wqwqwq12

Winza berlari tergesa-gesa ke arah kamar Keira. Bayangan buruk terus melintasi pikirannya, terlebih Keira sudah mengeluhkan sakit di perutnya beberapa waktu terakhir ini.

“Hei,” Keira tersenyum melihat istrinya yang terlihat seperti lari berkilo-kilo, terlihat sangat lelah.

“Semuanya stabil kok, Winza,” Dokter Linda, dokter yang memang memantau kehamilan Keira dari awal, memberitahukan kondisi Keira, “Keira bilang ingin lahiran spontan. Dari kondisi saya rasa bisa, tinggal ditunggu sampai bukaanya lengkap.

“Makasi, Dok.”

“Anytime,” jawab Dokter Linda, “Sekarang standby aja, jika ada apa-apa, langsung hubungi perawat.”

Winza mengangguk sembari berjalan ke arah ranjang.

“Gapapa, Sayang,” Keira menyambut genggaman tangan Winza yang bergetar

“Aku khawatir banget. Maaf tadi hapenya mati waktu Bik Rosa telepon,” Winza mencium punggung tangan Keira lembut, “Sakit?”

“Uda enggak kok,” Keira kembali tersenyum, “Aku deg-degan banget, Sayang.”

“Aku juga. Semoga semua lancar ya.”

****

Ternyata malam itu, tepatnya pukul 2.30 pagi, Keira merasakan kontraksi yang sangat hebat. Setelah berhasil membangunkan Winza, yang tertidur pulas dengan posisi terduduk, perawat langsung membawa Keira ke tempat persalinan.

“Dorong terus, Keira, dorong,” Dokter Linda memberikan semangat kepada Keira karena wanita itu terlihat kehabisan tenaga

“Sayang, kamu bisa Sayang,” Winza merasakan kuku jari Keira menembus telapak tangannya. Istrinya itu memegang tangannya sangat erat. Winza mengecup kening istrinya, memberikan semangat untuk terus berusaha

“Arghhh!!!” Keira terus berteriak, terlebih Dokter Linda mengatakan bahwa kepalanya sudah terlihat.

Suara tangisan bayi menandakan keberhasilan persalinan malam itu. Para perawat dengan cekatan memotong ari-ari dan membersihkan darah yang menempel di bayi tersebut.

“Hai, Arash,” bisik Winza ketika menerima bayi tersebut dan mendekatkannya kepada Keira yang sudah tergolek lemas

“Mirip kamu, Sayang,” kata Keira. Belum Winza merespons, Keira mulai memejamkan matanya dan kehilangan kesadaran, membuat Winza kembali dilanda panik.

****

Sudah hampir 12 jam Keira tidak sadarkan diri. Hampir 12 jam juga Winza terlihat mondar-mandir di depan ICU.

“Duduk dulu,” Joshua mengingatkan sepupunya itu

“Gabisa anjir,” Winza menggaruk kepalanya acak, “Gabisa gue tenang.”

“Lo bakalan capek sendiri,” Joshua menarik kemeja Winza, “Sinilah duduk. Di dalem uda ditangani dokter yang uda bidangnya. Lo tenang aja.”

Winza menghempaskan tubuhnya di samping Joshua. Sepupunya itu bahkan sudah menemaninya dari subuh tadi.

“Ganteng bayi lo, mirip banget sama lo,” kata Joshua setelah Winza meminum air yang dia berikan

“Anak gue gitu,” kekeh Winza

“Inget ntar jangan kebanyakan main lo kalo dah jadi Bubu.”

“Iye tenang aja, mana tega juga gue ninggalin Keira.”

“Winza,” suara yang familiar membuat Winza menoleh, Bunda dan Mamanya menghampirinya.

“Bunda,” Winza tiba-tiba melemparkan diri ke pelukan bundanya, membuat Joshua dan Tara pun terkejut.

“Gapapa, Sayang. Keira kuat kok,” Jesselyn mengelus kepala anak tunggalnya itu, berusaha mengurangi kekhawatirannya.

“Winza takut...”

“Terus berdoa, Sayang. Keira kuat kok.”

