Rnaqx

Atsukita ; Angkot

Malam itu kamu berdiri di pinggiran jalan, tas coklat rillakuma di punggungmu. Kau lambaikan tangan memintaku berhenti, suara lembut dan sayumu menyapa aku.

Sumpah suaramu amat sedap di dengar saat temaram itu. Kau pijak kan kaki kanan mu, merundukan kepala menaikki kendaraan roda empat yang ku kemudi.

Malam itu aku tahu, tahu bahwa kita ini sama, sama-sama masih milik universitas. Apalagi saat tanganmu mengeluarkan lembaran putih bekas corat coret semester hampir retas, retinamu tidak berhenti penuh binar-binar menelaah hasil kerja.

Sengaja aku buka sedikit jendelanya, hanya untuk melihat angin menerpa poni rapi mu. Kamu sangat manis, matamu cantik juga bibir ranum itu. Jika saja tidak ada pengisi di jok belakang, mungkin sudah lama aku kubelai surai halus milik kamu.

Kamu masih tetap diam, sampai aku mulai bosan. Ku putar lagu dari playlist jadul punyaku, kamu yang mendengarnya ikut bersenandung. Aku rasa kita sekali lagi sama, sama-sama suka musik lama.

Aku menyela senandungmu, bertanya apa kamu juga suka? Suka lagu yang aku putar ini?. Senyum manis itu muncul lagi bersamaan dengan matamu yang ikut menghilang, tenggelam dibawa wajah mu yang cendayam.

Aku sadar barang bawaan mu banyak rupanya, sehingga sesekali tak sengaja tangan kita saling sentuh. Saat aku memidahkan stater kecepatan, desir jantungku tak karuan. Kamu menoleh diam, aku hanya mampu berujar maaf, tidak sengaja. Padahal senangnya aku sampai tidak ingin kamu cepat datang ke tujuan.

Kamu kembali dengan wajah serius memperhatikan lembaran lainnya lagi, kadang aku berpikir kamu ini pasti rajin, rajin juga membuat orang sekitarmu memperhatikan ciptaan tuhan yang indah dalam wujud kamu.

Sudah tiga puluh menit sejak kamu memperhatikan kertas itu, berikutnya kertas itu mulai dibereskan dengan rapi. Kamu melirik jam di tangan kecil milikmu yang rasanya sangat pas untuk aku genggam.

“Berhenti di gang itu ya, tapi maju sedikit soalnya rumah saya bukan pas di gang-nya.” katamu. Aku nyaris tertawa mendengar interupsi lugu mu padaku, kamu nyengir canggung sampai keluar gingsul. Tambah jatuh aku padamu dalam-dalam saat itu, apalagi hal cantik yang belum aku tahu dari kamu pikirku.

Kamu akhirnya mengajakku bicara saat kita hampir sampai di gang rumahmu, bertanya apa aku juga masih kuliah. Gayaku mungkin khas laki-laki kasmaran sampai kamu tertawa kencang setiap aku membalasi pertanyaan darimu.

Percakapan itu sangat menyenangkan, kalau saja gang rumahmu tidak tampak di depan. Kamu buka pintu angkotku, memberikan uang 5 ribu sebelum benar-benar turun menempatkanku sendirian lagi di jok kemudi.

Langkahmu jelas berpijak di tanah tempat angkot ini menepi, ku kira aku tak akan pernah tahu lagi namamu, tidak sempat bertanya pula tadi. Sampai kamu berbalik melambaikan tangan pada jendela minta di bukai, bertanya siapa namaku si supir angkot yang jatuh cinta ini.

Atsumu ujarku senyum lebar padamu, hendak aku juga bertanya siapa nama si cantik ini. Namun, kamu yang buru-buru berlari menuju gang, sehingga tanpa aku tahu siapa, aku sudah sangat cinta pada kamu.

Ku nyalakan mesin angkot ingin bergegas mengantar penumpang lainnya. Tunggu, ternyata kamu tidak benar-benar meninggalkan aku. Tangan mu melambai lambai tersenyum girang dari sisi spion angkot ku, kemudian berjalan menuju rumahmu, aku tidak mengejarmu. Biarlah aku selesai antarkan penumpang dulu, baru bergegas menemuimu besok atau selepas ini.

Aku tahu kamu masih ingin bertemu denganku, tentu saja masih. Sengaja kan kamu meninggalkan kartu tanda mahasiswa di jok bekas kamu duduki, agar aku dapat melihat gingsul itu sekali lagi.

Senyum tidak jelas aku sepanjang malam itu memikirkan cintaku, apalagi ada selipan kertas nomor hp milikmu. Sungguh menarik dirimu wahai Kita Shinsuke, membuat laki-laki seribu hati mendamba sampai mabuk kepayang begini.