Sebuah Fanfiksi pendek dengan pair #nikseung berjudul,
Maaf
Keadaan kereta di jam sibuk tidaklah pernah sepi, selalu saja penuh sesak dengan manusia yang saling menghimpit satu sama lain demi sepetak jengkal lahan untuk berdiri, dan ini lah yang terjadi dengan Heeseung sekarang. Pangkal sepatu yang dikenakannya sudah menyentuh dinding kereta, pun dengan punggung yang sesekali merasakan dingin saat udara dari air conditioner di atas berhembus, mengantarkan langsung angin sejuk yang membuat sekujur tubuhnya meremang, merasakan sensasi geli yang menggelitik perut dan hati.
Atau setidaknya,
itu yang ia pikir.
Ugh, keluhnya dalam hati saat seseorang di depan semakin memajukan tubuh ke arahnya dengan ringis senyum yang mengatakan maaf.
“Maaf, Kak,” pintanya dengan pelan namun diterima Heeseung dengan begitu jelas, karena orang tersebut berbicara tepat di telinga.
Ya, wajahnya saat ini tengah berada di samping wajah Heeseung kalau-kalau tidak mau tertabrak, sebab sudah tak ada lagi ruang bagi mereka untuk mencipta jarak. Bau keringat yang bercampur dengan samar aroma parfum laki-lakinya pun dapat Heeseung hirup dengan jelas.
Mengganggu, tapi anehnya,
Heeseung tidak keberatan dengan semua itu.
“Gapapa.”
Orang di depannya ini lalu tersenyum, dan Heeseung tahu itu adalah senyum permintaan maaf, maka ia membalasnya sama.
Lalu diam,
sampai saat kereta bergoyang yang juga ikut membuat para penumpang di dalamnya kehilangan keseimbangan, termasuk Heeseung. Kepalanya mungkin saja akan menyentuh tiang di sebelah kalau tidak ada lengan yang melindunginya dari benturan itu.
Duk!
Gujes gujes
Heeseung terkesiap, kemudian meminta maaf karena sudah membuat lengan Riki yang menerima sakitnya.
“Riki, maaf,” katanya dengan raut wajah cemas, sementara pemuda di depannya ini hanya tersenyum geli, baru kemudian berkata, “Gapapa.”
“Serius?” Beriringan dengan itu, kereta pun berhenti di stasiun berikutnya yang menghasilkan hukum Newton III, membuat Riki terantuk ke depan, dagunya menabrak dahi Heeseung, dan di saat itu lah Heeseung terkejut.
Karena seingatnya, pemuda yang baru ditemuinya dua bulan lalu ini sebagai anak yang baru magang di kantor, tidaklah lebih tinggi darinya.
“Maaf, Kak,” katanya lagi setelah kereta kembali berjalan,
dan Heeseung tidak dapat lagi menyembunyikan senyum geli yang sedari tadi ia tahan akan rentetan kejadian lucu, namun tidak mengenakkan yang mereka alami.
“Sampai rumah langsung istirahat, ya. Jangan tidur kemaleman, kan besoknya masuk pagi,” pesan Heeseung saat mereka akan berpisah menuju pintu keluar. Ia mengarah ke Barat, sementara Riki ke timur.
“Iya, Kak. Pasti.”
“Ya udah, aku duluan. Hati-hati.”
“Hati-hati juga, Kak.”