh dengan sampah makanan mereka berdua dan seorang Mingyu yang dengan suka rela menerima ajakan Jihoon untuk membuang tidur dua hari berturut-turut. &#xA;&#xA;Dan niat buruknya yang hampir saja dapat melempar Mingyu kembali pulang dengan kesia-siaan.  &#xA;&#xA;Jihoon pun mengetik beberapa pesan untuk dikirim ke sahabatnya di seberang sana dan kembali meraih sumpitnya, melanjutkan kegiatannya yang ia tinggal sejenak karena sebuah disrupsi.&#xA;&#xA;Next time?&#xA;&#xA;Next time.&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;&#34;Kak, kerjaan lu di studio emang cuma bengong gitu ya?&#34;&#xA;&#xA;Jihoon tidak menjawab. Bukan apa, ia tidak tahu harus menjawab apa. &#xA;&#xA;Nggak, gue lagi ga ada inspirasi. Coret.&#xA;&#xA;Nggak, gue lagi meditasi. Coret. &#xA;&#xA;Layarnya keren warna abu-abu. Coret, coret, coret. &#xA;&#xA;Setelah hening lagi untuk beberapa saat, Mingyu yang terlihat sangat, sangat, sangat bosan itu membuka mulutnya kembali.&#xA;&#xA;&#34;Atau emang caranya gitu kak? Bimsalabim alakazam, boom, lagunya jadi?&#34; &#xA;&#xA;Jihoon memutar kursinya dan melempar bantal yang ada di pelukannya ke arah Mingyu. &#xA;&#xA;Dan, strike, tepat sasaran. &#xA;&#xA;&#34;Hahahaha, bercanda ih kak.&#34; ucap Mingyu. Mengambil alih bantal yang dilempar oleh Jihoon barusan. &#xA;&#xA;&#34;Kak, ini udah jam 10, agensi udah mau dikunci.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iya.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu mengernyitkan dahinya. &#34;Iya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya tau. Terus kenapa?&#34;&#xA;&#xA;Iya, Mingyu lupa Jihoon memegang akses keluar-masuk agensi seperti ia yang memiliki gedungnya. &#xA;&#xA;Privilege, batin Mingyu, sedikit sebal. &#xA;&#xA;&#34;Daripada melototin layar sampe meledak, mendingan kita keluar sekarang.&#34; Usul Mingyu. Ia beranjak dari sofa dan berdiri di hadapan Jihoon, menyodorkan jaket yang sebelumnya ia letakkan acuh di atas lantai. &#34;Gue tau cafe 24 jam yang pas buat santai sambil cari inspirasi.&#34;&#xA;&#xA;Setelah sekian detik Jihoon tidak menunjukkan pergerakan, Mingyu pun menarik pelan lengan baju Jihoon, memintanya untuk segera memutuskan pilihannya. &#xA;&#xA;Jihoon menyadari maksud dari isyarat itu dan akhirnya memutar kembali kursinya. Ia segera meletakkan tangannya di atas mouse dan mengoperasikan software di komputernya dengan lihai. &#xA;&#xA;Mingyu sedikit kecewa karena hal itu berarti ia harus menunggu di atas sofa lagi seperti kehilangan tujuan hidup. Sekelibat ia berharap dirinya saat ini sudah berada di rumah dengan keadaan perut yang penuh selepas makan di restoran baru bersama Seungkwan. &#xA;&#xA;Ia pun memilih untuk memejamkan mata saja sambil menanti. &#xA;&#xA;&#34;Ayo.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Huh?&#34; Mingyu membuka matanya lagi.&#xA;&#xA;&#34;Ayo, jadi ga?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu melirik ke belakang figur Jihoon yang berdiri di hadapannya. Kini layar komputer Jihoon telah mati, tidak lagi memancarkan cahaya menyakitkan di tengah remang ruangan sempit itu. &#xA;&#xA;Dengan perasaan lega dan bahagia, Mingyu beringsut mengenakan jaketnya dan berlari terlebih dahulu ke pintu studio, tidak sabar untuk menikmati udara segar di luar kotak pengap yang menghabiskan seluruh kesabarannya malam itu. &#xA;&#xA;&#34;Ayo kak!&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Di balik <em>hah</em> milik Jihoon, ternyata perkaranya berbeda dari apa yang dipermasalahkan oleh Mingyu.</p>

<p>Sewaktu masih sibuk menggigit timun yang tersisa di pinggir kotak makannya, ponselnya bergetar pelan di sampingnya, menampangkan tulisan “Macan Tutul” yang selalu ia nanti di hari-harinya.</p>

<p>Sebuah notifikasi dari platform media sosial <em>Twitter</em>. Pemilik akun Macan Tutul, yaitu Soonyoung, me-<em>mention</em> akun Jihoon pada suatu unggahan sekaligus mengajaknya untuk menghabiskan waktu bersama dengan menonton film.</p>

<p>Namun, yang jadi pusat perhatiannya kini bukan unsur ajakan yang selalu membuat <em>mood</em>nya naik atau bebannya terlepas, tetapi unggahan dari <em>username</em> Mingyudon yang pemiliknya kini sedang terlihat serius berkutik dengan HP-nya sendiri.</p>

<p>Suatu paragraf gurauan yang bertajuk <em>Snow White</em>, membawa deskripsi mengenai seseorang berkulit putih dan berbibir merah. Suatu kalimat komparatif yang menyandingkan keindahan <em>Snow White</em> ini dengan potret warna yang dimiliki oleh nasi dan sambal.</p>

<p>Awalnya, Jihoon mendengus ringan karena keanehan teman barunya tersebut. Namun, semakin ia pikirkan tentang subjek tujuan dari unggahan tersebut, semakin ia merasa familiar.</p>

<p>Nasi? Sambal? Menu makan mereka saat ini.</p>

<p>Putih? Orang-orang sering memanggil Jihoon seorang vampir karena kulitnya yang miris pigmen. Merah? Beberapa saat sebelum ini, Mingyu sempat menyindir bagaimana bibir Jihoon membengkak hanya karena ayam geprek <em>level</em> dua yang tidak ada apa-apanya bagi Mingyu.</p>

<p>Menyadari kesamaan yang dimiliki dirinya dengan apa yang dibicarakan Mingyu di <em>Twitter</em>, Jihoon mencoba untuk menghapus kesimpulan itu dari otaknya.</p>

<p><em>Nggak mungkin Mingyu bikin post lucu kayak gitu buat gue</em>, batinnya.</p>

<p>Ia kemudian mengalihkan kembali pikirannya pada ajakan Soonyoung. Sebuah penawaran yang menggoda dan tidak pernah ia tolak selama ia mengenal Soonyoung.</p>

<p>Ia mengetik beberapa pesan melalui <em>direct message</em> kepada sahabatnya tersebut, menanyakan beberapa hal tentang undangannya itu.</p>

<p><em>Malam ini?</em></p>

<p><em>Iyaa</em></p>

<p>Ia pun telah membayangkan apa saja yang akan ia lakukan atau tanyakan di acara mereka berdua itu. Terlalu semangat untuk membenahi kesenangannya yang sempat rusak di hari kemarin.</p>

<p>“Hahahah.”</p>

<p>Sebuah tawa dengan suara berat terlontar dari hadapannya, dari seorang Mingyu yang sedang mengenakan ekspresi wajah yang cerah, menatap fokus pada layar HP.</p>

<p>Hal itu menyadarkan Jihoon akan dua hal di ruangan ini; meja yang penuh dengan sampah makanan mereka berdua dan seorang Mingyu yang dengan suka rela menerima ajakan Jihoon untuk membuang tidur dua hari berturut-turut.</p>

<p>Dan niat buruknya yang hampir saja dapat melempar Mingyu kembali pulang dengan kesia-siaan.</p>

<p>Jihoon pun mengetik beberapa pesan untuk dikirim ke sahabatnya di seberang sana dan kembali meraih sumpitnya, melanjutkan kegiatannya yang ia tinggal sejenak karena sebuah disrupsi.</p>

<p><em>Next time?</em></p>

<p><em>Next time.</em></p>

<hr/>

<p>“Kak, kerjaan lu di studio emang cuma bengong gitu ya?”</p>

<p>Jihoon tidak menjawab. Bukan apa, ia tidak tahu harus menjawab apa.</p>

<p><em>Nggak, gue lagi ga ada inspirasi.</em> Coret.</p>

<p><em>Nggak, gue lagi meditasi.</em> Coret.</p>

<p><em>Layarnya keren warna abu-abu.</em> Coret, coret, coret.</p>

<p>Setelah hening lagi untuk beberapa saat, Mingyu yang terlihat sangat, sangat, sangat bosan itu membuka mulutnya kembali.</p>

<p>“Atau emang caranya gitu kak? Bimsalabim alakazam, <em>boom</em>, lagunya jadi?”</p>

<p>Jihoon memutar kursinya dan melempar bantal yang ada di pelukannya ke arah Mingyu.</p>

<p>Dan, <em>strike</em>, tepat sasaran.</p>

<p>“Hahahaha, bercanda ih kak.” ucap Mingyu. Mengambil alih bantal yang dilempar oleh Jihoon barusan.</p>

<p>“Kak, ini udah jam 10, agensi udah mau dikunci.”</p>

<p>“Iya.”</p>

<p>Mingyu mengernyitkan dahinya. “Iya?”</p>

<p>“Iya tau. Terus kenapa?”</p>

<p>Iya, Mingyu lupa Jihoon memegang akses keluar-masuk agensi seperti ia yang memiliki gedungnya.</p>

<p><em>Privilege</em>, batin Mingyu, sedikit sebal.</p>

<p>“Daripada melototin layar sampe meledak, mendingan kita keluar sekarang.” Usul Mingyu. Ia beranjak dari sofa dan berdiri di hadapan Jihoon, menyodorkan jaket yang sebelumnya ia letakkan acuh di atas lantai. “Gue tau cafe 24 jam yang pas buat santai sambil cari inspirasi.”</p>

<p>Setelah sekian detik Jihoon tidak menunjukkan pergerakan, Mingyu pun menarik pelan lengan baju Jihoon, memintanya untuk segera memutuskan pilihannya.</p>

<p>Jihoon menyadari maksud dari isyarat itu dan akhirnya memutar kembali kursinya. Ia segera meletakkan tangannya di atas <em>mouse</em> dan mengoperasikan <em>software</em> di komputernya dengan lihai.</p>

<p>Mingyu sedikit kecewa karena hal itu berarti ia harus menunggu di atas sofa lagi seperti kehilangan tujuan hidup. Sekelibat ia berharap dirinya saat ini sudah berada di rumah dengan keadaan perut yang penuh selepas makan di restoran baru bersama Seungkwan.</p>

<p>Ia pun memilih untuk memejamkan mata saja sambil menanti.</p>

<p>“Ayo.”</p>

<p>“Huh?” Mingyu membuka matanya lagi.</p>

<p>“Ayo, jadi ga?”</p>

<p>Mingyu melirik ke belakang figur Jihoon yang berdiri di hadapannya. Kini layar komputer Jihoon telah mati, tidak lagi memancarkan cahaya menyakitkan di tengah remang ruangan sempit itu.</p>

