samaelstjerne

Cum profecti Ithaca; Spero longa via, plena periculi atque invenisse.

Leicestrius Rigonias: citeriorem finem, iratus Neptunum—don't paveatis ad conspectum eorum: et non invenietis illud in via ita ut diu ut custodiant te ideas princeps, tam diu a rara trepidationem quod movet corpus tuum, et spiritu tuo.

Rigonias Leicestriae, bicycles, fera, Neptunum eis non occurrit nisi in tecum attuleris vestri animus, nisi tui ponit animam meam in conspectu Dei tui.

Quod spes habes longa via.

Sint plures aestate mane, quod beatitudo, est gaudium, intrare portum vidistis enim primum; potes sistere Phoenicum amet statione, emere bona.

Sit fiant margaritis mater et sericum mater electro hebenus omnes sensibilis perfume—quot quibusdam pigmentis et sensuales potes; potes visitare Aegyptia quot urbes ut, discat ac permanere disce ab auditoribus suis.

Ne Itaka semper in mente servabo.

Questus est, quod fatum tibi est ad consequi.

Noli currere iter.

Esset melius si pugnatum ante paucos annos.

Ita cum ad huius insulae te senem et, opulentos te audierit lucratus omnes vias ego, non expecto Ithacam faciam tibi dives.

Ithacam dabo vobis mira iter.

Sine illam, ut tibi non sunt.

Et nihil aliud est dare tibi.

Quod si pauper est, quod habes, Ithaca, non fatuus vobis.

Sapit, quod non fiet, et plenus experientia, igitur tu intelligis significatione harum Itacas

References

C. P. Cavafy, “The City” from C.P. Cavafy: Collected Poems. Translated by Edmund Keeley and Philip Sherrard. Translation Copyright © 1975, 1992 by Edmund Keeley and Philip Sherrard. Reproduced with permission of Princeton University Press.

當你出發去伊薩卡的時候; 希望你的路很長, 充滿冒險,充滿發現。

萊斯特岡人,獨眼巨人, 憤怒的波塞冬不要害怕他們: 你不會在路上發現那樣的事, 只要你保持高昂的思想, 只要是難得的興奮, 激發你的精神和身體。

萊斯特岡人,獨眼巨人, 野生海神你不會遇到他們的 除非你把它們帶進你的靈魂, 除非你的靈魂把它們擺在你面前。

希望你的路很長。

願有許多夏日的早晨, 多麼高興, 多麼高興, 你進入你第一次看到的港口; 你可以在腓尼基貿易站停一下嗎為了買好東西, 珍珠和珊瑚, 琥珀和烏木之母, 各種性感香水一盡可能多的香水; 願你參觀埃及的許多都市 向他們的學者學習並繼續學習。

永遠記住伊薩卡。

到達那裡是你命中註定的。

但一點也不要著急。

如果能持續好幾年, 所以你到了島上就老了, 一路上賺了很多錢, 沒想到伊薩卡會讓你發財。

伊薩卡給了你奇妙的旅程。

沒有她你就不會出發。

她現在沒有東西給你了。

如果你發現她很窮,伊薩卡就不會騙你了。

你會變得很聰明,經驗豐富, 到那時你就會明白這些伊薩卡是什麼意思了。

References

C. P. Cavafy, “The City” from C.P. Cavafy: Collected Poems. Translated by Edmund Keeley and Philip Sherrard. Translation Copyright © 1975, 1992 by Edmund Keeley and Philip Sherrard. Reproduced with permission of Princeton University Press.

As you set out for Ithaka; I hope your road is a long one, full of adventure, full of discovery.

Laistrygonians, Cyclops, angry Poseidon—don’t be afraid of them: you’ll never find things like that on your way as long as you keep your thoughts raised high, as long as a rare excitement stirs your spirit and your body.

Laistrygonians, Cyclops, wild Poseidon—you won’t encounter them unless you bring them along inside your soul, unless your soul sets them up in front of you.

Hope your road is a long one.

May there be many summer mornings when, with what pleasure, what joy, you enter harbors you’re seeing for the first time; may you stop at Phoenician trading stations to buy fine things, mother of pearl and coral, amber and ebony.

May there be sensual perfume of every kind—as many sensual perfumes as you can; and may you visit many Egyptian cities to learn and go on learning from their scholars.

Keep Ithaka always in your mind.

Arriving there is what you’re destined for.

But don’t hurry the journey at all.

Better if it lasts for years, so you’re old by the time you reach the island, wealthy with all you’ve gained on the way, not expecting Ithaka to make you rich.

