Yuseonova

Water Polo Player! Niki x Volunteer! Hee

Sports themed AU, and from stranger to what (?) trope kind of fic.


1988

“Saa, minna-san. Kaijō ni tōchaku shimashita. Nyūjō wa gēto no yakuin no shiji ni shitagatte kudasai.”

Begitu pengumuman itu selesai dikumandangkan oleh rekan relawannya yang berada di bagian depan dalam bis, Heeseung pun langsung menyiapkan diri untuk mengikuti barisan para pemain polo air yang berasal dari Jepang ini di ujung barisan paling belakang demi memastikan supaya tidak ada yang tertinggal. Mulai hari ini hingga dua minggu ke depan, ia bertugas sebagai relawan di divisi Athlete Village & Service pada ajang pagelaran lomba olahraga tingkat dunia yang kali ini diadakan di Seoul. Ia begitu antusias terhadap perhelatan akbar ini dari sejak tiga bulan yang lalu saat masih tahap seleksi, dan Puji Tuhan, ia lolos seleksi serta mendapatkan posisi di divisi yang ia inginkan.

Heeseung diberi tugas untuk membantu segala keperluan yang tim polo air nasional dari Jepang butuhkan, dan sampai saat ini, ia cukup menikmati pekerjaannya yang satu ini, meski kadang harus benar-benar menjaga sikap supaya tidak disalah pahami oleh atlet-atlet dari negeri matahari terbit itu.

Tulisan Japan, Water Polo, yang ada di bagian punggung jaket yang mereka gunakan, entah kenapa terlihat begitu majestic baginya. Ia senang bisa melihat orang-orang hebat ini dari dekat. Apalagi di saat ada yang tersenyum dan berterima kasih untuknya. Padahal Heeseung hanya melaksanakan tugas, tapi pemain dengan usia paling muda di tim itu selalu menundukkan kepala dan tersenyum setiap beradu pandang dengannya.

Ia pun segera menuju lounge, tempat tunggu saat telah mengantarkan para atlet itu ke ruang ganti. Di lima belas menit kemudian saat para pemain itu sudah berganti baju dan siap diantar ke aula untuk melakukan pemanasan, Heeseung hampir saja tidak bisa mengedipkan mata ketika melihat lekukan yang terpahat sempurna di setiap sela tulang tubuh para pemain. Meski masih tertutupi jaket, suguhan itu sudah cukup untuk membuat Heeseung meneguk ludah dan mengelus perutnya sendiri. Untung rekan relawannya yang ini cepat tanggap, jadi Heeseung tidak perlu membuang waktu untuk mempermalukan diri karena saking terpesona. Ia kembali berjalan di paling belakang barisan, memperhatikan dengan detail apa-apa saja yang para pemain itu lakukan selama pemanasan, dan ikut menyemangati ketika waktu lomba dimulai.

“Ganbatte!” juga ia serukan, yang mendapat balasan senyum dari si atlet paling muda. Heeseung jadi salah tingkah, dan langsung menundukkan kepala, malu.

Saat pertandingan dimulai, pemain dengan nomor kepala 14 yang bernama Nishimura Riki itu tidak turun ke kolam. Ia duduk di bangku cadangan, diam dan serius memperhatikan. Baru ketika babak ke-tiga hendak mendekati akhir, ia diturunkan. Diturunkannya Nishimura Riki ternyata cukup membawa pengaruh pada alur pertandingan, tim Jepang yang tadinya mulai terdesak oleh lawan kini berani untuk menyerang dan tidak hanya memperhatikan posisi mereka dalam bertahan saja. Di lima detik terakhir pada babak itu, Nishimura Riki berhasil mencetak poin yang berhasil membuat Heeseung terpukau, karena pemuda itu berhasil melompat dengan paling tinggi meski dihadang tiga orang pemain lawan. Tubuh itu begitu fleksibel melengkung saat melakukan feint, dan Heeseung tahu bahwa ia akan kerepotan setelahnya.

“Heeseung-a, ayo ambilkan lebih banyak handuk untuk mereka.”

Mengangguk, Heeseung pun mengikuti setiap instruksi pekerjaannya dalam diam. Ia tipikal orang yang mudah mengerti dengan segala sesuatu hal, dan hanya bicara ketika ia merasa itu perlu, tapi saat kembali dihadapkan dengan Nishimura Riki sekali lagi pada bis pulang menuju asrama, Heeseung memberanikan diri untuk menyelamati pemuda yang baru saja meraih kemenangan.

“Congratulations for your winning, Nishimura-san.” Kebetulan ia duduk di samping Nishimura Riki pada bangku paling belakang bis, dan bisa Heeseung lihat bahwa tubuh itu semapt tersentak sedikit karena diajak bicara tiba-tiba sebelum membalas, “Thank you,” kemudian diam merajai mereka. Heeseung kemudian memutar otak untuk mencari topik obrolan yang sekiranya pantas. Sudah otaknya mengepul, dan wajahnya kepayahan berpikir, pun, hanya kalimat berupa pujian yang bisa ia utarakan.

“Nishimura-san tte, sugoi desu ne. An'na takaku, toberu no.”

“Eh, Nihon o dekiru?”

Heeseung tertawa canggung sebelum mengangguk kecil juga membalas, “Chotto.”

“Uwa' sugoi.”

“Ie ie, taishite koto nai.”

Lagi, Nishimura Riki tertawa, untuk alasan apa, kali ini Heeseung tidak mengerti, tapi dari cara penyampaian serta intonasinya, sepertinya memuji. Nishimura Riki memiliki binar mata yang sama seperti mentari, Heeseung baru menyadarinya dari jarak sedekat ini. Bagaimana pemuda itu tersenyum juga menghangatkan hati, serta aura yang terpancar darinya, membuat Heeseung jadi ingin tahu, tentang kenapa Nishimura Riki mengambil jalan hidup di jalur ini.

“Boku wa, juu-hachi. Anata wa?”

“Ni-juu,” Heeseung lupa apa Bahasa Jepang yang tepat untuk menyebut angka dua, jadinya ia menggunakan bahasa tubuh dengan mengangkat dua jarinya serta mengulang, “Ni-juu, ni-juu,”

“Ni-juu ni,” tandas Nishimura Riki, yang Heeseung yakin, sambil menahan tawa itu, kemudian dia berkata, “Boku yori toshi ue desu,” yang Heeseung tidak tahu itu apa, jadinya ia mengangguk saja, juga menyuarakan, “Ha'i,” yang lagi-lagi membuat Nishimura Riki tertawa.

Apa pelafalannya begitu lucu? Heeseung rasa begitu, karena ia sendiri pun merasa aneh dengan caranya yang terlalu mengikuti pelafalan native speaker dari rekaman yang ia pelajari. Si pembicara adalah wanita, omong-omong.

Di akhir hari, Heeseung langsung menjatuhkan tubuh ke tempat tidur setelah selesai dengan segala ritual malam. Baginya saja melelahkan, apalagi untuk para atlet itu ya? Pasti lelahnya dua kali lipat, tapi tadi Nishimura Riki tersenyum seperti ia tidak memiliki beban apa pun. Apa memang kepribadiannya yang seperti itu? Atau ada cara lain untuk bisa bersikap seperti itu? Heeseung jadi ingin tahu. Di penghujung batas kesadarannya, ia pun berdoa, semoga hari esok menjadi hari yang baik, terutama untuk pria Jepang bermarga Nishimura.


Tidak terasa, tiga hari sudah berlalu dan selama itu juga, Heeseung cukup sering bertukar konversasi dengan Nishimura Riki di dalam bis. Hari-hari itu terasa menyenangkan walaupun berlalu dalam menit yang singkat. Heeseung yakin itu akan menjadi permata yang begitu ia jaga di kemudian hari, apalagi ketika menyaksikan senyum tegar dari Nishimura Riki saat timnya diharuskan pulang di babak menuju semi-final.

“Heeseung-ssi, terima kasih atas bantuannya selama ini,” ucap Nishimura Riki sebelum membungkukkan tubuhnya 90° yang membuat Heeseung gelagapan. “Nishimura-san, tidak usah membungkuk sedalam itu.”

Bisa Heeseung rasakan nada canggung saat Nishimura Riki berkata, “Maaf, sudah jadi kebiasaan,” sambil mengusap tengkuk.

Mereka tengah berdiri di bawah pohon yang sekelilingnya sudah dibuat menjadi tempat duduk melingkar. Nishimura Riki dengan pakaian sehari-harinya yang sangat mencirikan seorang olahragawan itu membuat Heeseung menyendu. Kapan ia bisa melihat pria ini lagi pun, Heeseung tidak tahu dan itu membuat perasaannya menjadi biru. Apalagi saat bis yang akan mengantar para pemain ini ke bandara datang. Baru kali ini ia tidak menyukai bagaimana suara klakson berbunyi. Tiap-tiap pemain mulai memasuki bis satu persatu dan Heeseung semakin mengatupkan bibirnya rapat. Ada suara yang hendak disampaikan, tapi ia terlalu takut untuk mengatakan.

Tidak Heeseung sangka, Nishimura Riki ternyata memasang raut yang sama, terutama di saat dia memanggil namanya dengan pelan. “Heeseung-ssi.”

“Ya?”

Heeseung tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang Nishimura Riki katakan selanjutnya, karena tiba-tiba angin berhembus dengan kencang sampai-sampai ia diharuskan menutup mata agar debu tidak masuk ke mata. Hal pertama yang ia lihat di saat membuka mata pada detik selanjutnya adalah senyuman Nishimura Riki yang begitu berkilau, dan tanpa Heeseung sadari sepenuhnya, ia mengangguk sebagai jawab atas kalimat Nishimura Riki sebelumnya sampai akhirnya bibir itu mengucap kata, “Jaa, sayonara,” yang menandakan bahwa ini adalah akhirnya. Akhir dari riwayatnya mengenal Nishimura Riki, seorang pemain water polo yang menjanjikan dari Jepang.


Tiga bulan kemudian,

“Heeseung-a, ada fax dari Kementerian Olahraga di Ruang Humas untukmu,” ucap salah seorang rekan kerja saat Heeseung tengah sibuk membuat laporan.

“Dari siapa?” Ia bertanya, karena seingat dan sepengetahuannya, ia tidak memiliki kenalan siapa pun itu di luar lingkup kerja yang mengharuskan orang tersebut mengirimkannya apapun itu surat melalui faksimile kantor.

“Tidak tahu, aku hanya disuruh menyampaikan.”

“Terima kasih, ya.”

Rekan kerjanya itu mengangguk, dan Heeseung pun segera menuju Ruang Humas untuk mengambilnya. Tidak ia sangka dan tidak ia duga, surat itu ternyata berasal dari,

Untuk, Lee Heeseung-ssi

Dengan hormat,

Maaf jika surat ini membuatmu repot, tapi bodoh bagiku yang tidak menanyakan dimana alamatmu waktu itu.

Waktu itu, di hari dimana aku pulang ke Jepang, kau berkata bahwa aku boleh mengirimi mu surat kan? Maka dari itu aku mengirimnya sekarang.

Memangnya iya, ia pernah bilang begitu? Heeseung rasa tidak, dan ia sedang berusaha untuk mengingatnya kini.

Maaf apabila ini terkesan mengganggu, tapi aku sungguh ingin berteman denganmu. Rasanya senang memiliki teman dari negara lain yang bisa dihubungi untuk saling bertukar cerita.

Jadi dia merasakan hal yang sama? Heeseung juga, dan ia sangat senang sekali saat ini.

Jadi, apabila kau tidak keberatan. Tolong balas surat ini ke alamat yang terlampir di bawah. Maaf, tapi aku tidak mempunyai mesin fax di rumah.

Heeseung tertawa untuk kalimat itu. Dalam hati membatin, bahwa ia juga tidak memilikinya.

Dengan tulus,

Nishimura Riki.

Aah, harus bagaimana agar tidak kelihatan seperti orang gila saat ini? Heeseung tidak bisa menahan senyumnya untuk tidak melebar, maka dari itu ia menutupi bagian bawah wajahnya dengan surat dari Nishimura Riki, dan baru kali ini bau dari kertas baru tercium sewangi ini baginya. Sudah gila.

Saat sampai di rumah, Heeseung memandangi dan membaca surat itu tanpa henti, sambil memikirkan, kira-kira jawaban apa yang baik untuk diberi? Karena ia tidak mau jika nanti terkesan terlalu antusias atau pun tidak peduli.

Aah, harus bagaimana? Heeseung berguling-guling sendiri sampai jatuh dari kasur di beberapa menit selanjutnya.

End.

Model Student! Jake x Senior Student! Heeseung.

School life

Pastinya OOC karena pengkarakterisasiannya memang begitu 😗

Enjoy~


“Shim Jaeyoon-ssi.”

“Apa ada Shim Jaeyoon-ssi di sini?”

Heeseung baru saja akan melangkahkan kakinya pergi dari sana saat tiba-tiba ada suara yang menyahut, “Saya,” dari arah belakangnya. Kalau memang Shim Jaeyoon tidak ada di kelas, kan seseorang bisa memberitahunya, jadi ia tidak usah menunggu di ambang pintu kelas. Menghela napas lelah dalam hati akan sikap apatis teman-teman sekelas Shim Jaeyoon, Heeseung pun lalu memasang senyum simpul ala murid teladan kepada seseorang yang berpenampilan culun di depannya ini. Bagaimana tidak? Poni itu panjangnya hampir menutupi mata yang tersembunyi dibalik kacamata kuda. Heeseung jadi pusing sendiri melihat lensanya yang terlalu tebal.

“Shim Jaeyoon-ssi?” Ia bertanya hanya untuk mengonfirmasi, karena walaupun sering melihat namanya di papan mading sekolah, Heeseung belum pernah bertemu dengan orangnya langsung. Kebetulan saja tadi ia sedang membantu Guru Park mengangkut buku kumpulan tugas teman sekelas, dan malah jadi diberi pesan untuk memanggil Shim Jaeyoon saat ia sendiri berencana pergi ke kantin, yang mana, terletak berlawanan arah dengan kelas 2-1. Merepotkan saja.

“Ya, kenapa?”

“Guru Park memanggilmu ke ruang guru. Sekarang.”

“Oh, terima kasih.”

“Sama-sama.” Heeseung kembali melemparkan senyum terakhir sebelum beranjak dari sana yang mana, sama sekali tidak dibalas oleh Shim Jaeyoon.

Apa-apaan itu!? Sok keren sekali! Dia pikir dirinya itu Einstein apa? Jangan mentang-mentang langganan juara paralel satu angkatan bisa membuatnya bersikap arogan!

Lee Heeseung, kau bahkan tidak berada di angkatan yang sama dengannya. Jadi, stop merutuki orang lain dan fokus pada pendalaman materi. Setidaknya, itu yang Heeseung rencanakan untuk tahun terakhirnya di sekolah menengah atas ini, tapi semua berubah ketika,

“Heeseung, kamu ikut lomba pidato yang akan dilaksanakan tiga bulan lagi ya? Nilai literatur kamu bagus, jadi saya pikir, kenapa engga ngirim kamu aja untuk perwakilan sekolah kita. Gimana? Mau, ya?”

... permintaan itu datang. HELL YESSS, akan ia turuti dengan senang hati, tapi yang Heeseung tidak duga adalah keikutsertaan Shim Jaeyoon pada cabang lomba fisika yang mana menurutnya, itu aneh sekali, karena Shim Jaeyoon dikenal sebagai sosok yang individual dan bukannya pemain tim.


Ini adalah hari pertama babak penyisihan lomba. Heeseung sudah memberikan penampilan yang terbaiknya tadi, dan sekarang tinggal menunggu keputusan dewan juri yang akan keluar setelah makan siang nanti. Ia berharap semoga hasilnya baik, tapi keributan dari arah lima meter di samping membuat kegiatan berdoanya terganggu. Tidak bisa Heeseung tangkap dengan jelas apa yang tim cerdas cermat ributkan karena suaranya menyalak dan bersahut-sahutan, tapi satu yang Heeseung lihat dengan jelas adalah, satu kalimat yang keluar dari mulut Shim Jaeyoon, malah makin menambah runyam suasana.

Uwaah, dia benar-benar tidak bisa membaca suasana.

Di saat makaan siang pun begitu. Ketika semua perwakilan lomba dari sekolah berterima kasih atas konsumsi yang disediakan oleh panitia penyelenggara, Shim Jaeyoon malah menolaknya dengan mengatakan bahwa ia tidak percaya dengan kehigienisan makanan dari luar. Pernyataan itu sempat membuat salah seorang anggota panitia yang juga merupakan siswa dari sekolah tempat diselenggarakannya lomba, tersinggung, dan berujung pada keributan kecil yang masih bisa dilerai, tapi Heeseung tahu, bahwa Shin Jaeyoon sama sekali tidak merasa bersalah atas kejadian itu, terpancar jelas di wajahnya.

