Bangminggo

1k Word

“Gue belom pernah main pool.” Kata Minho mengaku.

“Ambil tongkatnya.” Chris menunjuk ke rak tongkat biliar yang berderet di dinding. Membuat Minho berjalan untuk mengambil satu dan membawanya ke meja.

Chris menutup mulut untuk menahan senyum.

“Apa?” Minho memincingkan sedikit matanya kepada Chris.

“Dalam permainan gak ada home run.”

Minho mengangguk sebagai jawaban. “Gak ada home run. Paham.”

Senyum laki-laki dihadapannya mengembang. “Lo megang tongkat kaya megang raket.”

Ia menunduk untuk melihat tangannya. Apa yang dikatakan Chris memang benar adanya . “Nyaman aja kalo megangnya kaya gini.”

Chris melangkah ke belakang Minho, meletakan tangan pada pinggulnya dan memosisikan diri di depan meja biliar. Lalu tangannya diselipkan kesamping tubuhnya yang lain untuk memegang tongkat biliar.

“Kaya gini,” Katanya, menggeser posisi tangan kanan Minho beberapa inci. “Dan... ini,” Chris melanjutkan, meraih tangan kiri laki-laki yang berada dalam rengkuhannya untuk membentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjuknya. Kemudian ia menempatkan tangan kiri Minho di meja biliar, seperti tripod. Didorongnya tongkat biliar melewati lingkaran itu dan melewati ruas jari telunjuk. “Tekuk pinggang lo.”

Minho mencondongkan badan ke meja biliar, dengan napas hangat Chris yang berada tepat di belakang lehernya. Ia menarik tongkat kembali, kemudian diluncurkan melewati lingkaran.

“Lo mau bola yang mana?” Tanya Chris, menunjuk segitiga berisi bola yang sudah tersusun di meja. “Yang kuning di depan itu keliatan bagus.”

“Gue suka warna merah.”

“Okelah.”

Chris mendorong tongkat maju-mundur melewati lingkaran jari Minho, membidik bola pendorong, dan melatih untuk mengayunkan tongkat.

Minho menyipitkan mata ke bola pendorong, lalu ke segitiga bola di ujung meja. “Meleset sedikit,” Ucapnya.

dapat Minho rasakan senyuman dari sosok di belakangnya. “Berani taruhan berapa?”

“seratus ribu.”

Chris menggelengkan kepalanya. “Jaket lo.”

“Lo pengen jaket gue?”

“Gue pengen jaketnya dilepas.”

Tangan Minho terdorong ke depan, dan tongkat biliar melewati jarinya, menabrak bola pendorong. Bola pendorong itu melaju, menabrak bola merah, dan membuat bola-bola dalam segitiga tercerai ke segala arah.

“Oke,” Kata Minho segera membebaskan diri dari rengkuhan Chris, melepas jaket jins yang dikenakannya. “Gue agak terkesan.”

Chris memperhatikan setelan kemeja baby blue yang dikenakan Minho. Ekspresinya terlihat serius. “Manis.” Lalu ia memutari meja, memperhatikan bola-bola biliar yang bertebaran.

“Taruhan seratus lima puluh ribu, lo gabisa masukin bola biru strip satu.” Minho jelas memilih targetnya dengan sengaja, bola itu terhalang dari bola pendorong putih oleh sekumpulan bola warna-warni.

“Gue gak pengen uang lo,” Balas Chris santai. Mata mereka terkunci satu sama lain, dan Minho dapat melihat lesung pipit kecil tampak di pipinya.

Dan Minho berani taruhan, suhu tubuhnya tiba-tiba naik beberapa derajat.

“Lo pengen apa?” Tanyanya berusaha terlihat biasa.

Chris menurunkan tongkat biliarnya ke meja, berlatih satu pukulan, dan memukul bola pendorong. lalu bola itu menyentuh ke bola hijau, dan menabrak bola delapan, yang berakhir mendorong bola berstrip ke lobang.

Minho tertawa gugup dan berusaha menutupinya dengan sedikit mengigit jari, kebiasaan buruk yang sepertinya belum bisa ia hilangkan. “Oke, mungkin gue lebih terkesan dari sebelumnya.”

Chris masih membungkuk di atas meja, mengangkat wajahnya untuk menatap Minho yang berada di sebrang. tatapannya itu membuat kulit Minho semakin panas.

“Kita gak pernah akur kalo urusannya taruhan.” Kata Minho, menahan desahan untuk mengubah posisi tubuh. Tongkat di tangannya terasa lengket akibat tangannya yang basah, dan diam-diam menyeka tangannya ke paha.

Seolah belum cukup banyak keringat yang mengucur di tubuhnya, Chris berkata, “Lo utang sama gue. gue nanti pasti bakalan minta.”

Minho tertawa, dan terdengar sumbang. “Apaan, enak aja.”

Tiba-tiba terdengar langkah kaki seseorang menuruni tangga dengan keras. Seorang laki-laki berbadan kekar namun lebih pendek dari Chris dengan rambut under cut berwarna hitam. pertama ia menatap Chris, lalu menatap Minho. Ia menyeringai, melangkah mendekat dan mengambil bir milik Minho yang ia letakan di pinggir meja.

“Maaf banget nih, tapi itu—,” Ucapan Minho terputus.

“Lo ga bilang kalo matanya beneran selembut itu,” Ucapnya kepada Chris, ia menyeka mulut dengan punggung tangan. Suaranya berat dan terdengar cukup gelap.

“Gue juga gak bilang ke dia kalo lo itu tergila-gila sama tipe mata yang kaya gitu,” balas Chris dengan mulut membentuk cengiran.

laki-laki yang berdiri tak jauh dari sebelah Minho itu bersandar pada meja biliar dan ia mengulurkan tangan. “Gue Changbin, tapi kalo lo mau bisa di panggil sayang.”

Dengan malas Minho menerima jabatan tangannya. “Minho.”

“Apa gue ganggu?” Tanya Changbin, menatap Minho dan Chris bergantian.

“Enggak.”

“Ya.”

Jawab Minho dan Chris bersamaan.

Mendadak Changbin pura-pura maju menantang Chris dan mereka berdua terhempas ke lantai, berguling dan saling menonjok. Lalu terdengar suara tawa yang cukup keras, bunyi tinju yang saling dilayangkan, dan robekan baju, seketika membuat Minho dapat melihat punggung Chris yang telanjang. Ada dua goresan yang dalam dan tampak panjang mulai dari dekat ginjal dan berakhir di tulang belikat. Goresan itu melebar hingga membentuk Huruf V terbalik. Luka yang sangat mencengangkan hingga membuat Minho nyaris berteriak kaget.

“Oke oke udah ah, lepasin gak.” Pinta Changbin.

Chris melepaskannya, dan ketika berdiri ia melepas kausnya yang robek. dilemparkannya kaus itu ke keranjang sampah yang ada di sudut ruangan. “kaos lo siniin.” Pintanya pada Changbin.

Changbin mengedikan bahu, melirik ke arah Minho sambil mengedipkan matanya. “Gimana Minho? apa harus gue kasih?”

Chris sekali lagi berpura-pura menantang maju, dan tangan Changbin refleks menahan bahunya.