Ithaka gave you the marvelous journey.

Without her you wouldn't have set out.

She has nothing left to give you now.

And if you find her poor, Ithaka won’t have fooled you.

Wise as you will have become, so full of experience, you’ll have understood by then what these Ithakas mean.

References

C. P. Cavafy, “The City” from C.P. Cavafy: Collected Poems. Translated by Edmund Keeley and Philip Sherrard. Translation Copyright © 1975, 1992 by Edmund Keeley and Philip Sherrard. Reproduced with permission of Princeton University Press.

Alina, yang dulu terkasih,

Apa kabarmu? Kembali kuteringat pada dirimu saat membuka galeri berisi potongan-potongan pesan yang kita pertukarkan pada awalan tahun lalu.

Tak terasa setengah tahun berlalu semenjak pegatnya jalinan pertemanan kita, apa kabarmu? Maaf aku harus menyudahi semuanya. Perlu kamu tahu, mengakhirinya dengan pahit bukan berarti aku melupakan semua kenangan, jasa dan rasa yang pernah kita bagi. Aku memutuskan bukan atas alasan benci, namun karena aku memang sudah tidak bisa lagi.

Sedikit sulit rasanya untuk kembali menulis untuk dan atas kamu; setengah setahun berlalu dan aku masih sukar menulis setelah mengetahui sumber surat terakhirmu, apa kabarmu? Sungguh, sebenarnya tak masalah bila memang bukan kamu penulis dari beberapa paragraf terakhir pada surat tersebut—toh semua doa yang kamu rapalkan sudah terkabul jua—namun mengetahui kebenarannya membuatku.. terlarut pada berbagai macam pertanyaan yang mungkin tak akan kudapat jawabannya.

Sejujurnya aku tak tau lagi harus menuliskan apa selain untuk bertanya, apa kabarmu? Apa kamu masih bermagang di kantor dengan satpam yang menyebalkan? Apa rencana perjalananmu dengan bapak/ibu dosen digagalkan pandemi? Apa kamu sudah meraih gelar? Apa kamu masih mengikuti beberapa serial dan film terkini? Apa kamu masih mengingat aku setiap kamu melihat langit, kucing, mungkin cicak, penjaga Gotham dengan jubah dan kostum konyol, band indie-pop yang kuperkenalkan kepadamu dan mungkin dewa yang tidak beranggotakan sembilan belas orang, serta penyanyi berambut ikal dengan nama panggung pendudukan masa kolonial? Apa kamu masih lelah dengan segala macam peristiwa yang terjadi di dunia? Maaf jika beberapa hal yang kusebutkan salah, aku hanya mendasari semua pertanyaan pada ingatanku. Hampir semua potongan pesan pun ruang obrolah sudah kuhapus, bertepatan dengan pegatnya jalinan pertemanan kita. Kendati demikian bukan berarti aku membencimu—benci adalah kata yang jauh dari benakku saat kamu terlintas dipikiran—hanya saja sedikit pahit sungutku dan bergema telingaku saat mendengar namamu, dahulu. Sekarang, lebih setengah tahun dan berlalu kurasa aku sudah cukup ikhlas atas semua yang terjadi; baik sehubung akhir dari jalinan asmara maupun pertemanan kita.

Mungkin barang sedikit tulisanku kepadamu kali ini jika dibandingan dengan lembar-lembar surat terdahulu, namun pertanyaanku tetaplah satu: apa kabarmu? Kuharap kamu masih hidup, sehat dan baik-baik saja; tidak pun tak apa. Ketahuilah Alina, semua doa yang pernah kurapalkan dahulu, masih berlaku hingga saat ini juga. Sekiranya kamu malas untuk kembali membuka sepucuk surat keparat penuh kecemburuan itu, izinkan aku untuk kembali merapalkan bait-bait do’a yang beberapa kupinjam dari Nadin Amizah: Semoga kamu selalu diberi yang terbaik. Semoga kamu selalu diberi ketenangan dan matamu dihindarkan dari tangis tak berarti. Semoga kamu tidak tenggelam dan sesak dalam pikirmu, serta hilanglah semua pikiran dan prasangka yang mengganggu tidurmu. Semoga mimpi buruk tak datang menghampirimu. Semoga tidak ada cicak usil yang mengganggumu. Semoga kamu selalu mencintai dirimu sendiri dan terhindar dari rasa sesal atas perbuatan dan perkataanmu, serta semua kesempatan yang kamu lewatkan. Dan terakhir, semoga, semoga, semoga, semesta selalu berbaik hati kepadamu dan ringanlah semua beban yang kau pikul di pundakmu. 