<p>Dengan perasaan lega dan bahagia, Mingyu beringsut mengenakan jaketnya dan berlari terlebih dahulu ke pintu studio, tidak sabar untuk menikmati udara segar di luar kotak pengap yang menghabiskan seluruh kesabarannya malam itu.</p>

<p>“Ayo kak!”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://write.as/whal13n/di-balik-hah-jihoon</guid>
      <pubDate>Fri, 03 Apr 2020 18:07:20 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Piwit</title>
      <link>https://write.as/whal13n/piwit?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Piwit &#xA;&#xA;Gue udah di depan kak&#xA;&#xA;Ini masuknya pake password atau ada tombol rahasia?&#xA;&#xA;Kayak.. Escape room gitu loh, ngerti ga kak? Wkwk&#xA;&#xA;Jihoon mengecek pesan yang baru saja masuk di ponselnya. Seperti biasa, isi pesannya berupa ucapan-ucapan konyol yang, sejujurnya, sedikit menghibur Jihoon. &#xA;&#xA;Ia kemudian mengetik jawaban singkat dan meletakkan kembali HP-nya di atas meja.&#xA;&#xA;&#34;Woah, kirain bakal dikunci.&#34; ucap Mingyu ketika telah berhasil membuka pintu studio.&#xA;&#xA;Lambaian tangan Jihoon sampaikan tanpa membalik tubuhnya, mengindikasikan bahwa ia mendengar, tetapi tidak ingin terlibat dalam perbincangan kosong lebih lanjut. &#xA;&#xA;&#34;Nih kak.&#34; &#xA;&#xA;Srek &#xA;&#xA;&#34;Apaan--&#34;&#xA;&#xA;Suatu benda hangat tengah menempel di pipi Jihoon, dan ketika ia mencoba untuk menolehkan wajahnya, aroma lezat menerjang indera penciumannya tiada ampun. &#xA;&#xA;Tanpa bergerak lebih banyak, Jihoon menaikkan pandangannya untuk menemui mata Mingyu, menanyakan maksud perbuatannya--yaitu, menempelkan plastik berisi makanan di sisi kiri wajah Jihoon, yang lama-kelamaan mulai terasa panas.&#xA;&#xA;&#34;Delivery buat lu kak, hehe.&#34; jawab Mingyu dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya. &#xA;&#xA;&#34;Gue ga nitip apa-apa.&#34; Jihoon kembali memusatkan perhatiannya pada layar komputer di hadapannya. &#34;Panas, minggir.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu pun meletakkan bungkusan putih tersebut di hadapan Jihoon, nyaris mengenai keyboard tipis yang terusun rapi di depan layar komputer. Jihoon memberi Mingyu tatapan mengancam.&#xA;&#xA;&#34;Gue tadi sengaja beli buat lu kak.&#34; Ucap Mingyu, abai akan amcaman yang terpampang di hadapannya. &#34;Lu bukan Keprabon hater kan?&#34; &#xA;&#xA;Jihoon sedikit tercengang mendengar jawaban Mingyu. &#34;Hater? Bahasa lu ada-ada aja.&#34; Ia menggelengkan kepalanya pelan. Tangannya lalu meraih bungkusan makanan di hadapannya untuk kemudian menggesernya ke arah Mingyu, menjauhkan dari properti miliknya. &#34;Gue ga bisa makan pedes. Buat lu aja.&#34;&#xA;&#xA;Segera setelah itu, Mingyu menjentikkan jarinya semangat. &#34;Naah, pas banget nih. Gue beli satu yang pedes, yang satunya engga. Buat lu deh yang ga pedes kak.&#34;&#xA;&#xA;Sekarang Jihoon benar-benar memutar kursinya untuk berhadapan dengan Mingyu. &#34;Buat apa coba, kan gue ga minta?&#34; tangannya menyilang kesal di dada. &#xA;&#xA;Jika Jihoon sudah mulai menampakkan raut wajah geramnya itu, Mingyu akan spontan terdiam dan merenungkan pilihan-pilihan hidupnya; untuk saat ini, yaitu alasan mengapa ia memilih untuk membawakan Jihoon makanan tanpa diminta. Terlebih, ia baru sadar jika ia terlalu memaksakan kehendaknya pada Jihoon.&#xA;&#xA;Sambil mengusap tengkuknya, Mingyu mencoba untuk menyampaikan jawabannya sejelas mungkin. &#34;Ya.. Maaf kak, gue  tadi mikirnya pasti lu belum makan kan? Maksud gue, sekalian aja gitu...&#34; jawabnya sembari mengangkat kembali plastik putih tersebut dan mulai berjalan mundur menjauhi Jihoon. &#xA;&#xA;Mendengar jawaban Mingyu, Jihoon pun mengangkat sebelah alisnya dan melepas lipatan tangannya di dada. &#34;Lain kali coba tanya dulu gue mau apa engga.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Sorry, kak.. Niatnya mau surprise, tapi iya sih gue salah juga..&#34;&#xA;&#xA;Jihoon menghela napasnya panjang, kemudian ia berdiri dan mengambil alih plastik yang sedang tertenteng di tangan kiri Mingyu. &#34;Ayo ke lounge.&#34;&#xA;&#xA;Dan dengan itu, tangan Jihoon yang kosong juga meraih lengan baju Mingyu untuk menariknya, mengajak segera keluar dari studio.&#xA;&#xA;Mingyu, dengan senyumnya yang kini merebak lebar, mengangguk dan mengikuti tarikan lembut orang di depannya tersebut. &#xA;&#xA;&#34;Oke kak.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Piwit</em></p>

<p><em>Gue udah di depan kak</em></p>

<p><em>Ini masuknya pake password atau ada tombol rahasia?</em></p>

<p><em>Kayak.. Escape room gitu loh, ngerti ga kak? Wkwk</em></p>

<p>Jihoon mengecek pesan yang baru saja masuk di ponselnya. Seperti biasa, isi pesannya berupa ucapan-ucapan konyol yang, sejujurnya, sedikit menghibur Jihoon.</p>

<p>Ia kemudian mengetik jawaban singkat dan meletakkan kembali HP-nya di atas meja.</p>

<p>“<em>Woah</em>, kirain bakal dikunci.” ucap Mingyu ketika telah berhasil membuka pintu studio.</p>

<p>Lambaian tangan Jihoon sampaikan tanpa membalik tubuhnya, mengindikasikan bahwa ia mendengar, tetapi tidak ingin terlibat dalam perbincangan kosong lebih lanjut.</p>

<p>“Nih kak.”</p>

<p><em>Srek</em></p>

<p>“Apaan—”</p>

<p>Suatu benda hangat tengah menempel di pipi Jihoon, dan ketika ia mencoba untuk menolehkan wajahnya, aroma lezat menerjang indera penciumannya tiada ampun.</p>

<p>Tanpa bergerak lebih banyak, Jihoon menaikkan pandangannya untuk menemui mata Mingyu, menanyakan maksud perbuatannya—yaitu, menempelkan plastik berisi makanan di sisi kiri wajah Jihoon, yang lama-kelamaan mulai terasa panas.</p>

<p>“<em>Delivery</em> buat lu kak, hehe.” jawab Mingyu dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya.</p>

<p>“Gue ga nitip apa-apa.” Jihoon kembali memusatkan perhatiannya pada layar komputer di hadapannya. “Panas, minggir.”</p>

<p>Mingyu pun meletakkan bungkusan putih tersebut di hadapan Jihoon, nyaris mengenai <em>keyboard</em> tipis yang terusun rapi di depan layar komputer. Jihoon memberi Mingyu tatapan mengancam.</p>

<p>“Gue tadi sengaja beli buat lu kak.” Ucap Mingyu, abai akan amcaman yang terpampang di hadapannya. “Lu bukan Keprabon <em>hater</em> kan?”</p>

<p>Jihoon sedikit tercengang mendengar jawaban Mingyu. “<em>Hater</em>? Bahasa lu ada-ada aja.” Ia menggelengkan kepalanya pelan. Tangannya lalu meraih bungkusan makanan di hadapannya untuk kemudian menggesernya ke arah Mingyu, menjauhkan dari properti miliknya. “Gue ga bisa makan pedes. Buat lu aja.”</p>

<p>Segera setelah itu, Mingyu menjentikkan jarinya semangat. “Naah, pas banget nih. Gue beli satu yang pedes, yang satunya engga. Buat lu deh yang ga pedes kak.”</p>

<p>Sekarang Jihoon benar-benar memutar kursinya untuk berhadapan dengan Mingyu. “Buat apa coba, kan gue ga minta?” tangannya menyilang kesal di dada.</p>

<p>Jika Jihoon sudah mulai menampakkan raut wajah geramnya itu, Mingyu akan spontan terdiam dan merenungkan pilihan-pilihan hidupnya; untuk saat ini, yaitu alasan mengapa ia memilih untuk membawakan Jihoon makanan tanpa diminta. Terlebih, ia baru sadar jika ia terlalu memaksakan kehendaknya pada Jihoon.</p>

<p>Sambil mengusap tengkuknya, Mingyu mencoba untuk menyampaikan jawabannya sejelas mungkin. “Ya.. Maaf kak, gue  tadi mikirnya pasti lu belum makan kan? Maksud gue, sekalian aja gitu...” jawabnya sembari mengangkat kembali plastik putih tersebut dan mulai berjalan mundur menjauhi Jihoon.</p>

<p>Mendengar jawaban Mingyu, Jihoon pun mengangkat sebelah alisnya dan melepas lipatan tangannya di dada. “Lain kali coba tanya dulu gue mau apa engga.”</p>

<p>“<em>Sorry</em>, kak.. Niatnya mau <em>surprise</em>, tapi iya sih gue salah juga..”</p>

<p>Jihoon menghela napasnya panjang, kemudian ia berdiri dan mengambil alih plastik yang sedang tertenteng di tangan kiri Mingyu. “Ayo ke <em>lounge</em>.”</p>

<p>Dan dengan itu, tangan Jihoon yang kosong juga meraih lengan baju Mingyu untuk menariknya, mengajak segera keluar dari studio.</p>

<p>Mingyu, dengan senyumnya yang kini merebak lebar, mengangguk dan mengikuti tarikan lembut orang di depannya tersebut.</p>

