Sekarang Sang Pianis Hujan
Sedang melantunkan asmara
Di tengah kota pun
Sia mainkan melodi yang sedih
Jemari tetesan air
Menekan window di keyboardnya
Concerto yang hanya untukku
Heeseung terus menatap ke arah jendela di bangunan seberang yang berhadapan langsung kamar yang ia tempati, dan meskipun debit hujan masih turun dengan cukup deras, ia dapat mendengar melodi yang dimainkan dengan sedih. Pendengarannya memang berada di level yang berbeda dari kebanyakan manusia, maka dari itu ia tetap dapat mendengarnya, mendengar permainan piano dari seorang murid yang pernah diajarnya, Yang Jungwon.
Jungwon adalah tipe murid yang cepat belajar, dan Heeseung bersyukur untuk itu karena dapat meringankan pekerjaannya, tapi kemampuan itu menjadi bumerang balik baginya. Entah dari mana Yang Jungwon mengerti, apa itu romansa, Heeseung tidak mengerti karena bukan ia yang mengajari.
Murid baik yang dulu selalu mengikuti tiap perkataannya kini sudah berani menyuarakan pikirannya sendiri. Heeseung tidak mau membalasnya maka dari itu ia berhenti. Sebuah keputusan salah yang nanti ia sesali, karena seharusnya ia tidak pergi dan melarikan diri, karena seharusnya, ia bisa berdiri di samping pemuda itu, menemaninya untuk melewati hari, serta momen-momen bersejarah lainnya yang akan dikenang sampai nanti raga ini tak dapat menghembuskan napas lagi, tapi kini ia sendiri, dalam diam mendengarkan elegi yang Yang Jungwon mainkan hampir setiap hari.
“Aku menyukaimu, bukan sebagai seorang murid yang kagum pada gurunya tapi sebagai seorang pria, yang menginginkanmu untuk menjadi pendamping hidupku kelak.”
“Maaf Jungwon, tapi aku tidak bisa.”