Yang dulu tersayang, Sukab.

Sayangku,

Sudah 330 hari semenjak kepergianmu dan aku masih berdiri di tempat yang sama, dan mungkin hanya berpindah sedikit-sedikit, tidak terlalu jauh dari—tak perlu ku jelaskan pun mungkin kamu sudah mengerti.

Sudah 330 hari semenjak kepergianmu dan aku teringat argumen lucu nan semu yang seringkali terjadi diantara kita, berakhir tangis maupun tawa. Sungguh lucu dan menggemaskan, namun hanya dalam kenangan.

Sudah 330 hari semenjak kepergianmu dan kembali aku teringat pada sebuah pertanyaan selewat yang pernah dulu kau tanyakan. “Bagaimana bisa aku tidak mengerti kamu sebagaimana aku mengetahui jawaban-jawaban pada TTS kesukaanku yang terbit setiap hari Minggu pada koran terbitan sebuah perusahaan lesu? Bagaimana bisa aku tidak mengerti kamu seperti aku mengerti cara menafsirkan puisi berbalut sandi, sebagaimana aku bisa mengidentifikasi dan mengklasifikasi jenis-jenis sandi yang digunakan lembaga intelejensi palsu? Bagaimana bisa; aku, seseorang yang seharusnya dijanjikan untuk kamu, lebih memilih untuk menjawab pertanyaan mengenai penciptaan semesta dan sejarah kemerdekaan negara yang sama sekali tidak berkaitan dengan kamu dan aku? Bagaimana bisa aku lebih memilih untuk menyelesaikan sebuah teka-teki yang mungkin sama rumitnya seperti kamu?”

Sayangku, terlambat sudah aku menemukan jawaban untuk pertanyaan pertanyaanmu. Sudah 330 hari semenjak kepergianmu dan aku baru menemukan rangkaian kalimat yang pantas kupakai untuk menadah dan menjawab bertubi-tubi pertanyaanmu, tanpa sepenuhnya menggeser makna yang ada dibenakku.

Sayangku, kamu bukanlah persamaan matematika atau rumus fisika yang perlu untuk dijabar dan diselesaikan satu persatu, satu masalah demi masalah. Kamu bukan hanya sekedar situasi yang perlu untuk diselesaikan tanpa kontemplasi berkepanjangan. Kamu bukan sekedar ide. Aku menyayangimu, dan jika aku masih pantas untuk mengatakannya, aku mencintaimu. Mungkin lebih dari yang kau tahu, mungkin lebih dari siapapun yang pernah kucintai.

Sayang, perlukah aku menekankan dan menjelaskan secara lebih lanjut? Kamu bukanlah sebatas ide dan sumber inspirasi. Memang benar, kuakui kamulah satu dari sekian banyak sumber inspirasiku, tapi kamu bukanlah sebatas itu. Aku mencintaimu sebagaimana kamu adalah dirimu sendiri, dan begitupun kamu kepadaku.

Aku menyayangimu, selalu, hingga akhir hayatku. Aku milikmu, seutuhnya, dan kamulah pemegang takhta pada istana fiktif di kepalaku, walaupun kini beralih dan tiada penghuni di singgasana. Kamu pernah menjadi belahan—separuh jiwaku, dan aku masih menganggapmu begitu.

Sudah 330 hari semenjak kepergianmu dan aku masih di sini, berdiri, sendiri, bersedih, berduka, berkabung, menangis, mengaduh, meratap. Akan tetapi aku harus tetap hidup. Untukku, untukmu, meski pergi sudah separuh jiwaku. Aku, untukmu; selalu, selalu. Selalu.

Maaf, sayang, surat ini kutulis pada pukul tujuh tanpa tahu arah dan kemanakah surat ini akan kutuju. Pukul delapan dan masih aku tak tahu kemanakah harus kusematkan lembaran-lembaran surat beserta karya-karya yang ingin kuberikan. Pukul sembilan dan pada akhirnya aku berdoa: semoga Tuhan berbaik hati, setidaknya, agar surat ini sampai; tepat pada peringatan 330 hari kepergianmu.

Kesayanganmu, Aku.

