A Reiner Harem Fan Fiction
in the Modern Universe Campus Life.
Contains: EreRei, SeruRei, ReiBert, GalliRei
PG-15
Semua cast belong to Bang Haji. Ayo salim dulu sama beliau.
Only this fiction is belong to me.
Hari ini hari yang cerah, juga meriah. Tokoh utama kita dalam cerita kali ini sedang berjalan sambil tengok kanan-kiri. Siapa tahu ada yang mau berbaik hati membagi sampel makanan ke pengurus acara yang sedang menjalankan tugas ini. Ialah Reiner, seorang mahasiswa tingkat tiga yang sedang mengemban tugas menjadi Seksi Keamanan. Alasan dari dipilihnya Reiner menjadi Seksi Keamanan yang mengawasi deretan stan-stan di sisi barat venue apa lagi kalau bukan badannya yang sek-ekhm. Badannya yang tinggi bak sekuriti itu sangat pas untuk menjalankan misi. Kalau-kalau ada kegaduhan, jadinya bisa cepat dilerai. Tampangnya yang selalu ditekuk juga pasti membuat tidak akan ada yang berani macam-macam, karena pasti mengira Reiner orang yang seram. Bukannya apa-apa, tampangnya yang selalu ditekuk selama dua minggu belakangan ini adalah hasil dari dirinya yang harus mengulang satu matkul pada semester depan. Padahal Reiner yakin ia sudah melakukan yang terbaik, tapi kenapa...
Arghh, menyesal pun percuma. Tidak ada gunanya menangisi susu yang tumpah. Ia hanya berharap, semoga di semester depan nanti, tidak disatukan di kelas yang sama dengannya, seorang mantan yang pernah mengisi hari-harinya dulu dengan segala kebodohan dan kefrustasian. Reiner tidak menyesali putusnya hubungan mereka dulu. Ia hanya menyayangkan, kenapa sesuatu yang dimulai baik, berakhir dengan kebalikannya.
“Reiner!”
Ada yang memanggil dari stan di sisi kanannya. Itu Sasha, si anak Tata Boga yang juga tergabung dalam BEM Universitas. Reiner cukup sering mengobrol dengannya di sela kegiatan organisasi. Anaknya baik dan periang, dan punya sedikit obsesi terhadap makanan, apalagi daging. Ia pun menghampiri stan yang menguarkan aroma manis dari jarak tiga meter. Melihat barang yang dijajakan, ternyata Sasha menjual berbagai macam buah yang dikristalkan dengan gula.
“Ayo dicoba! Mau yang mana, pilih aja!”
Mendapat tawaran itu, tangan Reiner pun berhenti di sebuah batang yang menusuk tiga buah stroberi. Ukuran stroberinya lumayan besar, dan berwarna merah segar. “Aku ambil yang ini.”
Sasha mengangguk dengan senyuman lebar, lalu menadahkan tangan. “20 ribu.”
Raut Reiner yang sudah tertekuk, semakin tertekuk lagi ke dalam. Kelopak matanya memejam sampai hampir hilang. Ia kira gratis, tahunya hanya jadi penglaris. Sialan. Mau tidak mau, terpaksa karena dipaksa. Ia pun mengeluarkan selembar uang yang diminta dan memberinya ke Sasha.
“Terima kasih! Jangan lupa datang lagi, nanti sorean bakal ada pisang coklat lho. Kamu pasti suka!”
“Ha-ha.” Ia hanya membalas dengan tawa kaku dam segera pergi dari sana. Sebodo amat dengan tata krama, ia langsung saja meraup satu buah stroberi utuh ke dalam mulut. Kraup kraup, begitu bunyinya sambil masih terus berjalan, kali ini dengan langkah yang pelan. Satu, dua, tiga,
lima langkah membuatnya sampai di jejeran stan berwarna putih yang panjang. Reiner tahu apa itu. Itu adalah stan ciuman yang sengaja diadakan untuk menggalang dana. Dana yang didapatkan nanti akan disumbangkan ke instansi sekitar kampus yang membutuhkan. Nominal yang harus dikeluarkan untuk membeli satu tiket adalah 80 ribu untuk durasi 10 detik. Seperti nama stannya, tiket yang sudah dibeli nanti akan ditukar dengan ciuman. Membayangkannya saja Reiner sudah merinding. Mencium seseorang yang tidak dikenal, aneh, menurutnya. Untung ia tidak ditunjuk menjadi salah satu penjaga stan yang mana ciumannya diperjualbelikan, tapi kalau tidak salah, Pieck-
“Reiner!”