“Kalem kalem.” Celetuknya, melangkah mundur. ia melepas sweater yang dikenakannya dan melemparkannya kepada Chris. sekarang Changbin hanya menggunakan kaus putih yang menempel terlalu pas di badannya.

Saat Chirs menurunkan sweater itu ke perutnya, hal itu cukup untuk membuat jantung Minho berpacu lebih cepat, Changbin kembali bersuara kepada Minho. “Dia ngasih tau ga kalo dia punya nama julukan?”

“Apa?”

“Ah bukan hal penting sih. Tapi sebelum sobat kita Chris ini tergila-gila sama permainan biliar, dia itu salah satu fans berat tinju tangan kosong di daerah sini.”

Chris menatap Minho dan menebar senyum seperti orang yang baru saja memenangkan perkelahian di bar. Seringaiannya itu sudah cukup menakutkan. Tapi entah mengapa, minho dapat melihat di balik penampilan luarnya yang kasar, tersimpan pesan keinginan. malah bisa lebih dari sekedar pesan.

Chris mengayunkan kepalanya ke tangga dan meraih tangan Minho. “Ayo kita pergi.”

“Ke mana?” Tanya Minho yang merasa perutnya seperti turun ke lutut.

“Liat aja entar.”

Saat mereka menaiki tangga, Changbin berteriak kepada Minho, “Semoga beruntung sama si bajingan itu, Kitten.”

Minho bergegas secepat mungkin ke kamar mandi ketika mengetahui kalau Chris ternyata sedang berada di tempat kerjanya sekarang ini. sial

Di sana ia mengunci pintu, menarik napas beberapa kali dengan punggung menempel ke pintu, lalu ke wastafel dan memercikan air dingin ke wajahnya. Chris pasti tau Minho sedang memata-matai dirinya. sosoknya yang mencolok menjamin hal itu. Bisa dibilang perbuatannya tadi terlihat buruk karena, memang memalukan. Tapi bagaimana lagi, Chris sangat tertutup. Orang tertutup tak suka kalau kehidupannya diawasi. Bagaimana reaksinya jika tau Minho sedang melakukan hal seperti ini?

Dan sekarang ia meragukan alasannya melakukan ini semua. Karena di lubuk hatinya, ia tak percaya kalau Chris-lah laki-laki bertopeng ski itu. Boleh jadi dia punya beberapa rahasia kelam yang menggangu, tapi berkeliaran dengan topeng ski bukan salah satunya.

Minho mematikan keran, dan menengadah. wajah Chris berada di dalam cermin membuat Minho refleks berbalik dengan nafas tertahan.

Chris tersenyum, tapi jelas kelihatan tidak senang.

“Lo ngapain ada disini?”

“Ya, gue kerja disini.”

“Maksud gue di sini. kenapa bisa lo beneran tau kalo gue—”

“Gue mulai berpikir kalo lo yang sebenernya buntutin gue. setiap kali gue balik badan, lo selalu ada.”

“Gue mau ngajak Jungwoo jalan-jalan.” Minho mencoba menjelaskan. “Dia baru keluar dari rumah sakit.” Dan bodohnya terdengar sangat defensif. “Gue gaada niatan buat ngejar lo atau gimana. gue cuman taunya lo hari ini libur. dan apa maksud lo barusan? setiap kali gue yang balik badan, malah lo yang ada.”

Tatapan Chris tajam, mengintimidasi, dan menuntut.

“Mau jelasin soal penampilan jelek lo itu?” Chris bertanya.

“Mau jelasin lo ke mana aja? lo ga sekolah dua hari terakhir ini.”

Minho hampir yakin Chirs berniat untuk mengungkapkan yang sebenarnya. Tapi dia berkata, “Main di arcade. Kenapa lo ada di bar?”

“Ngobrol sama bartender. apa itu sebuah tindak kejahatan?” bertumpu di atas konter, Minho mengangkat kaki untuk melepas sepatu bagusnya dan saat itulah kertas daftar meluncur keluar dari kantong kemeja satinnya dan jatuh ke lantai.

Ia berusaha untuk mengambilnya, tapi Chris lebih cepat. ia mengangkat kertas sambil memundurkan badannya, sementara Minho berusaha untuk mengambilnya.

“Balikin!”

“Apa Chris pernah di skors?” Ia membaca. “Apakah Chris seorang kriminal.”

“Balikin—Kertasnya!” bentak Minho dengan marah.

Chris tertawa kecil, dan Minho tau ia sudah membaca pertanyaan berikutnya. “Chris udah punya pacar?”

Chris menyelipkan kertas itu ke saku belakangnya, dan Minho tidak ada niatan untuk mengambilnya sama sekali mengingat lokasinya.

Ia menyilangkan tangan di depan dada dan bersandar. “Kalo lo emang niat mau nyari informasi kan bisa langsung tanya sama gue.”

“Daftar itu cuman main-main. bukan gue yang bikin.”

Chris terkekeh. “Gue tau dengan sangat jelas tulisan lo Lee Minho.”

“Well, oke,” Balas Minho, mencoba mencari jawaban yang lebih masuk akal. tapi ia terlalu lama dan kehilangan kesempatan.

“Gak pernah di skors,” Jawabnya. “Bukan kriminal.”

“Pacar?” apapun jawabannya, gue gak bakal peduli.

“Bukan urusan lo.”

“Lo nyoba nyium gue,” Minho mengingatkan. “Jadi itu jelas urusan gue.”

Sekilas senyum miring menghiasi bibirnya. Minho mendapat kesan kalau ia sedang mengingat kejadian detail kejadian yang nyaris berakhir dengan ciuman itu, termasuk desahannya.

“Mantan-pacar.” Katanya setelah diam beberapa saat.

Perut Minho mulas begitu sebuah pikiran mendadak muncul dalam benaknya. Jangan bilang kalau orang yang ada di taman bermain dan toko yang ia kunjungi bersama Jungwoo adalah mantan Chris...

Dan kemudian Chris melanjutkan, “Tapi dia enggak ada disini.”

“Apa maksud lo gak ada disini?”

“Dia udah pergi, dan gak bakal balik lagi.”

“Maksudnya... dia udah meninggal?” Tanya Minho ragu.

Chris tidak menyangkalnya.

Perut Minho terasa berat dan serasa diremas. Ia sama sekali tidak menduga. Chris punya pacar walaupun ia sudah meninggal.

Pintu kamar mandi berbunyi—seperti ingin dibuka namun tidak bisa. Minho lupa kalo ia tadi sempat mengunci pintunya, dan hal ini jelas membuatnya terheran-heran karena, bagaimana Chris bisa masuk kedalam. Mungkin dia punya kunci sepertinya, atau ada penjelasan lain. Penjelasan yang jujur tak ingin Minho bayangkan. Misalnya menembus ke pintu begitu saja.

“Gue harus balik kerja,” Kata Chris. Ia memperhatikan penampilan Minho, dan pandangannya terkunci pada bagian dada Minho yang sedikit terekspos. “Sebenernya penampilan lo gak sepenuhnya jelek. Bajunya bagus, tapi sialnya—gue gasuka pokoknya.” Ia menepuk pipi Minho pelan dan berjalan melewati Minho setelah berbisik. “Soalnya jadi bukan cuman gue yang liat seksinya elo.”

