Bangminggo

“Kayanya mereka udah pergi,” Ucap Chris dengan tatapan senang di matanya. “Lo butuh tumpangan mungkin.”

“Jungwoo gak bakal ninggalin gue,” Kata Minho, berusaha melihat ke arah kerumunan dengan kaki berjingkat melewati puncak kerumunan. “Mereka mungkin main hockey meja.”

Minho berjalan ke samping, menembus kerumunan, sementara Chris mengikuti di belakang sambil menyeruput kaleng soda yang di belinya di mesin minuman. Ia sempat menawari Minho namun sepertinya bahkan ia tidak memikirkan apakah bisa memasukan sesuatu dalam mulutnya atau tidak saat ini.

Tak ada jejak Jungwoo dan Hyunjin di hockey meja.

“Barangkali mereka sedang bermain Pinball,” Terka Chris. Jelas sedang meledek Minho.

Wajahnya memerah, Jungwoo dimana sih?

Chris mengulurkan kaleng sodanya. “Yakin gak mau minum?”

Minho menatap dari kaleng ke Chris. Cuma karena darahnya tiba-tiba menghangat lantaran terpikir bahwa ia akan meletakan mulutnya di tempat yang telah tersentuh mulut Chris bukan berarti harus memberitahunya secara gamblang.

Ia merogoh saku dan mengeluarkan ponsel. Layar telponnya mati dan tak mau dihidupkan. padahal Minho yakin terakhir kali ia menggunakan ponselnya untuk mengirim pesan dengan Chris batrainya masih banyak. ditekannya tombol on berulang kali, tapi percuma saja.

Chris kembali membuka suara, “Tawaran gue masih berlaku.”

Sepertinya Minho berpikir akan lebih aman kalau ia meminta tumpangan dari orang asing. ia masih terguncang akibat kejadian di Archangel tadi. Kejadian itu adalah yang paling menakutkan yang pernah dialaminya. Sepertinya ia adalah satu-satunya orang yang menyadari kejadian itu. Bahkan Chris yang duduk persis di sebelahnya tidak menyadarinya.

Minho menepuk dahinya. “Mobilnya. Siapa tau Jungwoo nunggu gue di parkiran.”

Tiga puluh menit kemudian ia menyisir seluruh parkiran, tapi tidak ada dilihatnya mobil Jungwoo disana. Bagaimana bisa Jungwoo pergi begitu saja. Tapi mungkin saja ada kejadian darurat, dan Jungwoo sempat mengabarinya tetapi tentu Minho tidak bisa memeriksa pesan yang masuk ke ponselnya. Minho berusaha mengendalikan emosi, tapi bohong kalau tidak ada sedikit gumpalan kemarahan yang ada karena menemukan Jungwoo yang pergi meninggalkannya.

“Ada pilihan lain?” Tanya Chris kemudian.

Minho mengigit bibir, memikirkan pilihan yang lain. Tapi ia tak punya pilihan. Sayangnya ia tak yakin apakah siap menerima tawaran Chris atau tidak. Pada hari-hari biasa saja sosok itu bahkan memancarkan aura berbahaya, apalagi sekarang. Malam ini adalah perpaduan bahaya, ancaman dan misteri yang bercampur menjadi satu.

Menghela napas dan berdoa dalam hati, Minho berharap kalau ia tidak berbuat kesalahan.

“Langsung anter gue kerumah.”

“Ya, kalo itu yang lo mau.”

Begitu sampai di rumah Minho, Chris menepikan motornya ke jalan masuk, mematikan mesin, lalu turun. Minho melepaskan helm, menyeimbangkan di kursi depan dengan hati-hati, lalu siap membuka mulut untuk mengucapkan kalimat Terimakasih atas tumpangannya, sampe ketemu besok senin

Tapi kata-kata itu menguap begitu saja saat Chris menyebrangi jalan masuk dan menuju anak tangga.

Ia tidak bisa menahan dugaan tentang apa yang dilakukannya. mengantarkan sampai ke pintu? Sangat tidak mungkin.