“Tadi papasan sama Katherine dan Kevin, abis dari sini ya?” tanya Tara kepada Joshua

“Iya, Tante. Abis nungguin Winza bentar, nengok keponakan dulu katanya.”

“Arash Eleazar Kusumajati. Tuhan pasti memberikan pertolongan seperti nama yang kamu kasih ke anakmu, Winza,” Tara menepuk pundak anak tunggalnya.

Tak lama kemudian, Dokter Linda keluar dari ICU. Matanya terlihat bersinar, senyumnya juga merekah.

“Keira sudah sadar,” kata dokter paruh baya itu, membuat Winza harus ditahan oleh Jesselyn, anaknya itu sudah akan melompat ke dalam ICU jika tidak ditahan.

Mengobrol bersama teman-teman Winza adalah salah satu kegiatan yang disukai oleh Keira. Semenjak dirinya resmi bersama Winza, Keira dengan senang hati mengenal teman-teman dekat istrinya itu. Mario yang sabar, Eugene yang urakan namun cepat tanggap dan Reta yang serba bisa.

“Aku ke toilet dulu ya, Sayang,” Winza menepuk lengan istrinya yang sedang berbicara dengan Eugene

“Iya, Sayang.”

“Eh, HPL kapan Kei?” tanya Mario sembari menuangkan jus jeruk ke gelas. Karena Keira datang, Eugene dengan sengaja menyediakan jus jeruk dan apel selain minuman berakohol yang disiapkan sekarang, karena tahu Keira sedang tidak minum alkohol.

“3 Minggu lagi sih itungannya,” Keira mengelus perutnya yang sudah mulai membesar, “Minggu depan gue ambil cuti.”

“Wahh, ga sabar banget nih punya keponakan,” Reta tersenyum lebar

“Ditunggu nyusulnya,” kata Keira

“Doain ya lancar nih. Keluarga uda setuju tinggal tabungannya aja,” Reta tertawa menanggapinya, “Namanya uda sepakat belum?”

“Masih bingung juga,” jawab Keira, “Winza sih pengen Arash, katanya enak didenger dan artinya bagus. Kalo dari keluarga dia sih maunya kalo ga Justin ya Brandon.”

“Preferensinya ya,” Mario sedikit tergelak, “Kalo lo lebih suka yang mana?”

“Awalnya gue suka Brandon, secara makna dia bagus banget. Tapi ketika Winza bilang Arash, trus gue kepikiran nambahin nama tengahnya Eleazar, jadi Arash Eleazar Kusumajati.”

“Cakep namanya, semoga sesuai dengan doa-doa yang terkandung di dalamnya ya,” kata Mario tulus, dan Keira tentu sangat senang mendengarnya.

Mereka masih mengobrol ketika suara dari panggung tengah menarik perhatian mereka

“Lho?” Keira terkejut, pasalnya istrinya yang tadi pamit ke toilet sekarang sedang berada di tengah panggung.

“Dia yang minta sendiri,” kata Reta, “Khusus buat istrinya katanya.”

“Selamat malam,” Winza menyapa pengunjung yang hadir. Beberapa memang mengenalnya.

“Malam ini saya akan mempersembahkan lagu, untuk istri saya yang sedang menonton dari vvip box.”

Winza menoleh kepada band di belakangnya untuk memainkan lagu yang dia minta tadi

I always knew you were the best The coolest girl I know So prettier than all the rest The star of my show So many times I wished you'd be the one for me I never knew it'd get like this, girl, what you do to me You're who I'm thinking of Girl, you ain't my runner-up And no matter what you're always number one

Keira tidak bisa menahan senyumnya. Rasanya seperti kembali ke masa remaja, terlebih lagu itu sangat populer ketika dia masih remaja.

My prized possession One and only Adore ya Girl, I want ya The one I can't live without, that's you, that's you

You're my special Little lady The one that makes me crazy Of all the girls I've ever known, it's you, it's you My favorite, my favorite, my favorite My favorite girl, my favorite girl

****

“Jadi aku, favorite girl?” tanya Keira sambil memeluk lengan istrinya yang sedang menyetir

“Tentu dong.”

Keira tertawa. Menggeser tubuhnya untuk mengecup gemas pipi istrinya itu, sebelum kembali memeluk lengannya.

