Yuseonova

Sebuah Fanfiksi pendek dengan pair #nikseung berjudul,

Maaf


Keadaan kereta di jam sibuk tidaklah pernah sepi, selalu saja penuh sesak dengan manusia yang saling menghimpit satu sama lain demi sepetak jengkal lahan untuk berdiri, dan ini lah yang terjadi dengan Heeseung sekarang. Pangkal sepatu yang dikenakannya sudah menyentuh dinding kereta, pun dengan punggung yang sesekali merasakan dingin saat udara dari air conditioner di atas berhembus, mengantarkan langsung angin sejuk yang membuat sekujur tubuhnya meremang, merasakan sensasi geli yang menggelitik perut dan hati.

Atau setidaknya,

itu yang ia pikir.

Ugh, keluhnya dalam hati saat seseorang di depan semakin memajukan tubuh ke arahnya dengan ringis senyum yang mengatakan maaf.

“Maaf, Kak,” pintanya dengan pelan namun diterima Heeseung dengan begitu jelas, karena orang tersebut berbicara tepat di telinga.

Ya, wajahnya saat ini tengah berada di samping wajah Heeseung kalau-kalau tidak mau tertabrak, sebab sudah tak ada lagi ruang bagi mereka untuk mencipta jarak. Bau keringat yang bercampur dengan samar aroma parfum laki-lakinya pun dapat Heeseung hirup dengan jelas.

Mengganggu, tapi anehnya,

Heeseung tidak keberatan dengan semua itu.

“Gapapa.”

Orang di depannya ini lalu tersenyum, dan Heeseung tahu itu adalah senyum permintaan maaf, maka ia membalasnya sama.

Lalu diam,

sampai saat kereta bergoyang yang juga ikut membuat para penumpang di dalamnya kehilangan keseimbangan, termasuk Heeseung. Kepalanya mungkin saja akan menyentuh tiang di sebelah kalau tidak ada lengan yang melindunginya dari benturan itu.

Duk!

Gujes gujes

Heeseung terkesiap, kemudian meminta maaf karena sudah membuat lengan Riki yang menerima sakitnya.

“Riki, maaf,” katanya dengan raut wajah cemas, sementara pemuda di depannya ini hanya tersenyum geli, baru kemudian berkata, “Gapapa.”

“Serius?” Beriringan dengan itu, kereta pun berhenti di stasiun berikutnya yang menghasilkan hukum Newton III, membuat Riki terantuk ke depan, dagunya menabrak dahi Heeseung, dan di saat itu lah Heeseung terkejut.

Karena seingatnya, pemuda yang baru ditemuinya dua bulan lalu ini sebagai anak yang baru magang di kantor, tidaklah lebih tinggi darinya.

“Maaf, Kak,” katanya lagi setelah kereta kembali berjalan,

dan Heeseung tidak dapat lagi menyembunyikan senyum geli yang sedari tadi ia tahan akan rentetan kejadian lucu, namun tidak mengenakkan yang mereka alami.


“Sampai rumah langsung istirahat, ya. Jangan tidur kemaleman, kan besoknya masuk pagi,” pesan Heeseung saat mereka akan berpisah menuju pintu keluar. Ia mengarah ke Barat, sementara Riki ke timur.

“Iya, Kak. Pasti.”

“Ya udah, aku duluan. Hati-hati.”

“Hati-hati juga, Kak.”

Wonjin x Serim

Angst, galau.

Rate T


Masih Serim ingat dengan jelas, bagaimana mereka pertama kali bertemu,

kemudian menyadari kehadiran pemuda itu di hari-hari yang berlalu setelahnya,

bagaimana mereka sering berpapasan,

yang kemudian ia beranikan diri dengan sebuah sapaan.

Uluran tangan, tanda pertemanannya diterima dengan baik,

tapi Serim juga tidak menyangka momen kecil itu bisa menjungkirbalikkan dunia seseorang.

Serim yang saat itu menghadiri seminar tentang kesehatan atas ajakan teman baiknya, Woobin, tidak sengaja memungut pulpen jatuh yang ternyata adalah milik Wonjin, seorang adik tingkat yang berada dua tahun di bawahnya. Penampakan Wonjin di waktu itu sangatlah lucu, dengan kaca mata bulatnya juga hoodie berwarna jingga yang kelihatan sekali tidak disimpan dengan baik, menerima kembali pulpen miliknya yang diulurkan Serim dengan canggung dan berlalu begitu saja tanpa mengucapkan kata terima kasih.

Kesal karena perlakuan tidak sopan yang ia terima dari seseorang yang ia duga sebagai anak baru, Serim pun jadi menyadari kehadiran pemuda itu di kesempatan-kesempatan berikutnya yang ia kesali, kenapa harus terjadi. Lama memerhatikan, ia jadi tahu sedikit banyak tentang seseorang yang bernama Ham Wonjin itu. Prodinya adalah Ilmu Komunikasi. Sering membawa laptop ke mana-mana, dan berbicara sendiri entah kepada siapa sambil memandang layar laptop yang tidak Serim ketahui sedang menayangkan apa karena jarak yang jauh, tapi cukup untuk bisa melihat bibir itu bergerak mengucapkan sesuatu.

Hari dimana ia ditinggalkan oleh teman-teman karena berbagai kesibukan adalah awal dari hubungan yang tidak Serim duga

“Hei, boleh aku duduk di sini.”

“Silakan.”

Uluran tangan kemudian diulur pada dia yang masih mengabaikan, sampai Serim harus berdehem lumayan keras baru pandang itu mengalih ke sini.

“Aku Serim, kau?”

“Wonjin.”


Masih belum menghilang dari ingatan, bagaimana pemuda itu menyatakan rasa dengan cara yang kaku,

dan masih membekas juga, bagaimana perasaan asing itu muncul ketika kakinya melangkah, memasuki sebuah hunian asing yang entah kenapa terasa begitu familiar untuk kali pertama.

Wonjin memperkenalkannya sebagai seseorang yang tengah dekat dengannya. Tidak ada label pasti yang mereka gunakan untuk membuat orang lain mengerti, karena biar mereka berdua saja yang menjalani yang tahu, tapi dari senyuman kecil sang ditunjukkan sang Ibu, Serim tahu bahwa wanita itu memaklumi.

“Makan yang banyak ya. Masih ada lagi kok di dapur.”

“Iya, Tante. Makasih.”

Ia juga masih ingat betapa canggungnya suasana setelah itu, sampai-sampai mengharuskan mereka untuk segera pulang, dan membuat syalnya tertinggal, yang mana baru Serim sadari setelah dua minggu berganti.

“Kalau gitu, kami pulang dulu.”

“Apa ga nginep aja? Udah malem lho ini.”

“Ga usah, besok ada kelas pagi soalnya.”

“Ya udah, kalau gitu, hati-hati.”

“Pamit dulu, Tante. Makasih banget untuk hari ini, dan maaf kalau ngerepotin.”

“Ga apa-apa, Tante seneng Wonjin bawa temennya untuk main ke rumah.”

Ia meminta agar Wonjin mengambilkan syal itu untuknya yang mana langsung Wonjin sanggupi, tapi masih belum kembali juga ke tangan empunya, bahkan setelah puluhan musim berganti.


Retakan gelas pertama, yang Wonjin tidak sadari, menusuk tepat di hati ketika bahkan selirik atensi pun tidak pemuda itu curahkan untuknya. Dirinya sibuk tenggelam dalam obrolan yang tidak bisa Serim ikuti, berujung pada pertengkaran yang tidak bisa mereka hindari.

“Kamu kenapa marah, sih?” Dia bertanya dari sisi meja makan yang berlawanan pada Serim yang tengah mencuci piring bekas mereka makan.

“Aku ga marah. Siapa yang bilang aku lagi marah?” Kalimat itu memang tidak menunjukkan amarah, tapi jelas kalau suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja.

“Kamu ga bilang, tapi gelagatmu nunjukin kalau kamu lagi marah.” Setumpuk pirik yang sudah dikumpul kini ia angkat untuk diletakkan pada wastafel, menambah beban pekerjaan Serim, pun hatinya begitu.

Membersihkan tangan sekilas, kini ia membalik badan pada Wonjin yang sedang berada di depan kulkas. “Aku cuma ga bisa ngikutin kamu.”

“Ngikutin? Ngikutin ke mana emangnya?”

“Ngikutin semua obrolan kamu dan temen-temen kamu.” Serim tahu bahwa nada bicaranya mulai naik, dan seharusnya tidak begini, tapi apa yang bisa ia lakukan dikala hatinya mulai menyempit? Wonjin jelas tidak akan mengerti apabila ia tidak memuntahkan itu semua di depannya.

“Temen-temen aku udah baik lho, ngajakin kamu ngobrol duluan, tapi kamunya aja yang diem. Cuma ngangguk atau geleng-geleng kepala pas ditanya.”

Kan.

Pemuda itu masih memiliki temperamen tinggi. Ciri khas anak muda, sebenarnya, dan Serim tahu bahwa seharusnya ia yang bisa melunak di sini, tapi tidak ketika dirinya disingkirkan begitu saja saat tadi meminta atensi.

“Itu karena, mereka orang asing bagiku, Wonjin!”

“Terus karena mereka orang asing, kamu ga suka?”

“Aku ga bilang aku ga suka. Aku bukan ga suka sama temen-temenmu, tapi aku ga suka sama sikapmu yang beda saat sama mereka.”

“Beda kenapa? Aku biasa aja.”

“Kamu beda. Kamu beda, Wonjin. Kamu ga ngeliat aku sama sekali, dan lebih milih sibuk ngobrol sama temenmu itu! Kamu juga nepis tanganku pas aku mau pegang tanganmu.”

Tangan Wonjin sedang berada di atas meja ketika cerita tentang nostalgia sedang seru-serunya membumbung tinggi di udara. Serim tidak mengetahui apapun tentang bagian hidup Wonjin yang satu itu, karena Wonjin tidak pernah menceritakan hal itu padanya, dan di saat ia meminta agar tolong melirik ke mari lewat usapan tangan, Wonjin malah membuat tangannya tersimpan rapi di atas meja.

“Siapa yang nepis? Aku ga nepis apa-apa sama sekali!? Serim-”

“Itu karena kamu sibuk sama temen-temenmu!”

“Ya, itu karena aku udah lama ga ketemu mereka. Lagi juga, kamu yang minta untuk dikenalin ke temen-temenku. Kamu tuh kenapa sih, aku ga ngerti. Aku ga ngerti sama sekali sama apa yang kamu omongin, dan aku ga ngerti apa yang jadi masalahnya di sini?”

“Kamu! Kamu yang jadi masalahnya di sini karena kamu terlalu asik sama temen-temenmu sendiri! Aku cuma minta agar kamu ngeliat ke arahku, tapi apa yang kamu lakuin? Kamu naruh tanganku kembali di atas meja, Wonjin.” Mata ia pejamkan dalam setelah itu lalu bertanya dengan suara yang dikecilkan. “Apa aku sebegitu ga pantesnya buat kamu? Kamu malu? Kalau orang-orang tahu bahwa kita menjalin hubungan?”

Air mata yang sedari tadi ditahan kini tidak bisa ia bendung lagi. Serim tidak bisa melakukan konversasi ini lebih lanjut atau hubungan mereka yang jadi taruhannya. Maka dari itu ia berbalik, hendak menyendiri, “Hyung,” tapi Wonjin keburu lebih cepat menggenggam ujung jemarinya, “Hyung,” menarik lengannya lembut kemudian mengusap air mata yang sudah keluar. Jemari hangat itu menyisir surainya yang menutupi dahi, kemudian sebuah kecupan pun ia terima. “Hei, aku ga mau kita bertengkar, oke?” Kedua tangan itu lalu turun mengusap lengan, “Maaf,” kemudian menarik tubuhnya semakin mendekat, “Maaf kalau aku udah nyakitin kamu secara ga sengaja,” memeluknya erat, “Maafin aku, ya?” sambil mengusap-usap belakang kepalanya lembut. Serim mengangguk, dan keduanya tetap berada dalam posisi itu sampai masing-masing dari mereka berdua menyadari bahwa apa yang telah diperdebatkan adalah hal sepele yang sama sekali tidak pantas untuk dipermasalahkan.

