audilatte

Tarik Tiga.

Melihat pesan dari temannya pun Aukar langsung bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Alika yang masih tiduran di sofa.

'Ada Gama Jevan di depan, mau ikut gak?' 'MAUUUUU' jawabnya dengan senyum yang lebar, tak lama kemudian ia menanyakan lagi 'EH TAPI KOK ADA JEVANN?' tanyanya dengan teriak. 'Katanya mau liat orang kumel kalo sakit kaya gimana sih' 'HEH MULUTTT!' ucap Alika dengan mencubit pinggang Aukar dengan kencang.

Ia mengambil minuman yang ada diatas meja dan merapikan bajunya juga, 'lik besok papa ada?' tanyanya memastikan lagi. Ekspresi muka Alika pun langsung berubah, 'gak tau deh, ada kali, males deh dia kalo minggu suka ajak istrinya kesini' jawab Alika. 'Masih kaya gitu sikapnya?' 'Masih. Kok ada ya orang kaya gitu, asli gak ada malunya. Lo mesti tau deh kar, dia di grup keluarga gue gak ada malunya banget hhh, merasa kece kali ya tuh orang' 'Emang ngapain?' tanya Aukar sambil merapihkan meja yang berantakan didepannya. 'Itu... kirim-kirim foto ga jelas di grup keluarga, so asik, padahal keluarga gue udah males banget sama dia karena gak ada sopannya' jawab Alika dengan muka betenya.

Aukar yang mendengarkan ocehan Alika hanya tersenyum karena dia tau perempuan didepannya udah sangat muak akan perempuan baru dari Ayahnya. Setelah membereskan meja yang berantakan mereka pun langsung keluar dari rumah Alika dan terlihat dua pria didepan gerbang yang sangat berisik.

'Kaarrr' teriak Jevano sambil membuka helmnya dan melambaikan tangan ke Aukar. 'bau dah helmnya gama' ucap Jevano lagi 'kaga ada bersyukurnya nih orang udah gue jemput juga' oceh Gama. 'kar ini kita mah langsung to the point aja, ayo nginep dirumah gue aja, kita kesini cuman mau jemput lu sama bawain makanan buat alika' ajak Jevano sambil memberikan kantong plastik yang berisi biskuit, buah-buahan, dan juga susu ke Alika. 'makasih lho jev, gam. gak mau mampir?' ajak Alika 'kagaa, ga enak tar berisik, malam ini gue mau ribut sama gama soalnya, rank gue turun gara-gara dia noob' jawab jevano sambil tertawa. 'terus ini kita bertiga di motor?' tanya aukar memastikan. 'ya iyaa, kalo lu mau jalan kaki gapapa si, ya ga gam?' ledek Jevano 'YEEE KAGA IKHLAS AMAT LU. YAUDAH AYO BERANGKAT'

Aukar pun langsung menoleh ke arah Alika dan mengacak rambutnya, 'langsung tidur kalo ada evelyn dateng tidur aja biairin dia sendirian, kalo besok ada bokap nanti kita langsung jalan aja bebas mau kemana' ucapnya sambil mengambil susu coklat yang ada di dalam plastik.

'Susu coklatnya gue ambil ya daripada nanti lo alergi, dah langsung masuk jangan liat orang ganteng tarik tiga di motor' ucap Aukar lagi sambil melangkahkan kakinya ke arah Jevan dan Gama.

'Udah lama amat perpisahannya, cuman kerumah gue aja aja kok gak jauh' 'Kalo bestieeee emang gitu jev, sabar, oke bestie?' ucap Gama meledek.

Tarik Tiga.

Melihat pesan dari temannya pun Aukar langsung bangun dari tempat duduknya dan menghampiri Alika yang masih tiduran di sofa.

'Ada Gama Jevan di depan, mau ikut gak?' 'MAUUUUU' jawabnya dengan senyum yang lebar, tak lama kemudian ia menanyakan lagi 'EH TAPI KOK ADA JEVANN?' tanyanya dengan teriak. 'Katanya mau liat orang kumel kalo sakit kaya gimana sih' 'HEH MULUTTT!' ucap Alika dengan mencubit pinggang Aukar dengan kencang.