Minho menaiki anak tangga di belakangnya dan menjumpainya di pintu. dengan pikiran terbagi antara kebingungan dan kekahwatiran yang hebat, ia mengawasi Chris mengeluarkan serangkaian kunci yang dikenalnya dan memasukannya ke lubang kunci.

“Kok? Itukan kunci gue. Kenapa bisa sama lo? Balikin gak,” Kata Minho, jengkel karena tak mengetahui bagaimana bisa kuncinya bisa berpindah tangan seperti itu.

“tadi jatoh pas di arkade, pas lo mau ngehubungin Jungwoo.”

“Gue gak peduli dimana gue ngejatohin kuncinya. kembaliin.”

Chris mengangkat kedua tangannya, mengisyaratkan kalau dia tak bersalah lalu mundur dari pintu. Dia menyandarkan sebelah bahunya ke dinding dan memperhatikan Minho yang melangkah ke pintu. ia berusaha membuka kunci pintunya. Macet

“Lo ngapain sih, sengaja bikin susah apa gimana?” Minho berusaha menggoyangkan kunci, ia mundur selangkah. “Silahkan, coba aja. kuncinya macet.”

seiring bunyi klik yang keras, dia memutar kunci dengan tangan tetap pada pegangan pintu, Chris menaikan alis matanya seolah mengatakan silahkan masuk

“Yaudah sekarang pergi deh, lo ga boleh masuk. gue dirumah sendirian.”

“Semaleman?”

“Bukan urusan lu kan?”

“Gak ada niatan buat ngundang gue masuk?” Dia bertanya.

Minho mengerjap.

Chris melanjutkan, “Udah larut.” Matanya menatap Minho, memancarkan kilau membangkang. “Lu pasti laper.”

“Enggak. Ya. Maksud gue, ya, Tapi—”

Mendadak dia masuk.

setelah makan malam, Chris membawa piring-piring ke bak cucian. “Gue yang nyuci, biar lu yang ngeringin.” dia melemparkan serbet ke arah Minho sambil bercanda.

“Gue beneran pengen nanya,” Kata Minho. “Lu itu beneran ngebuntutin gue pas di perpustakaan...”

Ucapannya terhenti. Chris menyandarkan badannya dengan santai ke meja dapur. rambut hitamnya menjulur dari balik topi bisbolnya. seulas senyum dapat dilihatnya. dan disaat pikiran Minho terhanyut, ada sebuah pikiran baru yang muncul begitu saja.

Dia ingin menciumannya sekarang.

Chris mengangkat alis. “Apa?”

“Emm—enggak. Enggak jadi. Lo nyuci, gue yang ngeringin.”

tak butuh waktu lama untuk membereskan peralatan makan yang kotor. setelah selesai, mereka mendapati diri sama-sama berimpitan di dekat bak cuci. Chris bergerak mengambil serbet dari Minho, dan tubuh mereka bersentukan. Tak ada yang bergerak. Masing-masing bertahan pada sebuah gerakan rapuh yang menyatukan mereka.

Minho mundur lebih dulu.

“Takut?” Gumamnya.

“Enggak.”

“Bohong.”

Degup jatung Minho bertambah dua kali lipat. “Gue gak takut sama lu.”

“yakin?”

Minho berbicara tanpa berpikir. “Mungkin gue cuman takut kalo—” ia memaki dirinya sendiri karena memulai kalimat seperti itu. Sekarang, apa yang harus dikatakan? Minho benar-benar hampir mengakui kalau segala seuatu pada diri Chris membuatnya takut. Tentu kalimat itu akan memberinya kesempatan untuk lebih terpancing. “Mungkin gue cuman takut...”

“Bakalan suka sama gue?”

“Ya.” Jawab Minho kelewat lega karena tidak harus menyelesaikan kalimatnya sendiri, namun setelah itu ia sadar bahwa apa yang barusan ia ucapkan lebih parah lagi. “Maksud gue, Enggak! bukan itu yang mau gue bilang!”

