Sebuah fanfiksi Minkyu, Eunsang, dan Junho.
Contain: love triangle, major character death, and angst.
Dia adalah manusia yang sensitif, secara sukma maupun raga.
Dia memiliki hati yang perasa, juga tubuh yang tidak bisa digunakan sesukanya.
Dia tidak bisa makan telat. Lewat barang dua jam saja, lambungnya akan langsung merintih, dan membuat mukanya pucat pasi.
Dia tidak bisa berlari kencang, sehingga tidak bisa mengejar bis ataupun kereta yang akan berangkat di detik-detik terakhir.
Dia tidak bisa mengonsumsi makanan pedas pun asam yang berlebihan. Maka aku yang menyeruput sisa es limun itu untuk bisa membuatnya tersenyum lega. Tak apa walau nanti harus bersemedi di kamar mandi, karena cahayanya harus tetap bersinar terang sebagai lentera jalanku.
“Kalau kamu sakit perut nanti, jangan salahin aku lho ya.”
Atas tuduhan lempar batu sembunyi tangannya, aku menyembur tawa geli, kemudian membalas dengan jumawa, “Ga akan. Perutku kuat,” sambil menepuk-nepuk ringan perut yang mulai berbunyi, kemudian terdiam sebentar karena sepertinya ada yang ingin keluar. Aku pun pamit, berdiri, dan hanya bisa meringis kecil atas tawanya yang semakin membahana saat kaki ini melangkah ke kamar mandi di belakang. Sepertinya tadi terlalu banyak menuang sambal.
“Sang.”
“Ya?”
Saat ini dirinya tengah berjalan di sampingku sehabis kami menyantap makan siang tadi. Dia tidak bisa berjalan cepat, jadinya aku yang harus menyesuaikan langkah. Berjalan beriringan bersama seperti ini menyenangkan, tapi tidak dengan segala nasihat dan berbagai macam pertanyaan khas polisi yang sedang menginterogasi seseorang. Aku tahu niatnya bertanya seperti itu baik, tapi masalahnya terletak pada topik pembicaraan yang sangat ingin aku hindari saat ini, yaitu tentang segala tetek bengek kegiatan magang.
“Iya, aku udah nemu tempatnya.”
“Iya, aku udah ngajuin surat ke sana, ini lagi nunggu balasan. Cadangannya juga ada kok, kalau-kalau yang ini ga keterima. Junho ngajakin aku buat magang di tempat kenalan Papahnya.”
Bilang aku berlebihan karena memiliki prasangka seperti ini, tapi langkah yang tadinya ringan, kini jelas menjadi berat. Wajah yang tadinya hidup, juga berubah lesu, dan kepala yang tadi menghadap ke depan, kini lebih memilih untuk memandang paving block jalanan, sesekali juga menendangi kerikil kecilnya jauh ke depan, atau ke selokan air di samping kanan. Setelah itu baru dia berkata, “Itu juga bagus dicoba,” dengan senyum yang langsung membuat dada ini sakit. Harusnya pembicaraan tentang orang lain tidak usah kusebut, karena dia pun begitu, tidak pernah membicarakan orang lain di saat kami sedang berdua seperti ini. Aku jadi merasa bersalah, tapi tangan yang menarik ku untuk mempercepat langkah di detik berikutnya berhasil membuat perasaan biru itu terbang. Dia kesusahan menarik maju, sebab di sini aku menahan beban pada diri yang enggan untuk bergerak. Sengaja, agar wajah itu memerah marah sehingga aku bisa menjalankan misi untuk membuatnya lebih kesal. Tangan yang ada di genggamannya kutarik dengan sekuat tenaga, yang menyebabkan dia hilang keseimbangan, tapi sedikit pun luka tak akan kubiarkan menghiasnya. Jadi, langsung saja kusambar kusambar tubuh itu dan menaruhnya di bahu, kemudian berlari dengan dia yang berteriak tidak terima.
Hampir setengah dari kapasitas tempat acara telah ditempati. Ini seminar umum, jadi wajar kalau banyak yang menghadiri, untuk menambah ilmu pun mengincar sertifikat yang akan berguna saat mencari kerja nanti, atau sekadar ingin mendapatkan snack box dan goodie bag dari media partner yang bekerja sama. Di saat aku masih memindai kursi-kursi mana saja yang kosong, seruannya terhadap seseorang yang kami kenal membuatku juga menatap ke arah yang sama dengan pandangannya.
“Ah, itu Junho.”
“Dateng juga ternyata.”
“Emangnya dia ga bilang ke kamu kalau mau datang ke sini?” tanyanya sembari kami berjalan melewati belakang kursi-kursi audiens untuk mencapai deretan kursi yang masih cukup kosong di di dekat pintu keluar, melewati barisan kursi tempat Junho berada.
“Engga.”