Ia mengambil minuman yang ada diatas meja dan merapikan bajunya juga, 'lik besok papa ada?' tanyanya memastikan lagi. Ekspresi muka Alika pun langsung berubah, 'gak tau deh, ada kali, males deh dia kalo minggu suka ajak istrinya kesini' jawab Alika. 'Masih kaya gitu sikapnya?' 'Masih. Kok ada ya orang kaya gitu, asli gak ada malunya. Lo mesti tau deh kar, dia di grup keluarga gue gak ada malunya banget hhh, merasa kece kali ya tuh orang' 'Emang ngapain?' tanya Aukar sambil merapihkan meja yang berantakan didepannya. 'Itu... kirim-kirim foto ga jelas di grup keluarga, so asik, padahal keluarga gue udah males banget sama dia karena gak ada sopannya' jawab Alika dengan muka betenya.

Aukar yang mendengarkan ocehan Alika hanya tersenyum karena dia tau perempuan didepannya udah sangat muak akan perempuan baru dari Ayahnya. Setelah membereskan meja yang berantakan mereka pun langsung keluar dari rumah Alika dan terlihat dua pria didepan gerbang yang sangat berisik.

'Kaarrr' teriak Jevano sambil membuka helmnya dan melambaikan tangan ke Aukar. 'bau dah helmnya gama' ucap Jevano lagi 'kaga ada bersyukurnya nih orang udah gue jemput juga' oceh Gama. 'kar ini kita mah langsung to the point aja, ayo nginep dirumah gue aja, kita kesini cuman mau jemput lu sama bawain makanan buat alika' ajak Jevano sambil memberikan kantong plastik yang berisi biskuit, buah-buahan, dan juga susu ke Alika. 'makasih lho jev, gam. gak mau mampir?' ajak Alika 'kagaa, ga enak tar berisik, malam ini gue mau ribut sama gama soalnya, rank gue turun gara-gara dia noob' jawab jevano sambil tertawa. 'terus ini kita bertiga di motor?' tanya aukar memastikan. 'ya iyaa, kalo lu mau jalan kaki gapapa si, ya ga gam?' ledek Jevano 'YEEE KAGA IKHLAS AMAT LU. YAUDAH AYO BERANGKAT'

Aukar pun langsung menoleh ke arah Alika dan mengacak rambutnya, 'langsung tidur kalo ada evelyn dateng tidur aja biairin dia sendirian, kalo besok ada bokap nanti kita langsung jalan aja bebas mau kemana' ucapnya sambil mengambil susu coklat yang ada di dalam plastik.

'Susu coklatnya gue ambil ya daripada nanti lo alergi, dah langsung masuk jangan liat orang ganteng tarik tiga di motor' ucap Aukar lagi sambil melangkahkan kakinya ke arah Jevan dan Gama.

'Udah lama amat perpisahannya, cuman kerumah gue aja aja kok gak jauh' 'Kalo bestieeee emang gitu jev, sabar, oke bestie?' ucap Gama meledek.

Bunga, Rumah, Kala.

Sejak saat Ryan memberitahu Aca kalau dia sudah di depan kos-nya, Aca belum berani untuk menampakkan diri di depannya. Ia sibuk menarik dan membuang nafasnya secara teratur sambil melihat dirinya di kaca.

'Dia pasti mikir gue gila gak si?' 'Lagi lo kenapa kepedean banget si acaaaaaa!' ucap Aca sambil menepuk jidatnya berulang kali.

ddrrtt ddrrt ddrtt ddrtt ( ceritanya bunyi handphone ok guys )

'Ok Aca, go on, gapapa bilang aja lo emang kepengen bunga. Gak usah malu, ok?' ucapnya dalam hati setelah melihat ada telepon masuk dari Ryan.