<p>“Oke kak.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://write.as/whal13n/piwit</guid>
      <pubDate>Thu, 02 Apr 2020 09:47:12 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Thanks, Mingyu.</title>
      <link>https://write.as/whal13n/thanks-mingyu-9mr3?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Thanks, Mingyu.&#xA;&#xA;Adalah dua kata yang ia ucapkan di benaknya setelah berhasil keluar dari situasi redut yang dialaminya barusan. &#xA;&#xA;Meskipun ia agak kesal juga harus mengeluarkan tenaga dan berjalan demi membuka pintu untuk &#34;teman barunya&#34;. &#xA;&#xA;Lagipula, orang bodoh mana yang pulang larut malam seperti ini dan tidak membawa kunci rumah?&#xA;&#xA;Saat berjalan menuju pintu depan, tiba-tiba satu ide muncul di kepalanya, membuatnya memutar arah dan berhenti di kamarnya terlebih dahulu, mengambil beberapa barang dan kembali berjalan menuju Mingyu.&#xA;&#xA;crek, crek, jgreg. &#xA;&#xA;Pintu terbuka lebar, angin malam segera menerjang tubuh Jihoon, dan pemandangan seorang lelaki yang tengah bersimpuh di lantai teras sambil memeluk tubuhnya pun menyambutnya.&#xA;&#xA;&#34;Kak Jihooooon!!!&#34; serunya. Lelaki itu segera bangkit dan melangkah cepat menuju penyelamat hidupnya. &#xA;&#xA;&#34;Mingyu stop.&#34; ucap Jihoon.&#xA;&#xA;Mingyu pun menghentikan gerakannya, layaknya adegan film yang dijeda; tangannya dalam posisi terayun dan kaki kanannya mengambang di udara. &#xA;&#xA;&#34;Bukan gitu anjir, Gyu. Bodoh banget sumpah deh lu.&#34; kekeh Jihoon. &#34;Catch.&#34; ucapnya sambil melempar benda berwarna hitam ke arah Mingyu. &#xA;&#xA;&#34;Lah, ini jaket gue kan kak? Buat apa?&#34; Tanya Mingyu, membolak-balikkan jaketnya, memastikan bahwa itu benar-benar barang miliknya. &#34;Eh, gue disuruh tidur di luar nih kak ceritanya?&#34; pekik Mingyu.&#xA;&#xA;&#34;Aduh kan, bodoh banget.&#34; ucap Jihoon, sambil mengenakan jaket yang selalu tergantung di sisi kasurnya. &#34;Temenin gue keluar. Ga boleh nolak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah.. Oh.. Ya ampun, bilang dong kak, kan keburu panik guenya. Hahaha.&#34; &#xA;&#xA;Jihoon hanya memutar bola matanya dan menggeret tubuh Mingyu setelah mengunci pintu rumah. &#xA;&#xA;Walaupun tidak akan dibawa kemana oleh Jihoon, Mingyu tetap dengan patuhnya mengikuti tarikan tangan Jihoon. Mereka berjalan selama kurang lebih 15 menit, melewati jalan yang tidak terlalu asing bagi Mingyu. &#xA;&#xA;&#34;Kak, ini mau ke agensi?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak. Ke taman yang kemaren gue bilang.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ohh, oke.&#34; Tanpa bertanya banyak, Mingyu mengiakan jawaban Jihoon.&#xA;&#xA;&#34;Tuh, tamannya.&#34;&#xA;&#xA;Sebuah lahan kecil dengan beberapa lampu jalan yang cukup menerangi tiap sisinya. Semak-semak hijau berbunga indah dan beberapa pohon rindang mengitari taman tersebut. Di tengahnya, berdiri kokoh dua buah ayunan dan perosotan kecil yang masih kuat menampung tiga tubuh orang dewasa.  &#xA;&#xA;Jihoon melepaskan genggamannya di lengan jaket Mingyu dan berjalan dahulu menuju ayunan yang sedikit goyah terkena angin malam. Mingyu pun mengikutinya berjalan dari belakang dan duduk di ayunan kosong yang tersisa.&#xA;&#xA;Kemudian, lagi-lagi, keheningan menerpa mereka berdua. &#xA;&#xA;Namun, kali ini, hening yang dirasakan lebih tidak nyaman dibandingkan sebelumnya, dan Mingyu sangat tidak suka dengan perasaan yang lekat dan mengganggu di pikirannya tersebut. &#xA;&#xA;Ia pun akhirnya menoleh ke arah Jihoon, berusaha untuk memulai setidaknya sebuah percakapan basa-basi atau sekedar menanyakan maksud keberadaannya di atas kursi ayunan tersebut. Tapi, niatnya itu segera melebur ketika ia dihadapkan dengan pemandangan di hadapannya. &#xA;&#xA;Jihoon, dengan tubuh mungil yang terbenam dalam jaket besarnya, duduk di tengah kegelapan malam yang serasi dengan rambut gelapnya. Rambut hitam yang terbelai lembut oleh embusan angin malam. Dan wajahnya yang tengah menengadah menatap butiran bintang di langit kelam. &#xA;&#xA;Dan yang paling membuatnya tercekat, adalah kilau tipis dari kedua mata Jihoon, yang membuatnya kembali merapatkan bibir dan memilih untuk bermain bersama dinginnya udara malam, membiarkan kelemahan yang terungkap di hadapannya hilang ditelan damainya Jakarta pukul dua pagi.&#xA;&#xA;--&#xA;&#xA;&#34;Mingyu.&#34;&#xA;&#xA;Setelah satu jam berdiam-diaman, Jihoon pun memulai perbincangan. &#xA;&#xA;&#34;Laper ga?&#34; &#xA;&#xA;Mingyu mengangguk sekencang mungkin. Matanya melebar dengan kilauan antusias, seperti mengharapkan pertanyaan itu sejak lama. &#xA;&#xA;Jihoon menatapnya lucu. Seperti melihat anak berusia lima tahun yang dijanjikan untuk mampir ke restoran junk food favoritnya. &#xA;&#xA;&#34;Di sekitar sini ada FamilyMart, mampir bentar yuk. Gue juga laper, pengen makan rice bowlnya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Ih, ga enak tau kak. Siomaynya tu lumayan, atau ga bakpaonya.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Dih. Selera, selera gue, kok lu yang bawel.&#34; ucap Jihoon. &#34;Ayo ah, gece. Mau apa engga? Kalau engga, gue tinggal.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Eeeeh, iya maaf. Ikut kaak.&#34;&#xA;&#xA;Mereka pun membeli beberapa makanan besar dan snack yang terlihat lezat, memuaskan lapar mata yang terlintas pada dini hari. Malam itu, Jihoon membayar semua jajanan mereka, sebagai tanda terima kasih karena Mingyu mau menemaninya berjalan-jalan tanpa tujuan di tengah malam.&#xA;&#xA;Mereka menyantap makanan mereka di tempat. Jihoon mengambil meja yang paling ujung, jauh dari sentuhan manusia. Ia membeli nasi, lauk, dan ramen cup, sementara Mingyu membeli sandwich dan ramen yang sama seperti Jihoon. &#xA;&#xA;Sambil menyantap beberapa gigitan pertama rotinya, Mingyu memikirkan beberapa topik yang dapat dibahas sembari mengisi perut mereka, supaya tidak terlalu canggung juga atmosfer yang terambang di antara mereka.&#xA;&#xA;Saat Mingyu telah membulatkan tekadnya untuk membahas discography dari NatGeo Wild yang ditontonnya minggu lalu, Jihoon sudah bersuara terlebih dahulu.&#xA;&#xA;&#34;Gyu, lu pernah suka sama orang ga?&#34;&#xA;&#xA;Wow, kak Jihoon, tiba-tiba banget ya..&#xA;&#xA;&#34;Pernah, sering malah.&#34; jawab Mingyu, berusaha untuk terlihat tenang meskipun agak terkejut dengan pertanyaan itu.&#xA;&#xA;Jihoon terdiam mendengar jawaban Mingyu, menatapnya seolah-olah itu adalah hal yang tidak normal.&#xA;&#xA;...itu normal, kan?&#xA;&#xA;&#34;Oh, terus mereka suka juga sama lu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ya, selama ini sih mereka yang ngajak gue pacaran duluan.&#34;&#xA;&#xA;Sekarang Jihoon terdiam sambil menatap sinis Mingyu, seakan di kepalanya sedang tersusun berbagai macam rencana untuk mencekik Mingyu di tempat tanpa harus berurusan dengan polisi. &#xA;&#xA;&#34;Berarti lu ga pernah ngerasain heartbreak?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Nggak, mungkin? Ga tau kak, gue selama ini carefree banget sama urusan romansa.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mmm..&#34; &#xA;&#xA;Mingyu merasa ia memilih jawaban yang salah. Tapi, memang pengalaman ia selama ini seperti itu, apa yang bisa ia katakan? Ia tidak mungkin berbohong dan mengatakan bahwa ia pernah merasakan patah hati hingga menangisinya.&#xA;&#xA;Tunggu sebentar...&#xA;&#xA;&#34;Kak, lu lagi patah hati atau gimana nih?&#34;&#xA;&#xA;Jihoon menoleh dengan cepat ke arah Mingyu. &#34;Ga. Aneh-aneh aja pikiran lu.&#34; elaknya, dengan telinga yang mulai memerah di ujungnya. Memang bahasa tubuh tidak pernah dapat berbohong. &#xA;&#xA;&#34;Patah hati itu sakit banget ya katanya kak? Sampe apa-apa tu ga ada rasanya, semua pikiran buyar, dan sensitif banget jadinya sama tiap hal.&#34; ucap Mingyu, mencoba untuk menggali sedikit topik yang mengawang di antara mereka.&#xA;&#xA;Jihoon tidak menjawab, tetapi saat ini ia sudah tidak lagi memasukkan suapan nasinya ke mulut, dan hanya menatap sayu potongan ayam yang terbengkalai di pinggir mangkuk plastiknya. &#xA;&#xA;Sekelibat, Mingyu teringat tatapan putus asa Jihoon saat di taman tadi, sebuah pemandangan yang menimbulkan pilu bagi siapa saja yang melihatnya. &#xA;&#xA;&#34;Udah kenyang, kak? Yuk, balik aja. Gue ngantuk.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu memutuskan untuk meninggalkan topik itu, merasa ia belum pantas untuk mendapatkan jawaban yang lebih dalam. &#xA;&#xA;Mereka pun berjalan dalam damai menuju rumah. Walaupun sempat berhenti beberapa kali karena pengemis yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka, atau seorang paruh baya yang meminta sulut api untuk batang tembakaunya (yang mengejutkan Mingyu karena Jihoon dengan santai mengeluarkan korek api Zippo custom dari saku jaketnya. Walau ternyata menurut pengakuan Jihoon, korek itu milik teman kerjanya).&#xA;&#xA;&#34;Gyu, thanks ya udah mau nemenin gue.&#34; ucap Jihoon ketika mereka berdua telah sampai di depan rumah.&#xA;&#xA;&#34;Mmhm, no prob lah kak. Kalau butuh temen ngelayap lagi, calling calling aja.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Idih.&#34; &#xA;&#xA;Jihoon pun merogoh sakunya untuk mengeluarkan kunci rumah. Saku kanan, saku kiri. Saku celana depan, saku celana belakang. &#xA;&#xA;Dan..&#xA;&#xA;&#34;Astaga.&#34;&#xA;&#xA;Yak.&#xA;&#xA;&#34;Kuncinya gaada Gyu.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu pun terdiam mendengar pernyataan Jihoon barusan. &#xA;&#xA;&#34;Kak, bercanda ih?&#34;&#xA;&#xA;Jihoon menatap Mingyu serius dengan kedua matanya yang menyipit. &#34;Gue keliatan kaya orang yang suka bercanda gini emangnya?&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menggeleng perlahan, mencoba meresapi keadaan yang mereka hadapi sekarang.&#xA;&#xA;&#34;Kak, telpon kak Jun..&#34;&#xA;&#xA;&#34;HP gue mati, lowbat tadi. Pake HP lu aja deh.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Anu...&#34; Mingyu mengeluarkan HPnya dari kantung jaket dan menghadapkan layarnya ke Jihoon. &#34;Item juga layarnya...&#34;&#xA;&#xA;Jihoon pun menghela napas panjang dan menyenderkan dahinya di daun pintu, sambil sesekali memukulkan kepalanya pelan. &#xA;&#xA;&#34;Kak, boleh gak...&#34; &#xA;&#xA;&#34;Apaan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Boleh gak gue bilang lu &#39;bodoh&#39; kali ini...&#34;&#xA;&#xA;Jihoon melirik ke arah Mingyu, masih dengan tatapan tajamnya. &#xA;&#xA;&#34;Gapapa. Wakilkan gue ngatain diri sendiri coba.&#34; &#xA;&#xA;Mingyu pun tertawa kecil melihat Jihoon merasa lelah dengan dirinya sendiri. Kemudian, untuk membangkitkan kembali semangat Jihoon, ia mengusulkan mereka untuk kembali menyusuri jalan yang dilewati sambil mencari kunci rumah Jihoon.&#xA;&#xA;&#34;Mata gue udah satu watt, gilaa. Ga jeli buat nyari.&#34; keluh Jihoon, meski tetap sambil memperhatikan tiap sudut jalan.&#xA;&#xA;&#34;Yaudah, sambil nikmatin udara malem lagi kak. Sambil cerita-cerita. Jujur aja, menurut gue tadi jalan-jalannya kurang intim.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Hah intim mata lu intim. Apaan dah.&#34;&#xA;&#xA;Mingyu menggumam, memikirkan jawaban yang pas dan sesuai dengan apa yang ada di pikirannya. &#34;Ya maksudnya, hmm, anggep aja malem ini jadi ajang bonding buat kita? Kan gue bakal di sini 5 tahun kak nemenin lu.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Minta bonding bonding tapi gue aja belom difollow back, gimana tuh?&#34;&#xA;&#xA;Syut. Diam. &#xA;&#xA;&#34;Aah..&#34; Mingyu diam seribu bahasa.&#xA;&#xA;&#34;Follow back gue aja, 4 tweet lu yang itu nanti gue maafin habis lu follow gue.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Serius kak?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Banyak nanya ya lu, lama-lama gue berubah pikiran.&#34;&#xA;&#xA;&#34;No no no. Oke, deal! Gue follow back!&#34; &#xA;&#xA;Mereka pun menghabiskan sisa malam dengan berjalan berdampingan, masing-masing tangan bersembunyi dalam kantung jaket, dan cerita-cerita ringan yang saling terlontar.&#xA;&#xA;--&#xA;&#xA;Keesokannya, Seungcheol bertemu dengan mereka saat ia berjalan menuju agensi. Bukan bertemu dengan keadaan optimal untuk tegur-sapa, tetapi lebih tepatnya, Seungcheol &#34;menemukan&#34; dua tubuh berjaket tebal itu tengah tertidur di kursi taman, dengan kepala Jihoon yang bersender nyaman di bahu Mingyu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Thanks, Mingyu.</p>

