027. bukan teman


bubur ayam hangat yang sedari tadi aziel tunggu-tunggu kini sudah tersaji dihadapannya. ada dua mangkuk bubur di atas meja makan kecil yang ada di sudut kamar kosan aziel. itu sebenarnya bukan meja makan, hanya meja lipat segiempat kecil yang sering digunakan aziel ketika makan. mereka berdua duduk berhadapan diatas satu-satunya karpet bulu yang ada di ruangan itu.

alih-alih segera memakannya dan menuntaskan rasa laparnya, aziel justru hanya diam menatap dua mangkuk itu. satu miliknya dan satu milik arsen.

bubur miliknya sudah aziel aduk hingga semua topping, kerupuk dan bubur menyatu menjadi satu. sementara milik arsen terlihat berbeda..

“kok gak dimakan?” itu suara arsen.

aziel menghela napasnya keras-keras, membuat arsen mengerutkan kening karna melihat ekspresi kecewa kini terlintas di wajah aziel.

“kita tuh banyak banget ya bedanya.. “ ujar aziel.

arsen diam. siap mendengarkan perkataan aziel selanjutnya.

“aku suka bubur diaduk sedangkan kamu enggak. aku suka bubur pake kecap sedangkan kamu enggak. aku suka pedes sedangkan kamu enggak. semuanya beda.. terus apa dong yang sama diantara kita?”

arsen menahan tawanya.

“kita sama-sama saling suka” ujar arsen kalem, sebelum menyuapkan sesendok bubur ke mulut aziel, yang tentu saja langsung diterima aziel dengan senang hati.

“oh iya yaa” ucap azil dengan cengiran setelah menelan buburnya.

“lagi?” tanya arsen sambil menyodorkan sesendok bubur yang ia ambil dari mangkuk milik aziel.

aziel mengangguk ceria. “aku disuapin nih?” tanyanya.

“boleh”

aziel terkikik senang. “aduh baiknya pacarkuuu” ucapnya sambil menoel-noel pipi arsen dengan jahil menggunakan jari telunjuknya

arsen hanya berdehem sebagai tanggapan.

“eh iya! aku tuh mau nanya. abian sama rion pacarannya udah lama?” tanya aziel antusias.

“baru-baru ini”

“aaaaah. aku greget bayangin mereka pacaran. kan mereka berdua udah sohib banget tuh. tapi bisa ya pacaran. hmmm.. aku pikir abian bukan tipe yang bisa naksir sama temen sendiri. iya gak si-” celoteh aziel terhenti sejenak ketika menerima suapan arsen.

arsen mengangguk. jemarinya bergerak mengusap sudut bibir aziel yang belepotan bubur karna aziel terus menerus berbicara ketika mengunyah.

“tapi ya wajar aja sih. toh kita berdua juga gitu. kita berarti sama kaya mareka, pacaran sama temen sendiri” ucap aziel diiringi tawa.

“aku gak bisa.. “ arsen menanggapi.

“gak bisa gimana maksud kamu?” tanya aziel.

“gak bisa pacaran sama temen”

aziel mengerutkan kening.

“lah? tapi kan kita berdua sebelum jadi pacar awalnya temen. berarti kamu udah macarin temen kamu. gimana sih ah kamu nih” gerutu aziel.

“kita gak pernah temenan. aku gak pernah anggap kamu temen” ucap arsen kalem.

aziel kini kentara sekali tersinggung.

“lah gimana sih?! jahat banget kamu. padahal dulu aku anggep kamu temen terbaik. tapi kamu ternyata gak gitu. terus dulu aku nih apa? musuh? atau cuma orang asing gitu?!”

arsen menatap aziel yang kini sedang menatapnya dengan tatapan sengit, namun mulutnya masih sibuk mengunyah makanannya dan menerima suapan arsen.

dalam hati arsen tertawa karenanya.

“aku anggap kamu calon pacar” jawab arsen.

“hah?” aziel menyahut dengan bingung. “masa dari awal ketemu.. baru kenalan langsung dianggap calon pacar? kan gak mungkiiin” lanjut aziel.

“ya emang gitu”

“GAK LUCU IH BERCANDANYAAAA” aziel merasa arsen hanya tengah menggodanya saja ketika menjawab seperti itu.

“serius. dari pertama ketemu rasanya pengen langsung aku cium”

“ARSEEEEEEEN IH JELEEEK” aziel melempar bantal tupai yang ada di sampingnya ke arah arsen. omong-omong itu adalah hadiah yang diberikan arsen untuknya.

arsen tertawa lagi, melihat pipi dan telinga aziel yang memerah, tanda kalau aziel sedang malu dan salah tingkah.

“kamu aja yang anggap aku temen” jelas arsen.

“kok aku gak sadar ya.. kalo kamu suka aku dari lama”

“aku udah nunjukin.. tapi mungkin.. ya.. gitu.. kamu juga masih.. sama seseorang”

aziel kini kembali memasang wajah sedih. “maaf ya arsen.. “ lirih aziel. “dulu.. aku.. bikin kamu ngerasain cinta sepihak. maaf..” ujar aziel dengan sedih.

arsen meraih tangan aziel untuk ia genggam.

“selama bisa di deket kamu. aku bisa.. jadi apapun itu” jawab arsen sambil mengusap tangan aziel yang ada dalam genggamannya.

“kalo sekarang gimana.. andaikan kita.. putus. tapi kita tetep deket.. sebagai temen. kamu bisa gak?” tanya aziel.

tatapan arsen terpaku pada aziel dihadapannya. ada rasa pedih yang tiba-tiba menyusup di hatinya walaupun ia pun tahu itu hanyalah sebuah pengandaian.

“kalo sekarang gak bisa..” bisik arsen sambil menghela napas dengan berat. tangan arsen kemudian menggenggam tangan aziel lebih erat. “makanya jangan sampai..” terselip nada putus asa disana.

mendengar perkataan arsen barusan, aziel pun bergerak menggeser duduknya untuk mendekat ke arah arsen. tanggannya menarik lengan arsen untuk memeluknya.

arsen menyabutnya. membawa aziel ke dalam sebuah pelukan penuh sayang.

aziel memejamkan matanya. merasakan hangat tubuh arsen, mendegar detakan jantung arsen.

semuanya terasa benar.

“dipeluk kamu kaya gini aku jadi merasa disayang” ucap aziel.

arsen tersenyum kemudian mengusap-ngusap punggung aziel dengan lembut.

aziel kemudian menguap lebar. matanya berair menahan kantuk.

“ngantuk?”

“heem.. aku semalem begadang ngerjain tugas” jawab aziel.

“yaudah tidur lagi aja.. kelas kamu kan siang nanti” ucap arsen sambil menarik tubuh aziel untuk berbaring disampingnya, saling berhadapan. bantal tupai yang sebelumnya, arsen taruh di bawah kepala mereka.

“peluk aku lagi” pinta aziel.

“sini..” lengan arsen bergerak memeluk tubuh aziel kembali.

bukannya segera menutup mata, aziel justru malah menatap wajah arsen yang begitu dekat dihadapannya. arsen juga tengah menatapnya dalam diam.

“kenapa natap aku kaya gitu?” bisik aziel.

“gitu gimana?”

“ya gitu.. tatapan kamu.. aku gak bisa jelasinnya

arsen terkekeh pelan. ujung jemarinya mengelus pipi aziel dengan lembut.

“tidur iel..” ucap arsen setelah berikan kecupan singkat di pipi aziel.

“kamunya jangan pergi..” lirih aziel yang kini kembali merasakan kantuk karna usapan lembut arsen di punggungnya.

“hm.. sleep well baby”