Winza sedikit terkejut ketika Bunda dan Mamanya datang malam ini. Baru saja dia selesai membersihkan diri dan bersiap tidur.

“Mama uda diceritain sama Jo,” kata Tara sambil menggelengkan kepalanya. Winza duduk di seberangnya bersama dengan Keira, yang sedikit berjarak dengan Winza

Winza hanya menghela nafas sembari mengumpat di dalam hatinya

“Kamu tu...,” Tara hanya bisa tertawa, “Winza, hormon orang hamil itu gabisa ditebak.”

“Iya, Winza tahu,” jawab Winza cepat. Respons yang singkat itu membuat Keira menggenggam tangan Winza yang diletakkan di atas pahanya sendiri. Perlahan, Keira mengusap panggung tangan istrinya itu.

“Maaf ya...” kata Keira pelan

“Bukan! Bukan kamu yang salah. Tapi aku...” Winza mengerucutkan bibirnya, membuat Tara dan Jesselyn tertawa

“Susah tidur ya kamunya?” tanya Jesselyn yang ditanggapi dengan anggukan dari anak tunggalnya

“Nanti bakalan lebih parah lagi,” lanjut Jesselyn, “Kalo bayinya udah lahir, bisa kaya pos ronda kamu.”

Winza menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sekali lagi membuat Keira mengeratkan genggamannya.

“Sayang, kita jalanin ini bareng-bareng kok. Kamu jangan ngerasa kaya gitu,” kata Keira pelan

“Tapi aku beneran takut...” suara Winza cukup kecil, namun masih bisa terdengar oleh Tara

“Hapus aja Kei itu aplikasi TokTok dari hape dia,” sahut Tara

“Kamu kayanya harus ngelakuin itu deh, Sayang,” kata Keira sambil tergelak.

“Iya deh hapus aja.”

“Ini tu masih mending Keira cuma mual sama bau kamu, coba sama wajah kamu, apa ga diusir kamu sama dia,” Jesselyn tertawa

“Enggak gitu dong, Bun,” Keira berusaha tidak terbahak melihat ekspresi kaget Winza.

“Intinya,” Tara berdiri dari duduknya, “Hapus itu aplikasi. Awas kamu kena hoax lagi. Mama ni dokter loh, kalah sama apa itu di TokTok.”

“Iya, maafin Winza udah kemakan gituan.”

“Sudah sekitar 14 minggu,” kata Dokter Linda setelah membaca hasil cek laboratorium barusan. Masih muda sekali, namun ini adalah waktu yang krusial. Dijaga kesehatannya ya Keira. Banyakin istirahat. Kalo misal memang ngerasa ga kuat, minta bed-rest ya.”

“Baik, Dok.”

“Selamat ya, sekali lagi.”

****

Winza tidak bisa menutupi kebahagiannya. Begitu mereka masuk ke dalam mobil, dia langsung menarik Keira ke dalam pelukan yang sangat erat.

“Sayangg, kamu luar biasa banget!” kata Winza riang, membuat Keira tertawa.

“Makasi, Sayang,” Keira mengecup pipi Winza setelah wanita itu melonggarkan pelukannya.

“Berarti abis ini kita beli apa? Kasur bayi? Mainan-mainan bayi? Atau apa, Sayang?”

“Sayang,” Keira tertawa sambil mengangkup kedua pipi Winza. Istrinya itu terlihat bersemangat, “Bayinya masih kecil banget. Yang penting sekarang adalah ngejaga agar dia tetep di kandunganku.”

Winza menanggapinya dengan membentuk O di mulutnya, menambah kesan gemas di mata Keira.

“Nanti kalo uda agak gedean, baru kita cek kelaminnya. Trus kita beli-beli deh persiapannya.”

“Okee,” Winza mengangguk senang, “Ini kita makan ya berarti?”

“Iya, Sayang. Makan yang kamu mau deh, yang penting sehat.”

“Siap Sayang,” Winza menyalakan mobilnya dan mulai melajukannya.

“Sayang berarti aku gabisa nyentuh kamu 9 bulan dong?” tanya Winza tiba-tiba, “Nanti debaynya kaget.”