Mereka lalu tertawa. Lebih tepatnya, menertawakan kebodohan diri sendiri yang sampai bisa-bisanya membesar-besarkan hal kecil seperti tadi. Ponsel yang tergeletak di nakas dalam kamar pun kemudian diambil, dan sebuah lagu romansa klasik bernuansa 70an terputar. Membuat keduanya tenggelam dalam suka cita yang mereka buat sendiri, dalam gelora asmara yang keduanya saling bagi.

Pelukan Wonjin adalah yang ternyaman.

Kecupan bibir yang ditabur di tiap inci tubuhnya adalah yang terhangat,

dan kata-kata manis merangkai puja yang keluar dari mulutnya adalah doa yang semakin membuat Serim jatuh cinta. Ia jadi semakin percaya bahwa Wonjin adalah yang ditakdirkan untuknya, karena pemuda itu berkata, bahwa Serim lah yang ia inginkan sebagai masa depannya.

Akan tetapi, manusia hanya bisa berencana. Sebab Tuhan lah, yang menentukan segalanya.

Mudah bagi Wonjin untuk meminta maaf dan menjaga kembali gelas yang mulai retak, karena mudah juga baginya untuk kembali berbuat salah, dan bersikap bahwa itu semua tidak apa-apa.

“Kamu jalan sendiri ke tempat kerja gapapa kan? Aku turunin di sini, atau mau kamu yang bawa motornya? Biar aku naik kereta.”

“Kamu emangnya mau ke mana sih, Jin? Ini juga cuma sebentar kok,” cuma untuk meminta izin cuti beberapa hari dikarenakan ia akan pulang ke kampung halamannya sore ini. Neneknya baru saja meninggal, Serim mendapatkan kabar itu sore kemarin saat ia masih berada di tempat kerja. Ibunya bilang kalau ia tidak usah terburu pulang ke rumah, karena pasti jasad neneknya sudah dikebumikan ketika Serim datang, tapi tetap, ia merasa harus cepat datang, karena ia neneknya adalah orang berharga yang sering menemani Serim kecil ketika ditinggal sendirian oleh kedua orang tua yang sibuk bekerja, sibuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

“Maaf banget, tapi temenku yang ngajak join project bareng tadi tiba-tiba bilang buat ngadain meeting dadakan,

Jadi ini alasannya mereka berhenti di pinggir jalan.

”... karena dia udah nemuin investor yang mau danain project kita.”

Serim segera mengambil alih kemudia ketika Wonjin turun dengan terburu. Bahkan mesin motor belum dimatikan dan ia sibuk melihat ke arah ponsel sekarang.

“Harus banget sekarang?”

“Ya.”

“Tapi kamu udah janji mau nemenin aku.”

“Tapi aku juga ga bisa ngelewatin kesempatan ini. Maaf, aku pergi duluan!”

... tapi sayang, harapan akan hubungan yang ia ingin bawa ke tahap selanjutnya, hancur begitu saja.

“Wonjin!”

Teriakannya sia-sia, karena Wonjin malah semakin mempercepat laju larinya walau Serim memintanya untuk berhenti.

“Wonjin!!!”

Tiga hari kemudian ketika ia sudah kembali dari desa, semuanya berubah. Wonjin tidak lagi menyempatkan waktu pagi untuk sarapan bersama. Sekedar membangunkannya untuk bangkit dari tempat tidur pun tidak. Apalagi ciuman di dahi saat akan pergi dan ucapan hati-hati di jalan.

Malam pun kini menjadi terlalu sunyi sebab tidak ada lagi obrolan tentang hari ini. Wonjin lebih memilih untuk langsung mandi dan mengerjakan entah itu apa daripada menerima ajakannya untuk makan malam bersama. Pria itu bilang bahwa ia sudah makan di luar, dan Serim pun hanya bisa meletakkan cangkir teh yang ia buat di meja ruang tamu, karena sepertinya pria itu tidak ingin diganggu.


Titik hancurnya adalah ketika orang-orang di sekitar mereka mulai terlalu peduli dengan apa yang Serim dan Wonjin sendiri jalani di saat keduanya sibuk tak sempat berkomunikasi dari hati ke hati.

Wonjin diterima di salah satu perusahaan teknologi ternama di Asia. Awalnya hanya bertugas membantu-bantu staff saja, namun lama kelamaan, ia bisa mendapatkan reputasinya sendiri di kalangan karyawan sementara Serim semakin banyak digandrungi oleh warga media sosial. Ya, ia memutuskan untuk meniti karir sebagai seorang influencer dan juga motivator yang sering mengisi seminar ke sana-sini, beberapa kali juga sempat dipanggil untuk mengisi acara di sebuah stasiun televisi, dan ini adalah salah satu dari sekian banyaknya hari dimana ia harus bergerak ke sana ke mari, tidak seperti Wonjin yang kerjaannya hanya duduk menatap laptop setiap hari atau setidaknya, itu yang ia tahu.

“Ibumu tadi telepon.”

Kabar yang ia dapat saat keluar dari kamar mandi membuat bibir itu memancarkan sumringah yang kentara. Wonjin hanya melihat itu sekilas sebelum kembali menatap layar televisi di depan. Tidak benar-benar memperhatikan sebab pikirannya melayang ke mana-mana. Ia juga mengabaikan Serim yang mendudukan diri di sampingnya, dengan jarak yang dekat.

“Oh ya? Ibu bilang apa?”

“Dia bilang kangen sama anaknya, pengen juga cepet gendong cucu. Terus khawatir sama kamu karena katanya ga ada yang ngurusin.”

Serim memang belum sempat menghubungi Ibunya akhir-akhir ini karena rutinitas yang sangat padat. Kalau ia tahu akan begini akhirnya, pasti ia sempatkan untuk mengirimkan beberapa pesan yang mengatakan bahwa ia baik-baik saja.

“Wonjin, maaf. Aku belum bilang tentang kamu ke Ibu.”

“Gapapa,”

Sungguh? Apa bisa begitu? Apa Wonjin tidak merasa tersinggung karena,

“Apa yang dibilang sama Ibu kamu itu bener.”

... dia lah yang seharusnya merasa sedih di sini, bukan Serim. “Maksud kamu?”

“Apa yang dibilang sama Ibu kamu itu bener, kalau anaknya udah pantas buat nikah. Umurmu udah cukup buat nikah,” kembali, ia mengulang itu agar Serim mengerti, yang mana malah semakin menyiramkan minyak di hati yang sudah resah.

“Terus?” Apa masalahnya? Apa yang berusaha Wonjin utarakan di sini dengan muka sepat masam begitu?

“Aku rasa kamu pantas untuk mempertimbangkan saran dari Ibumu.”

“Kamu mau menikah?” Ia menanyakan itu dengan hati-hati, serta berharap dari hati kecil yang paling dalam bahwa jawabannya,

“Aku ga cocok untuk itu.”

“Kenapa?” Raut wajahnya begitu pias, pun tak bisa Serim sembunyikan nada kecewa, tapi Wonjin sama sekali tidak menunjukkan empati, dan malah berpura-pura menjadi rasional di saat seperti ini. “Karena menikah itu sulit.”

“Apanya yang sulit?” Ia tidak mengerti.

“Semuanya.” Memang.

Tapi yang ingin Serim tahu adalah, “Lalu, bagaimana dengan kita? Kamu ga mau, suatu saat nanti, kita menikah?”

Ada hening yang membuat napasnya tercekat. Serim yakin bahwa ia menggenggam pergelangan tangan itu dengan erat, tanda bahwa ia mengharapkan sesuatu dari Wonjin akan kelanjutan hubungan mereka berdua akan dibawa ke mana, tapi sorot mata lugas yang jarang ia temukan terlihat begitu nyata di kedua jelaga kelamnya saat berkata, “Kalau kamu serius ingin menikah, bukan aku orangnya.”

“Kenapa!?” Refleks, ia berteriak. “Kenapa, Wonjin? Kenapa!? Padahal kamu yang,” mengusulkan untuk memulai semua ini. Padahal kamu yang bilang bahwa aku akan selalu ada bersamamu. Kamu juga yang, “ngajakin aku tinggal bareng, tapi kenapa,”

“Tinggal bareng dan menikah itu dua hal yang berbeda, Serim.”

“Apa bedanya!?”

Apa? Tolong beritahu Serim dimana letak perbedaannya, kalau apa yang mereka lakukan, sudah lebih dari apa yang seharusnya hanya teman serumah lakukan.

“Kita cuma harus mendaftarkan pernikahan itu ke kantor, dan mengurus berkas-berkasnya, meskipun bukan di sini.” Itu bisa dilakukan karena keduanya sudah berpenghasilan tetap. Biaya tak lagi menjadi masalah. “Kita juga ga perlu ngadain pesta besar-besaran,” dan Serim hanya ingin “Kamu, dan aku yang mengikat janji di hadapan Tuhan, itu aja udah cukup.” Kedua tangannya menggapai pada sisi wajah pria yang lebih muda, hanya untuk ditolak begitu saja dengan kalimat, “Pikiranmu terlalu simpel, Hyung.”

“Pikiran kamu aja yang terlalu ribet. Apanya yang susah dari melakukan semua itu kalau kita sama-sama?” Serim harus teguh dengan pendiriannya jika ingin meyakinkan Wonjin, dan ia akan terus melakukan itu sampai Wonjin mempertimbangkan sarannya dengan baik, tapi kenapa pemuda itu menggeleng dan malah semakin menghindari pandangan matanya? Wonjin yang biasanya tidak akan seperti ini, karena Wonjin yang biasanya selalu mendengarkan setiap perkataannya dengan baik. Dia menghormati Serim yang memiliki pengalaman lebih banyak, dan menerima semua saran yang Serim berikan di waktu dulu, tapi kenapa sekarang,

“Aku ga mau ngelakuin sesuatu yang ribet.”

... semuanya berbeda? Wonjin terasa begitu asing dan jauh walau Serim yakin, ia mengenal pemuda itu dengan baik.

“Ribet apa-”

“LALU BAGAIMANA DENGAN PANDANGAN ORANG-ORANG, huh? Kamu yakin, mau pakai cincin di jemari manismu itu kalau lagi kerja? Terus ditanyai tentang siapa pasanganmu? Gimana orangnya, dan segala macam hal lainnya!? Belum lagi kamu suka anak kecil. Habis itu mau apa? Adopsi? Atau minjem rahim perempuan lain buat dibuahi? Terus kalau gitu, anaknya nanti anak siapa? Anak aku? Atau anak kamu? Perlu kamu tahu, kalau mendapatkan hak asuh atas seorang anak itu ga mudah! Habis anaknya lahir, kamu mau apa? Aku ga bisa nyempetin waktu buat ganti popok bayi, dan kamu pasti sibuk di luaran sana!”

