<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>omikita &amp;mdash; Yuseonova</title>
    <link>https://write.as/yuseoneova/tag:omikita</link>
    <description></description>
    <pubDate>Tue, 01 Sep 2026 05:41:57 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Omimi x Suna</title>
      <link>https://write.as/yuseoneova/ini-adalah-hari-dimana-siang-begitu-terik-namun-kian-berubah-mendung-seiring?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Accidental Kiss on A Rainy Day&#xA;&#xA;Slight #OmiKita&#xA;&#xA;---&#xA;&#xA;Ini adalah hari dimana siang begitu terik, namun kian berubah mendung seiring dengan matahari yang beranjak kembali ke peraduan. &#xA;&#xA;Latihan voli telah usai, dan Suna kini tengah berjalan di koridor yang menghubungkan gimnasium dengan gedung sekolah bersama dengan Kembar Miya disaat Atsumu berteriak heboh memanggil, &#34;Kita-san! Omimi-san! Aran!&#34; pada trio senior kelas tiga yang terlihat sedang berjalan di koridor gedung sekolah di depan sana, tapi sepertinya tidak terdengar karena terhalang oleh hujan.&#xA;&#xA;&#34;Habis dari perpustakaan ya?&#34; tebak Osamu, yang kemudian dibalas Atsumu dengan, &#34;Menjadi anak kelas tiga itu susah,&#34; sambil mengusap-usap dagu dengan raut serius.&#xA;&#xA;&#34;Nanti juga Lo bakal begitu,&#34; sambung Suna dengan acuh yang langsung mendapat respon sebal dari Atsumu. &#34;Jangan bilang gitu dong! Masih lama!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Satu tahun bukan waktu yang lama. Dalam sekejap kedipan mata, tahu-tahu udah kelas tiga.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Samu! Jangan ikut-ikutan!&#34;&#xA;&#xA;Mereka tiba di tempat loker ganti sepatu, dan Suna lelah dengan adu mulut yang belum berhenti dan kini malah melenceng dari topik itu. Mengalihkan pandangan ke arah lain, kini mata Suna menangkap duo Kita-Aran dan Omimi berjalan ke lain arah yang berbeda. Bukan menjadi rahasia kalau kediaman Aran dan Kita itu searah, Suna tidak ambil pusing dengan dua seniornya yang itu. Yang menarik rasa penasarannya adalah sesosok Omimi Ren yang sepertinya sedang berjalan ke arah parkiran itu.&#xA;&#xA;Suna melambai kepada Atsumu dan Osamu yang pamit terlebih dulu, karena Suna bilang, dia ingin mengambil sesuatu yang tertinggal di dalam kelas.&#xA;&#xA;Saat kepala kuning dan abu-abu itu sudah berada dalam jarak yang cukup jauh, barulah Suna melangkahkan kaki menuju parkiran.&#xA;&#xA;Sedikit banyaknya, Suna ingin mengetahui apakah tebakannya itu benar. Sesosok Omimi Ren memang terlihat mengendarai sepeda akhir-akhir ini ke sekolah, tapi yang lebih membuat Suna penasaran adalah alasan dari kenapa Omimi Ren tiba-tiba menggunakan sepeda daripada berjalan kaki dengan Aran-Kita, padahal rumah Omimi juga searah dengan keduanya. Hanya saja diharuskan berpisah ketika sudah mencapai pertigaan lima ratus meter dari gerbang sekolah.&#xA;&#xA;&#34;Ga bawa payung, Kak?&#34;&#xA;&#xA;Tanya itu Suna lontarkan dengan nada biasa. Tidak perlu berteriak seperti Atsumu karena Suna tidak suka mengeluarkan terlalu banyak energi. &#xA;&#xA;Tidak perlu menyeru karena derasnya hujan kini telah berubah menjadi rintik, &#xA;&#xA;... dan dari jaraknya yang dua meter ini, Suna yakin suaranya terdengar jelas sebab Omimi langsung menoleh ke arah sini sebelum bangkit, sehabis melepaskan kunci rantai.&#xA;&#xA;&#34;Suna.&#34;&#xA;&#xA;Pupil mata itu sempat melebar dalam sepersekian detik akan kehadiran Suna yang tidak disangka-sangka. Sembari tangannya aktif pada tujuan utama, mendorong mundur sepeda untuk keluar dari tempatnya parkir, Omimi bertanya, &#34;Belum pulang?&#34;&#xA;&#xA;Suna diam untuk yang satu itu. Pertanyaannya saja belum dibalas, tapi Omimi malah melempar tanya yang retoris. Tentu saja Suna belum pulang, karena dia masih berada di sini, memperhatikan Omimi yang sepertinya akan nekat menerjang hujan, dan lagi, kalau Omimi lupa, Suna masih tergabung ke dalam ekskul voli yang selalu mengakhiri kegiatannya di sekolah tiap jam segini.&#xA;&#xA;Suna kira Omimi akan menghiraukannya begitu saja dan pamit pergi, tapi tidak.&#xA;&#xA;Sebab kini Omimi menatapnya tepat di mata sambil mengatakan, &#34;Tentu aja ga bawa payung. Kan naik sepeda.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tadi kayaknya bawa jas hujan, tapi sepertinya ketinggalan.