Yuseonova

Sebuah fanfiksi MoguHam yang terinspirasi dari Given karya Natsuki Kizu

Contain: school life, band themed AU. Implikasi kejadian tidak mengenakkan, dll yg mungkin nanti akan ada.

Rating T


Pt.1

Jungmo bertemu dengannya di suatu siang musim panas yang cerah. Dengan cahaya matahari hangat yang merembes masuk melewati jendela, membuat silau pada mata yang sedang membaca salah satu berita di papan informasi.

“Mau nyoba?”

Apa? Jungmo tidak mengerti dengan apa yang suara itu maksud. Mencoba apa? Memangnya,

Seiring dengan kepalanya yang menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang berbicara, matahari di atas sana juga bergerak sedikit dari tempatnya, membawa cahaya hangatnya sedikit menjauh untuk memberikan gambaran yang lebih jelas.

. . . orang ini siapa?

Jungmo yakin raut bingungnya sudah cukup untuk meyakinkan orang di hadapannya ini agar lebih menjelaskan dengan detail apa yang dia maksud tadi, tapi malah dibalas hanya dengan dongakan dagu ke arah selembar pamflet yang berada di dalam lemari kaca.

Ulang Tahun Sekolah ke-24!

Kami selaku panitia penyelenggara mengundang kalian yang ingin meramaikan acara HUT Sekolah yang ke-24 dengan berbagai macam kegiatan menarik ke,

Tempat: Ruang Auditorium Utama Gedung A

Tanggal: 7 Juni pukul 14.00

Let's show the world who you are through this event!

“Ah, engga.”

“Tapi Lo berdiri cukup lama di sini, tadi, sampai sekarang.”

Sejurus rona kemerahan muncul di leher karena sebuah fakta bahwa ia diperhatikan, yang kemudian hilang dibalik persembunyian telapak tangan. Jungmo lalu beralasan, “Itu, siapa tahu aja ada info penting.” Ia lalu tersenyum kikuk karena orang di hadapannya ini hanya menatap lurus padanya sebelum kembali membuka mulut untuk bertanya, “Anak kelas tiga?”

Jungmo mengangguk. Dari garis warna merah yang tertempel di dasinya sudah kentara cukup jelas kan. Jadi kenapa masih bertanya? Alasannya Jungmo temukan setelah kejadian itu. Setelah hari dimana seorang siswa kelas dua bernama Ham Wonjin mengajaknya untuk ikut berpartisipasi dalam acara ulang tahun sekolah, Jungmo jadi memikirkan ajakannya dengan serius.

“Ikut aja, gw juga ikut. Bukan karena sukarela tapi dipaksa.”

Pfft. “Perwakilan kelas?” Jungmo menebak.

“Iya.”

“Mau nampilin apa nanti?”

“Ga tau, paling main gendang atau rebana.”

“Oh, anak rohis?”

“Engga, gw Kristen.”

Jungmo dibuat tidak bisa berkata apa-apa oleh pernyataan satu itu, tapi melihatnya senyumnya yang geli, ternyata memang humor si pemuda di depannya ini yang tidak bisa ia mengerti.

“Gw cuma suka gebuk-gebuk doang sih. Sama itu, kecrekan. Paling seneng tamborin karena digebuk bunyi kemerincing.”

“Oh, haha.” Jujur, Jungmo tidak tahu harus merespon apa, jadi ia hanya tertawa, tapi sejurus pertanyaan yang dilempar kemudian membuatnya kaku.

“Lo bisa main alat musik?”

Kamar yang berantakan dengan bulir-bulir obat yang berserakan di seluruh lantai ruangan juga gitar yang rusak adalah apa yang memasuki pikirannya seperti film yang rusak, berputar terus menerus sampai membuat raut itu memucat.

“Hei, Lo gapapa?”

Jungmo tidak ingin memiliki ingatan jangka panjang yang bagus, tapi ia bisa apa jika kejadian itu sudah terpatri dengan baik di dalam memori, seakan menjadi penanda yang senantiasa mengingatkannya untuk tidak mengambil langkah yang sama.

“Ikut aja, bareng gw. Gw bakal main cajon, jadi kalo Lo bisa gitar, bakal bagus banget buat akustik.”

Jungmo belum memberikan respon apa-apa untuk itu, tapi Wonjin bilang, ia boleh melihat permainan pemuda itu lebih dulu sebelum mengambil keputusan untuk ikut dalam acara HUT sekolah atau tidak. Minggu depan, mereka akan bertemu di stasiun terdekat dari sekolah untuk menuju ke tempat yang Wonjin ingin perlihatkan padanya. Tempat itu adalah sebuah studio musik kecil di area hiburan dekat tengah kota yang nantinya akan Jungmo sadari sebagai tempat dimana titik balik dalam hidupnya dimulai.

Wonjin menatap aneh pada seorang teman yang baru ia kenal dua hari lalu saat OSPEK Fakultas dimulai, Kim Dongyun namanya. Pemuda itu sedang duduk di salah satu undakan depan perpustakaan pusat. Memang tempat yang disediakan untuk duduk-duduk santai.

Satu alisnya semakin terangkat naik ke atas saat melihat si kawan baru, semakin-makin tersenyum lebar sambil memandangi layar ponsel. Wonjin pun menghampiri, menepuk satu pundak sembari menyeru, “Hoi,” lalu duduk di samping Dongyun.

Respon dari Dongyun hanya senyum kecil, ia lalu kembali memfokuskan atensi ke layar ponsel, membuat Wonjin jadi mengintip ke sebuah ruang obrolan Dongyun dengan pengguna lain bernama Minseo 💕

Iya, ada emotikon hati di sebelah display namanya. Wonjin geleng kepala, lalu mulai membaca. Selanjutnya ia muntah imajiner.

Bagaimana tidak? Obrolan Dongyun dengan Minseo itu layaknya dua orang yang tengah menjalin kasih.

“Keju banget anjing.”

Sadar bahwa cibiran itu ditujukan untuknya, Dongyun tidak ambil pusing, tapi kemudian ia balas dengan, “Sirik aja anjing.”

Wonjin tertawa. Tidak terdengar tersinggung sama sekali. Walau usia hubungan pertemanan mereka masih sebesar biji kedelai, keduanya tidak sungkan untuk saling melempar joke kasar.

Selesai tertawa, Wonjin bertanya, kepo.

“Itu siapa? Pacar Lo?”

“Iya.”

“Widih, ga nyangka tampang kayak gitu, ada yang mau.”

“Maksud Lo dengan tampang, kayak gitu, apa ya Jing.”

“Ya kayak gitu, kayak Lo.”

Yang Wonjin dapat selanjutnya adalah muka datar. Ia pun terkekeh karenanya, lalu bertanya, “Udah foto dan wawancara sama siapa aja?”

Dongyun menjawab, “Foto mah udah banyak, cuma wawancaranya ini yang masih sedikit, mager gw.” Menyudahi obrolan dengan Minseo, Dongyun memasukkan ponsel kembali ke saku celana, lalu melirik Wonjin. “Lo gimana?”

“Ya, sama kayak Lo.”

Dongyun memicing akan itu. Meski baru mengenal, Dongyun tahu, bahwa Wonjin adalah tipe siswa yang kalau ditanya, “Udah belajar belum?”

Pasti akan menjawab dengan, “Belum.”

Tapi nanti dapat 💯 saat pembagian nilai.

Cih.

Maka dari itu, Dongyun mengambil buku jurnal berwarna biru tua di tangan Wonjin, yang menghasilkan tawa geli dari si empunya buku. Membuka buku yang difungsikan untuk menyimpan biodata teman seangkatan maupun hasil wawancara dengan Kakak Tingkat, Dongyun sedikit terperangah akan buku yang sama dengan miliknya itu, hampir 3/4nya sudah penuh. Miliknya mencapai 10 halaman pun belum. Mengembalikan itu secara kasar ke Wonjin, Dongyun misuh.

“Apaan kayak gw, Jing. Itu buku Lo udah hampir penuh begitu.”

Lagi dan lagi, yang Dongyun dapatkan hanya tawa geli sebagai responnya.

Suara berisik yang berasal dari belakang mereka di arah jam tiga membuat Dongyun dan Wonjin menoleh, untuk menemukan seorang Kakak Tingkat yang memiliki paras rupawan, sedang dikerubungi oleh banyak gadis.

“Ka Jungmo tuh, udah minta tanda tangannya?”

Wonjin menggeleng. “Belum.”

Dongyun terus menatap lurus yang membuat Wonjin heran. “Kenapa?”

Tidak usah disebut pun, Wonjin sudah mengetahui apa maksud Dongyun. Ia kembali tertawa, kemudian,

“Gak lah, ngapain.”

Akan pernyataan negasi dari dugaannya, Dongyun, “Ya kirain gitu, Lo bener serius.”

Wonjin meresponnya dengan gelengan kepala diiring senyum geli. Yang membawa ingatan Dongyun kembali ke sebuah hari, dimana status mereka resmi terganti, dari siswa menjadi mahasiswa.


“Kenapa masuk Fakultas Ekonomi?” Tanya itu dilontar bengis, dingin, tajam seperti silet.

Seorang tunas yang baru saja ke luar dari tanah terpaksa menunduk takut. “Ngikutin kemauan orang tua, Kak.”

“Berarti kamu ga mau di sini?”

Tidak bisa menjawab, perintah pun didapat.

“Sana masuk barisan!”

Barisan yang dimaksud bukanlah barisan tempatnya berdiri saat ini, melainkan barisan khusus di ujung lapangan sana, dekat dengan gedung yang dijadikan Unit Pertolongan mendadak. Tempat yang dikhususkan untuk menghukum mahasiswa yang telat datang serta berbuat kesalahan.

Si Kakak Tingkat dengan postur tubuh tinggi menjulang kembali mencari mangsa. Memasang raut sedingin nan segalak mungkin, ia pun berhenti di depan,

“Nama.”

“Ham Wonjin.”

“Kenapa masuk Ekonomi?”*

“Buat cari jodoh, Kak.”

Cari mati.

“Mau, kamu masuk barisan?!”

Bukannya gentar, Wonjin malah semakin menjadi, dengan menawarkan diri masuk ke kandang harimau.

“Boleh, Kak?”

Lengannya ditarik kasar ke luar barisan, untuk selanjutnya ditarik paksa menuju ruang hukuman.

Saat sampai di sebuah tanah lapang tandus yang panas karena tidak adanya pepohonan, si Kakak Tingkat dengan nametag Koo Jungmo ini menyuruh,

“Sit up seratus kali, sampe ketemu jodoh.”

Wonjin tidak banyak tingkah lagi, ia menurut. Melaksanakan hukuman yang -apa-apaan itu- hanya jika sedang diawasi. Selebihnya? Ya santai~ kan ada San- ken~

Sejak dari situ, senior yang bernama Koo Jungmo ini kalau melihat Wonjin itu bawaannya emosi melulu. Selalu, ada saja perseteruan ketika mereka saling berhadapan.

“Ngapain kamu di sini? Cari jodoh?” Itu yang Jungmo tanyakan dengan nada kelewat sinis saat mendapati Wonjin sedang celingak-celinguk di area para Kakak Tingkat.

“Kalo Kakak mau daftar, masih buka slot kok.”

Selalu, itu yang membuat Jungmo naik pitam. Bagaimana Wonjin membalas perkataannya dengan segala ucapan absurd, selalu bisa membuat emosi Jungmo mendidih.

“Tuh, Mo. Masih buka slot, daftar gih.”

Sayang beribu sayang, kalimat pedas yang sudah Jungmo siapkan dalam hati, lenyap, hilang entah ke mana, begitu saja akibat celetuk dari orang yang tiba-tiba ada di sampingnya. Seo Woobin, nama orang itu.

Jungmo melempar tatap sengit pada Woonin yang hanya dibalas pemuda itu dengan tawa. Sialan. Bisa-bisanya Woobin mempermalukannya di depan Adik Tingkat.

“Saya ke sini mau minta minyak kayu putih. Anak cewek kelompokkan saya ada yang pusing soalnya. Ada ga, Kak?”

“Ada.” Selepas itu, Jungmo langsung kembali ke dalam Unit Pertolongan untuk mengambilkan minyak kayu putih.

Saat minyak kayu putih sudah ia terima, Wonjin mengucap, “Makasih.”

Yang dijawab Jungmo hanya dengan gumaman. Baru saat Wonjin sudah beberapa langkah di depan, ia berseru, “Jangan lupa dibalikin nanti, kalau udah selesai!”

Wonjin mengangguk untuk itu, dan ia yakin Jungmo melihat.


Hari-hari setelah itu, setiap diadakannya sesi mentoring, pasti ada saja yang menggoda relasi mereka berdua, baik dari pihak Senior maupun teman sejawat Wonjin.

“Serius ga mau? Kece lho Ka Jungmo. Mana rumornya anak pemilik LJ. Yakin ga mau lu sikat?” Dongyun kembali bertanya setelah kilasan masa lalu itu selesai.

“Di Simpang Tiga juga banyak, anak yang punya LJ.”

“Jirr.” Senyum itu memperlihatkan gigi. Dongyun benar-benar tidak habis pikir bagaimana cara kerja otak Wonjin. “Itu mah distributor. Jungmo tuh anak dari produsen langsungnya.”

Akan kalimat layaknya Calo abal-abal itu, Wonjin geleng kepala. Pandangnya lalu kembali mengedar, sampai pada sebuah titik dimana waktu terasa berhenti beriringan dengan angin yang berhembus cukup kencang sampai menumbangkan daun-daun rapuh yang tidak sanggup bertahan, juga beberapa debu jalanan yang jadi menghalangi pandangan, tapi tetap, pandangnya dan dia bertemu dalam garis linier yang sama, sebelum riuhnya angin memutus acara yang sedang berlangsung.

End.

• Ham Wonjin as Hamdan Hakim

•Koo Jungmo as Raden Bimo Notonegoro

•Seo Woobin as Rudi

Setting cerita berkisar di tahun 1960-an, Indonesia.

Rating T

2k+ words


Riuh ramainya suara denting gelas yang beradu dengan cerita-cerita tentang hari ini bahkan tidak cukup untuk membuat telinga itu abai akan suara ketukan yang disusul siulan dua kali, dan di antara kepulan asap tipis dari cerutu-cerutu yang dihisap khidmat, sosoknya selalu bisa muncul dengan cekatan, menghampiri satu sudut ke sudut lainnya sambil terus mempertahankan senyuman. Langsung saja telunjukku mengangkat satu ke udara seraya mengucapkan, “Merlot.”

Anggukan kecil datang darinya yang mengawali sesi meracik minuman yang acap kali mendapatkan decak kagum pelanggan, dan aku tidak sedikit pun mengalihkan walau hanya melirik dari sudut pandang. Sosoknya begitu menarik walau dalam balutan pakaian lecek sekalipun. Aku yakin dia hanya asal menindas saat menggosok baju itu dengan arang. Tidak lama setelah itu, segelas minuman berwarna merah pekat pun tersaji di hadapan, bersamaan dengan daun pintu kembar yang didobrak kasar. Gerutuan bercampur geram pun terdengar dari balik gigi yang digertak rapat, sebelum dia berteriak memanggil si Bos.

“Rudi! Woi! Tamu kamu dateng ini!”

“Siapa tamu-oalah juancok! Dia lagi.”

Sambil menyisip minuman, bisik-bisik tentang sambatan akan tiga pria berseragam yang baru saja tiba pun tak sengaja aku dengar. Kurang lebih isinya tentang kenapa para otoriter itu bersikap seperti bajingan. Untuk yang satu itu, aku tidak bisa menanggapi apa-apa, karena tempat ini pun bisa ada karena belas kasihan mereka. Satu dari sekian banyak ironi kehidupan. Cukup lama rasanya mendengarkan dua pihak itu bersitegang sebelum para pria berseragam menghardik untuk yang terakhir kali, “Kalau ga ada saya, tempat ini udah ditutup dari dulu! Bersyukur jadi orang! Tahu balas budi,” kemudian pergi dengan masing-masing dua botol minuman di tangan kiri dan kanan. Hela napas lelah yang timbul karena tidak bisa berbuat apa-apa pun hanya aku balas dengan senyum prihatin. Mungkin sebaiknya aku memberikan tip lebih nanti atas pelayanan mereka yang memuaskan.

“Maaf atas keributan yang tadi, tidak bisa kami dihindari,” ucapnya saat situasi telah menjadi riuh rendah kembali. Aku mengangguk sambil menelengkan kepala sedikit ke kanan, tanda bahwa hal seperti itu bisa terjadi ke siapa saja, lalu menyarankan, “Bagaimana dengan sedikit musik? Agar suasananya meriah kembali.” Seulas senyum persuasif aku tunjukkan secara cuma-cuma yang langsung mendapat persetujuan darinya. Ia lalu pergi ke arah panggung kecil yang berada di sudut kiri bar, dan bersiap dengan trumpet-nya. Setelah diskusi kecil dengan para pemain instrumen yang lain, alunan nada kecil-kecil yang menghentak pun terdengar, perlahan berfluktuasi sampai membuat semua orang berdiri, menggerakkannya satu kaki ke sana dan ke sini yang disusul oleh kaki lainnya, semakin menyemarakkan suasana di sore hari yang cerah. Pandanganku pun sempat sesekali bertukar dengannya.


“Hakim! Buang sampah!”

Perintah itu dijawab dengan seruan afirmasi, dan entah sudah kali ke-berapa dia berjalan, lewat di hadapanku, aku tak menghitung, tapi cukup untuk menyadari bahwa tidak ada gurat kelelahan sama sekali pada diri yang senantiasa berjibaku dengan tugas. Menjadi muda adalah sebuah anugerah. Tak sadar, aku sepertinya tertawa sendiri atas pemikiran itu, yang mana juga mengundang kekeh tawa geli darinya. Entah sejak kapan dia berdiri di sana, di hadapanku, di seberang meja.

“Masih di sini?”

Pertanyaan retorisnya kujawab dengan senyum kecil sebelum membalas, “Kenapa? Hendak mengusirku?”

Dia menggeleng dengan senyuman geli kemudian berlalu, entah mau ke mana tapi yang jelas ia mengarah ke arahku. Kesempatan itu tentu saja tidak aku sia-siakan. Langsung saja bibir ini mengucap, “Aku mungkin tidak akan datang lagi.”

Dia berhenti tepat di sampingku, kemudian bertanya, “Kenapa?”

Tetap diam di kursi, dengan postur yang tegak, kali ini, dan pandangan mata lurus ke depan, aku menjawab, “Aku akan pergi ke Paris, lusa.”

Suara tawa yang terdengar selanjutnya penuh dengan ketertarikan. Derik dari sudut kaki yang ditarik, beradu dengan lantai cukup membuat telinga sakit. Sepertinya benar bahwa menjadi muda adalah anugerah yang terindah. Kau tidak akan letih bahkan ketika malam telah mencapai puncaknya.

“Paris? Untuk apa ke Paris? Kau ada kerjaan di sana?”

“Ya, dan tidak.”

Alisnya yang menukik di tengah dahi itu lucu, sekaligus menakutkan. Kalau dia menatap orang lain dengan raut seperti itu mungkin akan dikira mengajak ribut. Aku lalu menjelaskan tentang ini dan itu, tentang keinginan untuk menjelajah dunia, dan ambisi untuk menemukan sesuatu yang baru, dan bukannya antusias seperti saat ia mendengar kata Paris, tadi. Mukanya kini malah dipenuhi kemasaman dan juga pandangan skeptis, yang seakan-akan mencemooh rencana hidup yang sudah kususun dari jauh-jauh hari. Jauh, sebelum pertemuanku dengannya bahkan terjadi.

“Kau tahu, untuk apa repot-repot ke Paris kalau pada akhirnya sama saja.”

“Sama saja, bagaimana?” aku bertanya dengan bibir yang mengurva aneh, karena menahan tawa.

“Kau, ke Paris untuk mencari, apa itu bahasa yang aku tidak tahu, sama saja dengan mencari masalah, bukan? Hidup di belahan bumi mana pun itu sama saja. Pasti masalah, masalah, masalah yang akan kau hadapi, mau itu di Surabaya atau di menara Eiffel sekalipun. Jadi menurutku, untuk apa susah-susah ke negara orang untuk mencari masalah kalau kau masih bisa menemukan masalah itu di sini.”

Kalimat itu ia tandaskan sambil mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk, dan tidak lagi dapat menahan, tawaku langsung menyembur dengan beberapa partikel basah yang juga ikut keluar, membuatnya mengernyit jijik. Setelah menyeka air yang keluar di sudut mata, aku pun membalas, “Ya, aku memang mencari masalah dengan mempertaruhkan nasib di negeri orang, nanti, tapi jika apa yang kau sebut masalah itu bisa aku temukan jawabannya, jawabannya itu nanti pasti akan bisa memecahkan masalah-masalah yang lain.”

“Alasan, bilang saja kalau kau tidak cinta sama negeri ini.”

“Aku memang berencana tinggal di Paris untuk waktu yang lama, tapi tidak untuk selamanya.”

... kalimat itu terus berlanjut, kemudian disambung dengan sanggahan lain yang kemudian dijawab dengan alasan lain. Polanya terus seperti itu sampai sang pemilik bar sendiri yang harus turun tangan melerai perdebatan kami. Saat aku melihat sudah jam berapa kini, ternyata sudah pukul tiga pagi. Langsung saja kuserahkan beberapa lembar uang yang entah itu lebih berapa lembar, langsung kepada si pemilik, dan beranjak pergi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi pada dia yang kuduga bisa menjadi kenangan indah.

Dua hari telah berlalu, dan aku sungguh tidak menyangka bisa bertemu dengannya lagi di luar bar yang terletak di sudut jalan itu. Dia, dengan kaus lecek dan jaket amburadul yang benang kainnya sudah mencuat ke mana-mana, ada di seberang jalan depan rumah singgah yang sudah ku tempati selama kurang lebih dua bulan ini. Berdiri dengan sebagian bobot tubuhnya yang disandarkan pada jok motor bebek. Berjalan pelan menghampiri, aku pun bertanya saat dirasa meter sudah memasuki jarak pendengaran. “Sedang apa kau di sini?”

“Sedang menunggu seseorang untuk meminta maaf.”

Suasana langsung berubah diam, tapi tidak canggung. Ini hanya aku yang bingung harus membalas bagaimana. Kejadian yang lalu sudah tidak aku pikirkan, bahkan ada beberapa bagian darinya yang sudah menghilang dari ingatan, tapi, boleh lah mendengarkan pengakuan yang tulus, sebab wajahnya benar-benar serius.