Yang Serim rasakan selanjutnya adalah panas, sebab telapak tangannya sudah terangkat dan bertemu dengan pipi itu dalam satu tamparan keras yang ia usahakan sekuat tenaga. Matanya lalu membulat, terkesiap, tidak menyangka tentang apa yang baru saja dilakukan, tapi lebih dari itu, “Kenapa kamu,” kenapa Wonjin bisa berkata buruk seperti itu padahal rencana dan pertimbangannya saja belum mereka buat? Belum sempat juga mereka bicarakan dengan baik dari hati ke hati. “Aku ga tahu kenapa, tapi kamu berubah.” Sejak kapan semuanya mulai berubah? Ini bukan tahun kedua atau ketiga dimana ia baru mengetahui sisi buruk dari orang yang sedang menundukkan kepala di hadapannya ini. Ini adalah tahun ke-enam. Semua yang Serim miliki, sudah ia berikan kepadanya, begitu juga sebaliknya, tapi kenapa Wonjin tidak menyangkal semua tuduhan Serim yang memojokkan dirinya?

“Ya, dan itu hal yang wajar. Setiap orang berubah, mau kamu suka itu atau engga.”

Seperti biasa, yang Serim lakukan ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik adalah berlari. Ia akan berlari menghindari masalah itu terlebih dulu sebelum menyiapkan hati untuk menghadapinya nanti, tapi Wonjin juga keburu sudah mengenal baik dirinya, maka dari itu dia tidak membiarkan Serim berlari.

Dengan teriakan penuh kekesalan yang sukses membuat Serim terkejut, pria itu membawakan sebuah kabar, yang Serim harap tidak ia dengar di kala itu.

“Bagus. Ini waktu yang bagus buat berpisah, karena aku ga bakal ada di sini lagi tahun depan.”

“Maksud kamu?”

Aku dapat promosi buat pindah ke kantor cabang yang ada di Jepang.”

“Lalu?”

“Aku terima.”

“Kenapa, baru bilang sekarang?”

“Karena aku rasa ini waktu yang tepat?”

Bisa-bisanya. Bisa-bisanya dia mengatakan itu dengan wajah tanpa dosa, dan Serim pun jadi tak sungkan untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya kala itu. “Kamu adalah manusia paling buruk yang pernah aku temui.”

Serim kira, Wonjin akan mendepaknya keluar dari apartemen setelah itu, tapi ternyata tidak. Pemuda itu yang pergi. Pergi entah ke mana meninggalkan, Serim sendiri. Bahkan baju-bajunya yang ada di lemari pun sudah menghilang ketika Serim terbangun di keesokan hari. Wonjin benar-benar siap untuk pergi, dan pemuda itu tidak main-main. Entah berapa hari lagi yang harus Serim lalui tanpa mengetahui bahwa ia akan kehilangan dirinya kalau pertengkaran itu tidak terjadi?

Hatinya langsung terasa kosong, dan kacau adalah apa yang ia hadapi di beberapa hari setelahnya. Bahkan telepon yang ia dapat dari Wonjin seminggu kemudian hanya ia perhatikan dalam diam tanpa adanya niat untuk menjawab. Pikirnya, untuk apa menghubungi jika hanya untuk kembali mematahkan hatinya? Sudah cukup ia mendengar, dan sudah cukup juga ia membaca balon-balon chat yang pemuda itu berikan untuk mari mengakhirinya dengan baik. Serim hanya terlalu enggan untuk kembali meladeni, karena ia pasti tidak akan bisa melepaskannya pergi, dan hanya kembali menyakiti diri sendiri setelah itu.


Usia ke-31, seharusnya menjadi hal yang seru untuk dirayakan,

... tapi di saat yang lain sibuk memakan kudapan yang Ibunya siapkan, Serim di sini hanya memandang ke arah luar jendela, berharap pada sebuah keajaiban yang tidak akan mungkin terjadi.

“Rim, dimakan itu lho, makanannya. Ibu udah masak banyak banget buat kamu, masa mau ga dimakan?”

“Iya, Yah. Belum lapar aja,” balasnya diiringi dengan senyuman kecil agar sang Ayah tidak khawatir.

Semua yang ada di sana tahu, bahwa Serim tidak seperti dirinya sendiri pada hari biasa. Maka dari itu mereka segera mengundurkan diri setelah acara selesai, terkecuali satu orang.

“Rim.”

“Ya?”

“Mau sampai kapan, mikirin dia terus? Udah bertahun-tahun lewat. Kamu udah jadi orang, begitu pun juga dia. Jadi, kamu ga usah khawatir mikirin dia lagi.”

“Emangnya siapa yang aku pikirin? Sok tahu, kamu.”

“Kamu bisa bohong, tapi mata mengatakan segalanya, Rim. Jangan berusaha keras untuk memperbaiki masa lalu yang udah lewat. Lebih baik, fokus sama apa yang ada di depanmu. Ya?”

“Woobin, aku,” aku tidak bisa. Ia tidak bisa menerima rasa dari seseorang yang ia anggap hanya sebagai seorang sahabat saja, apalagi membalasnya dengan alasan kebaikan yang Serim tahu, tidak buruk juga untuk dilakukan. “Aku ga bisa-”

Woobin mendesiskan konsonan yang menenangkan di detik selanjutnya seraya memeluk Serim erat, baru kemudian memberi kado yang ia ambil dari saku mantel miliknya. “Ga banyak, tapi kuharap kamu suka.”

“Makasih.”

“Sama-sama. Aku pulang dulu.”

“Hati-hati di jalan.”

Di saat Serim menyembulkan senyum sendi atas hadiah yang ia terima dari Woobin, di belahan bumi lain, terdapat your type of salary man yang sedang menenggak bir kalengan dengan tenang, dengan ditemani oleh suara seseorang dari kanal YouTube yang tidak ia ikuti, tapi ia pantau beberapa saat sekali.

“Halo! Kembali lagi dengan aku, Serim,”

Dari balik kaleng yang hendak disisip, bibir itu menyunggingkan senyum yang terlihat geli seraya membatin bahwa orang yang sedang bercuap-cuap saat ini, sama sekali tidak berubah, dari segi fisik maupun kepribadian.

End.

Park Sunghoon x Kim Sunoo

In the middle of war themed AU, teenager casts, major chara death, angst.

Rating K+


Daun kering yang gugur tertiup angin

Seperti air mataku yang mengalir

Sunoo sudah lama menunggu di stasiun ini sejak tadi, sejak fajar masih mengintip malu-malu dari balik ufuk timur, tapi hingga mentari sudah menyinari tempat dimana ia duduk termenung kini, sosoknya yang ia nanti sejak tadi pun tak kunjung datang. Ia sudah hampir menyerah ketika Paman yang tinggal dekat dengan rumahnya menyeru kencang dari dalam kereta, “Ya ampun, anak Tuan Kim! Cepat naik! Keretanya sebentar lagi akan berangkat!” namun hati kecilnya masih berkata untuk tinggal di sini, menunggu dia untuk sebentar lagi. “Tidak usah, Tuan Song! Aku masih menunggu seseorang.”

“Siapa lagi yang kau tunggu!? Sunghoon? Dia dan keluarganya akan tetap di sini sampai mereka mati!”

Bertepatan dengan itu, kereta api pun mulai bergerak perlahan dengan suaranya yang memekakkan telinga. Satu pesan untuk, “Jaga dirimu baik-baik!” Sunoo terima dengan senyum kecil yang ia usahakan dengan keras, namun hanya bertahan sebentar karena setelah kereta menghilang dari pandangan, ia bak kehilangan pegangan.

Di stasiun yang hanya ada

Ku seorang

Tubuhnya terasa lemas sampai tak kuat lagi untuk mengangkat kepala, mencari-cari batang hidungnya yang mungkin saja ia temukan jika ia melihat dengan teliti. Rematan di lutut yang ia lakukan pun percuma, karena tak dapat mengusir kecewa di hati perihal kedatangannya yang kini ia tahu, takkan pernah hadir.

Dengan pedih gugur di sela ranting

Sosok keegoisan di dirimu

Sunoo tahu. Ia tahu dengan pasti bahwa Sunghoon tidak akan pernah datang ke sini untuk pergi menyelamatkan diri, dari serangan misil-misil udara yang akan dijatuhkan di atap-atap rumah mereka di kemudian hari, sebab ego pemuda itu terlalu besar, sebesar batu yang dipercaya oleh penduduk sekitar sebagai tempat bersemayamnya Dewa Kesuburan.

“Apa, kau bilang?” Sunoo tidak percaya akan apa yang keluar dari bibir Sunghoon disaat pemuda itu mengatakan bahwa dia akan bergabung ke dalam pasukan relawan angkatan laut dalam rangka memperkuat militer yang tinggal sedikit itu.

“Kau itu juga masih anak-anak Park Sunghoon!”

Bukan sekali dua kali, rumah mereka digempur oleh bahan-bahan peledak yang dijatuhkan dari atas langit oleh musuh negara. Bukan sekali.

“Dan anak-anak tidak seharusnya turun ke medan tempur!”

“Lalu siapa yang akan melindungi kita!?”

Ayahnya. Ayah Sunoo tergabung ke dalam angkatan militer yang beroperasi di laut, bermil-mil jauhnya dari rumah demi menghalau agar misil-misil itu tidak jatuh ke atap rumah-rumah mereka, tapi tetap saja, Tuhan tidak berpihak padanya kala itu.

“Tanah kita! Rumah kita! Tempat tinggal kita!? Aku tidak bisa diam menyaksikan tempat tinggal kita dibumihanguskan begitu saja oleh para bajingan itu!”

Tapi tak ada gunanya juga untuk melawan, sebab angin perubahan tidak mengarah ke mereka. Apa yang harus dipertahankan dadi negeri yang sebentar lagi hancur? Mereka seharusnya menyerah, daripada melakukan perlawanan yang sia-sia hanya demi harga diri yang bodoh itu. Tidak ada gunanya mengorbankan semua yang kau punya hanya untuk mati. Andai Sunoo memiliki waktu yang lebih banyak untuk membincangkan semua itu dengan Sunghoon, pasti akhirnya tak akan begini. Padahal usia Sunghoon lebih tua daripadanya, tapi pemuda itu kerap kali tidak mengerti pada alasan yang tidak dijelaskan secara merinci. Kini, saat kakinya melangkah masuk, menaiki kereta yang selanjutnya datang, Sunoo hanya bisa berharap bahwa angin perubahan yang bertiup ke arah Barat itu masih sudi untuk menyisakan beberapa butiran debunya untuk ia jaga, tapi lagi-lagi kenyataan tidak berpihak padanya ketika Sunoo, dengan napasnya yang masih tersengal sehabis berlari itu dihadapkan pada tubuh Park Sunghoon yang masih utuh di Rumah Sakit Daerah terdekat dari pengungsiannya kini. Tubuh Sunghoon bolehlah itu, tapi keadaannya begitu memprihatinkan sampai-sampai Sunoo bingung ingin menangis atau marah. Menangis karena perban itu membalut tubuh Sunghoon seluruhnya, dan hanya menyisakan mulut serta hidung yang sedikit terbuka untuk mengais udara, serta marah karena tidak ada pengobatan apapun yang diberikan padanya. Sunhoon hanya digeletakkan begitu saja pada bangsal tanpa kasur sementara petugas kesehatan yang lain sibuk memberi mengobati pasien-pasien yang lain.

“Biarkan saja.”

Seseorang yang berkata dari arah belakang tubuhnya itu sukses menyulut amarah Sunoo yang yang mulai timbul, dan seperti minyak yang disiram api, ia langsung menghardik seseorang yang berpakaian putih ala petugas kesehatan itu dengan, “Bagaimana bisa dibiarkan begitu saja!? Apa tidak ada yang bisa dilakukan untuk menolongnya!? Hei! Kau mendengarku? Lakukan sesuatu, kumohon. Lakukan sesuatu ... Pasti ada yang bisa dilakukan kan? Kan!?”

“Sunoo.”