Saat kami menempati dua kursi di barisan tengah yang aku pilihkan, dia tertawa. Meskipun kecil, tapi masih bisa kudengar karena jarak kami yang berdekatan. Dia kemudian semakin mendekat ke arahku hanya untuk membisikkan, “Temennya kan bukan cuma kamu aja ya.”
Tidak ada respon apapun yang bisa diberikan selain tertawa, lagipula perkataannya tadi benar adanya.
“Enak ya, jadi Junho, bisa berbaur sama siapa aja.”
Aku mengangguk atas perkataannya. Cha Junho yang ia maksud adalah teman masa kecilku. Sedari SD, SMP, SMA, dan kuliah, kami selalu satu sekolah walau tidak sering berada di kelas yang sama, dan dari yang bisa aku lihat, Junho adalah tipe manusia ekstrovert yang menyukai berada di tengah keramaian, berbanding terbalik dengan dirinya yang kulihat hanya sering bermain dengan satu atau dua orang.
“Kamu juga bisa, Kak, kalau ada usaha.”
Jawaban selanjutnya yang dia berikan adalah tawa geli sambil menggelengkan kepala, dan aku di sini hanya tersenyum kecil sambil memandang segala tingkah lakunya. Begini pun tak apa. Tak ada yang harus ia rubah jika itu hanya untuk memenuhi harapan orang lain, karena dengan menjadi dirinya sendiri, kami bisa bertemu.
“Apa? Kenapa ngeliatin terus? Di mukaku ada sesuatu?”
Aku mengangguk yang membuat wajah itu berubah cemas di detik selanjutnya. Tawa ini bisa ditahan sebab dia jadi menyodorkan diri untuk kuperhatikan lebih lanjut.
“Mana? Di mana yang kotor?”
Jikalau muka ini terlumuri dengan lumpur panjat pinang atau kecap sehabis menggigiti koin di hari kemerdekaan, pasti masih ada kapitalis-kapitalis di luar sana yang ingin mengabadikan wajah ini di dalam galeri seni mereka.
“Ga ada yang kotor, adanya yang ganteng,” ucapku sambil tersenyum dengan sangat yakin, tapi tetap tidak mendapatkan reaksi apa-apa di detik berikutnya, sampai muka speechless-nya berubah sedatar pantat panci.
“Garing, banget, sumpah. Jangan pernah ngegombalin cewek deh kalo kataku, nanti yang ada kamu malah malu-maluin diri sendiri.”
“Makasih atas sarannya.”
“Sama-sama.”
Aah, Kim Minkyu. Jangan membuatku kewalahan dengan ekspresi begitu. Tatapnya yang kini dicuri malu-malu dariku serta leher yang memerah sampai kuping benar-benar membuat tangan ini mengepalkan diri.
Di sini, di belakang ruangan sekretariat BEM Fakultas Teknik, Eunsang berada, sedang berjongkok dengan bersender di tembok belakang sambil mencuri curhat colongan dengan pria di samping selagi ia menunggu Minkyu untuk selesai rapat.
“Dia bilang, jangan ngegodain cewek,” menggeram gemas juga mengepalkan tangan, Eunsang kemudian melanjutkan, “Lu bayangin itu, Bang. Katanya, jangan ngegodain cewek” kembali mengulang kalimat yang sama, kekeh kemudian terdengar sebelum, “Berarti kalo ngegodain dia, gapapa kan ya?”
Pria yang ada di sebelahnya menggeleng kepala kecil sambil tertawa tidak habis pikir atas tingkah butdjin sang adik tingkat kesayangan teman dekatnya sebelum menghisap sebatang nikotin di tangan dalam-dalam. “Bisa aja lu.”
“Ya, bisa. Sekarang apa sih yang ga bisa? Lu nambah tinggi, mungkin itu yang ga bakal bisa.”
“Kurang ajar.”
Eunsang tergelak untuk itu, kemudian menitikkan abu dari batang rokok yang sudah terbakar untuk kemudian dihisap kembali, tapi belum sempat itu terjadi, sudah ada tangan lain yang mengambilnya lebih dulu. Mendongak, ternyata itu Minkyu, dengan mata dan alis yang menukik tajam seperti naga yang hendak memuntahkan api. Eunsang jadi bergidik ngeri, dan belum sempat menyatakan pembelaan, Minkyu sudah lebih dulu menyembur dengan, “Udah berapa kali kubilang, rokok itu ga baik,” dan baru saja Eunsang membuka mulut, pria yang juga berjongkok di sampingnya menyahut, “Ga usah lu bilang, juga, dia udah tau kalau rokok itu ga baik.”
Udara di sekitar sempat mencekik karena pandang yang dilempar bengis, malah dibalas dengan tatap acuh tak acuh, seolah-olah Minkyu yang sedang menahan emosi itu adalah sesuatu yang pantas untuk diabaikan. Eunsang pun hendak mereda dua kakak tingkatnya yang sedang bersitegang dalam dingin, tapi belum sempat ia bertindak, sebuah tudingan dari Minkyu sudah dilancarkan lebih dulu untuk dia yang masih asik menghisap.
