whal13n

Gelap...

Mingyu membuka matanya perlahan.

Silau...

Tanpa disadari, Mingyu sempat terlelap beberapa saat setelah berpura-pura tidur demi menghindari teman sekamarnya yang baru. Bukan apa, dia masih belum tau cara menghadapi Jihoon tanpa memperkeruh keadaan.

Setelah mengumpulkan nyawanya yang sempat berceceran, ia meraih HP-nya dan melirik jam yang tertera di layarnya.

Pukul 02:48 pagi.

Sebuah jam setan untuk tetap membuka mata. Mingyu memutuskan untuk kembali tidur, tetapi niatnya terhalang oleh suara ketukan jari di atas keyboard.

Tap tap tap.

Klik klik klik.

Ia pun menoleh ke arah suara tersebut dan menemukan seseorang tengah membungkuk di hadapan layar laptop, tepat di meja kerja di seberangnya.

Jihoon.

Sosok itu rupanya milik Jihoon, bocah yang tadi siang terhentak ke lantai karena ayunan pintu kayu kamar mereka.

Sekali lagi, Mingyu mengecek jam di layar ponselnya. Benar saja, layarnya menunjukkan pukul tiga dini hari.

Apa yang dilakukan Jihoon selarut ini?

“Tidur lu. Masih jam segini.”

Ucapan Jihoon mengagetkan Mingyu.

Bener nih, Jihoon yang barusan bicara? Bukan khayalannya semata? Mungkin Mingyu masih terlalu mengantuk...

“Kalau ga bisa tidur pake lampu, matiin aja. Gue ga masalah.”

Oke, sekarang Mingyu yakin itu suara Jihoon.

“Jihoon? Lu ngapain masih melek?”

Sekarang Jihoon memutar setengah tubuhnya, menghadap Mingyu. Alisnya naik sebelah dan lengkung bibirnya masih terukir ke bawah. Kedua matanya, ya, masih memicing tajam.

Mingyu langsung merasa ingin bersujud minta maaf di hadapan Jihoon, padahal entah apa salahnya.

“Sopan banget manggilnya, ga pernah denger kata 'kak' ya?”

“Hah, bukannya lu lebih muda dari gue?”

Jihoon sekarang beneran keliatan marah. Alisnya menukik turun, dahinya mengerut kusut. “Asumsi dari mana sih? Emangnya Cheol ga ngasih tau?” ucapnya dengan nada kesal. “Jangan karena badan gue begini lu jadi asal nganggep gue lebih muda...” gerutunya, kali ini dengan suara yang sangat kecil.

Tapi Mingyu dengar. Dan Mingyu juga sempat lihat Jihoon mengerucutkan bibirnya waktu menggerutu, sebelum dia memalingkan wajahnya dan kembali lagi berhadapan dengan laptopnya.

Mungkin itu sisi soft yang kak Soonyoung bilang, pikir Mingyu.

“Kak Jihoon?”

“Hm?”

“Gue minta maaf ya, buat yang tadi siang.”

Setelah itu, mereka saling diam untuk beberapa saat. Mungkin canggung, mungkin memang sedang saling mencerna. Setidaknya ada deru mesin pendingin ruangan yang berbaik hati mengisi sela-sela keheningan.

Sampai akhirnya, Jihoon angkat bicara.

“Gue juga. Sorry.” ucapnya dengan nada datar.

“Oke.”

Merasa tidak ada yang perlu dibahas lebih lanjut, Mingyu kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata, kembali ke alam bawah sadarnya dengan perasaan yang lebih lega.

===

Gelap...

Mingyu membuka matanya perlahan.

Silau...

Setelah sepenuhnya tersadar, Mingyu bangkit dari tempat tidurnya. Ia kemudian bersiap untuk menjalani jadwal trainingnya hari itu, dimulai dari membereskan kasurnya dan memilih outfit yang akan ia kenakan.

Persiapan selesai, ia pun beranjak pergi.

Sebelum keluar kamar, ia juga menyempatkan diri untuk menutupi tubuh pucat Jihoon yang tengah bersandar nyaman di atas meja, dengan selimut yang cukup tebal.

Sudah diduga

=============

“Pas nih jam 1, time management gue bagus banget emang.”

Seungkwan melirik sahabatnya di kursi setir lalu mendengus. “Lewat 5 menit ya halo assalamualaikum, baca jam yang bener.”