Sebuah suara memanggil namanya lembut. Sunoo pun menoleh dan melihat salah satu tetua dari desanya ternyata masih selamat. Ia pun mengarah ke pria paruh baya itu sambil memelas, “Paman. Paman, tolong Sunghoon, Paman. Tolong Sunghoon. Dia pasti masih bisa diselamatkan, kan?” agar Sunghoon diberikan sesuatu apapun itu untuk menyambung nyawanya yang masih ada di sini, tapi tutur kata lembut dengan suara kecil berkabung duka adalah apa yang Sunoo dapat selanjutnya.

“Dia sudah tidak tertolong. Luka bakarnya parah karena dia terkepung di dalam bungker. Aku tahu ini sulit untukmu, tapi biarkan saja, karena cepat atau lambat Sunghoon pasti akan pergi, menyusul Ayah serta Ibunya.”

Tidak mungkin.

“Relakan dia, Sunoo. Dia sudah cukup berjuang.”

Tidak mungkin Sunoo hanya berdiri di sini dan melihat Sunghoon menunggu ajal menjemput. Ia tidak bisa, ia tidak kuat, dan ia tidak tega. Maka tanpa begitu ia sadari, larinya sudah membawa ia jauh dari Sunghoon untuk mengeluarkan segala kecewa dalam bentuk teriakan amarah, sebelum kakinya tidak bisa lagi menopang berat tubuh karena duka yang begitu mendalam. Temannya, teman dan kerabat yang satu-satunya miliki sebentar lagi akan pergi dan ia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali ikut membantu menguburkan jasadnya di keesokan hari. Park Sunghoon meninggal enam jam kemudian di saat Sunoo sedang termenung di antara riuh keramaian pembagian jatah makan malam.

End.


Terimakasih sudah membaca^^

Informasi tambahan:

Ide dari cerita ini aku ambil dari film Hotaru no Haka a.k.a Grave of the Fireflies juga Hacksaw Ridge, dan lagu 48 Group Kareha no Station a.k.a Stasiun Daun Kering.

Jadi ya, begitu.

Sampai bertemu lagi jika bertemu ☺️

Ham Wonjin x Koo Jungmo

Fluff yang aneh


Jungmo sedang dalam perjalanan pulangnya ke rumah sehabis membeli sepuluh tusuk sate ketika ada suara motor yang mendekat kemudian berhenti tak jauh darinya. Saat si pengendara itu membuka helmnya, Jungmo bertanya-tanya dalam hati atas apa niat kedatangan Wonjin ke sini, tapi pemuda yang lebih muda darinya itu cepat menyuruh, “Naik,” yang ia jawab dengan, “Mau ke mana?”

“Naik aja udah, buru,” seru Wonjin lalu memakai helmnya kembali. Tidak mempunyai alasan untuk menolak, maka Jungmo pun naik ke boncengan belakang setelah balas menyeru, “Padahal gw baru mau makan,” dan VROOOM, Wonjin langsung menjalankan motornya tiba-tiba, yang membuat Jungmo hampir terjungkal kalau-kalau refleksnya tidak bagus. “Sialan.”

Setelah setengah jam lebih berkendara, Wonjin menghentikan motornya di bawah tempat duduk bundar yang tengahnya ditumbuhi pohon cukup besar. Di sana ia berkata, bahwa Jungmo bisa menikmati satenya selagi ia membakar selinting nikotin sebagai pelampiasan rasa buruknya, lalu bercerita tentang seberapa tidak bernilai hidupnya saat ini. Ia juga meminta maaf atas segala dukungan dari Jungmo yang sampai sekarang belum membuahkan apa-apa.

Malam itu mereka habiskan untuk berbicara, tentang segala hal yang menjadi gundah sampai kata-kata klise bahwa semuanya akan baik-baik saja yang terdengar begitu memiliki arti di saat seperti ini. Dengan ditemani rokok dan sate, bukannya stroberi, mereka terus berbincang hingga larut malam, hingga Mamang mamang nasi goreng menyudahi jam operasionalnya dan lewat di depan mereka sambil melemparkan senyum permisi, baru Wonjin mengantar Jungmo kembali pulang.

Saat sudah sampai di depan gerbang rumah, Wonjin pun mengucap, “Makasih udah nemenin ya,” yang dibalas Jungmo dengan senyum kecil juga, “Sama-sama.”

Ada hening dengan suasana yang aneh ketika matanya masih saja beradu pandang dengan mata Wonjin yang kali ini terlihat lebih teduh, beda dari hari biasanya, tapi toh, mungkin itu efek dia yang terkena pantulan lampu temaram pinggir jalan bersamaan dengan hati Jungmo yang tiba-tiba terasa enggan untuk meninggalkan. Oleh karena itu, Jungmo kembali mendekatkan diri ke arah si pengendara yang berada di atas motor, masih memperhatikan setiap geriknya dengan baik, kemudian mengikuti gerakannya yang menutup mata di saat kedua bibir menutup jaraknya secara perlahan sebelum bertemu dalam kontak yang tipis. Merasa belum cukup, Jungmo kemudian mengecup lembut. Selanjutnya, melepas sebentar untuk melihat mata Wonjin yang kini terfokus pada bibirnya sebelum mencumbu lagi,

lagi,

dan lagi,

sampai satu cumbuan terakhir sengaja ia panjangkan untuk menyesap rasa sebelum tiap kecupan kecil yang terjadi selanjutnya berubah menjadi cium. Ciuman ala Perancis yang sukses membuat kupu-kupu di dalam perutnya terbang bebas, melayangkan sejuta rasa yang membuat tubuh ini jadi tidak ada massanya. Ha–ah, jantungnya terasa berat dengan cara yang sakit saat mengetahui bahwa kegiatan mereka tidak bisa berlangsung lama. Selurus garis saliva kemudian Jungmo untai supaya ia bisa mengecup bibir itu lagi dengan dalih cumbuan terakhir sebelum Wonjin pamit, dan bersamaan dengan mesin motor yang dinyalakan, ia mengucap, “Hati-hati,” tapi saat motor itu sudah menghilang dari jarak pandang, Jungmo baru teringat bahwa ia belum mengucapkan terima kasih karena sudah diantar pulang. Jadilah ia mengucapkannya lewat pesan, yang dibalas Wonjin keesokan hari dengan,

Hah? Gw semalem ga ke mana-mana, sibuk maen PS

Received 8.24 a.m

Jungmo lalu menuduh bahwa Wonjin yang berbohong atau pura-pura lupa, karena pria itu terhitung lumayan sering mengerjainya, tapi Wonjin tetap kekeuh dengan argumennya yang mengatakan bahwa semalaman, ia terus berada di rumah, dan berkata bahwa Jungmo boleh berbicara dengan ibunya jika tidak percaya. Tanpa sempat membalas pesan itu lebih lanjut, Jungmo sudah kembali disibukkan dengan, “Mo, ke ruang konferensi buat siapin rapat,” panggilan itu, karena ini adalah awal bulan November dimana semua projek kerja harus kembali diberi arahan kembali agar tidak melenceng dari rencana utama yang sudah dibuat di awal tahun.

“Seperti yang sudah kita duga, penjualan bulan lalu menggunakan tema Halloween, berhasil meningkat 30% dari target kita yang biasa,” dan seterusnya ia jelaskan sambil merasakan kejanggalan yang ia tidak tahu itu apa, sampai rapat selesai, dan sampai pada jam makan siang dimana ia juga beberapa rekan kerja, menghabiskan waktu itu bersama sambil berbincang-bincang tentang,

“Waktu kemarin aku supervisi ke salah satu toko, itu penuuuh banget sama orang. Kebanyakan anak-anak kecil yang pakai baju kostum, lucu.”

“Kalau tetanggaku ya, dia sampai gelar pesta.”

“Oh ya? Seru dong.”

“Ya iya, dia yang seru. Aku keganggu, karena pestanya itu sampai malem banget. Hadeeuh.”

Di antara serunya obrolan tentang hari kemarin, Jungmo diam saja sambil menyimak, karena mulutnya juga sibuk mengunyah, sampai sebuah pertanyaan yang ditujukan untuknya, membuat Jungmo terdiam.

“Jungmo kemarin ke mana aja?”

Kemarin, ia menghabiskan malam dengan Wonjin, tapi, “Kemarin itu,” masih membuat Jungmo gagal paham sebab,

“Malam Halloween,” tandas seorang rekan kerja yang duduk di seberangnya, membuat Jungmo berpikir tentang, apa iya,

“Kamu lupa, Mo?” sambung seorang rekan senior yang duduk di sampingnya.

... ia mengalami kejadian supranatural?

End.

Drama yang ditayangkan di acara

Berita televisi yang sudah diatur,

adalah makanan sehari-hari yang,

seperti emoticon saja.

Heeseung mematikan televisi yang menampilkannya acara berita pagi di saat ibunya terheran-heran dengan, “Kok dimatiin?”

Karena itu semua hanya omong kosong, tidak mungkin kan ia berkata itu kepada sang Ibu. Walau pada dasarnya, apa yang ia nyatakan adalah benar. Tidak ada yang perlu disaksikan dari rancangan sedemikian rupa, lakon yang diatur demi nama baik semata, karena mereka tidak benar-benar peduli.

Orang dewasa dengan muka sok tahu

Berlagak serius membahas masalah

Analisisnya yang tak tepat sasaran,

seperti lawakan yang tak lucu.

“Kalau begitu, siapa yang memiliki tanggung jawab lebih besar di sini. Apakah pihak sekolah? Atau keluarga?”

Kan, pada akhirnya mereka akan saling melempar batu, dan menyembunyikan tangan dari kemunafikan dengan topeng pertolongan.

“Semuanya mengambil peran yang sama besar dalam tumbuh kembang seorang anak. Pihak sekolah, seharusnya lebih memerhatikan lagi,”

Menyambar jas yang disampirkan pada punggung kursi saat ia mengambil jam tangan di kamar tadi, Heeseung pun lekas memakai sepatu kemudian menerima bekal yang ibunya berikan sebelum beranjak ke sekolah.

“Hati-hati di jalan,” adalah pesan sang Ibu, yang Heeseung dengar setiap pagi, dan selalu hanya ia balas dengan anggukan yang diiringi senyum kecil. Entah ia harus menyebut dirinya beruntung atau tidak karena masih mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari kedua orang tua di umurnya yang ke-38 tahun ini. Kakak laki-lakinya sudah menikah dan tinggal di rumah sendiri, dan mau tak mau, Heeseung yang masih harus di sini. Ia pernah menyuarakan wacana untuk tinggal seorang diri, dan langsung ditolak oleh ibunya dalam sepersekian detik yang singkat. Yah, mari anggap itu sebagai sebuah syukur agar tak perlu repot-repot mengurus perihal gizi.

Penggolongan hanya berdasarkan nilai,

yang menentukan masa depan.

Heeseung beruntung ia selalu berangkat lebih pagi, jadi tidak perlu menjumpai turunnya rintik gerimis yang membuat badan jadi kibas sana-sini. Ia tertawa kecil melihat beberapa siswanya menggerutu akibat hujan yang datang terlalu dini, dan sambil mengambil absen, ia juga membagikan hasil ulangan minggu lalu.

“Kim Yukyoung.”

“Saya.”

“Han Sohee.”

“Saya, Pak.”

“Im Bokjun.”

“Hadir.”

“Lee Youngbok.”

Seorang siswa dengan raut muka datar serta seragam yang kusut, bangkit perlahan dari duduknya kemudian menghampiri, dan saat menyerahkan secarik kecil kertas yang berisi nilai itu, Heeseung juga memberi pesan kepadanya. “Youngbok, belajar lebih giat lagi ya? Bapak yakin, kamu pasti bisa.”

Nilai siswa itu sudah berada jauh di luar garis aman, Heeseung sudah pernah merekomendasikan beberapa kelas tambahan, tapi siswa itu tidak pernah datang. Jadi, Heeseung tidak begitu mengambil hati saat balasan yang ia dapat bukanlah anggukan yang diiringi niat untuk berusaha keras, melainkan,

Sebuah dengusan kecil yang menandakan bahwa anak itu tidak percaya dengan kalimat manisnya.