&#34;&#xA;&#xA;Oh, sebuah info baru. Suna tidak menyangka bahwa Omimi adalah pribadi yang dapat tergesa-gesa sehingga meninggalkan sesuatu. Dia mengangguk untuk itu, kemudian menawarkan, &#34;Mau diantar?&#34; sambil merujuk ke arah payung yang sedang digenggam, melindunginya dari basah.&#xA;&#xA;Raut Omimi terlihat bingung sebelum menyatakan, &#34;Tapi ga boleh boncengan.&#34;&#xA;&#xA;Nanti kena tilang. &#xA;&#xA;dan Suna bersumpah, Omimi adalah tipe orang serius yang menyebalkan.&#xA;&#xA;Mana ada polisi yang patroli di tengah hujan begini?&#xA;&#xA;Suna sampai harus menjelaskan bahwa Omimi bisa saja menuntun sepedanya, dengan Suna yang memayungi mereka berdua. &#xA;&#xA;Omimi menerima tawaran itu, dan Suna langsung saja memposisikan dirinya di samping Omimi, yang mana posisinya berada diluar, dekat tengah jalan.&#xA;&#xA;Baru jalan beberapa saat, Omimi kemudian menyarankan agar Suna berjalan di sebelah kirinya, dekat dengan bahu jalan.&#xA;&#xA;Suna tidak mengerti, bukannya sama saja? Toh mereka sama-sama berjalan di pinggir, tapi Omimi bersikeras bahwa sebagai seorang senior yang baik, sudah sepantasnya kalau dia memperhatikan keselamatan Suna, karena bagaimana kalau tiba-tiba ada pengemudi ngelantur yang bisa membahayakan pejalan kaki? &#xA;&#xA;Omimi hanya tidak mau orang lain kenapa-napa demi dirinya. Apalagi Suna sudah berbaik hati memayunginya.&#xA;&#xA;Sebagai adik kelas yang baik, Suna menuruti permintaan itu, dan kini dia berjalan di sisi kiri Omimi, bersama dengan perasaan aneh yang tiba-tiba menyelinap.&#xA;&#xA;Mereka terus berjalan sambil berbincang tentang kesibukan masing-masing akhir-akhir ini.&#xA;&#xA;Suna juga bilang bahwa anak-anak klub voli merindukan sosok kedua orang tua mereka dikala istirahat yang hadir.&#xA;&#xA;Omimi tidak mengerti dengan siapa yang Suna maksud sebagai orang tua kecuali pelatih, tapi Omimi yakin yang Suna maksud juga bukan pelatih mereka. Dari senyum jahil yang bisa Omimi lihat tersungging di bibir itu. Dia sekarang mengerti bahwa yang Suna maksud adalah dirinya dan Kita Shinsuke.&#xA;&#xA;Helaan napas Omimi hembuskan kecil ketika mengingat sebuah lelucon yang kerap kali dilontarkan semasa aktif di ekskul. Banyak dari anggota klub yang melabelinya dengan Kita sebagai old married couple.&#xA;&#xA;Entah darimananya dia dan Kita bisa dipanggil seperti itu pun, Omimi tidak tahu. Mungkin karena mereka berdua sekelas dan juga satu klub, sehingga sering terlihat bersama?&#xA;&#xA;Hanya itu alasan yang bisa Omimi pikirkan, dan itu disetujui Suna. Suna juga menambahkan bahwa ketika Omimi dan Kita tengah mengobrol, keduanya terlihat seperti orang tua yang sedang mendiskusikan tentang masa depan anak-anak mereka.&#xA;&#xA;Raut kesulitan di wajah Omimi pun membuat senyum jahil di wajah Suna luntur. Apalagi ketika pinta itu terucap.&#xA;&#xA;&#34;Tolong jangan membahas itu lagi.&#34;&#xA;&#xA;Suna jadi merasa tidak enak hati karena menganggap itu lelucon disaat orang yang bersangkutan tidak suka. Dia lalu bertanya, &#34;Kakak keberatan?&#34; dengan lelucon itu?&#xA;&#xA;Omimi menggeleng, kemudian menjawab, &#34;Kalian bebas mau berpikir seperti apa, tapi kalau candaannya berlarut-larut juga jadi ga enak sama Kita.&#34;&#xA;&#xA;Oh.&#xA;&#xA;Ooh.&#xA;&#xA;Jadi Omimi memikirkan perasaan Kita.&#xA;&#xA;Lagi-lagi tidak menjawab inti dari pernyataan Suna, dan sebagai orang yang kekeuh, Suna kembali memperjelas pertanyaannya.&#xA;&#xA;&#34;Tapi Kakak sendiri, keberatan ga? Dipasang-pasangin sama Kak Kita?&#34;&#xA;&#xA;Langkah Suna kemudian terhenti sebagai reaksi dari Omimi yang berhenti berjalan terlebih dulu. Sadar, bahwa pertanyaannya menyentuh topik sensitif bagi Omimi, Suna mengalihkan pandangan dan baru menyadari bahwa ini bukan jalan yang biasa dilalui, karena mereka sedang berada di jalan sepi dengan sawah yang sudah kosong berada di tiap sisi. &#xA;&#xA;Musim panen yang telah usai hanya menyisakan lumpur ketika tanahnya tersiram basah.&#xA;&#xA;Mereka melalui jalan memutar yang terbilang lebih jauh daripada rute yang melalui pemukiman warga.&#xA;&#xA;&#34;Aku tidak menganggap Kita sebagai seseorang yang bisa dijadikan pasangan.&#34;&#xA;&#xA;Kalimat itu memecah hening yang kemudian berubah menjadi sepi, dan napas Suna tersendat seketika disaat matanya bertemu dengan pandang lurus Omimi.