“Reiner!”
Nah, panjang umur sekali temannya yang satu ini. Ia pun menghampiri Pieck yang menyuruhnya ke sana. Saat sampai di hadapan, muka Reiner berubah tegang, sebab Pieck langsung memegang satu tangannya erat. Hawa hawa tidak mengenakkan mulai terasa.
“Reiner!”
“I-ya?”
Untuk apa Pieck berteriak padahal ia ada di sini, di depan Pieck langsung, bertatap-tatapan.
“Tolong aku.”
Nada yang Pieck gunakan dipenuhi dengan urgensi walau masih terlihat tenang, air mukanya.
“Tolong, apa?”
Duh, seharusnya ia tidak menanyakan hal itu. Mata Pieck sekarang jadi bling bling dan perasaannya mengatakan bahwa-
“Tolong gantikan aku!”
“Huh? Ganti, gantiin apa?”
“Gantiin aku jaga stan!”
“Stan, maksudmu ...”
Melihat arah pandang Reiner yang meragu pada tenda warna putih di belakang, Pieck tanpa basa-basi langsung saja menyeret tangan si pria besar masuk ke dalam seraya berkata, “Tolong gantikan aku menjaga stan. Kalau ada yang datang, kau cukup diam dan cium. Biasanya hanya di dahi atau pipi aja kok. Ga ada yang aneh, mungkin nempel bibir sedikit, tapi itu jarang. Ya? Sekarang, kamu di sini.”
Omongan Pieck cepat sekali sehingga Reiner tidak menemukan waktu yang pas untuk menyela. Tahu-tahu, ia sudah berada di salah satu booth yang kosong, bisa ia lihat Historia, salah satu anak populer di kampus, berdiri di sampingnya. Perempuan itu sedang tersenyum cerah pada –entah siapa– itu pelanggan di depannya. Senyumnya lalu menyipu malu entah kenapa. Saat Reiner intip, ternyata ada seorang laki-laki yang mencium tangannya.
“Waktunya habis! Silakan keluar”
Bisa Reiner lihat seseorang yang berjaga di depan langsung membukakan tirai stannya Historia, dan si laki-laki pun undur diri dari sana.
“Lihat, ga susah kan.”
Itu Pieck yang menarik atensinya kembali. “Iya,” ia setuju dengan Pieck. Tidak ada yang susah dari sekedar merelakan diri untuk dicium demi membantu sesama, tapi bagaimana jika ada pelanggan yang kurang tahu-
“Kalau begitu aku pergi dulu, perutku udah ga tahan lagi. Daah Reiner!”
“Daah.” Lambaian tangannya pelan, tidak seperti Pieck yang semangat '45. Selepas temannya itu pergi, Reiner pun duduk di bangku yang sudah disediakan dengan manis. Tanpa mengetahui bahwa Connie di luar sana sudah mengganti papan nama di atas stan menjadi Reiner dari yang tadinya Pieck. Connie mengganti itu dari arahan Pieck tentu saja, tadi, sebelum wanita itu berlari entah ke mana setelah mengacungkan jempol padanya.
Ingin memakan manisan yang tadi ia beli selagi menunggu, tapi Reiner tidak menemukan apa pun di tangan kanan dan kirinya. Oh sialan, ternyata Pieck ikut membawa manisannya yang masih tersisa dua buah itu pergi. Nasib nasib. Jadi lah ia menunggu di sini dengan bosan, sambil sesekali memperhatikan Historia yang terus saja kedatangan pelanggan. Event yang satu ini bebas kan, jadi orang bisa memilih untuk mencium siapa pun yang mereka mau. Kalau begitu, Pieck
!!!
Reiner baru sadar bahwa ia menggantikan Pieck yang populer, tapi kenapa belum juga ada yang datang ya? Tahu sih Pieck itu orangnya yang jaim banget, tapi dia murah senyum kok. Ga jarang Reiner lihat, Pieck menyapa –entah itu siapa– mahasiswa yang papasan sama dia. Reiner tahu muka itu mahasiswa, tapi ga tahu namanya. Biasa lah.