Minho mengerucutkan bibir, entah mengapa rasa kesal kini melingkupi dirinya. Bagaimana tidak? Ketika ia melihat kekasihnya dengan mudah menerima makanan pemberian orang lain dan akan terlihat senang dengan hal itu. Minho benar-benar tidak suka.

Tapi bagaimana, laki-laki itu sama sekali tidak bisa mengutarakan kekesalannya karena bagaimanapun pacarnya itu pasti akan berbicara bahwa makanan yang diterimanya hanya sebatas, “Kan kamu Tau sedekat apa aku sama dia, aku nerima makanannya cuman karena menghargai kok.

Dosen yang sedari tadi entah menjelaskan tentang apa di depan akhirnya menutup sesi pembelajarannya, membuat seluruh mahasiswa menghembuskan nafas lega. Minho semakin merenggut, menangkupkan wajah pada lipatan tangannya yang ada di atas meja.

Kak gak usah dipikirin terus sih, yang ada bikin kesel sendiri doang.” Celetuk seungmin yang sedari tadi asyik berkutat dengan bukunya—yang jelas bukan untuk mencatat apa yang sedari tadi dijelaskan Dosen.

Minho mengintip dari celah tangannya. “Tapi Seung gue gak suka banget. Cuman lo taukan Chan tuh kaya gimana.

Seungmin mengedikan bahunya, sibuk dengan kegiatannya yang masih asik dengan buku di hadapannya. “Yaudah kalo gitu kenapa gak lo coba aja bikinin kak Chan kue gitu atau apa? Seenggaknya ya impas, kak Chan juga makan makanan buatan lo. kalo perlu bikin sespecial-specialnya kak.

Lo tuh mau ngasih solusi apa mau nyindir gue sih? elah deh.” Protes Minho sambil menoyor kepala Seungmin pelan. Seungmin mendelik tidak suka, tapi dibalas pelototan balik oleh laki-laki berambut oranye tersebut.

Ya belajar kak coba. Semua itu harus ada usahanya, jangan cuman ngeluh mulu deh. Lagi lo mau kak Chan lebih suka makan makanan orang lain?

Ya enggak lah. Lo liat aja sekarang nih gue uring-uringan begini karena apa coba.

Nah yaudah.” Seungmin memasukan barang-barangnya ke dalam tas, beranjak dari tempat duduknya. “Mending sekarang kita isi perut deh, karena gue udah laper banget beneran. Masalah lo mau belajar masak, gampang. Nanti gue minta tolong sama kakak gue deh buat ngajarin.

Minho menatap Seungmin dengan mata berbinar. “Bener nih Seung lo mau bilang ke kakak lo buat ngajarin gue masak? Walaupun lo tau gue sebebel dan seteledor apa orangnya kalo masalah masak?

Iya udah beneran entar gue bilang ke kakak gue, sekalian gue bantuin juga nanti. Udah ayo ah kak buruan.” Balas Seungmin sambil menarik tangan Minho gemas agar beranjak dari tempatnya. Minho hanya terkekeh dan mengikuti Seungmin dengan berbagai rencana yang sudah tersusun rapih di kepalanya.

Minho benar-benar melakukan keinginannya untuk setidaknya belajar memasak, untungnya kakak Seungmin bersedia untuk mengajarinya walaupun Seungmin sudah mewanti-wanti sedari awal betapa luar biasa teledor dan payah temannya yang satu itu.

Terbukti dengan nyaris tiga hari melakukan percobaan dengan satu resep makanan manis dan satu makanan utama, banyak kejadian gaduh yang terjadi. untungnya kakak Seungmin sangatlah sabar dan mau mengajari Minho setidaknya sampai apa yang telah di ajarinya bisa diikuti oleh Minho.

Chan sendiri tidak mengetahui kalau Minho sedang berusaha belajar memasak, Minho berbohong bahwa ia sedang mengerjakan tugas kelompok bersama dengan Seungmin yang membuatnya harus menginap. Chan bukan tipikal orang yang akan curiga sama sekali dengan apapun yang dilakukan oleh Minho, asal Chan tau dimana dan dengan siapa Minho berada.

saat Sabtu malam, Minho tersenyum sumringah memasuki apartemen yang ditinggalinya bersama dengan Chan.

Ia sudah mengabari Chan sebelumnya dan mengetahui kalau pacarnya tersebut akan pulang sebelum jam makan malam. Minho mengecek jam tangannya, bergegas ke arah dapur untuk membuat hidangan makan malamnya.

Minho benar-benar kelewat senang, bahkan luka-luka di tangan yang didapatinya selama belajar memasak selama tiga hari tidak dihiraukannya sama sekali dan ia tetap melakukan aktifitasnya untuk membuat makan malam.

Dengan susah payah, Minho melakukan apa yang sudah diajarkan. Tapi karena mungkin cowok manis itu takut Chan akan pulang sebelum hidangannya selesai Minho jadi mengerjakannya tidak sepelan saat ia pelajari kemarin dan malah membuat luka baru di tangannya.

yang lebih fatal sekarang adalah, Minho tidak sengaja menjatuhkan panci berisi sup kerangnya. Isinya tumpah mengenai lengannya. satu tangannya yang lain dengan refleks juga memegang sisi panci yang panas dan membuatnya langsung mengaduh kesakitan. Minho terduduk di lantai bersamaan dengan bunyi panci yang jatuh dan pintu depan apartemen yang tertutup dengan keras.

Minho!! Kamu ngapain??!” Teriak Chan tiba-tiba. Minho mendongkakan wajahnya, melihat Chan yang terlihat panik dan kesal bercampur menjadi satu. “Astaga.

Chan berjalan cepat menghampiri kekasihnya. Direngkuhnya tubuh Minho, membawa tubuh mereka berjalan ke arah westafel, menyalakan keran dan mengarahkan lengannya di bawah aliran air.

Tahan sebentar.” Ucapnya sambil menahan Minho yang siap menjauhkan lengannya.

setelah selesai, Chan membawa Minho duduk di kursi meja makan. Meninggalkannya di sana untuk mengambil kotak P3K yang ada di kamar mereka. Saat ia kembali, Minho mengigit bagian dalam pipinya ketika memperhatikan raut datar Chan, menatap luka bakar di lengan Minho juga beberapa luka dan plester kecil di tangan dan jari-jari manisnya.

Laki-laki itu diam selama sesaat, sebelum akhirnya memulai kegiatannya dengan melepas plester-plester di tangan Minho dan mulai mengobati lukanya.

Sebenarnya Minho ingin menjerit karena merasa sakit, namun karena tidak ingin memperkeruh suasana akhirnya Minho benar-benar berusaha untuk menahannya. Chan menggenggam tangan Minho erat namun lembut, dengan telaten memberikan salep luka bakar pada bagian lengan Minho walaupun pacarnya itu selalu refleks menarik lengannya karena merasa kesakitan.

Setelah selesai, Chan mengembalikan semua peralatan obat-obatan kembali ke tempatnya. Ia letakan kotak P3K di samping meja tempat Minho duduk. Minho sedari tadi diam memperhatikan gerak-gerik Chan, sampai akhirnya laki-laki itu tepat memperhatikan manik mata Minho yang kini kelihatan takut-takut.

