Perfect Porcelain
===================
“Ji.” panggil lelaki berambut pirang itu.
Orang di hadapannya itu tidak bergidik sama sekali. Mendengar namanya disebut saja tidak. Ia terus berpacu di tempat, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit yang ia sebut kamarnya.
“Jihoon?” dahi Soonyoung mengerut, mulai melihat ada yang aneh dari lelaki di depannya yang memunculkan ekspresi panik pada wajahnya.
Menilai bahwa panggilan ketiga tetap tidak akan digubris, Soonyoung akhirnya beranjak dari kasur untuk meraih tubuh mungil kekasihnya. Setelah berhasil mendapat perhatian yang ia inginkan, ia menangkup wajah Jihoon dengan kedua tangannya. “Cerita sini, ada apa?”
Jihoon terdiam di tempatnya, tiba-tiba lupa caranya bergerak dan bernapas. Ia baru ingat Soonyoung mampir ke kosannya malam ini untuk membahas projek akhir semester mereka. Mengingat hal itu membuat Jihoon semakin panik dan ia pun berusaha keras untuk menjauhkan tubuhnya dari Soonyoung.
Tapi, tentu saja Soonyoung tidak mau melepas genggamannya. Ia menyetarakan pandangannya dengan Jihoon dan menatap dalam mata kekasihnya. Setelah melihat ada kilauan melapisi kedua mata Jihoon, ia pun tersenyum kecil dan membelai lembut pipi kekasihnya dengan jemarinya, mencoba menenangkan tubuh Jihoon yang mulai bergetar pelan.
“Takut, Soonyoung.” ucap Jihoon dengan suara kecil, hampir tidak terdengar.
Oh, batin Soonyoung. It's one of the episodes, of his anxiety.
Ia langsung mengerti apa yang harus dilakukan. Dengan sigap, Soonyoung mendekap tubuh Jihoon dan mengayunkan tubuh mereka ke kanan dan kiri, tangannya pun tidak absen mengelus punggung Jihoon untuk menambah efek penenang.
Beberapa bulan terakhir ini, ia jadi lebih sering melakukannya. Dan kenyataan tersebut menambah rasa protektif yang tumbuh dalam dirinya.
“Udah mau cerita?”
Jihoon melingkarkan kedua lengannya di tubuh Soonyoung, merapatkan kedua tangannya di lengkung punggung lelaki yang terus membisikkan ribuan kata manis sebagai nyanyian nina bobo di telinganya. Soonyoung mengarahkan kedua tubuh mereka agar dapat berbaring di kasur empuk milik Jihoon, memosisikan diri senyaman mungkin.
Isakan kecil mulai terdengar dari tubuh rentan yang berada dalam dekapan Soonyoung, masih gemetar lembut walau terlihat tertahan. Situasi seperti ini menyakiti Soonyoung lebih dari korban sesungguhnya.
“Abisin dulu air matanya, ngga apa-apa.” kini jemari Soonyoung terselip di rambut hitam Jihoon, yang menurutnya terlalu lembut untuk seorang dewasa yang sehari-harinya tidak gagal disambut polusi jalanan Jakarta dan kejamnya terik matahari.
Seperti biasa, ia memainkan tiap helai rambut Jihoon dengan sentuhan ringannya, membawa Jihoon perlahan memejamkan kelopak matanya dan kemudian meredam tangis.
Setelah yakin bahwa malaikatnya sudah terlelap, Soonyoung membawa bibirnya ke kening Jihoon untuk mengecup manis dan mengirim mimpi indah sebagai pengobat tambahan.
Tidak lama setelahnya, ia merasakan genggaman kecil di kausnya. Kecil, tapi kuat, seakan menarik Soonyoung yang tiba-tiba hilang terbawa angin musim gugur.
“Jangan,” ucap Jihoon lirih, tercekat oleh isakannya yang ternyata masih belum surut, “jangan pergi. Aku takut, Soonyoung. Takut.”
Sambil mengusap air mata yang masih menuruni wajah Jihoon, Soonyoung mengeratkan pelukannya dan menempatkan kepala Jihoon tepat di dadanya. Kausnya sekarang basah dengan setitik, dua titik air mata. Tapi, ia tidak keberatan. Sama sekali tidak pernah merasa keberatan untuk seorang Lee Jihoon.