“Umm, nnh.”
Aah, ia tidak dengar. Ia tidak mendengar apa pun itu yang keluar dari bibir Historia saat ini, ia tidak dengar!
“Ymir! Aku bisa pingsan, tahu!”
Berapa detik itu? Reiner rasa lebih dari sepuluh.
Ada kekeh tawa yang terdengar jahat sebelum Reiner mendengar orang yang lain itu berkata, “Kalau kamu pingsan, bakal aku kasih napas buatan. Tenang aja.”
Lalu terdengar pukulan kecil dan Historia yang merajuk. Duh, Reiner serasa jadi nyamuk. Saat akan mengambil ponsel untuk membunuh jenuh, Reiner dikagetkan dengan tirai stannya yang terbuka, menampilkan seorang wanita kecil dengan wajah lucu yang terlihat gugup. Ia pun tersenyum kecil untuk mencairkan suasana.
“H-halo, Reiner.”
“Halo.”
Lho, darimana perempuan ini tahu namanya? Reiner hanya tidak tahu, bahwa ia lumayan terkenal di kampus. Siapa yang tidak kenal coba? Orang ia adalah mantannya salah satu pentolan kampus yang terkenal nakal.
“A-aku, cium di kepala. Boleh?”
Reiner mengangguk. “Saya yang cium atau-” kalimatnya terhenti oleh anggukan malu-malu. Reiner tersenyum sekali lagi sebelum menundukkan kepala untuk mencium pucuk kepala si gadis. Wangi. Reiner bisa mencium sesuatu yang wangi dari rambut si gadis. Persiapan sekali, batinnya sambil tertawa geli, juga, perempuan itu hebat sekali ya. Sampai siap-siap seperti itu. Ia lalu melambaikan tangan, membalas si gadis yang akan pergi, lalu kembali duduk, dan berdiri jika ada pelanggan.
Sudah satu jam ia di sini. Reiner jadi cemas karena Pieck belum juga kembali. Apa dia baik-baik saja? Haruskah ia pergi untuk memeriksa? Tapi, ke mana perginya Pieck? Toilet, atau unit kesehatan? Reiner tidak tahu karena tadi Pieck bilang hanya sakit perut, entah karena panggilan alam atau tamu bulanan. Reiner tahu, karena ibu pernah memberitahunya hal itu. Ibunya bilang, bahwa ia harus peka pada hal sekitar, terutama wanita. Karena ia hanya memiliki ibu seorang dan sepupu perempuan yang harus dijaga. Lagi pula, Historia bilang bahwa shift-nya akan berakhir sebentar lagi. Ia pun menghela napas lega, tapi jadi tersumbat karena kemunculan dia yang tiba-tiba. Dia, yang pernah mengisi hari-hari Reiner dengan segala tingkah gilanya.
“Yo! Reiner. Terkejut melihatku?”
“E-eren.”
Di depannya berdiri Eren Jeager, seorang pentolan kampus yang cukup disegani banyak orang, berdiri di depannya dalam balutan kaus berwarna hijau yang pewarnanya sudah luntur, juga celana pensil yang membungkus kaki serta jaket kumal dan sendal swallow yang membuatnya tampak seperti gembel. Eren masih sama seperti yang terakhir kali ia lihat, hanya saja, rambut itu sudah bertumbuh panjang sehingga bisa diikat, memperlihatkan dahi yang menjadi daya tarik. Reiner menelan ludah gugup saat Eren sudah ada tepat di depannya. Pria itu berdiri dekat sekali dengan meja yang menjadi pembatas mereka berdua. Sejak putus darinya, Reiner memang sudah tidak berhubungan secara langsung dengan Eren. Paling-paling mendengar kabarnya saja dari burung yang mengatakan bahwa Eren suka bentrok sana sini, atau lini media sosial yang hanya menampakkan punggung. Ada satu foto yang Reiner ingat mendapatkan banyak sekali likes dari massa, yaitu foto Eren yang berada di puncak gunung ketika matahari terbit. Bukan, bukan latar pemandangan yang membuatnya mendapatkan banyak pujian dan juga umpatan dari banyak orang, melainkan karena masa otot di bagian abdomen yang Eren perlihatkan saat hendak memakai jaket. Entah itu foto diambil secara diam-diam atau memang terencana, yang jelas, Eren memang sengaja membagikan yang satu itu ke orang banyak. Ingin mengesankan orang?