“Maaf, kemarin aku tidak berniat buruk atau apa pun itu. Aku hanya, tidak mengerti dengan jalan pikiranmu dan segala mimpi-mimpimu akan masa depan, karena aku orang yang bodoh,”

“Tidak ada orang bodoh yang mau mengakui dirinya bodoh.”

“Oke, terserah. Aku ke sini untuk meminta maaf, keputusanmu untuk memaafkan atau tidak, tapi yang pasti, maaf karena sudah,” dia menjilat bibir, sedang memilih diksi yang tepat, dan aku sama sekali tidak keberatan menunggu. “Maaf, apabila ada kalimat atau perbuatan dariku yang tidak mengenakkan untukmu.”

Jujur, aku sempat tertegun ketika mendengar penjelasan panjang lebar itu. Tidak kusangka pria sepertinya bisa berlaku sesopan ini, dan karena masih di dalam fase terkejut, aku hanya mengangguk atas setiap kata maafnya, juga di akhir menambahkan, “Tidak apa-apa, setiap orang punya pendapatnya masing-masing.”

“Benar.”

Kembali diam, kali ini, aku yang merasa canggung, dan sepertinya dia pun begitu, karena sedari tadi terus saja mengedar pandang tidak jelas. Tidak mau pergi atau bagaimana? Kalau begitu, aku saja yang-

“Tasmu, cuma satu?”

Tanya yang satu itu cukup mengagetkan. Melirik ke sebuah ransel besar yang aku gendong di belakang, “Ya, banyak bawaan hanya akan membuatku keluar lebih banyak uang.”

“Berangkat sekarang?”

Mengangguk, aku lalu menambahkan, “Hanya tinggal berjalan ke depan,” untuk naik ojek pangkalan.

“Kuantar.”

“Apa?”

“Sebagai permintaan maaf, mari sini kuantar. Kau mau ke bandara kan? Djuanda?”

Aku diam saja sembari memperhatikan dia yang mengambil helm di sangkutan bagian depan, lalu menjawab dengan, “Ya,” kecil ketika helm itu sudah disodorkan.

“Naik.”

Sempat merasa bimbang pada tawaran yang aneh sekaligus mencurigakan ini, pada akhirnya aku pun kalah oleh rasa tidak enak hati. Mengambil helm yang tidak memiliki kaca depan itu, aku lalu memasangnya dan segera naik ke boncengan di belakang. Cukup lama menunggu motor ini hidup karena dia harus menyentak kick starter-nya untuk beberapa kali, aku saja sampai harus turun kembali. Agak mengesalkan memang, tapi tidak apa, karena sungutan yang ada di wajahnya sempat menghibur untuk beberapa saat sebelum motor dengan bunyi kenalpot dudut ini melaju di jalanan pagi yang mulai ramai.

Dua jam lebih sedikit, adalah waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Bandara Djuanda. Aku langsung saja menyerahkan helm ketika turun dari motor. Jangan sampai helm itu ikut terbawa sampai ke Paris, seperti pengalamanku yang sudah-sudah. Bukan di Paris, tapi di tempat lain.

“Terima kasih, sudah mengantar.”

Dia hanya mengangguk sebagai balasan. Satu cara yang tepat untuk membunuh konversasi. Duh. Sudah, begini saja? Tidak mau mengucapkan salam terakhir?

“Uhh, terima kasih atas pelayanannya di bar. Salam pada Bos juga, maaf aku tidak sempat pamit padanya.” Padahal dia sudah baik sekali padaku selama ini.

“Akan ku sampaikan.”

“Bagus, jadi ....”

“Kau tidak pergi?” tanyanya sambil mengangkat sebelah alis yang langsung aku balas dengan hentakan kaki kesal dan juga seruan, “Ini! Mau pergi,” entah kenapa suaraku mengecil di akhir, oh Tuhan.

“Oke, hati-hati di jalan.”

Aku terus menunduk, karena merasa seperti sedang diperhatikan.

“Jangan muntah.”

Kesal dengan kalimat yang seakan meremehkan itu, aku langsung saja mengangkat kepala hanya untuk,

Cup

... bertemu dengan bibirnya, bibirku.

“Minum obat, atau apa, permen, supaya ga mabuk. Oh ya, itu tadi kuambil sebagai bayaran.”

“Bayaran apa!?”

“Bayaran jasa mengantarmu dari Surabaya sampai ke sini.”

“Tapi tadi katanya mengantar untuk minta maaf!?”

Benar-benar. Orang ini benar-benar tidak bisa dipercaya.

“Ya, itu untuk bagian bensin, sebagai permintaan maaf. Soal jasa, itu lain hal.”

KAN! Menyebalkan sekali. Tidak tahu harus membalas apa lagi, pada akhirnya aku hanya menggerutu tidak jelas seperti anak gadis yang kesal karena dijahili oleh anak lelaki yang nakal. Tuhan! Bahkan ketika 100 meter sudah kutempuh pun dia masih saja bisa berteriak, “Kau bisa berenang kan?! Jangan sampai membuat orang tuamu menangis kalau-kalau pesawatnya jatuh!”

Ya iya kalau jatuhnya di laut, kalau di darat bagaimana coba!? Urghhh.


8 tahun kemudian,

“Bimo! Akhirnya kamu sampai. Pasti capek ya? Laper? Kita makan dulu ya, paman sama bibi udah nungguin di dalam. Ada kakek juga, dia udah semangat banget dari tadi pagi nungguin kamu pulang.”

“Kakek sehat?”

Melihat wajah wanita yang sudah melahirkanmu setelah sekian tahun lamanya tidak bertemu tentu saja mengharukan. Dadaku berdenyut sakit, tapi napas yang dihembus melegakan.

“Sehat, cuma jadi kurang mau makan aja akhir-akhir ini, sayangnya.”

“Kalau aku yang nyuapin, pasti makannya bakal lahap.”

Ibu hanya tersenyum sangsi atas kalimatku yang –memang– menggelikan itu, dia lalu mencibir, “Pede banget kamu.”

“Oh iya dong. Anak siapa dulu? Wijaya Notonegoro,” kataku sambil menepuk dada sendiri, berbarengan dengan langkah kami yang ternyata sudah sampai di ambang pintu ruang keluarga, membuat semua orang yang ada di dalamnya tertawa, ada yang geli dan terbahak-bahak. Aku langsung saja menghampiri satu yang paling sepuh di sana.

“Kakek!”


Suara mesin pengerek, pengaduk semen, pemotong baja, dan bunyi tak tak dari batu bata yang disusun rapih sampai ke tiang yang diseret ke sana ke mari pun pelan berangsur berhenti seiring dengan bel tanda istirahat yang berbunyi nyaring. Para pekerja konstruksi yang memakai atribut lengkap dari helm sampai sepatu boots itu pun meninggalkan pekerjaan mereka barang sebentar untuk mengisi perut yang lapar. Satu di antara yang tengah berjalan tiba-tiba berhenti karena sebuah panggilan.

“Hakim!”

“Ya, Pak, kenapa?”

Yang dipanggil Hakim lalu mendekat ke arah atasannya yang terus saja melambaikan tangan, menyuruh ke sini. Saat yang dipanggil sudah sampai di hadapan, ia langsung saja mengutarakan tujuan. “Kamu, ga punya tanggungan apa-apa kan? Kayak misalnya, anak atau orang tua yang, sayang banget sama kamu?”

Meski sedikit bingung dengan pertanyaan itu, Hakim tetap menjawab, “Anak ga punya, Pak, tapi kalau Ibu, Alhamdulillah masih sehat, Pak, walau sering sakit batuk akhir-akhir ini.”

“Udah kamu bawa ke rumah sakit?”

“Udah, Pak.”

“Beliau ada yang ngurus ga? Saya ga enak kalau misalkan harus misahin orang yang lagi sakit jauh dari anaknya.”

“Maksud Bapak?”

“Karena kinerjamu bagus, kamu, Aryo, sama tiga orang lagi, bakal saya kirim ke Jakarta, mereka lagi gembor-gembornya bangun jalan di sana-sini, butuh banyak orang. Mau, kan? Pergi ke Jakarta.”

Bohong apabila ia jawab tidak.

“Kalau saya nolak pun,”

“Ya jangan! Kamu tuh punya bibit, harus disiram terus, harus dipupuk terus sama ilmu-ilmu baru. Jangan puas sampai di sini aja.”

“Iya, Pak.”

“Jadi, mau ya? Bulan depan, ke Jakartanya. Ajak satu orang lagi siapa gitu yang kompeten, dari tim kamu.”

“Gimana kalau Jamin, Pak? Orangnya cukup antusias menurut saya, walaupun pendiam. Kerjaannya juga bagus.”

“Boleh, kamu kasih aja surat rekomendasinya ke meja saya, ya.”

“Baik, Pak.”

“Ya udah sana makan, biar kuat lagi ngangkat betonnya. HAHAHA.”


“Bimo, kamu baru dua bulan lho, di Palembang. Masa harus pergi lagi?” Mata yang sudah sayu namun masih memancarkan semangat kehidupan yang hangat itu menatap malas pada anaknya yang sedang berkutat dengan banyak sekali macam kertas dan buku.

“Kan ke Jakarta doang, Mah. Sebentar.”

“Ya, sebentarnya kamu tuh bukan sehari dua hari, masalahnya.”

“Aku kan di sana kerja, bukan ngehambur-hamburin uang.”

“Emangnya ga bisa di sini aja? Kerjaanmu kan bisa pakai komputer toh.”

“Ya iya, bisa, cuma kan ini aku harus ketemu sama ahlinya langsung biar bisa diskusi. Ga enak kalau lewat telepon.”

“Kamu tuh, ga bisaaaa, ga bikin Mamah khawatir.” Hela napas setelahnya sengaja dihembus kencang, agar anak semata wayang sadar bahwa ia di sini tengah keberatan, tapi apalah daya jiwa yang sudah banyak menyecap garam ini dengan dia yang bagai tunas muda? Tidak sebanding. Di ujung pembicaraan, ia tahu bahwa ia yang harus memanjangkan tali kesabaran.

“Aku gede begini siapa yang mau nyulik sih, Mah.”

“Nyulik engga, sering masuk rumah sakit, iya. Lihat, itu kami tulang semua ga ada daging, mana enak dipegang.”

“Hush, Mamah! Emangnya apa yang mau dipegang? Siapa juga lagi yang mau pegang-pegang.”

Mengabaikan yang satu itu, Jelita Senja di sini pun mendekat, menaruh satu tangannya di pundak buah hati kesayangan, lalu meremasnya dengan cukup erat.

“Pokoknya, kamu harus telepon tiap hari. Biaya telepon dalam negara kan murah, gak kayak kalau keluar.”

Mengambil tangan itu untuk kemudian digenggam, Bimo mengucap janji, “Aku usahain,” yang tak kunjung mendapat respon apa-apa selama beberapa detik ke depan, sampai akhirnya senyum tulus dari dalam hati ia tunjukkan. “Iya, iya aku telepon setiap hari,” tapi tetap saja masih ada alasan, “kalau sempet.” Setelahnya ia mengaduh karena keningnya dijitak cukup keras.


“Mas.”

Sambil mengikat tali sepatu, ia membalas itu dengan dehaman.

“Hati-hati di jalan ya,” pesan seorang wanita muda di belakang, lekat sekali memperhatikan punggung yang sebentar lagi akan pergi, jauh, ke tempat yang tidak bisa ia susul.

“Iya. Lagi juga, emangnya aku anak kecil yang ga bisa tengok kanan kiri, kalau nyebrang jalan.”

“Jakarta kan luas, Mas.”

“Surabaya juga luas, Dek, dan aku masih utuh sampai sekarang.”

“Bukan itu masalahnya.”

“Terus apa masalahnya?” Telapak tangan kasar perlahan hinggap di pucuk kepala lainnya, mengusak halus seraya memberikan senyuman hangat. “Aku ke Jakarta kan buat nyari uang, buat kamu, buat Ibu.”

Melepas tangan itu dari kepala, si wanita lalu menggenggamnya erat. “Iya, tahu, aku ngerti, tapi tetep aja rasanya ada yang ngeganjel.”

“Makan batu kamu tah?”

Melepas tangan itu kasar, ia juga menyeru, “Mas, ih! Serius.”

“Jangan serius-serius, nanti cepet tua. Aku titip Ibu, ya. Apa pun maunya Ibu, kamu turutin aja, asal ga bahaya. Kalau ada apa-apa, cepet telepon Mas. Pasti langsung Mas jawab di dering pertama.”

“Aku kan nelepon juga ke nomor telepon kantormu, Mas. Jangan ngaco.”

Raut si wanita sudah lebih hidup daripada yang tadi, membuat si lelaki tersenyum. “Nah, gitu dong. Jangan cemberut terus nanti jelek.”

Balasan setelah itu yang ia dapat hanyalah gerutuan, maka, pamitlah ia. “Ya udah, aku berangkat dulu ya. Kamu cepet itu, beli bubur, nanti keburu abis, nangis.”

“Iya.”

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

End.

• Ham Wonjin as Hamdan Hakim

•Koo Jungmo as Raden Bimo Notonegoro

•Seo Woobin as Rudi

Setting cerita berkisar di tahun 1960-an, Indonesia.

Rating T

2k+ words


Riuh ramainya suara denting gelas yang beradu dengan cerita-cerita tentang hari ini bahkan tidak cukup untuk membuat telinga itu abai akan suara ketukan yang disusul siulan dua kali, dan di antara kepulan asap tipis dari cerutu-cerutu yang dihisap khidmat, sosoknya selalu bisa muncul dengan cekatan, menghampiri satu sudut ke sudut lainnya sambil terus mempertahankan senyuman. Langsung saja telunjukku mengangkat satu ke udara seraya mengucapkan, “Merlot.”

Anggukan kecil datang darinya yang mengawali sesi meracik minuman yang acap kali mendapatkan decak kagum pelanggan, dan aku tidak sedikit pun mengalihkan walau hanya melirik dari sudut pandang. Sosoknya begitu menarik walau dalam balutan pakaian lecek sekalipun. Aku yakin dia hanya asal menindas saat menggosok baju itu dengan arang. Tidak lama setelah itu, segelas minuman berwarna merah pekat pun tersaji di hadapan, bersamaan dengan daun pintu kembar yang didobrak kasar. Gerutuan bercampur geram pun terdengar dari balik gigi yang digertak rapat, sebelum dia berteriak memanggil si Bos.

“Rudi! Woi! Tamu kamu dateng ini!”

“Siapa tamu-oalah juancok! Dia lagi.”

Sambil menyisip minuman, bisik-bisik tentang sambatan akan tiga pria berseragam yang baru saja tiba pun tak sengaja aku dengar. Kurang lebih isinya tentang kenapa para otoriter itu bersikap seperti bajingan. Untuk yang satu itu, aku tidak bisa menanggapi apa-apa, karena tempat ini pun bisa ada karena belas kasihan mereka. Satu dari sekian banyak ironi kehidupan. Cukup lama rasanya mendengarkan dua pihak itu bersitegang sebelum para pria berseragam menghardik untuk yang terakhir kali, “Kalau ga ada saya, tempat ini udah ditutup dari dulu! Bersyukur jadi orang! Tahu balas budi,” kemudian pergi dengan masing-masing dua botol minuman di tangan kiri dan kanan. Hela napas lelah yang timbul karena tidak bisa berbuat apa-apa pun hanya aku balas dengan senyum prihatin. Mungkin sebaiknya aku memberikan tip lebih nanti atas pelayanan mereka yang memuaskan.

“Maaf atas keributan yang tadi, tidak bisa kami dihindari,” ucapnya saat situasi telah menjadi riuh rendah kembali. Aku mengangguk sambil menelengkan kepala sedikit ke kanan, tanda bahwa hal seperti itu bisa terjadi ke siapa saja, lalu menyarankan, “Bagaimana dengan sedikit musik? Agar suasananya meriah kembali.” Seulas senyum persuasif aku tunjukkan secara cuma-cuma yang langsung mendapat persetujuan darinya. Ia lalu pergi ke arah panggung kecil yang berada di sudut kiri bar, dan bersiap dengan trumpet-nya. Setelah diskusi kecil dengan para pemain instrumen yang lain, alunan nada kecil-kecil yang menghentak pun terdengar, perlahan berfluktuasi sampai membuat semua orang berdiri, menggerakkannya satu kaki ke sana dan ke sini yang disusul oleh kaki lainnya, semakin menyemarakkan suasana di sore hari yang cerah. Pandanganku pun sempat sesekali bertukar dengannya.


“Hakim! Buang sampah!”

Perintah itu dijawab dengan seruan afirmasi, dan entah sudah kali ke-berapa dia berjalan, lewat di hadapanku, aku tak menghitung, tapi cukup untuk menyadari bahwa tidak ada gurat kelelahan sama sekali pada diri yang senantiasa berjibaku dengan tugas. Menjadi muda adalah sebuah anugerah. Tak sadar, aku sepertinya tertawa sendiri atas pemikiran itu, yang mana juga mengundang kekeh tawa geli darinya. Entah sejak kapan dia berdiri di sana, di hadapanku, di seberang meja.

“Masih di sini?”

Pertanyaan retorisnya kujawab dengan senyum kecil sebelum membalas, “Kenapa? Hendak mengusirku?”

Dia menggeleng dengan senyuman geli kemudian berlalu, entah mau ke mana tapi yang jelas ia mengarah ke arahku. Kesempatan itu tentu saja tidak aku sia-siakan. Langsung saja bibir ini mengucap, “Aku mungkin tidak akan datang lagi.”

Dia berhenti tepat di sampingku, kemudian bertanya, “Kenapa?”

Tetap diam di kursi, dengan postur yang tegak, kali ini, dan pandangan mata lurus ke depan, aku menjawab, “Aku akan pergi ke Paris, lusa.”

Suara tawa yang terdengar selanjutnya penuh dengan ketertarikan. Derik dari sudut kaki yang ditarik, beradu dengan lantai cukup membuat telinga sakit. Sepertinya benar bahwa menjadi muda adalah anugerah yang terindah. Kau tidak akan letih bahkan ketika malam telah mencapai puncaknya.

“Paris? Untuk apa ke Paris? Kau ada kerjaan di sana?”

“Ya, dan tidak.”

Alisnya yang menukik di tengah dahi itu lucu, sekaligus menakutkan. Kalau dia menatap orang lain dengan raut seperti itu mungkin akan dikira mengajak ribut. Aku lalu menjelaskan tentang ini dan itu, tentang keinginan untuk menjelajah dunia, dan ambisi untuk menemukan sesuatu yang baru, dan bukannya antusias seperti saat ia mendengar kata Paris, tadi. Mukanya kini malah dipenuhi kemasaman dan juga pandangan skeptis, yang seakan-akan mencemooh rencana hidup yang sudah kususun dari jauh-jauh hari. Jauh, sebelum pertemuanku dengannya bahkan terjadi.

“Kau tahu, untuk apa repot-repot ke Paris kalau pada akhirnya sama saja.”

“Sama saja, bagaimana?” aku bertanya dengan bibir yang mengurva aneh, karena menahan tawa.

“Kau, ke Paris untuk mencari, apa itu bahasa yang aku tidak tahu, sama saja dengan mencari masalah, bukan? Hidup di belahan bumi mana pun itu sama saja. Pasti masalah, masalah, masalah yang akan kau hadapi, mau itu di Surabaya atau di menara Eiffel sekalipun. Jadi menurutku, untuk apa susah-susah ke negara orang untuk mencari masalah kalau kau masih bisa menemukan masalah itu di sini.”

Kalimat itu ia tandaskan sambil mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk, dan tidak lagi dapat menahan, tawaku langsung menyembur dengan beberapa partikel basah yang juga ikut keluar, membuatnya mengernyit jijik. Setelah menyeka air yang keluar di sudut mata, aku pun membalas, “Ya, aku memang mencari masalah dengan mempertaruhkan nasib di negeri orang, nanti, tapi jika apa yang kau sebut masalah itu bisa aku temukan jawabannya, jawabannya itu nanti pasti akan bisa memecahkan masalah-masalah yang lain.”

“Alasan, bilang saja kalau kau tidak cinta sama negeri ini.”

“Aku memang berencana tinggal di Paris untuk waktu yang lama, tapi tidak untuk selamanya.”

... kalimat itu terus berlanjut, kemudian disambung dengan sanggahan lain yang kemudian dijawab dengan alasan lain. Polanya terus seperti itu sampai sang pemilik bar sendiri yang harus turun tangan melerai perdebatan kami. Saat aku melihat sudah jam berapa kini, ternyata sudah pukul tiga pagi. Langsung saja kuserahkan beberapa lembar uang yang entah itu lebih berapa lembar, langsung kepada si pemilik, dan beranjak pergi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi pada dia yang kuduga bisa menjadi kenangan indah.

Dua hari telah berlalu, dan aku sungguh tidak menyangka bisa bertemu dengannya lagi di luar bar yang terletak di sudut jalan itu. Dia, dengan kaus lecek dan jaket amburadul yang benang kainnya sudah mencuat ke mana-mana, ada di seberang jalan depan rumah singgah yang sudah ku tempati selama kurang lebih dua bulan ini. Berdiri dengan sebagian bobot tubuhnya yang disandarkan pada jok motor bebek. Berjalan pelan menghampiri, aku pun bertanya saat dirasa meter sudah memasuki jarak pendengaran. “Sedang apa kau di sini?”

“Sedang menunggu seseorang untuk meminta maaf.”

Suasana langsung berubah diam, tapi tidak canggung. Ini hanya aku yang bingung harus membalas bagaimana. Kejadian yang lalu sudah tidak aku pikirkan, bahkan ada beberapa bagian darinya yang sudah menghilang dari ingatan, tapi, boleh lah mendengarkan pengakuan yang tulus, sebab wajahnya benar-benar serius.

“Maaf, kemarin aku tidak berniat buruk atau apa pun itu. Aku hanya, tidak mengerti dengan jalan pikiranmu dan segala mimpi-mimpimu akan masa depan, karena aku orang yang bodoh,”

“Tidak ada orang bodoh yang mau mengakui dirinya bodoh.”

“Oke, terserah. Aku ke sini untuk meminta maaf, keputusanmu untuk memaafkan atau tidak, tapi yang pasti, maaf karena sudah,” dia menjilat bibir, sedang memilih diksi yang tepat, dan aku sama sekali tidak keberatan menunggu. “Maaf, apabila ada kalimat atau perbuatan dariku yang tidak mengenakkan untukmu.”