Keira tergelak, “Ya boleh dong, Sayang. Nanti itu dikonsulkan sama dokter ya?”

“Hehe iya.”

“Dasar.”

New Journey Ahead

“Gemes plesternya,” kata Winza setelah mengganti plester di dahi istrinya. Plester bergambar kartun favorit istrinya itu, Shinchan, dibeli beberapa waktu yang lalu tanpa ada maksud apapun. Keira hanya melihatnya sebagai barang yang lucu, bukan sebagai fungsi aslinya.

“Iya, ijo lagi warnanya,” Keira mengeratkan pelukannya pada Winza. Pasangan itu sedang menghabiskan waktu di sofa ruang tengah setelah selesai mandi. Ritual sebelum tidur, hanya sekedar ngobrol maupun melakukan aktivitas masing-masing. Biasanya Keira yang akan berbicara banyak, lalu Winza menambahi. Jika Keira terlalu lelah, biasanya Winza hanya memeluknya sembari menonton TV atau bermain game di gawainya.

Seperti malam ini, Keira sepertinya masih lelah karena kegiatannya siang ini. Dia menghabiskan waktu dengan memeluk Winza, sedangkan istrinya itu menonton kanal berita di TV.

“Sayang, menurutmu aku masih bisa hamil ga?” tanya Keira tiba-tiba, sedikit membuat Winza terkejut.

“Kok nanyanya gitu, Sayang?” Winza berusaha meredakan situasi

“Gapapa. Cuma kepikiran aja. Kalo misalnya aku gabisa hamil, kamu masih sayang sama aku kan?”

Winza mencium puncak kepala Keira lembut, “Tentu saja, ga bakalan ngubah apapun kok.”

“Makasi ya, Sayang. Aku gapernah ngerasa sendiri lagi,” Keira membalas ciuman di puncak kepalanya dengan mengecup lembut pipi Winza, “Aku sayang kamu.”

“Aku juga sayang kamu.”

Winza memeluk istrinya dari belakang. Wanita yang lebih tua itu sedang membuat pancake, sarapan mereka hari ini.

“Kamu tu jangan capek-capek, Sayang,” bisik Winza sembari meletakkan kepalanya di bahu kiri milik Keira

“Capek gimana sih, Sayang?” Keira hanya terkekeh, “Aku kan cuma bikin sarapan, kebiasaan kita kan?”

“Iya sih, tapi...”

Keira menepuk lengan Winza yang melingkari perutnya, menandakan wanita itu ingin bergerak. Winza membiarkan Keira melepaskan diri dari menyiapkan sarapan mereka.

Ketika Keira sudah selesai dengan meja makan, Winza tiba-tiba menariknya, menciumnya dengan dalam. Bahkan jika mungkin Keira tidak sedikit mendorong bahu Winza, mungkin mereka bisa lupa waktu.

“Ada apa?” tanya Keira hati-hati

“Kamu jangan capek-capek,” Winza mengulanginya, “Kalo misal aku lembur, gapapa ga ditungguin ya?”

Keira mengecup pucuk hidung Winza, “Iyaa.”

“Kalo ada apa-apa, bilang aku ya?”

“Iya, Winza,” kata Keira sebelum memberi pelukan kepada Winza. Pelukan yang singkat karena jika terlalu lama, mereka bisa tidak masuk kantor hari ini.

Kegiatan di Phuket sangat menyenangkan menurut Keira. Winza mengajaknya jalan pagi di pantai, lalu sarapan di warung sekitar pantai – oh Keira sangat suka Pad Thainya. Setelah balik penginapan untuk mandi, Winza kembali mengajak Keira ke pantai, bermain pasir sambil membangun istana pasir. Winza juga mengajak Keira naik ATV berkeliling. Baru kali ini Keira diajak naik motor oleh Winza, rasanya senang sekali bisa memeluk istrinya itu dari belakang.

Aktivitas seharian itu membuat mereka memutuskan untuk makan malam di penginapan. Winza bahkan menggeser kursi santai ke dekat kolam renang agar mereka berdua bisa menikmati langit malam yang cerah ini.

“Sayang besok kita ke Bangkok, siang gitu kali ya,” kata Winza sembari mengunyah pizza homemade yang mereka pesan untuk makan malam.