“Lewat 4 menit sih sebenernya, waalaikumsalam.” Mingyu julurin lidahnya, mengejek Seungkwan yang sedang mencoba menahan tangannya yang gemas ingin melempar tas ke kepala sahabatnya.

Mereka berdua turun dari mobil. Mingyu berjalan masuk ke sharing house yang berdiri kokoh dengan dua lantai dan halaman yang cukup luas, sementara Seungkwan berdiri menyandar di samping mobil Jeep milik Mingyu.

Baru selangkah melewati gerbang depan, tiba-tiba tubuh Mingyu tersentak ke belakang karena tumbukan antartubuh, miliknya dan seseorang yang kini sedang tersungkur di sampingnya.

“A...duh.. sial, sakit juga..” ucap lelaki itu. Ia segera berdiri, menepuk-nepuk debu di pakaiannya, dan menjulurkan tangan ke arah Mingyu.

“Thanks.” ucap Mingyu, menerima tawaran bantuan dari lelaki tersebut.

“Iya, maaf juga tadi nabrak. Lagi buru-buru soalnya.”

“Oi Mingyu, gaada hari tanpa lu ngeguling jatoh ya kayaknya.” Seungkwan berlari mendekati TKP begitu melihat sahabatnya sempat terhentak ke tanah, sambil sedikit menahan tawanya.

“Oh, lu Mingyu? Anak baru itu ya, yang mau pindah ke Diamond House?”

“Iya, kak. Saya Mingyu, kalau badut yang ini namanya Seungkwan.” tukas Mingyu.

“Heh monyet, siapa yang lu bilang badut.” ucap Seungkwan menggerutu, tidak sadar di depannya berdiri orang asing. “Eh astaga maaf kak, kelepasan. Emang suka bikin emosi Mingyu tuh. Kenalin kak, saya Seungkwan.”

Lelaki tersebut kemudian terkekeh pelan, mengangguk, lalu tersenyum ke arah mereka berdua. “Gue Jun. Santai aja ngomongnya. Gue yang jaga rumah ini.” ucapnya, ia lalu membalik badan dan berjalan ke arah sharing house. “Yuk, gue tunjukin dulu kamar kalian yang mana.”

Mereka akhirnya masuk ke dalam rumah dan jujur, Mingyu sedikit terpana dengan tata letak dan desain interior rumah itu. Untuk sebuah sharing house, kadar estetikanya cukup tinggi dan demi Tuhan, terlalu bersih untuk rumah yang katanya ditinggali tujuh perjaka (kata Seungcheol, bukan Mingyu).

“Seungkwan, kamar lu di lantai dua, naik aja nanti yang paling pojok, ada stiker dinosaurus di depan kamarnya.” Jun menunjuk ke tangga kayu yang dicat putih di ujung ruangan.

Seungkwan segera melesat ke atas untuk menyapa kamar dan kawan barunya.

“Mingyu, errr, kamar lu di ujung sana...”

“Oke kak, sip. Makasih.” ucap Mingyu, bersiap melangkah menuju kamar barunya.

“Eh tunggu bentar. Gue saranin sebelum masuk, lu pasang jimat sama baca mantra, terus ketuk pintu kamarnya 3x sambil nyuwun sewu alias permisi sama penjaganya. Kalau ada apa-apa, cukup baca doa aja oke?”

“Hah gimana kak maksudnya? A-ada setannya?” Sekarang Mingyu mulai merasa bulu kuduknya berdiri serentak, merambat ke seluruh tubuhnya. Salah nih dia milih sharing house.

“Ya, pokoknya nurut aja deh lu.” Jun terlihat gelisah, menengok jam di tangannya seakan jam itu sewaktu-waktu bisa meledak kalau tidak diperhatikan. “Duh, udah ya, sorry gue ada janji sebenernya, serem banget takut diamuk raja dakjal. Barang-barang lu taro di ruang tamu aja kalau capek ngangkatin, nanti jam 4an gue balik terus bantuin. Bye!”

“Hah. Eh. Kaak, tunggu astaga.”

Dan, woosh, Jun menghilang bak dimakan asap ninja.

Mingyu pun tidak mau banyak ambil pusing, badannya sudah terlalu lelah packing dan menempuh perjalanan lumayan jauh untuk sampai ke sharing house itu. Antusiasmenya juga masih cukup membara untuk diredupkan dengan cerita tak bertuah alias dongeng orang sinting.