Jujur, aku sempat tertegun ketika mendengar penjelasan panjang lebar itu. Tidak kusangka pria sepertinya bisa berlaku sesopan ini, dan karena masih di dalam fase terkejut, aku hanya mengangguk atas setiap kata maafnya, juga di akhir menambahkan, “Tidak apa-apa, setiap orang punya pendapatnya masing-masing.”

“Benar.”

Kembali diam, kali ini, aku yang merasa canggung, dan sepertinya dia pun begitu, karena sedari tadi terus saja mengedar pandang tidak jelas. Tidak mau pergi atau bagaimana? Kalau begitu, aku saja yang-

“Tasmu, cuma satu?”

Tanya yang satu itu cukup mengagetkan. Melirik ke sebuah ransel besar yang aku gendong di belakang, “Ya, banyak bawaan hanya akan membuatku keluar lebih banyak uang.”

“Berangkat sekarang?”

Mengangguk, aku lalu menambahkan, “Hanya tinggal berjalan ke depan,” untuk naik ojek pangkalan.

“Kuantar.”

“Apa?”

“Sebagai permintaan maaf, mari sini kuantar. Kau mau ke bandara kan? Djuanda?”

Aku diam saja sembari memperhatikan dia yang mengambil helm di sangkutan bagian depan, lalu menjawab dengan, “Ya,” kecil ketika helm itu sudah disodorkan.

“Naik.”

Sempat merasa bimbang pada tawaran yang aneh sekaligus mencurigakan ini, pada akhirnya aku pun kalah oleh rasa tidak enak hati. Mengambil helm yang tidak memiliki kaca depan itu, aku lalu memasangnya dan segera naik ke boncengan di belakang. Cukup lama menunggu motor ini hidup karena dia harus menyentak kick starter-nya untuk beberapa kali, aku saja sampai harus turun kembali. Agak mengesalkan memang, tapi tidak apa, karena sungutan yang ada di wajahnya sempat menghibur untuk beberapa saat sebelum motor dengan bunyi kenalpot dudut ini melaju di jalanan pagi yang mulai ramai.

Dua jam lebih sedikit, adalah waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Bandara Djuanda. Aku langsung saja menyerahkan helm ketika turun dari motor. Jangan sampai helm itu ikut terbawa sampai ke Paris, seperti pengalamanku yang sudah-sudah. Bukan di Paris, tapi di tempat lain.

“Terima kasih, sudah mengantar.”

Dia hanya mengangguk sebagai balasan. Satu cara yang tepat untuk membunuh konversasi. Duh. Sudah, begini saja? Tidak mau mengucapkan salam terakhir?

“Uhh, terima kasih atas pelayanannya di bar. Salam pada Bos juga, maaf aku tidak sempat pamit padanya.” Padahal dia sudah baik sekali padaku selama ini.

“Akan ku sampaikan.”

“Bagus, jadi ....”

“Kau tidak pergi?” tanyanya sambil mengangkat sebelah alis yang langsung aku balas dengan hentakan kaki kesal dan juga seruan, “Ini! Mau pergi,” entah kenapa suaraku mengecil di akhir, oh Tuhan.

“Oke, hati-hati di jalan.”

Aku terus menunduk, karena merasa seperti sedang diperhatikan.

“Jangan muntah.”

Kesal dengan kalimat yang seakan meremehkan itu, aku langsung saja mengangkat kepala hanya untuk,

Cup

... bertemu dengan bibirnya, bibirku.

“Minum obat, atau apa, permen, supaya ga mabuk. Oh ya, itu tadi kuambil sebagai bayaran.”

“Bayaran apa!?”

“Bayaran jasa mengantarmu dari Surabaya sampai ke sini.”

“Tapi tadi katanya mengantar untuk minta maaf!?”

Benar-benar. Orang ini benar-benar tidak bisa dipercaya.

“Ya, itu untuk bagian bensin, sebagai permintaan maaf. Soal jasa, itu lain hal.”

KAN! Menyebalkan sekali. Tidak tahu harus membalas apa lagi, pada akhirnya aku hanya menggerutu tidak jelas seperti anak gadis yang kesal karena dijahili oleh anak lelaki yang nakal. Tuhan! Bahkan ketika 100 meter sudah kutempuh pun dia masih saja bisa berteriak, “Kau bisa berenang kan?! Jangan sampai membuat orang tuamu menangis kalau-kalau pesawatnya jatuh!”

Ya iya kalau jatuhnya di laut, kalau di darat bagaimana coba!? Urghhh.


8 tahun kemudian,

“Bimo! Akhirnya kamu sampai. Pasti capek ya? Laper? Kita makan dulu ya, paman sama bibi udah nungguin di dalam. Ada kakek juga, dia udah semangat banget dari tadi pagi nungguin kamu pulang.”

“Kakek sehat?”

Melihat wajah wanita yang sudah melahirkanmu setelah sekian tahun lamanya tidak bertemu tentu saja mengharukan. Dadaku berdenyut sakit, tapi napas yang dihembus melegakan.

“Sehat, cuma jadi kurang mau makan aja akhir-akhir ini, sayangnya.”

“Kalau aku yang nyuapin, pasti makannya bakal lahap.”

Ibu hanya tersenyum sangsi atas kalimatku yang –memang– menggelikan itu, dia lalu mencibir, “Pede banget kamu.”

“Oh iya dong. Anak siapa dulu? Wijaya Notonegoro,” kataku sambil menepuk dada sendiri, berbarengan dengan langkah kami yang ternyata sudah sampai di ambang pintu ruang keluarga, membuat semua orang yang ada di dalamnya tertawa, ada yang geli dan terbahak-bahak. Aku langsung saja menghampiri satu yang paling sepuh di sana.

“Kakek!”


“Semua! Waktunya istirahat! Hakim, bisa bicara sebentar?”

Suara mesin pengerek, pengaduk semen, pemotong baja, dan bunyi tak tak dari batu bata yang disusun rapih sampai ke tiang yang diseret ke sana ke mari pun pelan berangsur berhenti seiring dengan bel tanda istirahat yang berbunyi nyaring. Para pekerja konstruksi yang memakai atribut lengkap dari helm sampai sepatu boots itu pun meninggalkan pekerjaan mereka barang sebentar untuk mengisi perut yang lapar. Satu di antara yang tengah berjalan tiba-tiba berhenti karena sebuah panggilan.

“Hakim!”

“Ya, Pak, kenapa?”

Yang dipanggil Hakim lalu mendekat ke arah atasannya yang terus saja melambaikan tangan, menyuruh ke sini. Saat yang dipanggil sudah sampai di hadapan, ia langsung saja mengutarakan tujuan. “Kamu, ga punya tanggungan apa-apa kan? Kayak misalnya, anak atau orang tua yang, sayang banget sama kamu?”

Meski sedikit bingung dengan pertanyaan itu, Hakim tetap menjawab, “Anak ga punya, Pak, tapi kalau Ibu, Alhamdulillah masih sehat, Pak, walau sering sakit batuk akhir-akhir ini.”

“Udah kamu bawa ke rumah sakit?”

“Udah, Pak.”

“Beliau ada yang ngurus ga? Saya ga enak kalau misalkan harus misahin orang yang lagi sakit jauh dari anaknya.”

“Maksud Bapak?”

“Karena kinerjamu bagus, kamu, Aryo, sama tiga orang lagi, bakal saya kirim ke Jakarta, mereka lagi gembor-gembornya bangun jalan di sana-sini, butuh banyak orang. Mau, kan? Pergi ke Jakarta.”

Bohong apabila ia jawab tidak.

“Kalau saya nolak pun,”

“Ya jangan! Kamu tuh punya bibit, harus disiram terus, harus dipupuk terus sama ilmu-ilmu baru. Jangan puas sampai di sini aja.”

“Iya, Pak.”

“Jadi, mau ya? Bulan depan, ke Jakartanya. Ajak satu orang lagi siapa gitu yang kompeten, dari tim kamu.”

“Gimana kalau Jamin, Pak? Orangnya cukup antusias menurut saya, walaupun pendiam. Kerjaannya juga bagus.”

“Boleh, kamu kasih aja surat rekomendasinya ke meja saya, ya.”

“Baik, Pak.”

“Ya udah sana makan, biar kuat lagi ngangkat betonnya. HAHAHA.”


“Bimo, kamu baru dua bulan lho, di Palembang. Masa harus pergi lagi?” Mata yang sudah sayu namun masih memancarkan semangat kehidupan yang hangat itu menatap malas pada anaknya yang sedang berkutat dengan banyak sekali macam kertas dan buku.

“Kan ke Jakarta doang, Mah. Sebentar.”

“Ya, sebentarnya kamu tuh bukan sehari dua hari, masalahnya.”

“Aku kan di sana kerja, bukan ngehambur-hamburin uang.”

“Emangnya ga bisa di sini aja? Kerjaanmu kan bisa pakai komputer toh.”

“Ya iya, bisa, cuma kan ini aku harus ketemu sama ahlinya langsung biar bisa diskusi. Ga enak kalau lewat telepon.”

“Kamu tuh, ga bisaaaa, ga bikin Mamah khawatir.” Hela napas setelahnya sengaja dihembus kencang, agar anak semata wayang sadar bahwa ia di sini tengah keberatan, tapi apalah daya jiwa yang sudah banyak menyecap garam ini dengan dia yang bagai tunas muda? Tidak sebanding. Di ujung pembicaraan, ia tahu bahwa ia yang harus memanjangkan tali kesabaran.

“Aku gede begini siapa yang mau nyulik sih, Mah.”

“Nyulik engga, sering masuk rumah sakit, iya. Lihat, itu kami tulang semua ga ada daging, mana enak dipegang.”

“Hush, Mamah! Emangnya apa yang mau dipegang? Siapa juga lagi yang mau pegang-pegang.”

Mengabaikan yang satu itu, Jelita Senja di sini pun mendekat, menaruh satu tangannya di pundak buah hati kesayangan, lalu meremasnya dengan cukup erat.

“Pokoknya, kamu harus telepon tiap hari. Biaya telepon dalam negara kan murah, gak kayak kalau keluar.”

Mengambil tangan itu untuk kemudian digenggam, Bimo mengucap janji, “Aku usahain,” yang tak kunjung mendapat respon apa-apa selama beberapa detik ke depan, sampai akhirnya senyum tulus dari dalam hati ia tunjukkan. “Iya, iya aku telepon setiap hari, ” tapi tetap saja masih ada alasan, “kalau sempet.” Setelahnya ia mengaduh karena keningnya dijitak cukup keras.


“Mas.”

Sambil mengikat sepatu, ia membalas itu dengan dehaman.

“Hati-hati di jalan ya,” pesan seorang wanita muda di belakang, lekat sekali memperhatikan punggung yang sebentar lagi akan pergi, jauh, ke tempat yang tidak bisa ia susul.

“Iya. Lagi juga, emangnya aku anak kecil yang ga bisa tengok kanan kiri, kalau nyebrang jalan.”

“Jakarta kan luas, Mas.”

“Surabaya juga luas, Dek, dan aku masih utuh sampai sekarang.”

“Bukan itu masalahnya.”

“Terus apa masalahnya?” Telapak tangan kasar perlahan hinggap di pucuk kepala lainnya, mengusak halus seraya memberikan senyuman hangat. “Aku ke Jakarta kan buat nyari uang, buat kamu, buat Ibu.”

Melepas tangan itu dari kepala, si wanita lalu menggenggamnya erat. “Iya, tahu, aku ngerti, tapi tetep aja rasanya ada yang ngeganjel.”

“Makan batu kamu tah?”

Melepas tangan itu kasar, ia juga menyeru, “Mas, ih! Serius.”

“Jangan serius-serius, nanti cepet tua. Aku titip Ibu, ya. Apa pun maunya Ibu, kamu turutin aja, asal ga bahaya. Kalau ada apa-apa, cepet telepon Mas. Pasti langsung Mas jawab di dering pertama.”

“Aku kan nelepon juga ke nomor telepon kantormu, Mas. Jangan ngaco.”

Raut si wanita sudah lebih hidup daripada yang tadi, membuat si lelaki tersenyum. “Nah, gitu dong. Jangan cemberut terus nanti jelek.”

Balasan setelah itu yang ia dapat hanyalah gerutuan, maka, pamitlah ia. “Ya udah, aku berangkat dulu ya. Kamu cepet itu, beli bubur, nanti keburu abis, nangis.”

“Iya.”

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

End.

Kelana

• Ham Wonjin as Hamdan Hakim

•Koo Jungmo as Raden Bimo Notonegoro

•Seo Woobin as Rudi

Setting cerita berkisar di tahun 1960-an, Indonesia.

Rating T

2k+ words


Riuh ramainya suara denting gelas yang beradu dengan cerita-cerita tentang hari ini bahkan tidak cukup untuk membuat telinga itu abai akan suara ketukan yang disusul siulan dua kali, dan di antara kepulan asap tipis dari cerutu-cerutu yang dihisap khidmat, sosoknya selalu bisa muncul dengan cekatan, menghampiri satu sudut ke sudut lainnya sambil terus mempertahankan senyuman. Langsung saja telunjukku mengangkat satu ke udara seraya mengucapkan, “Merlot.”

Anggukan kecil datang darinya yang mengawali sesi meracik minuman yang acap kali mendapatkan decak kagum pelanggan, dan aku tidak sedikit pun mengalihkan walau hanya melirik dari sudut pandang. Sosoknya begitu menarik walau dalam balutan pakaian lecek sekalipun. Aku yakin dia hanya asal menindas saat menggosok baju itu dengan arang. Tidak lama setelah itu, segelas minuman berwarna merah pekat pun tersaji di hadapan, bersamaan dengan daun pintu kembar yang didobrak kasar. Gerutuan bercampur geram pun terdengar dari balik gigi yang digertak rapat, sebelum dia berteriak memanggil si Bos.

“Rudi! Woi! Tamu kamu dateng ini!”

“Siapa tamu-oalah juancok! Dia lagi.”

Sambil menyisip minuman, bisik-bisik tentang sambatan akan tiga pria berseragam yang baru saja tiba pun tak sengaja aku dengar. Kurang lebih isinya tentang kenapa para otoriter itu bersikap seperti bajingan. Untuk yang satu itu, aku tidak bisa menanggapi apa-apa, karena tempat ini pun bisa ada karena belas kasihan mereka. Satu dari sekian banyak ironi kehidupan. Cukup lama rasanya mendengarkan dua pihak itu bersitegang sebelum para pria berseragam menghardik untuk yang terakhir kali, “Kalau ga ada saya, tempat ini udah ditutup dari dulu! Bersyukur jadi orang! Tahu balas budi,” kemudian pergi dengan masing-masing dua botol minuman di tangan kiri dan kanan. Hela napas lelah yang timbul karena tidak bisa berbuat apa-apa pun hanya aku balas dengan senyum prihatin. Mungkin sebaiknya aku memberikan tip lebih nanti atas pelayanan mereka yang memuaskan.

“Maaf atas keributan yang tadi, tidak bisa kami dihindari,” ucapnya saat situasi telah menjadi riuh rendah kembali. Aku mengangguk sambil menelengkan kepala sedikit ke kanan, tanda bahwa hal seperti itu bisa terjadi ke siapa saja, lalu menyarankan, “Bagaimana dengan sedikit musik? Agar suasananya meriah kembali.” Seulas senyum persuasif aku tunjukkan secara cuma-cuma yang langsung mendapat persetujuan darinya. Ia lalu pergi ke arah panggung kecil yang berada di sudut kiri bar, dan bersiap dengan trumpet-nya. Setelah diskusi kecil dengan para pemain instrumen yang lain, alunan nada kecil-kecil yang menghentak pun terdengar, perlahan berfluktuasi sampai membuat semua orang berdiri, menggerakkannya satu kaki ke sana dan ke sini yang disusul oleh kaki lainnya, semakin menyemarakkan suasana di sore hari yang cerah. Pandanganku pun sempat sesekali bertukar dengannya.


“Hakim! Buang sampah!”

Perintah itu dijawab dengan seruan afirmasi, dan entah sudah kali ke-berapa dia berjalan, lewat di hadapanku, aku tak menghitung, tapi cukup untuk menyadari bahwa tidak ada gurat kelelahan sama sekali pada diri yang senantiasa berjibaku dengan tugas. Menjadi muda adalah sebuah anugerah. Tak sadar, aku sepertinya tertawa sendiri atas pemikiran itu, yang mana juga mengundang kekeh tawa geli darinya. Entah sejak kapan dia berdiri di sana, di hadapanku, di seberang meja.

“Masih di sini?”

Pertanyaan retorisnya kujawab dengan senyum kecil sebelum membalas, “Kenapa? Hendak mengusirku?”

Dia menggeleng dengan senyuman geli kemudian berlalu, entah mau ke mana tapi yang jelas ia mengarah ke arahku. Kesempatan itu tentu saja tidak aku sia-siakan. Langsung saja bibir ini mengucap, “Aku mungkin tidak akan datang lagi.”

Dia berhenti tepat di sampingku, kemudian bertanya, “Kenapa?”

Tetap diam di kursi, dengan postur yang tegak, kali ini, dan pandangan mata lurus ke depan, aku menjawab, “Aku akan pergi ke Paris, lusa.”

Suara tawa yang terdengar selanjutnya penuh dengan ketertarikan. Derik dari sudut kaki yang ditarik, beradu dengan lantai cukup membuat telinga sakit. Sepertinya benar bahwa menjadi muda adalah anugerah yang terindah. Kau tidak akan letih bahkan ketika malam telah mencapai puncaknya.

“Paris? Untuk apa ke Paris? Kau ada kerjaan di sana?”

“Ya, dan tidak.”

Alisnya yang menukik di tengah dahi itu lucu, sekaligus menakutkan. Kalau dia menatap orang lain dengan raut seperti itu mungkin akan dikira mengajak ribut. Aku lalu menjelaskan tentang ini dan itu, tentang keinginan untuk menjelajah dunia, dan ambisi untuk menemukan sesuatu yang baru, dan bukannya antusias seperti saat ia mendengar kata Paris, tadi. Mukanya kini malah dipenuhi kemasaman dan juga pandangan skeptis, yang seakan-akan mencemooh rencana hidup yang sudah kususun dari jauh-jauh hari. Jauh, sebelum pertemuanku dengannya bahkan terjadi.

“Kau tahu, untuk apa repot-repot ke Paris kalau pada akhirnya sama saja.”

“Sama saja, bagaimana?” aku bertanya dengan bibir yang mengurva aneh, karena menahan tawa.

“Kau, ke Paris untuk mencari, apa itu bahasa yang aku tidak tahu, sama saja dengan mencari masalah, bukan? Hidup di belahan bumi mana pun itu sama saja. Pasti masalah, masalah, masalah yang akan kau hadapi, mau itu di Surabaya atau di menara Eiffel sekalipun. Jadi menurutku, untuk apa susah-susah ke negara orang untuk mencari masalah kalau kau masih bisa menemukan masalah itu di sini.”

Kalimat itu ia tandaskan sambil mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk, dan tidak lagi dapat menahan, tawaku langsung menyembur dengan beberapa partikel basah yang juga ikut keluar, membuatnya mengernyit jijik. Setelah menyeka air yang keluar di sudut mata, aku pun membalas, “Ya, aku memang mencari masalah dengan mempertaruhkan nasib di negeri orang, nanti, tapi jika apa yang kau sebut masalah itu bisa aku temukan jawabannya, jawabannya itu nanti pasti akan bisa memecahkan masalah-masalah yang lain.”

“Alasan, bilang saja kalau kau tidak cinta sama negeri ini.”

“Aku memang berencana tinggal di Paris untuk waktu yang lama, tapi tidak untuk selamanya.”

... kalimat itu terus berlanjut, kemudian disambung dengan sanggahan lain yang kemudian dijawab dengan alasan lain. Polanya terus seperti itu sampai sang pemilik bar sendiri yang harus turun tangan melerai perdebatan kami. Saat aku melihat sudah jam berapa kini, ternyata sudah pukul tiga pagi. Langsung saja kuserahkan beberapa lembar uang yang entah itu lebih berapa lembar, langsung kepada si pemilik, dan beranjak pergi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi pada dia yang kuduga bisa menjadi kenangan indah.

Dua hari telah berlalu, dan aku sungguh tidak menyangka bisa bertemu dengannya lagi di luar bar yang terletak di sudut jalan itu. Dia, dengan kaus lecek dan jaket amburadul yang benang kainnya sudah mencuat ke mana-mana, ada di seberang jalan depan rumah singgah yang sudah ku tempati selama kurang lebih dua bulan ini. Berdiri dengan sebagian bobot tubuhnya yang disandarkan pada jok motor bebek. Berjalan pelan menghampiri, aku pun bertanya saat dirasa meter sudah memasuki jarak pendengaran. “Sedang apa kau di sini?”

“Sedang menunggu seseorang untuk meminta maaf.”

Suasana langsung berubah diam, tapi tidak canggung. Ini hanya aku yang bingung harus membalas bagaimana. Kejadian yang lalu sudah tidak aku pikirkan, bahkan ada beberapa bagian darinya yang sudah menghilang dari ingatan, tapi, boleh lah mendengarkan pengakuan yang tulus, sebab wajahnya benar-benar serius.

“Maaf, kemarin aku tidak berniat buruk atau apa pun itu. Aku hanya, tidak mengerti dengan jalan pikiranmu dan segala mimpi-mimpimu akan masa depan, karena aku orang yang bodoh,”

“Tidak ada orang bodoh yang mau mengakui dirinya bodoh.”

“Oke, terserah. Aku ke sini untuk meminta maaf, keputusanmu untuk memaafkan atau tidak, tapi yang pasti, maaf karena sudah,” dia menjilat bibir, sedang memilih diksi yang tepat, dan aku sama sekali tidak keberatan menunggu. “Maaf, apabila ada kalimat atau perbuatan dariku yang tidak mengenakkan untukmu.”

Jujur, aku sempat tertegun ketika mendengar penjelasan panjang lebar itu. Tidak kusangka pria sepertinya bisa berlaku sesopan ini, dan karena masih di dalam fase terkejut, aku hanya mengangguk atas setiap kata maafnya, juga di akhir menambahkan, “Tidak apa-apa, setiap orang punya pendapatnya masing-masing.”

“Benar.”

Kembali diam, kali ini, aku yang merasa canggung, dan sepertinya dia pun begitu, karena sedari tadi terus saja mengedar pandang tidak jelas. Tidak mau pergi atau bagaimana? Kalau begitu, aku saja yang-

“Tasmu, cuma satu?”