Kalau bukan murid unggulan, pasti sudah ditendang.


Di hari ketiga, bukan rapalan doa yang Heeseung panjatkan, melainkan air mata. Air mata itu ia cucurkan untuk mengikuti tarikan gravitasi. Lendir yang menempel di lubang hidung pun tak ia hiraukan karena sibuk merutuki diri sendiri. Sampai pada sebuah bayang sepatu yang muncul dalam jarak penglihatan, Heeseung pun mendongak hanya untuk mendapati Shim Jaeyoon yang menatapnya lurus dari balik kacamata kuda. Ia pun langsung mengusap wajahnya yang berantakan dengan kedua lengan lalu bertanya, “Apa?” Sebenarnya mau apa? Kenapa hanya diam dan menatapnya seperti itu? Kalau ingin turut berduka cita, cepat lakukan dan pergi.

“Bukankah menangis itu percuma?”

Haah?

“Kekalahanmu terjadi sebab kau kurang berusaha, serta,” kalimat lainnya yang menyatakan kelemahan Heeseung, Shim Jaeyoon lontarkan tanpa peduli bahwa Heeseung di sini ingin menangis lagi. Ia marah, tentu saja. Ia marah pada Shim Jaeyoon yang bisa-bisanya berkata kurang ajar terhadap kakak kelas, dan juga marah kepada dirinya sendiri karena ia tidak bisa menyangkal apa yang Shim Jaeyoon katakan.

“Intonasimu saat menyampaikan pidato tidak rapih. Kata-kata yang seharusnya dibuat menggugah malah kau buat lemas, begitu juga sebaliknya.”

“Kau masih terlalu sering melihat teks yang mana membuat poinmu berkurang, juga,”

“Matamu kurang meyakinkan, seperti kelinci kecil yang tersesat di dalam hutan karena terlepas dari induknya.”

Apa-apaan itu? Heeseung menyisih ingus dalam tawanya yang disendat tangis. Perlu diketahui bahwa ia memiliki mata yang besar seperti rusa (sang ibu yang memberitahu), bukannya kelinci.

“Lalu, apalagi yang kurang?” Heeseung bertanya dengan suara kecil, dan Shim Jaeyoon tetap menjawabnya dengan kalimat-kalimat menusuk yang membuat Heeseung rasanya ingin menghilang, tapi dari segala kritikan pedas yang Shim Jaeyoon berikan, ia tahu, bahwa pemuda itu benar-benar memperhatikan pidatonya di dalam tadi, atau mungkin juga, selama perlombaan ini? Jujur, Heeseung tidak menyadari, tapi ia berterima kasih atas segala masukan dari Shim Jaeyoon yang bisa ia gunakan untuk hal introspeksi diri ke depan.


Dua tahun kemudian,

“Jaeyoon-a, lebih baik ikut organisasi tetap atau sukarelawan sementara?”

Sekarang, Heeseung sedang berada di open cafe dekat fakultasnya, menyedot kopi yang rasanya entah seperti apa karena es batu di dalamnya sudah mencair semua.

“Tergantung yang kau cari itu apa, softskill-atau cuma sertifikat untuk menuh-menuhin CV.”

“Berarti lebih baik organisasi tetap ya? Pengalamannya juga kan, jadi lebih banyak.”

Tidak ada balasan verbal dari Jaeyoon selanjutnya, hanya sebuah deheman kecil disertai anggukan kepala. Pemuda itu masih saja sibuk membaca buku –entah itu apa, Heeseung tidak tahu, dan juga tidak memiliki niatan untuk bertanya. Ia lebih memilih untuk menikmati angin sepoi-sepoi yang berhembus sambil melontarkan satu dua pertanyaan tentang kelas Bahasa Inggris dasar, yang malah dibalas Jaeyoon dengan,

“Seharusnya kau tidak menanyakan ini padaku.”

“Kenapa?”

“Itu Bahasa Inggris dasar, Heeseung, dan seharusnya sudah kau kuasai.”

“Eh,” masa iya? Heeseung melanjutkan itu dalam hati. Takut bila ia mengutarakan, Jaeyoon malah membalasnya dengan belati yang bisa menyayat hatinya yang lembut ini, “tapi,” kemudian ia melemparkan pembelaan tentang, “anak di kelasku saja masih ada yang tidak bisa membedakan penggunaan your dan you're. Berarti, aku lebih baik kan?”

Untuk itu, Jaeyoon hanya bisa menghela napas, dan juga menyeru, “aw!” saat Heeseung memasangkannya kaca mata secara tiba-tiba yang mana, gagangnya itu sempat mencolok mata. Sial. Jaeyoon heran, karena Heeseung juga memasukan bukunya dengan gesa ke dalam tas serta menyuruhnya pergi dengan dalih, “Itu Kating yang mengajakku masuk himpunan, cepat sana pergi. Hush hush.”

Jaeyoon tidak bisa melayangkan protes karena Heeseung begitu memaksa, jadi ia turuti saja, padahal makanan pesanannya juga belum datang. Ia harus meminta kompensasi atas ini, nanti.

Sementara itu,

“Heeseung-a!” Sahut seorang Kakak Tingkat yang Heeseung kenal dengan baik, yang mengajaknya untuk ikut organisasi juga.

Heeseung menjawab sapaan itu dengan, “Hei, Kak,” yang terlihat canggung, tapi segera mengalih dengan pertanyaan, “lagi apa di sini?” yang langsung saja dengan bahakan geli dari yang lebih tua. “Makan lah. Emang, apa lagi?”

“Oh iya, haha.”

“Kamu juga lagi makan kan, bukannya bimbingan belajar?” sahut Kating yang ke-dua, dan dilanjut oleh Kating yang ke-tiga dengan, “Sama siapa tuh tadi, kok orangnya pergi? Adik tingkat ya? Soalnya belum pernah lihat mukanya.”

“Huh? Adik tingkat? Engga kok. Aku dari tadi sendiri. Salah lihat kali kakaknya.”

Kedua kating yang tadi menyambung kalimat itu lalu menebak-nebak apakah mereka sendiri salah lihat atau tidak sambil mendudukkan diri di samping kiri dan kanan Heeseung. Heeseung sendiri menghela napas lega karena keputusannya tadi yang menyuruh Jaeyoon pergi, adalah benar 👍, tapi,

“Permisi, Kak. Pesanannya.”

... makanan yang tadi Jaeyoon pesan, datang, menambah kecurigaan tiga orang lainnya.

“Kamu makannya banyak ya, Seung?”

“Iya, haha. Lagi laper.”

Tuhan, makanan di piringnya saja belum habis T_T

End.

Sekarang Sang Pianis Hujan

Sedang melantunkan asmara

Di tengah kota pun

Sia mainkan melodi yang sedih

Jemari tetesan air

Menekan window di keyboardnya

Concerto yang hanya untukku

Heeseung terus menatap ke arah jendela di bangunan seberang yang berhadapan langsung kamar yang ia tempati, dan meskipun debit hujan masih turun dengan cukup deras, ia dapat mendengar melodi yang dimainkan dengan sedih. Pendengarannya memang berada di level yang berbeda dari kebanyakan manusia, maka dari itu ia tetap dapat mendengarnya, mendengar permainan piano dari seorang murid yang pernah diajarnya, Yang Jungwon.

Jungwon adalah tipe murid yang cepat belajar, dan Heeseung bersyukur untuk itu karena dapat meringankan pekerjaannya, tapi kemampuan itu menjadi bumerang balik baginya. Entah dari mana Yang Jungwon mengerti, apa itu romansa, Heeseung tidak mengerti karena bukan ia yang mengajari.

Murid baik yang dulu selalu mengikuti tiap perkataannya kini sudah berani menyuarakan pikirannya sendiri. Heeseung tidak mau membalasnya maka dari itu ia berhenti. Sebuah keputusan salah yang nanti ia sesali, karena seharusnya ia tidak pergi dan melarikan diri, karena seharusnya, ia bisa berdiri di samping pemuda itu, menemaninya untuk melewati hari, serta momen-momen bersejarah lainnya yang akan dikenang sampai nanti raga ini tak dapat menghembuskan napas lagi, tapi kini ia sendiri, dalam diam mendengarkan elegi yang Yang Jungwon mainkan hampir setiap hari.

“Aku menyukaimu, bukan sebagai seorang murid yang kagum pada gurunya tapi sebagai seorang pria, yang menginginkanmu untuk menjadi pendamping hidupku kelak.”

“Maaf Jungwon, tapi aku tidak bisa.”

Hari berlalu, dan Serim mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya. Tidak seperti beberapa sapi baru miliknya yang kerap mengamuk saat hendak dibawa ke ladang, Serim hanya diam di sana, dan patuh jika diberi perintah. Wonjin pernah menawarkannya sebatang rumput liar yang langsung ditolak dengan gelengan kepala, yang langsung membuat Wonjin bingung, tapi Serim kemudian berlari kecil ke arah perkebunannya yang ditumbuhi sawi dan berbagai macam sayuran lainnya. Ia menunjuk deretan hijau itu dengan cara yang membuat Wonjin tak dapat menahan senyum, maka ia pun memetik-kan satu, selembar daun selada yang kemudian ia cuci di pompa air terdekat, dan setelah mengibaskannya beberapa kali, ia pun memberi itu ke Serim yang langsung diterima dengan senang hati. Saat ia bertanya, “Enak?” Serim menjawabnya dengan anggukan kecil, dan Wonjin tidak perlu mencurigai jika Hybrid itu berbohong, sebab binar di matanya memancarkan cahaya yang membuat Wonjin tersenyum. Setelah selesai dengan acara makan, Wonjin memutuskan untuk mengetes kemampuan fisik sapi itu. Ia menyuruhnya berlari sambil ia sendiri menggembala kumpulan sapi lainnya untuk pergi ke halaman yang lebih besar di luar pagar pekarangan rumah. Tidak Wonjin duga, kemampuan lari Serim ternyata lebih cepat dari yang ia bayangkan. Hybrid itu bisa mendahului kumpulan sapi yang sedang ia gembala, dan mengarahkannya ke tanah dengan rerumputan paling hijau di sana, selesai begitu, ia kembali lagi ke sisi Wonjin dan berdiri dengan sikap baik, siap menunggu perintah.

Tidak hanya soal kelincahan dalam berlari, Serim juga memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia bisa membawa lima batu bata, dan tiga buah papan besar dalam sekali angkut, yang mana mendapat pujian dari Ayahnya dan juga sorak sorai dari para perempuan di rumah, yaitu Kakak dan Ibunya. Ia begitu penurut, dan sangat bisa diandalkan sampai-sampai membuat Wonjin heran dan bertanya-tanya, apakah Hybrid ini sudah menerima pelatihan di fasilitas, tempat dimana ia dikembangkan? Sepertinya begitu.

Dirinya yang tadinya pendiam, juga kini mulai terlihat sedikit-sedikit tersenyum, apalagi ketika berada di samping Kakak atau Ibunya. Tiga minggu hari-harinya telah berlalu dengan ditemani oleh Serim yang aktif, tapi ada sesuatu yang berbeda ketika fajar hari ini datang. Biasanya, saat Wonjin membuka pintu gudang, tempat mereka menyimpan hasil ladang, pada pagi hari, Serim akan ada di sana, di atas matras kecil tempatnya tidur, tersenyum ke arahnya dengan simpul manis, siap menjalani hari, tapi kali ini tidak. Saat Wonjin membuka pintu, siap mengajak si Hybrid untuk makan pagi, Serim malah masih bergelung dibalik selimut. Suhu udara pagi ini tidaklah dingin, tapi dia menggeliat kecil, karena merasa ada yang janggal dari itu, Wonjin pun melangkah pelan menghampirinya, dan jadi memperhatikan saat sudah ada di sampingnya. Tubuh itu terus menggeliat seperti cacing yang disiram garam. Menepuk tubuhnya sedikit untuk menanyakan apa ada yang salah pun, yang Wonjin dapatkan selanjutnya malah jengitan. Tubuh itu berjengit atas tepukannya, dan malah jadi diam di detik selanjutnya. Khawatir melanda, dan Wonjin langsung menyibak selimut itu sampai menampilkan Serim seluruhnya dalam keadaan yang membuat mulutnya menganga tidak percaya.

Seluruh tubuh Serim dipenuhi keringat, tatap matanya juga resah dan terlihat seperti orang yang mau menangis dengan genangan air di pelupuk. Ia juga terus menggesekkan kedua kaki, yang membuat Wonjin curiga. Ia kemudian berjongkok untuk meminta izin pada Serim agar mau diperiksa. Serim mengangguk, dan membolehkan saat Wonjin membuka kedua kakinya lebar untuk melihat sebuah noda basah di sana dengan ukuran yang cukup besar. Sungguh, Serim malu, karena belum pernah ada yang memeriksanya seperti ini selain para dokter berwajah datar di pusat penelitian, tempat dimana ia dibesarkan. Apalagi saat Wonjin menyingkap bajunya ke atas dengan gesa, dan malah jadi terpaku saat melihat putingnya yang membengkak. Serim menangis di detik itu juga yang membuat Wonjin kelabakan.

Setelah menelepon ke Pusat Penelitian tempat dimana Serim berasal. Wonjin pun langsung pergi ke sana untuk mengambil obat yang dapat membantu Serim menjalani masa estrusnya. Pantas dari kemarin Hybrid itu lebih diam dan sering melamun daripada biasanya. Menghela napas lelah di dalam mobil yang sedang berjalan, Wonjin hanya berharap bahwa ia tidak akan berurusan dengan hal merepotkan –lebih dari ini– lainnya, tapi ternyata, angin yang kencang menghembuskan doanya yang satu itu entah ke mana.

Setelah mengalami tiga kali fase estrus yang malah semakin terlihat menyakitkan dari bulan ke bulan, Wonjin dan keluarga akhirnya memutuskan untuk memindahkan Serim ke dalam rumah, dengan harapan bahwa sentuhan kehangatan bisa membuatnya lebih baik, tapi ternyata tidak juga sampai harus membuat Wonjin memenuhi panggilan Pusat Penelitian untuk membawa Serim ke sana dan mendengar bahwa Hybrid miliknya, lebih tepatnya ayahnya, itu harus segera dibuahi.

“Sudah lebih dari satu tahun, kondisi Serim siap untuk dibuahi, kau yakin tidak mau itu terjadi?” tanya sang Profesor –yang lebih senang dipanggil Dokter– sambil melirik ke arah Serim yang sedang tertidur di ranjang samping, efek dari sedatif yang diberikan padanya beberapa menit lalu. Dokter ini adalah dokter yang menangani Serim pertama kali saat Wonjin melaporkan Serim yang tengah berada dalam fase estrus itu beberapa bulan lalu, dan sungguh, Wonjin tidak tahu harus memberikan respon yang seperti apa.

Mendapat jawaban diam dari sang Wali pasien, sang Dokter pun kembali menjelaskan, “Kalau dilihat lebih baik lagi, Serim masih menjadi aset pemerintah yang berada di bawah wewenang ayahmu sebagai pemiliknya saat ini. Saya tahu bahwa anda diberi kepercayaan besar oleh ayah anda untuk mengurus Serim, dan yang ingin kami lakukan adalah upaya untuk menjaga kelangsungan hidup Serim itu sendiri.”

“Kehidupan Serim sendiri atau keberlangsungan pekerjaanmu, huh?” Sadar, Wonjin melontarkan itu dalam nada rendah yang terkesan dingin. Di antara sekian banyaknya pihak elit yang mendukung produktivitas massal Hybrid, ada juga beberapa pihak yang menentang, dan jujur, Wonjin tidak ingin bergabung ke dalam kelompok mana pun.

“Tuan Wonjin, Serim adalah Hybrid yang dimutasi dari gen Holstein Friesians, tipe sapi yang dikembang biakkan untuk kebutuhan ternak. Kalau proses pembuahan Serim berhasil, bukankah Anda juga yang mendapatkan sisi baiknya? Susu dan satu buah lagi Hybrid baru.”

Mencoba untuk berpikir jernih, Wonjin pun menanyakan hal yang, sungguh, tidak mau ia urusi, karena, “Yang dimaksud dengan proses pembuahan itu, artinya,”

“Seminasi buatan, anda tenang saja. Kami akan memasukkan sperma yang juga telah dimutasi ke dalam Serim, dan memantau perkembangannya setiap saat. Jadi, mungkin, Anda tidak boleh membawanya pulang selama masa kehamilan, dan sampai ada persetujuan dari kami bahwa Serim boleh dipulangkan. Anda bisa menjenguknya sesuai jadwal yang ditetapkan, kalau itu yang menjadi kekhawatiran anda.