“Loh, kirain mau di Phuket sampe kita pulang?”

“Aku tau kamu pengen ke Khaosan Road sama Chatucak kan,” Winza sedikit terkekeh

“Ih tau banget,” Keira meneguk minumannya sembari menggelengkan kepala, menutupi rasa malunya yang tergambar nyata di wajah merahnya, “Makasi ya, Sayang. Uda ngertiin maunya aku.”

Winza tersenyum kepada istrinya, perlahan mengenggam tangan lembut Keira.

“Enggak Sayang. Itu semua bukan semata aku ngertiin kamu. Itu semua butuh proses untukku mengenalmu, mengenal keinginanmu, mengetahui apa yang kamu suka. Dan semua dimulai dari apa yang kamu tunjukin ke aku.”

Keira menggeser duduknya, menghadap kepada istrinya yang terlihat serius.

“Jadi, Sayangku, Keira Agatha, bolehkah aku bertanya sesuatu? Karena aku benar-benar ga ngerti.”

Keira mengangguk

“Kenapa kamu pengen punya anak?” tanya Winza pelan. Tangannya masih menggenggam kedua tangan Keira dan mengusapnya pelan.

Keira menghela nafas panjang, sebelum memberikan jawaban kepada Winza, “Karena aku ingin belajar. Menurutku, pernikahan adalah masa belajar seumur hidup. Salah satu pembelajarannya adalah anak,” Keira menggigit bibirnya, terlihat ragu untuk melanjutkan

“Sayang, kita uda janji kan terbuka antara satu dengan yang lain,” Winza menyakinkan istrinya.

“Aku pengen ngelawan isi kepalaku yang kadang berisik, yang kadang mengatakan bahwa aku akan ngulangin apa yang Ibu lakuin ke aku. Kemarin, Ibu juga bilang alasan dia ninggalin Ayah dan kita semua karena udah capek ngurusin Ayah yang punya penyakit dan kita bertiga yang menurut dia makin merepotkan. Aku pengen, Win. Aku pengen ngelawan semua pikiran jelekku itu. Aku pengen bisa, jadi orang tua yang ga gitu.”

Keira mulai menangis, dan Winza tahu istrinya barusan mencurahkan pikiran terdalamnya, pikirannya yang selama ini dia lawan, selama ini dia simpan karena menurutnya sangat berat.

“Let's do it together, Baby. Asalkan kita bersama, ayo kita berjalan ke depan dan menjalankan rencana yang kita inginkan,” kata Winza sambil mengusap lembut kepala Keira sebelum menciumnya.

“Winza, aku mencintaimu. Jangan pergi ya?”

“Aku juga sangat mencintaimu. Aku janji.”

Keira tidak berhenti tersenyum semenjak tiba di bandara sore tadi. Winza benar-benar menyiapkan semuanya dengan sempurna. Penginapan yang dipilih Winza adalah sebuah villa kecil dengan dua kamar, satu dapur dan ada kolam renang pribadi. Malam ini, Winza langsung mengajak Keira makan malam di pingir pantai, yang hanya membutuhkan 10 menit dari penginapan mereka.

“Sayang ya kamarnya dua cuma kepake satu,” kata Keira sambil menggenggam tangan Winza. Mereka sedang berjalan ke tempat makan yang Winza katakan sebelumnya.

“Maksudnya tidurnya mau pisah??”

“Ih ya ga gitu, Sayang,” Keira mencubit pinggang Winza gemas

“Habis kamu nanyainnya gituu. Tapi emang ga nemu sih yang cuma satu kamar kalo model villa atau resort gitu, Yang. Kalo satu kamar cuma kamar hotel aja kurang enak dapet cuacanya.”

“Iya sih. Eh, ini uda nyampe?” tanya Keira ketika mereka melihat keramaian di depan mereka, “Rame banget, bisa dapat tempat kita?”

“Kita coba dulu hehe. Infonya kalo rame pun, bisa kok dapet tempat toh cuma berdua,” Winza menggandeng tangan Keira untuk masuk ke dalam. Benar saja, mereka masih mendapatkan tempat di dalam; walaupun konsepnya outdoor, namun dibatasi oleh pagar.