“Lo yang ngajak Eunsang ngerokok? Iya? Wonjn, udah berapa kali gw bilang kalo Lo mau berbuat sesuatu yang buruk, jangan ngajak-”
Kalimat itu terhenti sebab sebuah puntung rokok yang dilempar, kemudian diinjak kasar oleh pemiliknya. Eunsang di sini juga buru mematikan dan ikut berdiri.
“Kagak, itu rokok punyanya sendiri. Lo udah selesai rapat? Gw mau ketemu Taeyoung soalnya. Dah ya, gw duluan.”
Tanpa membiarkan Minkyu bicara lebih lanjut, sosoknya pun berlalu pergi, meninggalkan Eunsang yang kini hanya bisa tersenyum dengan semua gigi yang ia miliki.
“Err, aku ngerokok kalau lagi pengen aja kok.”
Ada putaran mata sebelum Minkyu meranggah dirinya, membuat Eunsang kelabakan karena tangan sang kating meraba bagian bawahnya. Bukan waktunya untuk tersipu seperti anak gadis, Lee Eunsang! Jangan sampai dia mendapatkan,
“Kalau lagi pengen aja, tapi kamu bawa bungkus rokok ini ke mana-mana?”
. . . sebungkus kotak rokok yang isinya masih ada setengah.
“Ya, kan, persediaan Kak. Kalau-kalau lagi pengen.”
“Oke.”
Sudah berkata itu, Minkyu langsung meninggalkan Eunsang. Bagaimana Eunsang bisa menjelaskan bahwa hari ini mereka tidak bisa pulang bersama kalau Minkyu merajuk?
“Kak. Kak!” Sialan, dia malah berjalan cepat sekarang. Mengubah aksi jalannya jadi berlari, Eunsang kini berhasil menghadang Minkyu yang seperti benar-benar ingin pergi, terlhat dari raut wajahnya.
“Apa lagi?”
“Hari ini aku ga bisa pulang bareng, ada kerja kelompok.”
“Fine.”
Dengan itu Eunsang hanya bisa merutuki diri. Seharusnya ia tadi berbasa-basi lebih dulu, bukannya malah langsung ke intinya seperti itu. Haduh, sudah pasti Minkyu jadi semakin merajuk.
Baru saja tadi ia mengawang di angkasa, sekarang sudah harus dipaksa kembali untuk menghadapi realita, dan kini ia harus memutar otak supaya acara pergi mereka di hari Minggu nanti tidak dibatalkan hanya karena emosi si Kakak Tingkat yang sedang ill feel padanya, sebab ia sudah menantikan itu dari jauh-jauh hari. Eunsang bahkan sudah menyusun rencana A dan B, bahkan ke C, D, dan seterusnya kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak sesuai harapan.
Menghela napas berat, ia pun langsung beranjak menuju parkiran. Teman-teman kelompoknya sudah pergi lebih dulu, dan untungnya memaklumi Eunsang yang bilang bahwa masih ada urusan tadi. Memang butdjin.
Dia masih bersinar cerah bahkan ketika mentari tersembunyi dibalik awan mendung.
“Lo pulang bareng siapa? Sama gw aja gimana?”
“Engga usah, gw-”
“Dia pulang bareng gw.” Kata itu diucapkan sambil merangkul bahu, dan wajah lucunya berubah semakin kebingungan saat ku tunjukkan senyum lima jari, kemudian membawanya menjauh ke arah motor setelah berpamitan dengan teman yang lain.
“Seharusnya Lo bilang dengan tegas kalo Lo ga mau. Jangan suka ngasih harapan palsu ke orang.”
“Siapa juga yang ngasih harapan palsu?”
Bibirnya yang mengerucut saat mengatakan itu begitu lucu, langsung saja kujawil, dan cepat mendapat protesan.
“Haha! Cepet naik. Udah mau ujan kayaknya.”
Untuk sesaat, dia kelihatan ragu sebelum mengatakan, “Emangnya ga bakal ada yang marah?”
Siapa? Memangnya siapa yang akan marah dengan orang yang sedang membantu orang lain?
“Gak ada. Emangnya siapa yang mau marah?”
“Ka Minkyu?”
“Baik kok orangnya.”
“Bisa diandelin ya? Semua orang di BEM kayak yang bergantung banget ke dia.”
“Iya, kan sekretaris. Udah pasti bisa diandelin. Kenapa? Iri?”
“Iya.”
Ada gelak tawa, dan juga sempat kuseka air mata. Heran dengan pengakuannya yang satu itu. Kalau diibaratkan dengan bunga, sosoknya adalah bunga yang menjulang paling tinggi di taman, dengan sayap asfarnya yang indah, menarik banyak lebah untuk singgah. Gestur ayo naik lalu aku berikan, dan kami pun melaju dengan kecepatan maksimal yang bisa diusahakan, tapi ternyata awan di atas sana tak berbelas kasih sebab mereka menurunkan pasukannya secara membabi buta, membuat aku dan dia terpaksa harus berteduh di salah satu kios deretan pertokoan yang –untungnya– tutup.
