sandalswoo’s universe

“Akhirnya nyampe juga...”

Carissa menghempaskan tubuhnya ke sofa. Wonwoo yang berjalan dibelakangnya berjalan menuju kamar tamu untuk meletakkan belanjaan Carissa disana.

“Won, pinjem piyama ya!”

“Adanya celana training. Piyama gue gak ada yang kecil.”

“Yaudah apa aja.”

Abis itu Carissa bangun dan menuju kamar mandi buat bersih-bersih. Wonwoo langsung masuk kamar dan mengambil kaos dan celana training buat Carissa.

Sehabis di chat Carissa, Wonwoo dateng selang 15 menit kemudian. Pas disamperin, Carissa lagi main game di macbooknya dengan paperbag belanjaan yang banyak banget di bawah mejanya. Wonwoo bingung. Kenapa Carissa bisa belanja sebanyak itu padahal mall udah tutup. Terus Carissa bilang tadi abis jalan sama Lisa sebelum ngechat dia dan Wonwoo pun jadi maklum. Soalnya Carissa kalo udah sama Lisa pasti belanjanya gak kira-kira. Untungnya dia bawa mobil jadinya gak repot mikirin gimana cara bawa belanjaan Carissa.

Selama perjalanan ke apartemen Wonwoo, Carissa juga gak berenti cerita. Dari kejadian tadi pagi sampe kejadian-kejadian lucu anak-anak timnya. Wonwoo ngerasa ada yang salah sama Carissa. Mulai dari chat yang bilang dia lagi kabur terus banyaknya belanjaannya padahal masih pertengahan bulan sampe dia yang jadi cerewet banget. Wonwoo mau nanya tapi dia tahan karena Carissa bilang nanti dia bakalan cerita kenapa dia tiba-tiba minta nginep di apartemen Wonwoo.

“Ca, ini bajunya.”

“Taro aja disitu, Won.”

Abis meletakkan baju untuk Carissa, Wonwoo langsung keluar kamar mandi. Dia mengambil makanan yang Carissa beli di mcd tadi lalu membawanya ke depan tv. Carissa keluar kamar mandi gak lama setelahnya.

“Won, nonton Romantic Dr. Kim dong.” pinta Carissa.

“Ah males nonton drama.”

“Yang ini bagus sumpah. Masih ongoing tapi bagus. Gue belom nonton episode barunya.”

Wonwoo pun menuruti Carissa. Carissa pun anteng nonton drama dengan mulutnya penuh, mengunyah Big Mac yang dibelinya tadi. Ngeliat Carissa begitu, Wonwoo jadi sungkan buat nanya.

Hampir setengah jam mereka tenggelam karena terlalu asik menonton drama sampe hape Carissa muncul notif yang bikin keduanya langsung mengalihkan pandangannya. Ada nama Jihoon yang muncul disana, diikuti Seokmin setelahnya. Carissa sendiri gak peduli dan ngelanjutin nonton. Tapi Wonwoo enggak. Wonwoo jadi tau secara jelas yang kabur dimaksud oleh Carissa dan segala tingkahnya yang ia curigai sebelumnya.

Wonwoo malah memandang Carissa alih-alih menonton drama. Carissa dan segala daya tariknya bikin Wonwoo terpikat. Carissa dengan novel-novel teenlit dan chicklit yang dibacanya. Carissa dengan berbagai macam drama dan tv series yang ia tonton. Dan masih banyak lagi daya tarik yang Carissa punya sampai Wonwoo terpikat padanya begitu dalam. Tapi Wonwoo selalu sadar, dia gak akan bisa lebih dari sekedar teman bagi Carissa. Dan Wonwoo juga gak berani untuk bertindak lebih dari seorang teman karena takut Carissa lepas darinya.

“Jihoon di Jakarta, Ca?”

“Iya. Tuh orangnya diapart gue.”

“Pantesan Seokmin ngechat lo.”

“Tadinya gue mau ke tempat dia tapi dia kelamaan dan untungnya lo fast respond.”

“Lagi pas gue buka Whatsapp aja itu.” Wonwoo membereskan bekas makan mereka dan membawanya ke tong sampah. “Lo mau tidur dimana?”

“Di sofa aja boleh gak? Males banget tidur di kamar tamu.” Carissa bangun dan menarik sofa menjadi sofabed.

“Yaudah bentar gue ambilin selimut dulu.”

Carissa merebahkan tubuhnya tetapi matanya gak lepas dari tv. Wonwoo kembali dengan selimut dan bantal.

“Geseran.”

“Gak tidur dalem lo?”

Bukannya menjawab pertanyaan Carissa, Wonwoo malah mengambil remote tv, “mau binge watch Stranger Things.”

“Nah gitu dong! Biar gue ada temen gibahnya!”

Mereka jadinya menghabiskan malam dengan nonton Stranger Things sampe ketiduran.

Diantara Soonyoung, Wonwoo, Seokmin, dan Carissa, yang paling kuat minum itu Wonwoo dan yang paling cemen Soonyoung. Wonwoo bisa minum 4 gelas Margarita tanpa merasa mabuk sedangkan Soonyoung bisa tepar karena sebotol San Miguel.

Malam ini seperti malam-malam sebelumnya, mereka nongkrong tanpa ada niatan buat mabuk, jadi mereka memesan minuman yang masih bisa toleransi batas wajar mereka.

“Jadi ini anak kabur ke tempat lo?” Seokmin menunjuk Carissa yang memasukkan sepotong chicken popcorn ke dalam mulutnya. Seokmin cuma memastikan kalo Carissa beneran ada di tempat Wonwoo semalam.

“Iya. Terus minta di jemput di mcd Sency lagi.” Jawab Wonwoo yang membelah jadi dua roti srikaya yang dibawa Soonyoung. Gak tau gimana caranya mereka menyelundupkan roti itu padahal jelas-jelas gak boleh bawa makanan dari luar.

“Ca, lu jadi miskin makan mcd?” Ledek Soonyoung.

“Dia mana bisa miskin sih, Nyong.” Sahut Seokmin.

“Sialan! Padahal lo yang mau jemput gue. Dan kawan-kawan, mcd bukan level sebuah kemiskinan.”

Dan ketiga cowok itu ketawa mendengar jawaban Carissa.

“Ujuy gimana kabarnya?” Tanya Carissa basa-basi.

“Sok bener nanyain Ujuy. Kantor deketan, makan siang bareng mulu juga.”

Carissa ketawa. “Kalo bukan lo yang jemput gue sama Ujuy kobam di Fable, mungkin bukan lo yang sekarang sama Ujuy, Seok.”

“Upin Ipin sekarang kalo mabok ke Fable ya?” Celetuk Soonyoung. Soonyoung emang manggil Carissa dan Yuju dengan Upin Ipin karena mereka sepupuan dan kemana-mana berdua melulu. Maklum sih, soalnya Yuju sama Carissa sama-sama anak bungsu dan anak perempuan satu-satunya. Jadinya mereka main bareng terus sampe dibilang anak kembar.

“Hits banget Upin Ipin mainnya ke Fable.” Sahut Wonwoo.

“Nyusahin banget itu Upin Ipin waktu gue jemput. Kena jackpot sekali gue.” Sungut Seokmin mengingat waktu menjemput Carissa dan Yuju.

“Tapi dua hari kemudian lo jalan sama Ujuy!” Balas Carissa

“Itu juga ngambil jaket yang kena muntah ya!”

“Tetep aja. Gue cupid lo.”