“Oi.”
Reiner tersadar dari lamunan, wajah Eren tahu-tahu sudah di depan mukanya saja. Pria itu mendesiskan, “Jangan bengong aja, waktu gw ga banyak,” sebelum menempelkan bibir di atas bibirnya. Terkejut? Tentu saja. Bola mata Reiner sampai ingin meloncat keluar dari tempatnya. Saat ada gerakan yang menarik bilah bibirnya untuk memisah, Reiner panik. Langsung saja memundurkan kepalanya ke belakang cepat, tapi Eren tidak melepas, ia malah menggigit bibir bawah Reiner sedikit keras sebagai bentuk pertahanan, agar Reiner tidak pergi, namun sang mantan tetap kekeuh ingin lepas. Berdecak sebal, Eren pun akhirnya melepas setelah melayangkan gigitan terakhir. Kalau Reiner kesakitan itu bukan salahnya. Siapa suruh menolak?
Akan senyum remeh yang tertuju padanya, Reiner mengepalkan kedua tangan. Ingin rasanya memaki, tapi hatinya berkata lain. Ada alasan mengapa ia tidak melawan, karena Reiner sudah terlalu paham bahwa akan ada konflik jika ia menentang. Eren begitu, selalu dan akan terus seperti itu. Tipe manusia yang pasti mendapatkan segala yang ia mau, entah bagaimana caranya. Lebih baik diam dan berkompromi, daripada berkonfrontasi.
“Bibir Lo manis, pake lipbalm? Kenapa-”
“Ekhm.”
Tirai sudah dibuka oleh yang menjaga, tapi Eren tidak peduli.
“Kenapa ga dari dulu aja kayak gini? Lo berubah banyak. Jadi makin diem, makin penurut.”
Dulu, memang, Reiner dan Eren sering bertengkar, yang berujung pada putusnya hubungan. Salah satu faktor yang juga mempengaruhi sikapnya saat ini. Dari Eren ia belajar agar bisa lebih memperhatikan, bersabar, mengalah, serta banyak hal lain yang tidak bisa ia jabarkan dengan kata. Waktu satu tahun mungkin sebentar, tapi begitu lama bagi seorang Reiner Braun.
“E-ekhm. Ren.”
Itu Jean, Reiner bisa melihatnya dari sini. Si penjaga tirai yang tadinya Connie telah berganti menjadi Jean. Apa itu berarti, shift-nya akan berakhir sebentar lagi?
Meskipun dipanggil, Eren tetap tidak ambil pusing. Ia kembali melanjutkan, “Ner, Lo beda banget sekarang sama dulu. Gw jadi kangen.”
“Err ...” Reiner tidak tahu harus membalas apa untuk yang satu itu.
“Lo harus tahu-”
“Eren, bangsat! Waktunya udah habis woe! Kalau mau lama-lama, beli tiket lagi sana! Yang banyak, jangan cuma satu. Ga modal banget jadi orang.”
“Berisik! Muka kuda! Bacot bener jadi orang.”
“Ngajakin ribut Lo!?”
“Berani Lo sama gw?”
“Wah, nantangin.”
Reiner cuma bisa tepuk jidat ngeliat dua orang itu adu bacot. Untung orang-orang yang ada di luar cepat melerai dan membawa keduanya ke luar, yang mana itu harusnya tugas Reiner sebagai Seksi Keamanan, tapi ia terlalu segan. Masa hidupnya serasa berkurang banyak setelah tadi menghadapi Eren. Lelah batin.
Reiner terduduk dengan lesu di kursi setelahnya.
“Reiner, pasti sulit buatmu, ya?”
Aah, kenapa bisa ada orang seperti Historia? Mood Reiner jadi langsung membaik secara tiba-tiba hanya karena melihat senyum prihatin itu tertuju untuknya. Ia lalu membalas senyum juga menggeleng, serta berkata, “Gapapa, udah biasa. Maaf kalau mengganggu, ya.”
“Engga, engga apa-apa kok. Laki-laki suka ribut kan, wajar.” Sedikit tawa, Historia tambahkan di akhir, yang mana terdengar sangat merdu di telinga siapa pun yang mendengar. Reiner jadi berandai-andai, kalau saja ia mempunyai pacar seperti Historia, akan jadi seperti apa hari-harinya nanti? Pasti akan dipenuhi bahagia, kan?