&#xA;&#xA;Pandangan mereka bertemu dalam satu garis lurus ketika Omimi melanjutkan, &#34;Tapi kalau aku berkata begitu, bukankah akan sangat tidak sopan?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kita itu baik, dan aku rasa dia layak dijadikan pasangan.&#34;&#xA;&#xA;Suna dibuat bungkam. Lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan imajiner di dalam hati.&#xA;&#xA;Dia kira Omimi tadinya akan menjawab apa.&#xA;&#xA;Apa?&#xA;&#xA;Suna kira, arah dari pembicaraan Omimi akan berujung pada penolakan akan ide hubungan sesama jenis, tapi lagi dan lagi, yang Omimi pikirkan adalah bagaimana perasaan Kita Shinsuke nantinya?&#xA;&#xA;Kalau dia mendapat undangan pernikahan Omimi dengan Kita di kemudian hari, Suna yakin dia tidak akan kaget. Perkataan Omimi begitu kontradiktif saat bilang bahwa dia tidak bisa menganggap Kita sebagai pasangan, tapi Kita juga layak dijadikan pasangan.&#xA;&#xA;&#34;Kak Omimi sering lewat sini?&#34;&#xA;&#xA;Bosan dengan pembicaraan tentang Kita, Suna pun mengalihkan pembicaraan, dan bisa dia lihat Omimi tertegun atas tanyanya yang satu itu. Omimi lebih kaget dengan pertanyaannya yang ini daripada pertanyaan tentang Kita tadi.&#xA;&#xA;&#34;Maaf, aku tidak sadar. Seharusnya tadi aku bertanya lebih dulu mau lewat jalan yang biasa atau jalan memutar.&#34;&#xA;&#xA;Suna lelah dan sudah cukup tahu, bahwa berkomunikasi dengan Omimi memang nyatanya perlu usaha lebih. Dia menghirup napasnya dalam sebelum kembali menegaskan pertanyaannya.&#xA;&#xA;&#34;Biasanya lewat sini?&#34;&#xA;&#xA;Omimi mengangguk untuk itu, kemudian menjelaskan, &#34;Semenjak ada sepeda, aku lebih sering lewat sini.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Tiba-tiba banget ada sepeda?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Adikku minta dibelikan sepeda. Hadiah masuk SMA, katanya. Tapi tiga bulan dipakai, sepedanya sudah tidak pernah dikeluarkan lagi.&#34;&#xA;&#xA;Jadi, Omimi putuskan untuk dia yang memakainya saja. Begitu? &#xA;&#xA;Seperti orang tua sekali.&#xA;&#xA;Pemikiran Suna yang satu itu membuahkan tawa geli yang membuat tenaganya lemas seketika. Maka ketika ada angin berhembus yang bertiup cukup kencang. Payung di genggamannya juga ikut terbang dan jatuh ke dalam sawah di bawah sana bersamaan dengan rintik hujan yang turunnya kembali cukup deras.&#xA;&#xA;Suna memekik, &#34;Aah!&#34; dengan cukup keras saat ada bulir air yang jatuh tepat ke mata.&#xA;&#xA;&#34;Suna.&#34;&#xA;&#xA;Suara Omimi terdengar khawatir bersamaan dengan terdengarnya suara standar sepeda yang disandarkan.&#xA;&#xA;Suna berusaha mengedipkan mata untuk menghalau rasa perih tapi efek yang ditimbulkan malah sebaliknya. Dia meringis sakit.&#xA;&#xA;&#34;Suna, kenapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sakit.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Apanya yang sakit?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mataku, perih. Kemasukan air, sakit.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Diem dulu, coba.&#34;&#xA;&#xA;Panik yang sempat hadir seketika lenyap akan kalimat itu. Suna mengikuti instruksi Omimi untuk hanya memejamkan mata.&#xA;&#xA;Hanya derasnya air hujan yang terdengar di detik selanjutnya karena Suna tidak tahu Omimi sedang apa, karena dia hanya bisa mendengar saat ini.&#xA;&#xA;&#34;Coba kulihat.&#34;&#xA;&#xA;Suara itu berasal dari depan, sedikit ke atas. Omimi itu lebih tinggi darinya, dan menduga dari kalimat itu, Omimi akan memeriksa matanya, Suna pun mendongakkan sedikit kepala ketika dirasa hujan sudah tidak menuruni wajah.&#xA;&#xA;Tubuhnya masih merasakan dingin akibat guyuran hujan, tapi wajahnya seketika kering, &#xA;&#xA;... dan hangat,&#xA;&#xA;serta lembab, di hidung.&#xA;&#xA;Matanya refleks terbuka akan keanehan yang terjadi, dan Suna tidak menduga akan menemukan wajah Omimi dalam jarak sedekat ini.&#xA;&#xA;Hujan tidak lagi menuruni wajah sebab Omimi memegang tas miliknya di atas kepala mereka berdua.&#xA;&#xA;Mata itu tidak berkedip menatapnya,&#xA;&#xA;dan lembab yang dirasa itu ternyata berasal dari hidung.&#xA;&#xA;Hidungnya mengenai bibir Omimi.&#xA;&#xA;Suna bisa merasakan napas hangat itu menerpa wajahnya sebelum raut Omimi yang seperti patung itu berubah menjadi panik, kemudian menjauhkan diri.&#xA;&#xA;&#34;Maaf!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ga sengaja.