“Kalo dipikir-pikir si Carissa tuh cupid kita semua. Seokmin sama Yuju. Gue sama Jiho. Terus waktu si Wonwoo sama Yebin, Yeonwoo juga gara-gara Carissa.” Ujar Soonyoung.

Carissa memukul pelan meja. “Wonwoo dapet jackpot pas sama Yeonwoo anjir.”

“Lah dia sama Yebin juga dapet jackpot.” Kata Seokmin.

Carissa mengerutkan dahinya. “Lah yang masih rapet kan Yeonwoo. Kok Yebin juga?”

Seokmin menenggak minumannya dan mengernyitkan dahinya setelahnya karena menenggak sekaligus. “Yang bikin Wonwoo jago kan Yebin.”

“BANGSAT IYA JUGA YA! HAHAHAHA.” Suara ketawa Soonyoung bikin beberapa pengunjung menoleh.

“Bangsat gue lagi aja yang kena.”

Carissa juga ketawa tapi gak seheboh Soonyoung. “Gak nyangka gue Yebin bikin bocah perpus jadi fuckboy.”

“Tapi gue beneran jago, Ca. Mau nyobain gak?” Goda Wonwoo. “Daripada fwb-an sama Jihoon, mending sama gue, Ca. Kalo kebablasan tinggal nikah.” Abis itu Wonwoo dipukul Carissa.

“Won buset, hahaha. Kebelet nikah lo?” Ledek Seokmin.

“Adek gue mau nikah. Gue disuruh buru-buru nikah, nyet!” Gerutu Wonwoo.

“Udah bener sama Mina. Pake acara putus.” Balas Seokmin

“Mina kebaikan buat Wonwoo, Seok.” Timpal Carissa.

“Yaudah lo aja gih yang nikah sama Wonwoo, Ca.” Soonyoung membalas.

Carissa menggeleng. “Kaga dah. Nikah dibawah 30 tahun bukan cita-cita gue. Kecuali lo seganteng Ji Changwook atau Yoo Yeonseok. Baru mau gue.”

Yang lain mencibir setelah mendengar ucapan Carissa. Malam ini mereka habiskan dengan bercerita, membully satu sama lain. Dan berakhir dengan semuanya tepar kecuali Wonwoo karena kebanyakan minum.

Wonwoo menghentikan motornya disamping gerobak tukang bubur. Merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena helm sebelum turun dari motor.

“Bang Yudi, 2 ya, biasa.” Pinta Wonwoo pada tukang bubur yang sudah menjadi langganannya dengan Carissa selama 2 tahun belakangan ini.

“Oke, Mas Wonwoo.” Balas Bang Yudi. “Si Neng kemana, Mas?”

“Masih diatas kayaknya. Tadi saya disuruh kesini duluan. Mesenin dulu.”

Gak lama Bang Yudi nanyain Carissa, anaknya dateng bawa-bawa helm di tangan kirinya dan sebuah totebag yang isinya penuh disebelah tangannya. Handbagnya tersampir di pundaknya. Kebayang gak betapa banyak dan repotnya Carissa tapi anaknya berlari kecil menghampiri tukang bubur dengan senyum yang gak surut dari wajahnya.

Begitu dekat gerobak bubur, dia langsung menghampiri Bang Yudi yang lagi buatin pesanannya dan Wonwoo. “Bang Yudi, punya saya kerupuknya yang banyak ya!”

“Oke, Neng.”

Carissa langsung duduk di sebelah Wonwoo. Bawaannya diletakkan dibawah meja kecuali handbagnya. Takut lecet, itu tas baru dibeli 3 bulan yang lalu soalnya.

“Tadi gue jemput aja deket lobi kalo tau bawaannya banyak.” Ujar Wonwoo saat melihat barang bawaan Carissa hari ini.

“Ribet. Nanti muter-muter.” Bang Yudi memberikan bubur mereka. “Makasih, Bang.”

“Yaudah terserah, Tuan Puteri aja.”

Abis ngomong kayak gitu, Wonwoo ngedeketin kecap dan lada ke Carissa. Carissa langsung meraihnya dan nuang dua benda itu ke buburnya. Sebelumnya, Carissa juga mindahin emping punyanya ke bubur Wonwoo. Hal kecil kayak gini jadi kebiasaan mereka tiap sarapan bubur bareng.

Setelah dirasa cukup, Carissa mengaduk buburnya. Dan Wonwoo mulai menyuap buburnya tanpa repot-repot mengaduknya seperti Carissa.

Percaya atau enggak, mereka berdua pernah berantem selama 2 hari cuma gara-gara menurut Carissa, bubur diaduk lebih enak daripada gak diaduk. Sedangkan menurut Wonwoo sebaliknya.

Bang Yudi melihat kedua orang itu cuma bisa tersenyum tipis. Langganannya sejak 2 tahun lalu atau tepatnya sejak Carissa tinggal di apartemen yang gak jauh dari tempatnya berdagang itu. Kadang suka teringat awal Carissa datang bersama Wonwoo untuk menyantap buburnya. Bang Yudi pernah mengira kalo Wonwoo itu pacarnya Carissa. Tapi hal itu langsung dibantah Carissa dengan jawaban, “Bang, dia mah supir saya. Pacar saya gak mungkin modelan dia.”

“Jadi helmnya itu punyanya si Yena. Dia beli online gitu, Won, cuma salah kirim. Penjualnya kayak gak responsif gitu pas di komplain sama Yena sampe dia hopeless sendiri. Akhirnya gue beli aja. Kebetulan gue suka sama warnanya.” Jelas Carissa soal helm barunya.

“Bagus kok helmnya. Yena gak suka apa gimana?”

“Dia bilang buat kakaknya sih. Tapi gak sesuai takut diomelin sama kakaknya.”

“Bawa-bawa helm gak ribet? Mau di taro mana nanti?”

“Gampanglah itu. Lo ada kerjaan gak hari ini?”

Wonwoo meneguk teh hangat tawar di gelas. “Cuma lokasi doang di Tebet. Keburulah nganter lo dulu.”

“Oke kalo gitu mah.”

Pagi itu mereka habiskan dengan banyak cerita sembari menghabiskan bubur mereka. Gak jarang ada tawa yang lepas entah karena cerita Wonwoo dengan klien-kliennya. Atau cerita Carissa dengan anak setimnya yang sering ia sebut anak gembala. Sarapan bareng pagi ini diakhir dengan Carissa ngomel-ngomel karena mereka kelamaan sarapan dan ngobrol yang akhirnya jadi kena macet.

Bandara Soekarno Hatta emang gak kenal sama yang namanya sepi. Selalu ramai termasuk di arrival terminal 3.

Pesawat Carissa landing jam 1 dan Soonyoung, yang hari ini jemput Carissa, udah sampe di bandara 10 menit sebelumnya pesawatnya landing.

Alasan kenapa Soonyoung yang menjemput Carissa itu soalnya dia sendiri yang minta Soonyoung menjemputnya. Dan karena hari ini ulangtahunnya jadi diturutin sama Soonyoung walaupun sebenernya Soonyoung paling anti bawa mobil ke bandara apalagi hari Senin begini. Selain macet, Soonyoung kurang suka berada di keramaian.

Soonyoung milih nunggu Carissa di Starbucks. Dia cari meja yang pojok, yang agak jauh dari keramaian setelah memesan Ice Americano dengan extra 3 shots. Dia bakalan habis diomelin Carissa kalo tau Soonyoung minum ini.

Setelah hampir menunggu selama 25 menit, akhirnya Carissa datang.