“Apa Serim sendiri bisa menolak jika ia tidak mau? Serim itu masih manusia kan, dia berhak mendapatkan haknya untuk memutuskan.”

Serim pernah bercerita di malam-malam terdahulu bahwa ia tidak menyukai tempat dimana dia dilahirkan, karena orang-orang selalu menyuruhnya mengonsumsi ini dan itu, melatih ini dan itu, bahkan diawasi ketika tidur. Ia beruntung bisa terangkut oleh mobil yang membawanya ke sini, tidak seperti teman-temannya yang lain, yang ia yakin, masih berada di Pusat Penelitian.

“Orang tua yang bersedia mengikuti eksperimen Hybrid telah menyetujui syarat-syarat yang diajukan, dan itu termasuk dengan menyerahkan seluruh hak dan wewenang atas anak-anak yang berhasil lahir, untuk menjadi aset milik pemerintah, tapi karena Serim sudah berada dalam kuasamu, ada baiknya memikirkan apa yang terbaik untuk dia.”

Wonjin tidak percaya dengan senyum sang Dokter yang ia yakin, dibuat seramah mungkin itu. Dibalik propaganda untuk membuat ras manusia yang lebih baik, Wonjin tahu bahwa apa yang pemerintah jalankan adalah bagian dari rencana jangka panjang untuk memulai perang kembali. Berada di dalam tubuh militer selama lima tahun, cukup, untuk membuatnya awas dengan otak-otak busuk para petinggi kelas atas.

“Apa yang terjadi jika dia tidak mengandung?”

“Seperti yang bisa Anda lihat selama fase estrus terakhir, Serim akan menjadi gelisah. Beberapa gejala yang dia alami akhir-akhir ini juga menunjukkan bahwa ia akan mengamuk, bukan? Kalau itu terjadi, lebih dari yang sudah-sudah, pasti akan sangat merepotkan untuk bisa menenangkannya kembali.”

Wonjin tidak menjawab iya ataupun tidak atas saran sang Dokter yang menyuruhnya untuk segera menanda tangani dokumen perizinan pembuahan Serim. Ia membawa pulang Serim kembali untuk mendiskusikan hal itu kepada keluarga terlebih dahulu. Satu poin penting yang bisa meringkas penjabarannya setelah makan malam kali ini adalah,

“Sapi adalah hewan yang sensitif, mereka membutuhkan kasih sayang untuk hidup, dan dengan memiliki anak, mereka mempunyai alasan untuk bisa hidup lebih lama.”

Contain: angst, jayseung, jayke, a lil bit of toxic relation.

Rating T – M (jaga-jaga)


“Jay, gimana kesan kamu ke Jake sekarang. Pasti udah berubah kan? Coba cerita.”

Perkataan itu membuat gerak tangan Jongseong yang sedang memotong daging terhenti. Menatap pada Jake yang berada di seberang, Jay pun membalas senyum yang sama, lalu mulai menceritakan masa pendekatan mereka yang sudah berlangsung selama beberapa minggu ini.

Jay bertemu dengannya di acara makan malam yang keluarga Shim adakan. Di sana, ia diperkenalkan dengan Jake yang merupakan putra bungsu dari keluarga Sim. Jay sendiri tahu bahwa perkenalan itu akan berujung pada agenda lain yang jujur, ia enggan untuk jalani, tapi pria yang bernama lengkap Shim Jaeyoon itu kelihatan cukup ramah dengan senyum lebarnya yang seringkali terlihat mengembang, tidak sepertinya yang selalu terlihat seperti anggota sindikat gelap, dan mungkin, menghabiskan waktu bersama dengan orang lain bisa menghilangkan penatnya yang selama ini ditumpuk dari kandasnya hubungan yang lalu. Jay ingin bisa untuk melangkah maju seperti mantan kekasihnya yang kini telah berdiri lagi. Jay ingin menghilangkan semua bayan tentangnya yang masih saja seringkali menghantui mimpi, dan melihat putra bungsu keluarga Shim tidak keberatan dengannya, ia pun juga menyambut dengan senang hati.

Jake adalah pria yang sempurna, kalau boleh Jay bilang. Dibesarkan dengan penuh kasih sayang keluarga, dia tumbuh menjadi individu yang perhatian dan juga penyayang. Soal etika, jangan ditanya. Kemampuan interpersonal-nya, apalagi. Jake begitu vokal dengan apa yang dia rasa sehingga tidak menyulitkan Jongseong untuk harus bersikap seperti apa saat berada di dekat pemuda itu, yang sekaligus membuat komunikasi di antara mereka berjalan dengan lancar. Si bungsu Shim dengan segala tutur katanya yang halus dapat dengan cepat memikat hati Nyonya dan Tuan Park beserta seluruh orang yang menghuni kediaman besar itu.

Shim Jaeyoon adalah apa yang orang tuamu sebut sebagai, menantu idaman, dan Jay ingin menyerahkan hatinya untuk pemuda itu jaga, tapi apalah daya apabila hatinya mengatakan bahwa ada yang kurang.

Jake boleh memujinya dengan seluruh kata sifat yang Jongseong tahu, bisa mendebarkan hati apabila diucapkan dari bibir itu. Jake tidak akan mengutuknya dengan serangkaian umpatan yang bisa membuat emosinya meluap, dan berujung pada mereka berdua yang terbakar, dan jika tidak ada api, Jay juga tidak perlu susah-susah memutar otak untuk berpikir, bagaimana cara memadamkannya.

Bersama dengan Jake, mereka mungkin akan menjaga perabotan rumah tidak berkurang satu pun setelah tinggal bersama nanti.

Bersama dengan Jake, itu berarti Jay akan mendapat pujian dari orang-orang di sekitar sebab bisa memilih pasangan yang baik.

Bersama dengan Jake, Jay tidak perlu memikirkan tentang masa depan yang penuh dengan terjangan ombak, dan juga terpaan hujan badai, karena dengan melakukan apa yang mereka biasa lakukan, akan membawa pada masa depan yang mayoritas orang impikan, tapi Jay juga tidak bisa memungkiri bahwa ia masih bisa melihat Heeseung di setiap sudut kota yang mungkin pria itu datangi.

“Jay.”

Jay masih mengingat dengan jelas bagaimana detail rupa dari tubuh yang sudah menemaninya hari-harinya selama dua tahun terakhir. Bagaimana tungkai itu mengayun kecil saat melangkah dengan laju yang cepat,

“Jay, kalau kamu capek, ga usah nganterin aku. Aku bisa pulang sendiri.”

... menuju gang sempit dengan penerangan minim di seberang sana.

“Kamu ngeliat a-”

“Bukan apa-apa,” potong Jay cepat sambil memberikan senyum menenangkan, kemudian menunjuk pada mobil yang sedang berjalan ke arah mereka. Setelah menerima kembali kunci dari sang juru parkir, Jay pun tak lupa mengucapkan, “Terima kasih,” dan membukakan pintu untuk Jake, yang dibalas dengan tawa renyah. “I'm not a lady, Sir. Bisa buka pintu sendiri.” Jay juga tertawa membalasnya, dan entahlah, ia hanya merasa perlu melakukan itu, karena Jake pantas mendapatkan semua hal baik yang ada di dunia.

“Tadi, kamu ngeliatin terus ke arah gang itu. Ada apa?”

Melirik sekilas ke arah samping, Jay menemukan Jake di sana dengan mata berbinar penuh keingin tahuannya, dan ia tidak bisa menolak apa yang Pangeran minta, tapi sebelum itu, “Kamu mau tau?”

“Iya.”

“Mau tau aja, apa mau tau banget?”

“Mau tau banget banget.”

“Yakin?”

“Can't you stop teasing me?”

Nada gemas menahan emosi itu sudah cukup menjadi tanda bahwa Jay harus berhenti, maka dari itu ia mengangguk, dan kemudian, “Iya, jadi, di ujung gang itu ada kedai ramen-”

“Ramen!? Jadi, mau lihat.”

Satu kesamaan Jake dengan mantan-mantannya terdahulu adalah, ia menyukai ramen, atau jenis mie apapun itu. Jay sendiri tidak akan heran kalau di masa depan nanti ia akan menikah dengan pengusaha mie, karena sepertinya ia dan mie berjodoh melalui pihak kedua.

“Iya, kapan-kapan. Selain ada ramen, ada juga jajanan khas Jepang gitu. Yang punyanya sih katanya orang Jepang asli, jadi enak, tapi tempatnya terpencil gitu, jadi yang tahu kedai itu ada cuma dari mulut ke mulut.”

“Kamu pernah ke sana, berarti?”

“Iya, sama temen.”

Sebagai konfirmasi janji di masa depan, maka Jake pun mengulang, “Kapan-kapan kita ke sana ya?”

“Iya.”


Hampir satu tahun akan berlalu, tapi,

“Serius, Kak. Kalau Pa Jongseong ada di sini, kamu pasti udah di-”

“Jongseong Jongseong, Jongseong mulu,” tidak di koran lokal mingguan, televisi, radio, papan reklame pinggir jalan, dan bahkan di rumahnya sendiri, nama Jongseong selalu ia dengar dan ia lihat. Mengelilinginya bak rantai tak kasat mata yang tidak mengizinkannya pergi ke mana-mana. Yah, salahnya sendiri berpacaran dengan anak konglomerat di kota. Kalau mau terlepas darinya, mungkin Heeseung harus pindah ke lain kota.

Meletakkan makanan yang ia bawa setelah menyingkirkan beberapa sampahnya ke bawah, Sunoo pun kemudian mendekati Heeseung di ujung sana yang masih betah duduk di depan piano. Jemarinya sibuk memainkan tuts yang ini dan itu dalam rangka menyusun melodi yang indah.

“Hei, kalian putus secara ga baik-baik, dan dia cuma ingin tahu keadaan kamu sekarang gimana. Terima ajakannya buat ketemu. Seenggaknya kalian harus ngucapin selamat tinggal dengan baik.”

Atas saran Sunoo yang tidak terdengar baik di telinganya, Heeseung mendengus geli. “Kalau mau tau kabar, dia bisa cari di portal berita musik.”

“Iya,” Jongseong sudah melakukan itu, tapi yang dia temukan hanyalah secuil berita sama yang pasti dimuat tiap-tiap media tentang kesuksesan seorang penulis lagu junior yang namanya akhir-akhir ini melambung tinggi karena dibawakan oleh Bintang yang sedang naik daun, “tapi kan dia juga pasti pengen ngeliat muka-”

“Orang bermasalah yang ga ada gunanya sama sekali,” kata Heeseung menyambung perkataan Sunoo, kemudian mengangkat jemarinya dari tuts, Heeseung pun memfokuskan atensinya ke samping. Menatap Sunoo dalam seraya berkata, “Dia yang bilang sendiri dengan mulutnya itu bahwa aku bermasalah, orang ga berguna yang memiliki banyak masalah, keras kepala, dan gila pengakuan. Dia juga bilang bahwa ga seharusnya dia berurusan sama orang kayak aku, dan sekarang, dia mau ngeliat sampah yang udah dia buang kapan bulan lalu itu!? Kamu boleh kerja sama dia, tapi kamu ga boleh jadi kaki tangannya.”

Perkataan itu membuat Sunoo terdiam. Ia tidak mengetahui cerita yang satu itu, dan jujur, ia juga tidak menyangka bahwa sang Atasan terhormat bisa berlaku seperti itu kepada manusia lain, karena Sunoo hanya melihat sisi baik dari seorang Park Jongseong sebagai atasannya yang cakap. Menyimpulkan senyum kecil, Sunoo pun kemudian mengajak, “Makan dulu yuk. Aku tau Kakak belum keluar rumah seharian ini.”

Akan anggukan dari Heeseung, Sunoo kemudian melangkah ke arah dapur si pria Lee untuk mengambil peralatan makan, dan di sisa kegiatan makan malam mereka, ia juga bertanya, “Lagi ngerjain projek buat Figure Skater Park Sunghoon?”

“Ya, dan besok aku harus ke studio untuk rekaman.”

“Kapan menyerahkan rekamannya?”

“Dua-tiga hari setelahnya, mungkin,” ucap Heeseung sambil mengangkat bahu kemudian menyuap sesuap suapan besar nasi dan lauk ke dalam mulut, sampai-sampai membuat Sunoo geleng kepala dan membatin, udah berapa lama orang ini ga makan?

“Boleh aku ikut pas Kakak nyerahin rekamannya?”

“Emangnya libur?”

“Diusahakan hari Minggu ya? Please,” mohon Sunoo sambil menangkupkan kedua tangannya di depan wajah.

Heeseung tidak menjawab, dan Sunoo tahu bahwa sebaiknya ia tidak mengharap, tapi itu kesempatan langka dimana ia bisa bertemu dengan atlet tingkat nasional secara langsung! Arggh, haruskah ia meminta cuti sehari?

“Aku tahu Jongseong atasan kamu, dan ga seharusnya kamu ngeiyain semua permintaan dia diluar jam kerja, apalagi menyangkut kehidupan pribadi orang lain. Kalau dia ada tanya-tanya lagi ke kamu, bilang aja bahwa aku ga mau ada urusan lagi sama dia, dan dengan aku bilang ga mau, itu artinya bener-bener engga, Sunoo, ngerti?”

Perkataan itu hadir di saat Sunoo hendak mengundurkan diri untuk pulang, dan untuk menjawab itu, ia hanya menganggukan kepalanya dalam diam, serta membuat catatan dalam hati agar tidak berinteraksi yang tidak perlu dengan sang Direktur saat jam kerja di kemudian hari.

Selepas Sunoo pergi, kini tinggal Heeseung sendiri yang sedang membenahi peralatan bekas mereka makan, sambil memikirkan,

“KAMU BISA GA, DIEM AJA!? Dia cuma- cuma,”

Ia tidak mengetahui istilah yang tepat digunakan untuk menyambung kalimat, maka di sini Heeseung berbaik hati melanjutkan, “CUMA MENGHINA AKU!? Itu yang kamu maksud? Aku ga akan diem aja saat harga diriku dicela! Kamu tahu itu, dan KAMU lebih tau dari siapapun orang di dunia ini bahwa aku ga bisa, AKU GA BISA MEMENUHI STANDAR KEHIDUPANMU YANG MEWAH ITU, dan maaf apabila yang aku lakuin cuma bisa bikin kamu malu.” Ia kemudian berlari. Berlari dari semua cahaya gemerlap yang menggantung di langit-langit bangunan ini, membuat mata silau.

“Heeseung, hei.”

Heeseung terus berlari,

“Hei!”

Berlari saat sampai di luar hotel, kemudian menyebrangi jalan walau dia memintanya untuk berhenti.

“Tunggu!”

Heeseung terus berlari karena dia tidak ingin melihat wajah itu lagi,

“Aku bilang tunggu, Heeseung!”

... tapi kenapa Jongseong dapat menyusulnya meskipun ia memiliki kaki yang lebih panjang di sini?

“APA lagi!?”

Ini semua menyebalkan.

“Aku minta maaf, oke? Aku minta maaf-”

Bagaimana cara Jongseong meminta maaf membuatnya muak,

“Aku ga butuh maafmu.”

... karena maaf Jongseong hanya berlaku sebentar. Tidak lama setelah itu pasti kejadian yang sama akan kembali terulang.

“Oke, kalau itu yang kamu pikir. Kamu ga butuh permintaan maaf dariku, tapi apa kamu ga ngerasa? Kalau kamu juga turut andil dalam melakukan kesalahan di sini.”

“Apa kamu bilang?”

Kan, tidak usah menunggu hari. Pemuda park pasti sudah,

“Aku udah nunggu selama empat jam, Heeseung. Empat jam sampai kamu muncul dengan pakaian-”

... mengungkit masalah yang Heeseung harap tidak pernah terjadi.

“Lusuh yang kotor dan ga enak dipandang yang seharusnya ga aku pake buat masuk ke dalam sana!?” Luapan amarah itu ia sebutkan untuk menyambung perkataan Jongseong yang tadi sambil menunjuk ke arah sebuah bangunan megah di seberang jalan, kemudian melanjutkan, “Kamu tau aku abis pulang kerja!”

Seiring dengan bentakannya yang menggelegar, petir di langit sana juga menyambut. Satu detik, dan hujan turun dengan derasnya sampai membuat dia mengacak rambut karena frustasi. Sudut bibir Heeseung terangkat karena hanya ia yang bisa membuatnya seperti ini. Hanya Lee Heeseung seorang yang bisa membuat Park Jongseong lupa akan dimana dirinya berpijak. Mereka masih berada di luar, demi Tuhan! Meskipun malam ini sepi, beberapa pengendara tetaplah lewat sekali-dua kali.