&#34;&#xA;&#xA;Tanpa diperjelas pun Suna tahu bahwa itu adalah ketidaksengajaan.&#xA;&#xA;Omimi jelas hanya ingin membantu tapi kenapa mereka berdua malah jatuh ke dalam situasi canggung seperti ini. Jawabannya pun Suna tidak tahu.&#xA;&#xA;Mungkin seharusnya dia tidak perlu mendongak, karena Omimi tidak menyuruhnya untuk mendongak.&#xA;&#xA;Atau mungkin Suna seharusnya tidak usah menuruti kata Omimi untuk memejamkan mata sedari awal. &#xA;&#xA;Jauh di dalam hati, Suna tahu bahwa seharusnya dia bisa saja hanya berdiam diri dan menunggu rasa sakit itu pergi, tapi perkataan Omimi dengan anehnya membuat Suna ingin saja percaya.  &#xA;&#xA;Ingin bergantung, dan ingin untuk diurus.&#xA;&#xA;&#34;Payung.&#34;&#xA;&#xA;Kata itu membuat Suna tersadar dari lamunan. Bisa dia lihat Omimi kini sedang melepas sepatu kemudian turun ke sawah di bawah sana.&#xA;&#xA;&#34;Kak! Ga usah!&#34;&#xA;&#xA;Seruannya tidak didengar sebab Omimi sudah fokus pada satu tujuan, mengambil payung milik Suna, dan Suna berdecak kesal karenanya, karena kini dia juga jadi harus ikutan turun, karena bagaimana kalau Omimi jatuh karena terpeleset?&#xA;&#xA;Tanah di bawah kakinya itu licin, dan Suna bahkan sampai harus merosot dengan pelan sembari tangannya juga memegang tanah agar tidak jatuh.&#xA;&#xA;Ckk, sampai di rumah dia harus mandi sebersih-bersihnya.&#xA;&#xA;Omimi sudah masuk ke sawah, dan Suna menyeru, &#34;Hati-hati, Kak! Licin!&#34;&#xA;&#xA;Suna langsung memanjangkan tangannya untuk meraih payung yang sudah ditutup oleh Omimi itu agar dapat mudah digapai.&#xA;&#xA;Disaat payungnya sudah berhasil diamankan, kini Omimi yang memanjangkan tangannya, meminta bantuan.&#xA;&#xA;&#34;Tolong tarik, Sun.&#34;&#xA;&#xA;Suna geleng kepala. Kan sudah dia bilang tidak usah. Omimi sendiri yang ngeyel mau mengambilkan. Jadinya terjebak, kan. Tanah di kakinya itu pastilah terasa berat, karena sudah dia tarik sebegini kuatnya pun, kaki Omimi baru keluar satu.&#xA;&#xA;&#34;Ayo, Kak!&#34;&#xA;&#xA;Suna menggeram selagi mengeluarkan sisa sisa tenaga yang dia punya sambil menarik Omimi.&#xA;&#xA;Ya Tuhan. Perutnya lapar, dan Suna ingin rebahan di kasur, bukannya,&#xA;&#xA;&#34;Waah!&#34;&#xA;&#xA;... jatuh telentang begini di pematang sawah dengan tangan Omimi yang menjadi bantal, melindunginya dari benturan, juga,&#xA;&#xA;Suna mau first kiss-nya itu lebih proper dari ini Ya Tuhannnn!&#xA;&#xA;Iya, Suna akui Omimi itu oke. Siapa yang tidak bisa dibilang oke kalau dari segi fisik saja, Omimi sudah digilai lawan jenis untuk memperbaiki keturunan.&#xA;&#xA;Wajah, juga oke, seperti tipikal pria matang yang bisa dimintai tanggung jawab.&#xA;&#xA;Tapi Omimi kan-&#xA;&#xA;&#34;Maaf, Sun. Aku kepeleset.&#34;&#xA;&#xA;Uluran tangan untuk membantunya berdiri itu, Suna terima dengan diam.&#xA;&#xA;Suna menurut ketika Omimi membantunya naik ke atas.&#xA;&#xA;Pria itu membantu dengan meletakkan tangannya di pinggang Suna untuk mengangkat, kemudian mendorong bokong, lalu paha serta kaki Suna ke atas jalan.&#xA;&#xA;Bahkan Suna iya-iya saja ketika Omimi menyuruhnya duduk di kursi boncengan untuk mengantarnya pulang.&#xA;&#xA;Suna tetap diam bahkan ketika dia sudah berendam di bathub rumahnya. Dia diam saat makan malam, bahkan diam ketika adik perempuannya bercerita tentang apa yang terjadi hari ini di sekolah.&#xA;&#xA;&#34;Kak.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kakak!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Kak Suna ngapain hari ini? Kok tadi pulangnya kotor banget. Kakak masih ekskul voli kan? Bukannya sepak bola?&#34;&#xA;&#xA;Suna diam, dan hanya memandangi adiknya itu dengan lama sebelum menyuruh, &#34;Tidur sana.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Ish!&#34;&#xA;&#xA;Pintu kamarnya ditutup dengan kasar, dan bahkan itu pun tidak bisa memutus pikiran Suna dari reka adegan yang terjadi hari ini yang terus berputar seperti kaset rusak.&#xA;&#xA;Bagaimana rasa penasarannya terjawab.&#xA;&#xA;Bagaimana dia tidak menyadari waktu yang berputar,&#xA;&#xA;dan bagaimana bibir-&#xA;&#xA;&#34;Arghhhh!&#34;&#xA;&#xA;...  juga sentuhan di pinggang, bokong serta kaki, yang membuatnya merasa aneh.&#xA;&#xA;Suna merasa dirinya kotor.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<h2 id="accidental-kiss-on-a-rainy-day">Accidental Kiss on A Rainy Day</h2>