“Reiner.”
Suara itu sudah ia hapal di luar kepala, tanpa menoleh pun ia tahu, bahwa pemilik suara penuh wibawa itu adalah, “Bang Marcel?”
“Hai!”
Reiner bingung kenapa Marcel bisa ada di sini. Apa karena mau ketemu Pieck buat cium- ah, jangan memikirkan itu Reiner! Tidak baik, karena itu urusan pribadi Marcel dan Pieck.
“Kenapa ada di sini, Bang? Pasti mau ketemu Pieck, ya? Maaf banget Pieck-nya lagi keluar seben-”
“Engga.”
Eh. Kalau bukan untuk Pieck, lalu apa? Reiner tahu tentang gosip yang menyelubungi Marcel dan Pieck. Akan ada banyak orang yang mendukung jika keduanya bersatu, sebab Marcel adalah sang ayah, Pieck ibu-nya, dalam lingkar pertemanan mereka. Kedua orangnya sendiri juga tidak segan untuk berguyon sebagai pasangan orang tua untuk menasihati teman-teman mereka yang bandel, apa lagi jika adik dari Marcel sudah berbuat ulah, pasti-
“Aku di sini buat ketemu kamu, kok.”
Ehh?
“Gw? Serius Lo, Bang? Jangan becanda, mood gw lagi ga enak.”
Marcel tidak mengelak, ia hanya tertawa kecil, lalu menarik dagu Reiner agar mendekat. Reiner baru pertama kali ini melihat Marcel dalam jarak yang sangat dekat, dan entah kenapa ia jadi menahan napas. Marcel lalu berbicara dengan nada yang lembut, namun masih penuh dengan lugas. “Aku bisa serius kalau kamu mau. Sekarang, bisa kita mulai?”
Reiner kelabakan, tapi bibirnya sudah keburu bertubrukan dengan bibir Marcel. Tangan dikepal, dan ia hanya diam saja mematung dengan kelopak yang dipejam erat, namun seketika dibuka cepat saat ada hangat yang mengetuk celah. Marcel memundurkan kepala, lalu menitah, “Reiner, buka mulutnya.”
Entah sihir apa yang menyulapnya menjadi budak, Reiner menurut kepada perintah. Ia membuka mulut seperti yang Marcel instruksikan, sedikit, tapi cukup bagi Marcel untuk melesakkan lidahnya ke dalam sana. Menyapa langit-langit yang sedikit terasa manis, ia lalu menyesap sedikit yang membuat tubuh itu bergetar, bisa Marcel rasakan dari telapak tangannya yang memegang sisi rahang Reiner. Ia kemudian melepas sebentar hanya untuk mengucap, “Napasmu, jangan ditahan.”
Reiner mengangguk, dan kembali menerima ketika Marcel melesak masuk. Sudah menjadi tugasnya saat ini untuk dicium atau pun mencium, tidak mungkin lari dari tanggung jawab kan? Reiner adalah anak baik yang tidak berani melakukan itu. Ia begitu penurut, maka ketika Marcel mengundangnya ke dalam sana, Reiner menurut. Ia bertandang ke tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Tempat itu terasa lembab, juga basah, dan enak. Apa 10 detik selama ini? Padahal sebelum-sebelumnya terasa cepat. Kenapa tidak ada orang yang mengingatkan bahwa waktunya sudah habis dari luar sana? Kalau begini terus,
Puah
Tatap mata yang melihat ke arahnya masihlah sayu, mungkin belum turun dari awang-awang di atas sana. Marcel, jujur, ingin melanjutkannya, tapi ia tahu diri. Selintang garis saliva yang menuruni sudut bibir Reiner pun ia usap sebelum telapaknya merambat ke pipi. “Makasih ya, Reiner.” Bertepatan dengan itu, tirai di belakangnya pun terbuka. “Permisi, waktunya habis.”
Menyimpul senyum sekali lagi, Marcel pun pergi. “Sampai ketemu nanti.”
Selepas Marcel pergi dari hadapan, Reiner terduduk diam di kursi, sambil bersidekap, sambil menutup mulut dengan satu tangan, dan sambil berpikir, kenapa kejadian tadi bisa terjadi. Belum sempat ia temukan jawabannya, Reiner sudah keburu dikagetkan dengan kedatangan seorang pelanggan. Pelanggan itu adalah, “Bertolt?”