Baggage claimnya lama banget. Gue sampe lumutan nungguinnya.” Carissa duduk didepan Soonyoung. “Lo mesen Americano?!”

Soonyoung nyengir. “Ngantuk banget, Ca, sumpah. Daripada nabrak nanti pas nyetir.”

Carissa langsung aja mukul Soonyoung. “Gak ada alesan ya! Kasian perut lo. Pasti lo mesennya extra shot.” Carissa bangun dari duduknya. Dia membuang Iced Americano Soonyoung. Lalu mengambil kunci mobil Soonyoung diatas meja. “Gue yang nyetir. Lo tidur aja gapapa. Gue mendingan capek nyetir daripada lo masuk UGD lagi gara-gara kopi.”

“Iya, Nyonya.”

Mereka pun bergegas meninggalkan Starbucks. Soonyoung menarik koper Carissa yang membelah jadi 2 karena dia belanja pas di Hongkong dan membuat koper yang dibawanya gak muat dan harus beli koper lagi buat belanjaannya.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen Carissa, Soonyoung gak tidur dan malah asik bercerita sama Carissa. Soonyoung sama Carissa kalo ketemu emang gak ada habisnya buat ngobrol. Anehnya mereka gak pernah kehabisan topik.

“Nanti malem dinner dimana?” Tanya Carissa.

“Di Skye. Eh kok gue kasih tau sih? Jadi gak suprise dong?”

“Nyong, gue ulangtahun buat yang ke 27 kali. Artinya udah 27 kali gue nambah umur, jadi gak usahlah pake suprise.”

“Iya juga sih ya. Bosen gak sih lo dikasih suprise mulu? Soalnya gue juga bosen ngasih suprise mulu.”

Carissa menatap Soonyoung sebelum mereka berdua ketawa. “Gue masih heran kenapa bisa temenan sama lo, Nyong...”

“Gue juga gak tau kenapa masih mau temenan sama lo, Ca...”

. . .

Begitu jam menunjuk ke angka 7, Soonyoung udah riweuh nyuruh Carissa cepetan dandannya. Soalnya dinner mulai jam 8 dan kalo gak berangkat dari sekarang bisa telat karena macet. Macetnya Jakarta apalagi daerah Thamrin sana bisa sampe jam 8-9an.

“Ca, cepetan dong. Nanti kalo telat gue diomelin Ujuy.”

“Sabar dong, Kwon Soonyoung. Ini baru bikin alis.”

“Ya tuhan... beneran bisa S3 gue nungguin lo dandan. Udah dandan di mobil aja keburu telat karena macet.”

Carissa pun nurut kata Soonyoung. Dia langsung memberesin printilan make upnya dan memasukkan pouch makeup yang biasa dibawanya berpergian atau kerja ke dalam slingbagnya.

Bener apa yang dibilang Soonyoung, mereka kena macet. Untungnya berangkat awal jadinya mereka sampe tepat waktu.

Tapi sampe parkiran, Soonyoung sama Carissa gak langsung turun karena ditahan sama Soonyoung buat gak turun dulu. “Bentar. Jangan turun dulu.”

“Kenapa lagi?”

“Itu diatas belom selesai ngituin kuenya.” Soonyoung membaca sesuatu di hapenya. “5 menit lagi baru kita naik.”

Carissa mencebikkan bibirnya. “Tuhkan. Tau gitu tadi nelat dikit aja berangkatnya.”

“Sabar dong, Carissa. Lo udah tua, jadi gak boleh banyak protes.”

“Gak ada hubungannya!” Pekik Carissa. “Gue mau ke kamar mandi nih.”

Akhirnya mereka turun dan melipir ke kamar mandi dulu sebelum naik ke atas.

Begitu diatas, Soonyoung langsung mengarahkan Carissa ke table yang Yuju sudah pesan. Disana sudah ada Wonwoo, Seokmin, dan Ibunya.

“Ibu!”

“Halo anak Ibu. Selamat Ulangtahun ya.” Ibunya membalas pelukan Carissa.

“Tau ada Ibu gak usah disini dinnernya.”

“Gapapa. Ibu juga masih muda, masih cocok ditempat beginian.” Ujar Ibunya membuat yang lain tertawa.

Carissa menarik kursi yang berada disebelah Ibunya. Begitu dia duduk, Yuju datang dengan kue dan sembari menyanyikan lagu selamat ulangtahun. Wonwoo otomatis mengabadikan momen itu. Seokmin dan Soonyoung ikut bernyanyi bersama Yuju.

Happy birthday to you.”

Happy birthday...

Happy birthday...

Happy birhday to you.” Yuju menaruh kuenya didepan Carissa. “Tiup lilin terus make a wish.”

Carissa langsung memejamkan matanya, membuat harapan. Lalu meniup lilin diatas kue setelahnya.

“Selamat ulangtahun, sepupu!” Yuju langsung memeluk Carissa. “Ini kado dari gue sama Seokmin ya!”

Carissa menerima kado yang disodorkan Yuju. “Makasih lo, sepupu. Makasih juga ya, Seok.”

Seokmin maju untuk bergantian memeluk Carissa. “Happy birthday, Ca.”

Lalu Soonyoung dan Wonwoo bergantian mengucapkan selamat pada Carissa. Gak lupa, Soonyoung memberikan kado yang dititipkan padanya dan kado darinya. Wonwoo pun gak ketinggalan ngasih kadonya.

Satu malam telah berlalu, umur Carissa pun kini bertambah.

Sepulang dinner Carissa di sapa oleh resepsionis tower apartemennya.

“Kak Carissa, baru pulang ya? Ini ada paket baru banget sampe.”

“Iya nih, Mbak. Ohiya, makasih ya.”

Carissa langsung naik ke unitnya setelah menerima paket. Paketnya di letakkan di meja kopi sama Carissa. Dia memilih buat membersihkan diri dulu sebelum membuka paket yang diterimanya. Dia langsung terdiam saat melihat isi paketnya. Ada sepucuk surat yang terselip disana dan itu membuatnya tau siapa gerangan pengirim paket tersebut.

Dentuman musik menyambut mereka berdua begitu masuk Zirca. Wonwoo bukan tipe yang suka ke club rame kayak gini. Tapi karena Carissa, jadilah dia disini.

Setelah bikin Wonwoo jadi porter barang-barangnya, Carissa juga berhasil bikin Wonwoo ikut dia ke Zirca. Dentuman musik yang memekakan telinga ternyata gak bisa meredakan pikirannya yang berkecamuk.

Pagi tadi adalah pagi terchaos menurut Carissa. Gimana chat Masnya dan segala statement dari Masnya bikin dia marah dan kecewa. Truth always can be hurt and this morning they're hurting themselve.

Carissa kecewa sama Masnya yang ternyata punya hubungan sama Jihoon. Dan Seungcheol kecewa sama adiknya yang ternyata ada sesuatu dibelakangnya. Eventhough Carissa sama Jihoon udah gak berhubungan lagi sejak Seungcheol mengenalkan Jihoon pada Carissa awal tahun kemarin tapi Jihoon tetep aja mencarinya.

Sehabis berantem sama Jihoon di telpon pagi tadi, Carissa langsung aja ngajak Wonwoo keluar. Ini yang Wonwoo maksud Carissa marah-marah di telpon. “Won, gue mau ke Orchard.”

“Yaudah, yuk.”

Wonwoo gak expect bakalan dijadiin tukang angkut belanjaan sama Carissa saat diajak keluar. Yang ada dipikirinnya adalah Carissa ngajakin keluar karena she needs something to distract her mind. Dan itu belanja.