Winza membiarkan Keira memilih seafood yang dia inginkan, mendengarkan pelayan yang memberikan rekomendasi dengan Bahasa Inggris yang lancar. suasana restoran sangat ramai, ditambah dengan adanya panggung kecil, membuat suasana di sini meriah.

“Sayang, aku ke toilet dulu ya,” pamit Winza setelah mengelap mulutnya. Mereka baru saja menghabiskan seekor nila merah yang sangat besar dan kepiting. Baru saja Keira menambah pesanan kerang untuk melengkapi makan malam mereka.

“Iya, Sayang.”

Keira menunggu cukup lama, dia pikir apakah Winza sakit perut? Seingat Keira, Winza tidak punya alergi terhadap seafood

“Hello everybody, we have a special guest tonight who want to express her love for her wife,” tiba-tiba terdengar suara dari penyanyi yang ada di panggung. Keira ikut menoleh, dan hanya bisa melongo melihat Winza yang duduk di kursi sambil memegang gitar

“Thank you, Sam. For letting me sing tonight. Like he said before, I just want to express my love to my wife,” Winza menjeda sejenak, “The one who is prettier than the moon tonight, the one who's wearing the white dress which I like the most. The one and only, Keira Agatha.”

Semua pengunjung, termasuk pelayan yang disana, ikut bertepuk tangan dan melihat ke arah Keira yang tersipu malu.

Suara dentingan gitar yang familiar menyapa telinga Keira, disusul dengan suara merdu dari Winza

Aren't you somethin' to admire? 'Cause your shine is somethin' like a mirror And I can't help but notice You reflect in this heart of mine If you ever feel alone and The glare makes me hard to find Just know that I'm always Parallel on the other side

Winza menyayikan lagu itu dengan senyumannga yang jahil, Keira tahu itu untuk menggodanya. Bersama dengan para pengunjung yang lain, Keira menikmati lagu itu.

'Cause I don't wanna lose you now I'm lookin' right at the other half of me The vacancy that sat in my heart Is a space that now you hold Show me how to fight for now And I'll tell you, baby, it was easy Comin' back here to you once I figured it out You were right here all along

Indah, itulah yang Keira dapat gambarkan. Sesosok wanita yang berhasil menjaga hatinya yang sempat hancur berantakan, seorang wanita yang berhasil meraihnya di saat dia akan menyerah. Winza Kusumajati benar-benar berhasil mengisi seluruh relung hati Keira dengan sempurna

And now it's clear as this promise That we're making Two reflections into one 'Cause it's like you're my mirror (oh-oh) My mirror staring back at me, staring back at me

Keira terlihat gelisah, Winza tahu itu. Bahkan ketika Winza sudah memarkirkan mobilnya di kantor polisi, Keira tidak segera turun, walaupun sudah melepas sabuk pengamannya.

“Sayang...” panggil Winza pelan, sembari menggenggam tangan istrinya itu

“Aku takut,” Keira menghembuskan nafasnya, “Aku takut, Win.”

Winza menarik wanitanya ke dalam pelukan. Bahu Keira yang awalnya tegang menjadi lebih rileks, terlebih Winza mengusap-usap bahunya lembut, sembari mengelus kepalanya juga.

“Yuk, tuh Kak Kath udah ada,” kata Winza setelah melepaskan pelukannya, sembari menunjuk Terios Putih yang cukup familiar bagi mereka.

“Kamu... masuk ke dalam kan?” tanya Keira

“Aku tunggu di depan ruangan. Gapapa, Sayang. Ini waktumu dan saudaramu.”

Keira hanya mengangguk. Berdoa di dalam hati agar dia tidak menangis ataupun mengamuk ketika bertemu dengan Ibunya.

***

Bagi Katherine, Keira dan Kevin, Ibunya adalah sosok pengkhianat. Walaupun sebelum perceraian terjadi, ketiganya merasa Ibunya menyayangi keluarga; tidak mungkin mereka bertiga ada di dunia ini jika kedua orang tuanya tidak saling menyayangi.