<p>Adalah dua kata yang ia ucapkan di benaknya setelah berhasil keluar dari situasi redut yang dialaminya barusan.</p>

<p>Meskipun ia agak kesal juga harus mengeluarkan tenaga dan berjalan demi membuka pintu untuk “teman barunya”.</p>

<p>Lagipula, orang bodoh mana yang pulang larut malam seperti ini dan tidak membawa kunci rumah?</p>

<p>Saat berjalan menuju pintu depan, tiba-tiba satu ide muncul di kepalanya, membuatnya memutar arah dan berhenti di kamarnya terlebih dahulu, mengambil beberapa barang dan kembali berjalan menuju Mingyu.</p>

<p><em>crek, crek, jgreg</em>.</p>

<p>Pintu terbuka lebar, angin malam segera menerjang tubuh Jihoon, dan pemandangan seorang lelaki yang tengah bersimpuh di lantai teras sambil memeluk tubuhnya pun menyambutnya.</p>

<p>“Kak Jihooooon!!!” serunya. Lelaki itu segera bangkit dan melangkah cepat menuju penyelamat hidupnya.</p>

<p>“Mingyu stop.” ucap Jihoon.</p>

<p>Mingyu pun menghentikan gerakannya, layaknya adegan film yang dijeda; tangannya dalam posisi terayun dan kaki kanannya mengambang di udara.</p>

<p>“Bukan gitu anjir, Gyu. Bodoh banget sumpah deh lu.” kekeh Jihoon. “<em>Catch</em>.” ucapnya sambil melempar benda berwarna hitam ke arah Mingyu.</p>

<p>“Lah, ini jaket gue kan kak? Buat apa?” Tanya Mingyu, membolak-balikkan jaketnya, memastikan bahwa itu benar-benar barang miliknya. “Eh, gue disuruh tidur di luar nih kak ceritanya?” pekik Mingyu.</p>

<p>“Aduh kan, bodoh banget.” ucap Jihoon, sambil mengenakan jaket yang selalu tergantung di sisi kasurnya. “Temenin gue keluar. Ga boleh nolak.”</p>

<p>“Hah.. Oh.. Ya ampun, bilang dong kak, kan keburu panik guenya. Hahaha.”</p>

<p>Jihoon hanya memutar bola matanya dan menggeret tubuh Mingyu setelah mengunci pintu rumah.</p>

<p>Walaupun tidak akan dibawa kemana oleh Jihoon, Mingyu tetap dengan patuhnya mengikuti tarikan tangan Jihoon. Mereka berjalan selama kurang lebih 15 menit, melewati jalan yang tidak terlalu asing bagi Mingyu.</p>

<p>“Kak, ini mau ke agensi?”</p>

<p>“Nggak. Ke taman yang kemaren gue bilang.”</p>

<p>“Ohh, oke.” Tanpa bertanya banyak, Mingyu mengiakan jawaban Jihoon.</p>

<p>“Tuh, tamannya.”</p>

<p>Sebuah lahan kecil dengan beberapa lampu jalan yang cukup menerangi tiap sisinya. Semak-semak hijau berbunga indah dan beberapa pohon rindang mengitari taman tersebut. Di tengahnya, berdiri kokoh dua buah ayunan dan perosotan kecil yang masih kuat menampung tiga tubuh orang dewasa.</p>

<p>Jihoon melepaskan genggamannya di lengan jaket Mingyu dan berjalan dahulu menuju ayunan yang sedikit goyah terkena angin malam. Mingyu pun mengikutinya berjalan dari belakang dan duduk di ayunan kosong yang tersisa.</p>

<p>Kemudian, lagi-lagi, keheningan menerpa mereka berdua.</p>

<p>Namun, kali ini, hening yang dirasakan lebih tidak nyaman dibandingkan sebelumnya, dan Mingyu sangat tidak suka dengan perasaan yang lekat dan mengganggu di pikirannya tersebut.</p>

<p>Ia pun akhirnya menoleh ke arah Jihoon, berusaha untuk memulai setidaknya sebuah percakapan basa-basi atau sekedar menanyakan maksud keberadaannya di atas kursi ayunan tersebut. Tapi, niatnya itu segera melebur ketika ia dihadapkan dengan pemandangan di hadapannya.</p>

<p>Jihoon, dengan tubuh mungil yang terbenam dalam jaket besarnya, duduk di tengah kegelapan malam yang serasi dengan rambut gelapnya. Rambut hitam yang terbelai lembut oleh embusan angin malam. Dan wajahnya yang tengah menengadah menatap butiran bintang di langit kelam.</p>

<p>Dan yang paling membuatnya tercekat, adalah kilau tipis dari kedua mata Jihoon, yang membuatnya kembali merapatkan bibir dan memilih untuk bermain bersama dinginnya udara malam, membiarkan kelemahan yang terungkap di hadapannya hilang ditelan damainya Jakarta pukul dua pagi.</p>

<p>—</p>

<p>“Mingyu.”</p>

<p>Setelah satu jam berdiam-diaman, Jihoon pun memulai perbincangan.</p>

<p>“Laper ga?”</p>

<p>Mingyu mengangguk sekencang mungkin. Matanya melebar dengan kilauan antusias, seperti mengharapkan pertanyaan itu sejak lama.</p>

<p>Jihoon menatapnya lucu. Seperti melihat anak berusia lima tahun yang dijanjikan untuk mampir ke restoran <em>junk food</em> favoritnya.</p>

<p>“Di sekitar sini ada FamilyMart, mampir bentar yuk. Gue juga laper, pengen makan rice bowlnya.”</p>

<p>“Ih, ga enak tau kak. Siomaynya tu lumayan, atau ga bakpaonya.”</p>

<p>“Dih. Selera, selera gue, kok lu yang bawel.” ucap Jihoon. “Ayo ah, gece. Mau apa engga? Kalau engga, gue tinggal.”</p>

<p>“Eeeeh, iya maaf. Ikut kaak.”</p>

<p>Mereka pun membeli beberapa makanan besar dan <em>snack</em> yang terlihat lezat, memuaskan lapar mata yang terlintas pada dini hari. Malam itu, Jihoon membayar semua jajanan mereka, sebagai tanda terima kasih karena Mingyu mau menemaninya berjalan-jalan tanpa tujuan di tengah malam.</p>

<p>Mereka menyantap makanan mereka di tempat. Jihoon mengambil meja yang paling ujung, jauh dari sentuhan manusia. Ia membeli nasi, lauk, dan ramen <em>cup</em>, sementara Mingyu membeli <em>sandwich</em> dan ramen yang sama seperti Jihoon.</p>

<p>Sambil menyantap beberapa gigitan pertama rotinya, Mingyu memikirkan beberapa topik yang dapat dibahas sembari mengisi perut mereka, supaya tidak terlalu canggung juga atmosfer yang terambang di antara mereka.</p>

<p>Saat Mingyu telah membulatkan tekadnya untuk membahas <em>discography</em> dari NatGeo Wild yang ditontonnya minggu lalu, Jihoon sudah bersuara terlebih dahulu.</p>

<p>“Gyu, lu pernah suka sama orang ga?”</p>

<p><em>Wow, kak Jihoon, tiba-tiba banget ya..</em></p>

<p>“Pernah, sering malah.” jawab Mingyu, berusaha untuk terlihat tenang meskipun agak terkejut dengan pertanyaan itu.</p>

<p>Jihoon terdiam mendengar jawaban Mingyu, menatapnya seolah-olah itu adalah hal yang tidak normal.</p>

<p>...itu normal, kan?</p>

<p>“Oh, terus mereka suka juga sama lu?”</p>

<p>“Ya, selama ini sih mereka yang ngajak gue pacaran duluan.”</p>

<p>Sekarang Jihoon terdiam sambil menatap sinis Mingyu, seakan di kepalanya sedang tersusun berbagai macam rencana untuk mencekik Mingyu di tempat tanpa harus berurusan dengan polisi.</p>

<p>“Berarti lu ga pernah ngerasain heartbreak?”</p>

<p>“Nggak, mungkin? Ga tau kak, gue selama ini carefree banget sama urusan romansa.”</p>

<p>“Mmm..”</p>

<p>Mingyu merasa ia memilih jawaban yang salah. Tapi, memang pengalaman ia selama ini seperti itu, apa yang bisa ia katakan? Ia tidak mungkin berbohong dan mengatakan bahwa ia pernah merasakan patah hati hingga menangisinya.</p>