Aca mulai melangkahkan kakinya ke luar kamar kos, ketika sampai di luar pintu depan, ia melihat sosok pria berjaket hitam dan memakai topi kebanggannya. Cuaca hari ini lumayan mendung, mungkin karena itu dia memakai jaket dan karena itu juga siapapun yang nanti melihatnya akan menolehnya. Hmm... Ganteng. Itu kayaknya mutlak untuk di belakang nama dia.

'Ayo nanti hujan' teriak Ryan dengan suara khasnya. 'semoga ryan gak ngungkit kepedean gue hari ini' ucapnya dalam hati sambil melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah mobil yang terparkir di luar gerbang kos.


Rumah.

'Mama masak?' tanya Aca sebagai pembukaan obrolan pertama setelah sampai di rumah Ryan.

Ryan mengangguk dan mempersilahkan Aca untuk masuk ke dalam rumahnya, 'sebentar panggil mama dulu' ucapnya sambil membuka topi.

'Eeeh jangaan! Aca aja yang kesana, kan lagi masak' jawab Aca.

'Gapapa disini aja, udah selesai kayaknya.'

'Ini gapapa?' tanyanya memastikan lagi. Aca sedari berangkat sampai di rumah ryan pun sibuk menanyakan bahwa dirinya gapapa untuk ada disini.

Ryan hanya tersenyum melihat kepanikan cewe tersebut, 'paling diusir mama nanti' jawabnya dengan nada meledek.

Hampir 10 menit Aca menunggu kehadiran mamanya ryan, tak lama kemudian pun muncul sosok wanita yang tingginya mungkin gak jauh dari aca sedang tersenyum. Cantik, ucapku dalam hati dan membungkukkan badanku sebagai tanda hormat kedatangan beliau.

'Aca yaa?' tanyanya dengan tersenyum 'Iya tante' 'Kala sering ceritain Aca tau, akhirnya Aca kesini juga' ucapnya sambil menepuk badan ku pelan. 'Jangan panggil tante ya, panggil mama aja, bentar ya ke dapur lagi dikit lagi selesai ucapnya lagi dengan senyum. 'Eeee iya tan... ma' jawabku terbata.

10 menit setelah itu, Ryan pun akhirnya ia muncul ke ruang tamu lagi, bedanya baju yang dia pakai berubah, baru mandi kayaknya, rambutnya basah berantakan, wangi dari rambutnya pun sangat kecium. Ia berjalan dengan gayanya yang tengil ke arah ku sambil memainkan rambutnya.

'Abis mandi?' tanyaku. 'Iyaa, tadi kan jemput Aca belum mandi haahaha' 'Pantes mobil bau' 'Enak ajaa! Tadi ngomong apa aja sama mama? Udah catat tanggal belum?' 'Gila. Eeeh iyan kenapa dipanggilnya Kala?' 'Karna nama iyan kan itu' Aca tersenyum mendengar jawaban tersebut, 'iya juga sih hehehe, lucu dipanggilnya Kala' 'Aca manggilnya gitu aja biar kaya mama, orang-orang vip aja yang boleh manggil itu' ucapnya dengan nadanya yang tengil.

Pasar Subuh.

Tepat di jam 22.30 Alika membilas mukanya yang beberapa menit lalu tertutupi dengan masker. Ia menatapi handphonenya yang berdering, biasanya itu tanda kalau Aukar sudah di ruang tamu karena kebetulan Aukar juga mengajaknya pergi keluar, dan bertahun-tahun kenal sama cowo tersebut ia tak pernah melihat cowo tersebut masuk saja ke kamarnya, sebelum diperintahin sama Alika sendiri.

'Kok gak masuk aja sih?' 'Disini aja, gak baik tau masuk kamar anak perempuan, apalagi perempuannya jarang mandi' 'Dih enak ajaa... eh tapi gue aja sering main ke kamar lo' 'Ya itu kan cuman lo doang, coba evelyn yang masuk, ya gak boleh' 'Ya kalo gitu masuk aja sih' 'Ya bukan gitu Alika... Yaudah deh iya' Cowo tersebut terpaksa mengiyakan agar cepat selesai, karena ia tahu, debat sama Alika hanya memakan waktu aja, cewe gak mau ngalah.