Wonwoo udah meringis saat liat belanjaan Carissa. Siapapun bisa nangis ngeliat belanjaan Carissa. She spent all of her money pikir Wonwoo. Dan Carissa bisa aja ngabisin uangnya lebih dari ini kalo aja gak Wonwoo tarik ke Subway buat makan. Mereka langsung balik ke apartemen setelah makan. Puluhan shopping bag berhasil Wonwoo bawa ke apartemen dengan keringat yang mengucur di pelipisnya.

“Maaf ya, Won, lo jadi porter belanjaan gue seharian.” Carissa mengumpulkan rambutnya lalu menguncirnya jadi satu. “Sebagai permintaan maafnya, gue masakin makan malam.”

Belum Wonwoo iyakan, Carissa langsung bangun dan keluar, menuju minimarket terdekat buat beli bahan masakannya. Wonwoo cuma bisa melihat punggung Carissa yang menghilang dibalik pintu.

Carissa melakukan ini dan itu cuma biar pikirannya gak terusik lagi sama kejadian tadi pagi. Tapi percuma, kejadian tadi pagi tetep menghantui pikirannya. Jadilah setelah makan, ajakan terucap dari mulu Carissa. “Won, ke Zirca yuk.”

Wonwoo cuma bisa masa muka plongo saat mendengar itu, “Hah? Seriusan mau ke Zirca?”

“Udah lo mandi sekarang, gue juga mandi. Pokoknya kita ke Zirca.”

“Won, turunlah. Kalo mau bengong doang diapartemen juga bisa!” Suara Carissa menbangunkan Wonwoo dari lamunannya.

Carissa menenggak habis Tequilla nya sebelum turun ke lantai dansa. Wonwoo langsung buru-buru mengikuti Carissa karena Carissa dress up malam ini bikin penghuni club menatapnya dengan lapar. Wonwoo harus menjaga Carissa.

Carissa langsung aja merapatkan tubuhnya pada Wonwoo saat laki-laki itu berada didekatnya. Wonwoo sendiri udah tahan nafas aja begitu Carissa melakukannya. Coy, perempuan didepannya ini bikin dia gila setiap saat dan sekarang makin gila karena Wonwoo harus menahan segala hal yang bisa merusak semuanya.

Carissa memeluknya, menenggelamkan wajahnya diceruk leher Wonwoo. Badan gemetar tanda ia menangis. Wonwoo kelimpungan sendiri saat merasakan tubuh Carissa yang berguncang karena terisak.

Wonwoo mendekap Carissa, membisikkan pertanyaan pada perempuan di pelukannya. “Ca, kenapa?”

Carissa menggeleng lalu melepaskan pelukannya. “Gapapa.” Carissa menarik Wonwoo ke arah bar. “Minumlah, Won, ngapain kesini kalo gak minum.”

Lalu yang terjadi selanjutnya adalah Carissa yang minum seperti orang kesetanan. Dia cuma mau mabuk sampe gak inget apa-apa apalagi tentang pagi tadi.

Wonwoo cuma bisa ngeliatin Carissa menghabiskan gelas kedelapannya. Dia sadar begitu Carissa ngajak kesini pasti perempuan itu mau mabuk sampe gak sadarkan diri, jadinya dia gak minum banyak.

Gelas kesembilan membuat Wonwoo harus menghentikan Carissa. Muka Carissa udah merah karena terlalu mabuk. Wonwoo langsung aja membawanya pulang.

Sampe apartemen, Carissa yang tadinya jalan sempoyongan tiba-tiba berdiri tegak, menarik Wonwoo mendekat. “Kiss me, Won.”

Wonwoo kaget. “Seriusan, Ca?”

Carissa mendecak lalu menarik Wonwoo supaya mudah untuk ia raih. “Gak usah banyakan mikir. Just kiss me already.”

Kalo aja Wonwoo tau malam itu berakhir kayak gini, dia gak akan mau untuk melakukan hal yang Carissa pinta.

Sekitar jam 9an, Carissa akhirnya keluar dari gedung kantornya. Udah gak tau ini malem keberapa Carissa pulang diatas jam 8, yang Carissa inget sudah 4 hari Minjae gak kunjung membalas chatnya. Dia cuma bisa menghela nafas saat ngecek hapenya tapi gak ada notif apa-apa dari Minjae.

“Ca.”

Carissa langsung mencari suara yang memanggilnya. Dia langsung kaku saat tau siapa yang manggil dia.

“Baru balik?” Wonwoo, orang yang memanggil Carissa itu, berjalan mendekatin Carissa. “Balik sama siapa?”

Carissa rasanya mau buru-buru cabut aja dari hadapan Wonwoo. Tapi sayang, hujan deras mengguyur ibukota malam ini. Semua transportasi pasti jadi susah dan mahal. Dan Carissa lagi gak bawa mobil hari ini.

“Grab atau taksi, mungkin.”

“Bareng gue aja, Ca.” Raut wajah Carissa langsung berubah. “Ujan, Ca. Grab biasanya susah, apalagi taksi.”

“Gak usah. Makasih, Won.“

“Sekali ini aja, Ca.” Mohon Wonwoo. “Lo mau diem aja gapapa, Ca. Asal gue anter.”

Akhirnya dengan amat terpaksa, Carissa pun mau pulang diantar Wonwoo mengingat emang susah banget nyari kendaraan pulang kalo lagi ujan gini. Carissa hanya berdiam diri dan menatap keluar jendela. Carissa beneran gak ngeliat ke arah Wonwoo yang sedang menyetirinya. Pandangannya hanya pada rintik air hujan di jendela. Gak ada suara yang keluar dari bibir Carissa yang biasanya akan menceritakan soal harinya dari A-Z. Gak ada, “Won, gue tidur ya. Capek banget gue hari ini.” Atau, “Ganti dong lagunya. Demen banget sih sama lagu begini.” Semuanya terasa hening dan canggung

Hujan di Jakarta emang bikin macet. Perjalanan menuju apartemen Carissa yang biasa ditempuh dalam 10-15 menit, karena hujan dan macet perjalanan bisa jadi 30-45 menit. Dan selama itu, Wonwoo cuma bisa diem aja karena Carissa mengabaikannya.

“Carissa.” Carissa gak bergeming. “Gue kemarin ketemu sama Minjae.”

Carissa langsung mengalihkan pandangannya. “Lo ngapain?”

“Gue ketemu sama Minjae. Dirumahnya, ngobrol-ngobrol dikit.”

Wonwoo menatap Carissa yang kembali buang muka. Wonwoo memberanikan diri buat ngobrol sama Carissa. ppapWalaupun tadi dia bilang akan gak peduli kalo Carissa ngediemin dia, tapi Wonwoo ada sesuatu yang harus disampaikan.

“Ca, gue boleh ngomong sesuatu?”

“Hm?”

“Buat apapun yang gue lakuin ke lo terus nyakitin lo. Gue minta maaf, Ca.”

Sedetik setelah mendengarkan ucapan Wonwoo, Carissa merasakan matanya menghangat.

4 Oktober dipilih Yuju dan Seokmin sebagai hari pernikahan mereka. Kalo ditanya alasannya kenapa milih tanggal itu, simple, itu hari ulangtahun Yuju. Seokmin yang mau buat pernikahannya diselenggarakan di tanggal itu karena saat ulangtahunnya kemarin, Yuju memberikannya hadiah paling berharga yaitu Yuju menerima lamarannya dan Seokmin juga mau memberikan hadiah yang sama pada Yuju. Menjadikan Yuju sebagai istrinya.