<p>Slight <a href="https://write.as/yuseoneova/tag:OmiKita" class="hashtag" rel="nofollow"><span>#</span><span class="p-category">OmiKita</span></a></p>

<hr/>

<p>Ini adalah hari dimana siang begitu terik, namun kian berubah mendung seiring dengan matahari yang beranjak kembali ke peraduan.</p>

<p>Latihan voli telah usai, dan Suna kini tengah berjalan di koridor yang menghubungkan gimnasium dengan gedung sekolah bersama dengan Kembar Miya disaat Atsumu berteriak heboh memanggil, “Kita-san! Omimi-san! Aran!” pada trio senior kelas tiga yang terlihat sedang berjalan di koridor gedung sekolah di depan sana, tapi sepertinya tidak terdengar karena terhalang oleh hujan.</p>

<p>“Habis dari perpustakaan ya?” tebak Osamu, yang kemudian dibalas Atsumu dengan, “Menjadi anak kelas tiga itu susah,” sambil mengusap-usap dagu dengan raut serius.</p>

<p>“Nanti juga Lo bakal begitu,” sambung Suna dengan acuh yang langsung mendapat respon sebal dari Atsumu. “Jangan bilang gitu dong! Masih lama!”</p>

<p>“Satu tahun bukan waktu yang lama. Dalam sekejap kedipan mata, tahu-tahu udah kelas tiga.”</p>

<p>“Samu! Jangan ikut-ikutan!”</p>

<p>Mereka tiba di tempat loker ganti sepatu, dan Suna lelah dengan adu mulut yang belum berhenti dan kini malah melenceng dari topik itu. Mengalihkan pandangan ke arah lain, kini mata Suna menangkap duo Kita-Aran dan Omimi berjalan ke lain arah yang berbeda. Bukan menjadi rahasia kalau kediaman Aran dan Kita itu searah, Suna tidak ambil pusing dengan dua seniornya yang itu. Yang menarik rasa penasarannya adalah sesosok Omimi Ren yang sepertinya sedang berjalan ke arah parkiran itu.</p>

<p>Suna melambai kepada Atsumu dan Osamu yang pamit terlebih dulu, karena Suna bilang, dia ingin mengambil sesuatu yang tertinggal di dalam kelas.</p>

<p>Saat kepala kuning dan abu-abu itu sudah berada dalam jarak yang cukup jauh, barulah Suna melangkahkan kaki menuju parkiran.</p>

<p>Sedikit banyaknya, Suna ingin mengetahui apakah tebakannya itu benar. Sesosok Omimi Ren memang terlihat mengendarai sepeda akhir-akhir ini ke sekolah, tapi yang lebih membuat Suna penasaran adalah alasan dari kenapa Omimi Ren tiba-tiba menggunakan sepeda daripada berjalan kaki dengan Aran-Kita, padahal rumah Omimi juga searah dengan keduanya. Hanya saja diharuskan berpisah ketika sudah mencapai pertigaan lima ratus meter dari gerbang sekolah.</p>

<p>“Ga bawa payung, Kak?”</p>

<p>Tanya itu Suna lontarkan dengan nada biasa. Tidak perlu berteriak seperti Atsumu karena Suna tidak suka mengeluarkan terlalu banyak energi.</p>

<p>Tidak perlu menyeru karena derasnya hujan kini telah berubah menjadi rintik,</p>

<p>... dan dari jaraknya yang dua meter ini, Suna yakin suaranya terdengar jelas sebab Omimi langsung menoleh ke arah sini sebelum bangkit, sehabis melepaskan kunci rantai.</p>

<p>“Suna.”</p>

<p>Pupil mata itu sempat melebar dalam sepersekian detik akan kehadiran Suna yang tidak disangka-sangka. Sembari tangannya aktif pada tujuan utama, mendorong mundur sepeda untuk keluar dari tempatnya parkir, Omimi bertanya, “Belum pulang?”</p>

<p>Suna diam untuk yang satu itu. Pertanyaannya saja belum dibalas, tapi Omimi malah melempar tanya yang retoris. Tentu saja Suna belum pulang, karena dia masih berada di sini, memperhatikan Omimi yang sepertinya akan nekat menerjang hujan, dan lagi, kalau Omimi lupa, Suna masih tergabung ke dalam ekskul voli yang selalu mengakhiri kegiatannya di sekolah tiap jam segini.</p>

<p>Suna kira Omimi akan menghiraukannya begitu saja dan pamit pergi, tapi tidak.</p>

<p>Sebab kini Omimi menatapnya tepat di mata sambil mengatakan, “Tentu aja ga bawa payung. Kan naik sepeda.”</p>