<p><em>Tunggu sebentar...</em></p>

<p>“Kak, lu lagi patah hati atau gimana nih?”</p>

<p>Jihoon menoleh dengan cepat ke arah Mingyu. “Ga. Aneh-aneh aja pikiran lu.” elaknya, dengan telinga yang mulai memerah di ujungnya. Memang bahasa tubuh tidak pernah dapat berbohong.</p>

<p>“Patah hati itu sakit banget ya katanya kak? Sampe apa-apa tu ga ada rasanya, semua pikiran buyar, dan sensitif banget jadinya sama tiap hal.” ucap Mingyu, mencoba untuk menggali sedikit topik yang mengawang di antara mereka.</p>

<p>Jihoon tidak menjawab, tetapi saat ini ia sudah tidak lagi memasukkan suapan nasinya ke mulut, dan hanya menatap sayu potongan ayam yang terbengkalai di pinggir mangkuk plastiknya.</p>

<p>Sekelibat, Mingyu teringat tatapan putus asa Jihoon saat di taman tadi, sebuah pemandangan yang menimbulkan pilu bagi siapa saja yang melihatnya.</p>

<p>“Udah kenyang, kak? Yuk, balik aja. Gue ngantuk.”</p>

<p>Mingyu memutuskan untuk meninggalkan topik itu, merasa ia belum pantas untuk mendapatkan jawaban yang lebih dalam.</p>

<p>Mereka pun berjalan dalam damai menuju rumah. Walaupun sempat berhenti beberapa kali karena pengemis yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka, atau seorang paruh baya yang meminta sulut api untuk batang tembakaunya (yang mengejutkan Mingyu karena Jihoon dengan santai mengeluarkan korek api Zippo <em>custom</em> dari saku jaketnya. Walau ternyata menurut pengakuan Jihoon, korek itu milik teman kerjanya).</p>

<p>“Gyu, thanks ya udah mau nemenin gue.” ucap Jihoon ketika mereka berdua telah sampai di depan rumah.</p>

<p>“Mmhm, no prob lah kak. Kalau butuh temen ngelayap lagi, calling calling aja.”</p>

<p>“Idih.”</p>

<p>Jihoon pun merogoh sakunya untuk mengeluarkan kunci rumah. Saku kanan, saku kiri. Saku celana depan, saku celana belakang.</p>

<p>Dan..</p>

<p>“Astaga.”</p>

<p>Yak.</p>

<p>“Kuncinya gaada Gyu.”</p>

<p>Mingyu pun terdiam mendengar pernyataan Jihoon barusan.</p>

<p>“Kak, bercanda ih?”</p>

<p>Jihoon menatap Mingyu serius dengan kedua matanya yang menyipit. “Gue keliatan kaya orang yang suka bercanda gini emangnya?”</p>

<p>Mingyu menggeleng perlahan, mencoba meresapi keadaan yang mereka hadapi sekarang.</p>

<p>“Kak, telpon kak Jun..”</p>

<p>“HP gue mati, lowbat tadi. Pake HP lu aja deh.”</p>

<p>“Anu...” Mingyu mengeluarkan HPnya dari kantung jaket dan menghadapkan layarnya ke Jihoon. “Item juga layarnya...”</p>

<p>Jihoon pun menghela napas panjang dan menyenderkan dahinya di daun pintu, sambil sesekali memukulkan kepalanya pelan.</p>

<p>“Kak, boleh gak...”</p>

<p>“Apaan?”</p>

<p>“Boleh gak gue bilang lu &#39;bodoh&#39; kali ini...”</p>

<p>Jihoon melirik ke arah Mingyu, masih dengan tatapan tajamnya.</p>

<p>“Gapapa. Wakilkan gue ngatain diri sendiri coba.”</p>

<p>Mingyu pun tertawa kecil melihat Jihoon merasa lelah dengan dirinya sendiri. Kemudian, untuk membangkitkan kembali semangat Jihoon, ia mengusulkan mereka untuk kembali menyusuri jalan yang dilewati sambil mencari kunci rumah Jihoon.</p>

<p>“Mata gue udah satu watt, gilaa. Ga jeli buat nyari.” keluh Jihoon, meski tetap sambil memperhatikan tiap sudut jalan.</p>

<p>“Yaudah, sambil nikmatin udara malem lagi kak. Sambil cerita-cerita. Jujur aja, menurut gue tadi jalan-jalannya kurang intim.”</p>

<p>“Hah intim mata lu intim. Apaan dah.”</p>

<p>Mingyu menggumam, memikirkan jawaban yang pas dan sesuai dengan apa yang ada di pikirannya. “Ya maksudnya, hmm, anggep aja malem ini jadi ajang bonding buat kita? Kan gue bakal di sini 5 tahun kak nemenin lu.”</p>

<p>“Minta bonding bonding tapi gue aja belom difollow back, gimana tuh?”</p>

<p>Syut. Diam.</p>

<p>“Aah..” Mingyu diam seribu bahasa.</p>

<p>“Follow back gue aja, 4 tweet lu yang itu nanti gue maafin habis lu follow gue.”</p>

<p>“Serius kak?”</p>

<p>“Banyak nanya ya lu, lama-lama gue berubah pikiran.”</p>

<p>“No no no. Oke, deal! Gue follow back!”</p>

<p>Mereka pun menghabiskan sisa malam dengan berjalan berdampingan, masing-masing tangan bersembunyi dalam kantung jaket, dan cerita-cerita ringan yang saling terlontar.</p>

<p>—</p>

<p>Keesokannya, Seungcheol bertemu dengan mereka saat ia berjalan menuju agensi. Bukan bertemu dengan keadaan optimal untuk tegur-sapa, tetapi lebih tepatnya, Seungcheol “menemukan” dua tubuh berjaket tebal itu tengah tertidur di kursi taman, dengan kepala Jihoon yang bersender nyaman di bahu Mingyu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://write.as/whal13n/thanks-mingyu-9mr3</guid>
      <pubDate>Fri, 27 Mar 2020 22:44:11 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Menyerah.</title>
      <link>https://write.as/whal13n/menyerah?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Menyerah. &#xA;&#xA;Satu kata yang selalu terlintas dan berputar di kepala Jihoon. &#xA;&#xA;Bukan karena omongan seorang Mun Junhui petang kemarin, satu kata kutukan itu sudah lama menghantui pikirannya selama beberapa bulan terakhir ini. &#xA;&#xA;Seyakin apapun ia pada dirinya, ketika ia dihadapkan dengan adegan yang tak terhindari dari kedua &#34;temannya&#34;, kata itu akan selalu datang menghantam dirinya. Meneriakkan sejuta fakta bahwa memang sudah semestinya ia berhenti. &#xA;&#xA;Namun, menurutnya, kata &#34;menyerah&#34; adalah satu hal yang konyol. Satu hal yang hanya dilakukan oleh para pecundang.&#xA;&#xA;Dan dirinya bukan lah pecundang. Ia adalah seorang pejuang. &#xA;&#xA;Kata Junhui, ia bodoh. Menurutnya, ia kokoh. &#xA;&#xA;Saat ini, Jihoon tengah terbaring nyaman di atas kasur yang menjadi tempat favorit keduanya, yaitu milik Soonyoung. Selain empuk, semerbak parfum empunya selalu berhasil menenangkan pikirannya yang tidak pernah berhenti berkecamuk--Jihoon adalah seorang pemusik dengan sejuta ide yang terlalu kompleks untuk dituangkan, terkadang hal tersebut membuat tingkat anxietasnya terlalu tinggi. &#xA;&#xA;Dan seorang Soonyoung, dengan senyum hamster dan mata sipitnya, mampu menaklukkan pikiran karut Jihoon.&#xA;&#xA;Sayangnya, dua bulan setelah menyadari perasaannya, hati Soonyoung telah jatuh di tangan orang lain. Yang naasnya, seseorang itu adalah Jeon Wonwoo, teman dekat dari Jihoon sendiri. &#xA;&#xA;Ia tentu tidak ingin mundur begitu saja. Di matanya, selalu ada celah kecil yang pasti dapat dibuka lebar.  Dan ia hanya perlu menemukan metode yang tepat untuk itu. &#xA;&#xA;Malam ini, Jihoon berhasil menyisihkan waktu luangnya untuk dihabiskan bersama Soonyoung. Mencoba untuk menggali lebih dalam tentang pribadi yang menggenggam serpihan hatinya. &#xA;&#xA;Jihoon sangat menikmati momen yang ia lewati dengan Soonyoung. Waktu terasa berjalan sangat lambat dan dinding yang ia sandari terasa begitu empuk. Hingga satu saat, Soonyoung membuka mulutnya di tengah adegan Adudu yang mengoceh karena kekalahannya. &#xA;&#xA;&#34;Jik, habis ini lanjut nonton apa lagi? Mumpung kita berdua ada waktu gini, yuk lah netflix and chill?&#34; &#xA;&#xA;Kaget luar biasa saat ia mendengar ajakan polos Soonyoung. Netflix and Chill yang ia tau memiliki makna yang jauh berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Soonyoung. &#xA;&#xA;Dalam kondisi paniknya, ia benar-benar tidak bisa berpikir sejauh itu. Malahan, tubuhnya bergerak secara autopilot, segera meminta izin untuk ke dapur dan meluncur secepat kilat. &#xA;&#xA;Di dapur, ia mengambil gelas dan meneguk air sebanyak lambungnya dapat menampung--dan itu cukup banyak. &#xA;&#xA;&#34;Apa-apaan.. Soonyoung gila..&#34;&#xA;&#xA;-- &#xA;&#xA;Setelah beberapa saat, ia telah tenang kembali. Kakinya melangkah menuju kamar Soonyoung untuk melanjutkan aktivitas mereka yang ia tinggalkan dengan tiba-tiba. &#xA;&#xA;Senyuman di wajahnya terkembang saat memikirkan belasan judul film yang akan ia kenalkan ke Soonyoung. Dan saat ia membuka pintu kamar, senyum itu segera luput. &#xA;&#xA;&#34;Oh, Won. Ngapain?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Eh, Ji. Ini, Jun beli pizza banyak banget, gue nganterin ke atas doang.&#34; &#xA;&#xA;&#34;Iyaaa, terus gue ajak Nonu nonton sekalian bareng kita. Jun gue ajak tapi ga mau katanya.&#34; sambung Soonyoung. &#xA;&#xA;Jihoon hanya memberikan anggukan sebagai respon, lalu tanpa mengeluarkan kata-kata, langsung mengambil tempat di ujung kasur--tempat sebelumnya kini diduduki oleh Wonwoo, dan Jihoon sama sekali tidak peduli. &#xA;&#xA;Mereka bertiga adalah teman. Jihoon sama sekali tidak merasa terganggu.  &#xA;&#xA;Beberapa menit kemudian pun, Jihoon masih merasa tidak terganggu. &#xA;&#xA;Tidak dengan bagaimana Soonyoung yang terus-terusan menempelkan bahunya ke Wonwoo. &#xA;&#xA;Tidak dengan bagaimana senyumnya terlihat lebih manis ketika berbicara dengan Wonwoo. &#xA;&#xA;Tidak dengan bagaimana ia bersikap terlalu manja dengan Wonwoo. &#xA;&#xA;Dan tentunya, tidak dengan bagaimana keberadaannya kini  sudah terlepas dari ingatan mereka. Bagai sebuah dekorasi tak penting di sudut kamar. &#xA;&#xA;Dan, oke, ia merasa sangat terganggu. Film Marvel yang menjadi kesukaannya sepanjang masa, kini terlihat begitu memuakkan. Ia pun memilih untuk beralih ke HP-nya untuk mencari hiburan lain dan berharap acara mereka selesai secepat mungkin. &#xA;&#xA;Jihoon sempat khawatir ketika ia membuka handphone-nya dan mendapati notifikasi dari teman sekamarnya, Mingyu, yang berisi penuh dengan emoji tangis. &#xA;&#xA;Nangis gue kak &#xA;&#xA;Satu kalimat itu membuatnya langsung membuka ruang chat mereka, berharap tidak ada hal buruk menimpa Mingyu. Dan setelah pesannya terbuka, Jihoon mendengus kesal. &#xA;&#xA;&#34;Bodoh.&#34; ucap Jihoon, lumayan keras.&#xA;&#xA;Di sudut matanya, ia dapat melihat Soonyoung sedikit terkejut mendengar suara yang keluar dari dirinya, menandakan bahwa ia benar-benar lupa akan keberadaan Jihoon. &#xA;&#xA;Ia jengkel. Seratus persen jengkel. &#xA;&#xA;Ia muak. Ia ingin pergi dari tempat itu.&#xA;&#xA;&#34;Kenapa, Ji? Siapa yang bodoh?&#34; tanya Wonwoo, sedikit berhati-hati karena ekspresi masam yang ditampilkan di wajah Jihoon.&#xA;&#xA;Jihoon sadar bahwa Wonwoo merasa awas dengan perubahan mood-nya, dan ia tidak ingin terlihat terlalu bitter. Harga dirinya terlalu tinggi.&#xA;&#xA;&#34;Nggak. Mingyu lupa bawa kunci. Anaknya ngerengek di bawah.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Oh...&#34; gumam Soonyoung.&#xA;&#xA;&#34;Gue bukain kunci dulu. Gausah di-pause, lanjut aja.&#34; Ucapnya sambil beranjak pergi dari tempat yang sebelumnya merupakan tempat favorit keduanya. &#xA;&#xA;Dan akhirnya, ia bisa keluar dari ruangan yang menyesakkan itu.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Menyerah.</p>