Carissa sendiri gak henti-hentinya mengusap ujung matanya selama ijab kabul. Minjae disebelahnya cuma tertawa kecil. “Udah dong nangisnya. Kasian tuh sama makeup kamu.”

“Aku sedih tau, Mas. Tapi seneng juga dan banyakan senengnya walaupun tetep sedih. Aku kenal Yuju dari kecil. Terus liat dia nikah dan jadi istri orang aku jadi sedih. Time flies so fast. Padahal kayaknya baru kemarin aku sama dia cabut kelas cuma buat berburu sale.”

Minjae tersenyum. Dia merangkul Carissa, membawanya ke dalam pelukan. Carissa menyandarkan kepalanya ke bahu Minjae. Wonwoo yang disebrang Carissa, bisa melihat semuanya dengan jelas.

Wonwoo cuma bisa ngehela nafas lalu mencoba tersenyum. Dia jadi teringat waktu dia ketemu Minjae waktu itu. Waktu dia nyamperin Minkyung ke rumahnya. Wonwoo jadi inget kata-kata yang Minjae bilang ke dia. “Wonwoo, gue gak tau sedeket apa lo sama Carissa dulu sebelum dia ketemu sama gue. Tapi yang gue tau, Carissa keliatan gak baik-baik aja waktu ketemu sama gue pertama kali. Gue juga gak tau kenapa dia keliatan begitu sampe gue tau soal kejadian Singapore kemarin. Wonwoo apapun alasan lo melakukan itu, lo tetep salah. Bukan nyalahin lo tapi emang ini murni salah lo. Lo mungkin gak tau after effect setelah melakukan itu saat itu, tapi Carissa tau dan sebab itu dia marah sama lo. Semuanya jadi beda setelah kejadian itu. Lo mau bilang berjuta kata sayang ke dia juga percuma. Semuanya berubah ketika pertemanan lo udah dicampuri perasaan. Mungkin yang lo liat sekarang Carissa udah baik-baik aja padahal gak juga. Carissa suka tiba-tiba zooming out lagi sama gue kayak orang lagi mengenang sesuatu tapi gak bisa dia ulang atau dia rasain lagi karena emang udah gak bisa. Maaf kalo kesannya gue menghakimin lo, tapi sebagai orang yang sama-sama sayang sama dia, gue harus bilang ini semua. Wonwoo gue tau lo orang baik, Minkyung pernah cerita ke gue. Maaf juga kemarin gue cerita ke Minkyung soal lo dan Carissa karena adek gue juga berhak tau. Dan untuk apapun yang pernah lo lakukan buat adek gue dan Carissa dulu, gue berterimakasih banyak.”

Dan setelah perkataannya, Minjae yang bikin Wonwoo berani nyamperin Carissa ke kantornya dan mengantar pulang. Tapi tentu saja izin dulu sama Minjae. Wonwoo tersadar dari lamunannya saat seluruh penghuni ruangan mengucapkan hamdalah. Soonyoung disebelahnya tau kalo Wonwoo barusan bengong setelah melihat Carissa dan Minjae disebrangnya.

“Anaknya nangis mulu dari tadi tuh.”

Wonwoo menoleh ke Soonyoung. “Hm? Siapa?”

“Carissa.” Soonyoung mengedikkan dagunya ke arah Carissa. “Untung ada Mas Minjae.”

“Ah iya. Cengengnya gak ilang ternyata.”

“Gue denger dari Seokmin, semua kontak lo udah gak diblock sama Carissa.”

“Iya, Nyong.”

“Udah dimaafin?”

Forgiven but still, forgotten. Kayaknya udah mau diajak ngobrol sih. Tadi mau gue ajakin ngobrol.”

“Ya gapapa. Seenggaknya dimaafin dan lo gak perlu takut dibunuh sama dia kalo ngajakin ngobrol.”

Wonwoo dan Soonyoung ketawa setelahnya. Bener kata Soonyoung. Seenggaknya gak ada tatapan membunuh dari Carissa tiap liat dia. This is enough for Wonwoo.

Menjelang malam, para tamu mulai berdatangan dan memenuhi ballroom. Karena sebagian besar temennya Yuju itu temennya Carissa juga, jadinya dia ngider kesana kemari bersua dengan teman-temannya. Minjae sendiri gak nemenin Carissa buat bersua karena dia nemenin Seungcheol dan sepupu Carissa lainnya.

Pandangan Wonwoo gak lepas dari Carissa sejak dia menemukan Carissa yang sedang ngobrol dengan teman-temannya. Bener-bener susah banget buat gak terus-terusan ngeliatin Carissa karena she’s so beautiful tonight wearing that dress yang memang sangat amat dia itu. Wonwoo langsung bangkit dari kursinya saat melihat Carissa berjalan menuju stand minuman. Gak tau apa yang membuatnya melakukan itu tapi dengan pasti, Wonwoo melangkahkan kakinya menuju Carissa.

“Tau gak lo kalo soda itu ada 200kal per gelasnya?”

Carissa yang sedang menyesap minumannya langsung menatap orang disebelahnya. “Hah?”

“Terus kalo minum soda apalagi Cola kita gak cukup cuma segelas. Minimal 2 gelas lah. Coba lo bayangin berapa kalori yang dihasilkan dari minum soda?”

Carissa mengerutkan dahinya lalu sedetik kemudian dia ketawa. “Sumpah lo random banget dah. Kayak waktu kita pertama kali ketemu di foodcourt kampus.”

Wonwoo, yang barusan mengatakan hal tersebut, ikutan ketawa. “Lo juga aneh kali, Ca. Ketika orang-orang beli air mineral botol sedang, lo malah selalu beli air mineral botol yang kecil.”

“Irit tau!”

“Irit darimananya? Yang ada lo boros karena sehari bisa beli sampe 7 botol. Mana botolnya disimpen semua lagi. Mau mulung lo?” Ledek Wonwoo.

Carissa meninju pelan lengan Wonwoo. “Sialan!”

“Tapi serius deh. Gunanya lo beli dan ngumpulin botol-botol itu buat apaan sih?”

“Gak tau. Gue aja bingung kenapa juga gue ngumpulin begituan ya?”

Keduanya ketawa. Mereka berdua langsung keinget sama momen pertama kali mereka ketemu. Siang itu di foodcourt kampus mereka yang gak pernah sepi. Kalo dipikir-pikir dan diingat-ingat, awal mula mereka berteman emang seaneh itu. Berawal dari Wonwoo yang gak sengaja ngejatohin dan menendang botol air mineral yang baru Carissa beli abis itu mereka berantem karena usut punya usut, air mineral itu ada botol terakhir yang ada. Untungnya ada Seokmin dan Soonyoung waktu itu yang melerai mereka. Kalo gak, mungkin mereka gak akan bisa temenan sampe sekarang.

“Udah lama ya, Ca, gak makan soto kuning di foodcourt. Ibunya masih jualan gak ya?”

“Iya njir. Udah berapa tahun sih kita gak ke kampus? Bapak-bapak yang buka kelontong samping tukang fotokopi depan fakultas lo masih buka gak ya?”

Mereka ketawa lagi. Wonwoo emang paling bisa jadi orang yang menerima segala pemikiran random Carissa.

Setelah keduanya diam dan sibuk dengan minuman masing-masing, Wonwoo kembali bersuara. “Ca, gue minta maaf ya buat semua yang gue lakuin ke lo.”

“Udah sih. Masih aja dibahas. Santai elah.”