Tanya yang satu itu cukup mengagetkan. Melirik ke sebuah ransel besar yang aku gendong di belakang, “Ya, banyak bawaan hanya akan membuatku keluar lebih banyak uang.”

“Berangkat sekarang?”

Mengangguk, aku lalu menambahkan, “Hanya tinggal berjalan ke depan,” untuk naik ojek pangkalan.

“Kuantar.”

“Apa?”

“Sebagai permintaan maaf, mari sini kuantar. Kau mau ke bandara kan? Djuanda?”

Aku diam saja sembari memperhatikan dia yang mengambil helm di sangkutan bagian depan, lalu menjawab dengan, “Ya,” kecil ketika helm itu sudah disodorkan.

“Naik.”

Sempat merasa bimbang pada tawaran yang aneh sekaligus mencurigakan ini, pada akhirnya aku pun kalah oleh rasa tidak enak hati. Mengambil helm yang tidak memiliki kaca depan itu, aku lalu memasangnya dan segera naik ke boncengan di belakang. Cukup lama menunggu motor ini hidup karena dia harus menyentak kick starter-nya untuk beberapa kali, aku saja sampai harus turun kembali. Agak mengesalkan memang, tapi tidak apa, karena sungutan yang ada di wajahnya sempat menghibur untuk beberapa saat sebelum motor dengan bunyi kenalpot dudut ini melaju di jalanan pagi yang mulai ramai.

Dua jam lebih sedikit, adalah waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Bandara Djuanda. Aku langsung saja menyerahkan helm ketika turun dari motor. Jangan sampai helm itu ikut terbawa sampai ke Paris, seperti pengalamanku yang sudah-sudah. Bukan di Paris, tapi di tempat lain.

“Terima kasih, sudah mengantar.”

Dia hanya mengangguk sebagai balasan. Satu cara yang tepat untuk membunuh konversasi. Duh. Sudah, begini saja? Tidak mau mengucapkan salam terakhir?

“Uhh, terima kasih atas pelayanannya di bar. Salam pada Bos juga, maaf aku tidak sempat pamit padanya.” Padahal dia sudah baik sekali padaku selama ini.

“Akan ku sampaikan.”

“Bagus, jadi ....”

“Kau tidak pergi?” tanyanya sambil mengangkat sebelah alis yang langsung aku balas dengan hentakan kaki kesal dan juga seruan, “Ini! Mau pergi,” entah kenapa suaraku mengecil di akhir, oh Tuhan.

“Oke, hati-hati di jalan.”

Aku terus menunduk, karena merasa seperti sedang diperhatikan.

“Jangan muntah.”

Kesal dengan kalimat yang seakan meremehkan itu, aku langsung saja mengangkat kepala hanya untuk,

Cup

... bertemu dengan bibirnya, bibirku.

“Minum obat, atau apa, permen, supaya ga mabuk. Oh ya, itu tadi kuambil sebagai bayaran.”

“Bayaran apa!?”

“Bayaran jasa mengantarmu dari Surabaya sampai ke sini.”

“Tapi tadi katanya mengantar untuk minta maaf!?”

Benar-benar. Orang ini benar-benar tidak bisa dipercaya.

“Ya, itu untuk bagian bensin, sebagai permintaan maaf. Soal jasa, itu lain hal.”

KAN! Menyebalkan sekali. Tidak tahu harus membalas apa lagi, pada akhirnya aku hanya menggerutu tidak jelas seperti anak gadis yang kesal karena dijahili oleh anak lelaki yang nakal. Tuhan! Bahkan ketika 100 meter sudah kutempuh pun dia masih saja bisa berteriak, “Kau bisa berenang kan?! Jangan sampai membuat orang tuamu menangis kalau-kalau pesawatnya jatuh!”

Ya iya kalau jatuhnya di laut, kalau di darat bagaimana coba!? Urghhh.


8 tahun kemudian,

“Bimo! Akhirnya kamu sampai. Pasti capek ya? Laper? Kita makan dulu ya, paman sama bibi udah nungguin di dalam. Ada kakek juga, dia udah semangat banget dari tadi pagi nungguin kamu pulang.”

“Kakek sehat?”

Melihat wajah wanita yang sudah melahirkanmu setelah sekian tahun lamanya tidak bertemu tentu saja mengharukan. Dadaku berdenyut sakit, tapi napas yang dihembus melegakan.

“Sehat, cuma jadi kurang mau makan aja akhir-akhir ini, sayangnya.”

“Kalau aku yang nyuapin, pasti makannya bakal lahap.”

Ibu hanya tersenyum sangsi atas kalimatku yang –memang– menggelikan itu, dia lalu mencibir, “Pede banget kamu.”

“Oh iya dong. Anak siapa dulu? Wijaya Notonegoro,” kataku sambil menepuk dada sendiri, berbarengan dengan langkah kami yang ternyata sudah sampai di ambang pintu ruang keluarga, membuat semua orang yang ada di dalamnya tertawa, ada yang geli dan terbahak-bahak. Aku langsung saja menghampiri satu yang paling sepuh di sana.

“Kakek!”


“Semua! Waktunya istirahat! Hakim, bisa bicara sebentar?”

Suara mesin pengerek, pengaduk semen, pemotong baja, dan bunyi tak tak dari batu bata yang disusun rapih sampai ke tiang yang diseret ke sana ke mari pun pelan berangsur berhenti seiring dengan bel tanda istirahat yang berbunyi nyaring. Para pekerja konstruksi yang memakai atribut lengkap dari helm sampai sepatu boots itu pun meninggalkan pekerjaan mereka barang sebentar untuk mengisi perut yang lapar. Satu di antara yang tengah berjalan tiba-tiba berhenti karena sebuah panggilan.

“Hakim!”

“Ya, Pak, kenapa?”

Yang dipanggil Hakim lalu mendekat ke arah atasannya yang terus saja melambaikan tangan, menyuruh ke sini. Saat yang dipanggil sudah sampai di hadapan, ia langsung saja mengutarakan tujuan. “Kamu, ga punya tanggungan apa-apa kan? Kayak misalnya, anak atau orang tua yang, sayang banget sama kamu?”

Meski sedikit bingung dengan pertanyaan itu, Hakim tetap menjawab, “Anak ga punya, Pak, tapi kalau Ibu, Alhamdulillah masih sehat, Pak, walau sering sakit batuk akhir-akhir ini.”

“Udah kamu bawa ke rumah sakit?”

“Udah, Pak.”

“Beliau ada yang ngurus ga? Saya ga enak kalau misalkan harus misahin orang yang lagi sakit jauh dari anaknya.”

“Maksud Bapak?”

“Karena kinerjamu bagus, kamu, Aryo, sama tiga orang lagi, bakal saya kirim ke Jakarta, mereka lagi gembor-gembornya bangun jalan di sana-sini, butuh banyak orang. Mau, kan? Pergi ke Jakarta.”

Bohong apabila ia jawab tidak.

“Kalau saya nolak pun,”

“Ya jangan! Kamu tuh punya bibit, harus disiram terus, harus dipupuk terus sama ilmu-ilmu baru. Jangan puas sampai di sini aja.”

“Iya, Pak.”

“Jadi, mau ya? Bulan depan, ke Jakartanya. Ajak satu orang lagi siapa gitu yang kompeten, dari tim kamu.”

“Gimana kalau Jamin, Pak? Orangnya cukup antusias menurut saya, walaupun pendiam. Kerjaannya juga bagus.”

“Boleh, kamu kasih aja surat rekomendasinya ke meja saya, ya.”

“Baik, Pak.”

“Ya udah sana makan, biar kuat lagi ngangkat betonnya. HAHAHA.”


“Bimo, kamu baru dua bulan lho, di Palembang. Masa harus pergi lagi?” Mata yang sudah sayu namun masih memancarkan semangat kehidupan yang hangat itu menatap malas pada anaknya yang sedang berkutat dengan banyak sekali macam kertas dan buku.

“Kan ke Jakarta doang, Mah. Sebentar.”

“Ya, sebentarnya kamu tuh bukan sehari dua hari, masalahnya.”

“Aku kan di sana kerja, bukan ngehambur-hamburin uang.”

“Emangnya ga bisa di sini aja? Kerjaanmu kan bisa pakai komputer toh.”

“Ya iya, bisa, cuma kan ini aku harus ketemu sama ahlinya langsung biar bisa diskusi. Ga enak kalau lewat telepon.”

“Kamu tuh, ga bisaaaa, ga bikin Mamah khawatir.” Hela napas setelahnya sengaja dihembus kencang, agar anak semata wayang sadar bahwa ia di sini tengah keberatan, tapi apalah daya jiwa yang sudah banyak menyecap garam ini dengan dia yang bagai tunas muda? Tidak sebanding. Di ujung pembicaraan, ia tahu bahwa ia yang harus memanjangkan tali kesabaran.

“Aku gede begini siapa yang mau nyulik sih, Mah.”

“Nyulik engga, sering masuk rumah sakit, iya. Lihat, itu kami tulang semua ga ada daging, mana enak dipegang.”

“Hush, Mamah! Emangnya apa yang mau dipegang? Siapa juga lagi yang mau pegang-pegang.”

Mengabaikan yang satu itu, Jelita Senja di sini pun mendekat, menaruh satu tangannya di pundak buah hati kesayangan, lalu meremasnya dengan cukup erat.

“Pokoknya, kamu harus telepon tiap hari. Biaya telepon dalam negara kan murah, gak kayak kalau keluar.”

Mengambil tangan itu untuk kemudian digenggam, Bimo mengucap janji, “Aku usahain,” yang tak kunjung mendapat respon apa-apa selama beberapa detik ke depan, sampai akhirnya senyum tulus dari dalam hati ia tunjukkan. “Iya, iya aku telepon setiap hari, ” tapi tetap saja masih ada alasan, “kalau sempet.” Setelahnya ia mengaduh karena keningnya dijitak cukup keras.


“Mas.”

Sambil mengikat sepatu, ia membalas itu dengan dehaman.

“Hati-hati di jalan ya,” pesan seorang wanita muda di belakang, lekat sekali memperhatikan punggung yang sebentar lagi akan pergi, jauh, ke tempat yang tidak bisa ia susul.

“Iya. Lagi juga, emangnya aku anak kecil yang ga bisa tengok kanan kiri, kalau nyebrang jalan.”

“Jakarta kan luas, Mas.”

“Surabaya juga luas, Dek, dan aku masih utuh sampai sekarang.”

“Bukan itu masalahnya.”

“Terus apa masalahnya?” Telapak tangan kasar perlahan hinggap di pucuk kepala lainnya, mengusak halus seraya memberikan senyuman hangat. “Aku ke Jakarta kan buat nyari uang, buat kamu, buat Ibu.”

Melepas tangan itu dari kepala, si wanita lalu menggenggamnya erat. “Iya, tahu, aku ngerti, tapi tetep aja rasanya ada yang ngeganjel.”

“Makan batu kamu tah?”

Melepas tangan itu kasar, ia juga menyeru, “Mas, ih! Serius.”

“Jangan serius-serius, nanti cepet tua. Aku titip Ibu, ya. Apa pun maunya Ibu, kamu turutin aja, asal ga bahaya. Kalau ada apa-apa, cepet telepon Mas. Pasti langsung Mas jawab di dering pertama.”

“Aku kan nelepon juga ke nomor telepon kantormu, Mas. Jangan ngaco.”

Raut si wanita sudah lebih hidup daripada yang tadi, membuat si lelaki tersenyum. “Nah, gitu dong. Jangan cemberut terus nanti jelek.”

Balasan setelah itu yang ia dapat hanyalah gerutuan, maka, pamitlah ia. “Ya udah, aku berangkat dulu ya. Kamu cepet itu, beli bubur, nanti keburu abis, nangis.”

“Iya.”

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

End.

Kelana

Ham Wonjin as Hamdan Hakim Koo Jungmo as Raden Bimo Notonegoro Seo Woobin as Rudi Setting cerita berkisar di tahun 1960-an, Indonesia. Rating T 2k+ words


Riuh ramainya suara denting gelas yang beradu dengan cerita-cerita tentang hari ini bahkan tidak cukup untuk membuat telinga itu abai akan suara ketukan yang disusul siulan dua kali, dan di antara kepulan asap tipis dari cerutu-cerutu yang dihisap khidmat, sosoknya selalu bisa muncul dengan cekatan, menghampiri satu sudut ke sudut lainnya sambil terus mempertahankan senyuman. Langsung saja telunjukku mengangkat satu ke udara seraya mengucapkan, “Merlot.”

Anggukan kecil datang darinya yang mengawali sesi meracik minuman yang acap kali mendapatkan decak kagum pelanggan, dan aku tidak sedikit pun mengalihkan walau hanya melirik dari sudut pandang. Sosoknya begitu menarik walau dalam balutan pakaian lecek sekalipun. Aku yakin dia hanya asal menindas saat menggosok baju itu dengan arang. Tidak lama setelah itu, segelas minuman berwarna merah pekat pun tersaji di hadapan, bersamaan dengan daun pintu kembar yang didobrak kasar. Gerutuan bercampur geram pun terdengar dari balik gigi yang digertak rapat, sebelum dia berteriak memanggil si Bos.

“Rudi! Woi! Tamu kamu dateng ini!”

“Siapa tamu-oalah juancok! Dia lagi.”

Sambil menyisip minuman, bisik-bisik tentang sambatan akan tiga pria berseragam yang baru saja tiba pun tak sengaja aku dengar. Kurang lebih isinya tentang kenapa para otoriter itu bersikap seperti bajingan. Untuk yang satu itu, aku tidak bisa menanggapi apa-apa, karena tempat ini pun bisa ada karena belas kasihan mereka. Satu dari sekian banyak ironi kehidupan. Cukup lama rasanya mendengarkan dua pihak itu bersitegang sebelum para pria berseragam menghardik untuk yang terakhir kali, “Kalau ga ada saya, tempat ini udah ditutup dari dulu! Bersyukur jadi orang! Tahu balas budi,” kemudian pergi dengan masing-masing dua botol minuman di tangan kiri dan kanan. Hela napas lelah yang timbul karena tidak bisa berbuat apa-apa pun hanya aku balas dengan senyum prihatin. Mungkin sebaiknya aku memberikan tip lebih nanti atas pelayanan mereka yang memuaskan.

“Maaf atas keributan yang tadi, tidak bisa kami dihindari,” ucapnya saat situasi telah menjadi riuh rendah kembali. Aku mengangguk sambil menelengkan kepala sedikit ke kanan, tanda bahwa hal seperti itu bisa terjadi ke siapa saja, lalu menyarankan, “Bagaimana dengan sedikit musik? Agar suasananya meriah kembali.” Seulas senyum persuasif aku tunjukkan secara cuma-cuma yang langsung mendapat persetujuan darinya. Ia lalu pergi ke arah panggung kecil yang berada di sudut kiri bar, dan bersiap dengan trumpet-nya. Setelah diskusi kecil dengan para pemain instrumen yang lain, alunan nada kecil-kecil yang menghentak pun terdengar, perlahan berfluktuasi sampai membuat semua orang berdiri, menggerakkannya satu kaki ke sana dan ke sini yang disusul oleh kaki lainnya, semakin menyemarakkan suasana di sore hari yang cerah. Pandanganku pun sempat sesekali bertukar dengannya.

“Hakim! Buang sampah!”

Perintah itu dijawab dengan seruan afirmasi, dan entah sudah kali ke-berapa dia berjalan, lewat di hadapanku, aku tak menghitung, tapi cukup untuk menyadari bahwa tidak ada gurat kelelahan sama sekali pada diri yang senantiasa berjibaku dengan tugas. Menjadi muda adalah sebuah anugerah. Tak sadar, aku sepertinya tertawa sendiri atas pemikiran itu, yang mana juga mengundang kekeh tawa geli darinya. Entah sejak kapan dia berdiri di sana, di hadapanku, di seberang meja.

“Masih di sini?”

Pertanyaan retorisnya kujawab dengan senyum kecil sebelum membalas, “Kenapa? Hendak mengusirku?”

Dia menggeleng dengan senyuman geli kemudian berlalu, entah mau ke mana tapi yang jelas ia mengarah ke arahku. Kesempatan itu tentu saja tidak aku sia-siakan. Langsung saja bibir ini mengucap, “Aku mungkin tidak akan datang lagi.”

Dia berhenti tepat di sampingku, kemudian bertanya, “Kenapa?”

Tetap diam di kursi, dengan postur yang tegak, kali ini, dan pandangan mata lurus ke depan, aku menjawab, “Aku akan pergi ke Paris, lusa.”

Suara tawa yang terdengar selanjutnya penuh dengan ketertarikan. Derik dari sudut kaki yang ditarik, beradu dengan lantai cukup membuat telinga sakit. Sepertinya benar bahwa menjadi muda adalah anugerah yang terindah. Kau tidak akan letih bahkan ketika malam telah mencapai puncaknya.

“Paris? Untuk apa ke Paris? Kau ada kerjaan di sana?”

“Ya, dan tidak.”

Alisnya yang menukik di tengah dahi itu lucu, sekaligus menakutkan. Kalau dia menatap orang lain dengan raut seperti itu mungkin akan dikira mengajak ribut. Aku lalu menjelaskan tentang ini dan itu, tentang keinginan untuk menjelajah dunia, dan ambisi untuk menemukan sesuatu yang baru, dan bukannya antusias seperti saat ia mendengar kata Paris, tadi. Mukanya kini malah dipenuhi kemasaman dan juga pandangan skeptis, yang seakan-akan mencemooh rencana hidup yang sudah kususun dari jauh-jauh hari. Jauh, sebelum pertemuanku dengannya bahkan terjadi.

“Kau tahu, untuk apa repot-repot ke Paris kalau pada akhirnya sama saja.”

“Sama saja, bagaimana?” aku bertanya dengan bibir yang mengurva aneh, karena menahan tawa.

“Kau, ke Paris untuk mencari, apa itu bahasa yang aku tidak tahu, sama saja dengan mencari masalah, bukan? Hidup di belahan bumi mana pun itu sama saja. Pasti masalah, masalah, masalah yang akan kau hadapi, mau itu di Surabaya atau di menara Eiffel sekalipun. Jadi menurutku, untuk apa susah-susah ke negara orang untuk mencari masalah kalau kau masih bisa menemukan masalah itu di sini.”

Kalimat itu ia tandaskan sambil mengetuk-ngetuk meja dengan telunjuk, dan tidak lagi dapat menahan, tawaku langsung menyembur dengan beberapa partikel basah yang juga ikut keluar, membuatnya mengernyit jijik. Setelah menyeka air yang keluar di sudut mata, aku pun membalas, “Ya, aku memang mencari masalah dengan mempertaruhkan nasib di negeri orang, nanti, tapi jika apa yang kau sebut masalah itu bisa aku temukan jawabannya, jawabannya itu nanti pasti akan bisa memecahkan masalah-masalah yang lain.”

“Alasan, bilang saja kalau kau tidak cinta sama negeri ini.”

“Aku memang berencana tinggal di Paris untuk waktu yang lama, tapi tidak untuk selamanya.”

... kalimat itu terus berlanjut, kemudian disambung dengan sanggahan lain yang kemudian dijawab dengan alasan lain. Polanya terus seperti itu sampai sang pemilik bar sendiri yang harus turun tangan melerai perdebatan kami. Saat aku melihat sudah jam berapa kini, ternyata sudah pukul tiga pagi. Langsung saja kuserahkan beberapa lembar uang yang entah itu lebih berapa lembar, langsung kepada si pemilik, dan beranjak pergi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi pada dia yang kuduga bisa menjadi kenangan indah.

Dua hari telah berlalu, dan aku sungguh tidak menyangka bisa bertemu dengannya lagi di luar bar yang terletak di sudut jalan itu. Dia, dengan kaus lecek dan jaket amburadul yang benang kainnya sudah mencuat ke mana-mana, ada di seberang jalan depan rumah singgah yang sudah ku tempati selama kurang lebih dua bulan ini. Berdiri dengan sebagian bobot tubuhnya yang disandarkan pada jok motor bebek. Berjalan pelan menghampiri, aku pun bertanya saat dirasa meter sudah memasuki jarak pendengaran. “Sedang apa kau di sini?”

“Sedang menunggu seseorang untuk meminta maaf.”

Suasana langsung berubah diam, tapi tidak canggung. Ini hanya aku yang bingung harus membalas bagaimana. Kejadian yang lalu sudah tidak aku pikirkan, bahkan ada beberapa bagian darinya yang sudah menghilang dari ingatan, tapi, boleh lah mendengarkan pengakuan yang tulus, sebab wajahnya benar-benar serius.

“Maaf, kemarin aku tidak berniat buruk atau apa pun itu. Aku hanya, tidak mengerti dengan jalan pikiranmu dan segala mimpi-mimpimu akan masa depan, karena aku orang yang bodoh,”

“Tidak ada orang bodoh yang mau mengakui dirinya bodoh.”

“Oke, terserah. Aku ke sini untuk meminta maaf, keputusanmu untuk memaafkan atau tidak, tapi yang pasti, maaf karena sudah,” dia menjilat bibir, sedang memilih diksi yang tepat, dan aku sama sekali tidak keberatan menunggu. “Maaf, apabila ada kalimat atau perbuatan dariku yang tidak mengenakkan untukmu.”

Jujur, aku sempat tertegun ketika mendengar penjelasan panjang lebar itu. Tidak kusangka pria sepertinya bisa berlaku sesopan ini, dan karena masih di dalam fase terkejut, aku hanya mengangguk atas setiap kata maafnya, juga di akhir menambahkan, “Tidak apa-apa, setiap orang punya pendapatnya masing-masing.”

“Benar.”

Kembali diam, kali ini, aku yang merasa canggung, dan sepertinya dia pun begitu, karena sedari tadi terus saja mengedar pandang tidak jelas. Tidak mau pergi atau bagaimana? Kalau begitu, aku saja yang-

“Tasmu, cuma satu?”

Tanya yang satu itu cukup mengagetkan. Melirik ke sebuah ransel besar yang aku gendong di belakang, “Ya, banyak bawaan hanya akan membuatku keluar lebih banyak uang.”

“Berangkat sekarang?”

Mengangguk, aku lalu menambahkan, “Hanya tinggal berjalan ke depan,” untuk naik ojek pangkalan.

“Kuantar.”

“Apa?”

“Sebagai permintaan maaf, mari sini kuantar. Kau mau ke bandara kan? Djuanda?”

Aku diam saja sembari memperhatikan dia yang mengambil helm di sangkutan bagian depan, lalu menjawab dengan, “Ya,” kecil ketika helm itu sudah disodorkan.