Beberapa menit kemudian, Alika kembali lagi dengan baju tidurnya yang menjadi ciri khasnya, berwarna pink dan sizenya yang besar.

'LU KENAPA MASIH PAKAI BAJU TIDURRRRRR' 'eh emang kita mau kemana si? lupa hehehehe' jawabnya dengan tertawa kecil 'pasar subuh ayo, laper likkk' ucap Aukar sambil memelaskan wajahnya dan memegang perutnya 'Eh emang mama gak masak?' tanya Alika dan dijawab dengan ketawanya Aukar yang besar, 'masak sih, cuman ngemil malamnya belum, dan itu wajib dilakuin sama lo.' Alika langsung membalikkan badannya ke arah kamar dan berlari sambil meneriakkan, 'haduuh kaburr bestie ada silumayan buayaaaa!!!'


Seperti biasa, suasana pasar subuh tidak terlalu ramai dan juga tidak terlalu sepi, Aukar melangkahkan kakinya dengan pelan menyamakan langkahnya dengan gadis kecil di sampingnya, Alika. Jika ditanya kenapa Aukar sering kali mengajak Alika kesini, jawabannya simple, karena hanya Alika yang mau diajak kesini. Walaupun Alika sering menolak karena kejauhan, atau mungkin juga bosan, tapi kalau sudah sampai kesini dia pasti tersenyum, kata Alika sayang banget yang belum pernah kesini, makanannya enak terus murah juga. Dia sempat mengira awalnya kalau tempat seperti ini gak mungkin ada di kota, wajar sih, emang lumayan tidak terawat kebersihannya terkadang kurang, harganya juga murah banget, tapi kualitas makanannya tetep enak.

'Likk' ucap Aukar membuka pembicaraan malam ini 'Kenapa?' 'Jadi ngambil kuliah diluar?' 'Eum... gak tau, bingung.' jawab Alika sambil memainkan rambutnya. 'Gak mau coba disini aja?' 'Mau, liat nanti aja kayaknya. Eh btw kar, serius jawab ya ini, jangan becanda, awas aja' ucapnya mengancam. Aukar menoleh ke arah Alika, 'iya iyaa, gimana?' 'Ini aneh banget sih, cuman gue penasaran, lo lagi gak suka sama siapa gituuu?' 'Ada, lo kan lik' jawab Aukar sambil melihat wajah Alika yang tepat di depannya. Alika terdiam, mukanya memerah sama seperti tadi ketika ia sedang maskeran. 'SERIUSSS AUKARRRR' jawab Alika sambil mengalihkan tatapan Aukar. ( Alika salting part two )

Dan Aukar hanya tertawa melihat gadis tersebut, menurutnya wajar kalo emang Alika gak percaya dan anggap becanda, dia sering dapat perhatian lebih bukan dari gue aja, ya walaupun gue yang terlebih banget diantara Gama, Jevan, Haikal, dan Dika. Mungkin itu juga yang membuat dia bingung dan mengira semua perlakuan yang gue kasih itu layak dalam persahabatan, padahal engga. Gue gak bisa salahin dia juga kalo dia sampai sekarang bingung gimana perasaan gue ke dia, gue juga bingung gimana ngasih taunya. Karena yang Alika tau, ini semua karena kita sahabat.

Rumah Evelyn.

Sudah hampir 5 jam Alika dan Gama ada di kamar Eve. Ia bertiga sibuk membahas mengenai ujian-ujian selanjutnya dan juga plan liburan bareng yang akan mereka gunakan sebelum UN. Mereka sengaja menggunakan waktu sebelum UN untuk pergi bersama, karena setelah UN mereka pastinya akan sibuk mengurusi dunia pendidikan selanjutnya. Karena itu juga jadwal belajar bareng mereka semakin padat, mereka ingin berleha-leha sebelum UN agar tidak terlalu merasa stress nantinya.

Teringat kejadian kemarin, dimana Gama dan Alika melakukan deeptalk malam, Alika pun mengingat kalo sebelumnya Eve ingin bercerita, “Eve, kemarin tuh lo mau cerita apa sih, mau php-in kita doang ya?” tanya Alika sambil terkekeh.