“Gue takut aja lo nya sok pura-pura santai, tau-taunya ada rencana buat membunuh gue karena masih dendam.”

“Ya enggaklah!” Carissa merangkul Wonwoo. “Kalo gue ada rencana buat itu, sekarang lo gak ada disini.”

Wonwoo nyengir. “Kita bisa temenan lagi kan? Sedih banget gue gak ada yang gangguin minta dianter kesana kemari.”

“Iyadong. Lo temen gue.”

Mereka kembali seperti sebelumnya. Minjae yang sedang ngobrol dengan Minki, kakak Yuju, gak sengaja melihat Carissa dan Wonwoo yang sedang tertawa. Minjae tersenyum karena mereka berdua sudah kembali seperti biasanya.

Carissa terlihat sibuk dengan novel tebal yang memiliki 800 halaman itu. Dia duduk disamping Wonwoo yang mengendarai Fortuner milik Seokmin.

Jadi sebelum berangkat, ada drama soal duduk. Yuju mengeluh mual kalo harus duduk didepan sedangkan Seokmin harus mengendarai mobilnya ke bandara tapi Yuju gak mau jauh-jauh dari Seokmin. Wonwoo akhirnya menawarkan diri buat mengendarai mobil dan menyuruh Soonyoung buat duduk didepan menemaninya tapi Soonyoung juga gak mau duduk didepan karena dia ngantuk dan males nemenin Wonwoo. Jadinya Carissa yang duduk didepan yang nemenin Wonwoo.

Sebenarnya jarak dari rumah Seokmin ke bandara itu bisa ditempuh selama 45 menit, tapi kalo kena macet bisa sampai 1 setengah jam.

Wonwoo gak berani menganggu Carissa yang keliatan asik dengan bacaannya jadinya di fokus nyetir. Sesekali dia melirik ke spion tengah. Dia melihat Yuju yang tertidur dengan bersandar pada Seokmin yang juga tidur dan Soonyoung tidur menempel ke jendela. Suasana cukup sunyi dengan radio yang menyala, memutarkan lagu-lagu.

Tiba-tiba terdengar ringtone panggilan masuk yang bikin Wonwoo dan Carissa mengalihkan pandangannya. Ternyata itu berasal dari hape Carissa. Langsung aja Carissa mengangkat panggilan itu.

“Halo...”

Suara Carissa yang melembut membuat Wonwoo langsung tau siapa lawan bicaranya disebrang sana. Pasti dari Minjae.

“Ini aku udah dijalan. Kamu udah landing?”

“Kamu di terminal 3? Kayaknya si Wonwoo juga terminal 3 deh, Mas. Bentar deh aku tanyain. Won, kita terminal 3 kan ya?” Wonwoo mengangguk. “Iya terminal 3.”

“Kamu nunggu disitu? Eh kamu ketemu Kak Jihoon sama Mas Seungcheol?”

“Yaudah tunggu situ aja ya. Palingan 20 menit lagi aku sampe. Mereka suruh nemenin kamu aja sampe kita dateng.”

“Hahaha bercanda, Mas Cheol... tapi kalo Mas Minjae nya ditemenin sampe aku dateng ya baguslah.”

“Iyaaaa. Okeey. Bye.”

Carissa langsung mematikan hapenya dan meletakkannya kembali dalam tasnya. Wonwoo rasanya gatel banget pengen nanya tapi dia urungkan. Gak lama ada suara yang nyaut dari belakang.

“Ica, ini kok anak-anak nanyain kontak vendor ke gue? Lo belom buka grup?” Ternyata itu Yuju yang baru bangun dan ngecek hapenya.

“Eh iya lupa gue. Tadi keasikan baca.” Carissa langsung mengambil hapenya. Dan gak lama, Seokmin dan Soonyoung bangun yang bikin mobil jadi rame setelah hampir 30 menit hening itu.

Begitu sampe, mereka berlima langsung melangkahkan kakinya ke Yoshinoya karena disana ada Minjae, Seungcheol dan Jihoon.

Begitu ketemu Minjae, Carissa langsung aja meluk Minjae. Mengabaikan ada kakaknya juga disitu.

“Iya yang punya dunia ini kalian berdua doang. Kita mah disini cuma ngontrak.” Celetuk Seokmin saat Carissa gak kunjung melepas pelukannya. Carissa cuma bisa mencibir dan yang lain ketawa.

Mereka milih meja yang lebar untuk menampung mereka semua. Carissa emang clingy banget, jadi mereka mewajari kelakuannya saat ini apalagi dia abis tinggal Minjae ke Jepang selama seminggu.

Wonwoo yang melihat itu cuma bisa tersenyum getir. Dia hatinya meringis melihat Carissa yang bermanja-manja sama Minjae. Beberapa kali dia menghela nafas dan membuang muka saat Carissa berceloteh banyak hal ke Minjae. Melihat itu semua, Wonwoo merasa kalo pilihannya buat menetap di California setelah studinya adalah pilihan tepat. Dia gak akan bisa ngeliat Carissa bahagia dengan orang lain. Hatinya ngilu setiap liat senyum yang terlukis di bibir Carissa bukan karenanya.

Begitu mendekati jam penerbangannya, Wonwoo segera check in. Seokmin, Soonyoung, Carissa, Minjae dan Yuju mengantar Wonwoo sampe konter check in. Seungcheol dan Jihoon udah pamit pergi duluan dari mereka di Yoshinoya.

Carissa jadi orang terakhir yang berpamitan dengan Wonwoo. Dia juga gak ragu buat memeluk Wonwoo. “Tiati disana, Won.”

“Iya, Ca.”

“Jangan lupa bahagia ya, Won. See you when i see you.”

Wonwoo mengangguk lalu melambaikan tangannya pada kelima orang itu sebelum akhirnya masuk ke boarding lounge.

Ada satu buku yang masih ngena di Carissa sampai detik ini bahkan setelah bertahun-tahun dia membacanya. This Is Water sebenarnya buku yang hanya berisikan sebuah pidato yang ditulis oleh David Foster Wallace tentang kehidupan bagaimana kita, human being, cenderung self-centered, melihat kejadian sehari-hari di sekeliling dengan kacamata kepentingan sendiri dan mengabaikan realitas apa yang sebenarnya terjadi.

Di buku itu, ada sepenggal cerita tentang dua ikan kecil yang sedang berenang-berenang di laut dan berpapasan dengan ikan tua yang menyapa mereka dan bertanya. “Morning boys. How’s the water?” Tetapi kedua ikan itu malah terus berenang sampai akhirnya saling menatap dan sama-sama kebingungan. “What the hell is water?

Dua kedua ikan kecil itu adalah Carissa dan Minjae. Dan air adalah keadaan yang mereka abaikan.

Dua ikan itu adalah Carissa dan Minjae yang menjadi bodoh atas perasaan mereka masing-masing.

Dan air adalah keadaan dimana setelah Wonwoo meninggalkan Indonesia dan Minjae terus-terusan melontarkan pertanyaan soal pernikahan. Semenjak kedua hal itu, Carissa merasa sedang menipu dirinya. Mengabaikan fakta bahwa dia merasa kehilangan Wonwoo saat laki-laki itu memutuskan pergi dan merasa terganggu akan pertanyaan Minjae.

Akhirnya sampai dimana saat Carissa akhirnya melihat “air”.