Aku tanya, kamu ngapain?” Kata Chan buka suara, tatapannya untuk sessat masih tidak bisa Minho artikan. “Kamu tau kan kalo kamu itu gak bisa masak? Kenapa kamu malah masak?? terus liat tangan kamu jadi banyak lukanya gini coba.

Minho seketika menunduk, enggan bertatapan dengan Chan. “Minho, gamau di jawab pertanyaan aku??? Hmm?

Minho menggelengkan kepala, entah mengapa air mata sudah bergumul di pelupuknya. Minho tidak pernah suka ketika melihat Chan bersikap seperti ini di depannya.

Chan menghela napas, tahu betul tabiat pacarnya yang satu ini. Ia menetralkan segala emosi yang berkecamuk pada dirinya sebisa mungkin.

Ketika dirasa emosinya sudah mereda, Chan memajukan badannya untuk melihat wajah Minho dari bawah. diulurkan salah satu tangannya untuk memegang pipi gembilnya. “Hey, udah aku gak marah oke? tapi tolong di jawab pertanyaanku. aku tuh cuman kahwatir min.

Aku.. aku cuman pengen... pengen buatin Chan makanan.. buatan aku..” Cicit Minho yang untungnya masih bisa di dengar Chan. “Chan belum pernah makan makanan buatan Ino sendiri.. tapi Chan sering makan makanan buatan orang lain.

Chan tidak memberikan respon apapun, membuat Minho mengalihkan tatapannya ke arah Chan yang masih menatapnya lembut di bawah sana. Ia mengelus pipi Minho pelan.

Aku kemarin udah sempet belajar kok, aku udah bisa. Cuman kayanya tadi kurang hati-hati makannya gak sengaja jatohin panci sama isi-isinya.” Lanjut Minho yang kini sesenggukan, entah sejak kapan ia mulai menangis.

“Hey kok jadi nangis.” Chan berdiri dari posisi jongkoknya, segera merengkuh tubuh Minho yang semakin menangis. Ia ambil salah satu tangannya untuk dikecup pelan agar Minhonya tidak merasa sakit. “tangan kamu yang luka-luka ini karena kamu abis belajar masak kan? Terus nginep dirumah seungmin buat ngerjain tugas itu ternyata bohong yaa? Kenapa ga mau bilang jujur kalo mau belajar masak??

Channn... Ino minta maaf..” Rengek Minho yang suaranya agak teredam karena wajahnya sedang berada di perut Chan.

Chan kembali pada posisinya semula, memandang Minho yang masih sesenggukan. Ia baru saja ingin melanjutkan perkataannya ketika merasa mencium bau terbakar.

Minho juga menyadarinya, dan tangisnya yang hampir saja reda harus kembali karena ia mengingat sesuatu.

Channn... Kue buatan aku gosong huaaa....

Minho menekuk wajahnya, melihat Chan yang tengah sibuk dengan kegiatannya membuat pancake. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri, ketika melihat Chan yang akhirnya harus membuatkan menu makan malam mereka, walaupun pancake bukanlah jenis makanan yang bisa disajikan untuk makan malam. Karena ya, hanya makanan itulah yang bisa di buat olehnya.

Udahan cemberutnya, nih special buat kamu.

Chan meletakan piring berisi pancake buatannya ke hadapan Minho, mengusak surai rambutnya gemas dan menarik kursi agar bisa duduk berdekatan dengan Minho.

Harusnya kan aku yang bilang gitu.” Balas Minho dengan suara memelas membuat Chan tertawa. ia raih garpu yang ada di piring dan mulai menyuapi Minho lalu bergantian dengan dirinya. Minho menerima suapannya dengan pasrah, karena bahkan saat ia ingin menggantikan Chan untuk membuat pancake pacarnya itu melarang dan mengatakan Minho tidak boleh memegang apapun karena tangannya yang masih terluka.

Lagi kamu tuh ya bisa gak sih pelan-pelan gitu, yang hati-hati. Ini alasan aku tuh gapernah ngebiarin kamu masak yang berat-berat atau ada megang pisau gitu-gitu. kamu tuh kalo apa-apa terlalu excited jadinya malah ga hati-hati. liat kan tangan kamu jadi gimana, gak inget pengalaman kamu tuh.

Ish tapi kan yang waktu itu beda sama sekarang.

Beda darimana kalo ujung-ujungnya kamu jatohin dan numpahin isi masakan kamu yang akhirnya bikin lengan tangan kamu abis kebakar gitu? beneran gak kapok ya?

Minho mengatupkan bibirnya rapat, kembali menundukan wajahnya. Ia paham betul Chan sangat mengawahtirkan dirinya, tapi entah mengapa ia merasa kalau pacarnya ini seperti tidak bisa mempercayai Minho untuk belajar melakukan sesuatu yang ia tidak bisa.

Aku bukan gak percaya Min.” Lanjut Chan sangat mengetahui apa yang sedang dipikirkan laki-laki di hadapannya. Minhonya ini memang terlalu transparan untuk dibaca. “Aku cuman pengen kamu gak kenapa-kenapa. Kalo kamu izin dan janji sama aku buat belajar masak pelan-pelan dan yakin sebisa mungkin gak ngelukain diri kamu sendiri aku pasti ngebolehin kok. Lagi masih banyak banget waktu buat aku muji masakan kamu min, gak mesti sekarang kan.

Kalo ini ada kaitannya sama aku yang suka nerima makanan dari Sana, sebenernya aku gak pernah loh makan makanan yang dia kasih. yang sering makan tuh ya anak-anak, aku bagian nerima aja.

Minho menatap Chan yang kini kembali menyodorkan potongan pancake padanya. “Tapi kenapa aku denger kakak kalo ditanya gimana makanan kak Sana jawabannya selalu yang emang abis makanan makanan yang udah dikasih dan kaya sesuka itu?” Tanyanya setelah menelan makanannya.

Satu fakta kecil terkait Minho, jika ia sudah benar-benar dalam mode manja laki-laki penyuka kucing tersebut akan kembali memanggil Chan dengan panggilan honorificnya.

Ya aku minta anak-anak buat ngasih pendapat lah, terus biasanya sama Changbin di tambah-tambahin. abis itu aku ikutin aja kaya apa yang mereka bilang.

Aku gak tau kalo kakak sampe segitunya...

Chan menyunggingkan senyuman, lalu memajukan wajahnya untuk meraih mulut Minho yang terlihat sedikit belepotan madu dengan bibirnya. ia lumat bibir Minho dan merasakan bibir ranum itu yang menjadi manis dua kali lipat. Sesaat kemudian Chan menarik wajahnya, ketika dirasa kesayangannya itu berniat untuk membalas ciumannya. Chan langsung tertawa melihat wajah Minho yang kembali merenggut.

Ya harus segitunya lah, biar kesayanganku gak makin bete. yah walaupun tetep bete juga sih.” Chan kembali mencium bibir Minho sepersekian detik. “Ngomong-ngomong kamu sama aja kaya pancake, sama-sama manis.