<p>Satu kata yang selalu terlintas dan berputar di kepala Jihoon.</p>

<p>Bukan karena omongan seorang Mun Junhui petang kemarin, satu kata kutukan itu sudah lama menghantui pikirannya selama beberapa bulan terakhir ini.</p>

<p>Seyakin apapun ia pada dirinya, ketika ia dihadapkan dengan adegan yang tak terhindari dari kedua “temannya”, kata itu akan selalu datang menghantam dirinya. Meneriakkan sejuta fakta bahwa memang sudah semestinya ia berhenti.</p>

<p>Namun, menurutnya, kata “menyerah” adalah satu hal yang konyol. Satu hal yang hanya dilakukan oleh para pecundang.</p>

<p>Dan dirinya bukan lah pecundang. Ia adalah seorang pejuang.</p>

<p>Kata Junhui, ia bodoh. Menurutnya, ia kokoh.</p>

<p>Saat ini, Jihoon tengah terbaring nyaman di atas kasur yang menjadi tempat favorit keduanya, yaitu milik Soonyoung. Selain empuk, semerbak parfum empunya selalu berhasil menenangkan pikirannya yang tidak pernah berhenti berkecamuk—Jihoon adalah seorang pemusik dengan sejuta ide yang terlalu kompleks untuk dituangkan, terkadang hal tersebut membuat tingkat anxietasnya terlalu tinggi.</p>

<p>Dan seorang Soonyoung, dengan senyum hamster dan mata sipitnya, mampu menaklukkan pikiran karut Jihoon.</p>

<p>Sayangnya, dua bulan setelah menyadari perasaannya, hati Soonyoung telah jatuh di tangan orang lain. Yang naasnya, seseorang itu adalah Jeon Wonwoo, teman dekat dari Jihoon sendiri.</p>

<p>Ia tentu tidak ingin mundur begitu saja. Di matanya, selalu ada celah kecil yang pasti dapat dibuka lebar.  Dan ia hanya perlu menemukan metode yang tepat untuk itu.</p>

<p>Malam ini, Jihoon berhasil menyisihkan waktu luangnya untuk dihabiskan bersama Soonyoung. Mencoba untuk menggali lebih dalam tentang pribadi yang menggenggam serpihan hatinya.</p>

<p>Jihoon sangat menikmati momen yang ia lewati dengan Soonyoung. Waktu terasa berjalan sangat lambat dan dinding yang ia sandari terasa begitu empuk. Hingga satu saat, Soonyoung membuka mulutnya di tengah adegan Adudu yang mengoceh karena kekalahannya.</p>

<p>“Jik, habis ini lanjut nonton apa lagi? Mumpung kita berdua ada waktu gini, yuk lah netflix and chill?”</p>

<p>Kaget luar biasa saat ia mendengar ajakan polos Soonyoung. <em>Netflix and Chill</em> yang ia tau memiliki makna yang jauh berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Soonyoung.</p>

<p>Dalam kondisi paniknya, ia benar-benar tidak bisa berpikir sejauh itu. Malahan, tubuhnya bergerak secara <em>autopilot</em>, segera meminta izin untuk ke dapur dan meluncur secepat kilat.</p>

<p>Di dapur, ia mengambil gelas dan meneguk air sebanyak lambungnya dapat menampung—dan itu cukup banyak.</p>

<p>“Apa-apaan.. Soonyoung gila..”</p>

<p>—</p>

<p>Setelah beberapa saat, ia telah tenang kembali. Kakinya melangkah menuju kamar Soonyoung untuk melanjutkan aktivitas mereka yang ia tinggalkan dengan tiba-tiba.</p>

<p>Senyuman di wajahnya terkembang saat memikirkan belasan judul film yang akan ia kenalkan ke Soonyoung. Dan saat ia membuka pintu kamar, senyum itu segera luput.</p>

<p>“Oh, Won. Ngapain?”</p>

<p>“Eh, Ji. Ini, Jun beli pizza banyak banget, gue nganterin ke atas doang.”</p>

<p>“Iyaaa, terus gue ajak Nonu nonton sekalian bareng kita. Jun gue ajak tapi ga mau katanya.” sambung Soonyoung.</p>

<p>Jihoon hanya memberikan anggukan sebagai respon, lalu tanpa mengeluarkan kata-kata, langsung mengambil tempat di ujung kasur—tempat sebelumnya kini diduduki oleh Wonwoo, dan Jihoon sama sekali tidak peduli.</p>

<p>Mereka bertiga adalah teman. Jihoon <em>sama sekali</em> tidak merasa terganggu.</p>

<p>Beberapa menit kemudian pun, Jihoon <em>masih</em> merasa tidak terganggu.</p>

<p>Tidak dengan bagaimana Soonyoung yang terus-terusan menempelkan bahunya ke Wonwoo.</p>

<p>Tidak dengan bagaimana senyumnya terlihat lebih manis ketika berbicara dengan Wonwoo.</p>

<p>Tidak dengan bagaimana ia bersikap terlalu manja dengan Wonwoo.</p>

<p>Dan tentunya, tidak dengan bagaimana keberadaannya kini  sudah terlepas dari ingatan mereka. Bagai sebuah dekorasi tak penting di sudut kamar.</p>

<p>Dan, oke, ia merasa sangat terganggu. Film Marvel yang menjadi kesukaannya sepanjang masa, kini terlihat begitu memuakkan. Ia pun memilih untuk beralih ke HP-nya untuk mencari hiburan lain dan berharap acara mereka selesai secepat mungkin.</p>

<p>Jihoon sempat khawatir ketika ia membuka <em>handphone</em>-nya dan mendapati notifikasi dari teman sekamarnya, Mingyu, yang berisi penuh dengan emoji tangis.</p>

<p><em>Nangis gue kak</em></p>

<p>Satu kalimat itu membuatnya langsung membuka ruang <em>chat</em> mereka, berharap tidak ada hal buruk menimpa Mingyu. Dan setelah pesannya terbuka, Jihoon mendengus kesal.</p>

<p>“Bodoh.” ucap Jihoon, lumayan keras.</p>

<p>Di sudut matanya, ia dapat melihat Soonyoung sedikit terkejut mendengar suara yang keluar dari dirinya, menandakan bahwa ia benar-benar lupa akan keberadaan Jihoon.</p>

<p>Ia jengkel. Seratus persen jengkel.</p>

<p>Ia muak. Ia ingin pergi dari tempat itu.</p>

<p>“Kenapa, Ji? Siapa yang bodoh?” tanya Wonwoo, sedikit berhati-hati karena ekspresi masam yang ditampilkan di wajah Jihoon.</p>

<p>Jihoon sadar bahwa Wonwoo merasa awas dengan perubahan mood-nya, dan ia tidak ingin terlihat terlalu <em>bitter</em>. Harga dirinya terlalu tinggi.</p>

<p>“Nggak. Mingyu lupa bawa kunci. Anaknya ngerengek di bawah.”</p>

<p>“Oh...” gumam Soonyoung.</p>

<p>“Gue bukain kunci dulu. Gausah di-pause, lanjut aja.” Ucapnya sambil beranjak pergi dari tempat yang sebelumnya merupakan tempat favorit keduanya.</p>