Waktu itu Carissa dan Minjae sedang stay vacation di salah satu hotel yang ada di Jakarta. Ini pertemuan mereka setelah 7 bulan gak ketemu. 7 bulan setelah pertanyaan, “Ica, nikah ya sama aku. Aku harus nungguin kamu sampe kapan?” terakhir kali dipertanyakan oleh Minjae.

7 bulan itu digunakan oleh Carissa buat mengenyahkan pertanyaan itu dari kepalanya. Ada alasan kecil namun kuat kenapa Carissa enggan juga memberikan jawaban untuk pertanyaan itu. Alasannya adalah Carissa tidak yakin untuk menghabiskan hidupnya dengan Minjae.

Carissa sayang sama Minjae. Tapi untuk menghabiskan hidup bersama Minjae, Carissa merasa itu bukan hal tepat. Terlebih, Minjae yang sudah dikejar untuk menikah tahun ini, membuatnya makin tidak yakin.

Jadi setelah dinner, mereka naik ke atas menuju kamar hotel yang mereka pesan. Selama dinner, baik Carissa atau Minjae gak ada yang mengungkit soal pertanyaan 7 bulan lalu. Atau belum mungkin. Dan dinner dihabiskan dengan membahas kegiatan mereka selama 7 bulan belakangan ini. Membahas Axel, anak Yuju dan Seokmin yang sering kali dijumpai oleh Carissa tiap weekend itu. Dan banyak lagi.

Sesampainya di kamar, Carissa langsung masuk kamar mandi. Untuk membersihkan diri dan keluar dengan mengenakan bathrobe. Mendapati Minjae yang sudah berganti baju lebih santai dan sedang menonton tv diatas kasur.

Carissa langsung aja bergabung dengan Minjae dan mendusel didalam pelukan Minjae. Minjae sendiri reflek memeluk erat Carissa walaupun matanya tetap fokus pada tv.

Setelah sibuk dengan kegiatan masing-masing, Minjae akhirnya mengajak Carissa untuk duduk di kursi yang posisinya didepan jendela.

Karena kursinya cuma satu, jadila Carissa yang duduk disana dan Minjae berlutut didepannya.

“Ica, aku mau ngomong sama kamu. Kamu mungkin paham jelas kemana arah pembicaraan ini tapi aku tetep mau ngomong.” Carissa menegang. “Ica, nikah sama aku ya?”

Minjae menggenggam tangan Carissa. “Umur kita udah cukup berkeluarga. Aku juga udah berpenghasilan yang cukup buat menghidupi kamu.”

“Aku gak bisa, Mas.” Carissa menghindari tatapan Minjae. Menarik tangannya dari genggaman Minjae. “Aku gak yakin buat hidup sama, Mas.”

“Aku harus apa biar kamu yakin, Ica? Aku sengaja ngasih space 7 bulan belakangan ini karena aku pikir kamu butuh waktu buat mikirin semuanya.”

“Aku... juga gak tau.”

Mereka sama-sama diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Minjae menghela nafas. “Aku... gak pernah bisa menang ya?”

Carissa menatap Minjae. “Aku tau. Wonwoo kan?”

“Mas...”

“Orang lain atau kamu mungkin gak bisa ngerasa. Tapi aku bisa, Ica. Wonwoo punya tempat disana. Tapi gak bisa aku raih. Aku pura-pura buta karena aku pikir setelah Wonwoo pergi kamu bisa ngilangin tempat itu tapi ternyata gak juga.”

Minjae tersenyum lalu mengusap kepala Carissa. “I can never win this, can i?

Lalu yang terjadi setelahnya selama setahun belakangan setelah malam itu, pindah dan tinggal bersama Ibunya. Carissa juga kembali ke rutinitas biasanya. Mengurus Event Organizernya. Setiapweekend ia habiskan dengan berkunjung ke rumah Yuju. Tidak ada lagi Minjae dalam hidupnya. Carissa juga memberanikan dirinya buat kembali menghubungi Wonwoo. Suprisingly, Wonwoo ternyata menunggunya. Dan setiap malamnya atau setiap paginya sebelum berangkat bekerja, Carissa sempatkan untuk bervideo call dengan Wonwoo. Atau sekedar main dengan Soonyoung di salah satu weekday. Menutup hari dengan menyetir sendiri menuju rumah dengan membisikkan pada dirinya sendiri berulang-ulang: this is water.

Dan pada Sabtu, 22 Januari 2020, Carissa kini berada jauh dari kemacetan Jakarta dan melihat banyaknya orang berlalu lalang di San Fransisco International Airport sambil menunggu seseorang menjemputnya. Lalu tersenyum saat mendapati Wonwoo dengan baseball cap dan masker yang ditarik ke bawah dagu, berjalan ke arahnya. Di kepalanya terdengar bisikan suara gang membisikkan tiga kata yang membuatnya senyum gak surut. This is water


Yang terjadi sama Wonwoo selama setahun belakangan ini adalah sibuk dengan tesisnya, pekerjaannya yang digelutinya, dan Carissa.

Waktu dia video call Seokmin niatnya buat ngeliat Axel, malah berakhir dengan ajakan Seokmin gibahin Carissa yang putus dengan Minjae.

“Gue kira bakalan nikah sama Minjae dia.”

”Minjae nya sih udah ngajakin nikah beberapa kali. Tapi dia nya yang gak mau.”

“Kenapa?”

”Gak tau pasti juga gue. Yang gue denger dari Yuju sih si Carissa nya yang gak bisa. Lo tau kan, when she said she can’t, it definitely we can’t do anything.”

Setelah percakapannya dengan Seokmin, Wonwoo jadi kepikiran Carissa. Entah kenapa ketika dia tau soal putusnya Carissa dan Minjae dia merasa kalo dia harus ngehubungin Carissa. He thinks that she must be need someone to share. Bener aja. Gak lama dari itu, Carissa kembali menghubunginya. Satu chat masuk saat dia hendak menuju kampusnya untuk bertemu dengan profesornya. Dan setelahnya mereka jadi makin sering chat dan juga video call

Tepat saat ulangtahun Wonwoo, Carissa menvideo call Wonwoo. Jam 9 pagi di San Fransisco yang artinya itu jam 11 malam di Jakarta.

“Happy birthday.”

Wonwoo tersenyum saat mendapati Carissa yang lusuh karena baru pulang. “Thanks. Baru balik?”

”Iya nih. Tadi abis dari venue buat acara besok.”

Wonwoo bisa melihat betapa lelahnya Carissa saat itu. Spontan, Wonwoo bertanya. “Ca, are you okay?

Carissa tersenyum tipis. ”Keliatan ya?” Wonwoo mengangguk. “Minjae found his girl.”

You’re not okay, then.

Carissa tertawa kecil. Matanya yang berkaca-kaca tadi sudah berubah jadi setitik air mata yang jatuh ke pipinya. “I’m. But it’s fine. Gue cuma merasa apa ya... regret?”

Then, what you regret for?

”Gue sadar harusnya kemarin gue ngelepasin Minjae aja pas gue gak bisa settled down sama dia dan nahan-nahan kayak kemarin. Nyesel karena gue bego, egois nahan kebahagiaan dia.”

“Lo sayang dia ya, Ca, mangkanya lo begini?”

”Iya. Tapi rasa sayang gue gak bisa bikin gue menetap sama dia, Won. Rasanya gak tepat gitu.”

Satu yang Wonwoo tau hari itu. Airmata yang Carissa keluarkan itu ternyata airmata untuk melepas perasaannya pada Minjae. Karena 2 bulan setelahnya, Carissa ngasih tau kalo dia bakalan pindah ke San Fransisco.