Kak chan.” Minho merentangkan tangannya mengisyaratkan Chan untuk menghampirinya agar bisa di peluk. Chan tak habis fikir bagaimana bisa pacarnya bisa terlihat semenggemaskan seperti saat ini. “Ino saaayaaaangggg baaanggget sama kakak.

Iya, kakak lebih lebih sayangnya sama ino.” Dikecupnya ujung kepala Minho berkali-kali. “pancakenya di abisin dulu ya, abis ini kita movie marathon sambil cuddle oke?

boleh sambil makan coklat?

Jangan banyak-banyak tapi, kalo enggak kakak cium kamu terus-terusan.

Yaudah gapapa.

Ino..

hehehe kakak juga suka jadi gapapa.

Chan melepaskan pelukan mereka, mengacak rambut Minho gemas dan kembali menyuapinya.

Minho merasakan hatinya menghangat saat memikirkan bagaimana Chan sebisa mungkin selalu memperlakukannya dengan cara manis. Ia sendiri sebisa mungkin menanamkan satu pemikiran mulai dari sekarang, bahwa bagaimanapun kekurangan yang dimilikinya, ia yakin Chan akan sebisa mungkin memaklumi dan menerima segala kekurangan yang ada sama seperti Minho yang juga akan menerima segala kekurangan yang ada pada diri Chan.

Karena terkadang, cinta memang semudah itu untuk menerima kekurangan satu sama lain bukan.

“Kayanya mereka udah pergi,” Ucap Chris dengan tatapan senang di matanya. “Lo butuh tumpangan mungkin.”

“Jungwoo gak bakal ninggalin gue,” Kata Minho, berusaha melihat ke arah kerumunan dengan kaki berjingkat melewati puncak kerumunan. “Mereka mungkin main hockey meja.”

Minho berjalan ke samping, menembus kerumunan, sementara Chris mengikuti di belakang sambil menyeruput kaleng soda yang di belinya di mesin minuman. Ia sempat menawari Minho namun sepertinya bahkan ia tidak memikirkan apakah bisa memasukan sesuatu dalam mulutnya atau tidak saat ini.

Tak ada jejak Jungwoo dan Hyunjin di hockey meja.

“Barangkali mereka sedang bermain Pinball,” Terka Chris. Jelas sedang meledek Minho.

Wajahnya memerah, Jungwoo dimana sih?

Chris mengulurkan kaleng sodanya. “Yakin gak mau minum?”

Minho menatap dari kaleng ke Chris. Cuma karena darahnya tiba-tiba menghangat lantaran terpikir bahwa ia akan meletakan mulutnya di tempat yang telah tersentuh mulut Chris bukan berarti harus memberitahunya secara gamblang.

Ia merogoh saku dan mengeluarkan ponsel. Layar telponnya mati dan tak mau dihidupkan. padahal Minho yakin terakhir kali ia menggunakan ponselnya untuk mengirim pesan dengan Chris batrainya masih banyak. ditekannya tombol on berulang kali, tapi percuma saja.

Chris kembali membuka suara, “Tawaran gue masih berlaku.”

Sepertinya Minho berpikir akan lebih aman kalau ia meminta tumpangan dari orang asing. ia masih terguncang akibat kejadian di Archangel tadi. Kejadian itu adalah yang paling menakutkan yang pernah dialaminya. Sepertinya ia adalah satu-satunya orang yang menyadari kejadian itu. Bahkan Chris yang duduk persis di sebelahnya tidak menyadarinya.

Minho menepuk dahinya. “Mobilnya. Siapa tau Jungwoo nunggu gue di parkiran.”

Tiga puluh menit kemudian ia menyisir seluruh parkiran, tapi tidak ada dilihatnya mobil Jungwoo disana. Bagaimana bisa Jungwoo pergi begitu saja. Tapi mungkin saja ada kejadian darurat, dan Jungwoo sempat mengabarinya tetapi tentu Minho tidak bisa memeriksa pesan yang masuk ke ponselnya. Minho berusaha mengendalikan emosi, tapi bohong kalau tidak ada sedikit gumpalan kemarahan yang ada karena menemukan Jungwoo yang pergi meninggalkannya.

“Ada pilihan lain?” Tanya Chris kemudian.

Minho mengigit bibir, memikirkan pilihan yang lain. Tapi ia tak punya pilihan. Sayangnya ia tak yakin apakah siap menerima tawaran Chris atau tidak. Pada hari-hari biasa saja sosok itu bahkan memancarkan aura berbahaya, apalagi sekarang. Malam ini adalah perpaduan bahaya, ancaman dan misteri yang bercampur menjadi satu.

Menghela napas dan berdoa dalam hati, Minho berharap kalau ia tidak berbuat kesalahan.

“Langsung anter gue kerumah.”

“Ya, kalo itu yang lo mau.”

Begitu sampai di rumah Minho, Chris menepikan motornya ke jalan masuk, mematikan mesin, lalu turun. Minho melepaskan helm, menyeimbangkan di kursi depan dengan hati-hati, lalu siap membuka mulut untuk mengucapkan kalimat Terimakasih atas tumpangannya, sampe ketemu besok senin

Tapi kata-kata itu menguap begitu saja saat Chris menyebrangi jalan masuk dan menuju anak tangga.

Ia tidak bisa menahan dugaan tentang apa yang dilakukannya. mengantarkan sampai ke pintu? Sangat tidak mungkin.

Minho menaiki anak tangga di belakangnya dan menjumpainya di pintu. dengan pikiran terbagi antara kebingungan dan kekahwatiran yang hebat, ia mengawasi Chris mengeluarkan serangkaian kunci yang dikenalnya dan memasukannya ke lubang kunci.

“Kok? Itukan kunci gue. Kenapa bisa sama lo? Balikin gak,” Kata Minho, jengkel karena tak mengetahui bagaimana bisa kuncinya bisa berpindah tangan seperti itu.

“tadi jatoh pas di arkade, pas lo mau ngehubungin Jungwoo.”

“Gue gak peduli dimana gue ngejatohin kuncinya. kembaliin.”

Chris mengangkat kedua tangannya, mengisyaratkan kalau dia tak bersalah lalu mundur dari pintu. Dia menyandarkan sebelah bahunya ke dinding dan memperhatikan Minho yang melangkah ke pintu. ia berusaha membuka kunci pintunya. Macet

“Lo ngapain sih, sengaja bikin susah apa gimana?” Minho berusaha menggoyangkan kunci, ia mundur selangkah. “Silahkan, coba aja. kuncinya macet.”

seiring bunyi klik yang keras, dia memutar kunci dengan tangan tetap pada pegangan pintu, Chris menaikan alis matanya seolah mengatakan silahkan masuk

“Yaudah sekarang pergi deh, lo ga boleh masuk. gue dirumah sendirian.”

“Semaleman?”

“Bukan urusan lu kan?”

“Gak ada niatan buat ngundang gue masuk?” Dia bertanya.

Minho mengerjap.

Chris melanjutkan, “Udah larut.” Matanya menatap Minho, memancarkan kilau membangkang. “Lu pasti laper.”

“Enggak. Ya. Maksud gue, ya, Tapi—”

Mendadak dia masuk.

setelah makan malam, Chris membawa piring-piring ke bak cucian. “Gue yang nyuci, biar lu yang ngeringin.” dia melemparkan serbet ke arah Minho sambil bercanda.