Heeseung juga tidak bisa apa-apa, karena menjadi bagian dalam masyarakat, berarti mengikuti ke mana kerumunan itu mengarah dan bagaimana ia harus bersikap.

“Lee Youngbok, kamu boleh cerita ke Bapak, kalau kamu ada masalah,” adalah apa yang Heeseung's tawarkan sebelum siswa itu benar-benar kembali ke kursi, dan walaupun sudah ia ucap dengan nada terkecil, heningnya suasana pagi membuat suaranya beresonansi.

“Engga perlu. Saya ga perlu cerita ke Bapak kalau pada akhirnya saya akan berakhir seperti Mina.”

Bisik-bisik mulai terjadi setelah itu yang menghasilkan aura kelam. Yoo Mina adalah siswanya, dan juga kesalahannya. Masih Heeseung ingat dengan jelas ketika siswi berparas cantik itu menemuinya untuk menceritakan masalahnya. Masalah yang seharusnya bisa ia tangani dengan baik, dan bukannya malah ia lemparkan kepada orang lain begitu saja.

“Saya, saya takut, Pak, tapi dia terus maksa. Saya takut, tapi dia, dia,”

Kelanjutannya tidak ingin Heeseung ingat dengan jelas, tapi suara Yoo Mina yang merintih ketakutan dan juga tubuhnya yang gemetar saat menceritakannya seakan menanam kutukan pada jiwa yang akan ia bawa ke liang lahat nanti.

Sudah,

usaha keras pun, tak bisa mengubah apapun,

dan ketidakadilan, sudah kita sadari,

sejak dahulu.

“Nyonya Im Yoomin, kami minta kooperasi anda dalam-”

Sudah ada ribut-ribut di dalam ruang guru ketika Heeseung menapakkan kakinya di sana seusai mengajar ketika bel istirahat baru saja berbunyi beberapa menit yang lalu.

“Apa lagi? Bukankah aku sudah memberitahu kalian apa yang aku tahu? Mina itu,”

Terlihat dua orang petugas polisi yang sedang beradu mulut dengan wanita sepuh yang sudah mengabdi di sekolah ini, jauh, sebelum Heeseung datang sebagai guru bimbingan konseling.

“Ibu bisa menjelaskan itu di kantor polisi nanti. Jadi,”

Proses pergantian kepemimpinan,

membuat petinggi menangis.

... akhir dari konversasi itu adalah ricuh, sebelum kedua petugas mengamankan si wanita untuk selanjutnya dibawa ke tempat mereka bekerja. Heeseung langsung saja menjatuhkan berkas yang ia bawa di meja sebelum menarik kursinya untuk duduk. Menenangkan diri sambil menghirup-hela napas beberapa kali sebelum menata berkas yang berantakan itu ke samping di saat,

“Pa Heeseung.”

... ada yang memanggilnya. Ia lalu menoleh ke arah si pemanggil, untuk selanjutnya,

“Bisa tolong buka jendelanya sedikit? Biar udaranya masuk.”

... melaksanakan perintah itu, karena posisi mejanya paling dekat dengan jendela.

“Mina, Bapak tahu ini berat buat kamu, tapi Bapak ga mempunyai kuasa untuk menindaklanjuti kasus ini lebih lanjut. Jadi, yang bisa Bapak sarankan adalah, untuk kamu menceritakan ini ke Guru BK.”

“Tapi, Pak. Saya ga mau. Saya,”

“Kamu dan Bu Yoomin kan sama-sama perempuan. Jadi,”

... kenapa ia menyuruh Mina untuk menemui Im Yoomin seorang diri? Harusnya ia ada untuk mendampingi, memberikan dukungan batin kepada siswanya yang tengah berjuang untuk menguak tindak kebejatan siswa lain. Seharusnya ia ada di sana, menjaga Mina dari apapun itu yang ada di sana pada saat itu yang membuat Mina lebih memilih untuk mengakhiri diri.

Kalau saja ia tidak menganggap hal itu bukanlah urusannya, Mina mungkin saja berada di sini, memperhatikan pelajarannya dengan baik seperti dia.

Dia yang sudah tidak pernah Heeseung dengar lagi kabarnya.

Rasa sayang yang dulu aku remehkan

Dia yang memberikan sebuah buku sketsa penuh dengan gambaran. Dari mulai rusa, apel, labu, bahkan sampai lebah, dan juga wajahnya.

Sekarang ku sangat menginginkannya

Ku tidak ingin terus hidup kesepian

“Pa Heeseung.”

Bukan si Ibu Guru penyuruh buka jendela, tapi kali ini siswa, yang memanggilnya, menyadarkan Heeseung dari lamunan biru yang jujur, tidak ada penting-pentingnya jika diingat. Menoleh ke samping, ia menemukan seorang siswa dengan senyuman cerah di sana. Membalasnya juga dengan senyum, Heeseung lalu bertanya, “Ada apa?”

“Bapak sibuk ga, akhir pekan ini?”

“Kayaknya engga, kenapa emangnya?” katanya sambil membolak-balik kalender untuk memastikan bahwa ia benar-benar kosong minggu ini di saat sang siswa menjelaskan, “Ikut saya dan anak-anak seni yang lain ke pameran yuk, Pak.”

Heeseung lalu menerima secarik pamflet dari acara yang dimaksud.

“Pamerannya cuma buka sampai minggu ini aja, dan kebetulan kita lagi butuh referensi. Jadi,”

“Kamu butuh saya untuk menjamin kegiatan malam kamu?”

Seorang siswa tidak boleh keluyuran di malam hari tanpa izin yang pasti, apalagi acara ini membutuhkan reservasi dengan kartu identitas legal. Di saat sang siswa tertawa, Heeseung menahan diri untuk tidak geleng kepala, sambil membatin tentang kenapa anak muda suka sekali pergi ke sana ke mari di saat waktunya sendiri bisa mereka gunakan untuk beristirahat.

“Yang nyelenggarain acaranya, bukan saya lho, Pak, tapi dari pihak promotornya emang begitu. Jadi, ya? Ya? Ya, ayo temenin ya, Pak?”

Menggoda anak muda memang menyenangkan, tapi juga menyebalkan karena pasti yang mereka andalkan adalah rengekan. Haah, seharusnya ia langsung menyetujui ini saja sedari tadi.

“Nanti akan saya buatkan suratnya, kamu perbanyak, dan bagikan ke teman-teman.”

Siswa itu berseru girang sebelum memeluk Heeseung erat walau cuma sebentar, dan dengan kilau matanya yang berbinar, ia berkata, “Makasih, Pak. Bapak baik banget.”

“Tapi ga boleh ada yang telat,” ia mengajukan syarat, karena sungguh, menunggu itu membosankan,

“Baik!”

... sampai seringkali membuatnya memeluk diri sendiri, karena tak bisa menghalau rasa sepi.

Sebuah AU dimana Wonjin dan Heeseung adalah teman sedari kecil. Walau terlahir di dunia yang berbeda, tidak menjadi penghalang untuk mereka bisa hidup rukun bersama.

Wonjin, si Manusia adalah anak yang kelewat aktif sementara Heeseung, si Penghuni Malam adalah anak yang begitu pemalu dan susah beradaptasi, dan selalu saja terbawa oleh arus yang Wonjin pimpin.

Pernah suatu hari, ketika tubuh Heeseung lemah karena belum menghisap darah, bocah dari keluarga Ham itu langsung saja menyumpal mulut Heeseung kecil dengan lengannya yang penuh daki, efek belum mandi.

“Gigit, Heeseung. Gigit!” hardiknya sambil terus memaksakan seluruh lengannya masuk ke dalam mulut Heeseung, tidak memedulikan muka Heeseung yang pucat akibat jalan oksigennya terhambat.

“Hu'ungg ungg.” Heeseung meronta tidak mau, dan si bocah Ham malah semakin memaksa sampai mereka berdua jatuh di tanah dan Heeseung tidak lagi kuasa menahan tangis. Ia tidak mau mengikuti perintah Wonjin karena itu bisa berakibat fatal, dan demi Tuhan! Ia belum menerima pelajaran bagaimana cara menggigit yang baik dan benar dari Mamah dan Papahnya, tapi kenapa bocah ini persisten sekali!?

Untungnya, kedua anak kecil yang sedang bergelut itu dapat dipisahkan ketika ibu mereka datang. Kedua ibu langsung saja meminta maaf atas kelakuan anaknya masing-masing, dan hari itu pun berakhir.

Heeseung masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana setiap sikap persistensi Wonjin yang seringkali membuatnya kewalahan, dan berapa kali juga sikap ceria itu menyelamatkan hari-hari kelamnya, tapi, walaupun telah tumbuh menjadi pribadi yang baik serta banyak disukai orang, tak serta merta harus membuat Wonjin mendapatkan atensi dari orang itu juga kan?

Pada pemandangan dua siswa dengan seragam yang kontras berbeda di bawah sana, Heeseung hanya dapat berharap yang baik-baik saja, karena jauh di dalam lubuk hatinya, ia pun tahu, bahwa tidak ada hal baik yang akan datang dari menjalin hubungan dengan Penghuni Malam. Termasuk dia,

ah! Dia melihat ke sini dan melambaikan tangan, seorang manusia yang pernah Heeseung tolong entah kapan tempo lalu itu. Dia memiliki senyum yang cerah, namun dengan resonansi yang berbeda seperti yang Wonjin punya. Entah sudah berapa kali Heeseung mendapati pemuda itu berusaha untuk bisa menyapanya, namun ia hiraukan begitu saja. Sama seperti apa yang orang-orang tua bilang, tidak ada hal baik yang akan terjadi jika berhubungan lebih jauh dengan manusia.

Lee Heeseung bagi Nishimura Riki adalah jingga. Riki juga tidak mengerti kenapa itu bisa terjadi, tapi satu yang ia ketahui secara pasti adalah, dunia yang tadinya monoton dengan segala kroma tunggalnya seketika berubah menjadi jingga. Jingga dengan banyak sekali variasi kromanya yang membuat hidup Riki lebih berwarna.

Awal kali bertemu, Lee Heeseung yang saat itu berjalan melewati koridor di saat Riki sedang memakai sepatu, hendak pulang ke rumah, berwarna seperti jingganya mentari yang sedang terbenam, meninggalkan bumi ke peraduan. Di saat itu, Riki tidak tahu bahwa Heeseung adalah guru baru yang akan diperkenalkan keesokan harinya, menggantikan Guru Park, si pengampu mata pelajaran matematika, yang tengah mengambil cuti untuk melahirkan.

Mungkin awal dari titik baliknya di situ, karena seiring dengan bergantinya hari, Riki jadi terus memperhatikan, disengaja maupun tidak.

Lee Heeseung akan terlihat seperti Cervus Elaphus yang memiliki dua belas tanduk ketika mengajar, karena pesona yang menguar dari tubuh itu adalah anggun dan gagah di saat yang bersamaan. Dia juga kadang terlihat seperti cider, yaitu minuman dari sari apel yang terlihat manis dan menyegarkan saat menghadapi para siswa yang butuh penjelasan tambahan di luar kelas, membuat Riki jadi ingin meneguk barang setetes dari sarinya saat melihat Lee Heeseung dengan penuh kasihnya, mengayomi para siswa yang membutuhkan bantuan. Riki tidak pernah mendekat karena ia merasa tidak perlu dibantu, tapi saat dimana Lee Heeseung memergokinya beserta kawanannya sedang melakukan perbuatan buruk yang seharusnya tidak dilakukan oleh siswa dengan statusnya yang masih sebagai pelajar aktif, di saat itu juga Riki melihat Heeseung bagaikan sebongkah amber yang belum diolah. Teguh pada pendiriannya dan tidak mau mengalah, terbukti dari Heeseung yang tidak menyerah begitu saja padanya beserta kawan-kawannya.