Wonwoo sendiri menyambut kabar tersebut dengan gembira. Bahkan dia nawarin Carissa buat di apartemennya. Jadinya saat Carissa ngabarin dia sudah landing, Wonwoo langsung bergegas menjemputnya.

Hal ini emang masih jauh dari ‘menghapus’ Minjae pada hidup Carissa. Atau membuat Carissa head over heels setengah mati pada Wonwoo, tapi Wonwoo bisa bersabar untuk menunggu karena Wonwoo tau kalo ia masih banyak waktu. This is more than enough.

Younghoon, Tiffany, dan Sunwoo akhirnya sampe Bandung setelah menempuh 2 setengah jam perjalanan. Dan selama perjalanan menuju Bandung, gak ada satupun dari mereka yang bersuara. Bener-bener mirip orang yang gak dikenal yang dipaksa untuk satu mobil bersama. Malah mendingan orang yang belom kenal satu sama lain karena mereka masih bisa basa-basi bertanya.

Begitu sampe mereka disambut oleh Mama Kim yang sepertinya menunggu kedatangan mereka.

“Cuci tangan dulu sebelum masuk. Anaknya Kak Tiffany jadi Adek bawa?”

Tiffany yang namanya disebut langsung nengok. “Si Majikan dibawa?”

Sunwoo yang tadi turun langsung ngilang tiba-tiba nonggol dengan membawa pet carrier. “Jengjeng!”

“Majikan!” Tiffany langsung menyambar pet carrier yang dibawa Sunwoo dan mengeluarkan kucingnya itu dan langsung mengusel-uselnya. “Yaampun kangen banget sama lo!”

“Mangkanya jangan ditinggal. Babu macam apa lo ninggalin Majikan gitu aja?”

Tiffany menatap judes adiknya. “Lo juga jangan ngajakin gue berantem terus.”

Mama Kim cuma bisa geleng-geleng kepala aja ngeliat anaknya adu mulut gitu. “Ayo cuci tangan dulu abis itu mandi makan. Mbak Nah, tolong bantuin Kak Younghoon bawain tasnya ke dalem ya.”

Abis tu mereka langsung cuci tangan dan masuk ke dalam. Mama Kim tinggal di daerah Cigadung dan itu fasilitas rumah dari kampus Mama Kim mengajar. Mama Kim cuma tinggal berdua sama Mbak Nah, pembantunya.

Tiffany jadi orang pertama yang kelar mandi dan udah ada duduk manis di meja makan nyemilin chicken popcorn. Mama Kim masak banyak buat ketiga anaknya. Gak lama ada Younghoon yang gabung ke meja makan.

Younghoon menyodorkan hape Tiffany. “Hape ketinggalan di mobil.”

“Gue kira ilang taunya ada di mobil. Thanks, Kak.”

Younghoon cuma senyum. Dia mengusak kepala Tiffany sebelum duduk disebelahnya. Semuanya mulai makan setelah Sunwoo gabung ke meja makan.

Setelah makan, Tiffany langsung nyamperin Majikan yang lagi asik rebahan di sofa ruang tengah. Sunwoo dan Younghoo ikut nyamperin ke ruang tengah. Mereka asik sendiri-sendiri sampe Mama Kim gabung diantara mereka.

“Besok Mama gak ada kelas. Mau ke Lembang gak?” Ajak Mama Kim.

“Males ah, Ma. Macet pasti.” Sahut Younghoon.

“Lah ayuk, Ma! Adek mau ke De Ranch.”

“Macet anjir! Kayak mau bawa mobilnya aja lo!”

Sunwoo menunjuk Tiffany yang lagi main sama Majikan. “Itu ada Kak Tipa. Suruh gantian aja.”

“Gue mulu jadi tumbal. Padahal lo bisa bawa mobil juga.”

“Ayo sih, Kak. Katanya lo mau foto-foto di Orchid Forest.” Rengek Sunwoo Ke Tiffany.

Tiffany berdecak lalu memutar matanya malas. “Iya ayo. Tapi berangkat Kak Younghoon yang bawa mobil.”

“Gue belom ngeiyain!”

“Udahlah, Kak, 2 lawan 1. Ngalah aja.” Ujar Mama Kim bikin Younghoon bete. “Lagian kita udah lama gak jalan-jalan berempat kan? Belom lagi kalian kemarin abis berantem juga.”

Ketiga Kim bersaudara langsung terdiam. Mama Kim melanjutkan ucapannya yang kali ini tertuju pada Younghoon. “Kak, namanya hubungan itu harus dua arah karena yang ngejalanin dua orang. Menurut Mama, Kakak salah udah selingkuhin Minkyung dan mewajarkan Tiffany yang marah sama Kakak. Oke alasan Kakak selingkuh bisa Mama maklumin. Kalian pacaran 2 tahun, bosan pasti akan selalu datang. Kamu bosan sama Minkyung terus apa yang Minkyung lakuin pasti gak akan memenuhi ekspetasi kamu karena aku bosan sama dia. Yang kamu lakuin harusnya itu berkomunikasi sama Minkyung kalo kamu itu bosan, cari solusi baiknya gimana buat hubungan kalian. Baru setelahnya kalau emang harus pisah, yaudah pisah.”

“Kak Tiffany juga.” Mama Kim menatap Tiffany kali ini. “Besok-besok gak boleh ya nginep-nginep di kosan laki-laki kayak gitu. Biar itu pacar kamu sendiri juga tetep gak boleh. Gak boleh juga berantem sama Kakaknya lebih dari sebulan gitu. Kasian Adek harus berada ditengah-tengah gitu.”

Mama Kim merangkul anak bungsunya. “Buat Adek, kamu udah besar, udah harus bertanggungjawab sama diri kamu sendiri. Mama gak nyalahin kamu buat bergantung sama Juyeon kayak kemaren-kemaren tapi ada baiknya kamu coba belajar buat gak bergantung sama orang ya. Dan besok-besok gak usah bawa mobil dulu. Mama jantungan tau gak sih pas kemarin Kak Younghoon cerita kamu nabrak orang?! Kok kalian bisa-bisanya gak ngabarin Mama.”

Younghoon menunjuk Tiffany. “Tuh oknum yang gak ngabarin, Ma. Kakak aja tau dari Juyeon.”

“Yaudah sih yang penting udah dikasih tau sama Juyeon.”

“Eh Kak Tipa, lo kenapa deh sama A Juyeon?” Tany Sunwoo.

“Gapapa.”

Sunwoo menatap nyinyir. “Sok gapapa. Jangan-jangan lo di labrak sama ceweknya ya?”

“Ah iya waktu itu Juyeon pernah ngasih tau kalo Tipa di labrak sama ceweknya Juyeon. Kenapa sih emangnya?” Sahut Younghoon.

“Dibilang gapapa batu lo berdua!”

Mama Kim senyum melihat anak-anaknya yang kini udah lebih ceria dari sebelumnya dan terlibat perdebatan gak jelas. Memang mereka butuh Mama Kim untuk mendamaikan pertengkaran mereka.

“Tip, lo di kosan Changmin gak yang enak-enak kan?” Tanya Younghoon

Tiffany langsung menaikkan nada suaranya, “MAKSUDNYA YANG ENAK-ENAK TUH APA?!”

Sunwoo cekikikan liatnya. Beneran deh kalo Kim bersaudara udah baikan, rumah jadi lebih rame kayak gini contohnya.

“Besok kita beneran jadi ke Lembang kan?”

“IYA KIM SUNWOO!!!” Jawab Tiffany dan Younghoon bersamaan.