“Naik.”

Sempat merasa bimbang pada tawaran yang aneh sekaligus mencurigakan ini, pada akhirnya aku pun kalah oleh rasa tidak enak hati. Mengambil helm yang tidak memiliki kaca depan itu, aku lalu memasangnya dan segera naik ke boncengan di belakang. Cukup lama menunggu motor ini hidup karena dia harus menyentak kick starter-nya untuk beberapa kali, aku saja sampai harus turun kembali. Agak mengesalkan memang, tapi tidak apa, karena sungutan yang ada di wajahnya sempat menghibur untuk beberapa saat sebelum motor dengan bunyi kenalpot dudut ini melaju di jalanan pagi yang mulai ramai.

Dua jam lebih sedikit, adalah waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke Bandara Djuanda. Aku langsung saja menyerahkan helm ketika turun dari motor. Jangan sampai helm itu ikut terbawa sampai ke Paris, seperti pengalamanku yang sudah-sudah. Bukan di Paris, tapi di tempat lain.

“Terima kasih, sudah mengantar.”

Dia hanya mengangguk sebagai balasan. Satu cara yang tepat untuk membunuh konversasi. Duh. Sudah, begini saja? Tidak mau mengucapkan salam terakhir?

“Uhh, terima kasih atas pelayanannya di bar. Salam pada Bos juga, maaf aku tidak sempat pamit padanya.” Padahal dia sudah baik sekali padaku selama ini.

“Akan ku sampaikan.”

“Bagus, jadi ....”

“Kau tidak pergi?” tanyanya sambil mengangkat sebelah alis yang langsung aku balas dengan hentakan kaki kesal dan juga seruan, “Ini! Mau pergi,” entah kenapa suaraku mengecil di akhir, oh Tuhan.

“Oke, hati-hati di jalan.”

Aku terus menunduk, karena merasa seperti sedang diperhatikan.

“Jangan muntah.”

Kesal dengan kalimat yang seakan meremehkan itu, aku langsung saja mengangkat kepala hanya untuk,

Cup

... bertemu dengan bibirnya, bibirku.

“Minum obat, atau apa, permen, supaya tidak mabuk. Oh ya, itu tadi kuambil sebagai bayaran.”

“Bayaran apa!?”

“Bayaran jasa mengantarmu dari Surabaya sampai ke sini.”

“Tapi tadi katanya mengantar untuk minta maaf!?”

Benar-benar. Orang ini benar-benar tidak bisa dipercaya.

“Ya, itu untuk bagian bensin, sebagai permintaan maaf. Soal jasa, itu lain hal.”

KAN! Menyebalkan sekali. Tidak tahu harus membalas apa lagi, pada akhirnya aku hanya menggerutu tidak jelas seperti anak gadis yang kesal karena dijahili oleh anak lelaki yang nakal. Tuhan! Bahkan ketika 100 meter sudah kutempuh pun dia masih saja bisa berteriak, “Kau bisa berenang kan?! Jangan sampai membuat orang tuamu menangis kalau-kalau pesawatnya jatuh!”

Ya iya kalau jatuhnya di laut, kalau di darat bagaimana coba!? Urghhh.

8 tahun kemudian,

“Bimo! Akhirnya kamu sampai. Pasti capek ya? Laper? Kita makan dulu ya, paman sama bibi udah nungguin di dalam. Ada kakek juga, dia udah semangat banget dari tadi pagi nungguin kamu pulang.”

“Kakek sehat?”

Melihat wajah wanita yang sudah melahirkanmu setelah sekian tahun lamanya tidak bertemu tentu saja mengharukan. Dadaku berdenyut sakit, tapi napas yang dihembus melegakan.

“Sehat, cuma jadi kurang mau makan aja akhir-akhir ini, sayangnya.”

“Kalau aku yang nyuapin, pasti makannya bakal lahap.”

Ibu hanya tersenyum sangsi atas kalimatku yang –memang– menggelikan itu, dia lalu mencibir, “Pede banget kamu.”

“Oh iya dong. Anak siapa dulu? Wijaya Notonegoro,” kataku sambil menepuk dada sendiri, berbarengan dengan langkah kami yang ternyata sudah sampai di ambang pintu ruang keluarga, membuat semua orang yang ada di dalamnya tertawa, ada yang geli dan terbahak-bahak. Aku langsung saja menghampiri satu yang paling sepuh di sana.

“Kakek!”


“Semua! Waktunya istirahat! Hakim, bisa bicara sebentar?”

Suara mesin pengerek, pengaduk semen, pemotong baja, dan bunyi tak tak dari batu bata yang disusun rapih sampai ke tiang yang diseret ke sana ke mari pun pelan berangsur berhenti seiring dengan bel tanda istirahat yang berbunyi nyaring. Para pekerja konstruksi yang memakai atribut lengkap dari helm sampai sepatu boots itu pun meninggalkan pekerjaan mereka barang sebentar untuk mengisi perut yang lapar. Satu di antara yang tengah berjalan tiba-tiba berhenti karena sebuah panggilan.

“Hakim!”

“Ya, Pak, kenapa?”

Yang dipanggil Hakim lalu mendekat ke arah atasannya yang terus saja melambaikan tangan, menyuruh ke sini. Saat yang dipanggil sudah sampai di hadapan, ia langsung saja mengutarakan tujuan. “Kamu, ga punya tanggungan apa-apa kan? Kayak misalnya, anak atau orang tua yang, sayang banget sama kamu?”

Meski sedikit bingung dengan pertanyaan itu, Hakim tetap menjawab, “Anak ga punya, Pak, tapi kalau Ibu, Alhamdulillah masih sehat, Pak, walau sering sakit batuk akhir-akhir ini.”

“Udah kamu bawa ke rumah sakit?”

“Udah, Pak.”

“Beliau ada yang ngurus ga? Saya ga enak kalau misalkan harus misahin orang yang lagi sakit jauh dari anaknya.”

“Maksud Bapak?”

“Karena kinerjamu bagus, kamu, Aryo, sama tiga orang lagi, bakal saya kirim ke Jakarta, mereka lagi gembor-gembornya bangun jalan di sana-sini, butuh banyak orang. Mau, kan? Pergi ke Jakarta.”

Bohong apabila ia jawab tidak.

“Kalau saya nolak pun,”

“Ya jangan! Kamu tuh punya bibit, harus disiram terus, harus dipupuk terus sama ilmu-ilmu baru. Jangan puas sampai di sini aja.”

“Iya, Pak.”

“Jadi, mau ya? Bulan depan, ke Jakartanya. Ajak satu orang lagi siapa gitu yang kompeten, dari tim kamu.”

“Gimana kalau Jamin, Pak? Orangnya cukup antusias menurut saya, walaupun pendiam. Kerjaannya juga bagus.”

“Boleh, kamu kasih aja surat rekomendasinya ke meja saya, ya.”

“Baik, Pak.”

“Ya udah sana makan, biar kuat lagi ngangkat betonnya. HAHAHA.”


“Bimo, kamu baru dua bulan lho, di Palembang. Masa harus pergi lagi?” Mata yang sudah sayu namun masih memancarkan semangat kehidupan yang hangat itu menatap malas pada anaknya yang sedang berkutat dengan banyak sekali macam kertas dan buku.

“Kan ke Jakarta doang, Mah. Sebentar.”

“Ya, sebentarnya kamu tuh bukan sehari dua hari, masalahnya.”

“Aku kan di sana kerja, bukan ngehambur-hamburin uang.”

“Emangnya ga bisa di sini aja? Kerjaanmu kan bisa pakai komputer toh.”

“Ya iya, bisa, cuma kan ini aku harus ketemu sama ahlinya langsung biar bisa diskusi. Ga enak kalau lewat telepon.”

“Kamu tuh, ga bisaaaa, ga bikin Mamah khawatir.” Hela napas setelahnya sengaja dihembus kencang, agar anak semata wayang sadar bahwa ia di sini tengah keberatan, tapi apalah daya jiwa yang sudah banyak menyecap garam ini dengan dia yang bagai tunas muda? Tidak sebanding. Di ujung pembicaraan, ia tahu bahwa ia yang harus memanjangkan tali kesabaran.

“Aku gede begini siapa yang mau nyulik sih, Mah.”

“Nyulik engga, sering masuk rumah sakit, iya. Lihat, itu kami tulang semua ga ada daging, mana enak dipegang.”

“Hush, Mamah! Emangnya apa yang mau dipegang? Siapa juga lagi yang mau pegang-pegang.”

Mengabaikan yang satu itu, Jelita Senja di sini pun mendekat, menaruh satu tangannya di pundak buah hati kesayangan, lalu meremasnya dengan cukup erat.

“Pokoknya, kamu harus telepon tiap hari. Biaya telepon dalam negara kan murah, gak kayak kalau keluar.”

Mengambil tangan itu untuk kemudian digenggam, Bimo mengucap janji, “Aku usahain,” yang tak kunjung mendapat respon apa-apa selama beberapa detik ke depan, sampai akhirnya senyum tulus dari dalam hati ia tunjukkan. “Iya, iya aku telepon setiap hari, ” tapi tetap saja masih ada alasan, “kalau sempet.” Setelahnya ia mengaduh karena keningnya dijitak cukup keras.


“Mas.”

Sambil mengikat sepatu, ia membalas itu dengan dehaman.

“Hati-hati di jalan ya,” pesan seorang wanita muda di belakang, lekat sekali memperhatikan punggung yang sebentar lagi akan pergi, jauh, ke tempat yang tidak bisa ia susul.

“Iya. Lagi juga, emangnya aku anak kecil yang ga bisa tengok kanan kiri, kalau nyebrang jalan.”

“Jakarta kan luas, Mas.”

“Surabaya juga luas, Dek, dan aku masih utuh sampai sekarang.”

“Bukan itu masalahnya.”

“Terus apa masalahnya?” Telapak tangan kasar perlahan hinggap di pucuk kepala lainnya, mengusak halus seraya memberikan senyuman hangat. “Aku ke Jakarta kan buat nyari uang, buat kamu, buat Ibu.”

Melepas tangan itu dari kepala, si wanita lalu menggenggamnya erat. “Iya, tahu, aku ngerti, tapi tetep aja rasanya ada yang ngeganjel.”

“Makan batu kamu tah?”

Melepas tangan itu kasar, ia juga menyeru, “Mas, ih! Serius.”

“Jangan serius-serius, nanti cepet tua. Aku titip Ibu, ya. Apa pun maunya Ibu, kamu turutin aja, asal ga bahaya. Kalau ada apa-apa, cepet telepon Mas. Pasti langsung Mas jawab di dering pertama.”

“Aku kan nelepon juga ke nomor telepon kantormu, Mas. Jangan ngaco.”

Raut si wanita sudah lebih hidup daripada yang tadi, membuat si lelaki tersenyum. “Nah, gitu dong. Jangan cemberut terus nanti jelek.”

Balasan setelah itu yang ia dapat hanyalah gerutuan, maka, pamitlah ia. “Ya udah, aku berangkat dulu ya. Kamu cepet itu, beli bubur, nanti keburu abis, nangis.”

“Iya.”

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

End.

!!! Mengandung perilaku buruk yang biasa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. !!!


/Won.Jin/ adalah sebuah entitas biasa yang masih mencari alasan dari kenapa ia dilahirkan a.k.a tujuan hidup. Dia bukan Eren Jaeger yang hidup untuk membasmi seluruh titan,

bukan juga Luffy D. Monkey yang mengelilingi dunia untuk mencari harta karun,

apalagi Ciel Phantomhive yang hidup lagi hanya untuk balas dendam.

Wonjin, bukan semua itu.

Kalau disuruh menggambarkan, mungkin hidupnya seperti Gin-san yang ga punya arah dan tujuan, tapi dia bukan mantan samurai yang punya keahlian pedang mumpuni. Wonjin juga ga mau kalau disuruh melawan Yoshida Shoyou untuk menyelamatkan bumi. Capek, katanya. “Buang-buang tenaga aja.”

Walau pendukung berat main chara di setiap cerita, Wonjin ya, begini. Dia cuma seorang manusia yang hidupnya biasa-biasa aja. Dalam artian,

biasa makan sendiri,

biasa nyuci piring sendiri,

dan biasa gila sendiri kalau pekerjaan belum kelar, tapi mepet deadline.

Biasa bokek juga buat sepupunya yang ga tahu diri. Kayak gini, ni.

“Bang, beliin es krim dong. Panas-panas gini enaknya makan es krim,” kata Seongmin, seorang adik sepupu dari pihak sang ibu, yang sering main ke rumah

“Nyuruh-nyuruh aja bisanya, beli sendiri lah. Punya tangan punya kaki juga.”

“Ga bisa. Ga liat kalau aku lagi sibuk?”

Seongmin yang dari tadi menatap layar laptop di depan akhirnya mendongakkan kepala dan bertemu dengan Wonjin yang sedang menatapnya remeh. Kakak sepupunya itu memang sedang berdiri, sementara Seongmin lesehan di tengah meja kopi dan sofa di belakang.

“Sibuk apaan? Sibuk ngebucin?”

“Engga! Orang lagi sibuk nyari lagu buat tugas.”

“Halah, alesan. Dari tadi lu nontonin YouTube doang ya. Dikira gw ga tahu? Mana pake WiFi rumah lagi, pantesan tadi lago nge-game jadi nge-lag.

Ia memang nonton YouTube, lebih tepatnya, Seongmin sedang menonton salah seorang YouTuber yang sering memberikan konten-konten di bidang musik, seperti, lagu apa yang enak didengar saat situasi hati sedang buruk atau senang. Selain konten rekomendasi, YouTuber bernama Kim Taeyoung ini juga sering meng-cover beberapa lagu. Suaranya bagus, dan Seongmin suka. Ia bahkan sampai mengikuti Kim Taeyoung di segala platform media sosial yang ada. Benar-benar, bucin.

Tertawa canggung, Seongmin lalu membalas, “Ya gapapa kali. Sama adek sendiri ga boleh pelit.”

“Bapak-ibu kita beda, mohon maaf.”

Setelah itu, Seongmin merengek, dan Wonjin tidak pernah bisa menghadapi orang yang merajuk lama-lama, jadinya ia mengiyakan permintaan Seongmin yang satu itu. Toh, ia memang mau ke depan, beli kopi. Malam nanti mau begadang untuk menyelesaikan sesuatu, pekerjaannya. Jadilah Wonjin, dengan topi hitam yang menyembunyikan rambut acak-acakan, pergi ke minimarket. Perjalanan menuju ke minimarket begitu menguras keringat dan emosi, Wonjin mengucap syukur dalam hati saat terpaan hawa dingin dari air conditioner minimarket menerpa diri seiring dengan ucapan, “Selamat datang dan selamat berbelanja.”

Mengangguk untuk sapaan itu, Wonjin pun langsung mengarah ke lorong yang menyediakan berbagai macam produk sarapan. Saat sedang memilih-milih mana kopi yang diskon, hidungnya tiba-tiba mengendus sesuatu. Suatu bau yang terekam dalam memori, menoleh dengan pelan ke arah samping, Wonjin sungguh tidak mempercayai apa yang ia lihat sekarang. Di sebelah kanannya, berdiri seseorang yang pernah membuat kepalanya di kaki, dan kakinya di kepala, dulu.

Dia lah Koo Jungmo, sang mantan. Wonjin jelas mengingat Jungmo karena Jungmo merupakan cinta pertamanya. Orang pertama yang membuatnya, belok. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan Jungmo lagi setelah sekian tahun berlalu. Apa itu 10 tahun yang lalu? Wonjin rasa lebih, karena umurnya saja saat ini sudah menginjak tahun ke-26. Jungmo banyak berubah. Wonjin rasa, dulu, tinggi mereka sama, tapi ia kini diharuskan untuk sedikit mendongak agar bisa melihat wajah itu. Caranya berpakaian, juga makin rapih, tapi satu hal yang tidak berubah adalah wangi itu. Mungkin berasal dari pewangi pakaian atau parfum yang Jungmo pakai, Wonjin tidak pernah sempat untuk menanyakan dari mana wangi itu berasal. Oh, kepala yang sedang memilih roti itu bergerak. Jangan sampai dia melihat ke sini, karena Wonjin sedang mematung. Ia ingin bergerak, lari dari sana untuk menghindari konversasi tidak perlu, tapi kakinya seakan disemen. Bola matanya bergerak ke sana ke sini. Baru saja tangannya hendak meraih sekotak karton sereal untuk menutupi wajah, namanya sudah terlanjur disebut, dengan penuh keterkejutan.

“Wonjin?”

Skakmat, ia tidak bisa menghindar. Bibirnya pun menyunggingkan senyum kaku sebagai balas untuk wajahnya yang terlihat senang sekali. Hah?

“Jungmo?”

Mari pura-pura lupa, tapi sepertinya tidak mungkin, sebab mereka pernah menghabiskan enam bulan penuh dengan kemanisan.

“Iya, ini aku. Kamu apa kabar? Ga nyangka banget bisa ketemu di sini.”

“Ha-ha,” ia mengalih pandang terlebih dulu, sebab senyum Jungmo terlalu menyilaukan, tidak baik untuk kesehatan mata. “Sama. Denger-denger, Lo dulu pindah? Kok ada di sini? Udah balik?”

Kabar terakhir yang Wonjin dengar tentang Jungmo adalah perihal kepindahannya ke kota untuk masuk ke sekolah yang lebih baik. Jungmo dan keluarganya, memang bisa melakukan apa pun, Wonjin tidak akan heran jika sehabis ini ia mendengar kabar Jungmo yang baru saja menyelesaikan studi dari luar negeri atau apa pun i-

“Iya, seminggu yang lalu baru aja balik dari New York. Ini lagi mau ke rumah buat ketemu orang tua.”

Kan.

“Oh, gitu.” Wonjin lalu mengedarkan pandang karena tidak tahu harus berkata apa lagi. Kedua irisnya lalu bertemu dengan sebuah mobil berwarna hitam metalik yang sangat keren sekali di depan minimarket. Apa itu punya Jungmo?

“Jin.”

“Wonjin.”

Pada sebuah telapak tangan yang melambai di depan wajah, Wonjin tersentak. “Ah, ya. Kenapa?”

“Kamu gimana kabarnya?”

“Baik, baik kok. Kabar gw baik. Ini lagi beli kopi buat nanti malem begadang.” Ia tahu senyumnya canggung, tapi Jungmo tidak usah memasang wajah dengan kerutan di dahi yang dalam seperti itu. Tidak usah juga menasihatinya dengan segala hal baik yang sudah Wonjin tahu, tapi ia pilih untuk abaikan.

“Kamu ngapain begadang? Begadang itu ga baik, bisa bikin-”

“Kerja. Gw begadang, buat kerja. Kebetulan emang produktifnya pas malem, jadi, ya, gitu.” Ia tersenyum kecil sebagai tanda bahwa semuanya baik-baik saja. Gaya hidupnya saat ini memang bak kelelawar kalau tidak ada hal penting yang membuatnya harus keluar rumah di pagi hari.

“Oh, gitu.”

Jangan memasang wajah sedih begitu! Ya Tuhan. Kalau begini kan, memori-memori tentang masa lalu, dengan seenak jidat bisa timbul ke permukaan. Ia sudah melupakan Jungmo, tapi kalau ada hal-hal yang menjadi pemicu seperti ini. Wonjin harap, cukup sampai di sini.

Sedang berpikir kata apa yang pantas diucap sebagai kalimat perpisahan, tiba-tiba saja, ada seseorang yang memanggil Jungmo, dengan nada yang amat terlalu lembut. Terdengar sedikit aneh di telinga Wonjin.

“Mo. Udah belum? Kok lama banget.”

“Woobin. Belum, sebentar lagi.”

Wonjin tidak tahu siapa satu lagi pria yang meneriakkan aura kaya ini. Dengan rambut silver juga dandanan ala parlente, Wonjin tidak akan kaget jika Jungmo memperkenalkannya sebagai tunang-

“Wonjin, kenalin. Ini Woobin, pacarku.”

Oh, baru pacar.

Si Woobin mengulurkan tangan untuk berjabat, tapi Wonjin hanya mengangguk sambil memasang senyum kecil. Sungguh, ia malas beramah tamah. Bukan hanya pada Woobin, melainkan dengan semua orang yang tidak akan memiliki kaitan dengan hidupnya.

“Bin, ini Wonjin. Temen SMP aku dulu.”

“Kalau gitu, masih mau ngobrol? Kalau kamu mau nostalgia, mending di bangku-”

Atas pemikiran yang satu itu, Wonjin cepat memotong. “Ga usah, saya lagi buru-buru. Permisi.”

Selesai mengambil kopi, asal, Wonjin pun langsung menuju kasir. Untung tidak ada antrian, jadi ia bisa langsung pulang.

Saat sampai di rumah, Seongmin sudah menantinya dengan mata yang berbinar. Dengan menadahkan tangan, ia berkata, “Bang, mana es krimnya?”

“Ga ada, abis.”

Atas kebohongan yang terlalu jelas, Seongmin mencebikkan bibir, lalu, “Dih, bohong banget. Minimarket mana pernah kehabisan stok es krim. Bilang aja ga mau beliin, aku bilangin Tante nih, Bang Wonjin pe-”

Belum sempat kalimatnya selesai, Wonjin sudah memisuhinya dengan kata inkoheren yang tidak ada dalam kamus, sekaligus melempar selembar uang yang ada dalam saku ke meja, tanpa melihat berapa nominalnya. Seongmin langsung saja menyembunyikan itu sebelum Wonjin sadar bahwa ia sudah memberi nominal uang yang cukup besar, cukup untuk membeli lima buah es krim yang ada cone-nya.

“Lu, abis beli es krim diem deh. Gw mau kerja.”

“Sip!” katanya sambil mengacungkan jempol dan langsung berlari keluar rumah. Beli es krimnya di warung depan gang saja, sisanya bisa buat beli bakso atau ayam geprek nanti malam. Muehehe.


12 tahun yang lalu,

“Wonjin, aku mau bilang sesuatu.”

Wonjin berdehem untuk pinta Jungmo yang satu itu. Ia sedang memainkan game di PS yang baru saja ia terima dari anak kelas sebelah, hadiah karena sudah menang taruhan, ia jadi bisa menyimpan ini selama seminggu ke depan.

“Bilang aja.”

“Tapi kamu, lihat aku.” Tidak mendapat tanggapan lebih lanjut atas itu, Jungmo hanya bisa menghela napas lelah. Ia menarik napas dalam sebelum berkata, “Aku, mau kita putus.”