“Yo, reiner.”
Alisnya menukik dalam akan kehadiran Bertolt di sini. “Ngapain di sini? Lo ga-”
Kalimatnya tersendat, sebab Reiner tidak bisa memproses otaknya untuk menemukan sambungan yang pas, tapi Bertolt di depannya hanya tersenyum kecil seraya mengacak rambut belakang, kikuk.
“Ah, itu. Aku kira Annie ada di sini, ternyata engga, padahal udah beli tiket. Aha-ha.” Tawanya jelas terdengar canggung, dan itu membawa pria lainnya tertawa. Bertolt langsung terdiam hanya untuk mempersilakan Reiner tertawa geli.
“Mau cancel aja? Gw bisa bilang sama panitia buat ngebalikin uangnya kalo Lo ma-”
“Ga usah, ga enak.”
Akibat kata yang dipotong, suasana kembali canggung. Reiner berdehem kemudian menawarkan, “Kalau gitu, mau ciuman?” sambil tertawa.
“Boleh.”
Eh?
Eeeh?
Padahal tawaran itu hanya sebatas guyon, tidak ia sangka Bertolt akan menerima. Pasti bercanda kan? Bertolt memang bukan orang yang suka bercanda jika dilihat dari luar, tapi pria itu juga memiliki humor yang bagus, kadang. Reiner-
!!!
Belum sempat Reiner berdalih bahwa itu hanyalah guyon, bibirnya sudah keburu bertemu dengan bibir Bertolt, bertepatan dengan tirai stan yang langsung terbuka.
“Waktunya udah habis, Pak! Ayo keluar.”
Keduanya lalu saling melempar senyum canggung sebelum yang tinggi mengundurkan diri. “Daah Reiner.”
Reiner hanya mengangguk sebagai balas, lalu kembali terduduk di kursi dengan wajah melas. Tidak habis pikir dengan kejadian-kejadian yang sudah terjadi. Gara-gara menggantikan Pieck, ia jadi harus dicium tiga laki-laki. Reiner memang homo, tapi bukan berarti ia gampangan!
Sebelum ketiga laki-laki itu datang, tugas Reiner tidak semelelahkan batin begini. Para wanita hanya meminta cium di dahi atau pipi, sesekali juga tangan, dan, tunggu, ada yang janggal.
Apa Pieck tadi juga mencium wanita? Homo, Sapiens? Kalau iya, Reiner tidak begitu kaget, sebab Pieck tidak pernah repot menyembunyikan ketertarikannya terhadap seorang mahasiswi dari fakultas teknik yang terkenal dingin, Yelena.
Memikirkan itu membuat Reiner pusing, mana belum makan siang, ia jadi emosi. Bukan marah, tapi lebih ke, ya, kalian tahu bagaimana rasanya ketika lapar tapi diharuskan untuk mengerjakan sesuatu bukan? Iya, seperti itu. Rasanya jadi ingin makan orang. Sedang asiknya melamun, Reiner jadi abai kepada orang yang baru saja masuk.
Brak!
Reiner tersentak karena gebrakan di meja. Mendongak untuk memaki si pelaku, ia malah jadi mingkem saat melihat, “G-galliard?!” muda ada di hadapan. “Ngapain di sini?”
Porco Galliard, yang paling muda dalam keluarga Galliard, adik Bang Marcel itu menatap tajam ke arahnya, seakan-akan Reiner mengajukan pertanyaan paling bodoh yang ada di dunia. Galliard muda lalu membalas, “Pakek nanya lagi, ya mau ciuman lah!”
Ugh, menyebalkan sekali. Ingin rasanya Reiner balas memaki, tapi ia tahu itu percuma, sebab Galliard yang satu ini memang jarang berbicara dengan nada baik seperti sang kakak. Jadi, Reiner yang harus memanjangkan kesabaran lebih, atau mereka akan berakhir dengan baku hantam. Reiner tidak begitu menyukai kekerasan, jujur, tapi akan ia lakukan jika harus, tapi untuk yang satu ini, mari coba berkompromi.
“Err, engga salah masuk? Yang cewek-cewek stannya ada di sebe-”
“Males, yang lain ngantri. Cuma Lo doang yang kosong.”