“Aku minta maaf, oke? Aku cuma pengen ngasih kamu kejutan biar kamu bisa rileks sedikit. Aku tahu bahwa kerjaan akhir-akhir ini bikin kamu stress, maka dari itu aku pengen bikin kamu seneng, sedikit, ya?”

Jay mencengkram lengannya erat, tidak tahu apa maksudnya yang jelas itu membuat Heeseung sakit.

“Tapi engga dengan semua ini, Jay. Aku capek. Aku capek harus jadi orang lain saat bareng kamu di depan umum. Aku capek.”

Maka dari itu ia melepaskan walau hatinya berdenyut sakit. Muka Jongseong yang begitu pias akibat penolakannya membuat dada Heeseung menyempit dan terasa sakit.

“Maaf, oke? Aku minta maaf. Heeseung, aku minta maaf. Aku yang salah. Aku yang salah, dan seharusnya aku ga ngajak kamu ke sini. Ya?”

Jongseong meminta maaf secara berulang, itu tidak adil,

“Harusnya aku langsung ngajak kamu pulang dan pesen delivery, terus kita nonton semua film yang mau kamu tonton, oke? Kamu mau itu?”

... karena Heeseung yang akan menjadi penjahat jika ia tidak memaafkan. Anggukan kecil kemudian ia berikan,

“Kalau gitu, kita pulang, ke tempatku, ya?”

... dan Heeseung tidak bisa menolak apa yang Jongseong inisiasikan. Begitu pula dengan ciuman di bawah guyuran air hujan yang terasa begitu emosional, membuat dadanya kembang kempis karena merasakan perasaan apa itu yang tidak bisa Heeseung pilah satu per satu.

*Bersama dengan Jongseong adalah penyakit. Penyakit yang Heeseung tidak bisa temukan obatnya karena Jongseong selalu memberinya hal sama, yaitu racun dalam balutan madu yang begitu manis, sampai-sampai Heeseung seringkali lupa bahwa ia memiliki kaki sendiri yang lebih sering ia gantungkan pada Jongseong di tiap kali mereka bercinta, maupun di luar itu.*


“Terima kasih karena sudah mengantar sampai rumah.”

Ucapan itu jadi membuat Jay memiringkan badan ke samping, menatap pada dirinya terlihat indah lebih dulu sebelum membalas, “Sama-sama,” dengan senyuman kecil.

Sepertinya sang Objek sadar bahwa diperhatikan, karena tanya, “Ada sesuatu di mukaku?” keluar. Maka Jay pun mengangguk, dan jadi tertawa sendiri sebab Jake benar-benar memeriksakan wajahnya pada kaca di atas, tapi, “Ga ada apa-apa kok.” Kemudian Jake membalas, “Berarti kacanya yang rusak.”

Kening Jake sedikit mengerut karena kalimatnya yang ambigu, maka dengan baik hati, Jay pun melanjutkan, “Karena ga bisa ngelihat keelokan seorang Shim Jake.”

Sempat ada hening sebelum sang lawan bicara memuntahkan tawa. Apa kalimatnya begitu lucu sehingga Jake sampai harus memegangi perut? Jay rasa iya, karena ia percaya pada diri sendiri bahwa dirinya bisa menjadi orang yang humoris.

“Aku ga tau omongan itu berasal dari hati yang terdalam atau cuma di mulut aja, tapi makasih. Perkataanmu cukup menghibur.”

“Kembali kasih.”

Setelah itu, sabuk pengaman yang melilit tubuh Jake dilepas beriringan dengan hujan deras yang mulai turun, membuat bibir si bungsu Shim membuka lebar penuh keterkejutan.

“Hujan.”

Jay membalas itu dengan dengusan geli, kemudian, “Ya.” Mereka terdiam untuk sesaat sampai Jay menawarkan, “Mau dianter sampai depan pintu?”

Tidak mengerti dengan bagian mana dari perkataannya yang terdengar lucu, tapi Jake jelas tertawa, yang mana membuat Jay bingung. Ialu melongok ke arah pos satpam yang sepertinya kosong, terlihat dari lampunya yang mati.

“Pa Wook mungkin udah tidur, atau pindah ke dalem.”

Atas pernyataan itu, Jay mendengus geli juga meracau, “Satpam macam apa, kerjanya begitu.”

“Gapapa, di sekitar sini jarang ada maling kok. Lagi juga, dia udah jaga dari pagi.”

Mengangguk untuk itu, Jay kemudian bertanya, “Satpamnya cuma satu?”

“Ada dua, tapi yang satu lagi balik ke kampung karena istrinya lahiran, anak yang ke-lima.”

Mendengar jumlah yang lumayan, Jay tidak bisa menahan diri untuk tidak melongo dan mengucap, “Waw,” yang malah membuat Jake tertawa. Tawa pemuda Shim kemudian menular kepadanya sampai akhirnya mereda, dan berhenti. Sesaat kemudian, Jay baru teringat akan adanya jaket semi-sintesis di kursi belakang. Entah di mana jaket itu berada, mungkin di bawah kursi, tapi saat Jay hendak mencarinya, Jake menghentikan.

“Ga usah. Percuma juga karena gerbangnya di kunci dari dalam.”

“Orang rumah. Coba telepon orang rumah.”

Melihat pada jam di layar ponsel yang menunjukkan bahwa hari sudah berganti, Jake jadi sungkan, karena, “Pasti orang rumah udah pada tidur.”

Jay tersenyum karena, bisa-bisanya Jake masih memikirkan orang lain di saat seperti ini. Sifatnya seperti malaikat, bukan? Kalau saja di detik selanjutnya Jay tidak beradu pandang dengan mata itu, mata yang menyatakan sebuah maksud terpendam yang Jay tahu pasti itu apa, karena ia juga menyambut dengan menawarkan, “Kalau begitu, mau ke tempatku?”

Anggukan itu adalah awal dari ujian yang harus Jay hadapi selanjutnya, dan jujur, ia tidak ingin menodai Jake sama seperti ia menodainya, karena Shim Jaeyoon terlalu berharga untuk menerima segala kebusukannya, tapi Jay juga tidak kuasa apabila Jake sendiri yang meminta.

Dengan jatuhnya Jongseong ke kasur dengan seorang malaikat yang langsung mengisi langit-langitnya, di saat itu juga,

“Park Jongseong, show me the way you love.”

... Jongseong tidak peduli dengan apa yang akan terjadi ke depan, karena Jake bukan lah Heeseung, bukan juga pengganti apalagi sekedar tambalan untuk mengisi kekosongan di hati. Setidaknya, itu yang Jay yakini.

End.

Contain: depression and suicidal act


Suatu hari, ada seorang gadis yang memiliki rambut hitam nan panjang, juga disertai paras yang sangat cantik. Keberadaannya langka di antara kepala-kepala yang mulai diwarnai pelangi sebagai penanda jati diri. Gadis itu memiliki tinggi rata-rata di kisaran 150 sentimeter. Suatu hal yang wajar bagi gadis berusia enam belas tahun. Perawakannya tidak terlalu mungil, karena sang Ibu senang memberinya nasi. Disirami dengan kasih sayang sepenuh hati, ia tumbuh menjadi anak yang baik hati. Mungkin juga terlalu pemikir sebab sang Ibu seringkali tidak bisa menjawab apa yang anaknya tanyakan. Meski begitu, ia rajin menyediakan buku-buku untuk sang anak baca, untuk sang anak pelajari dan pahami ketika ia sedang bekerja, walau buku tersebut hasil dari belas kasih pedagang yang berjualan di pasar loak.

Sang gadis tidak berasal dari keluarga yang berkecukupan, dari pihak ibu maupun ayah. Itu sebabnya dia dilempar ke sana ke mari oleh para saudara ketika kedua orang tuanya telah berada di liang lahat. Padahal ulang tahunnya yang ke-tujuh belas tinggal tiga hari lagi, tapi apabila Tuhan menyuruhnya untuk meniup lilin sendiri, tidak ada yang bisa sang gadis lakukan selain menerima.

Menerima segala perlakuan buruk yang diberikan padanya,

Menerima keadaan bahwa ia tidak diinginkan,

serta,

Menerima fakta bahwa keberadaannya hanya akan membawa beban dan masalah saja.

Rambut legamnya yang dahulu mencapai pinggang kini tinggal sepunggung di saat sang Bibi pertama dari pihak ayah mengatakan bahwa ia terganggu dengan pemandangan itu itu, kemudian dipangkas lagi menjadi sebahu saat anak semata wayang paman keduanya dari pihak ibu mengatakan bahwa tidak ada yang boleh lebih cantik darinya di rumah itu. Lambat laun, surai itu terpotong dikarenakan kehendak sendiri, bukan orang lain, dan setiap inci yang dipotong merupakan representasi dari beban yang sudah tidak sanggup lagi dipikul sendiri. Inci demi inci yang masih berada dalam jarak penglihatan ia potong, dan helai demi helai ia cabut dalam upaya untuk membuat diri ini tak lagi merasakan berat.

Aura cerah yang dulu mengelilinginya kini sudah lenyap, tergantikan oleh awan kelabu yang tidak tahu kapan harus menurunkan muatan ataupun menyambar sampai sekujur tubuh ini beku oleh sengatannya yang mematikan.

Lingkungan pertemanan yang tadinya besar pun kian hari makin mengecil sampai ke titik seorang diri. Percuma untuk mengadu, karena tiap-tiap manusia mempunyai beban mereka sendiri-sendiri yang menunggu untuk diselesaikan, dan ia pun begitu, melewati tiap hari yang terasa sepi dengan pikiran untuk menyelesaikan semuanya.

Ujian kelulusan sudah berhasil ia lewati. Entah hasilnya bagaimana, ia juga tak peduli, karena yang tertulis di selembar kertas nanti hanyalah sebuah angka, bukan penentu ke mana ia harus melangkah. Masa depannya tidak bergantung pada indeks angka yang akan keluar dua bulan lagi, melainkan pada selembar tiket kereta yang akan ia naiki lusa malam nanti. Persiapan yang ia lakukan untuk pergi nanti tidaklah banyak. Ia bahkan tidak membawa tas seperti gadis yang seusianya ributkan tiap kali mau pergi ke suatu tempat, karena urusannya hanya butuh waktu sebentar, atau, itu yang sekiranya ia harapkan.

Di malam ketika semuanya sudah terlelap dua hari kemudian, ia pun mengambil gunting untuk memangkas seluruh helainya yang tersisa kemudian pergi melalui pintu belakang dengan langkah mengendap-endap seperti pencuri. Tidak usah membereskan kekacauan dibuat pun tak apa, sebab ia takkan kembali lagi ke sini. Jalanan menuju stasiun pun ia tapaki dengan langkah ringan. Beberapa perhentian di berbagai stasiun transit juga telah terlewati untuk mencapai ke suatu tempat. Suatu tempat dimana ia bisa merasakan kedamaian.

Sebuah desa kecil yang berada di ujung pulau adalah rumahnya dulu sebelum pekerjaan sang ayah membawa keluarga kecil mereka pindah ke kota. Kembalinya ia ke sini adalah untuk bernostalgia. Pada jalan setapak yang membawanya ke sebuah Taman Kanak-Kanak, pada ayunan di pinggir taman kecil yang sudah usang. Saat ia duduki dan ayunkan perlahan, bunyi decit dari karat kering yang beradu berhasil membuatnya melengkungkan senyum pelan, kemudian berdiri dan beranjak pergi, mengunjungi sebuah toko yang kayunya sudah menyebarkan bau lapuk pada pinggir jalan yang mengarah ke laut. Ia lalu memutar balik dengan pandangan yang mengacu pada jalanan di atas sana yang mengarah ke sebuah dataran landai yang sering digunakan sebagai tempat untuk mengobservasi bintang. Kaki-kakinya pun melangkah kecil dengan ditemani semilirnya angin. Tempat itu tidak akan penuh jika bukan di musim panas, apalagi di tengah malam hari seperti ini. Itu kenapa dia pergi ke sana untuk mendamaikan diri.

Saat sudah sampai di puncak, ia mengambil napas sebanyak yang paru-parunya bisa tampung, kemudian mengembuskannya dengan keras, beberapa kali sampai kemudian tersedak dan jadi tertawa sendiri lalu mengambil napas dalam untuk yang terakhir kali sebelum menempelkan diri pada dinginnya besi pagar pembatas. Dengan mencondongkan tubuh ke depan, ia menutup mata dan terbang bebas.


Beberapa bulan kemudian, terdengar suara sirine polisi yang membelah jalanan pedesaan di pagi hari. Ada dua buah mobil yang melaju dengan kencang menuju hutan di bawah tempat observasi bintang. Satu mobilnya diisi oleh tiga orang inspektur kepolisian sementara mobil lainnya diisi oleh tim dari departemen forensik. Sebuah ambulans juga mengikuti tidak jauh di belakang mereka. Semua itu dilakukan karena laporan dari penduduk setempat yang mengatakan bahwa telah ditemukannya tubuh tanpa nyawa yang sudah membusuk di dalam hutan sana.

“Dapat dipastikan ini mayat seorang gadis.”

“Perkiraan usia, belasan atau awal dua puluhan. Tidak ada kartu identitas yang ditemukan, jadi kami harus memeriksanya lebihanjut dan mencocokkannya dengan data orang yang hilang.”

“Baiklah. Terima kasih atas kerja samanya.”

Operasi pengangkatan mayat sang gadis ke dalam ambulans pun dilakukan seiring dengan penyisiran tempat kejadian perkara untuk menemukan bukti-bukti yang bisa membantu, tapi suara mual dari salah seorang rekan kepolisian membuat kegiatan itu berhenti sebentar untuk menanyakan, “Kau tidak apa?”

Yang wajahnya pucat pasi kemudian mengangguk sambil mengusap mulut dengan lengan.

“Dia ini anak baru, wajar kalau shock.”

“Kau dari departemen kejahatan kecil, bukan?”

“Iya, benar.”

“Nah, pasti juga akan terbiasa. Semangat, anak baru,” ucap yang paling tua kemudian melanjutkan penyisiran.

“Ketua, kenapa bisa terlihat tenang?” tanyanya pada sang rekan senior di samping yang memutuskan untuk melakukan penyisiran bersamanya.

“Tidak ada yang bisa tenang jika dihadapkan dengan kematian. Mungkin hanya sudah terbiasa menyaksikan kehilangan. Yang penting, jangan sampai semua hal ini mempengaruhi dirimu.”

“Terima kasih atas sarannya, Senior.”

“Ya, mari kita lanjutkan pekerjaan.”

Berakhir.

Sebuah Fanfiksi top! Jibeom x bot! Youngtaek dengan judul,

Game Player

Contain: explicit description of intimate scene, and infidelity

Rating M


Nama dari orang yang sedang berjalan di distrik hiburan malam dengan pakaian flashy-nya yang mencolok saat ini adalah Son Youngtaek. Dengan dua kancing teratas kemeja yang terbuka, Youngtaek tak takut pada seruan dinginnya angin malam yang menakut-nakuti bisa merasuki diri. Ia terlalu sibuk memindai ikan-ikan di jalan, mencari seseorang yang memiliki potensi untuk mengisi kantungnya yang kosong dengan beberapa lembar uang ataupun karet. Yah, apa lagi yang bisa diharapkan dari seorang penagih utang selain kesempatan untuk berdandan necis sambil mengayunkan kaki lebar-lebar di jalanan-jalanan pertokoan sambil pasang tampang sok seram? Jawabannya tidak ada.

Kakinya yang panjang berhenti melangkah ketika menemukan bar yang masih buka di deretan pertokoan yang ia ketahui diisi oleh orang-orang tua. Mungkin malam ini ia akan menjadi simpanan seorang Ayah panas yang memiliki beberapa anak kecil di rumah. Tidak terlalu buruk, karena pengalaman tidak akan berbohong, dan lagi, orang-orang dewasa biasanya akan berlaku lebih lembut, jadi Youngtaek bisa bermanja. Ah, membayangkannya saja sudah tidak sabar, semoga ada yang bagus.

Kling!

Di luar dugaan, keadaan bar tersebut lebih sepi dari yang Youngtaek kira. Melangkahkan kakinya lebih dalam sambil menyisir siapa-siapa saja yang ada dalam ruangan, Youngtaek kemudian berhenti ketika menemukan seseorang yang menarik perhatian. Seseorang itu adalah seorang pemuda yang seperti memilki usia sepantaran dengannya, dan sedang duduk sendirian di counter. Dari dandannya yang terlihat rapih, seperti berasal dari kalangan orang yang berkelas. Tidak butuh waktu lama, Youngtaek pun melancarkan aksi.