Spiderman yang ada di dalam layar sukses menabrak kotak, lalu jatuh, dan game over. Wonjin gagal lagi pada percobaannya yang ke-lima. Menaruh PS itu dengan gerakan lambat ke meja, ia lalu menatap Jungmo dengan raut tidak percaya, karena, hubungan mereka baik-baik saja. Ia tidak pernah melakukan apa pun yang membuat Jungmo marah, pun sebaliknya, tapi kenapa, Jungmo meminta putus? Wonjin tidak mengerti.

“Aku, bosen. Kamu asik sama temen-temenmu, ngomongin apa itu yang aku ga ngerti. Kita jarang ngabisin waktu berdua. Dan lagi, mamahku ga suka sama kamu. Mamah bilang, kamu ga punya masa depan.”

Bagai petir yang menyambar di tengah hari bolong, hati Wonjin gosong sampai ke dalam-dalam. Perkataan itu, tidak pernah ia lupakan.

Kamu ga punya masa depan.

Kalimat itu terpatri di memori, menjadi sebuah pengingat yang tidak membuat Wonjin berdekatan dengan Jungmo lagi setelah hari itu.

“Ckk.” Sebuah decakan kesal adalah apa yang menjadi reaksi kala ingatan itu kembali berputar sendiri. Wonjin lalu menatap sebuah boneka kayu di tangan yang sedang ia pahat dengan pandang yang tidak bisa dijelaskan dengan kata. Kalimat itu, seperti benar adanya. Ia bahkan tidak menyelesaikan pendidikan tinggi. Wonjin pernah mendaftarkan diri pada sebuah universitas swasta yang tidak memiliki persyaratan tinggi, tapi ia berhenti di tahun kedua dengan alasan mencari jati diri. Memang, ia salah jurusan, hanya mengikuti kemauan orang tua tanpa memikirkan diri sendiri, dan sekarang malah kerja serabutan. Sekarang ia bekerja pada salah satu rumah produksi animasi menengah bawah. Boneka-boneka kayu yang sedang ia pahat ini adalah pekerjaannya. Selain bekerja di studio animasi, Wonjin juga bekerja di salah satu perusahaan penerbitan sebagai orang yang bertugas membersihkan panel komik yang sudah diterjemahkan, kadang juga menggambar bagian yang terhapus karena terjemahan itu. Ia melakukan apa pun yang ia bisa untuk bertahan hidup. Sedikit banyaknya, masih tahu diri kalau ia harus hidup mandiri.

Aah, jadi kangen masakan ibu. Mungkin ia akan berkunjung akhir pekan nanti.


Author's note:

Hal yang terlihat biasa, mungkin saja menyimpan permata di baliknya. Sama halnya dengan sesuatu yang kita anggap remeh, mungkin saja, ada satu hal luar biasa, yang luput dari pandangan. Jadi, perhatikan dengan baik sebelum menilai dan menentukan.

P.s. mungkin akan berlanjut, tapi kita cukupkan sampai di sini dulu.

I know jove you = seriham

Jet aime = WonKyu

Koike = hamogu


!!! Mengandung perilaku buruk yang biasa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. !!!


/Won.Jin/ adalah sebuah entitas biasa yang masih mencari alasan dari kenapa ia dilahirkan a.k.a tujuan hidup. Dia bukan Eren Jaeger yang hidup untuk membasmi seluruh titan,

bukan juga Luffy D. Monkey yang mengelilingi dunia untuk mencari harta karun,

apalagi Ciel Phantomhive yang hidup lagi hanya untuk balas dendam.

Wonjin, bukan semua itu.

Kalau disuruh menggambarkan, mungkin hidupnya seperti Gin-san yang ga punya arah dan tujuan, tapi dia bukan mantan samurai yang punya keahlian pedang mumpuni. Wonjin juga ga mau kalau disuruh melawan Yoshida Shoyou untuk menyelamatkan bumi. Capek, katanya. “Buang-buang tenaga aja.”

Walau pendukung berat main chara di setiap cerita, Wonjin ya, begini. Dia cuma seorang manusia yang hidupnya biasa-biasa aja. Dalam artian,

biasa makan sendiri,

biasa nyuci piring sendiri,

dan biasa gila sendiri kalau pekerjaan belum kelar, tapi mepet deadline.

Biasa bokek juga buat sepupunya yang ga tahu diri. Kayak gini, ni.

“Bang, beliin es krim dong. Panas-panas gini enaknya makan es krim,” kata Seongmin, seorang adik sepupu dari pihak sang ibu, yang sering main ke rumah

“Nyuruh-nyuruh aja bisanya, beli sendiri lah. Punya tangan punya kaki juga.”

“Ga bisa. Ga liat kalau aku lagi sibuk?”

Seongmin yang dari tadi menatap layar laptop di depan akhirnya mendongakkan kepala dan bertemu dengan Wonjin yang sedang menatapnya remeh. Kakak sepupunya itu memang sedang berdiri, sementara Seongmin lesehan di tengah meja kopi dan sofa di belakang.

“Sibuk apaan? Sibuk ngebucin?”

“Engga! Orang lagi sibuk nyari lagu buat tugas.”

“Halah, alesan. Dari tadi lu nontonin YouTube doang ya. Dikira gw ga tahu? Mana pake WiFi rumah lagi, pantesan tadi lago nge-game jadi nge-lag.

Ia memang nonton YouTube, lebih tepatnya, Seongmin sedang menonton salah seorang YouTuber yang sering memberikan konten-konten di bidang musik, seperti, lagu apa yang enak didengar saat situasi hati sedang buruk atau senang. Selain konten rekomendasi, YouTuber bernama Kim Taeyoung ini juga sering meng-cover beberapa lagu. Suaranya bagus, dan Seongmin suka. Ia bahkan sampai mengikuti Kim Taeyoung di segala platform media sosial yang ada. Benar-benar, bucin.

Tertawa canggung, Seongmin lalu membalas, “Ya gapapa kali. Sama adek sendiri ga boleh pelit.”

“Bapak-ibu kita beda, mohon maaf.”

Setelah itu, Seongmin merengek, dan Wonjin tidak pernah bisa menghadapi orang yang merajuk lama-lama, jadinya ia mengiyakan permintaan Seongmin yang satu itu. Toh, ia memang mau ke depan, beli kopi. Malam nanti mau begadang untuk menyelesaikan sesuatu, pekerjaannya. Jadilah Wonjin, dengan topi hitam yang menyembunyikan rambut acak-acakan, pergi ke minimarket. Perjalanan menuju ke minimarket begitu menguras keringat dan emosi, Wonjin mengucap syukur dalam hati saat terpaan hawa dingin dari air conditioner minimarket menerpa diri seiring dengan ucapan, “Selamat datang dan selamat berbelanja.”

Mengangguk untuk sapaan itu, Wonjin pun langsung mengarah ke lorong yang menyediakan berbagai macam produk sarapan. Saat sedang memilih-milih mana kopi yang diskon, hidungnya tiba-tiba mengendus sesuatu. Suatu bau yang terekam dalam memori, menoleh dengan pelan ke arah samping, Wonjin sungguh tidak mempercayai apa yang ia lihat sekarang. Di sebelah kanannya, berdiri seseorang yang pernah membuat kepalanya di kaki, dan kakinya di kepala, dulu.

Dia lah Koo Jungmo, sang mantan. Wonjin jelas mengingat Jungmo karena Jungmo merupakan cinta pertamanya. Orang pertama yang membuatnya, belok. Ia tidak menyangka bisa bertemu dengan Jungmo lagi setelah sekian tahun berlalu. Apa itu 10 tahun yang lalu? Wonjin rasa lebih, karena umurnya saja saat ini sudah menginjak tahun ke-26. Jungmo banyak berubah. Wonjin rasa, dulu, tinggi mereka sama, tapi ia kini diharuskan untuk sedikit mendongak agar bisa melihat wajah itu. Caranya berpakaian, juga makin rapih, tapi satu hal yang tidak berubah adalah wangi itu. Mungkin berasal dari pewangi pakaian atau parfum yang Jungmo pakai, Wonjin tidak pernah sempat untuk menanyakan dari mana wangi itu berasal. Oh, kepala yang sedang memilih roti itu bergerak. Jangan sampai dia melihat ke sini, karena Wonjin sedang mematung. Ia ingin bergerak, lari dari sana untuk menghindari konversasi tidak perlu, tapi kakinya seakan disemen. Bola matanya bergerak ke sana ke sini. Baru saja tangannya hendak meraih sekotak karton sereal untuk menutupi wajah, namanya sudah terlanjur disebut, dengan penuh keterkejutan.

“Wonjin?”

Skakmat, ia tidak bisa menghindar. Bibirnya pun menyunggingkan senyum kaku sebagai balas untuk wajahnya yang terlihat senang sekali. Hah?

“Jungmo?”

Mari pura-pura lupa, tapi sepertinya tidak mungkin, sebab mereka pernah menghabiskan enam bulan penuh dengan kemanisan.

“Iya, ini aku. Kamu apa kabar? Ga nyangka banget bisa ketemu di sini.”

“Ha-ha,” ia mengalih pandang terlebih dulu, sebab senyum Jungmo terlalu menyilaukan, tidak baik untuk kesehatan mata. “Sama. Denger-denger, Lo dulu pindah? Kok ada di sini? Udah balik?”

Kabar terakhir yang Wonjin dengar tentang Jungmo adalah perihal kepindahannya ke kota untuk masuk ke sekolah yang lebih baik. Jungmo dan keluarganya, memang bisa melakukan apa pun, Wonjin tidak akan heran jika sehabis ini ia mendengar kabar Jungmo yang baru saja menyelesaikan studi dari luar negeri atau apa pun i-

“Iya, seminggu yang lalu baru aja balik dari New York. Ini lagi mau ke rumah buat ketemu orang tua.”

Kan.

“Oh, gitu.” Wonjin lalu mengedarkan pandang karena tidak tahu harus berkata apa lagi. Kedua irisnya lalu bertemu dengan sebuah mobil berwarna hitam metalik yang sangat keren sekali di depan minimarket. Apa itu punya Jungmo?

“Jin.”

“Wonjin.”

Pada sebuah telapak tangan yang melambai di depan wajah, Wonjin tersentak. “Ah, ya. Kenapa?”

“Kamu gimana kabarnya?”

“Baik, baik kok. Kabar gw baik. Ini lagi beli kopi buat nanti malem begadang.” Ia tahu senyumnya canggung, tapi Jungmo tidak usah memasang wajah dengan kerutan di dahi yang dalam seperti itu. Tidak usah juga menasihatinya dengan segala hal baik yang sudah Wonjin tahu, tapi ia pilih untuk abaikan.

“Kamu ngapain begadang? Begadang itu ga baik, bisa bikin-”

“Kerja. Gw begadang, buat kerja. Kebetulan emang produktifnya pas malem, jadi, ya, gitu.” Ia tersenyum kecil sebagai tanda bahwa semuanya baik-baik saja. Gaya hidupnya saat ini memang bak kelelawar kalau tidak ada hal penting yang membuatnya harus keluar rumah di pagi hari.

“Oh, gitu.”

“Jangan memasang wajah sedih begitu!* Ya Tuhan. Kalau begini kan, memori-memori tentang masa lalu, dengan seenak jidat bisa timbul ke permukaan. Ia sudah melupakan Jungmo, tapi kalau ada hal-hal yang menjadi pemicu seperti ini. Wonjin harap, cukup sampai di sini.

Sedang berpikir kata apa yang pantas diucap sebagai kalimat perpisahan, tiba-tiba saja, ada seseorang yang memanggil Jungmo, dengan nada yang amat terlalu lembut. Terdengar sedikit aneh di telinga Wonjin.

“Mo. Udah belum? Kok lama banget.”

“Woobin. Belum, sebentar lagi.”

Wonjin tidak tahu siapa satu lagi pria yang meneriakkan aura kaya ini. Dengan rambut silver juga dandanan ala parlente, Wonjin tidak akan kaget jika Jungmo memperkenalkannya sebagai tunang-

“Wonjin, kenalin. Ini Woobin, pacarku.”

Oh, baru pacar.

Si Woobin mengulurkan tangan untuk berjabat, tapi Wonjin hanya mengangguk sambil memasang senyum kecil. Sungguh, ia malas beramah tamah. Bukan hanya pada Woobin, melainkan dengan semua orang yang tidak akan memiliki kaitan dengan hidupnya.

“Bin, ini Wonjin. Temen SMP aku dulu.”

“Kalau gitu, masih mau ngobrol? Kalau kamu mau nostalgia, mending di bangku-”

Atas pemikiran yang satu itu, Wonjin cepat memotong. “Ga usah, saya lagi buru-buru. Permisi.”

Selesai mengambil kopi, asal, Wonjin pun langsung menuju kasir. Untung tidak ada antrian, jadi ia bisa langsung pulang.

Saat sampai di rumah, Seongmin sudah menantinya dengan mata yang berbinar. Dengan menadahkan tangan, ia berkata, “Bang, mana es krimnya?”

“Ga ada, abis.”

Atas kebohongan yang terlalu jelas, Seongmin mencebikkan bibir, lalu, “Dih, bohong banget. Minimarket mana pernah kehabisan stok es krim. Bilang aja ga mau beliin, aku bilangin Tante nih, Bang Wonjin pe-”

Belum sempat kalimatnya selesai, Wonjin sudah memisuhinya dengan kata inkoheren yang tidak ada dalam kamus, sekaligus melempar selembar uang yang ada dalam saku ke meja, tanpa melihat berapa nominalnya. Seongmin langsung saja menyembunyikan itu sebelum Wonjin sadar bahwa ia sudah memberi nominal uang yang cukup besar, cukup untuk membeli lima buah es krim yang ada cone-nya.

“Lu, abis beli es krim diem deh. Gw mau kerja.”

“Sip!” katanya sambil mengacungkan jempol dan langsung berlari keluar rumah. Beli es krimnya di warung depan gang saja, sisanya bisa buat beli bakso atau ayam geprek nanti malam. Muehehe.


12 tahun yang lalu,

“Wonjin, aku mau bilang sesuatu.”

*Wonjin berdehem untuk pinta Jungmo yang satu itu. Ia sedang memainkan game di PS yang baru saja ia terima dari anak kelas sebelah, hadiah karena sudah menang taruhan, ia jadi bisa menyimpan ini selama seminggu ke depan.*

“Bilang aja.”

“Tapi kamu, lihat aku.” Tidak mendapat tanggapan lebih lanjut atas itu, Jungmo hanya bisa menghela napas lelah. Ia menarik napas dalam sebelum berkata, “Aku, mau kita putus.”

Spiderman yang ada di dalam layar sukses menabrak kotak, lalu jatuh, dan game over. Wonjin gagal lagi pada percobaannya yang ke-lima. Menaruh PS itu dengan gerakan lambat ke meja, ia lalu menatap Jungmo dengan raut tidak percaya, karena, hubungan mereka baik-baik saja. Ia tidak pernah melakukan apa pun yang membuat Jungmo marah, pun sebaliknya, tapi kenapa, Jungmo meminta putus? Wonjin tidak mengerti.

“Aku, bosen. Kamu asik sama temen-temenmu, ngomongin apa itu yang aku ga ngerti. Kita jarang ngabisin waktu berdua. Dan lagi, mamahku ga suka sama kamu. Mamah bilang, kamu ga punya masa depan.”

Bagai petir yang menyambar di tengah hari bolong, hati Wonjin gosong sampai ke dalam-dalam. Perkataan itu, tidak pernah ia lupakan.

Kamu ga punya masa depan.

Kalimat itu terpatri di memori, menjadi sebuah pengingat yang tidak membuat Wonjin berdekatan dengan Jungmo lagi setelah hari itu.

“Ckk.” Sebuah decakan kesal adalah apa yang menjadi reaksi kala ingatan itu kembali berputar sendiri. Wonjin lalu menatap sebuah boneka kayu di tangan yang sedang ia pahat dengan pandang yang tidak bisa dijelaskan dengan kata. Kalimat itu, seperti benar adanya. Ia bahkan tidak menyelesaikan pendidikan tinggi. Wonjin pernah mendaftarkan diri pada sebuah universitas swasta yang tidak memiliki persyaratan tinggi, tapi ia berhenti di tahun kedua dengan alasan mencari jati diri. Memang, ia salah jurusan, hanya mengikuti kemauan orang tua tanpa memikirkan diri sendiri, dan sekarang malah kerja serabutan. Sekarang ia bekerja pada salah satu rumah produksi animasi menengah bawah. Boneka-boneka kayu yang sedang ia pahat ini adalah pekerjaannya. Selain bekerja di studio animasi, Wonjin juga bekerja di salah satu perusahaan penerbitan sebagai orang yang bertugas membersihkan panel komik yang sudah diterjemahkan, kadang juga menggambar bagian yang terhapus karena terjemahan itu. Ia melakukan apa pun yang ia bisa untuk bertahan hidup. Sedikit banyaknya, masih tahu diri kalau ia harus hidup mandiri.

Aah, jadi kangen masakan ibu. Mungkin ia akan berkunjung akhir pekan nanti.


Author's note:

Hal yang terlihat biasa, mungkin saja menyimpan permata di baliknya. Sama halnya dengan sesuatu yang kita anggap remeh, mungkin saja, ada satu hal luar biasa, yang luput dari pandangan. Jadi, perhatikan dengan baik sebelum menilai dan menentukan.

P.s. mungkin akan berlanjut, tapi kita cukupkan sampai di sini dulu.

A Reiner Harem Fan Fiction

in the Modern Universe Campus Life.

Contains: EreRei, SeruRei, ReiBert, GalliRei

PG-15

Semua cast belong to Bang Haji. Ayo salim dulu sama beliau.

Only this fiction is belong to me.


Hari ini hari yang cerah, juga meriah. Tokoh utama kita dalam cerita kali ini sedang berjalan sambil tengok kanan-kiri. Siapa tahu ada yang mau berbaik hati membagi sampel makanan ke pengurus acara yang sedang menjalankan tugas ini. Ialah Reiner, seorang mahasiswa tingkat tiga yang sedang mengemban tugas menjadi Seksi Keamanan. Alasan dari dipilihnya Reiner menjadi Seksi Keamanan yang mengawasi deretan stan-stan di sisi barat venue apa lagi kalau bukan badannya yang sek-ekhm. Badannya yang tinggi bak sekuriti itu sangat pas untuk menjalankan misi. Kalau-kalau ada kegaduhan, jadinya bisa cepat dilerai. Tampangnya yang selalu ditekuk juga pasti membuat tidak akan ada yang berani macam-macam, karena pasti mengira Reiner orang yang seram. Bukannya apa-apa, tampangnya yang selalu ditekuk selama dua minggu belakangan ini adalah hasil dari dirinya yang harus mengulang satu matkul pada semester depan. Padahal Reiner yakin ia sudah melakukan yang terbaik, tapi kenapa...

Arghh, menyesal pun percuma. Tidak ada gunanya menangisi susu yang tumpah. Ia hanya berharap, semoga di semester depan nanti, tidak disatukan di kelas yang sama dengannya, seorang mantan yang pernah mengisi hari-harinya dulu dengan segala kebodohan dan kefrustasian. Reiner tidak menyesali putusnya hubungan mereka dulu. Ia hanya menyayangkan, kenapa sesuatu yang dimulai baik, berakhir dengan kebalikannya.

“Reiner!”

Ada yang memanggil dari stan di sisi kanannya. Itu Sasha, si anak Tata Boga yang juga tergabung dalam BEM Universitas. Reiner cukup sering mengobrol dengannya di sela kegiatan organisasi. Anaknya baik dan periang, dan punya sedikit obsesi terhadap makanan, apalagi daging. Ia pun menghampiri stan yang menguarkan aroma manis dari jarak tiga meter. Melihat barang yang dijajakan, ternyata Sasha menjual berbagai macam buah yang dikristalkan dengan gula.

“Ayo dicoba! Mau yang mana, pilih aja!”

Mendapat tawaran itu, tangan Reiner pun berhenti di sebuah batang yang menusuk tiga buah stroberi. Ukuran stroberinya lumayan besar, dan berwarna merah segar. “Aku ambil yang ini.”

Sasha mengangguk dengan senyuman lebar, lalu menadahkan tangan. “20 ribu.”

Raut Reiner yang sudah tertekuk, semakin tertekuk lagi ke dalam. Kelopak matanya memejam sampai hampir hilang. Ia kira gratis, tahunya hanya jadi penglaris. Sialan. Mau tidak mau, terpaksa karena dipaksa. Ia pun mengeluarkan selembar uang yang diminta dan memberinya ke Sasha.

“Terima kasih! Jangan lupa datang lagi, nanti sorean bakal ada pisang coklat lho. Kamu pasti suka!”

“Ha-ha.” Ia hanya membalas dengan tawa kaku dam segera pergi dari sana. Sebodo amat dengan tata krama, ia langsung saja meraup satu buah stroberi utuh ke dalam mulut. Kraup kraup, begitu bunyinya sambil masih terus berjalan, kali ini dengan langkah yang pelan. Satu, dua, tiga,

lima langkah membuatnya sampai di jejeran stan berwarna putih yang panjang. Reiner tahu apa itu. Itu adalah stan ciuman yang sengaja diadakan untuk menggalang dana. Dana yang didapatkan nanti akan disumbangkan ke instansi sekitar kampus yang membutuhkan. Nominal yang harus dikeluarkan untuk membeli satu tiket adalah 80 ribu untuk durasi 10 detik. Seperti nama stannya, tiket yang sudah dibeli nanti akan ditukar dengan ciuman. Membayangkannya saja Reiner sudah merinding. Mencium seseorang yang tidak dikenal, aneh, menurutnya. Untung ia tidak ditunjuk menjadi salah satu penjaga stan yang mana ciumannya diperjualbelikan, tapi kalau tidak salah, Pieck-

“Reiner!”

“Reiner!”

Nah, panjang umur sekali temannya yang satu ini. Ia pun menghampiri Pieck yang menyuruhnya ke sana. Saat sampai di hadapan, muka Reiner berubah tegang, sebab Pieck langsung memegang satu tangannya erat. Hawa hawa tidak mengenakkan mulai terasa.

“Reiner!”

“I-ya?”

Untuk apa Pieck berteriak padahal ia ada di sini, di depan Pieck langsung, bertatap-tatapan.

“Tolong aku.”

Nada yang Pieck gunakan dipenuhi dengan urgensi walau masih terlihat tenang, air mukanya.

“Tolong, apa?”

Duh, seharusnya ia tidak menanyakan hal itu. Mata Pieck sekarang jadi bling bling dan perasaannya mengatakan bahwa-

“Tolong gantikan aku!”