Chris tertawa halus.

“Sebenernya, kaya sebagian dari diri gue ngerasa gak nyaman kalo ada di deket lo Chris.” Minho berusaha melanjutkan.

“Tapi?”

Ia mencengkeram meja di belakangnya untuk menguatkan diri. “Tapi pada saat yang sama, gue ngerasain ada ketertarikan yang sialnya beneran bikin gue takut sama lo.”

Chris kini menyunggingkan cengiran.

“Tuhkan, lo tuh terlalu angkuh.” Ucap Minho, menggunakan tangannya untuk mendorong Chris selangkah.

Chris menangkap tangan Minho dan meletakkannya di dada lalu menurunkan lengan baju hingga ke pergelangan tangan sehingga tangannya tertutup, dan melakukannya pada lengan baju Minho yang lain dengan cepat. memegang ujung lengan bajunya, sehingga tangan Minho terkunci. ia ingin membuka mulutnya untuk protes, namun tertahan.

Chris menarik Minho ke arahnya, dan tak berhenti sampai ia persis di depannya. tiba-tiba ia menggendong Minho ke atas meja. Wajahnya jadi sama tinggi dengan wajah Chris. Ia menatap Minho dengan senyum nakal yang mengundang. Saat itulah Minho menyadari gambaran yang selalu ia sangkal yang terus menari-nari di sudut fantasinya selama beberapa hari ini.

“Lepas topinya.” Kata Minho sekali lagi tanpa berpikir apa-apa.

Chris memutar topi yang dikenakannya, sehingga lidah topinya berada di belakang.

Minho bergeser ke ujung meja, kakinya berayun di salah satu sisi tubuh Chris. sesuatu dalam dirinya menyuruhnya untuk berhenti—tapi kusingkirkan suara-suara itu jauh-jauh ke ujung pikirannya.

Dia merentangkan salah satu tangannya di atas meja, persis di samping pinggul Minho. Sembari memiringkan kepalanya ke satu sisi, ia mendekat. Aroma tubuhnya seperti dari kedalaman bumi yang gelap.

Minho menghela napas dua kali, tidak. Ini tidak benar. Tidak dengan Chris. Dia benar-benar menakutkan, tetapi dalam arti baik. tapi tentu juga dalam arti buruk.

“Chris lo harus pergi,” Ujar Minho pelan. “lo beneran harus pergi.”

“Ke sini?” Mulutnya berada di bahu Minho. “Atau ke sini?” Sekarang Mulutnya berada di lehernya.

Otak Minho tak bisa sudah benar-benar tidak bisa memproses satu pikiran logis. Ia dapat merasakan sensai gelitik di sekujur tubuhnya saat merasakan sensasi basah di bagian lehernya. “Chris, gue gak mau pake turtle neck

“Kita bisa ngatasinnya.” Balas Chris sambil memegang pinggang Minho, namun ia menarik kepalanya dan memindahkannya tepat di hadapan wajah Minho. mereka saling beradu napas satu sama lain.

Hanya satu gerakan lagi, satu gerakan sebelum mendadak ponsel Minho berbunyi. Ia melompat kaget dan mengeluarkannya dari saku.

“Hai sayang,” Sapa ibu Minho ceria.

“Ma bisa telfon aku nanti?”

“Iya boleh. tapi kenapa?”

Minho menutup panggilannya. “Lo harus pergi,” Katanya kepada Chris. “Sekarang.”

Dia membalikan posisi topinya lagi. yang hanya bisa dilihat mulutnya di bawah topi itu, yang melengkung membentuk senyum nakal.

“Semoga mimpi indah.”

“Tentu. Ya gak masalah.” Dia bilang apa?

“Tentang ajakan besok malam...”

“Bakal gue pikirin,” Kata Minho susah payah.

Chris menyelipkan secarik kertas ke dalam saku. sentuhannya menimbulkan sensasi panas hingga ke kaki Minho. “Ini alamatnya, gue tunggu. Dateng sendirian.”