“Engga lik, gapapa nih kalo gue cerita? sebenernya gue gak enak sih.” jawab Eve.

“Gak enak kenapa? santai aka kali” tanya Alika memastikan lagi.

Eve mengangguk, “Heem oke, gak enak aja karena harus flashback masa lalu, jadi kan kemarin itu lo berdua lagi bahas gak semua cinta harus terjawab, ya gue setuju, itu bener. Karena sebelum lo dateng lik, gue pernah suka sama Aukar, cuman emang gue bukan tipe Aukar kali ya, jadinya tertolak. Dulu awal-awal lo masuk, gue juga sempet jaga jarak, karena ya gue males aja liat lo. Bisa-bisanya anak pindahan bisa dapetin perhatian Aukar secepat itu.”

Alika membuka mulutnya menandakan dirinya kaget akan cerita tersebut, ia tak tahu kalau ada cerita antara Aukar dan Evelyn. Seperti yang Alika ceritakan sebelumnya, Aukar ataupun Evelyn tak pernah cerita sedikit pun tentang percintaannya.

“Sorry ya Eve, gue gak tau kalo dulu lo suka. Tapi kalo sekarang gimana? lo masih suka sama dia?”

Evelyn menggelengkan kepalanya, “gapapa lik, lo gak salah kok, yang salah gue karena iri sama lo. Untuk sekarang gue udah gak suka lagi kok ke Aukar, tenang aja.”

Alika menghela nafasnya, bukan karena ia takut ada wanita yang menyukai Aukar, ia takut kalau nanti ia kehilangan sahabatnya.

“Ooh oke, kalo gitu gue boleh tau ga eve sekarang lo lagi suka sama siapa?” tanyanya lagi dengan hati-hati.

“ka Mahesa. Krisna Mahesa.” jawab Evelyn yang berhasil membuat Gama dan Alika saling menoleh dan terdiam.

01.30 A.M.

Ruang tengah di rumah Alika masih sama seperti dua tahun lalu— dimana untuk pertama kalinya Aukar mendatangi rumah tersebut. Bedanya hanya sekarang makin sepi, karena hanya Alika sendiri yang ada di rumah ini, walaupun terkadang ada mba kina juga sih, tapi dia juga gak sesering itu. Ini membuat Aukar bernostalgia jug akan rumah Alika dimana dua tahun lalu Alika mengajaknya ke rumah untuk belajar bersama menuju olim dan bersyukurnya disuguhi banyak makanan oleh mamanya Alika. Dan teringat juga satu tahun lalu dimana Aukar rela datang di jam 3 pagi untuk menenangkan Alika perihal kepergian Ibunya, dan di tahun lalu juga Aukar yang menemani Alika hampir seminggu dirumahnya bersama mba kina dan Gama karena Ayahnya mempunyai istri lagi.

“Heh kok bengong sih” celetuk Alika karena bosan melihat Aukar yang menoleh kanan kiri ruangan tersebut. “Ada kecoa ya? apa jangan-jangan lo bawa hantu dari luar?” tanyanya lagi dengan memeluk bantal dengan erat.

Aukar mengiyakan, “sini makanya deket gue aja, setannya gak bakal berani ganggu” jawabnya sambil menaruh lengannya di pundak Alika dan mendorongnya agar semakin dekat ke pelukan Aukar.

“Nah gini aja lik.” ucapnya lagi sambil mengambil remote tv di depannya.

“Ogah, badan lo bau asap sate” jawab Alika sambil mendorong Aukar. Dan dibalas dengan tawa menggelegarnya Aukar.

“Heh ketawa lo!” Alika langsung menepuk paha Aukar untuk menyuruhnya berhenti. Berisik.

Aukar makin tertawa melihat marahnya Alika, ia tak memperdulikannya, “ya bau sate lah kan abis beli sate buat lo, kalo baunya cewe baru tuh lo marah lik.”