Senyumnya bahkan masih terlihat hangat meski sudah dibasuh oleh air mata langit, tapi mungkin tubuhnya tak sekuat bumi yang bisa menerima gangguan dari luar. Tubuh yang terlihat lebih ringkih dari yang terakhir kali aku lihat itu gemetar. Giginya juga mengatup rapat sambil tangannya meremas tali tas yang menjulur dengan erat. Untung di dekat situ ada toko yang menjual berbagai macam keperluan otomotif termasuk jas hujan. Kubeli satu dan kupakaikan padanya.
Kepala yang memiring bingung malah semakin membuatnya terlihat gemas, berujung pada tangan ini yang menarik jas hujan ke bawah dengan kuat-kuat sampai tudung kepala menutup seluruh wajah. Dia lalu mengeluh kemudian beralasan yang tidak bisa aku terima sebelum mengucapkan, “Makasih.”
“Sama-sama. Gw mau cepet mandi air anget soalnya.”
Tidak ada tawa atau dengusan geli, tapi dari spion yang sengaja diarahkan padanya, aku tahu, dibalik kepala yang menunduk, ada rona merah yang menyembul malu-malu.
Senin,
“Jadi, acara mendadak apa yang bikin aku harus nunggu dua jam, tapi kamu ga dateng juga.”
“Tanteku lahiran,” jawab Eunsang lugas sambil menatap Minkyu tepat di mata.
“Terus? Kamu ga bisa ngendarain mo-”
“Aku harus bantu nelepon suaminya, dan ikut nunggu juga. Ga mungkin buat ninggalin Mamah sendiri.”
“O-ke.”
“Jadi,” tersenyum cerah, Eunsang lalu menawarkan, “When should I make it up to you?”
“Seminggu ini ga bisa, dan minggu depan aku harus ikut dosen seminar ke luar kota, sekalian bimbingan, dan ngambil data buat skripsi.”
Akan jadwal Minkyu yang penuh, Eunsang lalu menghembus napas kecewa. “Sayang, banget.”
“Ya, dan seharusnya ga bakal sayang banget kalau kamu ngasih tau aku lebih awal bahwa kamu ga bisa dateng. Jadi, waktunya bisa aku gunain buat ambil data.”
“Maaf, Kak.”
“Ga perlu, toh udah terjadi.”
“Minggu depan, aku juga udah mulai magang. Jadi, kapan?”
“Kapan-kapan,” jawab Minkyu sambil mempercepat langkah maju, meninggalkan Eunsang yang lagi-lagi menghela napas kecewa. Minkyu seperti marah padanya, dan ia tidak tahu kapan bisa memberi pertanggungjawaban yang layak atas kecerobohannya sendiri yang lupa menelepon Minkyu karena ikutan panik. Kedua bahunya turun ke bawah begitu juga dengan pandangannya yang terarah ke bawah, namun seketika menegak saat ada yang memanggil, “Eunsang!” dengan nada kelewat ceria.
Itu sang matahari berjalan, Junho, yang sedang berjalan ke arahnya kini setelah Minkyu hilang di belokan depan sana. Ikut membalas senyumnya, Eunsang lalu bertanya, “Ada apa?”
Junho menggeleng sambil tertawa geli, kemudian menjawab, “Ga ada apa-apa, cuma manggil aja.”
Eunsang tersenyum kecil untuk itu kemudian jadi menyamakan langkah dengan Junho yang berjalan pelan, sambil sesekali menyapa dan disapa oleh orang yang ia kenal.
“Habis kelas selesai, mampir ke Kedokteran yuk! Mereka lagi ada bazar gitu di deket auditoriumnya.”
Menimbang sebentar tentang rencananya hari ini, Eunsang lalu mengangguk di detik kedua sembari berkata, “Boleh.”
Junho lalu berteriak girang, dan mereka pun menghabiskan sepanjang sisa hari bersama. Hari esoknya pun begitu. Esoknya, dan esoknya lagi, dan esoknya selama kegiatan magang dilakukan di bawah naungan korporasi yang sama. Mereka bahkan saling membantu ketika mengerjakan laporan, tapi Junho tidak mendapatkan bantuan lain seperti bantuan yang Eunsang dapatkan, yaitu bantuan dari seorang proof reader untuk menyunting apa-apa saja yang tidak dibutuhkan, dan apa-apa saja yang harus ditambahkan. Eunsang mendapatkan bantuan itu dari Minkyu. Hubungan mereka kembali membaik setelah Minkyu berhasil melewati fase stress saat sedang mengerjakan skripsi, dan setelah Eunsang dapat lebih bisa lagi membagi waktu dengan baik –dengan bantuan Minkyu. Keduanya terlibat dalam hubungan rumit yang dipenuhi komitmen tapi tanpa status yang jelas, entah mengapa.