Pertama, melangkah lah dengan gaya yang elegan, pelan menujunya.

Kedua, ucapkan, “Permisi,” pada saat akan duduk di dekatnya untuk menarik perhatian, dan berhasil. Pria dengan pakaian ala parlente itu menengok sekilas ke arahnya. Youngtaek lalu mendudukkan diri, berjarak dua kursi dari pemuda itu. Sengaja, agar tidak kelihatan terlalu menginvasi personal space pemuda lainnya. Ia ingin bermain mulus.

Ketiga, bersikaplah seperti biasa. Ia tidak ingin terlalu mabuk, jadi segelas cocktail yang terbuat dari campuran whiskey dan ginger ale adalah pilihan yang tepat untuk malam sehabis hujan seperti ini.

Keempat, Youngtaek biasanya akan berpikir keras tentang topik apa yang bisa membawa obrolan mengalir lancar, tapi sepertinya ia tidak perlu melakukan itu pada malam ini sebab tawa kecil telah meluncur natural dari pria di sebelah. Apa pilihan minumannya begitu aneh? Untuk memastikan itu, ia pun bertanya, “Kenapa?” dengan nada yang dibuat –sok– tersinggung. Ya, Youngtaek hanya menginginkan umpan balik berupa, “Maafkan aku.”

Kan, perkiraannya jarang ada yang meleset.

“Kenapa harus?” Ia membalas.

Si pria terlihat kebingungan dengan dirinya sendiri sebelum berkata, “Tidak, hanya saja, maaf karena telah tertawa tadi.”

“Memangnya kau menertawakan ku?” Sudut bibir Youngtaek mulai sedikit tertarik ke atas, yang kemudian mengembangkan senyum geli atas, “Ya?” darinya yang terdengar ragu. Youngtaek lalu menuntut penjelasan, “Kenapa?” dan sungguh, pria itu terlihat semakin menarik dengan sikapnya yang lurus menjawab, “Kukira kau akan memesan yang lebih berat dari itu seperti Merlot?” Uh-oh, Youngtaek menggeleng, kemudian pria itu kembali menebak, “Pinot Noir?” yang berakhir dengan gelengan lagi, juga sebuah alasan, “Nah, aku tidak sedang makan steak.”

Keduanya lalu tertawa kecil sampai Youngtaek menyadari apa minuman si pria. Cosmopolitan. Ia lalu mengucap, “Itu cukup berat,” sambil melirik ke arah gelas.

“Ya, mau mencobanya?”

Oh, itu tidak terduga. Bibirnya lalu membentuk senyum sungkan atas tawaran, yang Youngtaek tahu, hanyalah basa-basi itu. Ia tidak ingin mabuk malam ini. Tidak, sebelum dirinya bisa membawa pria itu ke tempat tidur, dan menggasak habis seluruh harta ben- uh, ia tidak sebar-bar itu, tenang saja.


Sendiri, menyepi dari selebrasi yang seharusnya ia hadiri. Itu lah Kim Jibeom, sang bintang utama pada malam ini yang memilih untuk melarikan diri. Ia seharusnya hadir pada pesta bujangan yang ia adakan–tidak, bukan ia yang mengadakan pesta itu melainkan sahabatnya. Sahabatnya itu bilang bahwa ia harus menghabiskan malam terakhir sebagai bujangan bersama dengan teman-teman, karena malam bebas seperti itu tidak akan lagi bisa ia temukan dengan mudah setelah terikat di keesokan hari, tapi Jibeom lebih memilih untuk mengasingkan diri setelah tadi ia menyetor muka di pesta. Biarlah sahabatnya itu yang mengurus sisanya. Toh yang hadir di sana juga bukan teman-teman dekat melainkan rekan kerja. Ia hanya memiliki beberapa teman dekat. Satu yang sedang mengurus pesta, satunya lagi tinggal di kampung, dan satunya lagi sibuk merantau ke negeri orang, tapi yang dua, jauh darinya itu sudah berjanji akan datang pada hari pernikahan.

Ia hanya berencana menghabiskan malam ini dengan sepi, dan mungkin, pulang dalam keadaan tak sadarkan diri adalah apa yang ia butuhkan untuk mengusir penat, tapi tidak ketika ada seseorang yang tiba-tiba datang dan menemani. Bilang Jibeom gila, karena sudah mengiyakan ajakan pria tak dikenal untuk berjudi, tapi, untuk bisa melihat senyum itu lagi, Jibeom rasa, kehilangan beberapa lembar uang yang ia dapatkan dari jerih payah usaha tidaklah mengapa.

Ada yang berbeda dari cara pria itu tersenyum, seperti sedang menahan sesuatu tapi tetap memancarkan pesonanya yang menarik. Pria itu jelas tengah berusaha, tapi untuk apa, Jibeom tidak mau mengetahuinya. Biarlah pria itu yang menyatakan sendiri apa maunya ketika semua chip di meja berhasil ia dapat. Biarlah pria itu membisikkan keinginan tersurat tentang apa yang ia mau darinya dengan sendat suara yang dibuat mengajak.

“Kalau kau mau seseorang untuk menemani, aku bisa.”

Oh ya? Jibeom langsung saja mendongak ke arah pria itu yang sedang duduk di meja permainan, dengan tubuh yang condong ke arahnya dan menatap lekat-lekat. Ia lalu berkata, “Aku belum memiliki pengalaman dengan pria.”

“Oh, tenang saja. Akan kuajari sampai kau paham dengan seluruh bagian kecilnya.”

Jibeom baru tahu jika suara laki-laki bisa terdengar semenggugah ini, karena para pria di lingkungannya tidak begitu. Apa ini kemampuan khusus yang bisa dipelajari? Atau bakat alami? Jawabannya akan Jibeom temukan bila ia menyentuh, sedikit saja, dari tubuh pria itu. Maka ia pun bangkit dari tempatnya duduk. Mendekat ke arah pria itu kemudian memegang paha sampingnya, dan berkata, “Kalau begitu ajari aku, semua.”

Jibeom mengatakan itu dengan nada yang biasa, tapi diterima dengan tidak biasa oleh pria di hadapan, sebab mata itu menyayu, dan Jibeom tidak menolak ketika pria itu menarik tangannya, membawanya pergi dari sana.


Youngtaek tidak menyangka bahwa ia akan mendapatkan ikan yang besar malam ini. Ketika bertanya, “Mau di mana?” Sang pria lurus mengatakan hal yang tidak ia sangka, yaitu, “Sesukamu.”

Kalau biasanya ia dan sang teman semalam akan berdebat lebih dulu tentangmelakukannya di mana? Kali ini tidak. Pria itu mengiyakan saja ketika Youngtaek mengajaknya ke sebuah hotel cinta berbintang lima. Saat memesan kamar di depan tadi, ia juga tidak menduga bahwa sang pria akan memilih jam tinggal yang cukup lama. Bukan dua melainkan delapan. Sepertinya benar pria yang kesepian, dan Youngtaek lebih tidak menyangka lagi kalau pria ini adalah tipe yang agresif dibalik penampilan luarnya yang kalem. Uh, jangan suka menilai buku dari sampulnya itu sepertinya memang benar. Youngtaek larut dalam ciuman yang pria itu pimpin. Apanya yang tidak berpengalaman kalau ciumannya saja sememabukkan ini? Oh iya, dia hanya tidak memiliki pengalaman dengan pria, tapi kenapa pria ini terkesan semangat sekali?

“Hn-mnn.”

Youngtaek tidak begitu menyukai ciuman dengan orang asing. Pemikiran tentang menelan ludah orang yang tak dikenal saja membuatnya merinding, tapi kenapa pria ini berbeda? Pada lidah yang menyapa dinding langitnya, ia mendesah. Padahal biasanya tidak begini. Biasanya, Youngtaek akan langsung memutus ciuman jika lidah sudah bertaut. Ia hanya tidak ingin membuang waktu dengan menunda-nunda, karena yang ia butuhkan hanya ejakulasi, tapi kenapa dengan pria ini, ia malah mengerang dan menarik tengkuk itu untuk lebih mendekat?

Ada yang aneh dengan dirinya, Youngtaek tahu, tapi ia tidak berkenan untuk menghentikan kegiatan itu. Tidak, di saat tangan sang pria yang baru saja ditemuinya menyusup masuk, membelai halus sembari menanggalkan kancing-kancing yang mengganggu. Mengganggunya dari merasakan tubuh panas itu. Di sisa malam, yang Youngtaek rasakan hanyalah pening yang berulang, sebab panas di kedua tubuh, nya, dan dia, lama menghilang. Saat jam di ponsel menunjukkan pukul enam pagi, Youngtaek tahu bahwa mereka harus berpisah di sini, tapi ia juga menawarkan,

“Kita masih bisa bertemu setelah kau menikah.”

“Kau mau jadi simpananku?”

Youngtaek mengernyitkan alis atas istilah yang tidak terdengar enak di kuping. “Bagaimana kalau, dua orang yang saling memberikan kenyamanan kepada satu sama lain?”

Ada dengusan sebelum balasan, “Panjang sekali.”

Youngtaek mengangguk, lalu mengusulkan istilah yang sudah dikenal. “Teman sex, atau teman dengan keuntungan? Pilih yang mana?” Youngtaek mengatakan itu sambil bangkit dari tidur, kemudian menyangga beban tubuh dengan kedua lengan menghadapnya. Ia menunggu jawaban, tapi pria itu hanya diam dan memperhatikan. Youngtaek tahu bahwa ia memiliki wajah yang tampan, tapi,

“You shouldn't take the risk.”

Peringatannya itu hanya Youngtaek anggap angin lalu, sebab dia,

“Well, I'm a good game player. So?”

“Berikan aku kontakmu, dan akan kuhubungi nanti.”

“Aku tidak menyukai bagian dimana yang kaya lah yang selalu menentukan,” balas Youngtaek dengan bibir cemberut sambil mengetikkan nomornya pada ponsel keluaran terbaru –bukan miliknya. Sudah begitu, ia hanya mendapatkan tawa, juga ciuman di pipi. Ia lalu memasang senyum bak iblis penggoda saat mengatakan, “I'm looking forward for our next meeting.”

“You should not.”

End.

Sebuah Fanfiksi SungJake dengan judul,

Choux

Contain: fluff and a lil R-thing


Di sebuah ruangan bersih berdinding putih yang dipenuhi dengan aroma vanilla dan kayu manis, berdiri lah seorang koki muda yang sedang menjalankan kegiatan pagi. Dia sedang mempersiapkan kue-kue yang akan dipajang sebelum pelayan di depan ruangan ini mengubah papan tanda menjadi Buka. Jemarinya yang cekatan dengan telaten mengisi kue-kue bulat dengan krim putih sampai pada sebuah gangguan yang,

“A'ah.”

“A-aah.”

“Uhh.”

... membuatnya kesal sehingga menekan plastick bag di genggaman terlalu kuat, membuat roti yang harusnya terisi padat dengan krim, malah jadi tidak enak dilihat karena isiannya meluber kemana-mana.

“Itu, apa yang disebut dengan creampi-”

“YAK!”

Dia yang sedari tadi menggoda dengan desahan tidak senonoh ala aktor JAV tersentak. Sebenarnya sudah menyangka akan diteriaki seperti itu, tapi tetap kaget juga. Di saat yang sedari tadi digoda menyalak marah, “Bisa selesaikan pekerjaanmu dulu, dan jangan mengganggu orang lain, tidak?!”

Ia di hadapannya hanya tersenyum kecil, bahkan ketika bibir itu menghembus napas kecil, mengatur emosi, baru melirik ke arah samping kanan dimana barisan lemon meringue sudah tertata rapi dengan hiasan irisan lemon tipis nan kecil di atasnya, kemudian menandaskan, “Udah.”

Koki yang sedari tadi digoda bernama Jake itu kemudian hanya bisa menggeram rendah atas ulah usil temannya, Sunghoon. Selalu saja begitu, tiada hari yang Jake lalui tanpa tingkah usil sang sahabat di sekitar, seperti tadi. Ia tidak mengerti kenapa Sunghoon suka sekali melemparkan guyonan berbau rated kepadanya, dan bukan ke Jay yang notabenenya sering keepergok menguntit aktris film biru di media sosial, di kapan pun waktu senggang yang pria itu miliki. Jake hanya tidak mengerti, mengapa Sunghoon suka sekali menggodanya dengan humor-humor berbau erotis, apalagi ketika Sunghoon mengambil tangannya yang masih memegang sebuah cream puff dengan isian yang meluber ke mana-mana. Mereka bertatapan cukup lama sampai Sunghoon membawa tangan itu ke sejajar dengan mulut. Ia lalu memandang dengan dalam seakan meminta izin pada Jake yang hanya terpaku dengan mata awas, mengantisipasi pergerakan Sunghoon. Hangat dan sedikit kasarnya permukaan bibir Sunghoon bisa Jake rasakan lewat ujung telunjuk sebelum pintu dapur tempat dimana mereka berada, menjeblak terbuka, menampilkan Heeseung, sang Manajer kafe dengan muka cerahnya yang seketika langsung berubah kaku saat menyadari bahwa ia menginterupsi kegiatan mesra. “Aah.” Menaruh tangan di pinggang, ia lalu bertanya, “Aku sedang tidak menggangu, kan? Karena seingatku ini masih jam kerja, jadi CEPAT BAWA ROTI-ROTI ITU KE ETALASE kalau sudah selesai.” Mendengus napas kasar, ia lalu berlalu pergi dari sana, meninggalkan dua orang insan yang tengah berusaha menjadi diri sendiri.

Jake lalu menaruh kue yang gagal di tempat sendiri sebelum beranjak ke kamar mandi, sementara Sunghoon segera menata kue-kue itu di depan. Mungkin kesempatannya kali ini gagal, tapi itu tidak memadamkan niatnya untuk terus mencoba. Jadi, mari lalui hari-hari berikutnya dengan penuh rasa percaya diri untuk memunculkan semburat merah itu lagi.

Sementara itu,

“Jake Hyung, kau tak apa? Rona wajahmu merah. Tidak sedang demam kan?” Tanya Sunoo yang bertemu dengan Jake di kamar mandi sambil menempelkan tangannya di dahi pria yang lebih tua. “Syukurlah tidak panas. Kalau kenapa-kenapa, bilang saja ya? Tidak usah sungkan. Heeseung Hyung pasti memaklumi kok.”

“Ah, iya, terima kasih, tapi aku tidak apa-apa. Hanya merasa sedikit panas.”

“Panas? Memangnya panas ya? Aku tidak merasa begitu, tuh,” ucap Sunoo kebingungan saat Jake berlalu cepat darinya menuju salah satu bilik yang pintunya terbuka. Menggeleng kepala, Sunoo kemudian menggumam, “Aneh sekali, padahal masih pagi,” sambil melangkahkan kaki pergi.

End.

Sebuah fanfiksi Minkyu, Eunsang, dan Junho.

Contain: love triangle, major character death, and angst.


Dia adalah manusia yang sensitif, secara sukma maupun raga.

Dia memiliki hati yang perasa, juga tubuh yang tidak bisa digunakan sesukanya.

Dia tidak bisa makan telat. Lewat barang dua jam saja, lambungnya akan langsung merintih, dan membuat mukanya pucat pasi.

Dia tidak bisa berlari kencang, sehingga tidak bisa mengejar bis ataupun kereta yang akan berangkat di detik-detik terakhir.

Dia tidak bisa mengonsumsi makanan pedas pun asam yang berlebihan. Maka aku yang menyeruput sisa es limun itu untuk bisa membuatnya tersenyum lega. Tak apa walau nanti harus bersemedi di kamar mandi, karena cahayanya harus tetap bersinar terang sebagai lentera jalanku.

“Kalau kamu sakit perut nanti, jangan salahin aku lho ya.”

Atas tuduhan lempar batu sembunyi tangannya, aku menyembur tawa geli, kemudian membalas dengan jumawa, “Ga akan. Perutku kuat,” sambil menepuk-nepuk ringan perut yang mulai berbunyi, kemudian terdiam sebentar karena sepertinya ada yang ingin keluar. Aku pun pamit, berdiri, dan hanya bisa meringis kecil atas tawanya yang semakin membahana saat kaki ini melangkah ke kamar mandi di belakang. Sepertinya tadi terlalu banyak menuang sambal.

“Sang.”

“Ya?”

Saat ini dirinya tengah berjalan di sampingku sehabis kami menyantap makan siang tadi. Dia tidak bisa berjalan cepat, jadinya aku yang harus menyesuaikan langkah. Berjalan beriringan bersama seperti ini menyenangkan, tapi tidak dengan segala nasihat dan berbagai macam pertanyaan khas polisi yang sedang menginterogasi seseorang. Aku tahu niatnya bertanya seperti itu baik, tapi masalahnya terletak pada topik pembicaraan yang sangat ingin aku hindari saat ini, yaitu tentang segala tetek bengek kegiatan magang.