<p>“Tadi kayaknya bawa jas hujan, tapi sepertinya ketinggalan.”</p>

<p>Oh, sebuah info baru. Suna tidak menyangka bahwa Omimi adalah pribadi yang dapat tergesa-gesa sehingga meninggalkan sesuatu. Dia mengangguk untuk itu, kemudian menawarkan, “Mau diantar?” sambil merujuk ke arah payung yang sedang digenggam, melindunginya dari basah.</p>

<p>Raut Omimi terlihat bingung sebelum menyatakan, “Tapi ga boleh boncengan.”</p>

<p>Nanti kena tilang.</p>

<p>dan Suna bersumpah, Omimi adalah tipe orang serius yang menyebalkan.</p>

<p>Mana ada polisi yang patroli di tengah hujan begini?</p>

<p>Suna sampai harus menjelaskan bahwa Omimi bisa saja menuntun sepedanya, dengan Suna yang memayungi mereka berdua.</p>

<p>Omimi menerima tawaran itu, dan Suna langsung saja memposisikan dirinya di samping Omimi, yang mana posisinya berada diluar, dekat tengah jalan.</p>

<p>Baru jalan beberapa saat, Omimi kemudian menyarankan agar Suna berjalan di sebelah kirinya, dekat dengan bahu jalan.</p>

<p>Suna tidak mengerti, bukannya sama saja? Toh mereka sama-sama berjalan di pinggir, tapi Omimi bersikeras bahwa sebagai seorang senior yang baik, sudah sepantasnya kalau dia memperhatikan keselamatan Suna, karena bagaimana kalau tiba-tiba ada pengemudi ngelantur yang bisa membahayakan pejalan kaki?</p>

<p>Omimi hanya tidak mau orang lain kenapa-napa demi dirinya. Apalagi Suna sudah berbaik hati memayunginya.</p>

<p>Sebagai adik kelas yang baik, Suna menuruti permintaan itu, dan kini dia berjalan di sisi kiri Omimi, bersama dengan perasaan aneh yang tiba-tiba menyelinap.</p>

<p>Mereka terus berjalan sambil berbincang tentang kesibukan masing-masing akhir-akhir ini.</p>

<p>Suna juga bilang bahwa anak-anak klub voli merindukan sosok kedua orang tua mereka dikala istirahat yang hadir.</p>

<p>Omimi tidak mengerti dengan siapa yang Suna maksud sebagai orang tua kecuali pelatih, tapi Omimi yakin yang Suna maksud juga bukan pelatih mereka. Dari senyum jahil yang bisa Omimi lihat tersungging di bibir itu. Dia sekarang mengerti bahwa yang Suna maksud adalah dirinya dan Kita Shinsuke.</p>

<p>Helaan napas Omimi hembuskan kecil ketika mengingat sebuah lelucon yang kerap kali dilontarkan semasa aktif di ekskul. Banyak dari anggota klub yang melabelinya dengan Kita sebagai <em>old married couple.</em></p>

<p>Entah darimananya dia dan Kita bisa dipanggil seperti itu pun, Omimi tidak tahu. Mungkin karena mereka berdua sekelas dan juga satu klub, sehingga sering terlihat bersama?</p>

<p>Hanya itu alasan yang bisa Omimi pikirkan, dan itu disetujui Suna. Suna juga menambahkan bahwa ketika Omimi dan Kita tengah mengobrol, keduanya terlihat seperti orang tua yang sedang mendiskusikan tentang masa depan anak-anak mereka.</p>

<p>Raut kesulitan di wajah Omimi pun membuat senyum jahil di wajah Suna luntur. Apalagi ketika pinta itu terucap.</p>

<p>“Tolong jangan membahas itu lagi.”</p>

<p>Suna jadi merasa tidak enak hati karena menganggap itu lelucon disaat orang yang bersangkutan tidak suka. Dia lalu bertanya, “Kakak keberatan?” dengan lelucon itu?</p>

<p>Omimi menggeleng, kemudian menjawab, “Kalian bebas mau berpikir seperti apa, tapi kalau candaannya berlarut-larut juga jadi ga enak sama Kita.”</p>

<p>Oh.</p>

<p>Ooh.</p>

<p>Jadi Omimi memikirkan perasaan Kita.</p>

<p>Lagi-lagi tidak menjawab inti dari pernyataan Suna, dan sebagai orang yang kekeuh, Suna kembali memperjelas pertanyaannya.</p>

<p>“Tapi Kakak sendiri, keberatan ga? Dipasang-pasangin sama Kak Kita?”</p>

<p>Langkah Suna kemudian terhenti sebagai reaksi dari Omimi yang berhenti berjalan terlebih dulu. Sadar, bahwa pertanyaannya menyentuh topik sensitif bagi Omimi, Suna mengalihkan pandangan dan baru menyadari bahwa ini bukan jalan yang biasa dilalui, karena mereka sedang berada di jalan sepi dengan sawah yang sudah kosong berada di tiap sisi.</p>

<p>Musim panen yang telah usai hanya menyisakan lumpur ketika tanahnya tersiram basah.</p>

<p>Mereka melalui jalan memutar yang terbilang lebih jauh daripada rute yang melalui pemukiman warga.</p>

<p>“Aku tidak menganggap Kita sebagai seseorang yang bisa dijadikan pasangan.”</p>

<p>Kalimat itu memecah hening yang kemudian berubah menjadi sepi, dan napas Suna tersendat seketika disaat matanya bertemu dengan pandang lurus Omimi.</p>