Tahun berikutnya setelah Minkyu berhasil menyandang status sebagai alumni, mereka memutuskan untuk tinggal bersama sampai saat ini, hari dimana Lee Eunsang akan diwisuda.
“Dompet, HP, toga sama topinya, jas, tabung, kok kosong?”
Minkyu menatap geli pada Eunsang yang terlihat panik seperti orang bodoh namun sialnya terlihat 1000 kali lipat lebih tampan dari hari biasa dengan balutan pakaian formal yang ia kenakan untuk acara sakral yang berlangsung dalam dua jam lagi, lalu menggeleng kepala. “Emangnya mau kamu isi kacang?”
“Boleh?” Eunsang kemudian meringis tawa saat Minkyu memutar bola mata, dan mengaduh saat Minkyu memukul sisi kepalanya menggunakan buku jari.
“Tabungnya buat tempat nyimpen berkas yang bakal kamu dapet nanti. Jangan norak.”
“Oh, oke.” Jujur, ia baru tahu itu. Eunsang kira tabung ini hanya untuk keren-kerenan saja. Dulu sewaktu wisuda SMA, tidak begini soalnya.
“Ayo berangkat. Jangan sampai kamu telat, dan malah ga dibolehin masuk ruangan.”
Memasang sikap hormat, Eunsang lalu menyerukan lantang, “Ay, ay! Kapten!”
Acara wisuda kala itu berjalan dengan lancar dari awal sampai akhir. Meski tidak berdiri di jejeran lulusan terbaik yang dikalungi medali langsung dari Rektor seperti Junho, Eunsang tidak berkecil hati. Untuk sampai ke tempat ini saja perjuangannya bukan main, jadi ia bersyukur kepada diri sendiri karena sudah bisa bertahan sampai sejauh ini, dan tak lupa membuat pengingat dalam hati agar menunjukkan rasa terima kasih kepada orang-orang yang telah mendukungnya selama ini, nanti, sehabis ia keluar dari ruangan ini.
“Terima kasih atas dukungannya selama ini! Mah, Pah, dan juga, Ka Minkyu.” Eunsang menundukkan sedikit kepala sebelum memeluk ketiga orang itu secara bergantian. Untuk Minkyu, ia juga mencuri kecupan di sudut bibir saat tak ada yang melihat seraya berbisik, “Makasih ya, Kak.”
Minkyu mengangguk, sebelum mengundurkan diri untuk memberi ruang bagi Eunsang dan keluarga untuk merayakan momen suka cita, tapi sebelum kakinya melangkah menjauh, sesuatu menahan lengannya untuk tidak pergi, dan yang Minkyu temukan adalah sorot serius Eunsang saat mengatakan, “Kamu bisa gabung foto sama aku, Ayah dan Ibu.”
Minkyu tersenyum, kemudian melepas tangan Eunsang dari lengannya pelan. “Gapapa. Momen ini cuma sekali dan harus kamu habisin sama keluarga. Aku bisa nanti.”
“Terus Kakak mau ke mana? Pulang?”
“Nanti. Sekarang mau ketemu sama temen-temen alumni yang kebetulan datang juga.”
“Oke.”
“Sampai ketemu di rumah,” Minkyu ucapkan dengan hati yang berat. Selalu begini, semuanya tidak berjalan sesuai keinginan, tapi Minkyu juga tidak bisa membahayakan hubungan yang sudah mereka jalin dengan keinginan egois yang ingin memeluk Eunsang dengan erat dan menciumnya saat ini juga di depan banyak orang. Ia harus menunggu nanti untuk bisa melakukan itu, dan ia hanya bisa melakukannya dibalik pintu yang tertutup rapat.
Kini, ia menunggu Eunsang untuk mengatakan sesuatu. Mungkin balasan sederhana seperti, ya, sampai bertemu nanti, atau apapun itu yang bisa membuatnya tegar di saat seperti ini, tapi ia tidak mendapatkan satu pun dari itu, malah, hati yang tadi memberat kini jadi berdegup kencang sebab Eunsang menariknya mendekat secara tiba-tiba, kemudian membisikkan, “I'm looking forward for my present tonight.”
Mendorong bahu pria yang lebih muda untuk sedikit menjauh, Minkyu,. “Emangnya kamu anak kecil?”
“Padahal kukira Kakak udah nyiapin hadiah buat merayakan kelulusanku.” Bahunya jadi condong, turun ke depan persis seperti anak anjing yang kecewa tidak diberikan mainan kesukaan. Minkyu lalu mengucap cepat, “Ada,” untuk membuat Eunsang cerah kembali. Yang sedang memiliki hari bahagia saat ini lalu memperjelas, “Hadiahnya?”