“Iya, aku udah nemu tempatnya.”

“Iya, aku udah ngajuin surat ke sana, ini lagi nunggu balasan. Cadangannya juga ada kok, kalau-kalau yang ini ga keterima. Junho ngajakin aku buat magang di tempat kenalan Papahnya.”

Bilang aku berlebihan karena memiliki prasangka seperti ini, tapi langkah yang tadinya ringan, kini jelas menjadi berat. Wajah yang tadinya hidup, juga berubah lesu, dan kepala yang tadi menghadap ke depan, kini lebih memilih untuk memandang paving block jalanan, sesekali juga menendangi kerikil kecilnya jauh ke depan, atau ke selokan air di samping kanan. Setelah itu baru dia berkata, “Itu juga bagus dicoba,” dengan senyum yang langsung membuat dada ini sakit. Harusnya pembicaraan tentang orang lain tidak usah kusebut, karena dia pun begitu, tidak pernah membicarakan orang lain di saat kami sedang berdua seperti ini. Aku jadi merasa bersalah, tapi tangan yang menarik ku untuk mempercepat langkah di detik berikutnya berhasil membuat perasaan biru itu terbang. Dia kesusahan menarik maju, sebab di sini aku menahan beban pada diri yang enggan untuk bergerak. Sengaja, agar wajah itu memerah marah sehingga aku bisa menjalankan misi untuk membuatnya lebih kesal. Tangan yang ada di genggamannya kutarik dengan sekuat tenaga, yang menyebabkan dia hilang keseimbangan, tapi sedikit pun luka tak akan kubiarkan menghiasnya. Jadi, langsung saja kusambar kusambar tubuh itu dan menaruhnya di bahu, kemudian berlari dengan dia yang berteriak tidak terima.

Hampir setengah dari kapasitas tempat acara telah ditempati. Ini seminar umum, jadi wajar kalau banyak yang menghadiri, untuk menambah ilmu pun mengincar sertifikat yang akan berguna saat mencari kerja nanti, atau sekadar ingin mendapatkan snack box dan goodie bag dari media partner yang bekerja sama. Di saat aku masih memindai kursi-kursi mana saja yang kosong, seruannya terhadap seseorang yang kami kenal membuatku juga menatap ke arah yang sama dengan pandangannya.

“Ah, itu Junho.”

“Dateng juga ternyata.”

“Emangnya dia ga bilang ke kamu kalau mau datang ke sini?” tanyanya sembari kami berjalan melewati belakang kursi-kursi audiens untuk mencapai deretan kursi yang masih cukup kosong di di dekat pintu keluar, melewati barisan kursi tempat Junho berada.

“Engga.”

Saat kami menempati dua kursi di barisan tengah yang aku pilihkan, dia tertawa. Meskipun kecil, tapi masih bisa kudengar karena jarak kami yang berdekatan. Dia kemudian semakin mendekat ke arahku hanya untuk membisikkan, “Temennya kan bukan cuma kamu aja ya.”

Tidak ada respon apapun yang bisa diberikan selain tertawa, lagipula perkataannya tadi benar adanya.

“Enak ya, jadi Junho, bisa berbaur sama siapa aja.”

Aku mengangguk atas perkataannya. Cha Junho yang ia maksud adalah teman masa kecilku. Sedari SD, SMP, SMA, dan kuliah, kami selalu satu sekolah walau tidak sering berada di kelas yang sama, dan dari yang bisa aku lihat, Junho adalah tipe manusia ekstrovert yang menyukai berada di tengah keramaian, berbanding terbalik dengan dirinya yang kulihat hanya sering bermain dengan satu atau dua orang.

“Kamu juga bisa, Kak, kalau ada usaha.”

Jawaban selanjutnya yang dia berikan adalah tawa geli sambil menggelengkan kepala, dan aku di sini hanya tersenyum kecil sambil memandang segala tingkah lakunya. Begini pun tak apa. Tak ada yang harus ia rubah jika itu hanya untuk memenuhi harapan orang lain, karena dengan menjadi dirinya sendiri, kami bisa bertemu.

“Apa? Kenapa ngeliatin terus? Di mukaku ada sesuatu?”

Aku mengangguk yang membuat wajah itu berubah cemas di detik selanjutnya. Tawa ini bisa ditahan sebab dia jadi menyodorkan diri untuk kuperhatikan lebih lanjut.

“Mana? Di mana yang kotor?”

Jikalau muka ini terlumuri dengan lumpur panjat pinang atau kecap sehabis menggigiti koin di hari kemerdekaan, pasti masih ada kapitalis-kapitalis di luar sana yang ingin mengabadikan wajah ini di dalam galeri seni mereka.

“Ga ada yang kotor, adanya yang ganteng,” ucapku sambil tersenyum dengan sangat yakin, tapi tetap tidak mendapatkan reaksi apa-apa di detik berikutnya, sampai muka speechless-nya berubah sedatar pantat panci.

“Garing, banget, sumpah. Jangan pernah ngegombalin cewek deh kalo kataku, nanti yang ada kamu malah malu-maluin diri sendiri.”

“Makasih atas sarannya.”

“Sama-sama.”

Aah, Kim Minkyu. Jangan membuatku kewalahan dengan ekspresi begitu. Tatapnya yang kini dicuri malu-malu dariku serta leher yang memerah sampai kuping benar-benar membuat tangan ini mengepalkan diri.


Di sini, di belakang ruangan sekretariat BEM Fakultas Teknik, Eunsang berada, sedang berjongkok dengan bersender di tembok belakang sambil mencuri curhat colongan dengan pria di samping selagi ia menunggu Minkyu untuk selesai rapat.

“Dia bilang, jangan ngegodain cewek,” menggeram gemas juga mengepalkan tangan, Eunsang kemudian melanjutkan, “Lu bayangin itu, Bang. Katanya, jangan ngegodain cewek” kembali mengulang kalimat yang sama, kekeh kemudian terdengar sebelum, “Berarti kalo ngegodain dia, gapapa kan ya?”

Pria yang ada di sebelahnya menggeleng kepala kecil sambil tertawa tidak habis pikir atas tingkah butdjin sang adik tingkat kesayangan teman dekatnya sebelum menghisap sebatang nikotin di tangan dalam-dalam. “Bisa aja lu.”

“Ya, bisa. Sekarang apa sih yang ga bisa? Lu nambah tinggi, mungkin itu yang ga bakal bisa.”

“Kurang ajar.”

Eunsang tergelak untuk itu, kemudian menitikkan abu dari batang rokok yang sudah terbakar untuk kemudian dihisap kembali, tapi belum sempat itu terjadi, sudah ada tangan lain yang mengambilnya lebih dulu. Mendongak, ternyata itu Minkyu, dengan mata dan alis yang menukik tajam seperti naga yang hendak memuntahkan api. Eunsang jadi bergidik ngeri, dan belum sempat menyatakan pembelaan, Minkyu sudah lebih dulu menyembur dengan, “Udah berapa kali kubilang, rokok itu ga baik,” dan baru saja Eunsang membuka mulut, pria yang juga berjongkok di sampingnya menyahut, “Ga usah lu bilang, juga, dia udah tau kalau rokok itu ga baik.”

Udara di sekitar sempat mencekik karena pandang yang dilempar bengis, malah dibalas dengan tatap acuh tak acuh, seolah-olah Minkyu yang sedang menahan emosi itu adalah sesuatu yang pantas untuk diabaikan. Eunsang pun hendak mereda dua kakak tingkatnya yang sedang bersitegang dalam dingin, tapi belum sempat ia bertindak, sebuah tudingan dari Minkyu sudah dilancarkan lebih dulu untuk dia yang masih asik menghisap.

“Lo yang ngajak Eunsang ngerokok? Iya? Wonjn, udah berapa kali gw bilang kalo Lo mau berbuat sesuatu yang buruk, jangan ngajak-”

Kalimat itu terhenti sebab sebuah puntung rokok yang dilempar, kemudian diinjak kasar oleh pemiliknya. Eunsang di sini juga buru mematikan dan ikut berdiri.

“Kagak, itu rokok punyanya sendiri. Lo udah selesai rapat? Gw mau ketemu Taeyoung soalnya. Dah ya, gw duluan.”

Tanpa membiarkan Minkyu bicara lebih lanjut, sosoknya pun berlalu pergi, meninggalkan Eunsang yang kini hanya bisa tersenyum dengan semua gigi yang ia miliki.

“Err, aku ngerokok kalau lagi pengen aja kok.”

Ada putaran mata sebelum Minkyu meranggah dirinya, membuat Eunsang kelabakan karena tangan sang kating meraba bagian bawahnya. Bukan waktunya untuk tersipu seperti anak gadis, Lee Eunsang! Jangan sampai dia mendapatkan,

“Kalau lagi pengen aja, tapi kamu bawa bungkus rokok ini ke mana-mana?”

. . . sebungkus kotak rokok yang isinya masih ada setengah.

“Ya, kan, persediaan Kak. Kalau-kalau lagi pengen.”

“Oke.”

Sudah berkata itu, Minkyu langsung meninggalkan Eunsang. Bagaimana Eunsang bisa menjelaskan bahwa hari ini mereka tidak bisa pulang bersama kalau Minkyu merajuk?

“Kak. Kak!” Sialan, dia malah berjalan cepat sekarang. Mengubah aksi jalannya jadi berlari, Eunsang kini berhasil menghadang Minkyu yang seperti benar-benar ingin pergi, terlhat dari raut wajahnya.

“Apa lagi?”

“Hari ini aku ga bisa pulang bareng, ada kerja kelompok.”

“Fine.”

Dengan itu Eunsang hanya bisa merutuki diri. Seharusnya ia tadi berbasa-basi lebih dulu, bukannya malah langsung ke intinya seperti itu. Haduh, sudah pasti Minkyu jadi semakin merajuk.

Baru saja tadi ia mengawang di angkasa, sekarang sudah harus dipaksa kembali untuk menghadapi realita, dan kini ia harus memutar otak supaya acara pergi mereka di hari Minggu nanti tidak dibatalkan hanya karena emosi si Kakak Tingkat yang sedang ill feel padanya, sebab ia sudah menantikan itu dari jauh-jauh hari. Eunsang bahkan sudah menyusun rencana A dan B, bahkan ke C, D, dan seterusnya kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak sesuai harapan.

Menghela napas berat, ia pun langsung beranjak menuju parkiran. Teman-teman kelompoknya sudah pergi lebih dulu, dan untungnya memaklumi Eunsang yang bilang bahwa masih ada urusan tadi. Memang butdjin.


Dia masih bersinar cerah bahkan ketika mentari tersembunyi dibalik awan mendung.

“Lo pulang bareng siapa? Sama gw aja gimana?”

“Engga usah, gw-”

“Dia pulang bareng gw.” Kata itu diucapkan sambil merangkul bahu, dan wajah lucunya berubah semakin kebingungan saat ku tunjukkan senyum lima jari, kemudian membawanya menjauh ke arah motor setelah berpamitan dengan teman yang lain.

“Seharusnya Lo bilang dengan tegas kalo Lo ga mau. Jangan suka ngasih harapan palsu ke orang.”

“Siapa juga yang ngasih harapan palsu?”

Bibirnya yang mengerucut saat mengatakan itu begitu lucu, langsung saja kujawil, dan cepat mendapat protesan.

“Haha! Cepet naik. Udah mau ujan kayaknya.”

Untuk sesaat, dia kelihatan ragu sebelum mengatakan, “Emangnya ga bakal ada yang marah?”

Siapa? Memangnya siapa yang akan marah dengan orang yang sedang membantu orang lain?

“Gak ada. Emangnya siapa yang mau marah?”

“Ka Minkyu?”

“Baik kok orangnya.”

“Bisa diandelin ya? Semua orang di BEM kayak yang bergantung banget ke dia.”

“Iya, kan sekretaris. Udah pasti bisa diandelin. Kenapa? Iri?”

“Iya.”

Ada gelak tawa, dan juga sempat kuseka air mata. Heran dengan pengakuannya yang satu itu. Kalau diibaratkan dengan bunga, sosoknya adalah bunga yang menjulang paling tinggi di taman, dengan sayap asfarnya yang indah, menarik banyak lebah untuk singgah. Gestur ayo naik lalu aku berikan, dan kami pun melaju dengan kecepatan maksimal yang bisa diusahakan, tapi ternyata awan di atas sana tak berbelas kasih sebab mereka menurunkan pasukannya secara membabi buta, membuat aku dan dia terpaksa harus berteduh di salah satu kios deretan pertokoan yang –untungnya– tutup.

Senyumnya bahkan masih terlihat hangat meski sudah dibasuh oleh air mata langit, tapi mungkin tubuhnya tak sekuat bumi yang bisa menerima gangguan dari luar. Tubuh yang terlihat lebih ringkih dari yang terakhir kali aku lihat itu gemetar. Giginya juga mengatup rapat sambil tangannya meremas tali tas yang menjulur dengan erat. Untung di dekat situ ada toko yang menjual berbagai macam keperluan otomotif termasuk jas hujan. Kubeli satu dan kupakaikan padanya.

Kepala yang memiring bingung malah semakin membuatnya terlihat gemas, berujung pada tangan ini yang menarik jas hujan ke bawah dengan kuat-kuat sampai tudung kepala menutup seluruh wajah. Dia lalu mengeluh kemudian beralasan yang tidak bisa aku terima sebelum mengucapkan, “Makasih.”

“Sama-sama. Gw mau cepet mandi air anget soalnya.”

Tidak ada tawa atau dengusan geli, tapi dari spion yang sengaja diarahkan padanya, aku tahu, dibalik kepala yang menunduk, ada rona merah yang menyembul malu-malu.


Senin,

“Jadi, acara mendadak apa yang bikin aku harus nunggu dua jam, tapi kamu ga dateng juga.”

“Tanteku lahiran,” jawab Eunsang lugas sambil menatap Minkyu tepat di mata.

“Terus? Kamu ga bisa ngendarain mo-”

“Aku harus bantu nelepon suaminya, dan ikut nunggu juga. Ga mungkin buat ninggalin Mamah sendiri.”

“O-ke.”

“Jadi,” tersenyum cerah, Eunsang lalu menawarkan, “When should I make it up to you?”

“Seminggu ini ga bisa, dan minggu depan aku harus ikut dosen seminar ke luar kota, sekalian bimbingan, dan ngambil data buat skripsi.”

Akan jadwal Minkyu yang penuh, Eunsang lalu menghembus napas kecewa. “Sayang, banget.”

“Ya, dan seharusnya ga bakal sayang banget kalau kamu ngasih tau aku lebih awal bahwa kamu ga bisa dateng. Jadi, waktunya bisa aku gunain buat ambil data.”

“Maaf, Kak.”

“Ga perlu, toh udah terjadi.”

“Minggu depan, aku juga udah mulai magang. Jadi, kapan?”

“Kapan-kapan,” jawab Minkyu sambil mempercepat langkah maju, meninggalkan Eunsang yang lagi-lagi menghela napas kecewa. Minkyu seperti marah padanya, dan ia tidak tahu kapan bisa memberi pertanggungjawaban yang layak atas kecerobohannya sendiri yang lupa menelepon Minkyu karena ikutan panik. Kedua bahunya turun ke bawah begitu juga dengan pandangannya yang terarah ke bawah, namun seketika menegak saat ada yang memanggil, “Eunsang!” dengan nada kelewat ceria.

Itu sang matahari berjalan, Junho, yang sedang berjalan ke arahnya kini setelah Minkyu hilang di belokan depan sana. Ikut membalas senyumnya, Eunsang lalu bertanya, “Ada apa?”

Junho menggeleng sambil tertawa geli, kemudian menjawab, “Ga ada apa-apa, cuma manggil aja.”

Eunsang tersenyum kecil untuk itu kemudian jadi menyamakan langkah dengan Junho yang berjalan pelan, sambil sesekali menyapa dan disapa oleh orang yang ia kenal.

“Habis kelas selesai, mampir ke Kedokteran yuk! Mereka lagi ada bazar gitu di deket auditoriumnya.”

Menimbang sebentar tentang rencananya hari ini, Eunsang lalu mengangguk di detik kedua sembari berkata, “Boleh.”

