liliyongg

Bingung.

Satu kata yang cukup mendeskripsikan perasaan seorang gadis cantik yang sedang merenung di kamar miliknya yang bernuansa monochrome. Yap, seorang gadis yang menghabiskan masa kecilnya di New Zealand bernama Jennie Kim.

Gadis yang sedang menjalin hubungan dengan salah satu primadona kampus berdarah Chicago ini merasa bahwa hubungannya dengan sang kekasih sudah tidak terlalu baik. Johnny yang sering 'kepergok' oleh Jennie sedang bersama gadis lain membuat ia menaruh rasa curiga pada kekasihnya. Selain itu sikap Johnny kepada dirinya pun cukup berubah. Biasanya saat bersama selalu menebar kemesraan, sekarang ada saja yang membuat mereka bertengkar.


“Kamu kemarin jalan lagi sama Jisa?” tanya Jennie memecah keheningan di mobil sang kekasih.

“Rame-rame kok sayang. Ada Yudha sama Tian juga,” jawab Johnny.

Gadis berambut coklat tua itu kembali bertanya, “Tapi di instastory Jisa kalian berdua doang?”

“Ah, abis kumpul-kumpul selesai Jisa minta ditemenin cari buku, terus pulangnya dia traktir aku makan buat berterimakasih. Udahlah Jen kamu mau kita berantem lagi?”

“Bukan gitu maksudku, tapi kamu hampir setiap hari jalan keluar sama dia akhir-akhir ini.”

“Ya emang kenapa kalo aku jalan sama Jisa?”

“Ga kenapa-kenapa kalo kamu tau batesan buat jalan sama dia Jo. Kamu hampir setiap hari loh jalan sama Jisa, kamu ga pikirin perasaan aku sebagai pacarmu emang?”

“Aku sama Jisa temenan doang Jen, please aku tau kita pacaran, tapi kamu ngga bisa ya ngatur-ngatur aku sebegitunya.”

“Aku lagi ga ngatur kamu Jo. Aku cuma minta kamu ngertiin perasaan aku sebagai pacar kamu, kamu pikir aku ga sakit hati setiap liat instastory Jisa lagi jalan sama kamu? Itu hampir setiap hari lagi. Dan satu lagi, kamu bilang kamu sama Jisa cuman temenan? Kita dulu juga temen Jo.”

Hening, tak ada balasan ataupun pembelaan yang diberikan oleh Johnny.

Seperti inilah mereka akhir-akhir ini, selalu bertengkar saat bertemu. Dan lucunya lagi mereka bertengkar karena masalah yang sama.


Jisa. Seorang mahasiswi jurusan manajemen yang menjadi topik pertengkaran bagi Johnny dan Jennie.

Gadis dengan senyuman yang sangat manis dan rambut hitam pekat itu memang satu jurusan dan satu angkatan dengan Johnny. Mereka mengenal satu sama lain semenjak sepupu Jisa, Yudha, membawanya ke tongkrongan tempat dirinya dan teman-teman yang lain berkumpul.

Selain karena satu jurusan, Johnny dan Jisa merupakan orang yang gampang bergaul. Oleh karena itu mereka bisa sedekat ini meskipun baru dua bulan berkenalan.

Karena kedekatan antara Johnny dan Jisa yang bisa dibilang 'aneh' membuat Jennie menaruh rasa curiga pada keduanya. Lagipula siapa yang tidak curiga saat melihat kekasihnya sering keluar bersama perempuan lain yang baru dikenal?


Setelah memikirkannya matang-matang, Jennie dengan yakinnya berkata, “Jo, let's break up.” Sebenarnya Jennie pun tidak se-tega itu untuk memutuskan hubungannya dengan Johnny yang sudah berlangsung cukup lama.

Johnny yang sedang mengendarai mobil yang ditumpangi mereka lantas terkejut. Ia menoleh kepada Jennie yang juga sedang menatap dirinya. Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun Johnny kembali fokus kepada jalanan dan melajukan mobilnya hingga kecepatan 100 km/jam.

“JO, ARE YOU CRAZY?!” tanya Jennie sembari berteriak kepada lelaki disebelahnya itu.

“KAMU YANG GILA. KAMU MAU KITA PUTUS? NGGA JEN, NGGA AKAN. AKU NGGA MAU PUTUS SAMA KAMU, AKU SAYANG BANGET SAMA KAMU. KAMU TAU ITU,” balas Johnny tak kalah kepada jennie.

“AKU CAPEK JO, KITA BERANTEM TERUS AKHIR-AKHIR INI. BERANTEM-BAIKAN-BERANTEM. GITU TERUS.”

“KAMU YANG BIKIN KITA BERANTEM! SETIAP KETEMU PASTI BAHASNYA JISA JISA JISA. JISA TEMEN AKU JEN.”

“KAMU ANGGEP JISA EMANG TEMEN, TAPI EMANG JISA ANGGEP KAMU TEMEN JUGA?”

Belum sempat Johnny membalas perkataan Jennie, mereka berdua dikagetkan dengan klakson dari mobil lain. Dan itu membuat mereka sadar bahwa sekarang mereka sudah berada di jalur yang berlawanan.


Kata maaf belum terucap, pelukan bahkan belum diberikan. Kini hanya tersisa dua raga tertimbun tanah dengan jiwanya yang saling menyesali keegoisan mereka.


seu.