Minho merasakan pipinya benar-benar panas dan sepertinya sudah semerah tomat saat ia mendengar pintu depan yang tertutup. Hampir aja pikirnya sambil mengelus bagian dadanya yang sudah tidak karuan.

benar-benar sulit dipercaya. Minho merutuk dalam hati. Bisa-bisanya ia lupa kalau Chris pernah memberitahunya jika ia bekerja di restoran yang tidak jauh dari sekolah mereka, dan tentunya restoran itu adalah restoran ayam yang sedang di kunjunginya.

Minho seketika menurunkan tangannya dan berusaha meraih tisu untuk segera mengelap tangannya yang tampak kotor. Dapat dilihatnya Chris juga mengelapkan tangannya ke celemek yang dikenakan, berjalan mendekat. Sepertinya orang itu sangat menikmati perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba timbul dalam diri Minho.

well,” katanya “kayanya belakangan ini kita gampang banget ketemu tatap muka gini ya, selain di kelas biologi?”

“Wah, kalo gitu gue minta maaf atas kejadian yang sial ini.”

Chris duduk di kursi Jungwoo. ketika dia menjulurkan tangannya, ternyata tangannya sangat panjang. ia meraih gelas minuman Minho dan memain-mainkannya.

“Bukannya lo harusnya kerja? kok malah gangguin pelanggan gini?” Minho merebut gelas dari Chris dan meminumnya terburu-buru yang membuatnya sempat tersedak

Chris tersenyum. “lo ada acara pas malem minggu?”

“kenapa? mau ngajakin gue ngedate?”

“Ternyata lo suka nyombong gini, gue suka. Angel.”

“apa deh, gapenting mau lo suka atau enggak. Lagian mana sudi gue mau jalan sama orang kaya lo.” Minho rasanya ingin menjedugkan kepalanya sendiri saat tiba-tiba saja bayangan dirinya yang tengah berjalan berdua dengan Chris melintas di kepalanya. Dan hal itu tentu saja tidak akan terjadi. “Dan sekali lo panggil gue dengan sebutan Angel gue gak akan mikir dua kali buat ngancurin muka ganteng lo itu.”

“kenapa? Lo gak suka?” Minho tak berniat untuk menjawabnya, jadi Chris melanjutkan “Gue suka, dan gabakal niat buat ngubah. Angel.”

Minho meggertakan giginya pelan, rasanya sebelah tangan yang ada di samping pahanya sudah bersiap untuk melayangkan pukulan kalau saja sosok dihadapannya tidak mencondongkan tubuhnya ke meja, mengangkat tangan ke wajah Minho dan menyapukan jempolnya ke sudut mulutnya. Minho menarik diri, tapi dia terlambat.

“Ada bekas saos.”

Minho berusaha mengingat apa yang sedang dibicarakan. Tapi usahanya tidak terlalu keras membuatnya tidak bisa menghindari ekspresi kalau sentuhan Chris barusan tidak berarti apa-apa baginya. Ia tiba-tiba menyugar rambutnya, berusaha melanjutkan pembicaraan. “Lagian, ada tugas literatur yang gak bisa gue tinggalin gitu aja.”

“Sayang banget. Ada pesta di deket taman bermain yang gak jauh dari pesisir. gue mikirnya kita bisa pergi.” Katanya terdengar tulus.

Entah mengapa, tapi desiran hangat yang terjadi akibat perlakuan Chris masih terasa mengaliri darah. Minho menghisap sedotan dalam-dalam, mencoba menyejukan diri dengan minuman dinginnya.

menghabiskan waktu berdua dengan Chris pasti akan penuh dengan sesuatu yang berbahaya. tak tahu kenapa pikirannya berpikir seperti itu, tapi Minho menjamin nalurinya yang selalu terasa benar.

“Lagian kenapa lo tiba-tiba ngajakin gue ginideh?”