Namun gambaran keluarga cemara hilang begitu saja. Pada saat Katherine baru saja lulus kuliah, dia mengajak Kevin yang masih SD, pergi ke mall setelah pulang sekolah, bertemu dengan ibu mereka. Sayangnya, lelaki yang sedang digandeng dan berbisik mesra dengan ibunya tersebut bukanlah ayah mereka.

Katherine kaget, Kevin lebih kaget lagi. Keterkejutan mereka berdua berakhir pada pertengkaran yang hebat, dimana Keira hanya bisa diam; dia tidak bisa mengatakan apapun karena dia tidak melihat langsung kejadiannya. Terlebih, sedari kecil memang Keira tidak terlalu dekat dengan ayahnya yang pendiam itu.

Malam hari di hari yang sama, ayah Keira mengetuk pintu kamar Keira dan mengajak putrinya berbincang kecil. Keira masih ingat percakapan itu.

“Keira mau ikut Mama?” tanya ayah Keira

“Keira gatau,” gadis yang akan menyelesaikan SMA dalam waktu dua bulan itu hanya bisa menggeleng lemah, “Keira sayang Mama sama Papa.”

“Mama kamu, sudah bohongin Papa. Sebenarnya Papa sudah tahu sejak lama, Mama kamu juga sudah berjanji tidak akan mengulanginya. Ternyata Papa salah, Kei.”

Keira hanya bisa terdiam. Memorinya berputar kembali. Sebagai anak tengah, Keira selalu berada di posisi yang tidak menyenangkan. Kevin sangat dimanja Mamanya, dia anak lelaki satu-satunya. Katherine sudah biasa mandiri, secata usia dia berada 4 tahun di atas Keira. Namun setelah dipikir lebih dalam, Keira memang cenderung dekat dengan Papanya. Lelaki pendiam itu selalu berada di dekat Keira. Keira masih ingat ketika lelaki pendiam itu mengantarnya ke toko buku, walaupun hanya membeli majalah. Papa tidak pernah mengeluh. Pulangnya, mereka mampir membeli es campur yang juga dibungkus beberapa untuk orang di rumah. Ataupun ketika Keira mendapat juara kelas; sama dengan Katherine, Papa selalu bertanya apa yang diinginkan anak gadisnya. Dalan diam pun, Papa akan membelikan hadiah. Berbeda dengan Mama yang banyak memberikan arahan, Papa lebih suka membiarkan Keira dan Katherine memilih apa yang mereka inginkan.

Akhirnya pada malam itu, Keira juga memilih ikut Papanya.

“Kak...” Kevin menyenggol lengan Keira, membuyarkan lamunannya.

“Sori,” Keira mengusap wajahnya. Kenangan dia dengan Papanya selalu membuatnya senang dan sedih di saat bersamaan.

Ketiga bersaudara itu duduk di kursi yang sudah disediakan, menunggu petugas membawa ibu mereka untuk masuk ke ruangan. Sedangkan Winza sudah pamit duluan bersama Pak Arya yang tadi sudah menunggu mereka di depan.

“Oh,” suara terkejut keluar dari wanita paruh baya itu. Sepertinya dia terkejut karena melihat ketiga anaknya menemuinya sekarang.

“Pemandangan yang bagus, karena Mama tidak pernah melihat kalian semua secara langsung,” wanita itu duduk di hadapan tiga bersaudara itu.

“Rasanya tidak pantas menyebutkan Mama dari mulutmu, Ibu,” kata Katherine cepat

“Sudah sangat berani ya,” wanita itu kembali terkekeh, “Jadi apa maksud kalian ke sini? Oh, terimakasih sudah membuatku masuk penjara. Padahal sudah lama berhasil menghindarinya.”

“Anda pantas mendapatkannya,” kata Keira datar, “Sudah seharusnya sejak lama.”

Wanita di hadapan mereka kembali memberikan senyuman miring, “Oiya, makasi ya. Mertuamu emang luar biasa. Pinter kamu milih mertua. Pastinya bisa dong ngeluarin Mama dari tempat ini.”

“Justru mertuaku yang paling semangat untuk membuatmu hidup di penjara,” geram Keira

“Ohya? Mudah saja menyebarkan informasi bahwa aku ini besan dari Jesselyn Kusuma.”