Junho lalu berteriak girang, dan mereka pun menghabiskan sepanjang sisa hari bersama. Hari esoknya pun begitu. Esoknya, dan esoknya lagi, dan esoknya selama kegiatan magang dilakukan di bawah naungan korporasi yang sama. Mereka bahkan saling membantu ketika mengerjakan laporan, tapi Junho tidak mendapatkan bantuan lain seperti bantuan yang Eunsang dapatkan, yaitu bantuan dari seorang proof reader untuk menyunting apa-apa saja yang tidak dibutuhkan, dan apa-apa saja yang harus ditambahkan. Eunsang mendapatkan bantuan itu dari Minkyu. Hubungan mereka kembali membaik setelah Minkyu berhasil melewati fase stress saat sedang mengerjakan skripsi, dan setelah Eunsang dapat lebih bisa lagi membagi waktu dengan baik –dengan bantuan Minkyu. Keduanya terlibat dalam hubungan rumit yang dipenuhi komitmen tapi tanpa status yang jelas, entah mengapa.

Tahun berikutnya setelah Minkyu berhasil menyandang status sebagai alumni, mereka memutuskan untuk tinggal bersama sampai saat ini, hari dimana Lee Eunsang akan diwisuda.

“Dompet, HP, toga sama topinya, jas, tabung, kok kosong?”

Minkyu menatap geli pada Eunsang yang terlihat panik seperti orang bodoh namun sialnya terlihat 1000 kali lipat lebih tampan dari hari biasa dengan balutan pakaian formal yang ia kenakan untuk acara sakral yang berlangsung dalam dua jam lagi, lalu menggeleng kepala. “Emangnya mau kamu isi kacang?”

“Boleh?” Eunsang kemudian meringis tawa saat Minkyu memutar bola mata, dan mengaduh saat Minkyu memukul sisi kepalanya menggunakan buku jari.

“Tabungnya buat tempat nyimpen berkas yang bakal kamu dapet nanti. Jangan norak.”

“Oh, oke.” Jujur, ia baru tahu itu. Eunsang kira tabung ini hanya untuk keren-kerenan saja. Dulu sewaktu wisuda SMA, tidak begini soalnya.

“Ayo berangkat. Jangan sampai kamu telat, dan malah ga dibolehin masuk ruangan.”

Memasang sikap hormat, Eunsang lalu menyerukan lantang, “Ay, ay! Kapten!”


Acara wisuda kala itu berjalan dengan lancar dari awal sampai akhir. Meski tidak berdiri di jejeran lulusan terbaik yang dikalungi medali langsung dari Rektor seperti Junho, Eunsang tidak berkecil hati. Untuk sampai ke tempat ini saja perjuangannya bukan main, jadi ia bersyukur kepada diri sendiri karena sudah bisa bertahan sampai sejauh ini, dan tak lupa membuat pengingat dalam hati agar menunjukkan rasa terima kasih kepada orang-orang yang telah mendukungnya selama ini, nanti, sehabis ia keluar dari ruangan ini.

“Terima kasih atas dukungannya selama ini! Mah, Pah, dan juga, Ka Minkyu.” Eunsang menundukkan sedikit kepala sebelum memeluk ketiga orang itu secara bergantian. Untuk Minkyu, ia juga mencuri kecupan di sudut bibir saat tak ada yang melihat seraya berbisik, “Makasih ya, Kak.”

Minkyu mengangguk, sebelum mengundurkan diri untuk memberi ruang bagi Eunsang dan keluarga untuk merayakan momen suka cita, tapi sebelum kakinya melangkah menjauh, sesuatu menahan lengannya untuk tidak pergi, dan yang Minkyu temukan adalah sorot serius Eunsang saat mengatakan, “Kamu bisa gabung foto sama aku, Ayah dan Ibu.”

Minkyu tersenyum, kemudian melepas tangan Eunsang dari lengannya pelan. “Gapapa. Momen ini cuma sekali dan harus kamu habisin sama keluarga. Aku bisa nanti.”

“Terus Kakak mau ke mana? Pulang?”

“Nanti. Sekarang mau ketemu sama temen-temen alumni yang kebetulan datang juga.”

“Oke.”

“Sampai ketemu di rumah,” Minkyu ucapkan dengan hati yang berat. Selalu begini, semuanya tidak berjalan sesuai keinginan, tapi Minkyu juga tidak bisa membahayakan hubungan yang sudah mereka jalin dengan keinginan egois yang ingin memeluk Eunsang dengan erat dan menciumnya saat ini juga di depan banyak orang. Ia harus menunggu nanti untuk bisa melakukan itu, dan ia hanya bisa melakukannya dibalik pintu yang tertutup rapat.

Kini, ia menunggu Eunsang untuk mengatakan sesuatu. Mungkin balasan sederhana seperti, ya, sampai bertemu nanti, atau apapun itu yang bisa membuatnya tegar di saat seperti ini, tapi ia tidak mendapatkan satu pun dari itu, malah, hati yang tadi memberat kini jadi berdegup kencang sebab Eunsang menariknya mendekat secara tiba-tiba, kemudian membisikkan, “I'm looking forward for my present tonight.”

Mendorong bahu pria yang lebih muda untuk sedikit menjauh, Minkyu,. “Emangnya kamu anak kecil?”

“Padahal kukira Kakak udah nyiapin hadiah buat merayakan kelulusanku.” Bahunya jadi condong, turun ke depan persis seperti anak anjing yang kecewa tidak diberikan mainan kesukaan. Minkyu lalu mengucap cepat, “Ada,” untuk membuat Eunsang cerah kembali. Yang sedang memiliki hari bahagia saat ini lalu memperjelas, “Hadiahnya?”

Minkyu mengangguk untuk itu, “tapi ga seperti yang kamu harapkan.

Bibir Eunsang kemudian maju, yang disusul badan, dan malah jadi seperti ingin menabrak orang di depan. Minkyu langsung saja mendorong Eunsang untuk berdiri tegak sambil tergelak. Ia lalu menenangkan, “Tenang aja. Kamu boleh berharap sama yang satu ini.”

“Bener?” Seperti tidak ingin dipermainkan lagi, nada yang Eunsang gunakan penuh dengan kewaspadaan.

Minkyu lalu meyakinkan, “Iya,” kemudian, “Yaudah kalo gitu, aku pergi dulu.”

“Hati-hati.”

Minkyu mengangguk sebelum benar-benar pergi dari sana. Ketika Eunsang berbalik, ia sedikit kaget dengan kehadiran Junho dan keluarga yang sedang berbincang dengan kedua orang tuanya. Ia pun menghampiri kerumunan itu. Belum sempat mengucap sapa bahwa ia telah kembali, Eunsang malah sudah dikagetkan lebih dulu dengan suara mamahnya yang mengatakan, “Junho bakal pergi ke luar negeri?”

“Iya, Tante. Buat ngelanjutin S2.”

Kelanjutan obrolan kala itu tidak bisa Eunsang ikuti dengan baik sebab masih belum terlepas dari keterkejutan berita Junho yang akan melanjutkan studi ke negeri lain.

“Kenapa?” Eunsang bertanya ketika para orang tua sudah pergi terlebih dulu, memberi waktu pada anak mereka untuk menghabiskan sedikit waktu dengan yang lain sebelum pulang.

Junho yang ditanyai seperti itu, tentu saja mendadak bingung. Ia tidak mengerti dengan apa yang Eunsang maksud. Maka, Eunsang pun mengulang sekali lagi. “Kenapa Lo, pergi?”

“Buat ngelanjutin S2, Lo tadi ga denger?”

Bukan itu, tapi, kenapa? Eunsang tidak bisa membuat mulutnya bekerja sesuai keinginan meskipun otaknya sudah berpikir keras merangkai kata. Kenapa?

“Kenapa di, mana tadi?” Ia tak begitu mendengar di tempat mana Junho akan melanjutkan studi.

“Aachen, Jerman. Di Jerman, Eunsang! Tempat dimana Bapak Kedirgantaraan kita pernah belajar!”

Ucapan Junho dipenuhi dengan suka cita serta semangat yang membara, tapi Eunsang tidak ikut merasakan kegembiraan untuk itu, sebab teringat dengan janji yang pernah mereka buat. Tentang kuliah di tempat yang sama, sudah terlewati. Tentang merintis karir di bidang yang sama. Tentang Eunsang yang akan menjadi mekanik di sebuah perusahaan otomotif, dan Junho yang akan menjadi bagian dari tim perencana dan pengembang. Bersama, mereka akan membuat berbagai macam produk baru, dan mengembangkan yang sudah ada agar lebih berguna bagi kehidupan banyak orang, tapi itu tidak akan pernah terjadi lagi jika Junho,

“Gw mau buat pesawat.”

“Kenapa,” tiba-tiba begitu? Bukankah mereka sudah menggantungkan mimpi yang ingin mereka raih? Kalau hanya ia seorang diri,

“Perubahan rencana masa depan, mungkin?” Ada sela tawa yang terdengar tidak begitu yakin dengan jawabannya sendiri sebelum pernyataan, “Akhirnya gw nemuin apa yang mau gw lakuin. Untuk soal tawaran kerja,” Junho memang sudah mendapatkannya, dari tempat yang sama dimana Eunsang juga ditawarkan, “Gw bakal nolak mereka secara baik-baik. Maaf, tapi kalo Lo, beneran harus terima ya. Kesempatan kayak gitu, ga dateng dua kali, gw yakin. Lo juga, pasti,” meyakini itu.

Eunsang tertawa sembari mengangguk kecil untuk merespon itu.

“Gw berangkat Oktober nanti, jadi di sisa lima bulan ini, bakal gw pake buat les Bahasa Jerman. Doain ya, semoga bisa.”

“Pasti,” tidak mungkin semudah itu, kan? Junho tidak mungkin pergi dan bertahan di negeri orang begitu saja walau sudah berhasil menguasai kendala bahasa. Perbedaan budaya di sini dengan di sana begitu jauh. Untuk ukuran anak rumahan yang pergerakannya diawasi 24 jam sehari, tidak mungkin Ibu dari Junho mengizinkan anaknya merantau begitu saja, apalagi ke negeri orang yang terpisah oleh lautan, beribu mil jauhnya tanpa satu pun kenalan untuk menemani. Sebenarnya ada apa? Apa ia sudah melakukan sesuatu yang salah sehingga Junho tidak mengonsultasikan hal ini dulu kepadanya? Kenapa?

Jawabannya tidak bisa Eunsang temukan bahkan ketika empat tahun telah berlalu. Komunikasi diantaranya dengan Junho terputus, tiga bulan setelah Junho memulai kehidupan barunya di sana sementara Eunsang meniti karir awalnya di sini, di sebuah perusahaan yang bahkan tidak ia sangka bisa ia masuki dengan segala macam tesnya yang begitu banyak, tapi berkat usaha keras juga dukungan orang-orang terdekat, ia berhasil melewati itu dan diterima sebagai karyawan baru di awal tahun.

Minkyu. Eunsang sangat berterimakasih untuk kehadiran sang pemuda yang selalu senantiasa mendukungnya di setiap keputusan, apapun itu yang ia ambil. Kalau tidak ada Minkyu yang menguatkannya dikala Eunsang merasa bahwa semua yang ia lakukan itu percuma, ia tidak mungkin berada di sini, menjadi Teknisi Senior untuk pesawat tipe jet dengan spesifikasi 737.

“Haahh.” Helaan napas yang terdengar begitu berat menghentikan Eunsang dari kegiatan ingin menyeruput kopi siangnya. Menatap ke arah seorang Teknisi Junior yang sedang menempelkan mukanya ke meja, Eunsang turut prihatin. Ujian sertifikasi memang sesulit itu, tapi mau tidak mau harus dilakukan demi karir yang ingin menanjak.

Baru saja hendak mengajak sang rekan kerja mengobrol, dering tanda pesan masuk dari ponsel membuat Eunsang memilih yang ini lebih dulu, karena siapa tau itu dari Minkyu yang mengucapkan selamat makan siang, atau bertanya mengenai keadaannya, atau bahkan membuat janji di akhir pekan, ahh, Eunsang jadi berharap.

Tidak usah memasukkan kata sandi, Eunsang langsung menggulir halaman depan ponsel pintarnya lalu menuju ke aplikasi pesan. Bukannya kata-kata penyemangat dan penghilang lelah dari Minkyu yang ia dapat, melainkan sebuah berita dari nomor tidak dikenal yang mengabarkan bahwa Junho telah pergi, meninggalkan semua orang yang ia sayangi untuk berada di tempat yang sunyi, menunggu datangnya abadi.

Junho meninggal karena kecelakaan kerja,

katanya. Dia sempat dilarikan ke rumah sakit tapi sudah tidak tertolong sebab kehilangan banyak darah di perjalanan.

Kami memutuskan untuk mengkremasi Junho di sana, dan membawa abunya pulang untuk dimakamkan di sini.

Eunsang, kamu adalah teman yang berharga bagi Junho. Saya berharap kamu mau meluangkan waktu untuk mengunjungi makamnya, dan menyempatkan diri untuk bertemu dengan saya karena ada sesuatu yang mau saya berikan.

Kabar itu datang sebulan, setelah Junho meninggal. Eunsang bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa setelah membaca pesan yang Mamah Junho kirimkan padanya di siang hari yang cerah. Matanya menatap nanar pada layar ponsel yang masih menyala, menampilkan barisan panjang pesan pemberitahuan berita duka sementara hatinya menolak untuk percaya. Di sisa hari, Eunsang memilih untuk mengasingkan diri, dan mengambil cuti pada keesokkan hari untuk segera pulang ke kediamannya yang berdekatan dengan rumah keluarga Cha. Sehabis mengunjungi makam Junho di pagi hari, sorenya ia habiskan untuk mendengar cerita tentang Junho di kediaman pemuda itu sendiri. Saat hendak pulang, Mamah Junho tak lupa menyerahkan sebuah buku kecil yang merupakan jurnal sekaligus diari milik Junho kepadanya. Beliau berkata tidak apa untuk Eunsang menyimpannya. Sudah terlalu banyak peninggalan Junho di rumah yang bisa ia jadikan sebagai obat dikala rindu. Ia menginginkan orang lain untuk mengingat sosok anaknya dengan kenangan baik, meskipun itu hanya satu orang, dan ia rasa Eunsang lah orangnya, karena pemuda itu adalah teman baik dari anak semata wayangnya yang ia yakini akan menjaga peninggalan itu dengan baik.

Buku peninggalan Junho berisi tentang daftar kegiatan yang ia lakukan semasa hidup, juga rencana-rencana masa depan yang ingin dicapai, serta cerita-cerita tentang masa lalu di bangku sekolah dulu. Dari sekian banyaknya nama yang disebutkan, nama Eunsang lah yang paling sering diulang.

Ceritanya dimulai dari mereka yang mengukir mimpi bersama di masa remaja, kemudian berlanjut di kejadian-kejadian bodoh yang pernah ia dan Junho lakukan di waktu pencarian jati diri. Keluh kesah tentang segala hal baru yang terasa susah sampai pada momen-momen bahagia ketika poin pencapaian sudah berhasil dilewati, semua ada di sana, dan Eunsang membaca buku itu berulang-ulang di setiap kesempatan yang ia bisa, sampai tekstur tebal yang bisa dirasa jemari perlahan berubah menjadi tipis dan menguning.

“Sang.”

Eunsang mendongak dan tersenyum tipis dari buku yang ia baca ke arah Minkyu yang akhirnya datang, dan mengerutkan kening heran ketika melihat seorang lagi yang tidak begitu ia kenal namun terasa familiar, berdiri di samping Minkyu. Menyingkirkan buku itu ke samping, ia lalu mempersilakan kedua orang itu untuk duduk. Eunsang sudah menggeser sedikit duduknya ke samping untuk memberikan Minkyu ruang, tapi malah diabaikan. Pria yang setahun lebih tua darinya itu malah memilih untuk duduk di seberang, di samping pria yang wajahnya tidak bisa begitu ia lihat karena terhalang topi yang dipakai terlalu ke bawah.

“Sang, ini Wonjin. Masih inget?”

Saat pria bertopi itu melepaskan topinya, Eunsang baru sadar kalau dia adalah Wonjin, senior yang pernah dekat dengannya di bangku kuliah dulu. Mereka tidak pernah bertukar nomor telepon, hanya sering kebetulan berpapasan dan ternyata sejalan dalam hal pemikiran. Itu sebabnya di saat Wonjin lulus bersamaan dengan Minkyu, ia tidak pernah mendapati kabar tentang pria itu lagi.

“Oh, ya! Ya, masih inget. Mana mungkin lupa, orang sering ketemu dulu. Gimana kabarnya? Baik?”