“Oh, gitu.”
Keduanya lalu main pelotot-pelototan, Reiner dengan tatap ingin tahu –kenapa Galliard bisa ada di sini– dan Porco dengan tatap sebal karena Reiner yang lamban –mengerti situasi. Ia lalu berdecak, “Udah cepet, sini nunduk. Kerja yang bener,” dan langsung mendorong belakang kepala Reiner untuk merunduk. Satu raupan, dan bibirnya pun terkunci dengan bibir Reiner.
Porco menahan erat belakang kepala saat Reiner hendak melepas, ia lalu melonggarkan sedikit kuncian, menunggu agar Reiner terbiasa, ia baru mulai menyesap bilang yang bawah, kemudian atas, lalu menggigit-gigiti kecil labia yang terasa kenyal. Seiringan dengan itu juga, tirai pun terbuka diiringi dengan teriakan, “Waktunya habis!”
Bite
Karena kaget, ia jadi tidak sengaja menggigit bibir Reiner sampai mengeluarkan darah sedikit. Porco panik melihat Reiner yang mendesis sakit, ia lalu asal memberi sapu tangan yang –untungnya– masih ada di saku jaket. Porco harap sapu tangan tersebut tidak bau karena sudah tiga hari berada di dalam sana. Tenang, belum Porco pakai, hanya dibawa untuk jaga-jaga saja.
“Sorry, sorry. Gw ga sengaja.”
Menggeleng kecil, Reiner, “Gapapa.”
“Bang, keluar Bang! Waktunya abis ini.”
“Iya, bentar!” Kembali lagi ke Reiner, Porco, “Sorry banget, gw ga sengaja. Gara-gara diteriakin, jadi kaget.”
Jean, yang ada di pintu, tentu saja bisa mendengar, ia lalu membalas, “Yeu, nyalahin gw. Itu mah Lo-nya aja yang ga bisa ciuman kali.”
Porco, yang di-underestimate seperti itu, tentu saja langsung nyolot. “Bacot bener jadi orang.”
“E, eh, udah. Jangan berantem. Gw gapapa Pok-ekhm, maksudnya, Galliard. Cuma luka kecil, nanti sembuh sendiri.”
“Oke.”
Reiner tersenyum kecil sebagai reaksi untuk yang satu itu. Senyumnya lalu berubah kaku saat mendapati Porco yang belum juga pergi. Pria itu masih menatap dengan pandangnya yang seperti biasa, hanya saja, kali ini diliputi kekhawatiran. Reiner sedang tidak mengantuk kan?
“E-ekhm. Durasi.”
Setelah peringatan yang satu itu, baru Porco benar-benar melangkahkan dirinya untuk pergi. Saat bertemu dengan Jean di luar, ia mengacungkan jari tengah sebagai balasan yang tadi. Jean? Tentu saja tersulut emosi, tapi ia belum makan siang, jadi hanya membiarkan si pendek yang satu itu untuk pergi dengan tenang. Ia lalu mengeluh. “Ini kenapa bujang-bujang betah banget di dalam dah? Gara-gara jomblo apa gima ...” tatap matanya bertemu dengan pandang Reiner yang sekarang terlihat malu-malu. Dari jarak tiga meter ini, bisa Jean lihat juga bahwa pipi temannya yang satu itu memerah sedikit, “-na?” Ia jadi menelan ludah.
“A-apa!? Ini kapan selesainya? Gw laper.”
Dihardik seperti itu, entah kenapa Jean malah jadi gelagapan. Reiner tadi, terlihat- argh. “Mana gw tau! Bentar lagi kali. Gw bukan panitia, ini disuruh ngegantiin Connie karena orangnya lagi boker.”
Tidak menunggu balasan Reiner lebih lanjut, Jean langsung saja menutup tirai, dan kembali berjaga di luar. Cuaca siang ini panas, membuatnya dehidrasi sehingga sampai memikirkan yang tidak-tidak. Iya, pasti begitu. Kalau bukan karena fatamorgana yang tadi ia lihat, pria besar seperti Reiner tidak lah manis!
End.
Epilog
“Aaaa, untung ada Reiner, aku jadi selamat.”
Di sore pukul empat lebih, ia akhirnya terbebas dari tugas, tugas menjaga stan dan juga tugasnya sebagai Seksi Keamanan. Kini, ia dan Pieck sedang berjalan berkeliling mencari jajanan. Mentari sudah bersiap untuk kembali ke peraduan.