<p>Dan akhirnya, ia bisa keluar dari ruangan yang menyesakkan itu.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://write.as/whal13n/menyerah</guid>
      <pubDate>Fri, 27 Mar 2020 20:02:50 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Krik.. Krik..</title>
      <link>https://write.as/whal13n/krik?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Krik.. Krik..&#xA;&#xA;Diiringi suara jangkrik di luar rumah, Mingyu duduk memeluk kedua kakinya di atas tempat tidur, tubuhnya terbalut selimut kesayangannya.&#xA;&#xA;Ia sudah berada pada posisi itu selama kurang lebih setengah jam. Dalam kegelapan, ia menatap kosong ke jendela di seberangnya, tepat di depan meja kerja yang selalu diduduki oleh tubuh mini teman sekamarnya.&#xA;&#xA;Lamunannya itu kemudian terbuyarkan oleh suara decitan pintu kamar yang terbuka tiba-tiba, menampakkan siluet yang mulai terlihat familiar baginya.&#xA;&#xA;“Ka—”&#xA;&#xA;“Ssst.” desis siluet itu. Ia merayap masuk perlahan dan menutup pintu selembut mungkin, menghilangkan jejak bising yang dapat ditimbulkan.&#xA;&#xA;Mingyu pun merapatkan bibirnya, pandangannya terpaut pada gerak-gerik bayangan yang melesat dalam gelapnya ruangan, dibantu oleh sedikit pencahayaan yang merembes masuk dari jendela kamar.&#xA;&#xA;Keduanya terjebak dalam keheningan, lagi.&#xA;&#xA;Siluet itu juga berhenti bergerak, tetap terdiam di tempat, menghadap ke arah Mingyu.&#xA;&#xA;Hingga akhirnya, salah satu dari mereka tertawa lepas, walau masih dalam frekuensi yang cukup rendah.&#xA;&#xA;“Hahahahhaha. Anjir, sumpah Mingyu, lu ga napas? Hahahahaha.”&#xA;&#xA;“Kak Jihoon astagaaaa.”&#xA;&#xA;Jihoon semakin tergelak begitu Mingyu mengiakan pertanyaannya barusan.&#xA;&#xA;“Gue sst tu maksudnya kecilin suara, bukan lu diem separu-paru lu anjiir.” Jihoon menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, masih dengan tawanya yang mulai mereda. Ia lalu membuka jaketnya dan menyenderkan punggungnya ke dinding.&#xA;&#xA;“Ya maaf kak.. gue kaget.” ucap Mingyu. Kini tubuhnya yang sekejap kaku dapat rileks kembali.&#xA;&#xA;“Heran gue, tegang amat sih lu sama gue.”&#xA;&#xA;“Perasaan lu doang kali kak.”&#xA;&#xA;“Halah.” tangkis Jihoon.&#xA;&#xA;Tangan Mingyu beringsut meraih HP-nya dan menyalakan flashlight untuk kemudian ia sorot ke wajah Jihoon.&#xA;&#xA;“Interrogation time. Kak Jihoon tadi kemana?”&#xA;&#xA;Jihoon mengangkat sebelah tangannya dan menghalau sinar yang menusuk matanya. “Kepo ah.”&#xA;&#xA;“Ih gue chat kak Jun nih.”&#xA;&#xA;“Awas aja lu. Ga tenang hidup lu nanti.”&#xA;&#xA;“Anjir lah kak, bercanda sumpeh.”&#xA;&#xA;Jihoon terkekeh lagi. Kepalanya menengadah dan matanya terpejam, menahan suaranya agar tetap dalam kontrol. “Gyu, gue seserem itu ya?”&#xA;&#xA;Mingyu mengangguk, lalu dengan cepat mengoreksi responnya dengan menggeleng.&#xA;&#xA;“Pasti gara-gara gue timpuk pake gitar ya?”&#xA;&#xA;Mingyu mengangguk lagi, dan dengan cepat mengoreksi lagi responnya.&#xA;&#xA;“Leher lu copot lama-lama.” Jihoon mendecak. “Kan gue udah minta maaf. Ga usah lah lu takut-takut gitu sama gue.”&#xA;&#xA;Mingyu mengangguk lagi, tapi kali ini ia tidak melanjutkannya dengan gelengan kepala.&#xA;&#xA;“Gue ga takut kok.” jawab Mingyu. “Jangan alihin pembicaraan ah, kak Jihoon habis dari mana tadi?”&#xA;&#xA;Sadar bahwa teman barunya keras kepala, Jihoon pun menghela napas panjang, menyerah. “Lu tau taman yang di belakang agensi? Yang kudu dilewatin kalau lu mau ke rumah dari jalan utama?”&#xA;&#xA;“Tau..”&#xA;&#xA;“Nah yaudah, gue di situ. Cari inspirasi, ngestuck banget gue bikin lagu.”&#xA;&#xA;Oooh, gumam Mingyu. Ia baru ingat bahwa seorang penulis lagu juga bisa merasakan buntu ide.&#xA;&#xA;“Terus kenapa nggak ngabarin yang lainnya?”&#xA;&#xA;“Oh, kalau itu sih..” Jihoon mengambil jeda untuk mengusap tengkuknya, lalu memalingkan wajah ke jendela. “Gimana ya... gue ketiduran dari jam 8...”&#xA;&#xA;Pengen ngomong kasar boleh nggak sih, batin Mingyu, tapi dia memilih untuk tersenyum saja, menahan hasrat celetukannya. &#xA;&#xA;“Tuhkan ah, lu kebanyakan nongkrong depan layar sih kak. Lu sehari tidur berapa jam sih?”&#xA;&#xA;Jihoon mengangkat bahunya acuh. Ia mulai merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan beberapa peralatan yang selalu ada di sampingnya.&#xA;&#xA;“Kak lu mau kerja lagi?”&#xA;&#xA;“Mm..”&#xA;&#xA;“Lu pernah ngerasain drop sampe masuk RS ga sih?”&#xA;&#xA;Jihoon melirik ke arah Mingyu. “Dua minggu lalu.”&#xA;&#xA;Mingyu heran, licin sekali jawaban itu meluncur dari mulut Jihoon, seakan kesehatannya itu hanya sebuah permainan yang dapat diperjudikan.&#xA;&#xA;Merasa tidak senang dengan jawaban Jihoon, Mingyu pun menekan layar HP-nya beberapa kali, sebelum akhirnya menempelkannya di telinga. Setelah lewat tiga detik, ia pun berbicara. “Halo, kak Jun? Iye ini orangnya udah di kamar, lagi—”&#xA;&#xA;Brak&#xA;&#xA;Sret&#xA;&#xA;Bruk&#xA;&#xA;“Jihoon!”&#xA;&#xA;Tapi, Jihoonnya udah sembunyi di balik selimut. Suara dengkuran terdengar lemah dari tubuh kecilnya.&#xA;&#xA;Mingyu sedikit terkejut dengan sikap Jihoon yang tersingkap di hadapannya. Lumayan childish menurutnya. &#xA;&#xA;“Aduh, kak Jun.. pelan-pelan aja buka pintunya. Bangun ntar kak Jihoon.”&#xA;&#xA;“Lah udah tidur? Balik jam berapa dia?”&#xA;&#xA;“Kurang tau... tadi gue bangun-bangun dianya udah ngorok.”&#xA;&#xA;“Haaaaa... Yaudahlah, bagus kalau gitu. Ck. Bikin khawatir aja lu bocil.” gerutu Jun, melangkah keluar dari kamar secepat ia masuk.&#xA;&#xA;..&#xA;&#xA;..&#xA;&#xA;..&#xA;&#xA;“Mingyu... awas aja ya lu...”&#xA;&#xA;Takut, sih, dengar ancaman itu dari Jihoon. Tapi, Mingyu hanya membalas dengan tawa kecil.&#xA;&#xA;Mereka tidak lagi saling bertukar kata. Mingyu juga mulai mencari posisi yang nyaman di kasurnya. &#xA;&#xA;Namun, saat ini Mingyu tetap membuka matanya lebar, mengawasi Jihoon alih-alih ia membuka laptopnya kembali.&#xA;&#xA;Begitu ia rasa Jihoon benar-benar terlelap, Mingyu lalu menutup matanya dan ikut menyusul Jihoon ke dunia mimpi. &#xA;&#xA;Sekali lagi, ia tidur nyenyak dengan perasaan yang lega.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Krik.. Krik..</p>

<p>Diiringi suara jangkrik di luar rumah, Mingyu duduk memeluk kedua kakinya di atas tempat tidur, tubuhnya terbalut selimut kesayangannya.</p>

<p>Ia sudah berada pada posisi itu selama kurang lebih setengah jam. Dalam kegelapan, ia menatap kosong ke jendela di seberangnya, tepat di depan meja kerja yang selalu diduduki oleh tubuh mini teman sekamarnya.</p>

<p>Lamunannya itu kemudian terbuyarkan oleh suara decitan pintu kamar yang terbuka tiba-tiba, menampakkan siluet yang mulai terlihat familiar baginya.</p>

<p>“Ka—”</p>

<p>“Ssst.” desis siluet itu. Ia merayap masuk perlahan dan menutup pintu selembut mungkin, menghilangkan jejak bising yang dapat ditimbulkan.</p>

<p>Mingyu pun merapatkan bibirnya, pandangannya terpaut pada gerak-gerik bayangan yang melesat dalam gelapnya ruangan, dibantu oleh sedikit pencahayaan yang merembes masuk dari jendela kamar.</p>

<p>Keduanya terjebak dalam keheningan, lagi.</p>

<p>Siluet itu juga berhenti bergerak, tetap terdiam di tempat, menghadap ke arah Mingyu.</p>

<p>Hingga akhirnya, salah satu dari mereka tertawa lepas, walau masih dalam frekuensi yang cukup rendah.</p>

<p>“Hahahahhaha. Anjir, sumpah Mingyu, lu ga napas? Hahahahaha.”</p>

<p>“Kak Jihoon astagaaaa.”</p>

<p>Jihoon semakin tergelak begitu Mingyu mengiakan pertanyaannya barusan.</p>

<p>“Gue sst tu maksudnya kecilin suara, bukan lu diem separu-paru lu anjiir.” Jihoon menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, masih dengan tawanya yang mulai mereda. Ia lalu membuka jaketnya dan menyenderkan punggungnya ke dinding.</p>

<p>“Ya maaf kak.. gue kaget.” ucap Mingyu. Kini tubuhnya yang sekejap kaku dapat rileks kembali.</p>

<p>“Heran gue, tegang amat sih lu sama gue.”</p>

<p>“Perasaan lu doang kali kak.”</p>

<p>“Halah.” tangkis Jihoon.</p>

<p>Tangan Mingyu beringsut meraih HP-nya dan menyalakan <em>flashlight</em> untuk kemudian ia sorot ke wajah Jihoon.</p>

<p>“Interrogation time. Kak Jihoon tadi kemana?”</p>

<p>Jihoon mengangkat sebelah tangannya dan menghalau sinar yang menusuk matanya. “Kepo ah.”</p>

<p>“Ih gue chat kak Jun nih.”</p>

<p>“Awas aja lu. Ga tenang hidup lu nanti.”</p>

<p>“Anjir lah kak, bercanda sumpeh.”</p>

<p>Jihoon terkekeh lagi. Kepalanya menengadah dan matanya terpejam, menahan suaranya agar tetap dalam kontrol. “Gyu, gue seserem itu ya?”</p>

<p>Mingyu mengangguk, lalu dengan cepat mengoreksi responnya dengan menggeleng.</p>

<p>“Pasti gara-gara gue timpuk pake gitar ya?”</p>

<p>Mingyu mengangguk lagi, dan dengan cepat mengoreksi lagi responnya.</p>

<p>“Leher lu copot lama-lama.” Jihoon mendecak. “Kan gue udah minta maaf. Ga usah lah lu takut-takut gitu sama gue.”</p>

<p>Mingyu mengangguk lagi, tapi kali ini ia tidak melanjutkannya dengan gelengan kepala.</p>

<p>“Gue ga takut kok.” jawab Mingyu. “Jangan alihin pembicaraan ah, kak Jihoon habis dari mana tadi?”</p>

<p>Sadar bahwa teman barunya keras kepala, Jihoon pun menghela napas panjang, menyerah. “Lu tau taman yang di belakang agensi? Yang kudu dilewatin kalau lu mau ke rumah dari jalan utama?”</p>

<p>“Tau..”</p>

<p>“Nah yaudah, gue di situ. Cari inspirasi, ngestuck banget gue bikin lagu.”</p>

<p><em>Oooh</em>, gumam Mingyu. Ia baru ingat bahwa seorang penulis lagu juga bisa merasakan buntu ide.</p>

<p>“Terus kenapa nggak ngabarin yang lainnya?”</p>

<p>“Oh, kalau itu sih..” Jihoon mengambil jeda untuk mengusap tengkuknya, lalu memalingkan wajah ke jendela. “Gimana ya... gue ketiduran dari jam 8...”</p>

<p><em>Pengen ngomong kasar boleh nggak sih</em>, batin Mingyu, tapi dia memilih untuk tersenyum saja, menahan hasrat celetukannya.</p>