Sebelum melontarkan pertanyaan tanpa aba-aba itu, Minho berusaha berkata pada diri sendiri kalau dia samasekali tidak peduli tentang pandangan Chris padanya. Tapi tentu pikirannya itu terdengar bohong. hal itu mungkin benar-benar akan menghantui. perasaan bagaimana rasanya pergi dengan sosok di hadapannya ke suatu tempat.

“Gue cuman pengen berduaan sama lo. itu aja.”

Minho mendengus, berusaha untuk menghindari dengan meraih ponselnya yang ia letakan di atas meja. Namun telat, Chris telah menariknya menjauh.

“Lo ngapain sih? balikin gak sini hape gue.”

“Lo segitu gasukanya ya sama gue? gue ngebuat lo gak nyaman?”

“Menurut lo aja gimana. Sini balikin hape gue.” dicondongkan tubuhnya untuk mengambil ponselnya yang ada di ujung meja dekat Chris, tapi Chris mengambilnya dan menyembunyikan tangannya di bawah meja.

“Sebenernya apasih yang lagi kita omongin sekarang ini?”

“Lo.”

“Gue?”

“Ya. Kehidupan pribadi lo.”

Minho tertawa. “Kalo ini soal gue, soal pasangan gue gimana... Jungwoo udah sempet ceramah ke gue. Bahkan sebelum-sebelumnya juga, jadi jangan lo sok buat ikut-ikutan.”

“Jadi temen lo yang bijak itu ngomong gimana?”

“Kenapa lo jadi kaya penasaran gitu? gak ada hubungannya kan sama lo.”

Chris menggelengkan kepalanya pelan, menatapnya dengan senyuman kelewat menakjubkan dari yang biasanya. bukan senyuman mengejek yang sering ia tunjukan. “Jelas aja ada hubungannya Minho. ini tentang lo, gimana bisa gue gak penasaran? Gue jelas-jelas terpesona.”

Tak bisa dipungkiri kalau saat ini jantung Minho rasanya sudah berdetak lebih dari yang seharusnya, rasa-rasanya jantungnya akan segera jatuh keperut.

“Kayaknya lebih baik lo balik kerja deh.” Kata Minho dengan suara tertahan. “Dan. siniin. hape. gue. Sekarang. Juga.”

Entah kenapa malam ini terlihat begitu mendung dan gelap, membuat jungwoo akhirnya memberikan Minho untuk membawa mobilnya pulang. Sebenarnya, Jungwoo selalu mengantarkan Minho pulang setelah melakukan kegiatan bersama setelah pulang sekolah, namun karena ia mengatakan akan malas jika harus pulang dengan hujan yang 100% akan turun jadi dia memilih untuk menyuruh minho membawa mobilnya pulang dan menjemputnya besok.

Dalam perjalanan pulang, entah mengapa Minho membiarkan pikirannya berkelana ke Chris. Ia tidak dapat memungkiri bahwa Jungwoo benar, ada sesuatu dalam diri Chris yang memikat. Dan benar-benar sangat menakutkan juga. Semakin Minho memikirkannya semakin ia merasa bahwa ada sesuatu yang aneh. Sesuatu yang tidak mudah terbaca namun Minho dapat pastikan kalau hal ini bisa saja mungkin berujung ke suatu hal yan tidak baik. Namun ia berharap, semoga itu hanya prasangka buruknya.

Dan benar seperti perkiraan Jungwoo, dalam separuh perjalanannya hujan deras turun membasahi bumi. Dengan perhatian ke jalan dan tugas mengendalikan kemudi, Minho berusaha mencari tombol untuk menghidupkan wiper

Lampu di luar jalan berkedap-kedip. Membuat perasaan aneh tiba-tiba merayap dan membuat bulu kuduk dan tangan Minho merinding. Indra keenamnya dalam keadaan siaga. Entah mengapa merasa ada yang mengikuti. Tapi tak terlihat sorot lampu kendaraan lain dari spion mobil, di depan juga tidak ada. Minho benar-benar sendirian, yang membuat pikirannya semakin tidak nyaman.