“Silakan, karena pasti akan cepat untuk dibantah dan merugikan anda sendiri,” tantang Keira, “Sedari awal, aku uda ngenalin bahwa aku gapunya Ibu, apalagi seperti anda.”

“Berani sekali kamu!” wanita itu berdiri dan menggebrak meja di depannya, memandang lurus ke arah Keira, “Kamu itu lahir dariku, durhaka kamu!”

“Siapa yang durhaka? Anak yang tidak mengakui Ibunya karena ditinggalkan begitu saja, atau Ibu yang tidak pernah sekalipun memberikan perhatian setelah pisah dengan suaminya?”

“Papa kalian yang menghalanginya!”

“Bohong,” Kevin ikut berbicara, “Bahkan ketika Papa meninggal, anda tidak pernah datang. Kami tahu anda pun tidak tahu dimana makam Papa.”

“Kevin, kamu tahu kan Mama bingung...” suara wanita itu mulai melemah.

“Udah cukup, Bu. Kami bertiga hidup baik-baik saja. Sejak kejadian di Solo, aku uda gamau lagi sekedar nganggep anda ada di dunia ini,” Kevin menghela nafas panjang, “Beraninya anda kembali melakukan hal itu di tempatku dan Kak Keira kerja.”

“Asal Ibu tahu, aku ga cuma sekedar bekerja di sana. Mertuaku adalah Chairmannya. Mudah bagi kami untuk sekedar menghilangkan anda,” tambah Keira, “Waktu anda mengatakan hal yang tidak pantas ke Kak Kath dulu, anda tidak pernah minta maaf. Dan sekarang anda mengulanginya lagi? Apa anda pikir kami ini orang bodoh yang terus-terusan menerima apa adanya?”

“Terserah jika mau dianggap kami yang durhaka,” kata Katherine, “Secara hukum, kita sudah tidak ada hubungan. Secafa fisik dan mental pun, kami tidak sudi memiliki hubungan dengan anda.”

“Kalian! Coba kalian bayangin dengan pasangan yang punya penyakit, lalu kalian masih bertahan? Kalian ini belum mengalami pahitnya kehidupan!”

“Kak Kath dan Kak Keira adalah wanita yang setia, aku liat sendiri gimana keluarga kecil mereka,” Kevin menyela, “Silakan keluarkan sumpah serapah anda, kami tidak peduli. Kami datang ke sini untuk memberikan ucapan selamat tinggal kepada Ibu. Jika Ibu kembali lagi ke kami, dengan sikap yang seperti kemarin, jangan harap kami mau melihat Ibu sebagai manusia pada umumnya. Karena selama bertahun-tahun, kami tidak pernah merasa Ibu ada.”

****

Kegiatan malam ini ditutup dengan makan malam di rumah Katherine. Windy sudah menyiapkan makanan untuk mereka berlima; Noah sudah tidur ketika mereka tiba. Walaupun obrolan ketika makan malam cenderung ringan, Winza tahu, istrinya sedang memikirkan sesuatu yang berat.

“Sayang, sini,” kata Winza ketika mereka sudah di apartemen. Winza sudah membersihkan diri dan menyandarkan tubuhnya di headboard kasur mereka.

Keira awalnya hanya tersenyum, namun dia tahu dia tidak akan bisa menyembunyikan perasaanya dari Winza.

Perlahan, Keira naik ke atas kasur dan memeluk Winza erat, menyandarkan kepalanya di dada wanita yang dicintainya itu.

“You did good, Honey,” bisik Winza sembari mengecup puncak kepala Keira. Awalnya Keira hanya diam dan mengeratkan pelukannya. Lama kelamaan, Keira mulai terisak dan Winza tahu, istrinya sedang mencurahkan perasaan yang dia tahan sedari tadi. Untung saja mereka memesan pesawat siang dan sudah packing untuk perjalanan besok, sehingga dengan Keira menangis semalaman, tidak akan menganggu rencana mereka besok.

“Jangan tinggalin aku ya...” kata Keira di tengah isakannya

“Iya, Sayang. Aku di sini terus kok,” jawab Winza sembari memberikan kecupan-kecupan kecil di puncak kepala Keira.