Alika tak memperdulikannya, ia malah memfokuskan dirinya untuk menghabiskan sate tersebut.

“Eh jangan dihabisin donggg, parah nih kalo kaya gini si evelyn.” ucap Aukar sambil mengganti channel dari tv tersebut.

“Kok evelyn? lo gak ikhlas ya bawain gue makanan?” tanya Alika yang masih mengunyah daging sate.

“Parah dia kaga ngasih lu makan disana, nih buktinya sampe lu abisin tuh sate. Kaga kagaa, gue ikhlas lik elah, maksud gue sisain gitu, kan gue mau sambil nonton bola.” jawab Aukar yang sukses membuat mata Alika melototinya.

“Jangan bilang lo kesini bawain sate banyak buat numpang nonton bola ya?” tanya Alika lagi tapi dengan nada marahnya, sedangkan yang dimarahi malah terkekeh gemas karena kelakuan Alika.

“Hehehe. Tapi beneran gue mau hibur lo ini mah, kan lo lagi gak mood, nah ini kita nonton bola, biar gak emosi.” jawab Aukar dengan yakin.

Alika hanya menghela nafasnya, ia tak habis pikir lagi dengan lelaki yang ada disampingnya. Mana ada orang lagi badmood diajak nonton bola segala bilang membawa paket kebahagiaan lagi. Bener-bener aneh.

“Mau tidur gak? katanya pagi ini mau jalan kan sama mahesa?” tanya Aukar membuka percakapan lagi, karena setelah perkelahian kecil itu dua remaja tersebut asyik dengan sate yang didepannya. Alika terdiam sesaat karena pertanyaan tersebut.

“Menurut lo gimana kar?” tanyanya dengan menoleh ke Aukar.

“Apanya gimana?”

“Jalan gak ya... kan lo tau nih mahesa ngajak gue jalan, ya gue tau lah siapa cepunya, ya pasti si cepu itu bilang juga kan kejadian di rumah eve tadi”

“Ya itu terserah lo lik, lo gimana? Tapi ini gue nanya aja sih, sebagai bestie ye kan” tanya Aukar dengan menekankan kata bestie dan membuat Alika tertawa.

“Tapi beneran lik, kalo lo udah jatuh cintaaaa banget sama mahesa mah gas aja”

Alika langsung mempotong kalimat Aukar, “belum kok.”

Tanpa babibu Aukar pun langsung menutup bibir Alika dengan jarinya, “Suttt diem, jangan motong dulu. Nih dengerin nih aa aukar ngomong dulu. Kalo lo emang beneran jatuh cinta tuh ya bilang aja, jangan sampe nyesel. Apalagi tadi lo jawab belum, ya belum kan gak menutup kemungkinan lo ga bakal sama dia, bisa aja nanti lo suka. Kalo emang mahesa bisa jadi yang terbaik mah gas aja” ucapnya sambil melepas jarinya dari bibir Alika, “nah udah boleh ngomong, silahkan pembelaan dirinya kaka Alikaa.”

“Gak segampang itu juga sih buat mahesa bisa masuk ke gue kar, gue baru kenal dia beberapa bulan. Yaa sometimes gue senengg banget kalo dapat chat dari dia, tapi ya abis itu biasa lagi nanti. Emm apa yaa... gue malah mikirnya gue hanya penasaran aja sama dia, bukan beneran gue ada perasaan sama dia. Ngerti gak? terus lo tau sendiri kan gue sama cowok gimana selain sama temen-temen lo dan lo ya.”

Aukar terdiam mendengar jawaban dari temennya tersebut, ia memandangi gadis di sampingnya dengan senyum dan mengacak rambutnya.

Alika mencubit paha aukar ketika ia tahu sedaritadi pria disampingnya malah senyum bukan menanggapi celotehan dari mulutnya, “Yee gak dengerin ya lo kar? tapi kar, gue serius nih nanya sama lo, kan lo sendiri yang bilang, kalo beneran jatuh cinta mah bilang aja, nanti nyesel. Tapi kenapa lo gak pernah bilang itu ke gue?”