“Gue beneran pengen nanya,” Kata Minho. “Lu itu beneran ngebuntutin gue pas di perpustakaan...”

Ucapannya terhenti. Chris menyandarkan badannya dengan santai ke meja dapur. rambut hitamnya menjulur dari balik topi bisbolnya. seulas senyum dapat dilihatnya. dan disaat pikiran Minho terhanyut, ada sebuah pikiran baru yang muncul begitu saja.

Dia ingin menciumannya sekarang.

Chris mengangkat alis. “Apa?”

“Emm—enggak. Enggak jadi. Lo nyuci, gue yang ngeringin.”

tak butuh waktu lama untuk membereskan peralatan makan yang kotor. setelah selesai, mereka mendapati diri sama-sama berimpitan di dekat bak cuci. Chris bergerak mengambil serbet dari Minho, dan tubuh mereka bersentukan. Tak ada yang bergerak. Masing-masing bertahan pada sebuah gerakan rapuh yang menyatukan mereka.

Minho mundur lebih dulu.

“Takut?” Gumamnya.

“Enggak.”

“Bohong.”

Degup jatung Minho bertambah dua kali lipat. “Gue gak takut sama lu.”

“yakin?”

Minho berbicara tanpa berpikir. “Mungkin gue cuman takut kalo—” ia memaki dirinya sendiri karena memulai kalimat seperti itu. Sekarang, apa yang harus dikatakan? Minho benar-benar hampir mengakui kalau segala seuatu pada diri Chris membuatnya takut. Tentu kalimat itu akan memberinya kesempatan untuk lebih terpancing. “Mungkin gue cuman takut...”

“Bakalan suka sama gue?”

“Ya.” Jawab Minho kelewat lega karena tidak harus menyelesaikan kalimatnya sendiri, namun setelah itu ia sadar bahwa apa yang barusan ia ucapkan lebih parah lagi. “Maksud gue, Enggak! bukan itu yang mau gue bilang!”

Chris tertawa halus.

“Sebenernya, kaya sebagian dari diri gue ngerasa gak nyaman kalo ada di deket lo Chris.” Minho berusaha melanjutkan.

“Tapi?”

Ia mencengkeram meja di belakangnya untuk menguatkan diri. “Tapi pada saat yang sama, gue ngerasain ada ketertarikan yang sialnya beneran bikin gue takut sama lo.”

Chris kini menyunggingkan cengiran.

“Tuhkan, lo tuh terlalu angkuh.” Ucap Minho, menggunakan tangannya untuk mendorong Chris selangkah.

Chris menangkap tangan Minho dan meletakkannya di dada lalu menurunkan lengan baju hingga ke pergelangan tangan sehingga tangannya tertutup, dan melakukannya pada lengan baju Minho yang lain dengan cepat. memegang ujung lengan bajunya, sehingga tangan Minho terkunci. ia ingin membuka mulutnya untuk protes, namun tertahan.

Chris menarik Minho ke arahnya, dan tak berhenti sampai ia persis di depannya. tiba-tiba ia menggendong Minho ke atas meja. Wajahnya jadi sama tinggi dengan wajah Chris. Ia menatap Minho dengan senyum nakal yang mengundang. Saat itulah Minho menyadari gambaran yang selalu ia sangkal yang terus menari-nari di sudut fantasinya selama beberapa hari ini.

“Lepas topinya.” Kata Minho sekali lagi tanpa berpikir apa-apa.

Chris memutar topi yang dikenakannya, sehingga lidah topinya berada di belakang.

Minho bergeser ke ujung meja, kakinya berayun di salah satu sisi tubuh Chris. sesuatu dalam dirinya menyuruhnya untuk berhenti—tapi kusingkirkan suara-suara itu jauh-jauh ke ujung pikirannya.

Dia merentangkan salah satu tangannya di atas meja, persis di samping pinggul Minho. Sembari memiringkan kepalanya ke satu sisi, ia mendekat. Aroma tubuhnya seperti dari kedalaman bumi yang gelap.

Minho menghela napas dua kali, tidak. Ini tidak benar. Tidak dengan Chris. Dia benar-benar menakutkan, tetapi dalam arti baik. tapi tentu juga dalam arti buruk.

“Chris lo harus pergi,” Ujar Minho pelan. “lo beneran harus pergi.”

“Ke sini?” Mulutnya berada di bahu Minho. “Atau ke sini?” Sekarang Mulutnya berada di lehernya.

Otak Minho tak bisa sudah benar-benar tidak bisa memproses satu pikiran logis. Ia dapat merasakan sensai gelitik di sekujur tubuhnya saat merasakan sensasi basah di bagian lehernya. “Chris, gue gak mau pake turtle neck

“Kita bisa ngatasinnya.” Balas Chris sambil memegang pinggang Minho, namun ia menarik kepalanya dan memindahkannya tepat di hadapan wajah Minho. mereka saling beradu napas satu sama lain.

Hanya satu gerakan lagi, satu gerakan sebelum mendadak ponsel Minho berbunyi. Ia melompat kaget dan mengeluarkannya dari saku.

“Hai sayang,” Sapa ibu Minho ceria.

“Ma bisa telfon aku nanti?”

“Iya boleh. tapi kenapa?”

Minho menutup panggilannya. “Lo harus pergi,” Katanya kepada Chris. “Sekarang.”

Dia membalikan posisi topinya lagi. yang hanya bisa dilihat mulutnya di bawah topi itu, yang melengkung membentuk senyum nakal.

“Semoga mimpi indah.”

“Tentu. Ya gak masalah.” Dia bilang apa?

“Tentang ajakan besok malam...”

“Bakal gue pikirin,” Kata Minho susah payah.

Chris menyelipkan secarik kertas ke dalam saku. sentuhannya menimbulkan sensasi panas hingga ke kaki Minho. “Ini alamatnya, gue tunggu. Dateng sendirian.”

Minho merasakan pipinya benar-benar panas dan sepertinya sudah semerah tomat saat ia mendengar pintu depan yang tertutup. Hampir aja pikirnya sambil mengelus bagian dadanya yang sudah tidak karuan.

benar-benar sulit dipercaya. Minho merutuk dalam hati. Bisa-bisanya ia lupa kalau Chris pernah memberitahunya jika ia bekerja di restoran yang tidak jauh dari sekolah mereka, dan tentunya restoran itu adalah restoran ayam yang sedang di kunjunginya.

Minho seketika menurunkan tangannya dan berusaha meraih tisu untuk segera mengelap tangannya yang tampak kotor. Dapat dilihatnya Chris juga mengelapkan tangannya ke celemek yang dikenakan, berjalan mendekat. Sepertinya orang itu sangat menikmati perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba timbul dalam diri Minho.

well,” katanya “kayanya belakangan ini kita gampang banget ketemu tatap muka gini ya, selain di kelas biologi?”

“Wah, kalo gitu gue minta maaf atas kejadian yang sial ini.”

Chris duduk di kursi Jungwoo. ketika dia menjulurkan tangannya, ternyata tangannya sangat panjang. ia meraih gelas minuman Minho dan memain-mainkannya.