“Huh? Ganti, gantiin apa?”

“Gantiin aku jaga stan!”

“Stan, maksudmu ...”

Melihat arah pandang Reiner yang meragu pada tenda warna putih di belakang, Pieck tanpa basa-basi langsung saja menyeret tangan si pria besar masuk ke dalam seraya berkata, “Tolong gantikan aku menjaga stan. Kalau ada yang datang, kau cukup diam dan cium. Biasanya hanya di dahi atau pipi aja kok. Ga ada yang aneh, mungkin nempel bibir sedikit, tapi itu jarang. Ya? Sekarang, kamu di sini.”

Omongan Pieck cepat sekali sehingga Reiner tidak menemukan waktu yang pas untuk menyela. Tahu-tahu, ia sudah berada di salah satu booth yang kosong, bisa ia lihat Historia, salah satu anak populer di kampus, berdiri di sampingnya. Perempuan itu sedang tersenyum cerah pada –entah siapa– itu pelanggan di depannya. Senyumnya lalu menyipu malu entah kenapa. Saat Reiner intip, ternyata ada seorang laki-laki yang mencium tangannya.

“Waktunya habis! Silakan keluar”

Bisa Reiner lihat seseorang yang berjaga di depan langsung membukakan tirai stannya Historia, dan si laki-laki pun undur diri dari sana.

“Lihat, ga susah kan.”

Itu Pieck yang menarik atensinya kembali. “Iya,” ia setuju dengan Pieck. Tidak ada yang susah dari sekedar merelakan diri untuk dicium demi membantu sesama, tapi bagaimana jika ada pelanggan yang kurang tahu-

“Kalau begitu aku pergi dulu, perutku udah ga tahan lagi. Daah Reiner!”

“Daah.” Lambaian tangannya pelan, tidak seperti Pieck yang semangat '45. Selepas temannya itu pergi, Reiner pun duduk di bangku yang sudah disediakan dengan manis. Tanpa mengetahui bahwa Connie di luar sana sudah mengganti papan nama di atas stan menjadi Reiner dari yang tadinya Pieck. Connie mengganti itu dari arahan Pieck tentu saja, tadi, sebelum wanita itu berlari entah ke mana setelah mengacungkan jempol padanya.

Ingin memakan manisan yang tadi ia beli selagi menunggu, tapi Reiner tidak menemukan apa pun di tangan kanan dan kirinya. Oh sialan, ternyata Pieck ikut membawa manisannya yang masih tersisa dua buah itu pergi. Nasib nasib. Jadi lah ia menunggu di sini dengan bosan, sambil sesekali memperhatikan Historia yang terus saja kedatangan pelanggan. Event yang satu ini bebas kan, jadi orang bisa memilih untuk mencium siapa pun yang mereka mau. Kalau begitu, Pieck

!!!

Reiner baru sadar bahwa ia menggantikan Pieck yang populer, tapi kenapa belum juga ada yang datang ya? Tahu sih Pieck itu orangnya yang jaim banget, tapi dia murah senyum kok. Ga jarang Reiner lihat, Pieck menyapa –entah itu siapa– mahasiswa yang papasan sama dia. Reiner tahu muka itu mahasiswa, tapi ga tahu namanya. Biasa lah.

“Umm, nnh.”

Aah, ia tidak dengar. Ia tidak mendengar apa pun itu yang keluar dari bibir Historia saat ini, ia tidak dengar!

“Ymir! Aku bisa pingsan, tahu!”

Berapa detik itu? Reiner rasa lebih dari sepuluh.

Ada kekeh tawa yang terdengar jahat sebelum Reiner mendengar orang yang lain itu berkata, “Kalau kamu pingsan, bakal aku kasih napas buatan. Tenang aja.”

Lalu terdengar pukulan kecil dan Historia yang merajuk. Duh, Reiner serasa jadi nyamuk. Saat akan mengambil ponsel untuk membunuh jenuh, Reiner dikagetkan dengan tirai stannya yang terbuka, menampilkan seorang wanita kecil dengan wajah lucu yang terlihat gugup. Ia pun tersenyum kecil untuk mencairkan suasana.

“H-halo, Reiner.”

“Halo.”

Lho, darimana perempuan ini tahu namanya? Reiner hanya tidak tahu, bahwa ia lumayan terkenal di kampus. Siapa yang tidak kenal coba? Orang ia adalah mantannya salah satu pentolan kampus yang terkenal nakal.

“A-aku, cium di kepala. Boleh?”

Reiner mengangguk. “Saya yang cium atau-” kalimatnya terhenti oleh anggukan malu-malu. Reiner tersenyum sekali lagi sebelum menundukkan kepala untuk mencium pucuk kepala si gadis. Wangi. Reiner bisa mencium sesuatu yang wangi dari rambut si gadis. Persiapan sekali, batinnya sambil tertawa geli, juga, perempuan itu hebat sekali ya. Sampai siap-siap seperti itu. Ia lalu melambaikan tangan, membalas si gadis yang akan pergi, lalu kembali duduk, dan berdiri jika ada pelanggan.

Sudah satu jam ia di sini. Reiner jadi cemas karena Pieck belum juga kembali. Apa dia baik-baik saja? Haruskah ia pergi untuk memeriksa? Tapi, ke mana perginya Pieck? Toilet, atau unit kesehatan? Reiner tidak tahu karena tadi Pieck bilang hanya sakit perut, entah karena panggilan alam atau tamu bulanan. Reiner tahu, karena ibu pernah memberitahunya hal itu. Ibunya bilang, bahwa ia harus peka pada hal sekitar, terutama wanita. Karena ia hanya memiliki ibu seorang dan sepupu perempuan yang harus dijaga. Lagi pula, Historia bilang bahwa shift-nya akan berakhir sebentar lagi. Ia pun menghela napas lega, tapi jadi tersumbat karena kemunculan dia yang tiba-tiba. Dia, yang pernah mengisi hari-hari Reiner dengan segala tingkah gilanya.

“Yo! Reiner. Terkejut melihatku?”

“E-eren.”

Di depannya berdiri Eren Jeager, seorang pentolan kampus yang cukup disegani banyak orang, berdiri di depannya dalam balutan kaus berwarna hijau yang pewarnanya sudah luntur, juga celana pensil yang membungkus kaki serta jaket kumal dan sendal swallow yang membuatnya tampak seperti gembel. Eren masih sama seperti yang terakhir kali ia lihat, hanya saja, rambut itu sudah bertumbuh panjang sehingga bisa diikat, memperlihatkan dahi yang menjadi daya tarik. Reiner menelan ludah gugup saat Eren sudah ada tepat di depannya. Pria itu berdiri dekat sekali dengan meja yang menjadi pembatas mereka berdua. Sejak putus darinya, Reiner memang sudah tidak berhubungan secara langsung dengan Eren. Paling-paling mendengar kabarnya saja dari burung yang mengatakan bahwa Eren suka bentrok sana sini, atau lini media sosial yang hanya menampakkan punggung. Ada satu foto yang Reiner ingat mendapatkan banyak sekali likes dari massa, yaitu foto Eren yang berada di puncak gunung ketika matahari terbit. Bukan, bukan latar pemandangan yang membuatnya mendapatkan banyak pujian dan juga umpatan dari banyak orang, melainkan karena masa otot di bagian abdomen yang Eren perlihatkan saat hendak memakai jaket. Entah itu foto diambil secara diam-diam atau memang terencana, yang jelas, Eren memang sengaja membagikan yang satu itu ke orang banyak. Ingin mengesankan orang?

“Oi.”

Reiner tersadar dari lamunan, wajah Eren tahu-tahu sudah di depan mukanya saja. Pria itu mendesiskan, “Jangan bengong aja, waktu gw ga banyak,” sebelum menempelkan bibir di atas bibirnya. Terkejut? Tentu saja. Bola mata Reiner sampai ingin meloncat keluar dari tempatnya. Saat ada gerakan yang menarik bilah bibirnya untuk memisah, Reiner panik. Langsung saja memundurkan kepalanya ke belakang cepat, tapi Eren tidak melepas, ia malah menggigit bibir bawah Reiner sedikit keras sebagai bentuk pertahanan, agar Reiner tidak pergi, namun sang mantan tetap kekeuh ingin lepas. Berdecak sebal, Eren pun akhirnya melepas setelah melayangkan gigitan terakhir. Kalau Reiner kesakitan itu bukan salahnya. Siapa suruh menolak?

Akan senyum remeh yang tertuju padanya, Reiner mengepalkan kedua tangan. Ingin rasanya memaki, tapi hatinya berkata lain. Ada alasan mengapa ia tidak melawan, karena Reiner sudah terlalu paham bahwa akan ada konflik jika ia menentang. Eren begitu, selalu dan akan terus seperti itu. Tipe manusia yang pasti mendapatkan segala yang ia mau, entah bagaimana caranya. Lebih baik diam dan berkompromi, daripada berkonfrontasi.

“Bibir Lo manis, pake lipbalm? Kenapa-”

“Ekhm.”

Tirai sudah dibuka oleh yang menjaga, tapi Eren tidak peduli.

“Kenapa ga dari dulu aja kayak gini? Lo berubah banyak. Jadi makin diem, makin penurut.”

Dulu, memang, Reiner dan Eren sering bertengkar, yang berujung pada putusnya hubungan. Salah satu faktor yang juga mempengaruhi sikapnya saat ini. Dari Eren ia belajar agar bisa lebih memperhatikan, bersabar, mengalah, serta banyak hal lain yang tidak bisa ia jabarkan dengan kata. Waktu satu tahun mungkin sebentar, tapi begitu lama bagi seorang Reiner Braun.

E-ekhm. Ren.”

Itu Jean, Reiner bisa melihatnya dari sini. Si penjaga tirai yang tadinya Connie telah berganti menjadi Jean. Apa itu berarti, shift-nya akan berakhir sebentar lagi?

Meskipun dipanggil, Eren tetap tidak ambil pusing. Ia kembali melanjutkan, “Ner, Lo beda banget sekarang sama dulu. Gw jadi kangen.”

“Err ...” Reiner tidak tahu harus membalas apa untuk yang satu itu.

“Lo harus tahu-”

“Eren, bangsat! Waktunya udah habis woe! Kalau mau lama-lama, beli tiket lagi sana! Yang banyak, jangan cuma satu. Ga modal banget jadi orang.”

“Berisik! Muka kuda! Bacot bener jadi orang.”

“Ngajakin ribut Lo!?”

“Berani Lo sama gw?”

“Wah, nantangin.”

Reiner cuma bisa tepuk jidat ngeliat dua orang itu adu bacot. Untung orang-orang yang ada di luar cepat melerai dan membawa keduanya ke luar, yang mana itu harusnya tugas Reiner sebagai Seksi Keamanan, tapi ia terlalu segan. Masa hidupnya serasa berkurang banyak setelah tadi menghadapi Eren. Lelah batin.

Reiner terduduk dengan lesu di kursi setelahnya.

“Reiner, pasti sulit buatmu, ya?”

Aah, kenapa bisa ada orang seperti Historia? Mood Reiner jadi langsung membaik secara tiba-tiba hanya karena melihat senyum prihatin itu tertuju untuknya. Ia lalu membalas senyum juga menggeleng, serta berkata, “Gapapa, udah biasa. Maaf kalau mengganggu, ya.”

“Engga, engga apa-apa kok. Laki-laki suka ribut kan, wajar.” Sedikit tawa, Historia tambahkan di akhir, yang mana terdengar sangat merdu di telinga siapa pun yang mendengar. Reiner jadi berandai-andai, kalau saja ia mempunyai pacar seperti Historia, akan jadi seperti apa hari-harinya nanti? Pasti akan dipenuhi bahagia, kan?

“Reiner.”

Suara itu sudah ia hapal di luar kepala, tanpa menoleh pun ia tahu, bahwa pemilik suara penuh wibawa itu adalah, “Bang Marcel?”

“Hai!”

Reiner bingung kenapa Marcel bisa ada di sini. Apa karena mau ketemu Pieck buat cium- ah, jangan memikirkan itu Reiner! Tidak baik, karena itu urusan pribadi Marcel dan Pieck.

“Kenapa ada di sini, Bang? Pasti mau ketemu Pieck, ya? Maaf banget Pieck-nya lagi keluar seben-”

“Engga.”

Eh. Kalau bukan untuk Pieck, lalu apa? Reiner tahu tentang gosip yang menyelubungi Marcel dan Pieck. Akan ada banyak orang yang mendukung jika keduanya bersatu, sebab Marcel adalah sang ayah, Pieck ibu-nya, dalam lingkar pertemanan mereka. Kedua orangnya sendiri juga tidak segan untuk berguyon sebagai pasangan orang tua untuk menasihati teman-teman mereka yang bandel, apa lagi jika adik dari Marcel sudah berbuat ulah, pasti-

“Aku di sini buat ketemu kamu, kok.”

Ehh?

“Gw? Serius Lo, Bang? Jangan becanda, mood gw lagi ga enak.”

Marcel tidak mengelak, ia hanya tertawa kecil, lalu menarik dagu Reiner agar mendekat. Reiner baru pertama kali ini melihat Marcel dalam jarak yang sangat dekat, dan entah kenapa ia jadi menahan napas. Marcel lalu berbicara dengan nada yang lembut, namun masih penuh dengan lugas. “Aku bisa serius kalau kamu mau. Sekarang, bisa kita mulai?”

Reiner kelabakan, tapi bibirnya sudah keburu bertubrukan dengan bibir Marcel. Tangan dikepal, dan ia hanya diam saja mematung dengan kelopak yang dipejam erat, namun seketika dibuka cepat saat ada hangat yang mengetuk celah. Marcel memundurkan kepala, lalu menitah, “Reiner, buka mulutnya.”

Entah sihir apa yang menyulapnya menjadi budak, Reiner menurut kepada perintah. Ia membuka mulut seperti yang Marcel instruksikan, sedikit, tapi cukup bagi Marcel untuk melesakkan lidahnya ke dalam sana. Menyapa langit-langit yang sedikit terasa manis, ia lalu menyesap sedikit yang membuat tubuh itu bergetar, bisa Marcel rasakan dari telapak tangannya yang memegang sisi rahang Reiner. Ia kemudian melepas sebentar hanya untuk mengucap, “Napasmu, jangan ditahan.”

Reiner mengangguk, dan kembali menerima ketika Marcel melesak masuk. Sudah menjadi tugasnya saat ini untuk dicium atau pun mencium, tidak mungkin lari dari tanggung jawab kan? Reiner adalah anak baik yang tidak berani melakukan itu. Ia begitu penurut, maka ketika Marcel mengundangnya ke dalam sana, Reiner menurut. Ia bertandang ke tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya. Tempat itu terasa lembab, juga basah, dan enak. Apa 10 detik selama ini? Padahal sebelum-sebelumnya terasa cepat. Kenapa tidak ada orang yang mengingatkan bahwa waktunya sudah habis dari luar sana? Kalau begini terus,

Puah

Tatap mata yang melihat ke arahnya masihlah sayu, mungkin belum turun dari awang-awang di atas sana. Marcel, jujur, ingin melanjutkannya, tapi ia tahu diri. Selintang garis saliva yang menuruni sudut bibir Reiner pun ia usap sebelum telapaknya merambat ke pipi. “Makasih ya, Reiner.” Bertepatan dengan itu, tirai di belakangnya pun terbuka. “Permisi, waktunya habis.”

Menyimpul senyum sekali lagi, Marcel pun pergi. “Sampai ketemu nanti.”

Selepas Marcel pergi dari hadapan, Reiner terduduk diam di kursi, sambil bersidekap, sambil menutup mulut dengan satu tangan, dan sambil berpikir, kenapa kejadian tadi bisa terjadi. Belum sempat ia temukan jawabannya, Reiner sudah keburu dikagetkan dengan kedatangan seorang pelanggan. Pelanggan itu adalah, “Bertolt?”

“Yo, reiner.”

Alisnya menukik dalam akan kehadiran Bertolt di sini. “Ngapain di sini? Lo ga-”

Kalimatnya tersendat, sebab Reiner tidak bisa memproses otaknya untuk menemukan sambungan yang pas, tapi Bertolt di depannya hanya tersenyum kecil seraya mengacak rambut belakang, kikuk.

“Ah, itu. Aku kira Annie ada di sini, ternyata engga, padahal udah beli tiket. Aha-ha.” Tawanya jelas terdengar canggung, dan itu membawa pria lainnya tertawa. Bertolt langsung terdiam hanya untuk mempersilakan Reiner tertawa geli.

“Mau cancel aja? Gw bisa bilang sama panitia buat ngebalikin uangnya kalo Lo ma-”

“Ga usah, ga enak.”

Akibat kata yang dipotong, suasana kembali canggung. Reiner berdehem kemudian menawarkan, “Kalau gitu, mau ciuman?” sambil tertawa.

“Boleh.”

Eh?

Eeeh?

Padahal tawaran itu hanya sebatas guyon, tidak ia sangka Bertolt akan menerima. Pasti bercanda kan? Bertolt memang bukan orang yang suka bercanda jika dilihat dari luar, tapi pria itu juga memiliki humor yang bagus, kadang. Reiner-

!!!

Belum sempat Reiner berdalih bahwa itu hanyalah guyon, bibirnya sudah keburu bertemu dengan bibir Bertolt, bertepatan dengan tirai stan yang langsung terbuka.

“Waktunya udah habis, Pak! Ayo keluar.”

Keduanya lalu saling melempar senyum canggung sebelum yang tinggi mengundurkan diri. “Daah Reiner.”

Reiner hanya mengangguk sebagai balas, lalu kembali terduduk di kursi dengan wajah melas. Tidak habis pikir dengan kejadian-kejadian yang sudah terjadi. Gara-gara menggantikan Pieck, ia jadi harus dicium tiga laki-laki. Reiner memang homo, tapi bukan berarti ia gampangan!

Sebelum ketiga laki-laki itu datang, tugas Reiner tidak semelelahkan batin begini. Para wanita hanya meminta cium di dahi atau pipi, sesekali juga tangan, dan, tunggu, ada yang janggal.

Apa Pieck tadi juga mencium wanita? Homo, Sapiens? Kalau iya, Reiner tidak begitu kaget, sebab Pieck tidak pernah repot menyembunyikan ketertarikannya terhadap seorang mahasiswi dari fakultas teknik yang terkenal dingin, Yelena.

Memikirkan itu membuat Reiner pusing, mana belum makan siang, ia jadi emosi. Bukan marah, tapi lebih ke, ya, kalian tahu bagaimana rasanya ketika lapar tapi diharuskan untuk mengerjakan sesuatu bukan? Iya, seperti itu. Rasanya jadi ingin makan orang. Sedang asiknya melamun, Reiner jadi abai kepada orang yang baru saja masuk.

Brak!

Reiner tersentak karena gebrakan di meja. Mendongak untuk memaki si pelaku, ia malah jadi mingkem saat melihat, “G-galliard?!” muda ada di hadapan. “Ngapain di sini?”

Porco Galliard, yang paling muda dalam keluarga Galliard, adik Bang Marcel itu menatap tajam ke arahnya, seakan-akan Reiner mengajukan pertanyaan paling bodoh yang ada di dunia. Galliard muda lalu membalas, “Pakek nanya lagi, ya mau ciuman lah!”

Ugh, menyebalkan sekali. Ingin rasanya Reiner balas memaki, tapi ia tahu itu percuma, sebab Galliard yang satu ini memang jarang berbicara dengan nada baik seperti sang kakak. Jadi, Reiner yang harus memanjangkan kesabaran lebih, atau mereka akan berakhir dengan baku hantam. Reiner tidak begitu menyukai kekerasan, jujur, tapi akan ia lakukan jika harus, tapi untuk yang satu ini, mari coba berkompromi.

“Err, engga salah masuk? Yang cewek-cewek stannya ada di sebe-”

“Males, yang lain ngantri. Cuma Lo doang yang kosong.”

“Oh, gitu.”

Keduanya lalu main pelotot-pelototan, Reiner dengan tatap ingin tahu –kenapa Galliard bisa ada di sini– dan Porco dengan tatap sebal karena Reiner yang lamban –mengerti situasi. Ia lalu berdecak, “Udah cepet, sini nunduk. Kerja yang bener,” dan langsung mendorong belakang kepala Reiner untuk merunduk. Satu raupan, dan bibirnya pun terkunci dengan bibir Reiner.

Porco menahan erat belakang kepala saat Reiner hendak melepas, ia lalu melonggarkan sedikit kuncian, menunggu agar Reiner terbiasa, ia baru mulai menyesap bilang yang bawah, kemudian atas, lalu menggigit-gigiti kecil labia yang terasa kenyal. Seiringan dengan itu juga, tirai pun terbuka diiringi dengan teriakan, “Waktunya habis!”

Bite

Karena kaget, ia jadi tidak sengaja menggigit bibir Reiner sampai mengeluarkan darah sedikit. Porco panik melihat Reiner yang mendesis sakit, ia lalu asal memberi sapu tangan yang –untungnya– masih ada di saku jaket. Porco harap sapu tangan tersebut tidak bau karena sudah tiga hari berada di dalam sana. Tenang, belum Porco pakai, hanya dibawa untuk jaga-jaga saja.

“Sorry, sorry. Gw ga sengaja.”

Menggeleng kecil, Reiner, “Gapapa.”

“Bang, keluar Bang! Waktunya abis ini.”

“Iya, bentar!” Kembali lagi ke Reiner, Porco, “Sorry banget, gw ga sengaja. Gara-gara diteriakin, jadi kaget.”

Jean, yang ada di pintu, tentu saja bisa mendengar, ia lalu membalas, “Yeu, nyalahin gw. Itu mah Lo-nya aja yang ga bisa ciuman kali.”

Porco, yang di-underestimate seperti itu, tentu saja langsung nyolot. “Bacot bener jadi orang.”

“E, eh, udah. Jangan berantem. Gw gapapa Pok-ekhm, maksudnya, Galliard. Cuma luka kecil, nanti sembuh sendiri.”

“Oke.”

Reiner tersenyum kecil sebagai reaksi untuk yang satu itu. Senyumnya lalu berubah kaku saat mendapati Porco yang belum juga pergi. Pria itu masih menatap dengan pandangnya yang seperti biasa, hanya saja, kali ini diliputi kekhawatiran. Reiner sedang tidak mengantuk kan?

E-ekhm. Durasi.”