Tapi, konyolnya, Mingyu sekarang sedang berdiri di depan kamarnya sambil sibuk cari mantra penangkal setan dan mempersiapkan diri untuk mengetuk pintu kamar barunya. Keringat dingin juga mungkin.

Setelah tiga kali ketukan dan nihil jawaban, ia memberanikan diri untuk membuka pintu kayu bercat hitam tersebut.

Jgrek.

Bruk.

Perfect Porcelain

===================

“Ji.” panggil lelaki berambut pirang itu.

Orang di hadapannya itu tidak bergidik sama sekali. Mendengar namanya disebut saja tidak. Ia terus berpacu di tempat, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit yang ia sebut kamarnya.

“Jihoon?” dahi Soonyoung mengerut, mulai melihat ada yang aneh dari lelaki di depannya yang memunculkan ekspresi panik pada wajahnya.

Menilai bahwa panggilan ketiga tetap tidak akan digubris, Soonyoung akhirnya beranjak dari kasur untuk meraih tubuh mungil kekasihnya. Setelah berhasil mendapat perhatian yang ia inginkan, ia menangkup wajah Jihoon dengan kedua tangannya. “Cerita sini, ada apa?”

Jihoon terdiam di tempatnya, tiba-tiba lupa caranya bergerak dan bernapas. Ia baru ingat Soonyoung mampir ke kosannya malam ini untuk membahas projek akhir semester mereka. Mengingat hal itu membuat Jihoon semakin panik dan ia pun berusaha keras untuk menjauhkan tubuhnya dari Soonyoung.

Tapi, tentu saja Soonyoung tidak mau melepas genggamannya. Ia menyetarakan pandangannya dengan Jihoon dan menatap dalam mata kekasihnya. Setelah melihat ada kilauan melapisi kedua mata Jihoon, ia pun tersenyum kecil dan membelai lembut pipi kekasihnya dengan jemarinya, mencoba menenangkan tubuh Jihoon yang mulai bergetar pelan.

“Takut, Soonyoung.” ucap Jihoon dengan suara kecil, hampir tidak terdengar.

Oh, batin Soonyoung. It's one of the episodes, of his anxiety.

Ia langsung mengerti apa yang harus dilakukan. Dengan sigap, Soonyoung mendekap tubuh Jihoon dan mengayunkan tubuh mereka ke kanan dan kiri, tangannya pun tidak absen mengelus punggung Jihoon untuk menambah efek penenang.

Beberapa bulan terakhir ini, ia jadi lebih sering melakukannya. Dan kenyataan tersebut menambah rasa protektif yang tumbuh dalam dirinya.

“Udah mau cerita?”

Jihoon melingkarkan kedua lengannya di tubuh Soonyoung, merapatkan kedua tangannya di lengkung punggung lelaki yang terus membisikkan ribuan kata manis sebagai nyanyian nina bobo di telinganya. Soonyoung mengarahkan kedua tubuh mereka agar dapat berbaring di kasur empuk milik Jihoon, memosisikan diri senyaman mungkin.

Isakan kecil mulai terdengar dari tubuh rentan yang berada dalam dekapan Soonyoung, masih gemetar lembut walau terlihat tertahan. Situasi seperti ini menyakiti Soonyoung lebih dari korban sesungguhnya.

“Abisin dulu air matanya, ngga apa-apa.” kini jemari Soonyoung terselip di rambut hitam Jihoon, yang menurutnya terlalu lembut untuk seorang dewasa yang sehari-harinya tidak gagal disambut polusi jalanan Jakarta dan kejamnya terik matahari.

Seperti biasa, ia memainkan tiap helai rambut Jihoon dengan sentuhan ringannya, membawa Jihoon perlahan memejamkan kelopak matanya dan kemudian meredam tangis.

Setelah yakin bahwa malaikatnya sudah terlelap, Soonyoung membawa bibirnya ke kening Jihoon untuk mengecup manis dan mengirim mimpi indah sebagai pengobat tambahan.

Tidak lama setelahnya, ia merasakan genggaman kecil di kausnya. Kecil, tapi kuat, seakan menarik Soonyoung yang tiba-tiba hilang terbawa angin musim gugur.

“Jangan,” ucap Jihoon lirih, tercekat oleh isakannya yang ternyata masih belum surut, “jangan pergi. Aku takut, Soonyoung. Takut.”