Hari setelah dimana ia tertangkap basah melakukan perbuatan yang apa orang sebut dengan, 'kenakalan remaja.' Heeseung jadi lebih sering memperhatikannya saat di kelas, Riki tahu, sebab mata itu tidak tertuju padanya sebelum-sebelum ini. Tahu bahwa ini adalah kesempatannya, Riki pun bertindak menyatakan rasa, tapi sayang, oleh Heeseung malah dianggap keisengan remaja semata.

Riki bingung harus berbuat apa agar Pa Guru yang satu itu percaya. Oleh karena itu pun, ia berkata, “Kalau Bapak dan saya bertemu di luar sekolah tanpa sengaja sebanyak tiga kali, itu artinya menandakan sesuatu.”

Sebuah mitos yang berasal dari kampung halamannya di Jepang sana, dan percaya tidak percaya, Riki sebenarnya sudah pernah menjumpai Heeseung di luar sekolah, tapi sayangnya pria yang satu itu tidak melihat. Tidak terhitung berapa banyaknya sampai membuat Riki frustasi sendiri. Heeseung tidak lagi melihat ke arahnya saat ia mendekat, tapi pria itu tetap memancarkan gemerlap yang menarik Riki mendekat, dan Riki tahu bahwa ia tersesat dalam halimun jingga yang Heeseung buat. Ingin melepas namun ia sendiri pun enggan, karena dengan terlepas, itu berarti tidak ada Heeseung lagi di saat Riki sendiri masih menyukai bara yang pria itu pancarkan.

Ketika Lee Heeseung memetik gitar di depan api unggun di malam rekreasi saat karya wisata sekolah, di saat itu juga Riki menemukan pandangnya tidak terlepas dari si guru matematika yang tengah bernyanyi sambil diiringi sahutan satu dua nada sumbang dari para siswanya. Riki juga menyukai bagaimana guru itu bersikap lembut tidak hanya ke siswa, tapi ke fauna juga. Walau binar takut terlihat jelas di matanya saat memberi makan sebuah kijang –yang berada di dalam kandang– dengan wortel juga beberapa sayuran lain yang memiliki tangkai panjang, Lee Heeseung tetap melakukannya dengan cara yang membuat orang-orang di sekitarnya tertawa, dan bagi Riki, kelembutan yang Heeseung berikan pada kijang tersebut bagaikan buah melon yang manis. Saat tengah mengunyah di jam makan siang pun, dia terlihat seperti labu yang paling matang di antara labu-labu lain yang belum merekahkan jingga, dan,

Ketika Lee Heeseung memanggilnya di saat Riki sendiri masih tertidur padahal jam pulang sudah berlalu lama, ia jadi ingin menggapaikan tangan ke wajah yang dipenuhi rasa kekhawatirn, tapi sayang, ia tidak bisa melakukan itu, karena selain bisa dianggap lancang, bukankah ia tidak memiliki alasan untuk bisa melakukan itu?

“Riki. Riki, bangun, Riki. Kamu mau tidur sampai Pa Satpam ke sini? Saya tahu kalau cara saya ngajar ngebosenin, tapi ga-”

“Gak.” Memutus kalimat itu secara tiba-tiba sambil mengangkat kepalanya dari meja, Riki tahu aksinya kala itu sukses mengangetkan Heeseung. Ia lalu melanjutkan, “Cara Bapak ngajar engga ngebosenin sama sekali, cuma emang, sayanya aja yang ga kuat sama matematika.” Ia lalu menutup mulut untuk menguap di saat Heeseung sendiri tersenyum geli dengan kelakuan sang murid sebelum berjalan kembali ke meja guru di depan. Riki yang kemudian memanggilnya pun hanya Heeseung jawab dengan deheman, sebelum,

“Soal janji,”

Janji itu disebut yang mengingatkan Heeseung akan pertemuannya dengan Riki secara tidak sengaja di luar sekolah yang sudah terjadi dua kali. Pertama, saat ia sedang membeli panci di toko swalayan, dan kedua, saat ia sedang menunggu sendiri di halte bis di saat hujan. Riki menawarinya jasa yang sering orang sebut dengan istilah, ojek payung, tapi Heeseung tolak dengan alasan bahwa ia masih ingin menunggu, yang pada dasarnya tidak benar karena Heeseung mulai membenci arti dari kata tunggu, karena ia sudah terlalu sering menunggu seseorang yang di akhir hari, ingkar pada janjinya sendiri.

“Saya, dan Bapak udah ketemu dua kali di luar sekolah, dan ga terhitung berapa kali banyaknya kita berpapasan di-” itu tidak bisa Riki lanjutkan, sebab Heeseung segera menyambar kalimatnya dengan, “Itu karena, saya dan kamu ada di lingkungan yang sama, Riki,” alasan yang sama sekali tidak bisa ia bantah. Menghela napas lelah, sepertinya memang benar kalau ia harus menyerah, karena Lee Heeseung tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan mempertimbangkan permintaannya, tapi selalu saja,

Ada hal-hal yang tidak bisa membuat Riki menyerah terhadapnya, dan hal ini termasuk ke dalam hal-hal itu yang tidak bisa Riki sebutkan semua.

Di saat Lee Heeseung sudah selesai membereskan semua keperluannya, dia kembali lagi ke sini, ke sisi samping meja Riki dan menempelkan telapak tangannya di dahi sang murid. Mengecek sedikit sebelum pada akhirnya berkata, “Badan kamu agak panas, sebaiknya langsung pulang dan istirahat. Jangan keluyuran ke mana-mana.”

Mata Lee Heeseung yang menatapnya saat itu, terlihat lembut seperti madu. Begitu banyak madu yang ditampung oleh pelupuknya sehingga,

“Ada tugas dari saya, dan kamu bisa tanya ke temen kamu, atau ke ketua kelas,” ucap Heeseung seraya membalikkan badan, dan “Saya duluan,” pergi dari sana.

Tolong katakan padanya bahwa raut itu tidak akan membuang madunya dengan sia-sia.

Satu, dua, tiga, empat, Riki hitung dengan pelan sampai jumlahnya menyentuh angka sebelas, baru ia beralih ke buku catatan saat suara Sunoo menegurnya hingga membuat pulpen di genggaman terjatuh. Mengambil pulpen tersebut dari lantai, Riki terpaku saat hendak menuliskan jumlah roti yang sudah kadaluarsa yang tadi ia hitung. Berapa hitungannya tadi, tidak berhasil Riki ingat karena suara Sunoo sudah keburu menyentaknya kembali.

“Dari tadi kenapa bengong sih!? Ngitungnya yang bener dong. Kalo nanti salah kan, aku juga yang bakal kena omel Kakek, kamu engga.”

“Iya, iya ah. Bawel.”

Respon dari Sunoo yang Riki dapati setelah itu adalah desisan tajam sebelum pemuda yang merupakan teman satu sekolahnya itu beranjak menuju ruang penyimpanan di belakang, untuk mengambil barang-barang yang selanjutnya akan dipajang.

Setelah Sunoon benar-benar hilang dibalik pintu ruang penyimpanan, Riki pun mengacak rambut dan jadi menjatuhkan wajahnya ke meja kasir dengan kedua tangan sebagai alasnya. Sudah begitu, ia lalu mengusap wajah, kasar, dan jadi rungsing sendiri. Sudah terhitung satu tahun lebih ia giat mendekati sang guru matematika yang kini juga menjadi wali kelasnya di kelas 3-4, tapi Riki belum juga menemukan satu pun petunjuk bahwa Heeseung benar, dan niat hendak membalas perasaannya atau tidak, karena guru yang satu itu pandai sekali bersikap biasa, dan menyamarkan afeksi menjadi tugas yang perlu dieksekusi. Haah, sebentar lagi akan diadakan simulasi ujian akhir, dan itu berarti, tinggal empat bulan, sisa waktu yang ia miliki untuk meyakini Heeseung bahwa ia benar, dan sungguh, memiliki perasaan yang serius kepada pria yang satu itu.

Riki tidak tahu apa yang membuat Lee Heeseung ragu selain karena statusnya yang seorang pengajar, dan ia yang masih seorang murid. Itu bisa diatasi setelah Riki lulus nanti, tapi yang jelas, Lee Heeseung juga tidak menunjukkan ketertarikannya terhadap wacana yang satu itu, dan itu lah yang sering membuat Riki rungsing akhir-akhir ini selain karena disibukkan oleh persiapan ujian akhir yang membuat kepalanya serasa mau meledak.

Kling!

“Selamat da-”

Riki kaku, dan ucapannya melayang begitu saja ke udara tanpa sempat dilafalkan terlebih dulu saat melihat,

“Pa Heeseung!”

Ia menghela napas lega saat datangnya Sunoo berhasil memecah kecanggungan yang sempat terjadi, tadi.

Lee Heeseung dengan pakaian yang masih dipakainya tadi saat mengajar, tersenyum kecil ke arah Sunoo, dan Riki tahu bahwa saat mengarah kepadanya, pria itu sedikit memaksa.

“Pa Heeseung kok bisa di sini? Rumah bapak bukan di daerah sini, bukannya?”

Sunoo dan segala sikap ala badan intelegensinya itu yang –seakan-akan– mengetahui segala hal yang Riki anggap remeh, sebelum hari ini. Ia pun memasang pengingat di dalam hati untuk menanyakan perihal rumah Pa Heeseung kepada Sunoo nanti. Untuk sekarang, mari dengarkan obrolan diantara murid yang disayang oleh seluruh guru di sekolah dengan guru pengampu mapel matematika terfavorit ini.

“Iya, Sunoo. Ini lagi abis dari rumah temen aja, terus liat konbini ini dan mutusin buat mampir sebentar.”

Sunoo dan Pa Heeseung bertukar raut wajah senang sebentar sebelum cucu dari pemilik konbini ini menemani sang guru dalam hal memilih apa yang ingin dibeli. Sunoo merekomendasikan banyak hal yang berujung membuat Heeseung kerepotan, dan Riki di meja kasir sini tertawa geli, karena Sunoo dan sikap persistensi yang dia miliki memang tidak bisa membuat orang lain menolak apa yang ia katakan, dan Riki tahu, Heeseung pasti tidak berniat untuk membeli barang yang muat ditampung sekantung plastik besar begini. Ia menahan tawa geli saat sedang memindai harga barang sementara Sunoo sendiri masih sibuk menanyakan ini dan itu ke Pa Guru.

“Bapak, apa ga ada kisi-kisi gitu buat simulasi yang ke-dua? Nilai saya anjlok banget di simulasi yang pertama.”

“Kisi-kisinya kan sudah diberikan oleh sekolah, yang buku pemantapan materi itu. Nilai kamu anjlok, gara-gara gugup aja, mungkin.”

Di saat Sunoo mengoceh tanpa henti dengan segala kesusahan yang ia miliki untuk menghadapi ujian, Riki di sini memanggil kecil untuk menyerahkan kembalian. Tangan mereka bersentuhan di saat uang kembalian bertukar kepemilikan, dan Riki menyadari bahwa ada karat yang Heeseung sembunyikan, terbuka dan dapat dilihat jelas walau itu hanya sementara sebelum Heeseung kembali memasang wajah baik-baik-nya lagi.

“Kalau begitu, saya duluan. Jangan kerja sampai larut malam, perhatikan juga kesehatan. Permisi.”