<p>“Tuhkan ah, lu kebanyakan nongkrong depan layar sih kak. Lu sehari tidur berapa jam sih?”</p>

<p>Jihoon mengangkat bahunya acuh. Ia mulai merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan beberapa peralatan yang selalu ada di sampingnya.</p>

<p>“Kak lu mau kerja lagi?”</p>

<p>“Mm..”</p>

<p>“Lu pernah ngerasain drop sampe masuk RS ga sih?”</p>

<p>Jihoon melirik ke arah Mingyu. “Dua minggu lalu.”</p>

<p>Mingyu heran, licin sekali jawaban itu meluncur dari mulut Jihoon, seakan kesehatannya itu hanya sebuah permainan yang dapat diperjudikan.</p>

<p>Merasa tidak senang dengan jawaban Jihoon, Mingyu pun menekan layar HP-nya beberapa kali, sebelum akhirnya menempelkannya di telinga. Setelah lewat tiga detik, ia pun berbicara. “Halo, kak Jun? Iye ini orangnya udah di kamar, lagi—”</p>

<p><em>Brak</em></p>

<p><em>Sret</em></p>

<p><em>Bruk</em></p>

<p>“Jihoon!”</p>

<p>Tapi, Jihoonnya udah sembunyi di balik selimut. Suara dengkuran terdengar lemah dari tubuh kecilnya.</p>

<p>Mingyu sedikit terkejut dengan sikap Jihoon yang tersingkap di hadapannya. Lumayan <em>childish</em> menurutnya.</p>

<p>“Aduh, kak Jun.. pelan-pelan aja buka pintunya. Bangun ntar kak Jihoon.”</p>

<p>“Lah udah tidur? Balik jam berapa dia?”</p>

<p>“Kurang tau... tadi gue bangun-bangun dianya udah ngorok.”</p>

<p>“Haaaaa... Yaudahlah, bagus kalau gitu. Ck. Bikin khawatir aja lu bocil.” gerutu Jun, melangkah keluar dari kamar secepat ia masuk.</p>

<p>..</p>

<p>..</p>

<p>..</p>

<p>“Mingyu... awas aja ya lu...”</p>

<p>Takut, sih, dengar ancaman itu dari Jihoon. Tapi, Mingyu hanya membalas dengan tawa kecil.</p>

<p>Mereka tidak lagi saling bertukar kata. Mingyu juga mulai mencari posisi yang nyaman di kasurnya.</p>

<p>Namun, saat ini Mingyu tetap membuka matanya lebar, mengawasi Jihoon alih-alih ia membuka laptopnya kembali.</p>

<p>Begitu ia rasa Jihoon benar-benar terlelap, Mingyu lalu menutup matanya dan ikut menyusul Jihoon ke dunia mimpi.</p>

<p>Sekali lagi, ia tidur nyenyak dengan perasaan yang lega.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://write.as/whal13n/krik</guid>
      <pubDate>Sun, 22 Mar 2020 16:44:53 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Jam dua siang.</title>
      <link>https://write.as/whal13n/jam-dua-siang?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Jam dua siang. &#xA;&#xA;Sesuai dengan jadwal yang dijanjikan padanya, Mingyu telah selesai mengikuti training yang diberikan dari agensinya. &#xA;&#xA;Saat ini, ia telah kembali ke sharing house dan berjalan malas ke arah kamarnya, berniat untuk segera menenggelamkan diri di balik selimut tanpa membasuh tubuh. &#xA;&#xA;Jangan salahkan Mingyu, hari ini tenaganya terlalu terkuras. Tubuhnya masih belum beradaptasi dengan lingkungan barunya. Segala keringat dan debu jalanan ia abaikan demi mengisi ulang energinya. &#xA;&#xA;Ia membayangkan kamarnya yang masih berantakan dipenuhi kardus-kardus besar berisi barangnya, dan yang penting, kasur empuk yang akan selalu ia sayangi.&#xA;&#xA;Namun, yang tidak ia sangka adalah pemandangan dari sesosok tubuh yang masih berada pada lokasi yang sama dari semalam. Membungkuk menghadap layar komputer dan bergelung dengan perangkat lunak yang terpampang di layar, memperlihatkan beberapa kotak kecil berwarna-warni dan coretan garis tidak beraturan di tengahnya. &#xA;&#xA;&#34;Kak Jihoon?&#34; sapa Mingyu. &#xA;&#xA;Teman sekamarnya itu tidak merespon. Tatapannya masih lekat di layar, pendengarannya terhalang sebuah headphone yang terlihat cukup mahal. &#xA;&#xA;&#34;Kaak?&#34; ucap Mingyu lagi, mencoba mendapatkan perhatian Jihoon. &#xA;&#xA;Ia mendekati tubuh Jihoon dan menarik salah satu ujung headphone Jihoon. &#34;Fiuuuuh&#34; &#xA;&#xA;&#34;Anji--&#34; Jihoon memutar badannya dengan mata yang terbelalak lebar. &#34;Mingyu?!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Halo kak!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Lu ngapain sih anjir? Niup-niup kuping gue, geli tau ga?&#34; seru Jihoon sambil mengusap-usap telinganya yang kini memerah. &#xA;&#xA;Pandangan Mingyu teralih pada transformasi warna di telinga Jihoon. &#xA;&#xA;&#34;Liat apaan lu?&#34; tanya Jihoon, mulai merasa kesal. &#xA;&#xA;&#34;Nggak..&#34; jawab Mingyu. Sekarang ia melempar pandangannya ke wajah Jihoon. &#xA;&#xA;Jika diperhatikan lebih dekat, ternyata kulit wajah Jihoon terlihat sangat pucat dengan kantung mata yang terlalu mencolok. &#xA;&#xA;&#34;Kak kayaknya seharian di depan layar terus ya, tu mata apa ga sakit?&#34; &#xA;&#xA;Jihoon menatap Mingyu sebentar, lalu kembali memutar tubuhnya menghadap komputer. &#34;Aman.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Belum tidur dari pagi ya kak?&#34; &#xA;&#xA;&#34;Udah kan semalem.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Seungkwan bilang lu udah melek jam 7 kak.&#34;&#xA;&#xA;Jihoon menghentikan kegiatannya, lalu menghela napas kasar. &#34;Iya. Terus kenapa?&#34; &#xA;&#xA;Nah, sekarang Mingyu yang tidak tau harus menjawab apa. Lagipula, kenapa juga dia terlalu peduli dengan jadwal tidur Jihoon? Mereka baru kenal sehari, itu pun sempat ada perselisihan di awalnya. &#xA;&#xA;&#34;Nggak, kak.. penasaran aja. Semangat kerjanya, gue tidur dulu ya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Beresin barang-barang lu habis itu, ga betah gue liatnya.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bantuin boleh kali kak? Hahaha.&#34; ucap Mingyu, dilanjut dengan kekehannya. &#xA;&#xA;Jihoon hanya menatap Mingyu dengan tatapan tajam tanpa mengatakan apapun. Tawa Mingyu pun surut perlahan, takut. &#xA;&#xA;&#34;B-bercanda kak.. haha... ha..&#34; &#xA;&#xA;Jihoon pun memutar kedua bola matanya dan melanjutkan apa yang ia lakukan sebelum Mingyu datang.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Jam dua siang.</p>

<p>Sesuai dengan jadwal yang dijanjikan padanya, Mingyu telah selesai mengikuti <em>training</em> yang diberikan dari agensinya.</p>

<p>Saat ini, ia telah kembali ke <em>sharing house</em> dan berjalan malas ke arah kamarnya, berniat untuk segera menenggelamkan diri di balik selimut tanpa membasuh tubuh.</p>

<p>Jangan salahkan Mingyu, hari ini tenaganya terlalu terkuras. Tubuhnya masih belum beradaptasi dengan lingkungan barunya. Segala keringat dan debu jalanan ia abaikan demi mengisi ulang energinya.</p>

<p>Ia membayangkan kamarnya yang masih berantakan dipenuhi kardus-kardus besar berisi barangnya, dan yang penting, kasur empuk yang akan selalu ia sayangi.</p>

<p>Namun, yang tidak ia sangka adalah pemandangan dari sesosok tubuh yang masih berada pada lokasi yang sama dari semalam. Membungkuk menghadap layar komputer dan bergelung dengan perangkat lunak yang terpampang di layar, memperlihatkan beberapa kotak kecil berwarna-warni dan coretan garis tidak beraturan di tengahnya.</p>

<p>“Kak Jihoon?” sapa Mingyu.</p>

<p>Teman sekamarnya itu tidak merespon. Tatapannya masih lekat di layar, pendengarannya terhalang sebuah <em>headphone</em> yang terlihat cukup mahal.</p>

<p>“Kaak?” ucap Mingyu lagi, mencoba mendapatkan perhatian Jihoon.</p>

<p>Ia mendekati tubuh Jihoon dan menarik salah satu ujung <em>headphone</em> Jihoon. “Fiuuuuh”</p>

<p>“Anji—” Jihoon memutar badannya dengan mata yang terbelalak lebar. “Mingyu?!”</p>

<p>“Halo kak!”</p>

<p>“Lu ngapain sih anjir? Niup-niup kuping gue, geli tau ga?” seru Jihoon sambil mengusap-usap telinganya yang kini memerah.</p>

<p>Pandangan Mingyu teralih pada transformasi warna di telinga Jihoon.</p>

<p>“Liat apaan lu?” tanya Jihoon, mulai merasa kesal.</p>

<p>“Nggak..” jawab Mingyu. Sekarang ia melempar pandangannya ke wajah Jihoon.</p>

<p>Jika diperhatikan lebih dekat, ternyata kulit wajah Jihoon terlihat sangat pucat dengan kantung mata yang terlalu mencolok.</p>

<p>“Kak kayaknya seharian di depan layar terus ya, tu mata apa ga sakit?”</p>

<p>Jihoon menatap Mingyu sebentar, lalu kembali memutar tubuhnya menghadap komputer. “Aman.”</p>

<p>“Belum tidur dari pagi ya kak?”</p>

<p>“Udah kan semalem.”</p>

<p>“Seungkwan bilang lu udah melek jam 7 kak.”</p>

<p>Jihoon menghentikan kegiatannya, lalu menghela napas kasar. “Iya. Terus kenapa?”</p>

<p>Nah, sekarang Mingyu yang tidak tau harus menjawab apa. Lagipula, kenapa juga dia terlalu peduli dengan jadwal tidur Jihoon? Mereka baru kenal sehari, itu pun sempat ada perselisihan di awalnya.</p>

<p>“Nggak, kak.. penasaran aja. Semangat kerjanya, gue tidur dulu ya.”</p>

<p>“Beresin barang-barang lu habis itu, ga betah gue liatnya.”</p>

<p>“Bantuin boleh kali kak? Hahaha.” ucap Mingyu, dilanjut dengan kekehannya.</p>

<p>Jihoon hanya menatap Mingyu dengan tatapan tajam tanpa mengatakan apapun. Tawa Mingyu pun surut perlahan, takut.</p>

<p>“B-bercanda kak.. haha... ha..”</p>

<p>Jihoon pun memutar kedua bola matanya dan melanjutkan apa yang ia lakukan sebelum Mingyu datang.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://write.as/whal13n/jam-dua-siang</guid>
      <pubDate>Fri, 20 Mar 2020 20:13:51 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>