Sendiri Sendiri Aku Sendiri Kamu Sendiri Berdua Jatuh Berdua Pergi Berdua Sedih Sendiri Kembali Menua Berdua Bersama Bersama Menua Dewasa Roman Canda Tawa Tangis Koyak Sendu Melagu Sepi Sendiri Layu Aku Layu Kamu Abu Kita Pergi Sendiri Aku Sendiri Kamu Sendiri Kita Tiada Kita K i t a

𝖺 𝗉𝗈𝖾𝗆 𝖻𝗒 𝖬𝖺𝗁𝗆𝗈𝗎𝖽 𝖣𝖺𝗋𝗐𝗂𝗌𝗁

I am a woman, no more and no less.

I live my life as it is thread by thread and I spin my wool to wear, not to complete Homer’s story or his sun.

And I see what I see as it is, in its shape, though I stare every once in a while in its shadeto sense the pulse of defeat, and I write tomorrow on yesterday’s sheets: there’s no sound other than echo.

I love the necessary vagueness in what a night traveler says to the absence of birds over the slopes of speech and above the roofs of villages

I am a woman, no more and no less.

The almond blossom sends me flying in March, from my balcony, in longing for what the faraway says: “Touch me and I’ll bring my horses to the water springs.”

I cry for no clear reason, and I love you as you are, not as a strut nor in vain and from my shoulders a morning rises onto you and falls into you, when I embrace you, a night.

But I am neither one nor the other no, I am not a sun or a moon I am a woman, no more and no less

So be the Qyss of longing, if you wish. As for me, I like to be loved as I am. Not as a color photo in the paper, or as an idea composed in a poem amid the stags.

I hear Laila’s faraway scream from the bedroom: Do not leave me a prisoner of rhyme in the tribal nights, do not leave me to them as news.

I am a woman, no more and no less I am who I am, as you are who you are: you live in me and I live in you, to and for you

I love the necessary clarity of our mutual puzzle I am yours when I overflow the night but I am not a land or a journey I am a woman, no more and no less.

And I tire from the moon’s feminine cycle and my guitar falls ill string, by string.

I am a woman, no more and no less!

𝖺 𝗉𝗈𝖾𝗆 𝖻𝗒 𝖬𝖺𝗁𝗆𝗈𝗎𝖽 𝖣𝖺𝗋𝗐𝗂𝗌𝗁.

I love autumn and the shade of meanings.

Delighted in autumn by a light obscurity, transparency of handkerchiefs, like poetry just after birth, dazzled by the incandescent night or the dimness of light.

It crawls, and finds no names for anything.

I like a light rain that wets only the distant others: Once, in a similar autumn, a wedding parade of ours crossed ways with one of the funerals, and the living celebrated the dead, the dead the living.

I delight to see a monarch stoop, to recover the pearl of the crown from a fish in the lake. In autumn I delight to see the radiance of colors, no throne holds the humble gold in the leaves of humble trees, an equality in the thirst of love.

In autumn I delight in the complicity between vision and expression.

I delight in the truce between armies, awaiting the contest between two woman poets, who love the season of autumn, yet differ over the direction of its metaphors.

And I like in autumn the collusion between vision and phrase.

Your eyes are a thorn in my heart. Inflicting pain, yet I cherish that thorn and shield it from the wind.

I sheathe it in my flesh, I sheathe it, protect it from night and agony, and its wound lights the lanterns, its tomorrow makes my present, dearer to me than my soul.

And soon I forget, as eye meets eye, That once, behind the doors, there were two of us.

You were my garden, and I a stranger, knocking at the door, my heart, for upon my heart stand firm the door and windows, the cement and stones.

You are the other lung in my chest; you are the sound on my lips; you are water; you are fire.

And I have vowed to fashion from my eyelashes a kerchief, and upon it to embroider verses for your eyes, and a name, when watered by a heart that dissolves in chanting, will make the sylvan arbours grow.

I shall write a phrase more precious than honey and kisses: ‘Palestinian she was and still is’.

By the beasts of desert and forest, but I am the exiled one behind wall and door, shelter me in the warmth of your gaze.

Take me, wherever you are, Take me, however you are.

Samael Posted first in @SHllXUN [Thursday, December 3rd, 2020. 12:57 AM.]

W/N: the thread’s origin are excerpts of Lover from Palestine, a poem by Mahmoud Darwish, rearranged accordingly to the writer’s predilection.

I no longer feel safe. In a space I used to be, with peoples I was with. Not in my own head, not now, not ever. Not with myself, I have forgotten what is it to be safe. I seek touches and interactions to fill this empty void I call myself, yet I have no energy to do so even when I needed it most. I refuses to seek help, even just to free myself from me. What have I become?

Samael [Tuesday, November 17th, 2020. 09:37 PM.]

Enter your email to subscribe to updates.