Minho menancap gas sampai speedometer menunjukan angka 50, dan ia menemukan tombol wiper. Namun pada kecepatan seperti ini, penghapus air tak mampu mengimbangi derasnya hujan. Lampu lalu lintas menunjukan warna kuning. Minho membelokan setir kepersimpangan.

Minho seketika menjerit saat melihat siluet hitam yang tiba-tiba tergulung di kap mobil, menginjak rem sekuat-kuatnya setelah itu. Siluet itu terhempas disertai pecahan yang melayang ke atas.

Mengikuti naluri, ia memutar kemudi keras-keras. Ujung belakang mobil Jungwoo membetur rambu lalu lintas, membuat mobil berputar ke persimpangan. Siluet itu terguling dan menghilang di ujung kap mobil.

Minho menahan napas, mencengkram roda kemudi dengan tangan pucat. Kemudian mesinnya mati.

Ternyata siluet itu adalah laki-laki yang merangkak beberapa kaki, mengawasi. Sama sekali tak tampak terluka.

Pakaiannya serba hitam, sehingga sulit bagi Minho untuk memastikan siapa orang tersebut. Awalnya ia juga tidak bisa melihat rupanya, namun kemudian Minho sadar laki-laki itu menggunakan topeng ski.

Dia berdiri, memperkecil jarak di antara telapak tangannya di jendela samping. Mata mereka bertemu melalui lubang topengnya, seolah menyungingkan senyum mematikan.

Dia memukul kaca jendela keras, membuatnya bergetar.

Detik itu juga Minho kembali menjalankan mobilnya, ketika kepalan tangannya berhasil memecahkan kaca jendela. Tangannya mengapai bahu Minho, mencengkram tangannya sebelum terlepas karena Minho langsung menginjak pedal gas kuat-kuat.

Minho memacu kendaraan sampai membuatnya melewatkan daerah perumahannya, membuat ia akhirnya memilih untuk kembali berjalan ke daerah perumahan Jungwoo. Dengan susah payah ia merogoh handphone yang ia taruh di dalam tasnya dan menghubungi Jungwoo dengan speed-dial

“Woo—gila—sesuatu terjadi—dia—mobil lo—“

“Min, suaranya putus-putus. Kenapa?”

“Dia muncul entah dari mana.”

“Dia—“ Minho berusaha menyusun kata-kata dalam pikirannya walau dirinya panik luar biasa. “Dia melompat ke depan mobil.”

“Hah? Kenapa? Lo abis nabrak kucing atau gimana?? Yaampun min kok bisa.”

Entah mengapa apapun jawaban yang ingin Minho sampaikan, kata-kata itu menjauh ke belakang. Bagian dirinya sangat ingin mengatakan bahwa ia baru saja menabarak seorang laki-laki yang kembali bangun dan menghancurkan kaca mobilnya. Rasanya memilih jawaban menabrak kucing lebih terdengar mudah. Namun ia sendiri terkejut, mengapa dia tidak ingin mengatakan hal ini dari awal.

“Min? Hallo? Lu masih disana kan??”

“Gue tidur dirumah lu ya?”

“Oke. Cepet kesini. Dan hati-hati.”

Dengan tangan kembali mencengkram roda kemudi erat-erat, sebenarnya jika ia kembali kerumah Jungwoo berarti dia harus kembali melewati persimpangan tempat tadi terjadi penabrakan. Namun ia tetap menjalankan mobilnya ke sana dan berdoa semoga laki-laki itu sudah tidak ada. Dan untungnya doanya terkabul.

“Dia sama gue.”

setelah mengatakan itu, sang penjaga yang sempat mengejar Minho akhirnya melepaskan genggaman pada bahu Minho dan sebelum ia sempat berubah pikiran Minho langsung berjalan pergi mendekati meja Chris berada. Awalnya langkahnya penuh percaya diri, tetapi semakin mendekati keberadaan Chris entah mengapa kepercayaan dirinya perlahan hilang.

entah bagaimana seorang Chris seketika terlihat lebih percaya diri dibandingkan saat di sekolah tadi. Wajahnya menyunggingkan senyuman mengejek, namun mata hitam kelam Chris tetap menatapnya tajam. Minho berusaha keras mengabaikan perasaan dimana perutnya seketika merasa mual, mengigit bagian dalam dinding mulutnya secara perlahan. ia dapat merasakan aura yang terbilang tidak beres menguar, sesuatu yang benar-benar terasa tidak aman.