<p>Pandangan mereka bertemu dalam satu garis lurus ketika Omimi melanjutkan, “Tapi kalau aku berkata begitu, bukankah akan sangat tidak sopan?”</p>

<p>“Kita itu baik, dan aku rasa dia layak dijadikan pasangan.”</p>

<p>Suna dibuat bungkam. Lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan imajiner di dalam hati.</p>

<p>Dia kira Omimi tadinya akan menjawab apa.</p>

<p>Apa?</p>

<p>Suna kira, arah dari pembicaraan Omimi akan berujung pada penolakan akan ide hubungan sesama jenis, tapi lagi dan lagi, yang Omimi pikirkan adalah bagaimana perasaan Kita Shinsuke nantinya?</p>

<p>Kalau dia mendapat undangan pernikahan Omimi dengan Kita di kemudian hari, Suna yakin dia tidak akan kaget. Perkataan Omimi begitu kontradiktif saat bilang bahwa dia tidak bisa menganggap Kita sebagai pasangan, tapi Kita juga layak dijadikan pasangan.</p>

<p>“Kak Omimi sering lewat sini?”</p>

<p>Bosan dengan pembicaraan tentang Kita, Suna pun mengalihkan pembicaraan, dan bisa dia lihat Omimi tertegun atas tanyanya yang satu itu. Omimi lebih kaget dengan pertanyaannya yang ini daripada pertanyaan tentang Kita tadi.</p>

<p>“Maaf, aku tidak sadar. Seharusnya tadi aku bertanya lebih dulu mau lewat jalan yang biasa atau jalan memutar.”</p>

<p>Suna lelah dan sudah cukup tahu, bahwa berkomunikasi dengan Omimi memang nyatanya perlu usaha lebih. Dia menghirup napasnya dalam sebelum kembali menegaskan pertanyaannya.</p>

<p>“Biasanya lewat sini?”</p>

<p>Omimi mengangguk untuk itu, kemudian menjelaskan, “Semenjak ada sepeda, aku lebih sering lewat sini.”</p>

<p>“Tiba-tiba banget ada sepeda?”</p>

<p>“Adikku minta dibelikan sepeda. Hadiah masuk SMA, katanya. Tapi tiga bulan dipakai, sepedanya sudah tidak pernah dikeluarkan lagi.”</p>

<p>Jadi, Omimi putuskan untuk dia yang memakainya saja. Begitu?</p>

<p>Seperti orang tua sekali.</p>

<p>Pemikiran Suna yang satu itu membuahkan tawa geli yang membuat tenaganya lemas seketika. Maka ketika ada angin berhembus yang bertiup cukup kencang. Payung di genggamannya juga ikut terbang dan jatuh ke dalam sawah di bawah sana bersamaan dengan rintik hujan yang turunnya kembali cukup deras.</p>

<p>Suna memekik, “Aah!” dengan cukup keras saat ada bulir air yang jatuh tepat ke mata.</p>

<p>“Suna.”</p>

<p>Suara Omimi terdengar khawatir bersamaan dengan terdengarnya suara standar sepeda yang disandarkan.</p>

<p>Suna berusaha mengedipkan mata untuk menghalau rasa perih tapi efek yang ditimbulkan malah sebaliknya. Dia meringis sakit.</p>

<p>“Suna, kenapa?”</p>

<p>“Sakit.”</p>

<p>“Apanya yang sakit?”</p>

<p>“Mataku, perih. Kemasukan air, sakit.”</p>

<p>“Diem dulu, coba.”</p>

<p>Panik yang sempat hadir seketika lenyap akan kalimat itu. Suna mengikuti instruksi Omimi untuk hanya memejamkan mata.</p>

<p>Hanya derasnya air hujan yang terdengar di detik selanjutnya karena Suna tidak tahu Omimi sedang apa, karena dia hanya bisa mendengar saat ini.</p>

<p>“Coba kulihat.”</p>

<p>Suara itu berasal dari depan, sedikit ke atas. Omimi itu lebih tinggi darinya, dan menduga dari kalimat itu, Omimi akan memeriksa matanya, Suna pun mendongakkan sedikit kepala ketika dirasa hujan sudah tidak menuruni wajah.</p>

<p>Tubuhnya masih merasakan dingin akibat guyuran hujan, tapi wajahnya seketika kering,</p>

<p>... dan hangat,</p>

<p>serta lembab, di hidung.</p>

<p>Matanya refleks terbuka akan keanehan yang terjadi, dan Suna tidak menduga akan menemukan wajah Omimi dalam jarak sedekat ini.</p>

<p>Hujan tidak lagi menuruni wajah sebab Omimi memegang tas miliknya di atas kepala mereka berdua.</p>

<p>Mata itu tidak berkedip menatapnya,</p>

<p>dan lembab yang dirasa itu ternyata berasal dari hidung.</p>

<p><strong>Hidungnya mengenai bibir Omimi.</strong></p>

<p>Suna bisa merasakan napas hangat itu menerpa wajahnya sebelum raut Omimi yang seperti patung itu berubah menjadi panik, kemudian menjauhkan diri.</p>

<p>“Maaf!”</p>

<p>“Ga sengaja.”</p>

<p>Tanpa diperjelas pun Suna tahu bahwa itu adalah ketidaksengajaan.</p>

<p>Omimi jelas hanya ingin membantu tapi kenapa mereka berdua malah jatuh ke dalam situasi canggung seperti ini. Jawabannya pun Suna tidak tahu.</p>