“Iya. Bapak hati-hati juga di jalan. Daah, Pa Heeseung!” Ketika Sunoo menyerukan itu, Riki di sini hanya bisa menerka-nerka, tentang, apa ada kaitannya, sepak bir yang Heeseung beli, berisikan enam kaleng, dengan raut wajah berkaratnya yang mirip dengan pagar tua dari rumah yang tidak dihuni, itu, dan Riki hanya bisa mengharapkan bahwa kaleng-kaleng bir itu dibeli untuk persediaan, atau konsumsi orang serumah.

Bersambung...

Heeseung mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ketika menyadari ada ketukan seiring dengan pintu yang membuka. Ia pun tersenyum pada si penjenguk ke-dua yang ternyata adalah Jungwon. Jungwon masih mengenakan baju kerja, sama sepertinya yang belum berganti pakaian, hanya saja minus jas. Pekerjaan Jungwon sebagai Direktur perintis perusahaan yang baru dibuka memang mengharuskannya untuk tampil rapi yang casual.

“Hei, Kak.”

“Hei,” juga, balas Heeseung. Ia menerima bungkusan yang Jungwon berikan kemudian menatanya di meja.

“Seonhee gimana keadaannya?”

“Baik, tadi kata suster, buang-buang air besarnya udah berhenti, cuma masih harus pemulihan dulu kehilangan cukup banyak cairan. Terus juga, dianjurin makan sayur dan buah yang banyak airnya. Agak susah juga karena Seonhee ga doyan sayur.”

Heeseung tidak mengerti, bagian mana dari kalimatnya yang terdengar lucu sampai-sampai bisa membuat Jungwon tertawa. Ketika ia bertanya kenapa lewat tatap, Jungwon membalasnya dengan gelengan kepala, dan juga, “Kamu kayak orang tuanya, Kak.”

Heeseung mendengus geli mendengarnya, kemudian, “Ini belum seberapa, kamu harus lihat sendiri kalau Sunoo udah bersabda.”

“Oh ya? Eh, omong-omong, itu aku bawa pir.”

Mengangguk untuk itu, Heeseung lalu memberitahu bahwa, “Jay nanti juga dateng, mungkin sorean,” yang seketika langsung membuat Jungwon mawas diri.

“Kamu mau nungguin dia dulu, atau kita bisa langsung pergi?”

“Nungguin dulu, Won. Kasihan udah jauh-jauh, masa dia ga ketemu satu pun dari kita.”

Apa yang dibilang Heeseung benar, tapi, “Kalau gitu,” Jungwon akan mengatakan ini sekarang, karena ia tidak mau keduluan, sebab saingannya besar-besar, dalam artian kapabilitas.

“Aku mau ngomong sesuatu,” ucapnya, menyambung yang tadi sempat dijeda.

“Apa?” tanya Heeseung pada saat mereka berdua sudah saling berhadapan, dan meskipun tinggi Jungwon tidak bisa melampauinya di usia yang tidak lagi belia, ada sesuatu dari pemuda itu yang Heeseung rasa, sudah berada di posisi yang lebih jauh darinya, sejak dulu. Kekuatan dan kekukuhan hatinya memang sudah terpancar, beda, sejak dahulu, Heeseung menyadari itu, tapi kenapa Yang Jungwon tumbuh menjadi pria yang agaknya tidak ia kenal? Kekonsistensian serta optimisme pemuda itu membuat Jungwon melesat, maju lebih jauh ke tempat yang tidak bisa Heeseung gapai, tapi,

“Aku ingin menjalin hubungan yang lebih serius, bersama kamu.”

... kini. Jungwon mengatakan itu lurus, tanpa adanya goyah yang bisa Heeseung dapatkan dari nadanya berbicara. Mata itu juga bukanlah lagi mata yang mencari pengakuan dari usaha keras yang sudah dilakukan, melainkan mencari tujuan ke mana ia harus melangkah dengan segala kemampuan dan kapasitas yang dia miliki, Jungwon mencari tempat untuk dia bisa berpulang di kala lelah, di kala hujan mendera tubuhnya sampai kuyup, basah, dan Jungwon yang itu, sedang menujunya saat ini.

“Maksud, kamu, apa? Jungwon.” Umurnya memang tidak lagi muda. Maka dari itu, jika yang Jungwon cari adalah sebuah tempat peristirahatan untuk singgah barang sebentar, Heeseung tidak bisa, tapi apa yang Jungwon katakan selanjutnya adalah kebalikan dari rasa takutnya. Pria itu melamar, memintanya untuk menjadi partner sehidup sampai nanti maut memisahkan dengan cara yang, Jungwon sekali, sampai membuat Heeseung bingung mau menangis atau tertawa bahagia, tapi ia tahu bahwa keberisikan bisa menggangu Seonhee yang sedang tertidur, jadi yang Heeseung lakukan sebagai balas untuk menjawab proposal Jungwon adalah dengan menganggukkan kepala, dan jelas air mata itu ada, mengalir deras menuruni pipi, yang sayangnya harus terhenti karena pintu yang menjeblak terbuka seketika.

Jay dengan wajahnya yang biasa saja sudah bisa membuat Heeseung tertawa, maka berakhirlah sudah momen syahdu penentuan jalan hidupnya kini. Heeseung memasang pengingat dalam diri untuk membahas hal ini lebih dalam dengan Jungwon nanti.

“Gue ga salah masuk kamar, kan? Ini kenapa hawanya pada serius, dah?”

Jungwon, menjadi Jungwon yang seperti biasa, tanggap mencari alasan dan jadi menjelaskan keadaan Seonhee saat ini kepada Jay di saat Heeseung sendiri pamit ke kamar mandi.

Atas penjelasan yang Jungwon berikan, Jay mengangguk, dan juga bertanya, “Itu Heeseung kenapa? Nangis. Gak lu, apa-apain kan, Won?”

Jungwon menggeleng, kemudian berdalih, “Matanya perih abis bikin laporan, terus kelilipan.”

Jay lalu meresponnya dengan, “Oh,” semata, dan baru kali ini Jungwon berterima kasih kepada sikap acuh yang orang lain miliki.

Begitu Heeseung sampai di pintu gerbang, Jungwon ada di sana, dengan wajahnya yang lelah, ia masih menyempatkan diri untuk tersenyum, senyuman yang sama yang Heeseung lihat setiap hari. Ia langsung membukakan, dan mereka beranjak menuju ke dapur setelahnya.

Saat tiba di sana, Heeseung mengabaikan satu kotak yogurt yang baru beberapa sendok ia suap, dan langsung memeluk Jungwon setelah pria itu meletakkan bungkusan plastik yang berisi teh di meja, tanpa berpikir panjang. Sebenarnya, bukan berpikir juga, melainkan, Heeseung memilih untuk mengabaikan pikiran rasionalnya yang mengatakan, jangan.

Dipeluk sebegitu eratnya dari belakang oleh Heeseung, membuat Jungwon lalu membalikkan badan, dan jadi menumpu setengah beban bobot tubuhnya pada meja di belakang, sebab hari sudah menguras seluruh tenaganya. Diam seperti itu, sambil mengusap kepala bagian belakang Heeseung serta membiarkan dia yang lebih tua menyamankan diri pada ceruk lehernya, yang sedetik kemudian menyuarakan, “Bau,” lalu ia balas dengan, “Ya kan belum mandi.”

Melepas, meski sesungguhnya enggan, Heeseung pun berkata, “Ya udah, mandi dulu.”

Jungwon mengangguki perkataan itu dengan senyuman yang menyiratkan geli sebelum beranjak dari sana, menuju kamarnya, meninggalkan Heeseung sendiri dengan perasaannya yang mulai membiru, karena sepertinya sakit ini tidak hanya berasal dari cabai saja.


Mengetuk pintu itu dua kali, Heeseung pun menunggu sampai yang di dalam meneriakkan, “Masuk!” baru ia memutar gagang pintunya ke bawah. Pemandangan Jungwon yang sedang mengusak rambutnya yang basah di depan pintu kamar mandi adalah apa yang pertama kali Heeseung lihat sebelum meletakkan nampan yang ia bawa beserta isinya di meja belajar yang ada di samping kasur.

Jungwon tersenyum kecil saat melihat apa yang Heeseung bawakan untuknya, “Padahal bisa aku aja yang ke bawah.”

“Gapapa, emang niatnya sekalian tidur,” ah! Ia keceplosan mengatakan itu, dan pasti kini Jungwon menganggapnya aneh karena tidak langsung pergi setelah memberinya secangkir teh yang tadi Jungwon beli sendiri. Kalau begitu, sekalian saja ia menceburkan diri dengan, “tapi ga mau sendiri.”

Lee Heeseung dan segala tingkah lakunya yang jujur memang selalu bisa membuat jantung Jungwon beromba dalam irama yang menggila. Ia pun menutupi kecanggungan yang perlahan timbul dengan tawa, kemudian, “Ya udah, tidur sama aku aja kalau gitu.”

Heeseung mengangguk, dan naik ke kasur, menyelimuti dirinya sendiri dengan bau Jungwon, baru mengambil cangkir di meja samping kemudian ia hirup dalam-dalam aromanya, sementara Jungwon sendiri sibuk menyiapkan segala keperluan untuk menjalani hari esok, baru kemudian menyusul Heeseung dan menikmati teh bersama sambil menceritakan hari ini, dan di saat Jungwon masih sibuk dengan apapun itu di ponselnya, Heeseung di sini sudah hampir terlelap ke dunia mimpi, sambil masih memegang sebelah lengan Jungwon dan menyandarkan kepalanya di pundak pemuda yang lebih muda. Heeseung tahu bahwa di beberapa menit kemudian, Jungwon lah yang membenarkan posisi tidurnya juga menyelimutinya dengan kehangatan ekstra, karena pelukan itu masih terasa sama, seperti cahaya kecil yang akan memandu Heeseung kalau-kalau ia tersesat dalam gelap ataupun kehilangan arah.

Kalau pelukan Jungwon terasa seperti itu, maka pelukan dari Niki terasa seperti perlindungan yang akan melindungi Heeseung dari segala macam hal, apapun itu yang bisa menyakitinya, sementara pelukan Sunoo terasa seperti mengatakan, bahwa pemuda itu akan selalu berada di sisinya. Pelukan Sunghoon terasa seperti dorongan yang menyemangati Heeseung untuk terus menghadapi dunia, bagaimana pun itu situasinya, di saat pelukan Jake terasa seperti janji bahwa pemuda itu tidak akan meninggalkan Heeseung walau dunia membalikkan punggung padanya, dan pelukan Jay terasa seperti sumpah yang menyatakan bahwa ia akan menjaga, apapun itu hal yang bisa membuat Heeseung bahagia.

Jujur, Heeseung menyukai semuanya, dan ia tidak siap untuk kehilangan itu, tapi apa yang bisa manusia biasa lakukan jika tiap-tiap individu pada akhirnya akan melewati fase pendewasaan? Entah di mana, dan kapan itu akan terjadi, Heeseung tidak tahu, tapi satu yang ia yakini pasti akan terjadi adalah, bahwa semua ini akan menemui batasnya, suatu hari nanti,

Dan benar saja.

Yang pertama meninggalkannya adalah Jake, pria itu harus kembali ke kampung halamannya di Australia karena menuruti panggilan orang tua. Menyusul Jake berikutnya, adalah Jay. Penerus tunggal sebuah agensi perjalanan raksasa itu diwajibkan untuk melanjutkan bisnis keluarganya atas perintah sang Ayah. Berikutnya adalah Sunghoon, yang memilih fokus untuk menjadi instruktur figure skating atas referensi dari Persatuan Olahraga Nasional, kemudian Niki yang kembali ke Jepang, dan Sunoo yang tiba-tiba memiliki anak.