Minkyu mengangguk untuk itu, “tapi ga seperti yang kamu harapkan.“
Bibir Eunsang kemudian maju, yang disusul badan, dan malah jadi seperti ingin menabrak orang di depan. Minkyu langsung saja mendorong Eunsang untuk berdiri tegak sambil tergelak. Ia lalu menenangkan, “Tenang aja. Kamu boleh berharap sama yang satu ini.”
“Bener?” Seperti tidak ingin dipermainkan lagi, nada yang Eunsang gunakan penuh dengan kewaspadaan.
Minkyu lalu meyakinkan, “Iya,” kemudian, “Yaudah kalo gitu, aku pergi dulu.”
“Hati-hati.”
Minkyu mengangguk sebelum benar-benar pergi dari sana. Ketika Eunsang berbalik, ia sedikit kaget dengan kehadiran Junho dan keluarga yang sedang berbincang dengan kedua orang tuanya. Ia pun menghampiri kerumunan itu. Belum sempat mengucap sapa bahwa ia telah kembali, Eunsang malah sudah dikagetkan lebih dulu dengan suara mamahnya yang mengatakan, “Junho bakal pergi ke luar negeri?”
“Iya, Tante. Buat ngelanjutin S2.”
Kelanjutan obrolan kala itu tidak bisa Eunsang ikuti dengan baik sebab masih belum terlepas dari keterkejutan berita Junho yang akan melanjutkan studi ke negeri lain.
“Kenapa?” Eunsang bertanya ketika para orang tua sudah pergi terlebih dulu, memberi waktu pada anak mereka untuk menghabiskan sedikit waktu dengan yang lain sebelum pulang.
Junho yang ditanyai seperti itu, tentu saja mendadak bingung. Ia tidak mengerti dengan apa yang Eunsang maksud. Maka, Eunsang pun mengulang sekali lagi. “Kenapa Lo, pergi?”
“Buat ngelanjutin S2, Lo tadi ga denger?”
Bukan itu, tapi, kenapa? Eunsang tidak bisa membuat mulutnya bekerja sesuai keinginan meskipun otaknya sudah berpikir keras merangkai kata. Kenapa?
“Kenapa di, mana tadi?” Ia tak begitu mendengar di tempat mana Junho akan melanjutkan studi.
“Aachen, Jerman. Di Jerman, Eunsang! Tempat dimana Bapak Kedirgantaraan kita pernah belajar!”
Ucapan Junho dipenuhi dengan suka cita serta semangat yang membara, tapi Eunsang tidak ikut merasakan kegembiraan untuk itu, sebab teringat dengan janji yang pernah mereka buat. Tentang kuliah di tempat yang sama, sudah terlewati. Tentang merintis karir di bidang yang sama. Tentang Eunsang yang akan menjadi mekanik di sebuah perusahaan otomotif, dan Junho yang akan menjadi bagian dari tim perencana dan pengembang. Bersama, mereka akan membuat berbagai macam produk baru, dan mengembangkan yang sudah ada agar lebih berguna bagi kehidupan banyak orang, tapi itu tidak akan pernah terjadi lagi jika Junho,
“Gw mau buat pesawat.”
“Kenapa,” tiba-tiba begitu? Bukankah mereka sudah menggantungkan mimpi yang ingin mereka raih? Kalau hanya ia seorang diri,
“Perubahan rencana masa depan, mungkin?” Ada sela tawa yang terdengar tidak begitu yakin dengan jawabannya sendiri sebelum pernyataan, “Akhirnya gw nemuin apa yang mau gw lakuin. Untuk soal tawaran kerja,” Junho memang sudah mendapatkannya, dari tempat yang sama dimana Eunsang juga ditawarkan, “Gw bakal nolak mereka secara baik-baik. Maaf, tapi kalo Lo, beneran harus terima ya. Kesempatan kayak gitu, ga dateng dua kali, gw yakin. Lo juga, pasti,” meyakini itu.
Eunsang tertawa sembari mengangguk kecil untuk merespon itu.
“Gw berangkat Oktober nanti, jadi di sisa lima bulan ini, bakal gw pake buat les Bahasa Jerman. Doain ya, semoga bisa.”
“Pasti,” tidak mungkin semudah itu, kan? Junho tidak mungkin pergi dan bertahan di negeri orang begitu saja walau sudah berhasil menguasai kendala bahasa. Perbedaan budaya di sini dengan di sana begitu jauh. Untuk ukuran anak rumahan yang pergerakannya diawasi 24 jam sehari, tidak mungkin Ibu dari Junho mengizinkan anaknya merantau begitu saja, apalagi ke negeri orang yang terpisah oleh lautan, beribu mil jauhnya tanpa satu pun kenalan untuk menemani. Sebenarnya ada apa? Apa ia sudah melakukan sesuatu yang salah sehingga Junho tidak mengonsultasikan hal ini dulu kepadanya? Kenapa?