Wonjin menyambut uluran tangannya, dan perbincangan tentang bagaimana mereka menjalani hari ini pun dimulai. Awalnya biasa saja, dipenuhi canda tawa dan juga l lelucon yang dilempar ke sana ke mari, tapi berubah serius di saat Minkyu mengatakan, “Aku mau ngomong sesuatu,” dengan raut wajah yang mengatakan bahwa apa yang ia ingin bicarakan adalah hal serius. Eunsang lalu mengangkat alisnya sebagai bentuk rasa bingung. Ia heran kenapa Minkyu mengatakan itu di saat masih ada orang lain diantara mereka. Melirik pada Wonjin, pria itu juga tak menunjukkan tanda-tanda akan pergi, dan Eunsang meneguk ludah gugup karenanya.

Diawali dengan kata, “Maaf,” Minkyu mengatakan bahwa ia tidak bisa lagi berada di sisinya. Saat Eunsang tanya, “Kenapa?” Minkyu hanya diam, dan tidak menjawab. Butuh waktu yang cukup lama bagi Eunsang untuk memproses informasi. Dengan adanya Wonjin di sini, berpura-pura tuli pada pembicaraan serius antara ia dan Minkyu, itu berarti, “Ah,” ia baru mengerti ini semua. “Sejak kapan?” adalah yang menjadi tanyanya. Sejak kapan hati Minkyu telah pergi padahal raganya masih di sini, di tempat yang bisa ia gapai.

“Udah lama.”

Kalimat itu membawa pikiran Eunsang mengelana pada masa lalu. “Jangan bilang,” kalau Minkyu tidak pernah benar-benar berada di sisinya sedari awal. Ia tahu bahwa hubungan Minkyu dan Wonjin dekat dulu. Musuh, juga sahabat, adalah apa yang Eunsang gunakan untuk mendeskripsikannya. Jangan bilang bahwa semuanya lebih dari itu. Dikuasai emosi yang meledak, ia lalu menatap nyalang ke arah Wonjin, karena Eunsang tak bisa melampiaskan amarah ke pemuda yang satunya, yang membawa warna ke dalam dunia monotonnya.

“Jangan bilang kalau ini semua udah berlangsung sejak kuliah? Di saat gw cerita semuanya ke Lo, ga satu pun dari-”

“Tenang. Gw ga memanfaatkan apa pun dari hubungan Lo sama Minkyu dulu. Tenang, oke? Semuanya bisa diselesaiin secara baik-baik.”

Seperti menaiki roller coaster, jantungnya tidak bisa diam di tempat, dan emosinya pasang surut di setiap Minkyu menceritakan tentang hal yang tidak pernah ia sangka sebelumnya, dan hari itu ditutup dengan Minkyu yang mengucapkan, “Selamat tinggal. Aku harap kamu akan baik-baik aja.”

Sial beribu sial. Mengapa ia tidak bisa menjaga sesutu yang berharga baginya? Pertama Junho, dan sekarang Minkyu, lalu seterusnya apa? Eunsang bisa merasakan hatinya kebas akibat perpisahan yang kembali terulang. Jika bertemu dengan pelangi adalah awal dari langit cerah tanpa satu pun objek yang menghiasi, Eunsang tidak akan mau berjalan di bawah cakrawala tak bertepi. Lebih baik mengurung diri dibalik tirai tebal dan fokus pada estivasi, lama sekali, sampai musim panas membuat kulit di seluruh tubuhnya mengering.

End.

Sebuah fanfiksi SeriHam / HamRim dengan bumbu-bumbu science fiction.

Contain: Semi sex-reverse, hybrid themed AU, dan lain halnya yang kalo di sini, dimasuk akalin aja lah.

Dimohon pengertiannya ya teman-teman untuk tidak menyangkut-pautkan apa yang ada di dalam sebuah karya fiksi dengan real person yang ada di dunia nyata.

Rating T


Tahun 1227 adalah awal bagi dunia yang baru. Setelah perang berkepanjangan yang terjadi selama sebelas tahun terakhir usai, para negara di berbagai macam belahan dunia mulai kembali lagi menghidupkan sektor-sektor esensial yang penting bagi kehidupan manusia, khusunya di sektor produktivitas pangan. Pertikaian yang terjadi antar negara di berbagai bagian bumi sebelas tahun terakhir tak hanya membawa dampak buruk bagi mereka yang bertikai, tetapi juga pada keseluruhan umat manusia. Tanah-tanah yang tadinya subur jadi mengering sebab terkena bahan kimia, limbah dari produksi massal senjata serta hangus akibat serangan misil-misil yang jatuh dari atas langit layaknya hukuman bagi mereka yang berbuat dosa.

Hampir setengah dari populasi manusia di bumi musnah. Untung bagi mereka karena tinggal menunggu hari pengadilan, daripada terus bertahan di sini pada dunia yang sudah tak layak tinggal. Itu lah, yang terbersit di benak seorang Sersan Muda ketika bendera putih telah dikobar, dan ia yakin, bukan hanya dirinya seorang yang berpikiran seperti itu diantara riuhnya suka cita teriakan lantang perdamaian. Yah, setidaknya ia bisa kembali merasakan sup ayam buatan ibunya yang memiliki kelezatan tiada tara ataupun pie sang kakak perempuan yang pinggirannya terasa renyah karena gosong, tapi sebelum itu, ia harus memastikan bahwa adik laki-lakinya yang berada di divisi lain baik-baik saja.

Dan itu lah, awal pengenalan dari latar belakang tokoh utama kali ini yang sedang terlihat pusing. Pusing menatap ke arah seorang manusia, ya, tubuhnya memang manusia, tapi memiliki telinga panjang berwarna hitam dan juga ekor yang benar-benar menyambung ke tulang. Ia sudah memastikan itu sendiri dengan menariknya yang berakibat pada ia yang langsung jatuh karena ditendang.

“Jadi begitu, Hybrid Sapi nomor 72 ini akan berada di dalam pengawasan mu untuk sementara waktu.”

Ia menatap orang yang berdandan necis di hadapannya ini dengan pandang, apa kau serius? dan malah dibalas dengan pandang, apa aku terlihat sedang bercanda?

Oh baiklah, yang tadi dia katakan ternyata adalah fakta yang harus ia terima, tapi, dengan lapang dada? Begitu? Perlu diketahui, ia tidak menjadi pensiunan tentara untuk menjadi pengasuh kelinci percobaan pemerintah, dan “kenapa?” juga ia harus menerima keputusan yang memberatkan sebelah pihak begitu.

“Kau tidak mendengarkan penjelasanku tadi? Orang-orang di laboratorium bilang untuk meninggalkan dia di sini, supaya dia bisa beradaptasi dengan kehidupan manusia normal.”

Membawa tangan untuk dilipat ke depan dada, ia memutuskan untuk mengabaikan sebuah entitas lain yang berada di dalam ruangan lebih dulu untuk memberikan tekanan lebih pada seorang makelar yang bisa-bisanya masih bisa tersenyum ala gentleman di saat seperti ini.

“Dengan itu, kau mengatakan bahwa dia tidak normal?” Seulas lirikan ia beri pada seekor Hybrid yang duduk diam di kursi yang terbuat dari rotan sebelum kembali memandang pria di hadapannya dengan pandang menuntut meminta pertanggungjawaban, yang lebih, daripada sekedar omong kosong untuk membantu penelitian yang sedang pemerintah galangkan.

“Ya, dia memiliki kuping dan ekor sapi seperti yang bisa kau lihat.” Berbeda dengan manusia pada umumnya, tambah si Makelar dalam hati.

Mengangguk mengerti, ia lalu balas menyambung kalimatnya yang lebih dulu dengan mengatakan bahwa, “Ya, dan itu kenapa dia harus dikembalikan ke tempat asalnya,” juga menuntut, “cepat kembalikan uangku kalau kau tidak bisa menukarnya dengan sapi asli, dan pulangkan dia kembali.”

“Aku tidak bisa. Perintah ata-”

“Kalau begitu, BIARKAN AKU YANG BERBICARA PADA ATASANMU.”

“Wonjin.”

Sebuah suara yang sudah terasa sepuh menyela emosi yang hendak menyulut. Yang dipanggil Wonjin lalu mengangkat tangan bahwa intervensi tidak perlu terjadi, bahwa ia bisa mengurus ini sebagai anak laki-laki pertama yang bisa diandalkan.

“Ayah, aku bisa mengurus ini.” Baru saja satu tarikan napas dihirup sebagai awalan untuk mengutarakan argumen kembali, tapi si Makelar kepercayaan keluarga ini malah sudah mengambil arus pembicaraan lebih dulu dengan cara menyapa ayahnya yang baru saja datang dengan kata-kata manis ala orang pemasaran.

“Tuan Ham! Bagaimana kabar anda? Baik seperti biasa, bukan? Aku bisa melihatnya. Haha!”

“Aku baik, Woobin. Terima kasih sudah bertanya, dan kau, sepertinya terlihat baik juga.”

“Ya, aku baik! Aku selalu dalam keadaan terbaikku ketika menghadapi keluhan pelanggan. Haha!” Ia lalu berdehem, dan kembali memulai mode bisnisnya. “Begini, Tuan Ham. Walaupun percobaan nomor- ekhm,” ia membuka sebuah berkas untuk melihat nama dari seekor Hybrid yang masih duduk diam dengan manis di sebuah kursi sana (memperhatikan mereka bertiga) kemudian mengoreksi, “maksudku Serim, memilik tubuh seperti manusia, tapi ia juga memiliki fungsi seperti apa yang ada pada sapi pada umumnya.”

Serim, adalah nama yang tertulis di sebelah kode identifikasi sebuah Hybrid yang masuk ke dalam spesies Holstein Friesians, sebuah jenis sapi yang diternak untuk diambil daging dan susunya.

“Dia memiliki track record yang baik dalam hal ketahanan diri, jadi pasti bagus untuk peternakan. Ah, umurnya juga sudah pas untuk melahirkan, jadi-”

“Apa!?”

Satu kata penuh ketidakpercayaan itu memutus penjelasan Woobin tiba-tiba.

“Kau bilang apa? Melahirkan? Sudah jelas-jelas bahwa dia itu-”

“Betina,” tandas Woobin cepat sambil menunjukkan selembar berkas di tangan yang menunjukkan biodata subjek eksperimen nomor 72, Serim. Ia lalu sedikit tersentak saat berkas yang sedang dipegangnya diambil secara paksa. Di sisi lain, Wonjin benar-benar tidak mempercayai apa yang tertulis di berkas yang sedang ia baca.

Holstein Friesians No. 72 = Serim

Jenis Kelamin: Betina

Usia: 4 tahun

Jelas-jelas Hybrid yang ada di depannya ini memiliki fisik seperti laki-laki pada umumnya, kalau saja tidak ada kuping dan ekor ala sapi itu.

“Kalau kau tidak percaya, kau bisa menyuruhnya untuk membuktikan. Serim, buka baju-”

“Oi, oi! Kau tidak benar-benar ingin dia telanjang bugil di depan banyak orang begini kan.”

“Benar juga. Walaupun jenis manusia sepertinya masih dalam tahap uji coba, tapi sudah ada undang-undang yang mengatur tentang kesejahteraan Hybrid, jadi perlakuan semena-mena tidak boleh diberikan padanya.” Woobin memberi senyum yang menenangkan pada Serim yang kelihatannya sudah menyerah untuk mengikuti arus obrolan ini. Ia lalu mendengus tawa karena senyum simpulnya dibalas dengan senyuman yang amat manis, seperti sang Hybrid sangat meniatkan senyuman yang satu itu untuknya.

Untuk informasi, Hybrid adalah tipe manusia baru yang sedang gencar-gencarnya dikembangkan di berbagai negara dengan tujuan untuk memperbaiki keturunan ras manusia. Terdengar gila pada awalnya, tapi setelah diteliti, cukup masuk akal juga sebab manusia-manusia yang lahir selama perang berlangsung, dan sesudah perang berakhir diperkirakan akan memiliki kondisi tubuh yang lebih lemah daripada manusia-manusia yang sudah ada sebelum perang meletus. Itu disebabkan oleh kondisi lingkungan yang buruk, dan untuk mempertahankan serta mengembangkan sumber manusia yang ada, eksperimen Hybrid pun dilakukan.

“Jadi, kau bisa memastikannya sendiri jika sudah akrab dengannya.” Sambil menunjuk pada berkas yang masih Wonjin pegang, ia kembali menjelaskan, “Di situ tertulis apa-apa saja yang dia butuhkan. Tempat tinggal yang sepi, kau bisa membuatkannya kandang kecil di samping peternakan atau mengizinkannya tinggal di dalam rumah, yang penting keadaannya tenang. Dia cukup rentan terhadap stress seperti sapi pada umumnya. Untuk makan, kau bisa memberinya berbagai macam sayuran, karena pada dasarnya dia seperti vegetarian, dan untuk perkembang biakkan, kau bisa membawanya ke Pusat Penelitian di kota untuk dibuahi pada saat fase estrusnya terjadi.” Seulas senyum penuh keyakinan Woobin utarakan sambil mencengkram erat sebelah bahu Wonjin. Tatap mata yang terarah pada si pelanggan kesayangan juga, seakan mengatakan bahwa, kau tidak akan kenapa-kenapa jika mengikuti semua yang tertulis di sana. Cukup menakutkan dibalik senyum ala businessman-nya sampai-sampai berhasil membuat Wonjin meneguk saliva. Ia lalu mengambil tas lalu pamit kepada Serim dengan cara mengelus kepalanya sambil berpesan, “Dia belum bisa mencerna pembicaraan yang kompleks dan terlalu cepat, tapi itu bisa dilatih. Untuk sementara ini, gunakan bahasa yang mudah dipahami.” Setelah itu, ia juga pamit kepada Tuan Ham, tak lupa mengucapkan terima kasih karena sudah mau bekerja sama dalam yang lama dengannya. “Tuan Ham, aku pergi dulu. Terima kasih sekali lagi karena sudah sering memakai jasaku.”

“Harusnya aku yang berterima kasih, kau sudah banyak sekali membantu.”

Woobin menunduk hormat untuk itu sebelum pamit juga ke Wonjin. Ia menepuk bahu pemuda itu dua kali tanda bahwa ia menyerahkan seluruh tanggung jawab atas Serim kepadanya, kemudian berbisik, “Kalau kau tidak mau membawanya ke pusat kota, kau bisa memakainya untuk keperluanmu sendiri, Sersan.”

“Apa-”

“Baca panduannya. Aku pergi dulu, dan sampai jumpa lagi!”

Wonjin tidak mengerti dengan apa yang Woobin bicarakan sampai pada malam berikutnya. Saat tengah meminum teh sambil memandangi ladang jagung di depan rumahnya yang sudah mulai berbuah, Wonjin membaca setumpuk berkas yang Woobin tinggalkan lusa lalu tentang bagaimana cara merawat Serim. Cukup mudah ternyata, karena cara merawatnya tidak jauh berbeda dari manusia biasa, dan juga sapi pada umumnya, tapi tetap saja, Wonjin tidak habis pikir bahwa ia akan terlibat langsung dengan hal-hal aneh semacam Hybrid. Apalagi,

Hybrid bisa dibuahi dengan cara seminasi alami maupun buatan.

UHUK!

Sebaris kalimat itu cukup untuk membuat Wonjin tersedak setelah otaknya berhasil memproses fakta yang tertera dengan apa yang Woobin bicarakan kemarin. Kesialan tidak berhenti sampai di tenggorokannya yang terasa sakit, melainkan berlanjut ke sebuah insiden dimana cangkir di tangannya jadi terlempar dan pecah karena kehadiran si Hybrid sapi secara tiba-tiba saat Wonjin sedang membalik badan untuk masuk ke dalam rumah.

Serim berdiri di ambang pintu depan rumah dengan tatapan bingung, juga seulas senyuman kecil di bibir, cukup untuk memberikan kesan manis yang melengkapi gemerlap kedua bola kembar yang berkedip menatapnya ingin tahu.

“WONJIN! SUARA APA TADI!?”

Lengking teriakan dari sang Kakak Perempuan berhasil menjeda kegiatan observasi Wonjin pada wajah itu. Ia lalu berteriak, “BUKAN APA-APA!” sebagai balasan, dan langsung mendorong Serim ke dalam rumah dengan cara menempatkan tangannya di kedua lengan atas sang Hybrid dan mendorongnya untuk lebih masuk ke dalam agar tak terkena pecahan kaca, kemudian menitah, “Diam. Jangan ke mana-mana,” sementara ia mengambil sapu dan pengki yang biasa diletakkan di ujung bawah beranda.

Dari apa yang ia perhatikan selagi membersihkan, rupanya Serim adalah tipe yang penurut. Hybrid itu benar-benar tidak bergerak seinci pun dari tempatnya berdiri, tapi itu bukan berarti bahwa matanya bisa berhenti dari kegiatan melihat ke sana ke mari yang lebih lanjutnya lagi, membebani Wonjin secara mental.

Jangan melihatku dengan tatapan seperti itu terus-menerus!