“Sumpah, gue juga ga tahu gimana ini bisa terjadi, tapi bener ini anak gue!” serunya histeris pada saat melapor pertama kali kepada mereka yang masih bisa berkumpul di sini. Jay yang pada saat itu stress besar karena perubahan gaya hidup drastisnya pun mengumpati Sunoo habis-habisan, belum lagi ceramah, nasihat, beserta wejangan dari Jake yang sudah menjadi dokter di Australia sana, membuat Sunoo menangis, kejer, tidak karuan. Sunghoon geleng kepala di saat Niki di Jepang sana terbahak kencang mendengar beritanya, dan Heeseung di sini hanya bisa tersenyum prihatin yang juga menyiratkan geli bersama dengan Jungwon, dan sungguh, itu adalah hari paling bersejarah yang tidak akan bisa ia lupakan seumur hidup.

Student! NiKi x Teacher! Heeseung

Implied some myth of destiny/fate


Heeseung sedang kerepotan saat ini, karena, “Apa?” Ia meminta siswa di hadapannya ini untuk mengulang, mengulang kembali sebuah kalimat yang Heeseung rasa, ia salah dengar. Sementara itu, di lain sisi, satu tarikan napas dihirup dalam sebelum kembali mengulang sebuah pernyataan tentang, “Saya suka sama Bapak, ayo jadi pacar saya.”

Heeseung keki, kenapa siswa di depannya ini begitu percaya diri sampai-sampai berani mengajaknya untuk menjalin sebuah hubungan terlarang.

“Kenapa?”

“Huh? Kenapa, apanya, Pak?”

“Kenapa kamu ngomong sembarangan, Riki? Ga baik.”

Salah satu siswa tingkat dua yang diajarnya di kelas 2-2 itu, untuk sesaat terlihat bingung sebelum mengatakan, “Eh,” pelan sebelum kemudian rautnya berubah menjadi sulit, dan kini menatapnya dengan mata yang membuat Heeseung terperanjat seraya menyatakan, “Saya ga sembarangan, Pak. Saya serius,” tapi akan kalimat yang sudah beratus-ratus kali ia dengar itu, tentang segala keseriusan dan tetek bengek anak muda di saat membuat janji, tapi kemudian mengingkarinya di lain hari, Heeseung hanya bisa menghela napas sambil memanjangkan tali kesabaran. Anak zaman sekarang memang rata-rata begini, begitu merepotkan sampai membuat kepalanya sakit.

“Begini, Riki. Saya dan kamu mempunyai waktu yang sama. Saya menggunakan waktu itu untuk hal-hal baik, dan semestinya kamu juga. Pembicaraan selesai.”

Tidak melihat ada tanda bahwa kalimatnya akan dibalas, Heeseung pun pergi dari sana setelah mengucapkan, “Jangan lupa belajar untuk ulangan pekan depan,” tapi baru satu meter ia melangkah, suara Riki selanjutnya menggelegar seperti guntur yang mengisi langit di kala cuaca buruk, “Saya juga!” Menggema, mengisi koridor sepi yang dibanjiri cahaya jingga, dan membuat waktu Heeseung seakan berhenti ketika ia berkata, “Saya juga menggunakan waktu saya dengan baik. Maka dari itu,”

Lagi, dan lagi, menjadi orang dewasa itu sulit, ditambah dengan statusnya sebagai tenaga kerja yang bertugas mendidik, Heeseung pun membalik badan lalu menyambung kalimat yang masih berusaha Riki rangkai dalam otak dengan, “Kenapa kamu engga menggunakannya untuk hal-hal baik? Riki.”

Heeseung tahu bahwa Riki tidak tergabung dalam aktifitas ekstrakurikuler mana pun, tapi itu bukan berarti ia boleh mengisinya untuk melakukan hal-hal yang disebut orang dengan kenakalan remaja.

Heeseung pernah mendapati Riki masih berkeliaran di saat jam malam sewaktu ia pulang larut karena harus melaksanakan piket dan menyelesaikan tugas tambahan, dua bulan yang lalu. Heeseung menemukan pemuda itu di kereta menuju arah pulang ke rumahnya. Entah Riki habis dari mana dan mau ke mana bersama segerombolan teman-temannya yang, sama-sama masih memakai baju sekolah ditutup hoodie itu, Heeseung pun memutuskan untuk mengikuti, karena merasa ia harus. Terlepas dari statusnya yang seorang pengajar, sebagai orang dewasa yang baik, ia patut untuk menegur jagung-jagung muda yang akan melakukan penyimpangan sosial, terbaca dari kata-kata vulgar yang mereka gunakan saat sedang berbicara dengan volume kencang yang cukup mengganggu penumpang lain. Sudah disindir dan ditatap tajam sedemikian rupa oleh penumpang lain pun, Riki dan kawanannya tidak menunjukkan gelagat bahwa mereka peduli. Haah, anak muda.

Saat Riki dan gerombolannya turun di stasiun, distrik perbelanjaan kota, Heeseung pun mengikuti, dan walau tahu perbuatannya itu melanggar hak privasi orang lain, Heeseung tetap melanjutkan, karena ia tahu bahwa anak-anak itu masih bisa diselamatkan.

Dari stasiun, Riki dan teman-temannya berjalan cukup jauh, melewati toko-toko yang hampir membuat Heeseung lupa pada kegiatan menguntitnya karena sebuah diskon akan papan teflon yang sedang ia butuhkan. Sial. Ia memasang pengingat dalam hati untuk kembali ke sini esok hari, sekarang fokus dulu pada anak-anak itu yang sekarang masuk ke gang sempit di sisi kiri trotoar. Jalan dalam gang itu cukup berkelok dan sepi sampai membuat Heeseung harus menyembunyikan diri dibalik bak sampah beberapa kali hingga akhirnya mereka sampai pada jalanan yang lebih luas di dekat bak pembuangan sampah besar yang dikhususkan untuk pemukiman ini.

Riki dan teman-temannya berjongkok tidak jauh dari sana dan Heeseung memutuskan untuk memperhatikan lebih dulu dari balik tembok di sini. Isi dari obrolan yang mereka bicarakan tidak lebih dari sekedar keinginan memiliki pacar atau game, dan hal-hal lain demi menghabiskan waktu untuk kesenangan, serta mengeluh. Tipikal anak muda. Cukup lama Heeseung berdiri di sini sampai kakinya pegal dan kesemutan, dan mereka tidak melakukan apa-apa selain melakukan pembicaraan yang membuatnya dongkol. Ia merasa, bahwa ini sudah cukup. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan karena mereka hanya melanggar batas jam malam, tapi di saat kakinya hendak melangkah pergi dari sana, bau tembakau yang dibakar, tercium samar. Tidak, tidak, masih terlalu dini bagi mereka untuk merusak diri. Setidaknya, tunggu sampai usia legal jika ingin mencicipi. Tanpa dipikir dua kali, Heeseung pun mendekat, mengikuti kata nurani. Di saat teman Riki yang lain terperanjat atas kedatangannya, Riki masih belum menyadari karena ia masih sibuk mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya yang langsung saja Heeseung sambar.

Hening merajai sebelum konfontasi pun terjadi. Heeseung menasihati, tapi mereka tidak peduli. Satu yang terlihat seperti pemimpin dari mereka pun berkata, “Tahu apa Bapak tentang orang tua kami? Asal Bapak tahu, mereka udah ga lagi peduli,” saat Heeseung berkata tentang betapa sedihnya orang tua mereka jika mengetahui kelakuan anaknya seperti ini.

Heeseung tahu bahwa kasus seperti itu sering terjadi. Ada orang tua yang hanya melahirkan, tapi tidak mau membesarkan, dan, “Saya sedih mendengarnya, tapi kalau kamu butuh bantuan, ada sekolah yang siap membantu. Saya, siap membantu, tapi sayangnya kamu siswa yang saya ajar, jadi saya tidak mempunyai wewenang untuk itu.” Siswa yang menentangnya itu tidak mengenakan seragam yang sama seperti Riki dan dua orang lain yang Heeseung kenal wajahnya. Ia tidak bisa melakukan apa pun untuk siswa itu, kecuali memberi pesan terakhir berupa, “Tolong, carilah bantuan.”

Memorinya akan kejadian lalu terputus ketika Riki berkata, “Saya,”

“Saya tahu kamu bisa membedakan mana yang baik dan buruk, Riki. Kalau kamu begitu senggang, kenapa ga coba masuk klub? Kamu jago olahraga, saya tahu.”

“Saya ga berminat.”

“Padahal itu bagus untuk mengasah kemampuan interpersonal kamu.”

Tidak melihat iktikad dari Riki yang akan membalas, maka Heeseung pun memberi wejangan-wejangan berupa, “Jangan suka datang ke kelas terlambat, karena kamu akan ketinggalan pelajaran. Perhatikan absen juga, itu penting untuk kenaikan kelas.”

Riki membalas pesannya dengan anggukan, dan juga, “Apa Bapak percaya sama takdir?”

Apa lagi ini ya Tuhan? Ia masih harus mengoreksi tugas-tugas siswa sebelum mampir ke minimarket di jalan pulang nanti, dan Riki serta ketidak jelasannya berbicara sama sekali tidak membantu. Heeseung kemudian melipat kedua tangan di dada, dan menatap Riki dengan tatapan menuntut, meminta pemuda itu untuk cepat menyelesaikan. Apa yang hendak pemuda ini sampaikan toh tidak berkaitan dengan apa pun itu yang dia percayai.

“Karena saya percaya, dan saya percaya kalau takdir saya itu, Bapak.”

Huh?

Terima kasih kepada Riki, kepalanya jadi semakin berdenyut pusing kini.


“Tolong, ini juga,” ucap Heeseung sambil menyerahkan sebungkus coklat yang ia ambil dari rak di depan kasir. Ia rasa ia harus mengonsumsi banyak glukosa saat ini, karena selain tenaganya yang sudah terkuras habis, apa yang dikatakan oleh muridnya tadi sore benar-benar membuat Heeseung tidak habis pikir. Saking tidak habis pikirnya, ia malah memikirkan itu terus menerus. Arrggh!

Apa ini cara Riki untuk membalasnya karena sudah menyiduk pemuda itu tempo lalu? Dengan memberinya beban yang tidak perlu begini? Heeseung sudah tahu tipikal pola pikir anak muda. Mereka impulsif, mengatakan sesuatu yang ada di benak tanpa memikirkannya lagi terlebih dulu, kemudian memuntahkan itu dalam aksi, dan kalau menemui jalan buntu, mereka pasti akan meneriakkan bahwa itu adalah proses pencarian jati diri. Benar-benar, merepotkan. Belum lagi kalau aksiy sudah disiasati lebih dulu, Heeseung yakin, semua ini hanyalah omong kosong yang dilakukan untuk msngisi waktu. Kalau begitu, jangan serta merta mengambil waktunya yang berharga dong, sialan! Ingin mengatakannya pun tidak mungkin, karena ia adalah sosok panutan. Haah, seharusnya ia tidak mengikuti saran Ibu dan beberapa sanak saudara dari Ayahnya yang sudah lebih dulu menjadi guru. Walaupun jam kerjanya lebih ringan daripada pekerjaan kantoran, namun beban yang ditanggung lebih besar.

“Kalau Bapak dan saya bertemu di luar sekolah tanpa sengaja sebanyak tiga kali, itu artinya menandakan sesuatu.”

Apa? Memangnya kalau tidak sengaja bertemu akan menandakan apa? Perlu diketahui, bahwa mereka tinggal di kota yang sama, jadi kemungkinan seperti itu tentu saja memiliki peluang –yang Heeseung harap– untuk –tidak– terjadi. Agar ia tidak perlu berurusan dengan siswa satu itu lebih jauh lagi selain di lingkungan sekolah, karena kejadian seperti ini, tidak hanya terjadi sekali.

Bersambung . . .