“Iya, janji ngga kemana-mana, kok. Di samping Jihoon terus sampe bumi tinggal kepingan debu lagi.”
“Pinky promise..?” ucap Jihoon, mengangkat kelingkingnya dan menyodorkannya di wajah Soonyoung.
“Pinky promise.” balas Soonyoung, mengaitkan kelingkingnya dengan milik Jihoon.
Puas mendengar jawaban Soonyoung, Jihoon menghela napas panjang sambil mengangguk lemah, siap untuk kembali menyusuri lajur bunga tidur.
“Maaf, ya, Soonyoung.” ucapnya, masih dengan suaranya yang pelan, bersaing sengit dengan kesunyian malam.
“Ji, ngga ada yang perlu dimaafin. Kamu kayak gini juga bukan maunya kamu, 'kan?” tukas Soonyoung, melonggarkan pelukannya untuk menujukan tatapannya ke wajah Jihoon.
Wajah lelaki itu sudah bersemu merah karena tangisnya yang terus kembali. Ujung hidungnya yang mungil itu pun juga ikut memerah pilu. Apalagi matanya yang kini sembab, benar-benar wajahnya merupakan definisi mutlak dari kata “kacau”.
Hmm tapi tetap gemas, pikir Soonyoung.
“Denger, Ji. Pokoknya tiap kamu ngerasa it's too much to take in, kamu harus langsung lari ke aku. Minta peluk, minta cium, minta petikin bulan bintang juga aku jabanin, Ji.”
Memang bukan Soonyoung kalau nggak gombal bahkan di keadaan seperti ini. Lidahnya itu, loh, manisnya keterlaluan, untungnya Jihoon sayang. Dan untungnya, Soonyoung bisa pegang janji-janjinya itu, walau bukan semua dalam makna literal.
Jihoon cuma bisa menahan tangisnya yang semakin menjadi-jadi. Lagian, udah tahu anak orang lagi sesenggukan, malah dihantam gombalan yang sayangnya bukan bualan belaka. Jadi, cubit saja perut Soonyoung biar orangnya sadar mulutnya tuh, bahaya. Banget.
Soonyoung sadar sedu-sedan Jihoon semakin bertambah, ia lalu merasa bersalah dan mulai menyanyikan lagu yang selalu ia nyanyikan saat Jihoon dalam keadaan seperti ini.
``You thought by now
You'd have it figured out
You can't erase the way it pulls
When seasons change
It hurts sometimes
To find where you begin
But you are perfect porcelain``
Benar, meskipun sangat terkenal dengan tatapan tajam dan sifat dinginnya, bagi Soonyoung, Jihoon itu tetap kekasihnya yang delicate, rapuh, dan seindah perfect porcelain.
``The slow and simple melody
Of tears you cannot keep from me
It's alright if you don't know what you need``
Beban yang dipikul keduanya saat ini memang berat, apalagi ini tahun terakhir mereka kuliah. Namun, tuntutan dari keluarga Jihoon sendiri sudah terlalu banyak dan berat, menyiksa batin dan fisik Jihoon yang sayangnya dan beruntungnya adalah seorang perfeksionis, penggiat passion, dan pekerja keras.
Tidak banyak yang dapat Soonyoung lakukan untuk membantu kasih hatinya itu. Hanya kalimat dukungan dan pelukan sehangat rumah yang mampu ia tawarkan, berharap semua itu cukup untuk membawa Jihoon kembali bangkit tiap ia terjatuh.
“Ji, besok aku masakin omurice, ya? Nasi goreng omlette kesukaan kamu. Sama milk tea ala-ala. Oh, I'll even bake some cookies if you want.”
Jihoon yang sedari tadi khidmat menikmati alunan ringan melodi dari mulut Soonyoung, kemudian langsung merebak senyum paling lebar ketika mendengar hal itu. “Mmhm, jangan bakar kosanku tapi.”
Dan mungkin.. Mungkin beberapa hal kecil penuh makna seperti itu lah yang dibutuhkan Jihoon.