Jawabannya tidak bisa Eunsang temukan bahkan ketika empat tahun telah berlalu. Komunikasi diantaranya dengan Junho terputus, tiga bulan setelah Junho memulai kehidupan barunya di sana sementara Eunsang meniti karir awalnya di sini, di sebuah perusahaan yang bahkan tidak ia sangka bisa ia masuki dengan segala macam tesnya yang begitu banyak, tapi berkat usaha keras juga dukungan orang-orang terdekat, ia berhasil melewati itu dan diterima sebagai karyawan baru di awal tahun.
Minkyu. Eunsang sangat berterimakasih untuk kehadiran sang pemuda yang selalu senantiasa mendukungnya di setiap keputusan, apapun itu yang ia ambil. Kalau tidak ada Minkyu yang menguatkannya dikala Eunsang merasa bahwa semua yang ia lakukan itu percuma, ia tidak mungkin berada di sini, menjadi Teknisi Senior untuk pesawat tipe jet dengan spesifikasi 737.
“Haahh.” Helaan napas yang terdengar begitu berat menghentikan Eunsang dari kegiatan ingin menyeruput kopi siangnya. Menatap ke arah seorang Teknisi Junior yang sedang menempelkan mukanya ke meja, Eunsang turut prihatin. Ujian sertifikasi memang sesulit itu, tapi mau tidak mau harus dilakukan demi karir yang ingin menanjak.
Baru saja hendak mengajak sang rekan kerja mengobrol, dering tanda pesan masuk dari ponsel membuat Eunsang memilih yang ini lebih dulu, karena siapa tau itu dari Minkyu yang mengucapkan selamat makan siang, atau bertanya mengenai keadaannya, atau bahkan membuat janji di akhir pekan, ahh, Eunsang jadi berharap.
Tidak usah memasukkan kata sandi, Eunsang langsung menggulir halaman depan ponsel pintarnya lalu menuju ke aplikasi pesan. Bukannya kata-kata penyemangat dan penghilang lelah dari Minkyu yang ia dapat, melainkan sebuah berita dari nomor tidak dikenal yang mengabarkan bahwa Junho telah pergi, meninggalkan semua orang yang ia sayangi untuk berada di tempat yang sunyi, menunggu datangnya abadi.
Junho meninggal karena kecelakaan kerja,
katanya. Dia sempat dilarikan ke rumah sakit tapi sudah tidak tertolong sebab kehilangan banyak darah di perjalanan.
Kami memutuskan untuk mengkremasi Junho di sana, dan membawa abunya pulang untuk dimakamkan di sini.
Eunsang, kamu adalah teman yang berharga bagi Junho. Saya berharap kamu mau meluangkan waktu untuk mengunjungi makamnya, dan menyempatkan diri untuk bertemu dengan saya karena ada sesuatu yang mau saya berikan.
Kabar itu datang sebulan, setelah Junho meninggal. Eunsang bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa setelah membaca pesan yang Mamah Junho kirimkan padanya di siang hari yang cerah. Matanya menatap nanar pada layar ponsel yang masih menyala, menampilkan barisan panjang pesan pemberitahuan berita duka sementara hatinya menolak untuk percaya. Di sisa hari, Eunsang memilih untuk mengasingkan diri, dan mengambil cuti pada keesokkan hari untuk segera pulang ke kediamannya yang berdekatan dengan rumah keluarga Cha. Sehabis mengunjungi makam Junho di pagi hari, sorenya ia habiskan untuk mendengar cerita tentang Junho di kediaman pemuda itu sendiri. Saat hendak pulang, Mamah Junho tak lupa menyerahkan sebuah buku kecil yang merupakan jurnal sekaligus diari milik Junho kepadanya. Beliau berkata tidak apa untuk Eunsang menyimpannya. Sudah terlalu banyak peninggalan Junho di rumah yang bisa ia jadikan sebagai obat dikala rindu. Ia menginginkan orang lain untuk mengingat sosok anaknya dengan kenangan baik, meskipun itu hanya satu orang, dan ia rasa Eunsang lah orangnya, karena pemuda itu adalah teman baik dari anak semata wayangnya yang ia yakini akan menjaga peninggalan itu dengan baik.
Buku peninggalan Junho berisi tentang daftar kegiatan yang ia lakukan semasa hidup, juga rencana-rencana masa depan yang ingin dicapai, serta cerita-cerita tentang masa lalu di bangku sekolah dulu. Dari sekian banyaknya nama yang disebutkan, nama Eunsang lah yang paling sering diulang.
Ceritanya dimulai dari mereka yang mengukir mimpi bersama di masa remaja, kemudian berlanjut di kejadian-kejadian bodoh yang pernah ia dan Junho lakukan di waktu pencarian jati diri. Keluh kesah tentang segala hal baru yang terasa susah sampai pada momen-momen bahagia ketika poin pencapaian sudah berhasil dilewati, semua ada di sana, dan Eunsang membaca buku itu berulang-ulang di setiap kesempatan yang ia bisa, sampai tekstur tebal yang bisa dirasa jemari perlahan berubah menjadi tipis dan menguning.
