017


Pasar malam itu ternyata memang benar-benar ramai, pikir Aziel. Semua yang diceritakan temannya tadi memang benar, disini ada banyak sekali stand makanan, terutama makanan-makanan kesukaan Aziel. Banyak orang berlalu lalang di taman ini, mereka yang berjalan kaki dan bersepeda memenuhi sepanjang jalan.

“aduh beli apa ya? aku bingung deh jadinya. Sen, kamu mau apa?” tanya Aziel sambil melirik Arsen yang sedari tadi berjalan disampingnya, mengikuti setiap langkah Aziel tanpa mengeluh sedikitpun, padahal Aziel sudah berputar-putar di area ini beberapa kali.

“aku beli yang kamu mau”

“masalahnya aku gak tau mau beli apaan”

“kamu lapar atau pengen ngemil aja?”

“aku bingung hehe” jawab Aziel sambil nyengir.

“yaudah kamu pilih-pilih lagi aja gapapa” ucap Arsen sambil jemarinya bergerak merapikan helain rambut Aziel yang tadi sedikit berantakan karena tiupan angin malam.

Aziel tersenyum kemudian mengangguk. Setelah melihat-lihat kembali berbagai makanan yang dijual stand terdekat, Aziel akhirnya tergoda untuk membeli salah satu makanan kesukaannya.

“Sen, itu ada telur gulung. beli itu ya?”

“boleh”

Aziel yang sudah terlanjur semangat membeli telur gulung kini berjalan lebih cepat mendahului Arsen hingga langkah Arsen sedikit tertinggal dibelakangnya.

Mata Aziel tak lepas dan senyumnya mengembang kala memandang jajaran telur gulung hangat yang baru saja diangkat dari penggorengan, yang ada di stand yang berada tepat di seberang tempatnya berdiri sekarang.

Aziel tak lagi memperhatikan sekitarnya ketika langkahnya semakin mendekati stand itu.

“Aziel!”

Tangan Arsen menarik tubuh Aziel untuk menyingkir mundur, ketika sebuah sepeda yang sedang melaju agak kencang dari arah berlawanan, nyaris menabrak dirinya.

Tubuhnya menabrak tubuh Arsen dibelakangnya karena tarikan itu.

“KAMU TUH! BISA HATI-HATI GAK SIH?! CEROBOH!” suara Arsen tersentak keluar dengan nada bentakan tanpa bisa dikendalikan saking takutnya ia tadi.

Aziel juga tersentak, terkejut atas kejadian yang baru saja terjadi.

Arsen mengarahkan tubuh Aziel agar menghadapnya. Matanya menelisik Aziel dari ujung kaki hingga kepala. Memastikan Aziel memang benar-benar tak terluka.

“kamu gak apa-apa?” tanya Arsen, kali ini dengan nada lebih lembut.

“iel..? you okay?” tanya Arsen sekali lagi. Tangannya mengusap pipi Aziel yang terasa dingin karna angin malam.

Aziel bisa melihat raut wajah khawatir Arsen ketika tak mendapat respon apapun darinya.

Aziel masih belum mampu bersuara, jantungnya masih berdegup tak karuan. Jadi yang ia lakukan hanyalah menganggukan kepala sebagai jawaban singkat.

Arsen menghela napas lega.

“sini.. “ Arsen mendekat dan meraih pinggang Aziel untuk dirangkul lembut dan diberi usapan menenangkan disana.

“jangan jauh-jauh dari aku, sayang” ucap Arsen sembari mengecup pucuk kepala pacarnya itu.

“maaf..” Aziel berbisik lirih

Arsen merangkul pinggang Aziel lebih erat.

“aku juga minta maaf. bukan maksud bentak kamu” ucap Arsen.

Aziel masih diam, tak menanggapi lagi.

Arsen yang sudah mengetahui kalau Aziel paling benci ketika dibentak oleh orang lain, kini menyadari kalau ia tadi sepertinya telah melakukan kesalahan.

“iel.. maaf” Raut wajah Arsen justru kini terlihat sedih di mata Aziel.

Namun, Aziel justru tengah mati-matian menahan senyum. Jarang sekali pacarnya itu menunjukkan ekspresi seperti ini dihadapannya. Maka ide jahil terlintas di benaknya. Mengerjai Arsen sepertinya akan menyenangkan, pikirnya.

“lepasin” ucap Aziel berpura-pura jutek dan berusaha melepaskan rangkulan pacarnya itu.