Setelah peringatan yang satu itu, baru Porco benar-benar melangkahkan dirinya untuk pergi. Saat bertemu dengan Jean di luar, ia mengacungkan jari tengah sebagai balasan yang tadi. Jean? Tentu saja tersulut emosi, tapi ia belum makan siang, jadi hanya membiarkan si pendek yang satu itu untuk pergi dengan tenang. Ia lalu mengeluh. “Ini kenapa bujang-bujang betah banget di dalam dah? Gara-gara jomblo apa gima ...” tatap matanya bertemu dengan pandang Reiner yang sekarang terlihat malu-malu. Dari jarak tiga meter ini, bisa Jean lihat juga bahwa pipi temannya yang satu itu memerah sedikit, “-na?” Ia jadi menelan ludah.

“A-apa!? Ini kapan selesainya? Gw laper.”

Dihardik seperti itu, entah kenapa Jean malah jadi gelagapan. Reiner tadi, terlihat- argh. “Mana gw tau! Bentar lagi kali. Gw bukan panitia, ini disuruh ngegantiin Connie karena orangnya lagi boker.”

Tidak menunggu balasan Reiner lebih lanjut, Jean langsung saja menutup tirai, dan kembali berjaga di luar. Cuaca siang ini panas, membuatnya dehidrasi sehingga sampai memikirkan yang tidak-tidak. Iya, pasti begitu. Kalau bukan karena fatamorgana yang tadi ia lihat, pria besar seperti Reiner tidak lah manis!

End.


Epilog

“Aaaa, untung ada Reiner, aku jadi selamat.”

Di sore pukul empat lebih, ia akhirnya terbebas dari tugas, tugas menjaga stan dan juga tugasnya sebagai Seksi Keamanan. Kini, ia dan Pieck sedang berjalan berkeliling mencari jajanan. Mentari sudah bersiap untuk kembali ke peraduan.

“Emangnya tadi kenapa? Sakit perut karena sembelit atau datang tamu bulanan?”

“Datang tamu bulanan, sakit banget. Habis minum obat aku malah ketiduran. Maaf banget ya.” Sambil menangkupkan dua tangan, Pieck juga memasang raut yang meyakinkan. Apa yang ia ucap tidak sepenuhnya benar, tapi tidak bohong juga. Perutnya memang mendadak keram karena datang bulan secara tiba-tiba, tapi untuk Reiner yang menggantikan ia menjaga stan, itu memang sudah direncanakan. Sakit atau tidak perutnya tadi, pasti akan tetap ia lakukan, sebab Pieck melihat potensi dalam diri Reiner yang orangnya sendiri tidak menyadari.

“Kamu mau apa? Pilih aja, aku yang traktir.”

Ditawari seperti itu, Reiner jadi bingung harus memilih apa, karena ada begitu banyak yang ingin ia coba, tidak mungkin ia meminta itu semua ke Pieck kan, Reiner laki-laki, masih tahu diri bahwa ia yang seharusnya menjajani. Namun kemudian, ia teringat dengan perkataan Sasha tadi siang.

“Nanti sore bakal ada pisang coklat. Kamu pasti suka.”

Reiner langsung saja menyebutkan itu. “Pisang coklat.”

“Pisang coklat? Boleh, di mana tempatnya?”

Reiner pun lalu memandu sampai di depan stan Sasha yang sudah mulai sepi. Ia tersenyum ketika Sasha menyambutnya dengan ceria.

“Reiner! Datang lagi ternyata. Ayo ayo, dipilih. Masih ada banyak, pisangnya. Pieck juga, jangan malu-malu. Semuanya serba 20 ribu. Murah kannn.”

Keduanya tersenyum atas penawaran ramah tersebut dan masing-masing pun memilih satu. Reiner dengan rasa original, choco, dan Pieck dengan pisang yang dilapis coklat rasa stroberi. Saat Pieck menggigit satu gigitan kecil, gigitan Reiner sanggup menghilangkan setengah potong dari pisangnya. Yang melihat sampai menganga. Tak lama setelah itu, terdengar tawa geli dari samping si pria besar. Menoleh ke samping, ternyata itu Marcel. Galliard yang paling tua lalu berkomentar, “Reiner, mulutnya besar ya.”

UHUK!

Pieck langsung tersedak, sebab Marcel mengatakannya dengan nada yang mencabangkan makna ganda di telinganya. Setelah menepuk-nepuk dada berapa kali, akhirnya pisang yang ia kunyah bisa tertelan juga. Reiner khawatir dan segera membelikan minum, sementara Marcel kembali tertawa saat bertatap-tatapan dengan Pieck yang kini melotot ke arahnya dengan raut lucu.

Tidak jauh dari sana, ada perdebatan yang –sepertinya– akan menjadi kisruh jika terus berlanjut.

“Lo ngapain di sini anjing!?”

“Suka-suka gw lah. Emangnya Lo siapa? Ngelarang-larang gw, babi.”

Saat Eren akan mengambil langkah maju menuju Reiner, Porco menahan pria itu dengan cara merentangkan satu tangannya menghalangi jalan si Jeager muda. Eren yang dihalang-halangi tentu saja tidak terima. Debat berubah menjadi gontok. Setelah beberapa saat, Porco pun berhasil mengusir Eren dari sana. Ia lalu menghampiri tiga orang yang kini sedang bercanda. Berjalan pelan hingga sampai di belakang Reiner dan, “Oi! Makannya biasa aja. Ga usah dihayatin.”

Untung bagi Reiner karena bisa mengeluarkan pisangnya yang ke-dua dari dalam mulut sebelum tersedak, belum ia gigit.

“Porco. Ngagetin aja.”

“Pok-ko. ^^”

“Dek, dari mana? Udah jajan belum?” Marcel lalu menyuruh adiknya itu untuk mengambil satu dari pisang yang dijajar. Karena ditraktir, Porco pun tidak segan untuk mengambil satu. Keempatnya lalu bercerita tentang hari ini sambil duduk di salah satu meja yang sudah disediakan.

End.

Wonjin x Jungmo

PG-17

Sebenarnya tidak terlalu eksplisit, tapi ya, jaga-jaga saja.


From the sky drop like confetti

All eyes on me, so V.I.P

Dalam 22 tahun hidupnya, Jungmo baru kali ini merasakan hal ini. Ternyata rasanya menyenangkan menjadi perhatian. Saat baru memasuki ruangan ini tadi, ia merasakan banyak sekali pandang mata tertuju padanya. Apa ini karena baju yang ia beli kemarin? Atau, sepatu yang baru diambil dari laundry? Mungkin juga, karena polesan make up di wajahnya yang kali ini sedikit ia tebalkan dari hari biasa? Ya, ia memang sengaja melakukannya karena ini malam yang spesial. Segala kepenatannya tentang mengejar tanda tangan dosen untuk menerima skripsinya sudah berakhir. Bahan presentasi pun sudah selesai ia kerjakan dan tinggal menunggu sidang dua minggu lagi. Memang terlalu cepat untuk merayakan, ia tahu, tapi tak apa, hitung-hitung menghargai diri sendiri setelah berusaha keras. Ia lalu berbisik pada Woobin di sebelahnya. “Apa aku terlalu berlebihan? Semuanya seperti melihat ke sini.”

Sang teman seperjuangan sedari masa OSPEK pun terbahak atas kalimat yang ia rasa –sok– rendah hati itu, walau ia akui wajar saja jika Jungmo begitu, temannya yang satu ini seringkali tidak percaya diri soalnya, tapi dengan dandanan yang seperti itu, Woobin rasa mustahil. “Mereka memperhatikanmu karena kau menarik!” Terbahak geli, ia lalu menepuk pundak Jungmo dua kali sebelum pergi, ada seseorang yang hendak ia temui. “Pilih satu dan ajak pulang, kau pasti bisa. Aku ke sini.”

“Tapi, he-hei!”

Meski bukan kali pertama Jungmo ke tempat hiburan malam macam ini, tetap saja rasanya canggung jika sendiri. Di waktu-waktu yang lalu ia terbiasa datang dengan teman, minimal lima orang. Kini ia sendiri, dan kikuk pun menjalari sendi-sendi.

Lebih baik kita minum dulu, itu yang batinnya katakan sembari melangkah menuju bar di ujung sana, sesekali ramah membalas senyum yang terlempar untuknya, dan langsung melengos saat ada yang mengedip genit, pura-pura tidak lihat. Walau casingnya seperti cassanova yang suka gonta-ganti pacar, kata Woobin. Jujur, Jungmo baru sekali menjalani hubungan dalam konteks romantis, itu pun tidak manis-manis amat sebab ia memiliki pacar yang manja, yang harus diperhatikan 24/7 kalau tidak diancam putus. Bagi Jungmo yang masih naif dalam urusan percintaan, dulu, sang –mantan– kekasih adalah dunia baginya. Kalau diingat-ingat, bodoh juga. Ia jadi tertawa sendiri.

Mengambil tempat di bangku tinggi, ia pun memesan segelas Brandy. Belum sampai pesanannya datang, sudah ada saja orang yang datang, duduk di sampingnya dengan niat menggoda. Jungmo tahu sebab orang itu mencondongkan tubuh ke arahnya. Meski belum memiliki pengalaman dengan banyak manusia, nilainya di mata kuliah komunikasi cukup bagus. Sengaja ia acuhkan, tapi tangan itu malah mengetuk pundak, ugh. Terpaksa ia menoleh, hanya untuk menemukan senyum yang menurutnya creepy.

“Hei, I'm Josh. Kau?”

Dilihat-lihat, memang orang ini memiliki wajah asing yang ya, tampan, tapi maaf, senyum itu sudah cukup untuk membuat Jungmo mengatakan tidak. Meski Woobin menyarankannya untuk mencoba dengan sesama. Pria di hadapannya ini jelas bukan pilihan, thank you, next.

Apa yang harus ia jawab agar si pria asing ini tidak sakit hati? Karena Jungmo tidak mau memberitahukan namanya.

“I, uh, I,” tuh kan, ia memang tidak pandai mencari alasan. Tidak bisakah pria ini melihat raut mukanya yang menunjukkan keengganan? Bukannya malah terus melebarkan senyum seakan memaksanya untuk bicara.

“Hey, baby. Menunggu lama?”

Itu bukan Woobin. Tangan yang merengkuh pinggangnya juga hidung yang menyentuh telinga, itu jelas bukan Woobin, sebab Woobin tidak berbau seperti ini. Wangi parfumnya beda, masih Jungmo ingat dengan jelas. Ia lalu menoleh dan bertemu dengan senyum itu, yang entah kenapa bisa membuatnya sedikit rileks. Mata dan senyum itu memancarkan ramah, bagai seorang pahlawan yang menyelamatkan seorang korban dari serangan penjahat. Jungmo tahu bahwa mata itu menyuruhnya untuk play along, dan ia pun melakukannya. “T-tidak juga, aku baru datang.”

“Begitu?”

Jungmo mengangguk, tidak tahu harus menjawab dengan apa selain dengan itu. Ia harap anggukannya tidak terlalu kaku.

“Maaf membuatmu menunggu lama.”

Pria yang tidak dikenalnya ini lalu tertawa, renyah yang membuat Jungmo tersenyum tipis lalu mengatakan, “Tidak apa-apa.”

Dari ekor mata, ia bisa melihat si pria asing akhirnya mengundurkan diri. Kursi di sebelahnya pun digantikan oleh pria berkemeja merah ini. Tawa renyahnya berubah menjadi geli seraya memesan segelas wine. Sambil tersenyum ke arahnya juga, ia berkata, “I'm not good with alcohol.”

Jungmo lalu tertawa kecil. Kalau tidak kuat dengan minuman beralkohol, kenapa memesan satu?

“Then, what you're good at?” Entah apa yang merasuki sampai ia berani bertanya seperti ini. Oh ayo lah, bagaimana pun juga dia itu orang asing. Biasanya Jungmo tidak begini, tapi kini ia begitu asik memerhatikan raut itu yang seperti sedang berpikir. Ya, dia berpura-pura, meski tahu, lengkung di bibir tetap menunjukkan geli.

“Playing?”

Keningnya sedikit mengerut atas nada yang dikesankan ambigu. Jungmo lalu kembali bertanya. “What kind of play?” Ia serius bertanya. Siapa tahu dia bisa bermain sepak bola atau semacamnya?

“You really want to know?”

“Can't I?”

Oh, apa ia terlalu memaksa sehingga pemuda itu diam? Sepertinya tidak juga, karena wajah itu kini memandanginya dengan lekat. Jungmo jadi memundurkan sedikit tubuhnya yang tadi maju.

“Kukira kau lugu.”

“Kau pikir begitu?”

Dia mengangguk, lalu memberikan alasannya. “Dari tubuhmu yang tegang ketika kurengkuh tadi.”

Nadanya mengejek, pun tatap mata yang terarah ke bagian pinggang. Jungmo refleks memegang pinggangnya sendiri, dan membuat pria itu tertawa. Ia lalu mengutarakan pembelaan. “Itu karena kau muncul secara tiba-tiba.” Ia tidak ingin dianggap lugu. Sekedar sentuhan, ia bisa menerima jika itu,

“Oh, jadi kalau kuberi aba-aba, kau tidak akan tegang?”

“Ya, mungkin.”

... dicoba? Kedengarannya menarik. Apa lagi pria yang baru ditemuinya ini selalu mempunyai topik yang menyenangkan untuk dibicarakan. Dia menanyakan di mana Jungmo membeli jam tangan yang ia pakai hari ini, yang Jungmo jawab dengan, “Hadiah dari Ibu.” Pria itu mengangguk juga mengapresiasi hubungannya dengan sang Ibu. Kesan asing perlahan berubah menjadi rasa ingin tahu. Jungmo menerima saat diajak ke lantai dansa. Tidak disangka-sangka, dia pandai menari, pandai membawa kesenangan, dan, pandai juga berciuman.

Semuanya terjadi begitu cepat. Dari lantai dansa dimana ia membebaskan segalanya, berlanjut ke bisikan penuh pujian bahwa ia telah melakukan hal yang bagus, lalu ke mata yang seakan menganggapnya sebagai hal yang paling menarik sedunia, berakhir lah ia di sini, di sudut ruangan yang tidak terkena cahaya dari lampu disko. Ia baru pertama kali melakukan ini, ciuman yang melibatkan lidah. Hangat menjalari mulutnya seiring dengan geli yang dia sapukan pada langit. Aliran napasnya jadi tersumbat karena panik, tidak harus berbuat apa dan sepertinya itu terasa, terbukti dari dia yang memelankan tempo ciuman. Lidah itu keluar dari mulut dan ganti menyesap bilah bawahnya. Baru saat Jungmo sudah bisa mengatur napas dengan baik, ia sedikit membuka mulut, yang langsung disambut olehnya dengan baik. Lidahnya melesak masuk kembali yang membuat Jungmo seperti melompat ke atas. Ia meremas belakang rambutnya saat merasa ciuman itu sudah tidak tertahankan, saat saliva tidak lagi dapat ia cegah untuk tidak menuruni dagu, dia pun berhenti. Mengusap lelehan saliva di dagunya, dia lalu berkata, “Kau mabuk.”

“What?” yang tentu saja tidak Jungmo terima.

“You're drunk. Di mana rumahmu, biar kuantar pulang.”

“Aku tidak,” ugh, perutnya terasa mual tiba-tiba, jadi ia menurut saja saat digiring ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi, tidak ada apa pun yang keluar dari mulut, Jungmo lalu hanya bersandar di dinding samping wastafel, tersenyum-senyum geli sendiri. “Sudah kubilang, toleransiku terhadap alkohol itu ting,” ia haus dan juga mengantuk, kata-katanya juga jadi sering berhenti di tengah jalan, dan Jungmo hanya menurut pada setiap kata yang dia bilang, seperti,

“Berikan ponselmu.”

“Naik.”

“Pegangan yang erat.”

Juga,

“Kita sudah sampai.”

Jungmo menarik dagunya dari pundak itu lalu menoleh ke arah bangunan futuristik di samping. Mengerjapkan mata beberapa kali, ia akhirnya sadar bahwa telah sampai di rumah, rumahnya yang berada di dekat area hijau pinggir kota, kawasan bagi para orang elit untuk berinvestasi. Ia disuruh tinggal di sini dengan alasan untuk menjaga rumah. Turun dari motor, Jungmo lalu mengeluarkan dompet dari dalam saku, saat ia akan membuka, tangannya ditahan olehnya.

“Kau kira aku tukang ojek?”

Jungmo tertawa, kemudian menggeleng. “Hanya, berterima kasih?”

“Tidak usah.” Merasa tidak ada yang perlu dibicarakan, dia pun hendak memakai helmnya kembali, tapi ditahan oleh Jungmo.

“Aku selalu penasaran dengan sesuatu.” Mendapat satu alis yang terangkat sebagai jawaban, Jungmo tersenyum sebagai balasnya. Senyum yang sangat memukau, sampai-sampai dia diam saja saat Jungmo kembali naik ke motor, kali ini dengan posisi di depan pemuda itu. Bagaimana caranya ia merentangkan kaki, dan menyamankan diri di bagian tangki yang landai itu sukses membuat helm di tangan jatuh. Karena dasar yang landai, pada akhirnya tetap membuat Jungmo merosot ke bawah, membuat bagian selatan keduanya menempel dengan cara yang intim. Jungmo terus memperhatikan bagian itu sambil terkikik geli. Ia lalu menatapnya tepat di mata, dan kembali mengulang, “Aku selalu penasaran, apa mengendarai motor begitu asik? Padahal akan terpapar banyak sekali debu.” Ia tidak menyukai debu, karena akan mendatangkan alergi pada kulitnya.

“Motor bisa membuatmu keluar dari kemacetan dengan cepat.”

“Aah.” Benar juga. Ia lalu mengajukan pertanyaan yang kedua. “Motormu, apa dari pabriknya sudah begini?” Jungmo jarang sekali melihat motor yang seperti ini berkeliaran di jalan. Ia hanya pernah melihatnya di televisi, itu pun di tayangan program dengan resolusi rendah, yang berarti, termasuk ke dalam jenis motor lama. “Atau, kau yang memodifikasinya sendiri?”

“Tidak, dan ya.”

Jungmo bisa merasakan cengkraman pada pahanya setelah jawaban itu ditandaskan. Sorot mata yang mengarah padanya juga berubah sedikit kaku dengan kesan intimidasi. Jungmo tersenyum geli, salahnya karena sedari tadi tidak bisa diam, yang membuat selatan keduanya saling bergesekan. Oh, Jungmo bisa merasakan sesuatu yang mulai mengeras. Ia tertawa dalam hati.

“Hey, apa kau pernah melakukan sesuatu di sini?” katanya sambil membawa satu tangan ke belakang untuk menopang bobot tubuh.

“Apa?”

Dia begitu bodoh, atau, hanya berpura-pura tidak tahu? Padahal Jungmo sudah menekankan sesuatu dalam kalimatnya. Maka dari itu, Jungmo pun maju, yang membuat dua benda di bawah sana tertekan, lalu membisikkan. “Do you ever had sex in here?”

Jungmo kira, dia akan kembali berpura-pura bodoh dengan menggunakan sikap gentleman, tapi yang keluar dari bibir itu adalah sebuah dengusan yang terdengar mengejek. Mata itu kemudian berubah tajam, yang berhasil membawa gelenyar aneh sampai ke tulang punggung Jungmo yang paling belakang. Mungkin efek alkohol masih tersisa di tubuhnya, karena Jungmo semakin nekat memepetkan tubuh kepadanya.

“Apa ini sebuah undangan?”

Jungmo memiringkan kepala sedikit ke samping baru membalik tanya. “Menurutmu?” Ia sudah berada di posisi sedia, hanya tinggal membuka mulut dan bibirnya akan bertemu kembali dengan bibir itu, dan ya, ia mendapatkan apa yang ia inginkan.

Kiss


Motor itu terparkir di bawah, sedangkan pemliknya ada di sini, bersandar di dinding kaca karena Jungmo yang mencium terlalu agresif. Pergulatan untuk memperebutkan kuasa pun terjadi. Jungmo hampir menang, tapi kalah saat ada penyusup yang masuk ke balik bajunya.

“Nghh.”

Dengan begitu cepat, keadaan pun berbalik, tubuhnya kini terus terdorong sampai duduk di kasur, dengan lutut pria itu berada di antara celah kakinya yang terbuka lebar.

Semua menjadi ringan dan geli di saat yang bersamaan. Jungmo mencengkeram erat kemeja bagian depan pemuda itu ketika dirinya dibaringkan ke kasur. Ciuman pun terlepas dan dua pasang mata menjadi saling pandang. Ia lalu lirih mengatakan. “Beritahu aku namamu.”

Ada kekeh tawa geli sebelum pintanya dijawab dengan tanya. “Agar bisa kau desahkan nanti?”

Jungmo pun balas tertawa, kemudian berkomentar, “Lucu.” Bagaimana cara dia mengatakan itu saat sudah membaringkan seseorang ke kasur, itu lucu.

“Wonjin. Namaku Wonjin.”

Mulutnya terbuka saat sudah mengetahui satu fakta itu. Aah. Ia lalu balas memperkenalkan diri. “Aku Jungmo.” Agaknya terlalu terlambat karena kini keduanya sudah berada di atas ranjang.

“Oke, Jungmo. Perlu kupersiapkan atau,” tatap itu meragu, bahasa tubuhnya juga mengatakan bahwa bocah kaya ini tegang. Sudah sangat bisa diduga bahwa, “Ini pengalaman pertamamu?”

Jungmo mengalihkan pandang lebih dulu, baru menjawab, “Dengan laki-laki, setidaknya.”

“Then I guess, I have to prepare you first.”

“Relax.”

Kata itu yang menjadi awal mula dari segalanya. Dari kecupan yang ditabur ke seluruh tubuh, sampai semangat yang dicurahkan di tiap aksi.


Fajar menyingsing, dan tiba saatnya untuk kembali pada realita. Wonjin bahkan tidak menyempatkan diri untuk sekedar tinggal sampai pagi. Entah urusan apa yang pemuda itu miliki sehingga membuatnya langsung pergi. Mungkin ada seseorang yang menunggunya di rumah? Kemungkinan dari pertanyaan itu sangat besar, terlihat dari bagaimana pria itu memperlakukannya semalam, seperti sudah memiliki jam terbang yang tinggi.

Hangatnya cahaya dari mentari membuat Jungmo memeluk diri. Tubuhnya yang berbalutkan selimut putih jadi berlomba terang dengan sang sinar surya. Bibirnya lalu tersenyum akan keindahan pagi, tapi sudut dalam hatinya jelas meneriakkan sesak, yang pasti ditolak oleh akal sehat.

End.