“Bukannya lo harusnya kerja? kok malah gangguin pelanggan gini?” Minho merebut gelas dari Chris dan meminumnya terburu-buru yang membuatnya sempat tersedak

Chris tersenyum. “lo ada acara pas malem minggu?”

“kenapa? mau ngajakin gue ngedate?”

“Ternyata lo suka nyombong gini, gue suka. Angel.”

“apa deh, gapenting mau lo suka atau enggak. Lagian mana sudi gue mau jalan sama orang kaya lo.” Minho rasanya ingin menjedugkan kepalanya sendiri saat tiba-tiba saja bayangan dirinya yang tengah berjalan berdua dengan Chris melintas di kepalanya. Dan hal itu tentu saja tidak akan terjadi. “Dan sekali lo panggil gue dengan sebutan Angel gue gak akan mikir dua kali buat ngancurin muka ganteng lo itu.”

“kenapa? Lo gak suka?” Minho tak berniat untuk menjawabnya, jadi Chris melanjutkan “Gue suka, dan gabakal niat buat ngubah. Angel.”

Minho meggertakan giginya pelan, rasanya sebelah tangan yang ada di samping pahanya sudah bersiap untuk melayangkan pukulan kalau saja sosok dihadapannya tidak mencondongkan tubuhnya ke meja, mengangkat tangan ke wajah Minho dan menyapukan jempolnya ke sudut mulutnya. Minho menarik diri, tapi dia terlambat.

“Ada bekas saos.”

Minho berusaha mengingat apa yang sedang dibicarakan. Tapi usahanya tidak terlalu keras membuatnya tidak bisa menghindari ekspresi kalau sentuhan Chris barusan tidak berarti apa-apa baginya. Ia tiba-tiba menyugar rambutnya, berusaha melanjutkan pembicaraan. “Lagian, ada tugas literatur yang gak bisa gue tinggalin gitu aja.”

“Sayang banget. Ada pesta di deket taman bermain yang gak jauh dari pesisir. gue mikirnya kita bisa pergi.” Katanya terdengar tulus.

Entah mengapa, tapi desiran hangat yang terjadi akibat perlakuan Chris masih terasa mengaliri darah. Minho menghisap sedotan dalam-dalam, mencoba menyejukan diri dengan minuman dinginnya.

menghabiskan waktu berdua dengan Chris pasti akan penuh dengan sesuatu yang berbahaya. tak tahu kenapa pikirannya berpikir seperti itu, tapi Minho menjamin nalurinya yang selalu terasa benar.

“Lagian kenapa lo tiba-tiba ngajakin gue ginideh?”

Sebelum melontarkan pertanyaan tanpa aba-aba itu, Minho berusaha berkata pada diri sendiri kalau dia samasekali tidak peduli tentang pandangan Chris padanya. Tapi tentu pikirannya itu terdengar bohong. hal itu mungkin benar-benar akan menghantui. perasaan bagaimana rasanya pergi dengan sosok di hadapannya ke suatu tempat.

“Gue cuman pengen berduaan sama lo. itu aja.”

Minho mendengus, berusaha untuk menghindari dengan meraih ponselnya yang ia letakan di atas meja. Namun telat, Chris telah menariknya menjauh.

“Lo ngapain sih? balikin gak sini hape gue.”

“Lo segitu gasukanya ya sama gue? gue ngebuat lo gak nyaman?”

“Menurut lo aja gimana. Sini balikin hape gue.” dicondongkan tubuhnya untuk mengambil ponselnya yang ada di ujung meja dekat Chris, tapi Chris mengambilnya dan menyembunyikan tangannya di bawah meja.

“Sebenernya apasih yang lagi kita omongin sekarang ini?”

“Lo.”

“Gue?”

“Ya. Kehidupan pribadi lo.”

Minho tertawa. “Kalo ini soal gue, soal pasangan gue gimana... Jungwoo udah sempet ceramah ke gue. Bahkan sebelum-sebelumnya juga, jadi jangan lo sok buat ikut-ikutan.”

“Jadi temen lo yang bijak itu ngomong gimana?”

“Kenapa lo jadi kaya penasaran gitu? gak ada hubungannya kan sama lo.”

Chris menggelengkan kepalanya pelan, menatapnya dengan senyuman kelewat menakjubkan dari yang biasanya. bukan senyuman mengejek yang sering ia tunjukan. “Jelas aja ada hubungannya Minho. ini tentang lo, gimana bisa gue gak penasaran? Gue jelas-jelas terpesona.”

Tak bisa dipungkiri kalau saat ini jantung Minho rasanya sudah berdetak lebih dari yang seharusnya, rasa-rasanya jantungnya akan segera jatuh keperut.

“Kayaknya lebih baik lo balik kerja deh.” Kata Minho dengan suara tertahan. “Dan. siniin. hape. gue. Sekarang. Juga.”

Entah kenapa malam ini terlihat begitu mendung dan gelap, membuat jungwoo akhirnya memberikan Minho untuk membawa mobilnya pulang. Sebenarnya, Jungwoo selalu mengantarkan Minho pulang setelah melakukan kegiatan bersama setelah pulang sekolah, namun karena ia mengatakan akan malas jika harus pulang dengan hujan yang 100% akan turun jadi dia memilih untuk menyuruh minho membawa mobilnya pulang dan menjemputnya besok.

Dalam perjalanan pulang, entah mengapa Minho membiarkan pikirannya berkelana ke Chris. Ia tidak dapat memungkiri bahwa Jungwoo benar, ada sesuatu dalam diri Chris yang memikat. Dan benar-benar sangat menakutkan juga. Semakin Minho memikirkannya semakin ia merasa bahwa ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang tidak mudah terbaca namun Minho dapat pastikan kalau hal ini bisa saja mungkin berujung ke suatu hal yan tidak baik. Namun ia berharap, semoga itu hanya prasangka buruknya.

Dan benar seperti perkiraan Jungwoo, dalam separuh perjalanannya hujan deras turun membasahi bumi. Dengan perhatian ke jalan dan tugas mengendalikan kemudi, Minho berusaha mencari tombol untuk menghidupkan wiper

Lampu di luar jalan berkedap-kedip. Membuat perasaan aneh tiba-tiba merayap dan membuat bulu kuduk dan tangan Minho merinding. Indra keenamnya dalam keadaan siaga. Entah mengapa merasa ada yang mengikuti. Tapi tak terlihat sorot lampu kendaraan lain dari spion mobil, di depan juga tidak ada. Minho benar-benar sendirian, yang membuat pikirannya semakin tidak nyaman.

Minho menancap gas sampai speedometer menunjukan angka 50, dan ia menemukan tombol wiper. Namun pada kecepatan seperti ini, penghapus air tak mampu mengimbangi derasnya hujan. Lampu lalu lintas menunjukan warna kuning. Minho membelokan setir kepersimpangan.

Minho seketika menjerit saat melihat siluet hitam yang tiba-tiba tergulung di kap mobil, menginjak rem sekuat-kuatnya setelah itu. Siluet itu terhempas disertai pecahan yang melayang ke atas.

Mengikuti naluri, ia memutar kemudi keras-keras. Ujung belakang mobil Jungwoo membetur rambu lalu lintas, membuat mobil berputar ke persimpangan. Siluet itu terguling dan menghilang di ujung kap mobil.