“Emangnya tadi kenapa? Sakit perut karena sembelit atau datang tamu bulanan?”
“Datang tamu bulanan, sakit banget. Habis minum obat aku malah ketiduran. Maaf banget ya.” Sambil menangkupkan dua tangan, Pieck juga memasang raut yang meyakinkan. Apa yang ia ucap tidak sepenuhnya benar, tapi tidak bohong juga. Perutnya memang mendadak keram karena datang bulan secara tiba-tiba, tapi untuk Reiner yang menggantikan ia menjaga stan, itu memang sudah direncanakan. Sakit atau tidak perutnya tadi, pasti akan tetap ia lakukan, sebab Pieck melihat potensi dalam diri Reiner yang orangnya sendiri tidak menyadari.
“Kamu mau apa? Pilih aja, aku yang traktir.”
Ditawari seperti itu, Reiner jadi bingung harus memilih apa, karena ada begitu banyak yang ingin ia coba, tidak mungkin ia meminta itu semua ke Pieck kan, Reiner laki-laki, masih tahu diri bahwa ia yang seharusnya menjajani. Namun kemudian, ia teringat dengan perkataan Sasha tadi siang.
“Nanti sore bakal ada pisang coklat. Kamu pasti suka.”
Reiner langsung saja menyebutkan itu. “Pisang coklat.”
“Pisang coklat? Boleh, di mana tempatnya?”
Reiner pun lalu memandu sampai di depan stan Sasha yang sudah mulai sepi. Ia tersenyum ketika Sasha menyambutnya dengan ceria.
“Reiner! Datang lagi ternyata. Ayo ayo, dipilih. Masih ada banyak, pisangnya. Pieck juga, jangan malu-malu. Semuanya serba 20 ribu. Murah kannn.”
Keduanya tersenyum atas penawaran ramah tersebut dan masing-masing pun memilih satu. Reiner dengan rasa original, choco, dan Pieck dengan pisang yang dilapis coklat rasa stroberi. Saat Pieck menggigit satu gigitan kecil, gigitan Reiner sanggup menghilangkan setengah potong dari pisangnya. Yang melihat sampai menganga. Tak lama setelah itu, terdengar tawa geli dari samping si pria besar. Menoleh ke samping, ternyata itu Marcel. Galliard yang paling tua lalu berkomentar, “Reiner, mulutnya besar ya.”
UHUK!
Pieck langsung tersedak, sebab Marcel mengatakannya dengan nada yang mencabangkan makna ganda di telinganya. Setelah menepuk-nepuk dada berapa kali, akhirnya pisang yang ia kunyah bisa tertelan juga. Reiner khawatir dan segera membelikan minum, sementara Marcel kembali tertawa saat bertatap-tatapan dengan Pieck yang kini melotot ke arahnya dengan raut lucu.
Tidak jauh dari sana, ada perdebatan yang –sepertinya– akan menjadi kisruh jika terus berlanjut.
“Lo ngapain di sini anjing!?”
“Suka-suka gw lah. Emangnya Lo siapa? Ngelarang-larang gw, babi.”
Saat Eren akan mengambil langkah maju menuju Reiner, Porco menahan pria itu dengan cara merentangkan satu tangannya menghalangi jalan si Jeager muda. Eren yang dihalang-halangi tentu saja tidak terima. Debat berubah menjadi gontok. Setelah beberapa saat, Porco pun berhasil mengusir Eren dari sana. Ia lalu menghampiri tiga orang yang kini sedang bercanda. Berjalan pelan hingga sampai di belakang Reiner dan, “Oi! Makannya biasa aja. Ga usah dihayatin.”
Untung bagi Reiner karena bisa mengeluarkan pisangnya yang ke-dua dari dalam mulut sebelum tersedak, belum ia gigit.
“Porco. Ngagetin aja.”
“Pok-ko. ^^”
“Dek, dari mana? Udah jajan belum?” Marcel lalu menyuruh adiknya itu untuk mengambil satu dari pisang yang dijajar. Karena ditraktir, Porco pun tidak segan untuk mengambil satu. Keempatnya lalu bercerita tentang hari ini sambil duduk di salah satu meja yang sudah disediakan.
End.