Sambil mengusap air mata yang masih menuruni wajah Jihoon, Soonyoung mengeratkan pelukannya dan menempatkan kepala Jihoon tepat di dadanya. Kausnya sekarang basah dengan setitik, dua titik air mata. Tapi, ia tidak keberatan. Sama sekali tidak pernah merasa keberatan untuk seorang Lee Jihoon.

“Iya, janji ngga kemana-mana, kok. Di samping Jihoon terus sampe bumi tinggal kepingan debu lagi.”

“Pinky promise..?” ucap Jihoon, mengangkat kelingkingnya dan menyodorkannya di wajah Soonyoung.

“Pinky promise.” balas Soonyoung, mengaitkan kelingkingnya dengan milik Jihoon.

Puas mendengar jawaban Soonyoung, Jihoon menghela napas panjang sambil mengangguk lemah, siap untuk kembali menyusuri lajur bunga tidur.

“Maaf, ya, Soonyoung.” ucapnya, masih dengan suaranya yang pelan, bersaing sengit dengan kesunyian malam.

“Ji, ngga ada yang perlu dimaafin. Kamu kayak gini juga bukan maunya kamu, 'kan?” tukas Soonyoung, melonggarkan pelukannya untuk menujukan tatapannya ke wajah Jihoon.

Wajah lelaki itu sudah bersemu merah karena tangisnya yang terus kembali. Ujung hidungnya yang mungil itu pun juga ikut memerah pilu. Apalagi matanya yang kini sembab, benar-benar wajahnya merupakan definisi mutlak dari kata “kacau”.

Hmm tapi tetap gemas, pikir Soonyoung.

“Denger, Ji. Pokoknya tiap kamu ngerasa it's too much to take in, kamu harus langsung lari ke aku. Minta peluk, minta cium, minta petikin bulan bintang juga aku jabanin, Ji.”

Memang bukan Soonyoung kalau nggak gombal bahkan di keadaan seperti ini. Lidahnya itu, loh, manisnya keterlaluan, untungnya Jihoon sayang. Dan untungnya, Soonyoung bisa pegang janji-janjinya itu, walau bukan semua dalam makna literal.

Jihoon cuma bisa menahan tangisnya yang semakin menjadi-jadi. Lagian, udah tahu anak orang lagi sesenggukan, malah dihantam gombalan yang sayangnya bukan bualan belaka. Jadi, cubit saja perut Soonyoung biar orangnya sadar mulutnya tuh, bahaya. Banget.

Soonyoung sadar sedu-sedan Jihoon semakin bertambah, ia lalu merasa bersalah dan mulai menyanyikan lagu yang selalu ia nyanyikan saat Jihoon dalam keadaan seperti ini.

``You thought by now

You'd have it figured out

You can't erase the way it pulls

When seasons change

It hurts sometimes

To find where you begin

But you are perfect porcelain``

Benar, meskipun sangat terkenal dengan tatapan tajam dan sifat dinginnya, bagi Soonyoung, Jihoon itu tetap kekasihnya yang delicate, rapuh, dan seindah perfect porcelain.

``The slow and simple melody

Of tears you cannot keep from me

It's alright if you don't know what you need``

Beban yang dipikul keduanya saat ini memang berat, apalagi ini tahun terakhir mereka kuliah. Namun, tuntutan dari keluarga Jihoon sendiri sudah terlalu banyak dan berat, menyiksa batin dan fisik Jihoon yang sayangnya dan beruntungnya adalah seorang perfeksionis, penggiat passion, dan pekerja keras.

Tidak banyak yang dapat Soonyoung lakukan untuk membantu kasih hatinya itu. Hanya kalimat dukungan dan pelukan sehangat rumah yang mampu ia tawarkan, berharap semua itu cukup untuk membawa Jihoon kembali bangkit tiap ia terjatuh.

“Ji, besok aku masakin omurice, ya? Nasi goreng omlette kesukaan kamu. Sama milk tea ala-ala. Oh, I'll even bake some cookies if you want.”

Jihoon yang sedari tadi khidmat menikmati alunan ringan melodi dari mulut Soonyoung, kemudian langsung merebak senyum paling lebar ketika mendengar hal itu. “Mmhm, jangan bakar kosanku tapi.”

Dan mungkin.. Mungkin beberapa hal kecil penuh makna seperti itu lah yang dibutuhkan Jihoon.