<p>Mungkin seharusnya dia tidak perlu mendongak, karena Omimi tidak menyuruhnya untuk mendongak.</p>

<p>Atau mungkin Suna seharusnya tidak usah menuruti kata Omimi untuk memejamkan mata sedari awal.</p>

<p>Jauh di dalam hati, Suna tahu bahwa seharusnya dia bisa saja hanya berdiam diri dan menunggu rasa sakit itu pergi, tapi perkataan Omimi dengan anehnya membuat Suna ingin saja percaya.</p>

<p>Ingin bergantung, dan ingin untuk diurus.</p>

<p>“Payung.”</p>

<p>Kata itu membuat Suna tersadar dari lamunan. Bisa dia lihat Omimi kini sedang melepas sepatu kemudian turun ke sawah di bawah sana.</p>

<p>“Kak! Ga usah!”</p>

<p>Seruannya tidak didengar sebab Omimi sudah fokus pada satu tujuan, mengambil payung milik Suna, dan Suna berdecak kesal karenanya, karena kini dia juga jadi harus ikutan turun, karena bagaimana kalau Omimi jatuh karena terpeleset?</p>

<p>Tanah di bawah kakinya itu licin, dan Suna bahkan sampai harus merosot dengan pelan sembari tangannya juga memegang tanah agar tidak jatuh.</p>

<p>Ckk, sampai di rumah dia harus mandi sebersih-bersihnya.</p>

<p>Omimi sudah masuk ke sawah, dan Suna menyeru, “Hati-hati, Kak! Licin!”</p>

<p>Suna langsung memanjangkan tangannya untuk meraih payung yang sudah ditutup oleh Omimi itu agar dapat mudah digapai.</p>

<p>Disaat payungnya sudah berhasil diamankan, kini Omimi yang memanjangkan tangannya, meminta bantuan.</p>

<p>“Tolong tarik, Sun.”</p>

<p>Suna geleng kepala. Kan sudah dia bilang tidak usah. Omimi sendiri yang ngeyel mau mengambilkan. Jadinya terjebak, kan. Tanah di kakinya itu pastilah terasa berat, karena sudah dia tarik sebegini kuatnya pun, kaki Omimi baru keluar satu.</p>

<p>“Ayo, Kak!”</p>

<p>Suna menggeram selagi mengeluarkan sisa sisa tenaga yang dia punya sambil menarik Omimi.</p>

<p>Ya Tuhan. Perutnya lapar, dan Suna ingin rebahan di kasur, bukannya,</p>

<p>“Waah!”</p>

<p>... jatuh telentang begini di pematang sawah dengan tangan Omimi yang menjadi bantal, melindunginya dari benturan, juga,</p>

<p>Suna mau <em>first kiss</em>-nya itu lebih <em>proper</em> dari ini Ya Tuhannnn!</p>

<p>Iya, Suna akui Omimi itu oke. Siapa yang tidak bisa dibilang oke kalau dari segi fisik saja, Omimi sudah digilai lawan jenis untuk memperbaiki keturunan.</p>

<p>Wajah, juga oke, seperti tipikal pria matang yang bisa dimintai tanggung jawab.</p>

<p>Tapi Omimi kan-</p>

<p>“Maaf, Sun. Aku kepeleset.”</p>

<p>Uluran tangan untuk membantunya berdiri itu, Suna terima dengan diam.</p>

<p>Suna menurut ketika Omimi membantunya naik ke atas.</p>

<p>Pria itu membantu dengan meletakkan tangannya di pinggang Suna untuk mengangkat, kemudian mendorong bokong, lalu paha serta kaki Suna ke atas jalan.</p>

<p>Bahkan Suna iya-iya saja ketika Omimi menyuruhnya duduk di kursi boncengan untuk mengantarnya pulang.</p>

<p>Suna tetap diam bahkan ketika dia sudah berendam di <em>bathub</em> rumahnya. Dia diam saat makan malam, bahkan diam ketika adik perempuannya bercerita tentang apa yang terjadi hari ini di sekolah.</p>

<p>“Kak.”</p>

<p>“Kakak!”</p>

<p>“Kak Suna ngapain hari ini? Kok tadi pulangnya kotor banget. Kakak masih ekskul voli kan? Bukannya sepak bola?”</p>

<p>Suna diam, dan hanya memandangi adiknya itu dengan lama sebelum menyuruh, “Tidur sana.”</p>

<p>“Ish!”</p>

<p>Pintu kamarnya ditutup dengan kasar, dan bahkan itu pun tidak bisa memutus pikiran Suna dari reka adegan yang terjadi hari ini yang terus berputar seperti kaset rusak.</p>

<p>Bagaimana rasa penasarannya terjawab.</p>

<p>Bagaimana dia tidak menyadari waktu yang berputar,</p>

<p>dan bagaimana bibir-</p>

<p>“Arghhhh!”</p>

<p>...  juga sentuhan di pinggang, bokong serta kaki, yang membuatnya merasa aneh.</p>

<p>Suna merasa dirinya kotor.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://write.as/yuseoneova/ini-adalah-hari-dimana-siang-begitu-terik-namun-kian-berubah-mendung-seiring</guid>
      <pubDate>Sun, 24 Nov 2024 14:55:53 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>