Minho menahan napas, mencengkram roda kemudi dengan tangan pucat. Kemudian mesinnya mati.

Ternyata siluet itu adalah laki-laki yang merangkak beberapa kaki, mengawasi. Sama sekali tak tampak terluka.

Pakaiannya serba hitam, sehingga sulit bagi Minho untuk memastikan siapa orang tersebut. Awalnya ia juga tidak bisa melihat rupanya, namun kemudian Minho sadar laki-laki itu menggunakan topeng ski.

Dia berdiri, memperkecil jarak di antara telapak tangannya di jendela samping. Mata mereka bertemu melalui lubang topengnya, seolah menyungingkan senyum mematikan.

Dia memukul kaca jendela keras, membuatnya bergetar.

Detik itu juga Minho kembali menjalankan mobilnya, ketika kepalan tangannya berhasil memecahkan kaca jendela. Tangannya mengapai bahu Minho, mencengkram tangannya sebelum terlepas karena Minho langsung menginjak pedal gas kuat-kuat.

Minho memacu kendaraan sampai membuatnya melewatkan daerah perumahannya, membuat ia akhirnya memilih untuk kembali berjalan ke daerah perumahan Jungwoo. Dengan susah payah ia merogoh handphone yang ia taruh di dalam tasnya dan menghubungi Jungwoo dengan speed-dial

“Woo—gila—sesuatu terjadi—dia—mobil lo—“

“Min, suaranya putus-putus. Kenapa?”

“Dia muncul entah dari mana.”

“Dia—“ Minho berusaha menyusun kata-kata dalam pikirannya walau dirinya panik luar biasa. “Dia melompat ke depan mobil.”

“Hah? Kenapa? Lo abis nabrak kucing atau gimana?? Yaampun min kok bisa.”

Entah mengapa apapun jawaban yang ingin Minho sampaikan, kata-kata itu menjauh ke belakang. Bagian dirinya sangat ingin mengatakan bahwa ia baru saja menabarak seorang laki-laki yang kembali bangun dan menghancurkan kaca mobilnya. Rasanya memilih jawaban menabrak kucing lebih terdengar mudah. Namun ia sendiri terkejut, mengapa dia tidak ingin mengatakan hal ini dari awal.

“Min? Hallo? Lu masih disana kan??”

“Gue tidur dirumah lu ya?”

“Oke. Cepet kesini. Dan hati-hati.”

Dengan tangan kembali mencengkram roda kemudi erat-erat, sebenarnya jika ia kembali kerumah Jungwoo berarti dia harus kembali melewati persimpangan tempat tadi terjadi penabrakan. Namun ia tetap menjalankan mobilnya ke sana dan berdoa semoga laki-laki itu sudah tidak ada. Dan untungnya doanya terkabul.

“Dia sama gue.”

setelah mengatakan itu, sang penjaga yang sempat mengejar Minho akhirnya melepaskan genggaman pada bahu Minho dan sebelum ia sempat berubah pikiran Minho langsung berjalan pergi mendekati meja Chris berada. Awalnya langkahnya penuh percaya diri, tetapi semakin mendekati keberadaan Chris entah mengapa kepercayaan dirinya perlahan hilang.

entah bagaimana seorang Chris seketika terlihat lebih percaya diri dibandingkan saat di sekolah tadi. Wajahnya menyunggingkan senyuman mengejek, namun mata hitam kelam Chris tetap menatapnya tajam. Minho berusaha keras mengabaikan perasaan dimana perutnya seketika merasa mual, mengigit bagian dalam dinding mulutnya secara perlahan. ia dapat merasakan aura yang terbilang tidak beres menguar, sesuatu yang benar-benar terasa tidak aman.

“Maaf kalo gue gak angkat telfonnya,” kata Chris ringan sambil berjalan ke hadapan Minho. “Orang-orang disini juga agak kurang ramah.”

Apa yang bisa di harapkan dari tempat seperti ini?

Chris menolehkan kepalanya kebelakang, memberikan isyarat agar yang lain pergi. keheningan yang kaku terasa sebelum mereka beranjak pergi.

“Bola Delapan?” Tanya Minho dengan alis terangkat, berusaha mencairkan suasana dan membantunya agar tidak terlihat canggung “Pasang taruhan berapa?

“tidak ada taruhannya, permainan biasa.”

“Lu bilang sebelumnya kalau permainannya penting.” Minho mendengus sambil mengeluarkan lembaran kertasnya. “Gue cuman mau ngajuin beberapa pertanyaan, setelah itu selesai. gue keluar.”

“Menyebalkan? Kanker Paru-paru? Dan apa itu tulisan terakhir yang dicoret?”

“gue cuman merasa, berapa hari sebatang? satu? dua? atau berapa bungkus.”

“Gue gak ngerokok.” Jawabnya santai dan terdengar jujur, namun tentu minho tidak percaya dan ia tetap menuliskan 'perokok sejati'

“Lo ngerusak alur permainannya.”

“Impian terbesar?”

Kiss You

“Enggak lucu.” Kata Minho dan merasa hebat tidak menatap matanya sambil gemetar

“Lo kerja?”

“Kerja Part Time, di restoran yang enggak terlalu jauh dari sekolah.”

“Agama?”

Chris menyandarkan tubuhnya pada pinggiran meja, tampangnya biasa saja. namun Minho dapat mendengar ada nada tidak suka dalam suaranya. “Berapa pertanyaan yang bakal lo tanyain?”

“Agama?”

“Gimana kalo gue bilang gue enggak tertarik dengan agama? Lebih ke sekte misalnya?”

“Lo anggota skete?” Chris hanya mengedikan bahunya acuh sebagai jawaban.

Minho meniupkan poninya yang sedikit menghalangi pemandangan. “Jungwoo bilang kalo lo senior yang ngulang semester? berapa kali ngulang?”

“Jungwoo enggak tau apa-apa.”

“lo mau nyangkal kalo misalnya ngulang semester?”

“Bahkan gue gak sekolah setahun kemarin.” Matanya menatap Minho dengan ejekan entah untuk yang keberapa kali.

“Lo bolos?”

Chris meletakan tongkat biliar yang sedari tadi depeganggannya, dan menarik Minho agar lebih dekat padanya. “Mau denger rahasia?” katanya dengan nada misterius. “Gue belum pernah sekolah sebelum ini. Dan ternyata sekolah gak membosankan kaya yang gue pikirin.”

Dia bohong kan, semua orang seumuran mereka tentu aja sekolah Pikir Minho dalam hati.

“Lo pikir gue bohong.” Kata Chris tersenyum lebar.

Minho sedikit memundurkan badannya. “Lo gak pernah sekolah sebelum ini? beneran sama sekali? kalau emang bener, dan lo gak bohong, walaupun kayanya enggak, apa yang ngebuat lo untuk sekolah tahun ini?”

You

Dan pada detik itu, jantung Minho berdegup lebih kencang seperti orang kelewat takut. Namun ia tetap berusaha terlihat tegar, karena ia tidak ingin membuat Chris merasa puas karena telah menakutinya seperti yang sengaja ia lakukan.

Your eyes Minho. lo menarik, dingin, kelabu dan sulit buat di tolak. apalagi bibir lo itu.”