“Sang.”
Eunsang mendongak dan tersenyum tipis dari buku yang ia baca ke arah Minkyu yang akhirnya datang, dan mengerutkan kening heran ketika melihat seorang lagi yang tidak begitu ia kenal namun terasa familiar, berdiri di samping Minkyu. Menyingkirkan buku itu ke samping, ia lalu mempersilakan kedua orang itu untuk duduk. Eunsang sudah menggeser sedikit duduknya ke samping untuk memberikan Minkyu ruang, tapi malah diabaikan. Pria yang setahun lebih tua darinya itu malah memilih untuk duduk di seberang, di samping pria yang wajahnya tidak bisa begitu ia lihat karena terhalang topi yang dipakai terlalu ke bawah.
“Sang, ini Wonjin. Masih inget?”
Saat pria bertopi itu melepaskan topinya, Eunsang baru sadar kalau dia adalah Wonjin, senior yang pernah dekat dengannya di bangku kuliah dulu. Mereka tidak pernah bertukar nomor telepon, hanya sering kebetulan berpapasan dan ternyata sejalan dalam hal pemikiran. Itu sebabnya di saat Wonjin lulus bersamaan dengan Minkyu, ia tidak pernah mendapati kabar tentang pria itu lagi.
“Oh, ya! Ya, masih inget. Mana mungkin lupa, orang sering ketemu dulu. Gimana kabarnya? Baik?”
Wonjin menyambut uluran tangannya, dan perbincangan tentang bagaimana mereka menjalani hari ini pun dimulai. Awalnya biasa saja, dipenuhi canda tawa dan juga l lelucon yang dilempar ke sana ke mari, tapi berubah serius di saat Minkyu mengatakan, “Aku mau ngomong sesuatu,” dengan raut wajah yang mengatakan bahwa apa yang ia ingin bicarakan adalah hal serius. Eunsang lalu mengangkat alisnya sebagai bentuk rasa bingung. Ia heran kenapa Minkyu mengatakan itu di saat masih ada orang lain diantara mereka. Melirik pada Wonjin, pria itu juga tak menunjukkan tanda-tanda akan pergi, dan Eunsang meneguk ludah gugup karenanya.
Diawali dengan kata, “Maaf,” Minkyu mengatakan bahwa ia tidak bisa lagi berada di sisinya. Saat Eunsang tanya, “Kenapa?” Minkyu hanya diam, dan tidak menjawab. Butuh waktu yang cukup lama bagi Eunsang untuk memproses informasi. Dengan adanya Wonjin di sini, berpura-pura tuli pada pembicaraan serius antara ia dan Minkyu, itu berarti, “Ah,” ia baru mengerti ini semua. “Sejak kapan?” adalah yang menjadi tanyanya. Sejak kapan hati Minkyu telah pergi padahal raganya masih di sini, di tempat yang bisa ia gapai.
“Udah lama.”
Kalimat itu membawa pikiran Eunsang mengelana pada masa lalu. “Jangan bilang,” kalau Minkyu tidak pernah benar-benar berada di sisinya sedari awal. Ia tahu bahwa hubungan Minkyu dan Wonjin dekat dulu. Musuh, juga sahabat, adalah apa yang Eunsang gunakan untuk mendeskripsikannya. Jangan bilang bahwa semuanya lebih dari itu. Dikuasai emosi yang meledak, ia lalu menatap nyalang ke arah Wonjin, karena Eunsang tak bisa melampiaskan amarah ke pemuda yang satunya, yang membawa warna ke dalam dunia monotonnya.
“Jangan bilang kalau ini semua udah berlangsung sejak kuliah? Di saat gw cerita semuanya ke Lo, ga satu pun dari-”
“Tenang. Gw ga memanfaatkan apa pun dari hubungan Lo sama Minkyu dulu. Tenang, oke? Semuanya bisa diselesaiin secara baik-baik.”
Seperti menaiki roller coaster, jantungnya tidak bisa diam di tempat, dan emosinya pasang surut di setiap Minkyu menceritakan tentang hal yang tidak pernah ia sangka sebelumnya, dan hari itu ditutup dengan Minkyu yang mengucapkan, “Selamat tinggal. Aku harap kamu akan baik-baik aja.”
Sial beribu sial. Mengapa ia tidak bisa menjaga sesutu yang berharga baginya? Pertama Junho, dan sekarang Minkyu, lalu seterusnya apa? Eunsang bisa merasakan hatinya kebas akibat perpisahan yang kembali terulang. Jika bertemu dengan pelangi adalah awal dari langit cerah tanpa satu pun objek yang menghiasi, Eunsang tidak akan mau berjalan di bawah cakrawala tak bertepi. Lebih baik mengurung diri dibalik tirai tebal dan fokus pada estivasi, lama sekali, sampai musim panas membuat kulit di seluruh tubuhnya mengering.
End.