“Maaf kalo gue gak angkat telfonnya,” kata Chris ringan sambil berjalan ke hadapan Minho. “Orang-orang disini juga agak kurang ramah.”

Apa yang bisa di harapkan dari tempat seperti ini?

Chris menolehkan kepalanya kebelakang, memberikan isyarat agar yang lain pergi. keheningan yang kaku terasa sebelum mereka beranjak pergi.

“Bola Delapan?” Tanya Minho dengan alis terangkat, berusaha mencairkan suasana dan membantunya agar tidak terlihat canggung “Pasang taruhan berapa?

“tidak ada taruhannya, permainan biasa.”

“Lu bilang sebelumnya kalau permainannya penting.” Minho mendengus sambil mengeluarkan lembaran kertasnya. “Gue cuman mau ngajuin beberapa pertanyaan, setelah itu selesai. gue keluar.”

“Menyebalkan? Kanker Paru-paru? Dan apa itu tulisan terakhir yang dicoret?”

“gue cuman merasa, berapa hari sebatang? satu? dua? atau berapa bungkus.”

“Gue gak ngerokok.” Jawabnya santai dan terdengar jujur, namun tentu minho tidak percaya dan ia tetap menuliskan 'perokok sejati'

“Lo ngerusak alur permainannya.”

“Impian terbesar?”

Kiss You

“Enggak lucu.” Kata Minho dan merasa hebat tidak menatap matanya sambil gemetar

“Lo kerja?”

“Kerja Part Time, di restoran yang enggak terlalu jauh dari sekolah.”

“Agama?”

Chris menyandarkan tubuhnya pada pinggiran meja, tampangnya biasa saja. namun Minho dapat mendengar ada nada tidak suka dalam suaranya. “Berapa pertanyaan yang bakal lo tanyain?”

“Agama?”

“Gimana kalo gue bilang gue enggak tertarik dengan agama? Lebih ke sekte misalnya?”

“Lo anggota skete?” Chris hanya mengedikan bahunya acuh sebagai jawaban.

Minho meniupkan poninya yang sedikit menghalangi pemandangan. “Jungwoo bilang kalo lo senior yang ngulang semester? berapa kali ngulang?”

“Jungwoo enggak tau apa-apa.”

“lo mau nyangkal kalo misalnya ngulang semester?”

“Bahkan gue gak sekolah setahun kemarin.” Matanya menatap Minho dengan ejekan entah untuk yang keberapa kali.

“Lo bolos?”

Chris meletakan tongkat biliar yang sedari tadi depeganggannya, dan menarik Minho agar lebih dekat padanya. “Mau denger rahasia?” katanya dengan nada misterius. “Gue belum pernah sekolah sebelum ini. Dan ternyata sekolah gak membosankan kaya yang gue pikirin.”

Dia bohong kan, semua orang seumuran mereka tentu aja sekolah Pikir Minho dalam hati.

“Lo pikir gue bohong.” Kata Chris tersenyum lebar.

Minho sedikit memundurkan badannya. “Lo gak pernah sekolah sebelum ini? beneran sama sekali? kalau emang bener, dan lo gak bohong, walaupun kayanya enggak, apa yang ngebuat lo untuk sekolah tahun ini?”

You

Dan pada detik itu, jantung Minho berdegup lebih kencang seperti orang kelewat takut. Namun ia tetap berusaha terlihat tegar, karena ia tidak ingin membuat Chris merasa puas karena telah menakutinya seperti yang sengaja ia lakukan.

Your eyes Minho. lo menarik, dingin, kelabu dan sulit buat di tolak. apalagi bibir lo itu.”